Anda di halaman 1dari 18

Resume

Teori Relativitas Khusus


Sesi : Rabu 13:20-15:50
Kelompok : 5
Enda Yuliana 15034059
Kiki Yuliza Noerman 19034016
Muhammad Ilham Nugraha 19034024
Nadilla Adzura 19034025

Teori Relativitas Khusus


A. Relativitas Klasik
a. Transformasi Galileo

Dalam fisika, transformasi Galileo adalah transformasi dari koordinat dalam suatu
kerangka acuan ke sistem koordinat kerangka acuan lain yang bergerak konstan relatif
terhadap kerangka acuan yang awal. Berdasarkan teori relativitas khusus, transformasi
Galileo hanya berlaku untuk kecepatan yang relatif rendah, jauh lebih lambat
dibanding kecepatan cahaya. Untuk kecepatan yang tinggi, diperlukan transformasi
Lorentz.

Prinsip Relativitas Galileo dikenal pula sebagai prinsip relativitas klasik, Karena
hanya berkaitan dengan hukum-hukum gerak newton. Persoalan perambatan
gelombang elektromagnetik (cahaya) tidak ditinjau dalam prinsip ini. Prinsip
relativitas galileo tersebut dibangun berdasarkan dua postulat berikut :

 Waktu adalah besaran mutlak.


 Hukum-hukum gerak newton tidak berubah bentuk (invarian).
Suatu gerak relatif berarti suatu gerak yang tergantung pada suatu acuan tertentu.
Acuan itulah tempat suatu pengamat dan pengamat sendiri dapat memiliki dua
kemungkinan yaitu pengamat diam dan pengamat bergerak. Dalam kaitannya dengan
vektor, Relatif itu berarti selisih vektor. Pada relativitas Newton, Semua besaran akan
sama saat diukur oleh pengamat yang diam maupun pengamat yang bergerak. Besaran
yang berubah hanyalah kecepatan relatif dan berlaku persamaan berikut.

Vx’ = V – Vx

Dengan :
Vx’ = Kecepatan relatif benda terhadap pengamat bergerak.
Vx = Kecepatan relatif benda terhadap pengamat diam.
V = Kecepatan pengamat bergerak terhadap pengamat diam.

Contoh Soal :
Seorang pengamat yang diam terhadap bumi, mengamati peristiwa tumbukan. Sebuah
partikel bermassa m1 = 5 kg bergerak dengan kecepatan u1 = 2 m/s disepanjang sumbu
x mendekati partikel kedua bermassa m2 = 1 kg yang bergerak dengan kecepatan u 2 =
-4 m/s disepanjang sumbu x. Setelah terjadi tumbukan, pengamat menemukan bahwa
m2 memiliki kecepatan 4 m/s disepanjang sumbu x. Tentukan kecepatan m1 setelah
tumbukan!
Penyelesaian

b. Kerangka Acuan Mutlak

Gerak dapat dikatakan bersifat relatif. Relativitas yang terjadi dalam gerak ini dapat
ditinjau dari konsep kejadian, pengamat, dan kerangka acuan. Kejadian adalah suatu
peristiwa fisika yang terjadi dalam suatu ruang pada suatu waktu sesaat yang tertentu.
Contoh kejadian adalah: kilat di langit, tumbukkan antara dua mobil, dan sebagainya.
Seseorang yang mengamati suatu kejadian dan melakukan pengukuran, misalnya
pengukuran koordinat dan waktu disebut pengamat. Untuk menentukan letak sebuah
titik dalam ruang kita memerlukan suatu sistem koordinat atau kerangka acuan.
Misalnya, untuk menyatakan buah sebelum jatuh dari pohonnya, seorang pengamat
memerlukan suatu kerangka acuan dengan koordinat (x, y, z). Jadi, kerangka acuan
adalah suatu sistem koordinat.

Bagi seorang pengamat, suatu peristiwa dicirikan dengan menetapkan empat


koordinatnya: tiga koordinat kedudukan (x, y, z) yang menyatakan jaraknya ke titik
asal sebuah sistem koordinat tempat pengamat benda, dan koordinat waktu (t) yang
dicatat pengamat dengan jamnya.
Contoh Soal Kerangka Acuan
Tentukan mana yang merupakan kerangka acuan inersial dan mana yang bukan:
 pesawat terbang yang jatuh akibat kerusakan mesin, semakin lama semakin cepat.
 orang terjun payung yang jatuh dengan kecepatan konstan akibat adanya gesekan
udara.
Jawaban:
Obyek yang dapat digunakan sebagai kerangka acuan inersial haruslah bergerak lurus
dengan kecepatan tetap. Dari kedua contoh tersebut hanyalah orang terjun payung
yang memenuhi. Hambatan udara yang proporsional dengan kecepatan, akan
menciptakan kecepatan terminal pada akhirnya. Artinya pada kecepatan terminal ini,
penerjun payung baru boleh digunakan sebagai kerangka acuan inersial dan tidak
sebelumnya.
B. Postulat Einstein tentang Teori Relativitas Khusus

Hukum fisika dapat dinyatakan dalam persamaan yang berbentuk sama dalam semua
kerangka acuan yang bergerak dengan kecepatan tetap satu dengan lainnya.
Albert Einstein (1905)
a. Prinsip Relativitas Khusus Einstein
Dua postulat :
 Sifat semesta (universe) pengamat tidak berubah jika kondisi inersia pengamat
berubah
 Kecepatan cahaya dalam vakum adalah sama di semua pengamat.

b. Transformasi Lorentz
Transformasi Lorentz adalah transformasi linear satu-parameter dari sistem koordinat
suatu kerangka acuan dalam ruang waktu ke kerangka yang lain yang bergerak
dengan kecepatan yang konstan (parameternya) relatif terhadap kerangka yang awal.
Contoh soal :
1. Menurut O’ sebuah cahaya kilat menyambar di x’ = 60 m, y’ = z’ = 0, t’ = 8 x
10‾8 O’ memiliki kecepatan 0,6 c sepanjang x dari O. Tentukanlah koordinat-
koordinat ruang waktu dari sambaran kilat menurut O ?
Pembahasan : 

 
2. Sebuah lampu diaktifkan dititik x = 160 km pada t = 4 x 10‾4 s ketika
diamati oleh O. Dari kejadian ini, jika dipandang oleh O’, mendapat
kecepatan 0,6 c. Berapa lama kilat lampu bergerak relatif terhadap O ?
Penyelesaian :

C. Gejala relativitas khusus Einstein


a. Dilatasi Waktu
Dilatasi waktu adalah konsekuensi dari teori relativitas khusus di mana dua pengamat
yang bergerak relatif terhadap satu sama lain akan mengamati bahwa jam pengamat
lain berdetak lebih lambat dari jamnya
Peristiwa ini bukanlah akibat dari kesalahan jam atau faktor teknis lainnya, tetapi
merupakan sifat dasar dari pembengkokan ruang-waktu yang dijelaskan dalam teori
relativitas.

Kebingungan yang sering muncul dalam mempelajari efek ini adalah efek ini berlaku
dua arah: jika pengamat A mengamati bahwa jam pengamat B berdetak lebih lambat
karena efek ini, maka pengamat B juga akan mengamati bahwa jam pengamat A
berdetak lebih lambat. Hal ini sangat berlawanan dengan intuisi: jika A mengamati
jam B berdetak lebih lambat maka B akan mengamati jam A berdetak lebih cepat.

Salah satu contoh nyata adanya dilatasi waktu dirasakan oleh para astronot di dalam
satelit ISS. Karena satelit ISS mengorbit Bumi pada kecepatan sekitar 27.580
kilometer/jam (dibandingkan dengan rotasi Bumi yang berkisar sekitar 1.675
kilometer/jam), maka dilatasi waktu yang berdasarkan kecepatan dan/atau percepatan
akan berlaku. Perbedaan waktu yang dihasilkan adalah sekitar 0,014 detik lebih
lambat di ISS setiap 12 bulan di Bumi berlalu. Ketika suatu benda mencapai
kecepatan cahaya (299.792.458 meter/detik), maka benda tersebut tidak akan
terpengaruh oleh waktu yang terus berlalu, menandakan bahwa waktu benar-benar
berhenti terhadap benda itu.

Ketika percepatan meninggi, maka berat benda akan semakin besar, akan tetapi ketika
benda tersebut semakin mendekati kecepatan cahaya, maka massanya yang akan
semakin besar, menandakan bahwa untuk menambah kecepatan dengan percepatan
yang konstan membutuhkan banyak sekali energi. Karena cahaya merupakan partikel
yang tidak bermassa, cahaya mampu menembus batas kecepatan cahaya tanpa harus
menambah massanya.

Secara singkatnya, kita bisa "pergi" ke masa depan tanpa memakan waktu banyak
terhadap kita, akan tetapi kita tidak bisa pergi ke masa lalu dikarenakan tidak ada
satupun benda di alam semesta yang bisa melampaui kecepatan cahaya sejauh ini
CONTOH SOAL DILATASI WAKTU
Contoh Soal 1
Seorang astronot yang diam di bumi memiliki laju denyut jantung 60 detak/menit.
Berapa denyut jantung astronot itu ketika ia menumpangi pesawat antariksa yang
bergerak dengan kelajuan 0,8 c, diukur oleh pengamat yang:
a. diam dalam pesawat;
b. diam di bumi.
Jawab:
Ketika astronot diam di bumi, jam di bumi adalah jam yang diam terhadap kejadian
sehingga Δt0 = 1 menit/60 detak dan v = 0,8 c. Maka kecepatan pesawat:
a. Ketika astronot bersama pesawat maka jam pengamat yang berada dalam pesawat
adalah jam yang diam terhadap kejadian Δt = Δt0. Dengan demikian, laju detak
jantung adalah: Δt = Δt0 = 1 menit/60 detak
b. Berdasarkan prinsip relativitas, pesawat antariksa yang bergerak terhadap bumi
dapat juga kita anggap juga bahwa bumilah yang bergerak terhadap pesawat. Dengan
demikian, jam pengamat di bumi yang mengukur laju denyut jantung astronot adalah
jam yang bergerak terhadap kejadian. Oleh karena itu, jam pengamat di bumi
mengalami pemuluran waktu sehingga berlaku
Δt = k Δt0 sebab k>1 maka
jadi
Δt = k Δt0
Δt = (10/6) 1 menit/60 detak
Δt = 1 menit/36 detak

Contoh Soal 2
Dua orang saudara kembar A dan B berusia 40 tahun. A melakukan perjalanan le
suatu bintang dengan kecepatan v = 0,8 c. Ketika kembali ke bumi, B berusia 70
tahun. Berapa usia si A?

Jawab:
Menurut B yang ada di bumi, A telah melakukan perjalanan selama 30 tahun,
berarti t = 30 tahun. Menurut A, ia telah melakukan perjalanan selama
Maka, usia A adalah 40 + 18 = 58 tahun. Berarti ia lebih muda 12 tahun.

b. Kontraksi panjang

biasanya hanya dapat dilihat ketika mendekati kecepatan cahaya. Kontraksi panjang
hanya terlihat pada arah yang paralel terhadap arah gerak benda teramati. Efek ini
hampir tidak terlihat pada kecepatan sehari-hari dan diabaikan untuk semua kegiatan
umum. Hanya pada kecepatan sangat tinggi baru efek ini dapat teramati. Pada
kecepatan 13.400.000 m/s (30 juta mph, 0.0447c) kontraksi panjangnya adalah 99.9%
dari panjang saat diam; pada kecepatan 42.300.000 m/s (95 juta mph, 0.141c),
panjangnya masih 99%.

Ketika semakin mendekati kecepatan cahaya, maka efeknya semakin kelihatan.


Pengamat pada keadaan diam melihat objek yang bergerak mendekati kecepatan
cahaya akan melihat panjang objek tersebut mendekati nol.
Contoh Soal Kontraksi Panjang
Seorang astronot yang tingginya 2 m, berbaring sejajar dengan sumbu pesawat
angkasa yang bergerak dengan kelajuan 0,6 c relatif terhadap bumi. Berapakah tinggi
astronot jika diukur oleh pengamat di bumi?

Jawab:
L0 = 2 m
v = 0,6 c
Jika pesawat bergerak terhadap bumi. Kita dapat menetapkan bumi sebagai kerangka
acuan diam.
c. Pemuaian Massa
Sama seperti ruang dan waktu, massa benda yang diamati pengamat diam akan
berbeda dengan massa benda yang diamati oleh pengamat bergerak dengan kecepatan
v.

m = massa benda yang diamati pengamat bergerak dengan kecepatan v


m0 = massa benda yang diamati pengamat diam
v = kecepatan pengamat

Dalam mekanika relativistik, energi benda bermasa m0 (keadaan diam) dengan


kecepatan v dapat dirumuskan sebagai berikut.

Energi total benda yang bermassa dapat diperoleh dengan rumus berikut.

E = E0 + Ek , di mana E0 adalah energi diam (E = m0c2).


Berdasarkan penjabaran di atas, benda yang memiliki massa m memunyai energi
sebesar:
E=mc2
Persamaan tersebut merupakan salah satu rumus yang paling dikenal hingga saat ini.
Rumus ini pulalah yang menjadi dasar bagi pengembangan bom nuklir karena massa
diasumsikan sebagai bentuk energi yang terkonsentrasi, sehingga dapat berubah
bentuk, terutama dengan reaksi berantai nuklir (nuclear chain reaction).
Contoh soal pemuaian massa
1. Massa diam sebuah partikel = m0. Massa partikel tersebut saat bergerak dengan
kecepatan 0,8 c akan bertambah menjadi...
A.       1,25 m0
B.       1,42 m0
C.       1,52 m0
D.       1,67 m0
E.        1,92 m0

Pembahasan

2. Sebuah partikel bergerak dengan laju v = ½  c (c = laju cahaya). Jika m0 = massa
diam, m = massa bergerak, Ek = energi kinetik, dan E0 = energi diam, maka berlaku...
A. m = ½ m0 dan Ek = ½ E0
B. m = 4/3 m0 dan Ek = E0
C. m = 3/2 m0 dan Ek = E0
D. m = 2 m0 dan Ek = 2 E0
E. m = 2 m0 dan Ek = E0

Pembahasan
d. Efek doppler relativistic

Efek Doppler adalah perubahan frekuensi atau panjang gelombang dari sebuah
sumber gelombang yang diterima oleh pengamat jika suara atau gelombang tersebut
bergerak relativ terhadap pengamat atau pendengar.

Efek Doppler tidak hanya berlaku pada gelombang bunyi tetapi berlaku juga pada
gelombang cahaya atau gelombang elektromagnetik.

Gejala Efek Doppler untuk cahaya atau Efek Doppler Relativistik sangat penting
artinya dalam bidang astronomi. Para ahli astronomi telah lama mengamati adanya
pergeseran letak warna spectrum pada bintang-bintang dan galaksi. Bila dibandingkan
dengan spectrum-spektrum yang ada dibumi, spectrum-spektrum benda angkasa
bergeser sedikit kearah warna cahaya merah. Ini berarti bahwa panjang gelombang
sinar-sinar itu bertambah panjang. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa
benda-benda angkasa bergerak dengan laju yang besar menjauhi bumi. Dari
kenyataan ini pula disimpulkan bahwa alam semesta mengembang, bintang-bintang
dan galaksi-galaksi bergerak saling menjauh.

Efek Doppler (cahaya; pengamat tegak lurus sumber)


Contoh Soal Efek Doppler dan Pembahasan
Contoh Soal 1
Sebuah mobil polisi dengan sirine menyala yang berfrekuensi 940 Hz bergerak
dengan kecepatan 90 km/jam mendekati seseorang yang sedang berdiri di pinggir
jalan. Jika kecepatan suara di udara sebesar 340 m/s, berapa frekuensi bunyi sirine
yang didengar oleh orang tersebut?

Pembahasan:
Diketahui bahwa vs = 90 km/jam = 25 m/s.
Karena sumber suara mendekati pendengar, maka vs (-)
Karena pendengar dalam kondisi diam, maka vp = 0.
Sehingga:

Contoh Soal 2
Sebuah mobil polisi dengan sirine menyala yang berfrekuensi 940 Hz bergerak
dengan kecepatan 90 km/jam mengejar seorang pelaku kriminal yang sedang melaju
menjauh dari polisi dengan kecepatan 72 km/jam. Jika kecepatan rambat suara di
udara sebesar 340 m/s, berapa frekuensi bunyi sirine yang didengar oleh pelaku
tersebut?
Pembahasan:
Diketahui bahwa vs = 90 km/jam = 25 m/s.
Karena sumber suara mendekati pendengar, maka vs (-)
Diketahui bahwa vp = 72 km/jam = 20 m/s.
Karena pendengar menjauhi sumber suara, maka vp (-)
Sehingga:

D. Dinamika Relativistik
a. Momentum dan energi
kekekalan momentum linear berlaku dalam mekanika relativistik apabila massa
dianggap bergantung terhadap kecepatan sebagai:

Dan mo adalah massa tak gerak (rest mass).Sehingga ungkapan momentum linear
relativistik adalah :

Contoh soal

Sebuah benda yang bermassa 8 kg dalam keadaan diam, diukur oleh seorang
pengamat yang bergerak dengan kelajuan 0.6c. Tentukanlah persentase peningkatan
massa benda tersebut ketika dikur oleh pengamat yang telative bergerak!

Jawab:
Besaran yang diketahui.

Massa relativistik benda tersebut adalah

Persentase kenaikan massa benda yaitu

b. Kesetaraan Massa dan Energi


Berdasarkan hasil penurunan dan penjelajahan kita dalam menyelami mekanika
relativistik,maka dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut ini:
1. Hubungan antara E=mc 2 menunjukkan adanya kesetaraan massa dan
energi,dimana perbandingan/rasionya adalah kuadrat dari kecepatan cahaya.
Persamaan Einstein ini sekaligus memberikan pernyataan mengenai suatu
benda/partikel yangmemiliki kecepatan besar makan akan memiliki energi yang besar
pula. Kita kemudian dapat mendefinisikan ulang mengenail massa relativistik, yaitu
“Benda akan semakin massif bila bergerak dengan kecepatan tertentu”.
2. Ketika besar kecepatan partikel atau suatu benda bernilai v<<c, maka persamaan
atau mekanika relativistik akan sama dengan mekanika klasik. Hal ini membuktikan
keabsahan dari perumusan transformasi Lorenzt dan Mekanika Relativistik.

3. Spekulasi, lalu bagaimana jika ada suatu partikel yang tidak bermassa, yang artinya
bermassa diam nol (m0=0). Maka tentu saja energi total dan momentumnya nol.Tetapi
bagaimana jika partikel tersebut bergerak dengan kecepatan setara dengan kecepatan
cahaya

Contoh Soal :

Sebuah elektron dipercepat dari keadaan diam melalui beda potensial 1,5 MV
sehingga memperoleh energi 1,5 MeV. Tentukan laju akhirnya!
Penyelesaian:

Dengan menggunakan persamaan:

Diketahui bahwa Ek = Ep, maka Ek = (1,5 × 106 eV)(1,6 × 10-19 J/eV) = 2,4× 10-13 J

Dimisalkan :

Diketahui m = 9 × 10-31. kg, maka γ m = 3,58 × 10-30 kg

Untuk menentukan laju dengan menggunakan persamaan:


REFERENSI

Dr. Ratnawulan.2020. Bahan Ajar Fisika Modern.Uniersitas Negeri Padang:Padang


https://en.wikipedia.org/ diakses pada 6 september 2020