Anda di halaman 1dari 13

PERPAJAKAN

Dosen Pengampu : Erny Luxy D Purba, SE., M.Si

Critical Book Report

Perpajakan Edisi 11

OLEH :  

Irma SilviaSuryani (7181144004)

PROGRAM  STUDI  PENDIDIKAN  ADMINISTRASI  PERKANTORAN

FAKULTAS  EKONOMI

UNIVERSITAS  NEGERI  MEDAN

 
KATA PENGANTAR

              Puji  dan  syukur  kami  panjatkan  ke  hadirat  Tuhan  Yang  Maha  Esa  yang  telah 
senantiasa  memberkati  kami  dalam  menyelesaikan  tugas  makalah CBR ,  adapun  tugas 
ini  dikerjakan  untuk  memenuhi  mata  kuliah  Manajemen Sarana dan Prasarana.  Kami 
telah  menyusun  makalah  ini  dengan  sebaik-baiknya  tetapi  mungkin  masih  ada 
banyak  kekurangan  dalam  makalah  kami  ini  untuk  mencapai  kata  kesempurnaan. 
Kami  selaku  penulis  menerima  berbagai  kritik  yang  bersifat  membangun  baik  dari 
teman-teman  sekalian  dan  terutama  dosen  pengampu  dalam  mata  kuliah  Manajemen
Sarana dan Prasarana agar  makalah   ini  menjadi  lebih  baik  lagi.

Kami  juga  berterimakasih  kepada  Ibu Erny Luxy D Purba, SE., M.Si sebagai  dosen 
pengampu  pada  mata  kuliah  ini  yang  telah  mengajari  dan  membimbing  kami  dan 
teman-teman  yang  lain  agar  dapat  memahami  mata  kuliah  ini.             

              Selanjutnya,  kami  berharap  semoga  makalah  ini  memberikan  manfaat  serta 


menambah  wawasan  bagi  para  pembaca. Semoga  makalah  kami  ini  dapat  dipahami 
bagi  siapapun  yang  membacanya.  Dan  sebelumnya  kami  mohon  maaf  apabila 
terdapat  banyak  kesalahan  baik  dari  segi  kata  atau  kalimatnya  maupun  dari  segi 
penyusunannya  semoga  teman-teman  dan  dosen  pengampu  pada  mata  kuliah   ini 
dapat  memakluminya.  

Medan, Oktober  2020

Penulis
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................................................................................ ii
BAB I............................................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN....................................................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang................................................................................................................................................ 1
B. Tujuan................................................................................................................................................................ 1
C. Manfaat.............................................................................................................................................................. 1
D. Indentitas Buku.............................................................................................................................................. 1
BAB II........................................................................................................................................................................... 2
ISI BUKU..................................................................................................................................................................... 2
Ringkasan Buku.................................................................................................................................................. 2
BAB III......................................................................................................................................................................... 8
PEMBAHASAN.......................................................................................................................................................... 8
A. Keunggulan dan kelemahan Buku.......................................................................................................... 8
BAB IV......................................................................................................................................................................... 9
PENUTUP................................................................................................................................................................... 9
A. KESIMPULAN.................................................................................................................................................. 9
B. SARANAN.......................................................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 
Pada dasarnya critical book review merupakan kegiatan mengulas isi buku dengan
menitikberatkan pada evaluasi (penjelasan, interpretasi dan analisis) mengenai
keunggulan dan kelemahan buku, apa yang menarik dari buku tersebut, bagaimana isi buku
tersebut bisa mempengaruhi cara berpikir dan menambah pemahaman terhadap suatu
bidang kajian tertentu.  Mahasiswa dapat menguji pikiran pengarang/penulis lewat sudut
pandangnya dengan berdasarkan pengetahuan & pengalaman yang dimiliki. Melalui
kegiatan critical book report ini mahasiswa diajak untuk berfikir kritis mengenai suatu
permasalahan, menilai dan menganalisis suatu kajian secara objektif serta mampu
memandang suatu permasalahan dari sudut pandang yang berbeda.

B. Tujuan
Mengkritisi atau membandingkan sebuah buku tentang Perpajakan. Yang
dibandingkan dalam buku tersebut yaitu kelengkapan pembahasan, yang terlihat dari
ringkasan setiap bab pada buku, serta kelebihan dan kelemahan pada buku-buku yang
dianalisis. 

C. Manfaat
Dapat memberi informasi dari setiap buku serta dapat dipahami oleh para pembaca
tentang indentitas setiap buku melalui isi ringkasan yang diikuti oleh kelemahan,
kelebihan, serta dapat menambah wawasan pembaca mengenai bidang perpajakan. 

D. Indentitas Buku
1. BUKU UTAMA :
Nama buku :   Perpajakan : Teori dan Kasus Edisi 11
penulis buku         :   Siti Resmi
Penerbit buku :   Salemba Empat
Tahun terbit :   2019
ISBN :   978-979-061-864-0
BAB II
ISI BUKU

A. Ringkasan Buku
Pajak penghasilan Pasal 21 (PPh 21)

Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21) merupakan jenis pajak yang dikenakan
terhadap penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain yang
diterima oleh pegawai, bukan pegawai, mantan pegawai, penerima pesangon dan lain
sebagainya. Jumlah yang telah dipotong dan disetorkan dengan benar oleh pemberi kerja
dan pemotong lainnya dapat digunakan leh wajib pajak untuk dijadikan kredit pajak atau
PPh yang terutang pada akhir tahun.

A. PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

Pemotong PPh 21 adalah wajib pajak orang pribadi atau badan termasuk bentuk
usaha yang empunyai kewajiban memotong penghasilan sehubungan dengan pekerjaan,
jasa dan lainnya. Pemotong PPh pasal 21 sesuai dengan peraturan Dirjen Pajak Nomor
PER-16/PJ/2016 sebagai berikut :

1. Pemberi kerja yang terdiri atas


a. Orang pribadi atau badan
b. Cabang perwakilan atau unit dalam melakukan administrasi yang terkait
dengan pembayaran gaji, upah, honorium, tunjangan dan pembayaran lain.
2. Bendahara atau pemegang kas pemerintah termasuk intitusi TNI/POLRI, Pemda,
instansi atau lembaga pemerintah, lembaga lembaga lainnya dan kedutaan besar
Republik Indonesia di luar negeri yang membayarkan gaji, upah, honorium,
tunjangan dan pembayaran lain dalam bentuk apapun sehubungan dengan
pekerjaan atau jabtan, jasa dan kegiatan.
3. Dana pensiun,badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja dan dan badan-
badan lain yang membayar uang pensiun dan jaminan hari tua.
4. Oranng pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta
badan yang membayar:
a. Honorarium, komisi,fee, atau lain sebagi imbalan sehubung dengan jasa
dan/atau kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status subjek
pajak dalam negeri.
b. Honorarium, komisi,fee, atau lain sebagai imbalan sehubungan dengan
kegiatan dan jasa yang dilakukan oleh pribadi dengan status Subjek Pajak
Luar Negeri.
c. Honorarium, komisi,fee, atau lain kepada peserta pendidikan, pelatihan, dan
pegawai magang.
5. Penyelenggara kegiatan termasuk badan pemerintah, oganisasi yang bersifat
nasional dan internasional, perkumpulan,orang pribadi serta lembaga lainnya
yang menyelenggarakan kegitan, yang membayar honorarium, hadiah atau
penghargaandalam bentuk apapun kepada wajib pajak orang pribadi dalam
negeri berkenaan dengan suatu kegiatan.

Tidak termasuk pemberi kerja yang mempunyai kewajiban untuk


melakukan pemotongan pajak adalah :

1. Kantor perwakilan negara asing


2. Organisasi internasional sebagai mana yang di maksud dalam pasal 3 ayat 1
huruf c Undang-Undang pajak Penghasilan.
3. Pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas semata-mata memperkerjakan orang pribadi untuk melakukan
pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan bukan usaha atau pekerjaan bebas.
4. Jika organisasi internasiona tidak memenuhi ketentuan tesebut ialah pemberi
kerja yang bertugas melakukan pemotongan pajak.

B. HAK DAN KEWAJIBAN PEMOTONG PAJAK


Hak-hak pemotong PPh pasal 21 adalah sebagai berikut :
1. Pemotong pajak berhak untuk memperhitungkan kelebihan setoran PPh 21
dalam satu bulan takwin dengan PPh 21 yang terutang pada bulan
berikutnya dalam tahun takwim yang bersangkutan.
2. Pemotong Pajak berhak untuk memperhitungkan kelebihan setoran pada
SPT Tahunan dengan PPh 21 yang terutang untuk bulan pada waktu
dilakukan perhitungan tahunan.
3. Pemotong pajak berhak membetulkan sendiri SPT atas kemauan sendiri
dengan menyampaikan pernyataan tertulis dalam jangka waktu 2 tahun
sesudah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak atau Tahun
Pajak, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan
pemeriksaan.
4. Pemotong Pajak berhak untuk mengajukan surat keberatan kepada Direktur
Jenderal Pajak atas suatu Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Lebih
Bayar, Surat Ketetapan Pajak Nihil Kurang Bayar.
5. Pemotong Pajak berhak mengajukan permononan banding secara tertulis
dalam dengan alasan yang jelas kepada badan peradilan pajak terhadap
keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal
Pajak.
6. Pemotong pajak dapat mengajukan permohonan untuk mengajukan
permohonan untuk memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT
Tahunan Pasal 21.
7. Setiap pemotong pajak wajib mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak
atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat.
8. Pemotong pajak mengambil sendiri formulir-formulir yang diperlukan dalam
rangka pemenuhan kewajiban perpajakannya pada Kantor Pelayanan Pajak
atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat.
9. Pemotong pajak wajib menghitung, memotong, dan menyetorkan PPh 21
yang terutang untuk setiap bulan takwim selambat-lambatnya tanggal 10
bulan takwim berikutnya.
10. Pemotong pajak wajib melaporkan penyetoran tersebut sekalipun nihil
dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa ke Kantor Pelayanan
Pajak atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat, selambat-lambatnya pada
tanggal 20 bulan takwim berikutnya.

C. PENERIMA PENGHASILAN ( WAJIB PAJAK PPh PASAL 21 )

Penerima penghasilan yang dipotong PPh pasal 21/26 adalah orang pribadi dengan
stastus subjek pajak dalam negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan sebagainya. Yang termasuk penerima PPh 21
antara lain pegwai, penerima uang Pesangon, tenaga ahli, pemain music, dan sebagainya.

D. TIDAK TERMASUK WAJIB PAJAK PPh PASAL 21


1. Pejabat perwakilan diplomatik, konsulat, atau pejabat lain dari negara asing dan
orang-orang yang di peruntukan untuk membantu mereka yang bekerja pada
dan bertempat tinggal bersama mereka.
2. Pejabat perwakilan organisasi internasional yang di tetapkan oleh menteri
keuangan

E. HAK DAN KEWAJIBAN WAJIB PAJAK


Hak-hak wajib pajak ialah
a. Wajib pajak berhak meminta bukti pemotongan PPh pasal 21 kepada pemotong
pajak.
b. Wajib paja berhak menggunakan surat keberatan kepada Direktur Jendral Pajak
jika Pph pasal 21 yang di potong oleh pemotong pajak tidak sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
c. Wajib pajak berhak mengajukan permohonan banding secara tertulis dalam
bahasa indonesia dengan alasan yang jelas kepada Badan Penyelesaian Sengketa
Pajak Terhadap

F. PENGHASILAN YANG DI POTONG PPh PASAL 21 ( OBJEK PAJAK )

Wajib pajak PPh pasal 21 terdiri atas :

1. Pegawai
2. Penerima uang pesangon, pension dan tunjangan hari tua
3. Bukan pegawai adalah orang pribadi selain pegawai tetap dan pegawai tidak
tetap yang memperoleh penghasilan dalam bentuk apapun yang dilakukan
berdasarkan permintaan dari pemberi penghasilan. Misalnya Pengacara,
pemain music, akuntan, agen iklan, dsb
4. Anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak merangkap
sebagai pegawai tetap pada perusahaan yang sama.
5. Mantan pegawai
6. Peserta kegiatan yang menerima upah berdasarkan keikutsertaannya dalam
suatu kegiatan.

G. PENGHASILAN YANG DI POTONG PPh PASAL 21 FINAL

Beberapa penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 yang bersifat final adalah :

1. Penghasilan berupa uang pesangon yang dibayar sekaligus oleh dana


pension yang pendiriannya telah disahkan menteri keuangan.
2. Penghasilan berupa uang manfaat pension, tunjangan hari tua yang
dibayarkan sekaligus oleh badan penyelenggara pension.
3. Penghasilan berupa honorarium, uang siding, yang diterima oleh anggota
PNS, POLRI, yang bersumber dari keuangan negar atau daerah, kecuali yang
dibayarkan kepada PNS golongan II/d ke bawah.

H. PENGHASILAN YANG TIDAK DI POTONG PPh PASAL 21 ( BUKAN OBJEK PAJAK )

Yang tidak termasuk penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah :

1. Pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan asuransi


berhubungan dengan asuransi kesehatan
2. Penerimaan dalam bentuk natura atau apapun yang diberikan pemerintah,
kecuali penghasilan yang diterima oleh penerima pension secara teratur
berupa uang pension dan sejenisnya.
3. Iuran pension yang dibayarkan kepada penerima pension
4. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari lembaga amal zakat
5. Beasiswa yang diterima atau diperoleh oleh warga Negara Indonesia.

I. MEGHITUNG PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

Ketentuan mengenai dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 diatur dalam
Pasal 9 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-16/PJ/2016 tentang Pedoman
Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21
dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan
Orang Pribadi (PER 16/2016).

1. Penghasilan kena pajak


2. Penghasilan Bruto
3. Sebesar 50% dari penghasilan bruto
4. Sebesar 50% dari jumlahh kumulatif penghasilan Bruto.
Besarnya pajak yang ditentukan oleh kelompok penerima penghasilan dan jenis
penghasilan. Misalnya besarnya pennghitungan PPh Pasal 21 atas gaji yang diterima
pegawai tetap akan berbeda dengan penghitungan PPh 21 atas imbalan pensiunan.

J. TEKHNIK PENGHITUNGAN DAN PENGISIAN SPT MASA PPh PASAL 21/26

Bentuk SPT Masa PPh 21 sesuai Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-14/PJ/2013.
Pemotongan PPh 21 dan/atau PPh 26 dalam bentuk e-SPT dalam hal :

1. Melakukan pemotongan PPh pasal 21 terhadap pegawai tetap dan penerimaan


pension atau tunjangan hari tua dan sebagainya yang jumlahnya lebih dari 20 orang
dalam satu masa pajak, dan/atau
2. Melakukan pemotongan PPh pasal 21 tidak final dan/atau pasal 24 selain
pemotongan PPh pada angka 1 dengan jumlah bukti pemotongan lebih dari 20
dokumen dalam 1 masa pajak
3. Melakukan pemotongan PPh pasal 21 final dengan bukti pemotongan yang
jumlahnya lebih dari 20 dokumen dalam satu masa pajak
4. Melakukan penyetoran pajak dengan SPP dan/atau bukti Pbk yang jumlahnya lebih
dari 20 dokumen dalam satu masa pajak.

 Mekanisme Pemungutan PPh Pasal 21/26

Kewajiban pemotongan pajak dalam menghitung, memotong dan melaporkan PPh


pasal 21 adalah sebagai berikut :

1. Pemotong pajak setelah memotong pajak wajib menyetorkan pajak tersebut ke bank
persepsi atau kas Negara dengan menggunakan surat setoran pajak selamabat
lambat nya setiap tanggal 10 bulan berikutnya.
2. Pemotong pajak wajib melaporkan penyetoran tersebut ke kantor pelayanan pajak
tempat wajib pajak terdaftar paling lambat tanggal 20 setiap bulannya.
3. Pemotong pajak wajib memberikan bukti pemotongan PPh pasal 21, baik diminta
maupun tidak pada saat dilakukannya pemotongan pajak kepada orang pribadi
bukan sebagai pegawai.
4. Pemotong pajak wajib memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 21 tahunan kepada
pegawai tetap atau penerima pensiunan
5. Pada masa pajak terakhir dalam satu tahun pajak, pemotong pajak wajib
menghitung kembali jumlah PPh 21 yang terutang atas penghasilan pegawai tetap
atau penerima pensiunan.
 Contoh penghitungan PPh 21 untuk karyawan/pegawai tetap
1. Retto pada tahun 2016 bekerja pada perusahaan PT. Jaya Abadi dengan
memperoleh gaji sebulan Rp5.750.000,00 dan membayar  iuran  pensiun
sebesar Rp200.000,00. Retto menikah tetapi belum mempunyai anak. Pada
bulan Januari penghasilan Retto dari PT Jaya Abadi hanya dari gaji.
Penghitungan PPh Pasal 21 bulan Januari adalah sebagai berikut:
BAB III

PEMBAHASAN

A. Keunggulan Buku
1. Cover buku sangat menarik untuk membuat kita tertarik membacanya
2. Berdasarkan struktur buku, buku ini memiliki struktur yang lengkap mulai dari
cover, kata pengantar, daftar isi, hingga daftar pustaka
3. Berdaarkan tata bahasa, buku ini telah memiliki bahasa yang baku yang sesuai
dengan EYD.
4. Setiap topik yang dibahas selalu disertai dengan contoh-contoh sehingga pembaca
akan lebih jelas dan mudah memahaminya.
5. Pembahasan pada setiap sub bab juga mendetail sehingga semakin menambah
referensi bagi pembaca terutama dalam mempelajari perpajakan
6. Buku ini dilengkapi dengan soal dan studi kasus.

B. Kekurangan Buku

Salah satu kelemahan diantara kedua buku ini adalah, kalimat yang digunakan
cenderung bertele tele sehingga membuat pembaca merasa bosan, dengan pembahasan
yang hampir sama disetiap bab nya.
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pajak Penghasilan Pasal 21 atau biasa disebut dengan PPh Pasal 21 adalah pajak
atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan
nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan
kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi Subjek Pajak dalam negeri. Saat ini PPh pasal
21 harus menjadi perhatian bagi wajib pajak yang dikenakan PPh pasal 21, oleh karena itu
kita akan membahasnya secara perlahan-lahan agar mudah dimengerti. Pemungutan serta
tarif pajak pph didasarkan atas undang – undang yang ada. Pajak merupakan penyumbang
terbesar bagi kas negara. Ingat, bayarlah pajak sesuai dengan UU yang berlaku.
Demikianlah kesimpulan ini, Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

B. SARANAN
Dari critical book review ini, diharapkan kepada pembaca agar dapat mengetahui isi
dari buku ini dan tetap berkontribusi membayar Pajak tepat waktu.
DAFTAR PUSTAKA

Resmi,Siti.2019.Perpajakan Teori dan kasus Edisi 11.Medan:Salemba Empat