Anda di halaman 1dari 1421

http://kangzusi.

com/

A
Annaak
kHHaarriim
maau
u
Karya : Siau Siau
Editor : aaa & Dewi KZ
Ebook pdf oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://cerita-silat.co.cc/ http://kang-zusi.info/
http://kangzusi.com/

Bab 1
KUBURAN KUNO DI TENGAH HUTAN
Matahari bersinar cerah menyoroti telaga Huan-yang ou
yang beriak karena hembusan angin, udara tampak cerah
dan bersih, udara di musim gugur memang terasa lebih
nyaman dan semilir.
Sebuah perkampungan nelayan berdiri di tepi telaga,
rumah bambu yang berjajar di antara sela-sela dedaunan
nan hijau tampak berderet memanjang menampilkan suatu
pemandangan yang indah.
Sepanjang bendungan tampak jala yang dibentangkan di
bawah terik matahari, nona-nona muda duduk berkumpul
di bawah pohon yang rindang sambil menambal jala-jala
yang robek.
Kaum wanita dan ibu-ibu sedang mencuci pakaian di
tepi telaga, sedang anak-anak saling berkejaran diiringi
teriakan dan jeritan gembira.
Saat itu, sekumpulan gadis nelayan sedang duduk
berkerumun sambil membicarakan seorang tamu dari utara
yang menginap di rumah Thio lopek, seorang kakek yang
ramah bersama seorang gadis yang cantik dan seorang anak
lelaki berkulit hitam..
Tampaklah seorang gadis nelayan berbaju hijau yang
berambut kepang, sambil menghentikan sulamannya
memandang ke arah seorang gadis berbaju kembang-
kembang di hadapannya sana, kemudian berseru:
"Enci Ing cun, nampaknya sahabat dari Thio lopek
adalah seorang yang berwajah hokki, coba lihat rambutnya
yang putih, jenggotnya yang berwarna perak, kalau berjalan
http://kangzusi.com/
halus dan lembut, tidak seperti Thio lopek, mana matanya
segede jengkol, alis matanya tebal, kumisnya malang
melintang, hiiih, mengerikan .."
"Aaah, Ji-niu, masa kau tidak tahu? Thio Lopek kan
seorang jago silat sedang tamu dari utara ia orang
sekolahan, tentu saja berbeda," sela seorang nona bercelana
hijau.
Seorang nona berumur lima enam belas tahun lainnya
ikut menimbrung dengan wajah serius.
"Aku rasa tamu dari utara itupun seorang ahli silat,
buktinya setiap kali ke tiga putra Thio lopek beradu silat
dengan si bocah jaliteng dari utara itu, yang kalah selalu ke
tiga putra Thio lopek "
"Yaa.. yaa, betul, apa yang dikatakan adik Kim-hoa
memang benar," gadis nelayan yang bernama Ing-cun itu
berseru cepat: "apalagi si nona cantik dari utara itu, mana
bajunya serba merah, cantik lagi, hakekatnya seperti cabe
merah. Sekali melompat ke atas, atap rumah orangpun
dilalui. . ."
Belum habis dia berbicara, mendadak dari arah dusun
sana terdengar suara bentakan gusar.
Diikuti sekumpulan anak-anak desa bersorak sorai dan
berlarian menuju ke dalam hutan bambu di tepi dusun.
Nona-nona nelayan itu segera melongok bersama ke arah
hutan bambu, kemudian salah seorang diantaranya berseru
sambil tertawa:
"Nampaknya ke tiga orang putra Thio Lopek lagi-lagi
menantang si Jaliteng untuk berduel!"
Belum habis dia berbicara, sorak sorai anak-anak dusun
itu kembali berkumandang dari balik hutan bambu.
http://kangzusi.com/
Mendengar sorakan itu, nona-nona nelayan itu saling
berpandangan sambil tertawa, seakan akan mereka berkata:
"Sudah pasti Thio Toa-keng anaknya Thio lopek kena
dibanting lagi oleh si Jaliteng!"
Mendadak mencorong sinar terang dari balik mata
seorang nona nelayan, lalu jeritnya kaget:
"Hei, coba kalian lihat!"
Ketika semua orang berpaling, tampaklah dari atas
tanggul telaga lebih kurang puluhan kaki di depan sana,
muncul sesosok bayangan kecil yang mengenakan jubah
panjang.
Tapi oleh karena ilalang yang tumbuh di sekitar tanggul
amat tinggi dan bergoyang terhembus angin, maka
bayangan itu tidak nampak jelas, tapi mereka yakin kalau
orang itu adalah seorang sekolahan dari kota, sebab di
seluruh dusun nelayan itu tak pernah dijumpai ada orang
yang mengenakan jubah panjang.
Lambat laun bayangan itu makin mendekat, sekarang
baru terlihat jelas, ternyata bayangan kecil itu adalah
seorang bocah lelaki berbaju biru. Bocah lelaki itu berusia
lima enam belas tahunan, berwajah tampan dan bergigi
putih, tubuhnya tegap dan mukanya ganteng, sungguh
nampak menarik hati.
Terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli, penuh
dengan pancaran sinar kecerdasan.
Ujung bajunya yang berwarna biru berkibar terhembus
angin, sedang sorot matanya yang jeli memandang ke sana
ke mari, agaknya dia sedang menikmati keindahan alam di
sekitar telaga.
http://kangzusi.com/
Wajahnya yang tampan tampak berubah ubah,
sementara keningnya kadangkala berkerut, kadangkala pula
senyuman menghiasi bibirnya.
Dengan terkesima, kawanan gadis nelayan itu
memperhatikan wajah pemuda itu, seakan akan mereka
sedang menyaksikan sesuatu yang sangat indah.
Sebaliknya pemuda itu seakan akan tak pernah melihat
kalau di bawah pohon yang rindang, duduk sekelompok
gadis nelayan yang sedang memperhatikannya.
Karena waktu itu dia sedang melamun, ia sedang
berpikir bagaimana dia harus melaporkan kisah
perjumpaannya dengan bibi Wan kepada ayahnya sesudah
tiba di dalam kuburan kuno di tengah hutan nanti,
Teringat akan keagungan wajah Bibi Wan nya itu,
kembali sepasang alis matanya berkerut.
Ia tidak tahu kalau ayahnya masih mempunyai seorang
adik perempuan yang sudah setengah umur namun
berwajah cantik, bahkan ibunya yang telah meninggal lima
tahun berselangpun tak pernah membicarakan tentang soal
ini, hal mana membuatnya merasa bingung dan tak habis
mengerti.
Dia pun tak tahu apa isi kotak kecil yang diperintahkan
oleh ayahnya untuk diserahkan kepada Bibi Wan, tapi
kalau dilihat dari sikap ayahnya ketika berpesan sebelum
berangkat, dapat dipastikan isi kotak tersebut tentu barang
berharga.
Tapi kalau membayangkan sikap tegang dan gugup yang
terpancar dari wajah Bibi Wan setelah menyaksikan isi
kotak itu, dapat diduga pula kalau benda itu adalah sebuah
benda yang luar biasa.
http://kangzusi.com/
Mendadak ia tertawa lagi, mukanya kembali berseri,
hatinya menjadi riang gembira lagi.
Sebab dia terbayang pula dengan Ciu Siau cian, putri
tunggal Bibi Wan nya itu.
Enci Cian berusia setengah tahun lebih tua, mukanya
putih halus, wajahnya cantik jelita, dia adalah seorang gadis
cantik, yang alim dan baik hati.
Selama tiga hari dia berada di rumah bibi nya, gadis itu
jarang tertawa atau berbicara tapi perhatian terhadap
dirinya amat besar.
Sekalipun ia jarang berbincang-bincang dengan Enci
Cian, ketika ia sedang duduk di sisinya. duduk
membungkam sambil menikmati kecantikan wajahnya dan
keanggunan sikapnya.
Terutama sekali sepasang mata Enci Cian yang jeli
dengan alis mata yang lentik, membuat siapa saja yang
memandangnya merasa amat nyaman-
Sorak sorai serombongan anak dusun dengan cepat
membuat pemuda berbaju biru itu mendusin kembali dari
lamunannya.
Ia lantas mendongakkan kepalanya ke depan, dijumpai
nya serombongan anak sebaya dengan usianya sedang
berteriak, bersorak dan menggoyang-goyangkan tangannya
di dalam hutan bambu..
Rasa ingin tahu dan dorongan sifat ke kanak-kanakannya
membuat pemuda itu berjalan, menuju ke hutan tanpa
terasa.
Tapi baru berapa langkah kembali dia menjadi ragu,
karena pesan dari Bibi Wan kembali mendengung di sisi
telinganya.
http://kangzusi.com/
".langsung pulanglah ke rumah, jangan berhenti di
tengah jalan lagi.."
Maka dia hanya melirik sekejap ke arah hutan bambu,
kemudian melanjutkan kembali perjalanannya
Dia masih ingat, setelah melewati dusun nelayan itu, dia
harus menelusuri sebuah jalan setapak di arah barat laut
sana.
Mendadak terdengar suara bentakan gusar menggema di
dalam hutan, diikuti anak-anak dusun yang sedang bersorak
sorai itu membuyarkan diri ke mana-mana.
Tak tahan pemuda berbaju biru itu segera berpaling,
dengan cepat ia menjumpai. seorang anak lelaki berkulit
hitam dan berbaju hitam, berusia paling banyak empat belas
tahun terlempar ke luar dari balik hutan bambu.
Menyusul kemudian muncul tiga orang anak dusun yang
berperawakan lebih besar dari anak berkulit hitam itu
dengan mata melotot, mereka menyusul ke luar sambil
mengepalkan tinjunya.
Dasar pemuda berbaju biru ini memang berjiwa
pendekar, hawa amarahnya segera berkobar sesudah
menyaksikan kejadian itu, dia lupa dengan pesan bibi Wan,
dengan suara lantang bentaknya:
"Cepat berhenti, masa kalian bertiga mengerubuti satu
orang? Huuh, tak tahu malu."
Sambil membentak, ia turut menubruk ke muka.
Serentak empat orang anak yang sedang berkelahi segera
berhenti saling memukul, sedang anak-anak nakal yang
berada di sekitar hutan bambupun sama-sama mengalihkan
sorot mata mereka yang terkejut ke arah pemuda baju biru
itu.
http://kangzusi.com/
Menanti pemuda berbaju biru itu semakin mendekat, ia
baru merasa kalau keadaan agak kurang beres, sebab empat
orang anak yang berkelahi tadi kecuali seorang anak
bertubuh agak besar yang sedang melotot gusar ke arahnya,
tiga orang yang lain telah berdiri berjajar sambil tertawa.
Tergerak hati pemuda baju biru itu dan ia segera
menahan gerak terjangannya.
"Aaah, jangan-jangan mereka sedang bermain-main?"
demikian dia lantas berpikir.
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya,
anak yang melotot gusar telah maju menghampirinya
dengan sepasang kepalannya dikepalkan kencang-kencang.
Pemuda berbaju biru itu sangat menyesal, ia merasa
tidak seharusnya mencampuri urusan orang lain, tapi
hatinya mendongkol juga setelah melihat tampang anak
desa yang jumawa itu.
Setibanya satu kaki di hadapannya, anak dusun itu
melotot gusar ke arah pemuda berbaju biru itu. kemudian
tegurnya dengan suara dalam:
"Hei, kau datang dari mana? Mau ikut-ikutan yaa?"
Pemuda berbaju biru itu berdiri tenang, tapi melihat
sepasang kaki lawan bersikap dalam bentuk kuda-kuda,
sepasang tinjunya dikepal kencang-kencang, jelas ia
bermaksud hendak berkelahi, amarahnya makin berkobar.
Ia mencoba berpaling ke arah bocah dusun yang lain,
dua orang anak yang terlibat dalam perkelahian tadi,
seorang anak berbadan gemuk seperti babi kecil, dan
seorang anak kurus seperti monyet sedang tertawa haha hihi
sambil berbisik-bisik dengan anak berkulit hitam itu.
http://kangzusi.com/
Sementara dia masih mengamati anak-anak itu, si anak
dusun yang menantangnya telah membentak keras:
"Hai, aku bertanya kepadamu datang dari mana,
mengapa kau tidak menjawab?"
Pemuda berbaju biru itu menjawab dengan hati
mendongkol.
"Aku datang dari mana, apa urusannya denganmu?"
Didamprat dengan pedas, anak dusun itu jadi terbelalak
dengan wajah merah padam.
Sedang anak-anak dusun lainnya yang berada di sekitar
hutan segera tertawa terbahak-bahak mentertawakannya.
Salah seorang di antaranya, seorang anak berbaju robek
segera mengejek ke arah anak dusun itu.
"Hmm, Thio Toa-keng, biasanya kau cuma berani
menganiaya kami, coba rasain hari ini”
Dengan gemas Thio Toa-keng melotot sekejap ke arah
anak berbaju robek itu, kemudian kepada si pemuda berbaju
biru teriaknya lagi:
"Kalau memang tak ada sangkut pautnya, mengapa pula
kau datang mengacau permainan kami?"
Agak memerah juga wajah si pemuda baju biru itu. tapi
ia berteriak pula dengan mendongkol:
"Belum pernah kujumpai orang yang tak tahu aturan
seperti kau. " Kemudian setelah melotot sinis ke arah Thio
Toa-keng, dia membalikkan badan siap akan pergi.
Karena dia teringat lagi dengan pesan Bibi Wan nya,
maka ia tak berani berada terlalu lama di situ.
http://kangzusi.com/
Suatu bentakan keras tiba-tiba menggema memecahkan
kesunyian itu, angin menderu-deru dan sesosok bayangan
manusia telah menghadang di depan lelaki berbaju biru itu.
Dengan perasaan gusar pemuda berbaju biru itu mundur
ke belakang, belum sempat ia menegur, anak-anak dusun
lainnya telah bersorak sorai.
"Hoooree- hooooree- Enci Soat telah datang, Enci Soat
telah datang- “
Serta merta pemuda berbaju biru itu berpaling, dia
saksikan sesosok bayangan merah berkelebat lewat dari
balik hutan bambu, lalu di depan kawanan anak dusun itu
telah berdiri seorang anak perempuan berbaju merah darah
yang menyoren pedang pendek.
Anak perempuan berbaju merah itu berumur empat lima
belas tahun, mukanya yang putih berbentuk potongan
kwaci, matanya jeli dan besar, hidungnya mancung,
bibirnya tipis, di atas rambutnya yang panjang tampak
sebuah pita berbentuk kupu-kupu.
Sarung pedang di punggungnya berwarna merah
menyala, sepatunya juga berwarna merah dengan sepasang
bola merah di ujung sepatu tersebut.
Dengan kening berkerut dan bertolak pinggang, nona
cilik itu sedang mengawasi si pemuda berbaju biru dengan
sorot mata tajam.
Pemuda baju biru itupun sedang menatap ke arahnya,
dia hanya merasa dari balik hutan bambu muncul sebuah
bola api dan tahu-tahu di depan matanya telah bertambah
dengan seorang gadis baju merah yang kelihatan binal dan
sukar dihadapi.
"Lebih baik aku cepat-cepat meninggalkan tempat ini”
demikian ia berpikir.
http://kangzusi.com/
Tapi baru saja ingatan itu sempat melintas dalam
benaknya. dari arah belakang telah terdengar suara
bentakan lagi.
"Siauya sedang mengajakmu berbicara, mengapa kau
tidak menggubris-?"
Begitu selesai membentak. angin tajam sudah
menyambar ke punggungnya. Dengan cekatan pemuda
berbaju biru itu berpaling, ia saksikan Thio Toa-keng
sedang mengayunkan tinjunya sambil melotot marah.
Pemuda berbaju biru tertawa dingin, ia segera miringkan
badannya ke samping sambil menjatuhkan diri, lalu secepat
kilat dia cengkeram pergelangan tangan Toa-keng.
Kawanan anak dusun di sekitar hutan bambu menjerit
kaget hampir bersamaan waktunya dengan ditangkapnya
pergelangan tangan Thio Toa-keng oleh bocah itu.
Thio Ji keng yang gemuk seperti babi kecil segera
melotot gusar melihat kakaknya ditangkap orang bentaknya
keras-keras.
"Cepat lepas tangan . . . . "
Di tengah bentakan keras tubuhnya menubruk ke depan,
kepalannya langsung di ayunkan ke muka memukul kepala
pemuda berbaju biru itu keras-keras.
Dengan kening berkerut pemuda berbaju biru itu
mendengus gusar, tangan kanannya yang menggenggam
tangan Thio Toa-keng segera digetarkan keras-keras . . .
"Duuk, duuk, duuk . . . " di tengah suara langkah kaki
yang mundur ke belakang Thio Toa-keng merintih sambil
meringis menahan kesakitan, sementara sepasang
tangannya diayunkan kesana ke mari berusaha untuk
menjaga keseimbangan badannya.
http://kangzusi.com/
Angin berhembus lewat, kepalan kecil dari Thio Ji-keng
si anak berbadan gemuk seperti babi telah meluncur datang.
Pemuda berbaju biru itu tidak gugup atau panik, dia
segera merendahkan kepala sambil membuang bahu ke
samping, lalu sambil maju ke depan dia bacok pergelangan
tangan kanan Thio Ji-keng yang bulat gemuk dengan jurus
Si gou huang gwat ( badak melihat rembulan).
Pada saat itulah . .
"Duuk. . . ! diiringi dengusan kesakitan.
Thio Toa-keng yang terlempar mundur tak sanggup
menjaga keseimbangan badannya lagi, ia terjatuh ke tanah
lalu roboh terlentang dengan gaya empat kaki menghadap
atas.
Suara bentakan gusar dan jeritan kaget kembali bergema,
pergelangan tangan kanan Thio Ji keng telah terpapas telak
oleh bacokan bocah berbaju biru itu, sambil menahan
kesakitan Thio Ji keng yang gemuk segera menerjang maju
lebih ke depan.
Dengan cekatan anak berbaju biru itu membalikkan
badannya lalu melayang dua kaki ke samping.
"Blaammm!" lantaran tenaga terjangan Thio Ji-keng
kelewat besar dan ia tak sang-gup menahan tubuhnya, tak
ampun tubuhnya terjerembab ke tanah dengan gaya
"harimau lapar menubruk domba."
Suasana di seluruh arena menjadi sepi, tiada orang yang
bersorak sorai lagi, semua anak dusun itu berdiri terbelalak
dengan wajah ketakutan, mereka bersama sama mengawasi
pemuda berbaju biru itu dengan sorot mata terperanjat.
http://kangzusi.com/
Thio Sam keng yang kurus seperti monyet berdiri bodoh.
sedang si jaliteng berdiri dengan mata melotot ke luar,
diapun ter-perana dibuatnya.
Hanya si nona cilik berbaju merah yang masih berdiri
sambil bertolak pinggang, sekulum senyuman acuh
menghiasi bibirnya, sedang sorot mata yang dingin
mengawasi pemuda berbaju biru itu tanpa berkedip.
Agaknya Thio Toa-keng tahu kalau telah bertemu
dengan "musuh tangguh". tanpa berbicara dia segera
merangkak bangun, lalu sambil meraba pantatnya yang
sakit dia menghampiri Thio Ji keng dan menarik bangun
adiknya dari tanah.
Tiba-tiba pemuda berbaju biru itu menyaksikan matahari
telah condong ke barat dengan wajah gelisah dia lantas
membalikkan badan dan berlalu dari situ dengan langkah
lebar.
"Berhenti!" Nona cilik berbaju merah itu membentak
keras.
Sekali lagi pemuda berbaju biru itu merasa jengkel
setelah mendengar bentakan yang dingin dan bernada
memerintah itu, dia segera berhenti dan menengok ke arah
si nona . . . .
Tampak olehnya nona cilik berbaju merah itu berdiri
dengan wajah tanpa emosi, matanya yang jeli menatap
dingin ke arahnya, sikap maupun lagaknya amat angkuh
dan jumawa.
Dasar dalam hatinya sudah mangkel, melihat tampang
seperti itu lagi, ibaratnya api bertemu bensin, kontan saja
hawa amarah pemuda yang berbaju biru itu membara.
http://kangzusi.com/
Tapi dia kuatir ayahnya marah karena dia pulang
terlambat, maka sambil menahan sa-bar katanya dengan
suara dalam:
"Ada urusan apa kau memanggilku?"
Nona kecil berbaju merah itu melengos ke arah lain,
sekejappun ia tidak memandang ke arahnya, kepada si anak
berkulit hitam, pekat itu serunya dengan nada memerintah:
"Adik Gou, kau coba kekuatannya!"
Begitu nona cilik itu berseru, kawanan anak dusun di
sekitar sana segera bersorak sorai, seolah-olah sedang
memberi duku-ngan kepada si hitam tersebut:
"Thio Toa-keng, Ji-keng dan Sam-keng juga tertawa
senang sorot mata mereka me-man-carkan sinar harapan,
mereka berharap si hitam bisa menghajar pemuda berbaju
biru itu sampai babak belur, atau paling tidak bisa
membalaskan sakit hati mereka.
Anak hitam itu mengencangkan dulu ikat pinggangnya,
lalu setelah menatap sekejap ke arah lawannya dengan
sepasang biji mata yang hitam pekat, ia maju ke muka
dengan langkah lebar.
Sementara itu, si pemuda berbaju biru itu sudah melihat
awan gelap di langit sebelah barat-daya, hatinya semakin
gelisah, sebab dia tahu awan mendung telah menyelimuti
langit yang makin gelap.
Dengan langkah tegap anak berkulit hitam itu telah tiba
di hadapannya, mula-mula dia menjura lebih dulu,
kemudian dengan bibirnya yang merah dia menegur:
"Saudara, tolong tanya siapa namamu? Aku Wu Thi-gou
mendapat perintah dari enci Soat untuk mencoba berapa
jurus ilmu silatmu."
http://kangzusi.com/
Meski dalam hati pemuda berbaju biru itu merasa gelisah
dan tak sabar, tapi dia tahu jika hari ini tidak unjuk gigi dan
menentukan menang kalah, jangan harap dia bisa
meninggalkan tempat itu.
Maka ketika dilihatnya si anak berkulit hitam Wu Thi-
gou bersikap sopan dan nampaknya seperti berpendidikan,
mungkin murid seorang jago kenamaan, diapun balas
memberi hormat.
Sekalipun kukatakan namaku belum tentu kalian tahu,
lebih baik tak usah di utarakan saja" katanya tak sabar.
Belum habis dia berkata, mendadak terdengar nona cilik
berbaju merah itu menukas dengan suara dalam:
"Sebutkan saja namamu, setelah kau ucapkan, bukankah
kami akan mengetahuinya ?"
Merah jengah selembar wajah pemuda berbaju biru itu,
dengan gusar dia melotot sekejap ke arah gadis cilik itu,
kemudian katanya kepada Wu Thi-gou:
"Aku bernama Lan See-giok, cepatlah lancarkan
seranganmu!"
Siau Thi-gou tidak sungkan lagi, sambil membentak dia
lepaskan sebuah pukulan keras.
Lan See-giok tahu bahwa si bocah hitam ini tak boleh
dianggap enteng, dengan cekatan dia berkelit ke samping,
kemudian mengayunkan telapak tangannya untuk
menyambut datangnya ancaman tersebut.
Apa yang diduga ternyata benar juga. baru saja Lan See-
giok menggerakkan tubuhnya. permainan jurus serangan
Siau Thi-gou (si kerbau baja kecil) segera berubah weess.
weess! segulung angin tajam menyapu ke depan. dalam
http://kangzusi.com/
waktu singkat dia telah melancarkan lima buah serangan
dahsyat.
Untung saja Lan See-giok telah mempersiapkan diri
sebelumnya, buru-buru ia tangkis ancaman itu lalu berebut
melepaskan serangan balasan, meski begitu, ia toh kena
terdesak juga sampai mundur beberapa langkah dari posisi
semula.
Thio Toa-keng bersaudara. segera bersorak sorai
kegirangan.
Sedang anak-anak nakal lainnya ikut berteriak teriak
sambil memberi semangat kepada kedua belah pihak,
seakan akan mereka sedang menonton pertunjukan adu
jago saja.
Si Nona berbaju merah pun tampak tertawa puas, dari
balik bibirnya yang kecil mungil terlihat dua baris giginya
yang putih bersih.
Agak memerah paras muka Lan See-giok karena kena
didesak mundur, amarahnya segera berkobar, permainan
jurus pukulannya pun berubah, sekarang dia mulai unjuk
gigi, sambil menyerbu ke depan . . . Sreeet! Sreeet! Sreeet
Secara beruntun dia lancarkan tiga buah pukulan berantai
yang maha dahsyat.
Siau Gou - cu segera merasakan empat penjuru sekeliling
tubuhnya diliputi oleh bayangan telapak tangan yang
membukit, dengan susah payah dia harus menangkis kesana
ke mari berusaha untuk meloloskan diri dari ancaman, tak
ampun dia menjadi kelabakan setengah mati.
Sekarang Thio Toa-keng bertiga tak bisa berteriak lagi,
kawanan anak nakal di sekitar arenapun berhenti berteriak,
sedang senyuman yang menghiasi ujung bibir si nona kecil
berbaju merahpun turut menjadi lenyap.
http://kangzusi.com/
Seluruh arena menjadi hening, semua orang mengawasi
Siau Gou cu dengan mata terbelalak dan perasaan kuatir,
mereka kuatir kalau sampai si hitam kecil itu di kalahkan.
Pertarungan makin lama berkobar makin seru, baik Lan
See-giok maupun Siau Thi-gou sama-sama tak mau
mengalah, kedua belah pihak mengerahkan segenap
kepandaian silat yang dimilikinya untuk kemenangan.
Matahari semakin condong ke barat, senja pun telah
menjelang tiba, angin yang berhembus kencang membawa
kelembaban udara, tampaknya hujan sudah hampir turun.
Lan See-giok bertambah gelisah setelah menyaksikan
keadaan itu, jurus serangan yang dilancarkan makin lama
semakin kalut, untung saja ilmu meringankan tubuh yang
dimilikinya jauh lebih hebat dari pada Siau Thi-gou,
sehingga beberapa kali dia berhasil menghindarkan diri dari
ancaman bahaya.
Mendadak terdengar seseorang membentak merdu:
"Adik Gou, mundur!"
Siau Thi-gou segera melancarkan tiga buah serangan
berantai untuk mendesak mundur lawannya, kemudian
menggunakan kesempatan itu tubuhnya melompat mundur
sejauh satu kaki lebih dari posisi semu-la.
Lan See-giok segera mendongakkan kepalanya, dia
saksikan si nona cilik berbaju merah itu sedang berjalan
mendekat dengan sikap yang sangat angkuh.
Tampaknya kegagalan Siau Thi-gou untuk merobohkan
Lan See-giok membuat nona cilik berbaju merah itu segera
tampil sendiri untuk menghabisi lawannya.
Setelah berada di hadapan Lan See-giok, dengan angkuh
nona berbaju merah itu berkata:
http://kangzusi.com/
"Aku bernama Si Cay-soat, tampaknya lebih kecil dua
tahun darimu, tapi kami sudah bergilir mengerubuti dirimu,
rasanya sekalipun memang juga tidak gagah, maka
sekarang aku hendak menetapkan tiga puluh gebrakan saja,
menang atau kalah kita selesaikan dalam batas waktu
tersebut”
Lan See-giok sudah habis kesabarannya sedari tadi, maka
sahutnya. dengan cepat:
"Bagus sekali, silahkan kau segera lancarkan serangan!"
Si Cay-soat tidak sungkan lagi, dia segera melompat ke
depan sambil mengayunkan te-lapak tangannya
menghantam wajah anak lelaki itu.
Paras muka Lan See-giok berubah hebat, buru-buru dia
memiringkan badannya sambil menghindar.
Bentakan nyaring kembali berkumandang, bayangan
merah berkelebat lewat, bagaikan bayangan setan saja Si
Cay-coat telah memburu ke depan, telapak tangannya
langsung menghantam pinggang lawan.
Lan See-giok menjadi sangat terkejut, peluh dingin jatuh
bercucuran, dia baru merasa kalau kepandaian silat nona
cilik ini berapa kali lipat lebih dahsyat dari pada si anak
hitam tadi.
Serta merta dia menjejakkan ujung kakinya ke tanah dan
melejit satu kaki dari posisi semula, nyaris dia termakan
serangan tersebut, menyusul kemudian sambil membentak
keras, dia mengayunkan kembali telapak tangannya
melancarkan serangan balasan.
Tiba-tiba dari arah tanggul berkumandang suara gelak
tertawa orang serta suara pembicaraan gadis-gadis nelayan
yang sedang pulang ke rumah.
http://kangzusi.com/
Lan See-giok yang mendengar hiruk pikuk itu bertambah
panik, dia lihat awan mendung sudah makin menyelimuti
ang-kasa.
Si Cay-soat ternyata cukup cerdas, dari kegelisahan di
wajah orang, dia lantas tahu kalau anak inipun buru-buru
ingin pulang ke rumah.
Maka menggunakan kesempatan dikala pikirannya
bercabang, dengan cepat tubuhnya berkelebat ke muka, jari
tangan kanan nya langsung menusuk ke atas jalan darah
dipinggang anak itu.
Lan See-giok amat terperanjat, dia ingin menghindar tapi
tak sempat lagi, tahu-tahu jari tangannya sudah mengancam
di depan mata,
Satu ingatan segera melintas dalam benak nya, dengan
jurus Hud liu ti hoa (menyapu liu memetik bunga), telapak
kanannya segera membacok ke bawah keras-keras.
Si Cay-soat segera tersenyum, jari tangannya dengan
cepat menotok di atas jalan darah siau-yau-hiat di tubuh
Lan See-giok.
Akan tetapi Lan See-giok tidak merasa apa-apa, telapak
tangan kanannya masih melanjutkan bacokannya
menghajar pergelangan tangan lawan.
Si Cay-soat amat terkejut, pucat pias paras mukanya,
Sambil menjerit cepat-cepat dia melompat mundur sejauh
dua kaki dari tempat semula.
Sayang, walaupun dia sudah berkelit dengan gerakan
cepat, toh kelima jari tangan kanannya kena tersambar juga
oleh angin pukulan yang dilancarkan Lan See-giok, kontan
dia merasa kesakitan setengah mati.
http://kangzusi.com/
Menanti dia berpaling ke arah lawannya, waktu itu Lan
See-giok sudah membalikkan badannya dan kabur menuju
ke utara dusun dengan mengerahkan ilmu meringankan
tubuhnya.
Thio Toa-keng dan Siau Thi-gou. segera membentak
keras, mereka melompat ke muka siap melakukan
pengejaran.
"Kembali . . . " Si Cay-soat segera membentak keras.
Thio Toa-keng dan Siau Thi-gou membatalkan
langkahnya dan berpaling ke arah nona cilik itu dengan
sinar mata keheranan.
Si Cay-soat berkerut kening, bisiknya kemudian dengan
wajah agak bingung dan kosong :
"Dia yang menang!"
Sambil berkata, sepasang matanya yang bulat besar
segera dialihkan ke arah bayangan punggung Lan See-giok
yang menjauh dengan pandangan aneh.
Sampai sekarang dia masih saja tidak habis mengerti,
mengapa totokan jalan darahnya yang bersarang telak tadi
bisa tidak bermanfaat apa-apa?
Bayangan tubuh Lan See-giok sudah lenyap di luar
dusun sana, tapi dalam hati kecil Si Cay-soat masih tertera
jelas bayangan tubuhnya.
Setelah meninggalkan perkampungan nelayan itu Lan
See-giok merasa menyesal sekali karena kelancangannya
mencampuri urusan orang, dia berpikir, saat itu ayahnya
pasti sudah menunggu dengan tak sabar di luar hutan.
Menelusuri jalanan yang kecil, dia berpikir terus ke hal-
hal yang beraneka ragam- hatinya makin gelisah dan dia
ingin cepat-cepat sampai di rumah,
http://kangzusi.com/
Setelah habis menelusuri tanah persawahan, dia berjalan
menembusi semak belukar yang lebat dan akhirnya
menembusi hutan belantara yang lebat sekali.
Baru satu li dia berjalan menembusi hutan, seluruh
angkasa telah berubah menjadi gelap gulita, angin malam
berhembus kencang dan membawa udara yang dingin.
Titik-titik cahaya api berkedip di balik hutan yang gelap,
sebentar bergerak mendekat sebentar lalu bergerak menjauh
cahaya api itu menambah suasana seram di sekitar sana.
Lan See-giok tahu kalau sinar titik api itu bernama api
setan, konon merupakan setan- setan yang berjalan ke luar
dari dalam kuburan untuk mencari sukma-sukma yang lain
Tapi Lan See-giok tidak takut, dia percaya ayahnya pasti
sudah menanti di ujung hutan sana, menanti
kedatangannya.
Maka dia segera mempercepat perjalanan nya
menembusi hutan tersebut . . .
Tak lama kemudian ia sudah sampai di ujung hutan, tapi
. . di mana ayahnya? Ia tidak menjumpai bayangan tubuh
ayahnya berada di situ.
Dia segera berhenti, ternyata tempat yang dituju
memang tak salah, ayahnya telah berkata dengan jelas, dia
akan menunggunya di bawah pohon besar ini.
Mungkinkah ayahnya tertidur di atas pohon?
Berpikir demikian dia lantas mendehem-dehem, tapi
kecuali bunyi jengkerik dan binatang kecil lainnya, tidak
terdengar suara jawaban ayahnya.
Dengan cepat dia mendongakkan kepala nya dan
memandang ke arah depan, hutan belantara tampak sangat
gelap, api setan berkedip-kedip dan bergoyang ke sana ke
http://kangzusi.com/
mari terhembus angin, dia seolah-olah menyaksikan api
setan itu makin lama makin membesar dan akhirnya
lambat-lambat seperti nampak munculnya sesosok
bayangan setan.
Lan See-giok mulai ketakutan, dia segera berpikir:
"Mengapa ayah tidak menjemputku?"
Dia tahu dari sini sampai di kuburan kuno itu masih
cukup jauh, dia harus melewati dua buah tebing tinggi, tiga
buah tanah pekuburan dan sebuah sungai seluas satu kaki.
Dia tidak takut ular beracun atau babi hutan, tapi dia
takut dengan jeritan burung hantu, suaranya yang
menggetarkan sukma cukup mendirikan bulu roma
siapapun yang mendengarnya.
Teringat jeritan burung hantu, bulu kuduk Lan See-giok
segera pada berdiri, dalam keadaan begini betapa besarnya
dia berharap ayahnya bisa datang menjemputnya.
la maju beberapa langkah lagi ke depan, semak belukar
sudah setinggi lutut, tak jauh di balik hutan sana adalah
sebuah tanah pekuburan yang sudah porak poranda
keadaannya.
Hampir sebagian besar kuburan di situ sudah hancur,
batu nisan berserakan. peti mati pada merekah, bahkan
tulang belulang manusia yang tak terurus tergeletak di sana
sini menimbulkan cahaya api setan yang menggidikkan
hati..
Walaupun sejak kecil Lan See-giok telah belajar silat,
bagaimanapun juga dia hanya seorang anak berusia lima
enam belas tahun, sewaktu kecil dulu dia sering mendengar
ibunya bercerita tentang setan.
http://kangzusi.com/
Membayangkan kembali cerita setan yang pernah
didengarnya dulu, anak itu semakin ketakutan, tanpa terasa
dia berteriak keras.
"Ayah, anak Giok telah pulang!"
Suasana amat hening, kecuali beberapa ekor ayam alas
yang berlarian karena kaget, tak nampak sesosok bayangan
manusiapun yang muncul di sana.
Lan See-giok sangat kecewa, dia tahu dalam keadaan
begini dia harus pulang sendiri ke kuburan kuno.
Maka setelah menghimpun tenaganya dan memusatkan
pikiran, dia segera mengerah kan ilmu meringankan
tubuhnya bergerak menuju ke depan.
Setelah melewati tanah pekuburan yang terbengkalai itu,
keadaan mega semakin meninggi, hutan semakin rapat dan
suasana pun semakin gelap gulita ..
Sepanjang perjalanan, Lan See-giok menyaksikan
burung-burung beterbangan karena takut, dua tiga babi
hutan mengejar dengan kencang, diapun menyaksikan ular-
ular beracun dengan sorot matanya yang buas muncul dari
balik tulang kerangka manusia atau peti mati yang
berserakan..
Tapi anak itu tidak mengambil perduli, dia berlarian
terus dengan kencangnya menuju ke tempat tujuan.
Beberapa saat kemudian ia telah melewati dua buah
tebing dan sebuah sungai kecil, di depan sana terbentang
hutan pohon siong, di dalam hutan itulah terletak kuburan
kuno tempat tinggal ayahnya.
Selama ini Lan See-giok selalu tidak habis mengerti apa
sebabnya ayahnya pindah ke dalam kuburan kuno itu,
berapa tahun setelah pindah ke sana, ibunya meninggal
http://kangzusi.com/
dunia, sejak saat itulah ayahnya menjadi seorang yang
pemurung.
Beberapa kali dia menyaksikan ayahnya duduk tepekur
sambil bermuram durja, adakala ayahnya menjadi
berangasan dan suka marah-marah, tapi ada kalanya pula
dia nampak amat gelisah dan tidak tenang . . .
Lan See-giok tahu kalau ayahnya pasti mempunyai suatu
rahasia besar yang tak ingin diketahui orang lain, diapun
menduga ibunya pasti mati karena merasa murung dan
sedih karena persoalan ini.
Dia ingin sekali mengetahui rahasia tersebut, dia bersedia
membantu ayahnya untuk memikirkan persoalan itu, tapi
dia tak berani bertanya, diapun tahu sekalipun di tanyakan,
belum tentu ayahnya bersedia menjawab.
Mendadak dari atas pohon tak jauh di hadapannya sana,
terdengar bunyi burung hantu yang memekakkan telinga.
Lan See-giok merasakan bulu kuduknya pada bangun
berdiri, dengan cepat dia mendongakkan kepalanya ke
depan, ternyata dia sudah berada dalam hutan siong, jarak
nya dengan kuburan kuno itu sudah tak jauh lagi. Di depan
matanya kini muncul sebuah tugu yang terbuat dari batu
hijau, di atas permukaan tugu itu tertera dua huruf yang
amat besar:
"ONG LENG."
Akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Lan See-giok
merasa girang sekali, ia mempercepat larinya menuju ke
depan.
Setelah melewati tugu itu muncullah sebuah jalanan
beralas batu yang sangat lebar, panjangnya puluhan kaki, di
kedua belah sisi jalan besar itu berjajar patung-patung kuda,
patung kambing, patung orang dan lain sebagainya.
http://kangzusi.com/
Di ujung jalan tersebut adalah sebuah pintu bangunan
yang sudah ambruk, yang tersisa tinggal tiang-tiang
penyangganya saja. sedang bangunan itu sendiri telah porak
poranda.
Dalam bangunan yang porak poranda terdapat sebidang
tanah pekuburan yang luasnya mencapai puluhan hektar,
puluhan buah kuburan besar berserakan di sana sini. batu
bong pay berdiri kekar di depan setiap kuburan itu, tapi
tulisannya sudah buram.
Terbayang kalau sebentar lagi bakal berjumpa dengan
ayahnya, Lan See-giok merasa amat gembira, ia telah
mempersiapkan ucapannya yang pertama begitu bersua
dengan ayahnya nanti, ia hendak mengatakan bahwa kotak
kecil itu telah diserahkan kepada Bibi Wan yang anggun
tersebut.
Begitu besar keinginannya bertemu dengan ayahnya, dia
tak ingin berjalan berputar lagi, dengan suatu lompatan
cepat ia melewati tanah pekuburan itu langsung menuju ke
depan sebuah kuburan yang paling besar.
Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya paling hebat,
ayahnya sering memuji akan kehebatannya, sedang
kepandaian kedua yang paling ampuh adalah ilmu Gi-hiat
kang, kepandaian untuk menggeserkan tempat kedudukan
jalan darah.
Tanpa terasa ia teringat kembali pertarungannya dengan
Si Cay-soat belum lama berselang, kepandaian silat nona itu
memang sangat hebat, coba kalau dia tak pan-dai
memindahkan letak jalan darah, niscaya dia sudah
dipecundangi orang.
Sementara masih melamun, dia telah melayang turun di
depan kuburan ke depan yang menghadap ke arah timur
laut.
http://kangzusi.com/
Tiba di depan kuburan itu, ia saksikan pintu rahasianya
terbuka lebar, mungkin- ayahnya lupa untuk menutup
kembali.
Tanpa sangsi lagi Lan See-giok melompat masuk ke
dalam kuburan, menelusuri anak tangga dan berlarian
menuju ke ruang dalam.
Suasana di dalam kuburan itu gelap gulita hingga lima
jari tangan sendiri pun susah dilihat, tapi Lan See-giok
sudah banyak tahun berdiam di sini, sekalipun harus
berjalan dengan mata meram pun dia dapat mencapai
ruangan dalam.
Sesudah melewati dua tikungan, akhir nya dari dalam
ruangan bulat di depan sana nampak setitik cahaya lentera.
Lan See-giok amat gembira, dia tahu ayah-nya belum
tidur, dengan suara lantang segera teriaknya:
"Ayah, anak Giok telah kembali!"
Sambil berteriak gembira dia segera menubruk ke depan.
Tapi dengan cepat anak itu berhenti dengan wajah
tertegun, ternyata ia tidak menjumpai ayahnya berada di
sana.
Cahaya lentera memancar ke luar dari sebuah lampu
minyak di atas meja, cahaya itu amat redup sehingga
suasana di seluruh ruangan itu remang-remang dan terasa
menyeramkan.
Pembaringan di sisi dinding ruangan nampak rapi, di
atas meja besar dekat pembaringan terletak senjata gurdi
emas "Cing kim-kong-luau-jui!" - senjata andalan ayahnya.
Gurdi emas itu berujung runcing dan amat tajam, bagian
ekornya lebih kasar dan besar hingga bentuknya mirip
jarum.
http://kangzusi.com/
Senjata itu kalau lemas bentuknya seperti seutas tali, tapi
kalau sudah disaluri tenaga dalam bentuknya mirip gurdi,
tanpa tenaga dalam yang sempurna jangan harap orang bisa
memainkan senjata semacam itu.
Begitu melihat senjata gurdi emas milik ayahnya masih
tergeletak di atas meja, Lan See-giok segera tahu kalau
ayahnya tidak pergi.
Mendadak . . .
Segulung bau amisnya darah berhembus lewat dan
menusuk hidung anak itu. . .
Lan See-giok merasa sangat terkejut, dengan cepat dia
mengendusnya beberapa kali, benar juga, bau yang
menusuk hidung itu adalah bau amisnya darah segar.
Hatinya menjadi amat tercekat. tanpa terasa dia mundur
dua langkah, sementara perasaan seram menyelimuti
seluruh benaknya.
Pada saat itulah dari luar kuburan terdengar bunyi
burung hantu berpekik keras, suaranya terdengar amat
menyeramkan ..
Lan See-giok segera bergidik, bulu kuduknya pada
bangun berdiri, tanpa terasa dia berteriak dengan suara
keras:
"Ayah. . . ayah . . . ayah . . ."
Teriakan anak itu kedengaran parau dan diselingi isak
tangis yang gemetar.
Tapi, kecuali suara dengungan keras dari balik lorong
yang memantulkan suaranya, tidak terdengar suara jawaban
dari ayahnya.
Kembali terendus bau amis darah yang amat menusuk
penciuman.
http://kangzusi.com/
Sekali lagi Lan See-giok terperanjat, dia berusaha
mengumpulkan segenap kemampuannya untuk meneliti
ruangan itu.
Tiba-tiba mencorong sinar terang dari balik matanya, ia
saksikan di sebelah kiri meja batu nampak sesosok
bayangan hitam berada di sana.
Dengan suatu kecepatan kilat dia menyambar lentera di
meja dan menghampiri bayangan itu.
Di bawah cahaya lentera yang redup, ia segera
menyaksikan suatu pemandangan yang menyeramkan,
peluh dingin segera jatuh bercucuran, sukmanya serasa
melayang meninggalkan raganya.
Lan See-giok betul-betul berdiri kaku bagaikan patung,
mukanya pucat, matanya terbelalak lebar sedang mulutnya
ternganga lebar.
Sebab bayangan itu tak lain adalah tubuh ayahnya, tubuh
ayahnya yang tergelepar di atas genangan darah.
Cepat dia letakkan lentera itu ke meja, lalu sambil
menjerit dan menangis dia menubruk ke atas tubuh
ayahnya dan menangis tersedu sedu.
Seketika itu juga dalam seluruh kuburan itu dipenuhi
oleh suara isak tangis yang penuh kesedihan, keseraman
dan kengerian.
Lan See-giok menangis terus sampai air mata yang ke
luar berubah menjadi darah sambil menangis tersedu sedu,
dia mulai memeriksa jenazah ayahnya itu.
Ia saksikan ayahnya tewas dengan mata melotot mulut
ternganga, noda darah menyelimuti seluruh wajahnya,
jenggot yang putih dan rambut yang putihpun penuh
dengan darah, sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau
http://kangzusi.com/
ayahnya tewas akibat suatu gempuran tenaga pukulan
dahsyat yang menghancurkan isi perutnya.
Ditinjau dari posisi ayahnya sewaktu jatuh setelah
menyadari kehadiran musuh tak di undang, ayahnya buru-
buru menyambar senjata gurdi emas yang tergeletak di meja
sayang sebelum maksudnya tercapai, punggungnya sudah
kena dihajar lebih dulu.
Tak terlukiskan rasa sedih yang menyelimuti perasaan
Lan See-giok waktu itu melihat ayahnya mati secara begitu
mengenaskan, dia menjerit keras lalu muntah darah segar,
tubuhnya segera terkapar di atas tanah dan tak sadarkan
diri.
Isak tangis dalam kuburan itu segera terhenti, yang
tersisa hanya suara dengungan keras yang memantul ke
mana-mana.
Di luar kuburan, angin malam berhembus kencang
mengiringi suara hujan yang turun dengan deras, malam itu
benar-benar suatu malam yang amat mengenaskan.
Mendadak-
Lan See-giok yang lambat-lambat mulai sadar kembali
dari pingsannya merasa ada seseorang menotok jalan darah
Hek ci hiat nya keras-keras.
Menyusul kemudian sebuah tangan dengan gugup dan
panik menggeledah seluruh tubuhnya, orang itu seperti
sedang mencari sesuatu dari dalam saku dan bagian tubuh
lainnya-
Kejut, gusar dan takut segera menyelimuti seluruh
perasaan Lan See-giok, ia tak tahu siapakah orang itu? Tapi
ia yakin orang itu sudah pasti adalah pembunuh biadab
yang telah membunuh ayah nya.
http://kangzusi.com/
Dia ingin membalikkan badan sambil melancarkan
serangan, kalau bisa dengan suatu gerakan secepat kilat
untuk membinasakan orang yang sedang menggeledah
sakunya itu.
Tapi dia tahu, asal dia mengerahkan tenaga, pihak lawan
pasti akan menyadari akan hal itu, dengan kepandaian silat
ayahnya yang begitu lihai pun bukan tandingan lawan, bila
dia sampai melakukan suatu gerakan, bukankah tindakan
tersebut ibaratnya telur diadu dengan batu?
Maka dia bermaksud untuk mengintip dulu siapa
gerangan orang itu, asal wajahnya teringat, usaha membalas
dendam bisa dilakukan di masa mendatang.
Berpikir begitu, diam-diam ia membuka matanya dan
mencoba untuk mengintip. . .
"Blaam!" tiba-tiba orang itu menendang tubuhnya keras-
keras sampai mencelat dan terbalik.
Lan See-giok menggigit bibirnya kencang-kencang
menahan rasa sakit, merintih pun tidak.
la merangkak di tanah dan pelan-pelan membuka
matanya lalu melirik ke arah orang itu.
Kebetulan orang itu berdiri di belakang tubuhnya
sehingga di atas dinding tertera sesosok bayangan manusia
yang tinggi besar.
Lan See-giok membuka matanya lebar-lebar, dia
berharap bisa menyaksikan raut wajah orang itu dari
bayangan badannya.
Orang itu berperawakan, tinggi besar, hidungnya
mancung, kening dan dagunya sempit, jenggotnya tidak
banyak, cuma beberapa gelintir, memakai baju pendek
http://kangzusi.com/
celana panjang. dia sedang berdiri di sana seperti lagi
termenung memikirkan sesuatu.
Mendadak terdengar orang itu berguman dengan
perasaan keheranan. "Aneh, kenapa tidak ada juga?"
Walaupun Lan See-giok tak berpengalaman dalam dunia
persilatan hingga tak dapat membedakan dialek setiap
propinsi, tapi dia yakin, orang ini pasti tinggal di sekitar
telaga Huan-yang ou.
Setelah berguman, orang itu sekali lagi membungkukkan
badan dan menggeledah seluruh badan Lan See-giok ..
Tiba-tiba tangan itu berhenti menggeledah kalau dilihat
dari bayangan yang tertera di atas dinding, tampaknya
orang itu seperti memasang telinga dan memperhatikan
sesuatu.
Kemudian tampak bayangan manusia berkelebat lewat,
tahu-tahu orang itu sudah lenyap dari pandangan.
Lan See-giok tak berani bergerak, tahu orang itu belum
pergi, sebab menurut arah bergeraknya bayangan di atas
dinding, nampaknya orang itu sedang menyembunyikan
diri di sisi pembaringan.
Tapi ia tak habis mengerti mengapa orang itu
menyembunyikan diri secara tiba-tiba ?
Pada saat itulah terdengar suara ujung baju terhembus
angin berkumandang datang dari arah mulut lorong rahasia:
Lan See-giok terperanjat, dia tahu kembali ada jago lihay
berkunjung ke situ, bersamaan itu pula dia lantas paham
kenapa orang itu secara tiba-tiba menyembunyikan diri ke
belakang pembaringan.
Tapi setelah dipikir lebih lanjut, sekali lagi hatinya
merasa bergetar keras, syukur dia tidak jadi melancarkan
http://kangzusi.com/
serangan gelap terhadap orang itu, sebab menurut perasaan
nya, kesempurnaan tenaga dalam yang di miliki orang ini
benar-benar luar biasa.
Sementara itu suara ujung baju yang terhembus angin
kedengaran semakin jelas, bahkan ada kalanya diiringi pula
suara benda berat yang menyentuh lantai.
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, kemudian
terdengar seseorang tertawa terbahak-bahak.
Lan See-giok yang tertelungkup di tanah merasa
telinganya sakit sekali oleh getaran suara tertawa yang
memekikkan te1inga itu, darah segar dalam rongga dadanya
serasa bergelora keras, hampir saja dia mengeluarkan suara.
Terdengar pendatang itu menghentikan suara
tertawanya, kemudian tanpa perasaan takut barang
sedikitpun jua, dia berseru lantang:
"Lan Khong-tay wahai Lan Khong-tay, sungguh tak
disangka Kim cui gin tan (gurdi emas peluru perak) Lan
tayhiap juga akan mengalami nasib seperti hari ini, hmmm
.. bayangkan saja betapa gagahmu dimasa lalu, tapi.. haaah.
haaah. sekalipun mempunyai barang itu, apalah gunanya?"
Selesai berkata, kembali dia tertawa terbahak-bahak,
menyusul kemudian terdengar suara ketukan keras bergema
semakin dekat.
Lan See-giok tahu, pendatang adalah seseorang yang
kenal dengan ayahnya, bahkan mempunyai ikatan dendam
dengan ayahnya.
Sementara dia masih termenung, orang itu sudah tiba di
depan jenazah ayahnya, suara ketukan keras yang bergema
kian bertambah keras, bahkan terasa pula getaran keras
yang menggetarkan sukma.
http://kangzusi.com/
Kini Lan See-giok tidak merasa takut, karena dalam
hatinya penuh diliputi kobaran api dendam yang membara,
dia hanya ingin tahu siapakah pembunuh ayahnya.
Ia merasa perlu untuk memperhatikan wajah orang ini,
siapa tahu dari orang ini di kemudian hari dia bisa
menyelidiki siapa gerangan orang berjenggot yang
berhidung mancung itu?
Baru saja Lan See-giok akan membuka matanya, orang
itu sudah berjalan ke arah-nya, maka cepat-cepat dia
memejamkan matanya kembali, meski demikian ia sempat
melihat kaki kiri orang itu sudah kutung, sedang di bawah
ketiaknya terdapat sebuah tongkat besi yang amat berat
menyanggah tubuhnya.
Kalau diamati dari suara tertawa serta nada pembicaraan
orang itu, bisa diperkirakan kalau usianya di atas empat
puluh tahunan.
Setibanya di sisi tubuh Lan See-giok, orang itu mulai
menyentuh badannya dengan ujung tongkat besi itu meski
maksudnya untuk menggeledah namun hal itu dilakukan
tidak serius.
Karena pendatang itu sudah menduga bahwa pembunuh
yang telah membinasakan si Gurdi emas peluru perak Lan
Khong-tay tentu sudah menggeledah pula tubuh bocah itu,
maka ia tidak menganggap serius akan hal itu.
Lan See-giok yang tubuhnya ditusuk-tusuk oleh toya besi
itu merasakan sekujur badannya kesakitan, tapi dia
menggertak gigi sambil menahan diri, dalam hati dia
bersumpah, suatu ketika sakit hati ini pasti akan dituntut
balas.
http://kangzusi.com/
Mendadak orang itu menghentikan perbuatannya,
kemudian sambil mendongakkan kepala dia membentak
keras, "Siapa di situ?"
Di tengah bentakan tersebut, bayangan manusia nampak
berkelebat lewat, tahu-tahu orang itu sudah lenyap dari
pandangan.
Lan See-giok merasa telinganya kembali mendengung
keras oleh suara bentakan lawan yang memekikkan telinga,
saking kagetnya dia sampai bergidik dan lupa kalau dia
sedang berlagak seakan akan tertotok jalan darahnya, buru-
buru dia membalikkan badan sambil berpaling-
Tampak olehnya di balik lorong di samping
pembaringannya sana terdapat dua sosok bayangan
manusia sedang berkelebat saling mengejar.
Lan See-giok tahu bahwa orang yang berada di depan
adalah orang yang telah membinasakan ayahnya, sedang
yang berada di belakang adalah orang yang berkaki
buntung.
Sebelum dia sempat berbuat sesuatu, orang yang berkaki
buntung telah membentak lagi dengan suara keras:
"Sobat, sebelum meninggalkan barang itu, jangan harap
kau bisa kabur dari sini?"
Ditengah bentakan, dia mengayunkan tongkat besinya
sambil menghantam tubuh orang itu.
Orang yang berada di depan tidak mengeluarkan suara
berang sedikitpun juga, dia masih berlarian terus ke depan,
hanya secara tiba-tiba tangan kanannya diayunkan ke
belakang..
http://kangzusi.com/
Serentetan cahaya tajam bagaikan anak panah yang
terlepas dari busurnya segera meluncur ke arah orang yang
berkaki buntung.
Segera itu juga orang yang berkaki buntung itu tertawa
terbahak-bahak, tongkat bajanya di angkat ke atas dan..
"traaang!" terdengar suara benturan keras yang disertai
percikan bunga api tersebar dalam lorong gelap tersebut.
Kemudian terdengar pula suara senjata rahasia yang
bergelinding ke sisi lorong, sementara kedua sosok
bayangan manusia itu-pun lenyap dari pandangan mata.
Dengan cepat Lan See-giok melompat bangun, dia
merasakan sekujur badannya linu dan sakit, tapi sambil
menahan rasa sakit dia mengejar ke luar, dia berharap
dengan mengandalkan kehapalannya dengan daerah di
sekitar tempat itu, dia sempat menyaksikan paras muka
yang sebenarnya dari pembunuh keji tersebut.
Siapa tahu belum sempat dia melangkah ke depan
mendadak dari luar kuburan telah terdengar suara si
pincang sedang mencaci maki dengan penuh kegusaran.
"Anak jadah. anak bangsat peliharaan anjing, kau
anggap barang itu dapat kau telan seorang diri? Tidak
begitu mudah, sekalipun kau kabur ke ujung langit, locu
akan mengejarnya sampai dapat!"
Lan See-giok tahu kedua orang itu sudah pergi amat jauh
sekalipun hendak dikejar juga tak ada gunanya.
Maka dia berjalan kembali ke samping jenazah ayahnya
yang terkapar ditengah genangan darah, kemudian sambil
berlutut dan menangis tersedu sedu, katanya:
"Ayah- sungguh kasihan kau- tahukah kau anak Giok
telah pulang- tahukah kau anak Giok telah menyelesaikan
http://kangzusi.com/
perintahmu dan menyerahkan kotak kecil tersebut ke pada
bibi Wan- “
Lan See-giok makin menangis semakin sedih, makin
menangis semakin tak ingin hidup.
Dia memang ingin mati, dia ingin mati bersama ayah
dan ibunya, tapi bila teringat akan dendam kesumatnya
yang lebih dalam dari samudra, dia merasa tidak
seharusnya mati sebelum sakit hati itu terbalas, dia harus
membinasakan pembunuh berhidung mancung itu sebelum
menyusul ayah dan ibunya di alam baqa.
Maka sambil memandang wajah ayahnya yang penuh
noda darah, diam-diam ia berdoa, dia berharap arwah
ayahnya di alam baqa dapat melindunginya dan membantu
nya untuk membalas dendam.
Sementara itu tengah malam sudah menjelang tiba, di
luar kuburan hanya terdengar suara rintikan hujan serta
angin malam yang menderu-deru.
Seorang diri Lan See-giok bersembunyi di dalam
kuburan, duduk di samping jenazah ayahnya dan di bawah
cahaya lentera dia membersihkan noda darah dari atas
wajah ayahnya yang pucat.
Titik-titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.
pipi yang telah berubah menjadi merah karena dendam.
Di luar kuburan kembali terdengar suara pekikan burung
hantu yang menyeramkan, tapi dia tidak takut, dia tidak
merasa ngeri, karena dia hanya memikirkan soal dendam
kesumat.
Dia berpikir, sekalipun badan harus hancur, sekalipun
harus menjelajahi sampai ke ujung langit, pembunuh
ayahnya akan di kejar terus dan dibunuh sampai mati.
http://kangzusi.com/
ooo0dw0ooo

BAB 2
BAYANGAN IBLIS MULAI BERMUNCULAN

MALAM semakin kelam . . .


Angin berhembus semakin kencang..
Sambil melelehkan air mata, Lan See-giok masih
memperhatikan wajah kelabu ayah-nya yang sudah
membujur kaku di tanah.
Mendadak . . . terdengar suara pekikan panjang yang
memekakkan telinga berkumandang datang dari luar
kuburan.
Suara pekikan itu amat tajam dan memekakkan telinga,
membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan bulu
kuduknya pada bangun berdiri.
Terutama sekali bagi Lan See-giok yang seorang diri
berada dalam kuburan, di bawah sinar lentera yang redup
serta didampingi jenazah ayahnya yang membujur kaku.
Tapi sikap Lan See-giok masih tetap kaku tanpa
perasaan, dia seolah-olah tidak mendengar suara pekikan
itu.
Waktu itu, hatinya sedang merasa amat pedih, karena
dia tak tahu bagaimana caranya untuk menutup kembali
sepasang mata ayahnya yang melotot besar penuh
kemarahan itu.
Pekikan seram makin lama semakin mendekat, di balik
pekikan itu penuh diliputi perasaan gelisah bercampur
gusar.
http://kangzusi.com/
Tapi Lan See-giok masih tidak berkutik, tangannya yang
kecil masih saja mengelus mata ayahnya yang melotot
besar.
Lambat laun suara pekikan aneh itu makin keras dan
menusuk pendengaran agaknya orang itu sudah tiba di luar
kuburan.
Tergerak hati Lan See-giok. . dia bertekad hendak
melihat jelas paras muka pendatang itu, tapi. ada satu hal
yang tidak dimengerti olehnya, mengapa kuburan yang
sudah banyak tahun tak pernah dikunjungi orang, tahu-tahu
kebanjiran pengunjung pada malam ini.
Benda apa pula yang dimaksudkan si pincang tadi?
Mendadak suara pekikan itu berhenti, lalu mendengar
suara ujung baju terhembus angin menggema datang.
"Sungguh cepat gerakan tubuh orang ini.." Dengan
terkejut Lan See-giok segera berpikir, "kalau dilihat dari
kecepatan gerak tubuhnya jelas dia adalah seorang jago
kelas satu dalam dunia persilatan. . ."
Belum habis dia berpikir, hembusan angin tersebut sudah
kedengaran semakin jelas.
Lan See-giok merasa makin terkejut lagi, sebab orang itu
selain sempurna dalam ilmu meringankan tubuh, juga amat
hapal dengan daerah dalam kuburan tersebut.
Buru-buru dia melompat bangun dan memandang
sekejap sekeliling tempat itu, akhirnya dia merasa di
belakang meja batu besar itu merupakan tempat
persembunyian yang baik, tanpa berpikir panjang dia segera
menerobos kedalamnya. . .
http://kangzusi.com/
Saat itulah bayangan manusia nampak berkelebat lewat,
tahu-tahu orang itu muncul di dalam ruangan dan langsung
menerjang ke depan pembaringan ayahnya.
Lan See-giok merasa tegang bercampur cemas, peluh
telah membasahi telapak tangannya, dengan perasaan gusar
bercampur berdebar dia mengintip ke luar . .
Ternyata orang itu adalah seorang lelaki berjubah hitam,
rambutnya sepanjang bahu berwarna kelabu, ia tidak
bersenjata, wajahnya juga tak nampak karena sedang
menghadap ke arah pembaringan.
Dengan perasaan gusar, gelisah dan tak tenang orang itu
nampak menggeledah seluruh pembaringan, selimut dan
bantal ayahnya.
Kemudian dengan marah dia melemparkan semua benda
itu ke atas tanah, lalu dengan gugup ia mulai meraba empat
kaki pembaringan di empat penjuru..
Tergerak hati Lan See-giok setelah menyaksikan kejadian
itu, dia merasa besar kemungkinan orang ini adalah orang
yang menotok jalan darahnya serta menggeledek seluruh
badannya tadi.
Kalau dilihat dari tindak tanduk orang itu sewaktu ke
dalam kuburan serta tingkah lakunya yang tergesa-gesa
sewaktu melakukan penggeledahan atas seluruh isi ruangan
itu, dapat diketahui orang itu belum sempat melakukan
penggeledahan setelah berhasil melaksanakan perbuatan
kejinya tadi.
Makin dipikir Lan See-giok merasa apa yang diduga
makin cocok, dia segera memutuskan kalau orang inilah
pembunuh yang telah membinasakan ayahnya.
http://kangzusi.com/
Kemarahannya segera bergelora, diam-diam hawa
murninya dihimpun ke dalam telapak tangannya, ia siap
sedia menyergap orang itu dari belakang.
Mendadak.. orang berbaju hitam itu membalikkan
badannya.
Lan See-giok tersentak kaget, peluh dingin segera
membasahi seluruh tubuhnya, sementara jantungnya
seakan akan mau melompat ke luar dari dalam rongga
dadanya.
Apa yang dilihat? Ternyata orang itu berwajah hijau
penuh dengan bekas bacokan yang dalam, gigi taringnya
nampak panjang, matanya yang tinggal sebelah melotot
besar seperti gundu. wajahnya benar-benar mengerikan
sekali.
Mata sebelah kanannya yang buta ditutup dengan
selembar kulit berwarna hitam, hal ini menambah seramnya
tampang orang ini. Setelah membalikkan badan tadi,
dengan mata tunggalnya yang tajam ia mulai memeriksa
setiap sudut ruangan yang mencurigakan, sementara
wajahnya nampak makin gelisah, peluh sebesar kacang ijo
nampak bercucuran membasahi seluruh jidatnya.
Berada dalam keadaan seperti ini, Lan See-giok tak
berani berkutik, dia kuatir si mata tunggal itu menemukan
tempat persembunyian nya.
Ia tidak takut mati, tapi dia tak ingin mati sebelum
dendam sakit hati ayahnya di balas.
Begitulah, setelah memeriksa seluruh ruangan itu,
dengan nada gemas orang bermata satu itu berguman:
"Aneh, disembunyikan di manakah barang itu..?"
http://kangzusi.com/
Begitu mendengar suara gumaman orang itu, sekali lagi
Lan See-giok merasa kebingungan, dia dapat mengenali
suara orang ini tidak sama dengan suara orang yang
menggeledah tubuhnya tadi, sebab suara orang itu parau
dan berat.
Selain itu. diapun menyaksikan perawakan orang ini
tidak sekekar orang yang menggeledah tubuhnya tadi, lagi
pula orang ini mengenaskan pakaian pendek.
Diam-diam Lan See-giok berkerut kening, ditatapnya
orang bermata satu itu lekat-lekat, sementara di hati
kecilnya dia bertanya: Siapakah orang bermata satu ini ?
Benarkah ayahnya tewas di tangan orang ini . . . . ?.
Belum habis dia berpikir, tampak olehnya orang bermata
satu itu sudah mengumbar hawa amarahnya, kakinya
terlihat diayunkan ke sana kemari, semua barang yang
berada di sekelilingnya segera beterbangan di angkasa.
Dalam waktu singkat seluruh ruangan itu dipenuhi
dengan suara hiruk pikuk serta pecahan barang yang
tersebar ke mana-mana.
Dengan penuh bernapsu, orang bermata satu itu
menyepak dan menendang hancur barang-barang itu, dia
berharap dari balik pecahan barang-barang tersebut bisa
ditemukan barang yang sedang dicari.
Tapi akhirnya ia menghela napas dengan perasaan
kecewa.
Kini sorot matanya mulai dialihkan ke atas lubang
bangunan di langit-langit kuburan, gigi taringnya yang
panjang kedengaran bergemerutuk keras, hal ini membuat
wajahnya nampak semakin mengerikan.
Lan See-giok semakin tak berani berkutik, dia merasa
hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri,
http://kangzusi.com/
tampang orang bermata satu itu betul-betul menggetarkan
hatinya.
Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata
tunggalnya, sekilas perasaan girang menghiasi wajahnya
yang seram, dengan suatu kecepatan tinggi tiba-tiba ia
melompat ke depan meja batu itu.
Lan See-giok yang bersembunyi di belakangnya menjadi
sangat terperanjat, begitu kagetnya dia sampai jantungnya
seolah-olah terlepas.
Untung saja meja batu itu tinggi lagi besar, jaraknya
dengan dindingpun amat sempit, maka bila orang itu tidak
memeriksa dengan teliti, sulit rasanya untuk menemukan
tempat persembunyian itu.
Ternyata orang bermata satu itu tidak bermaksud untuk
menggeledah tempat itu, sebab setelah mengambil senjata
gurdi emas yang terletak di meja, ia melayang kembali ke
tempat semula.
Diam-diam Lan See-giok menghembuskan napas lega, ia
segera mengintip kembali ke luar.
Ternyata orang bermata satu itu sedang mengorek setiap
lubang angin yang berada di langit-langit kuburan dengan
senjata gurdi emas milik ayahnya.
Tapi, akhirnya orang bermata satu itu kembali menghela
napas dengan wajah kecewa, ia tidak berhasil menemukan
sesuatu dari balik lubang angin itu.
Kekecewaan yang berulang kali kontan saja membuat
orang itu bertambah marah, paras mukanya yang memang
sudah mengerikan kini berubah semakin menggidikkan hati.
"Sungguh menggemaskan?" gumamnya menahan geram.
http://kangzusi.com/
Dengan penuh perasaan mendongkol, akhirnya dia
melemparkan senjata gurdi emas yang berada di tangannya
itu ke depan keras-keras.
Sekilas cahaya emas berkelebat lewat bagaikan
serentetan cahaya bianglala, gurdi tersebut menyambar ke
arah dinding sebelah kiri.
Lan See-giok mengenali, di balik dinding itulah terletak
kamar tidurnya.
"Blaaammm!" diiringi suara nyaring senjata gurdi emas
itu menancap di atas dinding dan tembus hingga ke
belakang.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan
hati berkumandang datang dari balik ruangan tersebut.
Lan See-giok terkesiap, hampir saja ia menjerit keras
saking kagetnya. Mimpipun dia tak menyangka kalau di
dalam kamar tidurnyapun terdapat kawanan musuh yang
sedang menyembunyikan diri.
Orang bermata tunggal itu sendiri juga nampak agak
tertegun, lalu dengan wajah berubah hebat dia menerjang
masuk ke dalam ruangan sebelah.
Tak lama kemudian ia mendengar orang bermata satu itu
menjerit kaget:
"Haaah, kau?"
Suara ujung baju yang terhembus angin segera
berkumandang saling menyusul, makin lama suara itu
makin lirih dan akhirnya lenyap di luar kuburan sana.
Untuk sesaat suasana dalam kuburan kuno itu menjadi
sepi, hening, tak kedengaran sedikit suarapun.
http://kangzusi.com/
Lan See giok juga duduk termangu mangu, dia tak tahu
siapakah orang tadi? Masih hidupkah orang itu? Atau sudah
mati?
Tapi dia berharap orang itu sudah mati, karena dia
menduga orang yang bersembunyi dalam kamar sebelah
tentu sudah mendengar doanya kepada ayahnya tadi . dia
telah menyerahkan kotak kecil tersebut kepada Bibi Wan..
Sekarang, Lan See giok sudah dapat menduga,
kemungkinan besar kehadiran orang-orang tak dikenal pada
malam ini dikarenakan kotak kecil tersebut, tapi apakah isi
kotak kecil itu?
Kepergian si orang bermata satu yang tergesa-gesa tadi
membuat Lan See giok merasa amat gelisah, dia tidak
berharap orang bermata satu itu menolong orang tadi,
karena hidupnya orang itu berarti bencana besar bagi bibi
Wan.
Sekalipun mereka tak akan mengetahui nama dari bibi
Wan, tapi jika mereka mau melakukan penyelidikan dengan
seksama, tak sulit untuk menemukan tempat tinggal bibi
Wan nya.
Terbayang akan semua peristiwa tersebut, Lan See giok
merasakan peluh dingin jatuh bercucuran, ia merasa bila
kedatangan orang-orang itu benar-benar dikarenakan kotak
kecil tersebut, dia harus segera melaporkan kejadian ini
kepada bibi Wan, agar dia tahu kalau-kalau ayahnya sudah
mati.
Mendadak Lan See giok merasakan firasat tak enak, ia
merasa dalam kuburan itu seakan akan bukan cuma dia
seorang, ia seperti merasa ada sesosok tubuh manusia
sedang berjalan mendekatinya dari belakang.
http://kangzusi.com/
Tanpa sadar dia segera membalikkan kepalanya ke
belakang. . . .
Tapi baru saja kepalanya digerakkan, mendadak tampak
sesosok bayangan hitam menyambar tiba disertai segulung
angin tajam yang maha dahsyat. Lan See giok amat
terperanjat, tanpa sadar ia menjerit keras.
"Blammm-!" sebuah benda yang mempunyai daya pantul
yang amat keras tahu-tahu sudah menghajar di belakang
batok kepalanya.
Kontan Lan See giok merasakan kepalanya seperti mau
pecah. langit serasa menjadi gelap, seluruh bumi serasa
berputar, pandangan matanya menjadi gelap dan tak ampun
ia roboh tak sadarkan diri.
Sesaat sebelum jatuh pingsan, secara lamat-lamat dia
masih sempat menyaksikan orang yang berada di belakang
tubuhnya adalah seseorang yang berambut putih.
la tak bisa membedakan apakah orang itu seorang kakek
atau seorang nenek, tapi sudah pasti orang itu adalah
seseorang yang telah berusia lanjut bahkan berperawakan
tidak begitu tinggi.
la tidak merasakan tubuhnya mencium tanah, mungkin
orang yang berada di belakangnya keburu menyambar
badannya dan membaringkan ke tanah, mungkin juga ia
keburu tak sadarkan diri. . .
Entah berapa saat sudah lewat. . .
Pelan-pelan Lan See giok membuka matanya,
pandangan pertama yang sempat terlihat olehnya adalah
setitik cahaya lentera, kemudian sesosok bayangan manusia
berbaju kuning. . .
http://kangzusi.com/
Lan See giok merasakan kelopak matanya sangat berat,
tak kuasa ia memejamkan matanya kembali, ia merasa tak
bertenaga lagi, meski hanya untuk membuka kelopak
matanya.
Tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara
yang lembut dan penuh perhatian:
"Nak, kau telah sadar ? Bagaimanakah perasaanmu
sekarang?"
Tiba-tiba Lan See-giok teringat kembali kejadian yang
belum lama menimpa dirinya, begitu mendengar teguran
tersebut, mendadak dia melompat bangun kemudian
melotot dengan mata besar, ternyata orang yang berada di
hadapannya adalah seorang kakek berambut putih.
Kemarahan yang mencekam dalam dada nya tak bisa
ditahan lagi, sambil membentak keras, tenaga dalamnya
sebesar sepuluh bagian dihimpun ke dalam tangan
kanannya, kemudian . . . "Weess!" dihantamkan ke atas
dada kakek itu keras-keras.
Menghadapi perubahan yang terjadi amat mendadak,
apa lagi dalam jarak sedemikian dekatnya, tak mungkin lagi
buat kakek itu untuk menghindarkan diri.
"Blammm!" pukulan dari Lan See giok itu secara telak
bersarang di atas dada kakek itu.
Betapa terkejutnya Lan See giok setelah melepaskan
pukulan itu, secara beruntun dia mundur sejauh dua
langkah, kepalan kanannya yang menghajar dada kakek itu
serasa menghantam di atas gumpalan kapas, ternyata
segenap kekuatannya serasa hilang lenyap tak berbekas.
Sementara itu, kakek yang berada di hadapannya telah
tertawa ramah, lalu tanya nya lembut:
http://kangzusi.com/
"Nak, kau lagi marah kepada siapa? Mengapa kau
lampiaskan kemarahanmu itu kepadaku?"
Seraya berkata dia tertawa tergelak dengan penuh
keramahan.
Buru-buru Lan See giok memusatkan pikirannya sambil
perhitungan, dia cukup tahu keterbatasan tenaga dalam
yang dimilikinya, dibandingkan dengan kemampuan lawan,
selisih tersebut ibarat langit dan bumi, diam-diam ia lantas
memperingatkan diri sendiri agar jangan bertindak secara
gegabah.
Selain itu, diapun berpendapat hanya kakek bertenaga
dalam selihai ini yang sanggup membunuh ayahnya di
dalam sekali pukulan.
Ia menggosok gosok matanya, kemudian melototi kakek
ramah di hadapannya dengan pandangan penuh kebencian.
Tampak kakek itu berambut putih, bermuka merah dan
bermata tajam tapi penuh keramahan, ia memakai jubah
berwarna kuning dan bersikap amat gagah sekali.
Lan See giok segera merasa kalau kakek ini tidak mirip
dengan orang jahat, diam-diam pikirnya.
"Orang yang menghantam kepalaku tadi berhati kejam,
tapi. . siapakah dia?"
Diamatinya kakek berambut putih itu sekali lagi,
kemudian pikirnya lebih jauh:
"Sudah pasti dia"
Tapi ia tidak habis mengerti, apa sebabnya kakek
berwajah ramah tapi berhati kejam ini tidak segera
meninggalkan tempat itu setelah menghantam pingsan
dirinya, malahan menunggu sampai ia mendusin kembali.
http://kangzusi.com/
Mendadak satu ingatan melintas kembali dalam
benaknya, dengan cepat ia menyadari apa sebabnya kakek
itu belum juga pergi.
"Yaa, sudah pasti dia ingin menanyakan tempat tinggal
Bibi Wan" demikian dia berpikir.
Maka sambil mendengus dingin, pikiran nya lebih jauh.
"Hmmm, jangan bermimpi di siang hari bolong,
sekalipun badan harus hancur tak nanti aku akan
memberitahukan hal ini kepadamu."
Sementara itu, si kakek berjubah kuning kembali tertawa
terbahak bahak setelah menyaksikan sinar mata Lan See
giok berkedip dan wajahnya berubah, berulang kali tanpa
menjawab pertanyaannya. dengan penuh perhatian kembali
dia bertanya:
"Nak, siapakah yang telah merobohkan dirimu?"
Kemarahan dalam dada Lan See giok semakin membara,
dia menganggap semakin ramah kakek itu, semakin
menaruh perhatian kepadanya, berarti semakin berbahaya
dan jahat orang itu.
Setelah mendengus marah, serunya dengan suara dingin:
"Siapakah yang menghantamku sampai roboh? Heeehhh-
heeehhh- heeehhh, mustahil kau tidak tahu!"
Tertegun si kakek berjubah kuning itu setelah mendengar
dampratan tersebut, ditatapnya Lan See giok dengan
termangu, lama-lama kemudian ia baru sadar seperti
memahami sesuatu dan segera tertawa.
"Nak!" katanya kemudian sambil mengalahkan
pembicaraan ke soal lain:
"Apakah Lan Khong tay adalah ayahmu?"
http://kangzusi.com/
Api yang berkobar dalam dada Lan See -giok sekarang
hanyalah dendam kesumat, ia sudah bertekad tak akan
melayani pembicaraan si kakek yang dianggapnya manusia
munafik ini.
Sambil tertawa dingin segera ejeknya sinis:
"Huuuh, sudah tahu pura-pura bertanya lagi, benar-
benar tak tahu malu . . . !"
Kakek berjubah kuning itu kembali berkerut kening,
kekasaran serta kekurang ajaran bocah itu sangat di luar
dugaannya.
Sedangkan Lan See giok meski tahu kalau kepandaian
silatnya tak mampu menandingi kepandaian kakek berjubah
kuning itu, tapi diapun percaya bahwa musuhnya tak nanti
akan membinasakannya meski berada dalam keadaan yang
bagaimana gusarpun.
Sebab dia menganggap kakek berjubah kuning itu ingin
mengetahui tempat tinggal Bibi Wan nya serta jejak dari
kotak kecil tersebut, karenanya bagaimanapun marahnya
lawan tak nanti ia berani bersikap kasar.
Benar juga, kakek berjubah kuning itu menghela napas
panjang, lalu berkata lagi dengan ramah:
"Nak, aku sudah mengetahui perasaanmu sekarang, aku
tahu kau mendendam kepadaku karena mengira ayahmu
mati di tanganku, aku tidak menyalahkan kau, sedang
mengenai alasan ayahmu sampai dicelakai orang, mungkin
akupun jauh lebih jelas dari pada dirimu.."
Ucapan tersebut semakin membuat Lan See giok percaya
kalau orang yang memukul nya sampai pingsan tadi adalah
kakek berjubah kuning ini, diam-diam dia lantas
mendengus dingin:
http://kangzusi.com/
"Tentu kau adalah seorang yang berkomplot untuk
membunuh ayahku, tentu saja kau mengetahui jelas sebab
kematian dari ayahku." demikian pikirnya lagi.
".. yang membuat hatiku amat pedih adalah
keterlambatanku datang ke mari malam ini, kalau tidak
niscaya pembunuh ayahmu itu pasti akan berhasil
kutangkap.” terdengar kakek berjubah kuning itu
melanjutkan kembali kata katanya.
"Bedebah, kakek sialan, manusia licik” kontan saja Lan
See giok menyumpah di hati.
Dalam pada itu, si kakek berjubah kuning itu sudah
berhenti sejenak sebelum kemudian melanjutkan kembali
kata katanya:
"Nak, coba ceritakanlah kisah pembunuhan yang telah
menimpa ayahmu malam tadi, ceritakan pula bagaimana
terjadinya Pertarungan, berapa orang yang datang serta
manusia-manusia macam apa saja yang telah kemari,
mungkin aku bisa membantumu untuk mengenali orang-
orang itu serta merebut kembali kotak kecil tersebut."
Lan See giok tertawa dingin:
"Heeehhh. heeehhh.. heeehhh.. buat apa kau mesti
bertanya kepadaku? Aku yakin, kau sudah pasti jauh lebih
mengerti dari pada diriku sendiri.."
Merah padam selembar wajah kakek berjubah kuning itu
setelah mendengar ucapan tersebut, paras mukanya agak
berubah, jenggotnya gemetar keras, jelas orang itu merasa
agak tak senang hati, tapi hanya sejenak kemudian ia telah
bersikap lembut kembali.
Ditatapnya wajah Lan See giok lekat-lekat, kemudian
katanya dengan serius:
http://kangzusi.com/
"Nak, aku tidak habis mengerti mengapa kau bersikap
kasar, emosi dan tak menggunakan akal terhadap diriku?
Ketahuilah perbuatan semacam ini akan memporak
porandakan keadaan, tidak bermanfaat bagi masalah yang
sebenarnya, kau harus mawas diri, dinginkan otakmu dan
terutama sekali harus tahu kalau keselamatanmu sedang
terancam bahaya.."
Belum habis kakek berbaju kuning itu menyelesaikan
kata katanya, Lan See giok telah tertawa keras penuh
kegusaran, tukasnya dengan perasaan benci yang meluap.
"Sudah sedari tadi aku tak pernah memikirkan soal mati
hidupku, kenapa aku mesti takut mati? Hmmm, aku rasa
justru ada orang yang kuatir bila aku sampai mati!"
Sekali lagi kakek berbaju kuning itu mengerutkan
dahinya rapat-rapat, berkilat sepasang matanya, kemudian
seakan akan memahami sesuatu, dia manggut-manggut.
"Ehmmm, benar, ketika aku mendengar suara jeritan tadi
dan menerobos masuk ke dalam kuburan Ong-leng,
kusaksikan ada sesosok bayangan manusia yang kurus
pendek sedang kabur ke arah utara, gerakan tubuh nya
secepat sambaran petir.."
Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar ucapan
itu, terutama sekali kata bayangan manusia kurus pendek,
dengan cepat dia teringat kalau orang yang
menghantamnya sampai pingsan tadi memang seorang
kakek yang berperawakan kurus lagi pendek.
Maka dia segera mengamati tubuh kakek berbaju kuning
itu sekali lagi, ia merasa meski perawakan orang ini tidak
termasuk tinggi besar, tapi jika dia bersembunyi di belakang
meja batu, niscaya jejaknya akan ditemukan olehnya.
http://kangzusi.com/
Berpikir sampai di sini, Lan See giok semakin
kebingungan dibuatnya, dia lantas berpikir lagi:
"Jangan-jangan bukan si kakek berjubah kuning ini yang
menghantamku sampai pingsan tadi . . ?"
Tapi ingatan lain dengan cepat melintas kembali di
dalam benaknya, dia merasa walaupun bukan kakek ini,
tapi ia sudah pasti termasuk salah seorang yang berniat
jahat kepada ayahnya, kalau tidak, mengapa dia bisa tahu
kalau tujuan orang-orang itu adalah untuk mendapatkan
kotak kecil milik ayahnya?
Dari sini bisa disimpulkan kalau orang inipun bukan
orang luar, ia bisa mencari sampai di sana, berarti diapun
bukan manusia sembarangan.
Karena berpendapat demikian, maka apa yang
selanjutnya diucapkan kakek berjubah kuning itu sama
sekali tak terdengar olehnya.
Dalam pada itu, si kakek berbaju kuning tadi sudah
berkata lagi:
"Oleh karena itu, kau harus mengikuti aku untuk
menyingkir dulu ke dusun kaum nelayan Ho hi cun,
kemudian baru berusaha untuk menemukan beberapa orang
itu serta merampas kembali kotak kecil itu."
Setelah mendengar ucapannya yang terakhir ini, Lan See
giok dapat segera mengambil kesimpulan kalau kakek ini
belum lama datangnya, sebab jika ia sudah mendengar
kalau kotak kecil tersebut telah diserahkan kepada bibi Wan
nya, niscaya dia tak akan berkata begitu.
Tapi mengapa dia bisa datang terlambat? Maka tak tahan
lagi dia lantas bertanya:
"Dari mana kau bisa tahu kalau ayahku tinggal di sini?"
http://kangzusi.com/
"Aaaah kau ini . . kenapa bertanya lagi? Bukankah tadi
sudah kukatakan kepadamu?"
"Apa yang kau ucapkan tadi? Tak sepatah katapun yang
kudengar!"
"Tujuh delapan tahun berselang, aku pernah berjumpa
muka dengan ayahmu di bawah puncak Giok- li-hong di
bukit Hoa san, oleh karena ayahmu memberi kesan yang
sangat mendalam bagiku, maka begitu masuk ke mari dan
menyaksikan jenazah yang terkapar di atas genangan darah,
aku segera mengenalinya sebagai Kim wi-gin tan Lan
Khong tay yang termasyhur di kolong langit dimasa dulu.."
Mendengar sampai di situ, Lan See giok merasa amat
sedih sekali sehingga tanpa terasa dia berpaling dan
memandang sejenak ke arah jenazah ayahnya, titik-titik air
segera jatuh bercucuran membasahi wajahnya.
Terdengar kakek berjubah kuning itu berkata lebih jauh:
"Aku hanya tahu kalau ayahmu si gurdi emas peluru
perak Lan Khong tay berdiam di sekitar telaga Huan-yang
ou, tapi tidak kuketahui jika ia berdiam dalam kuburan Ong
leng."
"Setengah jam berselang, karena suatu persoalan secara
kebetulan aku lewat di sini. mendadak kudengar suara
jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema dari sini,
dalam kagetnya aku bergerak berangkat ke mari.
Baru tiba di depan pintu gerbang yang bobrok itu,
kujumpai dari belakang kuburan muncul sesosok bayangan
kecil dan kurus sedang kabur ke arah utara, sebenarnya aku
hendak mengejarnya, tapi setelah kutemukan di belakang
kuburan terdapat pintu yang terbuka lebar, maka akupun
masuk ke mari.
http://kangzusi.com/
Apa yang kulihat pertama kalinya adalah ayahmu yang
terkapar di atas genangan darah bila kuperiksa ternyata
mayatnya sudah kaku dan ia sudah meninggal cukup lama,
itu berarti jeritan yang kudengar tadi bukan berasal dari
ayahmu."
Tanpa terasa Lan See giok mengangguk ia tahu jeritan
ngeri yang didengar kakek berjubah kuning tadi sudah pasti
orang yang kena ditembusi gurdi emas di balik dinding itu.
Tanpa terasa dia lantas mengerling sekejap ke arah
senjata "gurdi emas" yang menembusi dinding ruangan itu.
Terdengar kakek berjubah kuning itu berkata lebih jauh:
"Waktu itu aku merasa keheranan, kemudian kusaksikan
kau terkapar di balik meja sana, ketika kuperiksa ternyata
kau belum mati."
"Pertama tama kutarik dulu badanmu ke luar dari situ,
baru kuketahui kau sedang pingsan, tapi ada satu hal yang
tidak kupahami, mengapa orang yang telah membinasakan
ayahmu telah melepaskan kau dengan begitu saja “
Tentu saja Lan See giok tahu apa sebabnya dia tak mati,
cuma dia enggan untuk mengutarakannya.
Terdengar kakek berjubah kuning itu berkata lebih jauh:
"Sampai kini aku tidak tahu apa sebabnya orang itu tidak
membunuhmu, tapi aku yakin orang itu pasti menganggap
kau mempunyai kegunaan yang amat berharga, namun bila
apa yang berharga itu sudah dapat diraih, jelas kau pun
akan dibunuh juga."
"Oleh sebab itu, sekarang kau harus pergi meninggalkan
tempat ini, demi keselamatanmu kau harus pergi dari sini- “
"Tidak" tukas Lan See giok dengan cepat: "aku tak akan
meninggalkan tempat ini"
http://kangzusi.com/
Jawaban tersebut sama sekali di luar dugaan kakek
berjubah kuning itu, tanpa terasa serunya dengan perasaan
terperanjat:
"Mengapa?"
"Aku hendak menunggu orang itu datang kembali, aku
hendak membunuh orang itu untuk membalaskan dendam
bagi ayahku"
Kakek berjubah kuning itu termenung sebentar, akhirnya
diapun manggut-manggut.
"Baiklah", katanya kemudian, "tunggu saja di sini,
sekarang aku harus pergi dulu, semoga kau bisa baik-baik
menjaga diri dan berhati-hati dalam setiap tindakan."
Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan dan
bertalu dari tempat itu.
Lan See giok hanya mengawasi kakek berbaju kuning itu
dengan pandangan dingin, ia tidak menahannya pun tidak
menghantar kepergiannya, karena ia masih ragu terhadap
apa yang telah diucapkan orang itu.
Setelah berjalan beberapa langkah, mendadak kakek itu
berhenti lagi, sambil berpaling ke arah Lan See giok
pesannya:
"Nak, jika kau mempunyai kesulitan atau membutuhkan
bantuanku, datang saja ke rumahnya Huan kang ciang liong
(naga sakti pembalik sungai) di dusun Hong hi cun untuk
mencari diriku, saat itulah aku akan memberitahukan
kepadamu apa sebabnya orang-orang itu membunuh
ayahmu."
Selesai berkata, tidak menanti jawaban dari bocah itu
lagi, dia segera berlalu dari situ, hanya dalam sekejap mata
http://kangzusi.com/
saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan
mata.
Lan See-giok agak terkejut pula menyaksikan kelihaian
ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu.
Setelah berpikir sejenak, diapun termenung:
"Orang-orang itu semuanya berilmu tinggi, untuk
membalas dendam .. aaai tampaknya sulit melebihi
mendaki ke langit.."
Dengan sedih dia memandang ke arah ayahnya sekali
lagi, sementara air mata kembali jatuh bercucuran.
Pelan-pelan dia berjalan ke sisi jenazah ayahnya,
membungkukkan badannya dan bermaksud untuk
membopong tubuh ayah-nya.
Mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya,
dengan cepat dia berjongkok untuk memeriksa dengan lebih
seksama.
Ternyata ujung jari telunjuk jenazah si Gurdi emas
peluru perak Lan Khong tay sedang menancap di atas
tanah, sementara di atasnya telah terukir sebuah goresan,
entah goresan lukisan atau tulisan . .
Dengan cepat Lan See giok menduga kalau goresan itu
pasti dibuat oleh ayahnya menjelang ajal merenggut
nyawanya.
Sebagai bocah yang pintar, Lan See giok segera
mengambil lampu lentera di meja dan didekatkan pada
goresan tersebut.
la tahu, besar kemungkinan goresan tersebut menyangkut
soal nama pembunuh yang telah menghabisi jiwa ayahnya .
..
http://kangzusi.com/
Lama sekali Lan See giok mengamati goresan itu dengan
seksama, akhirnya dia berhasil menarik kesimpulan kalau
goresan tersebut adalah sebuah goresan tulisan.
Tampaknya tulisan itu adalah sebuah huruf "To" atau
tunggal.
Dengan termangu mangu dia mengawasi huruf tersebut
sambil berpikir.
"Apakah arti kata dari huruf To itu? Apakah julukan dari
pembunuh ayahnya..? Ataukah menunjukkan nama marga
orang itu?"
Dengan cepat dia memeras otak berusaha untuk mencari
diantara nama-nama tokoh persilatan yang pernah
diberitahukan ayah-nya selama ini, apakah ada yang
berjulukan dengan huruf To "ataupun menggunakan nama
marga To-.
Tapi dia kecewa, tak seorangpun diantara jago-jago yang
teringat olehnya mempergunakan julukan itu, diapun tak
tahu apakah di kolong langit terdapat orang yang
menggunakan nama marga To.
Akhirnya dia meletakkan kembali lampu lentera itu ke
atas meja, membopong jenazah ayahnya ke atas
pembaringan, kemudian sambil duduk di sisinya dia
menangis tersedu sedu.
Sambil menangis dia berdoa kepada ayah-nya agar
membantunya dalam pencarian orang yang menggunakan
huruf "tunggal" pada julukan atau namanya . . . .
Mata tunggal
Mendadak bayangan manusia berjubah hitam, berwajah
seram dan bermata tunggal itu melintas kembali dalam
benaknya.
http://kangzusi.com/
Lan See giok segera berhenti menangis, dengan kobaran
api dendam segera gumam nya.
"Betul, sudah pasti si manusia bermata tunggal itu- sudah
pasti keparat itu”
Tapi diapun teringat, pula dengan orang yang telah
menggeledah sakunya ketika ia pingsan karena sedih tadi,
siapa pula orang itu? Apakah dia bukan pembunuh
ayahnya?
Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya, dia
merasa bila ingin mengetahui siapakah pembunuh ayahnya,
dia harus mencari ke belakang dinding ruangan itu serta
menemukan orang yang telah menghantamnya sampai
pingsan itu.
Mendadak dia melompat bangun dan segera lari menuju
ke dalam kamar tidurnya.
Setitik cahaya terarah mencorong masuk lewat lubang
angin dalam kamarnya, ternyata fajar telah menyingsing.
Selangkah demi selangkah dia berjalan menuju ke depan
pembaringan, kemudian berjongkok ke bawah, di situ
hanya dijumpai segumpal darah, sedangkan orang yang
bersembunyi di sana telah dilarikan si manusia bermata
tunggal itu.
Dalam sekejap mata saja dia lantas menaruh curiga
terhadap orang yang telah dilarikan si mata tunggal itu, dia
curiga bukan saja orang itu telah menyimpan barang yang
hendak didapatkannya, bahkan curiga kalau orang itu telah
menyaksikan adegan sewaktu ayahnya terbunuh.
Dengan termangu Lan See giok mengawasi senjata gurdi
emas yang menembusi dinding ruangan itu, baru pertama
kali ini dia mengetahui betapa tajamnya senjata gurdi emas
tersebut.
http://kangzusi.com/
Ia berjalan ke luar dari ruangan, mengerahkan segenap
tenaganya untuk membetot keluar senjata gurdi tersebut,
kemudian menggulungnya dan dimasukkan ke dalam saku,
dia bertekad hendak menggunakan senjata gurdi emas milik
ayahnya untuk membinasakan pembunuhan keji tersebut.
Sekarang dia merasa kemungkinan si manusia bermata
tunggal itulah pembunuh ayahnya yang terbesar, kemudian
orang yang menggeledah tubuhnya merupakan orang kedua
yang perlu dicurigai, sedangkan orang yang bersembunyi di
belakang dinding dan belakang meja serta si kakek tunggal
paling kecil kemungkinannya.
Walaupun begitu, dia masih tetap menaruh curiga
terhadap kakek berjubah kuning yang berwajah ramah itu,
dia tak tahu apakah orang itulah yang telah menghajarnya
sampai pingsan atau bukan.
Selain itu, diapun tak habis mengerti siapakah orang
yang kemungkinan besar sempat mengikuti adegan
pembunuhan terhadap ayahnya.
Dalam keadaan begini dia, lantas berpendapat bahwa ia
harus pergi menuju ke dusun Hong hi cun mencari si kakek
berjubah kuning itu dan mencari keterangan darinya, lagi
pula kakek itupun pernah berjanji dia akan menerangkan
sebab musabab terjadinya pembunuhan terhadap ayahnya
itu.
Setelah mengambil keputusan, buru-buru dia menuju ke
sisi pembaringan di mana jenazah ayahnya berbaring, dia
hendak membawa jenazah ayahnya menuju ke ruang dalam
dan membaringkannya bersama dengan jenazah ibunya.
Belum lagi dia berbuat sesuatu mendadak terdengar lagi
suara ujung baju yang terhembus angin berhembus tiba.
http://kangzusi.com/
Dengan perasaan terperanjat Lan See giok segera
berpikir
"Siapa lagi yang datang?"
Mendadak . . . . . terdengar suara isak tangis yang amat
keras berkumandang datang dari pintu masuk ruangan
kuburan itu.
Dengan perasaan terperanjat Lan See giok segera
berpaling, ia saksikan sesosok bayangan manusia diiringi
suara isak tangis yang parau bergema tiba dengan kecepatan
luar biasa.
Cepat sekali gerakan tubuh bayangan hitam itu, hanya di
dalam waktu sekejap ia telah tiba di sana.
Lan See-giok dibuat kalut juga pikirannya setelah
menyaksikan kejadian itu, untuk menyembunyikan diri tak
sempat lagi.
Tampaklah bayangan hitam itu segera menubruk ke
depan jenazah yang berada di atas pembaringan dan
menangis tersedu sedu, sebuah benda tiba-tiba terjatuh ke
tanah.
Oleh kejadian yang berlangsung sangat mendadak dan di
luar dugaan ini, Lan See giok hanya bisa berdiri termangu
mangu dan untuk sesaat tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Ketika ia mencoba untuk mengamati benda yang terjatuh
ke tanah, ternyata isinya adalah sebuah keranjang bambu
yang penuh berisikan hio, lilin dan uang kertas.
Ketika dia mengawasi pula orang yang sedang menangis
di depan jenazah ayahnya, ternyata orang itu adalah
seorang kakek kurus kering yang berbaju abu-abu, berambut
putih dan bertelinga tunggal.
http://kangzusi.com/
Waktu itu, dengan suara yang parau si kakek bertelinga
tunggal itu menangis tiada hentinya.
"Ooooh adik Khong-tay . . . sungguh mengenaskan
kematianmu ini . . . oooh . . . betapa sengsaranya engkoh
tua mencari dirimu . . ."
Begitu mengetahui kalau orang itu adalah sahabat karib
ayahnya, kontan saja Lan See -giok merasakan kesedihan
yang tak terkendalikan, dia segera menubruk ke tubuh
kakek itu dan turut menangis tersedu sedu.
Dalam waktu singkat seluruh ruangan kuburan itu sudah
dipenuhi oleh isak tangis yang mengenaskan, suasana
begitu sedih dan penuh kepedihan membuat siapapun akan
turut beriba hati bila melihatnya.
Dalam isak tangisnya, Lan See giok merasa ada sebuah
tangan yang kurus kering sedang membelai kepalanya
dengan penuh kasih sayang, bersamaan itu pula terdengar
kakek bertelinga tunggal itu berseru sambil menangis
terisak:
"Anak Giok, anak yang patut dikasihani.."
Kata selanjutnya tak bisa dilanjutkan karena suaranya
menjadi sesenggukan dan tersendat sendat.
Mendengar panggilan "Anak Giok" yang mesra itu, isak
tangis Lan See giok semakin menjadi.
Walaupun dalam ingatannya dia belum pernah
mendengar ayah ibunya pernah berbicara tentang seorang
empek yang bertelinga tunggal, namun sejak kehilangan
ayahnya, inilah panggilan mesra pertama yang didengar
olehnya.
http://kangzusi.com/
Itulah sebabnya pula dalam hati kecilnya segera menaruh
perasaan yang akrab terhadap kakek ceking bertelinga
tunggal ini.
Terdengar kakek ceking itu berkata dengan penuh kasih
sayang.
"Anak Giok, jangan menangis, bangunlah, biar empek
tua melihat wajahmu. . sudah sepuluh tahun lebih kita
berpisah, sungguh tak nyana kalau kau sudah tumbuh
menjadi begini dewasa. ."
Air mata Lan See giok ibaratnya anak sungai yang
meluap, tanpa terasa lagi dia memeluk tubuh kakek ceking
bertelinga tunggal itu semakin kencang.
Kembali kakek itu menghela napas sedih lalu bisiknya
agak gemetar :
"Anak Giok, anak yang patut dikasihani.."
Sambil berkata dia lantas membopong tubuh Lan See-
giok dan membangunkannya.
Lan See-giok masih saja menangis tersedu-sedu . . . .
Dengan penuh kasih sayang kakek bertelinga tunggal itu
menyeka air mata yang membasahi pipinya.
Lan See-giok belum sempat melihat raut wajah empek
tuanya ini, ketika dia mendongakkan kepalanya dan
mengamati dengan seksama, tiba-tiba timbul suatu perasaan
seram dalam hatinya, ternyata kakek ceking bertelinga
tunggal ini mempunyai wajah berbentuk kuda, beralis
botak, mata sesat, mulut, tipis tak berjenggot, tulang kening
lancip serta hidung melengkung seperti paruh elang.
Tampang semacam ini seratus persen adalah tampang dari
seorang manusia sesat.
http://kangzusi.com/
Setelah menangis sekian lama, walaupun di atas
wajahnya yang penuh keriput tak nampak basah oleh air
mata, namun sepasang mata sesatnya yang penuh kelicikan
telah berubah menjadi merah membara.
Lan See giok benar-benar tidak percaya dengan
pandangan matanya, dia tak mengira kalau seorang yang
bersuara lembut, bersikap hangat dan penuh kasih sayang
itu ternyata memiliki raut wajah yang menyeramkan serta
menggidikkan hati.
Tapi bukankah di dunia ini tak sedikit manusia berwajah
jelek dan menyeramkan yang justru berhati bajik dan mulia?
Berpikir demikian, agak lega juga perasaan hatinya.
Menyaksikan Lan See giok hanya mengamatinya terus
tanpa berkedip, dengan nada penuh kasih sayang kakek
bertelinga tunggal itu segera menegur:
"Anak Giok, sudah tidak kenal lagi dengan empek tua?"
Sambil berkata, tangannya yang kurus kering itu tiada
hentinya meraba bahu maupun punggung Lan See giok.
Anak itu menatap sekejap si kakek, lalu mengangguk
jujur.
Kakek bertelinga tunggal itu segera tertawa getir, katanya
dengan sedih:
"Yaa. ini memang tak dapat menyalahkan kau, sudah
sepuluh tahun lebih kita tak pernah bersua, waktu itu kau
masih seorang anak cilik yang tak tahu apa-apa.."
Berbicara sampai di situ, sepasang mata sesat nya segera
melirik sekejap ke arah mayat Lan Khong tay, kemudian
sambungnya lebih jauh:
"Anak Giok, apakah ayahmu belum pernah
membicarakan tentang diriku kepadamu?"
http://kangzusi.com/
Lan See giok merasa kurang leluasa untuk menjawab
secara terus terang, maka sahutnya:
"Ayah memang seringkali membicarakan tentang nama
dan empek yang banyak sekali jumlahnya, sayang anak
Giok bodoh dan tak bisa mengingat terlalu banyak."
Mendengar jawaban tersebut, si kakek bertelinga tunggal
itu segera tertawa bangga.
Tapi menyaksikan kening Lan See giok berkerut
kencang, dia segera menarik kembali senyumnya dan
berkata lagi dengan sedih:
"Anak Giok, cepat kau pungut hio dan lilin itu, mari kita
bersembahyang di depan jenazah ayahmu .."
Berbicara sampai di situ, dia lantas membungkukkan
badan dan memunguti lebih dulu kertas uang, hio dan lilin.
Tergerak hati Lan See giok setelah menyaksikan benda-
benda itu, dengan cepat dia berseru:
"Empek tua, sudah sepuluh tahun lebih kau berpisah
dengan ayahku, darimana kau bisa tahu kalau ayah dan
anak Giok tinggal di sini? Dari mana pula kau bisa tahu
kalau ayahku tewas?"
Kakek bertelinga tunggal itu sedikitpun tidak gugup,
sahutnya dengan pelan:
"Anak Giok, sudah sepuluh tahun lebih empek mencari
ayahmu, semalam ketika aku berada di kota sebelah depan
sana, tiba-tiba kudengar di luar penginapan ada orang
sedang membentak-bentak, ketika empek lari ke luar,
ternyata orang itu adalah To-kak-thi koay (Tongkat besi
kaki tunggal) Gui Pak -ciang, seorang musuh bebuyutan
ayahmu di masa lalu.."
http://kangzusi.com/
Tergerak kembali perasaan Lan See giok, cepat dia
menimbrung:
"Empek maksudkan seorang kakek bertongkat besi yang
kehilangan kaki sebelah kiri nya?"
Kakek bertelinga tunggal itu nampak agak tertegun,
kemudian serunya tidak habis mengerti:
"Apa? Jadi kau kenal dengan dia?"
Menyinggung soal itu, Lan See giok segera teringat
kembali akan perbuatan si Toya besi berkaki tunggal Gui
Pak ciang yang telah menusuk tubuhnya dengan toya besi
tersebut, dengan kening berkerut serunya penuh rasa
dendam.
"Dua jam berselang, dia telah datang ke mari!"
Diam-diam kakek bertelinga tunggal itu melirik sekejap
wajah Lan See giok yang diliputi hawa amarah, kemudian
dengan paras muka berubah hebat pikirnya:
"Tebal amat hawa pembunuhan dari anak ini .."
Kemudian sambil menghela napas sedih katanya lebih
jauh.
"Benar, aku tahu kalau kalian tinggal di sini dan tahu
juga kalau adik Khong tay telah tewas, aku tahu karena dia
yang memberitahukan hal itu kepada empek, waktu itu aku
merasa sedih sekali, sehingga setelah mencari keterangan
jalan kemari, akupun membeli hio dan lilin, langsung
berangkat ke mari.."
Kemarahan dan rasa dendam Lan See -giok segera
berkobar lagi, tiba-tiba ia berpaling ke arah kakek bertelinga
tunggal itu, lalu bertanya dengan sedih:
"Empek, apakah kau tidak bertanya kepadanya siapa
yang telah membinasakan ayahku?"
http://kangzusi.com/
Sekali lagi kakek bertelinga tunggal itu merasakan
hatinya bergetar keras sesudah menyaksikan sorot mata Lan
See-giok yang tajam bagaikan sembilu, ia merasa walaupun
usia Lan See giok hanya belasan tahun, tapi paling tidak ia
sudah memiliki tenaga dalam sebesar sepuluh tahun hasil
latihan, suatu kehebatan yang luar biasa.
Maka sambil menunjukkan perasaan sedih dan pedih,
dia menjawab:
"Sebodoh-bodohnya empek, tak nanti aku akan lupa
menanyakan persoalan yang maha penting ini, menurut dia,
sewaktu ia memasuki kuburan ini dibalik kegelapan tampak
sesosok bayangan manusia yang menyembunyikan diri,
setelah dilakukan pengejaran sampai di dalam hutan,
barulah diketahui kalau orang itu adalah To pit him
(beruang berlengan tunggal) Kiong Tek cong.."
Mendengar nama "Beruang berlengan tunggal", tergerak
hati Lan See giok, dengan cepat ia menjadi sadar kembali
apa sebabnya orang itu setelah menotok jalan darahnya,
tetap meraba pula dengan tangan kanan, rupanya dia
adalah seorang yang berlengan tunggal.
Teringat akan "berlengan tunggal," dia lantas terbayang
kembali dengan huruf "tunggal" yang digoreskan ayahnya
di atas tanah.
Tapi sekarang telah muncul seorang berkaki tunggal,
seorang berlengan tunggal, dan seorang lagi bermata
tunggal, siapakah yang dimaksudkan ayahnya sebagai
"tunggal" tersebut?
Dengan keterangan yang diperolehnya dari si kakek yang
bertelinga tunggal ini, maka dia mulai merasa ragu lagi
terhadap kesimpulan nya semula yang menduga si manusia
bermata tunggal itulah pembunuh ayahnya.
http://kangzusi.com/
Karenanya dengan kening berkerut dia mulai memutar
otak untuk melakukan analisa, sebenarnya pembunuh
ayahnya itu si Beruang berlengan tunggal Kiong Tek ciong
ataukah si manusia bermata tunggal?
Tapi akhirnya dia menarik kesimpulan, kemungkinan
yang paling besar adalah si Beruang berlengan tunggal.
Tapi sewaktu si manusia bermata tunggal memasuki gua
tadi, ia masuk dengan terburu -buru, bahkan melirik ke arah
ayahnya pun tidak, sebaliknya langsung menuju ke
pembaringan dan melakukan pemeriksaan, bukankah hal
ini membuktikan kalau ia sudah pernah datang satu kali di
situ?
Dalam pada itu si kakek bertelinga tunggal sedang
memasang hio sambil diam-diam mengawasi Lan See giok
yang sedang berdiri termenung. .
Tiba-tiba ia mendengar bocah itu sedang berguman.
"Tapi. . . mengapa dia balik lagi untuk menggeledah
pembaringan serta lubang angin?"
Dengan perasaan tidak habis mengerti si kakek bertelinga
tunggal itu segera menimbrung:
"Anak Giok, siapakah yang kau maksud kan?".
Lan See giok berusaha menenangkan hatinya, lalu
berpaling sambil bertanya:
"Empek tua, apakah kau kenal dengan seorang manusia
bermuka hijau, bergigi taring dan bermata tunggal?"
Paras muka kakek bertelinga tunggal itu berubah hebat,
tampaknya dia merasa terkejut sekali, kemudian serunya
dengan cemas:
"Apa? Iblis keji itupun telah datang?"
http://kangzusi.com/
Dari mimik wajah kakek itu, Lan See giok segera tahu
kalau manusia bermata tunggal itu adalah seorang manusia
yang sangat lihay, dia lantas manggut-manggut.
"Empek, siapakah orang itu?" serunya.
"Dia adalah seorang iblis yang amat termasyhur
namanya di dalam golongan putih maupun golongan
hitam, orang menyebut nya sebagai To gan liau pok (setan
buas bermata tunggal) Toan Ki tin".
Sambil menjawab, dia lantas membawa hio dan berjalan
ke depan pembaringan.
Lan See giok masih saja berdiri termangu -mangu sambil
membawa uang kertas tersebut, dia lupa menderita, tiada
air mata dalam kelopak matanya, ia sudah dibikin
kebingungan oleh teka teki yang berada di hadapannya. . .
Diam-diam kakek bertelinga tunggal itu melirik sekejap
ke arah Lan See giok kemudian serunya:
"Anak giok, cepat kau bakar uang kertas itu!"
Lan See giok segera tersadar kembali dan maju
mendekat, tapi apa yang kemudian tertera di hadapannya
membuat ia menjadi terkejut sehingga paras mukanya
berubah.
Ternyata kakek bertelinga tunggal itu telah menancapkan
hio tadi ke atas tiang kayu di ujung pembaringan, dilihat
dari sini dapat diketahui kalau tenaga dalamnya benar-
benar sangat lihay.
Dengan air mata bercucuran Lan See giok segera
berseru.
"Oooh empek tua, mengapa kau tidak mau datang sehari
lebih pagian, jika empek ada di sini, niscaya ayah tak
sampai dicelakai orang."
http://kangzusi.com/
"Aaai . . . anak Giok, inilah yang dinamakan takdir,
kalau aku tidak bertemu dengan To kak- thi-koay Gui Pak
ciang secara kebetulan, empek malah tidak tahu kalau
kalian berdiam di dalam kuburan rahasia ini."
Setelah hening sejenak, tiba-tiba Lan See- giok bertanya
lagi:
"Empek, tahukah kau, apa sebabnya ayahku pindah ke
dalam kuburan kuno ini?"
Kakek bertelinga tunggal itu nampak agak sangsi,
kemudian sahutnya:
"Keadaan yang sebenarnya tidak begitu kuketahui, tapi
menurut sementara orang persilatan, mereka menduga
ayahmu telah berhasil menemukan sejilid kitab Cinkeng
ketika berada di bawah puncak Giok li hong di bukit Hoa
san . . . ".
Menyinggung soal puncak Giok li hong di bukit Hoa
San, Lan See giok teringat kembali akan kakek berbaju
kuning yang berwajah ramah itu, dia mengatakan kalau
telah bertemu dengan ayahnya di bawah puncak Giok li
hong.
Sementara dia masih termenung, kakek bertelinga
tunggal itu telah bertanya lagi dengan ramah.
"Anak Giok apakah ayahmu pindah ke mari benar-benar
dikarenakan persoalan tersebut?
Dengan cepat bocah itu menggeleng.
"Tidak, anak Giok tidak tahu, tapi belum pernah
kusaksikan ayahku membaca kitab Cinkeng apapun . . ."
Belum selesai Lan See-giok menjawab, dengan senyum
ramah kakek bertelinga tunggal itu telah menukas, katanya:
http://kangzusi.com/
"Sekalipun namanya kitab Cinkeng, sesungguhnya tak
lebih cuma sebuah kotak kecil ."
Mendengar sampai di situ, Lan See-giok hampir saja tak
sanggup menahan diri, jantungnya berdebar semakin keras.
Mencorong sinar terang dari balik mata si kakek yang
sesat, di atas wajahnya yang menyeramkan terpancar pula
sinar kerakusan, tapi sejenak kemudian katanya lagi sambil
tertawa ramah:
"Anak Giok, pernahkah kau menyaksikan kotak kecil
itu?"
Lan See-giok merasakan jantungnya semakin keras, dia
merasa walaupun kakek bertelinga tunggal ini adalah
sahabat karib ayahnya, tapi ia merasa tak baik untuk
mengungkap persoalan tersebut sekarang.
Maka setelah ragu-ragu sebentar, sahutnya agak
tergagap:
"Anak Giok belum pernah menyaksikannya!"
Selesai berkata dia lantas menundukkan kepalanya
dengan perasaan malu dan menyesal.
Sedang si kakek bertelinga tunggal itu nampak berubah
hebat paras mukanya, keningnya berkerut dan mata
sesatnya melotot besar, senyuman menyeringai segera
menghiasi wajahnya, tampang yang pada dasarnya sudah
menyeramkan, kini semakin menakutkan lagi.
Tenaga dalamnya segera dihimpun ke dalam telapak
tangan kanannya yang kurus kering, kelima jari tangannya
yang di pentangkan bagaikan cakar pelan-pelan di ang-kat
ke angkasa.
Sedang Lan See-giok sendiri, waktu itu merasa menyesal
sekali karena telah berbohong, saking malunya dia sampai
http://kangzusi.com/
tak berani mendongakkan kepalanya lagi, dia merasa tidak
seharusnya berbohong terhadap seorang empek sahabat
karib ayahnya yang sudah sepuluh tahun lebih mencari
mereka.
Si kakek bertelinga tunggal itu sudah mengejangkan
seluruh kulit mukanya, tangan kanannya yang ceking dan
penuh disertai tenaga dalam itu sudah di angkat melampaui
bahunya.
Tapi kemudian berkilat sepasang matanya, wajah yang
semula menyeringai serampun kini pulih kembali seperti
sedia kala. senyuman licik menghiasi ujung bibirnya. tangan
kanannya yang sudah dipersiapkan seperti cakar setanpun
diturunkan kembali ke bawah.
Kemudian dengan suara yang tetap ramah dan lembut
dia berkata:
"Tentu saja, terhadap masalah sepenting ini, apalagi
menyangkut benda mestika dari dunia persilatan, mana
mungkin dia akan perlihatkan kepada seorang anak yang
tak tahu urusan seperti kau.."
Setelah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh:
"Apa lagi sekalipun kau tahu juga tak akan memahami
betapa pentingnya benda tersebut."
Lan See giok segera mengiakan berulang kali untuk
menutup ketidak tenangan di dalam hatinya.
Kakek bertelinga tunggal itu memandang sekejap ke arah
jenazah yang berbaring di atas pembaringan, kemudian
kembali dia berkata:
"Anak Giok, orang bilang masuk ke tanah akan
membuat yang tiada menjadi tenteram, kita harus segera
mengebumikan jenazah ayahmu ini”
http://kangzusi.com/
Lan See giok merasakan hatinya amat sakit bagaikan
diiris-iris dengan pisau belati, ia mendongakkan kepalanya
dan memandang jenazah ayahnya sekejap, kemudian
katanya:
"Anak Giok bermaksud untuk membaringkan jenazah
ayahku di samping jenazah ibuku di dalam kuburan sana”
"Apakah kau tahu jalan menuju ke dalam kuburan
sana?" tidak menunggu bocah itu menyelesaikan kata
katanya, si kakek bertelinga tunggal itu telah menukas lebih
dulu.
Tanpa ragu Lan See giok mengangguk, tapi sorot
matanya masih tetap menatap jenazah ayahnya.
"Setiap tahun disaat hari kematian ibuku, ayah pasti
mengajak Giok ji masuk ke dalam untuk menengok wajah
ibu."
Berbicara sampai di situ, dua baris air mata segera jatuh
bercucuran membasahi pipinya.
Kejut dan girang segera menyelimuti wajah jelek kakek
bertelinga tunggal itu, dengan tak sadar dia segera berseru.
"Kalau memang begitu, mari kita segera turun tangan"
Tidak menunggu pendapat dari Lan See- giok lagi, buru-
buru dia menuju ke depan pembaringan dan membopong
bangun jenazah dari si Gurdi emas peluru perak Lan Khong
tay, kemudian melanjutkan:
"Giok ji, kau jalan di muka!"
Lan See giok pun merasa ada baiknya untuk segera
mengirim jenazah ayahnya ke dalam kuburan, maka sambil
mengangguk dia berjalan lebih dulu menuju ke sebuah
lorong.
http://kangzusi.com/
Kakek bertelinga tunggal itu hampir saja tak sanggup
mengendalikan gejolak emosi dalam dadanya, sehingga
wajahnya nampak berseri, sambil membopong jenazah Lan
Khong-tay ia segera mengikuti di belakang Lan See giok
kencang kencang.
Kedua orang itu dengan menelusuri lorong yang gelap
segera berputar ke kiri berbelok ke kanan, berjalan terus
tiada hentinya . .
Akhirnya sampailah mereka di depan sebuah
persimpangan jalan, di kedua belah samping lorong itu
terdapat dinding yang berbentuk hampir sama, dan di sana
terdapat pintu besi yang besarnya hampir sama tertutup
rapat.
Melihat hal itu, si kakek bertelinga tunggal itu nampak
sangat gelisah, apa lagi setelah menyaksikan Lan See-giok
berjalan dengan langkah yang amat berhati - hati, dengan
cepat dia alihkan Lan Kong thay ke bawah ketiaknya.
Maka setiap kali mereka melakukan belokan dia lantas
mengerahkan tenaga dalamnya ke ujung jari dan diam-diam
membuat sebuah tanda di atas dinding gua tersebut.
Tak selang berapa saat kemudian, mereka telah melalui
tujuh buah ruangan batu berbentuk persegi serta tiga puluh
ruang kuburan kosong yang amat besar, akhirnya di depan
sana muncul setitik cahaya yang amat redup dibalik
kegelapan.
Tergerak hati kakek bertelinga tunggal itu, dia tahu di
depan sana adalah tempat yang mereka tuju, buru-buru
jenazah Lan Khong tay dibopong dengan baik.
Saat itulah Lan See giok telah berpaling sembari berkata.
"Empek, di depan situlah terletak kuburan ibuku!"
http://kangzusi.com/
Kemudian, sewaktu dilihatnya kakek itu membopong
jenazah ayahnya dengan amat hormat, dia menjadi terharu
sekali. segera ujarnya lebih jauh.
"Empek, tahukah kau bahwa kuburan raja ini berada
dalam keadaan kosong? Hanya kuburan inilah baru benar-
benar merupakan kuburan Leng ong- “
Tak terlukiskan rasa girang kakek bertelinga tunggal itu
setelah mendengar ucapan tersebut, sampai lama kemudian
ia baru berkata dengan suara gemetar.
"Empek tahu . . . ."
ooo0dw0ooo
BAB 3
RAHASIA TERCUR INYA PEDANG

DENGAN wajah tertegun Lan See giok segera berpaling


dan memandang sekejap ke arah kakek bertelinga tunggal
itu.
Dengan cepat kakek itu tahu kalau dia telah salah
berbicara, satu ingatan dengan cepat melintas dalam
benaknya, ujarnya dengan penuh kesedihan.
"Sesudah sepuluh tahun lebih empek mencari orang
tuamu, meskipun tak bisa bertemu dalam keadaan hidup,
tapi asal aku bisa melihat wajah ibumu yang sudah lama
tiada pun rasanya tidak sia-sia belaka perjalananku selama
puluhan tahun ini"
Lan See giok segera mengucurkan kembali air matanya
karena ia sedih. Sementara pembicaraan sedang
berlangsung, mereka sudah tiba di suatu tempat yang
bersinar itu.
http://kangzusi.com/
Sebuah pintu besi yang tinggi besar berdiri angker di
hadapan mereka, pintu itu tertutup rapat sementara di
sebelah kiri dan kanannya masing-masing terdapat sebuah
ruangan batu.
Di atas pintu besi itu terdapat sebuah mutiara yang
memancarkan cahaya berkilauan.
Lan See giok segera menyeka air mata dan berjalan
masuk ke dalam ruangan batu di sebelah kiri.
Sementara itu kakek bertelinga tunggal sedang
mengawasi gerak gerik, bocah itu dengan seksama, paras
mukanya yang jelek dan licikpun mengikuti setiap
perubahan dari Lan See giok berubah ubah.
Pelan-pelan Lan See giok berjalan menuju ke sudut
ruangan sebelah dalam lalu menyingkapkannya ke atas.
Batuan yang berada di sana paling tidak mencapai dua
tiga ratus kati beratnya, tapi nyatanya Lan See giok dengan
sepasang tangannya dapat mengangkat batu itu secara
mudah, hal ini kontan saja membuat kakek itu berubah
wajah dan terperanjat sekali.
Menurut penilaiannya secara diam-diam, paling tidak
tenaga dalam yang dimiliki Lan See giok telah mencapai
sepuluh tahun kesempurnaan.
Selintas hawa napsu membunuh segera menghiasi wajah
yang jelek, dengan cepat pikirnya:
"Jelas dia merupakan bibit bencana, manusia semacam
ini tak boleh diampuni dengan begitu saja"
Ia menyaksikan pula sebuah gelang besar berwarna
hitam yang berkilat berada di bawah batu itu dan menempel
di atas tanah.
http://kangzusi.com/
Lan See giok segera menggenggam gelang itu, kemudian
membentak keras sambil membetotnya ke atas, gelang itu
dengan cepat terangkat ke atas menyusul munculnya seutas
rantai besar.
Mendadak.. dari bawah tanah sana berkumandang suara
gemerincing yang amat ramai.
Menyusul kemudian pintu besi yang tinggi besar itu
pelan-pelan bergeser kedua belah samping dengan
menimbulkan suara gemericit yang berat.
Kakek bertelinga tunggal itu segera merasakan ada
segulung hawa dingin yang menusuk tulang memancar ke
luar dari balik pintu tersebut, tanpa terasa sekujur badannya
gemetar keras.
Di balik pintu merupakan sebuah lorong yang
panjangnya dua kaki, di ujung lorong sana merupakan
sebuah dinding lagi, di bagian tengah dinding terdapat
sebaris batu permata sebesar kepalan yang memancarkan
cahaya berkilauan.
Waktu itu pintu besi sudah terbuka lebar, Lan See-giok
telah masuk pula ke dalam ruangan, kepada kakek
bertelinga tunggal itu segera serunya:
"Empek tua, mari kita masuk!"
Sembari berkata, dia lantas berjalan masuk lebih dulu ke
dalam pintu besi tersebut.
Kakek bertelinga tunggal itu manggut-manggut, dia
segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan hawa
dingin yang mencekam, kemudian mengikuti di belakang
Lan See giok.
Setibanya di ujung lorong sana, terlihatlah di kiri dan
kanan lorong terdapat pula sebuah pintu besi.
http://kangzusi.com/
Lan See giok berjalan ke pintu sebelah kiri, kemudian
mendorongnya dengan sepenuh tenaga, pintu besi itu pelan-
pelan menggeser ke samping dan terbuka lebar.
Hawa dingin yang mengalir ke luar dari gua tersebut
terasa makin lama semakin tebal. Sekalipun kakek
bertelinga tunggal itu sudah melawan dengan mengerahkan
tenaga dalamnya, namun ia masih terasa kedinginan
bagaikan berada dalam gudang es, tanpa terasa pikirnya:
"Tak heran kalau jenazah yang disimpan di sini tidak
membusuk, suhu udaranya saja sudah begini dinginnya."
Setelah memasuki pintu besi, di hadapan mereka
terbentang selapis kain tirai yang sangat tebal.
Lan See giok segera menyingkap kain tirai itu lalu
berbisik:
"Empek, masuklah lebih dulu!"
Tanpa sangsi kakek itu membungkukkan badan dan
sambil membopong jenazah Lan Khong-tay masuk ke
dalam, cahaya di dalam kuburan itu sangat redup, ditengah
langit-langit terdapat sebuah mutiara merah sebesar telur
itik, untuk sesaat suasana di dalam sana masih terasa
remang-remang dan tidak jelas.
Dinginnya udara dalam ruangan itu segera membuat
kakek bertelinga tunggal itu merasakan tangan maupun
wajahnya sakit bagaikan disayat-sayat pisau, sebelum daya
penglihatannya pulih kembali, dia tak berani masuk ke
dalam secara gegabah.
Dengan wajah serius Lan See-giok menurunkan kembali
tirai itu, lalu bisiknya:
"Empek, sebentar lagi kau akan melihat dengan jelas."
http://kangzusi.com/
Kakek bertelinga tunggal itu memang sudah lama
mendengar kalau dalam kuburan raja terdapat banyak
barang mestika yang tak ternilai harganya, hanya saja
dikarenakan kuburan jebakan kelewat banyak, bahayanya
juga besar, maka jarang sekali ada orang yang berani masuk
ke sana.
Dan kini, dia telah memasukinya, hal tersebut benar-
benar merupakan suatu kejadian yang tak pernah diduga
sebelumnya. . .
Lambat laun dari satu kaki di depannya muncul setitik
cahaya bersilang yang aneh sekali.
Ketika cahaya silang itu diperhatikan lagi dengan
seksama, ternyata benda itu adalah sepasang pedang
berkain kuning yang diletakkan bersilang.
Kedua bilah pedang itu diletakkan di atas sebuah hiolo
kecil terbuat dari tembaga yang diletakkan di atas meja
batu, di kedua belah sisi hiolo kecil itu terletak sebuah kotak
kecil yang terbuat dari emas.
Memandang semua benda gemerlapan yang berada di
sana, sekali lagi sepasang mata sesat dari kakek bertelinga
tunggal itu memancarkan cahaya tajam, sifat kerakusannya
muncul kembali, seakan akan lupa dengan jenazah Lan
Khong tay yang masih berada dalam pelukannya dia maju
ke depan. .
Mendadak terdengar Lan See giok berbisik lirih.
"Empek, dari peti tembaga ke tiga belok ke sebelah
kanan."
Selesai berkata ia maju ke depan lebih dulu
Teguran itu segera menyadarkan kembali si kakek
bertelinga tunggal dari kekhilafannya, cepat dia amati
http://kangzusi.com/
dengan lebih seksama lagi, sekarang baru terlihat olehnya
kalau di sebelah kiri dan kanan meja batu di mana pedang
tersebut terletak, masing-masing membujur beberapa buah
peti mati tembaga.
Maka dia segera maju ke depan dan mengikuti di
belakang Lan See- giok.
Kini sepasang mata kakek bertelinga tunggal itu sudah
terbiasa melihat dalam kegelapan ia saksikan pula sebuah
peti mati raksasa yang terbuat dari kaca kristal.
Diam-diam Lan See giok merasa agak tak senang hati
juga melihat tindak tanduk kakek bertelinga tunggal itu
setelah berada di sana dan celingukan ke sana kemari, sikap
tersebut seakan akan sudah lupa dengan tujuan kedatangan
yang sebenarnya di sana, tapi diapun tidak menegur
ataupun mengucapkan sesuatu.
Sebab dia masih ingat, sewaktu ia masuk ke sana untuk
pertama kalinya dulu, waktu itupun dia merasa keheranan
dan ingin tahu malah tidak berada di bawah empek
bertelinga tunggal ini.
Maka tanpa banyak berbicara lagi dia menghampiri
sebuah peti mati tembaga dan melongok sekejap wajah
ibunya yang berbaring di dalam, lalu dengan air mata
bercucuran bisiknya:
"Ibu, ayah telah datang untuk menemani mu ..".
Kakek bertelinga tunggal itu segera menarik kembali
pandangannya dan menundukkan kepala, dia jumpai
sebuah peti mati tembaga yang besar dan cukup memuat
dua orang membujur di hadapannya.
Peti mati tembaga itu terbuat dari batu kristal sehingga
raut wajah seorang perempuan setengah umur yang berada
di sebelah kanan peti mati itu dapat terlihat jelas.
http://kangzusi.com/
Sambil menangis tersedu sedu, pelan-pelan Lan See giok
menggeser penutup peti mati itu ke samping, hingga dengan
begitu wajah perempuan setengah umur yang berada dalam
peti mati itupun dapat terlihat semakin jelas.
Perempuan itu berhidung mancung dan berbibir kecil,
meski matanya terpejam dan mukanya putih bagaikan
kemala namun tak bisa disangkal lagi kalau perempuan itu
adalah seorang perempuan cantik.
Iapun menjumpai paras muka Lan See giok mirip sekali
dengan wajah perempuan setengah umur yang berbaring
dalam peti mati itu.
Lan See giok tak dapat mengendalikan rasa sedihnya
lagi, dia segera menjerit tertahan:
"Ibu!"
Kemudian diapun memeluk kepala ayah-nya sambil
menangis terisak sebelum akhirnya empek bertelinga
tunggal membopong jenazah ayahnya untuk dibaringkan di
sisi jenazah ibunya.
Tampaknya kakek bertelinga tunggal itu sangat bernapsu
dengan sepasang pedang serta sepasang kotak kecil di meja
batu, ketika Lan See-giok sedang berlutut sambil menangis,
diam-diam dia meninggalkan tempat itu dan mendekati
meja batu tersebut.
Ketika melewati sisi beberapa buah peti mati tembaga
yang membujur di sana, ia saksikan pula banyak sekali
ukiran-ukiran bocah lelaki dan perempuan dengan pakaian
yang perlente tergeletak di situ, sekilas pandangan saja
dapat diketahui kalau semua benda itu terbuat dari bahan
berharga.
http://kangzusi.com/
Barulah pada peti mati tembaga yang ke empat dia
jumpai jenazah dari seorang pemuda dan gadis yang
sesungguhnya.
Kakek bertelinga tunggal itu segera berjalan mendekati
peti mati kaca kristal itu. kemudian melongok ke dalamnya,
ternyata di peti mati itu adalah Raja Leng ong serta
permaisurinya.
Sang raja mengenakan kopiah kebesaran- dengan jubah
kuning bersulamkan naga, jenggotnya yang hitam terurai
sepanjang dada, ia nampak masih amat segar.
Di sisinya berbaring permaisuri yang nampak masih
amat muda, paling banter umurnya baru dua puluh enam-
tujuh tahunan, wajahnya cantik dan senyuman dikulum, ia
nampak sangat tenang, jelas perempuan ini dipaksa mati
untuk menemani suaminya.
Kakek bertelinga tunggal itu memandang sekejap ke arah
jenazah Leng-ong yang berada dalam peti mati, kemudian
sambil menyeringai seram pikirnya.
"Hmm . . sekarang kau boleh berbaring nyaman di situ,
tapi suatu saat bila lohu sudah merasa ajalku hampir tiba,
saat itulah kau harus ke luar dari situ karena tempatmu
akan kugunakan . . . "
Berpikir sampai di situ, dia lantas berjalan menuju ke
depan kain kuning berisi sepasang pedang itu dan siap
untuk mengambilnya.
Mendadak di pihak sana kedengaran Lan See giok
sedang berseru sambil menangis tersedu sedu:
"Ayah, ibu, beristirahatlah kalian dengan tenang,
sekalipun badan Giok ji harus hancur lebur, aku bersumpah
akan mencincang tubuh manusia laknat itu untuk
membalaskan dendam bagimu. Ayah, lindungilah anak
http://kangzusi.com/
Giok, bila anak Giok berhasil mencincang tubuh musuh
kita. pejamkanlah matamu yang melotot gusar itu . . ."
Si kakek bertelinga tunggal yang mendengar gumaman
tersebut diam-diam mendengus, sekulum senyuman sinis
segera tersungging di atas wajahnya.
Kemudian dia melanjutkan kembali perbuatannya untuk
membuka kain kuning tersebut-
Begitu kain kuning itu terbuka.. cahaya, berkilauan
segera memancar ke empat penjuru..
Lan See giok merasa amat terperanjat, buru-buru dia lari
mendekat sambil berteriak:
"Empek, jangan kau sentuh, ayah pernah bilang, jika
sepasang pedang itu tergeser, dunia persilatan akan banjir
darah, jangan kau sentuh sepasang pedang itu!"
Kakek bertelinga tunggal itu kontan saja tertawa dingin,
serunya sinis.
"Aaah, omongan anak kecil."
Sembari berkata dia lantas mengambil salah satu dari
pedang itu.
Lan See giok menyesal sekali setelah menyaksikan
kenekatan kakek itu, dia merasa tidak seharusnya mengajak
orang itu ke mari, andaikata ia bukan teman akrab ayah-
nya, niscaya dia sudah mendorongnya keluar dari tempat
itu.
Pedang yang berada di tangan kakek bertelinga tunggal
itu bercahaya merah, di atas sarung pedangnya bertaburan
batu permata yang sangat indah, di bagian tengahnya
terdapat sebuah sulaman matahari merah dengan di sisinya
terdapat sulaman awan.
http://kangzusi.com/
Pada kedua belah sisi sarung tadi bertatahkan batu
permata kecil yang membentuk dua buah huruf kecil.
Dengan kening berkerut kakek bertelinga, tunggal itu
nampak membungkam dalam seribu bahasa, agaknya ia
tidak mengenal apa arti dari kedua huruf kuno itu.
Lan See-giok memang seorang bocah, walaupun dia tahu
kalau pedang itu dilarang disentuh, tapi setelah diambil
empek tersebut, diapun ikut maju ke depan untuk bisa
melihat lebih jelas.
Maka segera serunya setelah menyaksikan kakek
bertelinga tunggal itu hanya membungkam belaka.
"Empek, apakah pedang itu adalah Jit hoa?"
Berseri wajah kakek itu setelah mendengar ucapan
tersebut, sahutnya dengan cepat:
"Benar, pedang ini memang pedang Jit -hoa, Giok- ji,
dari mana kau bisa tahu?"
"Ayah yang mengatakan kepadaku!"
Dengan gembira kakek itu segera menekan tombol
rahasia di atas pedang itu, ”Klik!" lamat-lamat
berkumandang suara pekikan naga.
Menyusul kemudian tubuh, pedang itu melejit ke luar
sepanjang beberapa inci, seketika itu juga cahaya berkilauan
yang amat menusuk pandangan mata memancar ke empat
penjuru.
Saking emosinya seluruh tubuh kakek bertelinga tunggal
itu gemetar keras, kulit wajahnya mengejang keras . . .
"Klik!" ia masukkan kembali pedang itu ke dalam
sarungnya kemudian diletakkan kembali ke meja, setelah itu
dia mengambil pedang yang lain.
http://kangzusi.com/
"Empek, jangan dilihat lagi." buru-buru Lan See giok
mencegah, "kedua belah pedang ini sama bentuknya . . "
Tentu saja kakek itu tidak menggubris perkataan bocah
tersebut, sebelum Lan See -giok menyelesaikan kata
katanya, dia telah meloloskan pedang yang lain.
Bentuk pedang ini hampir serupa dengan pedang yang
pertama tadi, hanya bedanya di tengah sarung pedang ini
berukirkan sebuah rembulan.
la mencoba untuk mengenali tulisan kuno di gagang
pedang tersebut, tapi tak dikenal, akhirnya dengan wajah
memerah dia pura-pura bertanya:
"Giok ji, kau kenal dengan nama pedang ini?"
"Pedang itu adalah Gwat hui kiam!" jawab Lan See giok
tanpa sangsi.
Kakek bertelinga tunggal itu segera manggut-manggut
sambil memuji.
"Ehmm, ucapanmu memang benar, kedua bilah pedang
ini memang merupakan pedang Jit hoa dan Gwat hui kiam
yang menjadi idaman dari setiap umat persilatan"
"Klik!" di tengah dentingan nyaring, segera memancar ke
luar serentetan cahaya berwarna emas yang menyilaukan
mata.
"Empek" dengan perasaan tak habis mengerti Lan See
giok berseru, "menurut ayah, sepasang pedang ini adalah Jit
gwat tong kong kiam. jarang diketahui umat persilatan,
meski sudah bersejarah ribuan tahun, namun jarang sekali
muncul dalam dunia."
Seketika itu juga paras muka kakek itu berubah menjadi
merah padam, sambil melotot besar teriaknya.
"Ayahmu dengar pula dari siapa? "
http://kangzusi.com/
Sembari berkata dia menyarungkan kembali pedang itu.
"Ayah pernah membaca risalah sejarah dalam kitab
pusaka kedua pedang itu, maka ayah tahu dengan jelas."
Mendengar perkataan itu, perasaan si kakek bertelinga
tunggal itu kembali tergerak, sepasang matanya yang licik
tanpa terasa melirik sekejap. ke atas kotak emas kecil di sisi
hiolo tersebut.
Lan See-giok masih teringat selalu dengan pesan
ayahnya dulu, maka ketika dilihatnya kakek bertelinga
tunggal itu belum juga mengembalikan pedang mestika itu
ke tempatnya semula, dengan gelisah dia lantas berseru:
"Empek, cepat kembalikan pada tempatnya!"
Sekilas hawa amarah segera melintas di atas wajah kakek
itu, tapi hanya sejenak kemudian dia telah bersikap tenang
kembali, sambil manggut-manggut dia letakkan kembali ke
dua bilah pedang itu di tempat semu-la.
Lan See giok segera mengangguk puas, katanya
kemudian:
"Empek, mari kita tutup peti mati itu!".
Sembari berkata dia berjalan lebih dulu menuju ke depan
peti mati orang tuanya.
Kakek bertelinga tunggal itu mengikuti di belakangnya,
ketika ia memandang ke dalam peti mati tersebut.
mendadak paras mukanya berubah, peluh dingin segera
bercucuran.
Rupanya sepasang mata si Gurdi emas peluru perak Lan
Khong tay yang semula melotot besar, kini telah terpejam
kembali.
http://kangzusi.com/
Dengan perasaan terkesiap buru-buru seru nya kepada
Lan See giok: "Coba lihat, mata ayahmu telah memejam
kembali, kapan mata ayahmu memejam kembali?"
Ketika mengucapkan perkataan itu mata nya yang sesat
menunjukkan perasaan kuatir wajahnyapun merasa ngeri,
meski dia tidak percaya dengan setan, namun di dalam
kuburan yang sepi dan mengerikan ini, tak urung hatinya
merasa bergidik juga.
Lan See giok memandang sekejap wajah orang tuanya,
lalu menjawab:
"Sepasang mata ayahku terpejam kembali ketika aku
bersumpah akan mencincang tubuh musuh besar
pembunuhnya!"
Agak berubah wajah kakek itu, sebelum senyuman
menyeramkan segera menghiasi bibirnya, tapi dia tidak
berkata apa-apa lagi, dengan cepat ia membantu bocah itu
untuk menutup kembali peti mati tembaga tersebut, Setelah
semua selesai, Lan See giok baru menyembah beberapa kali
di depan peti mati itu, lalu sambil berdiri katanya:
"Empek, mari kita berangkat."
Dia lantas berjalan menuju ke arah luar.
Kakek bertelinga tunggal itu mengikuti di belakangnya,
sewaktu lewat di sini pedang Jit-hoa-gwat hui kiam, dia
melirik sekejap dengan sinar mata rakus, kemudian baru ke
luar dari sana.
Setelah ke luar dari ruangan kuburan, Lan See giok
segera menuju ke kamar sebelah kiri dan memutar kembali
gelang besi di atas pintu besar itu, pelan-pelan pintu besi
yang besar tadi merapat kembali.
http://kangzusi.com/
Kemudian mereka berjalan kembali ke ruangan depan,
Lan See giok mulai membenahi pakaian serta barang
keperluan sehari -harinya.
Kakek bertelinga tunggal itu nampak gelisah sekali.
beberapa kali dia nampak seperti kehabisan sabar tapi
secara tiba-tiba wajahnya berseri, satu ingatan dengan cepat
melintas dalam benaknya.
Dengan suara ramah dan penuh kasih sayang diapun
segera berkata:
"Giok ji, ambilkan makanan untuk empek mengisi perut,
aku pikir kau sendiri pun tentu sudah lapar bukan."
Lan See giok memang lapar, maka dengan cepat dia
mengambil makanan dari ruangan lain sekalian membawa
serta sebotol arak ayahnya yang belum sempat diminum.
Setelah meneguk secawan arak, kakek itu menghela
napas panjang, kemudian katanya:
"Giok ji, orang bilang perubahan cuaca sukar diduga,
nasib manusia sukar ditebak, seperti misalnya ayahmu,
apakah kemarin dia akan menduga bakal terjadi peristiwa
seperti hari ini? Seperti juga adik Wan, apakah dia akan
menduga kalau engkohnya bakal tiada, secara mendadak “
Terkesiap hati Lan See giok mendengar perkataan itu,
tanpa terasa serunya:
"Empek maksudkan bibi Wan?"
"Benar," sahut kakek itu sambil mengangguk tenang,
"yang kumaksudkan adalah bibi Wanmu -itu!"
Lan See giok segera termenung sebentar, kemudian
katanya kembali:
"Empek. benarkah bibi Wan adalah adik kandung
ayahku?"
http://kangzusi.com/
Untuk sesaat kakek bertelinga tunggal itu merenung
sebentar, kemudian setelah memandang cawan arak di meja
sekejap sahutnya:
"Mengapa secara tiba-tiba kau ajukan pertanyaan ini?
Apakah bibi Wan mu tidak menyayangi dirimu?"
"Bukan, bukan begitu." seru bocah itu serius. "bibi Wan
sangat baik kepadaku, cuma aku tidak habis mengerti
kenapa ayah ibuku belum pernah membicarakan hal itu
kepadaku? Mengapa mereka tak pernah memberitahukan
kepadaku kalau mempunyai bibi Wan yang begitu cantik."
Setelah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan:
"Kalau dibilang bibi Wan adalah adik kandung ayahku,
padahal ayahku she Lan sedang bibi Wan she Han, sedang
suami bibi Wan she Ciu . . . "
Kakek bertelinga tunggal itu hanya mendengarkan
dengan seksama, dia lama sekali tidak memberi komentar
apa-apa.
Mendadak dengan kening berkerut Lan See-giok berseru
"Empek, apakah kalian pernah bersua dengan bibi
Wan?"
Agak tertegun kakek bertelinga tunggal itu mendengar
pertanyaan tersebut, agaknya dia tidak menduga akan
menjumpai pertanyaan semacam itu, setelah berhasil
menenangkan dia menyahut :
"Tentu saja pernah berjumpa!"
Sambil berkata dia lantas mereguk araknya setegukan,
agaknya dia hendak menggunakan kesempatan itu untuk
menenangkan kembali hatinya.
http://kangzusi.com/
Berapa saat kemudian ia baru melanjutkan, "Cuma
waktu itu dia masih seorang gadis yang berusia lima enam
belas tahunan."
Tanpa terasa Lan See giok terbayang kembali dengan
bayangan tubuh enci Cian nya, dia lantas berseru.
"Putri bibi Wan sekarang telah berusia enam belas
tahun!"
Kakek bertelinga tunggal itu segera mengiakan dengan
mengandung sesuatu maksud, serunya sambil tersenyum.
"Kalau begitu, kaupun sebaya dengan usia enci Cu mu"
"Enci Cu? Enci Cu yang mana?" Lan See -giok tertegun.
Kakek bertelinga tunggal itu segera tertawa terbahak-
bahak.
"Haaah . . haaah . . haaah . . . anak bodoh. enci Cu.
adalah Siau cu putri empek!"
Merah padam selembar wajah Lan See -giok karena
jengah, buru-buru dia menundukkan kepalanya rendah-
rendah.
Terdengar kakek bertelinga tunggal itu berkata lebih
lanjut dengan gembira.
"Anak dungu, mengapa harus malu? Di kemudian hari
kau akan siang malam hidup bersama dengan enci Cu mu,
berlatih ilmu silat bersama, bermain bersama .."
"Empek, jadi kau hendak mengajarkan Ilmu silat kepada
Giok ji?" seru Lan See giok gembira.
Sekali lagi kakek itu tertawa tergelak.
"Tentu saja!"
http://kangzusi.com/
Dengan cepat Lan See giok menggebrak meja keras-
keras, kemudian dengan mata melotot serunya:
"Bila Giok ji telah berhasil memiliki ilmu silat selihai
empek, aku tak akan takut lagi terhadap musuh besarku."
Paras muka kakek bertelinga tunggal itu kembali
mengejang keras, tapi ia segera mendongakkan kepalanya
sambil tertawa tergelak, pujinya berulang kali:
"Punya semangat, punya semangat, empek memang
paling suka dengan orang yang bersemangat seperti kau."
Lan See giok merasa perlu untuk memberi kabar kepada
Bibi Wan nya tentang musibah yang menimpa ayahnya,
maka dia berkata kembali:
"Cuma, sekarang aku belum bisa ikut empek untuk
belajar silat"
"Kenapa?" tanya kakek bertelinga tunggal itu terkejut,
senyuman yang semula menyelimuti wajahnya seketika
lenyap tak berbekas.
"Sebab Giok-ji merasa perlu untuk memberi kabar dulu
kepada bibi Wan atas musibah yang telah menimpa
ayahku"
Belum lagi Lan See-giok menyelesaikan kata-katanya,
sekilas perasaan kejut bercampur girang telah menghiasi
wajah si kakek yang jelek, tapi ia cukup waspada.
Dengan cepat ujarnya lagi dengan suara dalam:
"Yaa, betul! Kabar duka ini memang harus cepat-cepat
disampaikan kepadanya "
Setelah berhenti sebentar, ia seperti teringat akan sesuatu
dengan cepat dia melirik sekejap kearah bocah itu, lalu
ujarnya lebih jauh.
http://kangzusi.com/
"Cuma, setelah bersantap nanti kita mesti beristirahat
dulu sebelum berangkat . . . .
"Tidak usah, Giok ji tidak lelah!" tukas Lin See giok
sambil menggeleng.
"Haaah . haaah . . haaah . . anak bodoh, empek bukan
kuatir kau kecapaian, tapi aku hendak mewariskan ilmu
silat dulu kepadamu. Maka selesai bersantap nanti akan
kuberi sebutir pil penambah tenaga lebih dulu untukmu,
kemudian kau mesti duduk bersemedi sesaat sebelum
khasiat obat itu dapat diserap oleh tubuhmu."
Setelah tahu kalau dia hendak diberi pelajaran silat yang
hebat, tentu saja Lan See giok tidak mengotot lagi.
Selesai bersantap, kakek bertelinga tunggal itu
mengeluarkan sebuah buli-buli hitam dari sakunya dan
membuka penutupnya,
Bau pedas yang menusuk hidung dengan cepat menyebar
ke luar dari balik buli-buli tersebut.
Diam-diam Lan See giok berkerut kening sesudah
mengendus bau tersebut, segera pikirnya:
"Huuuh, bau obat apaan ini?, busuknya bukan buatan “
Sementara ia masih termenung, kakek bertelinga tunggal
itu telah mengeluarkan sebutir pil kecil berwarna hitam dan
mengangsurkan ke hadapan bocah itu, katanya kemudian
sambil tersenyum ramah:
"Giok ji, telanlah pil ini!"
Lan See-giok bernapsu untuk cepat memiliki ilmu silat
tinggi, meski bau obat itu busuknya menusuk hidung,
ternyata diterimanya juga tanpa sangsi, tapi sebelum ditelan
ia bertanya lagi.
"Empek tua, pil apaan ini?"
http://kangzusi.com/
"Obat ini merupakan pil penguat badan penambah
tenaga yang empek buat selama puluhan tahun lamanya
dengan mengumpulkan pelbagai bahan obat mestika dari
seantero jagad. Minum sebutir saja, tenaga dalammu akan
bertambah dengan berapa tahun hasil latihan, selain dapat
mengusir hawa dingin, menawarkan racun juga
membersihkan darah. pokoknya obat mestika semacam ini
amat langka di dunia dewasa ini.."
Mendengar kalau pil itu berkhasiat sangat banyak, tak
sampai kakek bertelinga tunggal itu menyelesaikan katanya,
mendadak Lan See giok jejalkan obat itu ke dalam
mulutnya, lalu ditelan ke dalam perut secara "paksa."
Bau busuk yang memualkan dan hawa panas yang
menyengat badan segera menyelimuti seluruh isi perutnya,
tapi demi memperoleh ilmu hebat, sekalipun obat racun dia
juga tak ambil perduli.
Bau busuk dari pil itu makin mengocok isi perutnya
dengan makin menghebat, dia merasa semakin mual dan
hampir saja muntah-muntah.
Tapi sambil menggertak gigi bocah itu berusaha untuk
mempertahankan diri.
Selintas senyum yang licik, busuk dan penuh perasaan
bangga segera menghiasi wajah si kakek yang jelek, tapi di
mulut ia masih berkata lagi dengan lemah lembut.
"Anak Giok, jangan kau tumpahkan, ketahuilah betapa
sulit dan sengsaranya empek untuk membuat pil tersebut,
bahan-bahan obatnya langka dan susah ditemukan, kalau
sudah tak tahan, cepat berbaring atau duduk di atas
pembaringan."
http://kangzusi.com/
Sambil menggigit bibir dan menahan napas Lan See giok
manggut-manggut, ia segera naik ke atas pembaringan dan
duduk bersila di situ.
"Kau harus ingat baik-baik," kata si kakek bertelinga
tunggal lagi dengan wajah bersungguh sungguh, "mulai hari
ini, setiap bulan kau harus minum sebutir, kalau tidak selain
khasiat obatnya tak akan menghasilkan apa-apa, bahkan
tiga hari setelah masa yang ditetapkan lewat, kau bisa
muntah darah sampai mati!"
Tak terlukiskan, rasa kaget Lan See giok setelah
mendengar perkataan itu, sambil berusaha keras menekan
perasaan sakit dan menderita yang mengocok isi perutnya,
dia bertanya:
"Berapa butir lagi yang harus kutelan?"
"Dua belas butir, tepat setahun!" jawab kakek itu sambil
tertawa bangga penuh kelicikan.
Lan See giok tidak berbicara lagi, ia segera mengangguk.
Baginya, seorang lelaki hendak membalas dendam,
sepuluh tahunpun belum terhitung lambat, apalagi cuma
setahun.
Sementara ingatan tersebut melintas dalam benaknya,
seluruh tubuhnya terasa remuk dan sakitnya bukan
kepalang, tulang belulangnya seakan-akan hancur
berantakan, peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran
membasahi sekujur badannya.
Lan See-giok makin terkesiap, meski ia belum pernah
minum pil penambah tenaga, tapi ia percaya bau sebutir pil
mestika tak akan, sebusuk pil yang telah diminumnya
barusan -
http://kangzusi.com/
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak
terdengar kakek itu berkata lagi. "
"Giok-ji. jangan mencabangkan pikiranmu, sekarang
daya kerja obat itu baru menyebar cepat, kerahkan tenaga
dalammu untuk membawa sari obat ke seluruh bagian
tubuhmu, kemudian seraplah khasiat obat itu dengan
tenaga dalammu."
Mendengar pesan itu, buru-buru Lan See- giok
mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghisap sari obat
yang dimaksudkan.
Dalam penderitaan yang luar biasa, mendadak ia merasa
kepalanya amat pusing dan kelopak matanya makin lama
terasa semakin berat.
Tapi dia masih sempat mendengar kakek itu berpesan:
" - - Kau harus tahu, orang bilang obat yang pahit justru
merupakan obat paling mujarab untuk menyembuhkan
penyakit"
Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, Lan See
giok masih sempat mendengar sepatah dua patah kata lagi,
tapi lambat laun kesadarannya makin pudar dan
menghilang, sebelum ingatan terakhir lenyap dari
benaknya, dia seakan akan mendengar kakek bertelinga
tunggal itu tertawa terbahak- bahak dengan seramnya.
Entah berapa saat kemudian . . .
Pelan-pelan Lan See giok sadar kembali dari pingsannya,
entah mengapa ternyata dalam mulutnya masih tersisa
sedikit bau harum yang semerbak dan menyegarkan badan.
Ia merasa amat keheranan mengapa pil yang busuk
baunya bisa berubah menjadi harum dan segar setelah
dipakai untuk mengatur pernapasan?
http://kangzusi.com/
Dengan cepat dia berpaling ke sekitar situ, namun empek
bertelinga tunggal itu sudah tidak nampak lagi, segera
pikirnya:
"Heran, ke mana perginya empek tua?"
Dengan cepat dia melompat turun dari atas
pembaringan, baru saja menggunakan sedikit tenaga,
mendadak lambungnya terasa mual sekali hingga tak tahan
dia segera tumpah-tumpah.
Sebenarnya dia masih ingat dengan pesan empeknya dan
ia tak berani muntah, tapi rasa mual dalam perutnya
sungguh tak tertahan lagi sehingga tak tahan lagi..
"Uaakk." . . . gumpalan bau busuk bercampur air
berwarna hitam, segera berhamburan keluar dari mulutnya
dan berceceran di atas tanah.
Memandang gumpalan air hitam yang berceceran di
tanah, tanpa terasa timbul perasaan curiga dalam hati Lan
See giok, dengan cepat dia mencoba untuk mengatur
pernapasan, ternyata segala sesuatunya berjalan lancar,
bahkan tidak terasa adanya hambatan apa-apa.
Maka sambil menghimpun tenaga dalamnya ke dalam
telapak tangan kanan, dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat
ke arah mulut lorong..
Hembusan angin puyuh yang dahsyat diiringi suara
desingan yang memekakkan telinga langsung menggulung
ke dalam lorong itu dan membawa habis seluruh debu dan
pasir yang berada di sekitar situ.
Ketika angin pukulan itu sudah lewat, permukaan tanah
kelihatan licin dan rata, malah di balik lorong sana
kedengaran suara gemuruh yang memekakkan telinga.
http://kangzusi.com/
Kejut dan girang Lan See giok setelah menyaksikan
kejadian itu, ternyata tenaga dalamnya telah peroleh
kemajuan pesat, sehingga tanpa terasa dengan perasaan.
Menyesal dan jengkel dia memandang sekejap lagi ke
arah gumpalan air hitam yang ditumpahkan ke luar tadi,
pikirnya :
"Coba kalau air hitam itu tidak muntah ke luar, oooh
betapa beruntungnya aku, tentu tenaga dalam yang kumiliki
akan jauh lebih dahsyat . . "
Pada saat itulah . . . .
Mendadak ia mendengar suara jeritan kaget yang parau
dan memekakkan telinga berkumandang datang dari arah
kuburan raja-raja dalam lorong rahasia sana, suara jeritan
itu penuh disertai perasaan ngeri.
Menyusul kemudian kedengaran pula suara gemuruh
yang dahsyat menggoncang kan seluruh permukaan bumi,
banyak lapisan langit-langit kuburan yang berguguran ke
tanah
Lan See-giok terkejut sekali dia merasa amat kenal
dengan jeritan kaget itu, sambil tampaknya sangat mirip
dengan suara jeritan empeknya.
Maka sambil menghimpun tenaga dalamnya ke dalam
telapak tangan, lalu mengerahkan ilmu meringankan
tubuhnya, dia bergerak menuju ke dalam lorong rahasia
tersebut.
Semakin ke dalam, dia merasakan getaran pada dinding
gua makin keras, suaranya juga makin lama semakin
mengerikan.
Lan See giok gugup sekali, dengan cepatnya dia lari
menuju be depan pintu besi di muka kuburan raja-raja.
http://kangzusi.com/
Waktu itu suara aneh tadi sudah sirap, suasana dalam
kuburan pun telah pulih kembali dalam keheningan, pintu
gerbang besi tetap tertutup sedangkan mutiara itupun masih
memancarkan sinar yang redup.
Lan See giok makin keheranan, dia tidak habis mengerti
mengapa empek bertelinga satu itu belum juga ditemukan,
terpaksa dengan suara pelan dia berseru.
"Empek tua, empek tua - - -!"
Namun kecuali suara yang mengandung dan memantul
di empat penjuru tidak kedengaran suara lainnya.
Terpaksa Lan See giok menghimpun tenaga dalamnya ke
dalam sepasang tangan, yang satu dipakai untuk menutupi
muka, yang lain dipakai melindungi dada, dengan sorot
mata yang tajam pelan-pelan dia berjalan menuju ke depan .
..
Dia tahu ada orang bersembunyi di dalam kuburan kuno
itu, dan jelas apa yang telah dibicarakan dengan empeknya
tadipun sudah didengar oleh orang yang "bersembunyi" di
balik kegelapan tersebut.
Makin dipikirkan pemuda itu merasa semakin terkesiap,
dengan kepandaian si empek bertelinga satu yang begitu
lihaypun ia tak berhasil menemukan orang yang
menyembunyikan diri itu, bukankah hal ini menunjukkan
kalau kepandaian yang dimiliki orang itu sudah mencapai
ke tingkatan yang luar biasa ?
Sementara pelbagai ingatan berkecamuk dalam
benaknya, ia sudah tiba di kamar batu sebelah kiri, tapi apa
yang kemudian terlihat membuatnya terperanjat.
Tombol rahasia untuk membuka pintu gerbang kuburan
raja-raja telah terbuka, sedang sesosok bayangan hitam
terkapar di atas tanah.
http://kangzusi.com/
Ketika orang itu diperiksa dengan seksama, ternyata dia
adalah si empek bertelinga satu.
Buru dia memburu ke sisinya dan memeriksa keadaan
empeknya, tampak empek bertelinga satu terkapar dengan
wajah pucat, wajah penuh air keringat dan napas memburu,
dia kelihatan amat ketakutan selain merasa terperanjat
sekali.
Gejala ini menunjukkan gejala seseorang yang terkena
totokan, maka Lan See giok segera berjongkok dan
menepuk pelan di atas jalan darah Mia bun hiatnya.
Kakek bertelinga satu itu menghembuskan napas
panjang-panjang lalu mendusin.
Mendadak dia melompat dari atas tanah sambil
membentak keras, telapak tangan kanannya langsung
dibabat ke atas tubuh Lan See giok.
Dengan terperanjat bocah itu segera menjerit.
"Empek, aku. . ."
Telapak tangan kanannya yang penuh dengan himpunan
tenaga dalam itu segera diayunkan pula untuk
menyongsong datangnya ancaman tersebut.
"Blaaammm. .!" di tengah benturan keras, hawa tajam
segera memancar ke empat penjuru, akibatnya Lan See giok
dan kakek bertelinga tunggal itu sama-sama mundur dengan
sempoyongan dan. . .
"Duuuk!" bahu masing-masing menumbuk di atas
dinding.
Mimpipun Lan See giok tidak menyangka kalau dia bisa
menyambut serangan si empek bertelinga tunggal yang
maha dahsyat itu, cepat dia mencoba untuk mengatur
http://kangzusi.com/
napas, ternyata tidak ditemukan sesuatu gejala yang
menunjukkan ketidak beresan.
Maka ditatapnya si empek yang sedang bersandar di atas
dinding dengan wajah tertegun, kemudian teriaknya keras-
keras:
"Empek, aku yang datang, aku adalah Giok ji!"
Dengan cepat kakek itu menenangkan kembali
pikirannya, dalam keadaan seperti ini dia tak sempat lagi
untuk memikirkan mengapa Lan See giok bisa mendusin
kembali, mengapa tenaga pukulannya masih begitu dahsyat
dan hebat walaupun sudah minum pil hitam pemberiannya.
Maka dengan mata melotot bentaknya keras-keras.
"Apakah kau yang menyergapku barusan?"
Lan See giok agak tertegun, kemudian menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Bukan, bukan aku, aku baru memburu ke mari setelah
mendengar teriakanmu tadi."
Dengan cepat kakek itu membalikkan badannya lalu
mencari ke arah ruang dalam dengan gugup, sesudah itu
teriaknya gelisah:
"Mana pedang dan kotak kecil itu?"
Sekali lagi Lan See giok tertegun, menanti dia berpaling
lagi, di jumpai batu di atas permukaan tanah telah terbuka,
dia segera menjerit kaget:
"Haaah, gelang besar pembuka pintu besi telah rusak!"
Dengan cepat dia memburu ke depan dengan terburu-
buru.
Dalam pada itu kesadaran si kakek bertelinga tunggalpun
telah pulih kembali seperti sedia kala, sekarang dia mengerti
http://kangzusi.com/
sudah bahwa orang yang menotok jalan darahnya barusan
bukanlah Lan See giok.
Diapun melihat gelang besi di permukaan batu itu sudah
dihancurkan berkeping- keping oleh seorang dengan ilmu
Tay-lek-kim- kong ci, sedang rantainya juga telah pada
menyusup masuk ke dalam lubang bagian bawah.
Menyaksikan kesemuanya itu, paras muka si kakek
berubah menjadi pucat pias, sinar matanya memancarkan
rasa kaget dan cemas peluh sebesar kacang kedelai pun
jatuh bercucuran dengan deras.
"Empek, kunci yang mengendalikan pintu gerbang
menuju ke makam raja-raja telah putus, sejak kini tiada
orang yang bisa memasuki makam tersebut lagi,” kata Lan
See giok secara tiba-tiba dengan gelisah.
Kakek itu tidak menjawab, dia hanya berdiri termangu-
mangu, dia tahu hari ini telah berjumpa dengan seorang
jago lihay.
Setelah menutup kembali lapisan batu itu, sambil
memandang si kakek dengan keheranan Lan See giok
bertanya.
"Empek tua, sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Kakek bertelinga tunggal itu hanya menatap wajah Lan
See giok lekat-lekat, sampai lama sekali tak mengucapkan
sepatah katapun.
Melihat empeknya tidak berbicara Lan See giok terpaksa
harus berkata lagi:
"Waktu Giok ji bangun, tiba-tiba kudengar empek
berteriak, menyusul kemudian terdengar suara gemuruh
nyaring, buru-buru Giok ji menyusul ke mari, ternyata jalan
darah empek sudah ditotok orang."
http://kangzusi.com/
Sementara itu paras muka si kakek bertelinga tunggal
telah pulih kembali seperti sedia kala, meski dia masih kesal
tapi ia masih mempunyai pengharapan, maka katanya
setelah menghela napas sedih.
"Aaai, tampaknya kehendak takdirlah yang menentukan
segala sesuatunya, sungguh tak nyana kedatangan empek
terlambat selangkah sehingga pedang Jit hoa gwat hui tong
kong kiam serta kedua macam kotak kecil itu keburu dicuri
orang."
Lan See giok merasa terkejut sekali setelah mendengar
perkataan itu, buru-buru tanyanya dengan gelisah.
"Empek, siapakah orang itu?"
"Entahlah, waktu itu empek sedang bersemedi,
mendadak kudengar suara gemerincing, seperti pintu besi
makam raja-raja dibuka orang. aku jadi curiga dan
memburu ke situ. Kujumpai pintu makam sudah terbuka
sedang kedua bilah pedang dan kotak kecil itu sudah
terletak di atas tanah, empek menjadi keheranan, baru saja
akan masuk ke dalam pintu, tahu-tahu jalan darahku telah
ditotok orang."
Lan see giok tidak berpikir lebih jauh, ia menganggap
kesemuanya itu benar, maka tanyanya lagi dengan
keheranan:
"Lantas di manakah orang itu sekarang?" Ketika
mendengar pertanyaan itu, mencorong sinar tajam dari
balik mata kakek bertelinga tunggal itu, dia seperti teringat
akan sesuatu, mendadak ditariknya tangan Lan See giok
dan diajak berlarian menuju ke luar makam tersebut. "Cepat
lari!"
Lan See giok dibuat kebingungan oleh tindakan yang
amat tiba-tiba itu, tapi melihat kegugupan kakek itu, dia
http://kangzusi.com/
tahu kalau keadaan pasti gawat, maka tanpa komentar, dia
mengikuti di belakang nya.
Ilmu meringankan tubuhnya memang lihay tapi sekarang
anak itu merasa ilmunya semakin lihay lagi, kenyataan
tersebut membuatnya semakin berterima kasih atas
pemberian pil bau dan hitam dari si empek.
Setibanya di ruang tengah, kakek itu sama sekali tidak
memberi kesempatan kepada Lan See giok untuk berhenti,
tanpa berhenti dia menarik Lan See giok menuju ke luar
makam.
Dalam waktu singkat mereka sudah tiba di luar makam,
waktu itu matahari sedang bersinar terang, pepohonan
siong melambai lambai terhembus angin.
Kakek bertelinga tunggal itu tidak menghiraukan
keadaan alam di sekitar sana, dengan cepat dia
menghentikan gerakan tubuhnya sambil bertanya :
"Di manakah letak kunci pengatur pintu masuk ke dalam
makam?"
"Di bawah meja altar dari batu itu," jawab si bocah
gugup.
Buru-buru mereka berdua menyelinap ke depan makam
dan tiba di depan altar yang dimaksudkan.
Lan See giok segera membungkukkan badan menyingkap
rerumputan di balik kuburan dan membuka sebuah batu, di
bawah batu itu terdapat sebuah gelang besi kecil.
Kakek itu nampak terkejut bercampur girang, dengan
mata berkedip dia mendorong Lan See giok ke samping.
Karena tak diduga akan didorong, Lan See-giok jatuh
terduduk di atas tanah, sementara sepasang matanya
terbelalak lebar dengan wajah tidak habis mengerti.
http://kangzusi.com/
Dengan sikap tergesa-gesa, kakek itu segera menarik
gelang besi itu keras-keras. Suara gemerincing terdengar,
pintu belakang makam kosong itu segera menutup rapat.
Tiba-tiba kakek itu membentak keras, telapak tangan
kirinya secepat kilat membabat rantai besi yang sedang
dicengkeram dengan tangan kirinya itu-
Tak terlukiskan rasa terperanjat Lan See giok
menyaksikan kejadian itu, segera teriaknya terperanjat.
"Empek, jangan"
Belum habis dia berkata, rantai di bawah gelang besi itu
sudah terpapas kutung.
"Blaaammm!"
Pintu belakang makam segera merapat keras-keras,
menyusul kemudian terdengar suara gemuruh dan
goncangan yang amat dahsyat
ooo0dw0ooo

BAB 4
PERIS TIWA DI TEPI TELAGA

KAKEK bertelinga tunggal itu segera membuang gelang


besi di tangannya dan mendongakkan kepalanya sambil
tertawa terbahak bahak.
Suara tertawanya keras dan mengerikan, membuat siapa
pun yang mendengar merasakan bulu kuduknya pada
bangun berdiri.
http://kangzusi.com/
Lan See giok merasa terkejut sampai duduk termangu
mangu, untuk sesaat lamanya dia sampai tak sanggup
mengucapkan sepatah katapun.
Menanti kakek itu telah berhenti tertawa, ia baru berseru
agak tergagap:
"Empek, kau. . . ."
Sebelum habis Lan See giok berkata, si kakek bertelinga
tunggal itu telah tertawa tergelak kembali.
"Haaah . . . haaah . . . haaah . -aku hendak menggunakan
cara ini untuk menunjukkan betapa lihainya aku Oh Tin
san!"
Sekarang Lan See giok baru mengerti, rupanya kakek itu
bertujuan untuk merusak pintu masuk makam raja tersebut,
agar orang yang mencuri pedang tewas terkurung di dalam
makam tersebut
Berpikir sampai di situ, dia lantas berseru :
"Tapi, bukankah di dalam makam terdapat pula tombol
rahasia untuk membuka pintu tersebut?"
"Haaah haaah- haaah.. bocah bodoh, jika tombol di
depan sudah putus, yang di dalam pun ikut rusak, sebab
rantai itu kan saling berhubungan satu sama lain nya." sela
Oh Tin san sambil tertawa seram.
Lan See giok menjadi gugup, mendadak sambil
melompat bangun serunya cemas:
"Tapi empek. . . pakaianku masih berada dalam ruangan
dalam!"
"Aaah, apalah artinya pakaian? Biar lain kali enci Cu mu
yang buatkan pakaian baru buat dirimu "
http://kangzusi.com/
"Tapi di sana masih ada pula senjata rahasia andalan
ayahku Khong sim liang gin tan, semuanya berada dalam
buntalan."
"Empek akan mewariskan segenap kepandaianku
kepadamu, kepandaian empek justru jauh lebih hebat
daripada kepandaian peluru perak ayahmu itu, sudahlah,
kau tak usah memikirkan soal itu lagi."
Selesai berkata dia lantas menarik tangan Lan See giok
sambil menambahkan:
"Hayo berangkat, kita bersama sama mencari bibi Wan
mu lebih dulu." Dia lantas menarik tangan bocah itu berlalu
dari sana.
Walaupun Lan See giok merasa tak senang hati, tapi
setelah pintu makam tertutup, -dia tahu gelisahpun
percuma, terpaksa sambil mengerahkan ilmu meringankan
tubuhnya ia mengikuti di samping kakek tersebut.
Dalam hati kecilnya dia yakin kalau orang mencuri
pedang dan kotak kecil itu sudah berhasil ke luar dari
makam, itu berarti tindakan yang dilakukan empek
bertelinga tunggal hanya sia-sia belaka.
Sebaliknya berbeda dengan jalan pemikiran Oh Tin san.
dia mengira pencuri itu masih bersembunyi dalam kuburan
dan mencuri dengar pembicaraan Lan See giok, terutama
tentang jejak kotak kecil tersebut.
Begitulah, setelah ke luar dari kompleks makam raja-raja,
mereka lantas menelusuri jalan-jalan kecil menuju ke
depan.
Sepanjang jalan, Lan See giok memperhatikan sekejap
pemandangan di sekitar kompleks makam itu dengan
pandangan sayu, ia merasa pemandangan di sekeliling
http://kangzusi.com/
tempat itu seakan akan telah berubah, berubah menjadi
lebih mengenaskan dari pada kematian ibunya dulu.
Sekarang, ayahnya yang dicintai pun telah tiada, suasana
riang gembira yang masih mencekam perasaannya kemarin,
kini telah berubah menjadi kesedihan yang luar biasa.
Teringat akan kematian ayahnya, diapun teringat pula
pada masalah siapakah musuh besar pembunuh ayahnya . .
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya,
dengan cepat tanyanya: "Empek, menurut pendapatmu,
mungkinkah orang yang mencuri pedang itu adalah orang
yang telah membunuh ayahku?"
Agaknya Oh Tin san sendiripun sedang membayangkan
kembali peristiwa yang baru dialaminya, mendengar
pertanyaan tersebut ia ragu sejenak, kemudian sahutnya.
"Yaa, kemungkinan saja benar, mungkin memang dia!"
Mendengar itu Lan See giok segera berkerut kening,
pikirnya.
"Andaikata orang yang membunuh ayah adalah orang
yang mencuri pedang, berarti sekalipun, kupelajari segenap
ilmu silat yang dimiliki empek juga percuma, toh empek
sendiripun bukan tandingannya. . .?" Berpikir sampai di
situ, dia lantas bertekad untuk mencari tokoh persilatan lain
untuk belajar silat darinya - -
Sementara dia masih termenung, mendadak terdengar
Oh Tin san menegur dengan suara dalam:
"Giok ji, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Oooh- - - aku sedang berpikir, dengan kepandaian silat
empek yang begitu lihai pun, kau tidak merasa ada orang
menguntit di belakangmu, hal ini menunjukkan kalau
kepandaian silat yang dimiliki orang itu luar biasa sekali!"
http://kangzusi.com/
Merah padam selembar wajah Oh Tin san mendengar
ucapan tersebut, ia segera tertawa dingin, lalu katanya.
"Hmmm, kalau kerjanya hanya main kuntit, main sergap
secara pengecut, meski berilmu tinggi juga tidak terhitung
seorang enghiong"
Kemudian sambil mendengus marah dia percepat
gerakan tubuhnya menuruni bukit tersebut.
Lan See giok tahu kalau empeknya lagi marah, maka
diapun tak berani banyak berbicara lagi, sambil
memperketat larinya dia menyusul ke sisi tubuh kakek itu.
Setelah turun dari bukit, sebuah sungai kecil terbentang
di depan mata. di depan sungai merupakan sebuah
kompleks tanah pekuburan yang telah terbengkalai.
Ketika tiba di tepi sungai, Oh Tin san sama sekali tidak
berhenti, melejit ke udara untuk menyeberanginya.
Terpaksa Lan See-giok ikut mengenjotkan badannya dan
menyusul pula dari belakang..
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Tin
san, dia seperti teringat akan sesuatu, mendadak bentaknya
keras-keras:
"Giok -ji, berhenti!"
Seraya berseru keras, dia segera menghentikan gerakan
tubuhnya lebih dahulu.
Lan See-giok segera menghentikan pula gerakan
tubuhnya, tapi ia sudah terlanjur maju delapan depa dari
pada empeknya.
Dengan kening berkerut Oh Tin San segera mengawasi
wajah Lan See giok yang putih segar itu lekat-lekat,
sementara perasaan tertegun bercampur keheranan
menyelimuti wajahnya yang jelek.
http://kangzusi.com/
Dihampirinya bocah itu dengan langkah lebar, kemudian
diamatinya jalan darah Sim keng hiat diantara alis mata
Lan See giok lekat-lekat, sampai lama kemudian ia baru
bertanya
"Giok ji, bagaimana rasamu sekarang?"
Ditatap sedemikian tajam oleh empek nya, Lan See giok
merasa jantungnya berdebar keras, dia mengira empek
bertelinga tunggal ini sudah tahu kalau obat busuk yang
diminumnya telah muntah ke luar, maka dengan agak
takut-takut sahutnya
"Sekarang aku merasa baik sekali empek, benar-benar
sangat baik, bahkan tenaga dalamku telah memperoleh
kemajuan yang cukup pesat".
Sekali lagi Oh Tin sun mengamati kening Lan See giok
dengan mata sesatnya, betul juga ia tidak menjumpai gejala
keracunan diantara wajah bocah tersebut.
Malah sebaliknya dia nampak lebih cerah lebih
bersemangat dan matanya lebih tajam, bahkan ilmu
meringankan tubuhnya tidak kalah kalau dibandingkan
dengan kemampuan sendiri.
Itu berarti di balik kesemuanya itu pasti ada hal-hal yang
luar biasa sekali.
Maka sambil manggut-manggut pura-pura menaruh
perhatian khusus. dia menuding ke arah sebuah bongpay
(batu nisan) yang tergeletak tak jauh dari situ, lalu katanya
dengan serius:
"Coba bacoklah batu nisan ini!"
Lan See giok merasa amat tegang, dia kuatir empeknya
merasa tidak puas dengan hasil yang diperolehnya, maka
setelah mengiakan, sambil menghimpun tenaga sebesar
http://kangzusi.com/
sepuluh bagian, pelan-pelan dia berjalan mendekati batu
nisan tersebut.
Oh Tin san makin tercengang lagi ketika melihat jalan
darah Thian teng hiat di tubuh Lan See giok tidak
menunjukkan gejala hijau kehitam hitaman sewaktu
menyalurkan tenaga, ia tidak habis mengerti apa gerangan
yang sebenarnya telah terjadi.
Dalam pada itu, Lan See giok sudah berhenti pada tujuh
langkah di depan batu nisan tersebut.
Sambil mengawasi batu nisan itu lekat-lekat, tenaga
dalam yang dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya
makin diperkuat, ia berharap batu nisan tersebut bisa
dihajarnya sampai hancur menjadi dua bagian.
Maka diiringi bentakan nyaring, telapak tangan
kanannya sekuat tenaga diayunkan ke bawah-
"Blaaammm. ." diantara ledakan keras yang terjadi, asap
hijau mengepul diantara percikan batu dan pasir.
Lan See giok menjadi tertegun, dia tak -tahu bagaimana
caranya untuk menarik kembali telapak tangan kanannya
yang telah dilontarkan ke depan tersebut. . .
Paras muka Oh Tin san kontan saja berubah hebat,
mimpipun dia tak menyangka kalau Lan See giok memiliki
tenaga dalam yang begitu sempurna, bahkan pengaruh
racun keji Cui ban hwe khi ngo tok wan (pil panca bisa
pembawa hawa ngantuk dan bodoh) kehilangan
kemampuannya.
Setelah berhasil menenangkan hatinya, Lan See giok
merasa terkejut bercampur gembira, mendadak dia
membalikkan badan nya dan menubruk ke arah Oh Tin san
sambil bersorak sorai.
http://kangzusi.com/
Melihat itu buru-buru Oh Tin san menunjukkan sikap
senyum dan ramahnya, bahkan menyambut kedatangan
bocah itu dengan uluran tangannya.
Begitu menubruk masuk ke dalam pelukan kakek itu,
Lan See giok segera berteriak memanggil nama empeknya
dengan penuh kegembiraan.
"Empek- oooh, empek”
Oh Tin san pura-pura turut tertawa gembira, katanya:
"Giok ji, bakatmu bagus, tulangmu baik asal mau belajar
dengan bersungguh hati, niscaya segenap kepandaian silat
empek yang lihai dapat kau pelajari semua.
Berbicara sampai di situ, tangannya meraba bahu, kepala
dan punggung bocah itu, kemudian sambil tertawa dia baru
bertanya.
"Giok ji, apakah tenaga pukulanmu dulu dapat
menghancurkan batu nisan ini?"
Sambil mendongakkan kepalanya yang basah karena air
mata kegirangan, Lan See giok menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Tidak, dulu aku hanya sanggup menghantam, batu
nisan itu hingga terbelah menjadi dua, tapi selamanya tak
pernah menimbulkan ledakan yang menghancur lumat kan
batu nisan tersebut".
Oh Tin san makin berkerut kening sementara dalam
hatinya merasa terkejut, dia lantas menduga Lan See giok
pasti sudah menjumpai sesuatu penemuan aneh ketika ia
meninggalkan nya seorang diri tadi.
Maka diapun kembali tertawa terbahak bahak pura-pura
gembira.
http://kangzusi.com/
Belum sempat dia bertanya lagi, tiba-tiba berkumandang
suara rintihan penuh rasa kesakitan dari sisi tempat itu.
Lan See giok segera menangkap suara itu, dengan wajah
terkejut bercampur heran tanyanya, kepada Oh Tin san:
"Empek, suara apakah itu?"
Oh Tin san tidak menjawab pertanyaan itu, hanya
sepasang matanya yang tajam memperhatikan sekeliling
tanah pekuburan itu dengan seksama dan amat berhati-hati.
Sekali lagi terdengar suara rintihan, kali ini suara tersebut
kedengaran berasal dari balik sebuah kuburan bobrok.
Sambil membentak nyaring Lan See giok segera
menubruk ke arah mana datangnya suara tersebut.
Begitu sampai di tempat tujuan, paras mukanya Segera
berubah hebat, ia tak menyangka kalau di dalam kuburan
yang terbengkalai dan peti mati, yang hancur bakal
ditemukan sesosok tubuh manusia yang penuh
bermandikan darah segar.
Orang Itu mengenakan pakaian kasar dengan jenggot
pendek di bawah dagunya, muka ceking yang berbentuk
segi tiga pucat pias tak nampak warna darah, terutama
sekali atas ubun ubunnya yang tumbuh sebuah bisul besar,
membuat tampangnya kelihatan aneh sekali.
Belum lagi Lan See giok mengajukan sesuatu
pertanyaan. Tiba-tiba terasa bayangan manusia berkelebat
lewat, tahu-tahu Oh Tin San sudah melewati dari sisinya
dan menghampiri orang itu.
Paras muka Oh Tin san nampak pucat pias pula seperti
mayat, sementara sepasang mata sesatnya berkedip kedip
tanpa tujuan.
http://kangzusi.com/
Agaknya waktu itu orang yang terluka tersebut telah
mendengar suara manusia, pelan-pelan diapun membuka
kembali sepasang matanya dengan sayu dan lemah.
Ketika orang itu berjumpa dengan Oh Tin san, sorot
matanya semakin memancarkan rasa kaget dan gelisah,
bibirnya yang pucat pias gemetar tiada hentinya, kulit
mukanya mengejang terus. Dia seperti hendak
mengucapkan sesuatu kepada Oh Tin san, tapi seperti pula
merasa ketakutan setengah mati.
Lan See giok sangat tidak mengerti menghadapi kejadian
seperti itu, baru saja dia hendak berjongkok untuk
mengajukan pertanyaan, mendadak terdengar Oh Tin san
membentak keras:
"Jangan kau sentuh dia. . ."
Lan See giok amat terperanjat, serta merta dia melompat
bangun dengan perasaan tak menentu.
Paras muka Oh Tin san kelihatan berubah sangat aneh,
matanya yang sesat berkeliaran kesana ke mari dengan
panik, akhirnya dengan suara rendah tapi tegang bisiknya:
"Cepat kau lari ke tepi sungai dan ambilkan sedikit air!"
Lan See giok tak berani berayal, dia tahu empek
bertelinga satu hendak menyelamatkan orang itu, cepat-
cepat dia lari menuju ke tepi sungai tersebut.
Dengan cepat dia mengambil air dengan sepasang
tangannya, kemudian cepat-cepat lari balik ke tempat
semula.
Tapi ketika ia tiba di situ, tampak olehnya Oh Tin san
sedang memandang ke arah peti mati itu sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali.
http://kangzusi.com/
Lan See giok merasa amat terperanjat. dia tahu gelagat
tidak beres, cepat-cepat dihampirinya peti mati itu, ternyata
orang tersebut sudah tewas dalam keadaan mengerikan.
wajahnya masih diliputi oleh perasaan kaget dan marahnya,
sementara sepasang matanya membalik ke atas.
Ketika melihat pula wajah Oh Tin san, meski sikapnya
jauh lebih tenang namun air keringat nampak membasahi
jidat serta hidungnya.
Dengan perasaan tak habis mengerti Lan See giok segera
bertanya:
"Empek, mengapa orang itu mati?"
Oh Tin san segera menghela napas panjang, katanya
dengan sedih:
"Luka yang dideritanya kelewat parah"
Seraya berkata, tanpa terasa dia menyeka air keringat
yang membasahi jidatnya, setelah itu ujarnya lebih jauh.
"Anak Giok, mari kita pergi!"
Sampai di situ, dia lantas membalikkan badannya siap
berlalu dari situ.
"Empek. apakah kita tak akan mengubur nya lebih
dulu?" seru Lan See giok dengan gelisah.
Mendengar itu. Oh Tin san segera menghentikan
langkahnya sambil membalik kan badan, kemudian setelah
memandang ke arah Lan See-giok, katanya:
"Sungguh tak kusangka kau si bocah berjiwa ksatria dan
penuh rasa kemuliaan, baiklah, pergilah kau untuk mencari
beberapa buah peti mati yang sudah rusak!"
Lan See giok tidak menjawab, dia segera pergi mencari
kayu.
http://kangzusi.com/
Melihat itu. Oh Tin-san segera mencibirkan sekulum
senyuman dingin yang menggidikkan hati.
Lan See giok merasa tidak habis mengerti, tapi dia lantas
menduga mungkin empeknya menggerutu kepadanya
karena banyak urusan, maka diapun tidak memikirkan
persoalan itu di dalam hati, papan peti mati yang berhasil
dikumpulkan itu lantas dijajarkan ke atas tanah.
Mendadak..
Mencorong sinar mata Lan See-giok. dengan wajah
berubah hebat ia membuang kayu peti mati yang masih
dipegangnya tadi dan segera berjongkok.
Ia menyaksikan gumpalan darah membasahi iga kiri
orang itu, ternyata pada tulang iga ke tiga di bawah ketiak
kirinya terdapat sebuah mulut luka sebesar buah tho.
Dengan cepat Lan See giok menjadi sadar kembali,
tampaknya orang inilah orang yang kena tertusuk oleh
senjata gurdi emas dari balik dinding ruangan semalam,
mungkin oleh si manusia bermata satu itu dia di buang di
sana.
Maka seraya mendongakkan kepalanya, dia berkata
kepada On Tin san.
"Empek tampaknya orang inilah yang tanpa sengaja
dilukai oleh Si bayangan setan bermata tunggal dengan
senjata gurdi emas semalam. “
Oh Tin san berlagak seakan akan terkejut bercampur
keheranan, kemudian sorot mata nya dialihkan ke tubuh
mayat tersebut dan tidak berkata apa-apa lagi.
"Coba kalau empek berhasil menolong jiwa orang ini,
keadaannya pasti akan lebih baikan!" seru Lan See giok
kemudian sambil mengawasi mayat tersebut.
http://kangzusi.com/
"Mengapa?" tanya Oh Tin san seperti tak mengerti.
"Sudah pasti orang ini mengetahui siapakah pembunuh
terkutuk yang telah membinasakan ayahku!"
Sembari menggumam dia lantas bekerja keras untuk
mengebumikan jenazah orang itu,
Dengan tenang Oh Tin-san memperhatikan Lan See giok
bekerja, dia tidak berbicara pun tidak berkutik, seakan-akan
benaknya penuh dengan persoalan.
Menanti Lan See-giok selesai bekerja, dia baru berkata
lagi:
"Mari kita pergi !"
Sambil berkata, ia lantas berjalan paling dulu.
Lan See-giok memandang sekejap ke arah peti mati yang
sudah tertutup rapat itu, kemudian baru menyusul di
belakang Oh Tin san.
"Empek, apakah kau kenal dengan orang ini?" tanyanya
kemudian dengan perasaan ingin tahu.
Oh Tin san termenung dan berpikir beberapa saat,
kemudian baru sahutnya:
"Aku tidak kenal dengan orang ini, tapi kalau dilihat dari
ciri khas wajahnya yang berbentuk segi tiga, beralis lebar,
kepalanya ada benjolan daging, tampaknya dia mirip sekali
dengan To ciok-siu (binatang bertanduk tunggal) Siau gi . .
."
Hampir saja Lan See giok menjerit tertahan setelah
mendengar nama orang itu, diam-diam dia merasa
keheranan, kenapa gelar yang digunakan orang-orang itu
semua nya menggunakan kata To ?
http://kangzusi.com/
Si mata tunggal, si lengan tunggal, si kaki tunggal, si
tanduk tunggal, masih ada apa tunggal lagi? Tiada hentinya
dia berpikir di dalam hati kecilnya . .
Mendadak, berkedip sepasang mata Lan See giok,
sekujur badannya menggigil keras, ketika ia mendongakkan
kepala tampak olehnya Oh Tin-san sudah berada puluhan
kaki jauhnya di depan sana.
Sekarang dia telah dapat menenangkan kembali hatinya,
maka tubuhnya segera bergerak lagi ke depan, sementara
sepasang matanya yang jeli mengawasi terus telinga Oh Tin
san yang tinggal satu itu.
Lan See giok mempunyai persoalan di dalam hati, maka
dia pun mengerahkan segenap kekuatannya untuk
melakukan perjalanan, tak selang berapa saat kemudian ia
telah berhasil menyusul si kakek itu.
Sekali lagi dia mendongakkan kepalanya memperhatikan
telinga Oh Tin san yang tinggal satu, kemudian bibirnya
bergetar beberapa kali seperti menggumamkan sesuatu.
Tapi, bagaimanapun juga dia merasa tak punya
keberanian untuk menanyakan julukan dari empeknya ini,
tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya untuk
menyanggah jalan pemikiran yang pertama:
"Aaaah- masa empek pun mempunyai julukan yang
mempergunakan julukan To”
Sementara ingatan itu masih melintas di dalam
benaknya, kedua orang itu sudah berjalan ke luar dari
hutan, di depan mata sekarang terbentang persawahan dan
hutan bambu.
Oh Tin san mendongakkan kepalanya memandang
sekejap matahari yang telah condong ke barat, lalu
tanyanya dengan suara lembut:
http://kangzusi.com/
"Giok ji, kita harus menuju ke arah mana??
Lan See giok mengamati sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian sambil menunjuk ke arah tenggara. sahutnya:
"Telusuri jalanan kecil itu menuju ke arah tenggara!"
Dengan gembira Oh Tin san mengangguk, lalu serunya,
dengan nada tak sabar:
"Giok ji, mari kita lakukan perjalanan dengan sepenuh
tenaga!"
Sambil berkata dia segera berangkat lebih dulu.
Sambil berjalan cepat, tiada hentinya Lan See giok
berpikir, setibanya di rumah bibi Wan nanti, bagaimanakah
caranya ia mengisahkan peristiwa tragis yang telah
menimpa ayahnya.
Selain itu, diapun hendak memohon kepada bibi Wan
untuk mengeluarkan kotak kecil itu, dia ingin memeriksa
sendiri isinya apa-kah benar sejilid kitab Hud bun cinkeng
yang diidamkan oleh setiap umat persilatan.
Dia hendak menuturkan pula semua kisah kejadian yang
dialaminya di makam kuno, dia akan menerangkan pula
orang-orang yang mencurigakan itu satu per satu, agar bibi
Wan nya bisa menganalisa dan menyimpulkan siapa
gerangan musuh besar yang telah membinasakan ayahnya.
Kemudian, diapun membayangkan kembali si empek
bertelinga tunggal itu..
Mendongakkan kepalanya, ia saksikan empek bertelinga
tunggal itu sudah berada puluhan kaki di depan sana, kalau
dilihat dari bayangan punggungnya, tampak kalau
empeknya itupun sedang termenung.
http://kangzusi.com/
Dikejauhan sana sudah muncul sebuah dusun nelayan,
di samping dusun merupakan sebuah telaga yang luas,
itulah telaga Huan yang cu.
Lan See giok menyaksikan Oh Tin san bergerak makin
lama semakin cepat, jarak mereka pun makin lama selisih
semakin jauh.
Dia tak berniat untuk menyusulnya. karena pada detik
itu pula dia sedang mempertimbangkan perlukah mengajak
empeknya berkunjung ke rumah bibi Wannya.
Sekalipun Oh Tin San telah membeli hio dan memeluk
jenazah ayahnya sambil menangis tersedu sedu, bahkan
membantunya sehingga ia memperoleh tenaga dalam yang
hebat, tapi sekarang dia mulai merasakan banyak hal yang
mencurigakan.
Yaa, pada hakekatnya pukulan hatin yang dirasakan Lan
See giok akibat peristiwa yang terjadi semalaman ini terlalu
berat, terlalu banyak, persoalan yang dihadapinya pun
kelewat banyak.
Benar, dia adalah seorang anak yang cerdas tapi sebelum
hatinya menjadi tenang kembali rasanya mustahil baginya
untuk memecahkan rentetan teka teki yang dihadapinya
sekarang.
Mendadak ia mendengar Oh Tin San sedang menegur
dari depan sana:
"Giok ji, apa yang sedang kau pikirkan?"
Suaranya agak gemetar, seperti lagi menahan rasa kaget
yang luar biasa .
Mendengar teguran itu, Lan See giok segera
menghentikan gerakan tubuhnya sembari menengadah,
http://kangzusi.com/
entah sedari kapan, empek bertelinga tunggalnya telah
berhenti di pinggir jalan.
Ia menjumpai paras muka kakek itu pucat pias seperti
mayat, perasaan tegang dan takutnya amat tebal
menyelimuti wajahnya, dengan perasaan tidak habis
mengerti dia lantas berkata:
"Empek, ada urusan apa?"
"Giok ji, dapatkah andaikata kita tak usah melewati
kampung nelayan ini . . " tanya Oh Tin San sambil berusaha
untuk menenangkan hatinya.
Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar ucapan
tersebut, sinar matanya segera dialihkan ke depan.
Ternyata mereka sudah tiba di kampung nelayan di
mana dia berkelahi dengan si bocah hitam kemarin, maka
tanyanya:
"Kau maksudkan kampung nelayan ini?"
"Yaa. apakah kita bisa tak usah melewati tempat ini?"
Dengan cepat anak itu menggeleng.
"Tidak mungkin, karena aku hanya kenal sebuah jalanan
ini saja . . ."
Belum habis anak itu berbicara, Oh Tin san kembali
menukas dengan perasaan cemas:
"Bibi Wan-mu itu sebetulnya tinggal di dusun apa?"
"Apa nama dusun itu aku kurang tahu, tapi aku tahu
rumah yang didiami bibi Wan dalam dusun tersebut."
Perasaan gelisah dan marah menyelimuti wajah Oh Tin
san, keningnya yang kelimis bekernyit, lama kemudian dia
baru bertanya lagi:
http://kangzusi.com/
"Dahulu, bagaimana caramu untuk pergi ke sana?"
Lan See giok tidak begitu memperhatikan maksud dari
pertanyaan itu, segera jawabannya .
"Dulu, ayah melukiskan sebuah peta jalan untukku, dan
akupun berjalan mengikuti peta tersebut"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Tin san
setelah mendengar perkataan itu, selintas rasa kejut
bercampur girang, menghiasi wajahnya yang jelek, serunya
cepat:
"Mana peta itu sekarang?"
Tak sabar dia lantas mengulurkan tangan kanannya yang
kurus kering.
Sekali lagi Lan See giok menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Sayang peta itu sudah diminta oleh bibi Wan!"
Paras muka Oh Tin san kembali berubah hebat, sekarang
wajahnya yang jelek tampak menyeringai seram tangan
kanannya yang kurus gemerutukan keras, seakan akan
kalau bisa dia hendak mencekal Lan See giok sampai
mampus. .
"Empek mengapa kita tidak pergi bersama saja?" seru
Lan See giok kemudian dengan perasaan tidak mengerti.
Pelan-pelan air Muka Oh Tin san berubah menjadi
lembut kembali, senyumpun kembali menghiasi wajahnya,
cuma diantara kerutan alis matanya masih nampak
perasaan kaget dan gelisahnya.
"Giok ji" kembali dia berkata setelah melirik sekejap ke
arah dusun. "kau boleh melanjutkan perjalanan lebih dulu,
tunggu aku di depan dusun sana, sampai kita bertemu lagi,
tahu?"
http://kangzusi.com/
Walaupun Lan See giok tidak mengerti dengan maksud
tujuan orang, tapi ia toh mengangguk juga.
Oh Tin san segera menepuk bahu Lan See giok dengan
hangat, lalu berkata lagi:
"Giok ji, pergilah! Ingat, sampai kita bertemu lagi!"
Lan See giok mengiakan, dengan perasaan bimbang dia
melanjutkan kembali perjalanan nya memasuki dusun.
Kini, dia sudah mulai menaruh curiga terhadap kakek
bertelinga tunggal itu, terutama sekali wajah jeleknya yang
berubah ubah tak menentu, makin lama semakin
menimbulkan perasaan muak di dalam hati kecilnya.
Dia ingin sekali meninggalkan kakek itu, tapi diapun
berharap bisa mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi,
meski ilmu silat empek itu tidak begitu lihay, paling tidak
setiap bulan setelah menelan pil hitam yang busuk dan
amis, tenaga dalamnya akan memperoleh kemajuan yang
cukup pesat.
Ia memang dapat merasakan manfaatnya, paling tidak
tenaga dalam yang dimilikinya sekarang berapa tingkat
lebih dahsyat dari pada kemarin.
Berpikir sampai di situ, diam-diam ia merasa berterima
kasih sekali terhadap jasa empeknya, maka rasa curiga dan
muaknya pun turut lenyap tak berbekas.
Hanya saja, dia masih tidak habis mengerti mengapa
empeknya menunjukkan sikap yang begitu tegang dan
gelisah, bahkan menampik untuk bersama sama melalui
dusun nelayan itu-
Sementara otaknya berputar. tanpa terasa ia sudah tiba di
depan dusun, ketika mendongakkan kepalanya. ia menjadi
amat terperanjat.
http://kangzusi.com/
Kurang lebih lima kaki di hadapannya, di bawah
sebatang pohon besar, duduklah si kakek berjubah kuning
yang pernah di jumpainya semalam.
Dengan wajah penuh senyuman kakek berjubah kuning
itu duduk di atas sebuah batu hijau dan sedang
mengawasinya dengan lembut, wajahnya yang merah dan
penuh keramahan tampak berwarna merah bercahaya di
bawah sinar matahari sore.
Lan see giok sama sekali tak menyangka kalau begitu
masuk ke dusun nelayan itu, dia lantas berjumpa dengan
kakek berjubah kuning tersebut.
Sekalipun dia sedang membutuhkan keterangan dari
kakek berjubah kuning itu tentang sebab musabab yang
sebenarnya dari kematian ayahnya serta asal usul orang-
orang yang julukannya dimulai dengan huruf "To" tersebut.
Tapi sekarang ia tak dapat melakukannya, dia harus
berangkat ke rumah kediaman bibi Wan-nya bersama
empek bertelinga tungga1.
Teringat akan empek bertelinga tunggal itu, kembali
tergerak hatinya, jangan-jangan Oh Tin san kenal dengan
kakek berjubah kuning itu? Atau mungkin di antara mereka
terikat dendam kesumat?
Berpikir sampai di situ, serta merta dia lantas berpaling
ke arah belakang, tapi bayangan tubuh Oh Tin san sudah
lenyap tak berbekas.
Menanti dia berpaling lagi, kakek berjubah kuning itu
telah berada di depan tubuhnya.
Waktu itu dia sedang memandang Lan See-giok sambil
tertawa terbahak bahak, lalu tegurnya dengan ramah:
"Nak, apakah kau datang untuk mencari diriku?"
http://kangzusi.com/
Karena ditegur, mau tak mau Lan See -giok harus
menghentikan langkahnya, dengan cepat dia menggeleng.
"Mengapa nak?" tanya kakek berjubah kuning itu sangat
terkejut bercampur keheranan.
Sembari berkata, seperti sengaja tak sengaja dia melirik
sekejap ke arah bawah di mana Lan See giok berasal.
Waktu itu Lan See giok ingin buru-buru pergi ke tempat
tinggal Bibi Wannya, diapun takut empek bertelinga tunggal
itu menunggu kelewat lama di depan dusun sana ditambah
pula dia memang mencurigai si kakek berjubah kuning
sebagai salah seorang yang turut ambil bagian dalam
persekongkolan peristiwa pembunuhan terhadap ayahnya,
maka dengan nada mendongkol dia berkata:
"Mengapa? Apakah aku, harus memberitahukan
kepadamu? Sekarang aku ada urusan dan tak bisa banyak
berbicara denganmu."
Seraya berkata dia lantas menghindari si kakek berjubah
kuning itu dan berjalan menuju ke dalam dusun.
Kakek berjubah kuning itu berkerut kening, wajahnya
kelihatan agak gelisah, setelah memandang sekejap ke arah
dusun, mendadak ia bangkit berdiri kemudian membentak
keras:
"Manusia jumawa, hari ini jika lohu tidak memberi
pelajaran kepadamu, kau pasti akan menganggap di dunia
ini tiada hukum lagi."
Sambil membalikkan badan, ujung bajunya segera
dikebaskan ke depan, menggunakan kesempatan itu kelima
jari tangannya segera diayunkan ke depan menghajar jalan
darah Pay wi hiat di tubuh bocah tersebut.
http://kangzusi.com/
Lan See giok amat terkejut setelah mendengar seruan itu,
ia tahu kalau bukan tandingan kakek berjubah kuning
tersebut, terpaksa dia kabur mengambil langkah seribu.
Sayang serangan itu datangnya lebih cepat, di mana
angin serangan berkelebat lewat, jalan darah Pay wi hiat
nya kena tertotok secara telak..
Sepasang kakinya segera menjadi lemas dan "Bluuk!"
tubuh Lan See giok segera terjungkal ke atas tanah.
Lan See giok merasa terkejut bercampur kaget, terkejut
karena i1mu silat si kakek berjubah kuning itu sangat lihay,
ternyata ia dapat menotok jalan darahnya yang telah di
geserkan letaknya, malah karena dengan perbuatan ini,
maka tak disangkal lagi kakek berjubah kuning ini adalah
salah seorang yang berkomplot untuk membunuh ayahnya.
Semakin dipikirkan Lan See-giok merasa semakin gusar,
sambil menggertak gigi dia mengawasi kakek berjubah
kuning itu dengan penuh kegusaran.
Semakin dipikir Lan See-giok, merasa makin gusar,
akhirnya sambil menggertak gigi dan melotot besar pelan-
pelan dia menghampiri kakek berjubah kuning itu.
Pada saat itu . . . .
Dari dalam dusun sana melesat ke luar dua sosok
bayangan manusia, satu berwarna hitam dan satu berwarna
merah, dengan kecepatan bagaikan sambaran petir mereka
meluncur tiba.
Ketika Lan See-giok berpaling, dia segera mengenali
kedua orang itu sebagai si nona berbaju merah Si Cay soat
dan si bocah hitam Siau Thi gou adanya.
Tampak Siau Thi gou berlari mendekat sambil berteriak
teriak penuh kegembiraan:
http://kangzusi.com/
"Suhu..suhu, kenapa sampai sekarang kau baru kembali,
semalam Thio lo koko masih menunggu dirimu untuk
minum arak!"
Lan See giok segera mendengus dingin, sepasang
matanya yang merah karena mengawasi Si Cay soat dan
siau Thi gou tanpa berkedip.
Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu mereka
berdua telah tiba di depan mata, tapi ketika kedua orang itu
menyaksikan Lan See giok yang tergeletak di tanah, kontan
saja mereka jadi tertegun.
Si Cay soat membelalakkan sepasang matanya lebar-
lebar, paras mukanya berubah beberapa kali, kejut dan
girang menyelimuti wajahnya, segera teriaknya:
"Suhu, dialah Lan See giok yang kumaksud kan sebagai
bocah lelaki yang tidak roboh meski jalan darahnya
tertotok!"
Paras muka si kakek berjubah kuning itu bercampur aduk
tak karuan, terhadap ucapan dari bocah perempuan berbaju
merah itu dia hanya mengiakan belaka.
Kemudian kepada Siau Thi gou katanya dengan suara
dalam.
"Thi gou, gusur dia pulang!"
Siau Thi gou segera menenangkan hatinya lalu memburu
ke depan Lan See giok, dengan kening berkerut dan
menjura, katanya dengan suara lantang:
"Saudara . . "
"Tak usah banyak bicara, cepat gusur pergi!" bentak
kakek berjubah kuning itu gusar.
Siau Thi gou amat terperanjat, buru-buru dia
membungkukkan badan dan membopong Lan See giok,
http://kangzusi.com/
kemudian cepat-cepat membalikkan badan dan berlalu dari
situ.
Jalan darah di tubuh Lan See giok sudah tertotok,
seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, ia merasa
seakan akan tubuh mulai dari pinggang sampai ke bawah
seperti sudah bukan menjadi miliknya sendiri.
Dalam keadaan seperti ini, selain gusar diapun merasa
takut, dia kuatir kalau empek bertelinga tunggal itu tak
berhasil menemukan tempat tinggal bibi Wan nya sehingga
tiada orang yang bisa menyampai kan berita tentang
kematian ayahnya.
Ia tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah
kuning itu sangat hebat, setelah tertotok sekarang, untuk
kabur mungkin jauh lebih sukar daripada naik ke langit,
maka semakin dipikirkan dia merasa semakin mendongkol
dan gelisah.
Siau Thi gou benar-benar bertenaga besar bagaikan
kerbau baja persis seperti nama nya, sekalipun sedang
membopong tubuh Lan See giok, ternyata ia masih bisa
berjalan dengan langkah tegap.
Dengan kening berkerut dan wajah serius kakek berjubah
kuning itupun mengikuti di belakang Thi gou, dia seperti
merasa murung sekali karena masalah Lan See giok.
Si Cay soat, si gadis berbaju merah itu mengikuti di
samping kakek berjubah kuning wajahnya yang cantik
nampak pula diliputi perasaan amat gelisah dan cemas.
Kini dia merasa menyesal, menyesal telah
memberitahukan kepada gurunya bahwa Lan See giok tidak
roboh meski jalan darahnya tertotok.
Dia masih ingat, ketika gurunya mendengar berita itu
kemarin, paras mukanya segera berubah hebat, kemudian
http://kangzusi.com/
setelah mencari tahu arah yang dituju Lan See giok, dengan
langkah tergesa-gesa dia menyusul ke luar dusun.
Sungguh tak disangka, ternyata bocah itu berhasil disusul
oleh gurunya.
Tapi dia percaya keselamatan jiwa Lan See giok sudah
pasti tak akan terancam, karena dia tahu gurunya adalah
seorang kakek yang saleh dan sangat welas kasih terhadap
siapapun.
Dalam waktu singkat Siau Thi gou sudah membopong
Lan See giok memasuki hutan bambu dan tiba di depan
sebuah pekarangan rumah.
Lan See giok mencoba untuk memandang ke depan,
ternyata rumah bambu itu berderet dikelilingi sebuah
halaman yang luas.
"Lompat masuk!" bisik kakek berjubah kuning itu
mendadak.
Siau Thi gou mengiakan, dia segera melompat ke tengah
udara dan melayang masuk, ke balik dinding pekarangan,
sekalipun di bahunya harus membopong tubuh Lan See
giok, sewaktu kakinya mencapai permukaan tanah ternyata
tidak menimbulkan sedikit suarapun.
Lan See giok tak dapat berbicara, tak dapat berkutik, tapi
diam-diam ia merasa kagum sekali atas kesempurnaan ilmu
meringankan tubuh yang dimiliki Siau Thi gou.
Dengan membopong tubuh Lan See giok, Siau Thi gou
mengitari sebuah rumah bambu dan memasuki sebuah
halaman kecil.
Thi gou berpaling dan memandang sekejap kearah kakek
berjubah kuning itu, kemudian dia berjalan masuk ke dalam
ruangan sebelah timur.
http://kangzusi.com/
Sebelum Lan See giok sempat melihat jelas dekorasi
yang berada dalam ruangan itu, tubuhnya sudah di
baringkan oleh Siau Thi gou di atas pembaringan.
Kakek berjubah kuning dan Si Cay soat segera menyusul
pula ke dalam ruangan
Saat itulah mendadak terdengar suara seorang kakek
yang tua dan serak bertanya:
"Apakah Locianpwe telah kembali?".
Sesosok bayangan tubuh yang tinggi besar telah muncul
dari balik pintu ruangan.
Lan See giok kembali memperhatikan orang itu, ia
saksikan orang tersebut mempunyai perawakan badan yang
tinggi besar dan berambut putih, alis matanya tebal,
matanya besar, hidung singa dan mulut lebar, dia nampak
gagah dan mentereng sekali.
Kakek berjubah-kuning itu segera membalikkan badan
sambil menyongsong kedatangan orang itu.
Si Cay soat dan Siau Thi gou segera memberi hormat
pula sambil memanggil:
"Thio toako . . . . "
Mendengar nama itu, Lan See giok segera tahu kalau
orang yang masuk adalah ayah Thio Toa keng, yaitu orang
yang dimaksudkan kakek berjubah kuning itu sebagai Huan
kang ciong liong ( naga sakti pembalik sungai ) Thio Lok
heng .
Gerak gerik Huan kang ciong liong Thio Lok heng
terhadap kakek berbaju kuning itu sangat hormat, tapi
begitu menyaksikan Lan See giok, paras mukanya segera
berubah hebat, serunya dengan suara rendah:
http://kangzusi.com/
"Locianpwe, ternyata kau benar-benar telah menemukan
si gurdi emas . - ."
Belum habis Huan kang ciong liong menyelesaikan kata-
katanya, kakek berjubah kuning itu telah memberi tanda
agar dia jangan berbicara lebih jauh.
Tergerak hati Lan See giok, dia tahu yang dimaksudkan
sebagai Huan kang-ciong liong adalah gelar ayahnya yaitu
si Gurdi emas peluru perak.
Kalau ditinjau dari hal ini, bisa ditarik kesimpulan kalau
Huan kang ciong liong dan kakek berjubah kuning adalah
pembunuh ayahnya.
Sementara itu, Huan kang-ciong liong Thio Lok-heng
telah memburu ke tepi pembaringan dan menatap wajah
Lan See giok lekat-lekat, setelah memperhatikan sekejap
dengan gelisah, diapun bertanya lagi kepada kakek berjubah
kuning itu dengan nada hormat:
"Locianpwe, bila jalan darah bocah ini tertotok kelewat
lama, apakah ia tak akan terluka?"
Tampaknya kakek berjubah kuning itu mempunyai
kesulitan untuk diutarakan, maka setelah termenung
sebentar, katanya lembut kepada Si Cay soat, gadis berbaju
merah itu:
"Anak Soat, bebaskan totokan jalan darahnya!"
Dengan wajah merah dadu Si Cay soat mengiakan, lalu
dengan kepala tertunduk mendekati pembaringan.
Melihat Si Cay soat berjalan mendekat.
Lan See giok merasa kehormatannya sebagai seorang
lelaki merasa tersinggung, hawa amarahnya segera
berkobar, dari balik sepasang matanya yang jeli segera
terpancar ke luar cahaya dingin yang menggidikkan hati.
http://kangzusi.com/
Huan-kang-ciong liong yang menyaksikan kejadian itu,
paras mukanya segera berubah hebat, setelah memandang
sekejap ke arah kakek berjubah kuning itu dia seperti
hendak mengatakan:
"Tenaga dalam yang dimiliki bocah itu, tampaknya jauh
melebihi tingkat usianya.."
Sedang kakek berjubah kuning itu segera mengangkat
bahu sambil manggut-manggut, agaknya banyak persoalan
yang mencekam di dalam hatinya.
Pada saat itulah, Si Cay soat telah berjalan ke depan
pembaringan dan melepaskan lima buah pukulan berantai
ke atas jalan darah Mia bun hiat di tubuh Lan See giok.
Dua pukulan. yang pertama tidak mengenai sasarannya,
baru pada tepukan yang ke tiga Si Cay soat baru menghajar
jalan darahnya secara tepat.
Setelah menarik kembali tangannya, dengan biji mata
yang jeli Si Cay soat memandang sekejap ke arah Lan See
giok, lalu dengan jantung berdebar keras berjalan kembali.
"Thi gou, temanilah dia bermain main, ingat, jangan
tinggalkan tempat ini," pesan kakek berjubah kuning itu
kemudian dengan wajah serius.
Setiap orang pasti akan mengerti kalau kakek berjubah
kuning itu sedang memperingatkan Siau Thi gou agar
jangan membiarkan Lan See giok lari.
Siau Thi gou segera manggut-manggut dengan mata
terbelalak lebar.
Tampaknya kakek berjubah kuning itu masih
mempunyai banyak masalah lain yang hendak
dirundingkan dengan Huan-kang -ciong-liong, begitu selesai
meninggalkan pesannya, buru-buru dia berlalu.
http://kangzusi.com/
"Mari kita pergi!"
Selesai berkata bersama Huan kang ciong -liong, buru-
buru mereka tinggalkan ruangan itu.
Si Cay soat yang menduga Lan See giok belum bersantap
malampun buru-buru ikut berlalu dari sana.
Sepeninggal ke tiga orang itu, Siau Thi gou baru
berpaling ke arah Lan See giok sambil tertawa, kemudian
tegurnya:
"Saudara, bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah
ingin turun untuk berjalan jalan?"
Sejak jalan darahnya bebas dari pengaruh totokan, diam-
diam Lan See-giok telah mengatur napasnya untuk
memeriksa seluruh tubuhnya, merasa dirinya segar bugar,
hatinya segera tergerak, ia merasa bila ingin meloloskan diri
dari mulut harimau, maka harus memperalat si bocah
bermuka hitam ini.
Maka dia duduk dan manggut-manggut, setelah itu turun
dari pembaringan.
Tiba-tiba Siau Thi gou merasa ruangan di tempat itu
terlalu gelap, dia segera mendekati meja untuk
membesarkan lampunya.
Melihat itu, mencorong sinar tajam dari balik mata Lan
See giok, dia merasa kesempatan baik tak boleh di sia-sia
kan dengan begitu saja, maka setelah maju berapa langkah,
dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat
dia menotok jalan darah tidur di tubuh Siau Thi gou.
Waktu itu Siau Thi gou sedang menyulut lampu dan
sama sekali tidak melakukan persiapan apa-apa, mendadak
dia merasakan datangnya ancaman, tahu-tahu jalan darah
tidurnya sudah kena tertotok.
http://kangzusi.com/
"Bluuk-!" dia segera terjatuh ke tanah dan tertidur pulas.
Berhasil dengan serangannya, Lan See giok merasa
semakin gugup, pertama tama dia mengendalikan dulu
debaran jantungnya kemudian baru secara diam-diam
menyelinap ke luar dari kamar, lalu kabur ke belakang
bangunan rumah itu.
Waktu itu langit sudah gelap, bintang bertaburan di
angkasa, cahaya rembulan bersinar redup menerangi
seluruh jagad.
Tiba di tepi pagar bambu, Lan See giok menjejakkan
kakinya melambung ke angkasa dan melayang turun di luar
dinding.
la tak berarti mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya
untuk melarikan diri, sebab hal ini akan memancing
perhatian dari si kakek berjubah kuning serta si raga sakti
pembalik sungai.
Dengan langkah yang sangat berhati-hati dan penuh
kewaspadaan, anak itu menentukan arah tujuannya
kemudian bergerak menuju ke luar hutan bambu-
Suasana di dalam dusun sunyi senyap, selain suara air
telaga yang menubruk tanggul tiada kedengaran suara lain.
Ke luar dari hutan bambu itu, Lan See giok merasakan
matanya berkilat tajam, ternyata dia berada di luar hutan di
mana Thio Toa keng sekalian berkelahi dengannya, sedang
puluhan kaki lebih ke depan adalah jalan di tepi tanggul
menuju ke tempat kediaman bibi Wan nya.
Lan See giok merasa gembira sekali, dia tak menyangka
kalau kali ini bisa kabur dengan lancar dan cepat.
Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu dan
yakin kalau si kakek berjubah kuning maupun si Naga sakti
http://kangzusi.com/
pembalik sungai tidak mengejarnya, bocah itu segera
mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melesat ke
atas tanggul telaga
Tiba di tepi telaga, dia segera menyembunyikan diri ke
belakang sebatang pohon kemudian dengan sorot mata
yang tajam memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu.
Tapi selain air telaga yang hening dengan angin yang
berhembus lewat menggoyangkan daun serta ranting, di situ
tak nampak sesosok bayangan manusia pun.
Lan See giok merasa gelisah bercampur tegang, apalagi
tidak menjumpai empek bertelinga satu itu berada di sana,
hatinya semakin gugup dan kalut- -
Ia segera mendongakkan kepalanya memeriksa setiap
cabang pohon yang tumbuh di sana, dia berharap empek
bertelinga satu itu menyembunyikan diri ditempat itu.
Mendadak . . suatu bentakan gusar yang penuh
bertenaga menggema datang dari kejauhan sana:
"Thi gou si bocah ini kelewat jujur!"
Lan See giok merasa terkejut sekali, karena suara itu
berasal dari naga sakti pembalik sungai Thio Lok-heng.
Dalam keadaan demikian ia tak sempat mencari si
empek bertelinga tunggal lagi, cepat-cepat dia membalikkan
badan sambil kabur ke atas tanggul telaga.
Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya. dia
merasa kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang
dimilikinya masih bukan tandingan kakek berjubah kuning,
maupun si naga sakti pembalik sungai, bila sampai
ditemukan jejaknya, belum sampai setengah li sudah pasti
akan tersusul.
http://kangzusi.com/
Berpaling ke arah lain, dia menyaksikan di bawah
tanggul di tepi telaga tertambat beberapa buah sampan
kecil, ketika sampan-sampan itu saling bersentuhan segera
menimbulkan suara benturan yang nyaring.
Pada saat itulah . . . terdengar suara ujung baju
tersampok angin berkumandang datang dari arah hutan
bambu.
Lan See-giok semakin tegang setelah mendengar suara
itu, dia tahu mustahil baginya bisa kabur, maka diputuskan
untuk menyembunyikan diri untuk sementara waktu di atas
sampan.
Berpikir sampai di situ, buru-buru dia menuruni tanggul
itu dan melompat naik ke atas sampan yang penuh dengan
tali jerami, kemudian menggunakan tali tersebut untuk
menutupi badannya.
Bau amis ikan yang menusuk hidung dengan cepat
menyelimuti sekeliling tubuhnya..
Dalam keadaan demikian Lan See giok tidak
memikirkan hal semacam itu lagi, dengan kening berkerut
dia membaringkan diri, pikirnya: "Hitung-hitung masih
mendingan bau amis ini dari pada bau busuk pil hitam
pemberian si empek bertelinga tunggal."
Ketika dia mencoba untuk memasang telinga,
terdengarlah suara ujung baju terhembus angin itu sudah
tiba di atas tanggul.
Diam-diam Lan See giok merasa amat terperanjat,
jantungnya berdebar semakin keras, dia tidak menyangka
kalau gerakan tubuh dari kakek berjubah kuning itu jauh
lebih cepat berapa kali lipat dibandingkan dengan apa yang
dia bayangkan semula.
http://kangzusi.com/
Mendadak suara itu terhenti di atas tanggul, menyusul
kemudian kedengaran suara dari si Naga sakti pembalik
sungai berkata dengan nada sangat gelisah:
"Locianpwe, menurut pendapat boanpwe tak mungkin
bocah itu lari ke arah telaga."
"Tak bakal salah, aku mendengar jelas sekali, mungkin
dia baru mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya setelah
ke luar dari hutan bambu," sahut kakek berjubah kuning itu
dengan nada pasti.
Peluh dingin segera membasahi seluruh badan Lan See
giok, diam-diam ia bersyukur tidak mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya sedari dalam halaman rumah itu.
Kemudian terdengar kakek itu berkata lagi:
"Waktu itu aku sama sekali tidak menyangka, tapi ia
belum pergi jauh, kemungkinan besar masih bersembunyi di
sekitar tempat ini . ."
Lan See giok semakin tegang lagi, saking takutnya dia
sampai tak berani bernapas keras-keras, sementara
jantungnya berdetak keras sekali, seakan akan hendak
melompat ke luar dari rongga dadanya saja. Ia mencoba
mengintip dari balik celah-celah tali, dari situ ia dapat
melihat si kakek berjubah kuning serta naga sakti pembalik
sungai di atas tanggul.
Waktu itu dengan wajah serius si kakek berjubah kuning
itu sedang memperhatikan sekeliling tempat itu, tangan
kanannya mengelus jenggot tiada hentinya, dia seperti
merasa cemas dan murung sekali atas kaburnya Lan See
giok.
Sorot matanya yang semula ramah dan lembut, kini
memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati.
http://kangzusi.com/
Naga Sakti pembalik sungai Thio Lok-heng juga
melototkan sepasang matanya bulat-bulat dengan wajah
gusar, dengan matanya yang tajam dia sedang celingukan
ke sana ke mari, nampak pula dia sedang marah bercampur
gelisah.
Mendadak kakek berjubah kuning itu berpaling ke arah
muka dusun sebelah depan sana . . .
Dengan perasaan terkesiap Lan See giok berpikir:
"Jangan-jangan si empek bertelinga tunggal telah datang?"
Dia mencoba untuk memasang telinga baik-baik, benar
juga dia mendengar suara ujung baju yang terhembus angin.
Waktu itu si Naga Sakti pembalik sungai juga telah
mendengar suara tersebut, dengan cepat dia berpaling pula
ke luar dusun.
Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan gelisah:
"Suhu, apakah Lan See-giok berhasil ditemukan?"
Mendengar suara itu. Lan See-giok segera mengenalinya
sebagai Si Cay-soat atau gadis cilik berbaju merah itu.
Kakek berbaju kuning dan naga Sakti pembalik sungai
menggelengkan kepalanya berulang kali, sorot mata mereka
tetap beralih ditempat kejauhan sana.
Bayangan merah nampak berkelebat lewat, tahu-tahu Si
Cay-soat telah berhenti di antara si kakek berjubah kuning,
dengan si naga sakti pembalik sungai.
Tampak paras muka Si Cay soat pucat pias, alis matanya
bekernyit dan wajahnya penuh kegelisahan, sepasang mata
yang jeli berkilat.
Akhirnya sinar mata gadis itu dialihkan ke atas beberapa
buah sampan kecil di bawah tanggul.
http://kangzusi.com/
Lan See-giok amat terkesiap, dia tahu bakal celaka bila
jejaknya ketahuan, tanpa terasa peluh dingin jatuh
bercucuran.
Mendadak sepasang mata Si Cay soat berkilat, paras
mukanya berubah hebat dan hampir saja ia menjerit,
rupanya dia telah menemukan dua titik sinar mata tajam di
balik tumpukan tali dalam sampan kecil sebelah tengah.
Melihat itu, Lan See giok merasa kepalanya kontan
menjadi pusing tujuh keliling, napasnya, sesak dan
jantungnya seperti melompat ke luar dari rongga dadanya.
Sekarang dia baru menyesal kenapa menyembunyikan
diri dalam sampan kecil itu sehingga jejaknya ketahuan.
Berada dalam keadaan seperti ini, dia tak berani
berkutik, juga tak berani lari, sebab bila sampai ketahuan
maka ibaratnya katak masuk tempurung, jangan harap bisa
meloloskan diri lagi.
Si Cay soat yang berada di atas tanggul juga
membelalakkan matanya dengan wajah kaget serta
tertegun, mulutnya ditutup dengan tangan sementara sorot,
matanya nampak gugup bercampur panik.
Peluh bercucuran dengan derasnya membasahi seluruh
badan Lan See giok, ia tahu asal Si Cay soat menuding ke
bawah sambil menjerit, niscaya dia akan dibekuk kembali.
Suasana amat hening . . . beberapa saat kemudian Si Cay
soat baru berhasil menenangkan hatinya seraya berpaling ke
arah lain, sekalipun matanya celingukan kesana ke mari,
tapi wajahnya yang gugup dan cemas kelihatan jelas sekali.
Lan See giok turut tertegun, dia tidak habis mengerti apa
sebabnya gadis itu tidak berteriak? Mungkinkah dia tidak
melihat jelas? Tapi setelah dipikirkan kembali, ia merasa hal
ini mustahil . . .
http://kangzusi.com/
Atau mungkin gadis itu sengaja hendak melepaskan
dirinya? Tapi mengapa pula dia berbuat demikian . . .
Makin dipikir Lan See giok merasa makin kebingungan
dan tidak habis mengerti, hati nya bergoyang seperti ayunan
sampan, meski sudah diusahakan untuk ditenangkan
kembali namun tak bisa.
Sementara butiran air keringat bercucuran dengan
derasnya dan membasahi kepala, rambut dan masuk ke
dalam telinganya..
ooo0dw0ooo

BAB 5
NO NA CANTIK BERBAJU PUTIH

DI TENGAH keheningan yang mencekam seluruh jagat,


mendadak terdengar si Naga sakti pembalik sungai berkata
dengan sedih:
"Locianpwe, mungkin bocah itu sudah lari, lebih baik
besok pagi kita langsung mencari Oh Tin san untuk minta
orang .."
Kakek berbaju kuning itu menggelengkan kepalanya
berulang kali, belum habis si naga Sakti pembalik sungai
menyelesaikan kata katanya, ia te1ah berkata dengan
gelisah:
"Tidak, besok pagi terlalu lambat, sekarang dan malam
ini juga kita harus mencegah Lan See-giok agar jangan pergi
ke tempat kediaman Bibi Wan nya.."
Si naga sakti pembalik sungai termenung sebentar,
kemudian tanyanya dengan tidak habis mengerti:
http://kangzusi.com/
"Locianpwe, apakah kau menganggap kitab pusaka Hud
bun cinkeng tersebut berada di rumah kediaman bibi Wan
nya Lan See giok?"
"Yaa, kemungkinan besar benar"
"Tapi menurut analisa pada umumnya, mustahil kalau si
Gurdi emas peluru perak Lan Khong-tai akan menyerahkan
mestika yang amat berharga itu kepada seorang perempuan,
mungkin saja dia menyimpannya di dalam makam raja-raja
. . ."
"Aku telah melakukan pemeriksaan setiap sudut makam
tersebut dengan seksama, bahkan setiap sudut ruangan yang
mungkin bisa dipakai untuk menyimpan kotak kecil itupun
sudah kuperiksa . . . "
Mendengar sampai di situ, Lan See-giok yang
bersembunyi di bawah tumpukan tali merasa gusar sekali, ia
menduga pasti sekarang kalau kakek berjubah kuning yang
berwajah ramah ini benar-benar, adalah sekomplotan
dengan pembunuh-pembunuh ayahnya.
Mungkin saja selama ini kakek berjubah kuning itu
bersembunyi terus di dalam kuburan, mungkin juga dialah
pembunuh ayahnya, sebab hanya orang yang berilmu begitu
tinggi baru bisa membunuh ayahnya dalam sekali pukulan .
..
Makin dipikir Lan See giok merasa darahnya makin
mendidih, hawa amarahnya yang memuncak membuat rasa
takutnya sama sekali lenyap tak berbekas.
Tapi, bila teringat akan kelihaian kepandaian silat yang
dimiliki kakek berjubah kuning itu, ia merasa putus asa,
tipis rasanya harapan baginya untuk membalas dendam . . .
Sementara dia masih termenung, si Naga sakti pembalik
sungai telah berkata lagi:
http://kangzusi.com/
"Menurut apa yang locianpwe saksikan semalam,
siapakah di antara Sam ou ngo to (lima tunggal dari tiga
telaga) yang besar kemungkinannya sebagai pembunuh Lan
Khong tay?"
"Kelima limanya patut dicurigai semua . . " sahut kakek
itu setelah termenung sebentar.
Lan See giok menjadi mengerti sekarang, yang
dimaksudkan sebagai Sam Ou ngo to oleh si Naga sakti
pembalik sungai tentulah orang-orang yang menggunakan
julukan "To" atau tunggal pada permulaan namanya.
Sambil memandang bintang yang bertaburan di angkasa,
diam-diam ia mulai menghitung semua orang yang pernah
dijumpainya semalam. .
Orang pertama yang dijumpai adalah To pit him
(beruang berlengan tunggal) Kiong Tek cong yang
menggeledah seluruh badannya dengan tangan kanannya
dikala ia jatuh pingsan. . .
Kemudian adalah To tui thi koay (tongkat baja berkaki
tunggal) Gui Pak cong yang menusuk tubuhnya dengan
tongkat besinya.
Orang ke tiga adalah si manusia bermuka hijau dan
bergigi taring yang bernama To-gan liau pok (setan bengis
bermata tunggal ) Toan Ki tin, besar kemungkinannya
orang ini adalah pelaku pembunuhan atas diri ayah-nya.
Kemudian adalah si manusia berbisul besar pada
kepalanya yang tertembus oleh senjata gurdi emas, orang
itu diketahui bernama To ciok siu (binatang bertanduk
tunggal) Si Yu gi, orang ini adalah satu satunya orang yang
mengetahui siapa pembunuh ayahnya, tentu saja mungkin
juga orang itu adalah si binatang bertanduk tunggal pribadi.
http://kangzusi.com/
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya,
mulai dari si kaki tunggal, si le-ngan tunggal, si mata
tunggal dan si tanduk tunggal . . .
Dari lima manusia tunggal ada empat di antaranya telah
diketahui, lantas siapakah si tunggal yang kelima?
Mungkinkah dia adalah kakek berambut perak yang
telah menghajar dirinya hingga semaput itu . . .
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya,
kontan saja Lan gee giok merasakan hatinya bergidik.
Bayangan tubuh seorang kakek bermata sesat, bertubuh
kurus kering, bermuka kuda dan bertelinga tunggal dengan
cepat melintas dalam benaknya.
Dengan perasaan bimbang dia lantas berpikir:
"Yaa, diapun bertelinga tunggal. . diapun kehilangan
sebuah telinganya mungkinkah empek adalah salah seorang
dari Sam ou ngo to tersebut . . .?"
Sementara pelbagai ingatan berkecamuk dalam
benaknya, mendadak terdengar si naga sakti pembalik
sungai yang berada di atas tanggul berseru cemas:
"Locianpwe, cepat lihat, di bawah tanggul sana tampak
sesosok bayangan manusia sedang berkelebat lewat!"
Dengan perasaan tergerak Lan See giok ikut melirik, dia
saksikan si naga sakti Thio Lok heng sedang menuding ke
arah utara dengan cambang yang bergetar keras.
"Ehmm, aku sudah melihatnya!" sahut kakek berjubah
kening itu sambil manggut manggut.
Si Cay soat segera mengerling sekejap ke arah Lan See
giok, kemudian ujarnya kepada Si naga sakti Thio-Lok-
heng:
http://kangzusi.com/
"Empek Thio, mungkin dia adalah Lan See giok?"
"Bukan, dia adalah To oh cay jin (manusia buas
bertelinga tunggal)!" tukas si kakek berjubah kuning sambil
menggeleng.
Sementara itu, meski Lan See giok yang bersembunyi di
balik sampan sudah menduga kalau empeknya yang
bertelinga tunggal kemungkinan besar adalah salah seorang
dari ngo to ( lima tunggal ), namun setelah mendengar
julukan manusia buas bertelinga tunggal tersebut, hatinya
toh merasa terkesiap juga sehingga tubuhnya menggigil
keras.
Terdengar kakek berjubah kuning itu berkata lagi dengan
suara murung bercampur kesal:
"Sesungguhnya Lan See giok adalah seorang bocah yang
cerdik, sayang pukulan batin yang dialaminya kelewat
hebat sehingga membuat hatinya tak dapat tenang dan
menyumbat semua kecerdasan otaknya. Hal ini ditambah
lagi dengan pancingan si Manusia buas bertelinga tunggal
Oh Tin san yang menggunakan pelajaran ilmu silat sebagai
umpan, akibatnya mengurangi kecurigaan Lan See-giok
terhadap dirinya coba kalau bukan begitu, dengan
kemampuan dari Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin
san mana mungkin dia dapat mengelabuhi Lan See- giok?."
"Locianpwe" si naga sakti Thio Lok heng segera berkata
sambil tertawa, "jelek-jelek begini sudah setengah hidupku
berkelana dalam dunia persilatan, berbicara soal luasnya
pengetahuanku, sesungguhnya boleh dibilang lumayan
juga, tapi setelah mendengar pembicaraan dari locianpwe
semalam, jangan toh Lan See giok yang masih bocah,
bahkan boanpwe yang sudah jago kawakan pun dibikin
kebingungan dan tak habis mengerti dibuatnya . . . "
http://kangzusi.com/
Kakek berjubah kuning itu menghela napas dan
manggut-manggut, sahutnya:
"Walaupun si Manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin
san termasyhur karena kebuasan dan kekejamannya, diapun
terhitung seorang manusia licik, sayang cara kerjanya
kurang mantap dan lagi tidak sabaran, lama kelamaan Lan
See giok pasti dapat mengetahui belangnya tersebut- “
Belum habis ucapan tersebut diutarakan, dengan sorot
mata berkilat si naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng
telah menukas sembari berseru keras:
"Locianpwe, coba kau lihat!"
Sambil berkata dia lantas menuding ke arah depan
dusun.
Kakek berjubah kuning itu berkerut kening sambil
berpaling, tidak nampak bagaimana caranya menggerakkan
badan, tahu-tahu dia sudah meluncur ke depan.
Menyusul kemudian naga sakti pembalik sungai Thio
Lok heng dan Si Cay soat pun ikut berlalu dari situ.
Waktu itu pikiran Lan See giok amat kacau, dia tak
sempat memikirkan lagi apa yang berhasil dilihat Thio Lok
heng, kenapa kakek berjubah kuning itu berlalu dan
mengapa Si Cay soat tidak membocorkan jejaknya yang
bersembunyi di bawah tumpukan tali.
Yang dipikirkan sekarang adalah cepat-cepat menyusup
ke rumah kediaman bibi Wan nya tanpa diketahui orang
lain.
Dia tahu, meski kakek berjubah kuning itu telah pergi,
tapi kemungkinan besar dia akan balik lagi, sebab itu dia
tidak berani naik ke atas tanggul telaga tersebut.
http://kangzusi.com/
Angin malam berhembus lewat membawa udara yang
sangat dingin, pelan-pelan Lan See giok yang bersembunyi
dibalik tumpukan tali dapat menenangkan kembali hatinya.
..
Mendadak ia mendengar suara gelak tertawa yang amat
keras berkumandang datang dari depan dusun sana.
Lan See giok kenal suara tersebut sebagai suara si Naga
sakti pembalik sungai Thio Lok heng.
Tapi saat ini, dia sudah tidak menaruh minat lagi
terhadap setiap perobahan yang telah terjadi di sekeliling
tempat itu, karena dia sedang mempergunakan segala akal
dan kecerdasannya untuk memecahkan kesulitan yang
sedang dihadapinya.
Pertama-tama, dia berpikir tentang kakek berjubah
kuning yang berilmu tinggi itu.
Ditinjau dari sikap hormat dan panggilan merendah dari
Naga sakti pembalik sungai Thio Lok heng, dapat diketahui
kalau kakek berjubah kuning itu memiliki kedudukan yang
sangat tinggi dalam dunia persilatan.
Sekalipun kakek itu mungkin bermaksud untuk
mendapatkan kotak kecil milik ayah-nya dan telah
menggeledah seluruh isi makam, namun belum tentu ia
bersekongkol dengan sam ou ngo to.
Dilihat dari sikap si kakek yang hingga kini masih belum
tahu kalau kotak kecil tersebut sudah berada di rumah bibi
Wan-nya, bisa disimpulkan pula kalau orang yang
bersembunyi di belakang meja dan menghantam dirinya
sampai pingsan itu bukanlah kakek ini.
Teringat akan kakek kurus berambut perak yang
menghajarnya sampai semaput dari belakang itu, tanpa
http://kangzusi.com/
terasa Lan See giok membayangkan kembali si Manusia
buas bertelinga tunggal Oh Tin san.
Terbayang sampai ke situ, dengan cepat dia pun menjadi
sadar kembali, semua siasat busuk dari Manusia buas
bertelinga tunggal pun kontan terungkap semua.
Di samping itu dia membenci akan ketololan sendiri, di
mana manusia buas berhati busuk yang amat berbahaya
telah dianggapnya sebagai sahabat karib ayahnya.
Padahal gerak gerik maupun cara berbicara Manusia
buas bertelinga tunggal semenjak masuk ke dalam makam
sudah mencurigakan sekali, tapi dia justru terkecoh dan
kena dikibuli habis habisan.
Tentunya setelah menghajar dia sampai pingsan, Oh Tin
san lantas menyusun rencana kejinya, dengan pergi
membeli hio dan lilin, kemudian untuk mencari tahu
tempat tinggal bibi Wan nya, mau tak mau diapun
melaksanakan rencana kejinya dengan amat berhati hati.
Masih untung dia tak sempat melihat jelas wajah aslinya
sebelum dihantam pingsan dulu, kalau tidak mungkin
selembar jiwa nya sudah melayang sekarang.
Tentang pemberian obat untuk menambah kekuatan,
bisa disimpulkan kalau tujuan yang sebenarnya dari
tindakannya Itu adalah memberi kesempatan bagi dirinya
untuk memasuki makam raja-raja dan mencuri pedang
mestika dan kotak kecil yang tersimpan di situ.
Tapi segera muncul kembali pikiran lain, lantas siapakah
orang yang telah menyergap Oh Tin san, merusak rantai
penghubung pintu besi menuju makam raja-raja dan
membawa lari pedang Jit hoa gwat hui kiam serta dua buah
kotak emas tersebut?
http://kangzusi.com/
Mungkinkah orang itu sudah lama bersembunyi di dalam
makam? Atau mungkin kakek berjubah kuning yang tidak
pernah meninggalkan makam? Atau bisa jadi juga si
tongkat besi berkaki tunggal serta si beruang berlengan
tunggal yang secara diam-diam balik kembali ke situ.
Kemudian bocah itu teringat pula sikap kaget bercampur
rasa tercengang dari manusia buas bertelinga tunggal ketika
menyaksikan tenaga dalamnya peroleh kemajuan pesat,
mengapa begitu? Dia tak dapat memecahkannya. .
Tapi kematian dari si Binatang bertanduk tunggal, jelas
kematian tersebut disebabkan oleh tindakan keji manusia
buas bertelinga tunggal ketika ia disuruh pergi mengambil
air
Ia menduga, manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san
sengaja membunuh orang itu, karena dia kuatir binatang
bertanduk tunggal membocorkan soal tersimpannya kotak
kecil itu di rumah bibi Wan kepada orang lain.
Sebagaimana diketahui, hanya Si binatang bertanduk
tunggal Si Yu gi dan Manusia buas bertelinga tunggal Oh
Tin san saja yang mengetahui kabar berita tentang kotak
kecil itu, tapi mungkin juga dikarenakan sebab-sebab
lainnya.
Makin dipikir dia merasa makin membenci akan
kebodohan sendiri, tentu saja dia lebih-lebih membenci
Manusia buas bertelinga tunggal itu.
Demikianlah, sambil berbaring di atas sampan sambil
memandang bintang yang bertaburan di angkasa, tiada
hentinya bocah itu membayangkan tentang lima manusia
tunggal dari tiga telaga.
Dia masih ingat dengan ucapan kakek berjubah kuning
itu: "Kelima limanya mencurigakan," dari sini dapat ditarik
http://kangzusi.com/
kesimpulan kalau Manusia buas bertelinga tunggal pun
merupakan salah seorang manusia yang patut untuk
dicurigai.
Berpikir sampai di situ, dia lantas bertekad untuk segera
berangkat ke rumah kediaman bibi Wan nya mumpung
malam masih kelam dan suasana di sekeliling tempat itu
masih hening.
Mendadak..
Pemuda itu merasakan hatinya bergetar keras, dia
merasa sampan kecil, itu sedang bergerak pelan ke arah
depan.
Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menghadapi
kejadian tersebut, perasaan hatinya yang baru tenang
kontan saja menjadi tegang kembali . . .
Dengan gugup dia melompat bangun dari balik
tumpukan tali temali dia memandang sekitar tempat itu,
tapi hatinya makin terperanjat lagi, ternyata bayangan dari
tanggul sudah tidak nampak lagi.
Sekeliling tempat itu hanya nampak air, sedang tujuh
delapan kaki di depan sana adalah hutan gelaga yang luas
dan amat lebat.
Bunga gelaga yang berwarna putih bergoyang terhembus
angin, sekilas pandangan mirip awan putih di angkasa.
Begitu dia bergerak bangun, sampan yang mulai berjalan
lambatpun mendadak meluncur ke depan semakin cepat.
Tak terlukiskan rasa gugup dari Lan See giok ketika itu,
dia tahu di bawah sampan pasti ada jago lihay yang sedang
mendorong sampan itu bergerak ke depan, tapi ia tidak tahu
siapa gerangan orang tersebut dan mengapa membawanya
menuju ke tengah telaga.
http://kangzusi.com/
Sementara itu sampan kecil itu bergerak makin cepat ke
depan, kini sampan tadi sedang melesat ke arah satu
satunya jalan air yang bebas dari tumbuhan gelaga.
Dengan gugup Lan See-giok lari menuju ke buritan
sampan, tapi di sana pun dia hanya bisa menyaksikan
gelembung air dan bunga ombak yang memercik di atas
permukaan.
Dengan perasaan gelisah dia lantas bertanya kepada diri
sendiri:
"Siapakah orang ini. . ? Siapakah dia. . .? Mengapa
membawa aku ke mari . . . ?"
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya,
bayangan tubuh seorang kakek bercambang yang
berperawakan tinggi besar segera melintas di dalam
benaknya, tanpa terasa ia berbisik:
"Aaaah, jangan-jangan si Naga sakti pembalik sungai
Thio Lok heng . . . "
Sekali lagi dia melongok ke buritan sampan ke balik air
yang bergelembung.
"Yaa, sudah pasti perbuatan dari si Naga sakti pembalik
sungai Thio Lok heng, hanya dia yang memiliki ilmu
menyelam di dalam air yang begini sempurna.." sekali lagi
dia berguman.
Dalam pada itu, sampan kecil itu sudah menembusi jalan
air diantara tumbuhan jelaga yang lebat dengan kecepatan
yang makin lama semakin tinggi.
Dengan gugup Lan See giok memperhatikan sekitar
tempat itu, dia lihat jalan air itu luasnya cuma delapan
depa, sekeliling-nya penuh dengan tumbuhan gelaga
http://kangzusi.com/
setinggi satu kaki lebih, besarnya se lengan bayi dan bunga
berwarna putih seperti awan menyelimuti di atasnya.
Cepat dia menenangkan hatinya dan berpikir lebih jauh:
"Seandainya orang itu adalah si Naga sakti pembalik
sungai Thio Lok heng, niscaya aku akan dibawa kembali ke
perkampungan nelayan tersebut, tapi sekarang aku di bawa
masuk ke dalam hutan gelaga yang begini luas dan lebat. . .
siapakah orang itu?"
Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya dan
cepat anak muda itu sadar kembali.
"Yaa..yaa, sudah pasti orang yang berada dalam air
adalah perompak dari telaga Huan yang ou.." demikian dia
berpikir.
Teringat akan hal ini, api kemarahan segera berkobar
dalam benak Lan See giok, sekali lagi dia menghimpun
tenaga dalamnya ke dalam telapak tangan kanan, kemudian
diangkatnya tangan tersebut ke udara siap melakukan
penyerangan.
Tapi, tatkala sorot matanya membentur dengan
permukaan air di sekeliling sampan, telapak tangan
kanannya yang sudah siap melancarkan serangan itu pelan-
pelan di turunkan kembali.
Dengan kemampuan tenaga serangan yang dimilikinya
sekarang, tidak sulit baginya untuk membinasakan orang
yang berada di balik perahu akan tetapi dasar sampan itu
pasti akan remuk dan diapun pasti akan tercebur ke dalam
telaga dan mati tenggelam. Sementara itu, sampan kecil tadi
sudah berbelok ke kiri berputar ke kanan menembusi hutan
gelaga yang luas, dalam waktu singkat Lan See giok sudah
tak bisa membedakan lagi mana sebelah timur dan mana
sebelah barat.
http://kangzusi.com/
Lan See giok benar-benar merasa sangat gelisah, dia tak
ingin terjatuh kembali ke mulut serigala setelah lolos dari
sarang harimau.
Satu ingatan segera melintas dalam benak nya, cepat dia
mengeluarkan senjata gurdi emas milik ayahnya.
Seketika itu juga cahaya emas yang menyilaukan mata
memancar ke empat penjuru.
Sambil menggenggam gurdi emas itu, Lan See giok
merasa tegang sekali, selembar nyawa manusia dalam
waktu singkat akan musnah di tangannya.
Tapi demi keselamatan jiwa sendiri, mau tak mau
terpaksa dia harus bertindak nekad.
Cahaya emas berkelebat lewat, senjata gurdi emas yang
panjangnya mencapai tiga depa itu tahu-tahu sudah
menembus dasar sampan tersebut dan menusuk ke dalam
air telaga.
Menyusul tusukan itu, sampan kecil tersebut mengalami
goncangan yang amat keras, ombak nampak menggelegar
ke mana-mana, darah segarpun memancar ke luar dari
dalam air dan menyebar ke sekeliling tempat itu.
Lan See giok tahu kalau tusukannya berhasil melukai
orang yang ada di dalam air, tapi dia tak berani segera
mencabut ke luar senjata gurdi emasnya-
Tak selang berapa saat kemudian goncangan di bawah
sampan kecil itu telah berhenti.
Peluh dingin telah membasahi seluruh jidat, tubuh dan
tangan kanannya yang menggenggam senjata gurdi emas
itu, dia merasakan seluruh badannya sedikit agak gemetar.
Lambat laun sampan kecil itupun berhenti bergerak dan
melintang di tengah jalan air tersebut.
http://kangzusi.com/
Setelah berhasil menenangkan hatinya, Lan See giok
menghembuskan napas panjang dan mencabut ke luar
senjata gurdi emas itu, darah segar tampak memancar ke
luar mengikuti lubang pada dasar sampan itu.
Dengan perasaan terkejut pemuda itu mencari kain dan
menyumbat lubang pada dasar sampan tersebut.
Tiba-tiba terjadi lagi goncangan keras pada sampan kecil
itu . . Lan See giok tahu, orang yang berada di dasar perahu
itu belum putus nyawa, kemungkinan besar orang itu akan
menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya untuk menarik
dia masuk ke dalam air.
Teringat akan bahaya tersebut, dia merasa agak gugup,
padahal di atas sampan itu selain setumpuk tali hanya
terdapat sebuah bambu sepanjang lima depa.
Dengan cepat Lan See giok menyelipkan senjata gurdi
emasnya ke pinggang. kemudian dengan menggunakan
bambu panjang itu dia mulai mendayung dengan sekuat
tenaga . . .
Dia mendayung tiada hentinya dan sampan itupun
berputar, tiada hentinya pula . . .
Bila bambu itu mendayung ke kiri maka sampan itupun
berputar ke kiri, bila mendayung ke kanan, sampan itupun
berputar ke sebelah kanan,
Melihat keadaan itu, Lan See giok menjadi gelisah sekali
sampai mengucurkan keringat dingin, akhirnya dia berdiri
termangu mangu dan tak tahu bagaimana caranya untuk
bisa menggerakkan sampan tadi menembusi hutan gelaga
tersebut.
Sekarang permukaan air telaga telah tenang, warna
merah pun sudah makin tawar, tapi air telaga yang bocor ke
dalam sampan itu sudah mencapai beberapa inci.
http://kangzusi.com/
Lan See-giok yang berada dalam keadaan seperti ini
merasa gelisah bercampur gusar, dia takut berjumpa lagi
dengan perampok lain.
Pada saat itulah, mendadak terdengar suara air memecah
ke tepian bergema tiba dari kejauhan sana.
Lan See giok amat terperanjat, dia tahu lagi-lagi muncul
perompak di tempat itu.
Makin lama suara itu bergerak makin mendekat,
agaknya suara itu berasal dari jalan air di sebelah kiri.
Dengan cepat dia mengalihkan sinar matanya ke kiri,
tampaklah pada ujung jalan air tersebut terdapat setitik
bayangan abu-abu yang sedang bergerak mendekat,
kemudian muncullah sebuah sampan kecil.
Lan See giok kembali merasa gugup bercampur panik,
sekali lagi dia mencoba untuk mendayung dengan bambu
panjang, tapi sampan tersebut masih saja berputar putar di
tempat.
Cepat sekali gerakan sampan kecil tersebut, hanya dalam
waktu singkat sampan itu sudah berada tujuh kaki di
hadapannya. .
Sadarlah Lan See giok bahwa tiada harapan lagi baginya
untuk menyembunyikan diri, ia segera membuang bambu
itu dan meloloskan senjata gurdi emasnya, kemudian
sambil berdiri di ujung geladak, ia bersiap siap menghadapi
segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Lambat laun sampan itu makin dekat, sekarang dia dapat
melihat seorang gadis bertubuh langsing, berambut panjang
dan menyoren sebilah pedang berdiri di ujung sampan itu.
Di buritan sampan duduk pula dua orang dayang
berpakaian ringkas yang memegang dayung, di antara
http://kangzusi.com/
percikan air telaga, sampan kecil itu meluncur tiba dengan
kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari
busurnya.
Dalam waktu singkat sampan kecil itu sudah berada
lebih kurang tiga kaki di hadapannya.
Mendadak terdengar suara bentakan nyaring:
"Kawanan tikus dari mana yang berani mendatangi
benteng Wi lim poo ditengah malam buta begini?"
Berbareng dengan suara bentakan tersebut, gadis yang
berada di sampan tersebut telah mengayunkan tangannya
ke depan.
Setitik cahaya bintang yang disertai dengan suara
desingan angin tajam langsung meluncur ke tengah udara
dan mengancam tubuh Lan See giok.
Agaknya Lan See giok tidak menyangka kalau gadis itu
begitu tak tahu aturan, dia lantas menduga kalau gadis
itupun seorang perompak.
Serta merta dia melejit ke tengah udara dan meloloskan
diri dari sambitan senjata rahasia tersebut.
"Pluuung!" senjata rahasia tadi segera tercebur ke dalam
air telaga beberapa kaki di belakang sampan.
Kembali terdengar suara bentakan nyaring sekali lagi
muncul beberapa buah titik cahaya tajam yang menyerang
tiba.
Lan See giok gusar sekali, dia menggetarkan tangannya,
senjata gurdi emas itu segera menciptakan selapis cahaya
tajam yang melindungi seluruh badannya.
"Traaang, traaang, traaang." benturan nyaring yang
memekakkan telinga segera berkumandang tiada hentinya,
http://kangzusi.com/
seluruh ancaman senjata rahasia tersebut berhasil
dipatahkan semua.
Disaat Lan See giok sedang repot menghalau ancaman
senjata rahasia itulah ..
Mendadak sampan kecil itu menerjang ke hadapannya,
kemudian tampak selapis cahaya tajam menyambar ke
pinggang Lan See giok.
Tak terlukiskan rasa kaget anak muda itu menghadapi
datangnya ancaman, cepat tubuhnya melejit dan
menjatuhkan diri ke dalam sampan:
Berbareng dengan menyambar lewatnya dari sisi sampan
kecil tersebut dan meleset sejauh dua kaki lebih.
Lan See giok tak berani berayal, cepat dia menghantam
pinggiran sampan lawan dengan ayunan telapak tangan
kirinya, kemudian dengan cekatan dia melompat bangun,
tapi tak urung bajunya basah kuyup juga oleh air telaga
yang telah menggenangi sampan kecil tersebut.
Dalam pada itu, kedua orang dayang tersebut telah
memutar sampannya dengan cekatan, kini sampan tersebut
meluncur datang lagi dengan kecepatan tinggi menerjang
sampannya.
Lan See giok merasa cemas dan gusar menghadapi
kejadian seperti ini dengan sorot mata berkilat dia
menunggu datangnya terjangan dari sampan lawan.
Sekarang dia dapat melihat jelas kalau gadis itu berbaju
putih, sedangkan dua orang dayangnya berwarna hijau
pupus.
Gadis berbaju putih itu berusia delapan sembilan belas
tahunan, bermata besar berhidung mancung dan berbibir
http://kangzusi.com/
kecil berwarna merah, mukanya berbentuk kwaci dan kulit
badannya putih bersih . . . .
Belum habis Lan See giok mengamati gadis itu, sampan
lawan kembali telah menerjang tiba.
Gadis itu segera membentak keras, pedangnya dengan
jurus Gin-hoo-ci li ( menusuk ikan leihi di sungai ) langsung
menusuk ke perut Lan See-giok, sementara sampan itu pun
langsung menerjang perahunya.
Lan See-giok amat terperanjat, dia tak berani
menyambut datangnya ancaman tersebut, buru-buru
tubuhnya melejit ke tengah udara . . . . .
"Blaaammm. .!" diantara suara benturan nyaring, air
memercik ke empat penjuru, sampan tersebut sudah kena
tertumbuk sehingga terbalik.
Setelah berhasil dengan terjangannya, sampan kecil itu
meluncur lagi ke depan
Lan See giok yang berada di tengah udara dengan cepat
meluncur ke bawah dan melayang turun di atas sampan
yang terbalik itu.
Sekarang dia baru mengetahui kalau pada ujung sampan
lawan rupanya dilapisi dengan lempengan baja yang sangat
kuat.
Gadis yang berada di atas sampan itu pun nampak
terkejut sekali, tampaknya dia tak mengira kalau lawannya
yang paling banter baru berusia lima enam belas tahun itu
sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang begitu
sempurna.
Tapi dengan cepat sekulum senyuman menghiasi ujung
bibirnya, agaknya baru sekarang dia dapat melihat kalau
Lan See giok berwajah bersih dan menarik, setelah dewasa
http://kangzusi.com/
nanti niscaya merupakan seorang pemuda tampan yang
menawan hati.
Lan See giok juga agak tertegun, dia saksikan senyuman
gadis itu amat mempesonakan hati, terutama sepasang
matanya serasa membetot sukma, penuh dengan pancaran
sinar mempesona hati.
Tampak gadis berbaju putih itu memberi tanda kepada
kedua orang dayangnya dan sampan tersebut menerjang
lagi dengan kecepatan yang luar biasa.
Tergerak hati Lan See giok menghadapi keadaan seperti
ini, dia bertekad hendak membereskan kedua orang dayang
tersebut lebih dulu agar sampan itu tak ada yang
mendayung, setelah itu dia baru berusaha untuk
menaklukkan si nona baja putih dan berusaha melarikan
diri . . .
Belum habis dia berpikir, sampan kecil itu sekali lagi
telah menerjang tiba.
Lan See giok tidak berdiam diri belaka, sebelum sampan
lawan mencapai sasaran, dia telah melejit dahulu ke tengah
udara.
Ternyata gadis itu hanya merentangkan pedangnya saja
di depan dada, ia tidak nampak berniat untuk melancarkan
tusukan. "Blaaammm-!" tubuh Lan See giok meluncur ke
bawah dengan kecepatan tinggi. ditengah percikan bunga
air, ujung kakinya telah menginjak di buritan sampan.
Kemudian sambil membentak keras dia lepaskan sebuah
tendangan kilat menghajar pinggang seorang dayang
berbaju hijau yang sedang mendayung perahu.
Agaknya dayang berbaju hijau itu sama sekali tidak
menyangka akan datangnya tendangan itu, saking kagetnya
http://kangzusi.com/
sambil membentak keras dia segera menceburkan diri ke
dalam air.
Percikan bunga air memancar ke empat penjuru, dayang
itu tahu-tahu sudah tercebur ke air dan menjadi ikan
duyung.
Lan See giok menjadi agak tertegun melihat hal itu, dia
tahu bakal celaka kali ini, dayang tersebut sudah pasti
pandai menyelam di dalam air..
Belum habis ingatan tersebut melintas, dayang berbaju
hijau lainnya telah mengayunkan dayungnya untuk
menghantam ke pinggangnya.
Dengan jurus Kim ciam teng hay (jarum emas tenangkan
samudra) Lan See-giok mengayunkan senjata gurdi
emasnya ke bawah menyapu dayung kayu itu.
"Blaaammm . .!" di tengah jeritan tertahan, dayung kayu
di tangan dayang berbaju hijau itu terlepas dari genggaman
dan mencelat ke tengah udara.
Baru saja Lan See-giok akan melepaskan tendangan lagi,
si gadis berbaju putih itu sudah membentak nyaring,
pedangnya secepat kilat menusuk datang.
Bersamaan itu pula, dayang yang berada di dalam air
mengayunkan pula senjata palu berantainya menyerang
pinggang Lan See -giok.
Menghadapi kerubutan dari depan dan belakang, Lan
See-giok tak sanggup melakukan perlawanan lagi, dengan
cepat dia melejit ke udara dan melayang kembali ke atas
sampan yang telah terbalik itu.
Melihat lawannya telah kabur ke sampan yang terbalik
dengan wajah girang gadis berbaju putih itu segera berteriak
keras:
http://kangzusi.com/
"Tangkap dia! Bawa pulang ke benteng menunggu
keputusan dari pocu!"
Baru saja perintah diberikan, dayang berbaju hijau itu
sudah menyelam ke dalam air.
Dua orang dayang itu segera memisahkan diri ke kiri dan
ke kanan, kemudian bergerak mendekati sampan yang
terbalik itu dengan kecepatan luar biasa.
Lan See giok menjadi gugup setelah menyaksikan
kejadian ini, karena dia sama sekali tidak tahu akan ilmu
berenang, asal sepasang kakinya menempel di air, niscaya
badannya akan tenggelam.
Dengan cepat otaknya berputar, dia merasa satu satunya
jalan yang dimilikinya sekarang untuk kabur adalah
secepatnya menakluk kan gadis berbaju putih yang berada
di sampan itu, kemudian memaksa dua orang dayang
tersebut untuk menghantarnya ke luar dari sana.
Berpikir demikian, dia lantas melejit ke udara, dengan
gerakan Hay yan keng sui (burung manyar menyambar air)
dia terjang ke arah sampan lawan, sementara senjata gurdi
emasnya dengan jurus Kim coat sim (ular emas
menjulurkan lidah) menusuk ke ulu hati lawan dengan
disertai kilatan cahaya emas.
Waktu itu, si nona berbaju putih itu sedang melamun di
ujung perahu, sebab itu dia tak mengira kalau Lan See giok
bakal menerjang tiba sambil melancarkan serangan
Menanti dia sadar akan datangnya bahaya untuk turun
tangan sudah tak sempat lagi.
Maka sambil membentak keras, cepat-cepat dia
mengundurkan diri ke buritan sampan.
http://kangzusi.com/
Lan See giok amat gembira, sambil membentak dia
menerjang lebih ke depan, senjata gurdi emasnya diputar
sedemikian rupa menciptakan beribu ribu bayangan gurdi
emas yang langsung mengurung seluruh badan gadis
tersebut-
Padahal waktu itu ujung kaki si nona berbaju putih
tersebut baru saja mencapai tanah, melihat datangnya
cahaya emas yang mengurung tubuhnya dengan membawa
desingan angin dingin, ia menjerit keras karena kaget, lalu
dengan jurus Jiau yan -huan-sin (walet lincah membalikkan
badan) cepat-cepat dia kabur ke dalam air.
Sesungguhnya Lan See giok sama sekali tak
berpengalaman dalam suatu pertarungan, ditambah lagi
pertarungan tersebut berlangsung di atas sampan, pada
hakekatnya dia tak pernah menduga kalau lawannya bakal
kabur ke dalam air.
Tahu-tahu pandangan matanya terasa kabur, dan
bayangan tubuh dari gadis berbaju putih itupun sudah
lenyap tak berbekas.
Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok menghadapi
kejadian seperti ini, sambil membentak keras sepasang
lengannya di putar kencang kemudian secepat kilat
tubuhnya meluncur ke bawah . . .
Meskipun gerakannya cukup cepat akibatnya tubuh itu
masih terlambat berapa depa untuk mencapai di atas
sampan. Tak ampun lagi ia segera tercebur pula ke dalam
telaga.
"Byuuurrr-!" bunga air memercik setinggi beberapa depa,
tubuhnya langsung tenggelam ke dasar telaga yang dingin.
Secara beruntun Lan See giok meneguk beberapa
tegukan air telaga, cepat-cepat dia menutup pernapasannya
http://kangzusi.com/
sambil berusaha keras untuk mengendorkan badannya, tapi
senjata gurdi emasnya dipegang kencang-kencang.
Sesaat sebelum tubuhnya tercebur ke dalam air tadi,
telinganya secara lambat-lambat mendengar dua kali
teriakan gembira dan sekali jeritan tertahan-
Baru saja badannya tenggelam, sebuah lengan tahu-tahu
sudah merangkul pinggang nya dan menyeretnya ke atas
permukaan air.
Tak selang berapa saat kemudian, tubuhnya sudah
terseret ke luar, belum lagi membuka matanya, anak muda
itu sudah menghembuskan napas panjang-panjang.
Mendadak terdengar seseorang menjerit keras
"Nona, cepat ceburkan lagi, dia belum pingsan!"
Lan See-giok merasa amat terkejut, dia merasa menyesal
sekali setelah mendengar ucapan tersebut, dia menyesal
tidak seharusnya menarik napas panjang-panjang.
Tapi segera terdengar pula nona itu membentak keras:
"Hayo cepat sambut tubuhnya dan baring kan ke atas
sampan"
Lan See giok baru tahu sekarang kalau orang yang
menyeretnya ke luar dari air adalah nona berbaju putih itu.
Baru saja ia mengendus baru harum semerbak, empat
tangan dari dua orang dara tersebut telah menyambut
tubuhnya.
Kemudian diapun merasa jalan darah tidurnya ditotok
oleh gadis berbaju putih itu.
Lan See giok mengetahui maksud hati dari nona itu. .
maka dia pun segera berlagak, seakan-akan sudah tertidur
pulas.
http://kangzusi.com/
Setelah ditegur oleh nonanya tadi, ternyata sikap kedua
orang dayang tersebut terhadap Lan See giok menjadi lebih
sungkan, dengan cepat kedua orang itu membaringkan
tubuh pemuda itu ke dalam perahu.
"Bluuk-!" Lan See giok merasa pinggangnya agak sakit
karena membentur ujung sampan, tapi dia menggertak
giginya keras-keras dan tidak membiarkan mulutnya
mengeluarkan suara.
Kembali terdengar seseorang membentak nyaring:
"Budak sialan, apakah tidak bisa pelan sedikit?!"
Tak berapa lama kemudian, sampan itu terasa bergoyang
keras, Lan See-giok tahu si gadis dan kedua orang
dayangnya telah naik ke atas perahu itu.
Tanpa terasa Lan See-giok membuka sedikit matanya
dan mengintip ke depan.
Kalau tidak melihat masih mendingan, begitu melirik,
jantungnya kontan berdebar keras, mukanyapun turut
berubah menjadi merah padam karena jengah.
Rupanya seluruh tubuh si nona berbaju putih maupun
kedua orang dayang itu sudah basah kuyup karena tercebur,
dengan begitu pakaiannya menjadi melekat dengan badan
dan terlihatlah seluruh lekukan badan mereka.
Kedua orang dayang itu, yang seorang gemuk dan yang
lain kurus, tapi payudara mereka kelihatan montok dan
sudah matang.
Sebaliknya gadis berbaju putih itu tampak memiliki
potongan badan yang indah, selain payudaranya besar dan
montok, pinggangnya amat ramping dengan pinggul yang
besar, potongan badannya benar-benar aduhai.
http://kangzusi.com/
Terutama puting susunya yang sudah matang di ujung
payudara, dibawah pakaian berwarna putih yang basah
kelihatan menonjol ke luar sangat menantang, diantara
dengusan napasnya terlihat naik turun menantang, cukup
bikin jantung orang berdebar keras.
Lan See-giok hanya melirik sekejap kemudian
memejamkan matanya rapat-rapat, jangankan melirik lagi,
bahkan untuk bernapas lebih keraspun tidak berani.
Mendadak terdengar gadis itu berseru kembali:
"Cepat kembali ke benteng, saat ini mungkin Lo-pocu
sudah kembali ke benteng!"
Kemudian terdengar suara air memecah ke tepian dan
perahu kecil itu bergerak cepat ke depan.
Lan See-giok berbaring di dalam sampan sambil
memejamkan matanya rapat-rapat, kadangkala dia
membuka sedikit matanya untuk mencuri lihat keadaan di
luar sampan.
Malam yang gelap mencekam seluruh jagat, bintang
bertaburan di angkasa, tapi tidak nampak cahaya rembulan
sehingga praktis suasana di sekitar sana gelap gulita.
Kedua belah sisi jalan air penuh dengan tumbuhan
gelaga yang bergoyang menimbulkan suara gemerisik,
kecuali itu hanya suara air yang memecah ke tepian saja
yang terdengar memecahkan keheningan.
Walaupun Lan See giok masih menggenggam senjata
gurdi emasnya kencang-kencang, tapi ia tak berniat sama
sekali untuk melompat bangun dan melancarkan serangan
terhadap ke tiga orang gadis itu.
Ia cukup sadar, seandainya serangannya tidak berhasil
maka bukan mustahil jiwanya akan terancam.
http://kangzusi.com/
Padahal dia tak pandai mengemudikan sampan, diapun
tak mengerti ilmu berenang, bahkan arah mata angin pun
sudah dibikin kacau balau.
Maka satu-satunya jalan yang bisa dilakukannya
sekarang adalah bersabar untuk sementara waktu sambil
menantikan perubahan selanjutnya . . .
Mendadak terendus bau harum semerbak menusuk
penciuman pemuda itu.
Lan See giok merasakan hatinya berdebar keras, terasa
olehnya bau harum itu aneh sekali dan cukup membuat
jantung orang berdetak keras.
Baru saja dia akan melirik, sebuah sapu tangan basah
telah digunakan untuk menyeka jidatnya, kemudian dengan
lembut bergeser ke bawah untuk menyeka air di atas
wajahnya, selanjutnya dagunya, rambutnya, pipinya..
Lan See giok pura-pura tertidur nyenyak, napasnyapun
diatur sedemikian rupa agar gadis berbaju putih itu jangan
sampai tahu kalau dia hanya pura-pura tidur, meski
demikian dalam perasaan tegang bercampur gugup, diapun
dapat merasakan sesuatu kehangatan yang nyaman.
Menurut dugaannya, orang yang menyeka wajahnya
sekarang tak lain adalah si nona berbaju putih itu.
Jari tangan si nona yang lembut seringkali menyentuh
pipinya yang halus, hal ini membuat Lan See-giok merasa
gatal tapi nyaman.
Tak lama kemudian terdengar gadis berbaju putih itu
berseru:
"Siau lian, lepaskan tanda pengenal!"
Sampan yang sedang bergerak majupun segera melambat
dan akhirnya berhenti.
http://kangzusi.com/
Lan See giok pun merasa gadis berbaju putih itu bangkit
sambil maju ke depan, tahulah pemuda itu bahwa mereka
telah mendekati Benteng Wi lim Poo seperti apa yang
dikatakan si nona tadi.
Maka diam-diam dia melirik kembali ke sekitar sana,
ternyata di sekitar sampan sudah tidak nampak tumbuhan
gelaga lagi, mungkin mereka sudah berada di tengah hutan
gelaga yang mendekati benteng Wi lim poo.
Tampak si dayang berbaju hijau itu membuat api lalu
memasang empat buah lentera kecil berwarna merah dan
digoyang goyang kan secara beraturan sekali.
Lan See giok tak berani mendongakkan kepalanya,
karena itu diapun tak dapat menyaksikan keadaan di depan
sana serta berapa jauh lagi jaraknya dengan benteng Wi lim
poo tersebut.
Tapi setelah budak berbaju hijau itu menggerakkan
lentera kecilnya, sampan kecil itu segera didayung kembali
sehingga meluncur ke depan dengan cepat.
Tak selang berapa saat kemudian, tiba-tiba Lan See giok
merasakan matanya agak silau, ketika dia mencoba melirik
tampaklah olehnya ada sebuah lampu lentera merah yang
amat besar tergantung di tengah angkasa dan memancarkan
cahaya ke empat penjuru.
Di atas lentera itu tertera huruf besar dari kertas putih,
tapi berhubung jaraknya kelewat jauh, sehingga Lan See
giok tak dapat melihat dengan jelas.
Kurang lebih tujuh delapan depa dari lentera merah yang
pertama, terdapat pula lampu lentera yang kedua, di atas
lentera inipun tertera huruf besar yang terbuat dari kertas
putih.
http://kangzusi.com/
Tak lama kemudian, muncul pula lampu lentera merah
yang ke tiga -
Sebuah bangunan benteng yang tinggi dan kokoh muncul
jauh di belakang lentera merah yang ke tiga, di samping itu
Lan See giok juga dapat melihat jelas ke tiga huruf besar di
atas lampu lentera merah tersebut yang berbunyi.
WI LIM POO.
Dengan suatu gerakan cepat, sampan kecil itu
menembusi bayangan pintu gerbang benteng wi lim poo
tersebut.
Lamat lumat Lan See giok mendengar suara teriakan
keras dari para penjaga di atas benteng, kemudian terdengar
pula suara pintu benteng yang berat pelan-pelan dibuka.
Sampan kecil itupun makin melamban, sekarang pemuda
itu baru merasa kalau mereka sudah berada tak jauh dari
benteng tersebut.
Pintu benteng yang lebarnya delapan depa dan tingginya
satu kaki dua depa itu terbuat dari kayu besar, sewaktu
dibuka pintu terangkat ke atas dan bila menutup pintu
bergerak ke bawah.
Dinding benteng maupun bangunan loteng terbuat dari
batu-batu cadas yang besar dan kuat, selain kokoh juga
mendatangkan suasana seram bagi yang melihatnya.
Lan See giok yang mencoba melirik ke arah depan,
segera merasa kagum sekali, dia tak habis mengerti
bagaimana caranya membangun benteng yang begitu kokoh
di dalam telaga yang begitu luas.
Sementara dia masih termenung, sampan kecil itu sudah
meluncur ke bawah pintu gerbang benteng itu.
http://kangzusi.com/
Berpuluh-puluh orang lelaki kekar, dengan hormat
berdiri di kedua belah sisi bangunan benteng, mereka rata-
rata bermata besar, beralis tebal dan membawa senjata
garpu yang memancarkan cahaya tajam.
Menyaksikan kesemuanya itu, Lan See giok segera sadar
bahwa dia yang baru lolos dari gua harimau kini sudah
terjerumus lagi ke dalam sarang naga, untuk melarikan diri
dari benteng sekokoh ini nampaknya tidak lebih mudah dari
pada melarikan dari dusun nelayan.
Ketika puluhan lelaki kekar itu menyaksikan si nona den
kedua orang dayangnya berada dalam keadaan basah
kuyup, paras muka mereka segera berubah hebat, mereka
tahu kalau ke tiga orang gadis itu telah menjumpai jago
lihai di tengah telaga.
Padahal mereka tahu kalau ilmu silat yang dimiliki
nonanya sangat lihay, bila nona yang lihay pun bisa dipaksa
tercebur ke dalam air, dari sini dapat diketahui kalau
kepandaian silat yang dimiliki orang itu pasti lihay sekali.
Tapi setelah mereka saksikan Lan See giok yang
tergeletak dalam sampan, puluhan orang lelaki kekar itu
kembali dibuat tidak habis mengerti, tiada orang yang
percaya kalau nona mereka telah dipaksa terjun ke dalam
air oleh seorang bocah yang baru berusia lima enam belas
tahun tersebut.
Tiba-tiba terlihat nona berbaju putih itu memberi tanda,
sampan kecil itu pun segera berhenti.
Lan See giok sadar bahwa dia bakal celaka, setelah
sampai di dalam benteng, niscaya dia akan diserahkan
kepada kawanan lelaki kekar itu untuk dijebloskan ke dalam
penjara air.
http://kangzusi.com/
Sambil bertolak pinggang gadis berbaju putih itu
memandang sekejap sekeliling arena, puluhan orang lelaki
itupun cepat-cepat menundukkan kepalanya dengan
ketakutan.
"Apakah Lo-pocu telah kembali?" gadis itu segera
menegur dengan suara dalam.
Seorang lelaki bercambang segera menyahut dengan
kepala tertunduk dan sikap hormat:
"Lapor nona, Lo pocu belum kembali!"
Dengan perasaan kaget bercampur keheranan, gadis
berbaju putih itu berkerut kening, kemudian tanyanya lebih
jauh:
"Tengah hari tadi, Be congkoan telah mengutus siapa
untuk menyambut kedatangan Lo pocu?"
"Tui-keng-kui (setan pengejar ikan paus). Yau Huang,
salah seorang diantara tiga setan!" kembali lelaki
bercambang itu menjawab dengan sikap yang sangat
menghormat.
Kemudian setelah memandang sekejap ke pintu
belakang, lelaki itu menambahkan:
"Barusan, Be congkoan telah mengirim pula dua setan
lainnya untuk menyambut pocu!"
Tampaknya nona berbaju putih itu merasa agak lega
setelah mendengar ucapan itu, dia lantas mengangguk dan
memerintahkan sampan untuk bergerak maju.
Tiba-tiba terdengar lelaki bercambang itu bertanya
dengan sikap hormat:
"Nona, apakah mata-mata itu perlu ditahan di sini untuk
diperiksa?"
http://kangzusi.com/
Lan See giok merasa terkejut sekali, tanpa terasa dia
menggenggam senjata gurdi emasnya kencang-kencang.
"Tidak usah, aku masih ada persoalan yang hendak
ditanyakan kepadanya!" tukas nona itu dengan suara
dalam.
Selesai berkata, sampan kecil itu sudah bergerak
melewati pintu benteng tersebut.
Lan See giok menjadi lega kembali setelah perahu itu
meneruskan perjalanan.
Entah berapa lama sampan kecil itu bergerak maju
menembusi jalan air di dalam benteng, di sekeliling tempat
itu penuh dengan bangunan rumah dan loteng yang terbuat
dari batu hijau, meski di tengah kegelapan namun suasana
tetap terang benderang, sebab setiap berapa kaki tampak
sebuah lampu lentera.
Bangunan benteng Wi lim poo itu benar-benar luas
sekali, setelah melalui jalan air yang menembusi berapa
rumah besar, akhirnya mereka baru memasuki sebuah pintu
air, menyeberangi jembatan berbentuk bulan dan berhenti di
depan sebuah pintu gerbang berwarna merah.
Apa yang terlihat di sepanjang perjalanan, membuat Lan
See giok merasa putus asa. karena dia merasa harapannya
untuk melarikan diri tipis sekali.
Tempat apakah benteng Wi lim poo ini? sarang
perampok kah? Atau suatu markas besar dari suatu
perkumpulan besar dalam dunia persilatan? Atau mungkin
tempat pertapaan seorang jago persilatan yang
mengasingkan diri? selama ini, belum pernah ia mendengar
ayahnya menyinggung tentang hal ini.
http://kangzusi.com/
Tapi ada satu hal yang bisa diduga olehnya, Lo pocu dari
benteng wi lim poo ini sudah pasti adalah seorang kakek
yang berilmu silat sangat tinggi.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dia
teringat kembali akan dendam sakit hati ayahnya, maka
pikirnya lebih jauh:
"Kalau toh lo-pocu dari benteng ini merupakan jago silat
yang berilmu tinggi, mengapa aku tidak mengangkatnya
menjadi guruku -?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya
dia merasa tubuhnya telah digotong oleh dua orang dayang.
Kemudian senjata gurdi emas itupun di ambil oleh si
nona berbaju putih tersebut.
Dengan cepat Lan See giok tersadar kembali dari
lamunannya, kembali dia berpikir:
"Jiwaku sendiripun belum tentu bisa di dipertahankan.
buat apa aku mesti berkhayal yang bukan-bukan-?"
Tiba-tiba ia mendengar gadis berbaju putih itu sedang
menegur dengan suara nyaring:
"Siau ci, apakah kau tak dapat mengangkat kepala itu
lebih ke atas sedikit?"
Lan See giok merasa kepalanya segera terangkat lebih
tinggi sehingga terasa nyaman sekali, tapi bersamaan itu
pula Lan See giok merasa kebingungan, dia tak habis
mengerti apa sebabnya nona itu bersikap begitu baik
terhadap dirinya.
Tiba-tiba terdengar suara sorak sorai yang penuh
kegembiraan berkumandang datang:
"Nona telah datang, nona telah pulang!" Oleh karena
nona berbaju putih itu berjalan di samping Lan See giok,
http://kangzusi.com/
maka bocah itu tak berani membuka matanya, secara lamat-
lamat dia hanya merasa dirinya di bawa masuk ke dalam
sebuah pintu berbentuk bulat.
Suara langkah dan sorak gembira mendadak terhenti,
sekelompok pelayan yang datang menyambut segera
berhenti dan menjadi hening, agaknya mereka sedang
dibuat tercengang oleh kehadiran Lan See giok yang
digotong Siau lian serta Siau ci.
Kemudian ia mendengar pula nona berbaju putih itu
berseru cepat:
"Kalian segera menyiapkan air untuk membersihkan
badan dan hidangan malam.."
Suara langkah yang ramai kembali terdengar, kali ini
pelayan-pelayan tersebut pergi menjauh.
Kemudian ia merasa digotong masuk menaiki undak
undakan dan memasuki sebuah ruangan.
Kembali terdengar gadis itu berseru:
"Letakkan dulu di atas tempat duduk bersulam!"
Lan See giok tidak tahu bagaimanakah bentuk tempat
duduk bersulam itu, ia hanya merasakan badannya
dibaringkan di atas tempat yang empuk dan nyaman di
mana tangannya menyentuh terasa tempat itu empuk sekali.
Kemudian kedengaran nona itu berkata lagi dengan
suara yang jauh lebih lembut:
"Sekarang kalian berdua boleh pergi membersihkan
badan dan berganti pakaian!"
Dua orang dayang itu mengiakan lalu berlalu dari situ.
Cahaya lampu dalam ruangan itu terang benderang
membuat Lan See giok merasa agak silau. Lambat-lambat
http://kangzusi.com/
diapun mendengar suara bisik bisikan lirih di kejauhan
sana.
Tapi Lan See giok tahu kalau tak jauh dari situ masih
berdiri beberapa orang dan ia pun tahu kalau si nona
berbaju putih itu telah pergi.
Tak selang berapa saat kemudian, suara lirih tadi
kedengaran makin mendekat, tampaknya seperti berjalan ke
arahnya. .
". . . kenapa dia masih tidur terus. . .?"
"Mungkin jalan darahnya ditotok oleh nona. . ."
" . . oooh, tampan sekali wajahnya . ."
"Siau-ho, jangan sentuh dia. hati-hati kalau kulitmu
disayat oleh nona . . . "
Serombongan pelayan mengerumuni tempat itu sambil
berbincang tiada hentinya, Lan See giok segera merasakan
seluruh badannya bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum.
Mendadak suasana menjadi hening, lalu pelayan-pelayan
itu membubarkan diri dengan cepat sesaat kemudian
kedengaran lagi suara langkah manusia yang mendekat.
Ditinjau dari sikap gugup dan tegang dari pelayan-
pelayan itu, Lan See giok lantas menduga kalau nona
berbaju putih itu telah balik kembali ke situ.
Benar juga, segera terendus bau harum semerbak yang
merangsang hati, disusul sebuah tangan menghantam pelan
di atas jalan darah Mia-bun-hiat di tubuhnya.
Lan See-giok tahu kalau si nona sedang membebaskan
jalan darahnya, maka dia berpura-pura menghembuskan
napas panjang, menggeliat dan pelan-pelan membuka
matanya.
http://kangzusi.com/
Tapi sinar mata yang silau segera membuat sepasang
matanya terpejam kembali..
Ketika biji matanya berputar dia saksikan nona berbaju
putih itu masih tetap mengenakan pakaiannya yang basah,
sedang di tangannya membawa beberapa stel pakaian, dia
sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum manis..
Lan See-giok pura-pura terkejut, cepat-cepat dia
melompat turun dari atas tempat duduk, lalu dengan tangan
kiri melindungi muka, tangan kanan melindungi dada, dia
bersikap dalam posisi siap siaga.
Sementara sepasang matanya yang jeli berlagak
memandang nona berbaju putih itu dengan tegang.
Tindakan Lan See-giok yang sangat tiba-tiba ini, kontan
saja membuat beberapa orang dayang tersebut menjadi
tertegun dan gelagapan dibuatnya.
Si nona berbaju putih itu sendiri masih tetap bersikap
tenang, malah sekulum senyuman segera menghiasi
bibirnya setelah menyaksikan ketegangan Lan See-giok, ini
membuat sepasang payudaranya turut bergoncang keras
mengikuti suara tertawa cekikikannya.
ooo0dw0ooo

BAB 6
PEMILIK BEN TENG WI-LIM-PO

DENGAN sepasang matanya yang genit dan


menggiurkan nona berbaju putih itu. memandang sekejap
ke arah Lan See giok, kemudian katanya sambil tertawa
cekikikan:
http://kangzusi.com/
"Bocah dungu, hayo cepat membersihkan badan dan
tukar pakaian."
Seraya berkata dia segera berjalan lebih dulu di depan.
Sekalipun Lan See giok merasa kurang senang atas
panggilan itu, tapi dia tak berani bersikap kelewat keras
karena dia takut akan terbongkar rahasianya sehingga
menyulitkan diri sendiri.
Karena itulah setelah tertegun sejenak, dia pun
mengikuti di belakang gadis tersebut.
Menelusuri ruangan dalam, ia saksikan semua perabot
yang ada di situ rata-rata indah dan mahal harganya,
lantainya dilapisi permadani merah sedang lentera keraton
menghiasi mana-mana, benar-benar suatu dekorasi yang
indah sekali.
Beberapa orang dayang yang berada di sana rata-rata
berusia empat lima belas tahunan, mereka mengenakan
pakaian berwarna merah, kuning, hijau dan biru, saat itu
mereka semua sedang berdiri di depan pintu berbentuk
bulat dengan wajah keheranan.
Baru pertama kali ini Lan See giok menyaksikan
dekorasi yang begini indahnya, setiap macam benda yang
ada di sana menimbulkan rasa ingin tahunya, untung saja ia
masih sanggup untuk mengendalikan gejolak perasaan
dalam hatinya.
Setelah menembusi ruangan dalam, akhirnya gadis
berbaju putih itu mengajaknya menuju ke depan sebuah
pintu kecil di mana tampak ada dua orang dayang berbaju
bunga berdiri di situ.
Lan See giok tahu bahwa tempat itulah tempat untuk
membersihkan badan . . .
http://kangzusi.com/
Benar juga, nona berbaju putih itu segera berhenti dan
katanya sambil tertawa:
"Cepat masuk, setelah membersihkan badan gantilah
dengan pakaian ini.."
Sembari berkata dia lantas menyodorkan beberapa stel
pakaian itu kepada Lan See giok.
Si anak muda itupun tidak sungkan-sungkan, dia segera
menerima pakaian tersebut dan masuk ke dalam ruangan.
Dua orang dayang yang berada di luar dengan cepat
menutupkan pintu ruangan.
Dengan wajah ingin tahu, Lan See giok memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu dia lihat di ujung ruangan
terdapat sebuah rak pakaian, lalu di bagian tengah terdapat
sebuah bak mandi terbuat dari kayu, isi bak itu setengah
penuh dan mengepalkan uap panas, seluruh ruangan terasa
harum semerbak.
Ia tahu kamar untuk membersihkan badan ini mungkin
merupakan kamar mandi pribadi si nona berbaju putih itu,
ia menjadi berpikir pikir, kenapa nona berbaju putih itu
bersikap istimewa kepadanya.
Selesai membersihkan badan, untuk sementara waktu dia
terpaksa harus mengenakan pakaian pemberian gadis itu.
Ternyata pakaian itu terdiri dari jubah biru dengan
celana hijau, pakaian dalam putih, sepatu model busa . . . .
Semua bahan pakaian terbuat dari bahan sutera yang
sangat halus dan mahal harga nya, tanpa terasa Lan See
giok berkerut kening.
Meski usianya masih kecil, namun dia merasa tak
terbiasa mengenakan pakaian yang berwarna warni seperti
itu.
http://kangzusi.com/
"Aaaah, tak apalah" akhirnya dia berpikir "toh pakaian
ini kupakai untuk sementara waktu . . ."
Pakaian dalamnya persis, tapi celananya. kelewat
panjang, sepatunya kelewat sempit, pakaian luarnya agak
kedodoran, walaupun kurang necis, tapi dapat terlihat
betapa tampannya pemuda itu.
Selesai berdandan, dia lantas celingukan lagi ke sana ke
mari untuk mencari air guna mencuci pakaian sendiri . . .
Pada saat itulah, pintu diketuk orang secara tiba-tiba,
kemudian terdengar pelayan itu bertanya:
"Kongcu, sudah selesaikah mandimu?"
Kongcu? Lan See-giok merasa asing sekali terhadap
panggilan itu, tapi dia tahu panggilan tersebut ditujukan
kepadanya.
Maka diapun membalikkan badan sambil membuka
pintu. kemudian melangkah ke luar dari ruangan itu.
Dua orang dayang itu nampak tertegun untuk sesaat,
agaknya baru pertama kali ini mereka jumpai seorang
pemuda yang begitu tampan.
Sedang Lan See giok mengira mereka sedang
mentertawakan pakaiannya yang kedodoran, tanpa terasa
dengan wajah berubah menjadi merah padam tanyanya
sambil tertawa
"Adik kecil berdua, tolong carikan air sedikit . .”
Sekali lagi kedua orang dayang itu tertegun, tapi setelah
berpikir sebentar mereka segera memahami jalan pemikiran
pemuda itu, kontan saja mereka tertawa cekikikan.
Salah seorang dayang yang berusia agak tua segera
berkata sambil tersenyum ramah:
http://kangzusi.com/
"Kongcu, pakaianmu akan budak cucikan, silahkan
kongcu bersantap malam lebih dulu!"
Dengan sopan Lan See giok mengucapkan terima kasih,
kemudian berjalan menuju ke ruang depan.
Tiba di ruang muka sebuah meja perjamuan telah
disiapkan, mangkuk piring yang terbuat dari perak telah
dihidangkan secara lengkap.
Beberapa orang dayang berdiri penuh hormat di sudut
ruangan, sedang nona berbaju putih itu masih belum
nampak.
Lan See-giok memang merasa amat lapar, apalagi setelah
menyaksikan hidangan malam yang lezat, perutnya merasa
semakin lapar.
Di atas meja tersedia dua perangkat mangkuk sumpit, itu
berarti bukan disiapkan buat dia seorang saja, karena itu
dengan sabar dia pun menantikan kemunculan si nona
tersebut.
Sambil menundukkan kepala dia pun berjalan kian
kemari, sementara otaknya berputar terus untuk
menemukan cara yang baik untuk meloloskan diri dari situ.
Pemandangan malam di luar ruangan nampak sangat
indah, bintang-bintang berkerlipan di tengah angkasa yang
gelap, seluruh benteng Wi lim poo berada dalam keadaan
hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.
Beberapa orang pelayan berdiri membungkam di tempat,
sementara sorot mata mereka yang jeli mengikuti gerak
gerik Lan See giok berjalan kian kemari.
Membayangkan kembali pengalamannya selama dua
hari belakangan ini, Lan See giok merasa seakan akan
sudah melewati waktu selama satu dua bulan, meski
http://kangzusi.com/
demikian dia merasa hatinya lega dan nyaman, sebab ia
dapat lolos dari cengkeraman To oh cay jin (si manusia
cacad telinga) Oh Tin san.
Kini dia memutuskan untuk tidak terburu buru
mengunjungi bibi Wan, dia harus menunggu sampai kelima
manusia cacad dari tiga telaga berlalu dan meninggalkan
tempat tersebut jauh-jauh karena merasa sadar bahwa
harapan mereka amat tipis, kemudian barulah berusaha
untuk pergi ke sana.
Ia beranggapan bersembunyi di dalam benteng Wi lim
poo merupakan tempat persembunyian yang paling rahasia,
mimpipun ke lima manusia cacad serta kakek berjubah
kuning itu tak akan menduga kalau dia berada di sini.
Bila teringat kembali kejadian yang dialami malam tadi,
hingga sekarang jantungnya masih terasa berdebar keras,
pertempurannya melawan si perompak yang mati tertusuk
di air serta pertarungannya melawan gadis-gadis itu hampir
saja membinasakan dirinya di dalam air telaga.
Membayangkan kembali kesemuanya itu, tanpa terasa
Lan See giok terbayang kembali akan kepandaian sakti yang
dimiliki si nona berbaju putih sewaktu berada dalam air, dia
memutuskan untuk mempelajari kepandaian tersebut secara
baik-baik.
Siapa tahu dalam sepanjang sejarah hidupnya dia akan
menjumpai bencana banjir? Atau mungkin akan bertemu
perompak dan mengalami musibah kapalnya karam? Tanpa
dibekali ilmu dalam air yang sempurna biarpun ilmu silat
yang dimiliki cukup hebatpun jangan harap bisa
mempertahan kan hidupnya dengan baik
Sementara ia masih melamun sampai di situ, mendadak
terdengar suara dentingan nyaring berkumandang datang.
http://kangzusi.com/
Lan See giok segera menghentikan langkah nya seraya
berpaling, tampak dua orang dayang cilik lari masuk ke
dalam ruangan dengan wajah tergopoh gopoh.
Kemudian setibanya di depan pintu, ke dua orang
dayang itu memisahkan diri dan berdiri di kiri dan kanan.
Tak lama kemudian suara dentingan tadi makin
mendekat dan akhirnya tirai disingkap orang.
Agak berkilat sepasang mata Lan See giok setelah
melihat apa yang tertera di depan mata, seorang gadis
cantik rupawan dengan perawakan yang ramping dan indah
tahu tahu sudah muncul di depan mata.
Rambut si nona cantik itu disanggul tinggi dengan mutu
manikam menghiasi mahkota nya, ia berwajah potongan
kwaci, alis matanya indah dengan bibir yang mungil,
gaunnya berwarna putih dengan pakaian warna hijau
pupus, suatu perpaduan yang membuat wajahnya nampak
lebih cantik dan menawan hati.
Setelah diamati beberapa saat, Lan See giok baru
mengenali kalau si nona anggun yang berbadan indah ini
ternyata tak lain adalah si nona berbaju putih tadi.
Gadis cantik itu berdiri tertegun pula di depan pintu
sepasang matanya yang jeli mengawasi juga wajah Lan See
giok yang baru selesai membersihkan badan dengan
termangu.
Ia benar-benar terkejut sampai tertegun, tak terlukiskan
rasa girang dan gembira yang berkecamuk di dalam
dadanya.
Lan See giok yang selesai membersihkan badan dan
berganti pakaian, nampak begitu tampan dan gagah,
wajahnya yang memerah tambah dilihat tambah menarik
hati.
http://kangzusi.com/
Ia berdoa semoga Lan See giok bukan seorang bocah
berusia lima enam belas tahun, dia berharap pemuda itu
sudah termasuk seorang pemuda dewasa, sebab tahun ini
dia sendiri telah berumur sembilan belas tahun.
Setelah termangu sesaat, sambil tertawa manis gadis,
berbaju putih itu maju mendekat, katanya sambil menunjuk
ke arah meja:
"Ayo silahkan, jangan kau tunda lebih lama lagi"
Lan See giok memang memutuskan untuk berdiam
sementara waktu di dalam benteng Wi lim-poo sampai
suasana menjadi aman kembali, maka sambil tertawa dia
manggut-manggut, pertanda kalau dia tidak berniat
bermusuhan.
Sewaktu si nona mempersilahkan Lan See giok duduk di
kursi utama, tanpa sungkan pemuda itu mengikutinya.
Mendadak, dari luar pintu berkumandang suara langkah
kaki manusia yang tergesa-gesa.
Lan See giok segera berpaling, tampak seorang dayang
berbaju kuning sedang berlarian masuk ke dalam ruangan
dengan wajah gugup bercampur tegang.
Dengan kening berkerut si nona segera menegur:
"Apa yang terjadi di tempat hujin sana?"
"Lapor nona" kata dayang itu cepat-cepat, "Lo pocu
telah pulang, entah mengapa dia sedang marah-marah di
ruang tamu."
"Aaaah, tahukah kau apa yang menyebabkan lo pocu
marah-marah?" sela si nona sambil menjerit kaget.
"Menurut laporan dari Be-congkoan kepada nyonya. Tui
keng hi ( Setan pengejar ikan paus ) yang diutus untuk
http://kangzusi.com/
menjemput lo-pocu ditemukan tewas tertusuk dalam air
telaga, mayatnya sudah terapung di atas permukaan air.
Lan See giok amat terkejut setelah mendengar laporan
itu sehingga tanpa terasa wajahnya berubah, pikirnya:
"Jangan-jangan si setan pengejar ikan paus adalah orang
yang mati kutusuk tadi?"
Tapi ia segera merasa jalan pemikirannya tidak benar,
bukankah si setan pengejar ikan paus ditugaskan untuk
menjemput Lo pocu-nya, bukan orang yang ditugaskan
mencari dia?
"Aaaah, pasti orang itu hanya seorang perompak air . . .
!" akhirnya dia menyimpulkan.
Berpikir sampai di situ, hatinya yang tak tenang pun
segera menjadi tenang kembali.
Maka sambil memandang si nona berbaju putih yang
termangu, selanya:
"Tolong tanya nona, kecuali benteng kalian, apakah di
sekitar telaga ini masih terdapat markas besar dari
perkumpulan atau perguruan lain-.”
Sekulum senyuman sinis dan angkuh segera melintas di
wajah nona berbaju putih itu, sahutnya:
"ikan dan udangpun tak berani berenang mendekati
benteng Wi lim poo, apa lagi perguruan atau perkumpulan
lain, masa mereka berani mendirikan markasnya di sekitar
ini?"
Lan See giok memang bukan anak bodoh, dari sikap
angkuh si nona berbaju putih itu, ia sudah menyimpulkan
kalau tiada orang luar yang berani mendekati daerah telaga
tersebut.
http://kangzusi.com/
Terdengar si nona berbaju putih itu bertanya lagi kepada
si dayang berbaju kuning:
"Mayat si setan pengejar ikan paus ditemukan di daerah
air sebelah mana?"
Dayang itu segera menggelengkan kepalanya berulang
kali.
"Budak tidak tahu, sewaktu hujin bertanya lo-pocu
sendiri tidak menjawab, maka budak lihat lebih baik nona
saja yang mencoba membujuk lo pocu- "
Gadis berbaju putih itu segera mengerutkan dahinya,
seakan akan merasa segan untuk pergi, tapi setelah
termenung sejenak akhirnya ia berkata.
"Pergilah dulu, bilang saja aku akan segera menyusul !".
Dayang berbaju putih itu mengiakan dengan hormat,
kemudian membalikkan badan dan terburu buru
meninggalkan tempat tersebut.
Sepeninggal si dayang, nona berbaju putih itu baru
berpaling kearah Lan See giok sambil berkata:
"Dalam benteng kami terdapat tiga orang jago yang
disebut tiga setan, di antara ke tiga orang ini, si setan
pengejar ikan paus termasuk orang yang berilmu paling
tinggi, ilmunya di dalam airpun paling sempurna, biarpun
bertemu jago lihay, semestinya tak mungkin ia akan
tertusuk mati di dalam air . . . .” setelah berhenti sejenak,
tergerak hatinya, cepat dia berguman lebih jauh:
"Jangan-jangan sudah bertemu dengan Huan kang ciong
liong ( naga sakti Pembalik sungai)?"
Dari pembicaraan itu kembali Lan See -giok
menyimpulkan bahwa antara pihak Wi lim Poo dengan si
http://kangzusi.com/
naga sakti pembalik sungai pasti terdapat perselisihan, cuma
dia tak berani banyak bertanya.
Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata nona
berbaju putih itu, ia segera berpaling ke arah Lan See giok,
kemudian tanyanya:
"Mengapa kau mendatangi telaga Lu wi-tong kami
malam ini? Di tengah jalan tadi apakah kau telah bersua
dengan seorang lelaki setengah umur berbaju hitam, beralis
tebal dengan mata yang jeli? Atau mungkin sudah terjadi
pertarungan diantara kalian?"
"Sejak memasuki telaga ini, tak sesosok bayangan
manusiapun yang kujumpai, mana mungkin bisa terlibat
dalam suasana pertarungan?" sahut pemuda tanpa ragu.
Gadis berbaju putih itu cukup memahami kalau Lan See-
giok tidak mengerti ilmu dalam air, jadi mustahil ia dapat
membunuh si setan pengejar ikan paus yang lihay dalam
soal ilmu berenang di dalam air, maka dengan kening
berkerut dan nada tak mengerti gumamnya lebih jauh:
"Lantas, mengapa kau memasuki telaga Lu-wi tong?"
Tak terkirakan rasa mendongkol Lan See- giok tiba-tiba
teriaknya dengan marah:
"Kapan sih aku bilang mau datang ke mari? Semalam toh
aku cuma tertidur di dalam perahu, sewaktu mendusin
perahuku sudah terbawa arus hingga sampai di dalam
wilayah Lu-wi tong, padahal aku tak mengerti ilmu
berenang, aku pun tak pandai mendayung.."
Melihat kemarahan sang pemuda yang kian lama kian
menjadi, nona berbaju putih itu semakin yakin kalau di
balik kesemuanya ini masih terdapat hal-hal lain, namun
tampaknya diapun enggan untuk bertanya lebih jauh, maka
sambil, tersenyum katanya:
http://kangzusi.com/
"Arus dari telaga ini menang sering kali berubah ubah,
ada kalanya angin telaga dapat membawa sampan kecil
menuju ke arah yang lain, kejadian semacam ini umum dan
tiada sesuatu yang aneh, ayo cepat bersantap!"
Sembari berkata dia mengambil sumpit perak.
Melihat gadis berbaju putih itu tidak bertanya lebih jauh
dan kebetulan hal ini memang sesuai dengan keinginannya,
maka diapun mulai bersantap.
Baru saja hidangan akan dimasukkan ke mulut,
mendadak tampak seorang dayang berlari masuk dengan
tergesa gesa, lalu berbisik lirih:
"Nona, lo-pocu datang!"
Berubah wajah si nona berbaju putih itu. ia tahu pastilah
si dayang berbaju kuning yang melaporkan kepada ayahnya
kalau di situ hadir seorang pemuda tampan.
Cepat-cepat dia bangkit dan lari ke luar untuk
menyambut kedatangan ayahnya.
Sementara itu dari ruang tengah terdengar suara langkah
kaki manusia, yang bergema semakin mendekat, lalu
terdengar gadis berbaju putih itu berseru memanggil:
"Ayah. . ."
Meminjam cahaya lentera yang memancar ke luar dari
ruangan Lan See giok ikut memandang ke depan, tapi
dengan cepat seluruh badannya gemetar keras, wajahnya
berubah hebat, hidangan yang baru saja di antar ke mulut
pun segera terjatuh kembali ke atas tanah.
Mimpipun dia tak pernah menyangka kalau lo pocu dari
benteng Wi lim poo ternyata adalah si manusia cacad
telinga Oh Tin san yang baru saja berhasil dihindari..
http://kangzusi.com/
Manusia cacad telinga Oh Tin san sendiri pun nampak
terkejut bercampur gembira setelah mengetahui pemuda
yang duduk di ruangan tak lain adalah Lan See giok.
Cepat-cepat Lan See giok berusaha menenangkan
hatinya, satu ingatan segera melintas dalam benaknya,
segera dia melepaskan sumpitnya dan menangis tersedu
sedu.
Kemudian dengan suara keras teriaknya:
"Empek- “
Ia lari ke depan menyongsong orang itu.
Perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba ini bukan
saja membuat semua dayang menjadi tertegun. bahkan
gadis berbaju putih sendiripun sampai berdiri melongo.
Dengan cepat Lan See giok menubruk dan memeluk si
manusia cacad telinga erat-erat lalu meledaklah isak
tangisnya.
Hawa amarah yang semula berkobar dalam dada
manusia cacad telinga Oh Tin san seketika lenyap tak
berbekas, ia tak bisa mengendalikan rasa girangnya lagi dan
mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Begitu keras, suara tertawanya sehingga menggetarkan
seluruh benteng Wi lim poo.
Setelah termangu beberapa saat, gadis berbaju putih itu
segera berteriak keras.
"Ayah, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Manusia
cacad telinga Oh Tin san menghentikan gelak tertawanya,
sambil membelai tubuh Lan See giok dengan penuh rasa
gembira ia berkata:
"Anak bodoh, jangan menangis lagi, ini rumahmu, kau
adalah satu satunya sau pocu dari benteng ini"
http://kangzusi.com/
Kemudian sambil mendorong sang bocah, tanyanya lagi
sambil tertawa senang:
"Anak bodoh, coba kau lihat siapakah budak yang cantik
itu?"
Sembari berkata dia menunjuk ke arah si nona berbaju
putih yang sementara itu dari rasa kaget dan tercengangnya
telah berubah menjadi luapan kegembiraan.
Lan See giok sendiripun segera menyadari akan masalah
yang sedang dihadapi dengan berpura-pura terkejut
bercampur gembira teriaknya keras-keras:
"Kau adalah enci Cu!"
Di tengah sorak gembiranya dia lari ke depan dan
memeluk pinggang nona berbaju putih itu kencang-kencang
kemudian serunya tiada hentinya:
"Enci Cu, enci Cu. . . ."
Meskipun nona berbaju putih Oh Li cu terhitung seorang
gadis jalang yang cabul, toh ia dibuat malu dan tersipu-sipu
oleh pelukan Lan See giok tersebut, wajahnya segera
berubah menjadi merah padam bagai kepiting rebus.
Apalagi perawakan tubuh Lan See giok sudah sejajar
dengan ketinggian tubuhnya.
Biarpun Oh Tin-san yang licik dan keji berakal bulus dan
berpengalaman luas, tak urung semua kecurigaannya lenyap
tak berbekas setelah menyaksikan sikap gembira dari Lan
See giok.
Pemuda Lan See-giok memang pintar sekali, setelah
memeluk tubuh Oh Li cu yang bahenol erat-erat, mendadak
dia berlagak tersipu-sipu dan buru-buru melepaskan
pelukannya, kemudian dengan wajah jengah
menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Oh Tin san.
http://kangzusi.com/
Biarpun Oh Tin san licik dan hebat, hilang lenyap semua
kecurigaannya sekarang. malah tak tertahankan lagi ia
tertawa terbahak-bahak.
"Bocah bodoh, mengapa malu?" tegurnya dengan
gembira, "cepat, beritahu kepada empek, cantik kah enci
Cu?"
"Enci Cu amat cantik!" sahut pemuda itu dengan kepala
tertunduk rendah-rendah.
Merah dadu selembar wajah Oh Li-cu karena jengah,
napsu birahinya segera terangsang dan sinar matanya
memancarkan napsu birahi yang amat tebal.
Memandang Lan See giok yang berada dihadapannya,
manusia cacad telinga 0h Tin san merasa seolah-olah kotak
kecil itu sudah berada di dalam genggamannya, tak terlukis
kan rasa gembiranya waktu itu.
Serunya kemudian sambil menepuk bahu Lan See giok
dengan tangannya yang kurus kering:
"Jika enci Cu memang cantik, bagaimana kalau empek
jodohkan enci Cu untuk menjadi istrimu!"
Ucapan tersebut kembali membuat Oh Li cu merasakan
timbulnya aliran hawa panas dari antara pahanya terus
meluncur ke atas, buru-buru serunya dengan manja:
"Ayah, Cu ji tak bisa berbakti lagi kepadamu di
kemudian hari. . ."
Tergerak hati Lan See giok, dengan cepat ia berpaling ke
arah Oh Tin san lalu sambil tertawa manggut tiada
hentinya.
Sekali lagi Oh Tin san mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak, pikirnya:
http://kangzusi.com/
"Asal aku si manusia cacad telinga memperoleh kotak
kecil itu, sudah pasti dunia berada di bawah telapak
kakiku!"
Pada saat itulah..
Mendadak dari belakang beberapa orang itu
berkumandang suara teguran seorang perempuan setengah
umur dengan nada terkejut:
"Tin san, persoalan apa sih yang membuat kau tertawa
terbahak bahak . . . ?"
Lan See giok turut berpaling, ia saksikan di depan pintu
telah berdiri seorang nyonya tua bersanggul tinggi,
berkeriput mukanya dan berbedak serta gincu amat tebal.
Biarpun usianya sudah tua, namun nyonya itu masih
tetap "hot" dengan anting-anting model dakocan yang amat
besar menghiasi telinganya, ia memakai gaun hijau pupus
dikombinasikan baju berwarna merah darah, sepatunya
berwarna merah juga, ini menunjukkan kalau perempuan
ini biar sudah tua namun seorang yang suka pesolek.
Melihat tampang perempuan tua itu, Lan See giok segera
menduga kalau dia adalah bininya si manusia cacad telinga.
Benar juga, Oh Li cu segera lari menyongsong
kedatangan perempuan itu sambil berseru manja:
"Ibu, ayah menganiaya Cu ji!"
Sambil berseru dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan
nyonya tua tersebut.
Walaupun nyonya tua itu masih dihiasi dengan
senyuman, agaknya diapun dibuat tidak habis mengerti oleh
sikap Oh Tin san yang sebentar gusar sebentar tertawa
senang itu.
http://kangzusi.com/
Manusia cacad telinga Oh Tin san mendorong tubuh Lan
See giok ke depan nyonya tua itu, kemudian tanyanya
dengan bangga:
"Ci hoa, coba lihat siapakah dia?"
Sambil berkata ia tertawa licik dan memutar biji matanya
berulang kali, jelas ia sedang memberi tanda kepada nyonya
tua tersebut:
"Say nyoo-hui" atau Tandingan - nyoo-hui Ki Ci hoa
adalah seorang perempuan yang sudah berpengalaman luas
di dalam dunia persilatan, ia pandai sekali melihat gelagat
dan menilai perasaan hati orang, begitu menyaksikan sorot
mata Oh Tin san, dengan kening berkerut dia pun
mengamati Lan See giok dari atas hingga ke bawah.
Namun dia tak berani berbicara lebih lanjut karena tidak
memahami maksud tujuan suaminya, maka dengan nada
tidak pasti katanya:
"Ehmmm-rasanya sih seperti pernah di kenal.."
Sejak memandang wajah nyonya tua pesolek ini, dalam
hati kecil Lan See giok sudah tumbuh perasaan muak dan
bencinya, sekalipun demikian dia toh memandang juga ke
arah perempuan tersebut sambil berlagak seakan akan tidak
mengerti.
Oh Tin san segera tertawa terkekeh-kekeh buru-buru
serunya:
"Bocah ini adalah satu-satunya kongcu keturunan adik
Khong-tay, coba lihat, sepuluh tahun tak bersua, bocah ini
sudah tumbuh menjadi begitu gagah dan tampan, makin
dewasa pasti makin perkasa keadaannya"
http://kangzusi.com/
Nyonya tua itu berkerut kening kemudian berlagak
seakan akan baru memahami, ia berseru tertahan dan segera
serunya sambil tertawa:
"Yaa, betul, memang agak mirip adik Khong-tay”
Ucapan tersebut kembali membuat Oh Tin san menjadi
gugup, sebab raut wajah Lan See giok lebih mirip ibunya
dari pada ayah-nya, maka cepat-cepat katanya lagi:
"Jelek amat ketajaman matamu, bocah ini lebih mirip
dengan istri adik Khong-tay!"
Sekali lagi nyonya tua itu memandang wajah Lan See
giok sambil manggut-manggut memuji, kemudian setelah
mendorong Oh Li cu, dia menghampiri pemuda itu sambil
tegurnya ramah:
"Nak, siapa namamu?"
"Dia bernama, Lan See giok!" Oh Tin san menerangkan,
sedang kepada sang bocah, katanya pula:
"Dia adalah bibimu Ki Ci hoa, orang menyebutnya
sebagai Tandingan Nyoo-hui, dulu dia termasuk seorang
perempuan cantik yang termasyhur namanya "
Lalu sambil tertawa terbahak bahak, ia menepuk bahu
Lan See giok sembari berseru lagi:
"Ayo cepat memanggil bibi!"
Sambil menahan kobaran hawa amarahnya Lan See giok
memanggil dengan hormat:
"Bibi . . . . !"
Ki Ci hoa nampak semakin gembira lagi setelah
mendengar panggilan itu, ia tertawa terkekeh tiada hentinya
dengan mata setengah terpejam.
http://kangzusi.com/
Oh Tin-san sendiripun tertawa terbahak bahak, kepada
kawanan dayang di sisi ruangan serunya kemudian:
"Cepat siapkan arak, mungkin sau poocu sudah lapar
sedari tadi, malam ini aku akan minum arak sampai
mabuk!"
Orang menjadi sibuk untuk menyiapkan segala hidangan
dan meja perjamuan.
Kemudian dengan senyum dikulum, Ki Ci hoa
menggandeng putrinya di tangan kiri, menarik Lan See-giok
di tangan kanan bersama sama menuju ke luar ruangan.
Oh Tin san sengaja berjalan di paling belakang,
menggunakan kesempatan tersebut dia menarik seorang
dayang dan membisikkan sesuatu ke sisi telinganya. lalu
dengan cepat dia menyusul kembali istrinya bertiga.
Setelah mendengar bisikan Oh Tin-san, dayang itu
nampak agak gugup dan buru-buru lari pergi dari situ.
Setelah masing-masing mengambil tempat duduk, Ki Ci
hoa masih saja menggenggam tangan Lan See giok dengan
hangat, kemudian menanyakan usianya, ilmu silat, ilmu
sastra dan lain-lain dengan penuh perhatian.
Oh Li cu berdiri di belakang ibunya dengan senyuman
dikulum, matanya yang jeli mengamati terus wajah Lan See
giok yang tampan tanpa berkedip, rupanya ia benar-benar
sudah terpukau dibuatnya.
Oh Tin san duduk di bangku lain sambil mengawasi
istrinya berusaha mengorek keterangan dari mulut pemuda
itu dengan taktiknya, sedang otaknya berputar terus
berusaha mencari akal bagaimana caranya menghadapi Lan
See giok sehingga kotak kecil yang diincar bisa diperoleh
kembali dan bagaimana pula caranya untuk menghindari
http://kangzusi.com/
perjumpaannya dengan Huan kang ciong liong serta kakek
berjubah kuning.
Tak selang berapa saat kemudian hidangan sudah
disiapkan, maka perjamuanpun segera dilangsungkan.
Sepanjang perjamuan dilangsungkan, Oh Tin san selalu
merasa kuatir tentang keadaan Lan See giok setelah diajak
menuju ke dusun nelayan tadi, dia ingin tahu apa saja yang
telah dikatakan kakek tersebut kepada bocah itu, karena hal
ini penting baginya di dalam usahanya untuk menguasai
Lan See giok di kemudian hari.
Maka setelah menghabiskan tiga cawan arak, dengan
suara yang lembut dan ramah tapi penuh nada perhatian
Oh Tin san bertanya:
"Giok ji, mengapa sih kakek berjubah kuning itu
menangkapmu den membawanya ke dalam dusun?"
Lan See giok memang sudah menduga Oh Tin san akan
mengajukan pertanyaan tersebut, maka tak heran kalau dia
sudah mempersiapkan jawabannya sedari tadi.
Dengan kening berkerut ujarnya kemudian:
"Kakek berjubah kuning itu benar-benar tak tahu aturan,
begitu berjumpa denganku, dia lantas, menegur mengapa
kemarin aku menghajar muridnya Thi Gou.."
Oh Tin san memang pernah melihat dari balik hutan
muncul seorang bocah perempuan berbaju merah serta
seorang bocah lelaki berkulit hitam berbaju hitam, dia tahu
Thi Gou yang dimaksudkan Lan See giok tentulah si bocah
lelaki tersebut.
Terdengar Lan See giok berkata lebih jauh:
"..aku tahu empek sedang menungguku di luar dusun
oleh sebab itu tanpa sungkan-sungkan kusahut kepadanya:
http://kangzusi.com/
"Tidak tahu," siapa sangka dia lantas membentak dan
menotok jalan darahku."
Walaupun si Manusia cacad telinga Oh Tin san dapat
merasa kalau di balik masalah tersebut mustahil duduknya
persoalan begitu sederhana, namun berhubung apa yang
diucapkan Lan See giok pada dasarnya memang sama
seperti apa yang dilihatnya, terpaksa dia manggut-manggut
sambil bertanya lebih jauh:
"Bagaimana selanjutnya?"
Secara ringkas Lan See giok mengisahkan kembali
keadaannya setelah masuk ke dalam dusun nelayan tersebut
dan akhirnya dia menyinggung juga tentang tidak
ditemukan nya si manusia cacad telinga di tanggul telaga.
Dalam hal ini, dengan nada tak senang hati dia menegur.
"Bukankah empek sendiri bilang sebelum bertemu tak
akan bubar, namun ketika aku sampai di tepi telaga, tidak
kujumpai dirimu berada di sekitar sana"
Agak memerah paras muka Oh Tin san lantaran jengah,
dia tertawa kering dan nampaknya merasa puas dengan
penuturan dari Lan See giok tersebut.
Berdasarkan kisah yang amat singkat itu diapun dapat
menyimpulkan bahwa kakek berjubah kuning itu tak nanti
telah menyampaikan sesuatu kepada Lan See giok.
Di samping itu, dari kegelapan ia pun dapat melihat
betapa gugup dan gelisahnya Lan See giok ketika mencari
jejaknya, hal tersebut membuat manusia licik ini menaruh
percaya seratus persen.
Maka setelah tertawa kering katanya:
http://kangzusi.com/
"Dari kejauhan sebetulnya empek melihat
kedatanganmu, cuma berhubung aku kuatir kakek berjubah
kuning itu datang menyusul, maka . . ."
Tiba-tiba tergerak hati Lan See giok dengan nada tak
mengerti dia bertanya.
"Mengapa sih empek begitu takut terhadap si kakek
berjubah kuning tersebut?"
Berubah paras muka si Manusia cacad telinga Oh Tin
san setelah mendengar ucapan mana, serunya gusar:
"Omong kosong, empek sebagai seorang pemilik benteng
yang menjagoi seputar telaga ini belum pernah takut kepada
orang lain."
Ketika mengutarakan ucapan tersebut, alis matanya
berkerut, matanya melotot wajahnya menyeringai seram,
agaknya ia benar-benar sedang diliputi hawa amarah.
Selama ini Say nyoo-hui Ki Ci hoa cuma membungkam
diri belaka, berhubung dia memang tak tahu duduknya
persoalan di samping kuatir salah berbicara.
Namun setelah melihat Oh Tin san menjadi gusar karena
jengah, buru-buru selanya:
"Tin san, bocah kecil tahu apa sih? Masa kata katanya
kau masukan dalam hati hingga membuatnya menjadi
marah?"
Sembari berkata dia mengerling sekejap ke arah Oh Tin
san.
Oh Li cu pun merasa tidak puas dengan sikap ayahnya,
dengan nada tak senang hati serunya pula.
"Ayah memang jelek dalam hal ini, sedikit-sedikit jadi
marah!"
http://kangzusi.com/
Sesungguhnya Oh Tin-san merupakan seorang manusia
licik yang pandai mengendalikan perasaan sendiri, namun
berhubung perkataan dari Lan See giok tadi telah
menyinggung aib yang pernah dijumpainya dan justru
mengena pada penyakit hatinya, tak heran kalau hawa
amarahnya segera meledak.
Namun setelah digerutui istrinya dan putrinya
menunjukkan wajah tak senang hati, buru-buru dia
mengendalikan emosinya dan tertawa terbahak bahak.
"Haaah . . haaah . . haaah . . . . bayangkan saja aku Oh
Tin san adalah seorang tokoh silat yang nama nya sangat
menggetarkan telaga Phoan yang oh, dengan ilmu Hun sui
ciang hoat (ilmu pukulan pemisah air) yang kumiliki
puluhan tahun belum pernah bersua dengan musuh
tangguh, manusia-manusia golongan putih maupun
golongan hitam dari dunia persilatan pada jeri tiga bagian
kepadaku, bayangkan saja betapa tidak marah aku setelah
dituduh takut dengan kakek berjubah kuning tersebut".
Kemudian setelah tertawa terbahak bahak kembali,
katanya lebih jauh kepada Lan See giok.
"Sebenarnya empek tidak menampakkan diri waktu itu
karena aku tak ingin mencari urusan yang tak berguna
dalam keadaan begitu"
Dalam hati kecilnya Lan See giok tertawa dingin, ia tahu
jawaban dari Oh Tin san ini tidak jujur, sedangkan
mengenai keterangan Wi lim poo dalam dunia persilatan, ia
pun masih tanda tanya besar sebab belum pernah hal ini di
dengar dari ayahnya.
Dalam hati kecilnya sekarang cuma ada satu masalah
saja yang perlu diketahui secepatnya, yakni asal usul dari si
kakek berjubah kuning tersebut.
http://kangzusi.com/
Maka dengan perasaan tak habis mengerti dia bertanya.
"Empek, sebenarnya siapa sih kakek berjubah kuning
itu?"
Oh Tin san mendengus dingin.
"Hmmm! Empek cuma tahu kalau dia bukan orang baik-
baik, sedangkan tentang siapa namanya dan dari mana asal
usulnya, belum pernah kudengar tentang hal ini . . ."
Lan See giok pura-pura merasa kaget dan tercengang,
katanya kemudian:
"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki kakek berjubah kuning
itu lihay sekali, mestinya kedudukannya dalam dunia
persilatanpun amat tinggi . . . "
"Darimana kau tahu?" belum habis Lan See giok berkata,
Oh Tin san telah menukas dengan perasaan dalam.
Tanpa ragu-ragu sahut Lan See giok:
"Aku dengar kakek bercambang yang bernama naga sakti
pembalik sungai itu selalu membahasai kakek berbaju
kuning itu sebagai locianpwe . . ."
Tidak sampai Lan See giok menyelesaikan kata-katanya,
Oh Tin san dengan mata melotot dan menggertak gigi telah
berseru lebih dulu:
"Thio-Lok-heng, manusia tak tahu malu, ia bermoral
bejad, suka merendahkan derajat sendiri . . "
Lan See giok sama sekali tidak menggubris ocehan dari
Manusia cacad telinga tersebut, dia berkata lebih jauh:
"Kepandaian silat yang dimiliki kakek berjubah kuning
itu memang amat lihay, sewaktu ia membentak kemarin,
padahal tubuhnya masih berada berapa kaki dariku, tapi
jalan darahku tahu-tahu sudah kena ditotok olehnya."
http://kangzusi.com/
Ketika selesai mendengar perkataan dari Lan See giok
ini, Oh Tin san tak bisa me-ngendalikan hawa amarahnya
lagi, ia segera berseru keras.
"Bocah bodoh, ilmu silat itu tiada batas batasnya, dan
beraneka ragam jenisnya, masing-masing kepandaian
memiliki keistimewaan yang berbeda beda, masih
mendingan kalau kakek berbaju kuning itu tidak datang ke
benteng Wi lim poo ku ini. bila ia sampai berani datang
kemari, hmm. . . aku pasti akan menyuruh si anjing tua ini
merasakan enaknya air Phoan yang oh!"
Lan See giok segera merasakan semangat nya bangkit
kembali, dengan nada gembira dia berseru.
"Empek tua, kau sebagai seorang pocu yang namanya
termasyhur di seantero dunia, ilmu dalam airmu tentu lihay
sekali, mulai besok aku ingin menyuruh empek untuk
mengajarku ilmu dalam air . ."
Mendapat pujian dari Lan See-giok, paras muka Oh Tin-
san yang semula suram segera berubah menjadi cerah
kembali, ia tertawa bangga dan menganggukkan kepalanya
berulang kali:
"Baik, baik, asal kau bersedia untuk mempelajarinya
secara tekun, empek akan mewariskan segenap kepandaian
yang empek miliki untukmu. . ."
Lan See-giok berlagak kegirangan, dia melompat-lompat
dan segera menjura dalam-dalam, serunya dengan girang:
"Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dulu
kepada empek . . !"
Oh Tin san yang licik den banyak tipu muslihatnya ini
mengira rencana kejinya berhasil dengan sukses, tanpa
terasa ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak
bahak.
http://kangzusi.com/
Say-nyoo-hui yang selama ini cuma membungkam,
sekarang turut berseru pula dengan nada girang.
"Nak, asal kau bersedia untuk belajar, beberapa jurus
ilmu Cau hong jiu (ilmu sakti menggapai lebah) yang
kumilikipun akan kuwariskan juga kepadamu!" .
Lan See giok sama sekali tidak bertanya apakah ilmu
yang dimaksudkan sebagai Cau hong jiu tersebut, cepat-
cepat dia membalik kan badan dan menjura dalam-dalam,
lalu serunya dengan naga girang.
"Terima kasih banyak bibi!"
Kemudian dia membalikkan badan dan duduk kembali
ke kursi semula . . .
Waktu itu Oh Tin san sudah dibikin kegirangan sehingga
sedikit tak dapat mengendalikan diri, matanya yang jalang
mengerling sekejap ke arah Oh Li cu yang sedang berseri,
kemudian ujarnya sambil tersenyum.
"Mulai besok, biar enci Cu mu yang mewakiliku
mengajarkan dasar ilmu di dalam air kepadamu, bila dasar
dasarnya sudah kau ketahui baru aku yang mengajarkan
langsung kepadamu!"
Mendengar perkataan ini Lan See giok tertawa, kali ini
suara tertawanya benar-benar timbul dari hati sanubarinya.
Sebab diantara lima cacad dari tiga telaga, tak
seorangpun yang paling dicurigai, berdasarkan julukan yang
mereka miliki paling tidak dari lima cacad ada tiga yang
bercokol di atas air, oleh sebab itu kepandaian berenang
boleh dibilang merupakan kepandaian yang paling penting
baginya.
Oh Li cu yang mendengar ayahnya memerintahkan
kepadanya untuk mengajar kan ilmu berenang kepada Lan
http://kangzusi.com/
See giok, kontan saja hatinya menjadi kegirangan, sebab hal
tersebut memang sesuai dengan kehendak hatinya, tak
tahan lagi ia tersenyum genit.
Pada saat itulah dari luar ruangan muncul seorang
dayang berbaju hijau yang menghampiri Oh Tin san dengan
langkah tergesa gesa, setelah memberi hormat katanya:
"Lapor lo pocu, Be congkoan, Thio Gi si dan Li Tok cay
datang mohon bertemu!"
Mendengar laporan tersebut paras muka Say nyoo-hui
dan Oh Li cu berubah hebat, dengan pandangan terkejut
mereka berpaling ke arah Oh Tin San.
Perlu diketahui, di hari-hari biasa kecuali Oh Tin San
suami istri, orang lain belum pernah mengunjungi tempat
kediaman dari Oh Li cu, tapi malam ini tiga orang
congkoan yang berkedudukan di bawah Oh Tin san telah
datang, ini menunjukkan kalau di dalam benteng telah
terjadi suatu peristiwa yang maha besar.
Menyaksikan keterkejutan Say nyoo-hui dan Oh Li cu,
Lan See giok merasa terperanjat sekali, apalagi saat ini
menunjukkan kentongan ke empat, hal tersebut
membuatnya makin terkesiap.
Oh Tin San memang sudah mengetahui hal ini, tapi di
luar dia berlagak seolah-olah kaget dan tercengang, sambil
mengerutkan dahinya ia berseru.
"Silahkan mereka masuk!"
Dayang itu mengiakan dengan hormat kemudian
membalikkan badan dan buru-buru berlalu dari situ.
Say nyoo-hui maupun Oh Li cu memandang ke arah Oh
Tin san dengan pandangan terkesiap, tanyanya kemudian
dengan nada tak mengerti:
http://kangzusi.com/
"Ada apa sih? Masa hari begini juga datang
menghadap?"
Oh Tin san tidak menjawab dengan segera, hanya
matanya yang sesat mengawasi depan pintu dengan
termangu, seolah-olah sedang memikirkan persoalan
tersebut.
Tak selang berapa saat kemudian, terdengar suara
langkah kaki manusia berkumandang memecahkan
keheningan.
Meminjam cahaya yang memancar ke luar dari balik
ruangan, Lan See giok dapat melihat ada tiga sosok
bayangan manusia sedang melangkah masuk ke dalam
ruangan dengan langkah tergesa-gesa.
Orang yang berada ditengah berperawakan kecil dan
pendek, dia adalah seorang kakek bungkuk bermata segi
tiga, beralis tebal dan memelihara jenggot kambing,
tampangnya menunjukkan kelicikan, mengenakan jubah
panjang warna putih yang kedodoran, sepasang matanya
memancarkan cahaya tajam yang berkilauan, membuat
kakek ini tampak mengerikan.
Sedangkan orang yang berada di sebelah kanan
berperawakan tinggi langsing, berusia antara tiga puluh
tahunan, berjubah hitam dengan celana gombrang,
tampangnya kurus macam monyet dengan hidung yang
melengkung seperti hidung betet, matanya yang bulat
memancarkan juga cahaya tajam.
Orang yang berada di sebelah kiri adalah seorang
pemuda berusia dua puluh lima-enam tahunan, tubuhnya
kekar dengan alis mata yang tebal, tapi matanya kecil,
hidungnya agak mancung dan bibirnya terasa amat tebal.
http://kangzusi.com/
Ia mengenakan topi model seorang busu, telinganya
dihiasi anting-anting besar, pakaiannya ringkas dan ikat
pinggangnya merah, diantara rekan rekannya dia memang
kelihatan lebih tampan.
Di antara ke tiga orang ini, seorang bertampang licik,
seorang lagi bertampang keji dan pemuda ini meski masih
muda namun wajahnya memancarkan pula hawa sesat dan
hawa kecabulan.
Lan See giok segera menduga kalau ke tiga orang ini
adalah para anggota penting dari benteng Wi-lim-poo.
Dalam pada itu ke tiga orang tersebut sudah memasuki
ruangan, enam buah sorot mata mereka yang jeli
mengawasi wajah Lan See giok yang sedang duduk
dihadapan Oh Li cu itu dengan pandangan terkejut.
Terutama sekali pemuda berpakaian ringkas tersebut, ia
nampak berkerut kening setelah menyaksikan ketampanan
wajah Lan See giok serta kegagahannya.
Biarpun Lan See giok hanya seorang bocah berusia lima
enam belas tahunan, tapi dalam pandangannya bocah itu
sudah terhitung seorang pemuda yang amat ganteng.
Oleh sebab itulah sebelum melangkah ke dalam ruangan,
keningnya sudah berkerut dan wajahnya diliputi hawa
napsu membunuh.
Menyaksikan wajah cemburu yang terpancar dari wajah
pemuda tersebut, senyuman yang semula menghiasi wajah
Oh Li cu kini telah berubah menjadi dingin seperti es.
Perubahan wajah Oh Li cu, kontan saja semakin
mengobarkan api cemburu yang berkobar di dalam dada
pemuda berpakaian ringkas tersebut.
http://kangzusi.com/
Manusia cacad telinga Oh Tin San maupun Say-nyoo-
hui Ki-Ci-hoa menyaksikan perubahan wajah ke dua orang
itu dengan jelas, akan tetapi mereka berlagak seolah-olah
tidak memperhatikan.
Dalam pada itu ke tiga orang tersebut sudah memasuki
ke dalam ruangan, lalu dengan hormat mereka menjura
seraya berkata:
"Mengunjuk hormat buat Lo pocu, hujin dan nona!"
Say nyoo-hui dan Oh Li cu segera membalas hormat
sambil tersenyum . . .
Hanya Lan See giok seorang yang masih tetap duduk tak
bergerak, karena dia memang tidak kenal dengan ke tiga
orang ini, terhadap sorot mata permusuhan dari pemuda
berpakaian ringkas tersebut, diapun pada hakekatnya tidak
memandang sebelah matapun.
Setelah meletakkan cawan araknya, berlagak tidak
mengerti Oh Tin San segera bertanya:
"Malam-malam begini kalian bertiga datang ke sini,
entah ada urusan apa?"
Kakek bungkuk tersebut segera menjura, sahutnya
dengan sikap yang sangat menghormat:
"Hamba sekalian mendengar Lo pocu marah-marah yang
mungkin disebabkan peristiwa terbunuhnya si setan
pengejar ikan paus, oleh sebab itu hamba sekalian khusus
datang ke mari untuk melaporkan kejadian yang
sebenarnya".
Lelaki setengah umur berwajah monyet segera
menyambung pula dengan hormat.
"Setelah menerima laporan, hamba langsung memeriksa
sendiri di tempat kejadian, di sekitar sana ditemukan sebuah
http://kangzusi.com/
sampan nelayan dalam keadaan terbalik, di dasar sampan
dijumpai sebuah lubang yang persis sebesar luka mematikan
di tubuh si setan pengejar ikan paus "
Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut
menjadi sangat mendongkol, dia merasa kejadian tersebut
perlu diterangkan sejelas-jelasnya kepada semua orang . . .
Belum habis ia berpikir, tiba-tiba pemuda berpakaian
ringkas itu sudah berdiri dengan kening berkerut, tiba-tiba
serunya dengan penuh kegusaran.
"Menurut hasil penyelidikan atas sumber dari sampan
tersebut, diketahui perahu itu milik dusun nelayan
setempat, hamba yakin perbuatan ini pasti hasil karya si
naga sakti pembalik sungai, kini segenap saudara dari
benteng sudah diliputi emosi dan gusar sekali, kami merasa
belum puas sebelum dapat mencuci dusun nelayan itu
dengan darah . . . ."
Ucapan itu menggusarkan Lan See giok, ia jadi lupa
kalau dirinya berada di mulut harimau, dengan kening
berkerut dia siap melompat bangun.
Belum lagi hal tersebut dilakukan, Oh Tin San sudah
mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
Gelak tertawa ini langsung membungkam kan pemuda
berpakaian ringkas itu, agak termangu ia mengawasi
pocunya, sementara hatinya keheranan dan tidak habis
mengerti apa sebabnya Oh Tin San tertawa tergelak..
Lan See giok, Say-nyoo-hui serta Oh Li cu juga
mengawasi Oh Tin San dengan perasaan tidak habis
mengerti.
Setelah menghentikan gelak tertawanya, Oh Tin san
berkata dengan lantang:
http://kangzusi.com/
"Kukira ada kejadian besar apa, oooh. rupanya hanya
masalah sekecil ini, biarpun sampan tersebut milik dusun
nelayan setempat, namun aku percaya si setan pengejar ikan
paus bukan tewas di tangan si Naga Sakti pembalik sungai."
Berbicara sampai di situ, matanya yang sesat
memandang sekejap ke arah Lan See-giok, kemudian
sambil berpura pura gembira katanya dengan suara lantang:
"Persoalan ini tak usah kita bicarakan dulu untuk
sementara waktu, ayo kuperkenalkan dulu kalian bertiga
dengan sau poocu kalian Lan See giok."
Seraya berkata dia menunjuk ke arah pemuda Lan.
Kecuali kakek bungkuk, dua orang lainnya nampak
tertegun, terutama sekali pemuda berpakaian ringkas
tersebut, paras mukanya segera beruban hebat.
Lan See giok masih tetap bersikap tenang, senyum
hambar menghiasi ujung bibirnya, matanya bersinar tajam,
oleh karena Oh Tin san telah bangkit berdiri, maka dia pun
turut beranjak.
la cukup tahu bahwa kesemuanya ini merupakan bagian
dari perangkap Oh Tin san, tapi mengapa? ia kurang jelas,
namun ada satu hal dia merasa yakin, bisa jadi hal ini akan
semakin membantu usahanya untuk melarikan diri.
Dalam pada itu si kakek bungkuk itu sudah maju ke
depan dengan senyuman di kulum, sembari menjura
katanya dengan hormat:
"Congkoan dari benteng Wi-lim-poo, Be-Siong-pak
memberi hormat buat sau pocu."
Buru-buru Lan See giok membalas hormat, sahutnya
sambil tersenyum ringan:
http://kangzusi.com/
"Aku masih muda dan berpengetahuan rendah, untuk di
kemudian hari masih banyak membutuhkan petunjuk dari
Be lo-enghiong"
Betapa gembiranya Be Siong-pak ketika Mendengar Lan
See giok membahasai diri sendiri sebagai Be lo-enghiong,
buru-buru dia membungkukkan badan dan berkata sambil
tersenyum:
"Hamba tidak berani, hamba tidak berani"
Sambil tersenyum Oh Tin san segera menimbrung dari
samping.
"Bocah bodoh, Be congkoan sudah amat berpengalaman
di dalam dunia persilatan kecerdasan otaknya seperti
Khong-Beng yang menjelma kembali, dialah otak dari
empek mu, semua masalah dan pekerjaan merupakan hasil
kerjanya, di kemudian hari kau memang perlu minta
banyak petunjuk dari Be congkoan."
Lan See giok menganggukkan kepalanya berulang kali
sementara hatinya bergetar keras, ia tahu Be Siong pak
merupakan perintang utama bagi usahanya melarikan diri
di kemudian hari.
Umpakan dari Oh Tin san itu kontan membanggakan
hati Be Siong-pak, saking senangnya dia sampai
mendongakkan kepala nya dan tertawa terbahak bahak,
katanya berulang kali:
"Aaah, lo-pocu terlalu memuji!"
Lelaki setengah umur berwajah seperti monyet itu segera
maju pula ke depan, kata nya kepada Lan See giok dengan
hormat:
"Hamba Thio-Wi-kang, memberi hormat buat Sau
pocu."
http://kangzusi.com/
Sembari berkata dia membungkukkan badan sambil
menjura dalam-dalam . ..
Melihat hal ini Oh Tin-san kembali berkata:
"Dia adalah Thio-Wi-kang, orang menyebutnya sebagai
Sam-ou kau-ong (Raja monyet air dari tiga telaga),
kepandaian dalam airnya tiada tandingan, saat ini dia
termasuk seorang tokoh yang amat menonjol namanya
dalam dunia persilatan."
"Selamat bersua, selamat bersua!" seru Lan See giok
berulang kali sambil menjura.
Pemuda berpakaian ringkas yang berada di belakang,
dengan dahi berkerut dan mulut mencibir menunjukkan
sikap angkuh tetap berdiri di tempat, hanya ujarnya ketus:
"Lin Ci cun menjumpai sau pocu!"
Tapi dikala menyaksikan senyuman seram menghiasi
ujung bibir Oh Tin san, matanya berkilat tajam, kontan
hatinya bergetar keras. sehingga terburu buru ia
membungkukkan badannya memberi hormat.
Agaknya Oh Tin san merasa tak senang hati terhadap
sikap angkuh yang dipancarkan Li Ci cun di hadapannya,
maka diapun memberi penjelasan secara ringkas.
"Dia adalah Li Ci cun, orang menyebutnya Long Ii hu
tiap (kupu-kupu di tengah ombak)."
Lan See giok tidak menyangka kalau penjelasan Oh Tin
san sedemikian ringkasnya, maka setelah termenung
sejenak, ia baru berkata sambil tersenyum.
"Selamat bersua, selamat bersua!"
Kupu-kupu dibalik ombak Li-Ci-cun merasa sangat tidak
puas, di samping itu diapun dapat menyadari kalau
manusia cacad telinga yang termasyhur sebagai manusia
http://kangzusi.com/
licik yang berhati keji ini menaruh perasaan tak puas
terhadapnya, kesemuanya itu membuat perasaannya
dicekam rasa kaget.
Akan tetapi setelah menyaksikan Oh Li cu, kekasihnya
yang selama ini hidup bagaikan suami istri dengannya sama
sekali tidak berpaling ke arahnya, walaupun sudah sedari
tadi ia muncul di situ, kontan saja api cemburunya makin
lama semakin berkobar.
Dalam pada itu, Lan See-giok telah berkata kepada Oh
Tin sari sambil tersenyum.
"Empek, persilahkan Be lo enghiong bertiga turut
menghadiri perjamuan ini !"
Baru saja ucapan tersebut diutarakan, Oh Li cu segera
menarik wajahnya sambil cemberut.
Agaknya kakek bungkuk itu amat berkenan dihati atas
sebutan Be to-enghiong dari Lan See giok tersebut, dengan
wajah berseri ia berkata:
"Tidak usah sau pocu, besok hamba masih ada urusan
yang mesti diselesaikan sehingga tak berkesempatan untuk
menemani sau pocu bersantap, tapi untung saja waktu di
kemudian hari masih panjang, toh tak usah terburu napsu
bukan?"
Selesai berkata kembali ia tertawa terbahak bahak,
agaknya ia belum bisa menduga asal usul Lan See giok yang
sesungguhnya.
Sesungguhnya Oh Tin san memang berniat
mempersilahkan ke tiga orang bawahannya untuk
menghadiri perjamuan tersebut, namun setelah
menyaksikan ketidak senangan putrinya, apalagi Be Siong
pak juga telah beralasan masih ada urusan lain, maka
sembari mengulapkan tangannya ia berkata:
http://kangzusi.com/
"Baiklah, lain waktu saja kita minum bersama sama!"
Si kakek bungkuk, Thio-Wi-kang maupun Li Ci cun tahu
bahwa mereka sudah seharusnya pergi, maka serentak ke
tiga orang itu memberi hormat dan mohon diri.
Baru ke luar dari pintu ruangan, mendadak terdengar Oh
Tin san berseru lagi dengan suara dalam dan bertenaga.
"Be congkoan, sebelum fajar besok harap siapkan semua
kapal perang yang kita miliki, kumpulkan segenap anggota
kita di lapangan air, setiap pasukan harus berpakaian
lengkap dan panji kebesaran kita kibarkan di setiap tiang
perahu, nah pergilah!"
Lan See-giok terkejut oleh ucapan tersebut, sementara
Say nyoo-hui serta Oh Li cu dibuat tertegun.
Kakek bungkuk, Thio-Wi-kang maupun Li Ci cun
nampak agak tertegun pula, tapi kemudian dengan
semangat berkobar serentak ia mengiakan dan berlalu
dengan langkah terburu buru.
Kejut dan gusar perasaan Lan See giok waktu itu, dia
tahu bisa jadi Oh Tin san berniat membasmi kampung
nelayan tersebut dengan kekerasan.
Maka setelah merenung sejenak, dengan kening berkerut
katanya dengan gusar:
"Empek, si setan pengejar ikan paus . ."
Setelah menurunkan perintah tadi tampaknya Oh Tin
san mulai berpikir kalau taruhan yang dilakukan olehnya
kali ini kelewat besar, mendingan kalau berhasil meraih
keuntungan, jika kalah, bukankah urusan bakal berabe?
Perasaannya tiba-tiba saja menjadi gugup dan sangat tak
tenang.
http://kangzusi.com/
Itulah sebabnya sebelum Lan See giok menyelesaikan
perkataannya, dengan tak sadar ia menyela:
"Siapa suruh si setan pengejar ikan paus mencari
kematian sendiri, waktu itu aku sudah memperingatkan dia,
dasar kepandaian silatnya masih jauh di bawah mu
sekarang. . ."
"Empek" tukas Lan See giok tak puas, "mengapa kau
menitahkan kepadanya agar diam-diam mendorongku,
bahkan sekalipun sudah di dorong sampai ke tengah telaga
pun belum jua menampakkan diri untuk memberi
penjelasan?"
Agaknya Oh Tin san sudah dapat menenangkan hatinya
sekarang, katanya sambil tertawa hambar:
"Waktu itu aku mengira kau sudah semaput lantaran
kaget, karena sejak bersembunyi di dalam sampan tak
pernah menampakkan diri kembali, maka kuperintah kan
kepada si setan pengejar ikan paus agar mendorongmu ke
mari secara diam-diam, bila pembicaraan dilakukan waktu
itu, niscaya hal mana akan menarik perhatian si kakek
berjubah kuning"
Belum habis dia berkata, bayangan manusia nampak
berkelebat lewat di depan pintu.
Be Congkoan, si kakek bungkuk yang belum lama
meninggalkan ruangan kini sudah melompat masuk
kembali ke dalam ruangan dengan wajah gugup dan pucat
pias.
Kemunculannya yang sangat mendadak ini tentu saja
sangat mengejutkan Lan See giok sekalian, serta merta
mereka melompat bangun.
http://kangzusi.com/
Para dayang yang berdiri berjajar di kedua belah pintu
pun sama-sama memperdengar kan jeritan kaget yang
melengking.
Sebagai manusia yang berwatak licik dan pandai
membawa diri, Oh Tin san cukup tahu bila Be Siong pak
yang tersohor karena kecerdasan otaknya pun menunjukkan
sikap kaget dan gugup seperti ini, berarti di dalam
bentengnya sudah terjadi suatu peristiwa yang luar biasa
sekali.
Maka sambil berusaha untuk mengendalikan perasaan
gugup dan kalut dalam pikirannya dia menegur.
"Ada urusan apa?"
Be Siong pak menunjukkan sikap kaget dan cemas, peluh
sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi seluruh
tubuhnya, dengan tergesa gesa dia menghampiri
majikannya kemudian membisikkan sesuatu di sisi
telinganya.
Mengikuti komat kamitnya mulut Be Siong pak, paras
muka Oh Tin san pun turut berubah ubah juga, dari gugup,
takut sampai pucat pias dan matanya memancarkan sinar
ketakutan.
Begitu Be congkoan menyelesaikan kata katanya, tak
tahan lagi dia bertanya dengan gelisah.
"Sekarang -sekarang dia berada di mana?"
Kakek bungkuk itu semakin tegang, setelah
menghembuskan napas panjang sahutnya:
"Sekarang dia berada di ruang tamu!"
Jawaban ini segera menggetarkan perasaan si manusia
cacad telinga Oh Tin san seluruh tubuhnya gemetar keras,
http://kangzusi.com/
matanya terbelalak dan ia benar-benar tertegun saking kaget
dan takutnya.
Dari sikap tegang, takut dan gugup yang diperlihatkan
Oh Tin san maupun kakek bungkuk tersebut, Lan See giok
segera menduga kalau di dalam benteng tersebut pasti
sudah kedatangan seorang musuh yang sangat lihay.
Bukan saja kepandaian silat yang dimiliki pendatang
tersebut hebat sekali, sudah pasti tangannya amat keji dan
membunuh orang tanpa berkedip, kalau tidak mustahil Si
manusia cacad telinga Oh Tin San akan menunjukkan rasa
takut yang begitu hebat.
Agaknya Say-nyoo-hui Ki-Ci-hoa juga dapat merasakan
betapa seriusnya masalah tersebut. sambil menarik ujung
baju Oh Tin San, bisiknya lirih:
"Tin San siapa sih yang telah datang?"
Seperti baru mendusin dari kagetnya Oh Tin San tak
sempat lagi menjawab pertanyaan dari Ki-Ci-hoa, buru-
buru serunya kepada Be congkoan:
"Ayo, kita segera berangkat."
Buru-buru mereka berdua melompat ke luar dari ruangan
tersebut dan melejit ke atas atap rumah, kemudian dalam
beberapa kali lompatan saja bayangan tubuh mereka sudah
lenyap dari pandangan mata.
Sepeninggal ayahnya dan Be Congkoan, Oh Li cu baru
berpaling ke arah ibunya sambil bertanya dengan perasaan
tak habis mengerti:
"Ibu, menurut pendapatmu siapa sih yang telah datang?"
ooo0dw0ooo
http://kangzusi.com/
BAB 7
SAY-NYOO-HUI Ki-Ci-hoa memandang sekejap ke
arah Lan See giok yang masih tetap duduk dengan tenang,
kemudian sambil berkernyit dahi katanya seraya tertawa
paksa:
"Ayahmu selalu dapat mengendalikan diri bila
menjumpai sesuatu persoalan, padahal masalah nya bukan
sesuatu yang luar biasa"
Oh Li cu tidak setuju dengan pendapat itu, ujarnya
dengan wajah bersungguh sungguh.
"Be congkoan orangnya cerdik dan sangat pandai
menghadapi masalah, dia pun termasyhur sebagai Khong-
Beng yang menitis kembali, bila dilihat dari sikapnya yang
gugup dan kelabakan.."
Melihat putrinya tak tahu keadaan, dengan kening
berkerut Say nyoo-hui segera menegur:
"Betapa pun besarnya persoalan yang di hadapi, asal
ayahmu sudah ke situ niscaya urusan akan beres dengan
sendirinya, berdasarkan kelihaian ilmu silat dari ayahmu
serta pamornya yang besar, siapa sih yang berani mencabut
gigi dari mulut harimau?"
Lalu setelah mengerling sekejap ke arah Oh Li cu penuh
arti, sambungnya lebih jauh:
"Lagi pula kita Wi-lim-poo sudah lama menjagoi di
seputar telaga ini, sekeliling benteng dilingkari air telaga, di
luar ada hutan gelaga yang lebat, di dalam ada ranjau air,
jago lihay yang tinggal disinipun tak terhitung jumlahnya,
bahkan hampir semuanya pandai ilmu berenang, di dalam
air ada penjaga, di atas benteng ada pengawal, jangan lagi
perahu sampan, biar burungpun sukar untuk terbang lewat
http://kangzusi.com/
tanpa ketahuan, dibandingkan dengan Lok ma oh dimasa
lalu, benteng tersebut paling-paling cuma begitu saja .."
Makin berbicara Say nyoo-hui semakin bersemangat,
sedangkan Lan See giok makin lama semakin terkejut, ia
tak tahu benarkah benteng Wi-lim-poo mempunyai
penjagaan sedemikian ketatnya, bisa juga perempuan tua itu
sedang mengibul.
Sementara dia masih termenung, terdengar Say nyoo-hui
telah berkata lebih jauh.
"Kalau dilihat dari kegugupan ayahmu tadi, bisa jadi
mata-mata kita yang di tugaskan di luar telah pulang
dengan membawa berita besar yang luar biasa, sebab
seandainya ada orang luar yang masuk ke mari, mengapa
dari pihak loteng penjaga tidak dikeluarkan tanda
peringatan , . , ?"
Ketika berbicara sampai di situ, nampak semangat Say
nyoo-hui berkobar kembali, sikap angkuhnya menghiasi
wajahnya.
Mendengar ucapan dari ibunya, Oh Li cu segera
merasakan semangatnya turut berkobar, perasaan tak
tenang yang semula mencekam perasaannya pun kini bilang
lenyap tak berbekas.
Sebaliknya Lan See giok yang mendengar ucapan
tersebut, kian lama hatinya kian bertambah berat, walaupun
di luaran ia masih tetap mempertahankan ketenangan nya.
Sedangkan Say nyoo-hui sendiri, sesungguhnya amat
menguatirkan pula keselamatan dari Oh Tin san, apalagi
kalau dilihat dari sikap gugup dan takut yang menghiasi
wajah suaminya, namun sebisa nya ia berusaha untuk
mengendalikan diri.
Kembali ujarnya sambil tertawa paksa:
http://kangzusi.com/
"Anak Cu. sekarang aku sudah kenyang, temanilah adik
Giok mu untuk minum beberapa cawan lagi, aku hendak
menengok dulu keadaan di sana."
Sambil berkata ia beranjak dan menuju ke luar ruangan.
Buru-buru Lan See giok berseru dengan hormat:
"Silahkan bibi, akupun sudah kenyang."
Bersama Oh Li cu mereka bangkit berdiri dan
menghantar Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa sampai di luar pintu.
Pelayan pun segera membereskan hidangan dari atas
meja perjamuan-
Setibanya di depan pintu, Say nyoo-hui menitahkan
kedua orang itu agar berhenti.
Lan See giok dan Oh Li cu menurut perintah dan
berhenti, mereka berdiri di situ hingga bayangan tubuh
perempuan tua tersebut melangkah ke luar dari pintu
halaman.
Mendadak berkilat sepasang mata Oh Li cu, seakan akan
teringat akan sesuatu, buru baru serunya:
"Ibu, tunggu dulu!"
Sambil berseru dia memburu ke luar pintu dan
menghampiri ibunya.
Menyaksikan kejadian itu, tergeletik hati Lan See giok,
cepat dia menarik napas panjang, berpaling sekejap
memperhatikan sekeliling tempat itu kemudian melejit ke
arah pintu dan menyembunyikan diri di balik pintu
halaman.
Sementara itu dari luar halaman terdengar Say nyoo-hui
sedang bertanya dengan nada tak mengerti.
"Ada apa anak Cu?"
http://kangzusi.com/
Oh Li cu nampak agak sangsi dan sukar untuk
menjawab, sampai lama kemudian ia baru menyahut agak
tergagap.
"Ibu, aku ingin meminjam sebentar bangau kecil Siau
sian hok terbuat dari emas itu”
Belum habis Oh Li cu berkata, Say nyoo-hui telah
menukas dengan nada terkejut:
"Apa? Kau-kau menghendaki dupa lebah bermain di
putik bunga-?"
Lan See giok yang menyadap pembicaraan tersebut
menjadi tak habis mengerti, dia tak tahu apa yang
dinamakan "dupa lebah bermain di putik bunga" itu?
Maka pikirnya kemudian:
"Aaah, mungkin dupa untuk mengharumkan tubuh Oh
Li cu ..?"
Tapi setelah dipikir kemudian ia merasa hal tersebut
kurang begitu cocok ..
Selanjutnya ia tidak mendengar jawaban dari Oh Li-cu,
mungkin gadis itu sedang manggut-manggut.
Terdengar kemudian Say nyoo-hui berkata lagi.
"Terus terang kukatakan, sekarang dia masih kecil, tak
mungkin akan memberi kepuasan kepadamu.."
Tapi sebelum Say nyoo-hui menyelesaikan kata-katanya,
Oh Li cu telah berseru kembali agak ngotot.
"Tidak, tidak.."
Selang berapa saat, akhirnya dengan nada apa boleh buat
Say nyoo-hui berkata lagi:
"Baiklah, mari ikuti aku sekarang!"
http://kangzusi.com/
Menyusul kemudian terdengar suara langkah kaki
manusia yang makin lama semakin menjauhi tempat
tersebut.
Lan See giok merasa sangat kebingungan oleh
pembicaraan itu, dia mencoba untuk mengintip ke luar,
dilihatnya Oh Li cu telah mengikuti ibunya berjalan sejauh
beberapa puluh kaki dan menuju ke depan sebuah pintu
halaman bercat merah.
Ketika berpaling lagi ke ruang dalam, di lihatnya para
dayang masih sibuk bekerja, maka diapun berlagak seolah-
olah tak ada urusan, sambil bergendong tangan balik
kembali ke dalam ruangan.
Kentongan ke empat sudah lewat, suasana waktu itu
amat gelap, kecuali lentera merah yang tergantung di
puncak loteng benteng, segala sesuatunya berada dalam
keadaan gelap gulita dan sunyi senyap tak kedengaran
sedikit suarapun.
Lan See giok memandang lagi ke arah depan, di situ
terbentang sebuah lorong air yang lebarnya beberapa kaki,
di bawah undak undakan tetap tertambat sampan kecil yang
ditumpangi Oh Li cu tadi.
Di depan lorong air terdapat sederet bangunan yang
berupa pagoda air, sedang di sebelah kanan terbentang pula
sebuah lorong air yang agak sempit dan tampaknya
langsung menuju ke pintu gerbang benteng, tapi berhubung
di sekitarnya berderet bangunan rumah maka pemandangan
tak dapat terlihat lurus ke depan.
Menelusuri tepi tanggul, pelan-pelan Lan See giok
berjalan pula menuju ke arah Say nyoo-hui dan Oh Li cu
berlalu.
http://kangzusi.com/
Dalam pada itu Say nyoo-hui serta Oh Li cu sudah
masuk ke dalam bangunan bercat merah tersebut, namun ia
tak berani mempercepat langkahnya. kuatir gerak geriknya
diawasi orang secara diam-diam . .
Setelah maju beberapa kaki, di depan sana ditemukan
sebuah jembatan bambu yang lebarnya hanya dua depa dan
melingkar ke arah kanan, di sebelah kanan bangunan
tunggal tampak pula sebuah pagoda berbentuk bulat, dari
balik jendela yang berada di empat penjuru nampak cahaya
lentera mencorong ke luar.
Tergerak hati Lan See-giok, pelan-pelan dia berjalan
menelusuri jembatan bambu itu, agar tidak menarik
perhatian, sambil berjalan ia berlagak seolah-olah sedang
menikmati pemandangan di sekelilingnya.
Tiba di mulut jembatan, dia saksikan jembatan bambu
itu membentang terus ke depan dan menghubungi sebuah
bangunan tinggi yang besar dan luas di tengah telaga.
Bangunan itu terdiri dari tiga tingkat, dasar bangunan
hampir menempel pada permukaan air, daun-daun bunga
teratai yang lebar dan berwarna hijau hampir menutupi
seluruh permukaan telaga, terpantul cahaya lentera dari
balik bangunan, tampak daun-daun itu memantul kan
cahaya yang berkilauan.
Memandang keadaan bangunan tersebut, Lan See giok
segera tahu bisa jadi bangunan tinggi ini adalah tempat
tidur dari si Manusia cacad telinga Oh Tin san.
Sejak melihat kegugupan dan kebingungan dari Oh Tin
san, Lan See giok memang sudah diliputi perasaan ingin
tahu yang meluap luap, dia ingin tahu sebenarnya manusia
lihay macam apakah yang telah berkunjung ke situ sehingga
membuat Oh Tin san yang keji dan licikpun dibuat
ketakutan setengah mati.
http://kangzusi.com/
Sementara otaknya masih berputar, tubuhnya sudah
menelusuri jembatan bambu kecil itu, secepat mungkin dia
mempersiapkan diri sebaik baiknya untuk menghadapi
segala kemungkinan yang tak diinginkan, biarpun di luaran
ia berusaha untuk berjalan sesantai mungkin.
Baru saja hampir sampai di ujung jembatan, mendadak
ia mendengar suara Oh Tin san yang sedang menyahut
dengan nada yang amat menaruh hormat.
Dari nada suara itu, Lan See giok tahu. bahwa
dugaannya tak salah . . malam ini benteng Wi-lim-poo
betul-betul sudah kedatangan seorang manusia yang
berkedudukan amat tinggi di dalam dunia persilatan dewasa
ini.
Setelah maju lagi beberapa langkah, dari ujung tikungan
jembatan kecil itu secara kebetulan sekali dapat
menyaksikan seluruh keadaan di dalam pagoda tersebut.
Seandainya tidak melihat masih mendingan, begitu
menyaksikan keadaan yang terbentang di depan mata, rasa
kaget yang di alami Lan See giok saat ini sama sekali tidak
berada di bawah To oh cay-jin sendiri.
Mimpipun dia tak menyangka kalau orang yang duduk
di depan meja bundar dalam pagoda tersebut ternyata tak
lain adalah si kakek berjubah kuning tersebut.
Kakek berjubah kuning itu masih tetap nampak ramah
dan lembut, sorot matanya memancarkan pula cahaya
tajam yang memikat sambil mengelus jenggotnya dia seperti
lagi merenungkan sesuatu.
Sedangkan Oh Tin san berdiri lima langkah di
hadapannya dengan sikap yang munduk-munduk dan
menghormat sekali, sepasang tangannya menjulur ke bawah
sedangkan sepasang mata sesatnya hampir boleh dibilang
http://kangzusi.com/
tak berani saling beradu pandangan dengan kakek berjubah
kuning itu.
Be congkoan, si kakek bungkuk apakah turut hadir
dalam pagoda tersebut, sayang tak sempat dilihat oleh Lan
See giok, setelah menyaksikan sikap munduk-munduk dari
Oh Tin san tersebut, Lan See giok segera teringat kembali
dengan ucapan sesumbar yang dikatakan sewaktu ada
dalam perjamuan tadi:
"Masih mendingan kalau kakek berjubah kuning itu tidak
datang ke benteng Wi-lim-poo kami, bila berani, hmm
hmmm. . aku pasti akan menyuruh anjing tua itu mencicipi
rasanya air telaga Huan yang oh."
Tapi kenyataannya sekarang? Tak sepatah katapun dari
ucapan sesumbar Oh Tin san yang diwujudkan dengan
tindakan, rupanya dia cuma pandai omong besar saja
ketimbang melaksanakannya . . .
Mendadak . . .
Sepasang mata si kakek berjubah kuning yang tajam
bagaikan sembilu itu diarahkan ke wajah See giok
Seketika itu juga Lan See-giok merasakan tubuhnya
gemetar keras, saking kagetnya sepasang kaki sampai terasa
lemas tak bertenaga, cepat-cepat ia berpegangan tiang
jembatan.
Detak jantungnya turut berdebar keras karena tegang,
saking ngerinya nyaris dia membalikkan badan untuk
melarikan diri.
Sekarang ia merasa menyesal sekali, menyesal karena
telah menelusuri jembatan kecil tersebut hingga tiba di situ .
..
http://kangzusi.com/
Mendadak terdengar kakek berjubah kuning itu bertanya
kepada Oh Tin-san dengan suara dalam
"Oh pocu. benarkah Lan See giok si bocah itu tidak
berada dalam bentengmu?"
"Lapor locianpwe." sahut Oh Tin-san munduk-munduk,
”Lan See-giok betul-betul tiada dalam benteng kami, masa
boanpwe berani membohongi locianpwe?"
Lan See giok menjadi mendongkol sekali, ia tidak
menyangka kalau Oh Tin san begitu berani ngotot dengan
mengatakan ia tidak berada dalam bentengnya.
"Baiklah" demikian ia berpikir, "biar aku masuk ke
dalam dan tunjukkan diriku di depan kakek berjubah
kuning itu . . "
Namun sebelum dia beranjak maju ke depan. kembali
terdengar kakek berjubah kuning itu berkata.
"Oh pocu, kau harus tahu, sudah hampir sepuluh tahun
lamanya aku mencari Lan Khong-tay, lantaran apa pasti
kau lebih mengerti dari pada diriku, dan sekarang soal kitab
pusaka Tay loo hud bun pay yap-cinkeng hanya diketahui
Lan See giok seorang, akupun tak ingin kelewat mendesak
dirimu, aku harap kau suka mengutus beberapa orang untuk
mencari jejaknya di empat penjuru, bila jejak Lan See giok
telah ditemukan, kau harus mengantarnya ke rumah
kediaman Huan kang ciong liong (naga sakti pembalik
sungai) Thio-Lok-heng di dusun nelayan sana, aku akan
menunggu di situ.."
Betapa gusar dan mendongkolnya Lan See giok sehabis
mendengar perkataan itu. dia mendengus gusar dan
membalikkan badan berlalu dari sana, pikirnya:
http://kangzusi.com/
"Hmm, jangan harap kalian bisa peroleh kitab pusaka
Tay lo hud bun cinkeng tersebut, biar aku matipun tak nanti
akan ku serahkan kepada kalian manusia - manusia jahat".
Baru saja ia berjalan turun dari jembatan kecil itu,
kembali terdengar manusia berjubah kuning itu berkata lagi:
"Baiklah kita tentukan dengan sepatah kata ini, sekarang
aku hendak pergi dulu"
Lan See giok amat terkejut di samping merasa
keheranan. . padahal jarak antara pagoda tersebut dengan
tepi kolam sudah mencapai puluhan kaki, namun
kenyataan nya suara pembicaraan dari kakek jubah kuning
itu masih dapat kedengaran dengan jelas.
Ketika ia berpaling kembali, tampak olehnya Oh Tin san
sedang berjalan ke luar dari pintu pagoda dan
membungkukkan badannya memberi hormat seraya
berkata:
"Boanpwe Oh Tin san menghantar keberangkatan
locianpwe. . ."
Lan See giok segera memandang sekejap sekeliling
tempat itu, namun dengan cepat hatinya merasa terperanjat,
sebab selain jembatan kecil tersebut tiada jalan lain yang
menghubungkan pagoda air itu dengan daratan, namun
kenyataannya kakek berjubah kuning tersebut telah hilang
lenyap dengan begitu saja dalam waktu singkat.
Tampak Oh Tin san membungkukkan badannya
beberapa saat. . kemudian baru menegakkan kembali
tubuhnya.
Lan See giok takut jejaknya ketahuan, dengan cepat dia
menyelinap ke balik tempat kegelapan untuk
menyembunyikan diri, kemudian dengan menelusuri
http://kangzusi.com/
jembatan batu dia balik kembali ke rumah kediaman Oh Li
cu.
Dengan sekuat tenaga pemuda ini berusaha
mengendalikan gejolak perasaannya, kemudian dengan
langkah sesantai mungkin maju ke depan, kini dia mulai
merasa agak curiga, mengapa tidak nampak jejak penjaga di
sekeliling tempat itu.
Baru tiba di pintu gedung, kebetulan Oh Li cu sedang lari
ke luar dengan wajah gugup dan terburu napsu.
Lan See giok sangat terkejut, cepat dia menyingkir ke
samping memberi jalan lewat buat Oh Li cu hampir saja
mereka berdua saling bertumbukan.
Dengan cepat Oh Li cu menghentikan gerakan tubuhnya,
kemudian dengan perasaan gelisah tanyanya:
"Adik Giok. kau tidak boleh meninggalkan tempat ini
secara sembarangan, berbahaya sekali bagimu!"
Lan See giok tertawa hambar:
"Aaah, aku tidak pergi terlalu jauh, hanya jalan-jalan
mencari angin saja di sekitar sini!"
Oh Li cu tidak berniat menanyakan ke mana pemuda itu
telah pergi, dengan penuh perhatian kembali katanya.
"Kau telah semalam suntuk tidak tidur, sekarang pasti
lelah sekali, sekarang pergilah tidur dulu, besok kau mesti
belajar ilmu berenang !"
Sambil berkata dia lantas menarik tangan pemuda itu
dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Lan See giok sama sekali tidak menampik, dia
membiarkan dirinya ditarik Oh Li cu masuk ke dalam,
sementara bau harum semerbak yang aneh menerpa tiada
hentinya di sekitar tubuh pemuda itu.
http://kangzusi.com/
Mengendus bau harum mana, tanpa terasa Lan Se giok
berkerut kening, ia mendongak kan kepalanya kembali,
ternyata Oh Li cu telah berdandan kembali dengan rapi,
sedang bau harum itu tak lain berasal dari bau tubuhnya.
Setelah masuk ke dalam kamar, suasana di sana terasa
gelap, sedang Oh Li-cu pun segera menutup kembali pintu
kamar tersebut rapat-rapat.
Lan See-giok sungguh tidak habis mengerti dengan
keadaan ini, di pandangnya gadis itu penuh tanda tanya.
Oh Li-cu tertawa genit, sambil menghampiri anak muda
tersebut, katanya kemudian dengan lembut:
"Kamar tidur ini langsung berhubungan dengan kamar
tidur cici, maka sengaja kukunci pintu kamar ini."
Biarpun dari ayahnya Lan See-giok pernah mendapat
pendidikan yang mengatakan bahwa muda mudi kaum
persilatan tak perlu kelewat memperhatikan adat istiadat,
namun ia merasa tidak seharusnya adat istiadat dilanggar
seperti ini, tanpa terasa timbul suatu kesan muak dalam hati
kecilnya, dia merasa sebagai gadis yang baik, tidak
sepantasnya kalau sikap Oh Li-cu kelewat jalang.
Belum sempat melihat jelas keadaan di luar ruangan, ia
telah diajak memasuki sebuah pintu kecil berbentuk bulat.
Suasana di ruang dalam lebih redup lagi, disitupun
dipenuhi oleh bau harum yang hampir sama dengan bau
harum yang keluar dari tubuh Oh Li-cu.
Cuma saja perabot yang dipersiapkan disini amat mewah
dan indah, pembaringan gading dengan kelambu serta
seprei yang putih bersih, di samping pembaringan terdapat
sebuah meja kecil dengan sebuah lentera kecil berwarna
merah.
http://kangzusi.com/
Pokoknya seluruh perabot dalam kamar itu terasa serasi
dan penuh dengan suasana syahdu.
Menyaksikan keadaan ruangan tersebut, tiba-tiba saja
Lan See-giok merasakan timbulnya suatu perasaan yang tak
dapat dilukiskan dengan kata-kata..
"Adik Giok" tiba-tiba Oh Li-cu berkata sambil tertawa,
"puaskah kau dengan suasana dalam kamar ini?"
"Ehmmm, bagus sekali." Lan See-giok manggut-manggut
dengan kening berkerut.
Sambil menuding ke arah sebuah pintu bulat kecil di
bagian dalam sana, kembali gadis itu berkata lembut.
"Di balik pintu sana adalah kamar tidur cici, apakah kau
ingin masuk untuk me1ihatnya?"
Tanpa ragu Lan See giok segera menggelengkan
kepalanya berulang kali:
"Tidak usah, hari ini sudah terlalu malam biar besok
saja"
Jawaban tersebut segera menimbulkan setitik
kekecewaan yang segera menghiasi wajah Oh Li cu, namun
dengan cepat dia telah memutar biji matanya dan berkata
lagi sambil tertawa riang:
"Adikku, kalau begitu cepatlah tidur, kita berjumpa lagi
besok pagi. . ."
Kemudian setelah mengerling sekejap ke arah Lan See
giok dengan penuh pancaran cinta, dia masuk ke dalam
kamar sendiri.
Sepeninggal Oh Li cu, Lan See giok merasakan hatinya
seperti dicekam beban yang sangat berat, entah mengapa
semenjak ia tahu kalau Oh Li cu adalah putri Oh Tin san,
http://kangzusi.com/
kesan baik yang semula timbul dalam hatinya segera
berubah menjadi perasaan muak dan benci.
Setelah melepaskan pakaian luarnya dia, menjatuhkan
diri berbaring di atas ranjang, memandang langit-langit
ruangan pikirannya kembali terombang ambing tidak
menentu, kacaunya bukan buatan, dia tak tahu apa yang
mesti dilakukannya sekarang.
Terutama sekali bayangan tubuh Oh Li- cu yang terus
menerus muncul di dalam benaknya, kesemuanya itu
sungguh membuat dia semakin tak dapat tidur.
Mendadak terdengar suara gemerisik dari kamar sebelah,
agaknya Oh Li cu sedang melepaskan busananya.
Menyusul kemudian, terendus bau harum yang amat
menggairahkan napsu memenuhi seluruh ruangan.
Menjumpai kesemuanya ini, pikiran dan perasaan Lan
See giok semakin tak dapat tenang lagi.
Namun akibatnya diapun semakin terbayang kembali
kehidupannya yang tenang selama tiga hari di rumah
bibinya tempo hari..
Bibi Wan adalah seorang perempuan cantik yang anggun
dan penuh kasih sayang, sepintas lalu dia seperti baru
berusia dua puluh tujuh delapan tahunan, namun ia telah
mempunyai seorang putri yang telah menginjak usia enam
belas tahun . . . Cui Siau cian namanya.
Teringat akan Cui Siau cian, terbayang kembali wajah
seorang gadis yang halus, lembut, penuh sopan santun dan
daya tarik..
Wajahnya yang cantik, alisnya yang lembut dengan mata
yang jeli, hidung yang mancung dengan dua belah bibir
http://kangzusi.com/
yang kecil mungil, semuanya itu menciptakan suatu
perpaduan yang menawan hati.
Tanpa terasa pikiran dan perasaan Lan See giok terbuai
kembali dalam lamunan, dia seolah-olah merasakan dirinya
terbawa kembali dalam sebuah rumah berpagar bambu yang
terpencil letaknya . .
Rumah itu hanya rumah bambu yang sederhana dengan
tiga ruangan serta sebuah dapur kecil, ditengah halaman
penuh tumbuh aneka bunga yang berwarna warni, sedang
pagar rumah terdiri dari susunan bambu yang diatur secara
artistik sungguh menawan hati.
Dari ke tiga ruang bambu itu, sebuah adalah kamar tidur
enci Cian, sebuah adalah kamar tidur bibi Wan, sedang
tengah adalah ruang tamu.
Semua perabotannya sederhana tapi bersih dan teratur
sehingga mudah menimbulkan suasana nyaman bagi
siapapun yang melihatnya.
Tiga malam dia menginap di sana, tidur di kamar enci
Cian nya, sedang enci Cian tidur sekamar dengan bibi Wan.
Kamar enci Cian amat bersih dan teratur boleh dibilang
tak setitik debupun yang menempel di situ, sepreinya selalu
menimbulkan bau harum yang aneh, bau harum yang jelas
bukan berasal dari bau bedak.
Sebab bau itu sangat lembut, bau yang khas dari tubuh
enci Cian, seindah dan secantik wajahnya yang syahdu.
Cui Siau cian jarang sekali bergurau dengannya, namun
amat memperhatikan dirinya, setiap malam dia pasti akan
pergi memeriksa selimutnya, apakah sudah dipakai secara
baik atau tidak.
http://kangzusi.com/
Setiap kali dia memandang wajah, enci Ciannya yang
cantik, dalam hati kecilnya selalu timbul suatu perasaan
gembira dan nyaman yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Seringkali dia melamunkan gadis itu, membayangkan
potongan badannya yang ramping, langkahnya yang ringan
dan gerak gerik yang lembut . . .
Setiap kali dia sedang mengawasi wajah enci Cian, tak
pernah bibi Wan mengusiknya, dia seperti selalu memberi
kesempatan kepadanya untuk menikmati sampai puas.
Setiap malam Cui Siau cian datang memeriksa
selimutnya, diapun selalu merasa kan suatu keinginan yang
aneh serta suatu gejolak perasaan yang sukar dikendalikan,
dia sangat ingin bisa memegang tangan enci Ciannya yang
lembut dan halus serta meremasnya.
Tapi setiap kali ia tak berani berbuat demikian karena
kelembutan dan keanggunan enci Cian menimbulkan suatu
kewibawaan yang membuat orang lain tak berani
mengusiknya secara kasar.
Wajah Cui Siau cian selalu dihiasi dengan senyuman
yang manis, belum pernah gadis itu menunjukkan sikap
dingin atau ketus kepadanya.
Kadangkala, ketika Ciu Siau cian lewat dihadapannya, ia
tak tahan ingin memanggilnya, namun Cui Siau cian selalu
membalas panggilannya dengan senyuman yang manis,
kerdipan mata yang indah dan gerak gerik yang
mempesona.
Kini, perasaan Lan See giok sudah terbuai, terbawa ke
sisi tubuh enci Cian nya, dia seolah-olah merasa lupa
dimanakah ia berada sekarang. . .
http://kangzusi.com/
Sementara dia masih melamun, mendadak terdengar
suara rintihan lirih berkumandang datang dari balik
kelambu.
Lan See giok segera tersadar kembali dari lamunannya
dan kembali ke hadapan kenyataan.
la merasa mendongkol sekali dengan suara rintihan dari
Oh Li cu tadi, tanpa terasa ditatapnya pintu kamar nona itu
dengan penuh kegemasan.
Dengan terbayangnya kembali diri Cui Siau cian, tanpa
terasa dia pun memperbandingkan gerak gerik maupun cara
berbicara kedua orang gadis tersebut.
Tapi dengan cepat dia telah menemukan perbedaan yang
besar dan menyolok diantara kedua orang itu.
Sekarang dia baru mengetahui bahwa Oh Li-cu adalah
seorang gadis jalang yang genit dan pandai merayu kaum
lelaki untuk terjatuh ke dalam pelukannya.
Dia memiliki tubuh yang bahenol, memiliki payudara
yang besar dan bundar, senyuman yang merangsang,
kerlingan mata yang memikat dan tubuh yang montok serta
matang..
Mendadak..
Napsu birahinya terasa bergelora di dalam tubuhnya,
jantung terasa berdebar keras, suatu aliran hawa panas yang
aneh muncul dari perut bagian bawahnya dan menyebar ke
seluruh badan dengan cepat..
Sekali lagi dia mendengar suara rintihan lirih
berkumandang dari balik kamar Oh Li-cu.
Perasaan Lan See-giok semakin tak karuan lagi, suatu
keinginan yang aneh tiba-tiba saja menyelimuti
perasaannya.
http://kangzusi.com/
Dengan perasaan terkejut dia melompat bangun, belum
pernah dia rasakan gejolak perasaan yang demikian aneh
seperti apa yang dialaminya hari ini.
Dia merasa sepasang pipinya panas sekali, napasnya
memburu dan hatinya berdebar semakin keras..
Ia mencoba untuk mengawasi keadaan di sekeliling
tempat itu, selain cahaya lentera yang redup, semua benda
dalam ruangan hanya terlihat secara lamat-lamat,
semuanya itu menambah merangsangnya napsu di dalam
tubuhnya.
Akhirnya sepasang mata Lan See-giok berhenti di suatu
tempat, mencorong sinar tajam dari balik matanya, karena
dia menyaksikan sebuah benda berbentuk burung bangau
kecil terbuat dari emas diletakkan di bawah lentera kecil
tersebut.
Selapis asap putih yang lembut dan sukar diketahui,
menyembur keluar tiada hentinya dari ujung mulut burung
bangau emas tersebut..
Ia mencoba untuk mengendus beberapa kali, dengan
cepat disadari bahwa bau harum aneh yang selama ini
memenuhi ruangan tersebut tak lain berasal dari benda
tersebut.
Dan justru bau asap dupa yang harum inilah yang
membuat hatinya gelisah, pikirannya kalut dan tak tenang..
Memandang burung bangau kecil tersebut mendadak
tergerak hati Lan See-giok, dia seperti menyadari akan
sesuatu, segera teringat olehnya akan semua pembicaraan
antara Say Nyoo-hui dengan Oh Li-cu.
Teringat akan kesemuanya itu, tanpa terasa lagi si anak
muda tertawa dingin tiada hentinya.
http://kangzusi.com/
Rasa gusar yang kemudian muncul dan menguasai
seluruh perasaannya membuat gejolak perasaan aneh yang
semula sudah menguasai dirinya itu seketika menjadi
tenang dan mereda kembali.
Cepat-cepat dia menjatuhkan diri bersila dan mengatur
napas, tak selang berapa saat kemudian pemuda itu sudah
berada dalam keadaan lupa diri.
Tak selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba pemuda itu
mendengar suara gemerisik lirih bergema dari depan
pembaringannya.
Lan See-giok segera terjaga kembali dari semedinya
setelah mendengar suara tersebut, namun apa yang
kemudian terlihat hampir saja membuatnya menjerit keras
saking kagetnya.
Oh Li-cu dengan pakaian sutera tipis berwarna merah
telah berdiri di depan pembaringannya, begitu tipis kain
sutera tersebut sehingga bukan cuma sepasang payudaranya
yang montok, besar, padat dan berisi itu kelihatan jelas,
bahkan pinggangnya yang kecil, pinggulnya yang montok,
kulit badannya yang putih serta bagian terahasia dari
seorang gadis terlihat semua dengan nyata, pada
hakekatnya gadis itu seperti lagi bugil saja di hadapannya.
Waktu itu, Oh Li-cu sedang mengawasi wajah Lan See-
giok dengan pandangan terkejut dan kening berkerut,
mukanya penuh diliputi perasaan bingung dan tidak habis
mengerti.
Tampaknya gadis itu benar-benar sudah dibuat tertegun
saking kagetnya atas ketenangan serta daya kemampuan
pemuda tersebut untuk mengendalikan diri.
Ia masih ingat dengan perkataan ibunya, setiap lelaki di
dunia ini pasti akan menjadi gila setelah mengendus bau
http://kangzusi.com/
harumnya dupa lebah bermain di kuncup bunga tersebut,
bahkan akan menerkam setiap perempuan yang
dijumpainya seperti seekor harimau kelaparan.
Sekembalinya ke dalam kamarnya tadi, Oh Li cu benar-
benar merasa tak sabar untuk menunggu lebih lama, yang
lebih membuatnya keheranan adalah apa sebabnya Lan See
giok tidak menerkam tubuhnya yang bugil itu seperti
harimau kelaparan.
Jangan-jangan dia masih berusia muda sehingga belum
mengerti untuk merasakan sorga dunia tersebut?
Tapi ingatan lain segera melintas di dalam benaknya, dia
curiga benda yang diberikan ibunya Say nyoo-hui
kepadanya itu bukan barang asli, kalau tidak, seorang
hwesio tua berusia seratus tahun yang mengendus bau dupa
tersebut pun akan terangsang napsu birahinya, Lan See giok
yang masih muda belia sama sekali tidak terpengaruh?
Tak mungkin daya tahannya melebihi seorang hwesio
tua?
Sementara berpikir, dia sudah tiba di depan
pembaringan, ketika dilihatnya Lan See giok sedang
mengawasinya dengan mata terbelalak, dia tertawa jalang,
lalu tegurnya:
"Adik Giok, mengapa kau belum tidur?"
Sementara itu Lan See giok sudah berhasil
mengendalikan perasaannya, dia sudah sadar kalau Oh Li
cu memang sengaja mengatur kesemuanya itu untuk
menjebaknya, agar dia terangsang oleh napsu birahi
sehingga melakukan perbuatan yang amoral.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan mendongkolnya anak
muda tersebut diperlakukan demikian, tapi dia tak berani
mengumbar amarahnya, dia tahu keadaan seperti ini harus
http://kangzusi.com/
dihadapi secara luwes dan halus, sebab dia sudah
terjerumus ke mulut harimau.
Pelan-pelan dia memejamkan matanya dengan cepat
dalam hatinya mengambil suatu keputusan, yang penting
dia harus bersikap wajar sehingga tidak sampai
menimbulkan amarah Oh Li cu karena malunya:
Maka sambil tersenyum ujarnya kemudian:
"Aku sudah tertidur sedari tadi . ."
Sewaktu berbicara, sikapnya amat biasa dan seolah-olah
tidak pernah terjadi sesuatu apapun, kendatipun dia
berusaha keras untuk meredakan detak jantungnya yang
berdenyut keras.
Terutama sekali terhadap tubuh bugil yang begitu
merangsang dibalik kain sutera yang terpampang di depan
matanya.
Tertegun juga Oh Li-cu sesudah menyaksikan
kemampuan Lan See-giok untuk mengendalikan perasaan,
napsu birahi yang semula telah menguasai benaknya kini
hilang lenyap tak berbekas, sambil duduk termenung di sisi
pembaringan sambil mengawasi wajah Lan See-giok,
sampai lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah
katapun..
Lan See-giok juga membungkam dalam seribu bahasa,
karena dia mesti mengendalikan kobaran api birahinya,
apalagi Oh Li-cu yang duduk disisinya selalu
menghembuskan bau harum semerbak yang aneh dan
mengilik-ilik hatinya.
Yang terutama adalah sepasang payudaranya yang
begitu montok, begitu besar dan putih di balik kain
suteranya, yang tampak bergetar merangsang, lelaki mana
yang tidak tergiur menyaksikan adegan seperti ini.?
http://kangzusi.com/
Merah padam selembar wajah Lan See-giok, ia merasa
darah yang mengalir di dalam tubuhnya bergolak kencang,
perasaan aneh yang dirasakan tadi kini muncul kembali
serta menyebar ke seluruh badan, dia tak tahu bagaimana
mesti menghadapi situasi demikian.
Mencorong sinar terang dari balik mata Oh Li-cu setelah
menyaksikan keadaan ini, ia segera tertawa genit,
sementara tubuhnya bergeser semakin mendekati tubuh
pemuda itu.
Dengan selembar bibirnya yang merah membara seperti
api dan nyaris menempel di atas bibir Lan See-giok, dia
berbisik lembut:
"Adikku, bagaimanakah perasaanmu sekarang?"
Hampir meledak denyutan jantung Lan See-giok, untung
saja kesadaran otaknya masih tetap ada, dia mengerti apa
yang dibutuhkan olehnya sekarang.
Suatu kobaran api napsu birahi kembali mengembang
dalam tubuhnya, ia merasa begitu berharap dapat memeluk
tubuh Oh Li-cu serta mencomot payudaranya, tapi diapun
ingin menghajar perempuan jalang ini hingga mampus.
Namun dia tidak berbuat apa-apa, kesadarannya belum
lagi runtuh seluruhnya, ia masih sadar bahwa dirinya
berada di depan mulut harimau, dia harus berusaha
menahan segala siksaan dan penderitaan agar bisa
membalaskan dendam bagi kematian ayahnya.
Terbayang kembali kematian yang menimpa ayahnya,
kobaran api birahi dalam dada Lan See-giok seketika
menjadi padam bagaikan tercebur ke gudang salju, sekujur
tubuhnya gemetar keras sementara sepasang matanya
memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati.
http://kangzusi.com/
"Sekarang aku merasa baik sekali." jawabnya dengan
suara hambar.
Oh Li-cu tertegun dan kaget setengah mati, tapi dia dapat
mengendalikan diri dengan cepat, sedikit malu bercampur
marah tanyanya:
"Dahulu, pernahkah kau mengalami suatu peristiwa?"
"Peristiwa? Peristiwa apa?" tanya Lan See-giok tidak
habis mengerti.
"Misalkan saja pil dewa, obat mustajab atau teratai salju,
rumput lengci.."
"Ooh itu yang kau maksudkan." kata Lan See-giok
seperti menjadi paham kembali, ia tertawa geli. "Yaa,
empek tua pernah memberi pil penguat badan, pelenyap
racun dan penambah tenaga untukku, menurut si empek tua
tersebut, dengan menelan sebutir pil itu berarti tenaga
dalamku bertambah sebesar puluhan tahun hasil latihan."
Kata "pelenyap racun" yang diucapkan lebih nyaring itu
kontan mengecewakan Oh Li-cu, ia menjadi masgul sekali:
"Waaah.. makanya kau bisa memiliki daya tahan yang
begitu ampuh.."
Belum habis dia berkata, sekujur tubuhnya telah gemetar
keras, wajahnya menjadi pucat pias dan tiba-tiba ia teringat
kalau ayahnya belum pernah memiliki obat semacam ini.
"Apakah pil yang kau makan adalah pil hitam sebesar
kelereng baunya amis dan memuakkan?" buru-buru dia
bertanya.
Berkerut kening Lan See-giok menyaksikan kepanikan
orang, ia manggut-manggut.
"Betul, menurut empek tua, saban bulan mesti menelan
sebutir, kalau tidak aku bisa muntah darah dan mati."
http://kangzusi.com/
Terbelalak lebar sepasang mata Oh Li cu karena kaget,
mulutnya melongo lebar dan diawasinya Lan See giok
tanpa berkedip, lama, lama kemudian ia baru berguman:
"Ke . . kenapa begitu? . ke . . kenapa harus begitu . . ?"
Sembari berkata dia mengawasi alis mata Lan See giok
tanpa berkedip, sementara air matanya jatuh bercucuran
dengan deras.
Lan See giok semakin tak habis mengerti, tanyanya
kemudian:
"Enci Cu, adakah sesuatu yang kurang beres?"
Bukan mereda keadaannya, Oh Li cu malah menangis
semakin keras lagi, sambil lari masuk ke dalam kamarnya
dia menangis dan menjerit-jerit.
"Aku tidak mau begitu, aku tidak mau begitu.."
Menyusul kemudian dengan suara penuh amarah dia
berteriak:
"Siau ci! Siau lan! cepat bantu aku mengenakan
pakaian.."
Berikutnya kedengaran suara orang yang berlarian
mendekat dari luar ruangan dengan langkah gugup dan
terburu buru.
Lan See giok hanya bisa duduk sambil melongo,
pandangannya yang kosong mengawasi kamar Oh Li cu
tanpa berkedip, ia benar-benar dibuat bodoh, pada
hakekatnya dia tidak habis mengerti apa gerangan yang
sesungguhnya telah terjadi.
Hanya satu kesimpulan yang berhasil diraihnya, yakni
baik Oh Li cu maupun Oh Tin san tempo hari, buru-buru
mengawasi alis matanya setelah mendengar dia menelan pil
berwarna hitam yang bau tersebut.
http://kangzusi.com/
Selang beberapa saat kemudian, hatinya bergetar keras,
dengan perasaan terkejut dia berpikir:
"Jangan-jangan pil hitam yang baunya amis itu adalah
obat beracun atau sebangsa nya?"
Sekuat tenaga dia mengendalikan hatinya yang gugup
dan kalut, secara pelan-pelan semua kejadian yang pernah
dialaminya bersama Oh Tin san dianalisa kembali. . .
Tak lama kemudian ia pun menjadi faham, sudah pasti
pil hitam itu adalah sejenis obat beracun yang lambat daya
kerjanya.
Jelas Oh Tin san bermaksud untuk mengendalikannya
dengan obat beracun, agar dia tak berani menghianatinya,
selama hidup menjadi budak Oh Tin san menuruti
perintahnya, bahkan bisa jadi dia akan memper-gunakan
keselamatan jiwanya untuk memaksa dia memberitahukan
tempat tinggal bibi Wan nya.
Boleh jadi dia enggan menyebutkan alamat dari bibi
Wan nya, namun akibat dari perbuatannya itu, dalam satu
bulan kemudian ia tentu mati akibat keracunan, kecuali Oh
Tin san, waktu itu pasti tiada orang ke dua yang
mengetahui jejak kotak kecil tersebut lagi.
Betul masih ada orang ke tiga yang mengetahui tentang
jejak kotak kecil itu yakni si makhluk bertanduk tunggal Si
Yu gi, namun orang tersebut akhirnya tewas di sergap oleh
Oh Tin san.
Ada satu hal yang belum dipahami juga oleh Lan See
giok, yaitu bila pil hitam yang ditelan adalah obat beracun,
apa sebabnya tenaga dalam yang diperoleh malah mendapat
kemajuan yang sangat pesat?
Mendadak satu ingatan melintas lewat, ia teringat
kembali tatkala baru sadar dari semedinya dulu, bukan bau
http://kangzusi.com/
amis yang di endus melainkan bau harum semerbak yang
menggairahkan tubuhnya.
Hal ini kembali menimbulkan rasa heran di dalam
hatinya.
Berdasarkan sikap Oh Tin san yang segera memeriksa
alis matanya begitu memandang terkejut ke arahnya setelah
mengetahui kemajuan pesat yang diperolehnya di bidang
tenaga dalam, tak bisa disangkal lagi pil berwarna hitam itu
adalah sejenis obat racun yang mempunyai sifat lamban
daya kerjanya.
Tapi siapa pula yang telah menyelamatkan jiwanya..?
Pada saat itulah.
Tiba-tiba berkumandang suara tambur yang dibunyikan
bertalu-talu dari tempat kejauhan sana.
Diam-diam Lan See giok merasa terkejut ia segera
teringat kembali akan perintah Oh Tin san untuk
mempersiapkan segenap perahu perang yang ada untuk
berkumpul.
Buru-buru dia mengenakan sepatu dan membuka pintu
kamarnya, ternyata hari sudah terang tanah.
Dua orang pelayan telah siap menanti di luar pintu,
tatkala melihat Lan See giok membuka pintu, serentak
mereka mempersiapkan air untuk cuci muka.
Di dalam keadaan cemas, gelisah dan gusar tentu saja
Lan See giok tidak berniat lagi untuk cuci muka, dia harus
mencari Oh Tin san secepatnya dan mencegah mereka
membantai orang-orang di dusun nelayan-
Tergesa-gesa dia membuka pintu dan lari ke luar dari
halaman tersebut.
http://kangzusi.com/
Baru tiba di depan pintu, dia bertemu Oh Li cu yang
sedang berlari masuk ke dalam halaman dengan mata
merah dan bibir tertutup rapat, Berjumpa dengan Lan See
giok, Oh Li cu segera menegur:
"Mau ke mana kau?"
Biarpun Lan See giok sedang diliputi hawa amarah,
namun dia tetap menjawab dengan suara dalam:
"Aku hendak mencari ayahmu."
"jangan, jangan pergi" seru Oh Li cu sambil menarik
tangannya, "Ayah dan Be Congkoan bertiga sedang
merundingkan masalah penting . . ."
Lan See giok tidak dapat menahan kobaran amarahnya
lagi, dia segera berteriak keras.
"Aku justru hendak mencari mereka berempat"
Sekuat tenaga dia mengebaskan tangan Oh Li cu,
kemudian melanjutkan perjalanan-nya dengan langkah
lebar.
Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Oh Li cu
sudah menghadang kembali di depan Lan See giok sambil
serunya dengan gugup.
"Percuma kau kesana, segenap anggota benteng dan
kapal perang, telah berkumpul dan bersiap sedia, kau harus
mengerti ayahku berbuat demikian adalah demi kebaikan
dirimu."
"Demi kebaikanku? Kebaikan apa?" Lan See giok
tertegun dan mengawasi Oh Li cu dengan pandangan tak
habis mengerti.
Menyaksikan sikap anak muda tersebut, Oh Li cu tak
dapat menahan rasa gelinya lagi, ia segera tertawa
cekikikan.
http://kangzusi.com/
"Anak bodoh, ayah sengaja mengumpulkan semua
anggota benteng dan kapal perang karena dia ingin
menyelenggarakan suatu upacara perkenalan bagi Sau pocu
nya kepada semua anggota."
Lan See giok semakin berdiri bodoh lagi setelah
mendengar perkataan itu.
Oh Li cu tertawa cekikikan, katanya lagi sambil menarik
tangan Lan See giok.
"Ayo jalan, cepat kembali, cici masih ingin berbicara
denganmu”
Seraya berkata dia menarik Lan See giok secara paksa
menuju ke kamarnya.
Lan See giok berjalan mengikuti di belakang Oh Li cu, ia
tak habis mengerti apa sebabnya Oh Tin san
menyelenggarakan pertemuan seperti itu, rencana busuk
apa pula yang sedang disusun olehnya- ?
Oh Li cu membawa Lan See-giok menuju ke ruang
kamarnya, kemudian memerintahkan pemuda itu duduk
dan bertanya dengan serius:
"Adik Giok, bagaimana perasaanmu sekarang?"
Lan See giok tertegun, ia tidak mengerti apa maksud
pertanyaan tersebut, terpaksa katanya sambil mengangguk :
"Aku merasa baik sekali!"
Oh Li cu mengerti kalau anak muda tersebut tidak
memahami maksudnya, maka tanyanya lebih jelas:
"Maksudku dikala sedang mengatur pernapasan, apakah
kau merasakan aliran tenaga dalammu tersumbat, dan tidak
dapat menuruti kehendak hati?"
http://kangzusi.com/
Lan See giok baru paham setelah mendengar kata-kata
ini, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang
kali
"Aku tidak merasakan gejala demikian, aku hanya
merasa tenaga dalamku seperti memperoleh kemajuan yang
sangat pesat setelah menelan pil hitam pemberian empek
tua!"
Mendengar perkataan mana. Oh Li cu mendengus gusar
mulutnya sampai cemberut saking mendongkolnya, dia
menganggap Lan See giok tidak cukup jujur terhadap
dirinya.
Melihat hal ini Lan See giok tertawa hambar, ia seperti
ingin mengatakan sesuatu, tapi suara tambur yang
memekakkan telinga telah berkumandang lagi, bahkan
suaranya kali ini kedengaran lebih berat dan santar.
Berubah paras muka Oh Li cu, sambil berseru tertahan
dia bangkit berdiri, lalu katanya cepat:
"Tambur kedua telah dibunyikan, itu berarti semua kapal
perang telah berkumpul di depan pintu benteng."
Sambil berkata, cepat-cepat dia mengeluarkan sebuah
botol kecil dari dalam sakunya dan diserahkan kepada Lan
See giok seraya ujarnya lagi:
"Di dalam botol ini berisikan tiga butir pil Cing hiat ciat
tok wan (pil pencuci darah pelenyap racun), bila kau
rasakan aliran tenaga dalammu seperti tersumbat, cepatlah
telan sebutir".
Kemudian tergesa-gesa dia lari masuk ke dalam kamar
sendiri.
Memandang bayangan si nona yang menjauh, tanpa
terasa Lan See giok tertawa dingin, pikirnya.
http://kangzusi.com/
"Bapaknya licik, putrinya cabul, tak nanti aku Lan See
giok akan terjebak oleh siasat kalian."
Sambil tertawa dingin ia lantas membuka penutup botol
itu dan memeriksa isinya.
Dalam waktu singkat bau harum semerbak memancar ke
mana-mana, seketika itu juga semangatnya terasa bangkit
kembali.
Lan See giok menjadi tertegun, karena obat tersebut
sama sekali berbeda dengan pil hitam yang diberikan Oh
Tin san kepadanya tempo hari.
TANPA terasa ia mengerling sekejap ke kamar nona itu
sementara botol tadi di masukkan kembali ke dalam
sakunya, kini dia benar-benar tak habis mengerti, dia tak
tahu mengapa Oh Li cu memberi obat penawar racun
kepadanya.
Kenyataan ini tentu saja disambut gembira olehnya,
perasaan simpatik yang semula memang tumbuh dalam
hatinya terhadap Oh Li cu, kini mulai tumbuh kembali.
Tak selang berapa saat kemudian, tampak Oh Li cu
berjalan ke luar dari kamarnya dengan langkah tergesa gesa,
di punggungnya bertambah dengan sebilah pedang, di
tangannya menggenggam senjata gurdi emas Cing kim kong
luan cui milik Lan See giok.
Tergerak hati Lan See giok setelah menyaksikan kejadian
itu, buru-buru dia bangkit berdiri, lalu memandang gurdi
emas di tangan Oh Li cu itu dengan termangu, dia tak habis
mengerti apa sebab nya gadis itu menggembol senjata.
Dengan cepat Oh Li cu sudah berjalan mendekat, katanya
dengan wajah serius:
http://kangzusi.com/
"Kau harus membawa serta senjata andalanmu ini,
karena seusai upacara perkenalan nanti, bisa jadi benda
tersebut di perlukan."
"Mengapa?" tanya Lan See giok tidak mengerti.
"Biasanya seusai upacara perkenalan, akan muncul
orang-orang yang berwatak ingin menang sendiri untuk
mencoba kepandaian dari anggota baru, mereka akan
manfaatkan kesempatan mana untuk memamerkan
kepandaiannya di hadapan pocu dengan harapan bisa
memperoleh pujian atau kedudukan yang jauh lebih baik."
Lan See giok segera tertawa, memanfaatkan peluang itu
dia sambut senjata gurdi emasnya dan diselipkan di
pinggang.
Tampaknya Oh Li cu dipenuhi banyak pikiran, setelah
memandang sekejap dandanan Lan See giok yang
mengenakan pakaian kedodoran, dia bertanya dengan
kuatir:
"Apakah kau perlu ikat pinggang untuk meringkaskan
pakaianmu?"
"Aaah tidak usah, masa benar-benar ada orang yang
begitu berani hendak merebut kursi sau pocu ini dari
tanganku?"
Selesai berkata, dia berpura pura tertawa gembira.
Melihat pemuda itu gembira, Oh Li cu turut gembira
pula, katanya kemudian sambil tertawa:
"Kalau begitu, mari kita segera berangkat!"
Sementara itu matahari sudah tinggi di angkasa, seluruh
benteng Wi-lim-poo dilapisi cahaya keemas emasan.
Ketika Lan See giok dan Oh Li cu berjalan ke luar dari
halaman, di tepi sungai telah parkir sebuah perahu naga
http://kangzusi.com/
yang agak nya dipersiapkan untuk menjemput Oh Tin san,
Be congkoan dan lain lainnya.
Perahu naga panjangnya empat kaki dan terdiri dari dua
tingkat, seluruh tubuhnya berwarna kuning emas, bangunan
perahunya pun sangat indah dan mempesona hati.
Di ujung buritan perahu tampak beberapa orang lelaki
berpakaian ringkas warna perak dengan tubuh yang tinggi
tegap berdiri kekar di situ, wajah mereka rata-rata bengis,
beralis tebal dan bermata besar, namun sikapnya munduk-
munduk dan hormat.
Ketika Oh Li cu berjalan mendekat, serentak semua
lelaki kekar itu membungkuk kan badannya memberi
hormat, tapi ketika mendongakkan kepalanya kembali,
mereka segera mengawasi Lan See giok dengan pandangan
agak terkejut.
"Adikku." kata Oh Li cu kemudian sambil tertawa
angkuh. "inilah perahu naga emas milik ayah yang khusus
untuk mengangkut ayah dan ibu saja."
Lan See giok hanya tertawa hambar sambil manggut-
manggut, melihat sikap sang pemuda yang acuh tak acuh,
Oh Li cu segera menambahkan lagi:
"Kau adalah sau-pocu, tentu saja selanjutnya kau boleh
menumpang perahu ini juga, kau pun boleh memakai
perahu ini untuk berpesiar ke mana-mana."
Berkilat sepasang mata Lan See giok, seketika itu juga
dia teringat untuk melarikan diri, tanpa terasa semangatnya
berkobar kembali, katanya dengan gembira:
"Sungguhkah itu? Aku benar-benar boleh menumpang
perahu ini untuk berpesiar?"
http://kangzusi.com/
Melihat pemuda itu gembira, Oh Li cu turut tertawa
cekikikan, sambungnya dengan cepat:
"Aaah, masa enci bakal membohongi diri mu?"
Belum habis tertawanya, dari balik pintu gedung
berwarna merah telah bergema datang suara langkah kaki
manusia.
Ternyata mereka adalah si kakek bungkuk Be congkoan
Thio-Wi-kang, Li Ci cun yang berjalan mengikuti di
belakang Oh Tin san serta Say nyoo-hui.
Kali ini Oh Tin san mengenakan pakaian perlente yang
halus dan mahal harganya dengan mengenakan topi model
hartawan. sepatunya indah, gayanya dibuat buat, persis
seperti tampang seorang tuan tanah.
Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa pun telah berganti pakaian baru,
wajahnya yang telah keriputan dihiasi dengan bedak yang
tebal, agaknya jauh lebih tebal daripada kemarin.
Ketika Oh Tin san dan Ki-Ci-hoa menyaksikan Lan See
giok berdiri berdampingan dengan putri mereka, ke dua
orang itu segera tertawa gembira.
Buru-buru Lan See giok dan Oh Li cu maju ke depan
sambil memberi hormat.
Sambil tertawa gembira Oh Tin san segera berkata:
"Anak Giok, hari ini empek tua akan memperkenalkan
kau kepada segenap komandan dan saudara-saudara kita
yang ada di dalam benteng, mulai hari ini kau sudah kami
ang-kat menjadi sau pocu -benteng Wi-lim-poo."
Say-nyoo-hui tertawa pula sambil menarik tangan Lan
See-giok, sengaja ujarnya:
"Anak Giok, kenapa kau tidak cepat-cepat berterima
kasih kepada empek Oh mu?"
http://kangzusi.com/
Demi keberhasilannya melarikan diri, demi berhasil
mempelajari ilmu berenang dan demi keberhasilannya
membalaskan dendam ayahnya, terpaksa Lan See giok
harus mengesampingkan semua masalah, biarpun harus
menganggap bajingan sebagai ayah dia mau tak mau harus
menahan diri.
Maka kepada Oh Tin san katanya lagi sambil menjura:
"Terima kasih banyak empek tua!"
Oh Tin san segera tertawa terbahak bahak dengan
bangganya.
Be congkoan dan Thio-Wi-kang pun secara beruntun
maju ke depan untuk menyapa Lan See giok dan Oh Li cu.
Lain halnya dengan si kupu-kupu ditengah ombak Li Ci
cun, sejak menyaksikan sikap mesra Oh Li cu terhadap Lan
See giok, dia sudah menarik mukanya, menunjukkan sikap
tak senang hati, apalagi setelah dilihat nya gadis itu tak
pernah memandang sekejap matapun ke arahnya, api
amarahnya semakin berkobar.
Namun ia terpaksa harus mengekang rasa gusarnya
setelah menyaksikan Be congkoan dan Thio-Wi-kang telah
maju menyapa, dia segera maju pula ke depan sambil
memberi hormat.
Begitulah, dengan Oh Tin san berjalan di depan, Say
nyoo-hui dan Oh Li cu mengapit Lan See giok di tengah, Be
congkoan sekalian bertiga menyusul di belakang, mereka
bersama sama naik ke atas perahu naga emas.
Sepanjang perjalanan, Oh Li cu tak pernah
meninggalkan Lan See giok barang selangkahpun, begitu
mesra dan hangatnya hubungan mereka tak ubahnya seperti
sepasang pengantin baru.
http://kangzusi.com/
Oh Tin san dan Say nyoo-hui yang menyaksikan adegan
itu menjadi amat gembira senyuman lebar tidak hentinya
menghiasi bibir mereka-
Benteng Wi-lim-poo memang luas sekali, mereka
berlayar hampir seperti minum teh lamanya sebelum
mencapai sebuah jalur air yang cukup lebar di depan pintu
benteng yang tinggi dan kokoh.
Waktu itu pintu benteng sudah terbentang lebar, aneka
lentera menghiasi seluruh bangunan benteng, ketika
terhembus angin bola-bola lentera itu bergoyang tiada henti-
nya.
Enam orang lelaki bercelana biru berbaju merah, berdiri
berjalan di atas loteng, di tangan masing-masing orang
tampak membawa terompet panjang yang dihiasi bendera
warna warni.
Begitu perahu naga berlayar memasuki lorong benteng,
serentak ke enam lelaki itu meniup terompetnya keras-
keras.
Menyusul kemudian suara tambur dan genderang
dibunyikan bertalu talu, mengiringi gerakan sang perahu
yang semakin cepat.
ooo0dw0ooo

BAB 8
DENGAN wajah serius pelan-pelan Oh Tin san bangkit
berdiri, kemudian didampingi Say nyoo-hui mereka
beranjak ke luar dari ruangan perahu.
Oh Li cu segera menarik tangan Lan See giok dan
menyusul di belakang ke dua orang tuanya.
http://kangzusi.com/
Biarpun Lan See giok tahu kalau semua yang
dipersiapkan oleh Oh Tin san termasuk bagian dari rencana
busuknya, tak urung hatinya merasa tegang juga setelah
menyaksikan kesemuanya itu terutama sekali suara tambur
yang dibunyikan bertalu talu, membikin hatinya semakin
tak tenang.
Berpaling ke belakang, keningnya segera berkerut
kencang, dia menyaksikan si kupu-kupu di tengah ombak Li
Ci cun yang berdiri di belakangnya sedang menyeringai
seram sambil melotot ke arahnya penuh kebencian.
Lan See giok sungguh tak habis mengerti, dia tak
mengerti apa sebabnya Li Ci cun menunjuk sikap yang
begitu tak bersahabat dengan dirinya.
Mendadak satu ingatan melintas lewat, ia lantas teringat
kembali dengan peringatan dari Oh Li cu, pikirnya:
"Waah, jangan-jangan sehabis upacara perkenalan nanti,
Li Ci cun akan menantangku untuk bertarung?"
"Aaah, mustahil." demikian pikirnya kemudian, "hal ini
tak masuk di akal, siapa yang berani merebut kedudukan
sau-pocu denganku-?"
Sementara dia masih melamun, perahu telah berlabuh di
sisi kanan pintu gerbang, menyusul kemudian beberapa
orang itu turun dari perahu dan menelusuri undak undakan
batu yang besar menuju ke bangunan loteng di atas benteng.
Sekarang Lan See giok baru berkesempatan untuk
melihat jelas lagi, dinding benteng itu luasnya mencapai
delapan depa, selain tebal dan panjang, nampaknya amat
kokoh.
Setibanya di atas loteng, beberapa orang itu langsung
menuju ke atas mimbar di depan loteng, di depan mimbar
http://kangzusi.com/
tersedia sebuah meja panjang beralas kain merah, mungkin
disitulah terletak mimbar kehormatan.
Dalam pada itu suara tambur telah berhenti, kecuali
suara ombak yang memecah di kaki benteng, sama sekali
tak kedengaran sedikit suarapun.
Lan See giok mengikuti di belakang Oh Tin san langsung
menuju ke atas mimbar kehormatan.
Sesampainya di depan meja kehormatan dan melongok
ke bawah, pemuda itu kontan merasakan matanya silau, ia
betul-betul dibuat terkejut sampai tertegun untuk se-saat.
Rupanya pada permukaan telaga di luar dinding benteng,
terlihat kapal perang berlabuh berderet deret, tiang perahu
yang menjulang angkasa dengan aneka bendera yang
berwarna warni, cahaya go1ok dan tameng yang
gemerlapan, menimbulkan suasana yang amat mengerikan
hati.
Biarpun begitu banyak perahu berderet-deret di sana,
ternyata suasana begitu hening dan sepi sehingga boleh
dibilang tak kedengaran sedikit suarapun.
Lan See-giok coba mengamati dengan lebih seksama,
ternyata perahu-perahu perang itu lebarnya beberapa kaki,
waktu itu sepanjang anjungan perahu berderet deret lelaki
kekar bergolok yang menyandang busur dan tameng.
Jumlah kapal perang itu mencapai ratusan buah, sedang
lelaki-lelaki kekar itu mencapai dua ribu orang lebih, namun
mereka semua berdiri dengan tenang, sedemikian
tenangnya sehingga tak kedengaran sedikit suarapun.
Kapal perang itu terdiri dari empat pasukan dengan
membentuk posisi empat persegi panjang, semuanya
berlabuh di atas permukaan telaga di muka benteng dengan
rapinya.
http://kangzusi.com/
Dengan cepat Lan See giok menjumpai kalau lambang
dari setiap pasukan tersebut berbeda beda, pakaian seragam
yang di kenakan masing-masing pasukan pun tidak sama
satu dengan lainnya.
Pada pasukan yang berada di sebelah kiri, pada ujung
perahunya terpancang sebuah panji bergambar kepala naga
yang sedang mementangkan cakar, anggotanya berseragam
warna hijau.
Pasukan kedua mempunyai lambang harimau terbang,
baju seragamnya kuning.
Pasukan ke tiga berlambang seekor singa baju
seragamnya abu-abu muda.
Sedangkan pasukan ke empat berlambang macan
kumbang hitam, semua anggotanya berseragam hitam.
Di ujung tiang bendera masing masing pasukan
terpancang bendera dari masing-masing regu.
Belum habis Lan See giok melihat, Oh Tin-san dan Say
nyoo-hui telah berdiri berjajar di depan panggung
kehormatan tersebut.
Menyusul kemudian dari arah belakang berkumandang
suara terompet yang di bunyikan nyaring.
Dua ribu orang lelaki kekar yang berada di sisi kapal
perang, serentak mengangkat tombak masing-masing sambil
bersorak sorai.
Dengan wajah serius dan pancaran sinar sesat dari balik
matanya, pelan-pelan Oh Tin-san mengangkat tangan
kanannya ke atas sambil memandang ke kiri dan kanan,
bunyi terompet segera berhenti, sorak sorai turut berhenti,
segenap lelaki kekar itu bersama sama menurunkan kembali
tombak masing-masing.
http://kangzusi.com/
Diam-diam Lan See-giok merasa terkejut menyaksikan
keadaan seperti ini, agaknya daya pengaruh dari Wi-lim-
poo memang tak boleh dipandang enteng.
Dengan suara nyaring pelan-pelan Oh Tin san berkata:
"Saudara sekalian, hari ini aku sengaja mengumpulkan
kalian semua di tempat ini karena aku ingin
memperkenalkan seorang warga baru dari benteng kita."
Lalu sambil menuding Lan See-giok yang berdiri di
sisinya, dia berkata lebih jauh:
"Dia adalah keturunan satu satunya dari Kim lui gin tan
(Gurdi emas peluru perak) Lan tayhiap yang sesungguhnya
adalah sahabat karibku, sejak hari ini dia Lan See-giok akan
menjadi sau pocu kalian, dan dia pula yang akan menjadi
satu satunya penerus kedudukanku ini."
Begitu perkataan tersebut selesai diutarakan, kembali
suara tempik sorak yang gegap gempita berkumandang
memecahkan keheningan.
Bersama itu pula, tombak di angkat ke atas hingga
berkilauan terpantul cahaya mentari, suasana betul-betul
mengerikan.
Menyaksikan kesemuanya itu, Lan See-giok merasakan
darah panas di dalam dadanya bergolak keras. tapi ia
berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaannya,
pelan-pelan dia melambaikan tangannya untuk menyambut
tempik sorak dari kawanan jago di ratusan perahu perang
tersebut.
Detik itu juga dia merasa semangatnya berkobar
kembali, timbul tekadnya untuk memanfaatkan kekuatan
yang ada untuk membalaskan dendam bagi kematian ayah-
nya, dia pun hendak menggunakan kekuatan tersebut untuk
http://kangzusi.com/
memunahkan perompak dan perampok yang seringkali
mengganggu kaum nelayan.
Sementara itu, Oh Tin san telah mengangkat tangannya
kembali, suasana segera menjadi hening kembali, suara
tempik sorak yang gegap gempita tadi kini menjadi sirap
sama sekali.
"Sekarang, aku hendak memperkenalkan setiap pasukan
kepada sau pocu kalian yang baru, nah harap masing-
masing pasukan memberi hormat kepada sau pocu."
Kemudian sambil berpaling ke arah pasukan kapal
perang pertama yang berlambang naga dia berseru:
"Pasukan naga sakti .."
Menyusul teriakan itu, segenap lelaki kekar yang berada
di atas kapal perang Naga sakti bersama sama mengangkat
tongkatnya sambil menengok ke arah loteng benteng.
Lan See giok segera mengangkat tangan kanannya dan
dilambai lambaikan ke arah pasukan tersebut
Oh Tin san beralih memandang ke arah pasukan kedua,
teriaknya pula:
"Pasukan harimau terbang."
Kembali semua anggota pasukan harimau terbang
mengangkat tombaknya sambil menengok ke arah benteng.
Sekarang Lan See giok baru menemukan bahwa di
dalam setiap pasukan, tentu terdapat sebuah kapal perang
yang berada di paling depan, di ujung geladak berdiri
seorang manusia yang mengenakan pakaian berwarna sama
namun berbeda bahannya. di belakang orang itu masih
berdiri pula beberapa orang lelaki kekar, mungkin itulah
komandan dari masing-masing pasukan.
http://kangzusi.com/
Menyusul kemudian Oh Tin san memperkenalkan
pasukan singa jantan dan pasukan macan kumbang hitam.
Sementara itu Say nyoo-hui, Oh Li cu serta Be congkoan
sekalian mendapat kesan kalau Lan See giok seakan akan
telah berubah jauh lebih matang hanya dalam sekejap saja,
seakan akan berubah menjadi seorang lelaki dewasa yang
berpengalaman.
Tampak pemuda itu berdiri tegap dengan mata berkilat .
. . dan senyuman menghiasi ujung bibirnya, dalam keadaan
demikian, ia kelihatan begitu gagah dan perkasa.
Menyaksikan ketampanan serta kegagahan anak muda
tersebut, tanpa terasa Oh Li cu tertawa serta merta dia
menyikut tubuh ibunya Say nyoo-hui.
Say nyoo-hui sendiri hanya termenung dengan wajah
serius, tampaknya dia sedang dibebani oleh suatu pemikiran
yang mendalam atau bisa jadi dia telah mengetahui asal
usul Lan See-giok yang sesungguhnya.
Kupu-kupu dibalik ombak Li Ci-cun mengawasi
kesemuanya ini dari belakang, ketika menyaksikan Lan See-
giok memperoleh kedudukan begitu tinggi tanpa bersusah
payah, tanpa sadar rasa bencinya terhadap pemuda itu
merasuk sampai ke tulang sum-sum.
Seandainya tiada kehadiran Lan See giok, sudah pasti ia
telah menjadi suami istri dengan Oh Li cu, apalagi Oh Tin
san dan Say nyoo-hui sudah lama menyetujui hubungan
mereka, ini berarti kedudukan sau pocu dari benteng Wi-
lim-poo tentu akan menjadi miliknya.
Tapi kini dari tengah jalan muncul seorang Lan See giok.
bukan saja Oh Li cu menjadi berubah hati, bahkan Oh Tin-
san mengumumkan di depan umum bahwa dia telah
http://kangzusi.com/
mengangkat Lan See giok sebagai ahli waris kedudukannya
sebagai seorang pocu.
Kini dia bukan hanya membenci Lan See giok dan Oh
Li-cu, bahkan terhadap Oh Tin-san pun menaruh perasaan
benci yang luar biasa.
Diliriknya sekejap ke empat manusia yang berada di
panggung kehormatan itu dengan penuh kebencian, lalu
sekulum senyuman yang menggidikkan hati menyungging
di ujung bibirnya, pikirnya kemudian:
"Bocah keparat she Lan, kau jangan keburu sombong
dulu. sebentar aku pasti akan membuatmu tergeletak di
tanah dengan bermandikan darah kental."
Sementara itu upacara perkenalan telah selesai, suasana
di seluruh arena masih tetap diliputi keheningan yang luar
biasa.
Tiba-tiba Oh Tin san berpaling dan memandang sekejap
ke arah Lan See giok kemudian dengan sikapnya yang
angkuh dan penuh rasa bangga ia berkata:
"Bocah bodoh, sampaikanlah beberapa pesan kepada
segenap saudara kita yang hadir di sini."
Sebetulnya Lan See giok tak ingin banyak urusan,
namun terdorong oleh ambisi di dalam hatinya, dia merasa
berkewajiban untuk menyampaikan beberapa patah kata.
Maka dia maju ke depan, menghimpun hawa murninya
dan memandang sekejap ke seluruh arena, kemudian
dengan kening berkernyit ujarnya dengan lantang.
"Saudara sekalian, setelah kusaksikan senjata kalian yang
bergemerlapan, barisan kalian yang rapat, kapal perang
yang perkasa serta semangat kalian yang berkobar, aku
http://kangzusi.com/
merasa benar-benar bangga dan gembira bisa berkumpul
dengan kalian semua."
Setelah berhenti sejenak dan sekali lagi memandang
sekejap wajah orang-orang itu, dia berkata lebih jauh:
"Wi-lim-poo bisa menjagoi telaga Huan yang oh,
menggetarkan sungai besar dan tersohor di seantero jagad,
semua keberhasilan ini sesungguhnya berkat kemampuan
dari toa pocu serta semangat saudara sekalian yang perkasa
dan berani mati, itu berarti semua kejayaan dari Wi-lim-poo
sesungguhnya adalah milik saudara sekalian . . ."
Belum habis perkataan itu diutarakan suara tempik sorak
yang gegap gempita telah berkumandang memecahkan
keheningan, tampaknya perkataan dari si anak muda
tersebut telah membangkitkan rasa gembira dari masing-
masing orang, sebab selama banyak tahun ini, belum
pernah mereka mendengar suatu nasehat dan anjuran yang
bersemangat seperti ini.
Melihat reaksi spontan dari semua anggota benteng, Lan
Se giok merasa terkejut, dia kuatir Oh Tin san iri sehingga
usahanya akan menemui kegagalan total, maka cepat-cepat
dia mengangkat tangannya untuk meredakan suasana.
Setelah suasana menjadi tenang kembali, Lan See-giok
berkata lebih jauh.
"Lo-pocu kita adalah seorang manusia yang cerdas dan
seorang angkatan tua yang berkedudukan tinggi, beliau
dihormati dan disanjung semua umat persilatan, bayangkan
saja kemajuan yang berhasil dicapai Wi-lim-poo kita
sekarang, tanpa pimpinan dari Lo pocu, kecerdasan otak
hujin dan bantuan perencanaan dari Be to-enghiong
sekalian bertiga, mana mungkin bisa mencapai keadaan
demikian?. Maka kuanjurkan kepada saudara sekalian agar
http://kangzusi.com/
lebih ketat menjaga peraturan benteng kita dan membangun
bersama kejayaan benteng kita.."
Sekali lagi tempik sorak yang gegap gempita
berkumandang memenuhi angkasa, bahkan sorak sorai
yang terdengar kali ini jauh lebih nyaring ketimbang tadi.
Tak terlukiskan rasa gembira Oh Tin san setelah
mendengar pujian dari Lan See giok itu, wajahnya segera
berseri-seri, dia merasa taruhan yang dilakukan kali ini pasti
akan menghasilkan kemenangan di pihaknya.
Menyusul kemudian Be Siong pak dan Thio-Wi-kang
datang memberi selamat kepada Oh Tin san dan Lan See
giok, sambil bersyukur karena pocu mereka berhasil
mendapatkan ahli waris yang baik.
Sebaliknya paras muka si kupu-kupu di balik ombak Li
Ci cun berubah menjadi pucat pasi seperti mayat, hatinya
gugup dan panik. dia tidak menyangka kalau Lan See giok
dengan usianya yang begitu muda ternyata sanggup
menarik simpatik dari segenap anggota benteng dengan
beberapa patah katanya.
Sadarlah dia sekarang bahwa kemampuan yang
dimilikinya masih jauh ketinggalan bila dibandingkan
dengan kemampuan Lan See giok, ini berarti dia tak akan
pernah bisa berebut kedudukan dengan pemuda tersebut.
Berpikir demikian, diapun mengikuti di belakang Be
congkoan den Thio-Wi-kang untuk menyampaikan selamat
kepada Oh Tin san, tapi dia tidak berkata apa-apa kepada
Lan See giok.
Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa yang jauh lebih licik ketimbang
Oh Tin san segera merasakan pula betapa cerdik dan
berbakatnya Lan See giok, bukannya merasa gembira, dia
justru merasa hatinya makin lama semakin berat.
http://kangzusi.com/
Namun ketika melihat kegembiraan yang dialami Oh Tin
san, maka diapun ikut tertawa lebar.
Oh Li cu yang merasa paling gembira, sambil bersandar
di sisi tubuh ibunya, sorot matanya yang berkilat tak pernah
bergeser dari tubuh Lan See giok, dalam anggapannya, Lan
See giok adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah,
seorang calon suami yang paling ideal baginya.
Dalam gembiranya, Oh Tin san segera menitahkan
kepada Be congkoan untuk menyiapkan pesta di ruang Kit
oh ting tengah hari nanti, semua komandan kapal perang
diundang untuk menghadiri pesta, sedangkan segenap
anggota lainnya dipersilahkan minum arak di tempat
masing-masing sepuasnya.
Kupu-kupu dibalik ombak Li Ci-cun yang sebenarnya
telah menyiapkan rencana busuk dengan menyuruh jikui
(setan kedua) dari Po - tiong - sam kui untuk menantang
Lan See giok sehabis upacara perkenalan ini menjadi
kecewa sekali, sebab dengan terjadinya perubahan tersebut
berarti semua rencananya akan mengalami kegagalan total
Tapi harapannya segera timbul kembali setelah
mendengar akan diselenggarakannya pesta tengah hari
nanti, suatu rencana keji kembali telah melintas di dalam
benaknya.
Ketika Oh Tin san sekalian sudah kembali ke dalam
rumah, Say nyoo-hui yang cukup memahami jalan
pemikiran putrinya segera, berkata kepada mereka berdua.
"Kalian berdua boleh kembali ke kamar, untuk
beristirahat!"
Oh Li cu menyambut seruan itu dengan penuh
kegirangan ia segera menarik tangan Lan See giok kembali
ke kamarnya.
http://kangzusi.com/
Sudah sedari tadi dia mesti menahan diri untuk
mengekang gejolak napsu birahinya, semenjak masih
berada di panggung kehormatan tadi dia sudah tak tahan
ingin memeluk Lan See giok, sebab dalam anggapannya,
kini Lan See giok sudah menjadi suaminya.
Lan See giok sendiri tetap bersikap wajar, seakan akan
tidak memahami jalan pemikiran orang, senyum manis
tetap menghiasi ujung bibirnya, padahal dalam hati
kecilnya dia merasa muak dan bosan, sebab gerak gerik dari
Say-nyoo-hui tadi telah menimbulkan perasaan was-was
bagi dirinya.
Dalam perjalanan masuk ke ruangan dalam, tiba-tiba ia
menyaksikan Li Ci cun sedang berdiri di luar pagar rumah
sambil mengawasi ke arahnya dengan pandangan penuh
kegusaran dan menggigit bibir menahan rasa dendam.
Melihat hal ini Len See-giok menjadi paham kembali apa
sebabnya Li Ci cun begitu membencinya, ternyata hal ini
disebabkan hubungannya yang terlampau mesra dengan Oh
Li cu.
Belum habis jalan pikiran tersebut melintasi lewat, tiba-
tiba pemuda itu merasa tubuhnya telah dipeluk erat-erat
oleh Oh Li cu, menyusul kemudian terdengar gadis itu
berseru dengan lembut:
"Ooh adikku, cici pingin sekali melalap kau si bocah
bodoh dan menelannya ke dalam perut."
Kemudian dia menghantar bibirnya yang merah merekah
itu ke depan dan mendaratkan beberapa kali ciuman mesra
ke wajah dan bibir Lan See-giok.
Lan See-giok benar-benar tidak menyangka Oh Li cu
akan bersikap begitu tak tahu malu, tapi dia pun tak berani
menolak ciuman tersebut terlalu kasar, apalagi bau harum
http://kangzusi.com/
yang begitu tebal sudah membikin kepalanya terasa pusing
tujuh keliling.
Mendadak . . .
Mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok,
rupanya dia telah menyaksikan munculnya sesosok
bayangan hitam dari belakang jendela sana.
Maka cepat-cepat dia mendorong tubuh Oh Li cu sambil
menuding ke arah jendela sebelah belakang . .
Waktu itu Oh Li cu sedang dipengaruhi oleh kobaran
napsu birahi, ia sedang terbuai dalam suasana yang begitu
hangat dan syahdu ketika tubuhnya didorong secara tiba-
tiba oleh pemuda tersebut.
Dengan cepat dia berpaling ke arah yang ditunjuk, apa
yang terlihat olehnya membuat gadis ini naik pitam, sambil
membentak keras, tangan kanannya segera diayunkan ke
depan melepaskan sebilah pisau terbang.
Serentetan cahaya tajam segera berkelebat lewat
menembusi jendela. . .
Bayangan manusia di luar jendela itu lenyap tak
berbekas, tapi kemudian terdengar seseorang membentak
secara kasar:
"Manusia rendah yang tak tahu malu, kau berani
memaksa menciumi nona. .? serahkan nyawa anjingmu."
Paras muka Oh Li cu kontan berubah menjadi merah
membara, hawa napsu membunuhnya dengan cepat
menyelimuti seluruh benaknya, sebuah pukulan dahsyat
dengan cepat meluncur ke depan menghajar jendela
belakang itu sehingga hancur lebur.
Bayangan manusia kembali berkelebat lewat, kali ini
menerobos ke luar dari jendela luar.
http://kangzusi.com/
Lan See giok yakin kalau orang yang bersembunyi di
belakang jendela tadi pasti adalah si kupu-kupu di balik
ombak Li Ci cun, tapi oleh sebab dia kuatir Oh Li cu
mendapat celaka, buru-buru dia menutul permukaan tanah
dan secepat kilat berkelebat ke depan menyusul di belakang
gadis tersebut.
Tiba di tempat kejadian, pemuda itu melongo, ternyata
Oh Li cu dengan muka hijau membesi, alis mata berkernyit
dan pedang terhunus sedang berhadapan dengan seorang
lelaki berbaju ungu, di sekitar sana sama sekali tidak
nampak bayangan tubuh dari Li Ci cun.
Lelaki berbaju ungu itu memiliki perawakan tubuh yang
kekar, alis mata yang tebal, mata yang bulat penuh
bercambang tapi berwajah pucat, matanya penuh diliputi
sinar kaget dan melihat tanpa berkedip dia mengawasi
ujung pedang Oh Li cu, sementara tubuhnya selangkah
demi selangkah mundur terus.
Sementara itu di ruang depan telah berdatangan dua tiga
puluhan sampan kecil yang mengangkut para komandan
pasukan yang datang mengikuti perjamuan, malah ada yang
sudah naik ke atas punggung mimbar.
Oh Li cu berdiri dengan hawa napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya, ia sama sekali tidak
berpaling ke arah para komandan pasukan yang sementara
itu berdatangan dengan penuh tanda tanya. sorot matanya
mengawasi lelaki itu lekat-lekat, kemudian dengan nada
penuh kebencian pelan-pelan ia berkata:
"Say-li-kui (setan ikan leihi) siapa yang memerintahkan
kau mengintip kami? Ayo cepat menjawab dengan
sejujurnya. Aku yakin kalau kau sendiri tak akan
mempunyai keberanian sebesar ini. Hmm! Jika kau enggan
http://kangzusi.com/
menjawab, jangan salahkan kalau ketajaman pedang
nonamu akan membacok tubuhmu menjadi dua bagian”.
Si setan ikan leihi sangat gugup dan ketakutan, sekujur
badannya gemetar keras, sementara butiran keringat sebesar
kacang kedelai jatuh bercucuran dengan amat derasnya,
sambil mundur berulang kali rengeknya ketakutan.
"Nona. ti. tidak ada yang memberi perintah. hamba-
hamba tidak sengaja ..tidak sengaja. tidak sengaja lewat di
depan jendela.."
Oh Li cu semakin naik darah, di dalam anggapannya si
setan ikan leihi ini tak mau mengaku, kembali hardiknya:
"Tutup mulut. . . . bila kau tetap membungkam, nona
akan membuat tubuh mu tercincang di tempat ini juga!"
Setan ikan leihi semakin ketakutan, bibirnya sudah
bergetar pucat, hatinya mulai goyah.
Sementara itu, para komandan yang ikut dalam
perjamuan telah berdatangan semua, hampir seluruhnya
berkerumun di sekitar sana dan mengawasi Oh Li cu serta
setan ikan leihi dengan pandangan kaget bercampur
keheranan.
Menyusul kemudian Be Siong pak dan Thio-Wi-kang
berdatangan pula, walaupun kedua orang ini tidak mengerti
masalah apakah yang telah terjadi, namun tak seorangpun
berani membuka suara.
Oh Li cu sudah merasa kalau setan ikan leihi mulai
goyah, hatinya dan bersedia mengaku, maka dengan
memperhalus suara nya ia berkata.
"Katakan saja, asal kau bersedia mengaku, nona tak akan
membunuhmu”
http://kangzusi.com/
Mendadak pada saat itulah dari kejauhan sana terdengar
seseorang berseru keras:
"Lo pocu dan hujin tiba”
Dengan bergemanya suara itu, serentak suasana di
sekeliling tempat itu berubah menjadi hening, sepi dan amat
serius.
Lan See giok berpaling, ia lihat Oh Tin san bersama Say
nyoo-hui datang bersama, wajah Oh Tin san yang kurus
memanjang diliputi hawa dingin dan kelicikan yang tebal.
Dengan mata sesatnya Oh Tin san menyapu sekejap
sekeliling tempat itu, lalu kepada Oh Li cu ia bertanya:
"Anak Cu, apa yang terjadi?"
Dengan wajah merah bercampur hijau membesi, Oh Li
cu memandang ke arah Setan ikan leihi dengan pedangnya.
lalu berseru penuh amarah:
"Ia berani mengintip dari belakang jendela!"
Oh Tin san berkerut kening lalu manggut, sorot mata
sesatnya memandang sekejap ke wajah setan ikan leihi,
kemudian sekulum senyuman menyeringai menghiasi ujung
bibirnya.
Si Setan ikan leihi segera sadar kalau bencana besar telah
berada di depan mata, dengan penuh ketakutan buru-buru
dia membela:
"La. lapor lo .. lo pocu.. hamba-hamba hanya tanpa
sengaja melihat sau pocu mencium nona dengan paksa. . . .
."
Begitu ucapan tersebut diutarakan, sorot mata semua
orang yang hadir bersama sama dialihkan ke wajah Lan See
giok.
http://kangzusi.com/
Bisa dibayangkan betapa gusarnya Lan See giok,
keningnya segera berkerut, matanya berkilat kilat dan
sekujur tubuhnya gemetar keras, ia merasa percuma saja
banyak membantah dalam suasana begini. Oh Li cu
sendiripun nampak sangat marah dengan wajah merah
membara dia membentak nyaring lalu menusuk tubuh lelaki
itu.
Biarpun dalam keadaan kaget bercampur ketakutan, ilmu
silat yang dimiliki setan ikan leihi memang cukup tangguh,
dia segera mengigos ke samping.
Begitu tusukan pedang dari Oh Li cu mengenai sasaran
kosong, ia segera mundur dengan gugup, matanya
terbelalak lebar dan menengok kesana kemari dengan
terkejut, seakan akan sedang mencari seseorang.
Pada saat itulah-
"Anak Cu, tunggu sebentar" Oh Tin san berseru dengan
suara dalam.
Berada di depan umum, tentu saja Oh Li cu tak berani
membangkang perintah ayah-nya, ia segera menarik
kembali pedangnya sambil mundur setelah mendengar
perkataan itu, cuma bibirnya yang semula merah kini telah
berubah menjadi pucat.
Suasana menjadi amat hening dan sepi, wajah semua
orang diliputi ketegangan, bahkan banyak di antara mereka
yang menyadari bahwa selembar nyawa si setan ikan leihi
tak akan bisa melewati hari ini.
Oh Tin san memandang ke arah setan ikan leihi sambil
tertawa dingin, seperti lagi berbicara terhadap dia seorang,
seperti juga lagi berbicara terhadap para hadirin di situ,
ujarnya dengan suara dingin:
http://kangzusi.com/
"Lan See giok adalah sau pocu, dia merupakan ahli waris
dari benteng kita, ia adalah keponakanku, juga menantuku,
soal cium mencium bagi mereka adalah urusan pribadi
antara suami istri, soal tersebut tak ada sangkut pautnya
dengan siapa saja. . . . ."
Lan See giok tertegun, dia tidak menyangka kalau si
manusia bertelinga tunggal Oh Tin san bakal
mengumumkan di depan umum kalau dia adalah calon
suami Oh Li cu.
Sementara itu Oh Li cu yang semula berdiri dengan
wajah hijau membesi, sekarang berubah menjadi merah
dadu dan tersenyum simpul, diam-diam ia mengerling
sekejap ke arah Lan See giok.
Ketika selesai berbicara, Oh Tin san kembali
memandang sekejap seluruh arena dengan pandangan sesat,
lalu teriaknya keras-keras:
"Di mana pengawas Li?"
"Hamba di sini!" diantara kerumunan orang banyak,
kedengaran Li Ci cun menjawab dengan suara gemetar.
Lan See giok terkejut, cepat ia berpaling ternyata Li Ci
cun munculkan diri dari kerumunan orang banyak orang
tak jauh di belakang tubuhnya dan sebelum ini ternyata ia
tak melihat kehadiran orang tersebut.
Li Ci cun munculkan diri dengan wajah hijau membesi.
alis matanya yang tebal berkernyit, matanya yang kecil
memancarkan sinar buas yang berapi api, setelah muncul
dari kelompok manusia, ia melirik sekejap ke arah Lan See
giok dengan penuh kebencian, kemudian baru meneruskan
perjalanan-nya ke depan Oh Tin san.
http://kangzusi.com/
Oh Tin san memandang ke arah Li Ci cun lalu sambil
menuding ke arah Setan ikan leihi, serunya dengan suara
dalam:
"Binasakan dia!"
Li Ci cun seperti tertegun sesudah mendengar perintah
itu, sedangkan si ikan leihi semakin amat ketakutan sampai
wajahnya turut berubah menjadi pucat pias.
Mendadak-
Sambil menggertak gigi Li Ci cun menjejakkan kakinya
ke tanah, kemudian dengan gaya tubrukan yang buas dan
nekad ia terjang tubuh Lan See-giok.
Kejadian ini sama sekali di luar dugaan semua orang,
kontan saja suasana menjadi gempar.
Oh Li cu membelalakkan pula matanya lebar-lebar,
mulutnya melongo, saking terkejutnya ia sampai termangu.
Dalam pada itu Li Ci cun sudah tiba di hadapan Lan See
giok, sambil membentak sebuah bacokan maut langsung
dilontarkan olehnya ke wajah Lan See giok.
Selama ini pandangan mata Lan See giok tak pernah
beralih dari tubuh Li Ci cun sejak musuh menerjang tiba. ia
telah mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya.
Begitu musuh datang, ia melejit ke samping dan mundur
sejauh satu kaki lebih.
Kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun merasakan
pandangan matanya menjadi silau, tahu-tahu ayunan
telapak tangan kanannya telah mengenai sasaran kosong,
agaknya dia tidak menyangka kalau serangannya bakal
menemui kegagalan.
"Tahan .." mendadak Oh Tin san membentak nyaring.
http://kangzusi.com/
Sejak si kupu-kupu ditengah ombak Li Ci cun
mendengar Oh Tin san mengumumkan kepada umum
bahwa Lan See giok adalah calon suami Oh Li cu, ia telah
bertekad untuk beradu jiwa.
Karena itu, sekalipun dia segera menghentikan gerak
serangannya setelah mendengar bentakan tadi namun
orangnya masih tetap berdiri garang di sana, berdiri sambil
melototi Lan See giok dengan penuh kegusaran. .
Lan See giok sendiri berdiri ditengah arena dengan
senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya, ia memandang
sinis ke arah musuhnya tersebut.
Berbicara yang sebenarnya, Oh Tin san tahu dengan jelas
sebab musabab yang mengakibatkan Li Ci cun bersikap
demikian, tapi ia toh menegur juga dengan suara dalam:
"Li Ci cun, mau apa kau?"
"Aku hendak menantang keparat she Lan itu untuk
berduel. . ." jawab kupu-kupu di tengah ombak dengan
kalap.
Say nyoo-hui yang selama ini membungkam dalam
seribu bahasa tiba-tiba memutar biji matanya, kemudian
menyela.
"Bila kau sanggup mengungguli Lan See giok, aku akan
mengambilkan keputusan bagi anak Cu untuk dijodohkan
denganmu!"
Oh Li cu gusar sekali setelah mendengar perkataan itu,
berkilat sepasang matanya, dengan marah ia berkata:
"Tidak susah bila kau ingin kawin denganku. tapi
menangkan dulu pedang mestika di tanganku ini".
http://kangzusi.com/
Seraya berkata pedangnya segera diayunkan ke tengah
udara, di bawah cahaya matahari siang, terbias sekilas
bayangan tajam yang berkilauan.
Lan See giok hanya berdiri sambil tertawa sinis selama
ini, sedang dalam hatinya:
"Dasar sesarang manusia-manusia yang tak tahu malu."
"Baiklah. . ." tiba-tiba terdengar Oh Tin san berkata
sambil tertawa dingin, "kalau Lan See giok tidak diberi
kesempatan untuk memperlihatkan kelihaiannya kalian
memang selalu tak mau takluk.!"
Berbicara sampai di situ, dia menengok ke arah Li Ci cun
sembari bertanya:
"Kau ingin bertarung dalam tangan kosong atau ingin
beradu senjata tajam?"
Kupu-kupu di tengah ombak Li Ci cun tahu bahwa ilmu
silat Lan See giok cukup tangguh terutama dalam ilmu
gurdi emas yang tiada tandingannya, karena itu dia tak
berani beradu senjata tajam melainkan berharap bisa
mencari kemenangan dengan andalkan tangan kosong,
ditambah pula Say nyoo-hui telah mengutarakan dihadapan
umum. bila ia sanggup mengungguli Lan See giok, maka
Oh Li cu akan dikawinkan dengannya. Itulah sebabnya
sesudah ragu sejenak, dengan wajah hijau membesi tapi
bersikap hormat dia menyahut:
"Dalam suatu pertarungan, senjata tak bermata, hamba
bersedia mempergunakan sepasang tangan kosong untuk
mencoba berapa ampuh dari Lan See giok!"
Mendengar jawaban tersebut, sekulum senyuman
menyeringai segera menghiasi ujung bibir Oh Tin san,
katanya kemudian sambil manggut-manggut.
http://kangzusi.com/
"Baiklah, harap kau suka berhati hati"
Selesai berkata, ia bersama Say nyoo-hui segera mundur
beberapa langkah.
Para komandan pasukan yang semula mengitari tempat
tersebutpun serentak mengundurkan diri.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Oh Li cu,
menggunakan kesempatan tersebut dia mengundurkan diri
dan secara diam-diam mendekati si setan ikan leihi dari
arah lain.
Dalam pada itu Li Ci cun telah mengepal tinjunya sambil
maju dengan dada dibusungkan, ia berjalan ke hadapan Lan
See giok dan berhenti enam tujuh langkah di hadapannya,
setelah menjura, katanya dengan angkuh:
"Sudah lama kudengar ilmu silat yang di miliki Lan
Khong-tay sangat hebat dan namanya termasyhur dalam
dunia persi1atan, lama sudah kukagumi namanya hanya
sayang selama ini belum ada jodoh untuk menjumpainya.
Lan siauhiap, kini masih muda lagi berbakat, aku yakin kau
telah mewarisi kepandaian ayahmu. Mumpung hari ini ada
kesempatan, ingin sekali kumanfaatkannya untuk minta
berapa petunjuk ilmu sakti dari siauhiap."
Sementara berbicara dengan mata berkilat dia
mengamati Lan See giok tiada hentinya, sikapnya begitu
jumawa sehingga memuakkan.
Lan See giok merasa sikap maupun gerak gerik Li Ci can
tak ubahnya seperti kalangan si1at kampungan, sejak tadi ia
sudah habis kesabarannya, maka sambil tertawa dingin
katanya:
"Kalau ingin beradu silat, lebih baik beradu secepatnya,
buat apa banyak ngebacot yang tidak-tidak!"
http://kangzusi.com/
Li Ci cun yang sudah marah semakin naik darah lagi
setelah melihat cara Lan See giok berdiri, seakan akan
pemuda tersebut sama sekali tidak memandang sebelah
matapun terhadap dirinya.
Begitu selesai mendengarkan perkataan Lan See giok,
dengan amarah yang meledak ledak ia membentak keras
kemudian menerjang ke muka, tangan kirinya diayunkan ke
muka mendorong tubuh musuh, sementara tangan
kanannya membacok wajah Lan See giok.
Lan See giok sendiripun cukup sadar, seandainya dia tak
mampu mengalahkan Li Ci cun, jangan harap dia bisa
angkat kepala di dalam benteng Wi-lim-poo, dihati kecilnya
dia telah mengambil keputusan untuk menyambut serangan
lawan dengan kekerasan.
Dengan senyuman hambar menghiasi ujung bibirnya
secara diam-diam ia menghimpun hawa murninya, ketika
musuh melancarkan bacokan, tiba-tiba kaki kanannya
mundur setengah langkah, kemudian sambil miringkan
badan ia menangkis dengan le-ngan kirinya
"Cari mampus.." umpat Li Ci cun dengan gusar.
Telapak tangan kanannya yang melepaskan bacokan,
segera ditambahi lagi dengan tenaga sebesar dua bagian. Ia
bertekad akan mematahkan lengan kiri Lan See giok
tersebut.
"Blaammm!"
Ditengah benturan nyaring, suara dengusan tertahan
bergema memecahkan kebisingan, dengan alis berkernyit
dan menggigit bibirnya kencang. secara beruntun dia
mundur sampai sejauh empat langkah lebih.
Tempik sorak segera bergema memenuhi seluruh arena
pertarungan . . .
http://kangzusi.com/
Sepasang bahu Lan See giok bergetar keras, diam-diam
ia menggertak gigi menahan diri, meskipun lengan kirinya
amat sakit bagaikan disayat pisau, namun sepasang kakinya
sama sekali tidak bergerak mundur barang setengah
langkahpun.
Li Ci cun memegangi pergelangan tangan kanannya
yang kesakitan sambil menyeringai, rasa malu bercampur
gusar membuat wajahnya berubah menjadi merah padam,
dengan sepasang mata yang melotot besar bagaikan gundu.
dia pelototi wajah Lan See giok penuh kebuasan, sedang
pernapasannya diatur secara diam-diam.
Dalam pada itu, para komandan pasukan yang
berkumpul di situ diam-diam pada berbisik membicarakan
persoalan tersebut, sedang sorot mata yang tertuju kearah
Lan See giok pun penuh dengan pancaran sinar
kekaguman, hampir semuanya tercengang oleh kelihaian
anak muda tersebut.
Dalam pada itu, disaat perhatian semua orang sedang
terpusat pada pertarungan antara Lan See giok melawan Li
Ci cun, ujung pedang Oh Li cu secara diam-diam telah
ditempelkan di belakang pinggang setan ikan leihi.
Dengan cepat setan ikan leihi dapat merasakan hal
tersebut, dengan cepat ia berpaling, tapi apa yang kemudian
terlihat membuat ia merasa terkejut sekali, sukma serasa
melayang meninggalkan raganya . . .
Oh Li cu dengan kening berkerut dan mata melotot,
sekulum senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya dan
wajah diliputi hawa napsu membunuh telah berdiri tegak di
belakangnya.
Tak terlukiskan rasa kaget setan ikan leihi setelah
menyaksikan kejadian tersebut, peluh dingin bercucuran
deras. setengah merengek katanya:
http://kangzusi.com/
"Oooh nona, ampunilah hambamu!"
Dengan diutarakannya rengekan tersebut, para
komandan pasukan yang berada di sekitar sana segera
berpaling dan memandang ke arah mereka dengan
pandangan terkejut.
"Siapa? Siapa yang memerintahkan kepadamu untuk
melakukan pengintipan?" bentak Oh Li cu segera dengan
suara dalam.
Setan ikan leihi merasa jiwanya jauh lebih berharga
daripada masalah lain, dia sadar enggan berbicarapun tak
ada gunanya, maka dengan suara gemetar sahutnya.
"Li..Li Ci cun yang memerintahkan aku!" Oh Li cu
memang sengaja berbuat demikian agar orang tuanya turut
mendengar, sengaja ia mempertinggi suaranya sambil
membentak keras.
"Siapa? Katakan dengan lantang!"
Sambil berkata pedangnya ditekan lebih ke depan hingga
masuk ke tubuh setan ikan leihi sedalam berapa inci, darah
segar segera bercucuran ke luar dengan amat derasnya.
Sementara itu, Oh Tin san, Say nyoo-hui, Be congkoan
dan Thio-Wi-kang serta segenap komandan yang berada di
sekitar sana telah mengalihkan pandangan mereka ke arah
kedua orang tersebut.
Lan See giok merasa perbuatan yang dilakukan Oh Li cu
itu sesungguhnya kelewat batas, karenanya dia melirik
sekejap kearah nya dengan wajah muak, tapi tiada orang
yang tahu dengan pasti sikap muak tadi sebenarnya tertuju
untuk Oh Li cu ataukah terhadap lelaki berbaju ungu itu.
Li Ci cun berpaling, melihat apa yang terjadi wajahnya
segera berubah hebat peluh dingin segera bercucuran saking
http://kangzusi.com/
kagetnya. dia tahu asal setan ikan leihi mengatakan hal
yang sebenarnya, Oh Tin san pasti akan mencabut jiwanya
seketika itu juga.
Kebetulan sekali disaat Li Ci cun berpaling tadi si setan
ikan leihi sedang menuding ke arahnya dengan tangan
gemetar.
Kupu-kupu di tengah ombak Li ci cun segera mengerti
bahwa riwayatnya sudah habis. Dalam keadaan demikian
timbullah niat jahatnya, mendadak ia membalikkan badan
secepat kilat, lalu sepasang telapak tangannya didorong ke
muka sepenuh tenaga-
Segulung angin pukulan yang sangat keras dengan
membawa debu yang sangat tebal segera menyambar ke
arah Lan See giok.
Tindakan ini boleh dibilang sangat licik dan rendah,
kontan saja para komandan pasukan yang berada di seputar
arena berteriak teriak marah.
Oh Li cu menjerit lengking. saking kagetnya dia
sendiripun turut, berdiri bodoh
Pada saat itulah-
Lan See giok berkerut kening, kemudian sambil
membentak keras ia kerahkan tenaga dalamnya sebesar
sepuluh bagian ke telapak tangan kanan, kemudian dengan
sepenuh tenaga, diayunkan ke depan.
Segulung angin puyuh yang sangat kuat langsung
menggulung ke depan dan menyongsong datangnya angin
pukulan dari Li Ci cun.
"Blaammm!"
Benturan keras menggelegar di angkasa, debu dan pasir
segera menyambar ke mana-mana.
http://kangzusi.com/
Paras muka Li Ci cu berubah menjadi hijau membesi,
keningnya berkerut kencang, dengan sempoyongan ia
mundur sampai berulang kali . .
Paras muka Lan See-giok sendiripun berubah menjadi
pucat pias. tubuhnya bergetar keras, tapi sambil menggertak
gigi dia berusaha keras agar tubuhnya tidak sampai mundur
barang setengah langkah pun.
Segenap komandan pasukan yang berada di arena sama-
sama tertegun saking kagetnya:
Be congkoan, Thio-Wi-kang semuanya gemetaran
karena terperanjat, dalam anggapan mereka semula, Lan
See-giok pasti akan terhajar hingga terluka parah, siapa
sangka Li Ci cun sendiri yang dibikin sampai mengenaskan
keadaannya.
Oh Tin san berdiri dengan wajah dingin sinis dan
pandangan tajam, sekali lagi ia teringat kembali akan pil
hitam yang dicekokkan ke dalam perut Lan See giok, dia
tak habis mengerti mengapa pilnya malahan menambah
tenaga dalam anak muda itu hingga peroleh kemajuan yang
begitu pesat.
Say nyoo-hui sendiripun berkerut kening, tanpa terasa
dia melirik sekejap ke arah Oh Tin san, seakan akan dia
sedang berkata be-gini:
"Darimana datangnya tenaga dalam yang begitu
sempurna dari bocah keparat ini?"
"Blaammm!"
Akhirnya Li Ci cun tak sanggup berdiri tegak lagi, ia
terperosok dan jatuh terduduk di atas tanah.
Pada mulanya, Oh Li cu dibikin tertegun karena
sergapan dari Li Ci cun tersebut menyusul kemudian ia
http://kangzusi.com/
berdiri termangu oleh tenaga pukulan Lan See giok yang -
maha dahsyat, sampai Li Ci cun jatuh terduduk, ia baru
mendusin kembali dari rasa kagetnya.
Sewaktu menundukkan kepalanya, kebetulan ia saksikan
Li Ci cun terduduk dihadapannya, hal ini segera
membangkitkan hawa napsu membunuhnya.
Suatu bentakan keras tiba-tiba menggelegar, pedangnya
memancarkan sinar pelangi berwarna keperak perakan dan
sekuat tenaga dibacokkan ke tubuh Li Ci cun yang sedang
terduduk sambil terengah engah di hadapannya.
Dimana cahaya perak berkelebat lewat, jeritan ngeri yang
memilukan hati segera bergema memecahkan keheningan.
Tubuh Li Ci cun sejak dari bahunya sampai ke arah iga
telah terbabat menjadi dua bagian, percikan darah segar
bersama isi perut berhamburan ke mana-mana, seketika itu
juga ia tewas.
Peristiwa ini terjadi sangat tiba - tiba, lagi pula jarak
mereka amat dekat, menanti Oh Tin San dan Say nyoo-hui
mengetahui kejadian tersebut dan ingin menghalanginya,
keadaan sudah tidak mengijinkan . . . .
Segenap komandan pasukan yang berke-rumun di
sekeliling arena menjadi pucat pias seperti mayat, semuanya
membungkam dalam seribu bahasa..
Be Siong pak maupun Thio-Wi-kang turut merasa amat
terkejut, dengan pandangan kaku mereka hanya bisa
memandang tubuh Li Ci -cun yang terkapar di atas
genangan darah dengan mulut tertutup rapat-rapat.
Lan See giok sendiripun turut berdiri bodoh, ia
memandang kearah Oh Li cu dengan wajah kaget
bercampur tercengang, sekarang ia baru tahu, rupanya gadis
http://kangzusi.com/
ini selain jalang dan cabul. hatinya kejam dan jauh lebih
jahat daripada kalajengking.
Atas terjadinya peristiwa ini, ia segera meningkatkan
kewaspadaannya terhadap perempuan itu, dia tahu bila
dirinya masih berada dalam benteng Wi-lim-poo, lebih baik
jangan mencoba-coba untuk mengusik Oh Li cu.
Pada saat itulah kembali terdengar jeritan kaget bergema
memecahkan keheningan.
Ketika Lan See giok mendongakkan kepalanya, ia
saksikan si setan ikan leihi sedang berlarian seperti orang
kalap, ia mendesak desak orang yang berkerumun di sekitar
sana dan melarikan diri ke arah saluran air sungai.
Oh Li cu sangat gusar melihat hal ini, sambil membentak
nyaring ia mengejar dari belakangnya.
Para komandan pasukan yang berkerumun di sekitar
sana kontan saja pada bubar, mereka berlarian
mengundurkan diri sambil berseru kaget.
"Byuuur. . .!" percikan bunga air memancar ke mana-
mana, si setan ikan leihi tahu-tahu sudah terjun ke dalam
air dan menyelam ke dasarnya.
Ou Li cu tidak berpeluk tangan dengan begitu saja, dia
mengejar sampai di tepi sungai lalu sambil mengangkat
pedangnya, dia menangkap bayangan tubuh si setan ikan
leihi yang menyelam dalam air serta siap untuk
menimpuknya.
"Anak Cu, biarkan dia pergi!" bentak Oh Tin San tiba-
tiba.
Sebenarnya Oh Li cu hendak mengatakan "tidak" tapi
berhubung si setan ikan leihi sudah berenang entah ke mana
http://kangzusi.com/
terpaksa dia menarik kembali senjatanya dan berjalan
menuju ke depan ibunya.
Oh Tin san memandang sekejap para komandan pasukan
yang masih berdiri dengan wajah kaget bercampur ngeri,
lalu kepada Be Siong pak katanya.
"Be congkoan, apakah perjamuan telah disiapkan?"
"Lapor lo-pocu, perjamuan telah siap silahkan masuk ke
dalam ruangan."
"Baiklah, kita segera mulai dengan perjamuan!" Oh Tin
san manggut-manggut.
Be Siong pak segera mendongakkan kepalanya dan
memandang sekejap ke wajah semua orang, lalu serunya
dengan lantang:
"Silahkan saudara semua menempati meja perjamuan
masing-masing. . . ."
Dengan suasana yang hening para komandan pasukan
memasuki ruangan serta menempati kursi masing-masing.
Kembali Oh Tin san berkata kepada Thio-Wi-kang:
"Thio-Wi-kang, kirim orang untuk membersihkan
jenazah tersebut dari situ!"
Thio-Wi-kang mengiakan dengan hormat dan buru-buru
berlalu dari sana.
Sementara Lan See giok sendiri mengikuti di belakang
Oh Tin san dengan mulut membungkam, mereka langsung
menuju ke ruang tengah.
Dalam perjalanan itu dia sempat melirik sekejap ke arah
Oh Li cu yang berjalan di samping Say nyoo-hui, ternyata
gadis itu tetap tenang, wajahnya berseri, seakan akan
http://kangzusi.com/
terhadap peristiwa berdarah, yang baru saja dilakukannya
itu sudah lupa.
Oh Tin san sendiri sama sekali tidak menegur
perbuatannya, Say nyoo-hui juga tidak mengumpat
kekejamannya, seakan akan mereka semua beranggapan
bahwa membunuh orang adalah suatu kejadian yang sangat
wajar.
Sementara masih berpikir, mereka telah memasuki
ruangan tengah, sementara para komandan pasukan juga
telah menempati tempat masing-masing, semuanya terdiri
dari puluhan meja perjamuan.
Ketika Oh Tin san dan Lan See giok berlima masuk ke
dalam ruangan, serentak para komandan pasukan bangkit
berdiri sambil hormat.
Walaupun senyuman menghiasi wajah setiap orang, tapi
jelas terlihat kalau senyuman itu terlalu dipaksakan.
Pada meja bagian tengah, duduk empat orang lelaki
kekar berbaju ringkas warna hijau, kuning, abu-abu dan
hitam, usianya rata-rata tiga puluh delapan sembilan
tahunan.
Lan See giok tahu ke empat orang tersebut pastilah
komandan dari ke empat pasukan kapal perang.
Setelah melangkah masuk ke dalam ruangan, Oh Tin san
memandang seluruh penjuru ruangan dengan mata berkilat
dan tersenyum, tangan kanannya yang kurus diulapkan
beberapa kali, suasana dalam ruangan segera menjadi
hening kembali.
Say nyoo-hui duduk pada kursi ke dua, Oh Li cu berdiri
di sini Lan See-giok sedang Be congkoan berdiri di sisi kiri
Oh Tin san, di depan mereka adalah ke empat komandan
pasukan kapal perang.
http://kangzusi.com/
Pertama-tama Oh Tin san menyilahkan semua orang
duduk kembali, kemudian baru memperkenalkan Lan See
giok kepada para hadirin.
Diluar wajahnya Lan See giok tetap bersikap tenang dan
tersenyum, padahal dalam hati kecilnya merasa amat
mendongkol.
Dia tidak berhasrat untuk mengingat ingat wajah serta
nama dari ke empat komandan kapal perang itu, dia hanya
mengingat baik-baik komandan pasukan naga adalah
komandan Ciang, komandan pasukan harimau dari marga
Ong, komandan pasukan Singa jantan dari marga Seng
sedang komandan pasukan macan kumbang dari marga
Nyoo.
Selesai upacara perkenalan, Thio-Wi-kang juga telah tiba
kembali, ia duduk di sisi Be congkoan tanpa mengucapkan
sepatah katapun.
Tak lama kemudian perjamuanpun dimulai, arakpun
dibagi bagikan secara berlimpah.
Tak lama kemudian, berbondong bondong para
komandan pasukan berdatangan untuk menghormati Oh
Tin san serta Lan See- giok dengan secawan arak.
Pada dasarnya takaran minum arak dari Lan See giok
memang terbatas, ditambah pula hatinya lagi risau dan
resah, tak lama kemudian ia sudah berada dalam keadaan
setengah mabuk.
Oh Li cu yang menjumpai begitu banyak komandan
datang menghormati Lan See giok dengan secawan arak,
hatinya merasa girang bercampur gelisah, tanpa terasa dia
meneguk beberapa cawan lebih banyak . .
Perjamuan makin lama berlangsung makin ramai, guci
arak pun satu demi satu di gotong naik.
http://kangzusi.com/
Biarpun Lan See giok sudah mabuk, tapi dia berusaha
keras untuk tetap mempertahankan diri sebab perjamuan itu
diselenggarakan baginya, tentu saja ia tak boleh
mengundurkan diri di tengah jalan . . .
Oh Li cu dapat melihat kalau Lan See -giok sudah
setengah mabuk, sedang dia sendiri pun mulai sadar
merasakan kepalanya pening, maka berulang kali dia minta
ijin kepada Say nyoo-hui untuk mengundurkan diri, tapi
keinginannya selalu ditampik oleh Lan See giok.
Akhirnya perjamuan pun berakhir Lan See giok
mengikuti di belakang Oh Tin San suami istri menumpang
perahu naga emas untuk kembali ke rumah.
Walaupun Oh Li cu sendiripun sedikit terpengaruh oleh
arak, tapi ia masih berusaha keras untuk menjaga Lan See
giok, mereka berdua duduk di kursi dan gadis tersebut
membiarkan Lan See giok berbaring di dalam pelukannya.
Say nyoo-hui yang menyaksikan hal tersebut segera
mengerling sekejap ke arah Oh Tin San, seolah-olah ia
sedang berkata begini:
"Hei rase tua, lihat sekarang, putri kesayanganmu sudah
betul-betul terpikat oleh bocah tersebut."
Sebaliknya Oh Tin San tertawa hambar, wajahnya
kelihatan agak bangga, pikirnya pula dalam hati:
"Asal kotak kecil itu berhasil kudapatkan dan aku
berhasil pula menguasai ilmu yang tercantum dalam kitab
Tay lo hud bun cinkeng, apa artinya mengorbankan seorang
putri?"
Lan See giok benar-benar mabuk ketika itu, berbaring
dalam pelukan Oh Li cu dengan lemas, sementara
kepalanya persis berbaring di atas sepasang payudara yang
http://kangzusi.com/
montok dan padat berisi, rasa hangat dan empuk membuat
ia semakin terbuai. . .
Perahu menentang ombak, angin silir semilir berhembus
lembut ditengah dentingan bunyi lonceng yang merdu,
akhir nya Lan See giok tertidur nyenyak.
Entah berapa lama sudah lewat. . .
Tiba-tiba saja ia tersadar kembali dari tidurnya karena
mendengar suara pembicaraan seseorang yang keras.
"Anak Cu, apakah adik Giok mu belum sadar dari
mabuknya?"
"Belum!" terdengar Oh Li cu menjawab dengan suara
lirih, "tapi aku telah mencekoki kuah Liam sim-tong
kepadanya."
Kemudian terdengar Say nyoo-hui berkata pula:
"Bocah ini memang minum arak kelewat banyak,
bagaimana mungkin ia dapat menandingi kawanan setan
arak tua tersebut?"
Lan See giok terkejut sekali setelah mendengar
pembicaraan itu, pikirnya dengan cepat.
"Berada di mana aku sekarang?"
Ketika membuka matanya, ia saksikan ruangan penuh
bermandikan cahaya, ternyata ia berada di dalam kamar
sendiri, sedang Oh Tin san dan Say nyoo-hui duduk di
sudut pembaringan.
Oh Li cu duduk dengan kening berkerut dan wajah
sangat gelisah, begitu melihat Lan See giok sudah
mendusin, ia segera bertanya dengan penuh perhatian.
"Adik Giok, bagaimana rasamu sekarang?"
http://kangzusi.com/
Lan See giok tidak menjawab, sebaliknya dia malah
bertanya.
"Sudah jam berapa sekarang?"
"Sudah mendekati kentongan pertama, wah, nyenyak
amat tidurmu kali ini!" seru Say nyoo-hui sambil tertawa.
Lan See giok segera melompat bangun, lalu sambil
menengok ke arah Oh Tin san tanyanya dengan nada
terkejut.
"Benarkah itu empek?"
Oh Tin san tertawa riang, ia manggut-manggut dan
sahutnya dengan lembut:
"Anak bodoh, minum arak merupakan suatu kebiasaan
yang mencerminkan seorang pendekar sejati, di dalam
bidang ini kau perlu banyak berlatih lagi di kemudian hari,
bagaimana perasaanmu sekarang?"
Lan See giok tahu perhatian yang berlebihan dari Oh Tin
san suami istri terhadapnya disertai dengan maksud
tertentu, hanya saat ini dia belum dapat menebak maksud
tujuannya, maka dia berlagak sakit kepala. sambil
memegangi kepala sendiri serunya penuh penderitaan.
"ADUUUH, SAKIT KEPALAKU . . ."
Tidak sampai Lan See giok selesai berbicara, dengan
gelisah dan penuh perhatian Oh Li cu segera bertanya:
"Kalau memang sakit kepala, kenapa harus duduk? Ayah
dan ibu toh bukan orang luar."
Sambil berkata, ia membaringkan kembali Lan See giok
ke atas pembaringan.
Lan See giok tidak membantah, dengan kening berkerut
dia menghembuskan napas panjang.
http://kangzusi.com/
"Anak bodoh." kata Oh Tin san kemudian sambil
meraba jidat Lan See giok, tenangkan hatimu dan
beristirahatlah selama beberapa hari ini. Toh berapa waktu
belakangan ini kau tidak usah terbaru buru pergi ke bibi
Wan mu."
Mendengar ucapan mana, Lan See giok tertawa dingin di
dalam hati, tapi di luar dia berlagak kaget bercampur
tercengang, serunya dengan cepat.
"Kenapa empek?"
"Anak bodoh, kau harus mengerti, kau pernah melukai
Thi Gou murid dari si kakek berjubah kuning itu . . .
"Aku sama sekali tidak melukai Thi Gou", bantah Lan
See giok. "aku hanya menotok jalan darah Hek-ki-hiat nya .
.."
Oh Tin san tidak membiarkan Lan See -giok
menyelesaikan perkataannya, ia menggoyangkan tangannya
mencegah pemuda itu melanjutkan kata katanya, setelah itu
katanya.
"Walaupun begitu, namun dengan perbuatanmu itu
paling tidak sama artinya telah mempercundangi si kakek
berjubah kuning serta si naga sakti pembalik sungai.."
Padahal Lan See giok sudah tahu kalau Oh Tin san
kuatir kakek berjubah kuning itu mengetahui dirinya berada
dalam benteng Wi-lim-poo maka sengaja tidak
memperkenankan pergi, maka sengaja ia berlagak gelisah
sambil serunya.
"Empek tua, aku kuatir si beruang berlengan tunggal dan
si setan bermata tunggal akan sampai di rumah bibi Wan
lebih duluan.."
http://kangzusi.com/
Berkilat sepasang mata Oh Tin san, dengan wajah
berubah hebat ia berseru kaget:
"Kenapa? "
Sekarang Lan See giok sudah memastikan bahwa Oh Tin
san adalah orang yang menghajarnya sampai tak sadarkan
diri tempo hari, itu berarti disimpannya kotak kecil di
rumah bibi Wannya sudah bukan menjadi rahasia lagi
baginya.
Maka setelah berpura-pura ragu-ragu sejenak, ia baru
sengaja menjawab.
"Kotak kecil yang empek katakan sebagai mestika, dari
dunia persilatan itu sudah dikirim ke rumah bibi Wan atas
perintah ayah.."
Oh Tin san mengiakan lirih, wajah yang semula menjadi
tegangpun segera menjadi tenang kembali, katanya
kemudian dengan sikap acuh tak acuh.
"Aaah, aku pikir mereka tak bakal tahu."
Belum habis perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari luar
jendela bergema suara tertawa dingin yang rendah dan
menggidikkan hati..
Lan See giok merasakan hatinya bergetar keras, suara
tertawa dingin itu seperti guntur yang membelah bumi
disiang hari bolong, ia berseru tertahan sementara peluh
dingin jatuh bercucuran.
Oh Tin san sendiri sudah melompat bangun sambil
membentak nyaring, sebuah pukulan dahsyat dilontarkan
ke jendela bagian belakang- -
"Blaammm!"
http://kangzusi.com/
Ditengah benturan yang sangat nyaring, debu dan pasir
beterbangan ke mana-mana. dengan suatu gerakan secepat
sambaran kilat Oh Tin san melompat ke luar dari jendela.
Lan See giok segera memusatkan perhatian nya dengan
menyilangkan telapak tangan kanannya di depan dada,
kemudian dengan jurus burung walet menembusi tirai dia
melompat ke luar dari ruangan tersebut melalui jendela.
Udara amat bersih waktu itu, sinar rembulan
memancarkan cahayanya ke empat penjuru, tapi suasana di
sekeliling tempat itu amat hening dan tak kelihatan sesosok
bayangan manusia pun.
Dengan kening berkerut Lan See giok berpikir dihati.
"Waah, cepat amat gerakan tubuh orang ini, agaknya Oh
Tin san pun tak boleh di anggap enteng, dalam waktu
sedemikian singkat ia sudah pergi hingga tak berbekas."
-ooo0dw0ooo-

BAB 9
MENDADAK dari arah belakang terdengar seseorang
membentak dengan suara rendah.
"Ayo cepat naik ke atap rumah dan lakukan pencarian!"
Di tengah bentakan, Say nyoo-hui serta Oh Li cu telah
melompat ke luar dari jendela, kemudian tanpa berhenti
mereka melambung ke tengah udara . . .
Lan See giok memutar badannya ditengah udara dan
segera menyusul pula di belakang, lebih kurang belasan kaki
di depan wuwungan rumah sana ia saksikan Oh Tin San
dengan sorot mata yang tajam sedang celingukan kian ke
mari.
http://kangzusi.com/
Maka dengan mengikuti di belakang tubuh Say nyoo-hui
berdua, mereka meluncur ke arah mana Oh Tin San berada.
Tiba di situ, merekapun tetap membungkam dalam
seribu bahasa, hanya sorot matanya yang gugup bercampur
gelisah celingukan ke sana kemari tiada hentinya
Paras muka Oh Tin san pucat pias, mata sesatnya
berkilat kilat, bibirnya terkatup rapat dan tiada hentinya
menggigit bibir, wajahnya nampak jelas sedang gemetar
keras.
Siapa saja dapat melihat kalau Oh Tin san sedang
diliputi gejolak emosi, dibalik kemasgulannya terselip pula
perasaan ngeri dan seram.
Berapa saat kemudian, dengan kening berkerut Oh Tin
san baru berbisik lirih.
"Lebih baik kalian semua kembali untuk beristirahat!"
Say nyoo-hui segera memberi tanda kepada Oh Li cu
agar mengajak Lan See giok berlalu dari sana.
Lan See giok membungkam pula, melihat kemasgulan
Oh Tin san, ia merasa tidak leluasa untuk bertanya banyak,
terpaksa bersama Oh Li cu mereka kembali ke dalam
ruangan.
Kendaripun demikian, agaknya Oh Tin san sudah
mengetahui siapakah orang yang telah mencuri dengar dan
tertawa dingin itu.
Ketika mereka berdua tiba kembali di ruang sebelah
timur, sekawanan pelayan sedang membersihkan debu dan
hancuran kaca yang berserakan di seputar sana.
Begitu masuk ke dalam pintu, Lan See giok segera
marah-marah:
http://kangzusi.com/
"Kalian menggambarkan benteng Wi-lim-poo kokoh
bagaikan berdinding baja, siapa yang berani masuk kemari
ibarat masuk ke dalam neraka, tapi kenyataannya sekarang
orang lain bisa masuk dengan sekehendak hati sendiri,
malah menyadap pembicaraan kita. . ."
Waktu itu Oh Li cu sendiripun sedang di liputi perasaan
terkejut bercampur mendongkol, amarahnya segera
meledak setelah mendengar perkataan tersebut.
Dengan kening berkerut dan tertawa dingin tiada
hentinya ia berseru dengan suara dalam:
"Berapa banyak lagi yang hendak kau katakan?"
Walaupun Lan See giok telah melihat kalau Oh Li cu
sedang marah, tapi bila teringat bagaimana rahasia tentang
kotak kecil itu berhasil dicuri dengar orang lain, amarahnya
semakin berkobar lagi, dengan alis mata berkernyit ia
menggembor semakin keras.
"Tentu saja aku harus berbicara!"
Kawanan dayang yang sedang membersihkan lantai di
sana menjadi ketakutan setengah mati, wajah mereka
berubah dan hampir semuanya mandi keringat dingin
menguatirkan keselamatan Lan See giok.
Sebagaimana diketahui, sejak kecil Oh Li cu sudah
terbiasa dimanja, wataknya jelek dan amat berangasan,
boleh dibilang belum pernah dia dihadapi dengan cara
seperti ini
Jangan lagi orang lain, Oh Tin san dan Say nyoo-hui
sendiripun harus mengalah tiga bagian kepadanya, bisa
dibayangkan bagaimana perasaannya setelah dibentak
bentak secara kasar oleh Lan See giok sekarang.
http://kangzusi.com/
Saking mendongkolnya, sekujur badan gadis tersebut
sampai gemetar keras.
Lan See giok segera sadar kalau perbuatannya tidak
menguntungkan posisi nya, ia sadar keadaan bakal celaka,
tapi setelah terlanjur berbicara, diapun enggan tunduk
kepada orang lain dengan begitu saja, akibatnya ia semakin
menarik wajahnya.
Oh Li cu membelalakkan sepasang matanya yang jeli
dan mengawasi Lan See giok dengan termangu, agaknya ia
tak mengira kalau wajah tampan yang begitu memukau dari
pujaan hatinya itu kini berubah menjadi dingin dan hijau
membesi.
Dalam sekejap mata inilah ia benar-benar ditaklukkan
oleh kegagahan serta kejantanan lawan, keangkuhan serta
api amarahnya tiba-tiba memudar, ia menjadi sedih sekali
tak terbendung air matanya segera jatuh bercucuran.
Semua pelayan berdiri melongo, mereka pun tidak
percaya kalau si nona mereka yang di hari-hari biasa begitu
tinggi hati, sedikit-dikit lantas turun tangan membunuh
orang, sekarang bersikap begitu lemah dan menge-naskan,
bahkan sempat menangis tersedu sedu.
Lan See giok menyesal sekali dengan kecerobohan
sendiri, ia kuatir gara-gara urusan kecil itu berakibat semua
masalah besar menjadi terbengkalai.
Begitu melihat Oh L! cu sudah menangis, ia menjadi tak
tega, buru-buru dia mendekati nona tadi dan berbisik
dengan wajah penuh rasa sesal.
"Enci Cu, tak usah menangis . . "
Hanya kata-kata tersebut yang sempat dia ucapkan,
karena ia tak tahu apa lagi yang mesti dikatakan olehnya
sekarang.
http://kangzusi.com/
Oh Li cu jarang sekali mendengar Lan See giok
menyebutnya "cici" atau bahkan belum pernah sama sekali.
Panggilan ini menghangatkan kembali hatinya, seperti anak
kecil yang diberi gula-gula, ia menubruk ke dalam pelukan
anak muda itu kemudian menangis semakin menjadi.
Lan See-giok kelabakan setengah mati, ia amat menyesal
dengan perbuatannya tadi, perbuatan yang sama sekali
tanpa perhitungan, sekarang setelah nasi menjadi bubur, ia
baru merasa bingung dan tak tahu apa yang mesti
diperbuat.
Kawanan pelayan yang menyaksikan kejadian tersebut
sama-sama berubah wajahnya, kemudian satu demi satu
secara diam-diam mengundurkan diri sana
Oh Li cu menyandarkan diri di atas bahu Lan See-giok
sambil menangis tersedu, dengan suara yang lemah ia
berkata:
"Orang toh tidak melarang kau berbicara, apa salahnya
kalau berbicara setelah menunggu mereka pergi semua?"
"Sudah, sudahlah" buru-buru Lan See-giok berseru,
"mereka sudah pergi semua, sekarang kita boleh berbicara."
Dengan wajah masih basah oleh air mata Oh Li cu
melirik sekejap ke arah ruangan, betul juga semua pelayan
yang berada dalam ruangan telah mengundurkan diri, maka
katanya kemudian dengan sedih.
"Sekarang kau harus berbicara dulu!"
Sambil berkata, dengan wajah tak senang hati ia
mendorong tubuh Lan See giok kemudian duduk sendiri di
bangku, sementara sapu tangannya berulang kali digunakan
untuk menyeka air mata.
http://kangzusi.com/
Lan See giok yang semula merasa gusar kini menjadi
murung bercampur gelisah, untuk berapa saat dia tak tahu
apa yang mesti dibicarakan, maka setelah memandang
sekejap jendela belakang yang hancur, ujarnya murung.
"Menurut penilaianku sendiri setelah menyaksikan
kekuatan kapal perang yang di miliki benteng ini, bukan
pekerjaan yang gampang bagi orang luar untuk memasuki
Wi-lim-poo ini, tapi kenyataannya orang tersebut dapat
bersembunyi di luar jendela tanpa di ketahui jejaknya, dari
sini dapat diketahui kalau penjagaan dalam benteng sangat
mengendor, kurang disiplin dan kelewat ceroboh."
Dengan suara tak puas Oh Li cu segera membantah:
"Aaah, mana mungkin, benteng Wi-lim-poo dikelilingi
air, setiap sepuluh langkah boleh dibilang terdapat satu pos
penjagaan.."
"Baik, baiklah, aku sudah tahu" tukas Lan See giok tidak
sabar, "aku cuma ingin bertanya, orang itu bisa memanjati
tembok benteng dan masuk ke ruang dalam, untuk hal
mana berapa lebarkah jalan air yang mesti ditempuh?
Beberapa banyak pos penjagaan yang harus dilalui? dalam
hal ini pernahkah kau bayangkan?"
Oh Li cu yang dihadapkan dengan pertanyaan tersebut
menjadi tertegun, dia hanya bisa mengerdipkan sepasang
matanya dengan mulut membungkam.
Dengan kening berkerut Lan See giok berjalan bolak
balik lagi di dalam ruangan, katanya lebih jauh:
"Kecuali kepandaian ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki oleh orang ini sudah mencapai tingkatan yang
sempurna, kalau tidak, mustahil dia dapat melewati tempat-
tempat yang berpenjagaan ketat semudah itu, bisa jadi dia
http://kangzusi.com/
sudah hapal sekali dengan keadaan di dalam ruangan
benteng ini."
Baru selesai dia berkata, mencorong sinar tajam dari
balik mata Oh Li cu, dia segera berbisik:
"Adik Giok, aku rasa bisa jadi orang tersebut adalah
anggota benteng sendiri?"
Mendengar ucapan tersebut, Lan See giok segera teringat
kembali akan Be Siong pak serta Thio-Wi-kang, hanya saja
ia tak berani sembarangan berbicara.
"Bagaimana kau bisa berkata begitu?" tanyanya
kemudian.
Oh Li cu kembali termenung, agaknya ia sedang
mempertimbangkan kembali pelbagai kemungkinan dari
dugaannya tersebut, akhirnya ia berkata.
"Aku rasa kecuali beberapa orang saja yang sering datang
ke gedung bagian belakang ini, jarang ada yang tahu kalau
gedung ini kosong”
Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan
itu, tanpa terasa ia bertanya:
"Apa kau bilang? Gedung belakang ini tak berpenghuni?"
Kembali nampak keraguan di wajah Oh Li cu, dia
merasa rahasia ini kelewat awal untuk diberitahukan
kepada Lan See giok sekarang sebab itu dia hanya manggut-
manggut.
Dengan cepat Lan See giok menjadi paham, tak heran
kalau tiada orang yang menegur di sekitar sana sewaktu ada
orang menyusup ke tempat tersebut.
Meskipun demikian, dia toh tak berani menuduh
siapapun secara gegabah, tanyanya kemudian dengan nada
tidak mengerti:
http://kangzusi.com/
"Di hari biasa siapa saja yang sering kemari, dan siapa
pula yang mengetahui rahasia dari gedung belakang ini?"
Agaknya Oh Li cu masih tetap menaruh keraguan
terhadap dugaan itu, karenanya sambil memperendah
suaranya dia menyahut.
"Be congkoan, Thio-Wi-kang, tiga setan dari benteng.."
"Kau mencurigai si setan ikan leihi?" Lan see giok segera
memotong.
Oh Li cu segera mendengus menghina, katanya dengan
bangga:
"Nyali anjingnya sudah pecah sedari tadi, jangan kata
berani memasuki ruang dalam, mendengar kata "nona" saja
tubuhnya sudah gemetaran keras . . " "
Paras muka Lan See giok segera berubah menjadi
terkejut bercampur keheranan, bisiknya kemudian.
"Kau maksudkan Be . . . "
"Ssst!" cepat-cepat Oh Li cu menempelkan ujung jarinya
ke atas bibir memberi tanda agar tutup mulut, setelah
mengerling sekejap ke ruang sebelah belakang, ia berbisik
lagi:
"Aku rasa kecuali mereka berdua, tidak ada orang ke tiga
yang berani memasuki daerah sekitar tempat ini."
Tergerak hati Lan See giok sesudah mendengar
perkataan itu, ia pun berbisik:
"Apakah mereka tidak berdiam di tempat ini?
Oh Li cu segera menggelengkan kepalanya berulang kali:
"Tidak, mereka berdiam di gedung tunggal di seberang
sana."
http://kangzusi.com/
Tanpa terasa Lan See-giok mendongakkan kepalanya
memandang ke gedung seberang, suasana di sana sangat
hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, di bawah
cahaya rembulan, ia melihat jelas tiada penjaga di sekitar
sana.
"Sungguh aneh," serunya kemudian dengan nada tidak
mengerti, "mengapa tidak kujumpai penjagaan di sekitar
wilayah ini?"
Oh Li cu kembali berkerut kening sambil menunjukkan
keraguan, setelah itu baru ujarnya.
"Memang di sekitar gedung ini dan gedung di seberang
sana tidak disertai dengan penjagaan."
"Mengapa?", tanya Lan See giok lagi tidak habis
mengerti.
"Entahlah. . ." Oh Li cu menggelengkan kepalanya
berulang kali, "ayah yang suruh demikian!"
Lan See-giok tahu bahwa Oh Li cu enggan berbicara,
tentu saja diapun merasa kurang leluasa untuk mengajukan
pertanyaan, maka sambil memandang bangunan di
seberang sana, pikirnya di dalam hati.
"Aneh, masa benar-benar ada orang yang berani
menyadap pembicaraan kami dari luar jendela"
Tiba-tiba Oh Li cu bangkit berdiri, lalu bisiknya.
"Biar aku menengok ke sana!"
Lan See giok kembali merasakan hatinya tegang, dengan
cepat ia berbisik.
"Kau harus bersikap lebih berhati hati, paling baik kalau
membawa serta Siau ci dan Siau lian berdua"
Oh Li cu manggut-manggut.
http://kangzusi.com/
"Aku tahu, aku bisa menghadapi mereka dengan sebaik
baiknya”
Seusai berkata, buru-buru dia masuk ke bilik pintu bulat,
sekalipun Lan See giok tidak begitu menyukai Oh Li cu,
bagaimana-pun juga ia toh menguatirkan juga ke selamatan
dari perempuan tersebut. karena tindakan yang diambil
olehnya jelas merupakan suatu tindakan yang menyerempet
bahaya.
Terutama sekali selama dia berada dalam benteng Wi-
lim-poo, ia butuh sekali bantuan dari Oh Li cu, selama ia
berada di sana berarti lebih menguntungkan bagi usahanya
untuk melarikan diri.
Dengan penuh kegelisahan dia berjalan mondar mandi
dalam ruangan agar pihak lawan tak sampai mengawasi
gerak geriknya secara jelas, diapun sengaja memadamkan
semua lentera yang berada dalam ruangan tersebut.
Suara dayung membelah air kedengaran berkumandang
ditengah keheningan itu.
Cepat-cepat Lan See giok menuju ke jendela belakang
dan melongok ke luar, sebuah sampan kecil sedang
meluncur ke luar dari tempat tersebut.
Oh Li cu berdiri tegak di ujung sampan, sebilah pedang
tersoren di punggungnya, sedang Siau ci dan Siau lian
membawa dayung duduk di belakang.
Entah mengapa, Lan See giok merasakan hatinya
berdebar keras, andaikata orang yang menyadap
pembicaraan mereka tadi benar-benar adalah Be Siong pak
serta Thio-Wi-kang, jelas kepergian Oh Li cu kali ini
mengandung resiko yang amat berat.
http://kangzusi.com/
Sampan itu sudah hampir tiba di seberang sana, tiba-tiba
ia saksikan Oh Li cu berpaling ke arahnya, sorot matanya
berkilat seperti bintang timur.
Lan See giok segera menggapai ke arahnya, sementara
hatinya berdebar makin keras, dalam sekejap itulah ia
seolah-olah mendapatkan suatu firasat jelek.
Dia ingin memanggil pulang Oh Li cu, tapi kuatir hal
tersebut malah berakibat merugikan, sementara ia masih
sangsi Oh Li cu serta Siau lian sudah naik ke daratan
seberang dan menuju ke jalan tembus, sementara Siau ci
tetap menanti di atas sampan.
Lan See giok berdiri di depan jendela dengan perasaan
yang sangat kalut, sorot matanya yang tajam mengawasi
perkembangan situasi tanpa berkedip.
Kurang lebih seperminuman teh lamanya sudah lewat,
akan tetapi suasana di seberang sana masih tetap hening . . .
Berapa waktu kemudian, belum juga nampak Oh Li cu
menampakkan diri . .
Lan See giok semakin gelisah, pikirnya:
"Wah, jangan-jangan orang yang menyadap
pembicaraan tadi benar-benar adalah Be Siong pak serta
Thio-Wi-kang?"
Ia tak berhasil menebak dengan pasti mengapa Be Siong
pak dan Thio-Wi-kang menyadap pembicaraan pribadi
pocu nya, jangan-jangan Oh Tin san telah membongkar
pula rahasia sekitar kotak kecil tersebut di hadapan mereka
berdua?
Tentang rahasia mestika tersebut, kecuali terhadap Say
nyoo-hui, Oh Tin san boleh dibilang tak pernah
membicarakannya kepada Oh Li cu, jadi seharusnya
http://kangzusi.com/
mustahil kalau dia membocorkan pula kepada kedua orang
itu..
Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar
suara keleningan kecil berkumandang dari kejauhan sana.
Tapi suara tersebut hanya bergema singkat, agaknya
genta tersebut cepat-cepat dipegang orang hingga tak
sampai bersuara.
Suara keleningan tersebut mirip sekali dengan suara
keleningan yang berkumandang dari perahu naga emas
milik Oh Tin san.
Tiba-tiba Siau ci yang berada di sampan seberang
berpaling ke arah pintu air.
Tergerak hati Lan See giok, dengan cepat dia melompat
ke luar pula dari dalam ruangan.
Tiba di pintu halaman, benar juga ia lihat perahu naga
emas telah berlabuh di depan pintu gedung persegi, semua
cahaya lentera di atas perahu telah padam, beberapa orang
lelaki berpakaian ringkas berdiri di buritan, salah seorang
diantaranya sedang menggenggam lonceng kecil itu.
Sekali lagi Lan See giok berpikir dihati:
"Dalam suasana begini, masa Oh Tin san akan ke luar
benteng? Ke mana dia hendak pergi?"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, Oh Tin san
dan Say nyoo-hui sudah nampak muncul dari balik gedung
dengan langkah tergesa gesa.
Oh Tin san masih tetap mengenakan jubah abu - abunya,
sedangkan Say nyoo-hui telah berganti dengan sebuah
pakaian ringkas, sepasang golok burung hongnya tersoren
dipunggungnya tergantung sebuah kantung kulit.
http://kangzusi.com/
Setibanya di depan pintu, ke dua orang itu segera
menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melompat naik ke
atas perahu naga emas.
Setibanya di perahu, Oh Tin San cepat-cepat
mengulapkan tangannya setelah itu bersama sama Say
nyoo-hui masuk ke ruang perahu.
Beberapa orang lelaki kekar yang sudah siap dengan
cepat mendayung perahu itu berlalu dari sana, dalam waktu
singkat perahu naga emas itu sudah melaju pergi.
Lan See giok yang menyaksikan semua peristiwa tersebut
menjadi bingung bercampur gelisah, ia tidak mengerti
mengapa Oh Tin san suami istri pergi dengan langkah
tergesa gesa, tapi yang pasti hal ini tentu ada sangkut
pautnya dengan si penyadap pembicaraan mereka tadi.
Dalam keadaan yang begini, ia mulai menguatirkan
keselamatan dari bibi Wan serta enci Ciannya, kalau tadi
berniat meninggalkan benteng Wi-lim-poo, maka sekarang
dia bertekad akan berusaha melarikan diri dari situ.
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, sampan
kecil Oh Li cu telah didayung kembali. Oh Li cu yang
berdiri di geladak sedang mengawasi perahu naga emas
yang berlalu tanpa berkedip.
Cepat-cepat Lan See giok menenangkan hatinya
kemudian maju menyongsong, lalu sambil menarik Oh Li
cu naik ke atas darat ia berbisik lirih:
"Bagaimana? Apakah mereka berada di situ"
Dengan wajah riang Oh Li cu menunjuk ke arah pintu
halaman, sebagai pertanda masuk dulu kemudian baru
berbicara, tapi dengan nada tak mengerti ia toh bertanya
juga kepada Lan See giok:
http://kangzusi.com/
"Agaknya ayahku sekalian barusan pergi?"
Dengan cepat Lan See giok berkerut kening, karena ia
mengendus bau arak dari mulut Oh Li cu, ini yang
membuat nya tidak mengerti, maka diapun manggut-
manggut sambil mengiakan belaka.
Mereka berdua masuk ke ruang dalam, sambil
memasang lampu lentera Lan See -giok segera bertanya:
"Bagaimana dengan mereka?"
"Mereka sedang membicarakan tentang diri mu!" ucap
Oh Li cu dengan wajah berseri.
Nada suaranyapun kedengaran penuh dengan
kegembiraan, Lan See giok merasa kan hatinya bergetar
keras, tanyanya lagi dengan gelisah:
"Apa yang sedang mereka bicarakan?"
Setelah lentera disulut, ia pun dapat melihat Oh Li cu
berdiri sambil memandang arahnya dengan pandangan
cinta, senyum manis menghiasi ujung bibirnya, pipinya
semu merah.
Oh Li cu tertawa genit, sahutnya merdu:
"Mereka semua mengatakan kau tampan dan gagah, di
kemudian hari pasti akan menjadi seorang pemimpin yang
disegani setiap orang.."
Alangkah kecewanya Lan See giok setelah mendengar
perkataan ini, tapi untuk berhasil melepaskan diri dari sana.
Ia pura-pura bertanya lagi dengan wajah gembira.
"Apa lagi yang mereka bicarakan tentang diriku?"
Paras muka Oh Li cu berubah semakin merah membara,
lama kemudian ia baru berkata tersipu sipu:
http://kangzusi.com/
"Mereka masih memuji ketajaman mata ayahku yang
bisa mendapatkan seorang menantu gagah seperti kau,
sudah pasti dia akan banyak rejeki di kemudian hari."
Berbicara sampai di situ, tidak tahan lagi dia tertawa
cekikikan . . .
"Aaah, mungkin aku yang tidak sesuai untuk enci?"
Sengaja Lan see giok merendah.
Paras muka Oh Li cu berubah semakin merah, cepat-
cepat dia membantah.
"Adik Giok terlalu sungkan, sesungguhnya enci lah yang
merasa tidak sesuai untukmu, cuma Be congkoan toh
sempat memuji kita berdua sebagai sepasang sejoli yang
amat serasi, diapun berkata pula demikian".
"Adik adalah pemuda gagah dan enci adalah gadis
cantik, bila kita berdua berjalan bersama, entah berapa
banyak manusia lain yang akan merasa kagum"
Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar ucapan
tersebut, dengan gembira ia segera berseru:
"Sungguh? Enci Cu, mari kita bermain ke telaga Oh
peng, aku ingin lihat bagaimana para nona-nona nelayan
yang bermuka bengkak, berwajah kurus memandang kagum
kepadamu. . ."
Waktu itu Oh Li cu sedang merasa gembira sekali,
ditambah pula rasa ingin menangnya, terpengaruh pula oleh
beberapa cawan arak, tanpa berpikir panjang ia menyahut:
"Baik, besok kita pergi bersama!"
Ketika Lan See giok menyaksikan paras muka Oh Li cu
makin lama semakin bertambah merah, dengan penuh
perhatian dia pun bertanya:
"Cici, kau telah minum arak?"
http://kangzusi.com/
Oh Li cu tertawa, ditatapnya anak muda tersebut dengan
pandangan penuh cinta kasih, kemudian katanya.
"Sewaktu kesana, mereka berdua lagi minum arak demi
merayakan cici yang berhasil mendapatkan kekasih tampan
seperti kau, Be congkoan dan Thio-Wi-kang, masing-
masing telah menghormati tiga cawan arak kepadaku."
"Kalau begitu cici sudah mabuk. " seru Lan See giok
gugup "cepatlah pergi tidur, besok kita hendak berpesiar.“
Dengan cepat Oh Li cu menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Cici tidak mabuk, pergilah tidur lebih duluan, aku harus
menitahkan Siau lian untuk memberitahukan kepada
komandan pasukan harimau terbang agar menyiapkan
sebuah kapal perang dan kuda untuk kita berdua."
Terkejut Lan See giok mendengar ucapan ini, segera
pikirnya.
"Kalau aku mesti berpesiar dalam keadaan seperti ini,
jelas hal tersebut akan sangat mempengaruhi usahaku untuk
melarikan diri, wah- rencana ini mesti kucegah."
Berpikir demikian. cepat-cepat dia berseru
"Urusan pribadi kita berdua mengapa harus merepotkan
orang lain . .?"
Tidak sampai Lan See giok berbicara lagi, dengan nada
meyakinkan Oh Li-cu berkata lebih jauh:
"Besok kita harus menunggang kuda, tahukah betapa
gagahnya kita berkuda!"
Dia mengerling sekejap ke arah si nona dengan
pandangan penuh cinta kasih dan masuk ke dalam
kamarnya dan berpesan lagi dengan mesra.
http://kangzusi.com/
"Cepatlah tidur, besok kita akan berangkat pagi-pagi!"
Tiba-tiba satu ingatan melintasi kembali dalam benak
Lan See giok, sambil berlagak resah ia berkata.
"Tapi aku tak pandai menunggang kuda.."
"Besok cici akan mengajar kepadamu, tanggung sekali
belajar segera akan bisa"
Selesai berkata, dia lantas beranjak pergi dari situ.
Diam-diam Lan See giok mengeluh, hatinya amat
gelisah, dalam keadaan begini ia tahu keadaan tak tertolong
lagi, terpaksa dia harus bekerja menurut situasi besok.
Berbaring di atas ranjang, bagaimanapun ia berusaha
tidur, matanya terasa tak mau terpejam.
Sekarang ia dapat memastikan kalau orang yang mencuri
dengar rahasia kotak kecilnya adalah orang lain namun hal
tersebut semakin memperbesar tekadnya untuk melarikan
diri.
Dengan seksama dan berhati hati sekali dia mulai
merancang rencananya untuk melarikan diri, ia telah
persiapkan beberapa macam jawaban. Mempersiapkan
bagaimana caranya menciptakan kesempatan, apa yang
harus diperbuat untuk menghindari pengejaran dari Oh Li
cu serta bagaimana selanjutnya menyusup ke rumah
kediaman bibi Wan nya
Sampai dia beranggapan bahwa rencana nya betul-betul
matang dan sempurna, ia baru terlelap tidur-
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya suara langkah
kaki manusia menyadarkan Lan See giok dari tidurnya.
Ketika membuka mata, sinar fajar telah mencorong
masuk lewat jendela, seorang dayang kecil telah muncul
http://kangzusi.com/
sambil membawa keperluan membersihkan mulut dan
muka.
Lan See giok segera melompat bangun, kemudian
bisiknya kepada pelayan itu:
"Tolong ambilkan pakaian milikku sendiri!"
Baru selesai ia berkata, dari kamar seberang sudah
kedengaran suara Oh Li cu lagi menegur:
"Adik giok, kau telah bangun?"
"Benar cici!" sahut Lan See giok dengan perasaan
terkejut.
"Apakah kau merasa pakaian itu kurang serasi dibadan?"
tanya Oh Li cu lagi dengan nada tidak mengerti.
"Betul enci Cu, pakaian ini kelewat kedodoran"
"Aku masih mempunyai satu stel baju kongcu berwarna
biru, tahun berselang baru selesai dibuat, biar kucarikan
untukmu!"
Untuk menghindari kecurigaan perempuan tersebut, Lan
See giok tak berani bersikeras meminta kembali pakaian
lamanya, terpaksa dia hanya mengiakan.
Tak lama kemudian, tirai kelambu tersingkap dan Lan
See giok merasakan pandangan matanya menjadi silau.
Oh Li cu muncul dengan dandanan yang sangat
mentereng, jauh berbeda dengan dandanannya semalam,
kali ini dia nampak anggun, cantik dan menawan hati.
Sambil membawa sebuah jubah panjang, ia muncul
kembali dengan wajah berseri.
Memandang dandanan perempuan ini, diam-diam Lan
See giok turut merasa gembira, sebab sudah jelas tak
mungkin akan membawa senjata tajam atau senjata rahasia
http://kangzusi.com/
itu, berarti rencananya untuk melarikan diri sudah berhasil
separuh.
Karenanya dengan nada gembira dia berseru.
"Aaah enci Cu, kalau kau berjalan jalan di tepi telaga
dalam dandanan seperti ini, jangan-jangan nona dusun akan
mengira dewi sianggo turun dari rembulan .."
Oh Li cu merasa girang sekali dengan umpakan tersebut,
ia tertawa semakin bangga
"Nah, ambillah dan cepat kenakan!"
Sambil berkata dia melemparkan jubah panjang tersebut
ke arah Lan See giok.
Lan See giok menyambut jubah panjang itu dan
mengenakannya, ternyata potongan pakaian itu persis sekali
dengan bentuk badannya. kalau tidak bisa dikatakan cocok
sekali.
Oh Li cu tertawa puas setelah melihat adik Giok nya
nampak lebih tampan setelah mengenakan jubah biru itu, ia
yakin hanya dirinya yang pantas mendampingi seorang
pemuda ganteng macam dirinya.
Ketika sarapan mereka berdua sama-sama membungkam
dengan pikiran masing-masing
Oh Li cu bersantap dengan lahap, dia sedang
mengkhayalkan bagaimana para gadis dusun mengagumi
kecantikan dan keanggunannya.
Sebaliknya Lan See giok tak sanggup menelan nasi yang
disuapnya, pikirannya sangat resah bila memikirkan
rencana pelariannya nanti-
Selesai bersantap, mereka berdua naik ke sampan, dan
melaju menembusi aliran sungai dengan Siau ci serta Siau
lian yang memegang dayung.
http://kangzusi.com/
Setelah melewati benteng air yang tinggi dan menembusi
dua buah saluran air, pintu gerbang telah berada di depan
mata.
Di kedua belah sisi pintu gerbang berdiri puluhan orang
lelaki berbaju kuning, ada yang menyandang golok, ada
yang membawa busur, sewaktu melihat sampan yang
ditumpangi Lan See giok dan Oh Li cu lewat. bentakan
nyaring menggelegar dan pintu gerbang segera
dipentangkan lebar- lebar.
Tatkala sampan kecil itu lewat, puluhan orang lelaki
kekar itu serentak memberi hormat dengan wajah serius,
ketika memandang wajah Lan See giok, rata-rata mereka
tunjukkan sikap menghormat.
Sedangkan mereka yang melihat sikap alim dan lembut
dari Oh Li cu, rata-rata segera berpikir di dalam hati:
"Waah, nona berubah seratus delapan puluh derajat."
Ke luar dari pintu gerbang, Lan See giok merasakan
matanya silau, rupanya di kiri pasukan harimau dan
pasukan naga.
Setiap kapal perang berlabuh rapi, panji berkibar
terhembus angin dua puluhan lelaki kekar berbaju kuning
dengan tombak dan tameng di tangan berdiri serius di atas
geladak.
Begitu sampan yang ditumpangi Lan See -giok sekalian
muncul, terompet dibunyikan dan serentak semua lelaki-
lelaki kekar itu menengok ke arah mereka.
Komandan pasukan harimau serta komandan pasukan
naga telah menantikan kedatangan mereka di perahu
pertama.
http://kangzusi.com/
Lan See giok segera berlagak sangat gembira, dengan
wajah berseri dia mengulapkan tangannya ke arah kawanan
pasukan yang berada di kiri kanannya
Ketika menyaksikan wajah menghormat dan sorot mata
kagum yang terpancar dari wajah orang-orang itu, Lan See-
giok malu sendiri, dia yakin orang-orang itu tak ada yang
tahu kalau sekarang ia sedang berusaha untuk melarikan
diri.
Sampan itu didayung langsung menuju ke kapal perang
pertama, setelah mendekat, pemuda itu baru tahu kalau di
situ tidak di sediakan tangga untuk naik, padahal tinggi
perahu mencapai dua kaki lebih, apalagi tinggi geladak
yang delapan depa lebih tinggi.
Kedengaran dua orang komandan pasukan itu berseru
dari atas geladak dengan hormat:
"Perahu dan kuda sudah dipersiapkan, silahkan sau pocu
dan nona naik ke atas perahu".
Karena tidak disediakan tangga, Lan See -giok tahu
kalau dia diharuskan melompat naik dengan mengandalkan
ilmu meringankan tubuh, maka sambil berpaling ke arah
Oh Li cu yang berada di belakangnya, ia berkata seraya
tertawa.
"Nona, silahkan kau naik dulu!"
Oh Li cu tersenyum dan manggut-manggut, ia melejit ke
udara setinggi tiga kaki, lalu ditengah udara dia
menggunakan jurus burung Hong masuk sarang untuk
melayang ke atas perahu.
Tempik sorak bergema gegap gempita, semua anggota
pasukan yang berada di sekitar sana berteriak memuji untuk
menyambut keindahan gerak tubuh nona mereka.
http://kangzusi.com/
Lan See giok segera berkerut kening, dia tahu Oh Li cu
sengaja hendak memamerkan kehebatannya dihadapannya.
Maka sambil tertawa hambar dia melompat ke atas,
tingginya tidak seberapa dimana sepasang kakinya persis
menginjak di tepi perahu, hal ini membuat orang mengira
dia tak bertenaga penuh,
Disaat ujung kaki Lan See giok hampir menempel di sisi
perahu itulah, tubuhnya nampak gontai dan bergetar keras,
sementara tubuh bagian atasnya tahu-tahu terpelanting ke
luar kapal.
Jeritan kaget kontan saja berkumandang dari sana sini,
beratus - ratus lelaki kekar itu sama - sama tertegun karena
kaget, sedang kan Siau ci dan Siau lian yang berada di
sampan kecil malah sempat menjerit lengking:
Mendadak. .
Lan See giok mengibaskan ujung baju kanannya, lalu
badannya yang terlempar keluar perahu tadi berputar ke
sebelah kiri, setelah itu dengan tubuh lurus seperti pena ia
berdiri di ujung perahu dengan mantap.
Menyaksikan demonstrasi ini, ke dua orang komandan
kapal perang itu jadi melongo dan termangu beberapa saat,
sementara suasana di sekitar situpun dicekam dalam
keheningan.
"Memalukan, sungguh memalukan!" akhirnya Lan See
giok memecahkan keheningan tersebut.
Komandan pasukan harimau dengan cepat berhasil
menguasai diri, serunya kemudian dengan suara lantang:
"Saudara sekalian, demonstrasi ilmu meringankan tubuh
yang baru saja akan dipertunjukkan sau pocu adalah ilmu
meringankan tubuh yang disebut "Angin menggoyangkan
http://kangzusi.com/
pohon liu," pengetahuan kalian tentu akan semakin terbuka
dengan diperlihatkannya ilmu kepandaian itu"
Sesudah ucapan tersebut diutarakan, tempik sorak yang
gegap gempita baru berkumandang memecahkan
keheningan.
Lan See giok segera mengulapkan tangan nya untuk
menenangkan suasana, kemudian setelah menyampaikan
rasa terima. kasih kepada ke dua orang komandan pasukan,
bersama Oh Li cu yang dihiasi senyum di kulum mereka
bersama sama masuk ke ruang kapal.
Tak lama kemudian, perintah diturunkan dan perahu
pun bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Makin lama perahu dijalankan semakin cepat, sepanjang
jalan hanya suara ombak yang memecah kesepian
memainkan suasana.
Lan See giok duduk di ruang dalam, ia seperti tidak
berniat untuk menyaksikan keadaan di luar perahu dan
nampaknya hal ini justru amat cocok dengan keinginan Oh
Li cu.
Dalam ruang perahu, Oh Li cu dan Lan See giok duduk
bersanding, gadis itu kelihatan sangat gembira, ia seringkali
mengajak pemuda itu membicarakan soa1 pemandangan
alam, meski Lan See-giok dibebani pelbagai masalah, toh
dia harus menghadapi dengan berhati hati . .
Ketika kapal perang itu meninggalkan hutan gelugu,
matahari telah muncul di ufuk timur, cahaya keemas-
emasan memancar ke permukaan telaga dan memercikkan
cahaya yang menyilaukan mata.
Sekarang Lan See giok baru tahu bahwa perahu mereka
diarahkan ke barat daya, ketika memandang jauh ke muka,
lebih kurang tujuh delapan li di depan sana kelihatan
http://kangzusi.com/
sebuah garis hijau, agaknya disitulah kampung nelayan itu
berada.
Sebagaimana diketahui, sewaktu datang ia sama sekali
tidak tahu arah mata angin, tentu saja saat inipun ia tak
tahu dimanakah letak benteng Wi-lim-poo, apalagi masih
berapa jauh jaraknya dengan kampung nelayan itu.
la juga takut kalau sampai bertemu dengan si naga sakti
pembalik sungai, terutama sekali dengan si kakek berjubah
kuning maka ia beranggapan setelah turun dari perahu
nanti, ia harus berusaha secepatnya meninggalkan tempat
itu.
Semakin mendekati daratan, Lin See giok merasa
hatinya semakin tegang.
Akhirnya perahupun merapat dengan pantai, dua orang
lelaki kekar segera menurunkan papan dan menarik ke luar
dua ekor kuda putih dari atas perahu.
Menyaksikan kuda yang kurus dan lemah apalagi
nampak begitu jinak tersebut. kontan saja Lan See giok
berkerut kening, "Kalau kudanya saja begitu kurus dan
lemah, bagaimana mungkin bisa berlari cepat?" demikian ia
berpikir dengan perasaan gelisah.
Tiba-tiba terdengar Oh Li cu bertanya kepada si lelaki
penghela kuda itu.
"Apakah dua ekor kuda tua itu?"
Kedua orang lelaki itu segera mengiakan dengan hormat.
Lan See giok menjadi sangat mendongkol, dengan nada
tak puas dia bertanya:
"Mengapa kau memilih dua ekor kuda tua?"
http://kangzusi.com/
"Sebab kau tak pandai berkuda", jawab Oh Li cu sambil
tertawa manja, "oleh sebab itu cici sengaja berpesan agar
dipersiapkan dua ekor kuda tua yang tidak binal lagi!"
Diam-diam Lan See giok mengeluh, tahu begini
semalam dia tak akan beralasan tak pandai menunggang
kuda.
Turun dari perahu, merekapun mendekati kedua ekor
kuda tua tersebut.
Lan See giok merasa sedikit gugup, sebab berbicara yang
sesungguhnya, baru pertama kali ini ia menunggang kuda.
Setelah diberi petunjuk ringkas oleh Oh Li cu,
merekapun menunggang kuda dan menjalankannya
menelusuri tanggul.
Sepanjang jalan Lan See giok berlagak tegang,
pandangannya selalu tertuju ke depan, seolah-olah kuatir
kalau tubuhnya terjengkang ke belakang.
Oh Li cu amat geli melihat sikap kaku nya, sambil
tertawa getir ia berseru.
"Hei, kalau menunggang kuda lebih baik angkat saja
kepalamu, luruskan pandangan ke muka!"
Lan See giok mengiakan sambil memandang ke muka,
tapi apa yang terlihat membuat badannya gemetar keras,
hampir saja ia terjerembab dari atas kuda.
Diantara pepohonan siong yang terbentang di depan situ,
berdiri sebuah bangunan rumah yang mungil, ternyata
rumah itu bukan lain ada1ah rumah bibi Wan serta enci
Ciannya.
Oh Li cu yang melihat pemuda itu gemetar dan
wajahnya berubah, disangkanya ia sedang ketakutan, cepat
serunya dengan kuatir.
http://kangzusi.com/
"Tak usah takut, bila perlu kempitkan kaki pada perut
kuda, dengan demikian kau tak akan sampai jatuh, pegang
tali les kuda erat-erat, asal tubuhmu tak sampai terlempar ke
udara, niscaya jiwamu tak akan bahaya."
Lan See giok merasa kalau ia telah khilaf, cepat-cepat
perhatiannya dipusatkan jadi satu dan manggut manggut
kearah Oh Li cu dengan perasaan terima kasih.
Sementara itu, kuda mereka sedang lewat di muka pintu
rumah, Lan See giok sudah melihat jelas pintu ruangan bibi
Wan nya.
Sekarang ia hanya bisa berdoa, semoga Thian
melindunginya dan jangan sampai mempertemukan dia
dengan bibinya.
Ketika kuda mereka maju lebih ke depan semua
pemandangan dalam halaman rumah itu dapat terlihat
jelas.
Tiba-tiba Lan See giok merasa hatinya bergetar keras,
jantungnya berdebar begitu keras sehingga hampir saja akan
melompat ke luar dari mulutnya.
Ternyata enci Cian nya sedang berdiri di dalam halaman
dengan punggung menghadap ke luar, dalam keadaan
begini ia kuatir sekali Ciu Siau cian atau enci Cian nya akan
menyapa dia.
Agaknya Oh Li cu juga telah melihat gadis tersebut,
menurut penaksirannya kalau di tinjau dari rambut panjang
dan perawakan tubuh gadis berbaju kuning itu. dia
semestinya berwajah cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan.
Api cemburu Oh Li cu seketika berkobar ketika ia
saksikan Lan See giok tiada henti nya melirik kearah gadis
http://kangzusi.com/
dalam halaman tersebut, dengan rasa cemburu yang amat
tebal ia lantas berseru:
"Adik giok, apakah kau menganggap gadis yang berada
di dalam halaman itu lebih cantik dari pada cici?"
Terkejut Lan See giok mendengar pertanyaan ini. dia
bukan takut Oh Li cu menjadi gusar, tapi yang jelas takut
kalau jejak nya sampai ketahuan Ciu Siau cian.
Betul juga, ketika mendengar ada suara pertanyaan
bergema di situ, Ciu Siau cian segera berpaling.
Betapa rikuh dan tersipu-sipunya Lan See giok waktu itu,
andaikata sekitar sana ada lubang niscaya ia telah
menyembunyikan diri di sana, baru saat ini dia dapat
merasakan, bagaimanakah perasaan seseorang yang punya
mulut namun tak dapat mengutarakan kesulitan sendiri.
Sementara itu Oh Li cu berdiri tertegun lantaran kaget,
setelah melihat paras cantik lawan, tiba-tiba saja timbul
perasaan rendah diri pada dirinya, dia memang tak berani
percaya kalau dalam dusun nelayan terdapat gadis yang
berparas begitu cantik.
Gadis berbaju kuning itu berkulit putih, bermata bening.
hidung mancung dengan bibir yang kecil mungil, sekalipun
dia hanya mengenakan pakaian yang amat sederhana,
namun tidak mengurangi sikap anggun dan daya tariknya.
Terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli sungguh
menawan hati.
Agak berubah wajah Oh Li cu setelah menyaksikan paras
muka gadis berbaju itu, wajahnya menjadi murung dan
timbu1 perasaan yang amat tak sedap di hati.
Tanpa disadari akhirnya dia berseru:
"Dia memang benar-benar sangat cantik!"
http://kangzusi.com/
"Aaah, dia kan gadis dusun yang tak tahu adat, biar
cantik, bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan cici
yang berasal dari keluarga persilatan?" tukas Lan Se giok
tiba-tiba.
Setelah mendengar perkataan tersebut, rasa rendah diri
yang semula menyelimuti perasaan Oh Li cu segera hilang
lenyap tak berbekas. . .
Apalagi setelah melihat gadis berbaju kuning itu segera
tertunduk malu sehabis mendengar perkataan dari Lan See
giok tadi, tanpa terasa ia tertawa bangga.
Lan See giok tak berani memandang wajah Ciu Siau
cian, hatinya tak terlukiskan gelisahnya, ia tak tahu apakah
enci Cian nya telah mendengar perkataan tersebut atau
tidak.
Dalam keadaan begini, dia cuma berharap selekasnya
bisa meninggalkan tempat itu, apa mau dikata kuda tua
tersebut larinya lamban sekali.
Beberapa kali Lan See giok mencoba untuk melarikan
kudanya, sayang kuda tersebut kelewat tua, setelah lari
beberapa langkah kembali jalannya melamban.
Nampaknya gerak gerik dari pemuda tersebut tak dapat
membendung rasa geli Oh Li cu, tak tahan ia tertawa
cekikikan.
Merasa dirinya ditertawakan, Lan See giok amat gusar,
saking mendongkolnya tiba-tiba saja ia menendang perut
kuda itu keras-keras.
Ringkikan panjang yang amat memekikkan telinga
segera berkumandang memecah kan keheningan, mungkin
lantaran kesakitan, tiba-tiba saja kuda tersebut kabur
secepat cepatnya ke muka.
http://kangzusi.com/
Bisa dibayangkan betapa kagetnya Lan See giok waktu
itu, badannya menjadi gontai dan nyaris terjerembab ke
tanah, dengan gugup ia memegang tali les kuda nya
kencang-kencang.
Oh Li cu terkejut juga melihat kejadian ini, dengan
gelisah ia menjerit:
"Aduh celaka, kudanya kaget, kudanya kaget”
Lan See giok semakin gugup, dia tahu bahaya sehingga
tanpa sadar kakinya mengempit, perut kuda itu semakin
kencang, tangannya yang memegang tali les juga di
perkencang.
Mimpi pun Oh Li cu tak pernah menyangka kalau kuda
tua yang di hari-hari biasa sangat penurut dan jinak,
mendadak saja menjadi sewot dan gila menyaksikan
kegugupan Lan See giok di atas punggung kuda itu, ia
menjadi gelisahnya bukan kepalang, sampai- sampai telapak
tangannya menjadi basah oleh keringat dingin.
Dalam keadaan begini, dia mencoba untuk melarikan
kudanya untuk mengejar, apa mau dibilang kudanyapun
sudah kelewat tua. setelah lari beberapa langkah, diapun
melamban kembali.
Dalam waktu singkat kuda sewot yang di tunggangi Lan
See giok sudah kabur jauh ke depan, yang tersisa hanya
debu dan pasir yang beterbangan menutupi pemandangan.
Hampir menangis Oh Li cu menyaksikan kejadian itu, ia
melihat jelas bagaimana Lan See giok menggenggam
kencang tali les kudanya dengan wajah tegang.
"Adik Giok-adik Giok..cepat bungkukkan tubuhmu di
atas pelana, cepat bungkukkan tubuhmu di atas pelana .."
jeritnya kemudian setengah menangis.
http://kangzusi.com/
Lan See giok yang gugup bercampur tegang, bisa
mendengar jerit tangis Oh Li cu tersebut dengan jelas, tanpa
berpikir panjang ia segera menuruti nasehat tersebut dengan
membungkukkan badannya di atas punggung kuda.
Hutan demi hutan, pepohonan demi pepohonan dilalui
dengan cepat, Lan See giok tidak tahu berapa jauh ia sudah
dibawa kabur, peluh telah membasahi tubuhnya maupun
tubuh sang kuda, lambat laun lari si kuda sewotpun kian
melamban.
Di depan sana terbentang kini sebuah lapangan rumput
yang luas, karena kudapun sudah mulai melamban larinya,
Lan See giok mulai dapat mengingat ingat kembali
pelajaran yang diberikan Oh Li cu kepada nya bila
menjumpai bahaya.
Cepat ia menekan kuda itu dengan telapak tangan
kanannya, begitu tubuhnya melejit ke udara, ia
berjumpalitan beberapa kali kemudian melayang turun ke
atas tanah berumput.
Dengan lenyapnya daya beban dari kuda tua itu,
binatang tadipun menghentikan larinya.
Baru pertama kali Lan See giok mencoba naik kuda,
namun akibatnya harus menjumpai pengalaman yang
mendebarkan hati akibatnya rasa tegang yang mencekam
perasaannya tidak juga bisa ditenangkan.
Sambil duduk di tanah lapang dengan napas terengah, ia
memandang kuda putih di kejauhan sana sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya:
"Menunggang kuda tua bangkotan saja sudah
mendebarkan hati, apalagi kalau menunggang kuda liar,
bagaimana jadinya?"
http://kangzusi.com/
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, kejut
dan gembira ia segera melompat bangun dan mencak-
mencak kegirangan, gumamnya seorang diri:
"Kalau sekarang tidak kabur, harus kutunggu sampai
kapan lagi? Yaa, inilah kesempatan paling baik yang belum
tentu bisa kujumpai lagi.!”
Berpikir begitu, cepat-cepat dia melompat naik lagi ke
punggung kuda tua dan mencoba untuk meneruskan
perjalanan sayang kuda tua itu sudah kelewat lelah,
bagaimanapun ditarik, dibetot, kuda tadi tetap berdiri tegak
di tempat semula.
Lan See-giok gelisah sekali, dia kuatir Oh Li cu keburu
menyusul ke mari, karenanya terpaksa ia melompat turun
dari kuda tua itu dan melarikan diri menuju ke gundukan
bukit kecil di depan situ.
Tengah hari sudah lama lewat, Lan See -giok mulai
merasa perutnya sangat lapar, tapi sejauh mata memandang
hanya hutan belantara belaka, ke mana ia harus pergi untuk
bersantap?
Untung saja tak lama kemudian ia sudah tiba di sebuah
pegunungan, di atas pegunungan itu penuh pepohonan li
yang buahnya mulai memasak. tidak sungkan-sungkan lagi
Lan See giok memetik buah buahan tersebut dan
melahapnya dengan rakus . . .
Entah berapa saat kemudian. tiba-tiba ia mendengar
suara derap langkah kuda yang amat ramai bergema secara
lamat-lamat dari arah tanggul telaga sana.
Lan See giok sangat terkejut, ia memasang telinganya
baik-baik dan mendengarkan dengan penuh perhatian, betul
juga derap kaki kuda itu sangat ramai. tampaknya ada
http://kangzusi.com/
serombongan manusia berkuda sedang melalui tempat
tersebut.
Makin lama suara derap kaki kuda itu semakin nyaring
dan mendekat, suaranya bagaikan gemuruh yang
menggelegar menjelang datangnya hujan deras.
Tergerak hati Lan See giok ia segera bangkit berdiri dan
lari ke depan sebuah pohon besar di puncak bukit.
Dari sana ia memanjat ke pucuk pohon dan
menyembunyikan diri di balik dedaunan yang lebat.
Dikejauhan sana, pada wilayah antara tanggul dengan
tanah padang berumput, kelihatan debu dan pasir
beterbangan ke ang-kasa, tampak dua tiga puluhan ekor
kuda sedang dilarikan mendekat dengan kecepatan luar
biasa,
Mendadak..
Rombongan itu memecahkan diri bagaikan bunga api
yang meletuk dengan berbentuk seperti kipas, rombongan
kuda tadi menyebarkan diri serta mengepung lapangan
rumput tersebut rapat-rapat.
Lan See giok sangat keheranan setelah menyaksikan
kejadian itu, dengan perasaan tidak mengerti dia celingukan
kian kemari, tapi selain padang rumput yang luas, pada
hakekatnya tidak dijumpai sesuatu apapun yang
mencurigakan.
Ketika diamati dengan lebih seksama, pemuda kita
segera gemetar karena kaget, ternyata penunggang kedua
tiga puluh ekor kuda itu adalah lelaki-lelaki kekar
berpakaian ringkas warna kuning, kalau diperhatikan baju
seragamnya, jelas mereka adalah anggota benteng Wi-lim-
poo.
http://kangzusi.com/
Tapi ingatan lain membuat pemuda ini menjadi ragu,
seingatnya dalam kapal perang yang ditumpanginya hanya
memuat dua ekor kuda tua, lantas darimana datangnya
kuda sebanyak itu?
Walaupun Oh Li cu bisa kirim orang untuk memberi
laporan ke benteng, itu pun paling cepat malam nanti
pasukan mereka baru akan tiba di sini.
Sementara itu, ke dua tiga puluh ekor kuda tadi sudah
berdiri berjajar di sepanjang garis padang rumput.
Tiba-tiba Lan See giok jadi melongo, ternyata orang yang
berada di punggung kuda berwarna merah dimuka barisan
adalah Oh Li cu sendiri.
Tak terlukiskan rasa kaget yang mencekam perasaan Lan
See giok sekarang, ia tidak berminat untuk menyaksikan
adegan tersebut lebih jauh, dengan cepat dia melompat
turun dari atas pohon, kemudian kabur ke dalam hutan
dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang
dimilikinya.
Sambil melarikan diri, dihati kecilnya tiada hentinya
merasa keheranan, ia benar-benar tak mengerti mengapa
pasukan dari Wi-lim-poo bisa secepat itu tiba di tempat
kejadian.
Dalam beberapa saat saja hutan lebat sudah ditembusi,
kini dihadapannya terbentang padang rumput yang sangat
luas.
Lan See giok semakin gelisah, dia tahu berlarian di
padang rumput berbahaya sekali, sebab tiada tempat untuk
menyembunyikan diri, ia harus secepatnya memasuki
daerah yang lebat dengan pepohonan yang luas.
Matanya yang jeli segera mengamati sekejap sekeliling
tempat itu, pada jarak tiga empat li di sebelah kanan, ia
http://kangzusi.com/
jumpai sebuah dusun, dan tempat tersebut merupakan
daerah yang terdekat dengan dirinya berada.
-ooo0dw0ooo-

BAB 10
IA tak berani berayal lebih jauh, dengan mengerahkan
ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, ia segera kabur
menuju kearah dusun tersebut, badannya meluncur bagai-
kan segulung asap saja.
Ketika hampir mencapai di depan dusun. pemuda itu
berpaling sekejap. Diam-diam ia menjadi gembira sebab
pasukan dari Wi-lim-poo belum muncul dari hutan tadi.
Tapi setelah ia berpaling kembali memandang ke depan,
pemuda Itu segera menghentikan perjalanannya dan berdiri
tertegun, ternyata di depannya terbentang sebuah sungai
besar yang lebarnya mencapai sepuluh kaki lebih.
Dengan gelisah ia berpaling kembali, untung pasukan
dari Wi-lim-poo belum menyusul sampai di situ, ia pikir
masih punya waktu untuk mencapai perahu, maka dengan
cepat ditelusurinya sungai tersebut:
Tapi dengan cepat ia menjadi putus asa, arus sungai
kelewat deras, jangan lagi perahu, bayangannya saja tidak
dijumpai.
Dengan putus asa dia menelusuri tepi sungai, makin ke
depan sungai tersebut menikung semakin ke dalam, daerah
tikungan tadi merupakan sebuah tanah perbukitan.
Mendadak ia mendengar suara ringkikan kuda
berkumandang datang, Lan see giok amat terperanjat dan
cepat berpaling, apa yang kemudian terlihat segera
membuat keringat dingin bercucuran.
http://kangzusi.com/
Rupanya beberapa ekor kuda sedang berlarian
menelusuri tepi sungai menuju kearah nya, sedang lelaki
kekar yang berada di punggung kuda dengan sorot matanya
yang tajam bagaikan sembilu mengawasi tepi seberang
sungai.
Tak terlukiskan rasa terkejut Lan See giok, ia
membalikkan badan dan segera melarikan diri.
Tapi belum berapa langkah, dari seputar hutan di tanah
gundukan depan muncul pula beberapa puluh ekor kuda.
Lan See giok tahu keadaan bakal runyam, ini berarti
pantai sungai tak mungkin bisa dipakai untuk
menyembunyikan diri lagi, secepatnya ia kembali ke pesisir
dan menyelusuri air, ia kabur ke sebelah kanan sungai
tersebut.
Dalam pelarian tersebut, tiba-tiba Lan see giok
menemukan sebuah sampan kecil yang tergeletak di tepi
pesisir, pemuda itu bagai-kan menemukan bintang penolong
saja segera berlarian menuju kearah situ.
Tapi, ia segera kecewa setelah dekat dengan perahu tadi,
ternyata perahu yang nampak utuh dari luar, dasarnya
sudah jebol dan berantakan.
Pada saat itulah-
Dari depan situ bergema lagi suara ringkikan kuda.
bersamaan itu juga dari ke jauhan situ berkumandang suara
derap kaki kuda yang amat keras.
Lan See giok benar-benar amat gugup, bila ia sampai
tersusul saat ini, jelas tiada alasan yang dapat digunakan,
satu satunya jalan hanya bertarung sampai titik darah
penghabisan:
http://kangzusi.com/
Menyaksikan arus sungai yang begitu deras, ia teringat
kembali ilmu berenang yang belum sempat dipelajari, tak
tahan lagi pikirnya setelah menghela napas:
"Betapa senangnya bila ilmu berenang kukuasai, saat ini
mungkin aku sudah tiba di dusun pantai seberang-."
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, sekali lagi
terdengar suara ringkikan panjang yang bergema dari
tempat tak jauh dari situ.
Lan See giok amat terkejut, tanpa disadari ia meraba
senjata gurdi emas Cin kim kong luan jui yang melilit, di
pinggangnya.
Dalam pada itu suara ringkikan kuda sudah semakin
mendekat, suara tersebut bergema pula dari kiri dan kanan
tubuhnya.
Sekarang Lan See giok berada dalam posisi yang
berbahaya sekali, tak terlukiskan rasa gelisah hatinya, biar
dia tahu perahu bobrok itu tak mungkin bisa dipakai untuk
bersembunyi, namun terdesak oleh keadaan mau tak mau
dia menerobos juga ke dalam perahu bobrok itu.
Pada saat Lan See giok baru saja melompat naik ke atas
perahu bobrok dan menyembunyikan diri, suara derap kaki
kuda yang amat gencar telah bergema datang dari sisi
sebelah kanan.
Menyusul kemudian beberapa ekor kuda berlarian
mendekat bagaikan gemuruh angin puyuh.
Lan See giok menahan napas sebisa mungkin, hatinya
berdebar keras, diam-diam ia bersyukur karena tempat
persembunyian nya tidak sampai ketahuan.
Suara bentakan-bentakan keras bergema kemudian,
agaknya pasukan yang datang dari sebelah kiri telah
http://kangzusi.com/
berpapasan dengan pasukan yang telah datang dari sebelah
kanan, kemudian berhenti tak jauh dari kapal bobrok itu
berada . . .
Mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara
yang serak dan tua.
"Apakah kalian telah melihat sau pocu?"
Diam-diam Lan See giok terkesiap, ia mengenali suara
tersebut sebagai suaranya Be Siong pak, manusia yang
mempunyai banyak akal muslihat.
"Lapor congkoan" beberapa orang lelaki itu segera
menjawab dengan hormat, "hamba sekalian tidak
melihatnya"
Diam-diam Lan See giok merasa keheranan juga,
pikirnya.
"Aneh, mengapa Be Siong pak bisa memimpin pasukan
untuk melakukan pengejaran.
Karena dorongan rasa ingin tahunya, ia segera mengintip
dari celah-celah perahu bobrok itu.
Be Siong pak yang duduk di punggung kuda tampak
sedang berkerut kening dengan wajah resah, sorot matanya
yang tiada henti-nya dialihkan ke pantai seberang sungai
tersebut.
Paras muka belasan lelaki berbaju kuning pun kelihatan
amat serius, mereka memegang tali les kuda masing-masing
dengan kencang, sementara peluh membasahi tubuh-tubuh
mereka maupun tubuh kuda-kuda tersebut..
Sementara itu dari arah pantai berkumandang kembali
suara derap kaki kuda yang sangat ramai.
http://kangzusi.com/
Seorang lelaki yang berada di sisi Be Siong pak segera
berpaling dan memandang sekejap ke arah pantai,
kemudian serunya dengan nada gelisah,
"Congkoan, nona telah datang. . . !"
MENDENGAR Oh Li cu telah tiba pula di tempat
kejadian, Lan See giok merasakan hatinya semakin tegang.
Be Siong-pak segera mencemplak kudanya dengan
memimpin puluhan anak buahnya maju menyongsong ke
tepi sungai.
Derap kaki kuda dan suara ringkikan kuda yang ramai
akhirnya berhenti di belakang perahu bobrok persis di sisi
pesisir sungai, debu dan pasir tampak beterbangan
memenuhi angkasa.
Menyusul kemudian seekor kuda merah yang tinggi
besar muncul pula di tempat tersebut . . .
Lan See giok yang mengintip ke luar kembali merasakan
tubuhnya gemetar keras, ternyata orang yang duduk di atas
kuda merah yang tinggi besar itu tak lain adalah Oh Li cu.
Paras muka Oh Li cu telah basah oleh air mata, matanya
merah membengkak, rambut nya sedikit kusut dan cahaya
mukanya hampir pudar . . .
Dengan pandangan mata gelisah bercampur cemas dia
menengok sekejap ke arah pantai seberang, lalu kepada Be
Siong pak yang menyongsong kedatangannya, ia bertanya
cemas:
"Apakah kalian tidak menemukannya?"
"Di kedua belah pesisir sungai sama sekali tidak dijumpai
bayangan tubuh dari sau pocu!" jawab Be Siong pak.
http://kangzusi.com/
Sekali lagi air mata Oh Li cu jatuh bercucuran, ia
menutupi muka sendiri dan berkata sambil menangis
tersedu-sedu:
"Sebenarnya ia tak pandai menunggang kuda, akulah
yang memaksanya naik, apa mau dikata kuda tua itu
kaget!"
Lelaki kekar berkuda hitam yang tampak nya komandan
dari pasukan tersebut segera berkata dengan hormat:
"Kuda tua itu sudah berhenti di tanah lapang, sekujur
badannya telah basah oleh keringat darah rupanya sudah
kehabisan tenaga, ini menunjukkan kalau binatang tersebut
telah berlari kencang sepanjang jalan, bila sau-pocu
memang tak pandai menunggang kuda, bisa jadi ia sudah
terjatuh ditengah jalan!"
Be Siong pak segera melototkan matanya bulat-bulat,
serunya dengan suara dalam:
"Tenaga dalam yang Sau pocu miliki amat sempurna,
bagaimana mungkin ia bisa terjatuh dari kuda?"
Tidak sampai Be Siong pak menyelesaikan kata katanya,
sambil menangis Oh Li cu sudah mengomel:
"Semuanya ini kau lah yang salah, mengapa sewaktu aku
datang ke tempatmu semalam kau tidak mengatakan kalau
pocu sudah menurunkan perintah bahwa setiap orang
dilarang ke luar benteng, bila di dalam benteng ada urusan
harus dirundingkan dulu dengan Sau pocu-?"
Sambil berkata, dia menangis tiada henti nya, seolah-
olah seorang kanak-kanak yang kehilangan mainan
kesayangannya.
Dengan wajah menyesal dan murung Be Siong pak
menjawab:
http://kangzusi.com/
"Yaa. memang hambalah yang teledor serta tidak
berpikir sempurna, tidak kusangka lo pocu sama sekali tidak
memberi kabar kepada nona serta sau pocu ketika hendak
berangkat, coba kalau hamba tidak mendengar suara tampik
sorak pagi tadi sehingga segera mengutus orang untuk
mencari berita, mungkin hingga sekarang pun belum
kuketahui kalau nona dan Sau pocu telah berpesiar ke
pantai telaga!"
"Apa pula gunanya kau menyusul sampai di sini?"
kembali Oh Li cu menangis tersedu sedu, coba kalau kau
bertindak cepat semalam dengan menurunkan perintah itu
kesemua penjaga pintu benteng, hari ini kami tak akan bisa
ke luar dan tak mungkin akan terjadi peristiwa di luar
dugaan seperti ini."
"Yaa, kesemuanya ini memang kesalahan hamba" Be
Siong pak mengangguk berulang kali, "hamba memang
pantas mati, hamba memang pantas mati, sekembalinya lo
pocu nanti, hamba memang tentu akan minta hukuman
sendiri!"
Setelah berhenti sejenak, serta memandang sekejap
semua orang yang berada di seputar tempat itu, dengan
nada menghibur dia berkata lagi:
"Walaupun kita sudah mengerahkan kekuatan
sedemikian besarpun belum berhasil juga menemukan
kembali sau-pocu, itu berarti besar kemungkinannya sau-
pocu telah diculik oleh si kakek berjubah kuning tapi nona
tak usah kuatir, sau pocu berbakat bagus dan berwajah
cerah, sekalipun menghadapi bencana, semua bencana akan
berubah menjadi rejeki, biar sekarang agak tersiksa dan
menderita, toh akhirnya akan kembali juga ke Wi-lim-poo
dengan selamat”
http://kangzusi.com/
Dalam suasana gelisah bercampur marah mana ada niat
dari Oh Li cu untuk mendengarkan obrolannya, dengan
cepat ia menurunkan kembali tangannya dari atas wajah,
lalu sambil melotot ke arah Be Siong pak bentaknya:
"Obrolan busuk. siapa yang mau mendengarkan
ucapanmu itu, Hmm! bencana bisa berubah jadi rejeki . . .
orangnya di mana sekarang?"
"Pokoknya bila tidak kau temukan kembali Lan See giok
hari ini, kau sendiri pun tak usah kembali ke Wi-lim-poo"
Sambil berkata ia segera mencemplak kembali kudanya
dan melarikan binatang tersebut meninggalkan tempat
tersebut.
Be Siong pak termangu melihat kemarahan nonanya,
tanpa terasa teriaknya keras-keras:
"Nona. tunggu dulu, nona, tunggu dulu hati-hati kalau
sampai terjatuh dari kuda!"
Sembari berteriak, dengan gugup dia melarikan pula
kudanya untuk menyusul dari belakang.
Kawanan lelaki lainnya serentak membentak dan
melarikan kuda masing-masing dalam waktu singkat kedua
tiga puluhan kuda tersebut telah berlalu semua mengikuti di
belakang Oh Li cu.
Lan See giok menghembuskan napas panjang, perasaan
tegang yang sempat mencekam perasaannya kinipun
berkurang, diam-diam ia melompat ke luar dari perahu!
Sepanjang pesisir dijumpainya penuh dengan bekas kaki
kuda, melihat itu dia baru mengerti apa sebabnya Oh Li cu
tidak mengirim orang untuk memeriksa perahu bobrok
tersebut.
http://kangzusi.com/
Agaknya perahu itu kelewat bobrok dan mustahil bisa
dipakai untuk bersembunyi, ditambah pula seputar pesisir
sudah penuh dengan bekas telapak kaki kuda dia mengira
pasukan sebelumnya telah melakukan pemeriksaan di sana.
Apalagi Be Siong pak serta Oh Li cu pada hakekatnya tidak
mengetahui kalau dia berniat melarikan diri ..
Sedang maksud Oh Tin san suami istri pergi tanpa pamit
semalam, di mana dia hanya memberitahukan kepada Be
Siong-pak dan melarangnya memberitahukan kepada Oh Li
cu. jelas hal ini untuk mencegah putrinya pergi ke luar, dan
tentu saja takut kalau dia menggunakan kesempatan
tersebut melarikan diri.
Kalau didengar berdasarkan pembicaraan Be Siong pak
dengan Oh Li cu, ia yakin kedua orang tersebut masih
belum mengetahui asal usulnya yang sesungguhnya, diapun
percaya Oh Tin san tak bakal membicarakan rahasia
tentang kotak kecil tersebut dengan mereka.
Kelancaran yang diperolehnya dalam usaha melarikan
diri kali ini benar-benar berkembang di luar dugaan, apa
yang direncanakan semalam boleh dibilang semuanya tidak
berguna, karena tak satupun yang terpakai saat ini.
Berpikir sampai ke situ, tanpa terasa ia menggelengkan
kepalanya sambil tertawa, pikirnya:
"Yaa, siapa yang bisa menduga perubahan yang bakal
terjadi di dunia ini?"
la berjalan menuju ke pantai depan sana dan
mendongakkan kepalanya, udara amat bersih, di kejauhan
sana hanya kedengaran suara derap kaki kuda yang makin
menjauh.
http://kangzusi.com/
Dengan cepat pemuda itu menelusuri pantai menuju ke
arah timur laut, sebelum malam tiba dia harus sudah tiba di
rumah kediaman bibi Wan- nya.
Sementara itu matahari sudah tenggelam di langit barat
Lan See giok merasa lapar, dahaga, gelisah pula, kalau
dapat dia ingin secepatnya tiba di rumah kediaman bibinya.
Sesudah menembusi hutan dan mendaki sebuah bukit
kecil, dari kejauhan sana mulai nampak tanggul telaga
Huan yang oh.
Lan See giok percepat langkahnya menuju ke muka . . .
Dari puncak bukit kecil, ia saksikan di bawah lembah
sana masih nampak puluhan ekor kuda mondar mandir
melakukan pencarian, pada dermaga telaga tiga buah kapal
perang berlabuh di situ.
Lan See giok tak berani meneruskan perjalanannya,
terpaksa dia harus berhenti di situ dan menunggu sampai
kapal-kapal perang dari Wi-lim-poo tersebut berlalu
sebelum meneruskan perjalanannya,
Senja lewat, malam haripun tiba, suasana remang-
remang telah mulai menyelimuti seluruh angkasa.
Cahaya lentera mulai berkelap-kelip di arah dusun
nelayan sana.
Di atas ke tiga kapal perang pun telah dikerek naik
sembilan buah lentera besar berwarna merah.
Beberapa saat kemudian ditengah kegelapan yang mulai
mencekam seluruh angkasa, lamat-lamat kedengaran suara
orang menghardik dan ringkikan kuda.
Lan See giok tahu, pihak Wi-lim-poo sudah mulai
menarik pasukannya kembali ke kapal, oleh sebab itu dia
pun membayangkan kembali keadaan Oh Li cu entah
http://kangzusi.com/
bagaimanakah perasaan perempuan itu kini? la teringat pula
cinta kasih serta perhatian dari Oh Li cu terhadapnya
selama berapa hari belakangan ini, terutama sekali
usahanya untuk mencarikan obat penawar racun baginya,
tentu saja ia tak dapat berpeluk tangan belaka terhadap
cinta kasihnya itu. Ia terbayang pula bagaimana Oh Li cu
menangis karena sedih dan gelisah, kesemuanya ini
membuat hatinya terharu, betul ia tidak terlalu
menyukainya, tapi perhatian dan kasih sayangnya tak
mungkin bisa dilupakan dengan begitu saja.
Diam-diam ia bersumpah di dalam hati, bila di kemudian
hari Oh Li cu membutuhkan sesuatu kepadanya, ia bersedia
mengabulkan permintaan nya demi membayar semua
kebaikannya selama ini.
Namun permintaan mana tidak termasuk memperistri
dirinya, sebab di kemudian hari dia ingin mempersunting
enci Ciannya sebagai istri, sekalipun ia tidak tahu apakah
enci Cian mencintainya atau tidak..
Teringat kembali enci Ciannya, Lan See giok segera
mengerahkan kembali ilmu meringankan tubuhnya dan
menuruni bukit tersebut dengan cepat.
Ia dapat melihat ke sembilan lentera merah diarah telaga
sudah mulai bergerak pelan- pelan, agaknya kapal perang
dari Wi-lim-poo tersebut sudah mulai berangkat pulang.
Dengan perasaan lega Lan See giok mempercepat
langkahnya berlarian ditengah kegelapan.
Berapa waktu kemudian, ia telah tiba di belakang dusun
kecil tempat kediaman bibi Wan nya, suasana dalam dusun
itu amat hening, cuma satu dua buah rumah saja yang
masih bersinar.
http://kangzusi.com/
Sampai di situ, mau tak mau Lan See giok harus
meningkatkan kewaspadaannya, lama sekali ia berdiri tegak
sambil memperhatikan keadaan di sekitar situ adakah
sesuatu yang mencurigakan, kemudian pelan-pelan ia baru
menuju ke rumah kediaman bibi Wan nya
Waktu itu udara sangat gelap, tiada rembulan, hanya
beberapa biji bintang yang berkelipan, angin malam yang
berhembus lewat membawa suara deburan ombak dari
tanggul telaga.
Dalam perjalanan, ia saksikan cahaya lentera dalam
kamar enci Cian nya masih terang benderang, dia
keheranan, semalam ini mengapa enci Ciannya belum juga
tidur Padahal biasanya sudah naik ke atas pembaringannya.
Dengan meningkatkan kewaspadaannya dia maju terus
ke depan, sementara telinga nya dipasang lebar-lebar,
namun betapa terkejutnya dia setelah mendengar suara isak
tangis dari enci Ciannya yang lamat-lamat bergema datang
dari kamar tidurnya.
Dengan perasaan terkejut dia melejit ke udara dan segera
melayang masuk ke dalam pekarangan.
Baru saja kakinya menempel di atas tanah-
Mendadak dari dalam kamar tak bersinar di sisi kamar
enci Cian nya bergema suara teguran yang lembut.
"Anak Giok kah yang datang?"
Seperti anak yatim piatu yang tiba-tiba mendengar suara
panggilan ibunya, air mata segera bercucuran membasahi
wajah Lan See giok, namun ia tetap menjaga kewaspadaan
nya terhadap keadaan lingkungan, setelah memanggil "bibi"
dengan lirih, ia menerjang masuk ke arah jendela.
http://kangzusi.com/
Jendela belakang terbuka dan wajah bibinya muncul dari
balik tirai, dipandangnya Lan See giok dengan terkejut lalu
bisiknya:
"Ayo cepat masuk!"
Sambil berusaha keras mengendalikan rasa pedih di
dalam hatinya, Lan See giok melompat terus masuk ke
dalam ruangan, sedang bibi Wan melirik sekejap ke
sekeliling halaman dengan seksama, kemudian cepat-cepat
menutup kembali daun jendelanya.
"Anak Giok. apakah selama beberapa hari ini kau tidak
kembali ke kuburan kuno?"
Lan See giok segera menubruk ke dalam pangkuan
bibinya dan menangis tersedu, tapi hanya sebentar saja.
karena dengan cepat isak tangisnya berubah menjadi
sesenggukan belaka
Tampaknya bibi Wan sudah merasakan firasat jelek,
dengan gelisah ia bertanya.
"Anak Giok, dimana ayahmu?"
Lama sekali Lan See giok sesenggukan sebelum sahutnya
amat pedih.
"Ayah telah dibunuh orang!"
Untuk sesaat suasana dalam ruangan menjadi hening,
dengan jelas Lan See giok dapat mendengar debaran
jantung bibi Wan yang semakin bertambah kencang.
Cahaya api berkilat, ruangan segera menjadi terang
benderang-
Ketika Lan See giok berpaling, dilihatnya enci Cian
sedang menyulut sebuah lentera dengan wajah gugup, di
bawah sinar lentera, terlihat jelas wajah Ciu Siau cian basah
oleh air mata, sepasang matanya merah membengkak,
http://kangzusi.com/
agaknya paling tidak ia sudah menangis setengah harian
lamanya.
Ketika ia berpaling lagi ke arah bibi Wan, tampak wajah
bibinya pucat pias, keningnya berkerut dan dua baris air
mata mengalir ke luar membasahi bibirnya yang gemetar.
Dengan pandangan kosong ia mengawasi sudut ruangan,
agaknya sedang merenungkan sesuatu . . .
Lan See giok tahu bibi Wan sedang amat sedih saat itu,
tanpa terasa serunya sambil menangis:
"Oooh . . bibi. bibi . "
Tiada hentinya dia menggoyang-goyangkan lengan bibi
Wannya.
Bibi Wan menyeka air matanya dengan ujung baju,
kemudian berkata lagi agak sesenggukan:
"Aku telah memperingatkan kepadanya, kalau toh
barang tersebut tak berguna, lebih baik dikembalikan
secepatnya daripada memancing datangnya bibit bencana!"
Ketika berbicara, butiran air mata kembali jatuh
bercucuran membasahi wajahnya.
Mendengar perkataan tersebut, Lan See giok segera
menarik kesimpulan kalau hubungan antara bibi Wan
dengan ayahnya pasti luar biasa, Karena itu sekali lagi dia
berseru:
" Oooh. . . bibi!"
"Anak Giok, duduklah," kata bibi Wan sambil
mengawasi wajah Lan See giok yang basah oleh air mata,
"beritahu kepada bibi, siapakah musuh besar kita?"
"Ketika anak Giok pulang tempo hari ayah telah
meninggal dunia. . ."
http://kangzusi.com/
Secara ringkas dia pun menceritakan kembali semua
peristiwa yang disaksikan maupun dialaminya dalam
kuburan kuno tempo hari..
Bibi Wan serta enci Cian masing-masing duduk di kursi
bulat dan mendengarkan penuturan tersebut dengan
seksama.
Cerita Lan See giok sangat jelas, terutama mengenai
dandanan, potongan wajah serta ciri khas dari lima
manusia cacad dari tiga telaga. . .
Sewaktu bercerita tentang si kakek berjubah kuning,
bersinar terang sepasang mata bibi Wan, tanpa terasa ia
berbisik lirih:
"Apakah diantara alis mata kakek berjubah kuning itu
terdapat sebuah tahi lalat merah?"
Lan See giok termenung sebentar, kemudian
menggeleng.
"Anak giok tidak memperhatikan soal ini!"
Bibi Wan berkerut kening lalu manggut-manggut,
pertanda dia diminta melanjutkan ceritanya.
Sewaktu Lan See giok bercerita tentang si manusia buas
bertelinga tunggal Oh Tin san menangisi jenazah lalu
bagaimana mencuri pedang dan sebagainya, kembali bibi
Wan menukas.
"Menilai seseorang jangan berdasarkan wajah saja, tapi
jangan pula dinilai dari sikapnya dan caranya berbicara
manis, biarpun kaum laknat pandai berbicara, toh akhirnya
bakal salah berbicara juga, asal kau bersedia
memperhatikan dengan seksama, tidak sulit untuk
mengetahui baik tidaknya seseorang, seperti manusia
bangsa Oh Tin san, kenyataannya kau dapat dikibuli
http://kangzusi.com/
dengan begitu mudah. hal ini membuktikan kalau
pikiranmu tersumbat waktu itu karena kesedihan yang
berlebihan"
Kemudian sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan:
"Untung saja kau mudah dikibuli ketika itu. coba kalau
tidak, mungkin kita tak akan bisa berjumpa muka lagi"
Lan See giok mengiakan dengan wajah jengah, ia pun
melanjutkan kembali cerita nya.
Tatkala bibi Wan mendengar Lan See giok mencurigai si
naga sakti pembalik sungai Thio Lok-heng sebagai otak dari
ke lima manusia cacad, dengan nada tidak puas, ia segera
berkata:
"Si naga sakti pembalik sungai Thio-Lok-heng serta naga
emas pengaduk samudra Li Ci-san dari telaga tong ting oh
termasyhur dalam dunia persilatan karena ilmu dalam
airnya, kedua orang itu dijuluki Sui sang siang hiong
(sepasang jagoan dalam air) oleh umat persilatan, Thio-
Lok-heng orangnya jujur dan polos, sedang Li Ci-san
orangnya terbuka dan berjiwa besar, kedua orang tersebut
merupakan pendekar yang dihormati umat persilatan baik
dari golongan putih maupun dari golongan hitam, jadi tak
bisa dibanding kan mereka dengan kelima manusia cacad
tersebut. Bila kau berjumpa lagi dengan mereka di
kemudian hari, harus kau hormati kedua orang itu sebagai
angkatan tua, jangan bersikap kasar atau kurang ajar
sehingga merosotkan pamor dari mendiang ayahmu."
Lan See giok mengiakan berulang kali, kemudian dia
melanjutkan kisahnya bagaimana memasuki benteng Wi-
lim-poo, ketika bercerita tentang On Li cu, Ciu Siau cian
yang duduk di sampingnya segera nyelutuk dengan nada
cemburu.
http://kangzusi.com/
"Apakah dia adalah gadis yang menunggang kuda
bersama-sama kau hari ini?"
Selesai berkata dengan wajah bersemu merah karena
jengah dia melirik sekejap ke arah ibunya, kemudian
menundukkan kepalanya rendah-rendah.
Paras muka Lan See giok ikut berubah menjadi merah
dadu. ia mengiakan cepat-cepat, setelah itu meneruskan
ceritanya bagaimana kudanya kaget, kemudian bagaimana
dia manfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.
Sebagai akhir kata dia menambahkan.
"Oh Tin-san pernah memerintahkan kepada putrinya
memberi pelajaran berenang, kepada, anak Giok sejak hari
ini, andaikata semalam tiada orang yang mencuri dengar
tentang rahasia kotak kecil di luar jendela anak Giok berniat
be)ajar ilmu berenang lebih dulu sebelum datang kemari
menengok bibi dan enci Cian!"
Tanpa terasa dia mencuri lihat sekejap lagi ke arah Ciu
Siau cian.
Mendengar perkataan tersebut sambil tertawa Ciu Siau
cian segera berkata:
"Ibu adalah Hu-yong siancu (dewi Hu-yong) yang amat
termasyhur dalam dunia persilatan, ilmu berenang siapakah
di kolong langit saat ini yang bisa menandingi Han Sin
wan? Selain mengalahkan naga sakti pembalik sungai
pernah juga mengungguli si naga emas pengaduk samudra-
ada suhu lihay tak mau minta pelajaran, kau malahan”
Belum habis perkataan itu diutarakan, Han Sin wan telah
menegur putrinya.
"Anak Cian, lagi-lagi kau usil mulut!"
http://kangzusi.com/
Kejut dan girang Lan See giok setelah mendengar
perkataan itu, ia menjadi tertegun, kemudian setelah
berhasil menenangkan pikiran nya dia berseru dengan
gembira.
"Ilmu berenang dari bibi rupanya hebat sekali dan
ternyata anak Giok tidak mengetahui sama sekali, bibi, kau
harus mengajarkan ilmu kepandaian tersebut kepada anak
Giok, dari kelima manusia cacad, ada tiga diantaranya
menjagoi telaga, bila anak Giok tidak menguasai ilmu
dalam air, usahaku untuk membalas dendam bagi ayahku
tak akan lancar."
Berbicara soal membalas dendam, suasana dalam
ruangan kembali dicekam keresahan.
Setelah lewat berapa saat, Hu-yong siancu Han Sin Wan
baru berkata lagi.
"Anak Giok, kalau ditinjau dari penuturanmu tadi,
kelima manusia cacad tersebut memang mencurigakan
semua, diantaranya meski si iblis buas bermata tunggal dan
beruang berlengan tunggal yang mencurigakan, namun
manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san terhitung
manusia paling mencurigakan . . "
"Atas dasar apa bibi mengatakan Oh Tin san paling
mencurigakan?" sela Lan See -giok tidak mengerti.
Hu-yong-siancu Han Sin wan menghela napas sedih.
"Oh Tin san merupakan seorang manusia yang kejam
dan berhati buas, yang paling mencurigakan dari
perbuatannya adalah ia tidak membunuhmu melainkan
menghajarmu sampai pingsan, lalu menggunakan
kesempatan tersebut membinasakan si binatang bertanduk
tunggal."
http://kangzusi.com/
"Yaa, bisa jadi dia takut si binatang bertanduk tunggal
membocorkan rahasia kotak kecil itu, sebab sebelum
peristiwa itu berlangsung si binatang bertanduk tunggal
memang bersembunyi pula di tempat kegelapan !"
"Justru karena si binatang bertanduk tunggal
bersembunyi dalam kegelapan itulah, Oh Tin San baru
turun tangan membunuhnya" ucap Han Sin wan dengan
bersungguh sungguh, "siapa tahu hal ini disebabkan dia
kuatir si binatang bertanduk tunggal akan membocorkan
rahasia kotak kecil, atau mungkin juga kuatir kalau si
binatang bertanduk tunggal akan menuding Oh Tin San
sebagai pembunuh sesungguhnya .."
Lan See giok berkerut kening, lalu dengan wajah tak
mengerti ia bertanya:
"Selama ini lima manusia cacad menguasai wilayah yang
berbeda, mengapa mereka bisa muncul bersama sama
dalam kuburan kuno pada malam itu .."
Sekilas perasaan sedih segera menghiasi wajah Hu-yong
siancu, ujarnya sedih.
"Sudah banyak tahun bibi bersembunyi di tepi telaga,
sedikit sekali masalah dunia persilatan yang kuketahui,
sedang tokoh-tokoh lima manusia cacad pun baru muncul
berapa tahun belakangan ini. seperti misalnya si tongkat
besi berkaki tanggal Gui-Pak-ciang yang kau maksudkan,
dulunya ia lebih dikenal sebagai Kun lui koay (tongkat
geledek) yang merajai wilayah Soa lam, apa sebabnya
mereka bisa berkumpul pada malam yang sama, bibi
sendiripun kurang jelas.”
Berbicara sampai di situ, dia melirik sekejap ke arah putri
kesayangannya, lalu sambil mengulumkan senyuman,
lanjutnya:
http://kangzusi.com/
”Sedangkan mengenai belajar ilmu berenang, bibi sudah
kelewat tua sehingga tak mungkin bisa mengajarkan sendiri
kepadamu. . . ."
"Apa? Bibi sudah tua?" Lan See giok melongo.
Memandang wajah kaget yang menghiasi wajah Lan See
giok, tanpa terasa Ciu Siau cian menutupi bibirnya sambil
tertawa.
Benar, di mata Lan See giok paling banter bibinya baru
berusia dua puluh enam tujuh tahunan, dia masih nampak
muda, cantik, anggun, halus dan lembut, bagaimana
mungkin bisa dibilang telah tua? Tak heran kalau dia
menjadi tertegun saking kagetnya.
Hu-yong siancu tersenyum, dia tidak menanggapi
pertanyaan Lan See giok tersebut, hanya terusnya:
"Mulai besok, kau boleh minta kepada enci Cian mu agar
mengajarkan ilmu berenang. . "
Lan See giok girang sekali, hal ini memang merupakan
pucuk dicinta ulam tiba baginya. maka sambil melompat
bangun dan menjura kepada Ciu Siau cian, katanya dengan
gembira:
"Kalau begitu siaute ucapkan banyak terima kasih dulu
kepada cici Cian."
Siapa tahu Ciu Siau cian segera menghindar ke samping
sambil berseru:
"Aaah, aku tak lebih hanya gadis dusun yang tak tahu
soal adat, bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan
enci Cu yang pandai, ilmu berenang lagi pula terhitung
keturunan keluarga persilatan yang terhormat . . .”
http://kangzusi.com/
Lan See giok menjadi gugup, dia memang tidak
menyangka kalau enci Cian nya yang lemah lembut
ternyata mempunyai rasa cemburu yang begitu besar.
Sambil tertawa paksa, katanya kemudian dengan gugup.
"Oooh, cici! Mengapa kau masih mengingat ingat kata
lelucon tersebut? Dalam situasi dan kondisi siaute waktu
itu, mau tak mau harus kusanjung dirinya agar tidak curiga,
harap cici jangan mengingatnya terus dihati"
Sambil berkata, sekali lagi dia menjura dalam-dalam, kali
ini dia menjura dalam sekali hingga sepasang tangannya
hampir menempel di atas tanah.
Ciu Siau cian yang terbayang kembali bagaimana ia
merasa kecewa, menderita dan malu serta pelbagai perasaan
lain yang bercampur aduk, tak tahan lagi katanya dengan
hambar
"Aku tahu kalau diriku ini rendah dan tak mungkin bisa
menandingi si nona terhormat dari keturunan keluarga
ternama, oleh sebab itulah aku tak berani menerima
permintaan dari ibu untuk memberi pelajaran kepadamu. ."
Memandang wajah Lan See giok yang merah membara
karena gelisah. Hu-yong siancu tersenyum, segera ujarnya:
"Siau cian, bagaimanakah posisi adik Giok mu waktu itu
tentunya sudah kau ketahui, buat apa sih mesti menyiksa
dia. . ."
Mendengar bibinya membelai dia, dari murung Lan See
giok menjadi gembira, memanfaatkan kesempatan itu
ujarnya sambil tertawa:
"Siaute berani bersumpah kepada langit, selama hidup
aku tak berani lagi membuat cici marah, bila cici sampai
http://kangzusi.com/
dibuat marah, siaute bersedia untuk berlutut di depan cici
dan menerima hukuman."
Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Han Sin wan
melirik sekejap ke arah putrinya sambil tertawa riang,
wajahnya bersinar cerah ujarnya kemudian sambil
tersenyum.
”Nah, anak Cian, apa lagi yang hendak kau katakan
sekarang?"
Ciu Siau cian malu sekali, mukanya merah sampai ke
telinga, sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan
manja serunya:
"Sungguh mendongkolkan, sungguh mendongkolkan”
Sekali lagi Lan See giok berdiri melongo sikap enci Cian
dan sikap bibinya boleh dibilang merupakan dua reaksi
yang berbeda, sambil memandang ke arah bibinya ia pun
berkata agak tersipu sipu:
"Aku tidak tahu apakah kembali salah berbicara, dulu
kalau anak Giok telah melakukan kesalahan, ayah selalu
menyuruh anak Giok berlutut sebagai hukuman."
"Anak Giok, itukan menghadapi orang tua atau
angkatan yang lebih tua” seru bibi Wan sambil tertawa geli.
Belum habis perkataan tersebut, dengan wajah bersemu
merah Ciu Sian cian segera menimbrung:
"Ibu, anak Cian bukan enggan memberi pelajaran kepada
adik Giok, cuma kurasa disini terlalu banyak mata-mata,
kalau orang melihat gerak gerikku, mereka bisa salah
sangka.."
Hu-yong siancu segera memahami maksud putrinya,
sambil tertawa ujarnya lagi.
http://kangzusi.com/
"Tentu saja pelajaran tak boleh diberikan disiang hari,
sebab dengan begitu akan menarik perhatian orang banyak,
tempat persembunyian kita di tempat inipun akan segera
tersebar luas pula dalam dunia persilatan, apalagi dengan
kaburnya adik Giok mu, pihak Wi-lim-poo pasti tak akan
melepaskan pengejarannya. apalagi si manusia buas
bertelinga tunggal Oh Tin san bertekad akan mendapatkan
kotak kecil itu.."
Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan
itu, tanyanya tanpa terasa:
"Bibi, mereka bilang kotak kecil itu berisikan kitab
pusaka Tay lo hud bun tiap yap cinkeng, benarkah itu?"
Bibi Wan tidak langsung menjawab, tiba-tiba saja dia
memasang telinga dan mendengarkan dulu keadaan di
sekeliling tempat tersebut . . .
Suasana di luar halaman amat hening, selain angin
malam yang berhembus lewat menggoyangkan dedaunan
serta ranting dan suara ombak telaga yang memecah di
tepian tanggul, tak kedengaran suara yang lain.
Dengan wajah serius diapun manggut-manggut,
sahutnya dengan suara lirih:
"Betul, kitab pusaka tersebut benar-benar merupakan
mestika dunia persilatan yang diidam idamkan setiap umat
persilatan, tapi sedikit sekali yang tahu dimanakah ilmu
sakti tersebut tercatat, oleh sebab itu mereka yang tidak
mengetahui rahasianya, mendapatkan benda tersebut sama
artinya dengan memperoleh benda rongsokan!"
Lan See giok sendiripun sangat berharap bisa
mempelajari kepandaian sakti yang tercantum dalam kitab
pusaka itu, tanpa terasa tanyanya dengan gelisah.
http://kangzusi.com/
"Apakah bibi mengetahui bagaimana cara nya membaca
kitab pusaka tersebut?"
Hu-yong siancu menghela napas sedih:
"Aai, seperti juga ayahmu, bibi bukan orang yang
berjodoh dengan Buddha, tak mampu kupahami arti dari
pelajaran tersebut"
Betapa kecewanya Lan See giok setelah mengetahui hal
ini, bukankah kejadian tersebut sama artinya dengan
ayahnya telah mengorbankan selembar jiwanya demi suatu
benda "rongsokan"? Apakah hal ini tidak kelewat tidak
berharga?
Sementara dia masih termenung, terdengar bibi Wan
kembali berkata:
"Bibi pernah menasehati ayahmu, kalau toh tak
dipahami rahasia dari kitab pusaka tersebut, lebih baik
segera dikirim kembali saja."
Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan
itu. buru-buru ia bertanya:
"Bibi, darimanakah ayah peroleh kotak kecil itu?"
Sorot mata bibi Wan menjadi redup, seakan akan
terbayang kembali kisah dimasa silam, lama kemudian dia
baru berkata:
"Bibi hanya tahu, ayahmu telah berjumpa dengan
kekasihnya yang telah menikah di bawah puncak Giok-li-
hong di bukit Hoa san dan secara kebetulan juga
mendapatkan kotak kecil itu, sedang keadaan yang
sebenarnya tidak bibi ketahui."
Lan See giok hanya ingin cepat-cepat mengetahui kisah
ayahnya sampai mendapatkan kotak kecil itu, karenanya ia
tidak terlalu memperhatikan perubahan wajah bibinya.
http://kangzusi.com/
Saat ini satu ingatan tiba-tiba melintas di dalam
benaknya, dengan nada memohon segera ujarnya:
"Bibi, bersediakah kau mengeluarkan kotak kecil itu agar
giok ji periksa? Sekarang hari sudah malam, siapa tahu
dengan tenaga pikiran giok ji, bibi dan enci Cian kita akan
berhasil memahami rahasia kitab pusaka tersebut?"
"Baiklah," sahut Hu-yong siancu tanpa ragu-ragu,
"malam ini, mari kita lihat sampai di manakah rejekimu?"
Ia beranjak menuju ke jendela belakang dan mengintip
sekejap keadaan di sekitar sana dengan cekatan, kemudian
tubuhnya melompat ke luar dan sekejap kemudian sudah
lenyap dari pandangan.
Ketika Lan See giok turut menengok ke depan, rembulan
nampak bersinar cerah, daun dan ranting bergoyang
lembut, sedang bintang berkedip kedip memancarkan
cahaya nya, tengah malam sudah lewat.
Bayangan manusia kembali berkelebat lewat, bibi Wan
dengan jurus walet lincah menerobos tirai sudah melayang
masuk kembali ke ruangan, gerakan tubuhnya ringan dan
sama sekali tidak menimbulkan suara.
Lan See giok menutup jendela dengan cepat kemudian
berpaling, ternyata di tangan bibi Wan telah bertambah
dengan sebuah kotak kecil berwarna kuning yang empat
inci lebarnya.
Berhubung Lan See giok sudah tahu kalau isi kotak
tersebut berisikan sejilid kitab pusaka, maka dalam hati
kecilnya timbul perasaan hormat.
Biarpun bibi Wan nya terhitung seorang pendekar wanita
yang namanya menggetar kan dunia persilatan, setelah
memegang kotak kecil berisi kitab pusaka itu, toh
http://kangzusi.com/
terpengaruh juga oleh emosi, wajahnya berubah menjadi
serius dan sepasang tangannya turut gemetar.
Dengan hormat sekali Lan See giok menerima kotak
kecil itu kemudian setelah melepaskan kain kuningnya,
pelan-pelan ia membuka penutup kotak itu.
Di dalam kotak itu berisikan tiga buah daun emas yang
panjangnya beberapa inci, sinar gemerlapan segera
memancar ke mana-mana.
Lama sekali Lan See giok memperhatikan benda tersebut
namun gagal untuk menemukan sesuatu yang
mencurigakan, apalagi ke tiga lembar daun emas itu tidak
beraksara tidak pula bergambar, polos dan halus sekali.-
Hu-yong siancu serta Ciu Siau cian berdiri membungkam
di belakang Lan See giok, mereka pun berusaha
memusatkan segenap perhatiannya untuk turut memeriksa
ke tiga lembar daun emas tadi, namun apa yang ditemukan
tak lebih cuma daun emas biasa.
Untuk beberapa saat lamanya, suasana di sekeliling
tempat itu dicekam dalam keheningan yang luar biasa.
sedemikian hening nya sampai masing-masing dapat
mendengar detak jantung lawannya..
Mendadak..
Dari arah tepi telaga sana, lamat-lamat kedengaran suara
yang amat lirih.
Pertama tama Hu-yong siancu yang merasakan lebih
dulu, dengan cepat dia mengebaskan tangannya untuk
memadamkan lentera, seketika itu juga suasana dalam
ruangan dicekam kegelapan.
http://kangzusi.com/
Lan See giok sangat terkejut, cepat-cepat dia menutup
kembali kotak tersebut dan menyerahkannya kembali
kepada bibi Wan.
Sedangkan Ciu Siau cian memasang telinga baik-baik
sembari mengerdipkan matanya, lalu dengan nada kaget ia
berbisik:
"Ibu, seperti ada perahu yang merapat di tepi telaga!"
Dengan langkah terburu buru dia menuju ke luar,
membuka pintu rumahnya sedikit lalu mengintip ke luar
segulung angin dingin berhembus masuk, udara terasa
sedikit dingin.
Lan See giok menyusul di belakang Ciu Siau cian,
mereka bersama sama berdiri di belakang pintu.
Ketika Ciu Siau cian mengetahui adik Gioknya
menyusul, dengan cepat ia memberi tanda, lalu menarik
tangan pemuda itu dan diajaknya menuju ke pintu
pekarangan.
Ketika Lan See giok merasa tangannya digenggam oleh
tangan enci Cian nya yang halus dan lembut seakan akan
tak bertulang, segulung hawa panas yang segar dengan
cepat menyusup ke dalam lubuk hatinya.
Mengikuti di belakang gadis tersebut sekarang, dia
seperti sudah melupakan segala ketegangan yang dirasakan
hanya semacam perasaan aneh yang tak terlukiskan dengan
kata-kata, dan perasaan ini dapat membikin jantungnya
berdebar keras dan wajahnya bersemu merah, tubuhnya,
seolah-olah melayang di atas awan.
Tanpa terasa ia bersama Ciu Siau cian telah berjongkok
di bawah pagar pekarangan, bau harum semerbak yang
berhembus lewat membuat hatinya berdebar semakin keras.
http://kangzusi.com/
Diantara bau harum itu, terselip pula bau harum khas
dari enci Ciannya, dan bau tadi membuat ia merasa
gembira dan sangat nyaman.
Sudah lama dia mimpikan menggenggam tangan enci
Ciannya yang lembut, dan kini harapannya telah menjadi
kenyataan, tanpa disadari ia menggenggam tangan Ciu Siau
cian semakin kencang.
Ciu Siau cian tidak menolak sebab ia sedang
memusatkan semua perhatiannya untuk mengintip melalui
celah-celah pagar pekarangan, sebaliknya Lan See giok
malah termangu - mangu oleh kecantikan wajah kekasih
hatinya ini.
Dalam keadaan begini, dia tidak berhasrat untuk
memikirkan hal lain lagi, dia cuma berharap bisa bersama
dengan enci Ciannya untuk selama lamanya . . .
Mendadak Ciu Siau cian menyikutnya pelan, Lan See
giok segera tersadar kembali dan mengalihkan
pandangannya ke arah telaga.
Dari bawah tanggul telaga tampak ada tiga sosok
bayangan manusia sedang bergerak mendekat, di bawah
cahaya rembulan mereka hanya sempat melihat potongan
badannya saja.
Mendingan kalau Lan See giok tidak melihat. begitu
diintip dia menjadi kagetnya setengah mati, bahkan hampir
saja menjerit tertahan, rupanya ke tiga sosok manusia yang
baru saja melompat turun dari tanggul telaga itu adalah si
manusia buas bertelinga tunggal Oh Tin san, Say nyoo-hui
Ki-Ci-hoa serta Oh Li cu yang cantik tapi genit itu.
Tanpa terasa dia lantas menggenggam tangan Ciu Siau
cian kencang-kencang.
http://kangzusi.com/
Ciu Siau cian segera merasakan akan hal itu, dengan
cepat dia berbisik.
"Siapakah mereka? Apakah perempuan yang bernama
Oh Li cu?"
Suara yang halus, udara yang hangat dan harum,
sungguh merupakan suatu rangsangan yang luar biasa,
hanya sayang Lan See giok yang tegang sehingga dia sama
sekali tidak merasakan akan hal tersebut.
Lan See giok mengangguk dengan gelisah sahutnya
dengan nada gelisah.
"Bukan hanya Oh Li cu seorang, kedua orang lainnya
adalah orang tua mereka, Oh Tin san serta Say nyoo-hui."
Sewaktu Ciu Siau cian mendengar perkataan itu dia
seperti agak terkejut pula, cepat-cepat dia mengangguk dan
kemudian mengalihkan kembali sorot matanya ke arah tepi
telaga.
Dalam pada itu Oh Tin San dan Say nyoo-hui sedang
memberi gerakan tangan kepada Oh Li cu, agaknya dia
sedang menanyakan kejadian yang dialaminya hari ini
kalau di tinjau dari wajah Oh Tin san tampaknya dia amat
gusar.
Tiba-tiba Oh Li cu menuding ke muka, mengikuti
tudingan itu, Oh Tin san dan Say nyoo-hui segera
mengalihkan sorot mata mereka yang tajam bagaikan
sembilu ke arah depan.
Menyaksikan sorot mata mereka, Lan See giok
merasakan tubuhnya gemetar keras, tak tahan dia berpaling
ke arah pintu rumah mohon bantuan.
http://kangzusi.com/
Baru berpaling, dia telah menyaksikan bibi Wan berdiri
di belakang pintu pagar dengan wajah tenang, agaknya dia
pun sedang mengawasi gerak gerik Oh Tin san bertiga.
Betapa leganya Lan See giok setelah melihat bibinya
munculkan diri, meski demikian rasa tegang toh belum
mereda, tanpa terasa bisiknya lirih:
"Bibi, Oh Tin san.."
"Ssst-!" Hu-yong siancu menempelkan jari tangannya ke
atas ujung bibir melakukan gerakan melarang berbicara,
setelah itu dia menuding ke tepi telaga.
Lan See-giok memahami maksudnya dan berpaling
kembali, ternyata Oh Tin san bertiga sedang berbisik bisik
seperti merundingkan sesuatu, ke enam mata mereka yang
tajam dialihkan kemari tiada hentinya.
Mendadak . . .
Ke tiga orang itu bersama sama memberi tanda,
kemudian berjalan mendekati bangunan rumah mereka.
Peluh dingin dengan cepat bercucuran membasahi tubuh
Lan See-giok, cepat dia berpaling, bibi Wan nya memberi
tanda kepadanya agar kabur secepatnya, maka dia menarik
tangan Ciu Siau cian dan bersama sama kembali ke dalam
kamar.
Hu-yong siancu mengikuti di belakang mereka dengan
sikap yang tenang, pintu rumah sekalian ditutup rapat, lalu
memberi tanda kepada Lan See giok agar bersembunyi di
ruang dalam, diperingatkan sebelum dipanggil agar jangan
munculkan diri.
Lan See giok mengangguk dengan gugup kemudian
berjalan masuk ke dalam kamar tidur bibinya, disaat dia
http://kangzusi.com/
hendak melangkah ke dalam kamar dilihatnya enci Cian
sedang dibisiki sesuatu oleh ibunya.
Dalam suasana begini, dia tidak berhasrat lagi untuk
mendengarkan apa yang dibicarakan bibi Wan nya, dengan
gugup dia menyandarkan diri dekat jendela depan, lalu
membuat sebuah lubang kecil pada kertas jendela tadi.
Dari situ kembali dia mengintip ke muka, kali ini Oh Tin
san suami istri serta Oh Li cu telah berdiri di luar pagar
sambil menengok ke dalam rumah, waktu itu mereka
sedang berbisik bisik sambil menuding ke sana ke mari.
Sorot mata sesat kelihatan mencorong ke luar dari balik
mata Oh Tin San, dengan wajah penuh amarah dia
mengawasi Oh Li cu, sementara tangannya yang kurus
kering menuding kesana ke mari seperti lagi menanyakan
sesuatu.
Rambut Oh Li cu sangat kusut, keningnya berkerut dan
bibirnya cemberut, sementara sepasang matanya telah
merah membengkak karena kebanyakan menangis.
Saat ini dia mengenakan pakaian ringkas berwarna
merah, sebilah pedang tersoren di punggungnya.
Say nyoo-hui Ki-Ci-hoa berkerut kening juga, sekalipun
dia sayang anak tapi berhubung masalahnya menyangkut
suatu urusan besar, maka dia seakan-akan tak sanggup lagi
untuk membendung amarah Oh Tin San terhadap putrinya.
Sementara itu, Oh Li cu telah mengangguk dengan pasti,
dia menuding ke arah pepohonan ditengah halaman.
Tanpa banyak membuang waktu, Oh Tin san segera
melejit ke udara dan melayang turun ke dalam halaman,
sedangkan Say nyoo-hui serta Oh Li cu mengikuti di
belakangnya.
http://kangzusi.com/
Baru saja mereka bertiga menginjakkan kakinya ke atas
tanah.
"Kraak. . .!"
Tahu-tahu pintu depan terbuka lebar.
Hu-yong siancu dengan wajah yang anggun dan tenang
telah berdiri angker di depan pintu.
Kemunculan tuan rumah yang amat tiba-tiba ini sangat
mengejutkan Oh Tin San suami istri, agaknya kejadian
tersebut sama sekali di luar dugaan, tapi hanya sebentar saja
paras muka mereka segera pulih kembali seperti sedia kala
dan menunjukkan sikap angkuh.
Hu-yong siancu tidak menunjukkan sikap apapun, malah
dengan senyum dikulum dia melangkah ke luar dari dalam
ruangan.
Paras muka Oh Tin san suami istri berubah hebat,
setelah berseru tertahan mereka mundur setengah langkah,
tapi dalam waktu singkat mereka berhasil menguasai
kembali keadaan, senyum dingin segera menghiasi lagi
ujung bibir mereka.
Setelah berdiri tegak, sambil tertawa hambar Hu-yong
siancu berkata:
"Selama ini kalian menjagoi dunia persilatan dengan
bercokol di benteng Wi-lim-poo, nama besarnya sudah
termasyhur sampai di seantero dunia. kami ibu dan anak
beruntung sekali bisa hidup bertetangga dengan kalian
dengan mendirikan gubuk reyot di tepi telaga" Kemudian
setelah memandang sekejap kearah Oh Li cu, dia
melanjutkan.
"Kini, malam sudah larut, entah ada persoalan apa
kalian suami istri bersama putri kalian berkunjung ke mari?
http://kangzusi.com/
Gubuk kami reyot. bila tidak keberatan silahkan masuk ke
ruangan untuk minum teh dulu. ."
Merah padam selembar wajah Oh Tin san dia
mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak,
sahutnya sambil tertawa nyaring:
"Hu-yong siancu adalah seorang pendekar wanita yang
namanya sudah menggemparkan lima telaga dan sekarang
hidup menyendiri di tepi telaga untuk mencari kehidupan
yang aman damai, kami suami istri berdua tak lebih hanya
manusia kasar. bila lihiap tidak berbohong, tentunya sudah
kau ketahui bukan apa maksud kunjungan kami pada
malam ini"
Hu-yong siancu berkerut kening, kemudian gelengkan
kepalanya dengan tidak mengerti, ujarnya hambar.
"Entah apa maksudmu?"
Paras muka Oh Tin san berubah, setelah tertawa dingin
katanya dengan suara dalam.
"Bila kau mengaku tak tahu, tak ada salahnya aku
berbicara secara blak- blakan. malam ini sengaja kami
datang untuk mengambil kembali kitab pusaka Tay lo tiap
yap cinkeng, sebagai manusia yang berpengalaman,
tentunya kau tahu bukan sepasang tangan susah melawan
empat tangan, biarpun kami bertiga sadar bukan tandingan
lihiap, tapi untuk membela diri, terpaksa kami akan
mengerubuti lihiap"
Dengan wajah berlagak kaget bercampur keheranan Hu-
yong siancu segera berseru.
"Kotak kuning itu diserahkan oleh Gurdi emas peluru
perak Lan tayhiap kepadaku agar disampaikan kepada
seorang cianpwe, aku seperti tak pernah mendengar harus
menyerahkannya kepada mu"
http://kangzusi.com/
Berubah paras muka Oh Tin san setelah mendengar
ucapan itu, tak sampai Hu-yong siancu menyelesaikan kata
katanya, ia sudah bertanya dengan wajah kaget.
"Siapakah ciancu itu?"
Hu-yong siancu menggelengkan kepala nya berulang
kali:
"Di dalam suratnya Lan tayhiap tidak menjelaskan
siapakah manusia tersebut, hanya diterangkan ia memakai
jubah kuning, berambut perak dan berjenggot panjang,
selain itu dia pun mempunyai sebuah ciri yang sangat khas .
."
Setelah berhenti sejenak dia memandang sekejap ke arah
Oh Tin san yang wajahnya mulai memucat serta Say nyoo-
hui yang berkerut kering, setelah itu melanjutkan:
"Adapun ciri khas dari manusia berjubah kuning itu
adalah pada keningnya terdapat sebuah tahi lalat yang
berwarna merah!"
Sekujur badan Oh Tin san gemetar keras, peluh dingin
jatuh bercucuran dengan amat deras, tapi toh bertanya juga
dengan nada tidak mengerti.
"Lan Khong-tay memerintahkan kepadamu harus
menyerahkan kotak kecil itu kepada si manusia aneh
tersebut pada saat kapan?"
"Tengah hari tadi!" jawab Hu-yong siancu tanpa ragu.
Oh Tin san suami istri serta Oh Li cu bertiga merasakan
hatinya bergetar keras, tanpa terasa mereka saling
berpandangan sekejap, sebab mereka serentak teringat
kembali dengan Lan See giok yang hilang lenyap.
Say nyoo-hui memutar biji matanya, kemudian
menimbrung.
http://kangzusi.com/
"Di tempat mana?"
Hu-yong siancu menggerakkan alis mata nya, lalu sambil
menuding ke belakang rumah sahutnya,
"Di atas bukit sana. . . ."
Ketika mendengar perkataan tersebut, Say nyoo-hui
mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, suaranya
tinggi melengking persis seperti suara kucing kawin.
Selain Hu-yong siancu sendiri yang di bikin tak mengerti
oleh suara tertawa lengking itu, sekalipun Oh Tin san serta
On Li cu sendiripun dibuat keheranan.
Selesai tertawa, Say nyoo-hui kembali berkata dengan
suara dingin:
"Kau siluman rase cilik yang tak tahu diri, kendatipun
kau cerdas dan lihay, toh tampak juga kecerobohan mu itu,
aku tidak percaya dengan segala obrolanmu tersebut".
Kemudian dengan mata melotot dan tertawa seram, ia
menghardik:
"Siapa yang berada di dalam ruangan?"
Sambil membentak dia menuding kearah pintu kamar.
Agaknya Hu-yong siancu tidak menyangka kalau Say
nyoo-hui bakal berubah sikap sedemikian cepatnya, meski
begitu dia tetap bersikap tenang, ditatapnya wajah Say
nyoo-hui yang sedang menyeringai itu lembut, kemudian
jawabnya dingin:
"Dia adalah putraku Siau cian!"
Say nyoo-hui melototkan matanya, makin besar,
mencorong sinar tajam dari balik matanya, kemudian
setelah tertawa seram dia berkata:
"Aku tidak percaya."
http://kangzusi.com/
"Jika tidak percaya lantas kau mau apa!" Hu-yong siancu
segera menarik mukanya dengan gusar.
"Lonio akan menggeledah!"
Sembari berkata, tiba-tiba sepasang tangannya berputar
dan sepasang goloknya sudah diloloskan dari sarung.
Sementara itu keberanian Oh Tin san pun nampaknya
semakin menjadi, tenaga dalamnya dihimpun ke dalam
telapak tangan, lalu dia bersiap siap untuk menerkam ke
muka.
"Criing!" cahaya tajam berkilauan, Oh Li cu telah
meloloskan pula pedangnya.
Berubah hebat paras muka Lan See giok yang mengintip
dari balik jendela, dia benar-benar tak menduga kalau
situasi di dalam halaman akan mengalami perubahan
sedemikian cepatnya.
Karena kaget dan cemas, dan gugup anak muda itu
melompat turun dari pembaringan lalu melompat ke jendela
belakang dan membukanya dengan cepat.
Tapi..seperti disambar guntur disiang hari bolong, Lan
See giok tertegun lalu melongo, sekalipun dia ternganga
karena kagetnya, untung tiada suara yang terpancar ke luar.
Si kakek berjubah kuning yang berwarna halus dan
lembut itu tahu-tahu sudah muncul di luar jendela dengan
senyuman dikulum.
Memandang si kakek berjubah kuning yang berdiri di
luar jendela itu, Lan See giok termangu mangu, kepalanya
terasa pusing tujuh keliling, hampir saja ia roboh tak
sadarkan diri karena terkejutnya.
Mimpi pun ia tak pernah mengira bakal menjumpai
kakek berjubah kuning itu di rumah bibi Wan nya.
http://kangzusi.com/
Sementara dia masih termangu, tampak bayangan
manusia berkelebat lewat, kakek berjubah kuning itu sudah
melompat masuk ke dalam ruangan dengan enteng tanpa
menimbulkan sedikit suarapun,
Diam-diam Lan See giok amat terkejut, kendatipun dia
sudah tahu kalau si kakek berjubah kuning itu memiliki
kepandaian silat yang sangat lihay, tapi ilmu meringankan
tubuh yang demikian sempurnanya ini pada hakekatnya
belum pernah di dengar atau dilihat olehnya.
Sementara ia masih termenung, kakek berjubah kuning
itu telah menepuk nepuk bahunya dengan lembut wajahnya
sangat ramah penuh senyuman, sesudah memberi tanda
agar jangan berisik, dia berjalan menuju ke pintu gerbang.
Dalam pada itu suara bentakan gusar dari Hu-yong
siancu telah berkumandang lagi dari tengah halaman.
"Oh Tin-san, kuanjurkan segera kau ajak istri dan putri
mu untuk pergi meninggalkan tempat ini, jangan mencari
penyakit di tempat ini, jangan lagi Lan See giok telah diajak
tokoh silat itu belajar silat di pegunungan terpencil,
sekalipun ia berada dalam rumah, bayangkan saja, apakah
kalian sanggup melewati diriku sebelum dapat memasuki
ruangan ini?"
Oh Tin san termasuk manusia licik yang banyak curiga.
betul juga, kecurigaannya segera timbul setelah mendengar
perkataan itu. terutama setelah mendengar kalau Lan See
giok telah diterima tokoh silat itu sebagai muridnya, dia
merasa kepalanya seperti dipukul dengan tongkat besar.
Dengan buas penuh kebencian Say nyoo-hui melotot
sekejap kearah Hu-yong siancu, lalu setelah tertawa dingin
katanya.
http://kangzusi.com/
"Hmm, sekalipun kau sudah bercerita yang aneh-aneh,
sayang sekali aku tidak percaya kalau dalam dunia ini
terdapat kejadian yang begitu kebetulan, Hu-yong siancu
memang termasyhur sebagai perempuan cantik, tapi
sekalipun kepandaian silatmu lebih hebatpun jangan harap
bisa menandingi kami bertiga . . . "
Tergetar juga perasaan Hu-yong siancu, tidak sampai Say
nyoo-hui menyelesaikan kata katanya, dia telah menyela
dengan dingin.
"Ki-Ci-hoa, kau tak usah bersilat lidah, kalau toh kau
yakin gabungan tenaga kalian bertiga sanggup mengatasi
diriku, silahkan dicoba, asal satu diantara kalian bertiga
sanggup melewati diriku dan memasuki ruangan, bukan
saja aku Han Sin wan akan serahkan Lan See giok kepada
kalian, kitab pusaka Tay loo hud bun-pwee yap cinkengpun
akan kupersembahkan ke pada kalian bertiga!.”
-ooo0dw0ooo-

BAB 11
PARAS muka Oh Tin san suami istri sama-sama
berubah, di hati kecil mereka merasa amat terkejut, sebab
ucapan tersebut kelewat tekebur, dengan pamor Hu-yong
siancu di dalam dunia persilatan, tentu saja ia bukan hanya
gertak sambal belaka.
Oleh sebab itu tanpa sadar mereka berdua
menghubungkan kejadian tersebut dengan kepandaian sakti
yang tercantum-dalam kitab cinkeng, jangan-jangan Hu-
yong siancu telah berhasil mempelajari berapa diantara nya?
Kalau tidak, masa ia berani berbicara membual .?
Begitu terbayang kemungkinan besar kepandaian silat
Hu-yong siancu telah meningkat lebih hebat. rasa iri dan
http://kangzusi.com/
marah kembali berkobar di dalam dada Say nyoo-hui,
sambil menggertak gigi menahan dendam ia berseru
kembali:
"Terus terang kuucapkan kedatangan kami pada malam
ini adalah bertujuan untuk merebut kitab Tay lo-pwee yap
cinkeng, sedang soal Lan See giok, bagi kami bukan
menjadi masalah yang serius, bila kau bersedia serahkan
pula kepada kami, tentu saja kami akan membawanya pula
"
Baru saja perkataan itu sudah diucapkan dengan wajah
berubah Oh Li cu telah menimbrung.
"Ibu, kau tak boleh berkata begini . ."
Api amarah dan rasa iri sedang membara di dalam dada
Say nyoo-hui, begitu mendengar perkataan dari Oh Li cu
amarah yang semula tak terlampiaskan kontan saja meletus
dengan mata melotot besar, bentaknya penuh amarah.
"Tutup mulut, urusan jadi kacau gara-gara ulahmu,
sekarang kau masih punya muka untuk banyak ngebacot
lagi di sini? Bila Lan See giok benar-benar berada di sini,
mungkin bapak ibumu sendiri juga tak akan kau akui!"
Baru selesai perkataan itu diutarakan, Oh Li cu sudah
melejit ke tengah udara dan kabur menuju ke luar halaman .
..
Oh Tin san menjadi gugup, teriaknya tanpa terasa:
"Anak Cu, balik!"
Tapi suasana di luar halaman sangat hening, yang
terdengar hanya ujung baju terhembus angin yang makin
menjauh.
Oh Tin san memandang sekejap ke arah Say nyoo-hui
yang tampaknya mulai menyesal dengan pandangan
http://kangzusi.com/
gelisah, seolah-olah dia sedang bertanya: Bagaimana
sekarang?
Tergerak hati Hu-yong siancu, dia merasa kesempatan
baik ini tak boleh disia-siakan dengan begitu saja, segera
ujarnya dengan suara hambar:
"Kepergian putri kalian dalam gusar, bisa jadi akan
mengambil jalan pendek, lebih baik kalian berdua cepat-
cepat menyusul putri kesayangan kalian saja. sedang
masalah kitab pusaka Tay lo hud bun pwee tiap cinkeng
telah kuserahkan kepada kakek berjubah kuning, bila kalian
masih saja bersikeras akan menggeledah rumah, terpaksa
aku akan mencoba pula ilmu baru yang baru kupelajari dari
kitab Hud bun cinkeng tersebut."
Dalam keadaan demikian ini, posisi Oh Tin san serta Say
nyoo-hui benar-benar serba salah, mereka berdua segera
saling berpandangan sekejap, agaknya mereka sudah
bertekad hendak menyerbu ke dalam ruangan.
Tapi sewaktu mereka berdua mendongakkan kembali
kepalanya, wajah mereka berubah hebat, sambil menjerit
kaget mereka mundur tiga langkah sorot matanya penuh
rasa kaget dan ngeri, selangkah demi selangkah mereka
mundur terus ke belakang.
Hu-yong Siancu yang menyaksikan peristiwa ini tentu
saja menjadi tertegun, keningnya berkerut sedang hati
kecilnya keheranan, tapi kemudian dia seperti memahami
sesuatu, dengan cepat dia berpaling pula ke ruangan.
Tapi, pintu rumah masih terbuka lebar, keadaan di situ
tiada perubahan, tanpa terasa dia melirik pula ke depan
jendela putrinya, di jumpai putri kesayangannya masih
bersembunyi pula di situ.
http://kangzusi.com/
Maka dia berpaling lagi, ternyata Oh Tin san suami istri
sudah melarikan diri terbirit birit.
Sadarlah Hu-yong siancu, pasti ada sesuatu yang tak
beres, dia berlari masuk ke rumah, Ciu Siau cian telah
menyongsong pula dari kamarnya, serunya kemudian
dengan gembira.
"Ibu, Cian ji kagum sekali kepadamu, coba lihat, mereka
telah dibikin kabur oleh perkataanmu."
Hu-yong siancu datang amat gelisah, dia tak berniat
menjawab perkataan dari putrinya, ketika tidak dijumpai
Lan See giok turut ke luar, buru-buru ia menegur:
"Mana adik Giokmu?"
Sambil bertanya cepat-cepat dia masuk ke kamar sendiri,
tapi jendela sudah terbuka Lan See giok juga lenyap tak
berbekas.
"Celaka." pekik Hu-yong siancu panik, ia melompat ke
luar jendela dan naik ke atap rumah.
Suasana amat hening, hanya rembulan bersinar di langit
barat, tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak.
Dari gerak gerik ibunya yang gugup, Ciu Siau cian tahu
kalau gelagat tidak beres, cepat-cepat dia menyusul ke luar
jendela, baru saja akan menyusup ke atas atap rumah, Hu-
yong siancu telah melayang turun
Cepat-cepat Ciu Siau cian menyusulnya sambil bertanya:
"Ibu, apa yang telah terjadi? Mana adik Giok?"
Dengan wajah pucat pias Hu-yong siancu menuding ke
jendela bagian belakang kemudian mereka berdua bersama -
sama kembali ke dalam ruangan.
http://kangzusi.com/
Ciu Siau cian menutup daun jendelanya rapat-rapat, ia
saksikan ibunya sedang mengeluarkan sebuah kotak kecil
berkain kuning dari bawah pembaringan.
Agak lega perasaan Hu-yong siancu setelah melihat
kotak itu masih tetap utuh, ketika penutupnya dibuka
tampak daun emas tersebut masih tetap seperti sedia kala.
rasa cemas yang semula mencekam perasaannya kini
menjadi lega kembali.
Kendaripun demikian, kedua orang tersebut tetap merasa
tak habis mengerti, kenapa Lan See giok bisa lenyap dari
situ?
Sementara itu, Lan See giok telah dibawa si kakek
berjubah kuning itu berlarian di tengah tanah pegunungan,
gerakan tubuh kakek itu cepat, sekali bagaikan sambaran
kilat, mereka langsung menuju ke sebuah puncak bukit.
Lan See giok yang berlarian mengikuti kakek, tersebut
dapat merasakan angin tajam menderu deru di sisi
telinganya, dia merasa kakinya seolah-olah tidak menginjak
tanah. melainkan melayang diantara awan.
Berhubung kemunculan kakek berjubah kuning itu
berhasil membuat Oh Tin san 1ari ketakutan, ditambah
pula dia tidak menuntut kotak kecil itu, perasaan gelisah
dan cemas yang semula menyelimuti perasaan Lan See
giok, kini sudah mereda kembali
Ia pernah berpikir, jangan - jangan hal tersebut hanya
merupakan sebuah taktik merebut hati dari kakek berjubah
kuning tersebut, tapi setelah berpikir lebih jauh, dia merasa
pemikiran tersebut tidak benar, dengan kepandaian sakti
yang di miliki kakek berjubah kuning itu, bila dia ingin
melarikan kocak kecil tersebut, hal tersebut seharusnya bisa
dia lakukan semudah merogoh barang dalam saku sendiri.
http://kangzusi.com/
Apalagi masalah ke lima manusia cacad serta siapa
gerangan pembunuh sebenarnya. yang telah menghabisi
nyawa ayahnya perlu diketahui dan di tanyakan pula dari
kakek berjubah kuning ini-
Sementara dia masih termenung, tubuhnya terasa sudah
melambung ke atas puncak tebing itu.
Ketika kakek berjubah kuning itu mengebaskan ujung
bajunya, tubuh merekapun berhenti bergerak.
Lan See giok segera berpaling, ia saksikan kakek
berjubah kuning itu dengan senyuman ramah dikulum dan
sorot mata yang berkilat kilat sedang memandang ke
arahnya penuh belas kasih, dia hanya tersenyum tanpa
mengucapkan sepatah katapun.
Sikap yang begitu belas kasih dan ramah ini dengan
cepat menggetarkan perasaan pemuda kita, apalagi bila
terbayang sikap hormat dari si naga sakti pembalik sungai
terhadap orang itu.
Tanpa terasa diapun menjura seraya berkata dengan
hormat:
"Boanpwe Lan See-giok menyampaikan salam untuk
locianpwe"
Seraya berkata dia lantas jatuhkan diri berlutut dan
memberi hormat..
Kakek berjubah kuning itu mengangkat kepalanya dan
tertawa terbahak bahak, suaranya nyaring bagaikan pekikan
burung hong, nadanya penuh kegembiraan. Kemudian
dengan suara lembut dia berkata:
"Nak, waktu yang tersedia bagi kita tidak banyak, ayo
cepat bangun dan duduk. kita harus berbicara banyak."
http://kangzusi.com/
SAMBIL berkata dia lantas membangunkan pemuda
tersebut dari atas tanah.
Lan See giok mengiakan dengan hormat, setelah
memandang sekejap sekeliling tempat itu, dijumpainya
bukit itu sangat datar, rumput tumbuh amat subur, puluhan
kaki di seputar sana tidak dijumpai pepohonan pinus
ataupun bambu, juga tiada batuan cadas.
Boleh dibilang tempat semacam ini merupakan sebuah
tempat yang ideal sekali untuk bercakap-cakap.
Dengan kepandaian maha sakti yang di miliki kakek
berjubah kuning itu, jatuhnya bunga atau daun pada jarak
sepuluh kaki di seputar sana pun bisa ditangkap olehnya
dengan nyata, jelas tak mungkin ada orang yang bisa
menyadap pembicaraan mereka tanpa ketahuan jejaknya.
Mereka berduapun duduk di atas tanah berumput, tanah
yang amat lembut bagai-kan busa.
Kemudian kakek berjubah kuning itu bertanya dengan
ramah:
"Nak, tidakkah kau merasa keheranan, mengapa aku
datang mencarimu malam-malam begini?"
Lan See giok memang berperasaan demikian, maka dia
mengiakan dengan hormat.
Kakek berjubah kuning itu kembali tertawa terbahak
bahak.
"Haaahhh- haaahhh.. haaahhh, terus terang kukatakan
kepadamu nak, sejak aku masuk ke dalam benteng Wi-lim-
poo, selama ini aku, tak pernah meninggalkan Oh Tin san,
oleh sebab itu mereka dapat menemukan kau, akupun dapat
pula menemukan dirimu “
http://kangzusi.com/
"Locianpwe" tanya Lan See giok tidak habis mengerti,
"dari mana Oh Tin san bisa mengetahui tempat tinggal dari
bibi Wan-?"
"Kalau dibicarakan sebenarnya hanya secara kebetulan
saja, ketika Oh Tin san suami istri kembali ke benteng, Oh
Li cu menangis sambil mengadukan peristiwa lenyapnya
kau kepada orang tua mereka. Say nyoo-hui segera
menuduh kau berusaha melarikan diri, tapi Oh Li-cu
berusaha-keras membelaimu."
Berbicara sampai di situ ia berhenti sejenak seakan akan
sedang memikirkan sesuatu lalu dengan tidak mengerti ia
bertanya.
"Pernahkah kau bercerita kepada Oh Tin san bahwa bibi
Wan mu mempunyai seorang putri berusia enam tujuh
belas tahunan?"
Mendengar pertanyaan itu Lan See giok segera menjadi
menyesal sekali, dia manggut-manggut.
Kakek berjubah kuning itupun melanjutkan kembali
ceritanya.
"Tatkala Oh Li cu bercerita ada seorang gadis berbaju
kuning yang berusia enam tujuh belas tahunan
menunjukkan perubahan wajah dan nampak amat sedih
sekali setelah bertemu kau, Oh Tin san segera menaruh
curiga kalau rumah ini bisa jadi adalah tempat kediaman
bibi Wan mu, akhirnya mereka putuskan untuk melakukan
penyelidikan, ketika mereka ketahui bibi Wan mu ternyata
adalah Hu-yong siancu Han Sin -wan yang sudah lama
mengasingkan diri, maka semua duduknya persoalanpun
menjadi jelas."
Lan See giok pernah menaruh curiga, kepergian Oh Tin
san ditengah malam buta tanpa pamit tempo hari adalah
http://kangzusi.com/
untuk pergi mencari bibi Wan nya, maka kembali ia
bertanya:
"Tahukah locianpwe, apa sebabnya Oh Tin san suami
istri meninggalkan rumah secara tergesa gesa ditengah
malam buta?"
"Walaupun Oh Tin san orangnya buas dan kejam,
namun ia tak bisa menguasai diri bila menghadapi suatu
persoalan, malam berselang kalian membicarakan lagi soal
kotak kecil itu- “
Mendengar sampai disini, Lan See giok pun menjadi
paham kembali, tanpa terasa serunya cemas.
"Anak Giok tahu sekarang, orang berdiri di luar jendela
semalam itu adalah locianpwe?"
Sambil tertawa ramah kakek berjubah kuning itu
manggut-manggut.
"Nak, seharusnya kau bisa menduga akan diriku, Di
dalam benteng Wi-lim-poo banyak terdapat kapal perang
yang berlabuh, di luar dikelilingi telaga yang luas,
penjagaan dan pengintaian tersebar di mana-mana,
memang tidak gampang bagi orang luar untuk
menyelundup masuk, untung saja penjagaan di dalam
benteng tidak ketat sehingga banyak memberi keleluasaan
bagiku.."
Lan See giok segera teringat akan sesuatu rahasia yang
tidak diketahui olehnya, dengan nada tak mengerti kembali
dia bertanya:
"Tahukah locianpwe di dalam gedung bagian pusat
benteng Wi-lim-poo kenapa tidak diberi penjagaan?"
Kembali kakek berjubah kuning itu termenung sebentar,
lalu sahutnya:
http://kangzusi.com/
"Oh Tin-san adalah seorang manusia yang gampang
menaruh curiga, bisa jadi dia menganggap penjagaan di luar
bentengnya sudah sekokoh dinding baja lantai tembaga dan
mustahil ada orang menyusup ke dalam, maka kuatir
rahasia pribadi dalam ruangannya ketahuan orang lain,
maka dia sengaja tidak mengatur penjagaan di seputar sana,
hal ini bisa dibuktikan pula dengan tiadanya orang yang
berdiam di seputar situ."
Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan
tersebut, seakan akan memahami sesuatu, dia bertanya
kembali.
"Locianpwe bilang malam berselang kau berdiri di luar
jendela, kemudian Oh Tin san ke luar dari ruangan setelah
mendengar suara, tapi nyatanya tidak ditemukan sesosok
bayangan manusiapun, waktu itu apakah locianpwe sudah
masuk ke ruang belakang?"
Kakek berjubah kuning itu tertawa terbahak bahak:
"Haah . . haah . . haaahhh . . . justru kebalikannya, aku
cuma bersembunyi di bawah lantai batu di depan jendela
pagoda air, sewaktu kau ke luar dari jendela, asal kau
tundukkan kepalamu, niscaya akan kau jumpai jejakku. tapi
kenyataannya kalian semua malah naik ke atap rumah."
Mendengar penjelasan tersebut, diam-diam Lan See giok
memuji akan keberanian kakek berjubah kuning tersebut,
dia merasa tindakan semacam ini sungguh kelewat
menyerempet bahaya.
Terdengar kakek berjubah kuning itu melanjutkan
kembali ceritanya:
"Waktu itu Oh Tin san pun berpendapat akulah yang
telah menyadap pembicaraan tentang rahasia kotak kecil
tersebut, karena nya ia menjadi gugup dan ketakutan.
http://kangzusi.com/
akhirnya diputuskan untuk berangkat pada malam itu juga
mencari si naga sakti pembalik sungai dan menjelaskan
masalah kotak kecil itu kepadaku.."
"Tapi locianpwe toh tidak berada di kampung nelayan
itu.." tukas Lan See giok kuatir.
Kakek berjubah kuning itu tertawa ramah.
"Sekalipun aku berada di situpun, si naga sakti pembalik
sungai akan mengatakan aku telah pergi!"
Lan See giok semakin tidak mengerti, baru saja dia
hendak minta penjelasan lebih jauh, dari kejauhan sana
kedengaran suara ayam jago mulai berkokok-
Kakek berjubah kuning itu segera merasa waktu sudah
siang, setelah memandang sekejap keadaan langit, diapun
berkata.
"Nak. sekarang sudah mendekati kentongan ke lima, kau
harus kembali sebelum fajar menyingsing kalau tidak, bibi
Wan mu pasti akan sangat gelisah dan tidak tenang, apakah
kau masih ada urusan lain yang hendak ditanyakan
kepadaku?"
Menghadapi pertanyaan tersebut, Lan See giok menjadi
sangsi, karena pertanyaan yang akan diajukan kelewat
banyak, sehingga untuk sesaat dia tak tahu pertanyaan
manakah yang hendak diajukan lebih dahulu-
Tampaknya kakek berjubah kuning itu bisa menduga
jalan pemikiran Lan See giok, maka dia berkata kemudian.
"Sekarang, apakah kau sudah memahami sebab musabab
yang mengakibatkan kematian ayahmu?"
Lan See giok mengangguk, katanya dengan perasaan
sedih.
http://kangzusi.com/
"Hanya sampai kini anak Giok belum mengetahui
siapakah pembunuh sebenarnya dari ayahku."
Sambil mengelus jenggotnya dan termenung sejenak,
kakek berjubah kuning itu berkata kemudian.
"Kalau ditinjau dari segi-segi yang ada sekarang, kelima
manusia cacad itu sama-sama mencurigakan, kita harus
menyelidiki secara seksama lebih dulu sebelum bisa
menentukan siapakah pembunuh yang sebenarnya.
Teringat akan julukan-julukan yang istimewa dari kelima
manusia cacad itu, Lan See giok segera memohon:
"Dapatkah locianpwe menjelaskan asa1 usul dari kelima
manusia cacad dari tiga telaga itu? Mengapa kelima orang
itu sama-sama memiliki julukan yang mengandung kata
"tunggal"? Darimana mereka bisa tahu kalau ayahku
berdiam di kuburan kuno serta apa sebabnya ke lima
manusia cacad yang berdiam di pelbagai wilayah bisa
berkumpul di tempat yang sama pada malam yang sama”
"Tidak sampai Lan See giok menyelesaikan kata
katanya. kakek berjubah kuning itu telah menggoyangkan
tangannya mencegah pemuda itu melanjutkan kembali kata
katanya, dia menimbrung.
"Pertanyaan mu yang beruntun tersebut bila kujawab
dengan memerlukan waktu yang amat panjang, mustahil
semua masalah bisa dijelaskan dalam waktu singkat,
sekarang aku hanya bisa memberitahukan kepadamu,
sebenarnya julukan semula dari ke lima orang tersebut tidak
disertai kata "tunggal", pada mulanya mereka pun bukan
manusia yang cacad telinga, mata atau kaki, sedang soal
dari mana mereka bisa tahu ayahmu berdiam dalam
kuburan kuno itu. hal tersebut baru dapat diketahui setelah
kita datangi kelima manusia tersebut, nah hari ini aku
http://kangzusi.com/
hanya bisa menjelaskan sampai di sini, lain kali tentu akan
kujelaskan lebih jauh!”
Selesai berkata diapun beranjak siap-siap meninggalkan
tempat tersebut.
Lan See giok memandang sekejap ke ufuk timur di mana
matahari telah memancarkan sinarnya yang keemas
emasan, dia tahu kakek berjubah kuning itu hendak pergi
sebelum fajar menyingsing.
Buru-buru ia bertanya lagi:
"Locianpwe, tahukah kau darimana ayahku bisa
mendapatkan kotak kecil itu?"
"Dia mendapatkan secara kebetulan di bawah Giok li
hong bukit Hoa san."
Lan See giok ingin sekali mempelajari ilmu silat maha
sakti yang tercantum dalam cinkeng itu, maka kembali dia
bertanya.
"Konon tiga lembar daun emas yang berada dalam kotak
kecil itu berisikan semacam kitab pusaka ilmu silat yang
memuat kepandaian silat maha sakti, benarkah perkataan
tersebut?"
Tanpa ragu barang sedikit pun jua kakek berjubah kuning
itu mengangguk.
"Benar, cuma orang yang tidak mengetahui rahasianya,
meskipun mendapatkan pusaka tersebut pun sama artinya
dengan mendapatkan benda rongsokan."
Sekali lagi tergerak hati Lan See giok, selanya.
"Pernah locianpwe membaca isi kitab tersebut?"
Kakek berjubah kuning itu segera memperlihatkan paras
serba salah, katanya kemudian.
http://kangzusi.com/
"Meskipun aku tahu bagaimana cara membacanya, tapi
hanya aku seorang diri tak mungkin bisa membacanya"
Lan See giok sangat tidak mengerti atas perkataan itu,
keningnya berkerut, kemudian tanyanya bimbang:
"Kalau toh locianpwe sudah mengetahui cara untuk
membaca rahasia kepandaian silat tersebut mengapa kau
tidak membaca nya seorang diri?"
Kakek berjubah kuning itu memandang sekejap kearah
Lan See giok, lalu tertawa penuh arti.
"Untuk membaca isi kitab pusaka tersebut, harus ada
seorang yang bertenaga dalam sempurna menggenggam
daun emas tadi kemudian mengerahkan segenap tenaga
dalam yang dimilikinya ke dalam daun emas tadi sedang si
pembaca harus berlutut di hadapannya sambil baca, cuma
orang inipun harus memiliki bakat yang sangat bagus dan
memiliki daya ingat yang tajam, dengan begitu kepandaian
tersebut biru dapat dikuasai olehnya.”
Menjadi termangu Lan See giok sehabis mendengar
perkataan itu, lama kemudian ia baru bertanya:
"Locianpwe siapakah yang memiliki tenaga dalam
sedemikian sempurnanya sehingga dapat memaksa daun
emas tersebut memperlihatkan catatannya?"
“Hanya si pemilik semula dari kotak tersebut" jawab
kakek berjubah kuning itu tanpa ragu.
Lan See giok menjadi amat gembira, tanyanya cepat:
"Locianpwe, anak Giok tidak becus tapi percaya
memiliki daya ingat yang cukup baik, dimanakah pemilik
kotak tersebut sekarang? Dapatkah anak Giok pergi
mencarinya dengan membawa kotak kecil tersebut?"
http://kangzusi.com/
"Menurut apa yang kuketahui, orang itu berdiam di
bawah kaki puncak giok Ii hong di bukit Hoa san, kaki
bukit yang mana tidak kuketahui, tapi menurut cerita orang,
banyak yang ingin menyambanginya tapi sebagian besar
harus pulang dengan kecewa, tapi ada pula yang memasuki
lembah tersebut sambil menyebutkan namanya serta
berhasil menjumpai wajah asli orang tersebut. Tentang
apakah kau berhasil menjumpainya, hal ini tergantung papa
tekad, kesungguhan mu serta rejekimu..”
Walaupun Lan See giok merasa sulit tapi ia bersedia
untuk mencobanya, dengan cepat ia bertanya:
"Locianpwe, siapakah tokoh sakti tersebut?"
Kakek berjubah kuning itu termenung sejenak. kemudian
dengan nada tidak pasti katanya.
"Konon orang itu bernama To seng-cu!"
Gemetar keras sekujur badan Lan See -giok, paras
mukanya berubah hebat, serunya tanpa sadar.
"To . . to. . . to-seng cu? Dia. . . diapun memakai gelar
kata "tunggal" . . ?" ,
Tanpa terasa dia menjadi terbayang kembali keadaan
ayahnya yang terkapar di atas genangan darah, waktu itu
tangan kanannya dengan menggunakan sisa tenaga yang
dimilikinya hanya sempat mengukir kata.
"To" atau tunggal di atas tanah..
Satu ingatan segera melintas dalam benak nya. Jangan-
jangan orang yang membunuh ayahnya adalah To seng cu
ini?
Siapa tahu To seng cu menaruh dendam kepada ayahnya
karena kotak kecil tersebut tidak dikembalikan kepadanya,
http://kangzusi.com/
maka setelah menelusuri jejak ayahnya selama banyak
tahun, akhirnya tempat kediaman ayahnya ditemukan?
Semakin dipikir Lan See giok merasa semakin masuk
diakal, sebab hanya manusia berkepandaian sangat lihay
seperti To seng cu saja yang mampu menghabisi nyawa
ayahnya di dalam sekali pukulan.
Membayangkan kesemuanya ini, berkobarlah api marah
dalam dadanya, hawa napsu membunuh pun segera
menyelimuti seluruh wajahnya yang tampan.
Sambil mengangkat kepalanya dan menatap wajah kakek
berjubah kuning itu lekat-lekat, dia bertanya.
"Locianpwe, dengan tenaga dalam yang kau miliki
sekarang dapatkah kau menampilkan tulisan di atas daun
emas tersebut?"
Kembali kakek berjubah kuning itu menunjukkan sikap
serba salah, lama kemudian dia baru menjawab:
"Kecuali To seng cu seorang, mungkin dalam dunia
persilatan dewasa ini sudah tiada orang kedua yang
memiliki tenaga dalam seperti dia lagi."
Kemudian setelah berhenti sejenak dan menghela napas,
katanya lebih jauh:
"Terus terang saja anak Giok, aku sudah banyak tahun
mencari ayahmu di mana-mana, setiap orang mempunyai
kepentingan pribadi masing-masing, tentu saja akupun
berharap bisa membawa kotak kecil itu pergi menghadap
To seng cu serta menjadi orang yang paling tangguh dalam
dunia persilatan. tapi sejak aku bertemu dengan kau dan
menemukan kau adalah manusia yang berbakat bagus
untuk belajar ilmu silat, apalagi jika kau berhasil
mempelajari kepandaian sakti dalam pusaka Pwee yap-
Cinkeng tersebut sudah pasti kau bisa menjadi tangguh dan
http://kangzusi.com/
keadilan serta kebenaran di dunia ini bisa ditegakkan, itulah
sebabnya kuberikan kesempatan yang sangat baik ini
kepadamu, biarpun aku mengetahui kotak kecil itu
disembunyikan di bibi Wan mu dikolong ranjang, tapi aku
tidak mengambilnya. Nah anak Giok, semoga kau tidak
sampai menyia-nyiakan harapanku!"
Betapa terharunya Lan See giok setelah mendengar
perkataan itu, dia semakin menaruh hormat kepada kakek
berjubah kuning itu, katanya dengan hormat:
"Locianpwe tak usah kuatir, anak Giok bertekad tak
akan menyia nyiakan harapan kau orang tua, bila aku
menyangkal dari ucapanku, biar langit menghukumku!"
Dengan penuh kegembiraan kakek berjubah kuning itu
tertawa terbahak bahak, kemudian serunya:
"Kau memang anak yang penurut dan bisa diberi
pelajaran.."
Setelah mengebaskan ujung bajunya, diapun beranjak
pergi meninggalkan tempat tersebut.
Lan See giok tahu bahwa kakek berjubah kuning itu
hendak pergi, cepat dia turut melompat bangun sambil
berseru dengan cemas.
"Locianpwe, anak giok masih ada satu persoalan yang
tidak mengerti!"
"Bila ada persoalan, katakan saja berterus terang"
"Bila anak Giok berhasil menjumpai To seng cu serta
mempelajari kepandaian silat maha sakti yang tercantum
dalam kitab pusaka Pwee yap cinkeng tersebut. apakah
tenaga dalamku bisa melampaui To seng cu ?
Dengan wajah bersungguh sungguh kakek berjubah
kuning itu segera berkata.
http://kangzusi.com/
"Hal ini tergantung dirimu sendiri, apakah kau berniat
sungguh-sungguh serta bersedia tekun mempelajari
kepandaian itu, jika kau rajin berlatih, sekalipun To seng cu
terhitung jagoan nomor satu dikolong langit dewasa ini,
mungkin kemampuannya waktu itu masih di bawah
kemampuanmu"
Mendengar sampai di sini, Lan See giok segera
menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, lalu katanya
dengan hormat.
"Harap locianpwe suka menjaga diri baik-baik, anak
Giok akan pergi dulu, bila aku sudah kembali dengan
belajar ilmu, pasti akan kubalas budi kebaikan dari kau
orang tua!"
Kembali kakek berjubah kuning itu tertawa terbahak
bahak. Setelah membangunkan Lan See giok dari atas
tanah, katanya dengan amat ramah:
"Anak Giok, dalam perjalananmu kali ini, sepanjang
jalan kau mesti berhati-hati karena membawa mestika,
jangan kelewat memamerkan diri, dan yang paling penting
tak boleh mencari gara-gara, fajar sudah hampir
menyingsing cepatlah pergi!"
Lan See giok mengiakan dengan hormat, lalu ditatapnya
kakek itu sekejap titik air mata hampir saja jatuh berlinang,
setelah berpamitan lagi dengan kakek itu, dia baru
membalikkan badan dan turun dari bukit tersebut.
Sementara itu fajar mulai menyingsing di langit timur
kabut tipis menyelimuti permukaan tanah, kecuali suara
ayam berkokok dari arah kampung nelayan itupun sudah
mulai kedengaran suara manusia.
http://kangzusi.com/
Membayangkan betapa cemas dan gelisah nya bibi Wan
serta enci Cian nya waktu itu, dia mempercepat langkahnya
menuju ke depan.
Ketika tiba di dusun, langit sudah terang, kabut pagi pun
terasa semakin tebal, setelah melewati pepohonan siong
yang lebat, dalam waktu singkat dia telah tiba di halaman
belakang rumah bibi Wan nya.
Dari kejauhan ia sudah melihat enci Cian duduk di
belakang jendela dengan wajah murung. sepasang matanya
memandang sebatang pohon di hadapannya dengan
termangu, seakan akan ia sedang melamun.
Dengan cepat Lan see giok melompati pagar dan
melayang turun di depan jendela, segera serunya lirih.
"Enci Cian! Enci Cian!"
Ciu Siau cian sadar kembali dari lamunan, melihat
pemuda itu sudah muncul di hadapannya, mencorong sinar
terang dari balik matanya, kejut dan girang ia berseru lirih:
"Ayo cepat masuk!"
Dengan cepat dia menarik tangan pemuda itu.
Meminjam tenaga tarikan tadi, Lan See giok melayang,
masuk ke dalam ruangan.
Ciu Siau cian memperhatikan sekejap keadaan
sekelilingnya. lalu merapatkan pula daun jendelanya,
setelah itu sambil menggenggam tangan pemuda itu,
omelnya dengan penuh rasa kuatir:
"Bagaimana sih kau ini? Mengapa pergi selama ini? Bikin
hati orang gelisah saja."
Sambil berkata dia mengangguk pemuda itu duduk di
depan pembaringan, sementara sepasang matanya yang jeli
http://kangzusi.com/
dengan perasaan tak tenang dan gelisah mengawasi pemuda
itu tiada hentinya.
Tak terlukiskan rasa haru, berterima kasih dan hangatnya
perasaan Lan See giok melihat perhatian enci Cian
terhadapnya, katanya kemudian sambil tertawa:
"Cici jangan marah, aku diajak kakek berjubah kuning
itu untuk bercakap cakap."
"Kakek berjubah kuning yang mana?" tanya Ciu siau
cian tidak mengerti.
Menghadapi pertanyaan tersebut, Lan See giok baru
teringat kalau tadi ia lupa menanyakan nama kakek
tersebut, dengan wajah memerah terpaksa ujarnya.
"Yaa kakek berjubah kuning itu!"
Meski Ciu Siau cian bisa memahami, tak urung dia toh
tertawa cekikikan juga.
"Enci Cian, mana bibi?" tiba-tiba pemuda itu teringat
akan Hu-yong siancu.
Ciu Siau cian menarik kembali senyuman nya, lalu
sambil sengaja menarik muka dia berkata:
"Ke mana lagi? Tentu saja pergi mencari mu, siapa suruh
kau tidak meninggalkan pesan ketika pergi."
"Bukan siaute tidak ingin memberi pesan, aku takut Oh
Tin san dan Say nyoo-hui mendengar suara panggilanku
sehingga menambah kesulitan, aku memang berniat
menghindar untuk sementara waktu ke luar dusun sana "
Ciu Siau cian menganggap perkataan itu ada benarnya
juga, maka diapun mengangguk. kemudian setelah melihat
sekejap matahari di luar jendela, katanya dengan penuh
perhatian.
http://kangzusi.com/
"Kau sudah bergadang semalaman suntuk, sekarang
beristirahatlah sebentar."
Setelah beberapa malam tak tidur, Lan See giok memang
merasa agak lelah, tapi dia kuatir dengan keselamatan
bibinya, segera serunya:
"Enci Cian aku tidak lelah, aku hendak menunggu
sampai bibi kembali."
"Coba kau lihat, fajar telah menyingsing sekarang,
ibupun segera akan pulang" kata Ciu Siau cian sambil
menuding ke luar jendela, tidurlah dulu. bila ibu pulang,
aku akan memanggilmu lagi!"
Sambil berkata ia menekan bahu pemuda itu agar
membaringkan diri.
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Lan See giok
membaringkan diri sambil memejamkan mata, namun bau
harum semerbak yang terpancar dari pembaringan tersebut
semakin membuat pemuda ini tak dapat tidur.
Oleh karena itu meski kelopak matanya telah
dipejamkan, namun masih bergetar tiada hentinya.
Tersenyum Ciu Siau cian setelah melihat kejadian ini,
tiba-tiba ia menotok jalan darah Hek-si-hiat di tubuh
pemuda itu, hanya menotok dengan pelan kemudian
beranjak ke luar dari ruangan.
Lan See giok membuka matanya melirik sekejap ke arah
enci Cian nya yang tersenyum dengan muka merah, melihat
jalan darah tidurnya ditotok hampir saja ia tertawa geli.
Pada saat itulah dari luar jendela kedengaran suara pintu
pekarangan dibuka orang.
Menyusul kemudian kedengaran suara enci Cian nya
berseru:
http://kangzusi.com/
"Ibu, adik Giok telah pulang!"
"Oya? Di mana ia sekarang?" tanya Hu-yong siancu kejut
bercampur gembira.
Mendengar perkataan itu Lan See giok segera melompat
bangun dan siap ke luar- -
Tapi tiba-tiba saja terdengar Ciu Siau cian berkata. "Adik
Giok sudah tertidur ibu, dia hendak menunggumu sampai
pulang, akulah yang telah menotok jalan darahnya sebelum
ia tertidur “
Lan See giok yang mendengar perkataan Itu segera
teringat kalau jalan darahnya sudah tertotok, cepat-cepat
dia membaringkan kembali badannya ke atas ranjang.
Untuk sesaat suasana dalam halaman menjadi hening,
lalu terdengar bibi Wan nya tertawa geli.
Lan See giok segera tahu keadaan runyam, pasti bibinya
tahu kalau dia telah belajar ilmu menggeser jalan darah
kepada enci Ciannya.
Benar juga. terasa ada angin berdesir lewat, bayangan
manusia muncul di depan mata, Ciu Siau clan dengan
wajah cemberut telah berdiri di depan pembaringan.
Dengan perasaan terkejut Lan See giok melompat
bangun, lalu tanyanya sambil tertawa.
"Cici, apakah bibi telah pulang?"
Melihat Lan See giok sudah tahu masih pura-pura
bertanya, Ciu Siau cian merasa makin mendongkol ia
bersiap siap mengumbar hawa amarahnya.
Tiba-tiba terdengar Hu-yong siancu bertanya:
"Anak Giok, kau belum tertidur?"
http://kangzusi.com/
Menyusul kemudian dari luar muncul seseorang yang
masih basah oleh embun pagi,
Lan See giok segera melompat turun dari pembaringan,
lalu katanya dengan hormat.
"Sebelum bibi pulang, anak Giok merasa tak tenang
untuk memejamkan mata".
Sambil berkata dia mengerling sekejap ke arah enci
Ciannya yang masih tersipu sipu, kontan saja sikapnya
menjadi sangat tak tenang . . .
Menyaksikan keadaan adik Gioknya yang mengenaskan,
tanpa terasa Ciu Siau cian tertawa cekikikan.
Dengan tertawanya gadis itu, perasaan tidak tenang yang
semula mencekam perasaan Lan See giok pun segera
menjadi lega kembali, ia pun turut tertawa.
Memandang sepasang muda mudi yang amat lucu itu,
Hu-yong siancu turut merasa gembira, segera ujarnya
dengan ramah:
"Anak Giok, duduklah, coba kau ceritakan kisah
perjumpaanmu dengan kakek berjubah kuning itu."
Setelah semua orang mengambil tempat duduk masing-
masing, Lan See giok mulai menceritakan bagaimana
pengalamannya bertemu dengan kakek berjubah kuning itu
sampai dia pulang kembali.
Akhirnya pemuda itu menambahkan.
"Bibi, anak Giok bertekad akan mencari To-seng cu, aku
rasa bisa jadi dialah pembunuh yang sebenarnya dari
ayahku."
Paras muka Hu-yong siansu amat serius, ia tidak segera
menjawab, sampai lama kemudian baru tanyanya.
http://kangzusi.com/
"Anak Giok, apakah kau berhasil melihat tahi lalat besar
di kening kakek tersebut pada perjumpaan kali ini?"
Bergetar keras perasaan Lan See giok mendengar
pertanyaan itu, mukanya menjadi merah padam karena
jengah, sambil menundukkan kepalanya ia menjawab:
"Berhubung waktu yang amat singkat, anak Giok cuma
teringat persoalan-persoalan yang dihadapi, karenanya aku
lupa untuk memeriksanya dengan teliti."
Hu-yong siancu tidak menegur pemuda itu, sorot
matanya dialihkan ke luar jendela memandang matahari
yang memancarkan sinar keemas emasan, ia seperti sedang
melamunkan sesuatu.
Lama-lama kemudian ia baru berkata agak tergagap:
"Jangan-jangan dia adalah si kakek yang dijumpai
Khong-tay tempo hari- “
Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan
itu, selanya tiba-tiba.
"Bibi, siapakah yang telah berjumpa dengan ayahku?"
Hu-yong siancu segera sadar atas kekhilafan sendiri,
katanya kemudian sambil tertawa hambar.
"Kalian masih kanak-kanak, sekarang belum saatnya
untuk mengetahui persoalan-persoalan tersebut"
Dengan cepat paras mukanya telah pulih kembali seperti
sedia kala, lalu dengan nada penuh perhatian dia berkata.
"Anak Giok, bibi tak akan menghalangi niatmu untuk
mengunjungi bukit giok li -hong, tapi mesti kau ketahui,
perjalanan semacam ini jelas merupakan suatu perjalanan
menyerempet bahaya, andaikan To- seng cu benar-benar
adalah musuh besar yang membinasakan ayahmu,"
perjalanan mu kali ini lebih banyak bahayanya dari pada
http://kangzusi.com/
selamat, bahkan bisa jadi akan mengorbankan selembar
jiwamu"
Lan See giok sama sekali tidak gentar oleh perkataan
tersebut, katanya malah dengan gagah.
"Dendam sakit hati anakku lebih dalam dari pada
samudra, sekalipun harus naik ke bukit golok atau terjun ke
kuali berisi minyak mendidih, anak giok tak akan mundur
barang setapak pun"
Mendadak ia saksikan Cu Siau cian menunduk dengan
wajah sedih, tanpa terasa ia turut beriba hati, katanya
kemudian dengan nada menghibur.
"Apalagi bencana atau rejeki bukan di tentukan manusia.
sampai sekarang pun belum kita ketahui To seng cu
sebenarnya musuh besar pembunuh ayahku atau bukan
seandainya bukan, anak Giokpun karena bencana peroleh
rejeki, selain bisa mempelajari ilmu silat yang hebat akupun
dapat membalaskan dendam bagi kematian ayahku"
Dengan sorot mata gembira Hu-yong siancu memandang
sekejap ke arah Lan See giok lalu ujarnya sambil manggut-
manggut.
"Berbicara soal ilmu silat, To seng cu terhitung manusia
paling kosen di dunia persilatan dewasa ini, sampai
sekarang belum pernah ada orang yang mengetahui nama
dan usia yang sebenarnya, konon dia telah berumur di atas
seratus tahun, kepandaian silatnya boleh dibilang sudah
mencapai tingkatan yang luar biasa..!”
Dengan sedih Ciu Siau cian mendongakkan kepalanya,
seperti memahami sesuatu dia menyela:
"Ibu, bukankah kau pernah berkata kau pun pernah
bersua dengan To seng cu? Coba kau bayangkan, persiskah
http://kangzusi.com/
dia dengan kakek berjubah kuning yang diceritakan adik
Giok tadi? "
Hu-yong siancu berkerut kening, sekilas perubahan aneh
menghiasi wajahnya, lalu ujarnya sambil manggut-
manggut:
"Peristiwa ini sudah terjadi sepuluh tahun berselang,
waktu itu To seng cu mengenakan jubah panjang berwarna
putih, membawa kipas dan amat berwibawa sehingga
siapapun akan berkesan mendalam bila menjumpainya."
Melihat sikap bibinya begitu menaruh hormat, dimana
hal tersebut justru berlawanan sekali dengan pandangan
nya, maka dengan perasaan tak puas katanya.
"Bibi, anak Giok berpendapat gelar To-seng cu ini
kurang sedap didengar, seperti nama-nama Siau yau-cu, Lui
cengcu, Sian kicu dan lain sebagainya, nama tersebut
kebanyakan adalah kaum tosu.."
Hu-yong siancu tertawa hambar, katanya dengan lembut:
"Anak Giok, hal ini hanya disebabkan kau sudah
terlanjur menaruh perasaan benci terhadap julukan yang
menggunakan kata permulaan "To" atau tunggal, itulah
sebabnya To seng cu memberi kesan kurang baik
kepadamu, padahal arti sebenarnya dari To seng-cu atau
aku yang telah sadar!"
Berada dihadapan bibinya, Lan See giok tak berani
memperlihatkan perasaan tak senang hati. namun dihati
kecilnya dia tertawa dingin, katanya kemudian:
"Anak Giok tetap berpendapat, julukan To seng cu itu
kelewat jumawa dan tekebur, anak Giok rasa arti dari
julukan itu bukan aku yang telah sadar. mungkin saja dia
beranggapan akulah yang dipertuan . . . "
http://kangzusi.com/
Hu-yong siancu segera berkerut kening agaknya ia telah
melihat perasaan benci Lan See giok terhadap To Seng cu,
maka katanya kemudian sambil manggut-manggut dan
tertawa:
"Penjelasan secara demikian pun boleh juga. namun
kelewat memaksakan pendapat sendiri dalam perjalananmu
menuju ke bukit Hoa san kali ini, bila berjodoh dan dapat
menjumpai To seng cu, kau harus mengatakan yang
sebenarnya yakni mendapat petunjuk dari seorang kakek
berjubah kuning untuk datang minta belajar ilmu. kau tidak
boleh sekali kali menyinggung masalah dendam sakit hati,
dari pada menimbulkan kecurigaan To seng cu dan
mempengaruhi kemajuanmu dalam menuntut ilmu. "
Kemudian setelah memandang sekejap ke arah putrinya
yang sedang murung, dia melanjutkan.
"Bisa jadi di sekeliling tempat ini masih penuh dengan
mata-mata dari Wi-lim-poo untuk menghindari segala
sesuatu yang tak diinginkan, lebih baik kau berangkat
setelah malam nanti, sampai waktunya biar enci Cian yang
melindungimu sampai di keresidenan Tek an. ."
"Tidak usah merepotkan enci Cian." Tampik Lan See
giok cepat, ”anak Giok yakin masih dapat menjaga diri
sebaik baiknya, dengan menempuh perjalanan seorang diri,
hal tersebut lebih mudah bagiku untuk meloloskan diri dari
kepungan bila menjumpai kawan jago lihay dari Wi-lim-
poo"
Hu-yong siancu segera menganggap ucapan ini masuk
diakal, diapun mengangguk.
"Baiklah, semoga kau berhati hati di sepanjang jalan,
jarak dari sini hingga kota Tek an sekitar seratus li, bila
menggunakan ilmu meringankan tubuh paling banter
http://kangzusi.com/
selewatnya tengah malam kau sudah tiba di sana,
beristirahat di luar kota semalam.”
Keesokan harinya kau boleh meneruskan perjalanan
menuju ke wilayah Kui ciu lewat Sui ciang, dari sana kau
boleh langsung berangkat ke bukit Hoa san. ."
Dengan perasaan amat berat Lan See giok mengangguk
berulang kali sambil mengiakan.
Terdengar Hu-yong siancu berkata lebih jauh.
"Anak Giok, semalam kau belum tidur, malam nantipun
harus melanjutkan perjalanan, sekarang beristirahatlah dulu
di pembaringan enci Cian mu."
Selesai berkata, dia lantas berjalan menuju ke luar.
Ciu Siau cian memandang sekejap ke arah Lan See giok
dengan pedih, kemudian dengan kepala tertunduk
mengikuti di belakang ibunya menuju ke kamar tidur
ibunya.
Lan See giok termangu mangu, wajah pedih enci Cian
nya sekarang pada hakekat nya berbeda sekali dengan
wajah riang ketika menotok jalan tidurnya tadi.
Benar hubungan mereka belum lama, tapi setelah diberi
kesempatan untuk menjalin hubungan lebih mendalam,
sikap Ciu Sian cian saat ini sudah jauh lebih terbuka.
Kini ia harus berpisah lagi, dia harus berangkat ke Hoa
san dengan membawa nasib yang sukar diketahui, bisa jadi
perpisahan kali ini merupakan perpisahan untuk selamanya.
Pikir punya pikir, masalah demi masalah pun
berdatangan secara beruntun, sampai lama sekali dia baru
dapat tertidur.. Ketika mendusin, matahari sore sudah di
jendela belakang, dengan kaget dia melompat bangun
http://kangzusi.com/
melihat bibinya berada di luar, cepat dia ke luar dari
ruangan sambil bertanya.
"Bibi, sudah jam berapa sekarang, agaknya aku sudah
tertidur cukup lama?"
Melihat wajah Lan See giok cerah kembali dia sedikitpun
tidak memperlihatkan tanda keletihan, dengan girang Hu-
yong siancu berkata.
"Selama berapa hari belakangan ini kau belum tertidur
baik, tidurmu hari ini boleh dibilang sudah lebih dari
cukup."
Kemudian setelah melirik sekejap matahari senja di luar
pagar. terusnya.
"Sekarang, mungkin sudah mendekati pukul lima sore."
Sambil tertawa Lan See giok menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Waah, tidur anak Giok kali ini memang betul-betul
nyenyak sekali."
Ketika tidak menjumpai Siau cian di ruangan, kembali ia
bertanya dengan perasaan tak mengerti.
"Bibi, mana enci Cian?"
"Ia sedang menyiapkan santapan malam untukmu" sahut
Hu-yong siancu sambil melirik sekejap ke dapur.
Baru saja dia menyelesaikan kata katanya, Ciu Siau cian
telah masuk sambil menghidangkan santapan malam.
Lan See giok melihat sepasang mata enci nya sudah
merah membengkak, wajahnya sedih dan murung, ia tahu
gadis itu baru saja habis menangis, hal mana membuat
perasaannya amat resah.
http://kangzusi.com/
Hidangan pada malam itu sangat lezat, sayangnya ke
tiga orang itu merasa tak enak untuk makan.
Akhirnya Hu-yong siancu mengambil kotak kuning itu
dari dalam kamarnya serta sebungkus uang perak,
kemudian dengan penuh perhatian ia berkata.
"Anak Giok, simpanlah kotak kecil ini baik baik,
sepanjang jalan kau tak boleh kelewat menonjolkan diri,
gunakan uang perak tersebut sehemat mungkin, dengan
begitu kau akan bisa tiba di Hoa san dengan tak usah takut
kehabisan biaya."
Sambil berkata, dia serahkan kotak dan kantung uang
tersebut kepada Lan See giok.
Buru-buru pemuda itu bangkit berdiri sambil
menerimanya, tak terlukiskan rasa haru dalam hatinya
hingga tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran, ujarnya
sedih:
"Bila anak Giok berhasil mempelajari ilmu silat dalam
kepergian kali ini serta membalas dendam sakit hati, anak
Giok pasti akan pulang dengan secepatnya, lalu anak Giok
akan mendampingi bibi dan tak akan terjun lagi ke dunia
persilatan untuk selamanya, cuma kuatir kepergian anak
giok kali ini lebih banyak bahayanya daripada
keberuntungan, kalau sampai nasibku jelek dan tewas,
terpaksa budi kebaikan bibi dan enci Cian akan kubayar
dalam penitisan mendatang."
Sambil berkata seka1i lagi dia menjura, dalam-dalam.
Hu-yong siancu tersenyum, dua baris air mata jatuh
bercucuran membasahi pipinya.
Siau cian yang paling sedih, dia menutupi wajahnya
dengan sepasang tangan dan menangis tersedu sedu.
http://kangzusi.com/
Sambil membangunkan Lan See giok dari tanah, Hu-
yong siancu berkata lagi dengan air mata bercucuran:
"Bangkitlah anak Giok, bibi mempunyai firasat kita pasti
akan bersua kembali, To seng cu adalah seorang tokoh
persilatan yang berkedudukan sangat tinggi, ia disegani dan
dihormati setiap orang, sekali pun ia bisa jadi telah
membunuh ayahmu, namun tak akan melancarkan
serangan keji terhadap seorang anak muda seperti kau"
Sementara itu Lan See giok telah menyimpan baik-baik
kotak kecil serta kantung berisi uang itu, kemudian dengan
air mata bercucuran namun sikap tegas ia menjawab.
"Walaupun dia tak akan turun tangan keji kepadaku, tapi
aku tak akan melepaskan dia dengan begitu saja."
Hu-yong siancu menghela napas sedih, kata nya
kemudian dengan mengandung arti dalam.
"Anak giok, bibi harap kau bersikap cerdik dalam
menghadapi setiap persoalan, berpikirlah yang cermat,
jangan emosi dan jangan kelewat kolot, terutama sekali
melakukan tindakan "mengadu telur dengan batu."
walaupun kau sendiri tidak menyayangi jiwamu, namun
kau harus memikirkan juga mereka-mereka yang selalu
menguatirkan keselamatanmu"
Lan See giok amat terkejut, dengan air mata bercucuran
dia segera berpaling dan memandang sekejap Ciu Siau cian
yang sedang menangis tersedu sedu.
Dengan kening berkerut Hu-yong siancu berkata lebih
jauh:
"Bukan cuma bibi yang mengharapkan kepadamu, enci
Cian mu juga berharap kau bisa berjaya dalam dunia
persilatan di kemudian hari.."
http://kangzusi.com/
Lan See giok sangat terharu, ujarnya dengan wajah
penuh rasa menyesal.
"Anak giok menerima semua nasehat, pasti tak akan
kusia siakan harapan bibi dan cici".
Hu-yong siancu manggut-manggut dengan sedih, setelah
memandang suasana gelap di luar halaman, katanya lebih
jauh.
"Kehidupan orang di kampung nelayan amat sederhana
dan bersahaja, sekarang kebanyakan orang dusun telah
pergi tidur, nah, kau boleh berangkat sekarang."
Ciu Siau cian yang masih menangis terisak pun segera
mengangkat kepalanya dan memandang Wajah Lan See
giok dengan murung, beribu ribu patah kata semuanya
ditumpukkan dalam balik sorot matanya itu.
Lan See giok sendiri meski merasa berat hati, namun dia
toh menjura juga seraya berkata:
"Harap bibi baik-baik menjaga diri, anak Giok akan
segera berangkat.!"
Lalu kepada Siau cian ujarnya pula:
"Enci Cian, baik baiklah menjaga diri, kepergian siaute
kali ini paling banter cuma satu tahun, sampai waktunya
aku pasti akan balik kembali, tak akan kulupakan
pengharapan dari cici."
Ciu Siau cian memandang Lan See giok dengan wajah
sayu, kemudian manggut-manggut, butiran air mata sekali
lagi jatuh bercucuran.
Walaupun Hu-yong siancu merasakan hatinya sakit
bagaikan diiris iris dengan pisau, namun wajahnya masih
tetap tenang, dia memang tidak mempunyai keyakinan
http://kangzusi.com/
apakah kepergian Lan See giok kali ini benar bisa pulang
kembali dengan selamat.
Maka sekali lagi dia berkata dengan wajah bersungguh
sungguh:
"Anak giok, tujuan kepergianmu ke bukit Hoa san adalah
untuk belajar ilmu silat. seandainya terjadi sesuatu ditengah
jalan kau tak boleh berdiam diri terlalu lama, sekarang
berangkatlah lewat halaman belakang, lalu larilah menuju
barat laut, tidak sampai sepuluh li kau akan tiba di jalan
raya menuju ke kota Tekan."
Seusai berkata. dia lantas membalikkan badan dan
masuk kembali ke ruang dalam
Melihat bibinya telah masuk, Lan See giok segera
menggenggam tangan Siau cian dan berkata dengan lembut.
"Cici tak usah bersedih hati, aku pasti dapat kembali
dengan aman dan selamat."
-ooo0dw0ooo-
BAB 12
CIU Siau cian manggut-manggut, sahut nya dengan air
mata bercucuran.
"Adikku cici akan selalu menantikan kedatanganmu.."
Belum habis perkataan tersebut diucapkan, dua baris air
mata sudah meleleh ke luar bagaikan air bah yang
menjebolkan bendungan.
Buru-buru Lan See giok menggunakan ujung bajunya
untuk menyeka air mata di wajah encinya, setelah itu
mereka berdua baru masuk ke ruang dalam.
http://kangzusi.com/
Sementara itu bibi Wan telah membuka jendela belakang
secara hati-hati, kemudian dengan cekatan dia menengok
sekeliling jendela luar.
Ketika Lan See giok menyusul sampai di situ, ia lihat
langit nan biru, beribu bintang bertebaran diangkasa.
suasana kegelapan menyelimuti seluruh dusun. Tiba-tiba
Hu-yong siancu berpaling dan bisiknya lirih:
"Anak giok, berangkatlah sekarang, tampaknya belakang
dusun tidak ada seorang manusiapun!"
Lan See giok memandang ke arah bibinya airmata
bercucuran amat deras, bibirnya bergetar seperti ingin
mengucapkan sesuatu. namun tak sepatah katapun yang
dikeluarkan.
Hu-yong siancu segera tertawa, sambil pura-pura
gembira, katanya dengan suara rendah.
"Anak giok, mumpung saat ini tiada orang cepatlah
berangkat, semoga kau selamat dan sukses sepanjang jalan"
Kemudian dengan penuh keramahan dia menepuk bahu
pemuda itu, sementara air matanya tak tahan jatuh
bercucuran.
Lan See giok manggut-manggut, sekali lagi dia
menengok sekejap ke arah encinya, kemudian baru
melompat ke luar dari jendela dan secepat kilat meluncur ke
luar dari pagar rumah.
Setelah celingukan sekejap ke sekeliling tempat itu,
dengan menyembunyikan diri dibalik pepohonan dia
meneruskan perjalanannya ke depan.
Setelah sampai di belakang sebatang pohon yang rimbun,
ia berhenti sebentar seraya berpaling, jendela rumah bibinya
telah di tutup, namun dari celah-celah jendela, ia dapat
http://kangzusi.com/
merasakan ada empat buah sorot mata yang tak tenang dan
gelisah sedang mengawasi dirinya.
Dengan cekatan sekali lagi dia mengawasi sekeliling
tempat itu, kemudian mengulapkan tangannya ke arah
jendela belakang, setelah itu baru membalikkan badan dan
melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba . . .
Pada saat dia membalikkan badan itulah, dari bawah
pohon yang ke tiga dijumpai ada sesosok bayangan manusia
sedang berjongkok di situ.
Tak terlukiskan rasa kaget Lan See giok, saking
terkejutnya ia membentak seraya menerjang ke muka
dengan sebuah pukulan siap dilontarkan.
Tapi setelah berhasil mendekati dihadapan nya, ia baru
tertegun karena kaget, ternyata orang itu tak lain adalah Oh
Li cu yang telah ditotok jalan darahnya.
Lan See giok segera berusaha mengendalikan diri,
kemudian berjongkok dan memeluk Oh Li cu ke dalam
rangkulannya.
Waktu itu Oh Li cu sudah tertidur dengan nyenyak
sekali. napasnya sangat teratur, jelas ia sudah ditotok jalan
darah tidurnya.
Dalam keadaan begini Lan See giok sudah tak bisa
memikirkan lagi bagaimana akibat nya bila dia
menyadarkan kembali Oh Li -cu. telapak tangannya segera
di angkat siap membebaskan totokannya.
Pada saat itulah..
Mendadak terdengar ujung baju terhembus angin
berkumandang datang . . .
http://kangzusi.com/
Dengan perasaan terkejut Lan See giok mengangkat
kepalanya, dari antara pepohonan ia saksikan ada dua
sosok bayangan manusia sedang meluncur datang dengan
kecepatan luar biasa ternyata mereka adalah bibi Wan serta
enci Cian yang mungkin mendengar suara bentakannya
tadi.
Belum habis Ingatan tersebut melintas lewat, Hu-yong
siancu dan Ciu Siau cian dengan wajah pucat dan gerak
gerik gugup telah meluncur tiba.
Ketika kedua orang itu melihat Oh Li cu dalam
rangkulan Lan See giok, sekali lagi paras muka mereka
berubah hebat.
Dengan nada gelisah Hu-yong siancu segera menegur:
"Anak giok, kau tak boleh membunuhnya."
Seraya berkata ia berjongkok dengan gugup.
"Bibi, bantah Lan See giok, ia sudah ditotok lebih dulu
jalan darah tidurnya oleh orang lain. aku menemukannya
bersandar di tempat ini!"
Sekarang Hu-yong siancu sudah merasakan kalau gelagat
kurang beres, ia segera menerima Oh Li cu dari rangkulan
Lan See-giok dan secara beruntun melepaskan tiga buah
tepukan, akan tetapi Oh Li cu masih tetap tidur amat
nyenyak.
Dengan perasaan tegang Lan See giok segera berbisik
"Bibi, agaknya jalan darah tidurnya telah ditotok serangan
dengan semacam ilmu totokan khusus!"
Hu-yong siancu manggut-manggut, menyusul kemudian
dia periksa keadaan di sekeliling tempat itu dengan
seksama, setelah itu bisiknya lirih:
http://kangzusi.com/
"Anak Giok, cepat pergi, persoalan di sini biar aku yang
hadapi, bila ada orang menghalangimu, tak usah dilayani."
Lan See giok mengangguk berulang kali, kemudian,
dengan cekatan dia awasi sekeliling tempat itu, lalu
bisiknya:
"Bibi, anak giok berangkat dulu!"
Sekali lagi dia menengok ke arah encinya yang berwajah
pucat pias itu kemudian membalikkan badan segera
berangkat meninggalkan tempat itu.
Dengan menghimpun tenaga dalamnya ke dalam telapak
tangan untuk berjaga jaga atas segala kemungkinan yang
tak diinginkan, Lan See giok percepat langkahnya
meninggalkan tempat itu, sorot matanya yang tajam
memperhatikan keadaan di sekitarnya dengan seksama,
beberapa lompatan kemudian ia telah tiba di luar dusun.
Dalam keadaan begini, dia sudah tak berminat lagi untuk
memikirkan soal Oh Li cu yang ditotok orang, apa yang
dipikirkan sekarang adalah secepatnya meninggalkan
daerah pesisir telaga.
Sekeluarnya dari dusun, dia membenarkan arah
tujuannya, kemudian meneruskan perjalanan ke depan.
Tanah persawahan yang dilewati, berada dalam
kegelapan yang luar biasa, di sana sini hanya terdengar
suara jengkerik serta kunang-kunang yang terbang kian
kemari.
Dikejauhan sana nampak tanah perbukitan secara lamat-
lamat serta hutan lebat yang gelap gulita,
Lan See giok tidak merubah arah, dia meneruskan
perjalanannya menembusi hutan melewati bukit langsung
http://kangzusi.com/
ke arah barat laut, dalam waktu singkat tujuh delapan li
telah dilalui.
Perasaan tegang dan panik yang semula mencekam
perasaannya, lambat laun dapat ditenangkan kembali.
Setelah melalui sebuah tanah perbukitan, lamat-lamat di
kejauhan sana sudah terlihat jalan raya menuju ke kota Tek
an.
Pada saat itulah.
Serentetan suara gelak tertawa yang sangat keras dan
nyaring berkumandang datang dari arah utara sana.
Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera
menyembunyikan diri di belakang sebatang pohon besar,
kemudian baru menengok kearah utara.
Satu dua li dari tempat persembunyian nya merupakan
sebuah hutan pohon siong yang lebat, dari tempat itulah
gelak tertawa nyaring tadi berasal.
Kembali terdengar suara bentakan penuh kegusaran:
"Hei orang she Gui, kau jangan kelewat memojokkan
orang, aku To pit him (beruang berlengan tunggal) Kiong-
Tek-ciong selalu mengalah kepadamu, bukan berarti aku
takut kepadamu, kau harus tahu hanya mereka yang
berjodoh dan punya rejeki besar yang akan mendapatkan
benda mestika, bila kau memang punya kepandaian, ayolah
masuk sendiri, aku tak nanti akan mengincar dirimu."
Mendengar pembicaraan tersebut, Lan See giok segera
memastikan kalau suara tertawa itu berasal dari To tui thi
koay (tongkat berkaki tunggal) Gui Pak ciang, hanya tidak
dipahami olehnya masalah yang membuat kedua orang itu
ribut sendiri.
http://kangzusi.com/
Dari balik hutan kembali kedengaran suara Gui Pak
ciang yang kasar.
"Beruang berlengan tunggal, kau tidak usah bermain
kembangan dihadapanku, kita boleh dibilang musuh
bebuyutan yang merasa jalan kelewat sempit, bila kau tidak
serahkan benda tersebut pada malam ini, jangan harap kau
bisa pulang ke bukit Tay ang-san mu dalam keadaan
hidup!"
Tergerak hati Lan See giok, sekarang dia baru mengerti
bahwa markas besar si beruang berlengan tunggal berada di
bukit Tay ang san.
"Orang she Gui!" bentakan nyaring kembali
berkumandang, "aku akan beradu jiwa denganmu, hari ini
kaupun jangan harap bisa kembali ke benteng Pek-hoo-cay!"
Diiringi suara gelak tertawa yang nyaring, menyusul
kemudian bergema suara desingan suara tajam dan deruan
angin pukulan.
Lan See giok tahu bahwa kedua orang itu sudah mulai
melibatkan diri dalam pertarungan sengit, tergerak hatinya,
cepat-cepat dia lari turun dari bukit dan kabur menuju
kegelapan di arah utara.
Dalam perjalanan tersebut, ia dapat melihat kalau tempat
kegelapan di depan sana memang sebuah hutan pohon
siong.
Tapi setelah maju lebih ke muka, dengan perasaan
terkejut pemuda itu segera berhenti, ia jumpai dibalik hutan
pohon siong tersebut ternyata bukan lain adalah puncak
kuburan Ong-leng yang sangat dikenal olehnya.
Sekarang Lan See giok baru mengerti, ternyata hutan
pohon siong di depan sana tak lain adalah kuburan Ong-
leng yang didiaminya selama banyak tahun.
http://kangzusi.com/
Ketika ia mencoba untuk memasang telinga kembali,
ternyata suasana dalam hutan tersebut sudah pulih kembali
dalam ketenangan. agaknya pertarungan yang semula
berlangsung kini telah mereda.
"Aduh celaka" pekik Lan See giok dalam hati.
Dengan cepat dia menyembunyikan diri ke belakang
bantuan cadas yang berada tak jauh dari sana.
Rupanya pemuda itu segera menyadari karena agaknya
pertarungan dari si tongkat besi berkaki tunggal dan
Beruang berlengan tunggal segera di akhiri berhubung
mereka telah menangkap suara ujung bajunya yang
terhembus angin.
Benar juga, dari balik hutan pohon siong di depan sana
segera muncul dua sosok bayangan manusia, ke empat buah
sorot mata mereka yang tajam bagaikan sembilu segera
dialihkan ke arah tanah persawahan sana.
Buru-buru Lan See giok menundukkan kepalanya sambil
menyembunyikan diri, hatinya sangat gelisah selain
menyesal, di samping itu diapun lantas teringat kembali
pesan bibinya sebelum berpisah tadi.
Sewaktu mengangkat kepalanya kembali, dia jadi
gemetar karena ketakutan, ternyata si tongkat besi kaki
tunggal serta si beruang berlengan tunggal dengan senjata
disiapkan sedang melakukan pencarian ke arahnya.
Dalam keadaan begini, di samping Lan See giok
menyesali kecerobohan sendiri, diapun hanya bisa
menunggu sampai kedua orang itu mencari sampai ke
arahnya.
Untuk kabur, jelas hal ini tak mungkin akan berhasil,
mau bertarung diapun sadar bahwa kemampuannya belum
http://kangzusi.com/
mampu untuk menghadapi kedua orang tersebut, terpaksa
satu satunya jalan adalah beradu jiwa . . .
Di dalam waktu yang amat singkat itu, rasa menyesal,
malu, gelisah berkecamuk di dalam benaknya kalau bisa dia
ingin segera menghabisi nyawa sendiri.
Teringat bibi Wan serta enci Cian nya. mereka berdua
tentu tak akan menyangka kalau dia sudah terperosok ke
dalam keadaan yang sangat berbahaya kini.
Tanpa terasa dia meraba kotak kecil dalam sakunya, ia
tahu benda tersebut tentu akan sukar dipertahankan lagi,
dari pada benda mestika itu terjatuh ke tangan dua orang
penjahat itu. lebih baik ia hancurkan kitab pusaka tersebut.
Berpikir demikian, diam-diam ia merogoh ke dalam
sakunya, ia merasa telapak tangan nya sudah mulai basah
oleh keringat dingin.
Pada saat tangan kanan Lan See giok hampir menyentuh
kotak kecil tersebut, mendadak terdengar suara tertawa
dingin seseorang yang sangat rendah berkumandang datang
dari arah hutan pohon siong sana.
Beruang berlengan tunggal berdua merasa sangat
terkejut, dengan cepat dia membalikkan badan seraya
membentak:
"Siapa di situ?"
Tapi suasana dalam hutan sangat hening dan tak
kedengaran sedikit suarapun.
Mendadak terdengar si tongkat baja kaki tunggal
membentak nyaring:
"Manusia sialan mana yang tak berani bertemu orang,
kalau tidak segera ke luar.."
http://kangzusi.com/
Belum habis umpatan tersebut diutarakan, dari balik
hutan telah meluncur ke luar dua titik bayangan hitam yang
langsung menyambar ke hadapan tongkat baja kaki tunggal
berdua dengan membawa desingan suara tajam.
Berhubung gerakannya sangat cepat dan luar biasa,
kedua orang itu tak sempat lagi untuk menghindarkan diri.
"Plaaakkk, plaaakkk!"
Debu bertebaran ke angkasa, tahu-tahu saja kedua titik
hitam tadi sudah menghajar di atas kening si Tongkat baja
kaki tunggal dan si beruang berlengan tunggal secara telak.
Kedua orang tersebut menjadi tertegun kemudian
berteriak kesakitan, mereka meraba pipinya, ternyata
senjata rahasia yang bersarang di atas pipi mereka berdua
tak lebih hanya dua gumpal lumpur belaka.
Kontan saja si Tongkat baja kaki tunggal serta si Beruang
berlengan tunggal jadi gusar sekali, sambil membentak
nyaring serentak mereka menyerbu ke dalam hutan.
Lan See giok segera memperoleh peluang yang baik
sekali, pekiknya dalam hati:
"Kalau sekarang tidak angkat kaki, masa aku harus
menunggu sampai datangnya saat kematian?"
Berpikir demikian, dengan cepat dia melompat bangun
dan segera kabur menuju ke arah barat laut. .
Belum sampai lima kaki Lan See giok melarikan diri,
tiba-tiba saja dari arah hutan, pohon siong telah
berkumandang dua kali jeritan kaget yang tinggi
melengking serta penuh mengandung nada seram den ngeri.
Gemetar sekujur badan Lan See giok, ia tak berani
berpaling lagi, larinya semakin dipercepat, bagaikan
http://kangzusi.com/
segulung asap ringan dia langsung melarikan diri menuju ke
arah jalan raya.
Pemuda itu dapat menduga, si Tongkat baja kaki tunggal
serta Beruang berlengan tunggal tentu sudah bertemu
dengan gembong-gembong iblis yang kejam dan buas, kalau
ditinjau dari jeritan kagetnya yang menyeramkan tadi. bisa
diketahui kalau kedua orang tersebut tentu ketakutan sekali
menjumpai lawannya.
Sementara masih termenung, ia sudah tiba dijalan raya,
ketika berpaling kecuali pepohonan rendah yang tersebar di
belakang sana, ia tidak melihat ada manusia yang mengejar
ke arahnya.
Dalam hati kecilnya Lan See giok tiada hentinya
bersyukur. dia tak menyangka dalam bahayanya tadi
ternyata muncul seorang bintang penolong yang tak sempat
dijumpai wajahnya.
Sekalipun orang yang berada di belakang itu tidak
mengejarnya, tapi pemuda kita berlarian terus dengan
kencang, ia tak berani melambatkan gerakan tubuhnya
barang sebentarpun karena sekarang dia baru mengingatkan
diri atas pesan dari bibinya, jangan mencampuri urusan
yang bukan masalah sendiri.
Waktu berlangsung amat cepat, tak lama kemudian
tengah malam pun telah tiba.
Dalam kegelapan di kejauhan sana lamat-lamat dia
melihat munculnya sebuah kota besar dengan beberapa titik
lentera merah digantungkan ke tengah angkasa, meski
hanya setitik cahaya namun cukup mendatangkan semangat
bagi Lan See giok yang sedang -berlarian ditengah
kegelapan.
http://kangzusi.com/
Dia tahu, cahaya lentera tersebut berasal dari kota
Tekan, karenanya tanpa terasa semangatnya kembali
berkobar.
Berhubung pada siang harinya dia sudah tidur cukup,
saat ini semangatnya terasa berkobar-kobar, apalagi
semenjak dia menelan pil racun pemberian dari manusia
buas bertelinga tunggal Oh Tin san, selain tenaga dalamnya
telah peroleh kemajuan yang pesat, diapun sama sekali
tidak merasa lelah, mengapa bisa demikian, hingga
sekarang masalah tersebut masih merupakan sebuah tanda
tanya besar.
Sementara masih termenung dia telah tiba di kota Tekan,
tapi oleh sebab dia tidak merasa lelah, diputuskan untuk
melanjutkan perjalanannya lebih jauh.
Maka dengan melingkari kota, dia langsung berangkat
menuju ke kota Toan cong.
Malam semakin kelam, suasana di sekeliling tempat
itupun sangat hening, di bawah cahaya rembulan yang amat
redup Lan See giok berlarian seorang diri ditengah jalan
raya yang lenggang.
Satu kentongan sudah lewat, entah berapa jauh
perjalanan telah ditempuh, dari kejauhan sana ia mulai
mendengar suara ayam jago berkokok, angin malam terasa
makin dingin, kegelapan malam yang mencekam makin
terasa gelap.
Lan See giok tahu, sesaat lagi fajar akan menyingsing,
akan tetapi bayangan kota Toan-cong belum juga nampak.
Sementara itu rasa lapar, dahaga, lelah dan gelisah telah
menyerang datang bersama sama. air peluh sudah mulai
membasahi seluruh jidatnya.
Tiba-tiba-
http://kangzusi.com/
Bau harum semerbak yang sangat aneh muncul secara
mendadak dari dalam tenggorokannya.
Berbareng itu juga, dia merasakan munculnya cairan
harum yang amat luar biasa dari bawah lidah dan
kerongkongan nya.
Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera
memperlambat gerakan tubuhnya. Dia merasa cairan
harum itu berasal dari dalam tubuhnya sendiri, persis
seperti bau harum yang dirasakan setelah menelan pil
berwarna hitam pemberian dari Oh Tin san sewaktu berada
di dalam kuburan kuno tempo hari.
Dalam keadaan begini dia merasa tak bisa melanjutkan
perjalanannya lagi, dia harus bersemedi lebih dulu sebelum
melanjutkan perjalanan.
Maka dengan sorot mata yang tajam dia mulai
mengawasi keadaan di sekeliling tempat itu, akhirnya ia
duduk bersila di bawah sebatang pohon yang rindang, enam
tujuh kaki di sebelah kiri jalan.
Entah sedari kapan, bau harum tersebut makin lama
terasa semakin menebal, dengan cepat pula rasa lapar yang
semula merongrong dirinya kini hilang lenyap tak berbekas,
kerongkongannya juga tidak terasa dahaga lagi, malah rasa
lelah yang semula mencekam tubuhnya kini sudah jauh
berkurang.
Ia tidak berniat untuk berpikir lebih jauh, tapi ia percaya,
hal ini pasti bukan ditimbulkan oleh cairan racun pil
pemberian Oh Tin san tempo hari.
Lan See giok memejamkan matanya sambil mengatur
pernapasan, dalam waktu singkat timbul hawa panas yang
sangat hangat dari pusarnya yang dalam waktu singkat
telah menyebar ke seluruh tubuhnya, rasa lapar, dahaga dan
http://kangzusi.com/
lelah yang semula menghantui dirinya. sekarang telah
hilang lenyap tak berbekas.
ENTAH berapa lama sudah lewat, dari kejauhan sana
mulai terdengar suara anjing menggonggong, ketika Lan
See giok membuka matanya, dia lihat fajar mulai
menyingsing, dusun di kejauhan sana pun lamat-lamat
sudah mulai kelihatan.
Lan See giok segera melompat bangun, ia merasakan
tubuhnya telah segar bugar kembali, penuh semangat dan
tenaga, pada hakekatnya bagaikan dua manusia yang
berbeda bila dibandingkan sebelum bersemedi tadi.
Dengan perasaan girang dia meneruskan perjalanannya,
sekali melompat tahu-tahu saja sepasang kakinya sudah
melayang turun ditengah jalan raya, kejadian tersebut
kembali membuat anak muda tersebut termangu-mangu
karena kaget.
Padahal jarak antara pepohonan dimana ia bersemedi
tadi dengan jalan raya mencapai enam tujuh kaki lebih,
sebelum ia bersemedi tadi, jelas hal semacam ini tak
mungkin bisa dilakukannya, tapi sekarang selesai ia
bersemedi, ternyata hal mana bisa dilakukan olehnya
dengan begitu mudah.
Rasa terkejut. gembira, girang membuat semangatnya
semakin berkobar-kobar, dia meneruskan perjalanannya
juga lebih cepat lagi.
Langit baru saja terang tanah, namun jalan raya itu
sudah banyak manusia yang berlalu lalang, kota Toan-cong
pun kini sudah muncul di depan mata, maka dengan
langkah lebar dia segera berjalan menuju ke depan.
Ketika Lan See-giok masuk ke jalan Lam-kwan,
matahari baru saja muncul, saat para pedagang mulai
http://kangzusi.com/
meninggalkan rumah penginapan untuk melanjutkan
perjalanan.
Ia segera memilih sebuah rumah penginapan yang agak
besar untuk beristirahat.
Para pelayan rumah penginapan kebanyakan adalah
orang-orang yang sudah berpengalaman, dalam sekilas
pandangan saja, mereka sudah tahu kalau Lan See giok
adalah anggota persilatan yang baru saja menempuh
perjalanan semalam suntuk.
Apalagi kalau melihat usianya yang paling banter baru
lima enam belas tahunan, orang yang berani menempuh
perjalanan malam dalam usia seperti ini jelas sudah kalau
kepandaian silat yang dimiliki nya pasti amat hebat.
Beberapa orang pelayan tersebut tak berani berayal,
cepat-cepat mereka maju menyambut kedatangannya, lalu
dengan senyuman di wajah sapanya:
"Siauya, silahkan masuk ke dalam, di sana tersedia
kamar tunggal yang dikelilingi kebun, ada kacung ada
pelayan, semua persediaan lengkap, tanggung siauya akan
puas"
Lan See giok tidak ingin melakukan pemborosan, jangan
lagi bekalnya amat sedikit, kendari pun dia membawa
sejumlah uang yang lebih besar pun tak nanti dia akan
boros seperti itu.
Karenanya dengan kening berkerut dia awasi beberapa
orang pelayan itu, kemudian berkata dengan hambar:
"Aku hanya ingin beristirahat sebentar saja, seusai
bersantap nanti aku masih melanjutkan perjalanan
kembali."
http://kangzusi.com/
Kemudian sambil menuding sebuah kamar tunggal di
depannya, dia melanjutkan:
"Biar aku menyewa kamar itu saja!"
Pelayan segera mengiakan berulang kali dan mengajak
Lan See giok menuju ke ruangan.
Ruangan tersebut sangat sederhana, selain sebuah meja
dua bangku dan sebuah pembaringan kayu, tidak nampak
perabot yang lain, tapi biar sederhana namun segalanya
bersih.
Maka pemuda itu pun memesan sejumlah makanan yang
sederhana untuk mengisi perut.
Beberapa orang pelayan itu saling berpandangan sekejap
lalu sama-sama mengundurkan diri, diam-diam mereka
memuji akan kesederhanaan pemuda itu, biarpun berasal
dari keluarga kaya namun hidupnya bersahaja. selain tidak
sombong, orangnya selalu merendah.
Seusai bersantap, Lan See giok segera membaringkan diri
untuk beristirahat, pertama tama dia teringat akan enci Cian
serta bibi Wannya.
Ditinjau dari kejadian berkumpul dan berpisah dengan
encinya, dia tahu kalau enci Cian amat mencintainya. maka
ia bertekad dihati, apabila kepergiannya ke bukit Hoa-san
kali ini berhasil mempelajari kepandaian silat sehingga
dendamnya bisa terbalas, dia akan hidup selamanya
bersama enci Cian serta bibi Wannya.
Dari pembicaraan Oh Tin san suami istri, diapun tahu
kalau bibinya dahulu terkenal sebagai seorang pendekar
wanita yang bernama Hu-yong siancu, kemudian
berdasarkan pembicaraan kemarin, diapun menjumpai
kalau antara bibi Wan dengan ayahnya tentu pernah
mempunyai suatu hubungan yang luar biasa.
http://kangzusi.com/
Lantas dia pun terbayang kembali Oh Li cu yang jalan
darah tidurnya ditotok orang, entah bagaimana keadaannya
sekarang? Dia pikir, bibi Wan dan enci Cian pasti akan
baik-baik merawat dirinya.
Setelah itu diapun membayangkan si Tongkat baja kaki
tunggal serta Beruang berlengan tunggal, dua jeritan
kagetnya yang memekikkan telinga tadi entah merupakan
jerit kesakitan ataukah jeritan ngeri menjelang saat ajalnya
tiba? Bila kedua orang itu sudah tewas, berarti dia tak akan
bisa menyelidiki lagi sebab musabab mereka bisa
mendatangi kediaman ayahnya pada malam itu.
Cairan harum itu yang muncul dari kerongkongannya
pagi tadi serta bertambahnya tenaga dalam yang dimiliki,
semuanya membuat dia bingung dan tidak bebas mengerti,
sekarang dia berani memastikan kalau selama berada dalam
kuburan kuno tempo hari, ia memang telah memperoleh
penemuan luar biasa.
Akhirnya diapun membayangkan kembali soal To seng-
cu, dari nasehat dan teguran dari bibinya, ia tidak terlalu
yakin sekarang bahwa To seng cu adalah musuh besar
pembunuh ayahnya, namun ia tetap menaruh curiga
kepadanya.
Teringat akan To seng cu, dia jadi ingin sekali tiba di
bukit Hoa san secepatnya.
Maka dia segera melompat bangun, lalu duduk bersila,
menutup mata dan mengatur pernapasan, dalam waktu
singkat ia telah berada dalam keadaan tenang"
Entah berapa saat kemudian, ketika membuka matanya,
waktu sudah mendekati pukul sembilan, dengan cepat dia
membenahi diri, membayar rekening dan meneruskan
perjalanan.
http://kangzusi.com/
Lewat tengah hari, dia sudah memasuki wilayah propinsi
Ou pak. Sepanjang perjalanan Lan See giok selalu menuruti
nasehat dari bibinya, dia selalu menempuh perjalanan
dengan berhati hati dan hemat.
Dalam satu bulan perjalanan, walaupun beberapa kali ia
menjumpai hujan salju yang lebat, namun sama sekali tidak
mempengaruhi perjalanannya.
Dalam sepanjang perjalanan, Lan See giok pun telah
memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman, ia
menjadi jauh lebih matang daripada ketika berada di
benteng Wi-lim-poo.
Hanya saja, selama ini dia tak pernah dapat melupakan
dendam sakit hatinya, dalam benaknya juga sering muncul
bayangan wajah dari enci Cian nya yang cantik dan lembut
serta bibi Wan nya yang anggun dan ramah.
Diapun amat berterima kasih kepada kakek berjubah
kuning itu, bukan saja tidak melarikan kitab pusaka Tay lo
hud bun pwee tiap cinkeng. malah dia sempat
memberitahukan kepadanya bagaimana caranya
mempelajari kitab pusaka tersebut.
Kadangkala diapun teringat Oh Li cu, terutama rasa
terima kasihnya atas pemberian beberapa butir pil pemunah
racun untuknya.
Dia juga berterima kasih kepada gadis berbaju merah Si
Cay-soat, hanya sewaktu teringat Siau thi-gou yang polos
dia selalu merasa agak menyesal.
Hari ini ia menyeberangi Han sui, bukit Hoa san yang
tinggi dan angkerpun sudah muncul di kejauhan sana.
Dari jauh memandang, bukit itu nampak angker dan
bersambungan dengan awan di angkasa, begitu angker,
http://kangzusi.com/
gagah tak malu di sebut bukit kenamaan di daratan
Tionggoan
Baru pertama kali ini dia berkunjung Ke bukit Hoa san,
boleh dibilang dia sama sekali tidak mengenal dengan
keadaan situasi di sekitar situ, akhirnya pemuda itu
memutuskan untuk menginap di sebuah kota kecil yang
jaraknya hanya sepuluh li dari kaki bukit.
Seorang diri pemuda itu duduk di loteng rumah makan
sambil memandang bukit yang menjulang tinggi ke angkasa
dengan pandangan termangu, ia tak tahu bukit manakah
yang dinamakan Giok li hong, dan dia pun tak tahu harus
masuk melalui jalan bukit yang mana.
Seorang pelayan yang sudah sejak lama mengamati
tamunya ini, segera datang menghampiri sambil menegur:
"Tuan, araknya sudah mulai dingin rupanya, apakah
perlu hamba hangatkan dulu?"
Melihat pelayan tersebut, tergerak hati Lan See giok, dia
tertawa ramah kemudian menggeleng, setelah itu menunjuk
ke tanah perbukitan di depan sana, ia bertanya:
"Tolong tanya, diantara sekian banyak bukit di bukit Hoa
san, puncak manakah yang paling indah?"
Menghadapi pertanyaan itu, sang pelayan segera
merasakan semangatnya bangkit kembali, dia menunjuk
kearah deretan pegunungan itu lalu, menerangkan:
"Tiga puncak bukit Hoa san sukar di bedakan satu
dengan lainnya, puncak di bagian tengah yang paling tinggi
disebut puncak Lian hoa hong, di sebelah timur adalah Sian
jin hong, sedangkan Lok-eng-hong terletak di sebelah
selatan, di atas puncak terdapat kuil Pek tee bio, gardu
Nyoo kong teng, kolam Lok eng ti, tugu Jian jip pit masih
ada lagi tempat-tempat kenamaan lain."
http://kangzusi.com/
Melihat si pelayan sama sekali tidak menyinggung soal
puncak Giok li hong, Lan See giok segera berkerut kening,
kemudian tanyanya dengan nada tidak mengerti:
"Masa di atas bukit Hoa san hanya terdapat tiga buah
puncak kenamaan saja . .?"
"Aaah, tentu saja banyak sekali," jawab pelayan itu
bersungguh sungguh, "seperti Im tay hong, Kun cu hong,
Giok li hong. "
"Giok li hong . ." mencorong sinar terang dari balik mata
Lan See giok.
Tidak menanti sampai pemuda itu menyelesaikan kata
katanya, sang pelayan kembali telah menimbrung:
Giok li hong amat tinggi bukitnya dan selalu tertutup
awan putih, pohon siong, tumbuhan bambu, batuan air
kolam penuh berserakan dimana mana, semua tempat
indah seperti gadis cantik yang tinggi semampai.
Menyaksikan pelayan itu bercerita dengan penuh
semangat sampai mukanya turut menjadi merah, lama
kelamaan ia menjadi tak tega, segera selanya:
"Tolong beri petunjuk kepadaku Giok-li-hong adalah
puncak yang mana?"
Pelayan itu segera menggelengkan kepala nya berulang
kali, katanya sambil tertawa paksa:
"Maaf tuan, puncak Giok li hong tertutup oleh puncak
Lok eng hong, jadi tidak terlihat dari tempat ini."
Sambil berkata dia lantas mengalihkan pandangannya
kearah Lok eng hong, kemudian sambit menuding katanya
lagi.
"Tuan, bila kau ingin berkunjung ke Giok- li-hong.
masuklah ke gunung lewat mulut lembah sempit, setibanya
http://kangzusi.com/
pada puncak ke tujuh Tiau yang hong, langsung pergilah ke
Lok eng hong. dari situ akan kau jumpai Giok li hong."
Mengikuti arah yang ditunjuk Lan See- giok mengangkat
kepalanya, awan putih nampak menyelimuti puncak-
puncak bukit itu sehingga kelihatan seperti bersambungan
satu dengan lainnya, sukar diketahui berapa jauh jaraknya
dari tempat itu.
"Kau pernah berkunjung ke Giok li hong?" tanyanya
kemudian dengan kening berkerut.
Merah padam selembar wajah pelayan itu, sambil
tertawa paksa ia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Hamba hanya manusia kasar yang tidak
berkependidikan, aku tidak memiliki jiwa seni yang begitu
tinggi. apalagi dari sini sampai di Giok li hong memakan
waktu perjalanan selama dua hari lebih, di atas gunung pun
banyak harimau, ular besar, binatang buas dan lain lainnya,
salah-salah aku bisa kehilangan nyawa"
Lan See giok tersenyum saja mendengar cerita itu, dia
pun manggut-manggut.
Dengan dilangsungkannya pembicaraan tersebut, banyak
manfaat yang berhasil diraih olehnya, menurut cerita
pelayan itu, orang biasa dapat mencapai tujuan dalam dua
hari perjalanan, andaikata dia menggunakan ilmu
meringankan tubuh, berarti hanya setengah harian saja dia
akan tiba di tempat tujuan.
"Begitulah, keesokan harinya ketika fajar baru
menyingsing, Lan See giok telah meninggalkan kota kecil
itu langsung menuju ke jalan raya yang berhubungan
dengan kaki bukit bagian selatan dari bukit Hoa-san.
http://kangzusi.com/
Waktu itu udara sangat cerah, bintang bertaburan
diangkasa, terhembus angin pagi yang segar tubuh terasa
lebih bersemangat- dan segar bugar.
Memandang jauh ke depan, meski kabut pagi masih
menyelimuti angkasa, namun pegunungan Hoa san dapat
terlihat secara lamat-lamat.
Lan See giok menempuh perjalanannya dengan cepat,
ketika matahari belum muncul dia sudah tiba di kaki selatan
bukit Hoa san.
Setelah membenarkan arah menuju ke puncak Tiau yang
hong sesuai dengan petunjuk pelayan. Lan See giok
meninggalkan jalan raya menuju ke sebuah mulut bukit.
Setelah memasuki daerah pegunungan, suasananya
segera berubah, kabut masih menyelimuti angkasa,
tumbuhan, akar rotan tumbuh dimana mana, batuan cadas
berserakan, jauh berbeda dengan apa yang semula
dibayangkan.
Baru pertama kali ini Lan See giok memasuki sebuah
bukit besar yang begitu angker, jauh memandang ke atas,
hanya awan putih yang menyelimuti dimana mana.
Setelah membenarkan arah, dia meneruskan
perjalanannya bagaikan terbang, makin lama makin sesukar
medan yang harus di lewatinya..
Dua jam kemudian, kakinya sudah mulai menginjak
lapisan salju, awan putih yang berkuntum kuntum lewat di
sisi tubuhnya membuat pemuda itu kadangkala tak bisa
membedakan lagi arah mata angin.
Sewaktu tiba di sebuah sudut bukit, dia sudah tak tahu
dimanakah dirinya berada, mendongakkan kepalanya dia
hanya melihat pantulan sinar matahari yang amat
menyilaukan mata.
http://kangzusi.com/
Tapi pemuda itu tidak putus asa, selangkah demi
selangkah dia melanjutkan perjalanannya ke atas, akhirnya
pandangan matanya menjadi terang dan ia sudah
menembusi lapisan awan.
Sejauh mata memandang hanya lautan mega yang tak
bertepian, puncak bukit bermunculan seperti hutan. puncak
Tiau yang- hong yang berjejer dengan puncak Lok eng hong
ternyata masih berada dua tiga puluh li jauhnya.
Mendongkol dan gelisah segera menyelimuti perasaan
Lan See giok, ia mencoba untuk mendongakkan kepalanya,
puncak tersebut masih ada ratusan kaki tingginya, padahal
tengah hari sudah tiba.
Dalam keadaan begini dia mulai merasa gugup, sebab
bila keadaan seperti ini berlangsung terus, biarpun berlarian
sampai besok tengah haripun belum tentu dia akan
menemukan puncak Giok li hong.
Segera diamatinya suasana di sekeliling tempat itu
dengan seksama, dengan cepat ia temukan antara puncak
dengan puncak lain boleh dibilang semuanya berhubungan,
di samping itu diapun berhasil menemukan kilauan cahaya
dinding kuil di punggung bukit di kejauhan sana.
Pemuda itu segera mengambil keputusan untuk
melanjutkan perjalanan, dalam anggapannya setelah
mencapai puncak bukit itu, tidak akan sulit untuk
menemukan Giok li hong.
Maka dia membuka perbekalannya untuk menangsal
perut, kemudian baru meneruskan perjalanannya ke depan.
Benar juga, setelah melewati beberapa buah puncak
bukit, puncak Lok eng hong makin lama semakin dekat,
semangatnya segera berkobar kembali, gerakan tubuhnya
juga dipercepat.
http://kangzusi.com/
Tak lama kemudian dia telah tiba di puncak Tiau yang
hong.
Pemandangan di atas puncak ini sangat indah, pohon
siong tumbuh berjajar jajar, lautan awan yang tak bertepian
menyelimuti empat penjuru, kabut melayang dekat
permukaan sementara suara air terjun bergema entah dari
mana.
Lan See giok sangat gembira, tanpa terasa lagi ia
berteriak keras-keras.
Suara teriakannya segera menggema di seluruh angkasa
dan mengalun sampai di tempat kejauhan sana, lama sekali
belum juga mereda.
Lan Se giok benar-benar amat kegirangan, walaupun dia
merasa dirinya sangat kecil ditengah bukit yang luas namun
perasaannya sangat lega dan membuat orang merasa segar,
tanpa terasa sekali lagi dia berpekik panjang..
Suara pekikannya mengalun di seluruh angkasa dan
membumbung tinggi ke angkasa.
Dengan pekikan itu, semua perasaan kesal, marah, resah,
gelisah hampir terlampiaskan ke luar, dadanya terasa lega
sekali.
Mendadak..
Ia menangkap suara ujung baju yang terhembus angin
berkumandang datang dari belakang tubuhnya.
Dengan perasaan terkejut Lan See giok membalikkan
badan, dia saksikan seorang pemuda berbaju abu-abu dan
berusia dua puluh satu dua tahunan sedang berlarian datang
dari balik hutan pohon siong dengan langkah tergesa gesa.
Pemuda berbaju abu-abu itu, berwajah tampan dan
menyoren sebilah pedang di punggungnya, pita kuning
http://kangzusi.com/
tergantung pada gagang pedangnya dan bergoyang tiada
hentinya sewaktu terhembus angin.
Memandang wajah gusar yang menyelimuti pemuda
berbaju abu-abu itu, Lan See giok segera mengerti,
kedatangan orang itu pasti hendak menyelidiki sumber dari
pekikannya tadi.
Benar jaga, setibanya di situ pemuda berbaju abu-abu itu
langsung menghampirinya, lalu dengan sorot mata yang
tajam mengawasi Lan See giok dari atas hingga ke bawah,
kemudian seperti menahan amarah yang meluap-luap, dia
menegur dengan suara dalam.
"Apakah kau baru pertama kali ini tiba di sini?"
Mendongkol juga Lan See giok melihat kesombongan
pemuda berbaju abu-abu itu, terutama sikapnya yang sangat
tidak bersahabat itu. namun dia manggut manggut juga
sambil menjawab:
"Benar. baru pertama kali ini aku tiba di sini!"
"Ada urusan apa kau datang ke mari? Mengapa berpekik
panjang disini? Sudah kau bertanya kepada para pendeta
dan tosu dari pelbagai kuil..?" kembali pemuda berbaju abu-
abu itu menegur
Usia pemuda berbaju abu-abu itu paling banter hanya
berapa tahun lebih tua ketimbang Lan See giok, tapi
kesombongan nya luar biasa, selain memojokkan orang lagi
pula bernada menegur. .
Karena itu dengan perasaan mendongkol dan sikap yang
lebih angkuh pemuda kita menggelengkan kepalanya
berulang kali, jawabnya dengan suara hambar.
"Aku ke mari bukan untuk memasang hio menyembah
Buddha, buat apa mesti berkunjung ke kuil?"
http://kangzusi.com/
Amarah yang semula sudah sukar terkendali, kontan saja
meledak dengan hebatnya, pemuda berbaju abu-abu itu
segera berkerut kening, lalu bentaknya dengan penuh
kegusaran:
"Apakah kau tidak mengetahui pantangan dan larangan
kami?" Lan See giok segera tertawa dingin.
"Hmmm, aku hanya tahu, datang kemari untuk
berpesiar, soal-soal semacam itu mah tidak mengerti!"
"Tutup bacotmu" hardik pemuda berbaju abu-abu itu
semakin gusar. "masih muda sudah bicara sengak, hmmm!
kalau tidak dikasih sedikit pelajaran, kau pasti tak akan
menyesal!"
Sembari berkata ia menerjang ke muka, lalu dengan jurus
Lik pit hoa san (membacok runtuh Hoa san) dia langsung
menghajar batok kepala Lan See giok dengan kekuatan
besar.
Lan See giok cukup sadar, biasanya pegunungan yang
terpencil merupakan daerah pertapaan tokoh-tokoh
persilatan yang berilmu tinggi, oleh sebab itu melihat
datangnya bacokan maut dari pemuda berbaju abu-abu itu,
dia tak berani menyambut dengan kekerasan, ujung kakinya
segera menjejak tanah dan melayang mundur sejauh dua
kaki lebih.
Pemuda berbaju abu-abu itu tertawa dingin, tubuhnya
berkelit ke samping kemudian mengejar lebih ke depan. . .
Belum lagi Lan See giok dapat berdiri tegak, pemuda
berbaju abu-abu itu sudah menubruk datang, dalam
kejutnya dia membentak keras, sebuah bacokan tangan
kanan segera dilontarkan ke luar.
Gulungan angin pukulan yang maha dahsyat dengan
cepatnya menerjang ke dada lawan.
http://kangzusi.com/
Pemuda berbaju abu-abu itu mendengus dingin,
tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu sudah lenyap tak
berbekas.
"Blaammm!"
Benturan nyaring menggelegar memecahkan keheningan,
pasir dan debu beterbangan ke mana-mana, ternyata
serangan dari Lan See giok menghajar permukaan tanah.
Menyaksikan kejadian tersebut Lan See giok merasa
gelagat tidak menguntungkan, dengan perasaan terkejut dia
segera membalikkan badan:
Pada saat dia sedang membalikkan badan secara tiba-tiba
itulah, jalan darah Pay tui hiat dipinggang belakangnya
sudah kena di totok oleh pemuda berbaju abu-abu itu.
Lan See giok berlagak seolah-olah tidak merasa, sambil
membentak telapak tangan kanannya sekali lagi didorong
ke muka..
Tak terlukiskan rasa terkejut pemuda berbaju abu-abu
itu, saking kagetnya dia menjerit keras. sepasang telapak
tangannya segera disilangkan untuk melindungi dada,
disambutnya serangan tersebut dengan kekuatan penuh.
"Blaammm!" benturan keras menggelegar lalu terdengar
suara dengusan tertahan, di antara suara langkah kaki yang
mundur dengan berat, Lan See giok serta pemuda baju abu-
abu itu saling berpisah dengan sempoyongan.
Secara beruntun Lan See giok mundur sejauh lima
langkah lebih, sebaliknya pemuda berbaju abu-abu itu
terjatuh hingga pantatnya beradu keras dengan tanah.
Akibatnya ke dua orang itu sama-sama membelalakkan
matanya lebar-lebar dan tertegun.
http://kangzusi.com/
Pemuda berbaju abu-abu itu membuka mulutnya dengan
napas terengah engah, dia tak tahu kepandaian silat apakah
yang telah dipelajari bocah berbaju perlente itu sehingga
totokan jalan darahnya sama sekali tak mempan.
Lan See giok merasakan juga lengan kanannya linu dan
kaku bahkan secara lamat-lamat terasa sakit, dia tahu
pemuda berbaju abu-abu itu tentu anak murid seorang jago
yang lihay yang menetap di atas bukit tersebut.
Gerakan tubuh dari pemuda berbaju abu-abu itu selain
indah dan cekatan, tenaga dalamnya masih jauh melebihi
dirinya, justru pemuda itu bisa roboh lantaran dia sedang
tertegun karena totokan jalan darah nya tak mempan.
Padahal dalam keadaan tak siap saja lawan sanggup
membuat dirinya terdorong mundur sejauh lima langkah,
bisa dibayangkan sampai dimanakah taraf tenaga dalam
yang dimiliki orang ini.
Sementara dia masih berpikir. Pemuda berbaju abu-abu
itu sudah bangkit berdiri, keningnya berkerut kencang,
kemudian pergelangan tangan kanannya diputar dan..
"Criing!" dia telah meloloskan pedangnya yang tersoren di
punggung.
Mimpi pun Lan See giok tidak menyangka kalau gara-
gara pekikan nyaringnya tadi bakal mendatangkan
kerepotan baginya, melihat pemuda berbaju abu - abu itu
sudah meloloskan pedangnya, tanpa terasa dia berpaling
memandang matahari senja yang mulai tenggelam di langit
barat.
Ia sadar gerakan tubuhnya mungkin tidak selincah dan
seenteng lawan, akan tetapi dalam permainan senjata belum
tentu dia sampai kalah, cuma saja senja telah hampir lewat,
padahal dia belum mengetahui di manakah letak puncak
http://kangzusi.com/
Giok li hong. hal inilah yang membuat hatinya merasa
sangat gelisah.
Sementara itu pemuda berbaju abu-abu itu sudah
mengejar datang sambil tertawa dingin, kemudian tegurnya:
dengan suara dalam: "Bagaimana? Kau masih ingin kabur?"
Lan See giok yang didesak terus menerus akhirnya
menjadi naik darah juga, segera bentaknya dengan gusar:
"Kau jangan kelewat memojokkan orang, Hoa san
adalah tempat umum yang boleh di datangi setiap orang,
bukan daerah khusus yang menjadi milikmu. Hamm, jarang
sekali kujumpai manusia yang tak tahu sopan santun seperti
kau. Aku bukan bermaksud melarikan diri, tapi langit sudah
malam, aku takut urusanku jadi tertunda, maka aku tak
ingin melayanimu lebih jauh, Tapi jika kau bersikeras juga
hendak menjajal senjata tajamku, baik, akupun ingin
melihat sampai dimana kah kehebatan ilmu pedang yang
kau miliki itu"
Seraya berkata dia lantas merogoh ke dalam
pinggangnya dan meloloskan senjata andalannya.
Tampak cahaya keemas emasan yang amat menyilaukan
mata memancar ke empat penjuru, tahu-tahu senjata gurdi
emas Kang luan tui milik Lan See giok sudah diloloskan
bagaikan seekor ular emas hidup.
Pemuda berbaju abu-abu itu segera tertegun dan serentak
menghentikan langkahnya, dengan pandangan termangu
serta keheranan dia awasi senjata gurdi emas di tangan Lan
See giok tanpa berkedip, sesaat kemudian dia baru menegur
dengan perasaan tak habis mengerti:
"Senjata aneh apa sih yang kau pergunakan itu?"
Lan See giok tertawa dingin, sebelum dia sempat
menjawab, dari balik pohon siong telah muncul kembali
http://kangzusi.com/
seseorang, gerakan tubuh orang ini terasa satu kali lipat
lebih cepat daripada pemuda berbaju abu-abu itu.
Pemuda berbaju abu-abu tadi segera membalikkan
tubuhnya, kemudian berseru keras.
"Khu suheng, barusan dialah yang berpekik keras!"
Sambil berkata dia lantas menuding ke arah Lan See
giok.
Ketika Lan See giok berpaling, dia saksikan pendatang
itu baru berusia tiga puluh tahunan, kulit mukanya kuning
dan tubuhnya kurus ceking tinggal kulit pembungkus
tulang, namun sepasang matanya berkilat kilat dan gerak
geriknya amat tinggi hati, orang inipun mengenakan baju
berwarna abu-abu.
Lelaki setengah umur itu berjalan mendekat kemudian
memperhatikan Lan See giok sekejap dengan pandangan
tanpa emosi, kemudian dia baru menegur dingin.
"Mengapa kau sembarangan berpekik di tempat ini dan
tak suka mengindahkan nasehat?" "
Sembari berkata, dengan langkah lebar dia berjalan
menuju ke hadapan Lan See giok.
Pemuda berbaju abu-abu itu terkejut, mendadak
cegahnya. "Khu suheng, jangan terlampau dekat, dia
memiliki semacam kepandaian aneh, biar jalan darah nya
sudah tertotok namun tubuhnya sama sekali tidak roboh."
Tertegun lelaki setengah umur itu, setelah berseru
tertahan dia lantas menghentikan langkahnya, sementara
sepasang matanya yang tajam mengawasi Lan See giok
dengan pandangan terkejut bercampur keheranan.
Dalam anggapan Lan See giok semula, dengan
datangnya kakak seperguruan dari pemuda tersebut maka
http://kangzusi.com/
urusan akan bisa dibereskan dengan segera, siapa tahu
suheng nya ini lebih tak tahu aturan, maka setelah
mendengus katanya sinis.
"Hmmm, berpengetahuan picik sok keheranan saja?”
Namun lelaki setengah umur itu seakan- akan tidak
mendengar apa yang dikatakan Lan See giok, dengan
kening berkerut terdengar ia berguman seorang diri:
"Aku merasa sedikit tidak percaya!"
Tiba-tiba saja dia menubruk ke muka, jari tangan
kanannya langsung menotok jalan darah Cong hiat-hiatnya.
Tak terlukiskan amarah Lan See giok menyaksikan
datangnya ancaman tersebut, sebagaimana diketahui, jalan
darah Cong-hiat merupakan salah satu jalan darah penting
di tubuh manusia, bila sampai tertotok, sekalipun tak
sampai mati juga bakal terluka, itulah sebabnya hawa napsu
membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya.
"Bagus sekali" ia membentak. "bila kau tidak percaya,
silahkan saja dicoba sendiri."
Sambil membentak, gurdi emasnya menusuk ke muka
secepat sambaran petir dengan jurus Pau hou pay wi (
harimau ganas mengebaskan ekor ), dengan gerakan ilmu
cambuk dia menyambar pinggang lelaki setengah umur itu.
Menganggap kepandaian silat yang dimilikinya cukup
tinggi tentu saja lelaki setengah umur itu tidak memandang
sebelah matapun terhadap Lan See giok, sambil tertawa
dingin tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu lenyap dari
pandangan.
Sebelum itu, Lan See giok sudah pernah menyaksikan
gerakan aneh dari pemuda berbaju abu-abu itu. dia tahu
musuhnya telah menyelinap ke belakang punggungnya.
http://kangzusi.com/
Maka tanpa menggerakkan badan, gurdi emasnya segera
menyerang lagi dengan jurus wi ceng pat hong
(menggemparkan delapan penjuru)..
Serentetan suara desingan tajam segera menderu deru,
cahaya tajam berkilauan memancar ke empat penjuru,
dalam waktu singkat muncul beribu ribu bayangan gurdi
emas yang melindungi seluruh badan Lan See-giok.
Agaknya lelaki setengah umur itu tidak menyangka
kalau Lan See giok begitu hebat dalam perubahan - jurus
tangan kanannya yang baru saja melepaskan totokan nyaris
tersapu oleh gurdi emas tersebut, dia segera menjerit kaget
lalu mundur sejauh delapan depa lebih.
Lan See giok sudah diliputi oleh hawa napsu
membunuh, sudah barang tentu ia tak akan membiarkan
lelaki setengah umur itu pergi dengan begitu saja, sambil
membentak keras hawa murninya disalurkan ke dalam
gurdi itu, kemudian dengan jurus Kim coa toh sim (Ular
emas menjulurkan lidah) ia lepaskan sebuah tusukan
dengan gerakan pedang-
Sebelum lelaki setengah umur itu berhasil berdiri tegak,
gurdi emas dari Lan See giok telah menusuk tiba, sekali lagi
dia menjerit keras lalu mundur ke belakang dengan cepat-
Mencorong sinar tajam dari balik mata Lan See giok,
tanpa menghentikan tubuhnya dia meneruskan
terjangannya ke muka, gurdi emasnya melepaskan tiga
jurus serangan secara beruntun, ditengah deruan angin
serangan, cahaya emas berkilauan, bagaikan hujan badai
menyambar tiada hentinya, sungguh mengerikan sekali
keadaannya.
Dengan cekatan lelaki setengah umur itu berkelit ke kiri
dan menghindar ke kanan. karena didesak oleh Lan See
giok sehingga kalang kabut dengan gugup ia mundur.
http://kangzusi.com/
Pemuda berbaju abu-abu itu menjadi tertegun saking
kagetnya, dia sampai lupa untuk turun tangan membantu
kakak seperguruan-nya melepaskan diri dari bahaya.
Pada saat itulah . . .
Tiba-tiba ia mendengar bentakan keras berkumandang
memecahkan keheningan.
"Cepat tahan . . . . "
Suaranya sangat nyaring seperti suara genta amat
menusuk pendengaran, mendengar itu Lan See giok segera
menghentikan gerak serangannya.
Sewaktu ia berpaling, lebih kurang dua kaki di tepi arena
tampak orang kakek berjubah panjang warna abu-abu dan
berjenggot panjang berdiri tegak di sana.
Kakek itu berwajah amat ramah tapi memancarkan sinar
kewibawaan amat tinggi, di antara bayangan manusia yang
berkelebat lewat, lelaki setengah umur dan pemuda berbaju
abu-abu sudah melompat ke hadapan kakek tadi dengan
wajah tersipu -sipu, setelah memberi hormat, mereka
berbisik lirih:
"Suhu!"
Dalam pada itu, Lan See giok sedang berpikir pula
dihati.
"Dengan murid yang begitu berpikiran picik dan berdada
sempit, gurunya pasti seorang manusia latah yang berjiwa
sempit pula"
Oleh karena berpendapat demikian, maka dia hanya
berdiri tegak di situ tanpa memberi hormat.
Dengan wajah penuh kegusaran lelaki berjubah panjang
itu memandang sekejap ke arah kedua orang muridnya,
kemudian kata nya dengan suara dalam.
http://kangzusi.com/
"Mundur kalian!"
Lelaki setengah umur dan pemuda itu segera mengiakan
dengan hormat dan mengundurkan diri ke sisi tubuh
gurunya, di atas wajah kedua orang itu sama sekali tidak
dijumpai sinar keangkuhan lagi.
Sambil mengelus jenggotnya yang panjang kakek
berjubah panjang itu memandang wajah Lan See giok,
kemudian tanyanya sambil tersenyum: "Siauhiap membawa
gurdi emas, apakah kau adalah keturunan dari Lan tay-
hiap?"
Menyinggung soal ayahnya, paras muka Lan See giok
segera berubah menjadi serius kembali, cepat-cepat dia
menjura seraya menjawab dengan hormat.
"Lan Khong-tay adalah guruku, boleh aku tahu siapa
nama cianpwe dan dari mana kau bisa mengenali senjata
tajam andalan dari guruku ini- ?"
Manusia berjubah panjang itu mendongak kan kepalanya
lalu tertawa terbahak bahak:
"Aaah - haaahhh - haaahhh. ayahmu Lan Khong-tay
sangat termasyhur dikolong langit, senjata gurdi emasnya
merajai dunia persilatan, sembilan butir peluru peraknya
selalu tepat dan tak pernah meleset, dan aku pernah
berjumpa dengan ayahmu, sudah barang tentu kenal juga
dengan senjata kenamaannya"
Mengetahui kalau dia kenal dengan ayah-nya Lan See
giok segera berkata dengan serius:
"Oooh rupanya Ban locianpwe, apabila boanpwe Lan
See giok berbuat ceroboh dan mengganggu ketenangan
locianpwe, harap locianpwe sudi memaafkan,"
http://kangzusi.com/
Selesai berkata, kembali dia menjura dalam-dalam,
Sekali lagi Ban peng cuan tertawa tergelak.
"Tiada induk harimau yang melahirkan anjing, ayah
ibumu selalu hidup bagaikan dewa dewi, sedang ibumu Hu-
yong siancu juga sudah banyak tahun tak menampakkan
diri, apakah selama ini dia selalu berada dalam keadaan
baik-baik?"
Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras,
dia sangat kebingungan, dengan kening berkerut dan nada
tidak mengerti tanyanya.
"Ibuku adalah Ki lu lihiap Ong Si hoa, bukan Hu-yong
siancu bibi wan, pertanyaan dari locianpwe ini sungguh
membuat boanpwe tidak habis mengerti!"
Merah padam selembar wajah Ban peng coan. dia tahu
kalau dirinya khilaf, dengan nada minta maaf katanya
kemudian:
"Oh betul, aku memang sudah tua dan ingatanku tidak
tajam lagi. andaikata kau tidak mengingatkan kembali,
hampir saja aku lupa dengan Ong lihiap."
Setelah berhenti sejenak, seakan akan sengaja
mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, dia bertanya
lebih jauh dengan nada tidak mengerti.
"Apakah kedatangan hiantit kemari hanya untuk
berpesiar saja?"
Sejak semula Lau See giok sudah merasa kalau
hubungan bibi Wan dengan ayahnya tidak biasa. apabila
setelah mendengar perkataan dari Ban Peng cuan,
kecurigaannya semakin berlipat ganda.
http://kangzusi.com/
Namun bila teringat kembali tujuan kedatangannya ke
bukit Hoa san kali ini, terpaksa kecurigaannya terhadap bibi
Wan harus ditunda sampai lain waktu.
Sahutnya kemudian dengan hormat:
"Boanpwe ingin buru-buru menjumpai To seng cu,
karena itu khusus aku berangkat dari kota Tek an kemari,
tapi tak kuketahui di manakah letak puncak Giok-li-hong,
karena itu . . . "
Belum habis ia bercerita, pemuda berbaju abu-abu itu
sudah tertawa geli.
Lan See giok menjadi tertegun, tanpa terasa dia
memandang ke arah pemuda berbaju abu-abu itu dengan
termangu.
Ban Peng cuan sendiripun tak dapat menahan rasa
gelinya, sambil tersenyum ia segera berkata.
"Agaknya baru pertama kali ini kau datang kemari,
disinilah letak puncak Giok-li- hong!"
Sambil berkata, dia lantas menuding ke arah sebuah
puncak bukit yang berada puluhan kaki jauhnya.
Sementara itu matahari senja telah terbenam, maghrib
pun menjelang tiba, kegelapan mulai menyelimuti seluruh
bukit Hoa san, ketika Lan See giok mengangkat kepala nya,
didapati puncak Giok li hong memang jauh berbeda dengan
bukit-bukit lainnya.
Terdengar Ban Peng cuan bertanya lagi dengan ragu.
"Apakah kau sudah mengetahui tempat kediaman dari
To seng-cu locianpwe?"
Lan See giok segera menggelengkan kepalanya berulang
kali.
http://kangzusi.com/
"Boanpwe tidak tahu, tapi konon berada di bawah
puncak Giok li hong-."
"Keponakanku" ujar Ban Peng cuan dengan bersungguh
sungguh, "bukan aku sengaja hendak menghilangkan
kegembiraanmu. kami guru dan murid bertiga sudah
banyak tahun berdiam di puncak ini, tapi belum pernah
bertemu dengan "To seng cu" locianpwe barang satu
kalipun, cerita tentang berdiamnya dia orang tua di bawah
puncak Giok li hong sudah mulai beredar semenjak sepuluh
tahun berselang"
Mendengar perkataan tersebut, Lan See giok segera
merasakan kepalanya seperti diguyur dengan sebaskom air
dingin, tapi ia percaya kakek berjubah kuning yang ramah
itu tidak bakal membohonginya.
"Setelah boanpwe datang kemari, boanpwe tetap akan
mencarinya, kalau toh akhirnya tidak kutemukan tentu saja
aku akan pulang ke rumah" ucapnya pelan.
Ban Peng coan berpikir sebentar, kemudian
mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, memang tak ada salahnya untuk
dicoba, namun kuharap kau jangan membawa pengharapan
yang kelewat besar."
"Terima kasih atas petunjuk locian-pwe, boanpwe ingin
mohon diri lebih dulu" Setelah memberi hormat, pemuda
itu membalikkan badan dan melompat turun dari puncak
itu.
Suasana di bawah puncak gelap gulita, pemandangan
yang berada tujuh delapan kaki dihadapannya sukar untuk
dilihat Seca-ra jelas.
http://kangzusi.com/
Tempat dimana Lan See- giok berhenti sekarang tak lain
adalah lembah yang menghubungkan puncak Tiau yang-
hong dengan puncak Giok- li-hong..-
Udara dalam lembah tersebut ternyata hangat lagi
nyaman, aneka bunga tumbuh dengan suburnya, pohon
siong tumbuh merata, air mengalir sangat tenang,
pemandangan alam di situ sungguh mempesonakan -
Dengan penuh perhatian Lan See giok mengawasi
sekejap keadaan di sekitar sana, di situ tidak nampak
bangunan rumah, tidak pula gua atau tempat lain yang bisa
dipakai sebagai tempat berteduh, sudah barang tentu To
seng cu tak mungkin berdiam di sana.
Maka dengan mengerahkan ilmu meringankan
tubuhnya, dia berjalan lebih ke depan.
Lambat laun pepohonan siong tumbuh semakin rapat,
tumbuhan bambu menghutan, makin ke dalam suasananya
semakin bertambah gelap.
Akhirnya pemuda itu merasa percuma untuk berlarian
secara membuta tanpa arah tujuan tertentu, karena dengan
cara demikian tak mungkin dia bisa menemukan tempat
kediaman To seng cu, tanpa terasa ia lantas teringat
kembali dengan pesan dari kakek berjubah kuning itu, dia
bertekad hendak mencobanya.
Berpikir demikian. pemuda itu segera melompat naik ke
atas sebuah batu cadas, kemudian setelah menghimpun
tenaga dalamnya, dia berseru dengan lantang:
"Boanpwe Lan See giok datang dari tempat jauh untuk
menyambangi To seng-cu locian-pwe, bila diperkenankan
mohon diberi petunjuk untuk menemui beliau!"
Selesai berteriak, dia lantas memusatkan semua
perhatiannya untuk mengawasi dan mendengarkan suasana
http://kangzusi.com/
di sekelilingnya. biarpun dihati kecilnya dia tidak
mempunyai harapan yang terlalu besar.
Mendadak-
Dari balik kegelapan lebih kurang seratus kaki
dihadapannya sana muncul setitik cahaya lentera, ternyata
cahaya itu berasal dari sebuah lentera merah yang
bergoyang goyang karena terhembus angin gunung.
Lan See giok amat terperanjat setelah melihat cahaya
lentera itu, hatinya terkejut bercampur gembira. pikirnya
kemudian:
"jangan-jangan To seng cu memang benar-benar berdiam
dalam lembah ini?"
-ooo0dw0ooo-

BAB 13
LAN SEE GIOK mengawasi lentera merah yang muncul
di balik kegelapan sana dengan perasaan kejut bercampur
girang di samping perasaan tak habis mengerti, dia tak tahu
mengapa kejadian bisa berlangsung begitu kebetulan, baru
saja dia berteriak, cahaya lentera lantas muncul kan diri?
Tanpa terasa, ia teringat kembali akan perkataan dari
Ban Peng coan, sudah banyak tahun mereka berdiam di situ
namun belum pernah berjumpa dengan To seng cu,
mungkinkah kemunculan lentera merah tersebut hanya
suatu kejadian secara kebetulan saja?
Menyusul kemudian dia berpikir lebih jauh:
"Jangan-jangan di situ terdapat rumah pemburu Atau
mungkin si penebang kayu yang sesat jalan?"
http://kangzusi.com/
Akhirnya dia memutuskan untuk memeriksa sendiri,
andaikata di situ menang berdiam penduduk, dia berniat
untuk menyelidiki tempat tinggal To seng cu dari mereka.
Berpikir demikian, diapun berangkat menuju ke arah
lentera merah yang muncul pada seratus kaki di
hadapannya itu.
la telah berlarian amat cepat, paling tidak seratus kaki
sudah dilalui, akan tetapi lentera merah tersebut masih
kelihatan berada di tempat yang begitu jauh.
Dengan cepat dia melompat naik ke atas sebuah pohon
besar, betul juga, ternyata lentera merah yang berada di
depan sana tampaknya sedang berlarian ke depan.
Tergerak hatinya setelah menjumpai hal itu, kembali dia
berpikir di hati,
"Yaa, jangan-jangan lentera merah itu memang
bermaksud membawanya untuk menjumpai To seng cu?"
karena berpendapat demikian, dia memutuskan untuk
membuktikan sendiri, agar tidak sampai terjerumus ke
dalam perangkap lawan.
Dengan menghimpun tenaga dalamnya dia berseru
lantang:
"Wahai lentera merah yang berada di depan apakah, kau
sedang memberi petunjuk jalan kepadaku untuk berjumpa
dengan To seng cu locianpwe? Kalau memang demikian.
harap gerakkan lentera merahmu ke kiri dan ke kanan .”
Baru selesai dia berseru, lentera merah tersebut benar-
benar bergerak ke kiri dan ke kanan.
Melihat hal ini Lan See giok malah menjadi sangsi, entah
mengapa, dalam saat itulah dalam hati kecilnya timbul
suatu firasat yang tidak menguntungkan.
http://kangzusi.com/
Di samping itu diapun terbayang kembali wajah bibi
Wan serta enci Cian nya yang sedih dan murung ketika
berpisah tempo hari.
Dalam pada itu, lentera merah yang berada ditengah
kegelapan itu masih digoyangkan tiada hentinya, seakan
akan sedang mendesaknya agar melanjutkan perjalanan.
Lan See giok segera teringat kembali akan tujuan
kedatangannya, harapan dari enci Cian serta bibi Wannya,
kemudian dendam berdarah dari ayahnya . . akhirnya dia
menggigit bibir dan membulatkan tekadnya untuk mengejar
lebih jauh.
Lentera merah yang berada di depan itu memang aneh
sekali, seakan akan dia memiliki beribu ribu mata, begitu
Lan See giok maju, diapun turut maju, ketika Lan See giok
berhenti, diapun turut berhenti biarpun Lan See giok sudah
mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, namun dia
belum berhasil juga menyusul lentera merah tersebut.
Begitulah dengan berlarian mengejar lentera merah itu,
tanpa terasa dia telah melewati puncak Giok li hong dan
tiba di sebuah lembah lain.
Perasaan mendongkol dan curiga berkecamuk di dalam
benak Lan See giok, di tak tahu permainan setan apakah
yang sedang diperbuat lentera merah tersebut.
Lambat laun dia mulai menangkap suara yang amat
keras diantara pepohonan siong yang bergoyang terhembus
angin, di samping itu memandang alam dalam lembah itu
sangat indah, jauh berbeda dengan keadaan ditempati lain.
Lan See giok tidak berniat untuk memperhatikan
kesemuanya itu, dia masih melanjutkan pengejarannya
terhadap lentera merah tersebut .
Mendadak-
http://kangzusi.com/
Dari balik kegelapan puluhan kaki dihadapannya,
muncul kembali sebuah lentera merah lain yang
menyongsong kedatangan lentera merah yang pertama.
Tapi lentera kedua yang menyongsong tadi lebih sampai
dua kaki itu tahu-tahu saja padam dengan begitu saja.
Lan See giok merasa sungguh tak habis mengerti dia
mengalihkan kembali pandangan matanya, ternyata lentera
merah yang pertama masih tetap tak berkutik di tempat
semula.
Dia tahu, bisa jadi di tempat inilah merupakan tempat
kediaman dari To seng cu, karenanya tanpa ragu-ragu lagi
dia menyusul kearah mana lentera merah tersebut berada.
Dalam perjalanan majunya, lambat laun dia dapat
melihat sebuah tebing yang tingginya ratusan kaki
menghadang jalan perginya, sedang lentera merah itu
agaknya berada di tangan seorang manusia yang tinggi
besar.
Setelah dekat dengan tempat itu baru dia ketahui
bayangan tinggi besar itu bukan orang melainkan sebatang
pohon yang telah mengering, lentera tersebut tergantung di
atas pohon tadi dan bergoyang tiada hentinya ketika
terhembus angin.
Lan See giok merasa sangat keheranan, pikirnya:
"Kalau toh dia adalah penunjuk jalan, mengapa tidak
ditunjukkan sampai ke pintu depan?"
Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya,
mungkin saja To seng-cu berdiam di dalam hutan itu.
Ia mendongakkan kepalanya, hutan pohon yang mulai
mengering itu, dalamnya mencapai dua tiga puluh kaki
sebelum tiba di depan dinding tebing tersebut, di dalam
http://kangzusi.com/
hutan tidak dijumpai rumah gubuk ataupun rumah batu, ia
bertekad akan menuju ke dinding tebing tersebut untuk
melakukan pemeriksaan.
Berhubung timbulnya firasat yang kurang enak tadi, di
dalam langkah majunya kali ini, ia bertindak dengan
berhati-hati sekali.
Setelah ke luar dari hutan dan mencapai jarak berapa
kaki dari tebing, tiba-tiba saja ia merasakan pandangan
matanya menjadi terang..
Pada sisi kanan tebing curam itu dijumpa sebuah gua,
sebatang pohon siong persis tumbuh didepannya sehingga
menutup mulut gua tadi, jika tidak diperhatikan dengan
seksama, mulut gua tersebut memang sukar ditemukan.
Dengan perasaan gembira ia segera menubruk ke depan
gua, itu dengan cepat dia saksikan mulut gua penuh
ditumbuhi lumut hijau serta sarang laba-laba, suasana gua
itu gelap gulita, seolah-olah tidak ada yang menetap di situ.
Lan See giok segera berkerut kening, dia percaya tokoh
nomor satu seperti To seng cu tak mungkin akan mendiami
gua yang begitu suram dan kotor seperti itu.
Baru saja dia akan beranjak pergi mendadak di atas
dinding gua yang sudah dipenuhi lumut hijau itu ia
saksikan ada guratan-guratan aneh yang sangat mirip
dengan tulisan.
Sekali lagi tergerak hatinya, cepat-cepat dia menghampiri
dinding tebing dan memeriksa dengan seksama, betul juga,
garis-garis itu merupakan serangkaian kata yang diukir
dengan pisau, tapi berhubung lumut nya amat tebal, sulit
untuk membaca kata-kata tersebut.
Terdorong oleh perasaan ingin tahunya lalu dia
mengambil sekeping batu, kemudian menghapus lumut
http://kangzusi.com/
hijau yang menempel diatasnya, dalam waktu singkat dia
dapat membaca gaya tulisan yang indah, jelas tulisan
seorang wanita.
Lan See giok mundur dua langkah, kemudian membaca
huruf-huruf tersebut dengan pelan.
"Musim gugur pergi musim dingin lewat, musim semipun tiba.
Rindu dan kangen menyerang setiap malam.
Air mata bercucuran bagaikan mutiara.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. .
Wajah telah basah entah oleh air mata atau embun.
Thian tidak mengasihi aku. .
Sepasang merpati harus terbang berpisah.
Kemesraan di masa lalu.
Kini tinggal kepedihan dan air mata.
Oh Thian.. Oh Thian, betapa buruknya nasibku."
Membaca sampai di sini, Lan See giok semakin
bimbang, dipandangnya sekejap mulut gua yang gelap
gulita itu, dia percaya dalam gua tersebut tentu berdiam
seorang perempuan yang menderita karena cinta, atau
mungkin juga tersebut merupakan kuburan dari perempuan
yang bernasib buruk itu.
Sebenarnya anak muda ini sudah tak berniat untuk
memasuki gua, tapi sekarang tanpa disadari dia telah
melakukan masuk ke dalam gua tersebut.
Gua itu dalam sekali, keadaannya gelap gulita sehingga
sukar melihat kelima jari tangan sendiri, biarpun dia telah
mengerahkan tenaga dalamnya ke mata, apa yang bisa
dilihatpun hanya mencapai sejauh lima depa.
http://kangzusi.com/
Pelan-pelan dia maju ke depan, segera ditemukan gua itu
miring ke sebelah kanan, ketika berpaling, ia sudah tidak
melihat mulut gua tersebut lagi.
Suasana dalam gua amat hening dan sepi, kecuali
langkah kakinya, tak kedengaran Lagi suara yang lain.
Mendadak lima depa di depan sana, telah merupakan
ujung jalan, setelah pemuda itu maju lagi dua tiga langkah,
baru diketahui di depan sana terbentang sebuah pintu batu
yang sangat berat.
Dia mencoba untuk meraba, pintu batu itu sangat licin
seperti cermin, ketika didorong dengan sekuat tenaga, pintu
tersebut segera terbuka dengan sendiri, cahaya terang yang
menusuk mata segera mencorong ke luar dari balik pintu.
Dengan perasaan terkejut Lan See giok mundur dua
langkah, ternyata dibalik pintu itu yang terbentang sebuah
undak undakan batu yang sangat lebar dan menjurus ke
atas.
Untuk sesaat dia berdiri ragu di depan pintu, tak
diketahui harus melanjutkan perjalanan atau mundur
dengan begitu saja, tapi dorongan rasa ingin tahu yang kuat
mengkilik hatinya, membuat pemuda tersebut semakin
bertekad untuk menyelidiki apa gerangan yang terdapat
dalam ruangan tersebut.
Akhirnya dia putuskan untuk masuk ke dalam dan
menyelidiki sendiri sebab ia merasa nasib perempuan itu
kelewat menge-naskan, bila dia masih berada di dalam
mungkin dia akan mengetahui tempat tinggal dari To seng
cu.
Berpikir demikian diapun berjalan masuk ke dalam
ruangan, ternyata cahaya tajam tadi berasal dari sebutir
mutiara yang di pasang di atas pintu masuk.
http://kangzusi.com/
Undak undakan batu itu menjurus naik ke atas, setiap
tikungan selalu diberi sebutir mutiara kecil sebagai
penerangan, sehingga keadaan di dalam gua bisa terlihat
secara lamat-lamat.
Itulah sebabnya dia dapat meneruskan -perjalanannya
dengan cepat, dalam waktu singkat puluhan kaki telah
dilewati.
Setelah membelok pada sebuah tikungan, sepasang
matanya kembali terasa silau, cahaya terang memancar ke
empat penjuru dari depan sana, pada ujung undak undakan
batu kembali muncul sebuah pintu batu raksasa yang
tingginya satu kaki dan lebarnya delapan depa, pintu
tersebut tertutup rapat-rapat.
Tujuh butir batu mulia yang sangat indah berserakan di
atas pintu, sinarnya tajam dan sangat menyilaukan mata.
Ketika diamati lebih seksama di atas pintu tersebut
tergantung pula sebuah lian dengan huruf-huruf yang amat
besar.
Pada kanan pintu tertuliskan kata-kata.
"Hati di langit barat, tubuh di alam semesta, melatih ilmu
membenahi watak menanti datangnya saat gembira,"
Sedangkan di sebelah kiri pintu bertuliskan.
"Seratus tahun menghadap dinding lepas tulang jadi dewa, tak
akan tergoda oleh gadis dan cinta!"
Lan See giok menjadi melongo setelah selesai membaca
tulisan itu, walaupun ia tak bisa memahami arti sari tulisan
tersebut secara tepat, tapi ia percaya nada tulisan dari
sepasang Lian tersebut tidak cocok satu, sama lainnya:
Kalau berbicara dari tulisan yang terukir dimuka gua,
gua tersebut seharusnya didiami oleh seorang perempuan
http://kangzusi.com/
yang hidup sengsara karena cinta, tapi bila dilihat dari arti
sepasang lian tersebut agak nya penghuni gua tersebut
adalah seorang pertapa.
Bila ada orang bertapa di dalam gua ini waktunya pasti
cukup lama, bisa jadi orang ini adalah To seng cu sendiri
maka pemuda ini bertekad untuk masuk lebih ke dalam,
kepada pintu batu tersebut diapun menjura, kemudian
berkata dengan lantang:
"Boanpwe Lan See giok tertarik oleh syair di luar gua
sehingga masuk kemari dengan ceroboh, kini boanpwe
merasa tidak habis mengerti, mohon locianpwe sudi
memberi petunjuk"
Ucapan mana diutarakan dengan suara nyaring sehingga
nada suaranya menggema di seluruh ruangan gua.
Lan See giok berdiri menanti di luar gua dengan tenang,
tapi lama sekali belum juga kedengaran suara jawaban,
lantas mengambil kesimpulan gua itu kosong tak
berpenghuni.
Maka dia maju ke depan dan menempelkan telapak
tangannya di atas pintu, ketika didorong dengan sepenuh
tenaga, terdengarlah suara gemerutuk yang amat berat-
Pintu batu yang sangat besar itu pelan-pelan terbuka
sebuah celah lebar, segulung bau harum yang semerbak pun
segera berhembus ke luar dari balik pintu, Lan See giok
melongok ke dalam, ternyata dibalik pintu terbentang
sebuah ruangan gua yang memanjang, dalamnya mencapai
lima kaki, di sisi kiri dan kanan masing-masing terdapat
sebuah ruangan.
kedua ruangan itu tanpa pintu semua, sedang di ujung
gua terdapat pula sebutir batu manikam yang besar
http://kangzusi.com/
berwarna kuning, cahaya yang terpancar ke luar sangat
lembut.
Lan See giok menyelinap masuk ke balik pintu, ia
merasakan kakinya menginjak tempat yang lembut, ketika
diperiksa, ternyata lantai gua dilapisi oleh permadani
kuning tebal.
Sewaktu masuk ke dalam kedua ruangan ia jumpai di
situ terdapat masing-masing sebuah kasur untuk duduk,
namun tak nampak seorang manusia pun.
Di bawah mutiara kuning di ujung gua terdapat sebuah
meja pendek yang panjang diatasnya dilapisi kain kuning
sampai terkulai ke atas lantai.
Di muka meja pendek terletak pula sebuah kasur duduk
yang besar dan tebal, selain itu, dalam gua tersebut tidak di
jumpai benda apapun.
Menyaksikan kesemuanya ini, Lan See giok tahu bahwa
dalam goa ini paling tidak terdapat tiga orang yang bertapa
di situ, tapi sekarang sudah tak ada lagi, mungkin sudah
menjadi dewa semua.
Sewaktu sorot matanya terbentur dengan benda di atas
kain kuning di meja rendah itu tergerak hati Lan See giok,
dengan langkah cepat dia menghampirinya.
Apa yang kemudian terlihat segera membuat paras
mukanya berubah hebat, saking kagetnya dia sampai
mundur dua langkah sembari berseru kaget.
Ternyata di atas kain kuning pada meja rendah itu tertera
sembilan huruf besar yang terbuat dari emas, tulisan itu
berbunyi demikian. "TAYLO PWE CIN-KENG."
Lan See giok berdiri termangu mangu, sekarang dia baru
tahu kalau gua tersebut adalah tempat To seng cu bertapa.
http://kangzusi.com/
Mendadak terdengar suara tertawa cekikikan
berkumandang dari belakang tubuhnya.
Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera
membalikkan badan, ia saksikan dari sisi pintu ruangan
sebelah kiri, lebih kurang tiga kaki dihadapannya seperti
ada bayangan hitam berkelebat lewat, tanpa sangsi dia
segera menubruk ke sana.
Ketika tiba diantara kedua belah pintu, ia celingukan
sekejap ke kiri kanan, dalam ruangan masih terletak dua
buah kasur duduk yang kosong, namun tak nampak sesosok
bayangan manusiapun.
Diam-diam Lan See giok terkesiap, tapi ia segera
berpikir, kemungkinan besar orang itu bersembunyi di sisi
kiri atau kanan pintu.
Maka diapun siap beranjak .
Pada saat itulah, tiba-tiba dari depan gerbang melayang
masuk se sosok bayangan kuning.
Mula-mula Lan See giok agak terperanjat ketika melihat
kemunculan orang itu, menyusul kemudian dengan
perasaan terkejut bercampur girang, seolah-olah bertemu
kembali dengan sanak keluarga sendiri, teriaknya keras-
keras.
"Locianpwe- - "
Sambil berseru dia segera menubruk ke muka.
Ternyata orang yang melayang masuk ke dalam gua saat
ini bukan lain adalah kakek berjubah kuning yang berwajah
ramah itu.
Kakek berjubah kuning itu masuk sambil membawa
banyak sekali buah anggur yang segar, ketika melihat
pemuda itu menubruk tiba dia segera mengangkat ke dua
http://kangzusi.com/
belah tangannya dan tertawa terbahak bahak, sikapnya
nampak gembira sekali.
Lan See giok memeluk kakek berjubah kuning itu erat-
erat, saking gembiranya air mata sampai jatuh bercucuran,
tiada henti-nya dia memanggil:
"Locianpwe . . locianpwe . . . "
Tiba-tiba kakek berjubah kuning itu menghentikan gelak
tertawanya, kemudian dengan penuh kasih sayang dia
berkata.
”Kalian berdua sudah berani bermain setan, melanggar
perintah guru, ayo cepat kau terima buah buahan ini!"
Lan See giok yang mendengar perkataan itu menjadi,
kebingungan setengah mati, ketika berpaling tampak
olehnya si nona berbaju merah Si Cay soat dengan wajah
tersipu-sipu dan senyum dikulum sedang melompat
mendekat.
Siau thi gou yang berkulit hitam sedang melototkan
sepasang biji matanya yang besar.
"Suhu, Thi gou tak berani, semuanya ini merupakan ide
enci Soat seorang, dia bilang kita takut takuti Lan See giok
agar bisa membalaskan rasa mendongkol Gou ji!"
Sembari berkata, dia tetap berdiri tak bergerak di depan
pintu ruangan.
"Hmmm!" kakek berjubah kuning itu mendengus marah,
"siapa suruh kau berdiam diri saja? Ayo cepat memasang
lentera."
Setelah menyerahkan buah buahan itu kepada Si Cay
soat yang berdiri dengan wajah gembira tapi agak tersipu
sipu itu, dia membelai rambut Lan See giok sambil ujarnya
dengan ramah.
http://kangzusi.com/
"Nak, ternyata kau benar-benar datang, ayo jalan mari
kita berbicara di dalam."
Ditariknya tangan pemuda itu dan diajak menuju ke
bantal duduk di depan meja rendah.
Sekarang Lan See giok baru mengerti, rupa kakek
berjubah kuning ini adalah To seng cu, anehnya perasaan
benci yang semula mencekam perasaannya kini sudah
lenyap tak berbekas, entah mengapa ia sudah tak percaya
sekarang kalau To seng cu adalah orang yang mencelakai
ayahnya.
Dalam perjalanan itu, Lan See giok dapat melihat pula
kalau di antara alis mata sebelah kiri kakek berjubah kuning
itu benar-benar terdapat sebuah tahi lalat merah, tahi lalat
tersebut hampir tertutup oleh alis mata yang tebal, hal ini
semakin membuktikan kalau kakek berjubah kuning ini
memang To-seng-cu.
Tiba di depan meja rendah, To seng cu segera menunjuk
ke sisi kasur duduk itu sambil berkata dengan gembira.
"Duduklah anak giok!"
Sembari berkata ia sendiri duduk bersila pula di atas
kasur duduk tersebut. Lan See giok mengiakan dengan
hormat dan segera duduk bersila di sebelah kanan To seng
cu, ia merasa kasur duduk itu empuk sekali sehingga sangat
nyaman untuk ditempati.
SI CAY SOAT telah meletakkan pula buah buahan segar
itu di depan kasur duduk kemudian ia sendiri duduk di
sebelah kiri To seng-cu, dengan wajah bersemu merah dan
mata yang jeli tiada hentinya dia mengawasi Lan See giok.
Siau thi gou berjalan ke depan kasur tanpa berbicara,
kemudian sambil mengambil sepuluh biji anggur besar yang
http://kangzusi.com/
disodorkan ke hadapan Lan See giok, katanya dengar
bersungguh hati:
"Kau sudah menempuh perjalanan selama seharian
suntuk, sekarang tentu merasa amat dahaga, cepatlah
makan anggur ini, tapi ingat, setiap kali makan buah anggur
seperti ini, kau hanya boleh makan sepuluh biji."
Berjumpa dengan Siau thi gou, Lan See giok segera
teringat pula dengan peristiwa di dusun nelayan tempo hari,
dimana ia telah menotok jalan darahnya, tanpa terasa
timbul perasaan menyesal di dalam hatinya.
Ketika ia saksikan Siau thi gou sama sekali tidak
mendendam kepadanya, malah menghadiahkan buah
anggur, segera ujarnya sambil menjura.
"Terima kasih banyak, adik Thi gou!"
Siau thi gou tertawa lebar, dia segera duduk pula di
samping Si Cay soat.
Sementara itu To seng cu telah berkerut kening,
kemudian sambil memandang ke arah Siau Thi gou dengan
wajah tak mengerti, ia bertanya cepat:
"Thi gou, siapa yang bilang kalau setiap kali makan
hanya boleh makan sepuluh biji buah anggur?"
Mendengar pertanyaan itu, paras muka Si Cay soat
segera berubah menjadi merah padam.
Siau thi gou segera menuding ke arah Si Cay soat,
dengan melototkan sepasang mata nya dia menjawab:
"Enci soat yang berkata demikian, ia bilang kalau makan
sebelas biji perutnya akan sakit, bila makan dua belas biji
akan mencret-mencret, bila makan tiga belas biji maka
selama hidup akan selalu kontet (cebol)!".
http://kangzusi.com/
Belum habis perkataan itu diutarakan, To seng cu sudah
tak dapat menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa terbahak
bahak.
Agaknya Lan See giok juga dapat mendengar kalau
ucapan semacam itu hanya ulah Si Cay soat untuk
mempermainkan Siau thi gou, tanpa terasa diapun jadi
teringat kembali bagaimana dia sendiripun di permainkan
ketika baru datang ke sana.
Dengan wajah merah padam Si Cay soat tertawa
terkekeh kekeh, dengan cepat ia menjelaskan:
"Adik Gou paling suka makan buah anggur, setiap kali
makan dia bisa menghabiskan empat lima biji tanpa
dikunyah lagi, kalau ditanya bagaimana rasanya, diapun
tidak tahu..”
Belum habis perkataan itu diselesaikan. To seng cu telah
menghentikan tertawanya dan berkata dengan suara dalam
tapi ramah.
"Hei si binal, kau kan enci masa senang mempermainkan
adik? Sekarang anak giok telah datang. dia adalah
kakakmu, akan kulihat apakah dia akan menganiaya kau si
adik atau tidak."
Siau thi gou mencibirkan bibir tanpa berbicara,
sedangkan Si Cay-soat melirik sekejap ke arah Lan See giok
kemudian menundukkan kepalanya rendah-rendah.
Paras muka Lan See giok juga berubah menjadi merah
padam, sekarang dia baru tahu rupanya dia menjadi kakak
bukan sebagai adik seperti apa yang diduganya semula.
Ketika dilihatnya hubungan To-seng cu dengan murid
muridnya tidak disertai dengan peraturan yang ketat,
bahkan kasih sayangnya bagaikan seorang ayah terhadap
http://kangzusi.com/
putra putrinya, kesemuanya ini membuat rasa hormatnya
terhadap To seng cu makin bertambah.
Terbayang kembali maksud tujuannya datang ke situ,
diapun mengeluarkan kotak kecil bungkus kuning itu dari
sakunya dan dipersembahkan ke hadapan To seng cu
sambil ujarnya dengan hormat:
"Anak giok telah menuruti perintah dengan membawa
cinkeng tersebut datang ke mari."
Memandang kotak kecil itu, terlintas perasaan sedih di
atas wajah To seng cu, diterimanya kotak itu serta
diperhatikan sekejap kemudian ia berkata:
"Kitab pusaka ini sudah menemani aku setengah
hidupku, sepuluh tahun berselang, kotak ini tercuri di luar
dugaan, sungguh tak disangka hari ini bisa bertemu
kembali."
Sembari berkata dia lantas meletakkan kotak kecil itu di
depan kasur duduknya.
Mendengar kata "dicuri," paras muka Lan See giok
segera berubah menjadi merah padam karena malu, saking
tak tahannya dia sampai menundukkan kepalanya rendah-
rendah.
Melihat hal tersebut, To seng cu segera tahu kalau
pemuda itu telah salah paham, sambil tertawa ramah dia
lantas menjelaskan:
"Segala sesuatu yang ada di dunia ini sudah di atur oleh
takdir, yang tak ada masalah yang dapat dipaksakan, waktu
itu Oh Tin san dan komplotannya berhasil mencuri cinkeng
tersebut, dari tempatku tapi kemudian karena ketahuan
olehnya sehingga melarikan diri, di dalam gugupnya kotak
tersebut telah terjatuh ditengah jalan tanpa mereka sadari . .
"
http://kangzusi.com/
Mendengar penjelasan tersebut. Lan See -giok segera
mengangkat kepalanya sambil bertanya:
"Locianpwe, bagaimana ceritanya sampai ayahku
berhasil mendapatkan kotak kecil ini?"
"Menurut apa yang kuketahui, dia menemukan benda itu
dalam keadaan yang sangat kebetulan, duduk persoalan
yang sebenarnya bibi Wan mu yang mengetahui paling
jelas"
Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras,
tanpa terasa ia bertanya dengan gelisah.
"Kalau toh bibi Wan tahu, mengapa dia tidak
menerangkannya kepada anak giok?"
To seng cu segera tertawa riang.
"Seperti apa yang diucapkan bibimu, kalian masih kanak-
kanak dan tak perlu mengetahui semua kejadian itu"
"Jadi locianpwe telah berkunjung ke rumah kediaman
bibi Wan pada malam itu?" seru Lan See giok terkejut.
To seng cu manggut-manggut.
"Oleh karena kulihat kau sudah berangkat maka aku
tidak jadi masuk.”
Sekarang Lan See giok baru mengerti, diapun segera
teringat apa yang menyebabkan jalan darah tidur Oh Li cu
tertotok, menyusul kemudian hatinya tergerak, dengan nada
menyelidik dia segera bertanya:
"Apakah locianpwe juga yang tertawa dingin di kuburan
Ong leng serta memancing kepergian si Tongkat baja kaki
tunggal serta Beruang tunggal?"
To seng cu memandang anak muda itu sambil
tersenyum, dia hanya manggut saja tanpa menjawab.
http://kangzusi.com/
Menyusul kemudian Lan See giok teringat kembali dua
kali jeritan kaget yang mengeri-kan itu, dengan nada tak
mengerti kembali dia bertanya:
”Apakah dalam gusarnya locianpwe telah menghabisi
nyawa kedua orang itu?"
To seng cu segera tertawa terbahak bahak:
"Sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah
melakukan pembunuhan, masa kedua orang itu kubunuh?
Waktu itu aku hanya menotok jalan darah kaku mereka
secara diam-diam, mungkin karena kaget mereka baru
berteriak keras!"
"Locianpwe, kalau toh kau selalu mengikuti di sisi anak
giok, mengapa tidak munculkan diri untuk menempuh
perjalanan bersama-sama ku?"
Sekali lagi To seng cu tertawa terbahak bahak.
"Anak giok, bukan aku sengaja bermain setan
denganmu. berhubung ayahmu mati terbunuh orang, dihati
kecilmu pasti menaruh banyak prasangka serta kecurigaan,
bila tidak berbuat begini kau belum tentu akan menyusul ke
mari."
Kemudian setelah memandang sekejap ke arah Si Cay
soat serta Siau thi gou yang mendengarkan dengan
seksama, dia melanjutkan:
"Aku pernah berpesan kepada Soat ji dan Thi gou berdua
agar menyambut kedatanganmu di mulut lembah, selain itu
memberi penjelasan, kepadamu apa yang sesungguhnya
terjadi, sungguh tak disangka mereka berdua begitu binal."
Mendengar perkataan itu Si Cay soat segera tertawa geli,
mukanya nampak sangat binal, sebaliknya Siau thi gou
hanya duduk tenang tanpa mengucapkan sepatah katapun,
http://kangzusi.com/
seolah-olah persoalan ini sama sekali tiada hubungan
dengan dirinya.
Lan See giok segera terbayang kembali perjumpaan
mereka yang pertama kali di dusun nelayan, sejak waktu itu
dia sudah merasa kalau Si Cay soat adalah seorang nona
cilik yang sukar dilayani, selanjutnya dia berjanji akan
bertindak lebih berhati -hati.
Sewaktu To seng cu melihat sepasang mata Siau thi gou
berputar tiada hentinya di atas buah anggur tersebut, sambit
tertawa, kembali ujarnya kepada Lan See giok.
"Anak giok, ayo cicipi buah buahan tersebut!"
Sambil berkata dia mengambil seuntai buah anggur dan
diberikan kepada Lan See giok kemudian mengambil
seuntai lagi untuk siau thi gou.
Setelah menerima buah anggur itu Lan See giok teringat
kembali akan peristiwa lima cacad dari tiga telaga yang
datang mencuri kitab, dengan nada tidak mengerti kembali
dia bertanya:
"Locianpwe. dengan cara apa Oh Tin san sekalian
berhasil mencuri kitab pusaka tersebut pada sepuluh tahun
berselang?"
To seng cu tertawa dan manggut-manggut:
"Persoalan ini panjang sekali untuk di ceritakan, apalagi
malam sudah semakin larut, biar kita bicarakan di
kemudian hari saja.”
Melihat To seng cu enggan berbicara, sudah barang tentu
Lan See giok sungkan untuk bertanya lebih jauh, untung
saja masa mendatang masih panjang, dia masih mempunyai
banyak kesempatan untuk membicarakan persoalan itu lagi.
http://kangzusi.com/
Begitulah, ke empat orang itupun sambil makan buah
anggur membicarakan serba serbi dunia persilatan, suasana
dilalui dengan penuh riang gembira.
Akhirnya To seng cu berkata:
"Anak giok sudah menempuh perjalanan cukup jauh,
malam ini beristirahatlah dengan cepat, anak giok kau boleh
tidur bersama Siau thi gou"
Mendengar perkataan itu, ke tiga orang muda mudi itu
segera minta diri kepada To seng cu dan berjalan menuju ke
depan pintu ruangan batu itu.
Lan See giok mengikuti Siau thi gou menuju ke pintu
ruangan sebelah kiri, sedang kan Si Cay soat seorang diri
menuju ke pintu ruangan sebelah kanan, baru saja Lan See
giok ingin mengucapkan sesuatu kepada gadis itu, tahu-tahu
bayangan merah berkelebat lewat, Si Cay soat sudah lenyap
dari pandangan.
Sementara itu terdengar Siau thi gou telah berseru:
"Engkoh giok, aku akan naik lebih dulu" Mendengar
seruan tersebut Lan See giok segera berpaling, tampak
bayangan hitam berkelebat lewat, tubuh Siau thi gou telah
melayang ke atas langit-langit ruangan.
Ketika dia mendongakkan kepalanya, ternyata di atas
langit-langit ruangan itu terdapat sebuah gua yang luasnya
tiga depa dan tinggi dua kaki dari permukaan tanah
diataspun terpancar sinar yang terang.
Terdengar Siau thi gou berseru dari atas:
"Engkoh Giok, cepat naik!"
Lan See giok mengiakan dan segera melompat naik ke
atas ruangan itu, ketika hampir mencapai ujung langit-
http://kangzusi.com/
langit, Siau thi gou mengulurkan tangannya dan menarik
tangannya sehingga melayang tiga depa ke samping.
Ternyata di situ terdapat sebuah ruangan berbentuk
bulat, di langit-langit ruangan tertera tiga butir mutiara,
sekeliling dinding ruangan terdapat enam buah lubang
sebesar kepalan yang berfungsi sebagai ventilasi udara,
Pada permukaan lantainya dilapisi permadani yang sama
tebalnya dengan permadani yang berada di bawah, di sisi
kiri bertumpuk selimut tebal yang pada satu bagian
merupakan lapisan kain sutera sedang pada lapisan yang
lain adalah bulu kambing yang berwarna putih, nampaknya
sangat lembut dan halus.
Sambil menjatuhkan diri berbaring di atas lantai, Siau thi
gou segera berseru.
"Engkoh giok, tidurlah!"
Sambil berkata dia melemparkan selembar selimut kulit
kepada Lan See giok.
Melihat gerak gerik yang polos dan lincah dari Siau thi
gou, Lan See giok merasa bocah itu memang rada mirip
seperti kerbau kecil, karena itu setelah menerima selimut
pemberiannya dia bertanya sambil tertawa:
"Adik Thi gou, mengapa sih namamu Thi gou atau
kerbau baja? Mengapa tidak bernama Kim gou (kerbau
emas) saja?"
Siau thi gou melototkan matanya bulat- bulat dan
menggelengkan kepalanya berulang kali, jawabnya dengan
wajah bersungguh sungguh:
"Tidak boleh, tidak boleh."
Kemudian sambil menunjuk pada jari tangannya, dia
melanjutkan:
http://kangzusi.com/
"Kongcou ku bernama Kim liong (naga emas),
engkongku bernama Gin hou (harimau perak), sedang ayah
bernama Tong kou (kuda tembaga) maka aku bernama Thi
gou (kerbau baja)"
Lan See giok segera menjadi tertarik sekali dengan
susunan keluarga tersebut, cepat dia bertanya:
"Adik Thi gou, seandainya kau punya anak di kemudian
hari, akan kau namakan siapa anakmu itu?"!
"Akan kunamakan Sikou (anjing platina),"
Lan See giok yang mendengar jawaban tersebut menjadi
tertegun, sepasang alis matanya segera berkerut, kemudian
berkata:
"Adik Thi gou, aku rasa urutan ini kurang sesuai, masa
dari emas perak merosot terus menjadi tembaga, besi dan
platina, dari naga dan harimau merosot menjadi kuda
kerbau lantas anjing, bukankah dengan demikian satu
generasi lebih jelek dari generasi berikutnya?"
Baru selesai dia berkata, tiba-tiba dari balik sebuah
lubang bulat di atas dinding terdengar suara seseorang
sedang tertawa cekikikan
Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera berpaling,
namun dari balik tutup lubang itu gelap tak bersinar
sehingga sulit baginya untuk menentukan dari liang yang
manakah suara tertawa tersebut, berasal.
Melihat Lan See giok tertegun, Siau thi gou segera
tertawa terbahak bahak sambil berkata:.
"Kau jangan bingung, enci Soat yang sedang tertawa dia
seringkali membicarakan soal kau dengan diriku”
Belum selesai dia berkata, dari balik liang tersebut,
kembali terdengar Si Cay soat berseru:
http://kangzusi.com/
"Adik Thi gou, bila kau cerewet terus, hati-hati besok!"
Mendengar teguran tersebut, Sian thi gou segera
menjulurkan lidahnya yang kecil dan segera memejamkan
matanya rapat-rapat.
Lan See Giok sendiri hanya bisa memandang lubang-
lubang angin di atas dinding tersebut dengan wajah
tertegun, sebenarnya dia ingin bertanya kepada Siau thi
gou, apa saja yang telah diperintahkan To seng cu
locianpwe kepada Si Cay soat mengapa pula gadis itu tidak
menuruti perintah gurunya malahan mempermainkan dia.
tapi setelah mendengar ancaman dari gadis tersebut. diapun
tak berani bertanya lebih jauh.
Sementara dia masih termenung, tiba-tiba dari sisi
tubuhnya bergema suara orang mendengkur, ketika
berpaling. ternyata Siau thi gou sudah tertidur nyenyak.
Dengan perasaan apa boleh buat Lan See -giok segera
menggelengkan kepalanya berulang ulang kali, dengan
cepat dia menarik selimut dan ditutupkan ke atas tubuh
sendiri.
Walaupun sudah berbaring, namun sepasang mata yang
belum juga mau terpejam, termangu mangu ditatapnya ke
tiga butir mutiara di atas langit-langit ruangan tanpa
berkedip, sementara dalam benaknya dipenuhi berbagai
kejadian yang dialaminya selama ini, termasuk kejadian-
kejadian yang sama sekali tak pernah diduga sebelumnya..
Kini, segala sesuatunya berjalan dengan lancar, ternyata
dia telah mengalami banyak kejadian yang semula dianggap
bahaya tahu-tahu berubah menjadi rejeki.
Dari pikiran yang bergolak, pelan-pelan perasaannya
berhasil ditenangkan kembali. ditambah pula Siau Thi gou
http://kangzusi.com/
yang berbaring di sisinya telah mendengkur sedari tadi,
tanpa terasa diapun tertidur nyenyak.
Perjalanan jauh selama berbulan bulan membuat
pemuda ini tak pernah beristirahat dengan perasaan tenang,
dia selalu kuatir kotak kecilnya dicuri orang.
Kini setelah beban pikirannya hilang, diapun tertidur
dengan nyenyak sekali.
Ketika sadar kembali, Siau thi gou yang semula tidur di
sisinya kini sudah tak nampak lagi batang hidungnya.
Cepat-cepat dia melompat bangun, ditemukan pada
dinding ruangan di sisinya bertambah dengan sebuah pintu
batu yang lebarnya dua depa dan tingginya mencapai langit-
langit ruangan.
Lan See giok sungguh tak habis mengerti mengapa
setelah mendusin diri tidurnya di sana telah bertambah lagi
dengan sebuah pintu batu
Setelah melompat bangun dan diperiksa ternyata dinding
ruangan telah digeserkan orang, pada bagian tengah pintu
batu itu terdapat pula sebuah lubang angin yang sama
besarnya dengan lubang angin di sisi lain.
Ke luar di pintu dia temukan sebuah undak undakan
batu menuju ke atas yang entah menghubungkan ke tempat
mana sedang pada bagian lain terdapat pula sebuah pintu
yang lebarnya lebih kurang dua depa.
Dengan perasaan tak habis mengerti dia segera menuju
ke pintu yang lain serta melongok ke dalam.
Ternyata ruangan itu hanya berisikan permadani merah,
selimut bulu serta sebuah cermin tembaga putih, bau harum
semerbak yang sangat aneh memancar ke luar dari sana.
http://kangzusi.com/
Tak terlukiskan rasa kaget Lan See giok dengan cepat dia
mundur beberapa langkah sepasang matanya dengan
cekatan menengok ke kiri dan kanan, sementara wajahnya
segera memperlihatkan perasaan menyesal, jantungnya
berdebar keras.
Selain itu diapun mengerti, ruangan tersebut sudah pasti
merupakan kamar tidur Si Cay soat, bila sampai ketahuan
gadis itu bahwa dia telah memasuki kamarnya, niscaya
martabatnya akan dinilai sangat rendah.
Sebenarnya dia hendak menelusuri undak undakan batu
itu untuk melongok ke atas, tapi sekarang ia sudah tak
berani sembarangan bergerak lagi.
Baru saja dia akan berjalan balik, mendadak ia
mendengar suara teriakan Siau thi gou yang bergema
datang secara lambat-lambat.
"Enci Soat, cepat kemari, disini terdapat seekor kelinci
liar yang amat besar"
Mendengar teriakan itu, Lan See giok tahu Siau thi gou
serta, Si Cay soat sedang berada di atas, maka ia segera
menelusuri undak undakan batu itu dia berlari ke atas.
Sesudah berbelok ke kiri menikung ke kanan dan
bergerak naik terus ke atas, akhirnya sampailah pemuda itu
di ujung undak -undakan tersebut.
Pada ujung undak undakan itu, dia menjumpai mulut ke
luar berada di belakang se buah meja batu ruangan batu, di
dalam ruang batu Itu tersedia pula meja bambu dan bangku
kayu. namun semua perabot diatur dengan amat rapi.
Lan See giok lari ke luar pintu, dia melihat cahaya
matahari telah memancarkan cahaya keemas-emasannya ke
empat penjuru, aneka bunga tumbuh subur dimana mana,
pemandangan alam sangat indah dan menawan hati.
http://kangzusi.com/
Rumah batu itu dikelilingi pepohonan siong yang
mengitarinya pada jarak tujuh delapan kaki, segalanya
kelihatan rapi dan teratur, sedikitpun tidak kelihatan acak-
acakan.
Ketika pandangan matanya dialihkan ke sekitar sana,
tampak tiga buah puncak bukit menjulang ke angkasa,
ternyata di mana ia berada sekarang tak lain adalah dinding
tebing yang terlihatnya semalam, punggung puncak Giok li
hong.
Puncak Giok Ii hong tingginya mencapai ratusan kaki, di
sisi kirinya terdapat sebuah air terjun, pemandangan indah
sekali.
Menyaksikan kesemuanya itu. tiba-tiba saja Lan See giok
merasakan dadanya menjadi terbuka dan nyaman sekali.
Pada saat itulah, dari balik hutan berkumandang lagi
suara teriakan dari Siau thi gou.
"Enci Soat, disini terdapat seekor kijang kecil-."
Belum habis Siau thi gou berteriak, terdengar suara Si
Cay soat telah menukas:
"Jangan kita usik dia, mari kita menangkap ikan saja di
telaga Cui oh?”
Mendengar suara pembicaraan mereka. Lan See giok
segera berlarian menuju ke hutan itu sambil berteriak.
"Adik Thi gou, tunggu aku”
Sambil berseru di segera berlarian masuk menuju ke
dalam hutan yang terbentang di hadapannya.
Berpuluh puluh kaki dia telah menembusi hutan tersebut,
tapi anehnya belum juga pemuda tersebut berhasil ke luar
dari lingkungan hutan tadi, kejadian tersebut dengan cepat
http://kangzusi.com/
menimbulkan perasaan-perasaan tak habis mengerti
baginya.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Siau thi gou sedang
memohon dari tempat yang tak jauh darinya.
"Enci Soat, cepat beritahu kepada engkoh Giok, bila
guru tahu, kau pasti akan dimaki sebagai si binal lagi!"
Mendengar perkataan tersebut, Lan See giok segera
menyadari kalau keadaan di situ kurang beres dengan cepat
dia menghentikan gerakan tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar Si Cay soat mendengus dingin, lalu
berseru dengan nada tak senang hati:
"Yang dia panggil kan adik Thi gou, Siapa sih yang
memanggil aku"
Sekali lagi Lan See giok berpekik di dalam hati:
"Aduh celaka, yaa, mengapa aku lupa memanggil Si Cay
soat? Tidak heran kalau dia menjadi tak senang hati”
Berpikir demikian, dengan nada minta maaf dia segera
berseru. "Adik Soat, Ih-heng segera datang!"
Baru selesai dia berseru, tiba-tiba terdengar Siau thi gou
sudah berteriak sambil tertawa:
"Engkoh Giok, turuti perkataanku, belok tiga kali ke kiri,
belok lima kali ke kanan melihat tujuh jalan serong,
berjumpa delapan maju ke depan”
Lan See giok bukan anak bodoh, begitu peroleh petunjuk
dia segera menjadi paham.
Sementara Siau thi gou masih berteriak teriak dengan
suara lantang, Lan See giok sudah menerobos ke luar dari
hutan tersebut.
http://kangzusi.com/
Waktu itu Siau thi gou sedang berdiri sambil memegang
seekor kelinci besar, melihat Lan See giok munculkan diri,
sambil tertawa terbahak bahak ia segera berseru:
"Nah, itulah dia telah munculkan diri!"
Lan See giok segera berlari mendekat, menarik tangan
Siau thi gou dan berterima kasih kepadanya, tapi oleh
karena tidak di jumpai Si Cay soat, pemuda itu jadi
celingukan-
Akhirnya dari jarak tujuh delapan kaki di depan sana, ia
saksikan ada sesosok bayangan merah sedang berlarian
menuju ke arah air terjun dengan kecepatan tinggi.
Sambil menuding ke arah bayangan Si Cay soat, Siau thi
gou segera berseru:
"Engkoh giok ayo berangkat, mari kita lihat enci Soat
menangkap ikan!"
Mereka berdua segera menyusul dari belakangnya
dengan gerakan cepat.
Setelah berlarian sekian waktu, Si Cay soat yang sedang
berlarian di depan telah menghentikan langkahnya.
Lan See giok tahu, tempat dimana Si Cay soat berdiri
sekarang bisa jadi adalah telaga Cui oh, waktu itu si nona
sedang membungkus rambutnya dengan kain merah.
Ketika maju beberapa puluh kaki, lagi dia dapat melihat
permukaan telaga yang luasnya mencapai beberapa bau,
airnya berwarna hijau dan beriak terhembus angin,
pemandangan alam di situpun amat indah.
Setelah berjalan mendekat, Lan See giok baru
menjumpai tempat dimana Si Cay soat berdiri sekarang
adalah sebuah tebing yang tinggi, jarak antara tempat itu
http://kangzusi.com/
dengan permukaan telaga paling tidak masih mencapai
enam tujuh kaki.
Walaupun dalam hati kecilnya merasa terkejut, namun
dia tak lupa menyampaikan salam untuk Si Cay soat,
sekarang ia dapat melihat pakaian yang dikenakan Si Cay
soat adalah sebangsa pakaian renang yang kulit bukan kulit
sutera, namun terbuat dari sejenis bahan istimewa.
Setelah mengenakan pakaian renang ini, perawakan
tubuh Si Cay soat nampak lebih indah, semua lekukan
tubuhnya tertera amat jelas, payudaranya yang montok
nampak menonjol besar dibagian dada, pinggangnya amat
ramping, pahanya berbentuk manis sedang kakinya
terbungkus sepatu kulit berwarna merah, rambutnya yang
panjang juga telah dibungkus kain merah.
Lan See giok benar-benar merasa tertegun, ia merasakan
pandangan matanya menjadi silau, hatinya berdebar keras
dan seolah-olah sedang dihadapkan dengan segumpal api.
Waktu itu Siau Thi gou hanya berharap enci Soat nya
bisa menangkap seekor ikan besar, pada hakekatnya dia
tidak memperhatikan mimik wajah Lan See giok, sepasang
matanya yang terbelalak lebar di arahkan terus ke
permukaan telaga.
Melihat Si Cay soat sama sekali tidak menggubris
dirinya. bahkan hanya berdiri di tepi tebing dengan mulut
membungkam sadarlah Lan See giok bahwa gadis itu
sedang marah kepadanya.
Setelah tersenyum, dengan suara yang amat ramah
pemuda itu kembali menyapa.
"Selamat pagi adik Soat!"
http://kangzusi.com/
Mendengar sapaan tersebut, Si Cay soat mengerling
sekejap ke arahnya dengan pandangan indah, kemudian
tersenyum.
Pada saat itulah..
Tiba-tiba terdengar Siau thi gou berteriak keras.
"Aaah, seekor ikan Cui oh li (ikan leihi telaga cu). ! "
Baru saja dia berteriak, bayangan merah telah berkelebat
lewat, Si Cay soat dengan gaya Hay yan si sui (walet air
bermain air) telah menubruk ke arah permukaan telaga.
Gemetar sekujur badan Lan See giok melihat gerakan
tubuh gadis itu, tanpa disadari dia menjerit kaget:
"Adik Soat, Hati-hati !"
Tampak Si Cay soat menekuk pinggang, sepasang
lengannya didayungkan bersama lalu sepasang tangannya
ditempelkan satu lama lainnya dan .. "Byuuur!".
menceburkan diri ke dalam telaga.
Percikan air segera memancar ke empat penjuru..
Secepat ikan terbang bayangan merah itu meluncur dan
menyelam ke dalam air telaga yang berwarna hijau tadi.
Lan See giok harus memasang telinga baik-baik sebelum
dapat melihat bahwa kurang lebih dua kaki di depan Si Coy
soat benar- benar terdapat seekor ikan besar yang sedang
berenang menjauhi dengan gerak gerik yang amat gugup.
Kejar mengejar pun segera terjadi, ombak menggulung
kian ke mari, biarpun sedang berenang, ternyata gerak-gerik
Si Cay soat terlihat indah sekali.
Lan See giok selain merasa kagum juga sangat memuji,
dia tak menyangka ilmu berenang yang dimiliki gadis itu
demikian indah dan sempurna.
http://kangzusi.com/
Dalam hati kecilnya ia segera memutuskan untuk
memohon kepada To Seng-cu locian-pwe selain
mempelajari ilmu silat yang tercantum- dalam kitab pusaka
Pwee yap cin keng, diapun hendak mempelajari ilmu
berenang,
Tiba-tiba Si -Cay soat yang berada, dalam air memutar
badannya, kemudian pergelangan tangannya diayunkan ke
depan serentetan cahaya perak langsung menyambar ke
arah ikan besar itu.
Siau thi gou yang menyaksikan kejadian tersebut segera
tertawa lebar.
Dengan cepat Lan See giok mengalihkan kembali sorot
matanya ke arah telaga, waktu itu cahaya perak telah
lenyap. sedangkan ikan besar tersebut sudah berguling di
atas air kemudian terapung dengan bagian perut nya
menghadap ke atas.
Si Cay soat segera berenang mendekati-nya, lalu sambil
mengempit bangkai ikan besar tadi ia berenang ke tepian.
Siau thi gou juga berpaling kearah Lan See giok sambil
ujarnya dengan senyum dikulum:
"Ilmu peluru pembelah air dari enci Soat amat tepat dan
lihay sekali, betapa pun besarnya ikan yang diburu dan
betapa cepat nya ikan itu berenang, jangan harap bisa lolos
dari tangannya."
Lan See giok mengangguk berulang kali. namun sorot
matanya masih ditujukan ke arah Si Cay soat yang sedang
menaiki pantai.
Bayangan merah berkelebat lewat dengan menutulkan
ujung kakinya di atas tonjolan batu karang, tahu-tahu Si
Cay soat telah melompat naik ke atas tebing.
http://kangzusi.com/
Sambil bersorak kegirangan Siau thi gou segera
menyerbu ke depan untuk memeluk ikan besar itu.
Sambil tersenyum manis Si Cay soat mengerling sekejap
ke arah Lan See giok yang sedang memandangnya dengan
perasaan kagum, pelan-pelan dia membuka pengikat
rambutnya, rambut yang panjangpun segera terurai ke
bawah.
Lan See giok yang menyaksikan kejadian itu segera
merasakan hatinya berdebar keras, gerak gerik Si Cay soat
memang sungguh terlampau indah.
Tanpa terasa diapun memuji sambil tersenyum.
"Adik Soat, ilmu berenangmu sungguh amat indah, bila
suatu ketika Ih-heng- pun dapat menguasai ilmu tersebut
sesempurna kau, tentu akan merasa sangat puas."
Sekali lagi Si Cay soat tertawa manis, tiba-tiba ia
menegur:
"Apa sih Ih-heng.. Ih-heng terus terusan? Masa lagakmu
selalu sok sungkan?"
Merah padam selembar wajah Lan See giok, buru-buru
dia mengiakan berulang kali, walaupun kena disemprot. .
anehnya dia sama sekali tidak mendongkol.
Dalam pada itu Siau thi gou telah selesai mengikatkan
ikan besar dan kelinci besar itu, dengan gembira ia berteriak
keras:
"Ayo berangkat, kita harus siapkan santapan siang yang
paling lezat"
Maka berangkatlah ke tiga orang itu menuju ke hutan.
Setibanya di depan hutan, Lan See giok berjalan
mengikuti di belakang Si Cay soat.
http://kangzusi.com/
Hutan tersebut dalamnya hanya sepuluh kaki, dalam
beberapa kali lompatan saja mereka telah menembusi hutan
tersebut.
Lan See giok mengikuti di belakang Si Cay soat menuju
ke sebuah ruang kecil yang terletak di belakang ruangan
batu.
Tiba di depan ruangan itu, ternyata di situ letak dapur,
semua peralatan dapur tersedia komplit di situ.
Si Cay soat segera membalikkan tubuhnya, lalu kepada
Lan See giok dan Siau thi gou ujarnya.
"Engkoh giok menguliti kelinci. Adik Thi gou memotong
ikan. aku akan pulang dulu untuk berganti pakaian"
Sembari berkata. dia membalikkan badan menuju ke
dalam ruang batu.
Siau thi gou segera mengambil pisau dan mulai
membersihkan sisik ikan dan membersihkan isi perutnya,
cara kerjanya cekatan dan amat terlatih.
Selama Lan See giok mengikuti ayahnya hidup dalam
kuburan kuno, diapun sering kali berburu, maka soal
menguliti kelinci juga bukan sesuatu pekerjaan yang asing
baginya.
Sambil membersihkan ikan, tiba-tiba Siau thi gou
bertanya: "Engkoh Giok, apakah kau datang kemari khusus
untuk belajar ilmu dari suhu?"
Lan See giok mengangguk, jawabnya dengan bersungguh
hati:
"Benar, aku datang kemari atas petunjuk dari locianpwe .
."
http://kangzusi.com/
"Sungguh aneh" kembali Siau thi gou menukas, "kalau
toh tujuanmu belajar ilmu, mengapa kau masih saja
memanggil suhu sebagai locianpwe?"
Lan See giok menjadi tertegun menghadapi pertanyaan
tersebut, ia segera berhenti bekerja dan bisiknya:
"Adik thi gou, aku belum pernah mengangkat guru,
konon kalau hendak melakukan upacara pengangkatan,
maka kita mesti menyembah empat kali, apa yang kau
lakukan dulu?"
Tanpa ragu Siau thi gou segera menjawab:
"Aku merangkak di atas tanah dan menyembah berulang
kali . . "
Belum selesai dia berkata, bayangan merah berkelebat
lewat, Si Cay soat yang selesai berganti pakaian telah
muncul kembali di situ. agaknya diapun sempat mendengar
pembicaraan kedua orang itu, kepada Lan See giok segera
ujarnya:
"Engkoh Giok, suhu orangnya ramah dan pengasih, dia
tidak terlalu memperhatikan soal tetek bengek, selesai
bersantap siang nanti, kau cukup menyembah empat kali
dihadapannya sambil memanggil suhu, aku pikir itu sudah
cukup."
Lan See giok memandang ke arah Si Cay soat dengan
penuh rasa terima kasih, setelah mengiakan diapun
melanjutkan pekerjaannya menguliti kelinci.
Mendekati tengah hari pekerjaan memasak pun telah
selesai, hidangan segera disajikan, selain ang sio hi,
panggang daging kelinci, sayur sayuran, kuah tahu, masih
tersedia pula seguci besar arak wangi.
http://kangzusi.com/
Ketika semuanya sudah siap, Siau thi gou baru berteriak
ke arah gua:
"Suhu, silahkan bersantap."
Tak lama kemudian, To seng cu dengan jubah kuningnya
telah muncul dari balik gua, senyum ramah masih
menghiasi wajahnya.
Dalam pada itu Si Cay soat telah menuang empat cawan
arak, isi cawan bagi dirinya kelihatan paling sedikit.
Lan See giok menunggu sampai To-seng-cu sudah
duduk, dia baru menjatuhkan diri berlutut dan menyembah
empat kali sambil katanya dengan serius.
"Suhu berada di atas, terimalah penghormatan dari tecu
Lan See giok.."
Sambil mengelus jenggotnya To seng cu tertawa terbahak
bahak, ditatapnya pemuda itu dengan ramah, lalu ujarnya
tersenyum.
"Anak giok, ayo cepat bangun!"
Walaupun Siau thi gou kelihatan agak bodoh, akan
tetapi diapun dapat melihat kalau gurunya sedang amat
gembira pada hari ini.
Lan See giok segera bangkit dan duduk di samping Siau
thi gou, sedang Si Cay soat yang hendak membuat gembira
gurunya mengambil cawan arak dan berseru kepada To
seng cu sambil tertawa.
"Suhu, Soat-ji menghormati secawan arak untukmu,
kionghi kau orang tua telah menerima seorang murid baru."
"To seng-cu tertawa terbahak bahak.
“Haaahhh..haaahhh..haaahhh..budak binal, bukankah
kau pun termasuk murid suhu yang baik?"
http://kangzusi.com/
Diangkatnya cawan arak dan diteguk dengan lahap.
Siau thi gou turut mengangkat cawan araknya, suasana
riang gembira segera menyelimuti seluruh ruangan.
Ketika To seng cu mencicipi Ang sio hi, dia memuji
tiada hentinya atas kelezatan hidangan tersebut.
Tergerak hati Lan See giok, dia segera teringat kembali
dengan ilmu berenang yang dimiliki Si Cay soat, maka
menggunakan kesempatan tersebut segera ujarnya dengan
hormat.
"Suhu diantara lima cacad dari tiga telaga, tecu sudah
mendapat tahu kalau si Tongkat besi berkaki tunggal
berdiam di benteng Pek hoo cay, si beruang berlengan
tunggal berdiam di bukit Tay ang san, sedang si manusia
buas bertelinga tunggal Oh Tin san bercokol di benteng Wi-
lim-poo yang dikitari telaga phoa yang oh, tecu rasa dua
manusia cacad lainnya pasti berdiam pula di atas telaga. . ."
Sebelum Lan See giok menyelesaikan kata katanya,
sambil mengelus jenggot To seng cu segera menyela.
"Benar, si Setan ganas bermata tunggal yang terhitung
paling garang, ia berdiam di Lim lo pah, orang ini termasuk
yang memiliki daya pengaruh terbesar antara rekan-
rekannya, sedang si binatang bertanduk tunggal yang
berilmu silat paling lemah tapi berotak paling cerdas itu,
berdiam di telaga Pek toh oh, ia telah ditotok mati oleh
sergapan Oh tin san sehingga tak perlu dikuatirkan lagi,
diantaranya aku kira yang patut diperhitungkan kekuatan
nya adalah si raja ganas dari telaga Tong Ting oh, si Setan
ganas bermata tunggal Toan Ci tin tersebut.”
Lan See giok berkerut kening, lalu berkata dengan sedih.
"Dari lima manusia cacad di tiga telaga, tiga diantaranya
menjagoi di atas telaga, padahal anak Giok tidak mengerti
http://kangzusi.com/
ilmu berenang, bila hendak menyelidiki jejak mereka
rasanya sukar sekali, mohon suhu bersedia mewariskan
pula ilmu berenang kepada anak giok".
To seng cu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa
terbahak bahak, sahutnya dengan gembira:
"Berbicara soal ilmu berenang, dalam dunia persilatan
tiada orang yang bisa menandingi kehebatan Hu-yong
siancu, sebalik nya berbicara dari tingkat muda, orang yang
berilmu berenang paling tinggi adalah enci Cian mu,
sedangkan ilmu berenang dari adik Soat mu berasal dari
ajaran si naga sakti pembalik sungai, suhu sendiri sama
sekali tidak menguasai kepandaian tersebut.”
Setelah berhenti sejenak, dia memandang kearah Si Cay
soat yang sedang cemberut dan tidak senang hati itu,
kemudian me-lanjutkan sambil tertawa:
"Namun, bila kau memang berniat untuk mempelajari
kepandaian tersebut, tak ada salahnya untuk minta kepada
adik Soat mu untuk mengajarkan dasar dasarnya, sampai si
naga Sakti pembalik sungai datang ke Hoa San, barulah kau
minta pelajaran secara langsung kepadanya"
Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut
menjadi sangat gembira, ia segera bangkit meninggalkan
tempat duduknya dan menjura kepada Si Cay soat sambil
serunya:
"Adik soat, kalau begitu Ih-heng mengucapkan banyak
terima kasih dulu kepadamu,"
Dalam hati kecilnya Si Cay soat merasa kegirangan, dia
segera bangkit dan balas memberi hormat, pikirnya:
"Hmm, mulai hari ini pasti akan seperti Siau thi gou,
selalu menuruti petunjukku."
http://kangzusi.com/
Sebaliknya diluaran dia berkata dengan tenang:
"Engkoh giok, harap kau jangan berbuat demikian, siau
moay tak berani menerimanya."
Kemudian sengaja dia menengok ke arah To-seng-cu dan
berkata kembali:
"Suhu, engkoh Giok kan sudah mempunyai enci Cian
yang sangat lihay dalam ilmu berenang. bila soat ji memberi
pelajaran dulu kepada engkoh giok, jangan-jangan ada
orang yang merasa tak senang hati.."
To seng cu cukup mengetahui akan kebinalan muridnya
ini, sekalipun demikian dia ,juga tahu kalau sesungguhnya
gadis ini amat ramah dan berhati mulia, diapun sadar
bahwa gadis ini diam-diam merasa tak puas dengan ilmu
berenang yang dimiliki Ciu Siau cian, maka setelah tertawa
geli katanya:
"Tidak mungkin, tidak mungkin, bila Ciu Siau-cian
merasa tak puas kau dan anak giok bisa minta pelajaran
bersama dengannya!"
Si Cay soat adalah seorang gadis yang pintar dan
cekatan, walaupun ia tahu bahwa gurunya sengaja
menggoda, tapi diapun mengerti, andaikata ilmu berenang
yang dimiliki Ciu Siau-cian tidak lebih sempurna daripada
kepandaiannya, tak mungkin guru nya akan berkata
demikian
Oleh sebab itu dengan nada tak percaya dia berkata
dengan bersungguh sungguh:
"Suhu, benarkah ilmu berenang yang dimiliki enci
Ciannya engkoh giok masih jauh lebih hebat daripada si
naga tua pembalik sungai?"
http://kangzusi.com/
To seng cu tahu kalau Si Cay soat telah memahami
maksudnya, sambil tersenyum ia segera menjawab:
"Kalau Thio loko mu mengandalkan tenaga dalamnya
yang sempurna, maka enci Cian- mu lebih mengandalkan
gerakan tubuhnya yang lihay dan luar biasa, terutama sekali
ilmu pedang di dalam airnya, sungguh cepat nya luar biasa,
bahkan tidak kalah sempurna nya dari ilmu berenang yang
dimiliki ibu nya.”
Berbicara sampai di situ, dia memandang sekejap ke tiga
orang muda mudi dengan pandangan penuh kasih sayang . .
.
Kejut dan girang menyelimuti seluruh wajah Lan See
giok, dia seperti tidak percaya kalau enci Ciannya yang
begitu lembut, tenang dan cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan, ternyata memiliki ilmu berenang yang jauh
lebih hebat dari pada si naga pembalik sungai.
Si Cay soat sendiri tentu saja percaya seratus persen atas
perkataan dari gurunya, suatu perubahan aneh segera
menghiasi paras mukanya, dia seperti ingin secepatnya
dapat bertemu dengan Ciu Siau cian.
Hanya Siau thi gou seorang yang tidak menaruh
perhatian khusus atas persoalan ini namun perkataan dari
gurunya juga tak berani tidak didengarkan, dengan
membelalakkan sepasang matanya dia awasi gurunya tanpa
berkedip, meski begitu dia pun tidak lupa untuk melalap
daging dan ikan yang dihidangkan dihadapannya.
To seng cu memandang sekejap ke tiga murid
kesayangannya, ia merasa amat gembira terutama setelah
menerima Lan See giok, dia merasa kepandaian silatnya
bakal ada yang mewarisi.
http://kangzusi.com/
Maka sambil menengok ke arah Si Cay soat, katanya
lebih lanjut dengan mengandung arti mendalam:
”Soat ji, bila kau bertemu dengan Ciu Siau cian lain
waktu, panggillah lebih banyak enci kepadanya, suhu jamin
pasti ada keuntungan bagimu."
Si Cay soat mengangguk berulang kali, senyum
kegirangan kembali menghiasi wajahnya, sifat ke kanak
kanaknya juga sangat menonjol dimukanya.
Sementara itu, Lan See giok merasa gembira sekali
karena gurunya To seng cu memuji kehebatan enci Cian
nya. di dalam hati kecilnya dia lantas berjanji, bila ia
berhasil mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam kitab
Hud bun pwe-yap cinkeng tersebut, dia akan mewariskan
kembali kepandaian tersebut kepada encinya agar gadis itu
menjadi seorang pendekar wanita yang tiada keduanya di
dunia ini.
Membayangkan kesemuanya itu, tanpa terasa dia
tertawa. sinar matanya turut berkilat-kilat, To seng cu
adalah seorang jagoan nomor wahid yang amat disegani
orang di dalam dunia persilatan dewasa ini, walaupun
usianya sudah mencapai seratus tahun, namun hatinya
ramah dari orangnya saleh, setiap orang yang berhubungan
dengannya pasti akan menaruh hormat dan sayang
kepadanya.
Ketika ia menangkap sinar berkilat dari balik mata Lan
See giok, orang tua itu segera mengetahui kalau si bocah
lagi memikirkan suatu kejadian yang menggembirakan
hatinya.
Maka setelah meneguk araknya, dia bertanya sambil
tertawa.
http://kangzusi.com/
"Anak giok, persoalan apa sih yang sedang kau
bayangkan? Mengapa kau nampak kegirangan?"
Lan See giok tidak menduga kalau gurunya akan
mengajukan pertanyaan seperti itu, dia menjadi tergagap,
mukanya memerah dan segera memperlihatkan perasaan
tidak tenang.
Melihat pemuda itu tidak berusaha untuk
membohonginya, senyum gembira sekali lagi menghiasi
wajah To Seng cu.
Si Cay soat memang gadis yang pintar, ia segera
cemberut dan sambil mendengus katanya agak cemburu:
"Apa lagi? Tentu sedang membayangkan enci Cian nya
yang lihay dalam ilmu berenang!"
-ooo0dw0ooo-

BAB 14
LAN See giok tidak menyangka kalau Si Cay soat bakal
membongkar rahasia hatinya secara blak blakan, ia terkejut
dan wajahnya segera berubah, buru-buru serunya kepada
To seng cu:
"Anak giok tidak becus, dihadapan suhu memang masih
teringat enci Cian, harap suhu sudi memaafkan ketidak
tahuan anak giok!"
Si Cay soat maupun Siau thi gou jadi melongo, mereka
tidak habis mengerti apa sebabnya Lan See giok
menunjukkan wajah gugup, dengan sorot mata yang
bimbang tiada hentinya mereka awasi Lan See giok dan To
seng cu secara bergantian, agaknya mereka berusaha
mencari tahu masalah apakah yang membuat pemuda itu
demikian gugupnya?
http://kangzusi.com/
To seng cu juga tidak berkata kata. Ia meneguk habis isi
cawannya. lalu sambil menyodorkan mangkuk kosong itu
ke hadapan Sian thi gou yang masih tertegun. katanya
dengan suara rendah dan berat,
"Gou- ji. penuhi cawanku ini! "
Sementara itu, walaupun Si Cay soat juga dibuat
kebingungan, namun dia dapat melihat bahwa suhunya
sedikit tak bisa mengendalikan rasa gembiranya, sudah jelas
gurunya sedang merasa kegirangan setengah mati.
Siau thi-gou segera memenuhi cawan gurunya dengan
arak dan mengangsurkan kembali ke atas meja To seng cu,
kembali ke hadapan gurunya.
Setelah menerima cawan dan meletakkan kembali ke
atas meja, To seng cu kembali berkata dengan wajah serius:
"Selama berada dihadapan guru, berpikiran cabang dan
menjawab secara ngawur pertanyaan guru, hal ini
merupakan pantangan terbesar bagi dunia persilatan, yang
ringan, pelanggarannya akan peroleh hukuman, yang berat
akan dikeluarkan dari perguruan, anak giok, kau masih
muda tapi setia dan sederhana, sungguh tidak kecewa
kuterima dirimu sebagai murid!"
Selesai berkata, dia meneguk araknya sampai habis.
Lan See giok terharu sekali oleh perkataan itu, sekali lagi
dia memberi hormat sambil berkata:
"Anak giok bodoh, mungkin hanya akan menyia nyiakan
harapan suhu saja!”
To seng cu meneguk setengah cawan arak lagi, kini
gejolak emosinya telah mereda, melihat di atas wajah
pemuda itu tidak terlintas perasaan bangga, katanya
kemudian lengan ramah:
http://kangzusi.com/
"Anak giok, duduklah suhu tidak akan menyalahkan
dirimu lagi- - “
Sambil berkata, dia membuat gerakan dengan
mempersilahkan pemuda itu duduk.
Lan See giok segera mengiakan dengan hormat dan
duduk, Si Cay soat pun merasa gugup dan panik. ia benar-
benar tak menyangka kalau perbuatannya bakal segawat itu,
terbayang kembali ketika ia membongkar rahasia hati Lan
See giok, saking menyesalnya dia sampai menundukkan
kepalanya rendah-rendah.
Namun dia bisa menduga, dengan tenaga dalam gurunya
yang begitu sempurna serta ketebalan imannya yang
mengagumkan, toh tak mampu mengendalikan gejolak
emosinya, hal ini menandakan betapa gembira nya orang
tua itu setelah mendapatkan Lan. See giok sebagai
muridnya.
Siau thi gou orangnya ramah den polos, meski ia tidak
mengerti apa gerangan yang terjadi, namun dapat terasa
olehnya kalau enci Soat maupun engkoh giok nya sama-
sama telah melakukan kesalahan besar.
To seng cu sangat gembira, setelah memandang sekejap
ketiga orang bocah itu untuk mengurangi perasaan tak
tenang dalam hati mereka, maka ujarnya kemudian sambil
tersenyum.
"Sekarang, aku akan mengisahkan kembali peristiwa
pada sepuluh tahun berselang ketika kitab cinkeng itu
lenyap, agar kisah tadi bisa menambah pengetahuan kalian
semua."
Mendengar perkataan itu, muda mudi bertiga itu segera
meletakkan kembali sumpit nya dan bersama sama
memandang ke arah guru mereka>
http://kangzusi.com/
Sambil tertawa ramah To seng cu segera berkata:
"Kalian boleh mendengarkan sambil makan dan
minum."
Kemudian setelah meneguk seteguk arak dan termenung
beberapa saat, dia pun mulai bercerita.
"Sepuluh tahun berselang, di dalam kalangan hitam
terdapat lima orang jago lihay, mereka adalah lima cacad
dari tiga telaga yang termasyhur sekarang, entah dari mana
mereka peroleh kabar ternyata orang orang itu mendapat
tahu kalau aku memiliki sejilid kitab pusaka ilmu silat yang
amat hebat."
"Kemudian, berkumpullah mereka merundingkan
bagaimana cara mencuri kitab tadi dan kemudian
mempelajarinya bersama sama.
"Dasar bangsa kurcaci, walaupun mereka telah
memutuskan bersama, toh dihati kecil masing-masing
masih saja saling curiga mencurigai. namun untuk
menghindari perhatian orang, secara terpisah mereka
datang ke Hoa San dan berkumpul di bawah bukit sambil
berunding bagaimana caranya mengamati gerak gerikku.
"Justru persoalan menjadi berantakan akibat suatu
kebetulan, pada waktu itu aku sedang bersemedi di dalam
gua, mendadak kudengar suara golok sedang mengukir batu
di depan dinding gua . . . "
Tergerak hati Lan See giok setelah mendengar perkataan
itu, dia tahu yang di maksudkan gurunya, sudah pasti bait-
bait syair yang terpampang di atas dinding di mulut gua
tersebut, hanya saja ia tidak habis mengerti siapakah
perempuan tersebut.
Setelah meneguk araknya setegukan, To seng cu berkata
lebih jauh:
http://kangzusi.com/
"Tergerak hatiku waktu itu sehingga segera munculkan
diri, namun untuk menghindar mulut guaku ketahuan
orang luar, aku tidak membuka pintu secara langsung,
sampai orang itu sudah pergi jauh, barulah kubuka pintu
gua dan ke luar. . ."
Lan See giok kembali merasa tidak habis mengerti,
mengapa ia tidak menjumpai "pintu gua" ketika
memasukinya semalam, tapi kalau menurut pembicaraan
suhu pintu gua tersebut pasti tersembunyi di balik dinding
gua sehingga tidak terlihat sama sekali.
Dalam pada itu, To seng cu telah berkata lebih jauh:
"Menanti suhu sampai di pintu depan, orang itu sudah
pergi hingga tak terlihat lagi, kubaca sebentar bait syair di
dinding gua itu lalu menembusi hutan tho dan mengejar ke
luar lembah, tak lama kemudian kusaksikan seseorang
sedang berlarian dengan cepat, menanti kususul lebih dekat,
baru kuketahui kalau orang itu adalah Hu-yong siancu Han
sin wan . . .
Tergetar perasaan Lan See giok, tanpa terasa serunya
kaget: "Aaah . . dia . . . dia adalah bibi Wan . . . . ?"
"Benar, orang yang mengukir tulisan di depan gua tak
lain adalah bibi Wanmu."
"Suhu, masalah pedih apakah yang dialami bibi Wan
sehingga dia merasa begitu sedih?" tanya Lan See giok
dengan perasaan tidak habis mengerti.
Tong seng cu berkerut kening seakan -akan enggan
menjawab pertanyaan itu, kemudian katanya sambil
tersenyum.
"Masalah ini menyangkut hubungan antara orang tuamu
dengan bibi Wan, aku sendiri juga kurang tahu sehingga
lebih baik tak usah kuterangkan di sini, tak ada salahnya
http://kangzusi.com/
bila kau tanyakan sendiri kepada bibimu di kemudian hari,
mungkin dia akan menceritakan pengalamannya kepada
mu. "
Melihat gurunya enggan menjawab, sudah barang tentu
Lan See giok tak berani bertanya lebih jauh, terpaksa dia
mengiakan berulang kali.
Tampaknya Siau thi gou memperhatikan sekali masalah
tercurinya kitab cinkeng itu, dengan gelisah tiba-tiba dia
menyela:
"Suhu, ketika kau ke luar dari gua, sudah pasti pintu
depan lupa kau tutup kembali?"
"Benar"! To seng cu segera mengangguk, ”waktu itu aku
memang kelewat gegabah, menanti aku tiba kembali di gua,
baru kujumpai kotak kecil di atas meja telah lenyap. segera
aku sadar bahwa kotak itu tercuri, dengan perasaan gelisah
akupun segera menyusul ke luar lembah."
Berbicara sampai di situ dia, memandang sekejap ke arah
Lan See giok yang sedang mendengarkan dengan seksama,
kemudian baru lanjutnya lebih jauh.
"Sewaktu aku mengejar sampai di luar hutan tho, Hu-
yong siancu belum pergi, tapi di sisinya telah bertambah
seseorang, orang itu tak lain adalah ayahmu. si peluru perak
gurdi emas Lan Khong-tay."
Berhubung To seng cu bercerita sambil menengok ke
arahnya, Lan See giok sudah memahami maksud gurunya,
itulah sebabnya ia tidak merasa keheranan ketika ayah-nya
disinggung:
"Waktu itu aku paling mencurigai ayahmu, tapi setelah
mendengar perkenalan dari Hu-yong siancu, barulah
kuketahui kalau ayahmu adalah Lan tayhiap yang
termasyhur namanya dalam dunia persilatan, karena itu
http://kangzusi.com/
rasa curigaku segera lenyap. Atas pertanyaanku, baru
kuketahui ayahmu telah berjumpa dengan Pek-ho-caycu si
toya guntur Gui Pak-cian, serta Wi-lim pocu Oh Tin-san di
mulut lembah.
"Kedua orang itu merupakan pentolan kaum hitam yang
termasyhur sekali."
"Kemunculan mereka di bukit Hoa San segera
menimbulkan kecurigaanku, segera kukejar mereka ke luar
lembah, sedang ayahmu serta Hu-yong siancu juga
menyusul di belakangku.
”Setelah mengejar melampaui dua buah puncak bukit,
diantara hutan bambu dan pohon siong kulihat ada lima
sosok bayangan manusia sedang kabur ke luar bukit. Aku
pun segera mengeluarkan ilmu berjalan terbang menempel
angin untuk menyusul di belakang mereka.
"Sampai aku sudah berada di belakangnya, kelima orang
itu baru merasakan kehadiranku, saat itu juga mereka kabur
terbirit -birit ke empat penjuru.
"Dalam keadaan begini, mustahil bagiku untuk mengejar
mereka satu persatu, maka di dalam gelisahnya dicampur
gusar dan mendongkol, terpaksa aku turun tangan keji."
"Mula pertama kukutungi dulu kaki kiri dari Gui Pak
ciang, Caycu dari Pek- ho cay, kemudian Pek toh oh cu si
binatang bertanduk tunggal Si Yu gi menjadi ketakutan dan
berlutut minta ampun sambil menerangkan kalau cinkeng
tersebut berada di tangan Kiong Tek ciong, Cong Caycu
dari bukit Tay ang san,
"Waktu itu aku tidak tahu siapa yang bernama Kiong
Tek ciong, karena itu ku kejar Toan Ci tin dari telaga Tong
Ong oh sambil melepaskan sebiji biji cemara untuk
menghalangi niatnya melarikan diri, siapa tahu ketika biji
http://kangzusi.com/
cemara itu hampir mengenai tubuhnya, kebetulan Toan Ci
tin sedang menengok ke belakang, tak ampun lagi biji
cemara itu bersarang telak di mata sebelah kirinya.
"Atas pertanyaanku baru kuketahui arah Kiong Tek
ciong melarikan diri, waktu itu Oh Tin San sedang kabur
membuntuti Kiong Tek ciong, walaupun alasannya hendak
melindungi padahal tujuannya yang utama adalah
mengawasi gerak gerik rekannya.
"Ketika aku mengejar mereka lebih jauh dalam keadaan
terpojok ternyata ke dua orang itu melakukan perlawanan,
maka dalam gusarnya kubacok kutung lengan kiri Kiong
Tek ciong sedangkan Oh Tin san segera berlutut minta
ampun, berhubung aku tahu kalau dia orangnya keji dan
berbahaya maka segera kupotong sebuah telinga kirinya
sebagai hukuman.
"Setelah kuperiksa kedua orang itu, barulah diketahui
kalau kotak kecil tadi sudah terjatuh dalam perjalanan, tapi
ketika kemudian kucari, kotak tersebut sama sekali tak
berhasil kutemukan kembali, biar begitu aku percaya kalau
Kiong Tek ciong dan Oh Tin san tidak berbohong.
"Menanti pikiran dan perasaanku sudah mulai mereda
kembali, baru kusesalkan perbuatan berdarah yang telah
kulakukan, itulah sebabnya kubebaskan Oh Tin san
berlima.
"Waktu itu meski akupun sedikit menaruh curiga kepada
ayahmu dan Hu-yong siancu yang tidak menyusul datang,
tapi aku percaya bila kotak cinkeng itu berhasil mereka
temukan niscaya akan dikembalikan kepadaku, tapi sampai
matahari tenggelam di langit barat aku belum juga melihat
ayahmu datang, akhirnya baru kuketahui apa sebabnya
ayahmu tidak datang mencariku:
http://kangzusi.com/
"Pertama mereka tidak tahu siapakah aku, mengapa
mengejar Oh Tin san sekalian dan kedua mereka tahu kalau
kotak kecil itu milikku, namun tidak mengetahui bagaimana
caranya untuk mengembalikan, sebab ketika Hu-yong
siancu mengukir syair di depan gua. pintu gua berada dalam
keadaan tertutup, menanti aku membukanya. dia telah
berada di luar hutan tho.
"Berhubung orang tuamu dan Hu-yong siancu kemudian
lenyap secara tiba-tiba dari dunia persilatan. Oh Tin san
sekalianpun mulai menelusuri jejak ayahmu, itulah
sebabnya mereka dapat membuktikan pula kalau kitab
Cinkeng tersebut memang berhasil ditemukan oleh ayahmu
serta bibi Wan mu . . .
Si Cay soat yang membungkam selama ini, tiba-tiba
menimbrung:
"Suhu, Hu-yong siancu yang sudah membuat tulisan di
atas dinding gua saja tidak menemukan mulut gua tersebut,
mengapa Oh Tin san sekalian bisa tahu kalau suhu berdiam
di dalam gua tersebut? To seng cu segera menghela napas
panjang
"Aai, peristiwa ini sesungguhnya bersumber pada
perbuatan Hu-yong siancu ketika mengukir syair di atas
dinding gua sana, sebagaimana diketahui Hu-yong siancu
adalah seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari
dari kahyangan, entah berapa banyak lelaki yang pernah
jatuh hati kepadanya dimasa lalu. Ketika Oh Tin san
sekalian menjumpai kemunculan Hu-yong siancu di bawah
puncak giok li hong mereka pun menjadi tertarik dan diam-
diam menguntit dari belakang.
"Tatkala Hu-yong siancu selesai mengukir tulisan
kemudian berlalu, Oh Tin san sekalian dengan perasaan
ingin tahu segera munculkan diri untuk melihat tulisan
http://kangzusi.com/
apakah yang diukir Hu-yong siancu di atas dinding, siapa
sangka pada saat itulah secara kebetulan aku membuka
pintu gua.!"
Siau thi gou yang mendengar sampai di situ segera
menyela pula dengan suara lantang:
"Waah, itu namanya sudah takdir!"
Dengan ramah dan penuh kasih sayang To-seng cu
memandang sekejap kearah Siau thi gou, lalu manggut-
manggut seraya menjawab:
"Benar, akupun berpendapat demikian, oleh sebab itu
aku segera kembali ke gua dan minta ampun kepada sucou
kalian. bahkan bersumpah selama hayat masih dikandung
badan pasti akan mendapatkan kembali kitab cinkeng
tersebut.
"Suhu, cousu yaa berada di mana? Mengapa Gou ji tidak
tahu?" Siau thi gou segera bertanya dengan nada tidak
mengerti.
"Gua ini merupakan hasil pembangunan dari cousu di
masa lalu, beliau merubahnya dari sebuah gua alam
menjadi sebuah tempat tinggal yang indah. Ketika itu
akupun cuma berusia sebelas dua belas tahunan, masih
lebih kecil daripada kalian, sebelum sucou kalian kembali
ke alam baka. dia khusus membuat sepasang "lian" di kedua
belah pintu gua yang terbuat dari tatahan mutu manikam
serta intan permata yang tak ternilai harga nya, itulah
sebabnya setiap kali aku peroleh kesulitan, pasti akan
berlutut di depan pintu itu sambil berdoa dan minta
pengarahan."
Tergerak hati Lan See giok sesudah mendengar
perkataan itu, segera ujarnya kemudian dengan hormat.
http://kangzusi.com/
"Tatkala anak giok membaca sepasang "lian" yang
berada di depan pintu gua sudah terasa olehku bahwa
tulisan mana merupakan hasil karya seorang Bulim
Cianpwe yang amat saleh dan hebat. Kini anak giok telah
masuk perguruan dan membonceng ketenaran suhu dan
sucou, apakah suhu bersedia menerangkan nama sucou
kami agar anak giok sekalianpun mendapat tahu siapa
nama sebenarnya sucou kami yang mulia itu."
Paras muka To seng cu segera berubah menjadi amat
serius, dipandangnya aneka bunga di luar ruangan dengan
termangu, sampai lama kemudian pelan-pelan ia baru
berkata:
"Sucou kalian Thian ih siu telah berusia dua ratusan
tahun, beliau merupakan seorang dewa pedang yang paling
hebat pada seratus lima puluh tahun berselang, beliau sudah
bertapa hampir seratus tahun di dalam gua ini. Sebelum
kembali ke alam baka, sucou kalian khusus mencatatkan
segenap ilmu silatnya di atas Hud bun- pwee yap cinkeng
tersebut dan diwariskan kepadaku, kemudian dengan
membawa pedangnya beliaupun berangkat ke alam baka
untuk menjadi dewa abadi
Ketika menyelesaikan perkataan itu, paras muka To seng
cu nampak berubah menjadi merah segar dan penuh dengan
perasaan kagum.
Biarpun ketiga orang muda mudi itu masih kecil, mereka
pun dapat melihat pancaran sinar hormat dan perasaan
kagum .yang tak terhingga dari suhu mereka terhadap
sucou-nya.
Siau thi gou merasa sedih sekali tiba-tiba ia bertanya:
"Suhu, semenjak sucou menjadi dewa, pernah beliau
pulang untuk menengokmu?"
http://kangzusi.com/
"Tidak pernah" To Seng cu menggelengkan kepalanya
dengan sedih, "semenjak dia orang tua menjadi dewa,
beliau hidup bebas di alam sana dan tak pernah akan
kembali ke dunia yang fana lagi"
Lan See giok serta Si Cay soat yang melihat kemurungan
suhunya. kini jadi menyesal karena sudah menanyakan soal
sucou mereka sehingga memancing rasa murung bagi
gurunya, karena itu mereka semua merasa turut tak tenang.
Siau thi gou yang melihat gurunya sedih, kembali
bertanya dengan tidak habis mengerti:
"Suhu, baikkah bila sucou menjadi dewa?" To seng-cu
tertegun dibuatnya, tapi sahut nya juga meski tidak
memahami maksud muridnya"
"Tentu saja amat baik, dia orang tua telah berhasil
memperoleh apa yang di kehendakinya, kita sebagai
angkatan muda tentu saja harus ikut bergembira."
"Lantas apa sebabnya kau orang tua nampak tak senang
hati?" seru Siau thi-gou polos.
Kontan saja To seng-cu dibuat tersumbat mulutnya oleh
ucapan Siau thi gou, tak tahan lagi ia segera mendongakkan
kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Melihat Siau thi gou berhasil memancing gelak tertawa
guru mereka, Lan See giok serta Si Cay soat juga ikut
tertawa, mereka sama-sama menengok ke arah Thi gou
dengan sorot mata kagum.
Sambil mengelus jenggotnya dan memandang ketiga
orang bocah itu dengan riang To seng cu berkata:
"Tengah malam nanti. aku akan mewariskan ilmu silat
maha sakti yang tercantum dalam Hud bun pwee yap cin
keng kepada engkoh giok kalian, Soat-ji serta Thi gou harus
http://kangzusi.com/
menjadi pelindung pada saatnya nanti, selewat malam nanti
kalian bertiga harus sudah mempersiapkan diri baik-baik
dan menunggu perintah dihadapanku,"
Kejut dan gembira Lan See giok mendengar perkataan
itu, sedangkan Si Cay soat, dan Siau thi gou segera
mengiakan dengan hormat.
Santapan siang itu dilewatkan dalam suasana riang
gembira, guru dan murid empat orangpun nampak sedikit
agak mabuk.
Matahari senja sudah mulai tenggelam di balik awan,
senja yang gelap mulai menyelimuti Giok-li-hong..
Lan See giok dan Siau thi gou sedang mengeringkan
pakaian dengan asap dupa.
Lan See giok tidak mempunyai banyak pakaian untuk
berganti, karena itu dia hanya mengeringkan jubahnya yang
berwarna biru saja serta pakaian dalamnya.
Tiba-tiba Siau thi gou bertanya dengan nada tak
mengerti:
"Engkoh Giok, kau tidak membawa buntalan pakaian?"
Lan See giok menggelengkan kepalanya bertulang kali.
"Berhubung aku datang dengan tergesa gesa, bibi Wan
tak sempat mempersiapkan segala sesuatunya bagiku,
apalagi pakaianku kebanyakan masih tertinggal di dalam
kuburan kuno"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Siau thi gou,
seakan akan teringat akan sesuatu, ia segera melompat
bangun sambil berkata.
"Aaah, teringat aku sekarang, buntalanmu itu berada
dalam kamar enci Soat, bahkan masih terdapat pula
Sembilan butir peluru perak yang berkilauan"
http://kangzusi.com/
Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras
setelah mendengar perkataan itu, paras mukanya berubah,
serunya tak tertahan lagi.
"Apa kau bilang?"
Siau thi gou segera meletakkan pakaian nya ke atas
lantai, kemudian bisiknya:
"Enci Soat sedang mandi di atas, ia tidak berada di
kamarnya, ayo biar kuambilkan untukmu"
Sambil berkata, ia segera menarik Lan See giok menuju
ke kamar tidur Si Cay soat.
Lan See giok merasa amat gelisah bercampur bimbang,
saat ini dia seolah-olah lupa kalau tidak patut seorang lelaki
memasuki kamar tidur seorang dara, mengikuti Siau thi gou
mereka langsung menuju ke arah kamar tersebut.
Tiba dalam kamar tidur Si Cay soat, terendus bau harum
semerbak yang menyegarkan badan, saat itulah Lan See
giok baru mendusin dari kekhilafannya dan segera berhenti
di pintu luar.
Siau thi gou masih polos kekanak-kanakan, apalagi
usianya dua tiga tahun lebih muda dari pada Lan See giok,
dia langsung memasuki kamar tidur enci Soatnya tanpa
canggung.
Tapi Siau thi gou sendiripun tidak menyangka kalau di
atas permadani ruangan tergeletak pakaian luar serta
pakaian dalam Si Cay soat yang baru dilepas.
Lan See giok segera merasakan hatinya berdebar keras
dan wajahnya merah padam, dengan perasaan kaget dia
mundur dua langkah dari posisi semula.
Berbeda sekali dengan Siau thi gou, dengan acuh tak
acuh dia melanjutkan langkahnya melewati celana dalam,
http://kangzusi.com/
pakaian dalam dan gaun gadis tersebut sambil memasuki
ruang dalam.
Lan See giok segera mengalihkan kembali pandangan
matanya ke dalam ruangan, kali ini paras mukanya
berubah, rupanya pedang Jit hoa kiam beserta kotak kecil
emas itu diletakkan menjadi satu dengan buntalannya,
hanya pedang Jit hui kiam serta kotak kecil itu yang lain
tidak diketahui berada di mana?
Waktu, Siau thi gou sudah bermaksud mengembalikan
bungkusan kecil itu, bahkan bisiknya dengan girang.
"Coba kau lihat engkoh giok, bukankah bungkusan ini
milikmu?"
Lan See giok segera mengenali bungkusan itu sebagai
miliknya yang tertinggal di dalam kuburan kuno, namun
diapun mengerti bahwa bungkusan itu tidak boleh diambil
sekarang, oleh sebab itu dengan gelisah ia lantas berseru:
"Adik Thi gou, cepat kembalikan ke tempat asalnya, ayo
cepat ke luar-.-!"
Melihat wajah tegang dan peluh bercucuran yang
membasahi muka Lan See giok yang gelisah, Siau thi gou
segera tahu kalau persoalannya tidak semudah itu, dengan
terkejut ia meletakkan kembali bungkusan tersebut ke
tempat semula, kemudian melompat ke luar dari dalam
ruangan.
Lan See giok lebih-lebih tak berani berayal lagi, sambil
menarik tangan Siau thi gou mereka segera mengundurkan
diri dari situ.
Siau thi gou sungguh dibuat bingung dan tak habis
mengerti, setibanya di kamar sendiri ia baru bertanya
dengan suara tak mengerti:
http://kangzusi.com/
"Engkoh giok, apa yang terjadi?"
Setelah berusaha menenangkan hatinya, Lan See giok
baru berkata dengan bersungguh sungguh.
"Adik Thi-gou, sebentar bila adik Soat datang, kau tak
boleh mengatakan telah mengajakku pergi ke kamarnya
untuk mengambil bungkusan kecil itu mengerti?"
Berhubung Lan See giok berbicara dengan wajah serius
dan bersungguh sungguh, Siau thi gou segera mengangguk
berulang kali, meski demikian ia toh bertanya lagi dengan
nada tak mengerti.
"Pakaian itu kan milikmu? Mengapa tak boleh diambil?"
Tentu saja Lan See giok merasa kurang leluasa untuk
menerangkan alasannya, terpaksa sahutnya.
”Kalau hendak diambil pun harus bertanya dulu kepada
suhu mengerti?"
Siau thi gou segera manggut-manggut berulang kali dan
melanjutkan pekerjaannya menggarang pakaian.
Sekarang Lan See giok sudah memahami segala
sesuatunya, rupanya To seng cu sama sekali tidak
meninggalkan kuburan kuno tersebut pada malam itu,
melainkan selalu menyembunyikan diri di seputar sana.
Ia pun berani menyimpulkan bahwa tujuan suhunya
menyembunyikan diri tak lain adalah berharap bisa
mengamati gerak geriknya secara diam-diam sehingga dapat
mengetahui dimana kotak kecil tersebut disimpan, sampai
kemudian On Tin san muncul di situ dia baru mengganti
kedudukannya sebagai pelindung keselamatan jiwanya,
"Teringat bau harum semerbak yang terasa di mulut,
sekarang ia baru mengerti tentang bau harum itu berasal
dari obat mestika pemberian gurunya yang segera memaksa
http://kangzusi.com/
ke luar sari racun dalam tubuhnya di samping menambah
tenaga dalamnya.
Sekarang, hanya ada satu hal yang belum dipahami
yakni ke mana perginya pedang Gwat-hui kiam tersebut?
Berpikir sampai di situ, tanpa terasa diamati ruangan
dimana ia berada sekarang namun kecuali dua lembar
selimut kulit serta bungkusan berisi pakaian milik Siau thi-
gou, di sana tidak ditemukan sesuatu apapun.
Pada saat itulah mendadak terdengar Siau Thi gou
berbisik:
"Engkoh giok, enci Soat datang"
Lan See giok segera pasang, telinga, benar juga ia
mendengar suara langkah kaki manusia berjalan mendekat,
angin lembut terasa berhembus lewat bayangan merah
berkelebat di depan mata, tahu-tahu Si Cay soat telah
muncul di depan pintu ruangan.
Lan See giok segera menengok ke arahnya, tampak
olehnya Si Cay soat yang habis mandi kelihatan lebih segar,
lebih cantik jelita dan menawan hati.
Siau thi gou segera berseru:
"Enci Soat, engkoh giok tak punya pakaian untuk ganti!"
"Mengapa kamu tidak mengambilnya di kamarku?" omel
Si Cay soat setelah mendengar perkataan itu.
Siau thi-gou memandang sekejap ke arah Lan See giok
yang duduk dengan wajah merah padam, kemudian
jawabnya:
"Engkoh giok bilang, mau menunggu sampai
kedatanganmu!"
http://kangzusi.com/
Si Cay soat melirik sekejap ke arah Lan See giok,
kemudian serunya kembali kepada Siau thi gou:
"Mari, ikut cici untuk mengambilnya!" Sambil berkata
dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
Siau thi gou mengiakan dengan gembira dia segera
melompat bangun dan siap menuju ke luar kamar.
Tapi baru berjalan beberapa langkah, bayangan merah
kembali berkelebat lewat. dengan gugup dan panik Si Cay
soat telah muncul kembali di situ.
Tampak paras muka Si Cay soat merah padam seperti
kepiting rebus, wajahnya gugup bercampur gelagapan,
bahkan dengan wajah tersipu sipu dia menggoyangkan
tangannya berulang kali sambil mencegah:
"Adik Thi gou, kau tak usah kemari, biar cici saja yang
segera mengambilkan untuk mu."
Selesai berkata kembali dia melayang pergi.
Tentu saja Siau thi gou jadi melongo dan berdiri tertegun
di tempat, hari ini dia benar-benar dibikin kebingungan
setengah mati dan tak tahu apa gerangan yang telah terjadi.
Hanya Lan See giok yang mengerti apa yang telah
menyebabkan Si Cay soat gelisah serta gelagapan setengah
mati.
Sesaat kemudian, Si Cay soat telah muncul kembali
dengan membawa sebuah bungkusan kecil, tak sampai Lan
See giok mengucapkan terima kasih, ia telah mengundurkan
diri lagi dengan kepala tertunduk rendah-rendah.
Lan See giok merasa sangat emosi setelah melihat
bungkusan kain miliknya itu, ketika dibuka ternyata Si Cay
soat telah membantunya mencucikan semua pakaian
http://kangzusi.com/
tersebut, bahkan dilipat dengan rapi dan rajin. tanpa terasa
ia sangat berterima kasih sekali kepada gadis itu.
Sekarang sambil melanjutkan pekerjaannya menggarang
pakaian, dia mulai memutar otak memikirkan bagaimana
caranya untuk mempelajari rahasia ilmu silat yang
tercantum dalam kitab Cinkeng.
Dalam kesibukan masing-masing itulah, tanpa terasa
malampun menjelang tiba .
Lan See giok, Si Cay soat serta Siau thi gou segera
melayang turun dari kamar masing-masing menuju ke
istana gua.
Tampak kitab Hud bun pwe yap cin keng terletak di atas
meja rendah, asap dupa menyiarkan bau harum ke seluruh
ruangan, dua batang lilin tersulut rapi di meja, membuat
suasana di situ terasa diliputi oleh keseriusan.
To seng cu dengan jubah kuningnya duduk bersila di atas
kasur duduknya dengan mata terpejam, wajahnya amat
serius.
Setibanya dihadapan guru mereka, Lan See giok sekalian
bertiga segera menyapa sambil menjatuhkan diri berlutut.
Pelan-pelan To seng cu membuka matanya dan
menitahkan mereka bertiga agar duduk.
Si Cay soat, duduk di sebelah kiri, sedang Lan See giok
dan Siau thi gou duduk di sebelah kanan, perasaan mereka
amat tenang, wajah merekapun diliputi keseriusan.
Menanti ke tiga orang muda mudi itu duduk, To seng cu
baru berkata dengan wajah bersungguh-sungguh:
"Aku akan melaksanakan peringatan dari sucou kalian
dengan hanya mewariskan kepandaian silat yang tercantum
dalam kitab Cinkeng kepada seorang murid yang paling
http://kangzusi.com/
berbakat, biar terhadap istri maupun putra putri sendiri,
kepandaian silat ini dilarang untuk diwariskan kepada
sembarangan orang."
Lan See giok merasakan hatinya bergetar keras,
kepalannya seperti dihantam kayu keras-keras, impiannya
untuk mewariskan kembali ilmu silat yang dipelajari dari
kitab Cinkeng kepada enci Ciannya segera buyar tak
berbekas.
Sementara itu To seng cu telah berkata lebih jauh:
"Hampir sepuluh tahun belakangan ini, aku selalu
membawa Soat ji dan Gou ji berkelana ke mana-mana
tanpa tujuan, maksud ku tak lain adalah hendak mencari
kembali Cinkeng tersebut serta menemukan seorang
manusia yang berbakat sangat baik untuk mempelajari ilmu
silat tersebut."
Kemudian setelah memandang sekejap muda mudi
bertiga yang duduk dengan wajah serius itu, dia
melanjutkan.
"Soat ji maupun putri kesayangan Hu-yong siancu, Siau
cian merupakan orang-orang yang berbakat baik, hanya
sayang sifat keibuan mereka terlalu besar. untuk
menghindari pelanggaran peraturan di kemudian hari
dengan mewariskan ilmu tersebut kepada suami atau putra
putri sendiri, maka kepada mereka berdua tak akan diwarisi
kepandaian silat tersebut".
Kata-kata tersebut diutarakan secara tegas dan sama
sekali tak bisa dibantah kembali.
Pada hakekatnya Si Cay soat memang tidak berniat
mempelajari isi kitab cinkeng tersebut, baginya asal engkoh
giok bisa mempelajarinya hal tersebut sudah cukup
memuaskan hatinya, maka setelah mendengar perkataan
http://kangzusi.com/
dari gurunya, cepat dia bangkit berdiri dan mengiakan
dengan hormat.
Dengan wajah gembira To Seng cu memandang sekejap
ke arah Si Cay soat, kemudian melanjutkan:
"Gou ji polos, jujur dan sederhana, kesetian dan
kejujurannya bisa dipertanggung jawabkan, sayang
kecerdasannya kurang, maka ilmu silat ini pun tak akan
diwariskan kepadanya."
Jangan lagi soal ilmu silat tersebut, bahkan memikirkan
masalah itupun tak pernah, maka Siau thi gou segera
mengiakan dengan sikap tulus.
Dari pembicaraan dan perkataan To -Seng cu yang
begitu serius, Lan See giok pun mulai sadar bahwa tidak
gampang untuk mempelajari ilmu silat dari Hud bun pwee
yap cinkeng tersebut, namun semakin sulit untuk dipelajari,
dia pun semakin bertekad untuk tidak menyia nyiakan
harapan, guru dan tak akan melanggar peraturan yang telah
ditetapkan perguruan.
Sementara itu To Seng cu telah berkata lagi setelah
berhenti sejenak:
"Ketika masih berada dalam kuburan kuno, aku pernah
memeriksa seluruh urat dan tulang belulang anak Giok, dia
memang manusia yang berbakat bagus untuk mempelajari
segala isi cinkeng tersebut, karena itu aku telah mengambil
keputusan untuk mewariskan kepandaian silat maha sakti
tersebut kepadanya. Meskipun demikian, namun aku
merasa wajib untuk mengamati dulu segala gerak gerik,
sikap maupun perangainya. Itulah sebabnya aku selalu
membuntutinya secara diam-diam, berdasarkan
pengamatanku secara diam-diam selama satu bulan lebih,
anak giok memang benar-benar seorang anak baik yang
dapat dipercaya . . . "
http://kangzusi.com/
Setelah berhenti sejenak, dengan wajah gembira yang
terpancar dari balik keseriusan mukanya, dia melanjutkan:
"Dalam santapan siang tadi, anak giok mendengarkan
pembicaraanku dengan seksama, melihat wajahnya gembira
dia turut gembira, melihat aku murung dia menjadi tak
tenang, mendengar pembicaraan orang lantas
menghubungkannya dengan orang lain bahkan kemudian
berani mengaku salah dan minta hukuman. kesemuanya ini
menambah keyakinanku bahwa pilihanku memang tak
salah, itulah sebabnya aku pun mempercepat waktunya
setahun lebih awal untuk mewariskan ilmu silat tersebut
kepada anak giok."
Setelah berhenti sebentar dan menatap wajah Lan See
giok dengan penuh kasih sayang, ia bertanya lebih jauh:
"Anak. giok. bagaimanakah perasaanmu setelah
mendengar perkataanku ini?"
"Pujian dari suhu membuat anak giok merasa malu."
buru-buru Lan See giok menjawab dengan hormat,
"selanjutnya anak giok bersumpah akan mengutamakan
kejujuran serta berlatih dengan tekun, mentaati peraturan
perguruan dan tidak akan menyia-nyiakan harapan suhu
terhadap anak giok."
Dengan gembira To Seng cu manggut manggut, katanya
kemudian dengan serius:
"Sekarang, ikutilah suhu menjumpai sucou mu!."
la lantas bangkit berdiri dan maju ke balik pintu gerbang
istana gua.
Tiba di depan pintu, To Seng cu melakukan suatu
gerakan dengan telapak tangannya, pintu segera terbuka
sebuah celah selebar dua depa, cahaya tajam pun segera
memancar ke luar dari balik ruangan tersebut.
http://kangzusi.com/
To Seng cu, Lan See giok, Si Cay soat dan Siau thi gou,
segera bersama-sama menuju ke luar pintu.
Cahaya terang benderang mencorong di luar pintu,
sedemikian terangnya sampai debu di lantai pun dapat
terlihat jelas.
To Seng cu berdiri serius di depan pintu gerbang yang
tinggi besar itu sambil mengangkat kepalanya, memandang
sepasang "lian" yang tergantung di sisi pintu.
Lan See giok bertiga berdiri berjajar di belakang To Seng
cu, sikap mereka pun amat serius.
Malam sudah kelam, suasana amat hening Lan See giok
yang berdiri di belakang To Seng cu memandang ke arah
pintu dan mendengarkan hembusan angin dalam gua, tiba-
tiba saja merasakan pikiran dan perasaannya menjadi
sangat kalut.
Ia teringat kembali akan dendam kesumat ayahnya,
pengharapan dari bibi Wan serta enci Cian serta
penghargaan yang begitu tinggi dari gurunya terhadap
dirinya.
Kesemuanya itulah yang memantapkan kesempatan
baginya untuk mempelajari ilmu silat maha dahsyat pada
malam ini dan peristiwa tersebut membuatnya amat
terharu.
Sementara ia masih termenung, tiba-tiba terdengar To
Seng cu telah berkata dengan suara rendah tapi hormat.
"Arwah, suhu di alam baka mohon tahu. tecu Cia Cing
wan telah menuruti perintah dengan menemukan seorang
ahli waris untuk mempelajari isi cinkeng, hari ini murid
angkatan ketiga Lan See giok khusus datang untuk
menyampaikan sumpah serta rasa terima kasihnya."
http://kangzusi.com/
Selesai berkata, dia lantas jatuhkan diri berlutut dan
menyembah beberapa kali.
Lan See giok, Si Cay soat serta Thi-gou serentak berlutut
pula ke atas tanah.
Setelah menyembah sebanyak empat kali. To Seng-cu
bangkit berdiri.
Sedangkan Lan See giok sekalian bertiga setelah
memberi hormat beberapa kali baru ikut berdiri pula.
Kemudian To Seng-cu pun berkata kepada Lan See giok
dengan wajah serius.
"Anak giok, cepat berlutut dan mengangkat sumpah
dihadapan sucoumu, kau harus menyatakan kesetianmu
untuk selama hidup melaksanakan perintah sucou serta
menaati peraturannya."
Lan See giok mengiakan dengan hormat, dia maju
beberapa langkah ke depan dan menjatuhkan diri berlutut,
kemudian sambil memandang sepasang "lian" di sisi pintu,
ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh:
"Murid angkatan ke tiga Lan See giok dengan hormat
melaporkan kepada arwah Su-cou dialam baka, tecu
bertekad akan meneruskan kejayaan sucou dan bersumpah
akan menaati setiap peraturan yang ditetapkan perguruan
serta menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia
persilatan, bila tecu sampai melanggar sumpah ini, biar
Thian melimpahkan kutukannya kepadaku."
Selesai bersumpah, dia menyembah lagi beberapa kali.
Tatkala Lan See giok mengucapkan sumpah nya tadi,
dengan sorot mata yang tajam To Seng-cu mengamati terus
gerak gerik Lan See giok, tapi akhirnya dia manggut-
manggut sambil tersenyum girang.
http://kangzusi.com/
Setelah bangkit berdiri Lan See giok bersama gurunya, Si
Cay soat dan Siau thi gou menutup kembali pintu gua.
Tiba di ujung ruangan, To seng cu duduk bersila kembali
dikasur duduknya, kemudian memerintahkan Lan See giok
berlutut di hadapannya dan menitahkan Si Cay soat serta
Siau thi gou berdiri di sisinya.
Dengan sorot mata yang lembut To Seng cu mengamati
wajah Lan See giok, lalu ujarnya dengan lembut:
"Anak giok, sebelum mempelajari kitab cinkeng, terlebih
dulu hendak kusampaikan beberapa pesan kepadamu, harap
kau suka mengingatnya dihati."
Lan See giok mengiakan berulang kali dan manggut-
manggut pelan-pelan To Seng cu melanjutkan kata katanya:
"Ke satu, untuk mempelajari ilmu silat maha sakti yang
tercantum dalam kitab cinkeng, selain tergantung pada
bakat, kecerdasan serta daya ingat seseorang, juga
tergantung besar tidaknya rejekimu, tulisan di atas Pwee
yap tersebut hanya akan muncul sekali setiap enam puluh
tahun hurufnya amat banyak dan ilmu silatnya beraneka
ragam, kau harus menggunakan segenap daya ingatmu
untuk menghapalkan semua catatan tersebut."
"Ke dua, sebelum mempelajari isi cinkeng itu, kau harus
berusaha menenangkan pikiran serta membuang jauh-jauh
semua pikiran yang tak berguna, tak boleh dicekam
perasaan panik, ingat waktu sangat berharga bagimu, kau
harus menggunakan saat yang amat singkat dimana aku
akan mempertahankannya dengan seluruh tenaga untuk
membaca dan menghapalkan secara teliti.
"Selain dari pada itu, gangguan macam apapun yang
datangnya dari luar tidak akan mengganggu konsentrasiku,
biar ada golok diayunkan ke leherku juga percuma, dalam
http://kangzusi.com/
hal ini kau harus ingat baik-baik, sekali pikiranmu
bercabang. bukan hanya kau bakal tewas, akupun akan
mengalami jalan api menuju neraka sehingga berakibat
cacad seumur hidup-!"
Si Cay soat yang mendengarkan perkataan itu segera
berkerut kening, wajahnya berubah hebat diam-diam ia
berdoa semoga engkoh gioknya bisa berhasil dengan sukses.
Sebaliknya Siau thi gou berdiri bodoh di situ, ia benar-
benar tak pernah menyangka kalau untuk mempelajari kitab
cinkeng pun bakal menghadapi ancaman yang begitu serius,
karenanya saking gelisahnya peluh sampai jatuh
bercucuran.
Sambil berlutut dihadapan To Seng cu, diam-diam Lan
See giok mengatur per-napasan dan berusaha keras untuk
menenangkan pikiran dan perasaannya yang bergolak.
Menyaksikan wajah tegang dan panik yang mewarnai
wajah Lan See giok sudah lenyap tak berbekas, To Seng cu
merasa gembira sekali, ia segera berkata lebih jauh:
"Sewaktu berada di kuburan kuno, aku memberi
beberapa tetes sari susu batu kemala kepadamu sehingga
tenaga dalam yang kau miliki sekarang telah melipat ganda,
ketajaman matamu bisa melebihi sinar sang surya, oleh
sebab itu aku tidak kuatir kau tak bisa membaca tulisan di
atas pwee yap ini."
Sambil berkata dia membuka kotak kecil itu,
mengeluarkan ke tiga biji pwee yap tadi dan diletakkan di
atas telapak tangan.
Dengan bersungguh hati dan serius Lan See giok
mengatur napas, dia tak berani menyabangkan pikirannya,
oleh sebab itu ia pun tak sempat memikirkan apa yang
disebut sari susu batu pualam itu.
http://kangzusi.com/
Dalam pada itu To seng cu telah merangkapkan
tangannya menjadi satu dengan menjepit ke tiga pwee yap
tadi dalam telapak tangannya, setelah menitahkan kepada
Lan See giok agar berlutut di depan sepasang lututnya. dia
berpesan lagi: "Anak giok, kau harus tahu, rejeki setiap
orang berbeda, pengalaman yang dijumpai pun tidak sama,
bahkan nasibpun berbeda, kau harus membawa tekad
menyerahkan segalanya kepada yang kuasa. Pasrah
sepenuhnya kepada Thian sambil membaca kitab itu,
mengerti?"
Lan See-giok segera memahami maksudnya, seketika itu
juga pikirannya terasa terbuka, dengan cepat dia
mengangguk:
Akhirnya To Seng cu memandang sekejap lagi kearah
Lan See giok kemudian baru memejamkan mata rapat-
rapat, sepasang tangannya menggenggam ke tiga biji Pwee
yap itu lekat-lekat dan meletakkannya di atas lutut di depan
dada.
Lan See giok sendiripun berhasil menenangkan
pikirannya bagaikan air. sorot matanya memandang lurus
ke depan dan tenang bagaikan pendeta tua.
Pikirannya bersih dan perasaannya kosong, Si Cay soat
serta Siau thi gou berdiri serius di sampingnya, mereka
memusatkan seluruh perhatiannya sambil mengawasi
gurunya serta Lan See giok dengan serius.
Suasana dalam ruangan itu sangat hening, sedemikian
sepinya sehingga tak kedengaran sedikit suarapun.
Paras muka To Seng-cu berubah menjadi merah
membara, lambat laun peluh mulai bercucuran membasahi
jidatnya, uap putih menguap dari ubun-ubunnya dan
membaur dengan bau dupa yang memenuhi seluruh
ruangan.
http://kangzusi.com/
Lan See giok berlutut di depan To Seng-cu, ia merasa
udara sangat panas bagaikan kobaran api, bahkan menerpa
tubuhnya berulang-ulang, namun terhadap perubahan
mimik muka dari To Seng cu itu, dia berlagak seakan akan
tidak melihatnya:
Si Cay soat serta Siau thi gou juga ikut merasakan
meningkatnya suhu udara di sekitar mereka. perasaan
tegang pun semakin bertambah, tanpa terasa peluh-
bercucuran deras, hatipun ikut berdebar
Mendadak -
To Seng-cu merentangkan kedua ibu jari tangannya ke
samping, segulung cahaya tajam segera memancar ke luar
ke atas langit-langit gua, seketika itu juga suasana di dalam
gua menjadi terang benderang-
Lan See giok tak berani berayal, sambil membungkukkan
badan, sepasang matanya mengawasi kedua ibu jari To seng
cu lekat-lekat, seluruh tenaga dalamnya telah di himpun
dan perhatiannya dipusatkan ke atas telapak tangan
gurunya.
Dari balik telapak tangan gurunya, ia merasa datangnya
pancaran sinar tajam yang amat menusuk pandangan
membuat matanya terasa sakit seperti ditusuk-tusuk pisau.
Sambil berusaha menahan rasa sakit Lan See giok
mengerahkan tenaga dalam nya untuk bertahan, biarpun
sepasang matanya seakan akan melihat sinar matahari, tapi
sekarang dia tidak merasa semenderita tadi lagi.
Menyusul kemudian segulung bau harum muncul dari
tenggorokannya, dan sepasang matapun terasa segar
kembali.
http://kangzusi.com/
Lambat laun cahaya tajam yang menusuk pandangan itu
mulai hilang, menyusul kemudian muncul huruf-huruf dari
emas.-
Lan See giok sangat girang, secara berurutan diapun
membaca terus.
Hud kong sin kang (Hawa sakti cahaya Buddha ), - .
Yu-hong-hui heng ( Menunggang angin terbang melayang ) . . .
Pwee-yap sam-ciang ( tiga pukulan Pwee-yap) .
Thi siu-yau-kong ( ujung baju baja mengebas udara ). . . .
Setelah membaca ke empat nama ilmu silat -tersebut,
Lan See giok segera membaca pula isi pelajarannya dengan
seksama . . .
Dalam pada itu, Si Cay soat dan Thi- gou yang berdiri di
kedua belah sisinya merasa amat tegang, peluh dingin jatuh
bercucuran, mereka tak tahu apakah Lan See giok dapat
membaca isi pelajaran dalam pwee yap itu atau tidak?
Suasana dalam gua amat sepi, sedemikian sepinya
sampai dapat terdengar suara detak jantung masing-masing.
--
Pada saat itulah- - -
Sreeet-
Suara desingan besi bergema datang disusul suara
pekikan nyaring yang berkumandang datang secara lamat-
lamat.
Si Cay soat serta Siau Thi gou sangat terkejut, dengan
wajah berubah hebat mereka segera memasang telinga baik-
baik dan mendengarkan dengan seksama.
Kalau diamati secara teliti, suara pekikan nyaring itu
seakan akan berasal diri kamar tidur Si Cay soat.
http://kangzusi.com/
Tergerak hati Si Cay soat, dia seperti memahami akan
sesuatu, setelah menuding kearah gurunya dan Lan See
giok yang sedang berlutut membaca kitab cinkeng itu
kepada Siau thi gou. di mana ia minta Siau thi gou
melindungi keselamatan mereka, diam-diam ia melompat
mundur sejauh tiga kaki dan menuju ke ruang batu.
Setelah berada di pintu ruangan. ia dapat menangkap
suara pekikan nyaring itu bergema semakin nyaring.
Dengan cepat Si Cay soat melompat naik ke ruang
tidurnya, tapi apa yang kemudian terlihat membuat sekujur
tubuhnya gemetar keras, mukanya berubah hebat, hampir
saja ia menjerit kaget.
Ternyata pedang Jit hui kiam tersebut telah lolos sendiri
dari sarungnya sebanyak beberapa inci, cahaya yang tajam
dan pekikan yang amat nyaring tak lain berasal dari pedang
tersebut.
Si Cay soat segera manggut-manggut mengerti,
gumamnya kemudian dengan suara gagap:
"Orang kuno bilang: Pedang antik yang berjiwa, akan
memberi tanda bahaya bila ada musibah mengancam,
Jangan-jangan ada orang yang hendak menyatroni kami?"
Berpikir demikian, hatinya menjadi amat gelisah dengan
cepat dia menyambar pedang Jit-hoa-kiam dan menaiki
anak tangga batu menuju ke rumah batu di atas tebing.
Karena teringat olehnya bisa jadi ada orang telah
menyusup masuk ke dalam barisan pohon bambu.
Setibanya di ujung jalan, ia tak berani langsung
membuka tombol rahasia, mula-mula diintipnya dulu lewat
celah-celah pintu dan memasang telinga baik-baik, setelah
yakin kalau tiada orang, dia baru menekan tombol dan
masuk ke dalam rumah.
http://kangzusi.com/
Suasana dalam rumah batu gelap gulita, pintu dan
jendela masih tertutup rapat maka ia berjalan menuju ke
depan jendela. Belum pernah Si Cay soat merasakan
perasaan gugup dan panik seperti apa yang dialaminya pada
hari ini. karena dia tahu bila dalam keadaan seperti ini
benar-benar ada orang menyerang datang, maka bukan saja
engkoh gioknya bakal tewas, gurunya juga akan mengalami
jalan api menuju neraka. .
Di samping itu diapun bisa menduga yang berani
menyerang ke tempat kediaman mereka sudah pasti
merupakan gembong iblis dari kalangan hitam yang berilmu
silat sangat tinggi.
Berpikir sampai di situ, tanpa terasa tangan kanannya
meraba pedang Jit hoa kiam.
Tiba di depan jendela, dia mengintip ke luar lewat celah-
celah jendela. tampak malam gelap mencekam seluruh
jagad, bintang bertaburan dimana mana, suasana amat
hening.
Tapi perasaan Si Cay soat waktu itu- dicekam oleh
perasaan tegang bercampur ngeri.
Dia memusatkan seluruh perhatiannya untuk melihat
dan mendengarkan keadaan di seputar sana dengan
seksama diperiksanya barisan bambu lebih kurang tujuh
delapan kaki dihadapannya ..
Mendadak..
Suara pekikan nyaring yang menggidikkan hati
berkumandang dari atas puncak giok-li-hong di belakang
bangunan rumah itu.
Pekikan aneh tadi memanjang dan sangat menggetarkan
perasaan, dalam sekilas pandangan saja orang sudah tahu
http://kangzusi.com/
kalau pendatang memiliki tenaga dalam yang amat
sempurna.
Si Cay soat amat terkejut, dengan cepat dia melompat ke
jendela belakang, apa yang terlihat segera membuat sekujur
badannya gemetar keras.
Sesosok bayangan hitam yang tinggi besar sedang
melayang turun dari puncak bukit, sepasang matanya
memancarkan cahaya tajam, lengannya direntangkan lebar-
lebar ketika meluncur turun sehingga keadaannya tak jauh
berbeda seperti seekor burung rajawali raksasa.
Begitu kagetnya Si Cay soat, dia sampai terjongkok
sambil mengintip, sorot matanya yang tajam mengawasi
bayangan hitam yang meluncur datang itu tanpa berkedip,
saat itu dia tak tahu apakah gurunya telah selesai
mengerahkan tenaganya atau belum, diapun tak tahu
apakah Siau thi gou bisa mengendalikan diri atau tidak.
Tidak meleset dari dugaan Si Cay soat. Siau thi gou yang
melihat enci Soatnya lama juga belum kembali, hatinya
menjadi amat gelisah. apalagi setelah mendengar suara
pekikan aneh yang menggidikkan hati itu, saking cemasnya
dia sampai mandi keringat.
Ia tahu, pendatang itu sudah pasti seseorang yang
memiliki ilmu silat amat tinggi, bagaimana mungkin enci
Soatnya seorang dapat menghadapi pendatang tersebut.
Maka dia memutuskan untuk membangunkan gurunya.
Begitu mengambil keputusan dalam hatinya, Siau thi gou
dengan wajah gugup dan gelisah segera berjalan
menghampiri To Seng cu yang berada dalam keadaan kritis.
Pepatah kuno mengatakan. Setiap persoalan telah diatur
oleh Thian Yaa, mana mungkin To Seng cu akan menduga
datang nya lawan tangguh dalam keadaan seperti ini?
http://kangzusi.com/
Dengan perasaan gelisah dan gugup Siau thi gou berjalan
menuju ke hadapan To Seng cu, baru saja dia akan
membuka suara, tiba-tiba dilihatnya To Seng cu berkerut
kening, paras mukanya berubah menjadi pucat, peluh
membasahi seluruh jidatnya.
Ketika memandang pula Lan See giok yang berlutut di
atas tanah, di jumpai sepasang tangannya basah oleh
keringat. sepasang matanya seolah-olah menempel di atas
tangan gurunya dan berada dalam keadaan tak sadar.
Siau thi gou yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi
terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya. ia
berdiri termangu.
Ia tak habis mengerti mengapa suhu dan engkoh giok
nya bisa berada dalam keadaan seperti ini, dia pun tak tahu
harus memanggil mereka atau jangan.
Sementara itu, Lan See giok yang berlutut di atas tanah
dan baru saja selesai membaca empat macam rahasia ilmu
silat, secara lamat-lamat dia telah menangkap pekikan suara
aneh tersebut, namun untung nya dia tak sampai
terpengaruh oleh suara itu.
Dalam keadaan demikian, si anak muda tersebut segera
melanjutkan usahanya membaca dua macam ilmu silat
yang terakhir yakni, Hud lek kim kong sin ci (jari sakti
tenaga Buddha ) serta Tay l o kiu thian kiam hoat,
Pada saat dia selesai membaca jurus terakhir dari ilmu
pedang Tay lo kiu thian kiam hoat tersebut, mendadak
cahaya tajam yang semula terpancar ke luar dari ke tiga biji
Pwee yap tersebut menjadi suram dan seluruh tulisan turut
hilang lenyap tak berbekas.
http://kangzusi.com/
Lan See giok tak ingin gurunya terlalu banyak
kehilangan tenaga, ia segera mengangkat kepala sambil
bangkit berdiri.
Paras muka To seng cu pucat pias, peluh bercucuran
deras, pelan-pelan dia membuka mata dan memandang
sekejap kearah Siau thi gou, kemudian setelah menghela
napas katanya:
"Segala sesuatunya sudah diatur oleh takdir, hal ini tak
bisa salahkan Thi gou- tak mampu melindungi kita, apa lagi
aku pun sebelumnya lupa berpesan dengan jelas kepadanya
sehingga ketidak tahuan Thi gou telah membuyarkan
segenap hawa murniku yang telah terhimpun."
Setelah berhenti sebentar, dengan wajah penuh perasaan
menyesal dia menengok ke arah Lan See giok dan katanya
lebih jauh.
"Anak giok, bukan saja aku telah menyia nyiakan pesan
sucou mu, aku pun merasa amat menyesal kepadamu”
Lan See giok merasa sangat tidak mengerti dengan
perkataan gurunya itu, dengan hormat dia segera berkata:
"Suhu, anak giok telah selesai membaca seluruh isi kitab
Pwee yap cinkeng tersebut serta menghapalkan ke enam
macam ilmu silat yang tercantum di dalamnya, mengapa
suhu malah berkata begitu”
0ooo0dw0ooo0

BAB 15
Tiba-tiba To Seng cu membelalakkan sepasang matanya
lebar-lebar, wajahnya berubah dan ia bertanya dengan
perasaan amat terkejut: "Anak giok, apa kau bilang!"
http://kangzusi.com/
"Anak giok telah selesai membaca ke enam macam ilmu
silat yang tercantum dalam kitab tersebut" sahut pemuda itu
dengan hormat.
To seng cu benar-benar tidak percaya dengan
pendengaran sendiri, tak tahan lagi ia bertanya agak emosi.
"Anak giok, kau bilang berapa macam?"
Menyaksikan gurunya terkejut, Lan See giok tahu kalau
sesuatu keajaiban pasti telah menimpa dirinya. maka
dengan penuh kegembiraan dia berkata:
"Seluruhnya enam macam."
"Coba kau sebutkan satu persatu."
"Dua macam pada bagian permulaan adalah ilmu Hud
kong sin kang serta Yu hong hui heng, pada bagian ke dua
adalah ilmu pwee yap sam ciang serta Thi siu you khong.
sedangkan pada bagian yang terakhir adalah ilmu jari Hud
lek kim kong sin ci serta Tay lo kiu thian kiam hoat"
"Anak giok, apakah kau dapat menghapalkan ke enam
macam ilmu tersebut tanpa melupakan sepatah kata saja?"
tampaknya To seng-cu masih saja tidak percaya.
Tanpa ragu Lan See-giok segera mengangguk:
"Anak giok yakin tidak bakal salah!"
To Seng-cu segera mengawasi wajah Lan See-giok lekat-
lekat, sampai lama kemudian ia baru menghela napas
sambit katanya:
"Anak giok, rejekimu selain lebih tebal .daripada diriku,
kecerdasanmu juga jauh melebihi aku. Dahulu aku mesti
membuang waktu selama dua setengah jam, dari tengah
malam sampai mendekati fajar untuk menyelesaikan ke
lima macam ilmu silat tersebut, tapi kenyataan nya
sekarang kau berhasil mempelajari enam macam ilmu silat
http://kangzusi.com/
dalam satu jam, kemampuanmu ini sungguh membuat aku
kurang percaya..!
"Anak giok tidak berani membohongi suhu." .
To Seng cu segera tertawa ramah, katanya dengan
gembira:
"Nak, aku percaya kepadamu, hanya saja kejadian
semacam ini sungguh membuat aku merasa terkejut,
tercengang dan sangat gembira.."
Setelah berhenti sejenak dan memandang sekejap Siau-
thi-gou yang masih berdiri dengan tertegun, dia berkata
lebih jauh:
"Biasanya Thi gou bodoh, setiap menghadapi peristiwa
tak tahu untung ruginya, mungkin dia mendengar suara
pekikan aneh tersebut sehingga dia telah memasuki daerah
sekitarku yang telah kupancari hawa Hud-kong-sin-kang,
justru karena hatiku tergerak maka huruf-huruf pada Pwee-
yap tersebut segera hilang lenyap tak berbekas.."
Belum selesai dia berkata, suara gelak tertawa yang amat
nyaring telah berkumandang datang dari atas tebing.
Mendengar gelak tertawa tersebut, To Seng-cu kelihatan
agak berubah wajahnya, dia seakan-akan telah teringat akan
sesuatu..
Tak lama kemudian, terdengar seseorang telah berseru
lantang diiringi gelak tertawa keras:
"Haaahhh . . . haaahhh . . . haaahhh . . . budak cilik, kau
kira setelah bersembunyi di belakang jendela maka aku
tidak dapat melihatmu? Ayo cepat suruh gurumu ke luar
untuk menyambut kedatangan aku si makhluk tua . . . "
Mendengar seruan itu, To Seng cu segera berseru kepada
Thi gou yang masih berdiri termangu:
http://kangzusi.com/
"Thi gou, cepat, beritahu kepada enci Soat mu, buka
pintu dan sambut dia masuk kalian suguhkan semangkuk
arak dulu kepada orang itu. . katakan kalau aku akan segera
datang."
Siau thi gou segera menenangkan hatinya dan
mengiakan dengan hormat, kemudian membalikkan badan
dan berlalu dari situ:
To Seng cu seperti teringat lagi akan sesuatu, dengan
cepat dia berpesan kepada bocah itu:
"Gou ji, ingat! Kau jangan bilang kalau aku sedang
mewariskan ilmu silat kepada engkoh giok mu!"
Siau thi gou berhenti sebentar seraya manggut-manggut,
kemudian ia menuju ke ruang sebelah kanan dan melompat
naik ke atas
Lan See giok yang menyaksikan kesemua nya itu
menjadi bimbang dan tidak habis mengerti, kalau didengar
dari nada pembicaraannya, agaknya orang itu sering
berkunjung ke sana, tapi kalau dilihat dari sikap gurunya,
seakan akan dia menaruh prasangka jelek serta
kewaspadaan terhadap orang ini.
Sementara ia masih termenung, tiba-tiba To Seng cu
berkata lagi dengan gelisah:
"Anak giok, cepat kau bacakan lagi pelajaran dari ilmu
pukulan Pwe yap sam ciang."
Memandang sikap gurunya. Lan See giok tahu sudah
pasti gurunya tak sempat membaca rahasia ilmu silat ini
hingga selesai di masa lalu, maka setelah manggut-manggut
dia bangkit berdiri.
http://kangzusi.com/
Menyusul kemudian dia melompat mundur sejauh dua
kaki, berdiri dihadapan To Seng cu dan berkata dengan
suara rendah:
"Himpun tenaga pada sepasang tangan, sebar hawa
murni ke seluruh tubuh, keras, ganas, buas, tepat sekali
serang sekali kena. lambat, lamban, melayang, mengapung,
salurkan tenaga murni menembusi ujung jari - "
Berbicara sampai di situ, dia menghimpun hawa
murninya dan berbisik lebih jauh:
"Jurus pertama Siang-yap-biau-khong (daun salju terbang
melayang)"
Tubuhnya melambung ke udara secara tiba-tiba,
nampaknya saja lamban namun kenyataannya sangat cepat,
dalam waktu singkat ia telah mencapai langit-langit gua.
Menyusul kemudian tubuhnya melejit sambil berputar,
secepat kilat sepasang tangannya direntangkan sambil
menyambar ke bawah-
Tatkala hampir menyentuh tanah, badannya berputar
satu lingkaran sambil melayang dengan kepala di bawah
kaki di atas pelan-pelan dia melambung kembali ke atas
Tatkala mencapai tengah angkasa, sepasang telapak
tangannya segera dirapatkan, tubuhnya meluncur ke bawah
dengan cepat, secepat kilat telapak tangan kanannya
melepaskan bacokan..
Menyusul kemudian badannya berputar dan melayang
kembali ke atas tanah.
To Seng cu duduk bersila dengan wajah serius,
diperhatikannya setiap gerakan dan perubahan jurus Lan
See-giok dengan seksama, dalam perasaannya, selain
beberapa orang tokoh yang maha sakti dalam dunia
http://kangzusi.com/
persilatan dewasa ini, rasanya jarang sekali ada yang
mampu menerima ancaman itu.
Sedangkan mengenai jurus yang ke dua, mungkin dia
sendiripun tak mampu untuk menghadapinya.
Melihat gurunya hanya duduk sambil mendengarkan
dengan seksama, Lan See giok pun berkata lebih jauh:
"Jurus ke dua, Hong- ki-yap-yang (angin berhembus
daun berguguran)"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, bayangan
tangan segera menyelimuti seluruh angkasa, menyusul
kemudian deruan angin serangan yang sangat mengerikan
melanda kemana-mana, seluruh ruang gua seolah-olah
sudah diliputi oleh angin pukulan itu. Mendadak dibalik
bayangan tangan yang menyelimuti angkasa itu
berkumandang suara bentakan rendah, bayangan tangan
segera lenyap tak berbekas, sedangkan Lan See giok dengan
tangan sebelah di muka. tangan yang lain berada di
belakang secepat kilat membabat kearah permukaan tanah,
menyusul kemudian sepasang telapak tangannya bergerak
aneh. babatan yang langsung membacok ke tanah itu
disertai dengan suatu sodokan yang luar biasa sekali.
Selama muridnya melakukan demonstrasi, To Seng-cu
memperhatikan terus dengan seksama, sampai muridnya
sudah berhenti, sambil mengelus jenggotnya dia baru
manggut-manggut berulang kali:
Melihat hal itu, Lan See-giok segera berkata lagi dengan
suara hormat:
"Jurus ke tiga, Ban yap- kui tiong(selaksa daun
sumbernya satu)”
Kembali tubuhnya melejit ke tengah udara hingga
mencapai langit-langit gua tersebut. diiringi bentakan keras
http://kangzusi.com/
seluruh gua diliputi oleh bayangan tangan yang amat
menyilaukan mata-
Mendadak -
Kabut serangan memenuhi seluruh gua dan menggulung
ke bawah, dari tebal lambat laun menjadi tipis, dari besar
kian mengecil, dalam waktu singkat tinggal bentuk setitik.
Dalam gulungan angin serangan mana, Lan See-giok
menyentilkan ke sepuluh jari tangannya ke depan, desingan
tajam menderu deru, kabut tipis menyelimuti ang-kasa dan
berhamburan ke tanah seperti hujan deras.
Awan pukulan begitu mereda, desingan tajam seketika
berhenti, bayangan manusia berkelebat dan Lan See-giok
tahu tahu sudah berdiri di tengah arena.
Disaat Lan See-giok baru saja menghentikan gerakan
tangannya. mendadak ia menangkap bayangan manusia
berkelebat dari luar pintu ruangan sebelah kiri kemudian
menyusul munculnya seorang kakek yang tinggi besar.
Si Cay soat serta Siau thi gou mengikuti di belakang
kakek itu dengan wajah gugup bercampur gelisah.
Lan See-giok tak berani membalikkan badan untuk
mengamati dengan sesama wajah pendatang itu, dia
berlagak tidak melihat, kepada To Seng cu katanya
kemudian dengan hormat:
"Tolong tanya suhu, apakah kali ini anak Giok telah
melakukan kesalahan lagi?"
Sebenarnya To Seng cu juga telah melihat akan
kedatangan dari kakek yang tinggi besar itu, namun dia juga
berlagak seakan akan tidak melihat, malah sambil manggut-
manggut dan mengelus jenggotnya ia menyahut:
http://kangzusi.com/
"Ehmm, bagus sekali, kali ini kau telah peroleh
kemajuan yang lebih pesat ketimbang tempo hari, cuma kau
mesti berlatih lagi dengan tekun bila ingin mendapatkan
kesuksesan di kemudian hari."
Sebelum Lan See-giok sempat menjawab, dari belakang
tubuhnya sudah berkumandang suara gelak tertawa keras
yang menggetarkan seluruh ruang gua menyusul kemudian
seseorang berkata dengan suara yang kasar:
"Aku kira ada urusan apa sehingga melarang diriku
masuk, rupanya kau sedang mewariskan ilmu pukulan
kepada murid kesayanganmu!”
Sementara berbicara, dia telah melangkah masuk ke
dalam ruang gua..
Tergerak hati Lan See-giok, dia kuatir orang itu datang
dengan maksud tak baik cepat-cepat ia bangkit berdiri
seraya berpaling.
Seorang kakek berambut kusut yang memiliki perawakan
tubuh tinggi besar kini sudah muncul di sana.
Kakek tersebut beralis mata tebal dan mata besar,
wajahnya lebar, hidungnya besar dan mulutnya lebar,
jenggot putihnya terurai sepanjang dada, pakaian
panjangnya terbuat dari bahan belacu dan panjangnya
mencapai setinggi lutut.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu kakek
itu berjalan ke hadapan Lan See-giok serta mengamatinya
dari atas hingga ke bawah. kemudian kepada To Seng cu
yang baru saja bangkit untuk menyambut kedatangannya, ia
bertanya dengan perasaan kaget bercampur tercengang:
"Ciu tua, sungguh heran, selama ini belum pernah
kujumpai seorang bocah dengan bakat yang begini bagus,
sebaliknya kau justru telah mendapatkannya."
http://kangzusi.com/
Seraya berkata tiada hentinya dia membelai tubuh Lan
See giok dengan telapak tangannya yang besar, sementara
wajahnya memperlihatkan perasaan iri, kagum dan sayang:
To Seng-cu mendongakkan kepalanya lalu tertawa
terbahak-babak:
"Haaahhh- -haaahhh -haaahhh saudara The kelewat
memuji, biarpun bocah ini berbakat bagus, namun
kebebalan otaknya justru membuat orang hampir tak
percaya, untuk mempelajari satu jurus ilmu pukulan saja,
aku mesti mengajarkan sampai belasan kali sebelum
berhasil!"
"Aaah, masa iya?" sekali lagi kakek itu mengawasi wajah
Lan See-giok dengan pandangan kurang percaya, "biarpun
ilmu pukulan tadi hanya sempat kulihat buntut nya saja,
tapi aku tahu jurus tersebut benar-benar sangat hebat dan
luar biasa jika ada orang yang bisa menguasai ilmu pukulan
seperti itu dalam sekali pandangan saja, wah, itu baru
manusia super namanya”
Sekali lagi To Seng-cu tertawa terbahak bahak:
"Haaahhh -haaahhh- -haaahhh- dari mana saudara The
bisa menyangka kalau ilmu pukulan tadi sudah memeras
pikiran dan tenaga siaute selama setengah tahun?"
Sementara berbicara, ketika dilihatnya Si Cay soat
sedang menyimpan kembali kotak kecil itu, maka kepada
Siau-thi gou yang masih berdiri termangu mangu dia
berseru:
"Gou ji. mengapa kau tidak segera mengambil arak
untuk menyambut kedatangan The locianpwe!"
Siau-thi-gou segera mengiakan dengan hormat,
membalikkan badan dan buru-buru berlalu dari situ.
http://kangzusi.com/
Kemudian kepada Lan See-giok, To Seng-cu juga
berkata:
"Anak Giok, cianpwe ini adalah Lam hay koay-kiat
(pendekar aneh dari Lam-hay) The cianpwe yang seringkali
kuperbincangkan denganmu, bersama Wan-san-popo dan
Si-to cinjin, mereka disebut Hay gwa-sam khi (tiga manusia
aneh dari luar lautan), ayo cepat kau jumpainya”
Sesudah mendengar pembicaraan antara gurunya dengan
si kakek berambut kusut tersebut, dengan cepat Lam See
giok dapat menyimpulkan kalau kedua orang itu bukan
sahabat karib yang sebenarnya, tapi berhubung si pendekar
aneh dari Lam hay menyebut Cia tua kepada gurunya, hal
ini membuktikan pula kalau diapun seorang cianpwe yang
telah berusia di atas seratus tahun.
Berpikir demikian, diapun menjura dalam-dalam seraya
berkata dengan hormat:
"Boanpwe Lan See-giok menjumpai The cianpwe!"
"Haaahhh..haaahhh ..haaahhh. cukup, tak usah banyak
adat!" seru kakek berambut kusut itu kasar diiringi gelak
tertawa keras.
Sementara itu, Siau. thi-gou telah menghidangkan sayur
dan arak secara tergopoh gopoh.
To Seng-cu segera menuju ke atas permadani
dihadapannya sambil berseru:
"Gou-ji, hidangkan saja di tempat ini!"
Pendekar aneh dari Lam-hay yang sesungguhnya
bernama The Bu-ho itu cepat mencegah:
"Cia tua, aku datang karena ada urusan penting, aku tak
berminat untuk minum arak, kalau tidak akupun tak bakal
menerjang masuk kemari secara tergesa gesa."
http://kangzusi.com/
"Aaah, rupanya begitu" To Seng cu berkerut kening
sambil berseru kaget.
Menggunakan kesempatan tersebut, katanya kemudian
kepada Lan See-giok bertiga.
"Kalian pergilah dulu, aku hendak berbincang-bincang
dengan The cianpwee."
Lan See-giok bertiga mengiakan dengan hormat lalu
beranjak pergi dari situ, sepeninggal ketiga orang itu. The
Bu-ho baru berkata dengan nada kurang puas:
"Cia tua, mengapa, kau suruh mereka ke luar dari sini?
Urusan ini toh tak ada salah nya diketahui mereka."
To Seng-cu tertawa hambar:
"Urusan besar dalam dunia persilatan lebih baik jangan
sampai diketahui oleh anak-anak muda."
Sebenarnya Lan See giok enggan beranjak pergi dari
ruangan tersebut, karena dia kuatir kakek berambut kusut
itu datang dengan membawa maksud jahat, namun setelah
mendengar ucapan gurunya, terpaksa dia harus mengikuti
di belakang Si Cay-soat dan Siau-thi-gou untuk masuk ke
ruang dalam.
Setelah tiba di ruang atas, mereka bertiga menelusuri
anak tangga menuju ke ruang batu di atas permukaan.
Waktu itu ruang batu diterangi sebuah lentera, di atas
mejapun terletak secawan besar arak.
Lan See giok segera berbisik lirih.
"Adik Soat, siapa sih kakek berambut kusut itu?
Mengapa kau ijinkan orang itu menerobos masuk ke dalam
gua?"
http://kangzusi.com/
Dengan perasaan agak mendongkol di samping rasa
takut masih mencekam perasaannya Si Cay-soat menjawab
lirih:
"Orang itu adalah makhluk tua dari Lam hay The Bu-ho,
orangnya kasar, hatinya kejam dan semua orang baik dari
golongan putih maupun dari golongan hitam sama-sama
jeri kepadanya, dia termasuk seorang makhluk tua yang
berdiri antara kaum sesat dan lurus. Kemungkinan besar
kedatangan nya kali ini bermaksud untuk adu kepandaian
dengan suhu guna memperebutkan kedudukan manusia
nomor wahid di kolong langit. ."
Lan See giok segera berkerut kening, kemudian serunya
dengan nada tak setuju:
"Kalau ditinjau dari nada pembicaraan makhluk tua itu,
rasanya dia bukan kemari untuk mengajak beradu
kepandaian, bisa jadi dia mempunyai tujuan lain."
Siau thi gou membelalakkan matanya lebar-lebar, lalu
katanya pula:
"Makhluk tua itu sangat tak sabaran, baru saja enci Soat
membukakan pintu, dia sudah bertanya dengan kasar:
"Dimana suhu mu." waktu kuhidangkan secawan arak dan
mengatakan suhu segera akan muncul, dia seperti tak sabar
lagi untuk menanti!"
Pelan-pelan Lan See giok mengangguk, seakan-akan
memahami sesuatu dia berkata:
"Kalau begitu. hal ini semakin membuktikan kalau dia
bukan datang kemari untuk beradu kepandaian."
"Yaa, sayang suhu tidak mengijinkan kita turut
mendengarkan pembicaraan tersebut, kalau tidak kita tentu
akan mengetahui pembicaraan apa saja yang dilangsungkan
di situ." omel Si Cay soat.
http://kangzusi.com/
Tiba-tiba Siau thi gou membuka mata nya lebar-lebar,
kemudian bisiknya:
"Ayo berangkat, kita sadap saja pembicaraan mereka,
coba lihat apa saja yang dibicarakan makhluk tua itu."
"Jangan adik Gou," dengan cepat Lee See giok
mencegah. "setelah makhluk tua itu pergi, suhu tentu akan
memberitahukan kepada kita . . .
Belum habis dia berkata, mendadak dari balik gua
terdengar suara gelak tertawa makhluk tua dari Lam hay
yang amat keras disu-sul, seruannya dengan nada lantang:
"Kalau begitu, aku The-tua akan berangkat selangkah
lebih duluan . , . "
Buru-buru Lan See giok berbisik kepada Si Cay soat dan
Siau thi gou:
"Si makhluk tua itu akan pergi!"
Betul juga, dari bawah sana segera terdengar suara ujung
baju yang terhembus angin bergema datang.
Menyusul kemudian bayangan manusia berkelebat lewat,
makhluk tua, dari Lam hay serta To Seng cu secara
beruntun sudah muncul dari gua dan langsung menuju ke
luar ruang batu.
Terdengar si makhluk tua dari Lam-hay berseru kembali.
"Cia tua, kita berjumpa lagi di tempat kediaman Wan-
san popo.."
"Haaahhh.haaahhh..haaahhh. ., silahkan saudara The
berangkat dulu, maaf aku tak dapat menghantar lebih jauh"
sahut To Seng- cu sambil tertawa terbahak-bahak.
Menanti Lan See giok bertiga menyusul ke luar dari
ruangan, ternyata Lam-hay lokoay sudah berada tujuh
http://kangzusi.com/
delapan kaki jauhnya dan tiba di ujung hutan sana,
kemudian dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah
lenyap dari pandangan mata.
Diam-diam Lan See-giok merasa amat terkejut, dia tak
mengira kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki
makhluk tua tersebut benar-benar sudah mencapai puncak
kesempurnaan.
Sementara itu fajar sudah mulai menyingsing di ufuk
timur, kabut tipis masih menyelimuti permukaan tanah,
namun udara sangat segar, membikin bergairahnya
semangat hidup setiap orang.
Dengan kening berkerut dan mengelus jenggotnya, To
Seng-cu mengawasi ujung hutan dimana bayangan tubuh
Lam-hay Lo-koay melenyapkan diri tanpa berkedip, lama-
lama kemudian ia baru berguman lirih:
"Badai dunia persilatan sudah tiba, kawanan iblis mulai
bermunculan, tampaknya kata kata yang menyebutkan, bila
sepasang pedang bergeser tempat, badai darah melanda
bumi. sungguh cocok sekali dengan kenyataan.”
Lan See giok segera merasakan hatinya bergetar keras,
ucapan itu pernah didengar olehnya dari ayahnya, jika
ditinjau dari nada pembicaraan gurunya sekarang,
bukankah dunia persilatan bakal dilanda oleh suatu
bencana yang sangat besar?
Mendadak To Seng-cu seperti teringat akan sesuatu,
mendadak ia berkata:
"Aaah. Ayo kita masuk, dia telah pergi jauh"
Sambil membalikkan badan dia masuk ke ruang dalam
dan duduk di depan meja.
http://kangzusi.com/
Sedang Lan See-giok bertiga masuk mengikuti di
belakang gurunya kemudian berdiri hormat di sampingnya.
Dengan cepat Lan See-giok menjumpai kerutan kening
gurunya, seolah-olah ada suatu masalah yang terpendam
dalam hatinya dan menjadi beban pikiran, kendatipun
senyuman masih tetap menghiasi ujung bibirnya.
Berapa saat kemudian, To Seng-cu baru berpaling kearah
Lan See - giok bertiga sambil berkata lembut:
"Berhubung ada suatu urusan yang penting, aku
bermaksud hendak pergi ke luar lautan"
Berubah air muka, Lan See-giok bertiga sesudah
mendengar perkataan ini.
Melihat perubahan wajah murid muridnya, To Seng cu
berkata lagi sambil tertawa ramah:
"Kalian bertiga tak usah takut, dalam kepergianku ini.
paling banter setengah tahun kemudian tentu sudah pulang
kembali ke rumah!"
"Apakah suhu tak akan mengajak Gou ji?" buru-buru
Siau thi-gou bertanya dengan wajah tak mengerti:
To Seng cu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak. masalah yang kuhadapi kali ini kelewat-berat.
karena itu kalian bertiga tak boleh ikut dan mesti tetap
tinggal dalam gua untuk berlatih ilmu silat secara rajin,
ingat jangan mencari gara-gara dengan orang luar"
Kemudian setelah memandang sekejap kearah Lan See-
giok dan Siau-thi-gou dengan kening berkerut, dia
melanjutkan, "Thi-gou orangnya jujur dan polos, jalan
pemikirannya kelewat sederhana, Giok-ji, kau sebagai
kakaknya harus baik-baik menjaga adikmu ini."
Dengan perasaan berat Lan See giok segera mengiakan.
http://kangzusi.com/
Kembali To Seng-cu berpaling kearah Si Cay-soat sambil
melanjutkan:
"Soat ji, selama ini kau selalu ingin menang sendiri. tak
mau kalah kepada siapapun, dalam kepergianku kali ini kau
mesti memperdalam ilmu pedang dan jangan sampai
mencari gara-gara terus, bila kepandaianmu sampai
ketinggalan, menyesal kemudian tak ada gunanya maka
kuanjurkan kepadamu berlatihlah diri dengan tekun."
Tergerak hati Lan See-giok mendengar ucapan tersebut,
dia tahu yang dimaksud gurunya sebagai ilmu pedang
adalah kitab pusaka dalam kotak emas kecil yang berada di
sisi pedang Jit-hoa- kiam.
Di samping itu. diapun tahu gurunya -sedang
memperingatkan. kepada adik Soatnya, bila tidak tekun
berlatih, di kemudian hari dia tentu akan kalah dengan
orang yang membawa pedang Gwat-hui-kiam.
Ternyata dugaannya memang betul, sambil tersenyum Si
Cay-soat segera berkata:
"Silahkan suhu pergi dengan hati lega, setengah tahun
kemudian Soat-ji tentu telah berhasil menguasai ilmu Tong
kong kiam-hoat tersebut. jika suhu telah pulang nanti, Soat-
ji pasti akan mempergunakannya untuk memohon petunjuk
dari suhu."
Dengan wajah gembira To Seng cu manggut-manggut,
ketika dilihatnya fajar telah menyingsing, diapun bangkit
berdiri seraya berkata lagi:
"Sekarang hari sudah terang tanah, aku akan segera
berangkat, ingat sebelum aku pulang, janganlah membuat
gara-gara dari pada memancing perhatian orang.!”
Seusai berkata, diapun melangkah ke luar dari ruangan.
http://kangzusi.com/
Selama-ini Lan See-giok mengamati terus perubahan
wajah gurunya, ia menjumpai disaat To Seng cu bangkit
berdiri tadi sekilas rasa sedih sempat melintas di atas
wajahnya yang ramah.
Kembali hatinya tergerak, cepat-cepat dia memburu
maju ke muka sambil serunya:
"Suhu . . . "
Mendengar panggilan itu To Seng-cu berhenti lalu
berpaling dan memandang sekejap ke arah Lan See-giok
sambil tertawa paksa mendadak seperti memahami sesuatu
diapun berkata:
"ANAK Giok kau mempunyai beban dendam kesumat
di atas pundakmu, aku tahu kau ingin secepatnya melacaki
jejak musuhmu itu, asal tenaga sinkangmu telah berhasil
dilatih, kau boleh turun gunung dan tak usah menunggu
aku sampai kembali."
Lan See-giok buru-buru memberi hormat, cuma diapun
segera menjelaskan.
"Tidak, anak Giok ingin turut suhu. selain menambah
pengetahuan juga peroleh banyak pengalaman yang
berharga"
Sekali lagi To Seng-cu menghela napas sedih.
"Anak Giok. seandainya pertemuan kita terjadi pada
setahun berselang atau peristiwa yang terjadi hari ini
berlangsung setahun kemudian, tanpa permintaanmu, aku
pasti akan mengutus kau seorang untuk pergi
menyelesaikan tugas ini.."
"Suhu, sekarang anak Giok telah berhasil mendapatkan
ilmu silat tersebut." tukas Lan See-giok cepat, "sudah
sepantasnya bila anak Giok mengikuti perjalanan suhu,
http://kangzusi.com/
ditengah jalan selain bisa melatih diri pun setiap saat bisa
minta petunjuk dari suhu, sudah dapat dipastikan kemajuan
yang kucapai akan luar biasa ..
To Seng cu tidak membiarkan Lan See giok
menyelesaikan kata katanya. dia segera memberi tanda
untuk mencegahnya berbicara lebih jauh, kemudian setelah
tersenyum sedih, dia berkata:
"Anak Giok, dasar utama dari ilmu silat yang tercantum
dalam cinkeng adalah Hud kong-sinkang, dengan dasar
tenaga dalam mu sekarang, bila melatih diri selama
setengah tahun akan terpupuk dasar yang kuat, berlatih
sepuluh tahun akan muncul sinar dalam tubuh, dan bila
sudah melatih diri selama seratus tahun, cahaya Buddha
akan melindungi seluruh tubuhmu. Dasar sinkang yang kau
miliki sekarang baru mencapai taraf permulaan, jika kau
mengikuti aku melakukan perjalanan jauh, yang pasti hanya
kerugian yang akan kau peroleh bagi kemajuan ilmu
silatmu, itulah sebabnya tinggallah kalian bertiga di dalam
gua sambil berlatih diri dengan tekun, biar pun aku berada
jauh di luar lautan, namun tak akan sedih memikirkan masa
depan kalian, tentunya ucapan ini kalian pahami bukan?"
Selesai berkata kembali dia awasi Lan See-giok bertiga
dengan sorot matanya yang penuh kasih sayang.
Lan See-giok, Si Cay-soat dan Siau-thi-gou bertiga
serentak mengiakan dengan hormat.
To Seng-cu tersenyum dan manggut-manggut, kembali
katanya. "Sekarang aku hendak pergi dulu, kalian harus
menjaga diri baik-baik."
Sambil mengebaskan ujung bajunya, diapun melayang ke
luar dari ruangan.
http://kangzusi.com/
Buru-buru Lan See-giok bertiga menjatuhkan diri
berlutut sambil berseru:
"Moga-moga suhu selamat dalam perjalanan dan cepat
pulang kembali ke rumah."
Menanti mereka bertiga mendongakkan kepalanya
kembali, gurunya sudah lenyap dari pandangan mata,
Pertama tama Lan See-giok yang bangkit berdiri lebih
dulu sambil berkata:
"Sebelum pergi wajah suhu menunjukkan rasa sedih, bisa
kita duga perjalanan suhu kali ini tentu banyak rintangan
dan kesulitan."
Tampaknya Si Cay soat tidak menemukan sesuatu yang
aneh pada gurunya, ketika menjumpai kemurungan Lan
See-giok, dia lantas berkata sambil tertawa:
"Engkoh Giok, kau memang kebangetan, suhu yang
ingin berpisah dengan kita sudah tentu menunjukkan rasa
berat hati, jangan lagi kedatangan lam hay lo koay bukan
untuk beradu kepandaian, sekalipun benar dengan
kepandaian sakti yang dimiliki suhu, apa yang mesti di
kuatirkan lagi ?"
"Tadi aku toh sudah bilang, mau menyadap pembicaraan
si makhluk tua itu, kenapa kalian berdua melarangku?"
gerutu Siau-thi gou pula dengan cepat. "sekarang suhu telah
pergi, apa yang hendak dilakukan ternyata tidak
diberitahukan kepada kita.."
"Suhu tidak memberitahukan masalahnya berhubung
beliau kuatir kita turut menguatirkan keselamatannya
sehingga hal ini akan mempengaruhi kemajuan yang bakal
kita capai di dalam ilmu silat," ujar Lan See -giok dengan
perasaan berat.
http://kangzusi.com/
Mendengar ucapan tersebut, tanpa terasa Si Cay-soat
tertawa cekikikan sambil menukas.
"Kalau sudah tahu, semestinya kita semua harus
menenangkan dulu pikiran agar bisa memusatkan pikiran
untuk berlatih diri, dengan demikian harapan suhu pun tak
sampai tersia siakan. Lagi pula selama tujuh delapan tahun
belakangan ini siau moay selalu mendampingi suhu, pernah
pula kusaksikan dua kali pertarungan suhu melawan
makhluk tua tersebut dan sekali pertarungan melawan si
nenek setan, namun selalu saja kepandaian suhu lebih tinggi
setingkat. Suhu selalu hidup terbuka dan jujur, ia disegani
setiap orang, biar menjumpai mara bahaya aku yakin akan
berubah menjadi selamat. Pendapatku, bila kita ingin
merebut hati suhu, turutlah nasehat dan pesan suhu
sebelum berangkat tadi"
Lan See giok menganggap perkataan tersebut memang
betul juga, dia manggut berulangkali, perasaannya juga
semakin terbuka, sedang Siau thi gou segera melototkan
sepasang matanya sambil berkata dengan sungguh-sungguh:
"Aku Thi-gou bersumpah, di saat suhu kembali nanti.
tujuh jurus ilmu naga dan harimau sudah berhasil
kugunakan secara baik, agar suhu tahu bahwa Gou - ji
bukan gentong nasi yang tak berguna."
Mendengar ucapan tersebut, Lan See-giok dan Si Cay
soat tak bisa menahan rasa gelinya lagi, mereka tertawa
terbahak bahak.
Sejak itu, Lan See giok dengan tekun mempelajari ilmu
Hud kong sin kang, Si Cay soat menekuni ilmu pedang
Tong kong-kiam hoat dan Siau-thi-gou melatih diri dengan
ilmu pukulan Liong hou jit si.
Beberapa hari lagi tahun baru akan tiba..
http://kangzusi.com/
Bunga salju yang turun sepanjang hari membuat seluruh
bukit Hoa-san diliputi warna putih keperak-perakan yang
sangat menyilaukan mata.
Orang bilang, tambah tahun tambah usia. Kini usia Lan
See-giok, Si Cay-soat dan Siau-thi-gou telah bertambah
setahun lagi.
Lan See giok telah mencapai usia tujuh belas tahun.
Tahun baru lewat. musim semipun tiba, dalam waktu
singkat bulan tiga yang nyaman pun telah menjelang.
Lan See giok yang menekuni ilmu silat nya telah peroleh
kemajuan yang sangat pesat, kenyataan tersebut membuat
anak muda tersebut sangat gembira sebab dia tahu
harapannya untuk membalas dendam semakin besar.
Ilmu pedang Tong- kong-kiam-hoat yang dilatih Si Cay-
soat pun sudah mencapai keberhasilan, kini tinggal
meningkatkan kematangannya.
Hanya Siau thi gou yang pada dasarnya memang bebal
otaknya, ditambah pula Liong hou jit si merupakan sejenis
ilmu pukulan yang dahsyat, maka walaupun sudah melatih
diri hampir tiga bulan lamanya, hasil yang diperoleh kecil
sekali.
Biarpun begitu. Siau thi gou yang bodoh justru memiliki
ciri kebodohannya, setiap hari dia melatih diri terus tanpa
berhenti, istirahatnya sangat jarang, akibatnya soal berburu
dan membuat nasi harus dikerjakan oleh engkoh Giok dan
enci Soatnya.
Lan See giok yang mendapat tugas dari gurunya untuk
memperhatikan adik Gou-nya, di samping melatih diri
dengan tekun sering-kali dia membangkitkan semangat
saudaranya itu agar melatih diri lebih tekun lagi.
http://kangzusi.com/
Dengan pengamatan yang seksama selama tiga bulan
terakhir ini, dapat disimpulkan kan olehnya bahwa ilmu
Liong hou jit si memang sangat hebat, begitu dikembangkan
angin pukulan yang dihasilkan sungguh luar biasa.
Si Cay-soat yang menganggap dirinya pintar boleh
dibilang sudah banyak tahun memperhatikan perubahan
jurus serangan Liong-hou jitsi itu, namun dia tak pernah
bisa mengetahui kelihaian dan kelebihan dari kepandaian
tersebut.
Maka setelah menyaksikan kemampuan engkoh Giok
nya yang bisa menguasai ilmu pukulan tersebut hanya
dalam mengamati berapa bulan saja, sadarlah dia bahwa
kecerdasan engkohnya memang jauh lebih hebat dari pada
dirinya.
Walaupun demikian ia sama sekali tidak merasa dengki
ataupun iri hati, malah sebaliknya dia sangat berharap
engkoh Giok nya bisa mempelajari pula ilmu pedang Tong-
kong-kiam-hoat.
Oleh sebab itu dia seringkali minta pada Lan See-giok
agar memberi petunjuk kepada nya, padahal seringkali
secara sengaja tak sengaja dia membeberkan rahasia ilmu
pedangnya.
Sebagai seorang pemuda yang cerdas, sudah barang tentu
Lan See-giok mengetahui akan maksud adiknya ini, hal
tersebut membuatnya sangat berterima kasih sekali kepada
adik seperguruannya ini.
Bulan lima kini menjelang, musim panas pun tiba.
Ilmu Hud-kong sin- kang yang dilatih Lan See-giok telah
mencapai puncaknya. Dengan ayunan ujung baju ia
sanggup menghancurkan batu dengan sentilan jari, mampu
mematahkan bambu, dengan ayunan tangan mampu
http://kangzusi.com/
membunuh harimau, boleh dibilang tenaga sakti itu bisa
dipergunakan sekehendak hatinya.
Ilmu pedang Tong-kong-kiam-hoat dari Si Cay-soat juga
mendapat kemajuan yang pesat, pedangnya bisa
dipergunakan secepat terbang, cahaya pedang yang
menyilaukan mata, hawa serangan yang menyayat badan,
betul-betul merupakan suatu ancaman yang berbahaya.
Sebaliknya Siau thi-gou di bawah bimbingan serta
petunjuk dari Lan See-giok, akhir nya juga menguasai ilmu
pukulan Liong hou-jit-si yang sangat hebat itu.
Keberhasilan yang dicapai membuat ke tiga orang itu
semakin getol berlatih, mereka semua berharap dapat
menunjukkan kebolehannya dihadapan gurunya sehingga
membuat gurunya gembira.
Hari ini matahari sudah bersinar ditengah angkasa. udara
bersih dan angin berhembus semilir. biarpun di musim
panas namun suasana terasa segar dan nyaman.
Si Cay soat dengan pakaian serba merah, rambut terurai
sebahu sedang berdiri tenang dimuka ruangan batu,
agaknya baru saja ia selesai-melatih ilmu pedangnya.
Lan See giok dengan jubah birunya dan senyum dikulum
sedang mengawasi Siau thi gou berlatih ilmu pukulan.
Pada saat itulah, Si Cay soat yang sedang mengawasi air
terjun dikejauhan sana seolah-olah teringat akan sesuatu,
mendadak ia berseru keras:
"Engkoh Giok, udara pada hari ini sangat indah, ayo
kuajarkan ilmu berenang kepadamu!"
Lan See giok yang mendengar tawaran tersebut menjadi
sangat gembira, serunya dengan cepat:
http://kangzusi.com/
"Baik, aku akan melepaskan jubah panjang dan berganti
celana dulu . .
Sambil berkata, buru-buru dia lari masuk ke dalam
ruangan.
St Cay soat segera tertawa cekikikan mendengar seruan
mana. demikian juga Siau thi gou segera tertawa terbahak-
bahak sambil serunya:
"Engkoh Giok. kau toh bukan bermaksud menangkap
ikan di selokan, buat apa kau lepaskan baju ganti celana?
Kau kan hendak belajar ilmu berenang di telaga?"
Lan See giok segera menghentikan langkah nya sesudah
mendengar perkataan tersebut, merah jengah selembar
wajahnya, sambil memandang ke arah Si Cay soat dan Siau
thi gou yang sedang menertawakan dirinya, dia berkata
kemudian agak tersipu-sipu:
"Tapi sayang ih-heng tidak punya pakaian untuk
berenang . . ."
"Aku punya sebuah pakaian renang yang terbuat dari
kulit ikan hiu, pinjamlah. ." seru Siau thi gou cepat.
"Oooh, kau sangat baik, terima kasih banyak adik Thi-
gou!"
"Tak usah sungkan, ayo ikutlah aku."
Dengan terburu buru mereka masuk ke dalam ruang
batu.
Si Cay soat sendiri hanya tersenyum sambil
membungkam diri, diapun mengikuti di belakang kedua
orang tersebut.
Setibanya di dalam kamar, Siau-thi-gou mengambil
sebuah bungkusan kecil dari tempat pakaiannya dan
diserahkan kepada Lan See-giok sambil serunya:
http://kangzusi.com/
"Ayo kenakan, tanpa benda ini jangan harap bisa
mempelajari ilmu berenang dengan baik!"
Lan See-giok tidak berniat untuk mendengarkan
obrolannya itu, cepat-cepat dia memungut bungkusan kecil
itu dan membuka nya, ternyata isinya adalah pakaian
renang yang terbuat dari kulit ikan hiu.
Dengan perasaan gembira, dia berterima kasih kepada
Thi gou. kemudian buru-buru melepaskan jubah
panjangnya dan mengenakan pakaian renang itu.
Tapi apa yang kemudian terlihat membuat senyuman
yang semula menghiasi wajah Siau-thi gou hilang lenyap
tak berbekas, malah sepasang matanya ikut melotot ke luar.
Selama setengah tahun belakangan ini, Lan See giok
sudah tumbuh lebih dewasa, rupanya celana pakaian
renang itu hanya berhenti di sebatas paha dan tak mampu
diteruskan lagi..
Pada saat itulah dari depan pintu terdengar gelak tertawa
yang amat merdu bergema memenuhi ruangan.
Sewaktu Lan See giok dan Thi-gou berpaling mereka
jumpai Si Cay soat telah berganti dengan sebuah pakaian
renang berwarna merah, dalam genggamannya , membawa
sebuah bungkusan kecil dan sedang berdiri memandang
kearah mereka sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Terdengar gadis itu berseru:
"Pakaian renang itu sudah tiga tahun lamanya, Thi-gou
sendiri jarang mengenakannya karena dia sendiripun
merasa kekecilan, bagaimana mungkin kau bisa
memakainya?"
Lan See giok yang mendengar perkataan tersebut diam-
diam menjadi sangat mendongkol, ia merasa dalam hal
http://kangzusi.com/
apapun adik seperguruannya jauh di bawahnya, tapi setelah
menjumpai kejadian macam begini, dia selalu terperangkap.
Bahkan kalau dilihat dari sikap gadis itu, sudah jelas dia
telah menduga sebelumnya. Tiba-tiba Si Cay soat berkata
sambil tersenyum.
"Ehmmm, ambil dan cepat kenakan, kutunggu kalian di
tepi telaga . ."
Sambil berkata, dia lantas melemparkan buntalan kecil
ke tangan Lan See giok .
Biarpun Lan See giok tidak habis mengerti, namun dia
seperti sudah memahami akan sesuatu, buru-buru
dibukanya bungkusan itu.
Apa yang terlihat membuatnya amat gembira. ternyata
bungkusan kecil itu berisikan sebuah pakaian renang yang
memancarkan sinar keemas-emasan.
Dengan perasaan ingin tahu Siau-thi-gou turut melihat,
ternyata pakaian renang itu berwarna hitam dan putih
dengan bentuk yang sangat lunak, bagian yang hitam
berwarna keemas emasan, sedang bagian yang putih
berwarna keperak perakan, rupanya baju renang ini terbuat
dari dua tiga puluh ekor kulit ikan Cui oh li yang
dikumpulkan selama ini.
Lan See-giok merasa berterima kasih sekali setelah
menyaksikan kejadian ini, perasaan mendongkol yang
semula menyelimuti perasaannya, kini hilang lenyap tak
berbekas.
Sedangkan Siau thi gou seakan akan memahami sesuatu,
ia lantas berseru:
"Haaahhh..haaahhh .haaahhh..tak tahu sekarang, tak
aneh kalau saban kali kita makan ikan selalu tak dijumpai
http://kangzusi.com/
kulitnya, dan setiap kali cici selalu berebut untuk memotong
ikan, rupanya disinilah letak rahasianya."
Kemudian sambil mendorong Lan See giok yang masih
termangu mangu. kembali dia mengomel.
"Engkoh Giok, semuanya ini gara-gara kau yang
melarang aku memasuki kamar cici, coba kalau tidak hari
ini dia tak akan membuat kejutan untuk kita."
Lan See giok sendiripun tidak pernah menyangka bahwa
di samping berlatih ilmu pedang dan menanak nasi, Si Cay
soat masih meluangkan waktu untuk membuatkan pakaian
renang baginya.
Dia mencoba untuk meraba pakaian renang itu,
semuanya halus dan lunak, bisa dibayangkan betapa susah
payahnya Si Cay soat untuk menyelesaikan pekerjaan
tersebut.
Berpikir sampai di situ, timbul perasaan sayang di hati
kecilnya, ini membuat pemuda tersebut merasa tak tega
untuk mempergunakannya,..
Siau thi gou yang menyaksikan hal tersebut, tanpa terasa
bertanya dengan nada tak mengerti:
"Hei, jangan diraba melulu, ayo cepat di kenakan, hati-
hati kalau dia sampai mengambek gara-gara kau datang
terlambat!"
Lan See giok segera sadar kembali dari lamunannya,
buru-buru ia bertukar pakaian renang itu.
Ternyata pakaian tersebut sangat persis, tahulah pemuda
kita, Si Cay soat tentu sudah mengukur pakaiannya secara
diam-diam.
http://kangzusi.com/
Selesai bertukar pakaian. kedua orang itu buru-buru ke
luar ruangan, ternyata Si Cay soat sudah tak ada di situ,
maka mereka berdua pun berangkat ke telaga Cui oh.
Waktu itu, Si Cay soat kelihatan sedang berdiri di tepi
telaga sambil tiada hentinya menengok kemari dengan
wajah tak sabaran.
Siau thi gou yang menyaksikan kejadian ini dengan cepat
dia peringatkan:
"Engkoh Giok, sudah pasti enci Soat sedang marah"
Mendengar itu Lan See giok segera mempercepat larinya
dan secepat kilat meluncur ke tepi telaga dengan begitu Siau
thi gou pun tertinggal jauh di belakang.
Begitu tiba di tempat tujuan. Lan See giok segera berseru
kepada Si Cay soat dengan senyum dikulum.
"Adik Soat, terima kasih banyak pakaian renang
buatanmu sungguh indah, pas lagi!"
Sesungguhnya Si Cay soat sedang menanti dengan
perasaan gelisah, namun setelah mendengar pujian dari Lan
See giok, apalagi menyaksikan pakaian renang bikinannya
persis sekali di tubuh engkoh Giok nya, perasaan tak senang
yang semula mencekam perasaannya seketika lenyap tak
berbekas.
Sepasang pipinya berubah menjadi merah, dipandangnya
wajah Lan See giok sekejap dengan gembira, dia seperti
hendak mengucapkan sesuatu, tapi bayangan manusia
berkelebat lewat, Siau thi gou telah muncul pula di situ
sambil berseru:
"Enci Soat, bikinanmu sangat bagus. aku juga minta
satu"
http://kangzusi.com/
Si Cay soat kuatir bocah itu ribut, cepat-cepat dia
mengangguk sambil tertawa:
"Asal kau bersedia menuruti perkataanku, enci pasti akan
buatkan sebuah untukmu.
"Baik, mulai hari ini aku pasti akan menuruti
perkataanmu!"
Menggunakan kesempatan sewaktu Si Cay- soat sedang
berbicara dengan Siau thi gou, Lan See giok mengamati
adik seperguruannya yang memakai pakaian renang itu.
Ia merasa gadis ini lebih matang lagi dalam setengah
tahun belakangan, tubuhnya kelihatan lebih matang dan
montok.
payudaranya nampak lebih besar, pinggang nya ramping,
pinggulnya bulat dan pahanya mulus, boleh dibilang gadis
tersebut memiliki potongan badan yang sangat menarik
hati..
Sementara dia masih mengamati dengan seksama,
mendadak terdengar Si Cay soat berkata.
"Engkoh Giok, air di telaga ini terlalu dalam." mari kita
belajar di telaga yang agak dangkal saja."
Buru-buru Lan See giok menenangkan kembali hatinya.
"Baik. baik, makin dangkal airnya makin baik"
Si Cay soat kembali tertawa cekikikan mendengar
ucapan itu!
Mereka bertiga pun menelusuri telaga menuju ke sebuah
pantai dengan air yang dangkal, mula-mula Si Cay soat
mengajarkan dulu rahasia mengambang, menyelam dan
mengapung, kemudian baru mengajak pemuda itu masuk
ke air.
http://kangzusi.com/
Sesungguhnya Lan See giok adalah seorang pemuda
yang sangat cerdas dengan daya tangkap yang
mengagumkan, begitu diberi tahu, semua tehnik berenang
telah dikuasai nya.
Sayang sekali di air dan di darat keadaannya sama sekali
berbeda, setelah menceburkan diri ke dalam telaga, dimana
permukaan air mencapai dadanya, ia menjadi tegang,
napasnya sesak dan langkahnya seolah-olah menjadi
enteng. ini semua membuat anak muda tersebut buru-buru
menggunakan ilmu bobot seribunya.
Melihat pemuda itu gugup bercampur kaget, Si Cay soat
menghentikan langkah nya dan berkata sambil tertawa:
"Bagaimana kalau di tempat ini saja? Kedalaman air
sudah cukup untuk taraf permulaan belajar berenang"
Lan See giok mengangguk berulang kali sambil
mengiakan.
Sekali lagi Si Cay-soat mengulangi tehnik ilmu berenang.
kemudian ia baru berkata:
"Sekarang kita berlatih dulu ilmu mengapungkan diri,
letakkan tanganmu di atas lenganku."
Lan See-giok menurut dan mengikuti teori yang
diperoleh, dia menarik nafas sambil meluruskan kakinya ke
belakang- serta merta badannya terapung ke atas
permukaan air.
Kenyataan ini membuat anak muda itu kegirangan,
pikirannya dengan cepat:
"Oooh rupanya tidak terlalu sulit untuk belajar ilmu
berenang .."
Melihat wajah Lan See-giok berseri Si Cay soat turut
bergembira hati. katanya kemudian:
http://kangzusi.com/
"Sekarang kita belajar berenang. salurkan semua tenaga
ke seluruh badan, utamakan keringanan tubuh, Kemudian
dayunglah sepasang tangan dari depan ke belakang, diikuti
gerakan kaki.."
Sambil memberi keterangan dia memberi contoh di
depan pemuda itu sambil bergerak ke depan.
Lan see-giok mengikuti cara tersebut, betul juga
tubuhnya bisa bergerak ke muka pelan-pelan, bisa
dibayangkan betapa gembiranya pemuda kita.
Mendadak..
Bayangan merah berkelebat lewat. Si Cay soat yang
semula berada di sisinya mendadak lenyap tak berbekas.
Lan see giok menjadi gugup, dia lupa dengan teorinya
dan tak ampun lagi bunga air memercik ke mana-mana,
anak muda menjadi gelagapan sendiri.
Sementara itu Si Cay soat yang baru munculkan diri
pada dua kaki dari situ, menjadi amat terperanjat setelah
menyaksi kan kejadian ini. cepat-cepat teriaknya.
"Pusatkan pikiran, atur pernapasan dan berenang ke
muka dengan tenang ."
Lan See giok baru merasa lega setelah melihat adik
seperguruannya muncul di depan sana dalam keadaan
selamat dengan cepat dia menaati seruan tersebut.
Dalam waktu singkat dia berhasil mempertahankan
keseimbangan tubuhnya dan berenang lagi ke depan.
Sekarang dia berharap bisa naik ke darat untuk
beristirahat sebentar.
Berbeda sekali dengan jalan pemikiran Si Cay soat,
sewaktu melihat pemuda itu lambat laun dapat
http://kangzusi.com/
mengendalikan diri, dia berharap pemuda itu bisa berenang
lebih lama."
Maka sambil munculkan diri di atas permukaan air dia
berseru keras.
"Engkoh giok kemarilah cepat, di bawah sini terdapat
sebuah batu besar"
Lan See giok merasa ini memang cocok dengan
pikirannya, maka tubuhnya" bergerak ke depan Si Cay soat
kemudian berusaha untuk berdiri di situ .
Si Cay soat tidak menyangka Lan See giok akan berhenti
secara tiba-tiba, saking kagetnya dia menjerit keras dan
segera berusaha untuk menariknya.
Siau thi gou yang berdiri di tepi telaga juga sangat
terperanjat sehingga berteriak keras.
Rupanya sepasang kaki Lan See giok menginjak tempat
yang kosong. ini membuat badannya segera tenggelam.
dalam waktu singkat air telaga menggenangi kepalanya.
Bisa dibayangkan betapa terperanjatnya pemuda
tersebut, serta merta tangannya mendayung dengan
sepenuh tenaga, sementara tubuhnya menubruk ke atas .
Kebetulan sekali si Cay soat yang gagal menyambar
tangan pemuda itu sedang bergerak ke muka, tak ampun
lagi dia lantas dipeluk anak muda tersebut erat-erat.
Lan See giok yang berhasil memeluk adik
seperguruannya, bagaikan menangkap tuan penolong saja,
pelukannya makin diperkencang lagi.. .
Dalam keadaan begini, Si Cay-soat menjadi yaa malu,
gelisah selain gugup. namun ia cukup memahami perasaan
engkoh Giok nya waktu itu, maka dia memutar pinggul,
http://kangzusi.com/
membalikkan badannya dan membiarkan Lan See giok
berada di atas dadanya.
Sementara itu, Lan See giok telah pulih kembali
kesadarannya setelah ia berhasil menarik napas panjang,
sewaktu mengetahui bagaimana dia sedang memeluk
pinggang adik seperguruannya dan mukanya menempel
diantara sepasang payudaranya yang empuk, hatinya
menjadi terkejut dan pegangannya segera dilepaskan.
Si Cay soat bertindak cepat, segera dia membalikkan
badan begitu tekanan di atas tubuhnya hilang, lalu sambil
memeluk tubuh See giok, pelan-pelan ia berenang menuju
ke tepi pantai.
Siau thi gou yang semula dicekam perasaan terkejut dan
gugup sekarang dapat merasa kan betapa lucunya kejadian
ini, tak tahan dia bertepuk tangan sambil tertawa terbahak
bahak.
Tak terlukiskan rasa malu Lan See giok sesudah
mendengar gelak tertawa Siau thi gou, seandainya bisa dia
ingin menyelam ke dasar telaga dan menyembunyikan diri
di sana.
Si Cay soat sendiripun merasa amat malu, pipinya
berubah menjadi merah jengah. apalagi membayangkan
kembali kejadian yang baru saja berlangsung, hatinya
berdebar keras sekali
Tapi ia bertekad untuk berenang ke darat dan menghajar
Siau thi gou untuk melampiaskan rasa malu dan gemasnya,
karenanya bagaikan seekor ikan duyung, dia melesat ke
darat dengan cepatnya.
Siau thi gou segera merasakan bahwa gelagat tidak
menguntungkan, ia tahu sudah membuat gara-gara maka
http://kangzusi.com/
tanpa membuang waktu lagi, dia memutar badan dan
mengambil langkah seribu.
Pada saat itulah, mendadak ..
Dari kejauhan sana terdengar seseorang sedang berteriak
teriak dengan suara yang lantang.
"Thi gou, Thi gou .
Berkilat sepasang mata Siau thi gou mendengar suara
panggilan itu, soraknya gembira:
"Aku berada disini, kami semua berada sini!"
Ditengah teriakan itu, dia berlarian cepat menuju ke arah
mana berasalnya suara tadi.
Sementara itu Si Cay soat dan Lan So giok sudah tiba
pula di daratan. sementara Lan See giok tertegun melihat
wajah gembira Siau thi gou yang sedang berlari menjauh. Si
Cay soat yang sudah tahu suara teriakan siapakah tadi
segera berkata dengan gembira:
"Ayo cepat berangkat, si naga sakti pembalik sungai Thio
loko telah datang"
Lan See giok amat girang, dia berharap bisa peroleh
sedikit kabar tentang bibi Wan dan enci Cian nya dari
mulut si naga sakti tersebut.
-ooo0dw0ooo-

BAB 16
DENGAN wajah gembira, pemuda itu segera berseru
pula. "Mari kita pun segera berangkat!"
http://kangzusi.com/
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh,
berangkatlah muda mudi dua orang tersebut mengejar Siau
thi gou.
Setelah melewati batuan cadas, di depan sana terlihat si
naga sakti pembalik sungai yang bertubuh tegap dan
berambut putih sedang mendekat dengan langkah tegap. di
bawah ketiaknya seperti tergantung sebuah buntalan kecil.
Melihat buntalan itu, Si Cay soat segera bersorak
gembira.
"Thio loko, kali ini hidangan lezat apa yang kau
bawakan untuk kami semua?"
Waktu-itu si naga sakti pembalik sungai sudah
menggenggam tangan Siau thi gou, mendapat pertanyaan
itu diapun menjawab sambil tertawa terbahak-bahak:
"Haaahhh . . haaahhh . . haaahhh kali ini, aku si engkoh
tua harus meminta maaf, berhubung kedatanganku terlalu
tergesa-gesa, maka tidak sempat kubawakan se suatu untuk
kalian."
Kemudian kepada Lan See-giok yang mendekat, dia
berkata pula sambil tertawa:
"Saudara cilik, tujuh bulan kita tak bersua, nampaknya
kau lebih dewasa!!
Berhubung Si Cay soat dan Siau thi gou menyebut
engkoh tua kepada si naga sakti pembalik sungai, maka Lan
See giok segera menjura sambil menyapa pula:
"Siaute Lan See giok menjumpai engkoh tua !"
Naga sakti pembalik sungai tertawa tergelak penuh
kegembiraan. "Haaahhh..haah tidak usah.. tidak usah, aku
si engkoh tua juga tidak membawa hadiah apa-apa sebagai
tanda mata untuk perjumpaan kali ini"
http://kangzusi.com/
"Nah terimalah bungkusan ini, semua barang yang
berada di dalamnya menjadi milikmu semua."
Sambil berkata dia lepaskan buntalan kecil dan
diserahkan kepada Lan See giok.
Tentu saja Lan See giok merasa sungkan untuk
menerimanya, namun juga tak enak untuk menolak, setelah
ragu-ragu sejenak akhirnya dia terima juga buntalan itu.
Siau thi gou tidak tahan untuk mengulurkan lidahnya
sambil menelan air liur berulang kali, nampaknya dia
sedang mengira-ngira hidangan lezat apakah yang berada di
dalam buntalan tersebut.
Menanti Lan See giok menitipkan buntalan tersebut ke
tangan Siau thi gou, bocah itu baru tertawa senang.
Dalam pada itu si naga sakti pembalik sungai sudah
bertanya sambil tersenyum setelah menyaksikan Lan See
giok berdua. masih mengenakan pakaian berenang
"Ooh, rupanya hari ini kalian sedang berlatih ilmu
berenang?"
"Siaute baru pertama kali mempelajari ilmu ini, khusus
siaute minta pelajaran dari adik Soat" sahut Lan See-giok
cepat.
Dengan wajah semu merah, cepat-cepat Si Cay soat
membantah:
"Suhu menugaskan kepada siaumoay untuk mengajarkan
dasar-dasar ilmu berenang kepada engkoh Giok, sekarang
engkoh tua sudah datang, siau-moay mah tak akan urusan
lagi."
"Waah, sayang sekali engkoh tua masih ada urusan
penting yang mesti diselesaikan, paling lama hanya
http://kangzusi.com/
setengah hari aku berada di sini, sebelum malam tiba nanti
harus sudah turun gunung.."
"Kenapa? Kenapa tidak berdiam beberapa hari lagi?"
tanya Lan See-giok bertiga cemas.
Naga sakti pembalik sungai sangsi sejenak akhirnya dia
berkata: "Mari kita pulang dulu sebelum membicarakan
lebih jauh!"
Maka berangkatlah ke empat orang itu menaiki bukit.
Setelah berada di ruang batu, naga sakti pembalik sungai
baru berkata kepada Lan See giok dan Si Cay-soat.
"Sekarang adik Giok dan adik Soat berganti pakaian
dulu, biar engkoh tua menunggu kalian di sini."
See giok dan Cay soat mengiakan, mereka berdua cepat-
cepat berlalu untuk bertukar pakaian.
Membayangkan kembali peristiwa dalam air tadi, kedua
orang itu merasa amat malu di samping perasaan manis dan
hangat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Selesai bertukar pakaian, mereka berdua muncul kembali
dari kamar masing-masing, tapi Si Cay soat yang berjumpa
kembali dengan See giok segera merasakan pipinya menjadi
merah dan tertunduk malu-malu, ia menunjukkan sikap
jengah seorang gadis yang bertemu dengan pemuda asing
saja..
Lan See giok turut merasakan hatinya berdebar keras,
pipinya turut berubah menjadi merah, sedang perasaan
yang mencekam hatinya sekarang sungguh tak bisa
dilukiskan dengan kata-kata.
Si Cay soat segera tersenyum jengah melihat sikap
tertegun pemuda itu, cepat-cepat dia lari naik ke atas
tangga.
http://kangzusi.com/
Lan See giok mengikuti di belakangnya, saat itulah dia
baru merasakan bahwa adik seperguruannya telah tumbuh
menjadi seorang gadis remaja, sedangkan ia sendiripun
sudah mendekati seorang pemuda dewasa.
Tiba kembali di ruang batu, Siau thi gou telah
mengeluarkan hidangan serta empat mangkuk arak.
Dari sikap dan wajah Lan See giok serta Si Cay soat
yang memerah, si naga sakti pembalik sungai memandang
sekejap wajah kedua orang itu, dengan cepat dia tahu
bahwa benih cinta rupanya sudah tumbuh dalam hati
mereka.
Namun bila teringat kembali tujuan kedatangannya ke
sana, keningnya segera berkerut, selapis kemurungan segera
menyelimuti wajahnya yang berkeriput.
Lan See giok dan Si Cay soat cepat-cepat menundukkan
kepalanya rendah-rendah, sewaktu sorot mata si naga sakti
Pembalik sungai yang tajam diarahkan kepada mereka oleh
sebab itu mereka pun tidak melihat perubahan wajah dari
engkoh tuanya itu.
Tiba-tiba terdengar Siau thi you berseru dengan nada
tidak senang hati:
"Thio loko, mengapa sih kau terburu -buru ingin pulang?
Siapa tahu tiga atau lima hari lagi suhu sudah pulang . . ."
Mendengar ucapan tersebut, si naga sakti pembalik
sungai seakan akan teringat akan sesuatu, dia segera
berpura - pura gembira dan tertawa tergelak.
"Haaahhh . . . haaahhh . . . haaahhh .. sekarang aku si
engkoh tua hendak memberitahukan kepada kalian,
berhubung cia cianpwe masih ada urusan lain yang belum
selesai dikerjakan, mungkin beberapa bulan lagi beliau baru
bisa pulang"
http://kangzusi.com/
Lan See giok bertiga menjadi sangat terkejut, hampir
bersamaan waktunya mereka berseru:
"Darimana engkoh bisa tahu?"
Naga sakti pembalik sungai tertawa, dengan sikap
sewajar wajarnya ia menjawab:
"Engkoh tua telah menerima surat yang ditulis Cia
locianpwe dan dikirim dari luar lautan!"
Sambil berkata, dia mengambil sepucuk surat dari
sakunya dan diserahkan kepada Lan See giok.
Dengan gugup pemuda itu membukanya dan membaca
isinya.
Si Cay soat segera mendekati anak muda itu sambil
menumpang membaca isi surat tersebut.
Garis besarnya dalam surat itu dijelaskan bahwa guru
mereka harus pergi ke luar lautan demi keselamatan dunia
persilatan, sebab masalah tersebut menyangkut nasib
pelbagai perguruan besar di dunia persilatan, maka urusan
tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat, di samping itu
guru mereka berpesan agar Lan See giok bertiga melatih diri
lebih tekun serta tak usah memecahkan perhatian ke
masalah lain. . .
Ketika selesai membaca surat itu, Si Cay soat yang
pertama-tama berguman dengan nada tak habis mengerti:
"Thio loko, mengapa suhu tidak menjelaskan kapan baru
akan pulang . .?"
Naga sakti pembalik sungai memandang sekejap kearah
Lan See giok yang sedang termenung, kemudian jawabnya
sambil tertawa:
http://kangzusi.com/
"Engkoh tua menitipkan pesan tersebut secara lisan
kepada si pembawa surat. jadi akupun tak tahu kapan
pulangnya."
"Thio loko, siapakah si pembawa surat itu?" tiba-tiba
Siau thi gou bertanya dengan wajah tak mengerti
Agaknya si naga sakti pembalik sungai tidak menduga
Siau thi gou bakal mengajukan pertanyaan tersebut, dengan
kening berkerut dia segera tersenyum.
"Berbicara soal orang ini, kalianpun belum tentu tahu."
"Coba sebutkan agar kami tahu" timbrung Si Cay soat.
Agaknya si naga sakti Pembalik sungai sedang
memperhatikan dengan seksama sikap Lan See giok yang
masih meneliti surat tersebut, namun ia toh menjawab juga.
”Orang itu adalah tianglo angkatan yang lampau dari Bu-
tong-pay, orang menyebut nya Keng-hiang sian-tiang!"
Si Cay soat kembali berkerut kening, lalu tanyanya
dengan nada tidak mengerti:
"Bukankah Keng hiang sian-tiang dari Bu tong-pay
sudah lama tidak muncul kembali di dalam dunia
persilatan?!”
Dengan wajah bersungguh-sungguh si naga sakti
pembalik sungai berkata:
"Masalahnya kali ini menyangkut suatu keadaan yang
besar. jadi tak bisa dibanding-kan dengan kejadian biasa,
dengan undangan khusus dari Lam-hay-lo koay, bahkan
Cia locianpwe saja harus berangkat sendiri apalagi
persoalan ini menyangkut Bu-tong-pay secara langsung,
memangnya dia tak akan berangkat?”
http://kangzusi.com/
Baru selesai dia berkata Lan see Giok yang masih
memegang surat itu berseru kepada, si naga sakti pembalik
sungai:
"Thio loko, siaute jumpai tinta bak di atas surat tersebut
nampaknya sudah lama sekali .”
Berubah hebat paras muka si naga sakti pembalik sungai
setelah mendengar ucapan tersebut. tapi cepat-cepat ia
mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak bahak,
menyusul kemudian ia menjelaskan lebih jauh:
"Saudara cilik, pernahkah kau bayangkan berapa ribu li
jarak dari sini sampai ke luar lautan? Apalagi Keng hian
sian-tiang menggembolnya dalam saku, dimana kena
keringat dan air hujan. masa surat tersebut dapat utuh
seratus persen?"
Berbicara sampai disini, diapun sengaja mengalihkan
pembicaraan ke soal lain, sambil menunjuk ke arah
bungkusan kecil itu katanya lagi:
"Sewaktu menerima surat ini, kebetulan Hu-yong siancu
Han lihiap juga berada di rumahku. ketika ia tahu aku
hendak kemari, dia telah menitipkan bungkusan baju itu
untukmu."
Siau thi gou menjadi amat kecewa setelah mendengar
perkataan itu, serta merta dia mengangkat buntalan kecil itu
dan dilihat sekejap..
Berbeda dengan Lan See giok, mencorong sinar tajam
dari balik matanya setelah mendengar perkataan itu, cepat
tanyanya dengan gembira.
"Apakah bibi Wan dan enci Cian berada dalam keadaan
sehat-sehat semua?"
http://kangzusi.com/
Sewaktu berbicara, wajahnya memancarkan sinar
kerinduan yang amat tebal.
Si Cay soat yang melihat kesemuanya ini segera
merasakan segulung hawa amarah yang entah darimana
datangnya membara di dalam dadanya dan ingin
dimuntahkan ke luar, namun diapun tak berani
melampiaskannya ke luar .
Naga sakti pembalik sungai yang melihat tujuannya
berhasil, ia segera tertawa setelah meneguk arak sahutnya:
"Mereka semua berada dalam keadaan baik-baik. mereka
menduga kau pasti sudah makin tinggi, maka khusus
membuatkan beberapa stel pakaian untukmu."
Lalu sambil mengambil buntalan kecil itu, dari tangan
Siau thi gou, dia bertanya sambil tertawa penuh arti:
"Saudara cilik, apakah kau hendak membukanya
sekarang juga .."
Berkilat sepasang mata Lan See giok, bisa dilihat hatinya
diliputi emosi, bibirnya bergerak seperti ingin mengucapkan
sesuatu, namun akhirnya dia menggeleng kan kepalanya
berulang kali, sahutnya sambil tertawa:
”Oooh, tidak usah, tidak usah!"
Tapi, setiap orang bisa melihat betapa inginnya Lan See
giok membuka bungkusan itu dengan segera dan ingin
melihat pakaian apa saja yang telah dibuatkan untuknya.
Ia percaya setiap jahitan dan setiap lipatan pakaian
tersebut, terkandung kasih sayang dari bibinya dan cinta
suci dari enci Cian nya.
Si Cay soat tak bisa menahan rasa gusar di dalam
hatinya lagi, dia tertawa paksa namun setiap orang bisa
http://kangzusi.com/
mendengar betapa kecutnya suara tertawa itu. kemudian
terdengar ia berkata:
"Sudah tentu jahitannya pas sekali dibadan, secantik enci
Cian yang membuatnya!"
Lan See giok yang polos masih mengira adik Soatnya
benar-benar memuji kecantikan enci Ciannya, tanpa terasa
wajahnya nampak lebih bersinar terang.
Berbeda sekali dengan Naga sakti pembalik sungai yang
berpengalaman, dengan cepat dia dapat menangkap gelagat
yang tidak baik, cepat-cepat dia meletakkan kembali
bungkusan kecil itu ke atas meja, kemudian setelah tertawa
tergelak dengan cepat dia mengalihkan pokok pembicaraan
ke soal lain, ucapannya:
"Di dalam surat Cia locianpwe tadi di pesankan agar
kalian melatih diri dengan tekun, entah bagaimanakah
kemajuan yang berhasil kalian capai dalam setengah tahun
ini?"
Siau thi gou segera melebarkan matanya, semangatnya
berkobar kembali dengan penuh bersemangat katanya:
"Aku telah berhasil mempelajari ilmu Hou-liong-jit-si,
bila suhu pulang, tanggung dia akan gembira."
Lan See giok bertiga yang menyaksikan semangat Siau-
thi gou. tak tahan lagi mereka tertawa tergelak.
Berhubung penjelasan dari naga sakti pembalik sungai
tentang huruf yang luntur cocok dengan keadaan, ditambah
pula Hu-yong-siancu hadir sebagai saksi , maka Lan See
giok pun mempercayai keaslian surat itu seratus persen.
Setelah melihat ketiga orang itu tidak ragu lagi, Naga
sakti membalik sungai baru mengajarkan teori dan tehnik
http://kangzusi.com/
bertempur dalam air kepada Lan See-giok di samping
keterangan-keterangan lain yang berharga sekali.
Tak heran kalau Lan See giok bertiga memperoleh
pengetahuan dan faedah yang besar sekali.
Tanpa terasa matahari pun tenggelam di langit barat.
Naga sakti pembalik sungai segera minta diri, sebelum
berpisah ia berpesan kembali agar mereka bertiga tetap
menjaga gua sembari berlatih ilmu silat dengan tekun
sampai kembalinya guru mereka.
Lan See-giok, Si Cay-soat dan Siau-thi gou menghantar
engkoh tua mereka sampai di luar barisan pohon bambu,
hingga bayangan tubuh naga sakti pembalik sungai lenyap
dari pandangan, mereka baru kembali ke ruangan.
Dalam perjalanan kembalinya, Lan See giok ingin
secepatnya membuka bungkusan kecil itu dan melihat
isinya, tanpa disadari langkahnya menjadi terburu buru
sehingga Si Cay soat serta Siau thi gou tertinggal jauh di
belakang.
Siau thi gou yang polos dan terbuka masih tidak
merasakan apa-apa. berbeda sekali dengan Si Cay soat yang
setiap hari bersama sama engkoh Gioknya, ia segera merasa
dirinya seperti dikesampingkan pemuda itu.
Saking pedih hatinya, hampir saja air matanya jatuh
bercucuran..
Gadis yang semenjak kecil sudah terbiasa dimanja
gurunya ini, untuk pertama kalinya merasakan hatinya
sedih dan pedih. mau marah tak bisa dilampiaskan, mau
menangis malu, bisa dibayangkan bagaimana perasaan
hatinya waktu itu.
http://kangzusi.com/
Ia jadi mendongkol sekali kepada engkoh Gioknya . . . .
terlalu banyak masalah yang membuatnya mendongkol, dia
merasa pemuda tersebut seolah-olah mempunyai banyak
dosa dan kesalahan yang tak bisa diampuni lagi, maka
dalam hati kecilnya dia mengambil sebuah
keputusan..selamanya tidak akan menggubrisnya lagi.
Oleh sebab itu, ketika Lan See giok mengambil
bungkusan kecil dan kembali ke kamar nya, sambil
menahan air mata diapun cepat-cepat kembali ke kamar
tidur sendiri.
Sian thi gou yang terdorong perasaan ingin tahu segera
membuntuti engkoh Giok nya dengan ketat, dia ingin tahu
apakah dalam bungkusan tersebut terdapat makanan yang
enak atau tidak.
Karenanya sambil melototkan matanya bulat-bulat, dia
awasi terus engkoh Giok nya membuka bungkusan kecil itu.
Begitu bungkusan dibuka, dibaliknya tempat sebuah
kertas minyak pembungkus, bau harum semerbak
terhembus ke luar dari balik bungkusan itu.
Dengan cepat Siau thi gou mengendus bau itu berulang
kali, sekulum senyuman lebar segera menghiasi bibirnya.
Begitu bungkusan kertas itu dibuka, woouw isinya
adalah ayam panggang, daging kecap, telur asin serta
makanan yang lain yang banyak sekali jumlahnya.
Diam-diam Lan see giok berterima kasih sekali atas
pemikiran bibinya yang mengaturkan semuanya itu dengan
sempurna, meski makanan itu biasa, namun di tengah
pegunungan yang terpencil begini betul-betul merupakan
hidangan lezat yang punya uang pun tak bisa dibeli, maka
dia singkirkan bungkusan makanan itu serta membuka
bungkusan kain putih yang berada di bawahnya.
http://kangzusi.com/
Pada bagian atas adalah jubah biru kegemarannya, baju
itu terbuat dari kain halus, potongan indah dan menawan,
entah hasil karya bibinya atau enci Cian nya!
Ketika diendus, tercium bau harum yang sangat khas
baginya, dengan cepat dia menjadi paham kembali, rasa
gembira yang meluap membuatnya tanpa sadar memanggil
nama enci Cian dengan mesra.
Di bawah jubah itu adalah kain pengikat kepala
berwarna biru, celana biru serta dua stel pakaian dalam
berwarna putih, ketika dicoba dibandingkan ke tubuhnya,
meski sedikit agak kebesaran namun bisa dipakai.
Baju yang kedua berwarna merah cerah, apa yang
terlihat segera membuat pemuda itu tertegun dan
mencorongkan sinar tajam dari matanya.
Rupanya pakaian merah dengan sepasang sepatu
berwarna merah, sarung pedang merah dan pita pedang
berwarna merah.
Dengan cepat Lan See giok paham kembali, rupanya
semuanya ini disiapkan enci Cian untuk adik Soatnya,
dengan perasaan segera ia segera mendongakkan kepalanya
Namun adik Soat sudah tak nampak, bahkan adik Gou
pun tidak kelihatan, ketika berpaling lagi, hidangan semeja
yang baru saja diletakkan disanapun turut lenyap tak
berbekas.
Lan See giok segera tertawa tergelak dengan rasa
gembira, sambil membawa bungkusan berisi baju itu cepat
dia lari naik ke tangga.
Sebelum tiba di kamar tidur, pemuda itu sudah tidak
tahan untuk berteriak keras.
"Adik Soat, adik Soat .."
http://kangzusi.com/
Tiba-tiba bayangan hitam berkelebat lewat. Siau thi gou
sudah muncul dari balik kamar Si Cay soat, di tangannya
masih menggenggam bungkusan berisi makanan lezat tadi.
Begitu berjumpa dengan Lan See giok, dia lantas berseru
dengan wajah murung.
"Engkoh Giok, enci Soat telah jatuh sakit!"
Lan See-giok terkejut sekali, ia berseru kaget sambil
teriaknya. "Sakit apa? Barusan toh ia nampak sangat
gembira dan segar bugar ..?"
"Aku rasa dia sakit kepala!"
”Oooh..”
Dengan langkah terburu-buru Lan See giok lari masuk ke
dalam kamar tidur si nona, ia jumpai gadis tersebut sedang
membaringkan diri di atas permadani merah sambil
menyembunyikan kepalanya dibalik selimut, tubuhnya
sama sekali tidak bergerak.
Dari keadaan tersebut, pemuda itu menduga gadis itu
memang sakit kepala, cepat-cepat ia letakkan bungkusan
berisi pakaian itu ke lantai, kemudian tanyanya dengan
penuh perhatian:
"Adik soat. adik soat, kenapa kau? Apa yang kau rasakan
sakit-?"
Si Cay soat tetap tak bergerak, menjawab pun tidak.
Lan See giok segera mendekati dan berusaha untuk
memeriksa denyutan nadinya-
"Plaaakkk!" tahu-tahu tangannya sudah di pukul gadis
itu keras-keras-
http://kangzusi.com/
Dengan perasaan terkejut Lan See giok menarik kembali
tangannya lalu memandang sekejap ke arah Siau thi gou
dengan mata terbelalak, tertegun.
Namun sebagai pemuda yang pintar, dengan cepat Lan
See giok menyadari apa gerangan yang telah terjadi,
rupanya gadis itu bukan sakit kepala melainkan lagi
mengambek.
Siau thi gou juga merasa lega setelah mengetahui enci
Soatnya lagi mengambek, sambil tertawa dia mulai
menyambar paha ayam dan melahapnya dengan rakus.
Sedangkan Lan See-giok duduk termenung di
sampingnya, betapapun dia telah memeras otak belum juga
diketahui apa kesalahannya.
Mendadak ia melihat pedang Jit-hoa kiam yang terletak
tak jauh di atas permadani, satu ingatan segera melintas di
dalam benak nya, ia mengambil keputusan untuk membuat
kejutan bagi si nona tersebut.
Diambilnya pedang Jit hoa kiam tersebut, mula-mula
pita pedang diikatkan dahulu pada gagangnya, kemudian
melapisinya dengan sarung pedang yang halus dan lembut
itu.
Disaat ia sedang mengikatkan tali sarung itulah, suatu
ketidak sengajaan membuat jari tangannya menyentuh
tombol rahasia..
"Criing..l"
Cahaya tajam segera memancar kemana mana, tubuh
pedang melejit berapa inci lebih ke muka dan seketika
menyiarkan suara dentingan yang amat memekikkan
telinga.
http://kangzusi.com/
Lan See giok terkejut, sedang Si Cay soat juga melompat
bangun dengan cepat, tapi apa yang kemudian terlihat
membuatnya tertegun dan melongo.
Hanya Siau thi you seorang yang mengunyah paha
ayam, sambil tertawa terbahak -bahak.
Melihat sarung pedang yang begitu menawan hati, Si
Cay soat segera jatuh hati, bersamaan itu pula diapun
menjadi sadar, tentunya sarung pedang yang indah tersebut
merupakan hadiah dari Ciu Siau cian yang selalu dipuji puji
oleh gurunya itu.
Dalam pada itu Lan See giok telah membetulkan letak
pedang itu dan sambil tertawa tersipu sipu dia
mengembalikan senjata tersebut kepada si nona.
Si Cay soat sendiri berhubung ia sudah terlanjur jatuh
hati pada keindahan sarung pedang tadi, ditambah pula
perasaan ingin tahunya untuk memeriksa hasil karya Ciu
Siau cian, membuatnya tanpa banyak bicara segera
menerima angsuran tadi.
Setelah diperiksa dengan seksama, mau tak mau gadis itu
harus menyatakan kekagumannya, dia sadar bahwa hasil
kerajinan tangan dari Ciu Siau cian memang betul-betul
sangat indah.
Sebagai seorang pemuda yang cerdik Lan See giok segera
memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerahkan pula
sepatu kecil berwarna merah kepada si nona, kemudian
katanya pula dengan hati-hati.
"Adik Soat, coba kau lihat. inilah tanda mata dari enci
Cian untukmu!"
Si Cay soat segera mendongakkan kepalanya, apa yang
terlihat membuatnya segera menjerit gembira.
http://kangzusi.com/
"Oooh, sangat indah! persis seperti apa yang kuidam-
idamkan selama ini."
Cepat-cepat dia letakkan pedangnya ke lantai serta
menerima sepatu baru itu. kemudian dengan tergesa-gesa
sekali dia melepaskan sepatu lamanya hingga tampak
sepasang kaki mungilnya yang putih bersih..
Lan See giok menjadi tertegun melihat hal itu. sepasang
kaki milik adik Soat memang indah dan sangat menawan
hati.
Dalam gembiranya Si Cay soat pun melupakan semua
kekesalan dan kemasgulan yang dialaminya tadi, selesai
mengenakan sepatu baru, dia segera melompat bangun dan
berjalan bolak balik dengan penuh keriangan Ia dengan
suara bernada kegembiraan yang tak terlukiskan dengan
kata, ia berseru:
"Aaah. sungguh indah, persis dengan kakiku, enci Cian
memang orangnya baik sekali, baik sekali . . .”
Melihat adik Soatnya gembira, tentu saja Lan See giok
turut tertawa riang.
Tiba-tiba Si Cay soat melihat jubah biru yang terletak di
sisi anak muda tersebut, berkilat sepasang matanya, dengan
perasaan terkejut serunya tanpa terasa
"Engkoh Giok, apakah baju itupun bikinan enci Cian
untukmu?"
Sambil berkata, ia memungut pakaian tersebut dengan
gugup.
Lan See giok mengira Si Cay soat terkejut atas hasil
karya enci Cian, karenanya dia mengangguk dengan
bangga.
http://kangzusi.com/
Si Cay soat meraba jubah baru itu, kemudian serunya
lagi dengan perasaan terkejut:
"Engkoh Giok, pakaian ini dibuat dari serat ulat langit,
oooh! Banyak sekali khasiat dari pakaian tersebut, begitu
banyaknya sampai siaumoay tak dapat menerangkannya
satu per satu, tapi yang pokok, masuk ke air tak bakal
tenggelam, masuk api tak akan terbakar, bisa menahan
senjata rahasia, dapat menahan bacokan senjata, engkoh
Giok, dengan pakaian tersebut maka selanjutnya kau tak
usah mengenakan pakaian renang lagi bila ingin masuk ke
dalam air."
Mengetahui kalau jubah itu memiliki khasiat yang begitu
banyak, Lan See giok betul-betul dibikin terkejut sampai
berdiri melongo-longo . . .
Sebaliknya sepasang mata Siau thi gou segera terbelalak
lebar-lebar, mendadak ia letakkan bungkusan berisi
makanan itu ke lantai, setelah itu sambil mengangkat
tangannya tinggi-tinggi ia, bersorak sorai dengan riang
gembira:
"Hooore . . . hooore . . . kalau begitu aku Thi-gou akan
memperoleh pakaian renang baru!”
Sambil berteriak ia lari ke luar dari ruangan tersebut dan
kembali ke kamar sendiri.
Lan See giok dan Si Cay soat jadi tertegun menyaksikan
ulah bocah tersebut, dengan pandangan tak mengerti
mereka awasi bayangan punggung Siau thi gou hingga
lenyap dari pandangan mata.
Tak lama kemudian, Siau thi gou telah muncul kembali
sambil membawa pakaian renang baru, katanya lagi sambil
tertawa terbahak-bahak:
http://kangzusi.com/
"Haaahhh . . .haaahhh . . haaahhh . . . setelah engkoh
Giok memiliki pakaian mestika, pakaian renang jahitan enci
Soat pun tanpa sungkan-sungkan akan menjadi milik aku si
Thi gou.”
Baru sekarang Lan See giok dan Si Cay soat memahami
apa yang dimaksudkan, serentak mereka ikut tertawa
terbahak-bahak.
Setelah saling berpandangan sekejap dengan perasaan
cinta yang semakin mendalam, kata mereka dengan riang:
"Selama ini suhu mengatakan adik Gou bodoh,
padahal."
"Padahal aku tidak bloon!" sambung Siau thi gou dengan
cepat sambil tertawa lebar.
Semenjak hari itu, muda mudi tiga orang itu melanjutkan
latihan mereka dengan lebih tekun, Lan See giok di
samping belajar ilmu berenang dari Si Cay soat, dia pun
mengkombinasikan ilmu gurdi emas ajaran ayah-nya
dengan ilmu pedang Tong kong kiam hoat sehingga
terciptalah suatu ilmu baru yang dinamakan ilmu gurdi
pengejut langit.
Musim panas lewat dan musim gugur kini sudah
menjelang tiba.
Lan See giok, Si Cay soat serta Siau thi gou merasa
murung dan masgul sepanjang hari, sebab guru mereka To
Seng cu belum juga kembali. kendatipun tenaga dalam
mereka bertiga peroleh kemajuan yang sangat pesat namun
perasaan gembiranya tidak seperti semula lagi.
Yang membuat mereka bertiga merasa gelisah adalah si
naga sakti pembalik sungai pun tidak muncul lagi. mereka
tidak mendapat berita dari dunia luar sehingga praktis
http://kangzusi.com/
selama satu tahun penuh mereka tidak mengetahui
bagaimanakah perubahan dalam dunia persilatan.
Si Cay soat mulai menguatirkan keselamatan dari
gurunya, Siau thi gou juga saban hari bermuram durja,
sedangkan Lan See giok sering kali melamun sambil
memandang pegunungan dikejauhan sana.
Sekali lagi dia mulai mencurigai isi surat yang pernah
dibawa si naga sakti pembalik sungai tempo hari, terutama
bila membayangkan kembali gumaman gurunya sebelum
berpisah, dia yakin dunia persilatan tentu sudah diliputi
kekacauan dan kekalutan, bahkan bisa jadi darah telah
menggenangi permukaan tanah.
Cuma pemuda itu hanya berani membayangkan namun
tak berani menyampaikan jalan pemikirannya kepada Si
Cay soat serta Siau thi gou..
Dihati kecilnya dia seperti memperoleh suatu firasat,
kepergian gurunya tempo hari meski sampai mengancam
keselamatan jiwanya, paling tidak gurunya sudah ditawan
dan disekap atau terperangkap dalam jebakan musuh
hingga terkurung di suatu tempat.
Membayangkan musuh-musuh tersebut, dia pun teringat
kembali akan Lam hay lo koay, Wan San popo serta Si to
cinjin. Di samping itu diapun membayangkan pula betapa
lihainya ilmu silat yang dimiliki orang-orang tersebut
Bilamana dugaannya tak meleset, di atas bahunya
sekarang tertanam dua macam beban yang sangat
berat.Dendam orang tua dan musibah dari gurunya.
Berbicara soal kemampuan yang dimiliki nya sekarang,
membalas dendam bukan pekerjaan yang terlampau sulit
baginya, tapi untuk menghadapi tiga manusia aneh dari luar
lautan, dia tak mempunyai suatu keyakinan pun berhubung
http://kangzusi.com/
dia sendiri juga tak tahu sampai dimanakah kekuatan
mereka yang sesungguhnya.
Pepatah kuno berkata, satu hari menjadi guru, budi
bagaikan orang tua sendiri.
Seandainya, gurunya benar-benar, menjumpai musibah,
sekalipun tubuh harus hancur, lautan api mesti diterjang,
dia tak akan menampik untuk melakukannya.
Semakin membayangkan apa yang telah terjadi, anak
muda itu semakin ketakutan, saking gelisahnya peluh
sampai jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, ia
bertekat untuk membakar semangat sendiri dan adik-adik
seperguruannya agar lebih tekun melatih ilmu silat masing-
masing.
Dengan kepergian To Seng cu yang tak pernah kembali
lagi, kedudukan Lan See giok dihati Si Cay soat dan Siau
thi gou pun bertambah penting, Saban hari mereka bertiga
selalu hidup berdampingan, dan tak pernah berpisah barang
sejengkalpun.
Sikap Si Cay soat berubah menjadi lebih lembut dan
hangat, dalam suasana murung dan sedih, dia semakin
menyayangi engkoh Giok nya dan memperhatikan adik
Gou nya.
Siau thi gou yang polos dan lugu, sejak itu tak pernah
menampilkan senyuman bloon-nya yang menggiurkan di
atas wajah bulatnya yang hitam berkilat lagi.
Waktu berlalu sangat cepat, kini musim dingin telah tiba,
bunga salju turun dengan derasnya menyelimuti seluruh
permukaan tanah.
Permukaan bukit Hoa-san dengan beberapa buah
bukitnya yang tinggi, kini telah berubah menjadi serba
putih.
http://kangzusi.com/
To Seng-cu, tokoh persilatan nomor wahid dikolong
langit sudah setahun meninggalkan gunung, namun hingga
saat itu belum juga ada kabar beritanya tentang mereka.
Lan See giok dan Si-Cay soat sudah tak dapat
menenangkan hatinya lagi, setiap kali Siau Thi-gou sedang
menanak nasi di dapur, mereka berdua selalu
memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berunding
bagaimana caranya mencari berita tentang guru mereka.
Hasil dari perundingan mereka menyimpulkan bahwa si
naga sakti pembalik sungai sudah tidak berada di tepi telaga
Phoa yang lagi bisa juga dia telah menyusul ke luar lautan
untuk mencari jejak suhu, kalau tidak, dia pasti akan
mengunjungi bukit Hoa-san untuk mengetahui apakah guru
mereka sudah pulang atau belum.
Akhirnya kedua orang itu memutuskan akan menunggu
sampai setengah bulan lagi, jika selewatnya tahun baru guru
mereka belum juga kembali, maka See-giok eng ambil
keputusan untuk turun gunung dan mencari berita tentang
gurunya.
Sebagaimana diketahui, dalam gua mereka tersimpan
kitab pusaka cinkeng warisan su-cou mereka, apalagi guru
mereka pun berpesan agar tidak meninggalkan gua tersebut
itulah sebabnya mereka bertiga tak berani turun gunung
bersama-sama.
Lan See giok memang sebelumnya telah memperoleh ijin
dari gurunya untuk turun gunung mencari balas, dengan
diutusnya pemuda tersebut, selain tidak melanggar pesan
guru mereka. hal inipun merupakan pilihan yang paling
tepat, tak heran kalau kedua orang itu terpaksa mengambil
jalan tersebut.
Meski keputusan ini disambut Si Cay soat dengan
perasaan berat, namun berhubung dendam berdarah engkoh
http://kangzusi.com/
Giok nya belum terbalas, jejak gurunyapun merupakan
sebuah tanda tanya besar, kesemuanya ini membuat si nona
tak berani banyak berbicara.
Pikiran dan perasaan seorang gadis memang selalu lebih
sempit dan cupat, tidak terkecuali Si Cay soat, semenjak
mengambil keputusan tersebut, hampir setiap saat ia selalu
berdoa agar gurunya bisa cepat-cepat kembali ke rumah.
Tekanan jiwa yang dialaminya membuat gadis itu sukar
tidur dan tak enak bersantap tidak sampai berapa hari,
tubuhnya menjadi kurus dan mukanya pucat.
Baru sekarang dia menyadari bahwa diri nya sudah tak
mungkin lagi berpisah dengan engkoh Gioknya.
DALAM setahun belakangan ini, boleh di bilang mereka
bertiga selalu berkumpul bersama, tak sedetikpun berpisah,
entah berlarian di tanah perbukitan ditengah malam, atau
bermain air di telaga Cui-oh, mereka selalu berduaan dan
bermesraan, dan biasanya dalam keadaan begini Siau thi
gou yang blo’on selalu menghindar jauh-jauh.
Lewat beberapa hari lagi Lan See-giok akan genap
berusia delapan belas tahun, selama dua tahun ini, dari
seorang bocah tanggung yang binal See-giok berubah
menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa,
tidak heran kalau Si Cay soat menjadi begitu tergiur dan
kesemsem kepadanya, is sering-kali melamun. kalau bisa
dia ingin bersama engkoh Giok nya hidup sepanjang tahun
di tempat yang terpencil ini dan tak akan mengadakan
hubungan lagi dengan dunia luar.
Tapi Lan See giok harus turun gunung untuk menelusuri
gurunya, sebelum hal ini benar-benar terjadi, dia berusaha
untuk menjauhkan diri dengannya, tapi alhasil malah
kebalikannya yang diperoleh.
http://kangzusi.com/
Sekarang dia mulai sadar, jika See giok sudah turun
gunung, maka kehidupannya akan menjadi kering, kosong,
sepi dan layu, keadaan yang harus dialaminya selama
bertahun lamanya mungkin.
Betul di sisinya masih ada Siau thi gou yang polos dan
lugu. diapun sangat menyayangi adiknya yang menawan
tersebut, tapi bagaimanapun juga perasaan kasih sayang
sebagai kakak terhadap adik tentu saja berbeda sekali
dengan kasih sayang terhadap pujaan hatinya..
Selain itu, masih ada satu hal lagi yang membuat
perasaannya tidak tenang, yaitu si gadis cantik lainnya yang
sering dipuja oleh gurunya. Ciu Siau cian.
Setiap kali ia membicarakan soal Ciu Siau cian, di atas
wajah engkoh Giok nya tentu terlintas setitik cahaya tajam,
selain rasa hormat terselip juga perasaan cinta.
Selama setahun ini, diapun menyaksikan bahwa engkoh
Giok nya tak pernah sedikit pun melupakan Ciu Siau cian,
kejadian ini membuatnya lebih cemburu, lebih mendongkol
dan tak tenang.
Pernah terbayang olehnya bagaimana eng-koh Giok dan
Ciu Siau cian bertemu kembali, apa yang mereka lakukan
setelah perjumpaan itu? Sudah pasti-
la tak berani berpikir lebih jauh, sebab saban kali
membayangkan hal tersebut, hati nya pasti berdebar keras,
wajahnya berubah merah dan sepanjang malam tak bisa
tidur nyenyak-
Lan See giok pun merasa sangat tak tenang melihat
keadaan adik Soat nya yang makin lama semakin kurus dan
murung.
Seringkali dia menghibur nona tersebut selain berpesan
kepada Siau-thi gou agar selalu memperhatikannya.
http://kangzusi.com/
Ia juga tahu, dalam perjalanannya turun gunung nanti,
mungkin sekali banyak kesulitan dan percobaan yang bakal
dialaminya.
Diapun berharap gurunya bisa kembali dengan selamat,
hal ini berarti bisa membebaskannya untuk berangkat ke
luar lautan.
Meski diapun pernah memikirkan bibi Wan dan enci
Cian nya, namun masalah dendam orang tua dan musibah
gurunya jauh lebih memenuhi jalan pemikirannya.
Tahun baru kedua semenjak See-giok tiba di bukit Hoa-
san, akhirnya menjelang tiba, salju masih menyelimuti
seluruh permukaan tanah.
Biarpun suasana tahun baru merupakan hari-hari yang
paling bahagia, namun Lan See giok, Si Cay soat dan Siau
thi gou nampak lebih masgul dan murung.
Akhirnya tanggal tiga bulan pertama, Lan See-giok
mengambil keputusan untuk turun gunung.
Si Cay soat sibuk di dapur untuk menyiapkan hidangan
bagi perjamuan perpisahannya dengan Lan See giok.
Siau-thi-gou membantu See giok membereskan
perbekalannya.
Lan See-giok telah bertukar pakaian dengan baju baru
pemberian bibi Wan serta enci Cian, gurdi emasnya
disembunyikan dibalik pinggang dan senjata rahasia
andalan ayah nya peluru cahaya perak, digantungkan di
balik jubahnya.
Perjamuan perpisahan berlangsung cukup meriah,
meskipun masing-masing pihak berusaha untuk
menyembunyikan perasaan dukanya di dalam hati.
http://kangzusi.com/
Malam semakin kelam, akhirnya Lan See giok harus
membesarkan hati untuk bangkit berdiri.
"Adik Soat, Adik Gou, aku harus berangkat sekarang!"
ujarnya kemudian dengan suara tenang.
Si Cay-soat dan Siau- thi-gou manggut-manggut pedih,
serentak mereka bangkit untuk mengantar ke luar ruangan:
Barisan bambu dan pohon siong mereka lewati dengan
perasaan yang sangat berat dan masgul.
Sepanjang perjalanan, Siau-thi-gou diam-diam berdoa
bagi keberhasilan engkoh Giok-nya dan menemukan
kembali jejak guru mereka serta berhasil membalas sakit
hati.
Sedangkan Si Cay coat harus mengucurkan air mata
sambil menahan isak tangisnya, selain berharap engkoh
Gioknya bisa berhasil dengan sukses, di hati kecilnya pun
dipenuhi oleh pelbagai kemurungan yang serasa
menyumbat hatinya.
Lan See giok pun merasakan hatinya berat dan murung,
untuk kesekian kalinya dia harus merasakan kembali betapa
berat nya saat-saat perpisahan dengan orang-orang yang
dicintainya.
Namun ia tak berani banyak berbicara, ia berusaha untuk
menjaga ketenangan hatinya serta mencari akal bagaimana
mesti bertindak untuk menyelidiki jejak gurunya sesudah
turun gunung nanti.
Karena itulah meski wajahnya nampak -sangat tenang,
sesungguhnya dia merasa amat murung dan kesal.
Akhirnya hutan bambu sudah dilewati, sejauh mata
memandang, lapisan salju nan putih menyelimuti seluruh
jagad.
http://kangzusi.com/
Tiba-tiba Lan See giok menghentikan langkahnya,
kemudian sambil menengok adik Gou dan adik Soatnya
yang tampak sangat murung, ia berkata sedih:
"Adik Soat, adik Gou, kalian harus menjaga diri baik-
baik, begitu selesai pekerjaanku, secepatnya aku akan
pulang kembali."
Siau thi gou membuka matanya lebar-lebar sambil
mengangguk, matanya berkaca kaca dan hampir saja air
matanya jatuh bercucuran:
Si Cay-soat juga berusaha untuk mengendalikan gejolak
perasaannya, namun dia tak mampu mengendalikan diri
untuk membungkam terus, dengan wajah yang basah oleh
air mata dan wajah yang amat layu, dia menengok pemuda
itu sambil bisiknya dengan suara gemetar:
"Engkoh Giok ."
Namun hanya sebutan itu yang sempat meluncur ke luar,
tubuhnya segera gemetar keras, sambil menutupi wajah
sendiri dengan kedua belah tangan, dia menangis tersedu
sedu.
Sedih nian perasaan Lan See giok menyaksikan kejadian
seperti ini, namun bila teringat dia tugas berat yang berada
dibahunya, pemuda tersebut tak berani berpikir lebih jauh.
Dengan lemah lembut dipegangnya lengan gadis itu
kemudian dengan perasaan pedih dia berkata:
"Adik Soat. bila akan ingin mengucapkan sesuatu,
katakanlah sekarang juga.."
Dalam keadaan begini Si Cay soat tidak memperdulikan
lagi kehadiran Siau thi gou di tempat tersebut, sambil
menangis tersedu dia menubruk ke dalam pelukan See giok
lalu bisiknya.
http://kangzusi.com/
"Apa yang hendak kukatakan, telah kau ketahui semua”
Sebagai seorang yang pintar, sudah barang tentu pemuda
itu cukup mengetahui bagaimanakah perasaan gadis
tersebut sekarang.
Dengan perasaan sedih dan terharu, pemuda itu segera
menghibur.
"Adik Soat, kau jangan kelewat menyiksa diri, seusai
bertugas aku pasti akan kembali lagi!"
Si Cay soat pun cukup tahu bahwa anak muda tersebut
tak mungkin bisa kembali sedemikian cepatnya, sebab di
samping menyelidiki musuh-musuh besar pembunuh
ayahnya. diapun harus menelusuri jejak gurunya, bahkan
bisa jadi perjalanannya didampingi Ciu Siau cian,
mungkinkah pemuda itu akan kembali secepatnya?
Melihat gadis itu membungkam diri dalam seribu
bahasa. Lan See-giok mengerti, tak mungkin ia bisa
menghibur perasaannya yang duka dengan sepatah dua
patah kata saja, akhirnya sambil membulatkan tekad ia
berkata:
"Adik Soat, adik Gou, jagalah diri kalian baik-baik, aku
akan berangkat dulu!"
Si Cay-soat mengangkat kepalanya memandang pemuda
itu sedih, lalu mengangguk lirih.
"Berangkatlah engkoh Giok, semoga kau jangan terlalu
memikirkan siau-moay berdua sehingga mengganggu
pikiranmu.."
Lan See giok mengerti apa yang dimaksudkan, dia
menghela napas sedih seraya menjawab:
http://kangzusi.com/
"Perasaanku hanya Thian yang maha tahu, moga-moga
adik Soat bisa menjaga diri baik-baik dan merawat adik
Gou semestinya.”
"Jangan sampai membuat kau sendiri jatuh sakit!"
Kata-kata tersebut amat menghibur perasaan Si Cay-soat,
ia segera menyeka air matanya dan mengangguk.
Sekali lagi Lan See giok memandang wajah ke arah Si
Cay-soat serta Siau-thi gou, kemudian diiringi ucapan
selamat tinggal ia membalikkan badan dan berlalu dari situ.
Dalam waktu singkat bayangan tubuh Lan See giok
sudah lenyap di balik pepohonan sana.
Perasaan sedih, kosong. sepi dengan cepat menyelimuti
seluruh perasaan Si Cay-soat, tak tahan lagi air matanya
sekali lagi jatuh bercucuran dengan derasnya.
"Sudahlah enci Soat" Siau-thi-gou segera menghibur.
"mari kita masuk, engkoh Giok telah pergi jauh."
Namun Si Cay soat tidak memberikan reaksi apapun, dia
masih berdiri termangu sambil memandang ke muka
dimana bayangan tubuh Lan See-giok melenyapkan diri
tadi.
Lan See giok mengerahkan segenap tenaganya untuk
berlari kencang. begitu pesatnya dia berkelebat membuat
pemuda itu tercengang sendiri atas kemajuan yang telah
dicapainya selama ini.
Sawah dan gunung sudah dilalui, dengan menelusuri
jalan raya yang ramai dia bergerak terus menuju ke arah
tenggara.
Langit mulai terang, matahari mulai muncul dari ufuk
timur, namun Lan See giok masih meneruskan
perjalanannya dengan cepat.
http://kangzusi.com/
Ketika tiba di sebuah kota besar, Lan See giok mendapat
tahu kalau tempat itu terletak paling dekat dengan benteng
Pek hoo cay milik si toya besi berkaki tanggal Gui Pak
ciang ketimbang bukit Tay ang san dari beruang berlengan
tunggal.
Mengetahui hal tersebut, ia mengambil keputusan untuk
berangkat ke Benteng Pek hoo cay mencari si toya baja
berkaki tunggal, meski Gui Pak ciang tidak termasuk orang
yang paling mencurigakan, namun siapa tahu kalau dari
mulutnya akan diperoleh sedikit informasi yang
menguntungkan?
Malam itu, dia tiba di sebuah kota yang jaraknya tinggal
sepuluh li dari benteng Pek hoo cay.
Setelah menempuh perjalanan jauh, Lan See giok merasa
perutnya lapar, dia pun memasuki sebuah rumah makan
yang berada tak jauh dari situ.
Suasana dalam rumah makan ramai sekali, hampir
semua tempat dipenuhi dengan tamu yang minum arak
sambil bermain dadu.
Lan See giok memilih sebuah tempat yang dekat dengan
jendela, sesudah memesan hidangan, dia bersantap sambil
tiada hentinya menyusun rencana bagaimana menghadapi
Gui Pak ciang nanti.
Sementara masih melamun, tiba-tiba dari luar jendela
berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai sekali.
Menyusul kemudian terdengar suara orang yang
berteriak-teriak kaget dari arah jalan raya.
Serentak semua keramaian dalam rumah makan terhenti
sama sekali, orang berhenti bermain dadu, yang semula
berkaok-kaok kini pun membungkam diri dalam seribu
bahasa, suasana menjadi hening sekali.
http://kangzusi.com/
Hal tersebut tentu saja mengherankan Lan See giok,
tanpa terasa dia membuka daun jendela sambil menengok
ke depan.
Pada saat itulah seorang pelayan telah membuka jendela
sambil mengintip ke luar, tapi paras mukanya segera
berubah hebat serunya tiba-tiba:
"Aduh celaka, ji-hujin dari benteng Pek hoo cay. Tok nio
cu (wanita beracun) telah datang!"
Berkilat sepasang mata Lan See giok mendengar ucapan
itu, dengan cepat dia bangkit berdiri dan melongok ke luar.
Sementara itu dari ujung jalan sana terlihat ada enam
ekor kuda jempolan sedang dilarikan kencang kencang,
orang yang semula berlalu lalang, kini kelihatan lari kian
kemari mencari perlindungan, suasana amat kalut dan
panik.
Dibagian paling depan nampak seekor kuda putih
ditunggangi seorang nyonya cantik bermantel hitam yang
nampaknya baru berusia dua puluh enam tujuh tahunan.
Sedangkan lima ekor lainnya ditunggangi oleh lima lelaki
kekar yang semuanya menyoren senjata, ketika Lan see
giok menengok ke luar, kebetulan sekali nyonya cantik
itupun sedang menengok ke arahnya.
Tiba-tiba saja mencorong sinar tajam dari balik mata
nyonya cantik bermantel hitam itu, ia berseru kaget dan
segera menarik tali les kudanya kencang-kencang.
Diiringi suara ringkikan panjang, kuda putih itu segera
mengangkat kakinya ke atas meski begitu, nampaknya
nyonya muda itu mahir sekali menunggang kuda, ia sama
sekali tidak terjatuh dari kudanya.
http://kangzusi.com/
Kelima ekor kuda lainnya serentak menahan pula kuda
masing-masing secara mendadak, hal ini membuat suasana
bertambah kalut, para pejalan kaki yang sudah menyingkir
ke samping. sama-sama menjerit kaget sambil
membubarkan diri ke empat penjuru ..
Lan See giok, sendiri meski tidak pandai menunggang
kuda, tapi setahun telah berselang, ketika ia sedang kabur
dari benteng Wi-lim-poo, pemuda itu pernah mengalami
suatu pengalaman yang cukup mengagetkan di tepi telaga
Phoa-yang -oh.
Tak heran kalau dia segera bersorak memuji setelah
menyaksikan kemahiran Tok-nio-cu dalam ilmu
menunggang kudanya.
Tapi perasaan tak puas segera muncul pula sesudah
menyaksikan para rakyat jelata pada membubarkan diri
dalam keadaan panik dan kalut karena ketakutan.
Dilihat dari cara orang-orang Pek hoa cay yang berani
melarikan kudanya kencang-kencang ditengah jalan yang
ramai, bisa diketahui bagaimanakah sepak terjang mereka
diwaktu waktu biasa.
Sekalipun demikian, ia tak ingin banyak menimbulkan
urusan daripada belum-belum sudah mengejutkan
lawannya, bila hal tersebut sampai terjadi, berarti dia telah
memberi kesempatan kepada si Toya baja berkaki tunggal
Gui Pak ciang untuk mempersiapkan diri dengan sebaik
baiknya.
Sementara ingatan tersebut masih melintas di dalam
benaknya, nyonya cantik berbaju hitam itu sudah melejit ke
tengah udara dengan suatu gerakan yang sangat enteng..
http://kangzusi.com/
Mantel hitamnya yang lebar segera berkibar pula ketika
terhembus angin, bagaikan sekuntum awan hitam, dia
melayang turun di depan pintu rumah makan.
Kelima orang lelaki lainnya yang menyaksikan kejadian
tersebut, serentak meninggalkan kuda kudanya dan
berlarian menuju ke depan rumah makan itu.
-ooo0dw0ooo-

BAB 17
LAN SEE-GIOK segera berkerut kening, dengan
perasaan tak habis mengerti ia berpaling, dilihatnya para
tamu yang semula berada dalam ruang rumah makan, kini
sedang membereskan uang dan gundu mereka dengan
wajah panik dan peluh dingin bercucuran deras.
Tak selang berapa saat kemudian, dua orang lelaki
berwajah penuh amarah telah muncul di atas loteng.
Menyusul kemudian bayangan hitam berkelebat lewat,
Tok Nio-cu si perempuan cantik berbaju hitam itu diiringi
ketiga orang lelaki lainnya telah muncul pula di ruang
loteng dengan langkah tergesa gesa..
"Blaammm !"
Serentak para tamu bangkit berdiri seraya
membungkukkan badan memberi hormat. semuanya
menahan napas sambil mengawasi Tok Nio-cu yang cantik
dengan senyuman dikulum itu dengan perasaan panik
bercampur tegang.
kebetulan sekali pada waktu itu hanya Lan See giok
seorang yang duduk di kursinya, sebab dia sedang
mengawasi Tok Nio-cu yang menampakkan diri sehingga
tidak terlalu memperhatikan gerak gerik para tamu lainnya.
http://kangzusi.com/
Sejak muncul dalam dunia persilatan hingga kini sudah
ada beberapa orang gadis cantik yang pernah dijumpainya.
..Orang pertama yang masuk ke dalam lembaran
hidupnya adalah enci Cian yang lembut, kemudian adik
seperguruannya Si Cay-soat yang lincah dan ketiga adalah
Oh Li cu yang genit.
Dan kini, Tok Nio-cu yang usianya sudah mencapai dua
puluh enam-tujuh tahunan ini ternyata dirasakan berwajah
mirip sekali dengan Oh Li cu, seolah-olah mereka berdua
adalah saudara sekandung saja.
Rambutnya yang lembut, wajahnya berbentuk bulat telur
dengan biji mata yang bening, hidung mancung dan bibir
kecil mungil. dia memang seorang perempuan cantik yang
sangat menawan hati.
Sementara dia masih melamun. mendadak seorang lelaki
kekar berjalan mendekatinya. kemudian dengan mata
melotot besar hardiknya keras-keras:
"Bocah keparat, kau benar-benar tak tahu adat, setelah
bertemu dengan hujin, mengapa tidak bangkit berdiri untuk
memberi hormat?"
Di tengah bentakan keras, tubuhnya menerjang ke muka
dan telapak tangan kanannya siap dibacokkan ke atas tubuh
Lan See giok.
Sesungguhnya Lan See giok tidak berniat mencari
urusan. tapi setelah menyaksikan sikap kasar lawan yang
jelas hendak mencari gara-gara itu, keningnya langsung
berkerut, api amarah pun berkobar.
"Koan-ki, kembali!" mendadak Tok- Nio-cu membentak
keras.
http://kangzusi.com/
Sayang bentakan itu sudah terlambat, te-lapak tangan
kanan Koan-ki sudah diayunkan ke muka membacok tubuh
Lan See giok yang masih duduk dengan tenang itu.
Lan See giok tertawa dingin, sambil menarik muka dia
membalikkan pergelangan tangannya sambil mengayun ke
atas, jurus tiang sakti penahan langit segera dipergunakan.
Tidak terlihat secara jelas gerakan apakah yang
dipergunakan olehnya, tahu-tahu saja pergelangan tangan
lelaki itu sudah kena dicengkeram olehnya, menyusul
kemudian sekali bentakan saja. dia telah melemparkan
tubuh lelaki itu ke belakang.
"Blaammm!"
Diiringi suara benturan yang sangat keras. debu dan pasir
beterbangan kemana mana, diiringi jerit kesakitan lelaki itu
terlempar ke luar dari jendela -
Melihat hasil dari gerakannya itu, Lan See giok merasa
amat terkejut. Dia jadi teringat kalau di belakang jendela
merupakan jalan raya, namun sayang keadaan sudah
terlambat baginya untuk menarik kembali serangan
tersebut.
Jeritan kaget dan teriakan panik dengan cepat
berkumandang dari luar jendela.
Lan See-giok mencoba untuk melongok ke bawah, di
jumpainya orang-orang yang semula berkerumun melihat
keramaian di bawah loteng situ kini sedang saling berdesak-
desakan saja, suasana kalut sekali.
"Duuk!"
Tak ampun tubuh koan-ki yang kekar mencium di atas
tanah keras-keras, begitu kerasnya bantingan tersebut,
http://kangzusi.com/
membuat untuk sementara hanya bisa mengaduh-aduh
lemah.
Bersamaan waktunya ketika Lan See-giok melongok ke
bawah, dari belakang tubuh nya telah bergema lagi dua kali
bentakan keras yang memekikkan telinga.
"Dengan kehadiran nyonya di sini, kau si keparat berani
turun tangan dengan semaunya sendiri?"
Angin pukulan yang sangat kencang mendadak
meluncur kearah belakang kepalanya.
Ucapan yang tersebut tadi kembali membangkitkan
amarah dalam dada Lan See-giok
Dengan cepat dia memutar badannya sembari
membentak nyaring.
"Kawanan tikus, pingin mampus rupanya kalian!"
Kedua belah tangannya dipergunakan bersama dengan
suatu gerakan cepat ia mencengkeram lengan kedua orang
lelaki tersebut kemudian mengayunkan ke belakang.
Diiringi jeritan kesakitan. kedua orang -lelaki itu kembali
terlempar ke luar dari luar jendela.
Meski pun suasana di atas jalan raya amat ramai dengan
jeritan kaget, namun di ruang loteng dengan berpuluh orang
tamunya justru dicekam dalam keheningan yang luar biasa,
semua orang hanya bisa membelalakkan matanya dengan
perasaan terkejut.
Semula Tok Nio-cu sebetulnya hanya tertarik oleh
ketampanan wajah Lan See giok dia merasa pemuda
tampan dengan pakaian tipis yang dikenakan di musim
dingin ini sudah pasti mempunyai asal usul yang luar biasa.
Apa mau dikata Koan-ki, lelaki kekar tadi kelewat
sombong dan tak mau memandang sebelah mata kepada
http://kangzusi.com/
orang lalu, bukan saja serangannya mengalami kegagalan,
bahkan nyaris terbanting mampus di bawah loteng.
Akibat dari peristiwa tersebut, Tok Nio-cu ikut
kehilangan muka sehingga mustahil lagi baginya untuk
berdiam diri belaka.
Apalagi sekarang, bertambah dua orang anak buahnya
lagi terlempar ke bawah loteng, posisinya boleh dibilang
semakin terdesak.
Selama berkelana di dalam dunia persilatan, belum
pernah Tok Nio-cu diperlakukan orang semacam ini, tak
heran kalau paras mukanya segera berubah menjadi hijau
membesi dan tubuhnya gemetar keras.
Sambil tertawa dingin, katanya kemudian dengan suara
berat dan dalam:
"Masih muda sudah tak tahu diri, berani amat melukai
anak buahku? Hmm, kau pasti seorang anak ayam yang
baru muncul dalam dunia persilatan sehingga tak tahu
tinggi nya langit dan tebalnya bumi!"
Kemudian setelah mengamati wajah Lan See giok sekali
lagi, dia berkata lebih lanjut, hanya kali ini suaranya jauh
lebih lembut. "Jika kulihat dari gerak seranganmu yang
hebat, semestinya kau berasal dari perguruan kenamaan,
ayo cepat kau sebut kan nama gurumu dan asal
perguruanmu, bila ada hubungannya dengan kami,
memandang di atas hubungan kita dimasa lalu aku bersedia
melepaskan dirimu dan menyudahi persoalan sampai disini
saja. kalau tidak. hmmm . . ."
"Kalau tidak mau apa kau?" jengek Lan See giok dengan
nada yang amat sinis.
http://kangzusi.com/
Sebetulnya Tok Nio-cu berniat mengalah dengan
harapan Lan See giok bisa mencari alasan untuk menyudahi
persoalan tersebut.
Siapa tahu, anak muda itu justru lebih berani lagi,
bahkan mengejek pula. bisa di bayangkan betapa
amarahnya perempuan itu.
Sepasang matanya segera melotot besar, keningnya
berkerut kencang, dengan suara keras bentaknya:
"Bagus. kalau toh kau tekebur terus dan tak tahu diri,
akan kusuruh kau rasakan sampai di manakah kelihaian
dari aku Tok