Anda di halaman 1dari 30

RENCANA KERJA DAN SYARAT TEKNIS

PASAL. 1
PENJELASAN UMUM
1.1 Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah pembangunan sekolah Dasar Berlantai satu dan
berlantai dua dengan sistem suntik.
1.2 Bill of Quantity (BQ), sangat mengikat dalam perencanaan gambar, RKS serta Berita Acara
Rapat sangat mengikat dalam pelaksanaan.
1.3 Pekerjaan pembangunan fisik ini dengan segala kelengkapan yang dibutuhkan harus sesuai
gambar dan bestek.
1.4 Sistem pelaksanaan pekerjaan harus diatur sedimikian rupa sehingga tidak menggangu
lingkungan dan bangunan disekitarnya.

PASAL. 2
LINGKUP DAN JENIS PEKERJAAN
2.1 Lingkup Pekerjaan ini terdiri atas :

a. Pekerjaan Pembongkaran
b. Pekerjaan Permulaan dan Pondasi
c. Pekerjaan Beton dan Dinding
d. Pekerjaan Plesteran
e. Pekerjaan Lantai
f. Pekerjaan Pintu dan Jendela
g. Pekerjaan Plafond
h. Pekerjaan Pengecatan
i. Pekerjaan Perlengkapan Dalam dan Luar
j. Pekerjaan Alat-Alat gantung
k. Pekerjaan Sanitasi
l. Pekerjan Rehabilitasi Gedung Kelas
m. Pekerjaan Pembangunan Tower Air
n. Pekerjaan Site Development

2.2 Jenis Pekerjaan yang harus dilaksanakan meliputi bagian-bagian pekerjaan yang dinyatakan
dalam gambar bestek, pelaksanaan pekerjaan ini, termasuk didalamnya :
a. Menyediakan tenaga kerja/tenaga ahli yang cukup memadai dengan jenis pekerjaan yang
akan dilaksanakan.

b. Alat-alat bantu seperti beton molen, pompa air, alat-alat pengangkut, dan perlatan lain yang
dipergunakan untuk pelaksanaan pekerjaan termasuk alat ukur seperti Theodolite / Water
pass dan lainnya.

c. Mobilisasi peralatan dan alat bantu yang dibutuhkan.

d. Bahan-bahan material dalam jumlah yang cukup untuk setiap pekerjaan yang akan
dilaksanakan tepat pada waktunya.

PASAL. 3
PERATURAN TEKNIS UMUM
3.1 Peraturan pekerjaan ini berpedoman terhadap peraturan dan ketentuan seperti tercantum di
bawah ini, termasuk semua perubahan-perubahannya hingga saat ini seperti :

(1) Peraturan Perundang-undangan yang dikeluarkan Pemerintah Republik Indonesia.


(2) Standar Industri Indonesia (SII).
(3) Peraturan-peraturan Umum (Algemene Voorarden) disingkat A.V 41.
(4) Peraturan Beton Indonesia PBI-NI-2/1971.
(5) Peraturan konstruksi kayu Indonesia disingkat PKKI-NI 5/1961.
(6) Peraturan Perencanaan Bangunan Baja disingkat PPBBI.
(7) Peraturan tentang Instalasi Listrik PUIL-1989 dan ketetapan PLN.
(8) Pedoman Plumbing Indonesia, tahun 1979 dan Perusahaan Air Minum.
(9) Peraturan Kebakaran materi Pekerjaan umum No. 02/”KMK”TS/1985.
(10) Peraturan Direktorat Jenderal Perawatan Departemen Tenaga Kerja tentang
penggunaan tenaga keselamatan dan kesehatan kerja.
(11) Persyaratan Umum dari Dewan Teknik Pembangunan Indonesia disebut DTPI 1969.
(12) Pedoman Tata Cara Penyelenggaraan Pembangunan Bangunan Gedung Negara oleh
Departemen Pekerjaan Umum.
(13) Peraturan Pembebanan Indonesia untuk gedung 1983.
(14) Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk gedung 1983 beserta
pedomannya.
(15) American Society For Testing Materials (ASTM).
(16) Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia disIngkat PUBI-1982.
(17) Peraturan Cat Indonesia-N4.
(18) Peraturan Semen Portland (NI-8)
(19) Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan Gedung SK.SNI T-15-1991-03.
(20) Tata cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal SK.SNI T-15-1991-03.

3.2 Untuk melaksanakan pekerjaan dalam pasal 1 ayat (2) tersebut diatas berlaku dan mengikat
pula :

a. Gambar bestek yang dibuat oleh Konsultan Perencana yang sudah disahkan oleh pemberi
tugas termasuk juga gambar-gambar pelaksanaan (Shop Drawing) yang diselesaikan oleh
Pengawas dalam pelaksanaan pembangunan.

b. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS).

c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.

d. Surat Keputusan Panitia Pembngunan

e. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).

f. Jadwal pelaksanaan (Tentative Time Schudule) yang disetujui Konsultan Pengawas.

PASAL. 4
PEMERIKSAAN DAN PENYEDIAAN BAHAN DAN BARANG
4.1 Bila dalam RKS disebutkan nama dan pabrik pembuatan dari suatu bahan dan baranng
maka ini dimaksudkan menunjukan standar minimal mutu dan kualitas bahan dan barang
yang akan digunakan.

4.2 Setiap bahan dan barang yang akan digunakan harus disampaikan kepada pengawas
pekerjaan oleh panitia pembangunan untuk mendapatkan persetujuan Pengawas pekerjaan
dimulai.

4.3 Setiap usulan penggunaan nama dan pabrik pembuat dari barang tersebut harus
mendapat rekomendasi dari pengawas pekerjaan berdasarkan petunjuk dalam RKS serta
gambar-gambar dari risalah penjelasan untuk selanjutnya usulan tersebut diteruskan
untuk dapat persetujuan dari Pengawas pekerjaan.

4.4 Contoh bahan dan barang yang akan digunakan dalam Pekerjaan harus diadakan.
Contoh-contoh bahan dan barang tersebut disimpan oleh pengawas pekerjaan untuk
dijadikan dasar penolakan bila ternyata bahan dan barang yang dipakai tidak sesuai
dengan contoh yang diberikan baik kualitas maupun sifatnya.

PASAL. 5
RKS SERTA GAMBAR KERJA
5.1 Gambar-gambar detail merupakan bagian-bagian yang tidak terpisahkan pada RKS ini.
Panitia Pembangunan wajib meneliti semua Gambar dan Rencana Kerja dan Syarat-
syarat (RKS) termasuk tambahan dan perubahan yang yang dicantumkan dalam Berita
Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).

5.2 Jika terdapat perbedaan antara gambar dan RKS, panitia pembangunan diwajibkan
mengajukan pertanyaan tertulis kepada pengawas pekerjaan atau Konsultan Pengawas
dan panitia pembangunan harus mengikuti keputusan pengawas pekerjaan

5.3 Jika terdapat kekurangan penjelasan dalam gambar atau diperlukan tambahan/detail
gambar, maka gambar tersebut harus dibuat 1 (satu) rangkap yang harus disetujui oleh
Konsultan Perencana.

5.4 Apabila ada hal-hal yang disebutkan berulang dalam gambar, RKS yang berlainan atau
bertentangan, maka ini harus diartikan bukan menghilangkan satu terhadap yang lain,
akan tetapi untuk lebih menegaskan masalah apabila terjadi yang demikian maka yang
diambil sebagai patokan adalah yang mempunyai bobot teknis atau biaya yang tinggi.

5.5 RKS, Daftar Volume Pekerjaan (BQ), Gambar serta Berita Acara Penjelasan Pekerjaan
adalah bagian yang paling melengkapi satu sama lain dan sesuatu yang bersifat
mengikat dalam pelaksanaan.
PASAL 6
TATA ADMINISTRASI
6.1 Jadwal Pelaksanaan

a. Sebelum memulai pekerjaan nyata di lapangan pekerjaan, konsultan perencana membuat


Rencana Pelaksanaan Pekerjaan dan bagian-bagian pelaksanaan berupa Bar-Chart dan
Curva ‘’S’’.

b. Panitia pembangunan memberikan salinan kerja rangkap 1 (satu) kepada Konsultan


Pengawas. Satu salinan kerja ditempel pada dinding bangsal panitia pembangunan di
lapangan, dan selalu diikuti dengan grafik kemajuan pekerjaan (prestasi kerja) di lapangan.

c. Konsultan Pengawas/Direksi akan menilai prestasi pekarjaan berdasarkan rencana kerja


tersebut.

6.2 Kuasa Panitia Pembangunan di Lapangan

a. Di lapangan pekerjaan, panitia pembangunan wajib menunjuk seorang kuasa panitia


pembangunan biasa di sebut PELAKSANA LAPANGAN yang cakap untuk memimpin
pelaksanaan pekerjaan dilapangan.

b. Dengan adanya pelaksana lapangan, tidak berarti bahwa panitia pembangunan lepas
tanggung jawab sebagian maupun keseluruhan kewajibannya.

c. panitia pembangunan wajib memberitahu secara tertulis kepada Konsultan Pengawas, nama
dan jabatan Pelaksanaan Lapangan.

d. Bila di kemudian hari, menurut pendapat Konsultan Pengwas, Pelaksana Lapangan


dianggap kurang mampu atau tidak cakap memimpin pekerjaan, maka akan diberitahukan
kepada panitia pembangunan secara tertulis untuk mengganti Pelaksana Lapangan tersebut.

e. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkannya Surat pemberitahuan, panitia


pembangunan sudah harus menunjuk Pelaksana yang baru.
6.3 Tempat Tinggal (Domisili) panitia pembangunan

a. Untuk menjaga kemungkinan diperlukan kerja diluar jam kerja (lembur) apabila terjadi hal-
hal yang mendesak panitia pembangunan harus memberitahukan secara tertulis alamat
lengkap domisila / lokasi tempat tinggal Pelaksana Lapangan kepada Konsultan pengawas.

b. Alamat domisili / tempat tinggal Pelaksana Lapangan diharapkan tidak berpindah-pindah


selama pekerjaan.

6.4 Penjagaan Keamanan Lapangan Pekarjaan

a. panitia pembangunan wajib menjaga keamanan di lapangan terhadap barang-barang milik


proyek, Konsultan pengawas yang ada di lapangan.

b. Untuk maksud tersebut, panitia pembangunan diperbolehkan mambuat pagar pengaman


dari kayu atau bahan lain yang biayanya manjadi tanggungan panitia pembangunan.

c. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangaunan yang telah di pasang atau belum, menjadi
tanggung jawab panitia pembangunan sepenuhnya dan tidak diperhitungkan dalam biaya
pekerjaan tambahan.

d. Apabila terjadi kebakaran, panitia pembangunan bertanggung jawab atas akibatnya baik
berupa baran-barang maupun keselamatan jiwa. Untuk itu panitia pembangunan harus
menyediakan alat-alat pemadam kebakaran yang siap dipakai yang ditempatkan pada
tempat yang mudah di jangkau.

6.5 Jaminan dan Keselamatan Kerja

a. Panitia pembangunan diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat


Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang selalu dalam keadaan siap digunakan di
lapangan untuk mengatasi segala kemungkinan musibah bagi semua petugas dan pekerja di
lapangan.

b. Panitia pembangunan wajib menyediakan air minum yang cukup bersih dan memenuhi
syarat-syarat kesehatan, dan air bersih, kamar mandi dan WC yang layak bagi semua
petugas dan pekerja di lapangan. Membuat tempat penginapan di dalam lapangan
pekerjaan untuk menjaga keamanan.
6.6 Situasi danUkuran

a. Situasi

 Panitia pembangunan wajib meneliti, sifat dan luasnya pekerjaan dan hal-hal lain yang
dapat mempengaruhi harga pekerjaan.
 Kelalaian atau kekurangan Panitia pembangunan dalam hal ini tidak dijadikan alasan untuk
mengajukan tuntunan
b. Ukuran
 Ukuran satuan yang digunakan disini semuanya dinyatakan dalam meter dan cm, kecuali
ukuran-ukuran untuk baja yang dinyatakan dalam inchi atau mm.
 Pedoman titik duga lantai (permukaan atas lantai) 0,00 akan ditentukan kemudian pada
saat pematokan, disesuaikan dengan kondisi di lapangan, atas keputusan antara Konsultan
Pengawas.
6.7 Syarat-syarat Pemeriksaan Bahan Bangunan
a. Semua bahan bangunan yang di datangakan harus memenuhi syarat-syarat yang telah
ditentukan.
b. Konsultan pengawas berwenang menanyakan asal bahan dan Panitia pembangunan wajib
memberitahunya.
c. Panitia pembangunan wajib memperhatikan contoh bahan sebelum di gunakan. Contoh-
contoh ini harus mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas, terutama bahan-bahan
untuk pekerjaan finishing.
d. Bahan bangunan yang didatangkan Panitia pembangunan di lapangan pekerjaan, tetapi
ditolak oleh pemakaiannya oleh Konsultan Pengawas, harus segera dikeluarkan dan
diganti sesuai dengan spesifikasi bahan.
6.8 Pemeriksaan Pekerjaan
a. Sebelum memulai pekerjaan selanjutnya yang apabila pekerjaan ini telah selesai, akan
tetapi belum diperiksa oleh Konsultan pengawas, Panitia pembangunan wajib
memintakan persetujuan kepada konsultan pangawas. Baru apabila setelah Konsultan
pengawas menyetujui bagian pekerjaan tersebut, kontraktor dapat meneruskan bagian
pekerjaan selanjutnya .
b. Apabila Panitia pembangunan melanggar ayat 6.8 pasal ini, Konsultan pengawas berhak
menyuruh membongkar bagian pekerjaan sebagian atau diperbaiki. Biaya pembongkaran
dan pemasangan kembali menjadi tanggung jawab Panitia pembangunan.
6.9 Pekerjaan Tambah / Kurang
a. Tugas mengerjakan pekerjaan tambah / kurang diberitahukan seara tertulis atau dalam
buku harian oleh konsultan pengawas serta mendapat persetujuan dari Pemberi Tugas.
b. Pekerjaan tambah / kurang hanya berlaku bila memang nyata-nyata ada perintah dari
konsultan pengawas atau atas persetujauan pemberi tigas.
c. Biaya pekerjaan tambah / kurang akan diperhitungkan menurut daftar harga satuan.
d. Untuk pekerjaan tambah harga satuaanya tidak tercantum dalam satuan yang dimasukan
dalam RAB harga satuannya akan ditentukan lebih lanjut oleh konsultan pengawas
bersama-sama Panitia pembangunan.
e. Adanya pekerjaan tambahan tidak dapat dijadikan alasan sebagai penyebab keterlambatan
penyerahan pekerjaan, tetapi konsultan pengawas dapat mempertimbangkan
perpenjangan waktu karena adanya pekerjaan tambahan tersebut.

PASAL 7
PEKERJAAN PERSIAPAN

7.1 Perlengkapan Direksi Keet / Bangsal & Gudang


a. Panitia pembangunan harus menyediakan Direksi Keet, dan Gudang sementara.
b. Panitia pembangunan harus menyediakan perlengkapan Direksi Keet untuk digunakan
sebagai kantor bagi konsultan pengawas dalam melakukan tugasnya dengan bahan
sederhana dengan perlengkapan minimal :
 Meja Tulis ⁄ biro kursi 2 (dua) set.
 Meja Rapat dan dilengkapi dengan kursi.
 Papan Tulis yang berukuran 120/240 cm dan papan untuk tempat menempelkan
gambar..
 Penerangan Listrik secukupnya.
 Peralatandan P3K
7.2 Persiapan lainya

a) Air kerja
- Air yang digunakan bersih bebas dari campuran minyak, asam, garam/basa dan bahan
organic lainya.penggunaan air kerja harus memenuhi syarat-syarat PBI-1971.
- Sumber air yang ada di lokasi dapat di gunakan atas persetujuan dari pemberi tugas.
b) Listrik
Penyedian tenaga listrik dapat menggunakan sarana yang ada untuk kelancaran pelaksanaan
pekerjaan..
c) Stracking out (pengukuran pengecekan)
Semua kondisi lapangan yang terkait dengan penimbunan dan pematokan posisi pekerjaan
yang diambil dari data pengukuran, harus diadakan pengukuran ulang kembali oleh Panitia
pembangunan yang diawasi oleh konsultan pengawas. Selanjutnya didapat data pelaksaaan
yang lebih riel sebagai pedoman bentuk pelaksanaan.
d) Shoft Drawing
Dari hasil pengukuran pengulangan ( sracking out) seperti yang dijelaskan diatas, maka dapat
dibuat gambar pelaksaan yang lebih real yang di sebut Shoft Drawing.

PASAL. 8
PEKERJAAN PERMULAAN DAN PONDASI

8.1 Pekerjaan Pemulaan dan pondasi yang dimaksud meliputi:

a. Plank Proyek
Panitia pembangunan berkewajiban membuat plank proyek. Papan nama dibuat dari
triplek dengan rangka kayu 34 cm ukuran 200 x 100 cm, didirikan tegak diatas kayu 5/7
cm Setinggi 24-0 cm, di letakkan pada tempat yang mudah di lihat umum. Papan nama
proyek memuat antara lain: Nama Proyek yang akan dibangun , pekerjaan, lokasi, jumlah
biaya, proyek dimulai tanggal, bulan, Tahun.
b. Pekerjaan Pembersihan lapangan
Panitia pembangunan harus membersih lokasi dari sesuatu yang dapat mengganggu
kelancaran pelaksaan pekerjaan, termasuk barang-barang yang terdapat pada areal harus
dipindahkan.
c. Pemasangan Bowplank
 Dari hasil pengukuran as-as bangunan maka Panitia pembangunan harus membuat
bouwplank pada sekitar batas bangunan dengan jarak setiap 2 meter. Bahan yang
digunakan adalah papan kayu dengan bagian atau dan salah satu sisisnya diserut
halus dan lurus, untuk perkuatanya dipergunakan kayu kaso yang di tancap kan
kedalam tanah.
 Pada bouwplank di cantumkan as-as bangunan dan ketinggian atau elevasi
bouwplank diukur dari titik acuan. Antara bouwplank yang satu dengan lainya
harus waterpass dan posisinya dijaga agar tidak berubah dan dikontrol pada saat-
saat tertentu.
 Bahan bouwplank dari kayu, dengan ukuran balok tanam 5 x 7 cm jarak
maksimum 1,5 m, ukuran papan 2 x 20 cm bagian atas diserut rata dan halus.
d. Pekerjaan Galian tanah pondasi dan sloof
 Pekerjaan penggalian pondasi, dapat dilaksakan secara konvensi dan semua
peralatan yang dibutuhkan harus disediakan oleh Panitia pembangunan, baik yang
menyangkut peralatan untuk pekerjaan peersiapan maupun peralatan untuk
pekerjaan penggaliannya sendiri dari alat–alat bantu yang diperlukannya.
 Sebelum pekerjaan penggalian dilaksanakan , Panitia pembangunan wajib untuk
mengajukan pemohonan tertulis kepada konsultan pengawas yang menyebutkan
tanggal akan dimulainya pekerjaan penggalian, uraian teknis tentang cara-cara
penggalian yang akan dilaksakan
 Semua galian harus dilaksakan sampai diperoleh panjanggalian, kedalaman,
kemiringan, dan lebar pondasi
 Dasar dari lobang galian harus datar dan water pass.
 Panitia pembangunan harus melaporkan hasil pekerjaan galian tanah yang telah
selesai dan menurut pendapatnya sudah dapat digunakan untuk pemassangan
pondasi kepada pengawas untuk diminta persetujuaan.
e. Urungan Pasir
 Yang dimaksud disini ialah pekerjaan Urugan pasir dibawah pondasi, bentuk dan
ukuran disesuaikan dengan gambar rencana
 Semua daerah yang akan diurug harus dibersihkan dari semua semak, akar pohon,
sampah, puing bangunan dan lain-lain sebelum pengurungan di mulai
 Pasir Urung yang digunakan untuk mengurus harus bersih dari bahan organis,
sisa-sisa tanaman, sampah san lain-lain.
f. Pondasi Tapak dan Sloff

Urutan Kegiatan Pekerjaan Pondasi tapak

Metoda konstruksi untuk pekerjaan pondasi setempat yaitu:

1. Penggalian tanah pondasi dan Slof

2. Penulangan pondasi dan Slof

3. Pekerjaan bekisting

4. Pengecoran

Tahap- tahap pekerjaan galian tanah pondasi setempat yaitu:


 Penggalian tanah untuk pondasi setempat dilakukan secara hati hati serta harus
mengetahui ukuran panjang, lebar dan kedalaman pondasi.
 Tebing dinding galian tanah pondasi dibuat dengan perbandingan 5:1 untuk jenis
tanah yang kurang baik dan untuk jenis tanah yang stabil dapat dibuat dengan
perbandingan 1:10 atau dapat juga dibuat tegak lurus permukaan tanah tempat
meletakkan pondasi.
 Dalamnya suatu galian tanah ditentukan oleh kedalamnya tanah padat/tanah keras
dengan daya dukung yang cukup kuat, Lebar dasar galian tanah pondasi hendaknya
dibuat lebih lebar dari ukuran pondasi agar tukang lebih leluasa bekerjanya
 Semua galian tanah harus ditempatkan diluar dan agak jauh dari pekerjaan penggalian
agar tidak mengganggu pekerjaan
2. .Pekerjaan Penulangan
a) Perakitan tulangan
Untuk pondasi setempat ini perakitan tulangan dilakukan di luar tempat
pengecoran dilokasi proyek agar setelah dirakit dapat langsung dipasang dan proses
pembuatan pondasi dapat berjalan lebih cepat.
Cara perakitan tulangan :
 Mengukur panjang untuk masing masing tipe tulangan yang dapat diketahui dari
ukuran pondasi setempat.
 Mendesign bentuk atau dimensi dari tulangan pondasi setempat, dengan
memperhitungkan bentuk
 bentuk tipe tulangan yang ada pada pondasi setempat tersebut.
 Merakit satu per satu bentuk dari tipe tulangan pondasi dengan kawat pengikat
agar kokoh dan tulangan tidak terlepas
 Untuk penggambaran perakitan penulangan dapat dilihat pada lampiran
b. Pemasangan tulangan
setelah merakit tulangan pondasi setempat maka untuk pemasangan tulangan
dilakukan dengan cara manual karena tulangan untuk pondasi setempat ini tidak
terlalu berat dan kedalaman pondasi ini juga tidak terlalu dalam.
Hal hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan tulangan:
 Hasil rakitan tulangan dimasukan kedalam tanah galian dan diletakkan tegak turus
permukaan tanah dengan bantuan waterpass.
 Rakitan tulangan ditempatkan tidak langsung bersentuhan dengan dasar tanah,
jarak antara tulangan dengan dasar tanah 40 mm, yaitu dengan menggunakan
pengganjal yang di buat dari batu kali disetiap ujung sisi/tepi tulangan bawah agar
ada jarak antara tulangan dan permukaan dasar tanah untuk melindungi/melapisi
tulangan dengan beton (selimut beton) dan tulangan tidak menjadi karat.
 Setelah dipastikan rakitan tulangan benar benar stabil, maka dapat langsung
melakukan pengecoran
c. Pekerjaan Bekisting
Pekerjaan Bekisting dikerjakan sesuai degan ukuran yang sudah tertera pada
gambar
d. Pengecoran Pondasi
Setelah bahan material sudah tercampur dalam keadaan kering kemudian
tambahkan air secukupnya sampai merata, maka material tersebut berubah dalam
bentuk pasta, setelah menjadi pasta tuangkan sedikit demi sedikit kedalam galian
pondasi yang sudah diletakan tulangan dan setelah pasta masuk kedalam galian
pondasi pasta tersebut yang diratakan dengan sendok spesi/cetok sesuai dengan
kemiringan dari bentuk pondasi campuran yang digunakan adalah 1 pc: 2 Ps : 3 Kr
g. Urungan kembali
 Urungan kembali bekas galian dilakukan setelah pondasi dan sloof selesai
dikerjakan dan setelah mendapat persetujuan dari direksi teknis lapangan.

ASAL. 9
PEKERJAAN BETON DINDING
9.1 Pekerjaan Beton Bertulang

9.1.1 Lingkup Pekerjaan

Beton bertulang yaitu sloof beton, kolom, ring balok, plat lantai, beton tangga
dan balok bordes, serta alat – alat bantu lainnya untuk keperluan pelaksanaan
pekerjaan beton bertulang.

9.1.2 Persyaratan Bahan

- Besi yang digunakan adalah produk sesuai standart yang ditetapkan

- Bekisting adalah kayu klass III dan polywood 9 mm

- Bahan berkualitas baik dan sebelum digunakan harus mendapat persetujuan


dari pengawas lapangan.

9.1.3 Pelaksanaan

9.1.3.1 Beton bertulang adalah semua bagian dalam gambaran bestek yang
tertunjuk sebagai beton bertulang, pemborong harus mengerjakan
bagian ini dengan teliti. Ukuran beton yang digunakan :

 Beton sloof ukuran 15/20, dengan tulangan utama φ 12, dan


sengkang φ 6
 Beton sloof ukuran 20/25, dengan tulangan utama φ 12, dan
sengkang φ 6
 Beton Balok ukuran 20/40, dengan tulangan utama φ 16, dan
sengkang φ 8
 Beton Balok ukuran 15/20, dengan tulangan ukuran φ 10, dan
sengkang φ 6
 Beton Balok ukuran 12/15, dengan tulangan ukuran φ 10, dan
sengkang φ 6
 Beton Kolom ukuran 30/30, dengan tulangan ukuran φ 16, dan
sengkang φ 8
 Beton Kolom ukuran 20/25, dengan tulangan ukuran φ 12, dan
sengkang φ 8
 Plat lantai tebal 12 cm dan plat atap teras tebal 8 cm dengan
tulangan φ 10 dan φ 8
 Beton tangga dan balok bordes 15/30 dengan tulangan φ 12 dan
φ 10

9.1.3.2 Agar pemasangan besi beton sempurna dan tidak terjadi pergeseran
sewaktu dilakukan pengecoran didalam cetakan beton, pekerja
harus membuat beton deking dalam campuran 1 pc : 2 ps.

9.1.3.3 Untuk perawatan beton, beton harus harus dilindungi dari pengaruh
panas sehingga tidak terjadi penguapan cepat, paling sedikit beton
harus dilindungi 7 hari berturut-turut setelah pengecoran.

9.1.3.4 Penambalan pada daerah yang tidak sempurna, keropos dengan


adukan campuran semen setelah pembukaan acuan, hanya boleh
dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dan pengetahuan dari
konsultan perencana/pengawas.

9.1.3.5 Jika ketidak sempunaan itu tidak diperbaiki untuk menghilangkan


permukaan yang diharapkan dan diterima oleh pengawas, maka
harus dibongkar dan diganti dengan pembetonan kembali atas
beban biaya sendiri.

9.1.3.6 Kesempurnaan yang tidak sempurna yang dimaksud adalah susunan


yang tidak teratur, pecah/retak atau gelembung udara, keropos,
tonjolan dan yang lain yang tidak sesuai dengan bentuk yang
diharapkan.

9.1.3.7 Pasang angkur dan lain-lain yang akan menjadi satu dengan beton
bertulang harus di cor pada waktu yang bersamaan.

9.1.3.8 Isi lubang-lubang dan bukaan yang tertinggal dibeton bekas jalan
kerja sewaktu pengecoran.

9.1.3.9 Penempatan, ukuran dan dimensi pekerjaan dapat dilihat pada


gambar kerja.

9.2 Pekerjaan Dinding

9.2.1 Lingkup Pekerjaan

a. Dinding batu bata 1 : 2 dan 1 : 4


b. Railing tangga, Kozen pintu, Jendela dan Ventilasi aluminium
c. Keramik dinding WC 20/20
d. Keramik lantai kelas 40/40

9.2.2 Persyaratan Bahan

Untuk spesifikasi bahan yang akan digunakan adalah antara lain :

a. Semen / PC ; PC yang digunakan adalah semen type I produksi dalam


negeri.
b. Bata
 Sesuai dengan Pasal 81 dari PUBI 1982
 Batako yang dipakai harus memenuhi syarat – syarat sebagai
berikut.
 Kualitas Baik
 Keras dan tidak patah
 Ukuran SNI dan harus satu ukuran dengan yang
lainnya.
 Jika ukuran bata yang diperoleh berbeda dengan ukuran diatas,
Panitia pembangunan harus melapor kepada pengawas untuk
mendapatkan pertimbangan dan persetujuan.
c. Pasir pasang ; pasir pasang yang digunakan harus bersih bermutu baik
dengan butiran kasar, tidak mengandung lumpur dan bahan lain yang
akan mempengaruhi mutu pekerjaan.
d. Air ; ari yang digunakan harus bersih dan sesuai dengan ketentuan
e. Rayling tangga dengan bahan harus disesuaikan bentuk dan ukuran
disesuaikan dengan gambar kerja.
f. Kuzen dengan bahan rangka aluminium dan kayu dengan bentuk,
ukuran dan perletakan disesuaikan dengan gambar kerja.
g. Keramik dinding ukuran 20/20 kw 1 setara masterina / asia dengan
ukuran presisi dan sama satu dengan yang lainnya.
h. Keramik lantai ukuran 40/40 kw 1 setara masterina / asia dengan
ukuran presisi dan sama satu dengan yang lainnya
i. Pemakaian bahan harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari
direksi teknis.

9.2.3 Pelaksanaan

a. Peralatan bantu harus baik dan memadai. Permukaan yang akan


dipasang batu bata harus bersih
b. Pemasangan Batu bata untuk dinding harus tegak lurus dan tidak
boleh ada siar vertical yang berurutan secara terus menerus. Tebal
siar minimal 1 cm dipakai pasangan 1 bata.
c. Adukan untuk membuat spesi pada pasangan batu ini digunakan
adukan dengan campuran 1 Pc : 2 Ps pada 40 cm dari sloof dan 1
Pc : 4 Ps sampai balok. Perbandingan campuran yang dimaksud
menggunakan perbandingan volume. Adukan harus dibuat hati-
hati, diaduk dalam bak kayu yang besarnya memenuhi syarat. Pasir
dan semen dicampur dalam keadaan kering dan kemudian diberi
air sesuai persyaratan. Adukan yang sudah mongering tidak boleh
dicampur dengan adukan baru.
d. Pemasangan bahan khusus / pabrikan harus dilakukan oleh tenaga
ahli yang khusus untuk pekerjaan tersebut dan dilakukan dengan
penuh ketelitian.
e. Apabila pada waktu pemasangan alat-alat tersebut tidak sesuai
dengan yang disyaratkan maka pengawas berhak menyuruh
membongkar kembali dan diganti dengan alat – alat yang biayanya
dibebankan kepada Panitia Pembangunan.
f. Semua ukuran yang ada dalam gambar adalah ukuran jadi, yaitu
ukuran setelah dikerjakan/dipasang.

PASAL 10
PEKERJAAN KUDA-KUDA dan PENUTUP ATAP
10.1 Lingkup Pekerjaan
Lingkup Pekerjaan meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan dan alat-alat bantu
yang diperlukan,sehingga konstruksi selesai dilaksanakan. Bagian Pekerjaannya
adalah Pekerjaan Kuda-kuda Kayu , gording, kasau, reng, rangka atap dan Atap
spandek.
10.2. Persyaratan Bahan
 Untuk rangka kuda-kuda kayu termasuk gording mengunakan kayu kelas kuat
II, rangka badandari kayu belian/kayu kelas kuat
 Ukuran kayu yang tertera dalam gambar merupakan ukuran terpasang. Kayu
harus betul-betulkering, tidak keropos, lurus, tidak cacat/bermata.
10.3. Persyaratan Pelaksanaan
 Pemasangan Kuda-kuda Kayu
a. Ukuran Kayu :
- Kaki kuda-kuda - ukuran 8/12 cm
- Pengerat - ukuran 8/12 cm
- Ander - ukuran 8/12 cm
- Skoor - ukuran 8/12 cm
- Nok - ukuran 8/12 cm
- Pengapit - ukuran 2 x 6/12 cm
- Gording - ukuran 8/12 cm
- Konsol - ukuran 8/12 cm
- Usuk - ukuran 5/7 cm
- Reng - ukuran 3/4 cm / 2/3 cm tergantung jenis genteng yang dipakai
- listplank kayu - ukuran 3/30 cm / 2/20 cm

b. Semua kayu untuk konstruksi kuda-kuda dan gording diawetkan


denganresidu.Pengecatan dengan residu harus dilakukan 2 x sehingga
menghasilkan warna yangmerata pada seluruh permukaan kayu
c. Konstruksi rangka harus dibuat sesuai gambar detail, untuk ukuran kayu maupun
cara penyambungannya
d. Sambungan kayu harus dibuat dengan rapi/presisi dan penuh keahlian dengan
memperhatikan peraturan yang disyaratkan dalam SNI 7973 2013 Spesifikasi
Desain Untuk Konstruksi Kayu
e. Konstruksi sambungan konstruksi kuda-kuda harus dilengkapi baut dan besi
strip/plat 4 x 0,4 cm
f. Rangka AtapRangka atap dilaksanakan dengan kayu ukuran 5/7 dan ¾ cm.
Dipasang dengan ukuran yangditetapkan dalam gambar. Hasil akhir pasangan
harus rata dan tidak bergelombang
g. Ukuran kayu untuk rangka badan digunakan 8/12 cm Kayu Kelas I
h. Konstruksi sambungan kayu harus rapi, tidak longgar, ikatan perkuatan
harusmenggunakan baut, pen kayu keras yang sebelumnya bidang sambungan ini
harus dilumuri dengan lem kayu, agar sambungannya dapat melekat dengan baik.
 Pemasangan Atap
a. Bahan Penutup atap berupa atap spandek motif lurus dengan ketebalan 0,35 mm
b. Pemasangan atap dibuat sedemikain rupa agar mendapatkan pasangan atap yang
rapi dan teratur
c. Atap yang digunakan harus berkualitas baik, ringan dan kuat.
d. Penutup atap yang dugunakan harus kuat terhadap tekanan dan terpaan angina
e. Penutup atap yang digunakan harus tahan lama, tidak berkarat dan tidak berjamur
atau rapuh.
PASAL 11
PEKERJAAN PLESTERAN
11.1 Lingkup Pekerjaan

Termasuk dalam pekerjaan plesteran dinding batu bata dan afwerking beton spesi 1: 2

10.2 Persyaratan Bahan

Untuk spesifikasi bahan yang akan digunakan adalah antara lain :

a. Semen/ PC ; PC yang digunakan adalah type I produksi dalam negeri.


b. Pasir Pasang; Pasir yang akan digunakan harus bersih bermutu baik dengan
butiran kasar, tidak menggandung lumpur dan bahan lain yang tidak
mempenggaruhi mutu pekerjaan.
c. Air, Air yang digunakan haruslah bersih dan sesuai dengan ketentuan.
d. Pemakaian bahan harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari pangawas.

10.2 Cara Pelaksanaan

a. Ada pekerjaan plesteran siar batu bata harus dikerok sedalam 1 cm untuk
memperkokoh kedudukan plesteran.
b. Sebelum memulai pekerjaan plesteran dinding tidak boleh terlalu kering, jika
bidang yang diplester sudah terlalu kering harus dibasahi air terlebih dahulu
hingga air semen pada campuran tidak dihisap bidang yang akan diplester dan
kelekatannya kuat.
c. Plesteran harus dilakukan dengan rata dan tidak bergelombang, plesteran yang
cacat atau retak – retak, setelah selesai harus segera diperbaiki hingga terlihat baik
dan sempurna. Setelah pekerjaan plesteran dilanjutkan dengan acian plesteran
yang kelihatan.
d. Pada beton yang kelihatan dilakukan afwerking beton. Dengan perbandingan 1 Pc
: 2 Ps dan tebal plesteran 15 mm.
PASAL 12
PEKERJAAN LANTAI
12.1 Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan meliputi penyediaan tenaga kerja, alat – alat bantu yang diperlukan,
sehingga lantai selesai dilaksanakan.

Bagian Pekerjaan ini meliputi :

- Urugan tanah bawah lantai


- Pasir urug sebagai lantai kerja
- Coran beton dengan spesi 1 Pc : 3 Ps : k Krl
- Pasangan Keramik 40 X 40 dan 20 X 20 ( lantai wc )
- Pek. Water proofing plat dack beton
- Tangga Besi

12.2 Persyaratan Bahan

a. Bahan antara lain semen type I.


b. Pasir dan kerikil yang digunakan adalah kualitas baik, dan bersih dari bahan
organic.
c. Spesifikasi keramik adalah KW I setara super italia, Genova, Kaisar dan Asia
Tile sesuai dngan extrusi 0695-8 dengan persyaratan bahan :
- Warna ditentukan kemudian dan sama rata.
- Tidak ada cacat / retak pada pinggirannya , dll.
- Mempunyai lapisan keras cukup tebal.
- Sisi-sisinya saling tegak lurus dan ukuran sama.

12.3 Cara Pelaksanaan

a. Area yang akan dikerjakan harus dibersihkan dari sampah dan kotoran lainnya
yang dapat menganggu pasangan dan pelaksanaan pekerjaan.
b. Permukaan tanah dan urugan tanah terlebih dahulu di padatkan dan harus datar
water pass.
c. Urugan pasir yang dipadatkan dan cor beton dengan spesi 1 Pc : 3 Ps : 5 Krl
dipasangankan dengan ketebalan sesuai gambar teknis.
d. Permukaan coran harus water pass.
e. Keramik harus berkuwalitas baik dengan merk / jenis yang telah disetujui oleh
konsultan pengawas. Keramik diproduksi oleh pabrik yang telah memenuhi
peraturan – peraturan ASTM, Peraturan keramik Indonesia ( NI 19 : PVBB 1990
dan PVBI 1982 ).
f. Adukan untuk pasangan 1 Pc : 4 Ps, Adukan untuk keramik semen dicampur air,
sehingga didapat campuran yang plastis. Sewaktu keramik dipasang, permukaan
keramik bagian belakang harus terisi padat dengan semen.
g. Celah antara Nat lebarnya maksimum 3 mm dan diisi adukan 1 Pc : 2 Ps, setelah
pasangan cukup kering disiram dengan bahan pengisi siar ( Grout semen warna )
warnanya sesuai dengan keramik yang dipasang. Pengisian / pengecoran naad
dilakukan paling cepat 24 jam setelah dipasang. Sewaktu pengisian naad ini
keramik harus benar-benar melekat dengan kuat pada lantai. Sebelum diisi, celah-
celah naad ini harus dibersihkan terlebih dahulu dari debu dan kotoran lain.
h. Pemotongan keramik harus dihindarkan, bila terpaksa harus dipotong maka
potongan harus dengan hati-hati dan rapi dengan menggunakan alat mekanik.
i. Bila pemasangan telah selesai seluruhnya, maka lantai harus dilap/disapu hingga
bersih. Hasil pekerjaan keramik harus merupakan bidang yang benar-benar rata
dan tidak bergelombang. Pekerjaan yang telah selesai tidak boleh ada yang retak,
noda dan cacat lainnya. Apabila terjadi cacat pada lantai, maka bagian cacat
tersebut harus dibongkar sampai bentuk bujur sangkar dan pasangan baru harus
rata dengan sekitarnya.
j. Permukaan pasangan lantai harus datar waterpass. Pada lantai teras permukaan
lantai dimiringkan 1 % kea rah luar. Untuk mencegah terjadinya keretakan akibat
pengembangan, maka pada beberapa bagian harus disediakan alur-alur expension.
Alur – alur expansion ini harus diisi dengan bahan yang elastis / sealant dan
mendapat persetujuan perencana/pengawas. Pada bagian – bagian sudut, pojok
atau tekukan pendek, harus dipasang bahan yang sesuai untuk itu (tile
Accessories)
PASAL 13
PEKERJAAN PINTU JENDELA
13.1 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan daun pintu kuzen kayu, daun pintu kuzen
fiber, daun jendela dan ventilasi kayu, daun jendela ventilasi kaca rangka allumunium,
jendela kaca tetap.

13.2 Pesyaratan bahan

a. Bentuk dan ukuran bahan seperti rangka allumunium disesuaikan dengan gambar,
bahan berkualitas baik dengan standar bahan SNI.

a. Kayu yang digunakan kelas II.

b. Kaca digunakaan dengan ketebalan 5 mm

13.3 Pedoman pelaksanan

a. Pemasangan harus benar-benar rapi dan mengikuti petunjuk


(manual/specification)

b. untuk pelaksanaan tersebut diatas sebelum dipasang, rekanan pelaksana wajib


memperlihatkan contoh terlebih dahulu untuk diminta persetujuan pengawas.

c. apabila pada waktu pemasangan tidak sesuai dengan yang disyaratkan, maka
pengawas berhak menyuruh membokar kembali dan diganti dengan alat-alat yang
sesuai.

d. semua ukuran yang ada dalam gambar adalah ukuran jadi,yaitu ukuran setelah
selesai dikerjakan / dipasang.

e. Panitia Pembangunan wajib memberikan perlindungan terhadap benturan benda


lain dan kerusakan-kerusakan akibat kelalaian pekerjaan, apabila terjadi
kerusakan maka akan diganti.
Pasal 14
PEKERJAAN PLAFOND
14.1 Lingkup pekerjaan

a. penyediaan bahan-bahan untuk rangka plafond dan penutup plafond

b. pemasangan rangka plafond gypsum yang telah disesuaikan

c. pemasangan plafond gypsum dan lambasering sebagai penutup plafond

13.2 persyaratan bahan

a. ranka plafond menggunakan ekapuring dengan kualitas terbaik.

b. sebagai penutup palfond digunakan gypsum tebal 4 mm

c. sebagai list pinggir digunakan list profile 5 cm

14.3 pelaksanaan

a. sebelum pelaksanaan rangka plafond, Kerangka harus datar pada semua arah dan
tidak melengkung yang dibuktikan dengan meenggunakan water pass.

b. Bila diperlukan sebagai bahan penggantung plafond digunakan baja tulangan


diameter 9 mm. penggantung- penggantung tersebut harus dapat distel tinggi
rendahnya untuk menjamin tercapainya bidang yang rata.

c. penutup plafond yang digunakan adalah gypsum dengan ketebalan 4 mm yang


digunakan harus dipotong dengan ukuran dan letak sesuai dengan gambar.

d. lembaran plafond harus dipasang sedemikian sehingga menghasilkan bidang


permukaan yang rapi, datar dan membentuk garis nat yang lurus, dengan lebar
maksimum 4 mm.

e. pemasangan penutup plafond harus dikerjakan dengan baik, rapi, permukaan rata
waterpass dan tidak boleh ada bagian-bagian yang melengkung.

f. skrup dipasang pada jarak tertentu sehingga tidak ada Gypsum merenggang akibat
harak skrup yang terlalu jauh.
PASAL 15
PEKERJAAN CAT
15.1 Lingkup Pekerjaan

a. pengecatan yang dimaksud pada pekerjaan ini adalah : cat dinding dan plafond
dengan cat air dan cat minyak dengan kualitas terbaik

b. mengecat dengan cat tembok pada bagian-bagian seperti dinyatakan pada gambar

c. selambat-lambatnya 1 (satu) minggu sebelum pekerjaan pengecatan, Panitia


pembangunan mengajukan daftar bahan kepada konsultan pengawas/perencana
pemberi tugas untuk memilih warnanya dan memberikan persetujuan.

d. pengertian cat disini adalah meliputi cat seluruh bagian pekerjaan yang meliputi :
pengecatan beton, dinding, serta ite-item pekerjaan yang dirasa perlu yang dipakai
sebagai cat dasar, cat perantara, dan cat akhir.

e. bahan pengencer digunakan dari produk pabrik yang sama dengan bahan yang
diencerkan.

15.2 pelaksanaan

a. Cat Tembok

Bidang yang akan dicat sebelumnya harus dibersihkan dengan cara menggosok
memakai kain dibasahi, setelah kering lalu didempul pada permukaan yang
berlubang sehingga permukaaannya rata licinuntuk kemudian dicat paling sedikit
3 kali dengan roller 20 cm ataupun kuas cat sampai baik atau dengan cara yang
telah ditentukan oleh pabrik. Pengecatan semua bidang yang hendak dilakukan
pengecatan harus sesuai dengan warna dan spek kerja yang telah ada. Pekerjaan
pengecatan meliputi antara lain :

- 1 lapis plamur
- 1 lapis cat dasar
- 2 lapis cat penutup
Semua cat yang dipakai harus mendapat persetujuan dari pengawas. Untuk cat
tembok dibagi atas cat interior dan eksterior termasuk bagian-bagian lain yang
sejenis.

Pengecatan dinding harus dilakukan sebagai berikut :

1. Penggosokan dinding dengan batu gosok sampai rata dan halus,


setelah itu dilap dengan kain basah hingga bersih.
2. Melapisi dinding dengan plamur tembok, dipoles sampai rata.setelah
betul-betul digosok dengan amplas halus dan dilap dengan kain kering
yang bersih.
3. Pengecatan dengan cat tembok emulsi sampai rata, minimal 2 (dua)
kali.
4. Pekerjaan cat tembok harus menghasilkan warna merata sama dan
tidak terdapat belang-belang atau noda-noda mengelupas.

Pengecatan plafond harus dilakukan menurut proses berikut :


membersihkan bidang plafond yang akan dicat. Mengecat plafond 2 (dua)
sehingga menghasilkan bidang pengecatan yang merata sama dan tidak
terdapat belang-belang atau noda mengelupas.

b. Cat kayu

Pekerjaan cat kayu harus dilakukan lapis demi lapis dengan


memperhatikan waktu pengeringan jenis bahan yang digunakan.

- 2 (dua) kali pengecatan cat dasar.


- 1 (satu) kali lapis pengisi dengan plamur kayu.
- Penghalusan dengan amplas.
- Finishing dengan cat kayu sampai rata minimal 2 (dua) kali.
PASAL 16
PEKERJAAN PERLENGKAPAN DALAM DAN LUAR

16.1 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan meliputi instalasi listrik dan aksesoris serta peralatan lainnya yang dibutuhkan
untuk penunjang pelaksanaan pekerjaan.

16.2 Pesyaratan Bahan

Bahan instalasi meliputi merupakan bahan berstandar SNI dan telah memenuhi peraturan
yang berlaku.

16.3 Pelaksanaan

16.3.1 Gambar-gambar dan spesifikasi adalah merupakan bagian paling melengkapi dan
segala ketentuan yang tercantum dalam gambar kerja dan spesifikasi bersifat
mengikat.

16.3.2 Seluruh pekerjaan instalasi yang akan dilaksanakan harus dikerjajan oleh Panitia
pembangunan yang dapat dipercaya, mempunyai reputasi yang baik dan ditunjang
oleh tenaga-tenaga yang cakap dan berpengalaman dibidangnya.

16.3.3 pekerjaan instalasi listrik harus disesuaikan dengan kebutuhan titik lampu sesuai
dengan gambar rencana.

16.3.4 Memasang sekring kas dipasang sistem MCB dua group, harus terbuat dari bahan
yang sama dengan pipanya dan buatan pabrik, kualitas standar.

16.3.5 Setelah pemasangan sistem selesai, Panitia pembangunan wajib mengadakan


percobaan untuk menunjukan bahwa sistem dipasang dengang benar, memenuhi
persyaratan dan bekerja dengan baik, untuk mendapatkan rekomendasi dari PLN.

16.3.6 Pengujian dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,mengikuti PUIL


dan SPLN.
16.3.7 Peralatan-peralatan tambahan yang diperlukan,walaupun tidak digambarkan pada
gambar perencananaan atau tidak disebutkan dalam spesifikasi ini, harus
disediakan oleh Panitia pembangunan sehingga instalasi dapat bekerja dengan
baik dan dapat dipertanggungjawabkan tanpa tambahan biaya.

PASAL 17
PEKERJAAN ALAT-ALAT GANTUNG
17.1 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan meliputi kunci dan aksesoris pintu dan jendelaserta peralatan lainnya yang
dibutuhkan untuk penunjang pelaksanaan pekerjaan.

17.2 Persyaratan Bahan

Bahan kunci dan aksesoris merupakan bahan yang berkualitas baik dan sebelum dipasang
harus mendapat persetujuan dari pengawas.

17.3 Pelaksanaan

Gambar-gambar dan spesifikasi adalah merupakan bagian yang paling melengkapi dan
segala ketentuan yang tercanatum dalam gambar kerja dan spesifikasi bersifat mengikat.

Pemasangan harus dilakukan oleh tukang-tukang yang berpengalaman dan ahli dalam
bidang ini. Sekrup-sekrup tertanam rapi tanpa merusak daun pintu , kuzen, maupun alatt-
alat penggantung dan pengunci sendiri. Pemasangan yang tidak rapi, apabila sampai ada
yang cacat dapat mengakibatkan seluruh daun pintu diganti atas biaya Panitia
pembanguan.
PASAL 18
PEKERJAAN SANITASI
18.1 Lingkup Pekerjaan

18.1.1 Pengadaan material dan peralata, tenaga, perabot-perabot dan pembuangan air
sanitasi yang lengkap sesuai dengan gambar perencanaan dari Rencana Kerja dan
Syarat-syarat teknis.

18.1.2 Pekerjaan pasang kloset jongkok dan kloset duduk, floor drain ø 2 ⁄ , Kran air

ø ⁄ , Bak air fiberglass, wastafel, uniroir dan roof drain pada lantai dua
bangunan,dipasang dengan teliti baik letak,ukuran disesuaikan dengan gambar
rencana.

18.2 Persyaratan Bahan

Bahan yang digunakan adalah bahan pabrikasi berkualitas baik dan sebelum pelaksanaan,
Panitia pembangunan harus mendapatkan izin dari pengawas.

18.3 Pelaksanaan

18.3.1 Bak air fiberglass dengan kapasitas 0,30 mᶟ.

18.3.2 Pengadaan dan pemasangan bahan-bahan sanitasi berupa pasang instalasi air
bersih dan pemasangan.

18.3.3 Pemasangan pipa PVC ø 4” dilaksanakan pada pekerjaan air kotor buangan padat
dari kloset ke septiktank, dan pipa ø 3” pada saluran pembuangan dari KM/WC ke
saluran keliling bangunan.

18.3.4 Pekerjaan satu unit septiktank dan resapan.

18.3.5 Pemasangan kloset jongkok porselen.

18.3.6 Floor Drain dan Roof Drain stainless tertanam pada lantai, permukaan roofdrain
dan floordrain tidak boleh lebih tinggi dari permukaan lantai.

18.3.7 Pemasangan dilakukan oleh tenaga yang ahli dalam pekerjaan instalasi sanitasi.
Pipa pada saluran buangan mempunyai kemiringan saluran minimal 1ᵒ.
18.3.8 Ukuran dan letak disesuaikan dengan spesifikasi teknis dan gambar rencana.

18.3.9 Semua bahan diatas beserta aksesoris adalah buatan pabrikasi berkualitas baik.

PASAL 19
PEKERJAAN LAIN- LAIN
19.1 Pekerjaan Tiang Bendera

19.1.1 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan tiang Bendera

19.1.2 Pesyaratan Bahan

Bahan yang digunakan berkualitas baik.

19.1.3 Pelaksanaan

 Bentuk, ukuran,dan perletakkan disesuaikan dengan gambar kerja


dan pelaksanaan pekerjaan setelah mendapat persetujuan dari
pengawas lapangan

19.2 Pekerjaan Pot Bunga

19.2.1 Lingkup Pekerjaan

Pemasasngan Pot bunga

19.2.2 Persyaratan Bahan

Bahan / produk yang digunakan adalah sesuai dengan yang telah direncanakan

19.2.3 Pelaksanaan

Pelaksanaan pemasangan dilakukan oleh tukang.


PASAL 20
PENUTUP
Panitia pembangunan dalam melaksanakan pekerjaan harus melengkapi dan
menyediakan peralatan-peralatan tambahan yang diperlukan,walaupun tidak digambar atau
disebutkan dalam RKS ini,sehingga dapat bekerja dengan baik dan dapat
dipertanggungjawabkan.

Apabila ada hal-hal yang tercakup dalam dokumen ini yang harus dikerjakan, dibuat
dengan ketentuan- ketentuan yang telah ada dan kelaziman-kelaziman pekerjaan , yang nantinya
akan diatur dan dimuat dalam berita acara pekerjaan,merupakan bagian yang tidakterpisah dari
dokumen ini.