Anda di halaman 1dari 4

STABILITAS OBAT

Stabilitas Obat : Kemampuan suatu produk untuk mempertahankan sifat dan karakteristiknya agar sama dengan
yang dimilikinya pada saat dibuat (identitas, kekuatan, kualitas, kemurnian) dalam batasan yang ditetapkan
sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan (shelf-life).
Expiration date (kadaluarsa): waktu yang tertera pada kemasan yang menunjukkan batas waktu diperbolehkannya
obat tersebut dikonsumsi karena diharapkan masih memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.
Shelf-life (waktu simpan): adalah periode penggunaan dan penyimpanan yaitu waktu dimana suatu produk tetap
memenuhi spesifikasinya jika disimpan dalam wadahnya yang sesuai dengan kondisi penjualan di pasar.
Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk obat atau kosmetik untuk bertahan dalam batas
spesifikasi yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan untuk menjamin identitas,
kekuatan, kualitas dan kemurnian produk tersebut.
Sediaan obat/kosmetika yang stabil adalah suatu sediaan yang masih berada dalam batas yang dapat diterima
selama periode penyimpanan dan penggunaan, dimana sifat dan karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya
pada saat dibuat.
Efek tidak diinginkan yang potensial dari ketidakstabilan produk farmasi
hilangnya zat aktif,
naiknya konsentrasi zat aktif,
hilangnya keseragaman kandungan,
menurunnya status mikrobiologis,
hilangnya elegansi produk dan ‘patient acceptability’,
pembentukan hasil urai yang toksik,
hilangnya kekedapan kemasan,
menurunnya kualitas label dan
modifikasi faktor hubungan fungsional.
PENGARUH SUHU
k = A. e-ΔE/RT
• log k = log A – ΔE/2,303 . 1/RT
• k = tetapan laju reaksi
• ΔE = energi aktifasi (J mol -1)
• R = tetapan gas (1,987 kal/derajat mol)
• T = temperatur (K)
• Laju reaksi akan naik 2-3 kali untuk setiap kenaikan suhu 10oC
• Dengan menentukan harga k pada berbagai suhu dan menggambarkan 1/T vs log k, diperoleh ΔE dari kemiringan
garis dan A dari intersep
• Persamaan Arrhenius tidak berlaku bagi reaksi eksplosif, reaksi enzimatis, reaksi peragian

MIKROEMULSI
Mikroemulsi adalah suatu sistem dispersi minyak dengan air yang distabilkan oleh lapisan antarmuka dari molekul
surfaktan. Surfaktan yang digunakan dapat tunggal, campuran, atau kombinasi dengan zat tambahan lain (Bakan
JA, 1996 ).
SIFAT FISIKA MIKROEMULSI
Mikroemulsi mempunyai ukuran yang sangat kecil, berdiameter sekitar 10-104 nm. Mikroemulsi merupakan
dispersi transparan yang terdiri dari mikroglobul yang sferik (bulat) dari minyak dalam air (M/A). Globul tersebut
dilapisi oleh lapisan pada batas antarmuka yang berasal dari surfaktan dan kosurfaktan. Makroemulsi
menghasilkan sediaan berwarna putih susu, sementara mikroemulsi berupa sediaan transparan yang dapat dilihat
secara kasat mata.
KEUNTUNGAN MIKROEMULSI
• Mempunyai kelarutan yang besar baik dalam air maupun minyak
• Mempunyai kestabilan dalam jangka waktu lama
• Jernih transparan
• Dapat disterilkan secara filtrasi
• Mempunyai daya larut yang tinggi
• Mempunyai kemampuan penetrasi yang baik
TUJUAN MIKROEMULSI
• Untuk meningkatkan penampilan pada formula farmasetika seperti stabil pada penyimpanan
• Untuk mendapatkan sediaan bioavailabilitas lebih baik
• Untuk mendapatkan sedikit efek samping
• Dapat mengontrol pelepasan dan respon biologik (contoh: distribusi dalam jaringan)
• Menjamin kestabilannya dalam usia simpan yang lama
FORMULASI MIKROEMULSI
1. Fase Internal atau fase dalam atau fase diskontinu terdiri dari partikel -partikel cairan yang terdispersi dalam
bentuk teteesan kecil dalam fase luar.
2. Fase Eksternal atau fase luar atau fase pendispersi umumnya merupakan bagian cairan dengan jumlah yang
lebih banyak, dimana cairan yang kedua terdispersi dalam bentuk partikel-partikel halus.
3. Fase Interparsial terdiri dari surfaktan primer terkadang dibantu surfaktan sekunder (kosurfaktan) dan
penambahan elektrolit. Peranan utamanya sebagai penstabil mikroemulsi.
CONTOH FORMULASI
Griseofulvin 2,5 %
Tween 80 30 %
Span 80 20 %
VCO 5%
Propilenglikol 20 %
Aquadest 20 %
PEMBUATAN
Larutkan Tween 80 dalam aquadest dan diaduk konstan dengan menggunakan motor pengaduk ultraturax pada
suhu 50oC pada kecepatan 1200 rpm sehingga didapatkan suatu larutan jernih.
Griseofulvin dilarutkan dalam propilenglikol kemudian dimasukkan kedalam dispersi span 80 dalam VCO yang
berfungsi sebagai fase minyak.
Dispersi ini dimasukkan ke dalam fase air, diaduk dengan pengaduk ultraturax selama 30 menit dengan kecepatan
2200 rpm sampai terbentuk sediaan mikroemulsi yang jernih dan transparan.
EVALUASI SEDIAAN
1. Pengamatan organoleptis mikroemulsi dan emulsi grisoefulvin diperiksa dengan mengamati perubahan
konsistensi, warna, bau, dan homogenitas selama penyimpanan.
2. Uji Ph . Pengukuran pH dengan menggunakan pH indikator. Pengukuran dilakukan pada suhu kamar pada
hari 1, 3, 5, 7, 14, 21, 28 dan 35 hari
3. Uji Sentrifugasi. Sediaan mikroemulsi kurang lebih 10 ml dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi
kemudian dilakukan sentrifugasi selama 5 jam pada kecepatan 3700 rpm.
4. Uji Viskositas Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan Viskometer Brookfield. Caranya yaitu
spindle dipasang pada tempatnya dan diatur sedemikian rupa sehingga batas spindle tercelup kedalam
sediaan yang telah ditempatkan pada beaker. Alat dinyalakan dan spindle dibiarkan berputar sampai
jarum menunjukkan angka yang konstan.
5. Uji Freeze thaw Evaluasi sediaan fisik dengan metode freeze-thraw dilakukan pada suhu rendah (4 0C) dan
suhu tinggi (400C) selama 6 siklus. Satu siklus terdiri dari 48 jam pada suhu rendah dan 48 jam pada suhu
tinggi.
6. Pengujian permeasi sediaan mikroemulsi secara in vitro dengan menggunakan membran selulosa.

MAKROMOLEKUL adalah molekul raksasa (giant) dimana paling sedikit seribu atom terikat bersama oleh ikatan
kovalen. Makromolekul ini mungkin rantai linear, bercabang, atau jaringan tiga dimensi.
Makromolekul dibagi atas dua material yaitu
1. Material biologis (makromolekul alam)
Contoh : karet alam, wool, selulosa, sutera dan asbes
2. Material non biologis (makromolekul sintetik)
Contoh : plastik, serat sintetik, elastomer sintetik
 Polimer
Polimer polimer (poly = banyak, meros = bagian) adalah makromolekul yang biasanya memiliki bobot molekul
tinggi, dibangun dari pengulangan unit unitnya. Molekul sederhana yang membentuk unit unit ulangan ini
dinamakan monomer. Sedangkan reaksi pembentukan polimerdikenal dengan istilah polimerisasi.
 Polimer Alam
Polimer alam adalah senyawa yang dihasilkan dari proses metabolisme mahluk hidup. Contoh sederhana
polimer alam adalah karet alam, pati, selulosa dan protein. Jumlahnya yang terbatas dan sifat polimer alam
yang kurang stabil, mudah menyerap air, tidak stabil karena pemanasan dan sukar dibentuk menyebabkan
penggunaanya amat terbatas.
 Polimer sintetik
Polimer sintetik merupakan jenis polimer yang dihasilkan melalui sintesis kimia, produksi umumnya dilakukan
dalam skala besar untuk kepentingan hidup manusia. Bentuk polimer sintetik yang dihasilkan dapat berupa
plastik dan serat buatan.
Plastik merupakan polimer yang memiliki sifat mencair atau mudah mengalir jika dipanaskan,sehingga mudah
dibentuk atau dicetak. Beberapa produk dari plastik misalnya pipa, mainan anak anak, dapat pula berbentuk
lembaran seperti pembungkus makanan atau bahan dan berupa cairan pelapis cat mobil, pernis .
 Monomer
Sebarang zat yang dapat dikonversi menjadi suatu polimer. Untuk contoh, etilena adalah monomer yang dapat
dipolimerisasi menjadi polietilena (lihat reaksi berikut). Asam amino termasuk monomer juga, yang dapat
dipolimerisasi menjadi polipeptida dengan pelepasan air
Polimerisasi
Penggabungan molekul-molekul kecil atau monomer menjadi molekul yang sangat besar siberi istilah reaksi
polimerisasi. Berdasarkan peristiwa yang terjadi selamareaksi, maka polimerisasi dibagi menjadi dua jenis yaitu:
Polimerisasi adisi terjadi pada monomer-monomer yang sejenis dan mempunyai ikatan tak jenuh (rangkap). Proses
polimerisasi diawali dengan pembukaan ikatan rangkap dari setiap monomernya, dilanjutkan dengan
penggabungan monomer-monomernya membentuk rantai yang lebih panjang dengan ikatan tunggal
Pada polimerisasi kondensasi penggabungan monomer membentuk polimer dengan melepaskan molekul kecil
seperti air (H2O) atau ammonia (NH3).
SIFAT-SIFAT POLIMER
Perbedaan utama dari polimer alam dan polimer sintetik adalah mudah tidaknya sebuah polimer didegradasi atau
dirombak oleh mikroba. Polimer sintetik sulit disintesis oleh mikroorganisme. Sifat-sifat polimer sangat ditentukan
oleh struktur polimernya seperti panjang rantai,gaya antar molekul,percabangan,dan ikatan silang antar rantai
polimer. Pertambahan panjang rantai utama polimer diikuti dengan meningkatnya gaya antar molekul monomer.
Polimer yang memiliki banyak cabang,kekuatannya menurun dan hal ini juga menyebabkan titik lelehnya semakin
rendah
POLISAKARIDA
Polysakarida adalah biomacromolecules yang terdiri dari unit pengulangan monosaccharide. Urutan mereka,
jaringan diantara mereka, bentuk wujud mereka, dan keadaan dari beberapa cadangan yang menyebabkan
perbedaan pada kandungan secara kimia antar polysakarida.
Beberapa polysakarida yang digunakan dalam bidang farmasi:
 Acacia, yang lebih dikenal sebagai getah arab, secara luas digunakan dalam bidang farmasi sebagai suatu
emulsi dan memodifikasi sifat merekat
 Tragacanth ,secara luas digunakan sebagai suatu emulsi alami bersama-sama dengan acacia dan suatu
pemodifikasian sifat merekat yang efektif untuk rumus suspensi. Berisi suatu variasi megenai asam
methoxylated yang ketika dicampurkan dengan air menjadi suatu agar-agar.
 Gelatin diperoleh dari pengubahan sifat panas atau disintegrasi collagen, sebuah prinsip protein
ditemukan pada beberapa kulit dan tulang-belulang binatang, termasuk manusia. Gelatin terdiri atas 18
asam amino yang berbeda, mencakup kelompok 4-hydroxyproline (≈ 14%), proline (≈ 16%), dan glycine (≈
26%), dan dengan suatu perluasan yang ditangani secara salah dalam penyesuaian garis spiral selenoid
yang berisi 300 sampai 4000 kelompok asam amino. Bagaimanapun, gelatin tidak berisi tryptophan dan
methionine rendah.

MIKROKAPSUL
Mikrokapsul merupakan partikel berukuran kecil yang mengandung zat aktif atau zat inti yang dilapisi dengan
suatu dinding polimer atau coating
Tipe Mikrokapsul
‡ Ada
2 tipe yaitu:
± Nanokapsul, yaitu yang memiliki ukuran dibawah 1 mikrometer dan
± Makrokapsul yaitu yang memiliki ukuran lebih besar dari 1000 mikrometer
Mikrokapsul yang tersedia di pasaran memiliki diameter antara 3- 800 µm dengan persentase berat zat inti antara
10-90 %. Sejumlah besar zat inti yang telah alami mikrokapsulasi diantaranya: zat2 adhesif, agrokimia, live cells,
enzyme aktif, zat pemberi rasa, pewangi, obat dan tinta. Sebagian besar pelapis makro kapsul merupakan polimer,
lemak dan wax.
KEUNTUNGAN
1Melindungi dari pengaruh lingkungan.
2.Menjaga stabilitas ,perubahan warna dan bau dalam waktu jangka waktu tertentu.
3.Setelah di coating dapat dicampur dengan komponen yg berinteraksi dengan zat inti
KERUGIAN
1.Bila penyalutan kurang sempurna atau tdk merata yang akan mempengaruhi pelepasan zat inti dari mikrokapsul.
2.Diperlukan teknologi mikroenkapsulasi.
3.Hrs dilakukan pemilihan polimer penyalut n pelarut yg sesuai dengan bahan inti agar didpt mikrokapsul yg bagus.
TUJUAN
1. Mengubah bentuk cairan menjadi padatan
2. Melindungi inti dari pengaruh lingkungan.
3. Memperbaiki aliran serbuk.
4. Menutupi rasa dan bau yang tidak enak.
5. Menyatukan zat-zat yang tidak tersatukan secara fisika kimia.
6. Menurunkan sifat iritasi inti terhadap saluran cerna.
7. Mengatur pelepasan bahan inti.
8. Memperbaiki stabilitas bahan inti

Anda mungkin juga menyukai