Anda di halaman 1dari 16

TUGAS ADMINISTRASI KEUANGAN

“Kebijakan Keuangan Negara”

Dosen pengampu :

Ellys Siregar, S.Pd., M.Pd.


Disusun oleh (kelompok 3) :

Hamidah (7181144002)

Icha Tri Cahyani Damanik (7183144013)

Irma Silvia Suryani (7181144004)

PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Kebijakan Keuangan
Negara.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Administrasi Keuangan.
Makalah ini dibuat semaksimal mungkin dengan harapan dapat bermanfaat bagi setiap orang
yang membacanya. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
semua pihak yang membantu dan yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam
pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kajian permasalahan yang disampaikan dalam


makalah ini masih kurang sempurna karena masih dalam proses pembelajaran. Akhir kata
penulis ucapkan terima kasih terkhusus kepada Ibu Ellys Siregar, S.Pd., M.Pd. selaku dosen
pengampu mata kuliah Administrasi Keuangan.

Pematangsiantar, Oktober 2020

Penulis,

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................i

DAFTAR ISI ...........................................................................................................ii


.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................................1


B. Rumusan Masalah ...........................................................................................1
C. Tujuan..............................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Keuangan Negara.........................................................................2


B. Ruang Lingkup Keuangan Negara..................................................................3
C. Asas-asas Pengelolaan Keuangan Negara.......................................................4
D. Kekuasaan atas Pengelolaan Keuangan Negara..............................................5
E. Kerugian Negara..............................................................................................6
F. Penyelesaian Kerugian Negara........................................................................7
a. Pengembalian Kerugian Negara diluar Pengadilan...................................7
b. Pengembalian Kerugian Negara melalui Pengadilan................................9

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan....................................................................................................11
B. Saran..............................................................................................................11

Daftar Pustaka..................................................................................................................12

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan
uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan
milik Negara berhubung dengan kegiatan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Keuangan
negara yang dimaksud adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang
dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk didalamnya segala bagian kekayaan negara
dan segala hak dan kewajiban yang timbul, karena berada dalam penguasaan, pengurusan,
dan pertanggung jawaban pejabat lembaga Negara, baik ditingkat pusat maupun di daerah.
Dapat dikatakan bahwa keuangan negara merupakan nafas bagi berjalannya sebuah negara.
Namun dalam praktik pengelolaan keuangan negara, masih banyak hal-hal yang menyimpang
dari apa yang telah ditetapkan.

Kesalahan pengelolaan keuangan negara menyebabkan kerugian negara, kesaalahan


trjadi karena pelakunya melakukan kesengajaan atau kelalaian dalam mengelola keungan
negara, hal ini tidak boleh dilakukan agar terhindar dari cengkraman hukuman sebagai objek
hukum bukan merupakan subjek hukum selaku pendukung hak dan kewajiban dalam
perhubungan hukum di bidang pengelolan keungan negara. Pemikiran dasar mencegah
timbulnya kerugian keungan negara telah dengan sendirinya mendorong dengan baik dengan
cara pidana atau dengan cara perdata,mengusahakan kembalinya secara cepat seluruh
kerugian negara yang ditimbulkan oleh praktik korupsi. Adanya kerugian negara atau
perekonomian negara menjadi unsur utama dari delik korupsi, dengan adanya undang-undang
tindak pidana korupsi  sebagai penegak hukum tetapi juga sebagai penegak keadilan sosial
dan ekonomi. Hal ini berarti bukan hanya memberi hukuman mereka yang terbukti bersalah
dengan hukuman yang seberat-beratnya, melainkan juga agar kerugian negara yang
diakibatkan oleh perbuatanya agar kembali dalam waktu yangtidak terlalu lama.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud keuangan negara ?
2. Apa yang menjadi ruang lingkup keuangan negara ?
3. Apa saja asas-asas dalam pengelolaan keuangan negara ?
4. Siapa yang menjadi kekuasaan dalam pengelolaan keuangan negara ?
5. Apa yang dimaksud dengan kerugian negara ?
6. Bagaimana penyelesaian kerugian negara ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu keuangan negara
2. Untuk mengetahui ruang lingkup keuangan negara
3. Untuk mengetahui asas-asas dalam pengelolaan keuangan negara
4. Untuk mengetahui kekuasaan dalam pengelolaan keuangan negara
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kerugian negara
6. Untuk mengetahui Bagaimana penyelesaian kerugian neg

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Keuangan Negara


Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan
uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan
milik Negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Keuangan
negara yang dimaksud adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang
dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk didalamnya segala bagian kekayaan negara
dan segala hak dan kewajiban yang timbul, karena berada dalam penguasaan, pengurusan,
dan pertanggung jawaban pejabat lembaga Negara, baik ditingkat pusat maupun di daerah.
Serta berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggung jawaban Badan Usaha Milik
Negara (BUMN)/Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yayasan, badan hukum dan
perusahaan yang menyertakan modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal pihak
ketiga berdasarkan perjanjian dengan Negara RI.
Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dinyatakan
bahwa pendekatan yang digunakan dalam merumuskan Keuangan Negara adalah dari
sisi objek, subjek, proses, dan tujuan. 
Dari sisi objek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi semua hak dan
kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam
bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta
segala sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara
berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
Dari sisi subjek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi seluruh subjek yang
memiliki/menguasai objek sebagaimana tersebut di atas, yaitu: pemerintah pusat, pemerintah
daerah, perusahaan negara/daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan
negara. 
Dari sisi proses, Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang
berkaitan dengan pengelolaan objek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan
kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan pertanggunggjawaban.
Dari sisi tujuan, Keuangan Negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan
hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan objek sebagaimana tersebut di
atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.

2
B. Ruang Lingkup Keuangan Negara
Keuangan negara sebagai sumber pembiayaan dalam rangka pencapaian tujuan negara
tidak boleh dipisahkan dengan ruang lingkup yang dimilikinya. Oleh karena ruang lingkup
itu menentukan substansi yang dikandung dalam keuangan negara.
Undang-Undang No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dalam Pasal 2 mengatur
tentang ruang lingkup keuangan negara. Keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1 angka 1, meliputi:
1. Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan
melakukan pinjaman.
2. Kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan
negara dan membayar tagihan pihak ketiga.
3. Penerimaan dan pengeluaran negara.
4. Penerimaan daerah dan pengeluaran daerah.
5. Kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa
uang, surat berharga, piutang, barang, serta hakhak lain yang dapat dinilai dengan
uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/ perusahaan
daerah.
6. Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan
tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum.
7. Kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan
pemerintah.
Menurut Undang-Undang No.17 Tahun 2003, ruang lingkup keuangan negara meliputi:
1. Pengelolaan moneter
Hal ini dilakukan melalui serangkaian kebijakan di bidang moneter. Kebijakan
moneter adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah agar ada keseimbangan
yang dinamis antara jumlah uang yang beredar dengan barang dan jasa yang tersedia
di masyarakat.
2. Pengelolaan Fiskal
Pengelolaan fiskal meliputi fungsi-fungsi pengelolaan kebijakan fiskal dan kerangka
ekonomi makro, penganggaran, administrasi perpajakan, administrasi kepabean,
perbendaharaan, dan pengawasan keuangan. Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang
dilakukan pemerintah berkaitan dengan penerimaan (pendapatan) dan pengeluaran
(belanja) pemerintah.
3. Pengelolaan Kekayaan Negara
Khusus untuk proses pengadaan barang kekayaan negara, yang termasuk pengeluaran
negara telah diatur secara khusus dalam Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah. Di
samping itu terdapat pula kekayaan negara yang dipisahkan (pengelolaannya
diserahkan kepada perusahaan yang seluruh modalnya/ sahamnya dimiliki oleh
negara). Perusahaan semacam ini biasa di sebut Badan Usaha Milik Negara dan
Lembaga-Lembaga Keuangan Negara (BUMN/BUMD).

3
C. Asas-asas Pengelolaan Keuangan Negara
Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance dalam penyelenggaraan
negara, pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakan secara profesional,
terbuka, dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Aturan pokok
Keuangan Negara telah dijabarkan ke dalam asas-asas umum, yang meliputi baik asas-
asas yang telah lama dikenal dalam pengelolaan keuangan negara, seperti asas
tahunan, asas universalitas, asas kesatuan, dan asas spesialitas maupun asas-asas baru
sebagai pencerminan penerapan kaidah-kaidah yang baik (best practices) dalam
pengelolaan keuangan negara. Penjelasan dari masing-masing asas tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Asas Tahunan, memberikan persyaratan bahwa anggaran Negara dibuat secara
tahunan yang harus mendapat persetujuan dari badan legislatif (DPR).
2. Asas Universalitas (kelengkapan), memberikan batasan bahwa tidak
diperkenankan terjadinya percampuran antara penerimaan negara dengan
pengeluaran negara.
3. Asas Kesatuan, mempertahankan hak budget dari dewan secara lengkap,
berarti semua pengeluaran harus tercantum dalam anggaran. Oleh karena itu,
anggaran merupakan anggaran bruto, dimana yang dibukukan dalam anggaran
adalah jumlah brutonya.
4. Asas Spesialitas, mensyaratkan bahwa jenis pengeluaran dimuat dalam mata
anggaran tertentu/tersendiri dan diselenggarakan secara konsisten baik secara
kualitatif maupun kuantitatif. Secara kuantitatif artinya jumlah yang telah
ditetapkan dalam mata anggaran tertentu merupakan batas tertinggi dan tidak
boleh dilampaui. Secara kualitatif berarti penggunaan anggaran hanya dibenarkan
untuk mata anggaran yang telah ditentukan.
5. Asas Akuntabilitas, berorientasi pada hasil, mengandung makna bahwa setiap
pengguna anggaran wajib menjawab dan menerangkan kinerja organisasi atas
keberhasilan atau kegagalan suatu program yang menjadi tanggung jawabnya.
6. Asas Profesionalitas, mengharuskan pengelolaan keuangan negara ditangani oleh
tenaga yang professional.
7. Asas Proporsionalitas, pengalokasian anggaran dilaksanakan secara proporsional
pada fungsi-fungsi kementerian/lembaga sesuai dengan tingkat prioritas dan
tujuan yang ingin dicapai.

4
8. Asas Keterbukaan, dalam pengelolaan keuangan negara, mewajibkan adanya
keterbukaan dalam pembahasan, penetapan, dan perhitungan anggaran serta atas
hasil pengawasan oleh lembaga audit yang independen.
9. Asas Pemeriksaan Keuangan, oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri
memberi kewenangan lebih besar pada Badan Pemeriksa Keuangan untuk
melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara secara objektif dan
independen. 
Asas-asas tersebut diperlukan pula guna menjamin terselenggaranya prinsip-prinsip
pemerintahan daerah. Dengan dianutnya asas-asas umum tersebut di dalam undang-undang
tentang Keuangan Negara, pelaksanaan undang-undang ini selain menjadi acuan dalam
reformasi manajemen keuangan negara, sekaligus dimaksudkan untuk
memperkokoh landasan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

D. Kekuasaan atas Pengelolaan Keuangan Negara


Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan
negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Kekuasaan tersebut meliputi
kewenangan yang bersifat umum dan kewenangan yang bersifat khusus. Untuk
membantu Presiden dalam penyelenggaraan kekuasaan dimaksud, sebagian dari
kekuasaan tersebut dikuasakan kepada Menteri Keuangan selaku Pengelola Fiskal dan
Wakil Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan, serta kepada
Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang kementerian
negara/lembaga yang dipimpinnya. Menteri Keuangan sebagai pembantu Presiden dalam
bidang keuangan pada hakekatnya adalah Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah
Republik Indonesia, sementara setiap menteri/pimpinan lembaga pada hakekatnya adalah
Chief Operational Officer (COO) untuk suatu bidang tertentu pemerintahan. Prinsip ini
perlu dilaksanakan secara konsisten agar terdapat kejelasan dalam pembagian wewenang
dan tanggung jawab, terlaksananya mekanisme checks and balances serta untuk
mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam penyelenggaraan tugas
pemerintahan.

Ada beberapa masalah yang secara realita masih dihadapi dalam pengelolaan keuangan
negara saat ini,  yaitu :

1. Rendahnya efektivitas dan efisiensi penggunaan keuangan pemerintah akibat


maraknya irasionalitas pembiayaan kegiatan negara. Kondisi ini disertai oleh
rendahnya akuntabilitas para pejabat pemerintah dalam mengelola keuangan publik.

5
Karenanya, muncul tuntutan yang meluas untuk menerapkan sistem anggaran
berbasis kinerja.
2. Kurang adanya skala prioritas yang terumuskan secara tegas dalam proses
pengelolaan keuangan negara yang menimbulkan pemborosan sumber daya publik.
Selama ini, hampir tidak ada upaya untuk menetapkan skala prioritas anggaran di
mana ada keterpaduan antara rencana kegiatan dengan kapasitas sumber daya yang
dimiliki. Juga harus dilakukan analisis biaya-manfaat (cost and benefit analysis)
sehingga kegiatan yang dijalankan tidak saja sesuai dengan skala prioritas tetapi juga
mendatangkan tingkat keuntungan atau manfaat tertentu bagi publik.
3. Yang menuntut dilakukannya reformasi manajemen keuangan pemerintah adalah
terjadinya begitu banyak kebocoran dan penyimpangan, misalnya sebagai akibat
adanya praktek Kolusi Korupsi dan Nepotisme.
4. Rendahnya profesionalisme aparat pemerintah dalam mengelola anggaran publik.
Inilah merupakan sindrom klasik yang senantiasa menggerogoti negara-negara yang
ditandai oleh superioritas pemerintah. Dinamika pemerintah, termasuk pengelolaan
keuangan di dalamnya, tidak dikelola secara profesional sebagaimana dijumpai
dalam manajemen sektor swasta. Jarang ditemukan ada manajer yang profesional
dalam sektor publik.

E. Kerugian Negara

Kerugian Negara menurut pasal 1 angka 1 UUPN adalah berkurangnya uang, surat
berharga, dan barang yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan
hukum baik sengaja ataupun lalai. Adapun pendapat menurut Djoko Sumaryanto (2009;29)
bukanlah kerugian Negara dalam pengertian di dunia perusahaan/perniagaan, melainkan
suatu kerugian yang terjadi karena perbuatan ( perbuatan melawan hukum ). Dalam kaitan
ini, faktor – faktor lain yang menyebabkan kerugian Negara adalah penerapan kebijakan
yang tidak benar, memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi. Sebenarnya pengelola
keuangan Negara melupakan identitasnya pada saat diserahi tugas untuk mengurusi
keuangan Negara sehingga Negara mengalami kerugian. Kemudian timbulnya kerugian
Negara menurut Yuhus Husein sangat terkait dengan berbagai transaksi, seperti transaksi
barang dan jasa, transaksi yang terkait dengan utang piutang, dan transaksi yang terkait
dengan biaya dan pendapatan.

Djoko sumaryanto mengatakan bahwa ada tiga kemungkinan  terjadinya kerugian negara


tersebut menimbulkan beberapa kemungkinan peristiwa yang dapat merugikan keunagn
negara tersebut adalah:

1. Terdapat pengadaan barang-barang dengan harga-harga yang tidak wajar karena jauh
di atas harga pasar, sehingga dapat merugikan keungan negara sebesar selisih harga
pembelian dengan harga pasar atau dengan harga yangsewajarnya;

6
2. Harga pengadaan barang dan jasa wajar, wajar tetapi tidak sesuai dengan spesifikasi
barang dan jasa yang dipersyaratkan. Kalu harga barangdan jasa murah tetapi kualitas
barangdan jasa kurang baik maka dapat dikataakan juga merugikan negara.
3. Terdapat transaksi yang memperbesar utang negara secaratidak wajar, sehingga dapat
dikatakan juga merugikan keungan negara karena kewajiban negara untuk membayar
utang semakin besar.
4. Piutang negara berkurang secara tidak wajar dapat juga dikatakan merugikan negara.
5. Kerugian negara dapt terjadi kalau asetnegara berkurang karena dijual dengan harga
yang murah atau di hibahkan kepada pihak lain atau ditukar dengan pihak swasta atau
perorangan (ruilasg).
6. Memperbesar biaya  intansi atau perusahaan hal ini dapat terjadi baik karena
pemborosan maupun dengan cara lain, seperti membuat biaya fiktif.
7. Hasil penjualan suatu perusahaan dilaporkan lebih kecil dari penjualan sebelumnya.

F. Penyelesaian Kerugian Negara

Dalam Penjelasan Pasal 59 ayat (1) UU Perbendaharaan Negara dikatakan bahwa


kerugian negara dapat terjadi karena pelanggaran hukum atau kelalaian pejabat negara atau
pegawai negeri bukan bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan administratif atau
oleh bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan kebendaharaan. Penyelesaian
kerugian negara perlu segera dilakukan untuk mengembalikan kekayaan negara yang hilang
atau berkurang serta meningkatkan disiplin dan tanggung jawab para pegawai negeri/pejabat
negara pada umumnya, dan para pengelola keuangan pada khususnya. Adapun Peraturan
tentang Penyelesaian Kerugian Negara diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 38 Tahun 2016 tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Negara/Daerah
Terhadap Pegwai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain. Adapun metode penyelesaian
kerugian negara yang dapat dilakukan yaitu :

1. Pengembalian Keuangan Negara Di Luar Peradilan

    Tata cara yang dilakuakan diluar peradilan dalam rangka pengembalian kerugian
negara di atur dalam UUBK dan dilaksanakan oleh badan pemeriksa keuangan. Bentuk
penyelesaian yang dilakukan oleh badan pemeriksa keungan berupa tuntutan ganti kerugian
yang berkaitan dengan keuangan negara yang dikategorikan sebagai suatu kerugian negara.
Tuntutan ganti kerugian yang dibebankan oleh badan pemeriksaan keuangan kepada pihak-
pihak yang melakukan perbuatan melanggar hukum berupa menimbulkan kerugian keuangan
negara.

Tuntutan ganti kerugian

Pengenaan tuntutan ganti kerugian terdapat dua hal yang saling berkaitan satu dengan
lainnya diantaranya adalah menjatuhkan sanksi berupa ganti kerugian dan pihak yang
dikenakan tuntutan ganti kerugian. Pihak yang menjatuhkan tuntutan tidak boleh semena-
mena membebankan tuntutan ganti kerugian tanpa didasarkan dengan bukti-bukti yang
diperkenankan oleh ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sementara itu pihak yang
dikenakan tuntutan ganti kerugian wajib melakukan pembayaran sebagai bentuk penggantian
kerugian negara apabila cukup bukti bahwa yang bersangkutan terbukti melakukannya.

7
a. Bendahara

Bendahara dalam ruang lingkup ini hanya tertuju pada bendahara yang berbeda di kementrian
negara, lembaga non kementrian, dan lembaga negara. Jika bendahara dalam pengelolaan
keungan negara melakukan perbuatan melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang  di
bebankan padanya dan langsung menimbulkan kerugian negara,wajib mengganti kerugian
negara. Pembebanan ganti rugi adalah sesuai dengan konsekwensi dari sumpah jawaban yang
di ucapkan pada saat pelantikannya menjadi bendahara berupa melaksakan undang-undang
dan peraturan pelaksaanaan secara jujur dan konsisten. Hal ini sesuai dengan Undang-undang
No. 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan negara (UUPN) untuk dilakukan tatkala tidak
memenuhi kewajibanya berupa mengganti kerugian negara yang terjadi pada saat sebagai
bendahara.

b. Pegawai negeri bukan bendahara

Pengelolaan keungan negara tidak selalu melibatkan bendahara, kadang kala dilakukan oleh
seorang selaku pegawai negara tetapi tidak bersetatus sebagai bendahara, sehingga disebut
sebagai pegawai negeri bukan bendahara. Ketika kerugian negara dilakukan oleh pegawai
negeri kerugian itu tidak boleh dipetieskan karena pengaruh pada kegiatan yang
membutuhkan pembiayaan dari keuangan negara. Kerugian wajib dilaporkan oleh atasan
langsung atau kepala kantor kepada menteri, pimpinan lembaga non kementrian atau lembaga
negara yang berkompenten. Penyampaian kerugian negara kepada menteri, pimpinan
lembaga non departemen, pimpinan lembaga negara oleh atasan pegawai negeri bukan
bendahara merupakan kewajiban hukum yang melekat pada jabatanya. Hal ini sesuai dengan
pasal 23 ayat (1) UUP3KN bahwa badan pemeriksaan keuangan memantau
penyelesaian  pengenaan ganti kerugian negara kepada pegawai negeri bukan bendahara pada
kementerian negara ,lembaga non kementerian atau lembaga negara.

Pembebasan tuntutan ganti kerugian

Pembebasan tuntutan ganti kerugian biasa terjadi jika telah memenuhi persyaratan berupa hak
tagih negara berada dalam keadaan daluarsaanya sehingga negara tidak boleh melakuakan
penuntutan ganti kerugian negara. Bendaharawan, pegawai negeri bukan bendahara dan
pejabat lain dapat dibebaskan dari tuntutan ganti kerugian negara tatkala persyaratan untuk
itu terpenuhi sebagai berikut:

 Hak negara dinyatakan kadaluawarsa dalam jangka waktu lima tahun sejak
diketahuinya kerugian tersebut tidak melakukan penuntutan ganti kerugian.
 Hak negara dinyatakan kadaluwarsa apabila dalam waktu delapan tahun sejak
terjadinya kerugian tidak dilakukan penuntutan.
 Hak negara dinyatakan hapus, ketika tidak disampaikan oleh pejabat yang berwenang
mengenai adanya kerugian negara kepada pengapu bendahara, pegawai negeri bukan
bendahara, atau pejabat lain dalam jangka waktu tiga tahun sejak putusan pengadilan
yang menetapkan pengampuan tersebut.

8
2. Pengembalian Kerugian Negara Melalui Peradilan

Prosedur melalui peradilan didasarkan pada Instrumen hukum pidana dan instrumen
hukum perdata tetapi keduanya mengandung prosedur yang berbeda untuk mengembalikan
kerugian negara karena subtansi hukum yang menyebabkan timbulnya perbedaan dalam
penerapan di pengadilan.

a. Instrumen hukum pidana


Instrumen hukum pidana yang terkait dengan pengembalian kerugian negara
melalui peradilan adalah UUPTPK. UUPTK memuat ketentuan-ketentuan yang
terkait dengan tindakan atau perbuatan hukum yang menimbulkan kerugian negara
dan memerlukan penyelesaian secaratepat tanpa melanggar hak asasi manusia
terhadap pihak-pihak yang terjaring sebagai pelaku tindak pidana
korupsi. Misalnya dalam pasal 2 ayat (1) UUPTPK :
Setiap orang yang secara melawan hukum melakuakan perbuatan memperkaya
dirisendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama dua puluh tahun dan
denda paling sedikit dua ratus juta rupiah dan paling banyak satu milyar rupiah.

b.  Instrumen hukum admistrasi


Pada instrumen hukum ini bila terjadi kerugian negara yang dilakukan oleh
pejabat negara atau pegawai negeri tidak boleh digunakan pertanggung
jawaban pribadi in casu, pertanggung jawaban pidana kecuali, dalam
pelaksanaan wewenang terdapat upaya untuk memperkaya diri sendiri, orang
lain atau korporasi boleh di terapkan pertanggung jawaban pribadi yang
berujung pada pertanggung jawaban pidana.

c. Instrumen hukum perdata


Pengertian keaungan negara dalam hukum perdata, terkait dengan pengelolaan
kekayaan negara yang dipisahkan adalah kekayaan negara yang berasal dari
anggaran pendapatan dan belanja negara untuk dijadikan penyertaan modal
negara pada persero, perusahan umum, atau perusahan terbatas lainya.
Pengembalian kerugian negara melalui peradilan boleh dilakukan bersamaan
dengan pengembalian kerugian negara diluar peradilan. Hal ini didasarkan
dengan pertimbangan hukum sebagai berikut:
 Pengembalian kerugian negara melalui peradilan dengan pengembalian
kerugian negara diluar peradilan memiliki prosedur yang berbeda.
 Kerugian negara yang dikembalikan diluar peradilan bukan merupakan
sanksi atau hukuman melainkan hanya bersifat pengganti atas kerugian
negara yang di tetapkan oleh atasanya atau badan pemeriksaan
keuangan.

9
 Kerugian negara yang di kembalikan melalui peradialan merupakan
sanksi atau hukuman berupa denda yang dijatuhkan oleh pengadilan
atau komisi pemberantasan korupsi.

Sanksi bagi mentri/pimpinan lembaga

Sanksi kepada mentri, pimpinan lembaga nonkementrian, dan pimpinan lembaga negara
ketika terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah di tetapkan oleh anggaran
negara. Selain sanksi administratif, dikenakan pula sanksi berupa hukuman pokok dan
hukuman tambahan kepada menteri, pimpinan lembaga negara. Pengenaan hukuman
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, baik
dalam arti tidak mengguanakan upaya hukum maupun setelah mengguanakan upaya hukum
berupa banding, kasasi, dan peninjauan kembali.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan
uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan
milik Negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. 
Kerugian keuangan Negara merupakan suatu keaadaan dimana Negara mengalami
kekurangan uang, surat berharga, dan barang yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat
perbuatan melawan hukum yang dilakukan seorang maupun kelompok baik disengaja
maupun kelalaian.
Adapun langkah – langkah yg ditempuh oleh Negara dalam mengatasi kerugian
keuangan yaitu ada 2 cara yaitu:
1. Pengembalian kerugian Negara di luar Peradilan yang terbagi dalam 2 hal yakni
tuntutan ganti rugi dan pembebasan tuntutan ganti rugi.
2. Pengembalian kerugian Negara melalui peradilan, yang terbagi dalam 3 instrumen
hal yakni instrument hukum pidana, instrumen hukum administrasi, dan yang
terakhir instrumen hukum perdata.
B. Saran
Untuk Pengelola keuangan negara :
 Sebaiknya Menjaga kekayaan Negara dengan memberi masukan terhadap
kondisi keuangan Negara yang dikelola pejabat setempat.
 Sebaiknya Menjalankan hak dan kewajiban dalam bidang keuangan yang telah
dipercayakan bagi kepentingan rakyat banyak dan untuk kemajuan negara.
Untuk Pembaca :
Pembuatan makalah ini masih dalam proses pembelajaran sehingga masih jauh dari
kata sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

11
Daftar Pustaka
https://klc.kemenkeu.go.id/ruang-lingkup-keuangan-negara-bagian-2/
http://jelajahhukumindo.blogspot.com/2017/02/kerugian-negara.html#:~:text=Faktor
%2Dfaktor%20penyebab%20kerugian%20negara,hukum%20baik%20disengaja
%20maupun%20kelalaian.
https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt51fb46e7a8edc/cara-menentukan-
adanya-kerugian-keuangan-negara/#:~:text=Pasal%201%20angka
%2015%20Undang,hukum%20baik%20sengaja%20maupun%20lalai.%E2%80%9D

12