Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM PEMANENAN HASIL HUTAN

ACARA 3
PEMBUATAN RENCANA TRASE JALAN SARAD DAN JALAN ANGKUT

Oleh :
Nama : Siti Afifah Amelia
Nim : 18/427466/KT/08778
CoAss : Criesna Monetha Dewy
Shift : Selasa, 15.30 WIB

LABORATORIUM PEMANENAN HASIL HUTAN


DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2020
ACARA III

PEMBUATAN RENCANA TRASE JALAN SARAD DAN JALAN ANGKUTAN

I. TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Mempelajari cara-cara pembuatan rencana trase jalan angkutan dengan peta
topografi
2. Membuat rencana trase jalan angkutan diatas peta topografi
3. Mempelajari cara-cara pembuatan rencana trase jalan sarad dengan peta potensi
tegakan
4. Membuat trase jalan sarad diatas peta potensi tegakan

II. DASAR TEORI


Pemanenan hasil hutan merupakan kegiatan memindahkan tegakan berdiri dari
dalam hutan ke suatu tempat yang sudah ditetapkan. Tujuan dari pemanenan hasil
hutan ini adalah untuk mengoptimalkan nilai kayu, mengoptimalkan pasokan kayu
industri, meningkatkan kesempatan kerja dan mengembangkan ekonomi regional
(Mujetahid, 2009 dalam Faqih, 2018).
Jalan hutan dapat diklasifikasikan menurut fungsinya didalam jaringan jalan
menjadi 3 jenis jalan hutan, yaitu: Jalan Utama, Jalan Cabang dan Jalan Ranting.
Jalan utama melayani kebutuhan kegiatan pengusahaan hutan secara umum dan
menghubungkan wilayah hutan dengan jalan koridor atau jalan umum, serta berfungsi
menampung arus angkutan dari jalan cabang. Jalan utama biasanya diperkeras dan
berkualitas tinggi serta dipelihara secara rutin. Jalan cabang dan jalan ranting
melayani kegiatan pada areal yang terbatas, yakni menghubungkan daerah/tegakan
hutan dalam blok dan petak dengan jalan utama. Jalan cabang kadang-kadang
diperkeras dan dipelihara secara periodik (Soenarno, 2018).
Trase jalan yang paling baik adalah berupa garis yang lurus dan untuk tiap-tiap
perubahan harus ada alasannya (Lazurko, 2017). Alasan-alasan tersebut berupa:
1. Tanjakan yang terlalu tinggi dan turunan yang terlalu curam sehingga
diharuskan pembuatan jalan yang lebih panjang untuk menurunkan gradien
sehingga alat angkut dapat melewatinya dan tidak terlalu berat untuk dilewati.
2. Keadaan lapangan yang membuat pembuatan jalan menjadi mahal. Hal itu
disebabkan karena penyimpanan garis luru, misalnya belokan/tikungan akan
membuat jalan menjadi lebih panjang sehingga biaya pembuatan dan
pemeliharaan meningkat dan biaya eksploitasi bertambah.
3. Keadaan yang istimewa, misalnya menghindari daerah yang rawan longsor
atau banjir dan lain-lain untuk menghindarkan dari pemeliharaan istimewa.
4. Pembelokan yang istimewa untuk pembukaan sekunder.
Pembangunan jalan angkutan merupakan bagian penting dalam pemanenan
hasil hutan. Sistem pembangunan jalan ini memperhatikan proses penebangan pohon
dan arah jatuhnya pohon. Pohon yang jatuh kemudian dapat dibentuk menjadi log
dengan menghilangkan ranting dan daunnya dan memudahkan pengangkutan dengan
truk untuk melanjutkan proses berikutnya (Abdi, 2017). Pembuatan jalan angkutan
memiliki dampak bagi lingkungan. Maka, pembuatan jalan harus sesuai dengan
kondisi-kondisi di lapangan dan harus dipastikan bahwa jalan tersebut cukup baik
untuk digunakan (Hofko, 2017).

III. ALAT DAN BAHAN


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Peta Kontur HPH Suka-suka skala 1:25.000
2. Peta Potensi HPH Suka-suka skala 1:25.000
3. Peta Pohon HPH Suka-suka skala 1:7.500
4. Kertas kalkir
5. Busur derajat
6. Penggaris
IV. CARA KERJA
Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan rencana trase jalan angkutan dengan peta topografi

Rencana jalan yang


Peta topografi akan dibuat digambar
diperhatikan skala, Syarat gradien jalan sesuai dengan
vertikal interval (VI), yang akan dibuat spesifikasi jalan dan
dan horizontal diperhatikan titik permulaan serta
equivalennya (HE) jalan dan
kelerengannya diukur
Uraian cara kerja:
Peta topografi yang digunakan diperhatikan skala, vertikal interval (VI), dan
horizontal equivalen (HE). Kemudian syarat gradien jalan yang akan dibuat
diperhatikan, untuk jalan utama maksimal 4 cm, jalan cabang maksimal 3 cm, dan
jalan ranting maksimal 2,4 cm. Terakhir, rencana jalan yang akan dibuat digambar
sesuai dengan spesifikasi jalan dan titik permulaan serta jalan dan kelerengannya
diukur.

2. Pembuatan rencana trase jalan sarad dengan peta potensi tegakan

Peta potensi hasil


inventore/cruising
diperhatikan jenis pohon
Peta potensi pohon dibagi
penyusunannya apakah
kedalam blok-blok sebesar
pohon komersil atau
2x2 cm².
lindung. Pohon yang
ditebang adalah jenis
komersil.

Titik berat dihubungkan


Titik berat ditentukan
dengan jalan angkut dalam
berdasar jumlah pohon
bentuk garis dengan sudut
komersil tiap blok dan
tegak lurus terhadap jalan
nomor baris tiap blok.
angkut tersebut.
Uraian cara kerja:
Peta potensi hasil inventore/cruising diperhatikan jenis pohon penyusunannya
apakah pohon komersil atau lindung. Pohon yang ditebang adalah jenis komersil.
Lalu peta potensi pohon dibagi kedalam blok-blok sebesar 2x2 cm². Selanjutnya, titik
berat ditentukan berdasar jumlah pohon komersil tiap blok dan nomor baris tiap blok,
menggunakan rumus yang telah ditentukan. Terakhir, titik berat dihubungkan dengan
jalan angkut dalam bentuk garis dengan sudut tegak lurus terhadap jalan angkut
tersebut.

V. DATA DAN PERHITUNGAN


1. Pembuatan rencana trase jalan angkutan dengan peta topografi

HE HE JARAK
SEGME STATUS A Ax SLOPE
VI PETA LAPANGAN LAPANGAN KET SKALA
N JALAN (n) VI (%)
(cm) (m) (m)
Tidak
Jalan
1 3 12,5 37,5 4 1000 3,75 1000,70 melewati 25000
utama
sungai
Tidak
Jalan
2 4 12,5 50 4 1000 5 1001,25 melewati 25000
utama
sungai
Jalan Melewati
3 5 12,5 62,5 4 1000 6,25 1001,95 25000
utama sungai
Tidak
Jalan
4 5 12,5 62,5 4 1000 6,25 1001,95 melewati 25000
utama
sungai
Tidak
Jalan
5 6 12,5 75 4 1000 7,5 1002,81 melewati 25000
utama
sungai
Jalan Melewati
6 5 12,5 62,5 3,5 875 7,14 877,23 25000
utama sungai
Tidak
Jalan
5.1 4 12,5 50 3 750 6,67 751,66 melewati 25000
cabang
sungai
Tidak
Jalan
4.1 5 12,5 62,5 3 750 8,33 752,60 melewati 25000
cabang
sungai
Jalan Melewati
2.1 4 12,5 50 3 750 6,67 751,66 25000
cabang sungai
1.1 Jalan 3 12,5 37,5 3 750 5 750,94 Tidak 25000
cabang melewati
sungai
Tidak
Jalan
1.1.1 1 12,5 12,5 2 500 2,5 500,16 melewati 25000
ranting
sungai
Tidak
Jalan
2.1.1 4 12,5 50 2 500 10 502,49 melewati 25000
ranting
sungai
Tidak
Jalan
4.1.1 4 12,5 50 2 500 10 502,49 melewati 25000
ranting
sungai

Contoh perhitungan:
a. Segmen 1, jalan utama
angka penyebut skala 25.000
 VI (vertical interval) = = =12,5 meter
2000 2000
 HE (horizontal equivalen) Lapangan =

( HE peta× penyebut skala ) 4 × 25.000


= =1000 meter
100 m 100
A . VI 3× 12,5
 Slope = ×100 %= ×100 %=3,75 %
HE lapangan 1000
 JL (jarak lapangan) =
2 2 2 2
√ ( A .VI ) + ( HE lapangan ) =√( 3.12,5 ) +( 1000 ) =1000,70 m
b. Segmen 1.1, jalan cabang
angka penyebut skala 25.000
 VI (vertical interval) = = =12,5 meter
2000 2000
 HE (horizontal equivalen) Lapangan =

( HE peta× penyebut skala ) 3 × 25.000


= =750 meter
100 m 100
A . VI 3× 12,5
 Slope = ×100 %= ×100 %=5 %
HE lapangan 750
 JL (jarak lapangan) =
2 2 2 2
√ ( A .VI ) + ( HE lapangan ) =√( 3.12,5 ) +( 750 ) =750,94 m
c. Segmen 1.1.1, jalan ranting
angka penyebut skala 25.000
 VI (vertical interval) = = =12,5 meter
2000 2000
 HE (horizontal equivalen) Lapangan =

( HE peta× penyebut skala ) 2 ×25.000


= =500 meter
100 m 100
A . VI 1×12,5
 Slope = ×100 %= ×100 %=2,5 %
HE lapangan 500
 JL (jarak lapangan) =
2 2 2 2
√ ( A .VI ) + ( HE lapangan) =√( 1.12,5 ) +( 500 ) =500,16 m

2. Pembuatan rencana trase jalan sarad dengan peta potensi tegakan

Blok xi fi xi.fi DG Pola Jalan Sarad dan Alasan


1 0 0
2 0 0
3 0 0
A 4 0 0 0 -
5 0 0
6 0 0
7 0 0
    0 0    
1 0 0
2 0 0
3 1 3 Pola tanduk rusa karena
B 4 6 24 4,9 arealnya datar-landai dan
5 2 10 berada di hutan alam
6 6 36
7 0 0
    15 73    
1 1 1
2 5 10
3 7 21 Pola tanduk rusa karena
C 4 5 20 3,9 arealnya datar-landai dan
5 10 50 berada di hutan alam
6 4 24
7 0 0
    32 126    
D 1 3 3 3,6 Pola tanduk rusa karena
2 6 12
3 3 9
4 4 16 arealnya datar-landai dan
5 4 20 berada di hutan alam
6 5 30
7 0 0
    25 90    
1 0 0
2 3 6
3 5 15 Pola tanduk rusa karena
E 4 6 24 3,8 arealnya datar-landai dan
5 3 15 berada di hutan alam
6 2 12
7 0 0
    19 72    
1 0 0
2 0 0
3 6 18 Pola tanduk rusa karena
F 4 6 24 4,6 arealnya datar-landai dan
5 6 30 berada di hutan alam
6 6 36
7 1 7
    25 115    
1 0 0
2 0 0
3 0 0 Pola tanduk rusa karena
G 4 6 24 5,1 arealnya datar-landai dan
5 7 35 berada di hutan alam
6 5 30
7 1 7
    19 96    
1 0 0
2 0 0
3 0 0 Pola tanduk rusa karena
H 4 5 20 5,1 arealnya datar-landai dan
5 5 25 berada di hutan alam
6 7 42
7 0 0
    17 87    
1 0 0 Pola tanduk rusa karena
I 2 0 0 5,4 arealnya datar-landai dan
3 0 0 berada di hutan alam
4 0 0
5 8 40
6 2 12
7 1 7
    11 59    
1 0 0
2 0 0
3 0 0 Pola tanduk rusa karena
J 4 3 12 5,2 arealnya datar-landai dan
5 5 25 berada di hutan alam
6 6 36
7 0 0
    14 73    

Contoh perhitungan:
a. Titik berat (TB) blok A =

( 1× 0 ) + ( 2× 0 ) + ( 3 ×0 )+ ( 4 × 0 ) + ( 5 ×0 ) + ( 6 × 0 ) + ( 7 ×0 )
=0
0+0+0+ 0+0+0+ 0
b. Titik berat (TB) blok B =

( 1× 0 ) + ( 2× 0 ) + ( 3 ×1 ) + ( 4 ×6 )+ (5 × 2 )+ ( 6 ×6 ) + ( 7 × 0 )
=4,9
0+0+1+6+2+6 +0
c. Titik berat (TB) blok C =

( 1×1 )+ ( 2 ×5 )+ (3 × 7 ) + ( 4 ×5 ) + ( 5 ×10 ) + ( 6 × 4 )+ ( 7 ×0 )
=3,9
1+5+7 +5+10+ 4+0

VI. PEMBAHASAN

Pengangkutan merupakan salah satu tahap dalam kegiatan pemanenan hasil


hutan. Hasil hutan yang telah dipanen diangkut untuk kemudian dipindahkan ke
tempat penimbunan kayu (TPK) atau dibawa langsung ke pabrik pengolahan melalui
jalan utama. Pengangkutan juga disebut sebagai transportasi jarak jauh. Sedangakan
transportasi jarak dekat sering disebut dengan penyaradan, yaitu kegiatan
memindahkan produk pohon dari areal tebangan melaalui lapangna yang belum
terbuka ke tempat pengumpulan kayu atau tempat traktor sarad membongkar muatan.
Agar proses pengangkutan lancar maka perlu dibuat jalan angkut. Jalan angkut
merupakan sarana yang menunjang kesuksesan pengelolaan hutan. Selain itu jalan
angkut menjadi faktor pendukung kegiatan operasional pengelolaan hutan. Dengan
adanya jalan angkut, pengangkutan hasil hutan menjadi lebih efektif dan efisien.
Dalam pembangunan hutan, jalan merupakan sarana utama pembinaan hutan.
Disamping itu, jalan juga berfungsi sebagai sarana inspeksi, transportasi tenaga kerja,
serta sarana perawatan tanaman. Begitu pentingnya jalan, maka jalan harus dibuat
dengan perencanaan yang baik dan matang agar efisien biaya pengankutan,
pembuatan, serta pemeliharaan jalan dapat tercapai.

Berikut persyaratan yang harus dipenuhi untuk pembuatan jalan sarad dan jalan
angkut:

1. Pembuatan jalan memperhitungkan kondisi lingkungan untuk menghindari


kerusakan lingkungan, misal erosi.
2. Tidak boleh terlalu banyak belokan atau meminimalkan belokan.
3. Untuk jalan sarad berupa tanah, sedangkan untuk jalan angkut berupa jalan yang
di perkeras agar kuat dan tahan terhadap gesekan atau tempaan roda kendaraan
dan air.
4. Untuk jalan sarad rutenya dibuat sependek mungkin dan dapat menjangkau
seluruh individu pohon.
5. Jalan yang dibuat tidak diperkenankan melalui areal hutan lindung atau kawasan
konservasi.
6. Pada sisi kiri dan kanan jalan angkutan harus dibuat drainase atau saluran
pembuangan air.
7. Jalan sarad dibuat tidak permanen dan diperkeras sedangkan jalan angkut dapat
dibuat permanen dan diperkeras.
8. Rute jalan sarad harus disesuaikan dengan perencanaan menurut pola yang
sistematis.

Prinsip pembuatan jalan adalah harus dibuat sependek mungkin dan melewati
daerah berpotensi tegakan yang tinggi. Hal tersebut dilakukan untuk
mengefisiensikan waktu dan biaya (ekonomi). Beberapa faktor yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan jalan sarad dan jalan angkut, yaitu :

1. Letak dan topografi hutan/tegakan serta kelerengan.


2. Geologi, keadaan tanah dan iklim pada lokasi tegakan.
3. Jumlah kayu yang akan disarad dan diangkut per satuan waktu.Rencana
pemungutan hasil.
4. Jalan-jalan lalu lintas yang ada di dalam atau sekitar hutan.
5. Jalan angkutan.
6. Kemampuan penyesuaian dan jenis angkutan.
7. Adanya tegakan tinggal, sehingga tidak merusak atau meminimalkan kerusakan
pada tegakan tinggal.
8. Jalan sarad sebaiknya menuruni bukit.
Pada pembuatan jalan angkut, direncanakan akan dibuat 13 segmen yang terdiri
dari 6 jalan utama, 4 jalan cabang, dan 3 jalan ranting. Jalan utama dibuat melewati
petak A, L, E, D, F, J, dan K. Rute jalan tersebut dipilih karena pertimbangan
keadaan topografi dengan kecuraman yang rendah, serta petak yang memiliki potensi
cukup besar. Pembagian dalam beberapa segmen yang disesuaikan dengan topografi
wilayah tersebut, dimana rute jalan angkut menghindari kawasan yang curam dan tak
stabil. Petak lain yang tidak dilewati jalan utama dicapai dengan menggunakan jalan
cabang dan jalan ranting. Pembuatan jalan harus memperhatikan spesifikasi
kemiringan (nilai slope) jalan dan panjang maksimum (HE lapangan) yang diizinkan.
Pada jalan angkut maksimal slope 10% dan panjang maksimum 1000 m, jalan cabang
maksimal slope 15% dan panjang maksimum 750 m, dan jalan ranting maksimal
slope 18% dan panjang maksimum 600 m. Berdasarkan hasil perhitungan, tidak
terdapat nilai slope dan panjang maksimum yang melebihi aturan. Pada 6 segmen
jalan utama nilai slope tertinggi ada di segmen 5 yaitu 7,5%. Pada 4 segmen jalan
cabang nilai slope tertingginya ada di segmen 4.1 yaitu 8,33%. Serta pada 3 segmen
jalan ranting nilai slope tertinggi ada di segmen 4.1.1 dan 2.1.1 yaitu 10%. Pada
dasarnya konsep pembuatan jalan sebaiknya menghindari melewati sungai karena
membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membuat jembatan. Akan tetapi, karena
keadaan yang tidak memungkinkan ada beberapa segmen harus melewati sungai,
yaitu segmen 3, segmen 6, dan segmen 2.1.
Pada trase jalan sarad menggunakan metode perhitungan dengan titik berat. Peta
potensi tegakan dibagi dalam ukuran 2cm x 2cm untuk menghitung banyaknya pohon
komersil yang nantinya digunakan untuk menentukan titik beratnya, jumlah pohon
dalam setiap kotak mempengaruhi nilai titik berat setiap blok. Semakin sedikit jumlah
pohon dan diikuti makin besar nomor bloknya, maka titik berat semakin besar. Jika
jalan utama berada pada nomor blok terkecil maka jalan saradnya akan semakin
panjang. Titik berat dihitung dari blok dikali jumlah pohon komersil di dalamnya
dibagi dengan total pohon dalam blok tersebut. Hasilnya merupakan sebuah titik
koordinat untuk menjadi patokan penarikan jalan sarad yang tegak lurus terhadap
jalan utama, tarikan garisnya merupakan garis titik berat. Terdapat 10 blok utama
yang terbagi ke dalam 6 sub blok. Dan setelah digambar, terlihat terdapat jalan sarad
yang berjumlah 9 buah. Dengan adanya perencanaan pembuatan trase jalan angkut
dan jalan sarad ini diharapkan kegiatan pemanenan dapat berjalan efisien dan efektif
sehingga mampu mendukung pengelolaan hutan lestari.

VII. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah:
1. Dalam pembuatan rencana trase jalan dengan peta topografi perlu diperhatikan
slope/gradien. Gradien ditetapkan terlebih dahulu sebelum menggambar ruas
jalan pada peta dengan ketentuan:
a. Jalan utama : HE peta ≤ 4 cm, slope ≤ 10%
b. Jalan cabang : HE peta ≤ 3 cm, slope ≤ 15%
c. Jalan ranting : HE peta ≤ 2,4 cm, slope ≤ 18%
2. Trase jalan angkutan terbagi menjadi segmen yang terdiri dari 6 jalan utama, 4
jalan cabang, dan 3 jalan ranting.
3. Dalam pembuatan jalan sarad menggunakan metode titik berat. Cara mencari titik
berat yaitu:
a. Membuat blok bujur sangkar dengan ukuran tertentu pada peta potensi pohon.
b. Blok diberi nomor dari kiri ke kanan dan atas ke bawah.
c. Masing-masing blok dihitung berapa banyaknya pohon yang berada
didalamnya.
d. Kemudian dalam satu garis blok dihitung berapa titik beratnya dengan rumus:

TB=
∑ fi . xi
∑ fi
4. Dari potensi pohon yang ada, terdapat 9 jalan sarad di HPH Suka-suka.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Abdi, Ehsan, Meghdad Jourgholami, Hamid Soofi Mariv. 2017. Decision Making in
Forest Road Planning Considering Both Skidding and Road Costs : A Case
Study in the Hyrcanian Forest in Iran. Biogeosciences and Forestry. 6(1)
Faqih, S., Hardiansyah, G., & Roslinda, E. 2018. Analisa Biaya Pemanenan Tanaman
Mangium (Acacia Mangium) Di PT Bina Silva Nusa Kecamatan Batu Ampar
Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Hutan Lestari. 6(4).
Hofko, Benhard, Hannes Kugler, Georgi Chankov, Roland Spielhofer. 2017. A
Laboratory Procedure for Predicting Skid and Polishing Resistance of Road
Surfaces. International Journal of Pavement Engineering. 20(4).
Lazurko, A., and Venema H. D. 2017. Financing High Performance Climate
Adaptation in Agriculture : Climate Bonds For Multi-Functional Water
Harvesting Infrastructure on the Canadian Prairies. Journal of Sustainability. 9
(7) : 1237.
Soenarno, Astana. 2018. Lacak Balak untuk Verifikasi Uji Legalitas Kayu pada
Pemanenan Kayu Hutan Alam. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Vol 36(1) : 47-58
LAMPIRAN