Anda di halaman 1dari 17

LABORATORIUM FARMAKOLOGI

LAPORAN KELOMPOK PRAKTIKUM MK FARMAKOLOGI II

UJI TOKSISITAS

OLEH

NAMA : GHAITSA ZAHIRA SOPHA YUSUF

NIM : 754840118012

KELOMPOK : II (DUA)

PEMBIMBING : RIZKA PUJI ASTUTI DAUD, S.Farm, Apt.

PRODI D3 FARMASI
JURUSAN FARMASI
POLTEKKES KEMENKES GORONTALO
TAHUN 2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Uji toksisitas adalah uji untuk mendeteksi efek toksik suatu zat pada
sistem biologi, dan untuk memperoleh data dosis-respon yang khas dari
sediaan uji. Data yang diperoleh dapat digunakan untuk memberi informasi
mengenai derajat bahaya sediaan uji tersebut bila terjadi pemaparan pada
manusia, sehingga dapat ditentukan dosis penggunaannya demi keamanan
manusia (PerKa BPOM, 2014).
Pengujian toksisitas penting dilakukan untuk memperkirakan derajat
kerusakan yang diakibatkan suatu senyawa terhadap material biologik
maupun nonbiologik. Pengujian lazim dilakukan pada suatu calon produk
untuk memenuhi persyaratan edar dan perijinan dari suatu wilayah atau
negara. Skrining toksikologi sangat penting dalam perkembangan obat baru
serta untuk mengetahui potensi terapi yang dimiliki oleh suatu molekul obat.
Pengujian toksisitas secara umum ditujukan untuk mengetahu efek yang tidak
dikehendaki oleh suatu obat terutama terhadap kejadian kanker, gangguan
jantung dan iritasi kulit atau mata (Parasuraman, 2011).
Uji toksisitas dibagi menjadi uji toksisitas umum dan uji toksisitas
khusus. Uji toksisitas umum terdiri dari uji toksisitas akut yang dilakukan
selama 24 jam, uji toksisitas subkronis yang dilakukan selama 26 minggu dan
uji toksisitas kronik yang dilakukan selama 1 tahun. Uji toksisitas khusus
terdiri dari uji teratogenik atau kelainan pada janin, uji mutagenik atau uji
yang dilakukan dengan mengubah informasi DNA dan uji karsinogenik
(Ngatidjan, 2006).
Bahaya akibat pemaparan suatu zat pada manusia dapat diketahui
dengan mempelajari efek kumulatif, dosis yang dapat menimbulkan efek
toksik pada manusia, efek karsinogenik, teratogenik, mutagenik, dan lain-lain.
Pada umumnya informasi tersebut dapat diperoleh dari percobaan
menggunakan hewan uji sebagai model yang dirancang pada serangkaian uji
toksisitas (PerKa BPOM, 2014).
United States of Food and Drug Administration (FDA) menyatakan
bahwa skrining dilakukan terhadap senyawa yang berpotensi obat atau toksik
pada hewan (Sasmito, 2015). Oleh karena itu, dilakukan pengujian uji
toksisitas suatu obat yakni obat Phenobarbital (luminal) terhadap hewan coba.
B. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui potensi toksisitas pada hewan coba
2. Mengetahui pemberian suspensi luminal yang akan di ujikan ke hewan uji
3. Mengetahui gejala-gejala toksisitas yang ditimbulkan
C. Prinsip Percobaan
Pengamatan efek toksisitas obat Phenobarbital (luminal) dengan
perbandingan volume pemberian 0,1 ml; 0,2 ml; 0,4 ml dan 0,6 ml pada
hewan uji kemudian diamati efek toksisitas yang ditimbulkan dan dihitung
LD 50 untuk luminal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
1. Toksikologi
Toksikologi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari tentang
efek-efek merugikan (toksik) dari suatu zat. Adapula yang
mendefenisikan toksikologi sebagai kajian tentang hakikat dan
mekanisme efek toksik dari berbagai bahan terhadap mahluk hidup dan
sistem biologik lainnya. Toksikologi tidak hanya mempelajari sifat-sifat
racun saja, tetapi juga mempelajari tentang keamanan setiap zat kimia
yang masuk kedalam tubuh. Toksikologi juga mempelajari efek samping
pada manusia akibat dari pemaparan obat dan zat kimia sehingga dengan
mempelajari toksikologi diharapkan mampu melakukan evaluasi
keamanan zat yang akan digunakan untuk pengobatan (Schmitz, 2008;
Lu, 2006).
2. Uji Toksisitas
Uji toksisitas adalah uji untuk mendeteksi efek toksik suatu zat
pada sistem biologi, dan untuk memperoleh data dosis-respon yang khas
dari sediaan uji. Uji toksisitas menggunakan hewan uji sebagai model
berguna untuk melihat adanya reaksi biokimia, fisiologik dan patologik
pada manusia terhadap suatu sediaan uji. Hasil uji toksisitas tidak dapat
digunakan secara mutlak untuk membuktikan keamanan suatu bahan/
sediaan pada manusia, namun dapat memberikan petunjuk adanya
toksisitas relatif dan membantu identifikasi efek toksik bila terjadi
pemaparan pada manusia (Perka BPOM, 2014).
Tujuan akhir dari uji toksisitas ini berkaitan dengan nilai keamanan
suatu zat kimia dalam penggunaannya pada manusia, dan idealnya data
yang dikumpulkan seharusnya berasal juga dari manusia itu sendiri.
Tetapi, karena hambatan tidak memungkinkan perlakuan langsung pada
manusia, maka uji toksikologi dilakukan pada binatang, hewan sel
tunggal dan sel kultur (Depkes, 2000).
Pengujian toksisitas biasanya dibagi menjadi tiga kategori (Lu,
2006):
a. Uji Toksisitas Akut
Uji yang dilakukan dengan memberikan zat kimia yang sedang
diuji sebanyak satu kali, dalam jangka waktu 24 jam.
b. Uji Toksisitas Jangka Pendek (Subakut)
Uji yang dilakukan dengan memberikan bahan tersebut
berulang-ulang, biasanya setiap hari atau lima kali seminggu selama
jangka waktu kurang lebih 10% dari masa hidup hewan.
c. Uji Toksisitas Jangka Panjang (Kronik)
Uji yang dilakukan dengan memberikan zat kimia secara
berulang-ulang selama masa hidup hewan percobaan.
3. Uji Toksisitas Akut
a. Definisi
Toksisitas akut adalah efek berbahaya yang terjadi segera
setelah terpapar dosis tunggal atau berulang dalam waktu 24 jam.
Sedangkan uji toksisitas akut itu adalah suatu pengujian untuk
mendeteksi efek toksik yang muncul dalam waktu singkat setelah
pemberian sediaan uji yang diberikan dalam dosis tunggal dalam
waktu 24 jam (Priyanto, 2009; Perka BPOM, 2014).
b. Prinsip
Prinsip uji ini adalah pemberiaan sediaan uji dalam beberapa
tingkatan dosis yang diberikan pada beberapa kelompok hewan uji
dengan satu dosis perkelompok. Uji toksisitas akut ini dirancang
untuk menetukan efek yang terjadi dalam periode waktu yang
singkat setelah pemberian dosis uji (Perka BPOM, 2014; Timbrell,
2002).
c. Tujuan
Penelitian toksisitas akut ini bertujuan mengidentifikasi bahan
kimia yang toksik dan memperoleh informasi tentang bahaya
terhadap manusia bila terpajan. Uji toksisitas akut digunakan untuk
menetapkan nilai median Lethal Dose (LD50) dari suatu toksikan.
LD50 bahan obat mutlak harus ditentukan karena nilai ini digunakan
dalam penilaian resiko manfaat dan daya racun yang dinyatakan
sebagai indeks terapi obat. Dimana makin besar indeks terapi, maka
makin aman obat tersebut digunakan (Soemardji, 2002).
Tujuan dilakukannya uji toksisitas akut sebenarnya bukan hanya
untuk menentukan dosis letal 50%, mengetahui mekanisme kerja dan
target organ dari toksik yang diuji, tetapi juga untuk: (Priyanto,
2009)
1) Menentukan range dosis (interval dosis) untuk uji berikutnya
(uji farmakologi, toksisitas subakut, subkonis dan toksisitas
jangka panjang).
2) Untuk mengklasifikasi zat uji, apakah masuk kategori praktis
tidak toksik, supertoksik atau yang lain.
3) Mengindentifikasi kemungkinan target organ atau sistem
fisiologi yang dipengaruhi.
4) Mengetahui hubungan anatara dosis dengan timbulnya efek
seperti perubahan prilaku, koma, dan kematian.
5) Mengetahui gejala-gejala toksisitas akut sehingga bermanfaat
untuk membantu diagnosis adanya kasus keracunan.
6) Untuk memenuhi persyaratan regulasi, jika zat uji akan
dikembangkan menjadi obat.
7) Mengetahui pengaruh umur, jenis kelamin, cara pemberian dan
faktor lingkungan terhadap toksisitas suatu zat.
8) Mengetahui variasi respon antar spesies dan antar strain (hewan,
mikroba), serta memberikan informasi tentang reaktivitas suatu
populasi hewan.
d. Lethal Dose 50 (LD50)
Lethal Dose 50 adalah suatu besaran yang diturunkan secara
statistik, guna menyatakan dosis tunggal suatu senyawa yang
diperkirakan menyebabkan kematian atau menimbulkan efek toksik
yang berarti pada 50% hewan percobaan setelah perlakuan
(Hodgson, 2000).
Biasanya, makin kecil nilai LD50 maka semakin toksik senyawa
tersebut. Demikian juga sebaliknya, semakin besar nilai LD50 maka
semakin rendah toksisitasnya. Potensi toksisitas akut senyawa pada
hewan percobaan dibagi menajadi beberapa kelas, adalah sebagai
berikut: (Priyanto, 2009)
No Kategori Nilai LD50
1 Supertoksik < 5 mg/kg BB
2 Amat sangat toksik 5 – 50 mg mg/kg BB
3 Sangat toksik 50 – 500 mg/kg BB
4 Toksik sedang 0,5 – 5 g/kg BB
5 Toksik ringan 5 – 15 g/kg BB
6 Praktis tidak toksik >15 g/kg BB

4. Rancangan Uji Toksisitas


a. Pemilihan Hewan Percobaan
Pertimbangam dalam pemilihan hewan percobaan didasarkan
pada kemudahan dalam penanganan, harga yang terjangkau,
kemudahan untuk mendapatkan dan hasil dari percobaan yang cukup
relevan dan konsisten. Yang lazim digunakan pada uji toksisitas akut
adalah tikus, mencit, marmut, kelinci, babi ataupun monyet (Loomis,
1987).
Sekitar 90% dari semua mamalia yang digunakan dalam
penelitian ilmiah, tikus dan mencit merupakan spesies hewan yang
hampir 4 kali lebih banyak digunakan dibanding dengan spesies
lainnya. Namun, hewan yang sering dipakai adalah mencit dengan
mempertimbangkan faktor ukuran, kemudahan perawatan, harga dan
hasil yang cukup konsisten dan relevan (Porter, 2000).

b. Cara Pemberian
Cara pemberian zat uji harus disamakan dengan penggunaan zat
tersebut pada manusia. Umumnya, zat uji diberikan melalui sonde
secara peroral. Volume cairan maksimal yang dapat diberikan
tergantung pada ukuran hewan uji. Pada rodensia, jumlah normalnya
tidak melampaui 1 ml/100 g berat badan, namun bila pelarutnya air
(aquaedest) dapat diberikan hingga 2 ml/100 g berat badan.
Umumnya sediaan uji diberikan dalam volume yang tetap selama
pengujian (konsentrasi berbeda), akan tetapi jika bahan uji berupa
cairan atau campuran cairan, sebaiknya digunakan dalam bentuk
tidak diencerkan (konsentrasi tetap) (Perka BPOM, 2014).
B. Uraian Bahan
1. Alkohol (Depkes, 1979)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Alkohol, Etanol
RM /BM : C2H6O/46,07
Pemerian : Cairan tak berwarna, jerni, mudah menguap, dan
mudah bergerak, bau khas rasa panas.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform
dan eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
2. Aquadest (Depkes, 1979)
Nama resmi : AQUA DESTILATA
Nama lain : Air suling, Aquadest
RM/BM : H2O/18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berbau; tidak mempunyai
rasa
Kelarutan :-
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
3. Luminal (Depkes, 1979; MMN, 2017)
Nama resmi : PHENOBARBITALUM
Nama lain : Fenobarbital, Luminal
RM/BM : C12H12N2O3/232,24
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur, putih tidak berbau,
rasa agak pahit
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, larut dalam etanol,
dalam eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat penggunaan : Hipnotikum, Sedativum
Indikasi : Epilepsi (semua jenis kecuali tipe petit mal),
status konvulsi
Kontra-indikasi : Depresi pernapasan berat, porfiria
Perhatian : Lansia, anak, debil, gangguan fungsi hati dan
ginjal, depresi pernapasan, hamil, menyusui,
hindari pemutusan obat mendadak
Efek samping : Mengantuk, letargi, depresi mental, ataksia,
nistagmus, iritabel dan hiperaktif pada anak
Interaksi obat : Kadar fenobarbital akan meningkat bila diberikan
bersama metsuksimid, phenytoin, asam valproat,
furosemid. Kadar menurun bila diberikan
bersama kloramfenikol, dikumarol, folat
Dosis : Sekali 300 mg, sehari 600 mg
Sediaan : Tablet, ampul
Kat. Kehamilan :D
4. Na-CMC (Depkes, 1979)
Nama resmi : NATRII CARBOXYMETHILCELLULOSUM
Nama lain : Natrium karboksimetil selulosa
Pemerian : Serbuk atau hablur putih atau kuning gading,
tidak berbau dan bersifat higroskopis
Kelarutan : Mudah terdispersi dalam air membentuk suspense
kloida, tidak larut dalam etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
C. Uraian Hewan Coba
Mencit (Mus musculus)

Taksonomi mencit (Mus musculus) (Kusumawati, 2004):


Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Ordo : Rodentia
Genus : Mus
Spesies : Mus musculus
Karakteristik mencit sebagai berikut: (Tim Penyusun Farmasi, 2019):
Lama hidup : 1-2 tahun
Lama produksi ekonomis : 9 bulan
Lama bunting : 19-21 hari
Kawin sesudah beranak : 1-24 jam
Umur disapih : 21 hari
Umur dewasa : 35 hari
Umur dikawinkan : 8 minggu
Siklus kelamin : Poliestrus
Perkawinan : Pada waktu estrus
Berat dewasa : 20-40 gram (jantan) dan 18-35 gram
(betina).

BAB III
METODE PENILITIAN
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Batang pengaduk
b. Beaker glass
c. Gelas ukur
d. Hot plate
e. Spoit 1 ml
f. Stopwatch
g. Timbangan berat badan.
2. Bahan
a. Alkohol 70%
b. Aquadest
c. Na-CMC
d. Luminal
e. Lap halus
f. Lap kasar
g. Kapas.
B. Hewan Coba
1. Mencit (Mus musculus)
C. Cara Kerja
1. Diaklimasi mencit / tikus putih jantan selama 14 hari (pemberian hanya
air minum)
2. Dibagi hewan uji menjadi 5 kelompok, setiap kelompok mengujikan
mencit yang sudah dipuasakan
3. Diberikan suspensi luminal yang sudah dibuatkan terlebih dahulu (sudah
di konversikan dan dihitung dosis dari manusia ke hewan uji yang
digunakan)
4. Kelompok 1 volume pemberian suspensi luminal 0,1 ml
5. Kelompok 2 volume pemberian suspensi luminal 0,2 ml
6. Kelompok 3 volume pemberian suspensi luminal 0,4 ml
7. Kelompok 4 volume pemberian suspensi luminal 0,6 ml
8. Diamati efek toksisitas yang dapat terjadi pada kulit, bulu, mata,
membran mukosa dan juga sistem pernafasan, sistem syaraf otonom,
sistem syaraf pusat, aktivitas somatomotor serta tingkah laku. Selain itu,
perlu juga pengamatan pada kondisi: gemetar, kejang, salivasi, diare,
lemas, tidur dan koma
9. Dilakukan pengamatan selama 2 jam untuk tanda-tanda toksisitas dan
diamati selama 24 untuk jumlah mencit yang mati
10. Hasil pengamatan kemudian dicatat dan di hitung LD 50 untuk luminal

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini kami menggunakan mencit (Mus musculus)
sebagai hewan uji dalam uji toksisitas. Hewan uji digunakan sebagai model
berguna untuk melihat adanya reaksi biokimia, fisiologik dan patologik pada
manusia terhadap suatu sediaan uji (Perka BPOM, 2014). Hewan uji mencit (Mus
musculus) yang telah dipuaskan terlebih dulu, kemudian diberi luminal yang
dilarutkan dengan Na-CMC. Luminal atau fenobarbital Fenobarbital merupakan
agen yang efektif untuk kejang bumum tonik klonik dan partial seizure.
Fenobarbital banyak digunakan sebagai obat kejang karena kemanjuran, toksisitas
yang rendah dan biaya yang murah (Saputri, 2013). Na CMC dipilih sebagai
pensuspensi karena merupakan suspending agent yang dapat meningkatkan
viskositas serta dapat meningkatkan kestabilan dari suspense yang dihasilkan
karena Na-CMC dapat membentuk larutan kompleks yang mencegah terjadinya
pemisahan atau sineresis, sehingga mampu meningkatkan viskositas (Suena,
2015).
Pengujian toksikologi dengan menggunakan hewan coba yang dilakukan
bertujuan agar bahan kimia yang kita konsumsi baik melalui obat, makanan
ataupun kosmetik aman untuk dikonsumsi. Karena tujuan akhir dari uji
toksikologi ini adalah untuk keselamatan dan kesehatan manusia, maka hewan
percobaan yang digunakan mempunyai sifat-sifat respon biologis dan adaptasi
yang mendekati manusia. Semakin sama sistem organ antara hewan coba dengan
manusia maka akan semakin baik hasil uji toksisitas yang dilakukan. Walaupun
farmakologi toksikologi pada hewan coba memberikan data yang berharga,
diagnosis tepat mengenai efeknya pada manusia belum dapat dipastikan akurat
karena spesies yang berbeda tentunya menimbulkan perbedaan jalur dan
kecepatan metabolisme, kecepatan ekskresi, sensitivitas reseptor, perbedaan
anatomi dan fisiologi. Oleh karena itu, untuk mempertegas efek obat atau zat
kimia pada manusia, baik efek terapi maupun non terapi, perlu dilakukan
pengujian langsung terhadap manusia. Hewan percobaan yang digunakan dalam
uji toksisitas meliputi primata (kera ekor panjang), anjing, kelinci, tikus dan
mencit. Berdasarkan tingkat kesamaan sistem biologik dan sistem organ serta
tingkat hasil uji toksistas dari yang tinggi ke rendah secara berurutan yaitu primata
(kera ekor panjang) - anjing - kelinci- tikus danmencit (Syarif, dkk. 2007).
Untuk menyatakan toksisitas suatu obat umumnya digunakan ukuran
LD50 yaitu suatu dosis yang dapat membunuh 50% dari sekelompok hewan coba,
obat atau zat kimia dikategorikan super toksik jika dosis sebesar 5 mg/Kg berat
badan atau kurang dari 5 mg/Kg berat badan. Obat dikategorikan amat sangat
toksik jika dosis sebesar 5-50 mg/Kg berat badan. Obat dikategorikan sangat
toksik jika dosis sebesar 50-500 mg/Kg berat badan. Obat dikategorikan toksik
sedang jika dosis sebesar 0,5-5 g/Kg berat badan. Obat dikategorikan toksik
ringan jika dosis sebesar 5-15 g/Kg berat badan. Dan obat dikategorikan praktis
tidak toksik jika dosis sebesar lebih dari 15 g/Kg beratbadan (Rossiana, 2006).
Faktor-faktor yang mempengaruhi toksisitas antara lain dosis, pelaksanaan
pengawasan dan keadaan fungsi organ. Dosis ditentukan oleh konsentrasi dan
lamanya pemaparan dan eksposisizat yang diberikan pada pasien. Pengawasan
dalam penggunaan dan konsumsi zat kimia ataupun obat sangat penting untuk
menentukan konsentrasi zat yang dapat menyebabkan toksik dalam
penggunaannya. Keadaan fungsi organ yang berkontak dengan suatu zat toksik
akan memperngaruhi kerja eksposisi dan netralisasi toksin dalam tubuh manusia.
Dalam hal ini hati dan ginjal memegang peranan penting dalam mencegah
terjadinya toksisitas pada tubuh karena hati dan ginjal merupakan tempat terjadi
absorbsi, metabolisme dan eksresi terbesar dan utama dalam tubuh (Yulianto,
2017).

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Potensi toksisitas terhadap hewan coba ada beberapa yaitu supertoksik,
amat sangat toksik, sangat toksik, toksik sedang, toksik ringan, praktis
tidak toksik.
2. Pemberian suspense luminal dapat diberikan secara peroral.
3. Gejala yang ditimbulkan jika terjadi toksisitas yaitu, perubahan kulit,
bulu, mata, pernafasan sistem saraf otonom, sistem saraf pusat dan pola
perilaku.
B. Saran
Lebih baik praktikum ini dilakukan secara langsung agar bisa diketahui
secara pasti hasilnya.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta.
Depkes RI. 2000. Departemen Pelaksanan Uji Klinik Obat Tradisional.
Direktorat Jendral POM Direktorat Pengawasan Obat Tradisional.Jakarta.

Hodgson, E., Levi P.E., 2000, A Textbook of Modren Toxicology, Mc Graw-Hill


Higher Education, Singapore.

Kusumawati, D. 2014. Bersahabat dengan Hewan Coba. UGM Press.


Yogyakarta.

Loomis, T,A., 1987, Toksikologi Dasar, diterjemahkan oleh Donatus, I.A., edisi
III, IKIP Semarang Press, Semarang.

Lu, F.C., 2006,Toksikologi Dasar (Asas Organ Sasaran dan Penilaian Resiko),
Edisi II, Penerjemah: E.Nugroho, Z.S. Bustaminan Z., Parmansjah,
Universitas Indonesia, Jakarta.

Medical Mini Notes. 2017. Basic Pharmacology and Drug Notes. MMN
Publishing. Makkasar.

Ngatidjan PS. 2006. Metode Laboratorium dan Toksikologi. Artikel Kesehatan.


FKUGM. Yogyakarta.

Parasuraman, 2011. A Conceptual Model of Service Quality and Its Implication


forr Future Reaserch. Service Quality.

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia


Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Pedoman Uji Toksisitas Nonklinik Secara In
Vivo.

Porter, W., 2000, Rats and Mice : Introduction and Use In Research, Washington
University, USA.

Priyanto, 2009, Toksikologi : Mekanisme, Terapi Antidotum dan Penilaian


Resiko, Leskonfi. Jakarta.

Sasmito, et al. 2015. Pengujian Toksisitas Akut Obat Herbal Pada Mencit
Berdasarkan Organization for Economic Co-operation and Development
(OECD). Jurnal Sain Veteriner. Vol. 33, No.2.

Schmitz, Gery., 2008, Farmakologi dan Toksikologi : Edisi 3, Penerbit Buku


Kedokteran EGC, Jakarta.
Soemardji, A. A., 2002, “Toksisitas Akut dan Penentuan LD50 Oral dan Ekstrak
Air Daun Gandarusa (Justicia gendarussa Burm. F) pada mencit Swiis
Webster”, Jurnal Matematika dan Sains. Vol 7(2), 57-62.

Suena,. 2015. Evaluasi Fisik Sediaan Suspense Dengan Kombinasi Suspending


Agent PGA dan Na CMC. Medicamento.Vol 1 No 1.
Syarif, dkk. 2007. Farmakologi dan Terapi. Departemen Farmakologi dan
Terapeutik FKUI. Jakarta.

Timbrell, J. A., 2002, Introduction to Toxicology Ed. 3, Taylor & Francis,


London.

Tim Penyusun Farmasi, 2019. Modul Praktikum Farmakologi. Poltekkes


Kemenkes Gorontalo. Gorontalo.
Yulianto, 2017. Toksikologi Lingkungan. BPPSDMK. Jakarta.