Anda di halaman 1dari 2

Berdasarkan apa yang saya ketahui, UU Cipta Kerja merupakan UU yang terlalu tergesa-gesa

untuk di sahkah. Jika dilihat dari proses pembuatannya dan substansi isinya, UU ini dapat
dikatakan prematur. Kenapa demikian:
1. Proses pengajuan dan pembahasan RUU tersebut tidak didahului dengan partisipasi
publik, sehingga terkesan sepihak. Selain itu, menurut pendapat saya waktunya juga
kurang tepat, karena mengingat situasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi akibat
pandemi Covid-19 saja belum dapat di atasi. Dalam hukum islam hal yang sangat
mendesak (aham) harus lebih diprioritaskan diatas hal yang penting (muhim).
2. Jika dilihat dari substansi isinya sebagian dapat megurangi kesejahteraan para pekerja
terkait pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. Itu artinya UU tersebut
dapat menciderai sila Pancasila Keadilan Sosial. Sebagai contoh:
- Kemudahan pihak swasta dan asing dapat mengandung substansi liberalisasi yang
dapat mengancam kedaulatan negara jika tidak dapat dikontrol secara bijaksana
- Dari segi buruh/pekerja, jika dibaca sekilas hak-haknya dipangkas walaupun tidak
secara frontal. Hal ini tentunya merugikan pekerja dn menguntungkan pengusaha
- Jika ditelaah lebih dalam UU ini juga menimbulkan kerusakan lingkungan, karena
dicabutnya ketentuan tentang penyediaan luas minimum 30% fungsi kawasan
hutan.
Jadi kesimpulannya, dari penjabaran di atas secara pribadi saya termasuk orang yang
menolak di sahkannya UU Cipta Kerja. Karena jika dilihat dari dalil hukum murshalihah
mursalah (kemaslahatan), UU tersebut sangat merugikan baik dari segi individu (pekerja)
maupun segi kemaslahatan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun mungkin dampaknya
itu tidak langsung dirasakan dan baru akan dirasakan di kemudian hari.
Menurut saya, UU ini juga tidak bisa dijadikan sebagai kambing hitam sebagai alat untuk
menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak bagi rakyat. Oke lapangan kerja banyak
dengan UU ini, tapi kesejahteraannya malah dizhalimi. Artinya, bukannya sejahtera malah
rakyat akan semakin sengsara. Bisa jadi kita menjadi pelayan di negara sendiri.
Nah untuk menyuarakan protes dan kritiknya, seharusnya kita bisa dapat bijaksana. Tidak
gegabah dan hanyut dalam evoria yang dapat berujung dalam anarkisme. Islam membolehkan
aksi demonstrasi selama tidak anarkis, karena kita sebagai umat manusia . Demostrasi
merupakan bagian dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Selain itu surat di bawah ini juga bisa
dijadikan pedoman bagi kita dalam menyikapi permasalahan ini:

Ditegaskan kembali oleh sabda Nabi Muhammad saw berikut:

.‫ك أَضْ َعفُ ْا ِإليْما َ ِن‬


َ ِ‫ َو َذل‬،‫ فَإِ ْن لَ ْم يَ ْست َِط ْع فَبِقَ ْلبِ ِه‬،‫ فَإِ ْن لَ ْم يَ ْست َِط ْع فَبِلِ َسانِ ِه‬،‫َم ْن َرأَى ِم ْن ُك ْم ُم ْن َكرًا فَ ْليُ َغيِّرْ هُ بِيَ ِد ِه‬

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubah dengan


tangannya, jika tidak mampu lakukanlah dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga,
maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim:49/78)
Demonstrasi tanpa pemikiran itu lebih banyak mudlaratnya daripada manfaatnya. Dalam
islam juga diajarkan agar kita meninggalkan perbuatan mudlarat dibanding manfaat. Untuk
itu mungkin kita dapat menyampaikan pendapat baik secara lisan maupun tulisan namun
tidak dengan cara yang gegabah dan akhirnya mendatangkan mudlarat. Dan yang paling
penting berdoa memohon petunjuk dan rahmat dari Allah SWT.