Anda di halaman 1dari 11

Modul 3

Ketahanan Nasional (Tannas)


Kegiatan Belajar 1
Latar Belakang Tannas Indonesia
Bangsa Indonesia mengalami penjajahan yang cukup lama, perlawanan demi
perlawanan dilakukan, tetapi tidak pernah berhasil karena tidak adanya persatuan dan
kesatuan dalam mengusir penjajah (Belanda, Inggris, Portugis, dan Jepang). Kendatipun
kemerdekaan telah diproklamasikan, perlawanan terhadap penjajah yang ingin menguasai
kembali Indonesia terus dilanjutkan dengan perjuangan bersenjata dan diplomasi. Perjuangan
bangsa Indonesia tidak bisa dipadamkan sampai Negara Kesatuan Republik Indonesia
menjadi kenyataan.
Perjuangan mengusir penjajah dan menghadapi berbagai macam bentuk konflik di
dalam negeri namun tetap membuat Negara Kesatuan Republik Indonesia tegak berdiri
karena mempunyai keuletan atau kemampuan dan ketangguhan untuk mempertahankan diri
sebagai bangsa yang merdeka.
Hal inilah yang melahirkan konsep tannas. Tannas adalah kondisi dinamik yang
merupakan integrasi dan kondisi tiap-tiap aspek kehidupan bangsa dan negara. Pada
hakikatnya, tannas adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin
kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara. Untuk tetap memungkinkan
berjalannya pembangunan nasional yang selalu harus menuju ke tujuan yang ingin kita capai
dan agar dapat secara efektif dihancurkan ancaman-ancaman, diatasi tantangan-tantangan,
dilenyapkan hambatan-hambatan, dan gangguan-gangguan yang timbul, baik dari luar
maupun dari dalam, perlu dipupuk terus menerus. Tannas meliputi segala aspek kehidupan
bangsa dan negara.
Berhasilnya pembangunan nasional akan meningkatkan tannas. Selanjutnya, tannas
yang tangguh akan lebih mendorong lagi pembangunan nasional.
Kegiatan belajar 2
Pengertian Landasan, Asas, Dan Ciri Tannas Indonesia
Tannas pada hakekatnya adalah Kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk
menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan Negara.
Dalam fungsinya sebagai system pengaturan dan penyelenggaraan kehidupan nasional
maka dalam penyelenggaraan atau pembinaan tannas dilakukan dengan pendekatan
kesejahteraan dan keamanan. Kedua pendekatan itu (kesejahteraan-keamanan) tidak kita
pisahkan dan hanya bisa dibedakan bak satu keeping mata uang, sisi yang satu berupa aspek
kesejahteraan dan sisi yang lainnya berupa aspek keamanan. Penekanan pada salah satu aspek
tergantung pada kondisi yang dihadapi oleh suatu bangsa.
Tannas dilandasi oleh Wasantara dalam upaya mencapai tujuan dan cita-cita bangsa
sebagai pengejawantahan Pancasila.
Asas tannas, yaitu (1) pendekatan kesejahteraan dan keamanan, (2) komprehensif dan
integral. Sebagai doktrin ia merupakan cara terbaik yang diakui kebenarannya dan dijadikan
pedoman dalam memenuhi tuntutan perkembangan, bangsa dan lingkungan untuk
kelangsungan hidup dan kejayaan bangsa dan Negara.
Sebagai metode pemecahan masalah maka ia akan menjelaskan:
1. Kondisi kehidupan nasional dalam suatu waktu
2. Memprediksi kehidupan nasional pada waktu yang akan dating
3. Mengendalikan kehidupan nasional agar sesuai dengan kondisi yang diharapkan atau
ditetapkan
Selain mempunyai asas ia juga mempunyai sifat, yaitu (1) manunggal (2) mawas
kedalam dan keluar (3) kewibawaan, (4) berubah menurut waktu, (5) tidak membenarkan adu
kekuatan atau adu kekuasaan, dan (6) percaya pada diri sendiri.
Tannas sebagai konsepsi pengaturan dan penyelenggaraan system kehidupan nasional
mempunyai wajah dan fungsi. Wajah tannas dalam bentuk kondisi, doktrin, dan metode.
Sebagai kondisi merupakan totalitas segenap aspek kehidupan bangsa yang didasarkan nilai
persatuan dan kesatuan (Wasantara) untuk mewujudkan daya tangkal, daya kekebalan dan
daya kena dalam berinteraksi dengan lingkungan. Sebagai doktrin ia merupakan cara terbaik
yang ada untuk mengimplementasikan pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Sebagai
metode ia merupakan cara pemecahan masalah nasional dalam perkembangan bangsa dan
untuk kelangsungan hidup bangsa dan Negara.
Fungsi tannas adalah sebagai doktrin perjuangan nasional, metode pembinaan
kehidupan nasional, pola dasar pembangunan nasional dan sebagai sistem kehidupan
nasional.

Kegiatan belajar 3
Pendekatan Astagatra Keterkaitan Antargatra Dan Ketahanan Gatra Dalam Sistem
Tannas Indonesia
Pengelompokan bidang kehidupan bangsa Indonesia dibuat dalam 8 kelompok gatra
(model) bidang kehidupan. Kedelapan gatra tersebut (Astagatra) dibagi dalam dua kelompok,
yaitu trigatra (geografi, sumber kekayaan alam, dan demografi) dan pancagatra (ideology,
politik, ekonomi, social budaya dan hankam).
Gatra-gatra tersebut dapat dibedakan secara teoretik tetapi tidak bisa dipisahkan
karena keterkaitan yang kuat satu sama lain. Oleh karena itu, astagatra ini harus dilihat secara
holistic dan integral (bulat utuh menyeluruh).
Trigatra bersifat statis dan pancagatra bersifat dinamis. Trigatra merupakan modal
dasar untuk meningkatkan pancagatra. Kelemahan di dalam satu gatra dapat mempengaruhi
gatra yang lain dan sebaliknya meningkatnya kekuatan pada salah satu gatra dapat
meningkatkan gatra yang lain (sinergi).
Tannas pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan
keamanan. Dalam rangka itu peranan Gatra terhadap kondisi kesejahteraan dan keamanan
sebagai berikut:
1. Ada gatra yang sama besar peranannya untuk kesejahteraan dan keamanan
2. Ada gatra yang lebih besar peranannya untuk kesejahteraan daripada keamanan
3. Ada gatra yang lebih besar peranannya untuk keamanan daripada kesejahteraan

Trigatra, ideologi, politik peranannya sama besar dalam kegiatan dan keamanan.
Gatra ekonomi, sosial budaya lebih besar untuk kesejahteraan daripada keamanan.
Hankam lebih besar untuk kesejahteraan keamanan daripada kesejahteraan. Tannas
merupakan resultan (hasil) dari ketahanan masing-masing aspek kehidupan (gatra).
Kegiatan belajar 4
Perwujudan Tannas Indonesia
Dalam upaya mewujudkan tannas Indonesia maka harus dilakukan pembangunan
dalam segenap aspek kehidupan bangsa Indonesia (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya
dan Hankam).
Pembangunan di bidang ideologi diarahkan pada Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila, sebagai penuntun dan pegangan hidup dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa
dan bernegara bagi setiap warga Negara Indonesia. Hanya ideologi Pancasila yang paling
tepat atau cocok bagi masyarakat majemuk seperti Indonesia. Ideologi Pancasila merupakan
ideologi “lintas kultural” yang telah diterima oleh rakyat Indonesia dan telah diuji
kebenarannya.
Pembangunan di bidang politik telah menghasilkan kerangka landasan system politik
demokrasi Pancasila. Sementara itu budaya politik, komunikasi politik dan partisipasi politik
perlu dikembangkan. Selain itu, perlu diciptakan keseimbangan kekuatan antara
suprastruktur, infrastruktur dan suprastruktur politik di Indonesia. Pembangunan nasional
dilakukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut di atas sehingga akan
memperkokoh ketahanan bidang politik Indonesia.
Pembangunan di bidang ekonomi telah membuat struktur perekonomian kita makin
seimbang antara sektor pertanian, industri dan jasa serta pertumbuhan perekonomian yang
cukup tinggi. Namun demikian, perlu dikokohkan perindustrian kita (industri hulu - industri
hilir) sehingga tingkat ketergantungan kita kepada barang impor rendah, ekspor non-migas
ditingkatkan yang akan mendorong peningkatan devisa Negara, serta high cost ekonomi
dihilangkan. Dengan demikian, perlu diharapkan pertumbuhan perekonomian dan pemerataan
hasil-hasil pembangunan lebih meningkat. Hal ini akan memperkokoh tannas Indonesia di
bidang ekonomi.
Pembangunan nasional di bidang sosial budaya meningkatkan kesadaran masyarakat
tentang kemajemukan bangsanya (Bhineka Tunggal Ika) sehingga makin meningkatkan
kecerdasan dan kesejahteraan rakyat. Tetapi yang masih perlu diperhatikan dalam
pembangunan nasional ialah dihilangkannya sikap primordialisme, kolusi, korupsi dan
nepotisme. Ditingkatkannya disiplin nasional, pemasyarakatan budaya Pancasila dan
peningkatan keteladanan oleh para pemimpin di semua tingkat, baik itu pemimpin formal
maupun informal. Peningkatan pembangunan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan di
bidang sosial budaya ini akan memperkokoh ketahanan sosial budaya Indonesia.
Kegiatan belajar 5
Pembinaan Tannas Indonesia
Pembangunan nasional yang dilakukan oleh bangsa Indonesia, pada dasarnya untuk
mewujudkan tannas. Titik berat pembangunan nasional pada bidang ekonomi karena bidang
ekonomi ini mempunyai “daya biak” terhadap bidang-bidang kehidupan lainnya, untuk
meningkatkan spektrum kemampuan kita sebagai bangsa dan Negara.
Peningkatan spektrum kemampuan tersebut untuk menghasilkan daya kembang, daya
tangkal dan daya kena. Untuk itu diperlukan dukungan sumber daya manusia yang
“berkualitas”. Sumber daya manusia yang berkualitas tinggi (menguasai ilmu pengetahuan
dan teknologi serta dilandasi oleh iman dan taqwa berakar pada budaya Pancasila) merupakan
kunci dari peningkatan tannas. Oleh karena itu, dalam pembangunan nasional, pembangunan
sumber daya manusia merupakan titik sentral dan hal ini sejalan dengan hakikat
pembangunan nasional Indonesia yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan
pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.
Dalam pembangunan nasional diperlukan pimpinan nasional yang kuat, berwibawa
serta mampu mempersatukan bangsa serta mempunyai visi ke depan membawa bangsa
Indonesia dalam mencapai tujuan dan cita-cita nasional.
Dalam ketatanegaraan Indonesia, mekanisme kepemimpinan nasional telah di
tetapkan yang dikenal dengan mekanisme kepemimpinan 5 tahun yang dibagi dalam 13
tahapan.
Dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat ini perlu diwaspadai masih
adanya bahaya laten yang bersifat ideologis maupun non-ideologis yang ingin memecah
belah kita sebagai bangsa. Untuk itu, diperlukan kewaspadaan nasional yang sejalan dengan
itu yakni berkehidupan Pancasila (budaya Pancasila) yang diaktualisasikan dalam kehidupan
sehari-hari.
Modul 4
Ketahanan Nasional Indonesia Dalam Menghadapi Era Globalisasi

Kegiatan belajar 1
Globalisasi sebagai tantangan
Globalisasi adalah gejala menyatunya kehidupan manusia di dunia tanpa mengenal
batas-batas fisik-geografik dan sosial. Ia dipicu dan dipacu oleh kemajuan pesat dalam bidang
teknologi yang dikenal dengan istilah Triple “T” Revolution, yaitu perkembangan kemajuan
di sektor teknologi komunikasi informasi, transportasi dan trade (liberalisasi perdagangan).
Terdapat empat jenis proses yang menyatukan kehidupan manusia yaitu citra global,
mal global, tempat kerja global dan keuangan global.
Globalisasi merupakan tantangan dan menurut Champy, lingkungan yang mampu
menghadapi tantangan masa depan itu yaitu lingkungan yang merangsang pemikiran
majemuk. Lingkungan itu tidak mungkin lagi ditentukan oleh produsen, tetapi oleh suatu tim
yang sadar akan tujuan yang dicapai dan peka terhadap keinginan konsumen. Untuk
memenuhi selera pasar “konsumen” diperlukan manusia-manusia yang menguasai ilmu dan
keterampilan tertentu serta menjalankan instruksi pimpinan dengan penuh tanggung jawab.
Masyarakat masa depan merupakan masyarakat “meritokrasi” yaitu masyarakat yang
menghormati prestasi daripada statusnya dalam organisasi. Selain itu, lingkungan yang
menghormati seseorang yang dapat menuntaskan pekerjaannya dan bukan berdasarkan
kedudukannya didalam organisasi.
Akibat hubungan bisnis (perdagangan) yang telah menyatukan kehidupan manusia
maka timbul kesadaran yang lebih intern terhadap hak-hak dan kewajiban asasi manusia.
Sejalan dengan itu, kehidupan demokrasi semakin marak dan manusia ingin menjauhkan diri
dari berbagai bentuk penindasan, kesengsaraan, diktator dan perang. Oleh karena itu,
liberalisasi dalam bidang ekonomi ini menuntut liberalisasi dalam bidang politik, di mana
keduanya harus berjalan seiring dan saling menunjang.
Manusia ingin hidup bersama, saling membantu, saling menguntungkan di dunia.
Solidaritas umat manusia semakin kental dan semakin bersatu dank arena itu menuntut pula
pendidikan yang lebih baik, derajat kesehatan yang lebih tinggi (peningkatan kualitas sumber
daya manusia), penghapusan kemiskinan dan hidup bersama dalam suasana damai. Nilai-nilai
positif dari globalisasi (kesejagatan) ini mempunyai dimensi-dimensi baru yang tidak dikenal
sebelumnya seperti kriminalitas internasional, pembajakan dan terorisme internasional,
penyakit baru yang dengan cepat menyebar ke seantero dunia. Transformasi ini berjalan
dengan menghadapi tantangan sebagaimana dikatakan oleh John Naisbitt, globalisasi
mengandung berbagai paradox.
Di satu pihak, ekonomi global menuju suatu kesatuan, tetapi di pihak lain terjadi tren
politik lahirnya ratusan negara baru. Dalam kaitan ini, apakah globalisasi itu akan
menghilangkan nation state (negara bangsa) dan identitas bangsa. Buah pikiran Kenichi
Ohmae dalam “Dunia tanpa batas” bukan dimaksudkan demikian. Apa yang dikemukakan
terutama dalam bidang bisnis komunikasi dan informasi memang akan menebus batas-batas
nation, tetapi tidak dengan sendirinya menghilangkan identitas suatu bangsa.
Apabila kita mengenal bentuk-bentuk budaya yang terikat pada waktu dan pada
tempat yang beraneka ragam dengan kekhasannya, kini dengan proses globalisasi menjadi
ancaman. Kontak budaya tidak terelakkan akibat komunikasi yang semakin lancar. Terjadilah
relativisasi nilai budaya dan memungkinkan munculnya sinkretisme budaya yang sifatnya
transnasional.
Di sisi lain kita melihat akibat eksploitasi sumber daya, gaya hidup yang
konsumerisme, urbanisasi, dan pembangunan yang ekstensif dan intensif dengan segala
eksesnya menjadi bencana bagi umat manusia dan makhluk hidup lainnya di planet bumi
yang hanya satu ini.
Di sisi lain kita melihat keterbatasan daya dukung planet bumi karena terbatasnya
sumber daya alam dan jumlah penduduk yang terus bertambah serta secara eksponensial serta
perusakan bumi oleh manusia itu sendiri. Melihat hal ini kita bisa berpandangan pesimis,
namun ada juga yang berpandangan optimis karena pada dasarnya manusia dapat
memecahkan masalahnya sendiri akibat dari kemampuan teknologi yang diciptakan.
Dalam kondisi ini muncul gagasan yang optimis, yaitu hendaknya umat manusia
membuat suatu “Kampong Global” (global village) tempat hidup manusia bersama-sama
memecahkan masalahnya mengenai dunia yang makmur damai dan sejahtera. Sejalan dengan
itu gagasan pemerintahan global (global government) diutarakan karena kekhawatiran umat
manusia atas bumi yang memerlukan pemeliharaan agar pembangunan dapat
berkesinambungan (sustainable development).
Kegiatan belajar 2
Globalisasi dan Nasionalisme
Globalisasi yang dipercepat dengan pertumbuhan luar biasa dari media massa melalui
media telekomunikasi dianggap akan menghilangkan batas geografis suatu negara.
Akibatnya, nasionalisme akan kehilangan wujud aslinya dan berganti menjadi universalisme
atau globalisme dimana orang akan menjadi warga dunia, bukan warga suatu negara yang
batas-batas geografisnya sudah jelas.
Pemikiran ini berangkat dari buah pikiran Kenichi ohmae yaitu dunia tanpa batas. Apa
yang diutarakan terutama dalam bidang bidang bisnis telekomunikasi atau informasi maupun
transportasi akan menembus batas-batas Negara, tetapi tidak dengan sendirinya akan
menghilangkan negara, bangsa dan identitas suatu bangsa. Nasionalisme tetap ada dan
relevan dibicarakan mengingat:
1. Manusia bukanlah sekedar mass product, tetapi makhluk yang berakal, berperasaan dan
berbudaya
2. Fitrah manusia sebagai makhluk social yang bergolong-golong (primordial).
Primordialisme akan meluas kearah nasionalisme. Oleh karena itu, nasionalisme tidak
akan lenyap karena saat ini dengan mudah melakukan komunikasi dengan manusia lain di
belahan bumi lain dalam waktu yang relative singkat
3. Proses globalisasi tidak akan berjalan secara mekanis dan pada akhirnya proses tersebut
diciptakan dan dikendalikan oleh manusia
Ancaman bagi nasionalisme bukanlah dari globalisasi (eksternal) melainkan banyak
ditentukan dari masalah masalah internal yaitu dari situasi ekonomi, sosial, politik, dan
keamanan di dalam negeri.
Nasionalisme dewasa mempunyai objek yang berbeda jika dibandingkan dengan
nasionalisme di masa penjajahan. Di masa penjajahan, objek bagi Nasionalisme adalah
“penjajah” yang ditampilkan dalam bentuk kesediaan untuk ikut berjuang melawan penjajah.
Setelah merdeka, nasionalisme mempunyai objek negara dan bangsa sendiri sebagai penentu
kadar nasionalisme seseorang. Dengan demikian nasionalisme dewasa ini berkembang dari
persepsi individu warga negara terhadap negaranya karena penjajah sudah pergi.
Jika mereka tetap memperoleh persepsi yang baik terhadap “Negara dan bangsanya”
maka kecintaan terhadap bangsa dan negaranya akan tetap terjaga dan jika persepsinya jelek
maka kecintaan terhadap bangsa dan Negara akan turun atau hilang sama sekali. Kesalahan
umum yang sering terjadi di dalam memahami kadar nasionalisme suatu bangsa, adalah
upaya secara tidak sadar untuk mencampuradukkan persepsi pribadi terhadap orang lain,
dengan persepsi individu terhadap bangsa dan negaranya.
Dalam Negara demokrasi, perbedaan pendapat adalah suatu yang wajar bahkan
merupakan karakter dari demokrasi itu. Menghargai pendapat orang lain adalah salah satu ciri
dari demokrasi tersebut. Oleh karena itu, orang yang mengkritik suatu keadaan atau suatu
system belum tentu didorong oleh rasa bencinya terhadap bangsa dan negaranya, tetapi
mungkin karena rasa cinta terhadap bangsa dan Negara untuk meluruskan sesuatu yang
dianggap bisa merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tantangan utama dalam mempertahankan nasionalisme tidak ditentukan semata-mata
oleh tantangan dari luar, melainkan tantangan tersebut dapat berwujud upaya untuk menjaga
citra bangsa dan Negara agar selalu positif dan dengan demikian menjadi kebanggan bagi
seluruh warga Negara. Belajar dari pengalaman pembangunan di Negara-negara tetangga
yang dapat menumbuhkan kebanggan terhadap bangsa dan Negara maka hditumbuhkan etika
kepemimpinan dan etika social yang berlandaskan kejujuran, kerja keras dan hemat dalam
upaya menuju masyarakat Indonesia yang modern. Sebagaimana yang diwasiatkan oleh
pendiri Republik ini. Soekarno, bahwa kebesaran bangsa dan kemakmuran tidak pernah jatuh
gratis dari langit, tetapi selalu merupakan kristalisasi keringat (kerja keras).
Sementara itu, dalam era globalisasi ini dimana derasnya isu demokratisasi, hak asasi
manusia dan lingkungan hidup yang melanda dunia, sebagai bangsa Indonesia, kita dapat
menerima dan mengkaji dengan arif berdasarkan paradigm (sudut pandang) dan metode
berpikir Pancasila.
Mengkaji suatu permasalahan dan perspektif liberal, sosialis komunis maupun
fundamentalis agama pasti akan menghasilkan produk dan manusia lain yang tidak seiring
bahkan bertentangan dengan akar budaya bangsa kita “Pancasila” yang menganut paham
kesimbangan, keselarasan dan keserasian hubungan antara Engkau yang abadi (Tuhan Yang
Maha Esa, sila 1), aku (manusia dalam konsep abstrak, sila 2) dan sosialitas manusia (sila 3,
4, dan 5). Konsep dasarnya ialah Kemahaesaan Tuhan, manusia adalah makhluk individu
serentak sebagai makhluk social “integralisme”.
Kegiatan Belajar 3
Meningkatkan Ketahanan Nasional Indonesia dalam Menghadapi Era Globalisasi
Globalisasi membawa angina perubahan terhadap kehidupan Negara dan bangsa.
Hubungan umat manusia antarnegara sangat intens seakan-akan menggilas Negara bangsa
(nation state) dan membangun citra global. Sebagai bangsa Indonesia, dengan berpijak pada
budaya Pancasila, kita harus siap menghadapi kekuatan global tersebut, agar tetap eksis
sebagai suatu bangsa dalam pergaulan dunia.
Untuk itu, kita mengetahui kekuatan dan kelemahan yang kita miliki dalam segenap
aspek kehidupan (Astagatra). Kekuatan yang kita miliki dalam Astagatra (geografi, sumber
kekayaan alam, demografi, ideologi, politik, ekonomi, social budaya dan hankam) hendaknya
dapat dipertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan, sedangkan kelemahan-kelemahan yang
ada hendaknya dapat diatasi dan diubah menjadi kekuatan untuk meningkatkan tannas di
dalam menghadapi era globalisasi. Kunci dalam meningkatkan tannas Indonesia adalah
peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang menuju kepenguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang dilandasi oleh iman dan takwa (imtaq). Hal ini
sejalan dengan hakikat pembangunan nasional, yaitu pembangunan manusia dari masyarakat
Indonesia seutuhnya. Dalam pembangunan nasional yang kita lakukan untuk meningkatkan
tannas dilandasi oleh Wasantara. Penerapan pendekatan tannas dalam pembangunan nasional,
berarti kita melihat kekuatan dan kelemahan bangsa Indonesia dalam seluruh aspek
kehidupan (Astagatra) secara komprehensi integral, membangun secara bersinergi aspek
kehidupan bangsa tersebut. Wasantara merupakan landasan atau kerangka dan visi yang
mengikat bangsa Indonesia dalam pembangunan nasional sehingga hasil pembangunan yang
kita capai atau tingkat tannas yang dihasilkan tetap dalam kerangka atau ikatan persatuan dan
kesatuan segenap aspek kehidupan bangsa Indonesia dan dapat memberikan jaminan terhadap
identitas dan integritas bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta
tercapainya tujuan dan cita-cita nasional.
Oleh karena itu, dalam pembangunan nasional untuk mencapati tingkat tannas yang
kita harapkan di dalam mengarungi bahtera globalisasi ini diperlukan pengaturan-pengaturan
dalam aspek Trigatra dan pancagatra.
Dalam aspek Trigatra diperlukan pengaturan ruang wilayah nasional serasi antara
kepentingan kesejahteraan dan kepentingan kemanan, pembinaan kependudukan, pengelolaan
sumber kekayaan alam dengan memperhatikan asas manfaat, daya saing dan kelestarian.
Dalam aspek pancagatra diperlukan pemahaman penghayatan dan pengamalan Pancasila di
dalam kehidupan kita berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Penghayatan budaya politik
Pancasila, mewujudkan perekonomian yang efisien, pemerataan dan pertumbuhan yang
tinggi untuk mencapai kesejahteraan yang meningkat bagi seluruh rakyat, memantapkan
identitas nasional Bhinneka Tunggal Ika, dan memantapkan kesadaran bela negara bagi
seluruh rakyat Indonesia.
Selanjutnya, di dalam gerak pembangunan yang kita lakukan perlu diperhatikan
keterpaduan yang sejalan dengan konsepsi tannas, yaitu keterpaduan antara Pemerintah
dengan Daerah dan keterpaduan antara sector-sektor pembangunan dan di dalam sector
pembangunan. Dengan konsep keterpaduan ini (pendekatan tannas) akan kita peroleh nilai
tambah yang tinggi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan keamanan rakyat (tannas
yang semakin meningkat) sehingga kita tetap bertahan hidup, betapa pun besarnya badai
kehidupan yang datan menghantam di era kesejagatan ini. Badai kehidupan tersebut pasti
dapat kita atasi dan pasti berlalu.