Anda di halaman 1dari 10

TUGAS UJI KLINIK OBAT ALAM

PAPER TAHAP SEDIAAN FITOFARMAKA DAN OBAT HEBAL TERSTANDAR


(OHT)

OLEH :
IDAWATI
(917312906201.003)

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN AVICENNA
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
KENDARI
2020
PENDAHULUAN

Penduduk di Indonesia banyak menggunakan pengobatan tradisional utnuk


pengobatan sendiri (selfmedication) akan tetapi profesi kesehatan/dokter umumnya masih
enggan untuk meresepkan ataupun menggunakannya karena banyak produk bahan obat
tradisional tidak dihasilkan dari metode ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan baik
dari asal bahan, metode pembuatan, maupun produk akhirnya.
Departemen kesehatan telah mem- buat aturan supaya pengembangan obat
tradisional dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pengembangan obat tradisional
harus terdiri enam tahap yaitu seleksi, penyaringan zat biologik, pengujian farmako-
dinamik, pengujian toksisitas, pengembangan sediaan formulasi obat, dan pengujian klinik
pada manusia.
Pengelompokan dan penandaan obat bahan alam Indonesia menurut Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berdasarkan tingkat pembuktian khasiat,
persyaratan bahan baku yang digunakan, dan pemanfaatannya, obat bahan alam Indonesia
dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: jamu, obat herbal terstandar, dan
fitofarmaka.
Fitofarmaka merupakan bentuk obat tradisional yang dapat disejajarkan dengan
obat modern karena dalam proses pembuatannya sudah terstandar dengan ditunjang bukti
ilmiah bahkan sudah uji klinis pada manusia, dengan uji klinis ini akan lebih meyakinkan
para profesi medis untuk menggunakan obat tradisional di sarana pelayanan kesehatan
(Sampurno, 2003).
Obat herbal terstandar tidak sama dengan fitofarmaka, dimana obat herbal
terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya
secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandarisasikan.

TAHAP PENGEMBANGAN OBAT HERBAL ADALAH SEBEGAI BERIKUT


1. TAHAP SELSEKSI
Pada tahap seleksi, tanaman obat dipilih berdasarkan kebutuhan masyarakat
yang akan dikembangkan dalam pembentukan obat tradisional sampai tahap
fitofarmaka. Karena banyaknya tanaman obat, maka dilakukan seleksi skala
prioritas antara lain:
 Diutamakan ada bukti empiris penggunaan dimasyarakat
 penyakit yang sering diprioritaskan untuk pengembangan tannaman
obatnya
 Bisa merupakan alternative/adjuvat penyakit-penyakit yang
jarang/misalnya HIV,
 Tahap seleksi baiknya juga mempertimbangkan kemudahan pengembangan
pembudidayaan tanaman obat tersebut.
2. TAHAP UJI PRAKLINIS
Tahap uji praklinis dilakukan setelah tahap seleksi, pada tahap ini uji
kandidat obat dilakukan secara invitro maupun invivo pada hewan uji. Tidak
semua hewan uji obat bisa didesain secara invitro, tatapi hamper semuanya bisa
dilakukan secara invivo. Uji praklinis dapat berupa uji kemanfaatan/uji
farmakologis, uji teraatogenik, maupun uji toksitas akut dan kronis
 Uji kemanfaatan/uji farmakologis
Pada tahap ini, dilakuan desain uji farmakologis sesuai dengan efek
farmakolgis kadidat obat/ekstrak. Focus pada uji tahap ini adalah
farmakodinamik ekstrak dan mekanisme dugaan kerja obat. Desain uji
dilakukan baik invitro ( beberapa kandidat obat) maupun invivo. Uji
farmakolgis bertujuan untuk mengetahui efek faarmakologisnya dan profil
farmakodinamik pada kandidat obat, BPOM mensyarankan hewan uji yang
digunakan minimmal mencit dan tikus. Uji farmakologis ini dapat digunakan
sebagai predicator efek pada manusia tetapi tidak selalu linear
 Uji ketoksikan
Uji ketoksikan ekstrak/ obat dibagi dalam uji ketoksikan akut,
subkronis, dan kronis. Uji teratogenik, mutagenic, maupun karsigonik suatu
kandidat obat termasuk didalam kelompok uji ketoksikan. Uji ketoksikan ini
menilai keamanan obat secara umum
 Uji ketoksikan akut, uji ketooksikan akut dilakuakan untuk :
Menilai gejala dan tanda toksik akut pada hewan uji, menentukan
spectrum keamanan oobbat pada hewan uji, mencari LD50 ( Lethal dose 50 )
merupakan rentang dosis yang menyebabakan hewan uji mati, LD50 dijadikan
dasar untuk menetukan sifat/potesi ketoksikan suatu ekstrak/senyawa.
 Uji ketoksikan subkronis
Uji ketoksikan subkronis dan kronis terutama dilakukan pada kadidat
obat yang penggunaanya pda manusia berulang atau berlangsung lama
Tabel lama uji ketoksikan
Lama pengunaan pada manusia Lama desain uji pada hewan
Dosis tunggal/>1 minggu 2mg-1 bulan
Dosis berulang 1-4 minggu 4 minggu-3 bulan
Dosis berulang 1-6 bulan 3-9 bulan
Dosis berulang>6 bulan 9-12 bulan

Pada uji ketoksiakn subkronis dan kronis parameter yang diamati antara
lain : Gejala-gejala/tanda yang muncul, perubahan BB (bobot badan),
perubahan nafsu makan, Agresivitas, Gejala diare, Darah rutin, Kimia darah
meliputi fungsi haper (SGOT,SGPT) fungsi ginjal ( ureum, kreatinin), gula
darah, profil lipid dan lain-lain, Pada akhir percobaan dilakukan pemerikasaan
histopatologi organ vital antara lain : hepar, ginjal, usus, lambung dan paru.
 Uji teratogenik
Uji teratogenik merupakan uji untuk mengetahui apakah obat
berpotensi menimbulkan kecacatan pada janin. Desain uji adalah sebagai
berikut : Hewan uji dibuntingkan, Diberi paparan ekstrak po selama
kebuntingan, Dilakuan terminasi kehhamilan dan dilakukan pembedahan pada
hewan uji yang bunting, Ditentukan jumlah hewan uji yang mati, mengalami
resorpsi berat fetus, panjang fetus, fetus yang mengalami hemoragi dan
morfologi abnormal fetus, yang semuanya dibandingkan dengan control.
 Uji mutagenik
Uji mutagenik jarang dilakuan dan tidak menjadi persyaratan dalam
pengembangan obat tradisional.
 Uji karsinogenik
Sama seperti uji mutagenik , uji karsinogenik jarang dilakuakan, uji
inin bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak berpotensi menginduksi
kanker pada sel normal
3. TAHAP UJI KLINIS
Tahap uji klinis obat tradisional dilakukan pada manusia untuk dapat
menjadi fitofarmaka dengan dibuktikan khasiat dan keamanannya. Uji klinis pada
manusia hanya dapat dilakukan apabila obat tradisional/obat herbal tersebut telah
terbukti aman dan berkhasiat pada uji preklinis. Pada uji klinis obat tradisional
prinsip etika uji klinis harus dipenuhi. Standardisasi sediaan merupakan hal yang
penting untuk dapat menimbulkan efek yang terulangkan. Uji klinis dibagi empat
fase yaitu:
 Fase I, obat tradisional diujikan pada sukarelawan sehat, pada fase ini
ditentukan keamanan suatu obat dan tolerabilitas obat tradisional.
 Fase II awal, dilakukan pada pasien dalam jumlah terbatas, tanpa pembanding.
Fase II akhir, dilakukan pada pasien jumlah terbatas, dengan pembanding.
Pada fase II diamati efikasi pada penyakit yang diobati dan diharapkan dari
obat adalah mempunyai efek potensial dengan efek samping rendah atau tidak
toksik. Pada fase ini mulai dilakukan pengembangan dan uji stabilitas bentuk
persediaan obat.
 Fase III, uji klinis definitif, melibatkan kelompok besar pasien, di sini obat
baru dibandingkan efek dan keamanannya terhadap obat pem
 banding yang sudah diketahui.
 Fase IV, pascapemasaran, untuk mengamati efek samping yang jarang atau
lambat timbulnya. Obat tradisional yang sudah lama beredar luas di
masyarakat dan tidak menunjukkan efek samping yang merugikan, setelah
mengalami uji preklinis dapat langsung dilakukan uji klinis dengan
pembanding. Obat tradisional yang belum digunakan secara luas harus melalui
uji klinis pendahuluan (fase I dan II) guna mengetahui tolerabilitas pasien
terhadap obat tradisional tersebut.

TAHAP SEDIAAN OBAT HERBAL TERSTANDAR

Dalam proses pembuatannya, OHT memerlukan peralatan yang lebih


kompleks dan berharga mahal serta memerlukan tenaga kerja dengan
pengetahuan dan keterampilan pembuatan ekstrak, yang hal tersebut juga
diberlakukan sama pada fitofarmaka.
Obat Herbal dapat dikatakan sebagai Obat Herbal Terstandarisasi bila
memenuhi kriteria sebagai berikut :
 Aman
 Klaim khasiat secara ilmiah, melalui uji pra-klinik
 Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku
 Telah dilakukan standardisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam
produk jadi.
TAHAPAN SEDIAAN DALAM FITOFARMAKA

Obat Herbal dapat dikatakan sebagai fitofarmaka apabila obat herbal


tersebut telah memenuhi kriteria sebagai berikut :
 Aman
 Klaim khasiat secara ilmiah, melalui uji pra-klinik dan klinik
 Memenuhi persyaratan mutu yang berlak
 Telah dilakukan standardisasi bahan baku yang digunakan dalam
produk jadi.
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia ada beberapa tahap-
tahap pengembangan dan pengujian fitofarmaka seperti :

1. Tahap seleksi calon fitofarmaka

Proses pemilihan jenis bahan alam yang akan diteliti sebagai calon
fitofarmaka sesuai dengan skala prioritas sebagai berikut :
 Obat alami calon fitofarmaka yang diperkirakan dapat sebagai alternative
pengobatan untuk penyakit-penyakit yang belum ada atau masih belum jelas
pengobatannya.
 Obat alami calon fitofarmaka yang berdasar pengalaman pemakaian empiris
sebelumnya dapat berkhasiat dan bermanfaat
 Obat alami calon fitofarmaka yang sangat diharapakan berkhasiat untuk
penyakit-penyakit utama
 Ada/ tidaknya efek keracunan akut (single dose), spectrum toksisitas jika ada,
dan sistem organ yang mana yang paling peka terhadap efek keracunan tersebut
(pra klinik, in vivo)
 Ada/ tidaknya efek farmakologi calon fitofarmaka yang mengarah ke khasiat
terapetik (pra klinik in vivo).
2. Tahap biological screening calon fitofarmaka
Pada tahap ini dilakukan analisis kandungan kimia aktif dari tanaman calon
fitofarmaka seperti kandungan flavonoid, alkaloid, steroid, saponin dan terpenoid,
3. Tahap penelitian farmakodinamik calon fitofarmaka
Tahap ini adalah untuk melihat pengaruh calon fitofarmaka terhadap masing-
masing sistem biologis organ tubuh,
 Pra klinik, in vivo dan in vitro
 Tahap ini dipersyaratkan mutlak, hanya jika diperlukan saja untuk mengetahui
mekanisme kerja yang lebih rinci dari calon fitofarmaka.
 Toksisitas Subkronis
 Toksisitas akut
 Toksisitas khas/ khusus

4. Tahap pengujian toksisitas lanjut (multiple doses) calon fitofarmaka

5. Tahap pengembangan sediaan (formulasi) bahan calon calon fitofarmaka

 Mengetahui bentuk-bentuk sediaan yang memenuhi syarat mutu, keamanan, dan


estetika untuk pemakaian pada manusia.
 Tata laksana teknologi farmasi dalam rangka uji klinik
 Teknologi farmasi tahap awal
 Pembakuan (standarisasi): simplisia, ekstrak , sediaan Obat Alam
 Parameter standar mutu: bahan baku Obat Alam, ekstrak, sediaan Obat Alam
6. Tahap uji klinik pada manusia yang sehat dan atau yang sakit
Ada 4 fase yaitu:
 Fase 1 : dilakukan pada sukarelawan sehat
 Fase 2 : dilakukan pada kelompok pasien terbatas
 Fase 3 : dilakukan pada pasien dengan jmlh yang lebih besar dari fase 2
 Fase 4: post marketing survailence, untuk melihat kemungkinan efek samping
yang tidak terkendali saat uji pra klinik maupun saat uji klinik fase 1-3.
Hasil-hasil uji yang diperoleh ditetapkan langkah lanjut oleh Tim yang
berwenang untuk selanjutnya sediaan obat ini dikembangkan dalam bentuk
ramuan atau racikan, diproduksi dan dipasarkan dalam bentuk kemasan yang lebih
aman dari cemaran – cemaran yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
Ramuan atau racikan ini harus memenuhi persyaratan – persyaratan diantaranya :
 Komposisi Ramuan terdiri dari 1 simplisia atau sediaan galenik
 Komposisi ramuan dapat terdiri dari beberapa simplisia/sediaan galenik dengan
syarat tidak boleh melebihi 5 (lima) simplisia /sediaan galenik.
 Simplisia tersebut sekurang-kurangnya telah diketahui khasiat dan keamanannya
berdasarkan pengalaman.
 Penggunaan zat kimia berkhasiat atau Bahan Kimia Obat Sintetis (tunggal/murni)
tidak diperbolehkan/dilarang dalam fitofarmaka.
Bentuk-bentuk sediaan Obat Tradisional (Jamu, OHT dan Fitofarmaka) yang
saat ini beredar di masyarakat secara umum di kelompokkan menjadi 2
kelompok yaitu:
 Sediaan Oral : Serbuk, rajangan, kapsul (ekstrak), tablet (ekstrak), pil
(ekstrak), sirup, dan sediaan terdispersi.
 Sediaan Topikal : Salep/krim (ekstrak), Suppositoria (ekstrak), Linimenta
(Ekstrak) dan bedak.
Pada saat ini di Indonesia sesuai dengan Permenkes RI
No.760/Menkes/Per/IX/1992 tanggal 4 September 1992 pengembangan Obat Tradisional
dalam hal uji aktivitasnya diarahkan ke dalam beberapa uji aktivitas diantaranya adalah :
 Antelmintik
 Anti ansietas (anti cemas
 Anti asma
 Anti diabetes (hipoglikemik)
 Anti diare
 Anti hepatitis kronik
 Anti herpes genitalis
 Anti hyperlipidemia
 Anti hipertensi
 Anti hipertiroidisma
 Anti histamine
 Anti inflamasi (anti Rematik)
 Anti kanker
 Anti malaria
 Anti TBC
 Antitusif / ekspektoransia
 Disentri
 Dispepsia (gastritis)
 Diuretik
DAFTAR PUSTAKA

Yuslianti Reni Euis.,dkk.,2016.,Standardisasi Farmasitikal Bahan Alam Menuju


Fitofarmaka Untuk Pengembangan Obat Tradisional Indonesia., Fakultas
Kedokteran, Universitas Jenderal Ahmad Yani. Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas
Indonesia. Farmakologi Fakultas Farmasi, Universitas Jenderal Ahmad Yani ; Jl. Terusan
Jenderal Sudirman PO BOX 148 Cimahi Jawa Barat : Vol-19;hal 183

Dr.dr.,EM Sutrisna, M.Kes.,2016., Buku Herbal medicine suatu tinjauan


farmakologis.,Universitas Muhammadiyah Surakarta; Jl.A Yani Tromol Pos 1
Kartasura., Jawa Tengah; Hal 8-9.

Departemen Kesehatan RI. 1996. Penelitian Tanaman Obat di Beberapa Perguruan


Tinggi di Indonesia, Jilid I-VIII. Jakarta

Parwata Adi Oka Imade.,2017.,Obat Tradisional., Jurusan Kimia Laboratorium Kimia Organik
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana