Anda di halaman 1dari 9

Makalah Pengelolaan Kelas

Unknown September 03, 2016

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Guru merupakan sosok yang menjadi panutan bagi muridnya, begitulah filsafah yang sering kita
dengar. Peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan
diantara murid-murid suatu kelas. Secara etimologi atau arti sempit guru yang berkewajiban
mewujudkan suatu program kelas adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan
pelajaran di sekolah atau kelas. Sedangkan secara lebih luas guru berarti orang yang bekerja
dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-
anak untuk mencapai kedewasaan masing-masing dalam berpikir dan bertindak. Guru dalam
pengertian terakhir bukan sekedar orang yang berdiri di depan kelas saja untuk menyampaikan
materi dan pengetahuan tertentu, akan tetapi guru juga merupakan anggota masyarakat yang
harus ikut aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya
menuju sebuah cita-cita luhur mereka. Untuk mencapai hal tersebut maka dibutuhkan
keterampilan-keterampilan dasar seorang guru dalam mengajar.

Keterampilan dasar dalam mengajar siswa sangat diperlukan oleh guru  agar interaksi antara
guru dan siswa bisa berjalan dengan baik dan siswa tidak merasa tertekan saat belajar sehingga
pelajaran dapat ditangkap secara maksimal. Keberhasilan seorang guru dalam mengajar tidak
hanya ditentukan oleh  faktor-faktor yang berhubungan dengan proses pembelajaran saja,
melainkan juga ditentukan oleh keterampilan pengelolaan kelas yang dikuasainya. Keterampilan
mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar
yang optimal dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan Mengelola kelas terbagi menjadi dua jenis keterampilan yaitu: Keterampilan yang
berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal dan
keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal. Tujuan
pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Untuk melatih kemampuan seorang guru
dalam mengelola kelas dapat melalui dua cara, yaitu melalui pengalaman dan belajar. Proses
pembelajaran ialah proses belajar mengajar (PBM) atau proses komunikasi dan kerjasama guru
dan siswa dalam mencapai sasaran dan tujuan pendidikan-pengajaran.
Pembelajaran  juga merupakan proses pengembangan sikap dan kepribadian siswa melalui 
berbagai tahap  dan  pengalaman. Proses pembelajaran ini berlangsung melalui berbagai metode
dan multi-media sebagai cara dan alat menjelaskan, menganalisis,
menyimpulkan,mengembangkan, menilai dan menguasai (memakai : mengamalkan
/aplikasi)pokok bahasan (tema) sebagai perwujudan pencapaian sasaran (tujuan). Oleh karena
itu, makalah ini dibuat agar kita mampu mengelola kelas dengan baikdan kita terampil
menggunakan metode pembelajaran.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah pengertian pengelolaan kelas ?
2.      Apa tujuan dari pengelolaan kelas ?
3.      Apa saja prinsip-prinsip dalam pengelolaan kelas?
4.    Apa saja Komponen keterampilan dalam mengelola kelas
5.    Bagaimana Cara menggunakan keterampilan mengelola kelas
6.    Bagaimana Sistem pengelolaan kelas

C.     TUJUAN PENULISAN


1.      Mengetahui pengertian pengelolaan kelas.
2.       Mengetahui tujuan dari pengelolaan kelas.
3.      Mengetahui prinsip-prinsip dalam pengelolaan kelas.

BAB II
PEMBAHASAN

A.     PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS


Pengelolaan kelas secara umum adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan pengelolaan
pembelajaran dapat berlangsung secara optimal. Sedangkan pengertian pengelolaan kelas
(classroom management) berdasarkan pendekatannya menurut weber (1977) diklasifikasikan
menjadi tiga, yaitu:
Berdasarkan pendekatan otoriter (authority approach), pengelolaan kelas adalah kegiatan guru
untuk mengontrol tingkah laku siswa. Guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas
melalui penerapan disiplin secara ketat. Otoritas guru tidak sepenuhnya, guru memang
mempunyai hak kekuasaan, namun ada pemegang kekuasaan di atas guru misalnya kepala
sekolah, dan lain-lain.
Berdasarkan pendekatan permisif (permissive approach), pengelolaan kelas adalah upaya yang
dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan kepada siswa dalam melakukan berbagai aktifitas
sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Fungsi guru adalah menciptakan kondisi siswa agar
merasa aman untuk melakukan aktifitas di dalam kelas.
Berdasarkan pendekatan modifikasi tingkah laku, pengelolaan kelas adalah upaya untuk
mengembangkan dan memfasilitasi perubahan perilaku yang bersifat positif dari siswa dan
berusaha semaksimal mungkin mencegah munculnya atau memperbaiki perilaku negatif yang
dilakukan oleh siswa.
Tidak ada pendekatan-pendekatan yang paling baik, tetapi pendekatan-pendekatan ini akan
menjadi pendekatan paling baik pada saat situasi yang tepat.

B.     TUJUAN DARI PENGELOLAAN KELAS


Menurut Ahmad (1995:2), tujuan pengelolaan kelas adalah sebagai berikut:

 Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai
kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan
semaksimal mungkin.
 Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi
belajar mengajar.
 Menyediakan dan mengatur fasilitas serta peralatan belajar yang mendukung dan
memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual
siswa dalam kelas.

Tujuan pengelolaan kelas menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:170) pada hakikatnya
terkandung dalam tujuan pendidikan. Tujuan pengelolaan kelas adalah:

 Penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam   lingkungan


sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas.
 Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja.
 Terciptanya suasana yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan
intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa.

Sedangkan Arikunto (dalam Djamarah 2006:178) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas
adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan
pengajaran secara efektif dan efisien.
C.    KOMPONEN KETERAMPILAN PENGELOLAAN KELAS
Keterampilan mengelola kelas dibedakan menjadi dua komponen, yaitu :
1.    Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang
optimal (bersifat preventif)
a.    Menunjukkan Sikap Tanggap
Menggambarkan tingkah laku guru yang tampak pada siswa, bahwa guru sadar dan tanggap
terhadap perhatian keterlibatan, masalah dan ketidak acuan mereka. Dengan adanya sikap ini
siswa merasa guru hadir ditengah mereka. Kesan ketanggapan ini dapat ditunjukkandengan
berbagai cara seperti berikut.
a)    Memandang Secara Saksama
Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan siswa dalam kontak pandangan
serta interaksi antarpribadi yang dapat ditampakkan dalam pendekatan guru untuk bercakap-
cakap, bekerja sama, dan menunjukkan rasa persahabatan.Memungkinkan guru meliput
keterlibatan siswa dalam tugas dikelas serta menunjukkan kesiapan guru untuk memberi respon
baik terhadap kelompok maupun individu.
b)     Memberikan Pernyataan  
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan siswa sangat diperlukan, baik berupa
tanggapan, komentar, ataupun yang lain.  Hal ini terkomunikasi kepada siswa melalui pernyataan
guru bahwa ia telah siap untuk memulai kegiatan belajar serta siap memberi respon terhadap
kebutuhan siswa. Hal yang harus dihindari adalah menunjukkan dominasi guru dengan
pernyataan atau komentar yang mengandung ancaman.
Contoh : “Saya menunggu sampai kalian diam”.
c)    Gerak Mendekati
Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat
dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas siswa. Gerak mendekati
hendaklah dilakuan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam, atau member
kritikan dan hubungan. Hal ini menunjukkan kesiapan, minat dan perhatian kepada siswa. Hal ini
membantu siswa yang menghadapi kesulitan belajar, mengalami frustasi atau sedang marah.
d)     Memberikan Reaksi Terhadap Gangguan Dan Ketakacuan Siswa
Apabila ada siswa yang menimbulkan gangguan atau menunjukkan ketakacuhan, guru dapat
member reaksi dalam bentuk teguran. Dengan adanya teguran menandakan adanya guru bersama
siswa. Teguran harus diberikan pada saat yang tepat serta dialamatkan pada sasaran yang tepat.
Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula sehingga dapat
mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.

b.    Membagi Perhatian


Pengelolaan kelas yang efektif terjadi apabila guru membagi perhatian kepada beberapa kegiatan
yang berlangsung dalam waktu yang sama. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara sebagai
berikut :
a)    Visual
Hal ini mennjukkan perhatian terhadap sekelompok siswa atau individu namun tidak kehilangan
keterlibatannya dengan kelompok siswa atau individu. Keterampilan ini digunakan untuk
memonitor kegiatan kelompok atau individu, mengadakan koreksi kegiatan siswa, memberi
komentar atau memberi reaksi terhadap siswa yang mengganggu.
b)    Verbal
Guru dapat memberikan komentar, penjelasan, pernyataan, dan sebagainya terhadap aktivitas
seorang siswa sementara ia memimpin kegiatan siswa yang lain.
Penggunaan teknik visual maupun verbal menunjukkan bahwa guru menguasai kelas.
c.     Memusatkan Perhatian
Keterlibatan siswa dalam KBM dapat dipertahankan apabila dari waktu kewaktu guru mampu
memusatkan kelompok terhadap tugas-tugas yang dilaksanakan. Hal ini dapat dilaksanakan
dengan cara :
a)     Menyiagakan Siswa
Menciptakaan suasana yang menarik sebelum guru menyampaikan pertanyaan atau topik
pelajarannya. Bertujuan  untuk menghindari penyimpangan perhatian siswa. Misalnya : “ coba
anak-anak, semuanya memperhatikan dengan teliti gambar ini untuk membedakan daerah mana
yang subur dan daerah mana yang tanahnya gersang.
b)    Menuntut Tanggung Jawab Siswa
Hal ini berhubungan dengan cara guru memegang teguh kewajiban dan tanggung jawab yang
dilakukan oleh siswa serta keterlibatan siswa dalam tugas-tugas. Misalnya dengan meminta
kepada siswa untuk memperagakan, melaporkan, dan memberirespons. Komunikasi yang jelas
dari guru mengenai tugas siswa merupakan hal yang sangat penting dalam mempertahankan
pusat perhatian siswa
d.     Memberikan Petunjuk yang Jelas
Hal ini berhubungan dengan cara guru dalam memberikan petunjuk agar jelas dan singkat dalam
pelajaran sehingga tidak terjadi kebingungan dari pada siswa. Petunjuk yang diberikan harus
bersifat langsung, dengan bahasa yang jelas dan tidak membingungkan serta dengan tuntutan
yang wajar dapat dipenuhi oleh siswa.
e.    Menegur
Apabila terjadi tingkah laku siswa yang menggangu kelas atau kelompok dalaam kelas,
hendaklah guru menegurnya secara verbal. Teguran verbal yang efektif ialah yang memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:
a)    Tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu serta pada tingkah lakunya yang
menyimpang
b)    Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau yang mengandung penghinaan.
c)    Menghindari ocehan atau ejekan guru atau yang berkepanjangan
d)    Guru dan siswa lebih baik mengadakan kesepakatan sehingga penyimpangan yang terjadi
hanya sifatnya mengingatkan
f.    Memberi Penguatan
Komponen ini digunakan untuk mengatasi siswa yang tidak mau terlibat dalam kegiatan
pembelajaran atau menggangu temanya. Yaitu dengan cara.
a)    Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang menggagu yaitu dengan jalan
”menangkapnya” ketika ia melakukan tingkhlaku yang wajar dan berusaha “ menangkapnya”
ketika ia melakukan tingkah yang tidak wajar dan berusaha “ menangkapnya” ketika ia
melakukan tindakan yang tidak wajar dengan tujuan perbuatan yang wajar tadi dapat terulang.
b)     Guru dapat memberikan berbagai komponen penguatan kepada siswa yang bertingkah laku
yang wajar kepada siswa yang lain untuk menjdi teladan.

2.    Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan
dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi
belajar yang optimal. Apabila terdapat siswa yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang
walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan respon yang sesuai, guru dapat meminta
bantuan kepada kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua siswa.
Bukanlah kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap problema siswa di
dalam kelas. Namun, pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk
tindakan perbaikan terhadap tingkah laku siswa yang terus menerus menimbulkan gangguan dan
yang tidak mau terlibat dalam tugas di kelas. Strategi tersebut adalah :
a.    Modifikasi tingkah laku. Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang mengalami
masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan
mengaplikasiakan pemberian penguatan secara sistematis.
b.    Guru dpt menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara :
a)    Memperlancar tugas-tugas : Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam
pelaksanaan tugas.
b)    Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok : Memelihara dan memulihkan semangat siswa
dan menangani konflik yang timbul.
c)    Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Guru dapat
menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia
mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidakpatutan tingkah laku tersebut serta
berusaha untuk menemukan pemecahannya.

D.    PRINSIP-PRINSIP DALAM PENGELOLAAN KELAS


Dalam melaksanakan komponen keterampilan pengelolaan kelas, perlu diperhatikan  pinsip-
prinsip dasar pengelolaan kelas sebagai berikut:
1. Kehangatan dan keantusiasan
Kehangatan dan keantusiasan guru dapat memudahkan terciptanya iklim kelas yang
menyenangkan sehingga dapat mewujudkan kegiatan belajar yang optimal. Guru yang bersikap
hangat dan akrab serta secara ajek menunjukkan antusiasmenya terhadap tugas-tugas, kegiatan-
kegiatan, atau siswanya akan lebih mudah melaksanakan komponen-komponen keterampilan
pengelolaan kelas.
2. Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah
siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang
menyimpang. Selain itu perhatian dan minat siswa akan tetap terpelihara. Diusahakan, saat guru
memberi tantangan, soal dimulai dari yang mudah dan semua siswa bisa menjawab sebagai
motivasi untuk menjawab selanjutnya.
3. Bervariasi
Penggunaan variasi dalam media, gaya dan interaksi belajar mengajar merupakan kunci
pengelolaan kelas untuk menghindari kejenuhan serta pengulangan aktivitas yang menyebabkan
menurunnya kegiatan belajar dan tingkah laku positif siswa. Jika terdapat banyak variasi maka
kejenuhan akan berkurang dan siswa akan cenderung meningkatkan keterlibatannya dalam tugas
dan tidak akan menunggu temannya.
4. Keluwesan
Selama proses belajar mengajar, terdapat kemungkinan munculnya gangguan-gangguan dari
siswa. Untuk mencegah gangguan tersebut diperlukan keluwesan tingkah laku guru untuk dapat
merubah strategi mengajarnya mengajarnya dengan memanipulasi berbagai komponen
keterampilan mengajar yang lain.
5. Penekanan pada Hal-Hal yang Positif
Cara guru memelihara suasana yang positif diantaranya adalah dengan:
a.         Memberi aksentuasi terhadap tingkah laku siswa yang positif dan menghindari celaan
terhadap tingkah laku yang kurang wajar.
b.        Menyadari akan kemungkinan kesalahan yang dapat dibuatnya sehingga akan
mengganggu kelancaran dan kecepatan belajar siswa.

6. Penanaman disiplin diri


Siswa dapat mengembangkan diri sendiri merupakan tujuan akhir dari pengelolaan kelas. Untuk
mencapai tujuan ini guru harus selalu mendorong siswa untuk melaksanakan disiplin diri sendiri.
Hal ini akan lebih berhasil  jika guru sendiri menjadi contoh atau teladan tentang pengendalian
diri dan pelaksanaan tanggung jawab.

E.    PERAN GURU DALAM STRATEGI PENGELOLAAN KELAS


Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara
keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan
berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk
meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan
lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar
siswa berada pada tingkat yang optimal. Adam dan Decey (dalam Usman, 2003) mengemukakan
peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: (a) guru sebagai
demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kelas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d)
guru sebagai valuator.
a)    Guru Sebagai Demonstrator
Guru menjadi sosok yang ideal bagi siswanya hal ini dibuktikan apabila ada orang tua yang
memberikan argumen yang berbeda dengan gurunya maka siswa tersebut akan menyalahkan
argumen si orangtua dan membenarkan seorang guru. Guru adalah acuan bagi peserta didiknya
oleh karena itu segala tingkah laku yang dilakukannya sebagian besar akan ditiru oleh siswanya.
Guru sebagai demonstrator dapat diasumsikan guru sebagai tauladan bagi siswanya dan contoh
bagi peserta didik.
b)    Guru Sebagai Evaluator
Evaluator atau menilai sangat penting adalah rangkaian pembelajaran karena setiap pembelajaran
pada akhirnya adalah nilai yang dilihat baik kuantitatif maupun kualitatif. Rangkaian evaluasi
meliputi persiapan, pelaksanaan, evaluasi. Tingkat pemikiran ada beberapa tingkatan antara lain :
1.    Mengetahui
2.    Mengerti
3.    Mengaplikasikan
4.    Analisis
5.    Sintesis (analisis dalam berbagai sudut)
6.    Evaluasi
Manfaat evaluasi bisa digunakan sebagai umpan balik untuk siswa sehingga hasil nilai ini bukan
hanya suatu point saja melainkan menjadi solusi untuk mencari kelemahan di pembelajaran yang
sudah diajarkan. Hal -hal yang paling penting dalam melaksanakan evaluasi. Harus dilakukan
oleh semua aspek baik efektif, kognitif dan psikomotorik. Evaluasi dilakukan secara terus
menerus dengan pola hasil evaluasi dan proses evaluasi. Evalusi dilakuakan dengan berbagai
proses instrument harus terbuka
c)    Guru Sebagai Pengelola Kelas
Manager memenage kelas, tanpa kemampuan ini maka performence dan karisma guru akan
menurun, bahkan kegiatan pembeajaran bisa kacau tanpa tujuan. Guru Sebagai Pengelola Kelas,
agar anak didik betah tinggal di kelas dengan motivasi yang tinggi untuk senantiasa belajar di
dalamnya. Beberapa fungsi guru sebagai pengelola kelas : Merancang tujuan pembelajaran
mengorganisasi beberapa sumber pembelajaran Memotivasi, mendorong, dan menstimulasi
siswa. Ada 2 macam dalam memotivasi belajar bisa dilakukan dengan hukuman atau dengan
reaward Mengawasi segala sesuatu apakah berjalan dengan lancar apa belum dalam rangka
mencapai tujuan pembelajaran
d)    Guru Sebagai Fasilitator
Seorang guru harus dapat menguasai benar materi yag akan diajarkan juga media yang akan
digunakan bahkan lingkungan sendiri juga termasuk sebagai sember belajar yang harus dipelajari
oleh seorang guru. Seorang siswa mempunyai beberapa kemampuan menyerap materi berbeda-
beda oleh karena itu pendidik harus pandai dalam merancang media untuk membantu siswa agar
mudah memahami pelajaran. Keterampilan untuk merancang media pembelajaran adalah hal
yang pokok yang harus dikuasai, sehingga pelajaran yang akan diajarkan bisa dapat diserap
dengan mudah oleh peserta didik. Media pembelajaran didalam kelas sangat banyak sekali
macamnya misalkan torsu, chart maket, LCD, OHP/OHT, dll.

F.    Sistem Pengolahan Kelas


Mengelola kelas itu merupakan pembuatan  keputusan-keputusan yang direncanakan bukan
keputusan-keputusan spontan yang diambil dalam keadaan darurat jika seorang guru, dalam
keadaan marah dan prustasi menyuruh terhadap siswa kepada kepala sekolah dan disitu ditegur,
mungkin  si guru telah tenang kembali merasa bahwa hukuman tersebut terlalu berat apabila
telah terjadi lagi pelanggaran serupa oleh siswa lain haruskah guru berbuat seperti itu lagi? Jika
demikian, ia bertindak tidak adil tetapi tidak bertindak demikian , ia tidak konsisten biasanya
antisipasi terhadap timbulnya masalah-masalah dikelas akan menolong guru dari dilema-lema 
seperti itu. Dasar dari pendekatan yaitu bahwa perilaku yang baik dikelas sebagian dapat
dibentuk dengan cara memberikan ganjaran atau tidak.
1.    Teknik mendekati
Bila seorang siswa mulai bertingkah, satu teknik yang biasanya efektif yaitu teknik
mendekatinya. Kehadiran guru bisa membuatnya takut, dan karena itu dapat menghentikannya
dari perbuatan yang disruptif , tanpa perlu menegur andai kata siswa mulai menampakan
kecenderungan berbuat nakal, memindahkan tempat duduknya ke meja guru dapat berefek
preventif.
2.    Teknik memberikan isyarat
 Apabila siswa berbuat penakalan kecil, guru dapat memberikan isyarat bahwa ia sedang diawasi
isyarat tersebut dapat berupa petikan jari, pandangan tajam, atau lambaian tangan.
3.    Teknik mengadakan humor. Jika insiden itu kecil, setidaknya guru memandang efek saja,
dengan melihatnya secara humoristis, guru akan dapat mempertahankan suasana baik, serta
memberikan peringatan kepada si pelanggar bahwa ia tahu tentang apa yang akan terjadi.
4.    Teknik tidak mengacuhkan. Untuk menerapkan  cara ini guru harus lues dan tidak perlu
menghukum setiap pelanggaran yang diketahuinya. Dalam kasus-kasus tertentu, tidak
mengacuhkan kenakalan justru dapat membawa siswa untuk di perhatikan.
5.    Teknik yang keras. Guru dapat menggunakan teknik-teknik yang keras apabila ia di
hadapkan pada perilaku disruptif yang jelas tidak terkendalikan. Contohnya mengeluarkannya
dalam kelas.
6.    Teknik mengadakan diskusi secara terbuka. Bila kenakalan di kelas mulai bertambah, sering
guru menjadi heran. ia lalu menilai kembali tindakan dan pengajarannya. untuk menjelaskan
perbuatan-perbuaatan siswa-siswanya. Dan menciptakan suasana belajar yang sedikit lebih
sesuai daripada sebelumnya.
7.    Teknik memberikan penjelasan tentang prosedur. Kadang-kadang masalah kedisiplinan ada
hubungannya yang langsung dengan ketidakmampuan siswa melaksanakan tugas yang diberikan
kepadanya. Kesulitan ini terjadi apbila guru berasumsi bahwa siswa memiliki keterampilan,
padahal sebenarnya tidak. masalah yang hampir sama yaitu masalah-masalah perilaku yang
lazimnya berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak biasa dikelas.
8.    Mengadakan analisis. Kadang-kadang terjadi hampir terus menerus berbuat kenakalan, guru
dapat mengetahui masalah yang akan di hadapinya dan mengurangi keresahan siswanya.
9.    Mengadakan perubahan kegiatan. Apabila gangguan dikelas meningkat jumlahnya, tindakan
yang harus segera di ambil yaitu mengubah apa yang sedang anda lakukan. Jika biasanya diskusi,
maka ubahlah dengan memberikan ringkasan-ringkasan untuk dibaca atau menyuruh mereka
membaca buku-buku pilihan mereka.
10.    Teknik menghimbau. Kadang-kadang guru sering mengatakan, “harap tenang”. Ucapan
tersebut adakalanya membawa hasil; siswa memperhatikannya. Tetapi apabila himbauan sering
digunakan mereka cenderung untuk tidak menggubrisnya.

PENUTUP
A.       KESIMPULAN
Pengelolaan kelas adalah pengadaan kelas oleh guru dengan cara-cara atau
pendekatanpendekatan tertentu sehingga siswa merasa nyaman dan optimal selama
pembelajaran.Pengelolaan kelas bertujuan untuk:
•      mengembangkan kemampuan siswa semaksimal mungkin baik secara individual maupun
kelompok
•      membantu mengatasi hambatan siswa
•      membantu siswa belajar sesuai dengan tingkat emosional dan intelektualnya di dalam kelas
dengan penyediaan fasilitas sebaik mungkin
•      membina dan membimbing siswa sesuai dengan keadaan dan latar belakang siswa
•      menciptakan suasana sosial yang berimbang, disiplin, tertib, perkembangan intelektual,
emosional, sikap, dan apresiasi siswa sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif.
Ada beberapa langkah dalam mengelola kelas misalnya menetapkan aturan kelas, memulai
kegiatan tepat waktu, mengatur pelajaran, mengelompokkan siswa, dan mengakhiri pelajaran.
Metode belajar-mengajar adalah bagian utuh (terpadu, integral)dari proses pendidikan
pengajaran. Metode ialah cara guru menjelaskan suatu pokok bahasan sebagai bagian kurikulum
(isi, materi pengajaran),  dalam  upaya mencapai sasaran dan tujuan  pengajaran  (tujuan
institusional, tujuan pembelajaran umum dan khusus).
Proses pembelajaran, atau PBM sebagai kerjasama guru-siswa, secara psiko-pedagogis 
mengutamakan oto-aktivitas siswa sebagai bekal  pendewasaan diri mengembangkan
kemampuan dan penguasaan bidang pengetahuan (bidang studi, mata pelajaran). Artinya, dalam
PBM peran guru lebih bersifat tut-wuri handayani, berjalan bersama (bekerjasama, komunikasi,
dialog dan hubungan akrab) guru-siswa, ialah suasana pembelajaran di dalam dan di luar kelas.
B.        SARAN
            Kami sangat mengharapkan bimbingan serta kritikan tentang makalah ini, karena tanpa
kritikan dosen kami tidak dapat memperbaikinya.

Anda mungkin juga menyukai