Anda di halaman 1dari 7

TUGAS 2

ADMINISTRASI PERTANAHAN

Oleh

MULYADI

017232272

JURUSAN ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS HUKUM, ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UPBJJ - TARAKAN

UNIVERSITAS TERBUKA

2020
KERJAKAN TUGAS BERIKUT

1. Jelaskan tentang Catur Tertib Pertanahan!


2. Jelaskan macam pengadilan landreform dan kewenangannya!
3. Jelaskan tata cara pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk
kepentingan umum!

JAWAB :

1. Jelaskan tentang Catur Tertib Pertanahan!

Tujuan pelaksanaan administrasi pertanahan adalah untuk menjamin


terlaksananya pembangunan yang ditangani oleh pemerintah maupun swasta,
yaitu:

1. meningkatkan jaminan kepastian hukum hak atas tanah;

2. meningkatkan kelancaran pelayanan kepada masyarakat;

3. meningkatkan daya hasil guna tanah lebih bermanfaat bagi kehidupan


masyarakat. Untuk merealisasikan hal tersebut serta dalam rangka peningkatan
pelayanan kepada masyarakat di bidang pertanahan maka dibuatlah Keputusan
Presiden Nomor 7 Tahun 1979 tentang Catur Tertib Pertanahan, yaitu tertib
hukum pertanahan, tertib administrasi pertanahan, tertib penggunaan tanah,
dan tertib pemeliharaan tanah lingkungan hidup. Keempat tertib tersebut
merupakan pedoman bagi penyelenggaraan tugas-tugas pengelolaan dan
pengembangan administrasi pertanahan yang sekaligus merupakan gambaran
tentang kondisi atau sasaran antara yang ingin dicapai dalam pembangunan
bidang pertanahan yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.

Adapun gambaran tentang kondisi dari masing-masing tertib tersebut adalah


sebagai berikut.

1. Tertib Hukum Pertanahan


Upaya untuk menumbuhkan kepastian hukum pertanahan sebagai
perlindungan terhadap hak-hak atas tanah dan penggunaannya dimaksudkan
agar terdapat ketenteraman masyarakat dan mendorong gairah membangun.
Tertib hukum pertanahan yang diharapkan adalah:
a. Seluruh perangkat peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan
telah tersusun secara lengkap dan komprehensif.
b. Semua peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan telah
diterapkan pelaksanaannya secara efektif.
c. semua pihak yang menguasai dan/atau menggunakan tanah mempunyai
hubungan hukum yang sah dengan tanah yang bersangkutan menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Tertib Administrasi Pertanahan
Upaya memperlancar setiap usaha dari masyarakat yang menyangkut tanah
terutama dengan pembangunan yang memerlukan sumber informasi bagi
yang memerlukan tanah sebagai sumber daya, uang dan modal. Menciptakan
suasana pelayanan di bidang pertanahan agar lancar, tertib, murah, cepat dan
tidak berbelit-belit dengan berdasarkan pelayanan umum yang adil dan
merata. Tertib administrasi yang diharapkan adalah terciptanya suatu kondisi
yang memungkinkan:
a. Untuk setiap bidang tanah telah tersedia catatan mengenai aspek-aspek
ukuran fisik, penguasaan, penggunaan, jenis hak dan kepastian hukumnya,
yang dikelola dalam sistem informasi pertanahan yang lengkap.
b. Terdapat mekanisme prosedur/tata cara kerja pelayanan di bidang
pertanahan yang sederhana, cepat dan murah, namun tetap menjamin
kepastian hukum, yang dilaksanakan secara tertib dan konsisten.
c. Penyampaian warkah-warkah yang berkaitan dengan pemberian hak dan
pensertifikatan tanah telah dilakukan secara tertib, beraturan dan terjamin
keamanannya.
3. Tertib Penggunaan Tanah
Tanah harus benar-benar digunakan sesuai dengan kemampuannya untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kesuburan dan
kemampuan tanah. Tertib yang diharapkan adalah suatu keadaan di mana:
a. Tanah telah digunakan secara optimal, serasi dan seimbang, sesuai dengan
potensinya, guna berbagai kegiatan kehidupan dan penghidupan yang
diperlukan untuk menunjang terwujudnya tujuan nasional.
b. Penggunaan tanah di daerah perkotaan telah dapat menciptakan suasana
aman, tertib, lancar dan sehat.
c. Tidak terdapat benturan kepentingan antarsektor dalam peruntukan
penggunaan tanah.
4. Tertib Pemeliharaan Tanah dan Lingkungan Hidup
Merupakan upaya untuk menghindarkan kerusakan tanah, memulihkan
kesuburan tanah dan menjaga kualitas sumber daya alam serta pencegahan
pencemaran tanah yang dapat menurunkan kualitas tanah dan lingkungan
hidup, baik karena alam atau tingkah laku manusia. Tertib yang
diharapkan adalah suatu keadaan di mana:
a. Penanganan bidang pertanahan telah dapat menunjang upaya
pengelolaan kelestarian lingkungan hidup.
b. Pemberian hak atas tanah dan pengarahan penggunaannya telah dapat
menunjang terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan.
c. Semua pihak yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah telah
melaksanakan kewajiban sehubungan dengan pemeliharaan tanah
tersebut. Berdasarkan hal-hal tersebut maka setiap langkah dan
gerakan pemerintah dalam bidang pertanahan senantiasa
memperhatikan catur tertib tersebut sebagai lingkaran kebijaksanaan
pemerintah dengan administrasi pertanahan sebagai porosnya.

2. Jelaskan macam pengadilan landreform  dan kewenangannya!


Perkara-perkara yang timbul dalam melaksanakan peraturan-peratiran
landreform perlu mendapat peneyelesaian cepat agar pelaksanaan landreform
mempunyai sifat-sifat khusus. Maka itu dianggap perlu adanaya badan
pengadilan tersendiri dengan susunan, kekuasaan, dan acara yang khusus pula,
yaitu pengadilan yang disbeut pengadilan landreform. Pembentukannya diatur
di dalam undang-undang Nomor 21 Tahun 1964 (LN 1964 Nomor 109:
Penjelasannya dalm TLN Nomor 2701).
Pengadilan Landreform berwenang mengadili perkara-perkara landreform,
yaitu perkara-perkara perdata, pidana, ataupun administratif yang timbul dalam
melaksanakan peraturan-peraturan landreform 9 pasal 2 ayat 1. Dalam pasal 2
ayat 2, disebutkan secara rinci peraturan-peraturan mana yang dimaksudkan
dengan peraturan landreform. Peraturan landreform tidak terbatas pada
undang-undang nomor 2 Tahun 1960 dan undang-undang Nomor 56Prp Tahun
1960 serta peraturan-peraturan pelaksanaannya. Turut disebut juga undang-
undang Nomor 5 Tahun 1960, undang-undang Nomor 38 Prp Tahun 1960,
Undang-undang Nomor 51 Prp Tahun 1960, dan Undang-undang Nomor 16
Tahun 1964.
Untuk menegaskan kewenangan pengadilan landreform dalam hubungannya
dengan wewenang pengadilan Landreform dan pengadilan negeri berturut-turut
telah dikeluarkan keputusan bersama presidium kabinet, menko Hukum da
dalam Negeri/Ketua Mahkamah Agung, Menteri Agraria, dan Menteri
Peertanian pada 23 Agustus 1965 Nomor Aa/E106/1965 serta ketetapan
Mahkamah Agung pada 12 Juni 1967 Nomor 6/KM/845/MA.III/67 yang telah
dibicarkan diatas.
Pengadilan Landreform terdiri atas pengadilan Landreform Pusat dan
Pengadilan-pengadilan Landreform daerah yang tempat kedudukannya dan
daerah Hukumnya ditetapkan oleh menteri kehakiman aas usul Menteri
Agraria.
Dalam paraktik pengadilan landreform belum berjalan lancar, antara lain
disebabkan wilayaha hukum tiap pengadilan landreform daerah terlalu luas.
Berhubung dengan itu, idusahakan untuk memperbanyak jumlah pengadilan
menjadi kurang lebih 150 sesuai dengan banyaknya pengadilan negeri.
(keputusan Presidium Kabinet pada 15 Maret 1967 Nomor 58/U/REP/3/1967)
Dengan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1969 (LN 1969 Nomor 37;
TLNNomor 2901), Undang-undang Nomor 21 Tahun 1964 disebut sebagai
Undang-undang yang dinyatakan tidak berlaku lagi atas pertimbangan bahwa
materi yang diaturnya bertentangan dengan UUD 1945 (ketetapan MPRS
Nomor XXXIX/MPRS/1968). Akan tetapi, pernyataan tidak berlakunya
undang-undang Nomor 21 tersebut ditetapkan pada saat undang-undang yang
menggantikannya mulai berlaku. Demikianlah dikeluarkan Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1970 (LN1970 Nomor 41 : TLN Nomor 2939) yang seperti
telah disinggung diatas mencabut Undang-undang Nomor 21 Tahun 1964dan
menghapuskan pengadilan-pengadilan Landreform mulai 31 Juli 1970. Sejak
saat itu, perkara-perkara landreform diperiksa dan diputus oleh pengadilan-
pengadilan dalam lingkungan peradilan umum.

3. Jelaskan tata cara pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan


untuk kepentingan umum!

Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum bertujuan menyediakan tanah bagi


pelaksanaan pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran
bangsa, negara, dan masyarakat dengan tetap menjamin kepentingan hukum Pihak
yang Berhak.
Pengadaan tanah untuk kepentingan umum diselenggarakan melalui beberapa
tahap yaitu :
a. Penganggaran
b. Perencanaan
c. Persiapan
d. Pelaksanaan
e. Penilaian
f. Pembayaran
g. Pensertifikatan
Factor penting yang harus diperhatikan dalam pengadaan tanah adalah:
1. Pengadaan tanah untuk proyek pembangunan harus memenuhi
syarat tata ruang dan tata guna tanah
2. Penggunaan tanah tidak boleh melibatkan kerusakan atau
pencemaran terhadap kelestarian alam dan lingkungan
3. Penggunaan tanah tidak boleh mengakibatkan kerugian masyarakat
dan kepentingan pembangunan
Syarat pencabutan hak atas tanah
• Dilakukan untuk kepentingan umum
• Memberi ganti rugi yang layak kepada pemegang hak
• Dilakukan menurut cara yang diatur oleh UU
• Pemindahan hak tidak bisa dilakukan dengan cara biasa, misalnya jual beli
• Tidak mungkin memperoleh tanah di tempat lain untuk keperluan tersebut
Tata Cara Pencabutan Hak Atas Tanah
• Acara biasa (diatur dalam pasal 2 dan 3 UU No 20 Tahun 1961
• Acara luar biasa/khusus (diatur dalam pasal 6 UU No. 20 Tahun 1961)
Tata Cara Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan
Umum.
• Tata cara berdasarkan Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005
• Tata cara berdasarkan Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006

Sumber :
1. Buku Materi Pokok ADPU4335 Administrasi Pertanahan (Edisi 3)

Anda mungkin juga menyukai