Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai masa usia 60 tahun
keatas dengan kemampuan fisik dan kognitifnya yang semakin menurun. World Health
Organization (WHO) menggolongkan lansia menjadi 4 yaitu usia pertengahan (middle
age) adalah 45 – 59 tahun, lanjut usia (elderly) adalah 60 – 74 tahun, lanjut usia tua (old)
adalah 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun (Nugroho, 2008).
Populasi lansia diperkirakan akan terus mengalami peningkatan secara global di
seluruh dunia. Pada tahun 2012 besar presentase penduduk lansia di Indonesia mencapai
angka 7% dan akan terus meningkat menjadi 11,34% pada tahun 2020. Berdasarkan data
World Health Organization (WHO), pada tahun 2050 Indonesia diprediksikan akan
masuk dalam 10 besar Negara dengan jumlah lansia mencapai 10 juta jiwa (WHO, 2013).
Peningkatan jumlah lansia juga akan diiringi dengan peningkatan masalah kesehatan
yang sering dikeluhkan oleh lansia. Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan
semakin meningkatnya populasi lansia, maka jumlah pasien dengan hipertensi
kemungkinan besar akan bertambah (Havifi, 2014).
Pada pasien hipertensi yang tidak terkontrol pada lansia akan menyebabkan
penurunan aliran darah ke otak sehingga terbentuk lesi pada substansia alba yang dapat
terdeteksi oleh Magnetic Resosnance Imaging (MRI). Substansia alba merupakan regio
otak yang berperan dalam transmisi potensial aksi dari sistem saraf pusat menuju perifer.
Lesi tersebut terbentuk disebabkan oleh hipoperfusi kronis akibat perubahan struktur
pembuluh darah pada lansia. Perubahan struktur tersebut akan menyebabkan penurunan
aliran darah dan terjadi iskemia pada area bagian dalam substansia alba (Shen et al.,
2015; Modir et al., 2012). Kerusakan pada area substansia alba akan menyebabkan
penurunan kontrol keseimbangan postural pada lansia (Acar et al., 2015)

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pengertian keperawatan gerontik ?
2. Bagaimana pembagian lansia?

1
3. Bagaimana lingkup askep gerontik?
4. Bagaimana peran dan fungsi perawat gerontik?
5. Bagaimana tanggung jawab perawat gerontik ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian keperawatan gerontik
2. Untuk mengetahui pembagian lansia
3. Untuk mengetahui lingkup askep gerontik
4. Untuk mengetahui peran dan fungsi perawat gerontik
5. Untuk mengetahui tanggung jawab perawat gerontik

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keperawatan Gerontik


Ada beberapa definisi yang terkait dengan konsep dasar keperawatan gerontik.
Pertama, disebut gerontology is study of all aspect of aging including the physical,
psychological, social and economical problems of older people ( cabang ilmu yang
membahas atau menangani proses penuaan dan masalah-masalah yang tibul pada orang
yang berusia lanjut, yang meliputi aspek fisik, mental, sosial dan ekonomi). Kedua,
sebagaimana bahwa geriatric study of aging focus on diagnosis and treatment of diseases
common in aging ( cabang ilmu yang membahas tentang masalah penyakit dan
penanganannya yang umum terjadi pada lansia). Sementara menurut DepKes RI, geriatric
adalah cabang ilmu dari gerentologi dan kedokteran yanh mempelajari kesehatan lanjut
usia dalam bebagai aspek, yaitu promotif, preventif, dan rehabilitative. Ketiga,
menyebutkan bahwa gerontik (dari kata gerentologi dan geriatric) merupakan istilah yang
tepat dalam keperawatan, karena focus keperawatan adalah respon seseorang yang
bersipat actual maupun potensial, tidak hanya pada kondisi sakit atau kecacatan, tetapi
kondisi sehat juga merupakan perhatian keperawatan, yaitu health maintenance, health
promotion, health prevention sehingga lansia dapat tetap produktif dan bahagia pada usia
lanjut (Sunaryo dkk, 2016).
Menurut Lueckenotte menjelaskan bahwa keperawatan lansia adalah bidang
keperawatan spesifik yang memfokuskan perhatian terhadap pengkajian kesehatan dan
status fungsional usia lanjut, merencanakan, mengimplementasikan pelayanan
keperawatan untuk memenuhi kepatuhan yang terganggu serta mengevaluasi efektifitas
dan pelayanan keperawatan yang diberikan. Sebagaimana dikemukanan oleh American
nursing association keperawatan lansia adalah praktik keperawatan yang difokuskan
pada pengkajian lansia dan status fungsi tubuh lansia, merencanakan dan memberikan
perawatan yang tepat untuk lansia serta pelayanan kesehatan lainnya. focus ini
ditunjukkan dalam upaya optimalisasi kemampuan fungsi menjalankan aktifitas sehari-
hari, meningkatkan, mempertahankan, dan memperbaiki kesehatan, termasuk kesehatan
mental, mencegah dan meminimalkan ketidak mampuan akibat penyakit kronik dan akut,

3
serta mempertahankan kehidupan dalam ketentraman dan keamanan sampai meninggal.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keperawatan gerontik yang berbentuk bio-psiko-sosio-
kultural dan spiritual yang komprehensif, ditujukan pada lanjut usia baik sehat maupun
sakit pada tingkat individu, keluarga , kelompok dan komunitas atau masyarakat
(Sunaryo dkk, 2016).

2.2 Pembagian Lansia


Siklus hidup manusia merupakan proses perjalan hidup manusia sejak lahir
sampai meninggal dunia. Menurut organisasi kesehatan dunia siklus hidup lansia yaitu :
1. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 – 59 tahun
2. Lanjut usia (elderly), antara 60-74 tahun
3. Lanjut usia tua (old), antara 60-75 dan 90 tahun
4. Usia sangat tua (very old), diatas 90 tahun (Abdul Muhith, 2016).

Selain itu, dibawah ini dikemukakan beberapa pendapat lain mengenai siklus hidup
manusia :

1. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada empat tahapan yaitu:


1) Usia pertengahan (middle age) usia 45 – 59 tahun
2) Lanjut usia (elderly ) usia 60 –74 tahun
3) Lanjut usia tua (old) usia 75 – 90 tahun
4) Usia sangat tua (very old ) usia > 90 tahun
2. Menurut Prof. DR. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad, Guru besar Universitas
Gajah Mada Fakultas Kedokteran, periodisasi biologis perkembangan
manusia dibagi menjadi :
1) Masa bayi (usia 0-1 tahun)
2) Masa prasekolah (usia 1-6 tahun)
3) Masa sekolah (usia 6-10 tahun)
4) Masa pubertas (usia 10-20 tahun)
5) Masa setengah umur, prasenium (usia 40-65 tahun)
6) Masa lanjut usia, senium (usia > 65 tahun)

4
3. Menurut Dra. Ny. Jos Masdani, psikolog dari Universitas Indonesia,
kedewasaan dibagi empat bagian :
1) Fase iuventus (usia 25-40 tahun)
2) Fase verilitas (usia 40-50 tahun)
3) Fase prasenium (usia 55-65 tahun)
4) Fase senium (usia 65 tahun hingga tutup usia)
4. Menurut Prof. DR. Koeseomanto Setyonegoro, Sp.Kj., batasan usia dewasa
sampai lanjut usia dikelompokkan menjadi :
1) Usia dewasa muda (elderly adulthood) usia 18/20-25 tahun
2) Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas usia 25-60/65 tahun
3) Lanjut usia (geriatric age) usia >65/70 tahun, terbagi atas :
(1) Young old (usia 70-75 tahun)
(2) Old (usia 75- 80 tahun)
(3) Very old (usia > 80 tahun)
5. Menurut Burnsie ada empat tahap lanjut usia, yaitu :
1) Young old (usia 60-69 tahun)
2) Middle age old (usia 70- 79 tahun)
3) Old- old (usia 80-89 tahun)
4) Very old- old (usia >90 tahun) (Abdul Muhith, 2016).

2.3 Lingkup Askep Gerontik


1. Pengkajian Keperawatan
Tujuan perawatan pada lansia adalah umtuk mengoptimalkan kesehatan mereka
secara umum, serta memperbaiki/mempertahankan kapasitas fungsionalnya.
Pengkajian yang menyeluruh pada lansia yang dilakukan oleh perawat meliputi :
1) Anamnesis
Dalam melakukan anamnesis harus secara akurat dan uptudate (baru),
termasuk pula mengenai persepsi lansia mengenai bagaimana persepsi lansia
tentang kesehatan dirinya sendiri

Sistem Keluhan Yang Khas


1. Respirasi 1. Sesak napas yang progresif, batuk yang

5
menetap
2. Kardiovaskuler 2. Ortopnea, edema, angina, klaudikasio,
palpitasi, pusing, sinkop.
3. Gastrointestinal 3. Sulit mengunyah, sulit menelan, nyeri
perut, perubahan defekasi.
4. Genetourinaria 4. Poliuri, urgensi, nokturia taklampias,
intermitten, perlu usaha untuk pengosonga,
inkontinensia, hematuri, pendarahan per
vagina.
5. Muskuloskeletal 5. Nyeri local/ difus, lumpuh/lemah
local/difus, gangguan sensitivitas.
6. Neurologis 6. Gangguan pengelihatan
( sementara/progresif).
7. Psikologis 7. Depresi, ansietas, agitasi, paranoid, pikun,
kebingungan.

(Abdul Muhidh, 2015)

2) Pemeriksaan pada fisik lansia


Pemeriksaan fisik umum pada lansia ditujukan untuk dapat mengidentifikasi
keadaan umumnya dengan penekanan pada tanda – tanda vital, keadaan gizi,
aktivitas tubuh, baik dalam keadaan berbaring/ berjalan. Observasi yang
menyeluruh diarahkaan pada hal-hal berikut :
(1) Membandingkan usia kronologis terhadap usia sekarang.
(2) Aspek gender dan suku.
(3) Perkembangan perawatan.
(4) Kebersihan ( cara berdandan).
(5) Ekspresi wajah.
(6) Pengamatan pada daerah kulit, dilihat keriput/ kerut-kerut, warna kulit
keabu-abuan, kering, dan rambut rapuh.

6
(7) Gerakan melambat, menggunakan alat bantu ambulasi, dan
memperlihatkan langkah-langkah yang kaku.
(8) Diamati pula apakah berat dan tinggi badan telah sesuai. Bentuk dan
bagian tubuh apakah simetris.
(9) Gejala seperti tremor, kontraktur, gerakan-gerakan asimetris, postur
kaki, pergelangan dan jari-jari tangan.
(10) Inspeksi di daerah leher apakah terdapat otot-otot tendon yang
menonjol juga adanya redistribusi lemak.
(11) Kesan umum tentang perkembangan badan, apakah tampak terlalu
tinggi/terlalu pendek, terdapat penurunan masa otak, ataupun
kegemukan.
(12) Pengamatan terhadap kebersihan atau kerapian antara lain : rambut,
kuku/ bau badan. (Abdul Muhidh, 2015)
3) Pemeriksaan fisik umum
(1) Kesadaran. Tingkat kesadaran dibagi menjadi menjadi bagian sebagai
berikut: Composmentis, somnolen, spoor, sopor koma
(2) Tanda vital. Pemeriksaan tanda vital meliputi : pemeriksaan nadi,
pemeriksaan tekanan darah.
(3) Sistem integument. Perubahannya bisa berupa perubahan kulit local :
angioma, nevitriae, kebotakan pada rambut, edema.
(4) Pengkajian status gizi. (Abdul Muhidh, 2015)
4) Pemeriksaan fisik khusus
(1) Pengkajian sistem perkemihan
Proses penuaan pada ginjal, kandung kemih, uretra, dan system
persarafan mempengaruhi fisiologi pengeluaran urin. Proses penuaan
dapat mengarah pada terjadinya inkontenesia.
(2) Pengkajian sistem pernapasan
Pengkajian sistem pernapasan dilakukan atas dasar pemahaman terhadap
proses penuaan yang terjadi pada system pernapasan.
(Abdul Muhidh, 2015)
(3) Pengkajian mobilitas

7
Pengkajian mobilitas dilakukan atas dasar pemahaman terhadap proses
penuaan yang terjadi pada mobilitas. (Abdul Muhidh, 2015)
(4) Pengkajian sistem kulit integument
Pengkajian system kulit atau integument dilakukan atas dasar
pemahaman terhadap proses penuaan yang terjadi pada system kulit atau
integument. (Abdul Muhidh, 2015)
(5) Pengkajian pola tidur
Pengkajian pola tidur dilakukan atas dasar pemahaman terhadap proses
penuaan yang terjadi pada pengkajian pola tidur. (Abdul Muhidh, 2015)
(6) Pengkajian status fungsional
Pengkajian status fungsional sangat penting, terutama ketikaterjadi
hambatan pada kemampuan lansia dalam melaksanakan fungsi kehidupan
sehari-hari (Abdul Muhidh, 2015).
5) Pengkajian status psikososial
Rincian tentang item-item yang dilakukan dalam pengkajian secara
menyeluruh pada klien lansia meliputi hal – hal sebagai berikut :
(1) Apakah pasien dapat bermanufer secara aman dan bertujuan,
dengan pengertian tidak ragu-ragu, serta tidak memperlihatkan
postur atau gerakan – gerakan yang agresif ?
(2) Apakah pasien menunjukkan kontak mata, menampilkan ekspresi
wajah secara tepat?
(3) Apakah ekspresinya menunjukkan ansietas, nyeri, apatis,
bermusuhan, takut, dan mudah beralih perhatian?
(4) Observasi tentang ekspresi wajah, antara lain ditujukan pada eye
contact, apakah klien tampak menampilkan ekspresi yang tepat
sesuai dengan materi percakapan?
(5) Ada atau tidakkah gambaran asimetris akibat paralisis, kontraktur,
dan atopril otot ?
(6) Dalam hal bicara, apakah terdapat kesulitan dalam merespon
pertanyaan/intruksi – intruksi yang diajukan oleh perawat? Kadang

8
–kadang klien terlalu banyak bicara, bila mengelak dilakukan
berulang – ulang. Artikulasi terdapat bunyi khusus pada saat bicara.
Apakah klien kadang – kadang menyebunyikan mulut dengan tangan,
takut, merintih atau nyeri, pucat, berkeringat (Abdul Muhidh, 2015)
6) Pengkajian aspek spiritual
Indeks untuk mengukur upaya dilakukan secara individual dalam pencarian
arti dan makna dalam kehidupan.
(1) Perasaan klien tentang kehidupan keagaamaan.
(2) Melakukan kewaiban – kewajiban agar berkontenplasi tentang makna
kehidupan menurut agama dan kepercayaannya.
(3) Apakah nilai – nilai keberaagamannya menuntun kehidupannya
sehari-hari?
(4) Apakah nilai keberaagamannya dapat menuntun menjawab
tantangan-tantangan dalam kehidupan ?
(5) Mengetahui bahwa kehidupan spiritualnya merupakan suatu proses
yang berlangsung terus selama hayat.
(6) Apakah klien peduli tentang isu-isu kemanusiaan ?
(7) Apakah klien menyenangi bila sewaktu – waktu terlibat dalam
diskusi tentang nilai – nilai keagaamaan.
(8) Apakah klien masih mendalami pengetahuan keagamaan ?
(9) Apakah kewaspadaan agama juga muncul disaat klien berada diluar
masa kritis ?
(10) Apakah klien meyakini tentang konsep keimanan terhadap Tuhan
penciptanya ?
(11) Apakah terdapat keinginan untuk membagi nilai – nilai spiritual
yang dijalaninya bersama orang lain. (Abdul Muhidh, 2015)
2. Diagnosis Keperawatan
Adapun diagnosis keperawatan lansia antara lain :
1) Diagnosis keperawatan pada gangguan pendengaran

9
Diagnosis keperawatan dalam bentuk konsekuensi anttara lain berupa :
ansietas, gangguan penyesuaian diri dan interaksi sosial, serta tidak efektifnya
koping individu.

2) Diagnosis keperawatan pada gangguan pengelihatan berupa : gangguan


persepsi sensorik ( pengelihata), yang berhubungan dengan adanya :
presbyopia, glaucoma, faktor eksternal.
3) Diagnosis keperawatan pada gangguan pencernaan, nutrisi, atau hygiene
rongga mulut dapat berupa : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
yang berhubungan dengan reaksi obat anoreksia, depresi, gangguan
mengunyah, isolasi sosial.
4) Diagnosis keperawatan pada gangguan eliminasi urin adalah : perubahan
eliminasi urin yang berhubungan dengan urgensi, frekuensi, dribbling,
nokturia, hesitansi, inkontinensia.
5) Diagnosis keperawatan pada kelaianan kardiovaskular.
Apabila terdapat ganngguan kardiovaskula, maka diagnosis keperawatan
adalah :
(1) Perubahan pemeliharan status kesehatan tubuhyang berhubungan
dengan ketidakmampuan exercise/aerobic
(2) Resiko tinggi akibat hipotensi post/prandial dan resiko tinggi jatuh/
fraktur berhubungan dengan osteoporosis, gangguan neurologis, atau
efek samping obat.
6) Diagnosis keperawatan pada gangguan fungsi respiratorius.
Berupa resiko tinggi gangguan fungsi paru yang berhubungan dengan
merokok, kifosis, imflamasi, infeksi, penyakit berat atau
menahun/keterbatasan gerak.
7) Diagnosis keperawatan pada gangguan mobilitas atau keselamatan
Resiko tinggi jatuh atau trauma akibat gangguan keselamatan atau mobilitas
yang berhubungan dengan faktor-faktor penyebab jatuh.
8) Diagnosis keperawatan pada kelainan kulit dan integument, yaitu :

10
(1) Ketidaknyamanan pada kulit ( gatal atau kulit kering ) yang
berhubungan dengan dehidrasi, penuaan kulit dan kelembapan udara
sangat rendah.
(2) Gangguan integritas kulit yang berhubngan dengan intkontinisia,
malnutrisi, dehidrasi, keterbatasan gerak, tirah baring, dan atau
paparan langsung terhadap sinar matahari.
9) Diagnosis keperawatan pada gangguan tidur atau istirahat
Gangguan tidur (fase awal) atau sering terjaga (selama tidur). Keduanya ini
termasuk gangguan pola tidur yang berhubungan dengan rasa nyeri.
10) Diagnosis keperawatan pada gangguan pengaturan suhu
Diagnosis keperawatan adalah resiko tinggi hipotermi atau hipertermi yang
berhubungan dengan imobilisasi, efek obat, penyakit kronis.
11) Diagnosis keperawatan pada gangguan fungsi seksualitas
Gangguan seksualitas yang berhubungan dengan efek obat, penyakit
endokrin/ DM, penyakit jantung.
12) Pemakaian obat lansia
Diagnosis keperawatan berbunyi ketidakpatuhan minum obat yang
berhubungan dengan gangguan status fungsional, regimen obat yang serba
rumit, rendahnya dukungan sosial, reaksi obat (Abdul Muhidh, 2015).
3. Intervensi
1) Intervensi keperawatan pada gangguan pendengaran
(1) Faktor-faktor resiko seperti keturunan dan penyakit – penyakit
tertentu akan sulit diatasi, namun perawat dapat berupaya untuk
menangani faktor resiko berupa : terpapar pada kebisingan dan obat-
obatan yang bersifat ototoksik.
(2) Penggunaan alat bantu dengar berfungsi untuk memperkuat bunyi
tertentu seperti suara radio, tv, telepon.
(3) Terapkan teknik komunikasi yang baik untuk membantu lansia
dengan gangguan pendengaran.
2) Intervensi keperawatan pada gangguan pengelihatan

11
Faktor resiko pada gangguan pengelihatan adalah terpapar sinar UV. Untuk
itu, dapat dicegah dengan menggunakan pelindung kepala, dan kacamata
pelindung. Perawat perlu mengajari lansia/kerabat tentang pentingnya
mendeteksi glaucoma, dan katarak. Bila katarak telah menyebabkan gangguan
pengelihatan berat, perlu dipertimbangkan tindakan bedah. Bila keluhan
seperti kekeringan mata menonjol, maka dapat digunakan bat tetes mata
sesuai resep dokter.
3) Intervensi keperawatan pada gangguan pencernaan dan nutrisi
Penyuluhan sehubungan dengan nutrisi dan pencernaan meliputi tiga hal
penting, yaitu :
(1) Kebersihan mulut dan gigi
(2) Hindari pemakaian obat kusia, karena dapat menyebabkan kekeringan
mulut.
(3) Hindari makan manis seperti permen atau sejenisnya.
(4) Bila menggunakan gigi palsu, lepas dimalam hari, rendam dalam air,
bersihkan sebelum dipakai lagi.
(5) Perlu memperhatikan diet tinggi serat berupa sayuran segar serta
beberapa sayuran mentah, kacang-kacangan, serta makanan sereal dari
zat tepung.
(6) Minum air yang cukup sebaiknya disertai jus buah setiap hari.
4) Intervensi keperawatan pada eliminasi urin
(1) Minta bantuan dari pihak yang berkompeten
(2) Minum air 8-10 gelas per hari, tetpi kurangi di malam hari
(3) Hindari meminum yang mengandung alcohol dan kafein, apalagi di
malam hari
(4) Bila penyebab inkontinensial adalah stress, maka beri obat
phenylpropanolamine, estrogen dan progestin.
(5) Bila penyebab inkontinensia akibat urgensi, maka beri obat
propantheline, ini pramine, dicyclomine.
(6) Bila penyebab akibat retensi, maka diberi obat bethnicol
(7) Bila akibat dari obstruksi maka diberi obat phenoxybenzamine

12
5) Intervensi keperawatan pada kardiovaskuler
(1) Tujuan pengobatanya adalah untuk mengontrol tekanan darah dengan
cara minimal serta untuk mencegah mordibitas dan mortalitas akibat
penyakit jantung.
(2) Pantau tekanan darah berkala, kadar kolestrol agar tidak melampaui
200 mg, juga pemantauan berat badan.
(3) Diet kurang lemak, terutama lemak jenuh.
(4) Kurangi menu gorengan.
(5) Diet tinggi serat.
6) Intervensi keperawatan pada gangguan respirasi
(1) Bagi lansia yang masih merokok perlu mendiskusikan bersama klien
tentang segenap hal negatifnya yang mencangkup berbagai kelaian
pada paru dan jantung, hipertensi, bahkan serangan jantung.
(2) Menghindari faktor resiko lainnya seperti yang disajikan dalam pokok
bahasan kajian keperawatan.
(3) Upaya untuk mencegah serangan peneumonia, antara lain dengan cara
vaksinasi.
(4) Penekanan kembali tentang pentinnya memilihara setatus gizi yang
baik (Abdul Muhidh, 2015).

13
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Gerontologi merupakan pendekatan ilmiah (scientific approach) terhadap berbagai
aspek dalam proses penuaan, seperti aspek kesehatan, psikologis, sosial ekonomi,
perilaku, lingkungan, dan lain- lain (S. Tamher, 2009). Keperawatan gerontik atau
keperawatan gerontologik adalah spesialis keperawatan lanjut usia yang menjalankan
peran dan tanggung jawabnya terhadap tatanan pelayanan kesehatan dengan
menggunakan ilmu pengetahuan, keahlian, keterampilan, teknologi, dan seni dalam
merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lanjut usia secara komprehensif
(Kushariyadi, 2010). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada empat
tahapan yaitu:
1. Usia pertengahan (middle age) usia 45 – 59 tahun
2. Lanjut usia (elderly ) usia 60 –74 tahun
3. Lanjut usia tua (old) usia 75 – 90 tahun
4. Usia sangat tua (very old ) usia > 90 tahun

3.2 Saran
Dengan tersusunnya makalah ini semoga bisa bermanfaat bagi pembaca maupun
penulis. Kritik dan saran dari pembaca sangat kami butuhkan, karena penulis sadar bahwa
penyusunan makalah ini jauh dari kata sempurna.dan kami sangat mengharapkan kritik dan
saran itu dari pembaca.untuk penulisan makalah selanjutnya yang lebih baik.

14
DAFTAR PUSTAKA

Muhith,Abdul. Siyoto,Sandu.2016.Pendidikan Keperawatan Gerontik. CV ANDI


OFFSET:Yogyakarta

NANDA, 2014. North America Nursing Diagnosis Association, Nursing Diagnosis,


Definition Dan Classification 2015-2017. Pondicherry, India

Sunaryo, dkk. 2016. Asuhan Keperawatan Gerontik. CV. ANDI OFFSET : Yogyakarta

Havifi, Ilham. 2014. “Komunikasi Interpersonal Perawat dan Lansia”. Volume 1. No.2.
https://www.scribd.com/doc//jurnal-lansia-l), 15 Oktober 2014

15