Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH PENGARAHAN DAN

KETELADANAN ILMU PENDIDIKAN


Di susun untuk memenuhi mata kuliah

IPK

Yang di bina oleh :

Drs. Syamsudin M.pd.

Oleh :

A’yunni Putri Pertiwi ( 20140720136)

Anastafia Hilda Afifi (20140720151)

Tegar Arifeni (20140720161)

Elvira Nurria Masyithoh (20140720174)

Program Sarjana Pendidikan Agama Islam


Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan adanya pengajar atau guru menjadi tumpuhan utama perjalanan
sebuah bangsa. Pendidikan yang setiap masanya dituntut untuk maju mengharuskan adanya
komponen-komponen pendidik yang berkualitas. Salah satu komponen pendidik yang utama
yaitu guru sebagai pemberi ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Selain memberikan
teori-teori tentang ilmu pengetahuan sudah sepatutkan seorang guru memberikan contoh
yang baik kepada peseta didiknya. Karena tak bisa dipungkiri peserta didik juga akan meniru
tingkah laku, sifat, ataupun sikap gurunya yang dianggap sebagai orangtua kedua yang
mereka percaya sebagai panutan mereka. Oleh karena itu, guru harus bisa menjadi teladan
bagi peserta didiknya.  
           Keteladanan seorang guru menjadi metode pengajaran dalam pendidikan islam.
Dalam pengajaran metode keteladanan sangat penting untuk dilakukan karena peserta didik
mampu melihat secara langsung apa saja yang seharusnya dia lakukan dan secara langsung
peserta didik akan meniru apa-apa yang dilakukan oleh seorang guru yang mereka anggap
sebagai panutan kedua setelah orangtua.
            Dalam makalah ini kami akan membahas tentang “Keteladanan Guru sebagai Metode
Pendidikan Islam”. Dengan tujuan pembaca dapat mendapatkan wawasan bahwa guru juga
harus bisa menjadi teladan, contoh, panutan yang baik untuk peserta didiknya.
B.     Batasan dan Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang kasih sayang dan kelembutan ,
meliputi:
1. Pengertian keteladanan?
2.   Bagaimana harapan peserta didik dan keteladanan ?
    3.   Bagaimana keteladanan pendidik ?
4. Pengertian Pengarahan?

C.    Tujuan Penulisan


Makalah ini penulis susun untuk memenuhi salah satu tugas kelompok alat
pendidikan dan pengajaran dan untuk mengetahui lebih luas tentang apa yang dimaksud
pengarahan dan keteladanan
BAB II
Pembahasan
A. Pengertian Keteladanan
Keteladanan adalah salah satu metode dalam proses belaljar mengajar.
Metode ini merupakan metode yang paling unggul dan paling jitu
dibandingkan metode-metode lainnya. Melalui metode ini para orang tua dan
pendidik member contoh atau teladan terhadap peserta didiknya bagaimana
cara berbicara,berbuat,bersikap,mengerjakan sesuatu atau cara beribadah dan
sebagainya.
Melalui metode ini peserta didik dapat melihat,menyaksikan,dan
meyakinincara sebenarnya,sehingga mereka dapat melaksanakannya dengan
lebih baik dan lebih mudah.
Tujuan pendidik adalah memberikan teladan yang baik bagi peserta
didiknya.
Pendidik adalah cermin dari peserta didik. Semua yang dilakukan pendidik
akan ditiru oleh peserta didik. Pendidik harus berhati-hati dalam bersikap
karena peserta didik akan selalu menilai semua sikap dan perilaku pendidik.
Pendidik tidak cukup hanya memberikan prinsip saja,untuk menciptakan
peserta didik yang sholih,karena yang lebih penting bagi peserta didik adalah
figure yang memberikan keteladanan dalamm menerapkan prinsip
tersebut,sehingga sebanyak apapun prinsip yang diberikan tanpa disertai
contoh keteladanan,ia hanya akan menjadi kumpulan resep yang tak
bermakna.
Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh
dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek
moral,spiritual dan etos social eserta didik. Mengingat pendidik adalah
seorang figur terbaik dalam pandangan peserta didik yang tindak tanduk dan
sopan santunnya disadari atau tidak akan ditiru oleh mereka. Proses belajar
emang dapat tercapai secara maksimal dngan metode,meniru ,,seperti seorang
yang meniru orang lain dalam melakukan sesuatu atau meniru mengucapkan
sebuah kata. Oleh karena itu masalah keteladanan menjadi factor penting
dalam menentukan baik buruknya peserta didik,jika dalam proses belajar
mengajaar peserta didik sudah diajari berbuat tidak baik,maka nantinya peserta
didik akan tumbuh menjadi seseorang yang rusak moralnya dan tidak
menghargai serta tidak mematuuhi peraturan yang ada.
B. Harapan Peserta Didik dan Keteladanan
Dalam hubungan pendidikan peserta didik selalu memandang kepada pendidik .
pendidik menjadi focus dan tambatan perhatian untuk peniruan bagi peserta didik. Pendidik
dipandang dari keseluruhan dimensi kemanusiaannya; dipandang sebagai manusia yang
menjunjung kebenaran dan keluhuran; sebagai manusia dengan aku dan kehadiranya yang
matang, teguh dan dinamis; dengan kemampuan sosialnya yang menyejukkan; dengan
kesusilaannya yang tinggi, serta dengan keimanan dan ketakwaannya yang dalam.
Dari segi peserta didik pendidik menjadi tumpuan harapan, menjadi sumber inspirasi
dan energy bagi bergeraknya proses pendidikan. Dengan harapan seperti itu pada diri peserta
didik tumbuh berbagai tuntutan yang hendak dipenuhi pendidik. Harapan /tuntutan itu
sebagian besar bersangkut-paut dengan arah peniruan-peniruan yang terjadi (atau
dikehendaki terjadi) dalam hubungan antara peserta didik dan pendidik. Harapan itu ada yang
menyangkut profil sikap, maupun figure pendidik secara keseluruhan, yang kesemuanya itu
dapat dikembalikan kepada kelima dimensi kemanusiaan.
Good and Broph dalam Prayitno (2012) menghimpun berbagai temuan tentang
harapan siswa terhadap guru, antara lain sebagai berikut:
1.      Profil guru yang diharapkan siswa:
·         Periang
·         Suka berteman
·         Beremosi matang
·         Jujur, apa adanya, dan tidak berpura-pura
·         Dapat dipercaya
·         Sehat mental
·         Dapat menyesuakan diri
·         Merupakan pribadi yang kuat
2.      Sikap guru yang diharapkan siswa:
·         Aktif mendengarkan apa yang dikemukakan siswa tanpa bersikap mempertahankan diri
atau menjadi otoriter,
·          Apabila menghadapi masalah siswa menghindari solusi yang mengarah kepada
pemecahan yang bersifat menang atau kalah.
·         Berorientasi pada pemecahan masalah (problem solving), menghindari perlakuan
negative, seperti sikap menarik diri, menyalahkan orang lain, histeris, dan reaksi emosional
lainnya.
3.      Figure guru otoritatif (bukan otiriter) menurut harapan siswa :
·         Menjaga dan menegakkan aturan
·         Aktif melakukan tugas-tugasnya
·         Dapat menjelaskan dengan baik
·         Menarik dan tidak membosankan
·         Adil; taat asas dan tidak pilih kasih
·         Enak diajak berteman; sopan bicara lembut (tidak keras atau membentak), dapat
tertawa (jika memang layak untuk tertawa).
C.    Keteladanan Pendidik.
Memperhatikan betapa pentingnya pengarahan dan peniruan, baik didalam proses
pembelajaran peserta didik maupun di dalam kehidupan pada umumnya, seharusnyalah
pendidik memberikan perhatian yang amat besar kepada proses peniruan oleh pendidik itu,
mau tidak mau, peserta didik akan meniru sesuatu dari pendidiknya. Oleh karena itu, mau
tidak mau, pendidik dituntut untuk menjadi tokoh yang layak ditiru oleh peserta didik;
menjadi panutan dan teladan.
Untuk menjadi manusia seutuhnya mungkin telah ideal, tetapi untuk menempati
kebenaran, memiliki cirri kemandirian, kematangan, keteguhan pribadi yang dinamis;
kemampuan social yang menyejukkan; kesusilaan yang tinggi, serta keimanan dan ketakwaan
yang dalam sesuai dengan tuntutan pengembangan kelima dimensi kemanusiaan, semuanya
itu tidaklah mustahil . tokoh pendidik sebagai manusia utuh itulah yang dipandang dan
sekaligus diharapkan oleh peserta didik. Tokoh pendidik sebagai manusia dipandang dan
sekaligus dan diharapkan oleh peserta didik. Ketokohan yang seperti itulah yang diharapkan
tampil pada diri pendidik. Yang selanjutnya menjadi figure teladan.
Lebih jauh, figure pendidik adalah figure yang sukses; suskses dalam menjalankan tugas
pekerjaanya dan sukses pula dalam kehidupan sehari-hari sebagai manusia biasa yang
didukung oleh nilai-nilai moral dan agama. Dengan figure yang sukses itu, maka proses
pendidikan akan memperoleh jaminan bahwa proses pembelajaran pada diri peserta didik
akan berjalan degan sebaik-baiknya; perkembang peserta didik sukses; pengembangan
dimensi-dimensi kemanusiaan pun sukses pula. Dari sisi lain figure yang sukses itu menjadi
contoh teladan dan bahkan panutan bagi peserta didik yang tentu saja ingin seperti
pendidiknya, yaitu sukses.
D. Pengertian Pengarahan Dalam Pendidikan

Para ahli banyak berpendapat kalau suatu pengarahan merupakan fungsi terpenting dalam
manajemen. Karena merupakan fungsi terpenting maka hendaknya pengarahan ini benar-
benar dilakukan dengan baik oleh seorang pemimpin.

Pengertian pengarahan sendiri yaitu kegiatan untuk menggerakkan atau mengarakan


oarang lain supaya bisa dan dapat bekerja dengan baik dalam upaya mencapai tujuan yang di
inginkan.

Seorang menejer yang baik hendaknya sering memberi masukan-masukan kepada


anggotanya karena hal tersebut dapat menunjang prestasi kerja anggota. Seorang anggota
juga layaknya manusia biasa yang senang dengan adanya suatu perhatian dari yang lain,
apabila perhatian tersebut dapat membantu meningkatkan kinerja mereka.

Dari definisi diatas terdapat suatu cara yang tepat untuk digunakan yaitu:

1) Melakukan orientasi tentang tugas yang akan dilakukan

2) Memberikan petunjuk umum dan khusus

3) Mempengaruhi anggota, dan

4) memotivasi

Salah satu alasan pentingnya pelaksanaan fungsi pengarahan dengan cara memotivasi
bawahan adalah:

a) Motivasi secara impalist, yakni pimpinan organisasi berada di tengah-tengah para


bawahannya dengan demikian dapat memberikan bimbingan, instruksi, nasehat dan
koreksi jika diperlukan.

b) Adanya upaya untuk mensingkronasasikan tujuan organisasi dengan tujuan pribadi dari
para anggota organisasi.

c) Secara eksplisit terlihat bahwa para pelaksana operasional organisasi dalam memberikan
jasa-jasanya memerlukan beberapa perangsang atau insentif.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Kehidupan manusia tidak lepas dari peniruan. Sejak manusia paling primitive sampai
dengan keberadaanya sekarang ini, manusia sering meniru sesamanya. Hasil peniruan itu
memungkinkan mereka menjalankan kehidupan bersama dan bertahan hidup, dari zaman ke
zama. Dengan peniruan itu pula mereka saling berada dalam suatu kelompok , dengan
demikian terbentuklah komunitas dengan orang-orang dalam kelompok sendiri.
Berkat peniruan yag intensif baik dalam pergaulan dalam lingkungan keluarga
maupun dalam lingkungan pergaulan pendidikan formal/non formal, terbentuklah tokoh
identifikasi, yaitu tokoh yang dianggap selalu benar, tokoh yang menjadi pusat peniruaan dan
panutan, tokoh indeal atau idola bagi anak atau peserta didik. Berbahagialah orang tua
apabila anak menjadikan bapak dan/ atau ibunya itu tokoh identifikasi bagi sang anak.
Ibuku/bapakku paling cantik, paling gagah, paling baik, paling benar”, kata anak. Demikian
pula untuk pendidik.

B.     Saran
Seorang pendidik dalam hubungan pendidikan hendaknya harus mampu
meningkatkan keteladanan agar peserta didik dapat meniru keteladanan pendidik dengan
persepsinya yang baik dari keteladanan pendidik. Perlakuan seperti itu akan secara sukarela
mendorong peserta didik memberikan pengakuan dan penghormatan yang wajar dan tinggi
kepada pendidik.

KEPUSTAKAAN

Prayitno. 2008. Pendidikan Dasar Teori dan Praksis. Padang: UNP


Prayitno. 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Jakarta. Grasindo.