Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perilaku Tercela adalah perbuatan yang tidak Diridhoi oleh Allah.

Seorang Menganiaya berarti menyiksa, menyakiti dan berbagai bentuk

ketidakadilan seperti menindas, mengambil hak orang lain dengan paksa dan

lain-lainnya. Aniaya termasuk perbuatan tercela yang dibenci Allah SWT

bahkan sesama manusia. Berbuat Aniaya berarti berbuat dosa. Oleh karena itu,

aniaya akan mendatangkan akibat-akibat buruk yang akan diterima oleh

pelakunya. Dewasa ini banyak sekali perilaku aniaya bahkan telah menjadi

trend dikalangan orang yang memiliki kedudukan tinggi. Mereka selalu

menilai seseorang dan memperlakukan seseorang sesuai dengan status

sosialnya. Bila seorang pejabat telah menilai seseorang itu jauh lebih rendah

dari status sosial yang di jabatnya, bukan tidak mungkin ia akan berbuat

seenaknya sendiri. Sungguh moral manusia sudah sangat rusak akibat perilaku

tercela tersebut.

Disisi lain, Al-Qur’an juga mengemukakan dan memberi peringatan

tentang akhlak-akhlak buruk atau tercela yang dapat merusak iman seseorang

dan pada akhirnya akan merusak dirinya serta kehidupan masyarakat. Akhlak

buruk itulah yang disampaikan oleh rasulullah yang ditunjukkan oleh kaum

Quraisy dahulu untuk memojokkan kebenaran yang disampaikan rasulullah

sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Quraisy seperti Abu jalal,

Walid bin mugirah, Akhnas bin syariq, Aswad bin abdi Yaquts. Oleh karena

ii
itu, iman merupakan suatu pengakuan terhadap kebenaran dan harus

dipelihara serta di tingkat kan kualitas nya melalui sikap dan perilaku terpuji.

Sifat terpuji dan tercela yang tertanam dalam diri manusia selalu

berdampingan dan terlihat dalam perilaku sehari-hari. Apabila perilaku

seseorang menampilkan kebaikan, maka terpujilah sikap orang tersebut.

Sebaliknya, apabila perilaku seseorang menmpilkan kebaikan atau kejahatan,

maka tercelalah sikap orang tersebut. Sifat tercela sangat dilarang oleh Allah

SWT dan harus dihindari dalam pergaulan sehari-hari karena akan merugikan

diri sendiri maupun orang lain.

B. Rumusan Masalah

1. Pengertian Takabur

2. Pengertian Riya

3. Pengertian Aniaya

4. Pengertian Sikap Licik

C. Tujuan Penulisan

1. Mendeskripsikan sikap Takabur

2. Mendeskripsikan sikap Riya

3. Mendeskripsikan sikap Aniaya

4. P Mendeskripsikan sikap Sikap Licik

ii
BAB II

PEMBAHASAN

A. Takabur

1. Pengertian Takabur

Arti takabur secara kebahasaan adalah membesarkan diri sendiri dan

menggap diri sendiri lebih hebat, mulia, dan besar dari orang lain. Secara

istilah takabur memiliki arti sebagai sebuah sikap yang memandang rendah

orang lain baik secara mental, materi, jasmani, maupun rohani. Sifat takabur

sendiri merupakan salah satu sifat yang dibenci Allah SWT dan masuk

kedalam golongan sifat sifat tercela yang dapat menjerumuskan seorang

individu ke jalan yang sesat.

Sifat takabur pertama kali dimiliki oleh iblis dimana pada masa itu

iblis menolak sebuah perintah Allah untukk bersujud kepadaa Nabi Adam

A.S. Hal ini disebabkan karena dia merasa memiliki derajat yang lebih tinggi

dan lebih mulia dibandingkan Nabi Adam A.S. Disebutkan bahwa iblis

mengatakan bahwa ia tercipta dari api sedangkan Nabi Adam tercipta dari

tanah, "Lalu mengapa aku harus bersujud kepada makhluk yang bahkan lebih

rendah dari pada aku?" Tanya iblis dengan sombong dan congkak. Sifat

tercela atau sifat takabur inilah yang akhirnya membuat iblis diusir dari surga

Allah dan direndahkan derajatnya serendah rendahnya. Namun karena

kebaikan yang dilakukannya selama berada di surga, akhirnya Allah SWT

memberikan hidup yang panjang sampai akhir kiamat kepada Iblis dengan

tujuan sebagai cobaan untuk manusia.

ii
Sedangkan menurut penjelasan Rasulullah, sifat takabur merupakan

himpunan dua buah sifat tercela yakni menolak kebenaran dan merendahkan

orang lain. Rasulullah bersabda "Takabur adalah sifat orang yang menolak

atau mengingkari kebenaran dan merendahkan orang lain" (H.R Abu Daun

dan Hakim).

2. Ciri Ciri Takabur

Setelah memahami pengertian takabur diatas maka kita dapat menarik

kesimpulan bahwa ciri ciri orang takabur adalah sebagai berikut ini:

a. Suka membanggakan diri sendiri.

b. Suka memuliakan diri, ilmu, harta, keturunan dan segala yang

dimilikinya.

c. Merendahkan orang lain.

d. Suka menjatuhkan orang lain dan mencela orang lain.

e. Sombong dan berpaling saat bertemu dan diajak berbicara.

f. Suka pemborosan dalam hal duniawi.

g. Memakai perhiasan dan pakaian yang berlebihan.

h. Berbicara dengan nada yang sombong.

Firman Allah tentang takabur dalam surat Al-A'raf (7): 146

Aku akan palingkan tanda tanda kekuasaan-Ku orang yang telah

menyombongkan dirinya di bumi tanpa suatu alasan. Kalau mereka melihat

tanda tanda kekuasaan-Ku mereka tetapp tidak mau beriman padanya. Jika

mereka jalann yang membawa kepadaa petunjuk, maka mereka tidak akan

pernahh menempuhnya. Namun, ketika mereka melihat jalan kesesatann,

ii
mereka dengan segera akan menempuhnya. Hal yang demikian adalahh

karena mereka mendustakann ayat ayat Kami dann mereka selalu lengahh

terhadapnya.

Firman Allah tentang takabur dalam surat Al-Mu'min (40): 60

Sesungguhnya orang orang sombong yang tidak mau menyembahku akan

masuk kedalam neraka Jahanam dalamm keadaan hina.

Sabda Rasulullah Nabi besar Muhammad SAW tentang takabur

Barang siapa mau bertawadu hanya karena Allah SWT, maka ia akan

diangkat derajatnya oleh Allah SWT, dan barang siapaa yang sombong maka

akan diturunkan derajatnya oleh Allah SWT. (dikutip dari H.R Bazzar).

3. Bahaya Takabur

Sifat takabur termasuk kedalam salah satu sifat yang tercela dan

dibenci oleh Allah SWT, telah banyak ayat suci Al-Qur'an maupun hadis

yang menjelaskan keburukan dan bahaya takabur. Pada dasarnya sifat takabur

dapat dibagi menjadi 2 jenis yakni takabur secara lahir dan takabur batin.

- Takabur lahir merupakan perbuatan tercela yang dilakukan oleh anggota

badan dan ditunjukkan melalui gerak tubuh, tutur kata, raut muka dan

sebagainya.

- Takabur batin merupakan sifat tercela yang tidak terlihat karena berada

dala jiwa seseorang. Takabur batin berada dalam hati dan perasaan

seseorang yang menganggap seolah dirinya lebih tinggi dan orang lain

lebih rendah darinya.

ii
Kedua jenis takabur tersebut memiliki bahaya yang sama yakni dapat

menjerumuskan seseorang masuk kedalam api neraka. Maka dari itu sifat

takabur yang notabennya merupakan sifat tercela harus kita hindari dalam

kehidupan kita sehari hari. Kenapa sifat takabur harus kita hindari? hal ini

mengacu kembali dari bahaya sifat takabur yakni:

a. Merusak tingkat pergaulan manusia

Takabur dapat merusak cara pergaulan manusia, dapat

merenggangkan tali silaturahmi antar umat dan menghalangi sikap tolong

menolong dan kasih sayang sesama umat manusia. Hal ini disebabkan

karena orang yang sombong cenderung akan dibenci oleh orang lain

dikarenakan kesombongannya sendiri. Orang lain akan merasa enggan

berhubungan dengan orang yang sombong.

Hal semacam inilah yang dapat mengurangi tingkat pergaulan dan

menimbulkan permusuhan karena pada dasarnya orang orang takabur

selalu membeda bedakan orang dalam berteman. Orang takabur

cenderung tidak akan mau berteman dengan orang yang memiliki derajat

lebih rendah darinya.

b. Takabur dapat menumbuhkan sifat tercela lainnya

Sifat takabur merupakan cikal bakal yang akan mmenumbuhkan

sifat dan akhlak tercela dan buruk yang lainnya seperti perasaan iri dengki

pada orang lain, pembohong, khianat, pemarah dan lain sebagainya. Hal

ini dikarenakan orang takabur akan melakukan segala cara untuk

mempertahankan kemuliaan dirinya.

ii
Bahaya takabur juga dapat menyebabkan orang menjadi beku dan

tidak berkembangkan karena tidak ada usaha untuk memperbaiki dirinya

sendiri. Hal ini disebabkan karena orang orang takabur senantiasa

menganggap dirinya sudah menjadi orang yang paling benar. Sifat

takabur ini juga dapat menjadi bahaya karena dapat menghalangi segala

kebaikan yang akan menjadi penuntun menuju pintu surga.

c. Takabur dapat menghilangkan perasaan dan sifat baik seseorang

Sifat sombong dan takabur dapat mengakibatkan seseorang

menjadi lupa akan perasaan menyayangi dan mencintai sesama mukmin

sebagai mana mereka mencintai dan menyayangi diri mereka sendiri.

Bahaya takabur yang paling besar adalah mereka (orang takabur) akan

dimasukkan kedalam siksa api neraka dan mendapatkan hukuman yang

berat dikarenakan keangkuhan dan kesombongan yang telah mereka

perbuat dimasa ia hidup. Umumnya orang orang takabur akan melupakan

siapa dirinya, dari mana dia berasal dan akan menuju kemana dia. 

Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan bahaya bahaya

takabur tersebut kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa takabur

tidak hanya berbahaya bagi diri sendiri namun juga bahaya terhadap

orang lain karena dapat memecah belah persatuan umat. Orang takabur

akan diturunkan derajatnya dihadapan Allah SWT dan seseorang yang

mau berusaha menjauhi sifat takabur dan memiliki sifat tawadu atau

rendah hati hanya karena ingin mendapatkan ridha Allah maka ia akan

diangkat derajatnya oleh Allah.

ii
Itulah materi tentang sifat dan akhlak tercela takabur yang sedikit

banyak membahas tentang Pengertian Takabur, Ciri Ciri orang takabur dan

Bahaya Takabur yang dapat saya sampaikan dalam artikel kali ini. Senantiasa

ingat bahwa takabur merupakan bentuk sifat dan akhlak tercela yang harus

dihindari. Sekian dan terimakasih.

B. Riya

Dalam Islam adalah merupakan sifat tercela. Namun islam juga

memperbolehkan riya dengan alasan tertentu yang akan dijelaskan di bawah ini.

Pengertian riya dalam Islam adalah memperlihatkan amalan kebajikan, kebaikan

dengan tujuan dilihat dan dipuji orang lain dikarenakan amal tersebut. Tegasnya

pengertian riya adalah mengerjakan sesuatu amal perbuatan dengan tidak ikhlas

yaitu dengan karena sesuatu untuk mendapat perhatian yang lain dari Allah.

1. Hukum sifat riya

a. Riya ibadah yang haram, tetapi tidak merusakkan sahnya suatu amal

ibadah, jadi ibadahnya tetap sah. Suatu contoh jika sholat yang kita

kerjakan memperlihatkan kekhusyu'an sholat, memperlihatkan memnuhi

syarat dan rukunnya, maka sholatnya sah tetapi berdosa. Riya seperti ini

adalah dilarang sesuai dengan dalil firman Allah swt. yang berbunyi :

َ ‫ ٱلَّذ‬ .‫ُون‬
َ ‫ِين هُمۡ ي َُرٓاء‬
‫ُون‬ َ ‫صاَل ت ِِهمۡ َساه‬ َ ‫ ٱلَّذ‬.‫ين‬
َ ‫ِين هُمۡ َعن‬ َ ‫ لِّ ۡل ُم‬ٞ‫ َف َو ۡيل‬ 
َ ِّ‫صل‬

Artinya : Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-

orang yang mengerjakan shalatnya dengan lalai dan riya dengan amal

mereka dan enggan meminjamkan barang yang berguna. 

ii
b. Riya ibadah yang boleh, jika maksudnya adalah ingin mengajar atau

mendidik. Suatu contoh seorang guru agama memperagakan tata cara

sholat yang baik dengan tujuan dan harapan agar murid atau orang yang

melihatnya dapat meniru tata cara sholat yang baik dan benar seperti yang

guru tersebut praktekkan. Contoh lain adalah misalnya, menyebutkan

jumlah sedekah yang ia berikan untuk pembangunan masjid dan lainnya,

dengan maksud agar orang lain berlomba-lomba untuk bersedekah.

2. Jenis atau macam riya yang dilarang

Riya dalam islam itu ada dua jenis yaitu sebagai berikut :

a. Riya dunia yaitu karena mengharapkan jabatan atau kedudukan dalam

hati manusia dengan perantara kerja dunia. Pelaku riya memperlihatkan

semua kemampuannya dalam bekerja dihadapan atasan atau pemimpin

mereka dengan tujuan mendapatkan kedudukan atau pangkat yang lebih

tinggi. Apabila tujuan yang ingin dicapainya tidak berhasil, maka

umumnya pelaku riya seperti ini akan malas dalam bekerja.

b. Riya ibadah, yaitu dalam beribadah tidak karena Allah saja. Suatu contoh

seorang yang sholatdengan bacaan keras supaya didengar dan dilihat oleh

orang lain. Meskipun sholatnya sah, namun pelaku riya seperti ini berdosa

karena riya.

Sifat riya adalah termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya.

Adapun bahan yang dapat dijadikan sebagai alat untuk perbuatan riya atau

pamer adalah sebagai berikut :

a. Tubuh

b. Pakaian

ii
c. Ucapan

d. Perbuatan

e. Pengikut

Ada juga perbuatan riya dengan menggunakan hal-hal lain seperti

yang sudah disebutkan di atas, yang paling buruk di antaranya semuanya

adalah perbuatan riya dengan berkedok agama.

a. Perbuatan riya memamerkan tubuh

Seseorang memamerkan tubuhnya sehat, karena mengatakan kepada

orang lain bahwa yang ia makan adalah makanan yang diperolehnya

dengan cara halal, menganggap dirinya bersih dan tidak pernah berbuat

yang haram dan dilarang serta syubhat (tidak mendekati haram atau

halal). Secara singkat riya ini adalah menganggap bahwa dirinya adalah

bersih dari barang yang haram.

b. Perbuatan riya hiasan

Pelaku riya ini adalah memamerkan dan memperlihatkan perhiasannya

yang banyak, pakaiannya bagus-bagus, mahal dan melebihi orang lain.

Atau bisa juga sebaliknya, ia memakai pakaian yang kasar agar dianggap

orang sudah zuhud (menjauhi keduniaan)

c. Riya dengan ucapan

Adalah riyanya ahli agama dengan cara memperlihatkan, memamerkan

ilmunya yang cukup banyak dengan ucapan-ucapan yang mengandung

hikmat, bercepat-cepat mengucapkan hadits yang diucapkan orang lain itu

tidak saheh dan yang saheh adalah ini dan itu dengan maksud ingin

memamerkan dan menunjukkan ilmu dan kepandaiannya. Pelaku riya

ii
ucapan ini juga gemar berbantah dengan tujuan untuk menjatuhkan lawan

bicaranya sehingga berharap orang lain menganggap dirinya yang benar-

benar alim.

d. Riya dengan amal perbuatan

Contoh riya dengan perbuatan misalnya riya dengan menunjukkan

lamanya berdiri pada waktu sholat, panjang sujud dan ruku' yang

dilakukan, melamakan wiridnya yang kesemuanya itu dilakukan dengan

niat pamer.

e. Riya dengan banyak pengikut

Suatu contoh misalnya dengan mengatakan bahwa ia memiliki banyak

pengikut, banyak tamu serta banyak relasi atau teman-teman

hubungannya. Contoh lain adalah orang yang memaksakan agar

dikunjungi oleh ulama yang terkenal dan terkemuka dengan tujuan agar

orang-orang membicarakannya bahwa ulama terkenal itu berziarah ke

rumahnya, dan para ahli agama itupun senang kepadanya.

Riya dengan tujuan pamer belaka adalah merupakan sifat tercela yang

dilarang dan diharamkan oleh Allah swt. Oleh sebab itulah kita harus

menghindari berbagai macam jenis riya yang dilarang, baik riya dunia mauoun

riya ibadah.

C. Aniaya

Dalam bahasa arab disebut “zalim” yang berarti melampaui batas,

melanggar ketentuan, keterlalun atau menempatkan sesuatu permasalahan tidak

pada proporsinya. Aniaya (kezaliman) dapat diartikan sebagai perbuatan yang

melampaui batas-batas kemanusiaan dan menentang atau menyimpangdari

ii
ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT. Allah SWT berfirman :

‫ُون‬
َ ‫الظالِم‬ َ ‫ َو َمنْ َي َت َع َّد ُح ُدو َد هَّللا ِ َفأُو ٰلَئ‬Artinya : “Barang siapa yang melanggar hukum-
َّ ‫ِك ُه ُم‬

hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah : 229)

Aniaya atau zalim termasuk sifat tercela yang dikutuk Allah, dilaknat para

malaikat dan dibenci sesama. Aniaya atau zalim termasuk perbuatan dosa yang

dapat menjatuhkan martabat pelakunya dan merugikan pihak lain.

Macam-macam Aniaya Sikap dan perilaku aniaya atau kezaliman, dapat

terjadi terhadap Allah SWT, terhadap diri sendiri, terhadap orang lin dan

terhadap alam sekitar atau lingkungan. 1). Aniaya (zalim) Terhadap Allah SWT.

Kezaliman terhadap Allah SWT, yaitu tidak adanya pengakuan yang jujur,

keimanan yang benar, bahwasanya kita manusia telah diciptakan Allah SWT

untuk menjadi “Abdullah” (hamba Allah) dengan tidak menyekutukannya

dengan sesuatu apapun dan sebagai “Kholifatullah” (Khalifah Allah) yakni

pengatur, pengelola dan pemakmur alam jagadraya ini dengan segala ktentuan

dan aturan yang telah Allah SWT tetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah-Nya.

Apabila kita tidak mengikuti ketentuan tersebut berarti kita telah

tergolong kepada orang yang telah berbuat aniaya (zalim) terhadap Allah SWT.

Allah SWT berfirman : ‫ُون‬ َ ,‫ز َل هَّللا ُ َفأُو ٰلَ ِئ‬,


َّ ‫ك ُه ُم‬
َ ‫الظالِم‬ َ ,‫ َو َمنْ لَ ْم َيحْ ُك ْم ِب َما أَ ْن‬Artinya : “Barang

siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka

mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah : 45) 2). Aniaya

(zalim) Terhadap Diri Sendiri Aniay terhadap diri sendiri misalnya mmbiarkan

diri sendiri dalam keadaan bodoh dn miskin, karena malas, meminum minuman

keras, menyalah gunakan obat-obatan terlarang (narkoba), menyiksa diri sendiri

dan bunuh diri (sebagai akibat dari tidak mensyukuri nikmat pemberian Allah

ii
SWT) Allah SWT berfirman : َ ‫يل هَّللا ِ َواَل ُت ْلقُوا ِبأ َ ْيدِي ُك ْم إِلَى ال َّتهْلُ َك ِة ۛ َوأَحْ سِ ُنوا ۛ إِنَّ هَّللا‬
ِ ‫َوأَ ْنفِقُوا فِي َس ِب‬

َ ‫ ُيحِبُّ ْالمُحْ سِ ن‬Artinya : “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan
‫ِين‬

janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dengan tanganmu kepada

kecelakaan, dan berbuat baiklah karena swesungguhnya Allah menyukai orang-

orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah  :195) 3).

Aniaya (zalim) Terhadap Sesama Manusia Aniaya terhadap sesama

manusia seperti ghibah (mengumpat), naminah (mengadu domba), fitnah,

mencuri, merampok, melakukan penyiksaan dn melakukan pembunuhan, berbuat

korupsi dan manipulasi. Allah SWT berfirman : ‫اس أَ ْش َيا َء ُه ْم َواَل َتعْ َث ْوا فِي‬
َ ‫َواَل َتب َْخسُوا ال َّن‬

ِ ْ‫ اأْل َر‬Artinya :’......Dan janganlah kamu berbuat kejahatan di muka bumi


َ ‫ض ُم ْفسِ د‬
‫ِين‬

dengan membuat kerusakan.” (QS. Hud  : 85) Rasulallah SAW dalam haditsnya

bersabda : Artinya : “Barang siapa yang merampas hak orang muslim lainnya,

dengan sumpahnya Allah mewajibkan neraka dan mengharamkan surga baginya.

Salah seorang sahabat bertanya, “Walaupun hanya merampas sesuatu yang

sederhana, ya Rasulallah?” Nabi bersabda: “Walaupun hanya sepotong kayu

urok.” (HR. Bukhari) 4).

Aniaya (zalim) Terhadap Alam (lingkungan) Berbuat zalim terhadap alam

adalah merusak kelestarian alam, mencemari lingkungan, menebang pepohonan

secara liar, menangkap dan membunuh binatang tanpa mengindahkan aturan,

sehingga akibat dari perbuatan itu dapat mrugikan alam dan merugikan

ِ ْ‫َوإِ َذا قِي َل لَ ُه ْم اَل ُت ْفسِ ُدوا فِي اأْل َر‬


َ ‫ض َقالُوا إِ َّن َما َنحْ نُ مُصْ لِح‬
masyarakat. Allah SWT berfirman : ‫ُون‬

Artinya : “Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat

kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang

yang mengadakan perbaikan". (QS. Al-Baqarah  :11) ‫ ِر ِب َما‬,ْ‫رِّ َو ْال َبح‬,‫ا ُد فِي ْال َب‬,‫َظ َه َر ْال َف َس‬

ii
َ ‫ض الَّذِي َعمِلُوا لَ َعلَّ ُه ْم َيرْ ِجع‬
‫ُون‬ ِ ‫ت أَ ْيدِي ال َّن‬
َ ْ‫اس لِ ُيذِي َق ُه ْم َبع‬ ْ ‫ َك َس َب‬Artinya : “Telah terjadi kerusakan

di darat dan di laut, karena usaha tangan manusia supaya merasakan kepada

mereka sebagai akibat kerja mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang

benar).” (QS. Ar-Rum : 41)

Bahaya dan Keburukan Perbuatan Aniaya Adapun bahaya dan keburukan

sebagai dampak dari perbuatan aniaya (zalim)  dapat menimpa pelaku

(penganiaya), orang yang dianiaya, dan masyarakat. 1). Bahaya / Keburukan

yang akan dialami oleh Penganiaya antara lain : 2). Hidupnya tidak akan

disenangi, melainkan dijauhi bahkan dibenci masyarakat. Allah SWT berfirman

dalam Qs. Al-Mu’minun :18 ! 3). Hidupnya tidak akan tenang, karena dibayangi

rasa takut. 4). Mencemarkan nama baik dirinya, dan keluarganya 5).

Mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan aniaya yang

dilakukannya. 6). Mendapat siksa dengan dicampakkan kedalam api neraka (lihat

Qs. Al-Maidah, 5 : 39) 7). Dalam kehidupannya tidak akan mendapat pelindung

atau penolong. Allah SWT dalam Qs. As-Syura ayat 8! ‫ُون َما لَ ُه ْم مِنْ َولِيٍّ َواَل‬ َّ ‫َو‬
َ ‫الظالِم‬

ٍ ِ‫ َنص‬Artinya : “Tiadalah bagi orang zalim itu pelindung atau penolong.” (QS.
‫ير‬

Asy-Syura : 8)

Bahaya / Keburukan yang akan dialami oleh yang dianiaya dan

masyarakat, diantaranya : 1). Ketenangan dan ketentraman dalam hidupnya

terganggu. 2). Menumbuhkan keresahan dan kekerasan di masyarakat. 3).

Mengalami kerugian dan bencana, baik berupa kehilangan harta benda,

penganiayaan terhadap fisik mental bahkan sampai kehilangan jiwa. 4).

Semangat dan gairah kerja bik prindi maupun masyarakat akan menurun, karena

dibayangi rasa takut terhadap perbuatan-perbuatan jahat orang zalim. 5). Allah

ii
SWT akan menurunkan azabNya, apabila kezaliman di suatu negri atau suatu

kelompok msyarakat sudah meraja lela. Allah SWT berfirman dalam Qs. Yunus

َ ‫ َولَ َق ْد أَهْ لَ ْك َنا ْالقُر‬Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah


ayat 13 : ‫ُون مِنْ َق ْبلِ ُك ْم لَمَّا َظلَمُوا‬

membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman.”

(QS. Yunus :13) Upaya Prefentif untuk Menghindari Diri dari Perbuatan Aniaya 

Setiap insan wajib berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi perbuatan

aniaya (zalim).

Diantara usaha tersebut antara lain : 1). Kesadaran akan eksistensi diri

untuk selalu berbuat baik, ramah, dan sopan santun terhadap semua makhluk

Allah ! Rasulallah Saw bersabda : Artinya : “ Sesungguhnya Allah SWT

mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Bila kamu membunuh, baik-

baiklah cara membunuhnya. Bila kamu menymbelih binatang, baik-baiklah cara

menyembelihnya. Hendaklah salah seorang diantara kamu menajamkan pisaunya,

dan hendaklah ia mempercepat mati binatang sembelihnnya.” (HR. Muslim). 2).

Berusaha menegakan keadilan dan kebaikan terhadap diri sendiri, orang lain dan

ْ ‫أْ ُم ُر ِب ْال َع‬,,,‫ إِنَّ هَّللا َ َي‬Artinya : “


ِ ,,,‫د ِل َواإْل ِحْ َس‬,,,
masyarakat. Allah SWT berfirman :  ‫ان‬

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya berlaku adil dan berbuat kebaikan.”

(QS. An-Nahl : 90) 3). Meningkatkan kehati-hatian bahwa segala bentuk

perselisihan, permusuhan, kedengkian dan peruskn trhadp sesama manusia dan

alam semesta pad akhirnya dpat merugikan diri sendiri. 4). Meningkatkan

kesadaran bahwa manusia itu tidak dapat berdiri sendiri, memerlukan bantuan

dari orang lain dan bantuan dari alam. Apabila mereka dirugikan akibat

perbuatan zalim yang pernah dilakukan kita, mereka pun akan menjauhi dan

tidak menutup kemungkinan mereka balik menzalimi. 5). Meningkatkan

ii
kesadaran bahwa sebenarnya manusia telah banyak melakukan kezaliman,

kurang patuh pada orang tua, salatpun terkadang tidak tept waktu dn lainnya. Hal

ini jangan sampai ditambah lagi dengan kezaliman yang lainnya. Oleh karena itu

kita senantiasa memohn kepada Allah SWT supaya dijauhkan dari sifat-sifat

demikian. Allah SWT dalam firmannya : ‫رْ لَ َنا َو َترْ َح ْم َنا‬,,ِ‫ َنا َوإِنْ لَ ْم َت ْغف‬, ‫ااَل َر َّب َنا َظلَمْ َنا أَ ْنفُ َس‬,‫َق‬

َ ‫ لَ َن ُكو َننَّ م َِن ْال َخاسِ ِر‬Artinya : Keduanya berkata: “ Ya Tuhan, kami telah menganiaya
‫ين‬

diri kami sendiri dn jika Engkau  tidak mengampuni kami dan membri rahmat

kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Araf :

23)

D. Sikap Licik

1. Pengertian Sikap Licik

Sikap licik merupakan salah satu sifat negatif yang sangat

membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain.  Licik berarti banyak

akal yang buruk, pandai menipu, culas, curang, dan licin;

2. Ciri-Ciri Orang Licik

Sikap licik sangat berbahaya, sehingga jangan sampai sifat tersebut

ada pada diri kita dan kita juga harus waspada terhadap orang yang bersifat

licik. Berikut ini ciri-ciri sifat licik :

a. Tidak suka melihat orang lain bahagia

Orang seperti ini hatinya sedih dan gelisah ketika melihat orang

lain bahagia. Ketika ia melihat saudara atau temannya meraih sukses,

maka ia iri lalu berkomentar yang negatif. Bahkan ia berharap

kebahagiaan yang diperoleh saudaranya itu bisa pindah kepada dirinya.

Jika tidak bisa ia berharap nikmat tersebut lenyap. Sesungguhnya ini

ii
adalah sikap hasad. Tetapi licik lebih berbahaya karena orang yang licik

sangat aktif untuk menghalang-halangi orang agar gagal.

b. Bahagia melihat orang lain menderita

Ciri yang kedua adalah orang licik bahagia dan senang jika ada

teman atau saudaranya mengalami musibah dan penderitaan. Rasa

bahagia dan senangnya tersebut diekspresikan dalam raut muka dan

ucapan maupun disembunyikan di hati dan perasaannya

c. Berpikir Untuk Mencelakakan Orang Lain

Ciri yang ketiga orang licik mempunyai rencana-rencana negatif,

di mana ingin menghalang-halangi agar orang lain gagal. Serta lebih jauh

dari itu ia menghalalkan segala cara untuk membuat lain menderita

bahkan ia tidak sportif dan kadang-kadang menggunakan orang lain untuk

mencapai tujuan buruknya.

d. Ingin Serba Jalan Pintas

Orang licik kerap kali ketika menginginkan sesuatu ia tidak mau

melalui sebuah proses. Inginnya cepat-cepat berhasil.

e. Pandai Menipu

Untuk memuluskan siasatnya yang licin, orang yang licik akan

suka menipu dan berbohong serta bersilat lidah.

ii
“Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. tanda orang munafik ada tiga:

ketika ia bicara ia berdusta, jika ia berjanji ia mengingkari dan ketika ia

dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari)

3. Bahaya Sifat Buruk Bagi Orang Lain

a. Seringkali kita jumpai orang yang sikut sana-sikut sini untuk mencapai

tujuannya. Demi memuaskan hawa nafsunya ia tidak segan-segan berbuat

licik. Padahal keinginan bisa terwujud tanpa harus berbuat licik.

Bagaimana pun licik adalah sikap yang tidak disukai oleh manusia

manapun.

b. Licik membuat seseorang menjadi serakah. Orang yang licik nafsunya

tidak pernah ada ujungnya. Ia berbuat seperti orang haus yang meminum

air laut. Makin diminum makin haus.

c. Orang yang licik inginnya menjadi nomor satu, tidak peduli dengan

kemampuannya yang tidak seberapa. Ia akan berusaha menyingkirkan

orang yang bisa menghalangi ambisinya.

d. Kurang Iman. Sudah pasti orang yang licik imannya kurang makanya ia

berbuat seperti itu. Orang yang berperilaku licik patut dikasihani karena

kurang iman. Hatinya jauh dari mengingat  Allah. Ia lupa kalau  Allah

selalu mengawasi  perilaku hamba-Nya.

ii
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka

mengatakan: «Kami telah beriman». dan bila mereka kembali kepada

syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: «Sesungguhnya Kami

sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.» (QS. Al

Baqarah [2] : 14)

e. Selagi ia butuh ia mendekat, dan selagi ia tidak butuh ia menjauh kan diri,

dan menceritakan semua kejelekan dan memfitnah orang tersebut. Tanpa

ia mengingat budi dan kebaikan selama ia berteman pada orang tersebut,

ia seperti kacang lupa dengan kulitnya.

4. Bahaya orang licik Bagi Diri Sendiri

a. Batinnya selalu resah dan gelisah. Hatinya tidak akan tenang.

b. Hidupnya tidak berkah. Jika ia menafkahi keluarga dengan jalan licik lalu

anak diberi makan yang tidak halal, maka akan menjadi daging

c. Hidupnya penuh dengan fitnah. Orang yang licik hidupnya penuh dengan

cobaan.

d. Dimanapun ia berada selalu mengalami cobaan. Fitnah akan datang dikala

orang melihat apa yang ia dapat tidak dengan cara yang wajar.

e. Ia penuh dengan dosa, Karena berbuat licik tidak akan diridhoi Allah Swt.

dan dikutuk orang-orang.

f. Akhir hidupnya Su’ul Khotimah.

ii
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari referensi yang kami baca, maka dapat di simpulkan

bahwa didalam diri manusia terdapat dua sifat, yaitu sifat terpuji dan sifar tercela.

Namun pada makalah ini kami hanya membahas tentang sifat tertcela yang di

larang dalam islam. Banyak sekali sifat-sifat tercela yang ada tetapi kami hanya

mengambil beberapa diantaranya adalah buruk sangka, gibah, boros, hasad, dan

namimah. Perilaku tercela merupakan perilaku yang sangat di benci oleh Allah

Swt dan Nabi Muhammad saw karena sifat ini dapat merusak jasmani dan rohani

dari orang yang melakukan sifat tercela tersebut. Allah telah berfirman di dalan

kitab suci al-Qur’an dan Rasulullah saw pun telah bersbda lewat hadist-hadistnya

untuk menjauhi sifat tercela tersebut. Karena sifat tercela dapat merugikan diri

sendiri dan orang lain.

B. Saran

Sebaiknya kalian menjauhi sifat-sifat tercela tersebut, karena dapat

merusak aqidah kita. Dan agar kita bisa selamat dunia dan akhirat.

ii
DAFTAR PUSTAKA

Admin. (2015). Seorang Ibu Gergaji Anak Kandungnya Di Cipulir.Diakses pada


tanggal 23 Oktober 2015 dari
http://news.okezone.com/read/2015/07/03/338/1175811/seorang-ibu-
gergajianak-kandungnya-di-cipulir

Najati, M. Utsman, al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, Bandung: Pusaka, 1985.


Syukur, Amin, Pengantar Agama Islam, Semarang: CV. Bima Sejati, 2006.
Yahya, Imam, bin Hamzah, Kiat Mengendalikan Nafsu, Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya, 2001.

Read more: T A K A B U R ~ Kumpulan Makalah & Artikel https://makalah-


ibnu.blogspot.com/2010/01/t-k-b-u-r.html#ixzz4tsnbGb4Y 
Under Creative Commons License: Attribution Share Alike

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt, karena atas limpahan

rahmatnya, sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan dan telah rampung.

Makalah ini berjudul“MENGHINDARI AKHLAK TERCELA”. Dengan tujuan

penulisan sebagai sumber bacaan yang dapat digunakan untuk memperdalam

pemahaman dari materi ini

Selain itu, penulisan makalah ini tak terlepes pula dengan tugas mata kuliah

Pendidikan Agama Islam. Namun penulis cukup menyadari bahwa makalah ini jauh

dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran

pembaca yang bersifat membangun.

Pinrang, 27 September 2017

Penulis.

ii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul............................................................................................... i

Kata Pengantar.................................................................................................. ii

Daftar Isi............................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.......................................................................... 1

B. Rumusan Masalah..................................................................... 2

C. Tujuan Penelitian...................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Takabur................................................................... 3

B. Pengertian Riya......................................................................... 8

C. Pengertian Aniaya .................................................................... 11

D. Pengertian Sikap Licik.............................................................. 16

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan............................................................................... 20

B. Saran.......................................................................................... 20

Daftar Pustaka................................................................................................... 21

ii
ii