Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat
terwariskan suatu populasiorganisme dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses
utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi
ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup
dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi,
keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat
diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen antar
populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual,
kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang
dapat meningkatkan variasi antara organisme.Evolusi terjadi ketika
perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam
suatu populasi.
Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan
hanyutan genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan
sifat terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi
organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi - dan sebaliknya, sifat
yang merugikan menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu
dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi,
sehingga lebih banyak individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi
sifat-sifat yang menguntungkan ini.Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi
melalui kombinasi perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan
acak ini dengan seleksi alam. Sementara itu, hanyutan genetik (Bahasa
Inggris: Genetic Drift) merupakan sebuah proses bebas yang menghasilkan
perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi. Hanyutan genetik
dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sifat akan diwariskan ketika suatu
individu bertahan hidup dan bereproduksi.
Walaupun perubahan yang dihasilkan oleh hanyutan dan seleksi alam
kecil, perubahan ini akan berakumulasi dan menyebabkan perubahan yang
substansial pada organisme. Proses ini mencapai puncaknya dengan
menghasilkan spesies yang baru. Dan sebenarnya, kemiripan antara
organisme yang satu dengan organisme yang lain mensugestikan bahwa
semua spesies yang kita kenal berasal dari nenek moyang yang sama melalui
proses divergen yang terjadi secara perlahan ini.
Dokumentasi fakta-fakta terjadinya evolusi dilakukan oleh cabang
biologi yang dinamakan biologi evolusioner. Cabang ini juga
mengembangkan dan menguji teori-teori yang menjelaskan penyebab
evolusi.Kajian catatan fosil dan keanekaragaman hayati organisme-organisme
hidup telah meyakinkan para ilmuwan pada pertengahan abad ke-19 bahwa
spesies berubah dari waktu ke waktu. Namun, mekanisme yang mendorong
perubahan ini tetap tidaklah jelas sampai pada publikasi tahun 1859 oleh
Charles Darwin, On the Origin of Species yang menjelaskan dengan detail
teori evolusi melalui seleksi alam.Karya Darwin dengan segera diikuti oleh
penerimaan teori evolusi dalam komunitas ilmiah. Pada tahun 1930, teori
seleksi alam Darwin digabungkan dengan teori pewarisanMendel, membentuk
sintesis evolusi modern, yang menghubungkan satuan evolusi (gen) dengan
mekanisme evolusi (seleksi alam). Kekuatan penjelasan dan prediksi teori ini
mendorong riset yang secara terus menerus menimbulkan pertanyaan baru, di
mana hal ini telah menjadi prinsip pusat biologi modern yang memberikan
penjelasan secara lebih menyeluruh tentang keanekaragaman hayati di bumi.
Meskipun teori evolusi selalu diasosiasikan dengan Charles Darwin,
namun sebenarnya biologi evolusioner telah berakar sejak zaman
Aristoteles.Namun demikian, Darwin adalah ilmuwan pertama yang
mencetuskan teori evolusi yang telah banyak terbukti mapan menghadapi
pengujian ilmiah.Sampai saat ini, teori Darwin mengenai evolusi yang terjadi
karena seleksi alam dianggap oleh mayoritas komunitas sains sebagai teori
terbaik dalam menjelaskan peristiwa evolusi.
Teori evolusi yang dikemukakan oleh para ahli evolusi tidak terlepas dari
peranan berkembangnya zaman, tiap-tiap perubahan suatu teori dimunculkan
dari beberapa teori yang sebelumnya dapat dibantah oleh para ahli yang telah
melakukan penelitian terkait dengan evolusi yang dengan perubahan yang
terjadi di alam semesta ini. salah satu contoh yaitu terbantahnya teori Darwin
oleh teorinya Harun yahya, Darwin menyatakan bahwa makhluk hidup yang
ada dimuka bumu ini beserta isinya ada dengan sendirinya, teori ini dapat
dibantah oleh Harun yahya dengan membuktikan bahwa alam semesta beserta
isinya tidak terjadi dengan sendirinya namun ada yang menciptakan.

B. Rumusan masalah
1. Apa saja bukti-bukti dari evolusi?
2. Bagaimanakah evolusi yang terjadi pada hewan invertebrata ?
3. Bagaimana bentuk awal dari evolusi hewan invetebrata?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja bukti-bukti dari evolusi
2. Untuk mengetahui evolusi yang terjadi pada hewan invertebrata
3. Untuk mengetahui bentuk awal dari evolusi hewan invetebrata
BAB II
PEMBAHASAN

A. Bukti-bukti Evolusi
Kecaman dari berbagai pihak tentang teori evolusi, mendorong para
pendukung teori evolusi membuktikan kebenaran teori evolusi. Hal-hal yang
perlu dibuktikan dalam teori evolusi sebenarnya sudah dibahas dalam buku
Darwin ”The Origin of Species by Means Natural Selection”. Upaya untuk
mencari bukti sampai sekarang lebih mengarah pada petunjuk adanya evolusi
daripada bukti adanya evolusi. Pemaparan bukti evolusi harus dilakukan
dengan pendekatan multidisipliner.
Adapun bukti evolusi yang sering dipakai adalah fosil, anatomi
komparatif, struktur sisa, embriologi komparatif, biokimia komparatif dan
biogeografi.
1. Petunjuk adanya evolusi dari segi palaentologi
Charles Darwin yang menyatakan bahwa fosil adalah bukti
perkembangan makhluk hidup masa lampau, yang menujukkan suatu
perkembangan yang terus menerus secara evolutif. Perkembangan evolusi
kuda sering digunakan sebagai contoh perkembangan makhluk hidup dari
segi paleontologik.
Perkembangan kuda dimulai dari apa yang disebut Hyracotherium,
termasuk kelompok Eohippus, yang muncul dari Eocene awal di Amerika
Utara dan Eropa. Nenek moyang kuda ini hanya sekitar 11 inci, berleher
pendek dan mempunyai kaki depan yang berbeda dengan kaki belakang,
kaki depan jumlah jari kakinya empat dan kaki belakang jumlah jarinya
hanya tiga; jari keempat dan kelima masih ada tapi kecil sekali. Pada
oligocene muncul Mesohippus yang lebih besar daripada Eohippus, yakni
sekitar 24 inci. Kaki depan dan kaki belakang semua berjari 3. Pada
Miocene dijumpai adanya Parahippus dan Merychippus, yang pertama
adalah pemakan daun dan yang kemudian adalah pemakan rumput. Baru
pada Pleiocene muncul apa yang disebut Pliohippus yang jari sampingnya
sudah mereduksi. Pada akhir Pleiocene akhir sudah muncul nenek moyang
kuda  yang berjari satu, yang menyebar ke seluruh dunia kecuali Australia.

Gambar 1. Evolusi Kuda


Kalau diikuti uraian tersebut di atas seakan-akan perkembangan kuda
secara evolusi seperti garis lurus. Dalam kenyataannya perkembangan
tersebut bercabang-cabang. Sebagai contoh adalah pada Miocene selain
terdapat Parahippus dan Merychippus seperti disebut di atas, juga ada
Hypohippus, namun kemudian tidak berkembang dan akhirnya punah.

2. Petunjuk adanya Evolsi berupa Anatomi Komparatif


Dikenal adanya keadaan yang disebut homologi dan analogi. Struktur
homolog adalah contoh dari suatu organ atau tulang yang muncul pada
hewan yang berbeda, yang menjadi penekanannya adalah kesamaan anatomi
menunjukkan keturunan dari satu nenek moyang. Dengan kata lain, itu
ketika hewan yang sangat berbeda memiliki tulang yang muncul sangat
mirip dalam bentuk atau fungsi dan tampaknya berkaitan, contohnya Sirip
lumba-lumba, sayap burung, kaki kucing, dan lengan manusia dianggap
struktur homolog. Sedangkan manusia memiliki tulang seperti humerus,
ulna, radius, tulang pergelangan tangan, dan jari-jari, fitur ini muncul
sebagai bentuk mirip tulang pada hewan lainnya.

Gambar 2. Struktur Homolog


Sedangkan analogi adalah adanya fungsi yang sama pada beberapa
makhluk hidup yang secara anatomik organ yang mengemban fungsi
tersebut tidak mempunyai struktur dasar yang sama contonya sayap
kelelawar dan kupu-kupu. Keduanya terlihat sangat berbeda satu sama lain,
tetapi melakukan fungsi yang sama untuk terbang.

Gambar 3. Struktur Analog


Para ahli berpendapat bahwa peristiwa analogi ini adalah merupakan
proses perkembangan evolusi konvergen. Suatu peristiwa yang bertolak dari
adaptasi anggota makhluk hidup dari beberapa bentuk berbeda namun
berada dalam lingkungan yang sama untuk jangka waktu yang sangat lama.

3. Petunjuk Evolusi Embriologi Komparatif


Hubungan perkembangan embrio dengan evolusi dinyatakan dalam Ernst
Haeckel bahwa ontogeni adalah pilogeni yang dipersingkat. Ia menyebut
sebagai teori rekapitulasi atau teori biogenetik. Perkembangan embrio pada
hewan vertebrata dijumpai kenyataan bahwa perkembangan embrio dari
zigot menujukkan struktur yang sama, namun selanjutnya berkembang
berbeda satu dengan yang lainnya sehingga bentuk dewasanya mejadi
sangat berbeda .

Gambar 4. Embriologi Komparatif Beberapa Hewan Vertebrata

4. Petunjuk dari Fisiologi Komparatif


Kemiripan faal tubuh dijumpai pada makhluk hidup mulai dari tingkat
rendah sampai tingkat tinggi meliputi:
a. kemiripan dalam faal respiratoria
b. kemiripan dalam metabolisme
c. proses sintesis protein
d. pembentukkan ATP sebagai molekul berenergi tinggi

5. Petunjuk dari usaha domestifikasi


Hasil perjalanan Darwin menunjukkan bahwa spesiasi dapat terjadi
karena upaya domestifikasi oleh manusia, misalnya upaya pemuliaan
tanaman maupun hewan.

6. Petunjuk dari Alat Tubuh yang tersisa


Alat-alat sisa digunakan sebagai petunjuk adanya evolusi, karena dalam
kenyataanya meskipun alat tersebut tidak lagi menunjukkan suatu fungsi
nyata tapi tetap dijumpai secara nyata dan jumlahnya boleh dikatakan cukup
banyak. Penganut faham evolusi melihat adanya kelemahan dari penganut
faham ciptaan khusus, bertolak dari alat-alat tersisa yang tidak lagi ada
gunanya itu. Adapun organ-organ sisa antara lain: apendiks, selaput mata
sebelah dalam, otot-otot penggerak telinga, tulang ekor, gigi taring yang
runcing, geraham ketiga, rambut didada, mammae pada laki-laki, musculus
piramidalis dan masih banyak lagi .

Gambar 5. Beberapa Organ sisa pada Tubuh manusia


7. Petunjuk dari struktur DNA dan Protein
Semua organisme hidup tersusun oleh kode genetik
(DNA=Dioksiribonukleotid Acid) yang sama. Kode genetik makhluk hidup
tersusun oleh gula ribosa, pospat, dan empat basa nitrogen yang saling
berkombinasi menghasilkan sifat-sifat fenotif yang berbeda. Kode genetik
ini bersifat universal. Melalui proses transkripsi dan tranlasi kode-kode
genetik ini diterjemahkan menjadi asam amino-asam amino yang menyusun
protein. Secara universal protein seluruh makhluk hidup tersusun oleh
kombinasi 20 asam amino .

B. Mekanisme Evolusi
Apabila  perbandingan fenotif dalam suatu populasi tidak berubah dari
generasi ke generasi, dapat dinyatakan bahwa frekuensi gena populasi tersebut
dalam keadaan seimbang. Dengan kata lain proses evolusi dapat diartikan
sebagai suatu perubahan komulatif frekuensi allele sejalan dengan waktu.
Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi gena dari generasi ke
generasi cenderung konstan selama tidak ada mutasi gen, rekombinasi gen,
hilangnya gen (=genetif drift) maupun alur gen (=gen flow). Darwin
menambahkan untuk terjadinya perubahan frekuensi gen terdapat peranan
lingkungan. Melalui proses seleksi alam arah evolusi ditentukan.
1. Mutasi
Mutasi adalah perubahan secara acak pada struktur DNA. Mutasi
adalah material kasar untuk terjadinya evolusi karena mutasi dapat
menyebabkan variasi genetik. Penyebab mutasi dapat berasal dari
lingkungan (oleh zat mutagenik) atau perubahan dari dalam individu pada
saat replikasi terjadi kesalahan. Ada dua jenis mutasi yaitu mutasi kecil
dan perubahan kromosom. Pada kasus pertama adanya substitusi beberapa
pasangan nukeotida dalam molekul DNA sedangkan perubahan
kromosomal merupakan perubahan besar yang menyangkut ratusan
bahkan ribuan nukleotida. Terjadinya mutasi dapat menguntungkan
maupun merugikan bagi individu yang mengalaminya. Mutasi
menyebabkan perubahan pada variasi genetik dan diturunkan sehingga
mutasi berpengaruh terhadap evolusi.
2. Genetic drift
Genetic drift adalah hilangnya/lepasnya frekuensi allele secara
kebetulan atau dapat dikatakan merupakan perubahan acak pada frekuensi
gen pada populasi kecil yang disebabkan oleh kematian, migrasi atau
isolasi. Pada populasi kecil kehilangan sedikit anggotanya akan membuat
perbedaan besar. Geneti drift dapat disebabkan oleh dua kategori situasi
yaitu the bottleneck effect dan the founder effect.
The bottleneck effect. Bencana alam seperti kebakaran, gempa bumi,
habisnya cadangan makanan dan penyakit yang mewabah dapat
mengurangi sejumlah individu dalam populasi. The bottleneck effect
terjadi ketika populasi yang bertahan hidup sangat sedikit, misal tinggal
satu dosen sehingga gen pool (komposisi genetik suatu populasi) tidak
merepresentasikan populasi awal.
The founder effect. Ketika sejumlah kecil organisme bermigrasi dari
populasi yang besar dann menetap sebagai populasi yang baru di suatu
tempat the founder effect dapat terjadi. Jelasnya adalah gen pool kelompok
migrasi yang lebih kecil biasanya tidak merepresentasikan gen pool
populasi yang besar. Beberapa allele akan absen sementara itu yang lain
akan ada secara sedikit atau berlebihan. Sebagai konsekuensi, ketika
individu-individu bereproduksi dan jumlah founding population
meningkat, frekuensi gennya berbeda dari populasi awalnya.
3. Aliran Gen (=Gen Flow)
Aliran gen dapat terjadi melalui proses interbreeding. Imigran dapat
menambah allele baru ke dalam gen pool sehingga dapat merubah
frekuensi allele. Aliran gen dapat terjadi dari kisaran imigran yang sangat
rendah sampai kisaran imigran yang sangat tinggi tergantung dari jumlah
individu yang datang dan seberapa banyak perbedaan genetik inidividu-
individu yang dapat bergabung. Bagaimanapun bila informasi genetik
sangat berbeda imigrasi kecil pun dapat menghasilkan perubahan frekuensi
allele yang sangat besar.
4. Rekombinasi Seksual
Pada individu yang melakukan reproduksi secara seksual keturunan
yang dihasilkan dapat berbeda dengan induknya karena selama meiosis
kromosom bergabung secara acak dan juga pada saat peristiwa fertilisasi
terjadi penggabungan materi genetik dari dua sel gamet. Dengan demikian
rekombinasi gen dapat memberi peluang yang besar untuk terjadinya
variabilitas yang berpengaruh terhadap evolusi populasi.
5. Seleksi alam
Seleksi alam adalah salah satu faktor evolusi, pertama kali dikemukan
oleh Darwin. Individu yang mempunyai kecocokan dengan lingkungan
yang mampu bertahan. Oleh sebab itu alam bertugas sebagai penyeleksi
kelestarian makhluk hidup dari generasi ke generasi. Hasil adaptasi
makhluk hidup terhadap lingkungannya disebut modifikasi dan ini
diturunkan pada anakannya, sehingga seleksi alam merupakan faktor
evolusi.

C. Evolusi Pada Hewan Invertebrata


Evolusi yang terjadi pada hewan vertebrata dan hewan invertebrata terjadi
melalui proses yang sangat panjang dan membutuhkan waktu yang lama,
perubahan dari struktur tubuh baik bentuk anatomi dan morfologi sangat
berpengaruh sebagai bentuk evolusi yang di hasilkan. Salah satu bentuk evolusi
yang terjadi yaitu yang diduga hewan yang berkembang di laut, kemudian
menurunkan jenis-jenis hewan dan tumbuhan air yang hidup dan berkembang
biak di dalam air. Karena adanya  kompetisi, organisme itu ada yang mencoba
hidup ke darat. Setelah hidup di darat terjadi kompetisi dalam memperebutkan
makanan dan tempat hidup. Beberapa spesies diduga berusaha kembali ke air.
Dalam upaya kembali ke air itu ada yang behasil, ada pula yang tidak berhasil.
Contohnya yang berhasil adalah lumba-lumba, paus, yang sepenuhnya hidup di
air. Sedangkan yang tidak berhasil misalkan buaya.
Cara evolusi ini merupakan sebuah kompetisi yang dihasilkan dari
masing-masing spesies yang hidup saat dalam kondisi yang tidak
memungkinkannya untuk tetap tinggal pada daerah tersebut sehingga
menyebabkan perpindahan tempat untuk menghadapi seleksi alam dan
terseleksi oleh alam.

Gambar 1 : Filogenetik Hewan Invertebrata


Dalam sistematika awal, binatang mencakup banyak organisme bersel
tunggal yang dikelompokkan sebagai Protozoa karena sifat heterotrof dan
bergerak aktif (motil). Pengelompokan ini terus dianut hingga pertengahan
abad ke-20 dan hingga sekarang masih dipakai untuk kepentingan praktis.
Ketika orang mulai menganggap bahwa organisme bersel satu tidak memiliki
organisasi jaringan, dibentuklah kelompok protista yang menghimpun semua
organisme sederhana yang berperilaku mirip binatang (bergerak, heterotrof).
Perkembangan biologi sejak separuh akhir abad ke-20 telah menunjukkan
bahwa banyak organisme bersel satu tidak dapat lagi dipertahankan sebagai
binatang. Ke dalam "binatang" dimasukkan semua organisme bersel banyak
yang sel spermanya memiliki kesamaan struktur dengan koanosit, suatu sel
generatif primitif. Selain itu, penerapan konsep evolusi dan kladistik telah
mengubah banyak organisasi sistematika hewan. Proses reklasifikasi ini sampai
sekarang masih terus berjalan.
Menurut para ahli, terbentuknya hewan-hewan di muka bumi ini dimulai
dari zigot bersel satu yang mengalami pembelahan sel dan sel tersebut akan
bertambah banyak yang terbentuk menyerupai bola. Bentuk seperti bola
tersebut akan mengalami perkembangan, yaitu akan melekuk ke dalam
sehingga akan terbentuk dua lapisan, yaitu ektoderm (lapisan luar) dan
endoderm (lapisan dalam). Ektoderm dalam masa perkembangannya
membentuk bagian-bagian tubuh tertentu, yaitu epidermis, kulit, dan sistem
saraf, sedangkan lapisan endoderm akan berkembang menjadi sistem
pencernaan dan kelenjarnya. Ada beberapa hewan yang berkembang pada
tingkat kedua lapisan ini yang dinamakan diplobastik. Adapun yang termasuk
golongan hewan ini adalah Porifera dan Coelenterata. Di antara kedua lapisan,
yaitu ektoderm dan endoderm akan berkembang dan terbentuk lapisan
mesoderm. Lapisan mesoderm akan berkembang membentuk bagian tubuh
yang menjadi otot, sistem reproduksi, sistem sirkulasi, dan sistem ekskresi.
Golongan hewan yang berkembang pada ketiga tingkat lapisan ini
dinamakan  triplobastik. Golongan hewan ini adalah Platyhelminthes dan
Nemathelminthes.
Dari hasil penelitian diketahui pada Platyhelminthes belum mempunyai
rongga tubuh, yaitu terlihat tubuhnya padat, tanpa rongga antara usus dan
tubuh terluar sehingga digolongkan sebagai triplobastik aselomata (selom =
rongga tubuh). Adapun pada Nemathelminthes mempunyai rongga tubuh semu,
yaitu mesoderm belum membentuk rongga yang sesungguhnya karena tampak
pada mesoderm belum terbagi menjadi lapisan dalam dan lapisan luar, yang
dinamakan dengan triplobastik pseudoselomata dan yang mempunyai rongga
tubuh dinamakan triplobastik selomata karena mesodermnya sudah dipisahkan
oleh rongga tubuh yang terbentuk menjadi dua lapisan, yaitu dalam dan luar.
Termasuk golongan hewan ini adalah Annelida sampai Chordata.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa terbentuknya hewan dimulai dari
Protozoa kemudian Porifera, Coelenterata, sampai pada tingkat Mamalia. Jadi,
hewan tersebut mengalami perkembangan dari satu sel menjadi banyak sel
hingga terbentuk triplobastik aselomata, pseudoselomata, sampai selomata.
Hewan yang digolongkan dalam kelompok Avertebrata memiliki persamaan
ciri, yaitu tidak mempunyai ruas-ruas tulang belakang (vertebrae). Jika kita
amati, golongan hewan ini memiliki pola organisasi tubuh yang agak
sederhana, dibandingkan dengan kelompok hewan Vertebrata. Dengan dasar
inilah hewan-hewan ini dianggap primitif atau merupakan bentuk-bentuk
paling awal dari kehidupan yang telah mengalami sedikit perubahan.
(Wikipedia, 2012)
Pertumbuhan dan perkembangan hewan dimulai sejak terbentuknya zigot.
Satu sel zigot akan tumbuh dan berkembang dengan tahap "zigot-morula-
blastula-gastrula" hingga terbentuk embrio. Embrio akan berdiferensi sehingga
terbentuk berbagai macam jaringan dan organ. Organ-organ akan menyatu dan
bergabung menjadi organisme. Kemudian, organisme tumbuh dan berkembang
menjadi organisme dewasa. Pada siklus hidup hewan tertentu, terjadi
perubahan bentuk tubuh dari embrio sampai dewasa. Perubahan bentuk ini
disebut metamorfosis. Metamorfosis dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu
metamorfosis sempurna dan tidak sempurna.
Metamorfosis sempurna dicirikan dengan adanya bentuk tubuh yang
berbeda di setiap fase metamorfosis, misalnya adalah kupu-kupu dan katak.
Metamorfosis tidak sempurna ditandai dengan adanya bentuk tubuh yang sama,
tetapi ukurannya berbeda pada salah satu fase metamorfosis, misalnya adalah
belalang dan kecoa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan hewan
dapat dibagi menjadi dua, yaitu: faktor internal dan eksternal. Faktor internal
meliputi gen dan hormon. Gen merupakan faktor keturunan yang diwariskan
dari orang tua (induk) kepada keturunannya, sedangkan hormon merupakan
senyawa organik yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan hewan.
Faktor eksternal meliputi air, nutrisi, cahaya, aktivitas, dan lingkungan.
1. Bentuk Awal dari Hewan
Sebagian besar ahli sistematika setuju bahwa kingdom hewan adalah
monofiletik yaitu jika kita dapat melacak semua garis keturunan hewan
kembali ke asal mulanya, hewan akan menyatu pada suatu nenek moyang
bersama, nenek moyang kemungkinan adalah suatu protista berflagella
pembentuk koloni yang hidup pada masa prakambrium yang berkerabat
dengan koanoflagelata.
Dari bentuk awal yang menyerupai flagelata kemudian timbul
flagelata yang menyerupai flagelata yang ada sekarang.Hal ini sesuai
dengan teori George Cuvier yang membuktikan adanya persamaan antara
organism yang dulu dengan yang sekarang.Organisme inilah yang
kemudian mewakili kelompok protozoa, yang kemudian dari radiasi yang
bersifat adaptatif timbullah protozoa-protozoa yang lain, yaitu kelompok
ameboid, kelompok yang bersilia, dan protozoa yang bersifat parasit.
Hewan ciliata cenderung untuk mempertahankan bentuknya dari masa ke
masa, sedangkan hewan protozoa mempunyai bentuk adaptasi antara lain
yang hidup di air tawar dan yang hidup di daratan.
Dari hewan bersel satu, terjadi perubahan yang berupa hewan bersel
banyak. Diduga bahwa hewan bersel banyak mula-mula berbentuk bola
yang berongga, terdiri dari sel-sel yang hanya satu lapis saja.Berdasarkan
hipotesis, hewan tersebut disebut blastea.Nama ini diambil dari satu
bentuk esensial yang selalu dilalui oleh setiap makhluk hidup bersel
banyak dalam perkembangan embriologinya. Alga dan protozoa sekarang
ini merupakan hasil radiasi yang pertama, sedangkan blastea tidak lagi
dijumpai, kecuali dalam bentuk blastula dalam perkembangan embrio
makhluk hidup bersel banyak. Bentuk blastea merupakan bentuk yang
memungkinkan untuk berkembang lebih jauh yaitu pada radiasi kedua dan
ketiga.
a. Radiasi yang kedua
Secara hipotesis perkembangan hewan dari bentuk blastea adalah
sebagai berikut :
1) Dari tingkat blastula, embrio hewan berkembang ke arah tingkat
gastrula, sehingga terjadi 2 lapisan, yaitu lapisan dalam
(endoderma) dan lapisan luar (ektoderma). Dalam tingkat gastrula
hewan tersebut berkembang menjadi dewasa. Contoh hewan
diploblastik yang kita jumpai sekarang adalah Porifera dan
Coelenterata.
2) Kemungkinan lain adalah bahwa setelah melalui tingkat blastula
dan gastrula, maka embrionya tidak berkembang menjadi hewan
dewasa, tetapi antara lapisan endoderma dan lapisan ektoderma,
terbentuklah lapisan mesoderma. Setelah terbentuk lapisan
mesoderma baru-lah berkembang menjadi hewan dewasa. Hewan
ini tidak lagi dijumpai, namun keturunannya yang terbentuk
sebagai hasil evolutif (radiasi ketiga), dijumpai dalam berbagai
bentuk.

b. Radiasi yang ketiga


Tipe-tipe triploblas dapat digolongkan dalam 4 kelompok besar
hewan hewan berikut ini karena meskipun mempunyai mesoderma
tetapi berbeda asalnya (dari bagian mana) dan perkembangannya
menjadi embrio. Radiasi ketiga ini terbagi menjadi 4 kelompok
berikut ini :
1) Kelompok I
Pada kelompok I ini bagian di kanan dan kiri dari mesoderma
membentuk benjolan yang kemudian meluas sehingga mengisi
ruangan di antara ektoderma dan endoderma. Ruang yang
terbentuk disebut coelom. Karena coelom bentuk asalnya dari
endoderma maka disebut enterocoelmata. Contohnya:
Echinodermata dan Chordata. 
2) Kelompok ll
Pada kelompok II mesoderma berasal derri
ektoderma.Ektoderma melepaskan keiompok-kelompok sel dalam
ruangan di antara endoderma dan ektoderma, sehingga
mesodermanya kompak dan tidak dijumpai coelom.Hewan yang
tidak memiliki coelom termasuk dalam acoelomata. Contohnva:
cacing pipih dan cacing pita.
3) Kelompok III
Pada kelompok III ini mesoderma terbentuk dari endoderma
maupun ektoderma, hanya saja setelah mesoderma terbentuk maka
terjadi celah yang kemudian berkembang menjadi coelom. Coelom
tersebut dinamakan schizocoel, hewan yang memiliki schizocoel
disebut schizocoelomata. Contohnya, Annelida, Mollusca, dan
Arthropoda (Crustacea, Insekta, labah-labah). 
4) Kelompok IV
Pada kelompok IV, mesoderma dibentuk oleh ektoderma,
hanya saja mesoderma tak memenuhi ruangan seluruhnya,
sehingga dengan demikian ruangan tidak dibatasi oleh mesoderma
tetapi oleh ektoderma.Oleh karena itu, coelom tersebut dinamakan
pseudocoel.Hewan yang memiliki pseudocoel termasuk dalam
pseudocoelomata. Contohnya: Rotifera dan cacing gilik atau
nematoda. Pada masa embrio, Annelida yang hidup di laut dan
Mollusca sangat serupa, sehingga sulit sekali untuk dibedakan.
Demikian juga antara insekta dan cacing tanah bentuk embrionya
sulit sekali dibedakan meskipun bentuk dewasa mereka berbeda
sama sekali. Hewan-hewan triploblastik pada dasarnya adalah
simetri bilateral.Ada anggapan bahwa pada waktu terjadi
perubahan bentuk dari diploblastik ke triploblastik terjadi juga
perubahan bentuk simetrinya, yaitu dari Simetri radial ke simetri
bilateral. 

2. Teori Evolusi Pada Kelompok Modern


Evolusi invertebrata yang terdiri dari 30 filum dimulai dari nenek
moyang berupa protista yang hidup di laut. Protista bercabang tiga,
dimulai dari filum Porifera, filum Cnidaria, dan filum Plathyhelminthes.
Filum Plathyhelminthes bercabang menjadi tiga. Cabang pertama
bercabang lagi menjadi tiga dimulai dari filum Mollusca, filum Annelida,
dan filum Arthropoda.Cabang kedua menjadi filum Nematoda.Sedang
cabang ketiga menjadi dua, yaitu filum Echinodermata dan filum
Chordata.Dari evolusi invertebrata dapat kita ketahui bahwa evolusi
vertebrata berasal dari nenek moyang berupa Echinodermata.
Echinodermata akan berkembang menjadi Echinodermata modern
contohnya bintang laut, dan bulu babi, Hemichordata, Chordata primitif
yang terdiri dari Tunicata dan Lancelets.