Anda di halaman 1dari 135

OPTIMASI PEMANFAATAN RUANG UNTUK EKOWISATA

BAHARI DENGAN APLIKASI MARXAN DAN WILLINGNESS


TO PAY: STUDI KASUS KECAMATAN BETOAMBARI
KOTA BAUBAU

AL AZHAR

SEKOLAH PASCA SARJANA


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul: Optimasi


Pemanfaatan Ruang Untuk Ekowisata Bahari dengan Aplikasi Marxan dan
Willingness To Pay: Studi Kasus Kecamatan Betoambari Kota Baubau, adalah
hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka tesis ini.

Bogor, Juli 2011

Al Azhar
NRP C252090041
ABSTRACT

AL AZHAR. Optimizing Spasial Use for Marine Ecotourism Using Marxan and
Willingness To Pay Aplication: case study in Betoambari SubDistrict Baubau
City. Under direction of MENNOFATRIA BOER and AGUSTINUS M.
SAMOSIR.

Baubau is a growing city in Southeast Sulawesi Province, which has


potential to be developed as a marine tourism destination. However, the
development should be done in a sustainable way to reduce the risk of ecological
destruction in the future. The objectives of this research were to identify the
suitability of coastal resources for marine ecotourism especially diving and to
analyze optimum space of marine ecotourism based on minimal cost and
economic value. The research was conducted in the Betoambari Sub District. The
data were collected through sampling, direct observation of field conditions,
distributing questionnaires, and in-depth interviews at the sites; tracking various
related sources for secondary data. The result showed that the ecology-based
ecotourism category diving was included in most appropriate category (S1) with
area 12.49 ha and appropriate (S2) 67.28 ha; optimum space based on minimal
cost and economic value was scenario 1 (70% target protection of coral reef), with
net benefit Rp 12.653.950.000/years and area 58.82 ha.

Keyword: Baubau, optimizing, marine ecotourism, efficiency, net benefit.


RINGKASAN

AL AZHAR, Optimasi Pemanfaatan Ruang Untuk Ekowisata Bahari dengan


Aplikasi Marxan dan Willingness To Pay: Studi Kasus Kecamatan Betoambari
Kota Baubau. Dibimbing oleh MENNOFATRIA BOER dan AGUSTINUS M.
SAMOSIR.

Baubau merupakan kota otonom yang relatif baru di Propinsi Sulawesi


Tenggara, di mana memperoleh status kota pada Tanggal 21 Juni 2001 (Undang-
undang Nomor 13 Tahun 2001). Kota yang merupakan daerah eks-pusat
Kesultanan Buton ini memiliki prospek pengembangan pariwisata bahari cukup
besar. Dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) Kota Baubau
Tahun 2005, serta revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tahun 2009,
kawasan Pantai Nirwana-Lakeba Kecamatan Betoambari dialokasikan untuk
pengembangan pariwisata bahari. Namun hingga saat ini wisata bahari di kawasan
ini seakan jalan di tempat dan belum menunjukkan perkembangan optimal. Salah
satu penyebabnya adalah belum ada peruntukan ruang khusus untuk
pengembangan wisata bahari. Sementara intensitas pemanfaatan kawasan dan
sumberdaya untuk berbagai kepentingan di wilayah tersebut semakin besar dan
meluas. Apalagi saat ini sedang dibangun pelabuhan transit depo pertamina, yang
dikhawatirkan akan menyebabkan degradasi sumberdaya pesisir utamanya
terumbu karang. Tujuan penelitian ini terdiri atas: (1) mengetahui potensi
sumberdaya perairan Kecamatan Betoambari yang sesuai bagi pengembangan
ekowisata, khususnya kegiatan selam; (2) mendesain kawasan ekowisata bahari
yang optimal berdasarkan biaya minimal dan manfaat ekonomi maksimal.
Penelitian ini dilaksanakan di perairan Kecamatan Betoambari Kota
Baubau. Pengamatan ekologis, parameter kualitas perairan, pengumpulan data
sekunder dan sosial ekonomi dilaksanakan antara Juli-September 2010, serta
survei lanjutan antara Januari-Maret 2011. Jenis dan sumber data yang digunakan
terdiri atas: data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang
diperoleh langsung dari lapangan melalui observasi, survei, serta wawancara
dengan masyarakat, wisatawan, dan pemangku kepentingan, sedangkan data
sekunder diperoleh dari studi pustaka atau laporan hasil penelitian, serta data
instansi terkait. Pengamatan sebaran dan luasan terumbu karang dibantu dengan
penginderaan jauh (citra Landsat 5 TM Kota Baubau Akuisisi Tahun 2010) dan
Sistem Informasi Geografi (SIG). Sedangkan pengambilan data terumbu karang
menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), kemudian dianalisis
berdasarkan penutupan komunitas karang. Penentuan ruang ekowisata bahari
berdasarkan efisiensi biaya dianalisis menggunakan aplikasi Marxan (Marine
Reserve Design Using Spatially Explicit Annealing). Sedangkan penentuan ruang
optimal perencanaan ekowisata berdasarkan nilai ekonomi memakai perhitungan
net benefit (keuntungan) yang merupakan selisih dari total benefit (TB) yang
diperoleh dari kombinasi antara daya dukung wisata (DDW) dan willingness to
pay (WTP), dengan total cost (TC) yang diambil dari hasil konversi fungsi
objektif Marxan ke dalam satuan rupiah.
Berdasarkan pengamatan lapangan, terumbu karang di perairan Kecamatan
Betoambari tersebar hampir di seluruh wilayah pesisir Kelurahan Sulaa dan
Katobengke. Melalui analisis citra dan SIG, diketahui luasan terumbu karang
sekitar 83.64 ha. Tutupan komunitas karang tertinggi ditemukan pada perairan
Pantai Nirwana (wilayah yang berbatasan dengan Kecamatan Batauga Kabupaten
Buton) sebesar 86.17 %. Ini menandakan tingkat pemanfaatan dan degradasi
terhadap terumbu karang di kawasan ini relatif kecil. Sedangkan tutupan
komunitas karang yang paling kecil adalah pada perairan Pantai Lakeba sebesar
49.90%. Persentase yang kecil ini, disebabkan tingkat pemanfaatan yang merusak
terumbu karang cukup tinggi, contohnya penggunaan batu karang untuk jangkar
rakit budidaya rumput laut dan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti bahan
peledak atau bom.
Dari hasil analisis, diperoleh perairan Kecamatan Betoambari yang sesuai
untuk ekowisata bahari kategori selam berbasis ekologis terdapat di hampir
sepanjang pesisir Kelurahan Sulaa dan Katobengke. Kategori kelas paling sesuai
(S1) berada di perairan Pantai Nirwana seluas 12.49 ha; kelas cukup sesuai (S2)
seluas 67.28 ha tersebar di Tanjung Sulaa, perairan pantai lakeba, arah Selatan
Pantai Nirwana; dan kelas sesuai bersyarat (S3) di perairan Kelurahan Sulaa
seluas 3.87 ha. Kawasan ekowisata yang optimal berdasarkan biaya minimal dan
manfaat ekonomi maksimal adalah skenario 1 (target ekowisata terumbu karang
70%), seluas 58.82 ha dengan nilai net benefit sebesar Rp 12 653 950 000 per
tahun. Dengan skenario ini, kawasan yang paling sesuai (S1) untuk dijadikan
pusat ekowisata bahari adalah di perairan Pantai Nirwana, sedangkan cukup sesuai
(S2) tersebar di arah Selatan Pantai Nirwana dan sebelah Selatan Pantai Lakeba.

Kata Kunci: Baubau, optimasi, ekowisata bahari, efisiensi biaya, keuntungan.


@ Hak Cipta milik IPB, Tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa


mencantumkan atau menyebutkan sumber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu
masalah.
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar.
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atas seluruh karya
tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
OPTIMASI PEMANFAATAN RUANG UNTUK EKOWISATA
BAHARI DENGAN APLIKASI MARXAN DAN WILLINGNESS
TO PAY: STUDI KASUS KECAMATAN BETOAMBARI
KOTA BAUBAU

AL AZHAR

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

SEKOLAH PASCA SARJANA


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc
Judul Tesis : Optimasi Pemanfaatan Ruang Untuk Ekowisata Bahari
dengan Aplikasi Marxan dan Willingness To Pay: Studi
Kasus Kecamatan Betoambari Kota Baubau.
Nama : Al Azhar
NRP : C252090041
Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

Disetujui :

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA Ir. Agustinus Samosir, M.Phil
Ketua Anggota

Diketahui :

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana IPB


Sekretaris Program Magister,

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

Tanggal Ujian : 23 Mei 2011 Tanggal Lulus : …………………….


PRAKATA

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul
Optimasi Pemanfaatan Ruang Untuk Ekowisata Bahari dengan Aplikasi Marxan
dan Willingness To Pay: Studi Kasus Kecamatan Betoambari Kota Baubau, tepat
waktu. Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar
Magister Sains pada Program Pascasarjana Mayor Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir dan Lautan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).
Karya penelitian ini lahir dari hati nurani penulis sebagai bagian dari
masyarakat pesisir, yang diinspirasi oleh naluri intelektual penulis selama bergelut
dalam studi pesisir dan kelautan. Penulis sangat menyadari karya ini dapat
dirampungkan berkat dukungan dan arahan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, baik secara langsung maupun
tidak langsung yang telah memberikan bantuan sejak proses masa perkuliahan
hingga pada tahap akhir penulisan tesis ini. Dengan segala kerendahan hati,
penulis menghanturkan terima kasih dan rasa hormat sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA, dan Ir. Agustinus M Samosir,
M.Phil, sebagai komisi pembimbing yang penuh kesabaran meluangkan
waktu untuk senantiasa memberikan motivasi, bimbingan, arahan, dan
masukan kepada penulis demi penyempurnaan penelitian ini, baik dari segi
substansi maupun penulisan.
2. Bapak Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc, yang telah bersedia menjadi penguji
luar komisi pembimbing pada saat ujian tesis.
3. Seluruh dosen pengajar dan staf Program Studi Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir dan Lautan (SPL) Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
4. Keluarga tercinta, atas doa dan motivasi yang menjadi napas perjuangan bagi
penulis. Khusus ayahanda Arif (Alm) dan ibunda Hj. Ziyma, berkat curahan
kasih sayang dan sapa halus kalian telah mengantarkan penulis dapat
menuntut ilmu di perguruan tinggi. Penulis sadar belum dapat membalas
semua pengorbanan kalian. Seluruh saudaraku yang telah menyelimutiku
dengan motivasi dan melewati bersama suka duka kehidupan: Bardin, S.Pd;
Aznia; Adi Harianto Oka, ST; Zumiati, S.Si, Apt; Zuriati, ST; Zuardin, SKM;
dan Zumria; serta keponakan tersayang Fahrunnisa Ilmi, Firdha Nurul Ilmi,
dan Muhammad Fachry Rizki Oka.
5. Keluarga Wisma Edulweis Bogor: Kakanda Rusman, S.Pi, M.Si; Kakanda
Supasman Emu, S.Pi, M.Si; Bunda Ir. Budianti, M.Si; Nurmin Amin, S.Hut;
Sitti Yani, S.Si, M.Si; Lita Masitha, S.Pi bersama keluarga, terima kasih atas
semua bantuan, kritikan, dan motivasi. Khusus Rani Chahyani Ansar, S.Si,
yang selalu memberikan masukan dan membantu mengoreksi penulisan tesis.
6. Kakanda Jamal Harimudin, S.Si, M.Si, telah membantu dan meluangkan
waktu mengarjarkan penulis ilmu pemetaan; Kakanda La Ila, S.Pi, M.Si yang
memberikan informasi tentang Marxan.
7. Lembaga Napoleon Kota Baubau yang memberikan data dan informasi
kondisi terumbu karang di perairan Kecamatan Betoambari.
8. Teman-teman survei terumbu karang; Sudiar, Sumitro, Vian, dan PT Buton
Resort. Sahabat Andy Kadir yang membantu mengumpulkan data sosial
ekonomi masyarakat dan wisatawan.
9. Saudara seperantauan: Kakanda Ir. Tasrudin; Kakanda Ir. Muhammad Alwi,
M.Si; La Ode Muhammad Arsal, S.Pi; Hasan Eldin Adimu, S.Pi;
Suwarjoyowirayatno, S.Pi; Robin, S.Pi; Asis Bujang, S.Pi; Fendi, S.Si, dan
La Ode Aslin, S.Pi.
10. Kepala Dinas Tata Kota dan Bangunan Kota Baubau beserta staf; Kepala
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau beserta staf; Kepala Bappeda
beserta staf; serta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Baubau beserta
staf, yang telah memberikan data dan informasi.
11. Sahabatku Upik Sri Rahayu, SE, yang selalu memotivasi dan mendoakan
keberhasilan studi penulis
12. Seluruh rekan-rekan seperjuangan SPL XVI: James Walalangi, S.Kel;
Mochamad Idham Shilman, S.Pi; Sudirman Adibrata, ST; Ita Karlina, S.Pi;
Andi Chadijah, S.Pi; Syultje M Latukolan, S.Pi; Dewi Dwi Puspitasari, S.Pi;
Fery Kurniawan, S.Kel; Rieke Kusuma Dewi, S.Pi; Yofi Mayalanda, S.Hut;
Aldino Akbar, S.Pi; Suryo Kusumo, S.Pi; Mohamad Akbar, S.Pi; Mohamad
Sayuti Djau, S.IK; Destilawaty, S.Pi; dan Raden Mas Puji Raharjo, S.Pi.
13. Seluruh rekan-rekan SPL XV (angkatan 2008).
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak terdapat
kesalahan dan kekeliruan yang disebabkan oleh keterbatasan wawasan dan
pengetahuan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang
sifatnya membangun, demi penyempurnaan di masa yang akan datang sehingga
dapat bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih.

Bogor, Juli 2011

Al Azhar
RIWAYAT HIDUP

AL AZHAR dilahirkan pada Tanggal 30 Desember 1983 di Kota Baubau


Provinsi Sulawesi Tenggara, sebagai anak keempat dari pasangan Arif (Alm) dan
Hj Ziyma. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SDN 1 Bone-bone)
Tahun 1996, Sekolah Menengah Pertama (SMPN 4 Baubau) Tahun 1999, dan
Sekolah Menengah Umum (SMUN 2 Baubau) Tahun 2002, di Kota Baubau.
Penulis diterima sebagai mahasiswa program studi Sosial Ekonomi
Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin
Makassar pada Tahun 2003, dan menyelesaikan studi pada Tahun 2007. Sebelum
mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister pada Mayor
Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan di Sekolah Pascasarjana IPB pada
Tahun 2009, penulis bekerja menimba pengalaman di beberapa lembaga. Pada
Tahun 2007-2008, penulis bekerja sebagai editor film dokumenter pada Jaringan
Pengembangan Kawasan Pesisir (JPKP) Buton yang bekerja sama dengan Uni
Eropa dan Oxfam Great Britian. Pada Tahun 2008-2009, penulis bekerja sebagai
jurnalis harian umum Media Sultra (Grup Media Indonesia) di Kota Baubau.
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ……………………….………………………………….. xxiii
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………….. xxv
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………….. xxvii

1. PENDAHULUAN …………..………………………………………...
1.1 Latar Belakang …………...…….………….………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah Penelitian ...………….………………………… 3
1.3 Tujuan Penelitian ………..……….………………………….……... 3
1.4 Manfaat Penelitian ..……………….…………….………….……… 3
7
2. TINJAUAN PUSTAKA … ………………………………………......
2.1 Terumbu Karang…………………………………………………… 5
2.2 Konsep Ekowisata Bahari….……………………...…….….……… 7
2.3 Kesesuaian Perairan Untuk Ekowisata…………………………….. 10
2.4 Daya Dukung Ekowisata Bahari….………………….…………….. 11
2.5 Zonasi Kawasan Ekowisata .....……………………………………. 13
2.5.1 Sistem Informasi Geografi…...……………………………… 13
2.5.2 Marxan …....…………………………...…………………… 15
2.4.1. A. Simulated Annealing...…………………………………… 15
2.4.2. B. Summed Solution ..……………………………..…….….. 17
2.4.3. C. Satuan Perencanaan .…..………………………….……… 17
2.4.3. D. Identifikasi Daerah Prioritas (Target) dan Skenario…...... 20
2.4.3. E. Biaya …….....…..………………………………….…….. 20
2.4.3. F. Pengubah Panjang Batas………….………………………. 20
2.4.3. G. Penalti...………………………………………………….. 21
2.6 Metode Valuasi Sumberdaya Alam ……………………………….. 22
93
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian …..……….…………….…………… 25
3.2 Alat dan Bahan Penelitian.........……………….………………….... 25
3.3 Jenis dan Sumber Data….………………….….………………….… 28
3.4 Metode Pengumpulan Data.......………………….……………….... 28
3.4.1 Parameter Lingkungan Perairan ..…………………………… 28
3.4.2 Data Komunitas Karang…….……………………………….. 28
3.4.3 Data Ikan Karang……………………………………….……. 30
3.4.4 Data Sosial ……………………………………………….….. 30
3.5 Metode Analisis Data………………………………...……….……. 30
3.5.1 Analisis Komunitas Karang..………………………………… 30
3.5.2 Analisis Kesesuaian Kawasan…….…………………………. 31
3.5.3 Analisis Efisiensi Ruang dengan Aplikasi Marxan…….…… 32
2.4.1. A. Pembobotan Fitur Konservasi dan Fitur Biaya……….…. 33
2.4.2. B. Penentuan Daerah Kajian……..…………………….……. 35
2.4.3. C. Penentuan Satuan Perencanaan…..………………….….... 36
xix
xx

2.4.3. D. Pemasukan Data Fitur Konservasi dan Fitur Biaya...….... 37


2.4.3. E. Pengubah Panjang Batas……………….…………….…... 37
2.4.3. F. Biaya Satuan Perencanaan……………………………..…. 39
2.4.3. G. Konfigurasi File-file Marxan …...…………………...….. 39
2.4.3. H. Melihat Hasil Analisis Marxan…………………………... 40
2.4.3. I. Pembuatan Berbagai Skenario……...………………...….. 40
3.5.4 Analisis Potensi Nilai Manfaat Ekonomi ..…………………. 41
2.4.1. A. Analisis Daya Dukung Kawasan……………………….… 41
2.4.2. B. Analisis CVM dengan Pendekatan WTP..………….….… 42

4. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN


4.1 Keadaan Geografis ………….……………………………………... 45
4.2 Karakteristik Fisik. ………………………..…………………….…. 45
4.2.1 Kondisi Geologi …………………………………………….. 45
4.2.2 Topografi………………………..…………………………… 46
4.2.3 Musim dan Suhu……………………..………………………. 46
4.3 Kondisi Oseanografi Fisika Perairan……………………………….. 46
4.3.1 Pasang Surut……………………………..…………………... 47
4.3.2 Karakteristik Gelombang…………………………………….. 47
4.3.3 Arus….………………………………………………………. 47
4.3.4 Suhu dan Salinitas…………………………………………… 48
4.4 Karakterisik Pariwisata…….………………………………………. 49
4.4.1 Kebijakan Pengembangan Pariwisata………………………... 49
4.4.2 Perkembangan Kunjungan Wisatawan…..…………………... 52
4.5 Karakteristik Masyarakat……………….…..………………………. 53
4.5.1 Perkembangan Jumlah Penduduk……..……………………... 53
4.5.2 Persepsi Masyarakat Lokal Terhadap Wisata Bahari…..……. 54

5. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Potensi Sumberdaya Kecamatan Betoambari………………………. 55
5.1.1 Kondisi Ekosistem Terumbu Karang……..……….………… 55
2.4.1. A. Persentase Tutupan Komunitas Karang…..………………. 55
2.4.2. B. Bentuk Tumbuh Karang……………………....………….. 59
2.4.1. C. Jenis Ikan Karang…………………………………………. 61
2.4.2. D. Biota Lain ………………………………….………..…… 63
5.1.2 Kualitas Perairan…………..………………………………… 64
5.1.3 Kesesuaian Kawasan Pengembangan Ekowisata Bahari..….. 64
5.2 Ruang Ekowisata Bahari Optimal 67
5.2.1 Pemanfaatan Kawasan di Perairan Kecamatan Betoambari… 67
5.2.2 Ruang Ekowisata Berdasarkan Efisiensi Biaya……..………. 69
2.4.1. A. Penetapan Persentase Target Ruang Ekowisata……..…… 69
2.4.1 B. Pengaturan Skenario Ruang Ekowisata…………….…….. 71
2.4.1 C. Pemilihan Nilai Efisien diantara 3 Skenario……………… 72
5.2.3 Potensi Total Nilai Manfaat Ekonomi……….………………. 78
A. Daya Dukung Pengembangan Ekowisata Tiap Skenario…. 78
B. Potensi Nilai Ekonomi Ekowisata…………………….......4 79
5.2.4 Ruang Ekowisata Optimal Berdasarkan Biaya Minimum dan
Manfaat Ekonomi Maksimal…………………………………. 80
xxi

6. KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan………………………………………………………….. 83
6.2 Saran…………………………………………………………………. 83

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Bentuk dan ukuran unit perencanaan dari aplikasi Marxan sebelumnya.... 19


2. Koordinat lokasi stasiun penelitian pada kedalaman 10 meter…….…….. 25
3. Parameter lingkungan perairan ………..….…………….…….………….. 28
4. Daftar penggolongan komponen dasar penyusun ekosistem terumbu
karang berdasarkan lifeform karang dan kodenya………………...………. 29

5. Kategori kondisi terumbu karang berdasarkan persentase penutupan


karang hidup…………………………………………………..…………... 31
6. Matriks kesesuaian untuk ekowisata bahari kategori selam……………… 32
7. Penentuan nilai faktor denda (SPF) fitur konservasi….……….…………. 34
8. Penentuan nilai bobot fitur biaya ………………..……….……..………... 35
9. Data kunjungan wisatawan di Kota Baubau………………..…………….. 52
10. Persepsi masyarakat terhadap kegiatan wisata bahari…..………………… 54
11. Jenis lifeform (bentuk-tumbuh karang) di perairan Betoambari………….. 59
12. Jumlah spesies ikan karang yang ditemukan di perairan Betoambari…….. 62
13. Luas dan lokasi yang sesuai untuk ekowisata bahari selam………………. 65
14. Faktor denda dan persentase target tiap skenario…..……………………... 71
15. Nilai biaya dan panjang batas unit perencanaan terpilih..………………… 72
16. Daya dukung ekowisata di perairan Betoambari……..…………………… 79
17. Potensi nilai ekonomi dari 3 skenario…………………………………….. 80
18. Penentuan ruang ekowisata optimal berdasarkan nilai ekonomi…..……... 81

xxiii
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Skema kerangka pikir ……………..……….…………..…………………. 4


2. Bentuk satuan perencanaan dalam Marxan…..….…………..……………. 19
3. Pengaturan BLM ………………………………………..………………... 21
4. Wilayah administrasi Kota Baubau….………………..…………………... 26
5. Lokasi penelitian di perairan Kecamatan Betoambari……………….……. 27
6. Daerah Kajian (perairan Kecamatan Betoambari)………………………… 38
7. Alur file tabuler untuk Marxan dengan ArcView dan CLUZ…………….. 40
8. Objek unggulan kepariwisataan Baubau di setiap KPP………………..…. 51
9. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata Kota Baubau menurut Kecamatan
Tahun 2007-2008…………………………………………………………. 53
10. Nilai persentase tutupan komunitas karang pada kedalaman 10 meter
di perairan Kecamatan Betoambari……………………..………………… 56
11. Kondisi biota lain pada perairan Pantai Nirwana ……….……………...... 57
12. Kondisi terumbu karang di perairan Pantai Nirwana…………………..…. 57
13. Kerusakan terumbu karang di perairan Pantai Lakeba..….………………. 58
14. Beberapa bentuk-tumbuh karang di perairan Betoambari……….………. 60
15. Ikan karang yang berasosiasi dengan hewan karang di perairan Pantai
Nirwana…………………………………………………………………... 62
16. Satwa unik di perairan Kecamatan Betoambari….……………………….. 63
17. Kesesuaian kawasan ekowisata bahari kategori selam berbasis ekologi… 66
18. Pemanfaatan sumberdaya dan kawasan di perairan Betoambari……….… 68
19. Peta fitur biaya di perairan Betoambari untuk analisis Marxan……….…. 70
20. Kawasan ekowisata terpilih berdasarkan skenario 1………..……….…… 74
21. Kawasan ekowisata terpilih berdasarkan skenario 2………..…………….. 75
22. Kawasan ekowisata terpilih berdasarkan skenario 3…………..………….. 76
23. Perbandingan total biaya (nilai efisien) pada 3 skenario…………..……... 77

xxv
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Kuesioner untuk masyarakat …………………………………………….. 93


2. Kuesioner untuk wisatawan.……………………………..………………. 96
3. Hasil perhitungan penutupan karang di perairan Betoambari……..…….. 98
4. Jumlah dan jenis lifeform terumbu karang di perairan Betoambari……… 99
5. Jumlah famili dan jenis ikan karang di perairan Betoambari…………….. 100
6. Hasil pengujian ukuran unit perencanaan heksagon………………..……. 109
7. Perbandingan hasil pengujian unit perencanaan 1 ha dan 1000 m2…..…. 110
8. Hasil pengujian BLM optimal (0.001-1) pada skenario 1……………….. 111
.

xxvii
1

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Wilayah pesisir dan lautan Indonesia dengan panjang garis pantai sekitar
81 000 km2, kaya berbagai sumberdaya alam yang produktif seperti terumbu
karang, mangrove, padang lamun, sumberdaya ikan, dan energi kelautan. Selain
itu, wilayah pesisir Indonesia juga memiliki berbagai fungsi/jasa lingkungan,
antara lain transportasi, pelabuhan, kawasan pemukiman, kawasan industri,
agribisnis, agroindustri, rekreasi, dan pariwisata (Dahuri et al. 2004).
Kegiatan pariwisata yang memanfaatkan keindahan bawah laut (seperti
terumbu karang dan biota unik), merupakan prospek yang sangat potensial dan
menjanjikan bagi setiap daerah pesisir di Indonesia untuk menggali potensi wisata
bahari sesuai karakteristik daerah. Apalagi UU Nomor 32 Tahun 2004, yang
merupakan perubahan atas UU Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan
Daerah, telah memperjelas pembagian wewenang dan mengamanatkan setiap
daerah mengelola potensi sumberdaya alam di daerah masing-masing.
Baubau merupakan kota otonom yang baru berkembang di Pulau Buton
Provinsi Sulawesi Tenggara, di mana memperoleh status kota pada Tanggal 21
Juni 2001 (berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2001). Kota yang merupakan daerah
eks-pusat Kesultanan Buton ini memiliki prospek pengembangan pariwisata
bahari cukup besar. Dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP)
daerah Kota Baubau Tahun 2005, serta revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW)
Tahun 2009, kawasan Pantai Nirwana-Lakeba Kecamatan Betoambari
dialokasikan untuk kegiatan wisata bahari.
Upaya yang dilakukan pemerintah daerah Kota Baubau guna
mengembangkan wisata bahari antara lain, menjalin kerjasama dengan beberapa
lembaga untuk melakukan survei dan penelitian ekosistem terumbu karang di
perairan Pantai Nirwana-Lakeba. Lembaga Napoleon Baubau (2005) misalnya,
melalui survei pemotretan dan pemetaan terumbu karang, menyatakan kondisi
terumbu karang di wilayah tersebut masih cukup baik serta belum mengalami
tekanan ekploitasi dan tingkat degradasi yang tinggi. Hasil survei menunjukkan
2

penutupan karang keras hidup berkisar dari kategori sedang hingga sangat baik
(45.73% hingga 84.50%).
Kondisi terumbu karang yang masih baik dengan keanekaragaman
hayatinya tersebut, disadari pemerintah daerah sebagai keindahan bawah laut Kota
Baubau. Kegiatan wisata bahari yang paling utama dikembangkan di wilayah
tersebut adalah wisata kategori selam.
Wisata bahari memang memberikan manfaat ekonomi dan membuka
lapangan kerja baru bagi masyarakat. Namun di sisi lain, kegiatan wisata bahari
selam secara langsung dapat berdampak negatif terhadap kelestarian terumbu
karang. Hal ini telah dibuktikan Davenport (2006), bahwa kegiatan wisata selam
menyebabkan tekanan terhadap ekosistem terumbu karang. Penyelam yang tidak
hati-hati dalam kegiatan wisata, biasanya menginjak atau berdiri di atas karang,
dan menendang karang dengan fin. Jika kegiatan wisata yang tidak lestari seperti
ini terus dibiarkan maka secara perlahan akan menguras nilai potensi wisata
bahari dan menurunkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut maka perlu pengelolaan wisata bahari yang
optimal dengan menekankan kelestarian sumberdaya dan kesejahteraan
masyarakat, atau biasa disebut ekowisata. Ekowisata merupakan konsep
pariwisata alternatif yang secara konsisten mengedepankan nilai-nilai
alam/lingkungan dan masyarakat, serta memungkinkan adanya interaksi positif
antara para pelaku.
Pengelolaan ekowisata bahari di Kota Baubau merupakan upaya untuk
melindungi sumberdaya pesisir seperti terumbu karang dan satwa unik, agar dapat
dimanfaatkan untuk generasi sekarang dan yang akan datang. Ekowisata dapat
berlangsung dalam jangka panjang jika pertimbangan kesesuaian pemanfaatan dan
daya dukung ekologis terpenuhi. Untuk itu, pengelolaan ekowisata bahari harus
mensinergikan aspek ekologis, sektor penunjang, dan sosial ekonomi.

1.2. Rumusan Masalah Penelitian

Pengembangan wisata bahari Kota Baubau dipusatkan di Kecamatan


Betoambari. Berdasarkan informasi dari Buton Resort dan Dive Center Baubau
(2010) lokasi penyelaman utama berada di perairan Pantai Nirwana. Lokasi
3

penyelaman yang telah diplotkan sebanyak 5 titik yaitu Pampanga, Karang I,


Karang II, Karang III, dan Karang Panjang. Luas lokasi penyelaman berkisar
5 000 m2 hingga 20 000 m2. Namun demikian, hingga saat ini ekowisata bahari
Kecamatan Betoambari belum menunjukkan perkembangan yang optimal sebagai
sektor andalan bagi pelestarian sumberdaya pesisir, serta membuka lapangan kerja
baru dan meningkatkan ekonomi bagi masyarakat setempat. Hal ini disebabkan
karena pengelolaan ekowisata bahari di wilayah tersebut belum terencana dan
terintegrasi dengan baik, tidak menekankan pelestarian sumberdaya pesisir, serta
pemanfaatan ruang yang belum optimal. Beberapa rumusan masalah yang
ditetapkan dalam penelitian ini yakni:
1. Berapa besar potensi sumberdaya perairan Kecamatan Betoambari yang
sesuai bagi pengembangan ekowisata khususnya kegiatan selam?
2. Bagaimana mendesain kawasan ekowisata bahari yang optimal berdasarkan
biaya minimal dan manfaat ekonomi maksimal?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, ditetapkan beberapa tujuan penelitian:


1. Mengidentifikasi potensi sumberdaya perairan Kecamatan Betoambari yang
sesuai bagi pengembangan ekowisata, khususnya kegiatan selam.
2. Mendesain kawasan ekowisata bahari yang optimal berdasarkan biaya
minimal dan manfaat ekonomi maksimal.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pihak-pihak yang


membutuhkan, antara lain; (1) masukan pola pemanfaatan ruang laut bagi tata
ruang wilayah pesisir (RTRW Pesisir) Kota Baubau; (2) memberikan gambaran
pengembangan kawasan ekowisata bahari yang optimal, serta memenuhi kriteria
ekologis dan sosial ekonomi.
4

Sumberdaya Pesisir
Kota Baubau

Ekowisata
Bahari

Identifikasi Potensi

Parameter Sos–Eko Parameter Ekologis


Masyarakat

Analisis Ekonomi MARXAN


(WTP)

Efisiensi Kawasan
Ekowisata Bahari

Nilai Manfaat Ekonomi Daya Dukung Kawasan


Ekowisata Berbasis Spasial Ekowisata Bahari

Optimasi Ruang
Ekowisata Bahari

Gambar 1 Kerangka pikir penelitian.


5

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Terumbu Karang

Terumbu karang (coral reefs) merupakan kumpulan hewan karang yang


berupa batuan kapur (CaCO 3 ), yan g hidup di dasar perairan serta mempunyai
kemampuan menahan gaya gelombang laut (Supriharyono 2007). Dalam bentuk
sederhana, karang terdiri dari satu polip yang mempunyai bentuk tubuh seperti
tabung, dengan mulut terletak di bagian atas dan dikelilingi tentakel. Satu individu
polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni
(Sorokin 1993).
Menurut Supriharyono (2007), karang dibedakan menjadi dua tipe, yaitu
karang yang membentuk terumbu (hermatypic corals) dan tidak membentuk
terumbu (ahermatypic corals). Hermatypic corals merupakan hewan yang
bersimbiosis dengan sejenis alga (zooxanthellae) yang melakukan proses
fotosintesis. Hasil dari aktifitas fotosintesis tersebut berupa endapan kalsium
karbonat, yang struktur dan bentuknya sangat khas. Ciri ini digunakan untuk
menentukan jenis atau spesies hewan karang.
English et al. (1994) mengkategorikan bentuk pertumbuhan karang batu
menjadi dua jenis, yaitu karang Acropora dan non-Acropora. Perbedaan Acropora
dengan non-Acropora terletak pada struktur skeletonnya. Acropora memiliki
bagian yang disebut axial koralit dan radial koralit, sedangkan non-Acropora
hanya memiliki radial koralit.
Kategori pertama, bentuk pertumbuhan karang Acropora, terdiri atas:
(1) Acropora bercabang (Branching Acropora), bentuk bercabang seperti ranting
pohon; (2) Acropora meja (Tabulate Acropora), bentuk bercabang dengan arah
mendatar dan rata seperti meja; (3) Acropora merayap (Encursting Acropora),
biasanya terjadi pada Acropora yang belum sempurna; (4) Acropora Submasif
(Submasive Acropora), percabangan bentuk lempeng dan kokoh; (5) Acropora
berjari (Digitate Acropora), bentuk percabangan rapat dengan cabang seperti jari-
jari tangan.
Kategori kedua, bentuk pertumbuhan karang non-Acropora, terdiri atas:
(1) bercabang (branching), memiliki cabang lebih panjang daripada diameternya;
6

(2) padat (massive), berbentuk seperti bongkahan batu dengan ukuran yang
bervariasi; (3) kerak (encrusting), tumbuh menyerupai dasar terumbu dengan
permukaan yang kasar dan keras, serta berlubang-lubang kecil; (4) lembaran
(foliose), berbentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu,
berukuran kecil, dan membentuk lipatan atau melingkar; (5) jamur (mushroom),
berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak tonjolan seperti
punggung bukit beralur dari tepi hingga pusat mulut; (6) submasif (submassive),
bentuk kokoh dengan tonjolan-tonjolan atau kolom-kolom kecil; (7) karang api
(Millepora), dikenali dengan adanya warna kuning di ujung koloni dan rasa panas
seperti terbakar bila disentuh; (8) karang biru (Heliopora), dicirikan dengan
adanya warna biru pada rangkanya.
Sementara itu, karang lunak (soft coral) lebih dikenal Alcyonaria, yang
merupakan salah satu jenis Coelenterata (hewan berongga). Alcyonaria
mempunyai peranan penting dalam pembentukan fisik karang dengan tubuh
lunak. Tubuh Alcyonaria, lembek tetapi disokong oleh sejumlah duri-duri yang
kokoh, berukuran kecil, dan tersusun sedemikian rupa sehingga lentur dan tidak
mudah putus. Duri-duri yang kokoh tersebut mengandung kalsim karbonat yang
dikenal dengan spikula (Manuputy 1986).
Berdasarkan tipe strukturnya, terumbu karang dibedakan menjadi tiga yaitu
karang tepi (fringing reef), karang penghalang (barrier reef), dan karang cincin
(atoll). Karang tepi dan penghalang berperan penting sebagai pelindung pantai
dari hempasan ombak dan arus yang kuat (Bengen 2001). Bagi biota laut, terumbu
karang memiliki peran utama sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari
makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), dan
tempat pemijahan (spawning ground) (Suharsono 2009). Sementara itu, Apriliani
(2009) menyatakan terumbu karang merupakan potensi utama dalam
pengembangan wisata bahari. Nilai estetika laut banyak ditentukan oleh kehadiran
terumbu karang, termasuk di dalamnya keragaman jenis, tutupan karang, dan
keanekaragaman biota.
Kelompok-kelompok ikan yang dapat ditemui di perairan sekitar terumbu
karang antara lain kerapu, kakatua, hiu, pari, dan tigawaja (drums). Sedangkan
7

kelompok invertebrata antara lain kima, kerang hijau, lobster, kepiting, udang,
teripang, dan penyu (Burbridge dan Maragos 1983 in Supriharyono 2007).

2.2. Konsep Ekowisata Bahari

Konsep ekowisata mulai dipopulerkan oleh Hector Ceballos-Lascurian pada


awal tahun 1980-an. Ekowisata merupakan wisata yang menyangkut perjalanan ke
kawasan yang relatif belum terganggu (alami), dengan tujuan khusus untuk
pendidikan, mengagumi, menikmati pemandangan alam dan isinya (tumbuhan dan
hewan), serta sebagai perwujudan (manifestasi) budaya di kawasan yang dituju
(Tisdell 1998). Hetzer (1965) dan Ziffer (1989) in Bjork (2000) mendefinisikan
ekowisata sebagai suatu bentuk wisata yang mengutamakan nilai sumberdaya
alam (flora, fauna, dan proses geologi), serta budaya (lokasi suatu fosil dan
arkeologi), di mana praktek pemanfaatannya bersifat konservasi, dapat
menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.
The International Ecotourism Society (1990) in Dodds (2009)
mendefinisikan ekowisata sebagai suatu bentuk perjalanan wisata ke daerah-
daerah yang masih alami dengan tujuan mengkonservasi, melestarikan
lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Cakupan destinasi ekowisata direfleksikan dari definisi ekowisata yang
bervariasi. Fennel (2001) mengidentifikasi 85 definisi ekowisata dengan 5 tema
dominan, antara lain kelestarian sumberdaya alam, konservasi, budaya, manfaat
bagi masyarakat lokal, dan pendidikan. Blamey (1997) mengatakan destinasi
ekowisata harus memenuhi tiga kriteria utama yakni (1) lebih menonjolkan
lingkungan alami sebagai sentral atraksi, (2) menawarkan prospek pembelajaran
dan pendidikan, (3) setidaknya berniat melestarikan lingkungan, budaya, dan
ekonomi (Krider et al. 2010).
Ekowisata menurut Wood (2002) menganut beberapa prinsip yaitu:
1. Meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan dan budaya.
2. Mengutamakan pendidikan bagi pengunjungnya guna kepentingan
konservasi.
3. Menekankan pada kepentingan bisnis bertanggung jawab, melalui kerjasama
dengan masyarakat lokal yang membutuhkan/menerima manfaat konservasi.
8

4. Penerimaan langsung dari pengelolaan dan konservasi lingkungan serta


kawasan yang dilindungi.
5. Menekankan kebutuhan untuk penzonaan wisata lingkup regional dan untuk
perencanaan pengelolaan kawasan alami.
6. Menekankan pada penggunaan kajian dasar lingkungan dan sosial, guna
kepentingan program monitoring.
7. Peningkatan maksimum manfaat ekonomi dan usaha masyarakat lokal.
8. Pembangunan pariwisata tidak melebihi daya dukung lingkungan sosial.
9. Pembangunan infrastruktur yang harmonis dengan alam, meminimalisir
penggunaan bahan bakar dari fosil (BBM), melindungi satwa dan tumbuhan
lokal, serta menselaraskan lingkungan dan budaya.

Kegiatan wisata yang mengandalkan daya tarik alami lingkungan pesisir dan
lautan, baik secara langsung maupun tidak, dinamakan wisata bahari. Kegiatan
pariwisata yang langsung di antaranya berperahu, berenang, snorkeling,
menyelam, dan memancing. Sedangkan secara tidak langsung meliputi kegiatan
olahraga pantai dan piknik menikmati rekreasi atmosfer (META 2002). Konsep
ekowisata bahari didasarkan pada menikmati keunikan alam, karakteristik
ekosistem, kekhasan seni budaya, dan karakteristik masyarakat sebagai kekuatan
dasar yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Ekowisata bahari merupakan
kegiatan wisata pesisir dan laut yang dikembangkan dengan pendekatan
konservasi laut (Hutabarat et al. 2009).
Kegiatan ekowisata bahari bukan semata-mata untuk memperoleh hiburan
dari berbagai suguhan alami dan atraksi lingkungan pesisir dan lautan. Akan
tetapi, wisatawan diharapkan berpartisipasi langsung untuk mengembangkan
konservasi lingkungan, sekaligus pemahaman yang mendalam tentang seluk-beluk
ekosistem pesisir, sehingga membentuk kesadaran untuk melestarikan
sumberdaya pesisir saat ini dan masa yang akan datang (META 2002).
Pengelolaan ekowisata yang memenuhi kaidah konservasi memerlukan
penjelasan rinci tentang sistem produksi ekowisata secara keseluruhan. Suatu
objek tujuan wisata memiliki karakteristik sistem produksi yang berbeda dengan
tujuan wisata lainnya. Ekowisata wilayah pesisir dan lautan memilki karakteristik
9

lahan basah yang berbeda dengan ekowisata pegunungan dengan karakteristik


lahan kering, (META 2002).
Beberapa hal yang mendasari pemilihan ekowisata sebagai konsep
pengembangan dari wisata bahari (Setiawati 2000), yaitu:
1. Ekowisata sangat bergantung pada kualitas sumber daya alam, peninggalan
sejarah dan budaya. Kekayaan keanekaragaman hayati merupakan daya tarik
utama bagi pangsa pasar ekowisata, sehingga kualitas, keberlanjutan, dan
pelestarian sumberdaya alam, serta peninggalan sejarah dan budaya menjadi
sangat penting untuk ekowisata.
2. Pelibatan masyarakat menjadi mutlak dari tingkat perencanaan hingga pada
tingkat pengelolaan. Pada dasarnya pengetahuan tentang alam, budaya dan
daya tarik wisata telah dimiliki oleh masyarakat setempat.
3. Ekowisata meningkatkan apresiasi terhadap alam, nilai-nilai peninggalan
sejarah dan budaya. Ekowisata memberikan nilai tambah kepada pengunjung
dan masyarakat setempat dalam bentuk pengetahuan dan pengalaman.
4. Pertumbuhan pasar ekowisata di tingkat internasional dan nasional.
Kenyataan memperlihatkan kecenderungan meningkatnya permintaan
terhadap produk ekowisata baik di tingkat internasional dan nasional.
5. Ekowisata sebagai sarana mewujudkan ekonomi berkelanjutan. Ekowisata
memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan bagi penyelenggara,
pemerintah, dan masyarakat setempat, melalui kegiatan-kegiatan yang
bersifat non ekstraktif dan non konsumtif sehingga meningkatkan
perekonomian daerah setempat.

Pengelolaan ekowisata yang berkelanjutan menurut Hadiyati (2003) in


Solarbesain (2009), memiliki kesamaan dengan konsep pembangunan yang
berkelanjutan sehingga harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Secara ekologis berkelanjutan; pembangunan pariwisata tidak menimbulkan
efek negatif bagi ekosistem setempat. Konservasi pada daerah wisata harus
diupayakan secara maksimal untuk melindungi sumberdaya alam dan
lingkungan dari efek negatif kegiatan wisata.
2. Secara sosial dan budaya dapat diterima; mengacu pada kemampuan
penduduk lokal menyerap usaha pariwisata tanpa menimbulkan konflik sosial
10

dan masyarakat lokal mampu beradaptasi dengan budaya turis yang berbeda
sehingga tidak merubah budaya masyarakat lokal.
3. Secara ekonomi menguntungkan; keuntungan yang diperoleh dari kegiatan
wisata yang ada dapat meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup
masyarakat setempat.

2.3. Kesesuaian Perairan Untuk Ekowisata

Kesesuaian pemanfaatan ekowisata bahari berbeda untuk setiap kategori


wisata. Kegiatan wisata dapat dikembangkan dengan konsep ekowisata bahari
dapat dikelompokkan atas wisata bahari dan wisata pantai. Wisata bahari
merupakan kegiatan wisata yang mengutamakan potensi sumberdaya laut dan
dinamika air laut. Sedangkan wisata pantai merupakan kegiatan wisata yang
mengutamakan potensi sumberdaya pantai dan budaya masyarakat pantai
(Hutabarat et al. 2009).
Potensi utama untuk menunjang kegiatan pariwisata di wilayah pesisir dan
laut adalah kawasan terumbu karang, pantai berpasir putih atau bersih, dan lokasi-
lokasi perairan pantai yang baik untuk berselancar. Keragaman spesies pada
terumbu karang dan ikan hias merupakan objek utama yang menciptakan
keindahan panorama alam bawah laut yang luar biasa bagi penyelam dan para
wisatawan yang melakukan snorkeling (Dahuri 2003).
Secara umum, jenis dan nilai setiap parameter kesesuaian untuk kegiatan
wisata bahari kategori selam dan snorkeling hampir sama. Parameter yang
dipertimbangkan dalam menilai tingkat kesesuaian pemanfaatan kedua kategor
wisata bahari tersebut adalah:
1. Kondisi kawasan penyelaman yang menyangkut keadaan permukaan air
(gelombang) dan arus. Gelombang besar dan arus yang kuat dapat membawa
para penyelam ke luar kawasan wisata. Kekuatan arus yang aman bagi
wisatawan maksimum 1 knot (0.51 m/dtk) (Davis and Tisdell 1995).
2. Kualitas daerah penyelaman yakni menyangkut jarak pandang yang layak di
bawah permukaan air, dalam hal ini tergantung life form, (Davis and Tisdell
1995; Davis and Tisdell 1996). Jarak pandang yang layak untuk wisata bahari
adalah lebih dari 10-20 m. Hal ini terkait dengan penetrasi matahari terhadap
11

biota dasar permukaan air maksimum 25 m. Marine National Park Division


(2001) menyatakan bahwa kedalaman 2-5 m sangat sesuai untuk melakukan
kegiatan snorkeling, sementara wisata selam biasanya dilakukan pada
kedalaman 5-10 m.

Objek wisata bahari lain yang cukup berpotensi untuk dikembangkan adalah
wilayah pantai yang menawarkan jasa dalam bentuk panorama pantai yang indah,
tempat permandian yang bersih, serta tempat melakukan kegiatan berselancar air
(Dahuri 2003). Parameter yang digunakan untuk menilai kesesuaian pemanfaatan
wisata kategori rekreasi pantai meliputi:
1. Kondisi geologi pantai, menyangkut tipe (substrat pasir), lebar pantai,
kemiringan pantai (idealnya < 250) dan material dasar perairan (idealnya
berpasir) (Wong 1991).
2. Kondisi fisik terkait kedalaman perairan, kecepatan arus dan gelombang,
kecerahan dan ketersediaan air tawar (maksimum 2 km).
3. Kondisi biota menyangkut penutupan lahan pantai oleh tumbuhan dan
keberadaan biota berbahaya (terkait kenyamaman dan keselamatan
wisatawan).

Sementara itu, Yulianda (2007) menjabarkan kesesuaian ekowisata bahari


merupakan kriteria sumberdaya dan lingkungan yang disyaratkan atau dibutuhkan
bagi pengembangan ekowisata.

Keterangan:
IKW = Indeks kesesuaian wisata
Ni = Nilai parameter ke-i (bobot x skor)
Nmax = Nilai maksimum dari suatu kategori wisata

2.4. Daya Dukung Ekowisata Bahari

Analisis daya dukung diciptakan pada tahun 1960-an sebagai suatu metode
untuk menentukan batas-batas pembangunan dengan menggunakan angka,
12

komputerisasi, kalkulasi, dan secara objektif. Hal ini belum cukup sukses dalam
mempengaruhi kebijakan pemerintah karena kompleksitas parameter-
parameternya dan arena politisi, pengelola, dan administrator enggan untuk
mengawali keputusannya dengan komputer. Namun demikian, konsep yang tidak
ditentukan yang lebih kualitatif dan partisipatif mengenai daya dukung telah
sangat berguna dalam mempengaruhi kontrol pengembangan, terutama pariwisata
(Clark 1991 in Hutabarat et al. 2009).
Konsep daya dukung ekowisata mempertimbangkan dua hal yakni
(1) Kemampuan alam untuk mentolerir gangguan atau tekanan dari manusia, dan
(2) Keaslian sumberdaya alam. Kedua hal tersebut ditentukan oleh besarnya
gangguan yang kemungkinan akan muncul dari kegiatan wisata. Suasana alami
lingkungan juga menjadi persyaratan dalam menentukan kemampuan tolerir
gangguan dan jumlah pengunjung dalam unit area tertentu. Tingkat kemampuan
alam untuk mentolerir dan menciptakan lingkungan yang alami dihitung dengan
pendekatan potensi ekologis pengunjung. Potensi ekologis pengunjung adalah
kemampuan alam untuk menampung pengunjung berdasarkan jenis kegiatan
wisata pada area tertentu. Luas suatu area yang dapat digunakan pengunjung
dalam melakukan aktifitas wisatanya, dipertimbangkan dalam menghitung
kemampuan alam mentolerir pengunjung sehingga keaslian alam tetap terjaga dan
berkelanjutan (Hutabarat et al. 2009).
Bengen dan Retraubun (2006) mendefinisikan daya dukung sebagai tingkat
pemanfaatan sumberdaya alam atau ekosistem secara berkesinambungan tanpa
menimbulkan kerusakan sumberdaya alam dan lingkungannya. Daya dukung
dapat diartikan sebagai kondisi maksimum suatu ekosistem untuk menampung
komponen biotik (makhluk hidup) yang terkandung di dalamnya dan
memperhitungkan faktor lingkungan serta faktor lainnya yang berperan di alam.
Daya dukung yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan ekowisata antara
lain daya dukung ekologis, daya dukung fisik, daya dukung sosial, daya dukung,
dan daya dukung ekonomi.
13

2.5. Zonasi Kawasan Ekowisata

Zonasi kawasan ekowisata dilakukan untuk mempertahankan kelestarian


sumberdaya dan mempermudah pengelolaan ekowisata. Zonasi atau pola
keruangan merupakan pembagian kawasan berdasarkan potensi dan karakteristik
sumberdaya alam untuk kepentingan perlindungan dan pelestarian serta
pemanfaatan guna memenuhi kebutuhan manusia secara berkelanjutan. Pola
keruangan ekowisata atau zonasi bertujuan untuk melindungi suatu kawasan
wisata dari pengunjung wisata. Hal ini untuk melindungi sumberdaya maupun
memberikan keragaman pengalaman bagi pengunjung, dan memudahkan sistem
pengelolaan ekowisata.
Prinsip penetapan zonasi terdiri atas 2; pertama, sumberdaya alam maupun
budaya memiliki karakteristik dan toleransi tertentu untuk dapat diintervensi;
kedua, pengelola harus dapat melakukan sesuatu untuk memelihara dan
mempertahankan karakteristik dan kemampuan tersebut untuk menjamin
tercapainya tujuan pengelolaan dari penggunaan saat ini maupun yang akan
datang (Basuni 1987 in Solarbesain 2009)
Menurut beberapa ahli, zonasi merupakan alat yang paling umum bagi
pengelolaan kawasan yang dilindungi untuk memisahkan kawasan yang
pemanfaatannya bertentangan, serta untuk pengelolaan kawasan dengan manfaat
ganda. Sedangkan Bengen (2002) mengatakan bahwa penetapan zonasi kawasan
adalah pengelompokkan areal suatu kawasan ke dalam zona-zona sesuai dengan
kondisi fisik dan fungsinya. Zonasi bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi
ekologis dan ekonomi ekosistem suatu kawasan sehingga dapat dilakukan
pengelolaan dan pemanfaatan kawasan secara berkelanjutan. Beberapa analisis
spasial yang dapat digunakan untuk melakukan zonasi kawasan ekowisata antara
lain sistem informasi geograsi (SIG) dan Marxan (Marine Reserve Design using
Spatially Explicit Annealing).

2.5.1. Sistem Informasi Geografis

Sistem informasi geografis (SIG) adalah suatu teknologi baru yang


dijadikan alat bantu (tools) esensial dalam menyimpan, memanipulasi,
menganalisis dan menampilkan kembali kondisi-kondisi alam dengan bantuan
14

data atribut dan data spasial (Prahasta 2004). SIG merupakan tools berbasis
komputer yang membantu menampilkan dan menganalisis data secara geografis
berdasarkan informasi ruang (Clarke 2001).
Menurut Bartlett (1999), SIG merupakan tools ideal untuk perencanaan laut.
Dalam beberapa hal dapat menangani data yang begitu banyak, data dapat dibagi
dengan mudah, serta menawarkan kemampuan mensimulasi, memodelkan, dan
membandingkan strategi sebelum diimplementasikan. SIG sangat potensial untuk
memberikan solusi, transparansi kepada pemangku kepentingan (Lewis et al.
2003; Wright et al. 1998).
Lyon (2003) menyatakan bahwa penerapan SIG mempunyai kemampuan
luas dalam proses pemetaan dan analisis, sehingga teknologi tersebut sering
dipakai dalam proses perencanaan landscape. Selain itu pemanfaatan SIG dapat
digunakan untuk mengevaluasi kualitas dan karakteristik lahan, serta
mensimulasikan model-model keruangan. SIG bukanlah suatu sistem yang
semata-mata berfungsi untuk membuat peta tetapi merupakan alat analitik yang
mampu memecahkan masalah spasial secara otomatis, cepat dan teliti. Hampir
semua bidang ilmu yang bekerja dengan informasi keruangan memerlukan SIG di
antaranya bidang kehutanan, perikanan, pertanian, pariwisata, lingkungan,
perkotaan, dan transportasi (Jaya 2002 in Solarbesain 2009).
SIG telah diaplikasikan pada berbagai disiplin ilmu dan dipandang sebagai
tools kunci untuk mendukung pengambilan keputusan spasial dalam lingkungan
pesisir dan laut (Canessa dan Keller 2003). SIG digunakan untuk pengembangan
kawasan konservasi laut di seluruh dunia (Airame et al. 2003; Lieberknecht et al.
2004; Scholz et al. 2004; Villa et al. 2002; Villa et al. 2002). Analisis SIG juga
telah banyak dimanfaatkan untuk zonasi kawasan teresterial (Gole 2003; Hepcan
2000; Trisurat et al. 1990).
Sehubungan dengan pemanfaatan SIG dalam bidang pariwisata, Aronnof
(1993) in Sigabariang (2008) menyatakan bahwa pemetaan zona kegiatan wisata
pesisir dengan SIG, sangat membantu pemerintah daerah dalam menyusun
rencana pengembangan wisata pesisir di wilayahnya. Penerapan teknologi SIG
bisa menjadi salah satu alternatif untuk pengembangan potensi daerah yang terkait
dengan wilayah pesisir yakni ekowisata pesisir.
15

2.5.2. Marxan

Marxan (Marine Reserve Design using Spatially Explicit Annealing) atau


model rancangan konservasi bahari yang menggunakan pemijaran spasial secara
ekplisit; merupakan produk disertasi Phd Ian Ball (2000) dengan supervisi
Profesor Hugh Possingham, The Ecology Centre, University of Queensland. Ide
yang mendasari pengembangan Marxan adalah adanya masalah dalam
menentukan daerah konservasi di daerah yang perencanaan potensialnya yang
cukup luas sehingga banyak alternatif lokasi yang dapat dipilih sebagai daerah
konservasi. Dengan menggunakan Marxan, diharapkan ada sistem untuk memilih
daerah konservasi yang memenuhi kriteria ekologis dan sosial-ekonomi. Marxan
dalam hal ini dapat memberikan bantuan dalam menentukan daerah konservasi
berdasarkan data dan skenario perencanaan yang telah disiapkan.

A. Simulated Annealing

Model dan perangkat lunak Marxan bekerja menggunakan algoritma yang


disebut dengan simulated annealing, yang terbagi menjadi 3 bagian yaitu iterative
improvement, random backward dan repetition. Algoritma ini dapat
memungkinkan mencari dan menentukan kawasan konservasi dengan total biaya
terendah. Total biaya merupakan kombinasi sederhana dari biaya satuan
perencanaan terpilih dan nilai penalti (fitur yang tidak memenuhi target), seperti
disajikan pada hubungan berikut (modifikasi dari Ball dan Possingham 2000):

Keterangan
C = biaya total kawasan ekowisata terpilih berdasarkan algoritma Marxan
ci = biaya yang terpilih di satuan perencanaan (planning unit) ke-i yang dapat
diukur, i = 1,2,…,n; n adalah banyaknya satuan perencanaan.
a = boundary length modifier (BLM) atau kontrol penting dari batas biaya relatif
terpilih di planning unit.
bi = boundary atau batas dari area terpilih/perimeter ke-i
si = species penalty factor (SPF), yaitu faktor yang mengontrol besarnya nilai
penalty ke-i, apabila target tiap spesies tidak terpenuhi.
pi = penalty atau nilai yang ditambahkan dalam fungsi obyektif untuk setiap target
tidak terpenuhi pada satuan perencanaan ke-i.
16

Penerapan Algoritma simulated annealing dalam pencarian dan pemilihan


kawasan konservasi maka dapat diilustrasikan sebagai berikut: suatu kawasan A
memiliki cakupan wilayah yang sangat luas, serta kaya sumberdaya hayati pesisir,
diantaranya ekosistem terumbu karang, lamun, mangrove, dugong, penyu, dan
ikan hiu. Sumberdaya tersebut tidak terpusat pada satu lokasi tetapi tersebar di
hampir seluruh kawasan A. Agar keanekaragaman hayati di kawasan A dapat
lestari demi pemanfaatan yang berkelanjutan maka perlu upaya konservasi.
Tujuan perancangan kawasan konservasi tersebut adalah untuk memaksimalkan
dan mengoptimalkan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati di kawasan A
dengan biaya pengelolaan terkecil.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka digunakan Marxan. Dalam
menggunakan Marxan, terdapat beberapa tahapan awal yang harus dilakukan
antara lain menentukan daerah kajian, sumberdaya hayati yang harus dilindungi
(fitur konservasi), biaya pengelolaan (fitur biaya), dan membuat satuan
perencanaan. Agar analisis dengan Marxan dapat dijalankan maka fitur konservasi
dan fitur biaya dibuat dalam peta tematik, kemudian dimasukkan ke dalam satuan
perencanaan. Setiap fitur yang dimasukkan dalam satuan perencanaan akan diberi
nilai. Jika semua tahapan telah dilewati maka dilakukan tahap simulasi (iterasi)
dengan pengaturan BLM, nilai target, dan nilai SPF tertentu. Misalnya dengan
iterasi pertama yang menggunakan BLM, target, dan SPF yang kecil, diperoleh
ikan dugong dan ikan hiu tidak terpilih atau terpenuhi dalam solusi perancangan
kawasan konservasi. Dalam hal ini, dengan satu kali iterasi masih memiliki
kelemahan yaitu lokasi yang terpilih belum tentu merupakan kawasan konservasi
yang optimal dengan biaya terendah. Ilustrasi tersebut merupakan penjelasan
singkat langkah iterative improvement. Dengan demikian perlu dilakukan iterasi
kedua dan seterusnya.
Iterasi kedua dilakukan dengan mengatur kembali nilai BLM, target, dan
SPF. Biasanya nilai-nilai tersebut lebih besar dari iterasi pertama. Setelah
dilakukan analisis, hasil iterasi kedua didapatkan semua sumberdaya telah
terpenuhi dalam solusi perancangan kawasan konservasi, total biaya yang
dihasilkan pun lebih kecil daripada iterasi pertama. Langkah tersebut merupakan
ilustrasi random backward. Untuk lebih memastikan atau meningkatkan
17

kepercayaan bahwa lokasi yang terpilih merupakan solusi dengan total biaya
terendah, maka dilakukan pengulangan langkah pertama dan kedua. Langkah ini
disebut dengan repetition.

B. Summed Solution

Marxan memberikan dua keluaran dari setiap analisis; run solusi ‘best’ (satu
dengan nilai total biaya paling rendah), dan summed solution yang menunjukan
jumlah waktu setiap satuan perencanaan yang termasuk dalam run solution (Loos
2006). Sebagai contoh, jumlah iterasi diatur sampai 100, penjumlahan solusi akan
menghasilkan kisaran nilai dari 0 (tidak termasuk dalam run solution) sampai 100
(termasuk dalam seluruh run solution 100). Summed solution dapat terbagi dalam
tiga kategori: tinggi, sedang, dan rendah. Satuan perencanaan yang penting
memiliki nilai penjumlahan paling tinggi, olehnya itu sangat penting untuk
mendapatkan target. Area ini dapat dianggap sebagai hotspot. Karena satuan
perencanaan tidak termasuk dalam solusi ‘best’, bukan berarti tidak memiliki
nilai. Penting untuk dicatat bahwa unit nilai yang tinggi mungkin menjadi bagian
solusi terbaik.
Summed solution dianggap berguna karena menyediakan petunjuk
kepentingan relatif setiap satuan perencanaan dari pemberian setiap nilai.
Penggunaan summed solution menambah fleksibilitas untuk proses seleksi. Ini
memberi kesempatan kepada perancang konservasi, termasuk pemangku
kepentingan untuk melihat satuan perencanaan yang bernilai tinggi dan satuan
perencanaan yang bernilai rendah atau sedang. Ini memberi kesempatan untuk
negosiasi dan akhirnya mencapai konsensus selama konsultasi antara pemangku
kepentingan.

C. Satuan Perencanaan
Satuan perencanaan atau planning units adalah blok-blok bangunan dari
sistem konservasi, yang dalam evaluasi Marxan dipilih sebagai solusi (Loos
2006). Satuan perencanaan dapat berdasarkan batas alamiah, administrasi, atau
fitur yang disepakati (Pressey dan Logan 1998), serta memiliki beberapa bentuk
dan ukuran. Satuan perencanaan perlu dibuat untuk membatasi area yang akan
dianalisis atau dibuat perencanaan, karena tidak semua area yang ada pada setiap
18

peta-peta parameter konservasi tersebut dipergunakan. Sebagai contoh, area yang


akan direncanakan adalah wilayah laut, oleh sebab itu planning units hanya dibuat
untuk wilayah tersebut, sementara wilayah daratan (pulau besar atau pulau-pulau
kecil) sebaiknya tidak diikutsertakan dalam proses analisis.
Ukuran satuan perencanaan juga perlu ditentukan dengan pertimbangan
matang. Area yang memiliki keanekaragaman sumberdaya alam yang lebih
kompleks membutuhkan ukuran satuan perencanaan yang lebih kecil agar
analisisnya lebih detail. Kemudian skala data spasial yang dimiliki perlu dijadikan
bahan pertimbangan dalam menentukan ukuran satuan perencanaan (Darmawan
dan Andy D 2007). Selain hal itu, ukuran satuan perencanaan juga berhubungan
dengan hardware yang digunakan untuk menjalankan program Marxan.
Permasalahan skala berkaitan dengan akurasi pemetaaan yang dihasilkan. Sebagai
contoh sederhana, misalnya akan dilakukan perencanaan konservasi secara detil
untuk area yang sempit, sedangkan data spasial yang digunakan adalah data
global, maka keluaran analisis tersebut tidak akan baik karena penentuan ukuran
satuan perencanaan yang tidak tepat. Informasi yang ada dari data spasial yang
digunakan itu kurang memadai karena informasi yang telah tergeneralisasi.
Loos (2006) menyatakan bentuk yang dapat digunakan dalam membentuk
planning units dapat berupa segitiga, persegi empat dan heksagon (Gambar 2).
Bentuk yang paling banyak digunakan untuk analisis Marxan adalah heksagon.
Bentuk dan ukuran satuan perencanaan Marxan disajikan pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa beberapa penelitian sebelumnya yang
menggunakan aplikasi Marxan umumnya memilih heksagon karena memiliki
bentuk yang lebih natural, mendekati bentuk lingkaran dan memiliki rasio tepi
yang rendah (Gaselbarcht et al. 2005). Selain itu satuan perencanaan yang
menggunakan heksagon memiliki keluaran yang lebih halus dibandingkan dengan
bentuk satuan perencanaan lainnya (Miller et al. 2003). Heksagon juga memiliki
perimeter yang lebih rendah terhadap luasan dibandingkan dengan persegi empat
dengan area yang sama (Warman 2001). Beberapa bentuk satuan perencanaan
yang dapat digunakan dalam aplikasi Marxan dapat dilihat pada Gambar 2.
19

Tabel 1 Bentuk dan ukuran satuan perencanaan dari aplikasi Marxan sebelumnya

Luas Ukuran Bentuk


No Area studi area studi unit unit Referensi
(km2) (km2)
1 Belize (Marine) 59 570 10 Heksagon Meerman (2005)
2 Channel Island 4 294 3.4 (1x1) Persegi Airamé et al.
USA (Marine) (2003)
3 Irish Sea Persegi Lieberknecht
(Marine) 57 000 24.6 et al. (2004)
4 British Columbia
Central Coast 22 303 4.9 Heksagon CIT (2003)
(Marine)
5 Florida Coast 280 356 14.8 Heksagon Geselbracht dan
(Marine) Torres (2005)
6 Southern Rockies 165 589 9.8 Heksagon Miller et al.
(Terrestrial) (2003)
7 Southern Australia 77 975 25 Persegi Stewart et al.
(Marine) (2003)
8 Florida Coast 136 014 2.17 Heksagon Oetting and
(Marine) Knight (2005)
9 Florida Keys 9500 1 Persegi Leslie et al.
(Marine) (2003)
10 South Okanagan, 1,568 0.155, 2, Heksagon Warman
Canada (Terrestrial) dan 10 (2001)
Sumber : Loos (2006)

(a)
(b)

(c) (d)

Gambar 2 Bentuk satuan perencanaan dalam Marxan. (a) segitiga, (b) persegi,
(c) heksagon, (d) oktagons. (Sumber: Loos 2006)
20

D. Identifikasi Daerah Prioritas (Target) dan Skenario

Identifikasi daerah prioritas (target) dilakukan sebelum analisis, sebagai


dasar dalam skenario perencanaan yang hendak dilakukan. Lebih jauh lagi, pada
tahap ini target dari masing-masing fitur konservasi ditentukan luasannya. Sebagai
gambaran, jika terumbu karang dijadikan target utama dalam perencanaan maka
skenario perencanaan fitur ini didefinisikan dengan persentase (%) target yang
tinggi, dan nilai SPF yang lebih besar dibandingkan fitur konservasi yang lain.

E. Biaya

Besarnya biaya yang digunakan dalam analisis dapat ditentukan berdasarkan


area satuan perencanaan, biaya sosial-ekonomi atau kombinasi dari keduannya.
Miller et al. (2003) in Loos (2006) memberikan nilai biaya berdasarkan tingkatan
kewajaran dan pengaruh manusia dalam satuan perencanaan. Dalam penelitian
lain, biaya dibuat seragam untuk setiap satuan perencanaan yaitu nilai 1. Dari
beragam penelitian di mana biaya ditentukan berdasarkan landasan yang berbeda-
beda. Hal terpenting adalah biaya yang diberikan untuk setiap satuan perencanaan
tersebut harus proporsional.

F. Pengubah Panjang Batas

Pengubah panjang batas atau boundary length modifier (BLM) merupakan


pengaturan dalam Marxan untuk membuat batasan perimeter. Efek pengaturan
BLM dapat dilihat dari fitur yang muncul dalam solusi setelah menjalankan
Marxan. Loos (2006) menguraikan tinggi rendahnya BLM akan berpengaruh
terhadap perimeter dan area yang muncul dalam solusi. Contoh pengaturan BLM
disajikan pada Gambar 3.
Penggunaan BLM rendah, akan menghasilkan perimeter yang lebih besar
(Gambar 3a). Sementara pada penggunaan BLM yang tinggi, areal terpilih akan
lebih luas dan terfokus, serta memiliki perimeter yang lebih kecil (Gambar 3c).
Dengan BLM yang kecil, algoritma Marxan yang digunakan akan terkonsentrasi
meminimalkan biaya satuan perencanaan terpilih sedangkan BLM yang besar
akan memberikan tekanan pada penurunan panjang batas (Steward dan
Possingham 2005).
21

a) b)

c)

Gambar 3 Pengaturan BLM. a) BLM rendah, b) BLM medium, c) BLM tinggi


(Sumber: Loos 2006)

Penentuan nilai BLM akan bervariasi dari satu daerah dengan daerah lain.
Ardron JA et al. (2002) melakukan ekperimen dengan beberpa nilai BLM yakni
0.111, 0.333, 1.00, dan 3.00. Possingham (2000) menyatakan nilai BLM dipilih
bergantung pada keseluruhan bentang alam dari daerah penelitian, serta tujuan
dari analisis yang dilakukan. Dengan kata lain, pengaturan BLM dapat dilakukan
dengan memperhatikan geometri daerah kajian dan memililih BLM yang dapat
menghasilkan fitur solusi yang lebih mengumpul. Pengaturan BLM yang fleksibel
ini dapat memberikan keleluasaan para perencana kawasan konservasi dalam
menentukan hasil terbaik untuk kegiatan pengambilan keputusan.

G. Penalti

Ball dan Possingham (2001) menjelaskan penalti yang dibutuhkan


sebanding dengan panjang batas dan biaya yang diperlukan untuk
mempresentasikan target yang hilang. Faktor yang mengatur besarnya nilai
penalti ini dikenal dengan sebutan Species Penalty Faktor (SPF) yang juga
dikenal sebagai conservation features penalty faktor (CFPF). SPF adalah faktor
22

yang berkelipatan, didasarkan pada tingkat pentingnya spesies atau fitur


konservasi tersebut.
Pengaturan SPF dengan nilai yang tinggi akan meningkatkan kemiripan,
sehingga fitur konservasi yang menjadi target akan lebih banyak terpenuhi,
terutama jika tujuannya untuk menurunkan nilai biaya dalam fungsi objektif
(Smith 2005 in Loos 2006). Ball dan Possingham (2001) menjelaskan sejauh ini
tidak ada teori yang bisa digunakan sebagai dasar patokan dalam menentukan nilai
SPF secara spesifik. Mereka juga menyarankan nilai SPF ini lebih dari 1. Bahkan
Smith (2005) menyarankan nilai SPF sebesar 100 untuk lebih memastikan target
dapat tercapai. Nilai SPF berkaitan dengan target fitur konservasi di dalam unit
perencanaan Marxan. Apabila target untuk suatu fitur konservasi tidak terpenuhi
maka nilai SPF perlu ditambah. Jadi nilai penalti hanya dimasukkan ke dalam
total biaya apabila target dari suatu fitur konservasi tidak terpenuhi.

2.6. Metode Valuasi Sumberdaya Alam

Sumberdaya alam merupakan sesuatu yang dipandang memiliki nilai


ekonomi (Fauzi 2010). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sumberdaya
alam adalah komponen ekosistem yang menyediakan barang dan jasa yang
bermanfaat bagi kebutuhan manusia. Nilai ekonomi sumberdaya dapat diukur
dengan mengestimasi kurva permintaan sumberdaya tersebut (Garrod dan Wills
1999). Pendekatan kurva permintaan ini dibedakan atas dua metode yaitu revealed
reference methods dan expressed/states preference methods.
Kategori pertama (revealed reference methods) mengeksplorasi data pasar
yang ada dan dikaitkan dengan komoditas lingkungan. Teknik valuasi yang masuk
ke dalam kategori ini adalah travel cost methods (TCM), hedonic price (HP),
averting behavior (AB), dan production fuction (PF).
Sementara itu, kategori kedua (expressed/states preference methods)
merupakan metode penilaian ekonomi yang pendekatannya lebih memfokuskan
pada teknik experimental constructed market melalui teknik penilaian langsung
dengan bantuan kuesioner. Salah satu teknik yang dikenal luas dalam kategori ini
adalah teknik kontingensi atau Contigent Valuation Methods (CVM).
23

Letson (2002) in Adrianto (2006) menguraikan pendekatan revealed


reference lebih sensitif terhadap model ekonometrik yang digunakan, tetapi tidak
begitu sensitif pada pengumpulan data. Sebaliknya, expressed/states preference
lebih sensitif terhadap pengumpulan data, tetapi tidak terlalu sensitif terhadap
pemodelan ekonometrik.
Metode penilaian kontingensi dimanfaatkan untuk mengestimasi kesediaan
membayar (WTP), ditentukan dengan menggunakan survei wisatawan. CVM
adalah suatu cara valuasi barang dan jasa lingkungan di mana salah satu pasar
tidak ada atau pasar subtitusi tidak ditemukan. Oleh karena itu, CVM digunakan
secara luas untuk mengukur nilai keberadaan/existence values, nilai pilihan/option
value, nilai tidak langsung/indirect use values dan non-use value.
Metode penilaian kontingensi telah popular dan banyak diterapkan di
berbagai negara untuk melihat manfaat dari barang non-market atau proyek yang
diberikan kepada masyarakat (Carson dan Hanemann 2005). CVM dilakukan
melalui survei dengan wawancara langsung kepada masyarakat terkait berapa
besar mereka bersedia membayar untuk barang non-market atau jasa, seperti
pelestarian lingkungan atau dampak dari kontaminasi. Seseorang ditanya berapa
besar jumlah kompensasi yang mereka inginkan untuk menyerahkan barang dan
jasa tersebut. Hal ini disebut penilaian kontigensi karena orang diminta untuk
menyatakan kesediaan mereka untuk membayar pada skenario hipotesis tertentu
dan deskripsi situasi atau ‘pasar’ di mana barang dan jasa tersedia. CVM tidak
hanya digunakan sebagai metode penilaian manfaat lingkungan, benda budaya,
pelayanan perawatan kesehatan, serta barang dan jasa publik lainnya, tetapi juga
diterima secara luas sebagai suatu teknik penilaian ekonomi (Jun et al. 2010).
Adrianto (2006) menguraikan teknik CVM memiliki kelebihan dibanding
penggunaan analisis berbasis revealed preference. Alasan pertama, teknik CVM
mampu merefleksikan nilai yang secara teoritis diharapkan oleh pendekatan
Hicksian Welfrare Measure. Kedua, teknik CVM ini mampu mengestimasi nilai
ekonomi dari jasa-jasa lingkungan yang tidak memiliki perilaku pasar. Pengabaian
nilai-nilai ini akan mengurangi nilai ekonomi ekosistem secara keseluruhan.
Ketiga, CVM merupakan salah satu teknik valuasi yang bersifat partisipatif karena
memungkinkan terjadinya diskusi publik. Namun demikian, CVM memiliki
24

kelemahan utama yaitu asumsi bahwa individu atau kelompok individu yang
menjadi responden CVM akan berpikir secara rasional dalam menentukan nilai
ekonomi sebuah fungsi ekosistem. Padahal dalam kenyataannya tidak semua
individu berpikir rasional.
Bioshop dan Heberlein (1990) in Rahayu (2010) menjelaskan terdapat enam
hal yang perlu diperhatikan agar CVM ini dapat mencapai hasil maksimal, yaitu
(1) penentuan populasi yang akan memberikan penilaian, (2) bagaimana suatu
komoditas yang dinilai tersebut didefinisikan, (3) bentuk pembayaran (penilaian)
apa yang paling sesuai untuk digunakan, (4) bagaimana bentuk penyampaian
pertanyaan kepada responden, (5) apa data pelengkap (penunjang) yang
dikumpulkan, dan (6) bagaimana data tersebut dianalisis.
25

3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di perairan Kecamatan Betoambari Kota


Baubau. Pengamatan ekologis, parameter kualitas perairan, pengumpulan data
sekunder dan sosial ekonomi dilaksanakan antara Juli-September 2010, serta
survei lanjutan antara Januari-Maret 2011.
Survei ekologis dan parameter kualitas perairan diperoleh dari 3 stasiun
pengamatan tahun 2010 dan 3 stasiun pengamatan Lembaga Napoleon tahun
2005, sebagai data sekunder. Koordinat stasiun pengamatan ditampilkan pada
Tabel 2. Sementara data sosial ekonomi, dilakukan pada wilayah pesisir
Kecamatan Betoambari yakni Kelurahan Sulaa dan Katobengke. Wilayah
administrasi Kota Baubau disajikan pada Gambar 4 dan lokasi penelitian
(Kecamatan Betoambari) disajikan pada Gambar 5.

Tabel 2 Koordinat lokasi stasiun penelitian pada kedalaman 10 meter

Koordinat
Lokasi/Stasiun
Lintang Selatan (LS) Bujur Timur (BT)
Perairan Pantai Nirwana ST1* 05o 32.26’ 122o 34.32’
ST2 05o 31.51’ 122o 34.08’
ST3 05o 31.40’ 122o 33.96’
ST4* 05o 31.27’ 122o 33.66’
Tanjung Sulaa ST5* 05o 30.77’ 122o 33.36’
Perairan Pantai Lakeba ST6 05o 29.47’ 122o 33.66’

* Stasiun pengamatan Lembaga Napoleon (2005)

3.2. Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat selam
Self Contained Underwater Buoyancy Apparatus (SCUBA), peta dasar
(basemap), Citra Landsat 5 Thematic Mapper (TM) untuk wilayah Kota Baubau
Akuisisi Tahun 2010, perahu motor, peralatan tulis bawah air, stop watch, kamera
bawah air, Global Positioning System (GPS), meteran sepanjang 70 meter, buku
identifikasi karang, dan cangkam Secchi.
26

Gambar 4. Wilayah administrasi Kota Baubau.


Gambar 5 Lokasi penelitian di Perairan Kecamatan Betoambari.
27
28

3.3. Jenis dan Sumber Data

Data-data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.
Data primer meliputi kondisi ekosistem terumbu karang, sosial budaya
masyarakat, serta persepsi responden terhadap manfaat wisata bahari di
Kecamatan Betoambari. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan dan
melalui hasil wawancara semi terstruktur dengan pengguna (stakeholders) yang
terkait di wilayah tersebut. Sedangkan data sekunder meliputi literatur penunjang
dan data pendukung lainnya. Data sekunder diperoleh dari penelusuran laporan-
laporan hasil penelitian dan data dari instansi terkait antara lain Badan Pusat
Statistik (BPS), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Tata
Kota dan Bangunan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau.

3.4. Metode Pengumpulan Data

3.4.1. Parameter Lingkungan Perairan


Metode pengukuran parameter lingkungan dilakukan secara sengaja
(purposive sampling) di daerah yang memiliki sebaran terumbu karang,
khususnya pada perairan dengan kedalaman 10 meter. Data kualitas lingkungan
perairan yang diperlukan dalam penelitian ini seperti terlihat pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3 Parameter lingkungan perairan

No Jenis data Alat Satuan Keterangan


Kualitas lingkungan perairan
1 Kecerahan Secchi disc (%) In situ
2 Kedalaman Tali dan Meteran Meter In situ

3.4.2. Data Komunitas Karang

Pengamatan komunitas karang dilakukan setelah mengetahui sebaran


terumbu karang yang diperoleh dari analisis citra. Selain mengacu pada hasil
analisis citra, penentuan stasiun pengamatan juga didasarkan pada survei
Lembaga Napoleon tahun 2005. Penentuan stasiun ini mempertimbangkan aspek
kondisi alamiah (kedalaman perairan 10 meter) dan aspek keruangan terumbu
karang (asosiasi dengan objek lain seperti pemukiman, industri/pelabuhan,
kegiatan budidaya rumput laut).
29

Metode yang digunakan untuk identifikasi komunitas karang adalah Line


Intercept Transect (LIT), mengikuti English et al (1994). Teknis pelaksanaan
di lapangan yaitu seorang penyelam meletakkan meteran sepanjang 70 m sejajar
garis pantai, di mana posisi pantai ada di sebelah kiri penyelam. LIT ditentukan
pada garis transek 0–10 m, 30-40 m, dan 60-70 m. Kemudian dilakukan
pencatatan karang yang berada tepat di garis meteran dengan ketelitian hingga
sentimeter. Pengamatan biota pengisi habitat dasar perairan didasarkan pada
bentuk pertumbuhan (lifeform) yang memiliki kode-kode tertentu (English et al.
1994), dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Daftar penggolongan komponen dasar penyusun ekosistem terumbu


karang berdasarkan lifeform karang dan kodenya
Kategori Kode Keterangan
Dead Coral DC Baru saja mati, warna putih atau putih kotor
Dead Coral with Alga DCA Karang masih berdiri, struktur skeletal masih terlihat
Paling tidak 2o Percabangan. Memiliki axial dan
Branching ACB
radial coralit
Biasanya merupakan dasar dari bentuk acropora
Encrusting ACE
Acropora belum dewasa
Submassive ACS Tegak dengan bentuk seperti baji
Digitae ACD Bercabang tidak lebih 2o
Tabulate ACT Bentuk seperti meja datar
Paling tidak 2o Percabangan. Memiliki axial dan
Branching CB
radial coralit
Sebagian besar terikat pada substrat (mengerak).
Encrusting CE
Paling tidak 2o percabangan
Karang terikat pada satu atau lebih titik, seperti daun,
Foliose CF
Non- atau berupa piring
Acropora Massive CM Seperti batu besar atau gundukan
Submassive CS Berbentuk tiang kecil, kenop atau baji
Mushroom CMR Soliter, karang hidup bebas dari genera
Heliopora CHL Karang biru
Millepora CML Karang api
Tubipora CTU Bentuk seperti pipa-pipa kecil
Soft Coral SC Karang bentuk lunak
Sponge SP
Zeanthids ZO
Others OT Ascidians, anemon, georgonian dan lain-lain
Alga assemblage AA
Corallinee alga CA
Alga Halimeda HA
Macroalga MA
Turf Alga TA
Sand S Pasir
Rubble R Patahan karang yang ukuran kecil
Abiotik Silt SL Pasir berlumpur
Water W Air
Rock RCK Batu
Sumber: English et al. (1994)
30

3.4.3. Data Ikan Karang

Pengamatan ikan karang dilakukan dengan metode underwater visual


census (UVC). Metode UVC menggunakan transek garis yang sama dengan
transek pengamatan komunitas karang. Teknis pelaksanaan di lapangan metode
ini, seorang penyelam mengamati ikan karang yang berenang di atas transek garis
(sepanjang 70 meter) serta mencatat seluruh spesies ikan yang ditemukan sejauh
2.5 m ke kiri dan 2.5 m ke kanan dari transek garis (English et al. 1994).

3.4.4. Data Sosial

Data sosial dalam penelitian ini diperoleh dari responden masyarakat dan
wisatawan. Pengambilan responden masyarakat untuk mengetahui persepsi
mereka tentang ekowisata bahari. Sedangkan responden wisatawan untuk
menghitung nilai manfaat ekonomi wisata bahari. Penentuan jumlah responden
dan teknik pengambilan contoh penelitian ini mengacu pada Hutabarat et al
(2009), dengan menggunakan rumus (1). Teknik pengambilan responden adalah
non-probability sampling, dimana responden masyarakat dilakukan secara
purposive sampling (sengaja), sedangkan responden wisatawan secara accidental
sampling. Responden masyarakat sebanyak 45 orang dan wisatawan 14 orang.

Rumus (1) penentuan jumlah contoh:

Keterangan:
n = jumlah contoh yang akan diukur
p = proporsi kelompok yang akan diambil contohnya
q = proporsi sisa dalam populasi contoh
Z = nilai tabel Z dari ½ . = 0.05 maka Z = 1.96
b = persentase perkiraan kemungkinan kesalahan dalam menentukan ukuran contoh

3.5. Metode Analisis Data


3.5.1. Analisis Komunitas Karang

Analisis komunitas karang berdasarkan persentase tutupan karang hidup


(lifeform). Semakin tinggi persen penutupan karang hidup maka kondisi ekosistem
terumbu karang semakin baik. Pengolahan data persentase penutupan karang
menggunakan Microsoft Office Excel 2007. Data persentase penutupan karang
31

hidup diperoleh berdasarkan metode Line Intersept Transect (LIT) melalui


persamaannya berikut:

li
N = ∑ x100%
L

Keterangan:
N = Persen penutupan karang
li = Panjang lifeform ke-i
L = Panjang transek 70 meter

Data kondisi penutupan terumbu karang yang diperoleh dari persamaan


diatas, kemudian dikategorikan rusak hingga sangat baik. Kategori tersebut
mengacu pada Kepmen LH No 04 Tahun 2001. Kategori kondisi terumbu karang
berdasarkan persentase penutupan karang dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Kategori kondisi terumbu karang berdasarkan persentase penutupan


karang keras
No Persentase karang hidup (%) Kategori
1 0-24.9 Rusak
2 25-49.9 Sedang
3 50-74.9 Baik
4 75-100 Sangat Baik
Sumber: Kepmen LH No 04 Tahun 2001

3.5.2. Analisis Kesesuaian Kawasan

Analisis kesesuaian kawasan ditujukan untuk kegiatan wisata bahari


kategori selam berbasis ekologis. Kegiatan wisata bahari yang akan
dikembangkan harus sesuai dengan potensi sumberdaya dan memenuhi
persyaratan lingkungan. Analisis kesesuaian dilakukan melalui pendekatan SIG
dengan bantuan software ArcView 3.3, dimana prosesnya mencakup penentuan
parameter, penyusunan matriks kesesuaian, pembobotan, dan pengharkatan
(skoring). Proses analisis ini berdasarkan hasil studi empiris dan justifkasi para
ahli yang berkompoten dibidang wisata bahari. Langkah awal yang dilakukan
yakni membangun sebuah matrik kriteria kesesuaian pemanfaatan yang berisi
informasi parameter, pemberian bobot, penentuan kategori kelas kesesuaian, dan
32

pengharkatan. Besaran nilai bobot disesuaikan dengan penting tidaknya parameter


yang bersangkutan bagi kegiatan wisata bahari.
Kesesuaian wisata bahari kategori selam mempertimbangkan 6 parameter
dengan empat klasifikasi penilaian. Parameter kesesuaian wisata selam ini terdiri
atas kecerahan perairan, tutupan komunitas karang, jenis lifeform, jenis ikan
karang, dan kedalaman terumbu karang. Kesesuaian ini disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Matriks kesesuaian untuk ekowisata bahari kategori selam


Kelas kesesuaian dan skor
Kriteria Bobot
S1 Skor S2 Skor S3 Skor N Skor
Kecerahan 5 > 80 3 50 - 80 2 20-<50 1 <20 0
Perairan (%)
Tutupan 5 > 75 3 > 50 -75 2 25-50 1 < 25 0
Komunitas Karang (%)
Jenis life form 3 > 12 3 < 7 - 12 2 4-7 1 <4 0
Jenis Ikan Karang 3 > 100 3 50 - 100 2 20-<50 1 < 20 0
Kedalaman 1 6 - 15 3 15-20 2 >20-30 1 > 30 0
Terumbu Karang 3-<6 <3

Sumber: Modifikasi dari Yulianda (2007)

3.5.3. Analisis Efisiensi Ruang dengan Aplikasi Marxan

Marxan dalam penelitian ini merupakan tools untuk memilih ruang


ekowisata bahari kategori selam yang memenuhi kriteria ekologis dan sosial
ekonomi. Basis dari analisis Marxan adalah model ekosistem (Meerman CJ
2005). Marxan dijalankan dengan bantuan perangkat lunak ArcView 3.3 dan
ekstensi CLUZ (Conservation Land Used Zone) serta ekstensi tambahan TNC
tools dan membuat heksagon. Dengan perangkat Marxan dapat mencoba beberapa
skenario perencanaan kawasan yang berbeda dan melihat hasilnya. Dengan
demikian dapat memilih skenario terbaik yakni ruang ekowisata yang efisien.
Analisis Marxan menggunakan algoritma simulated anealling dimaksudkan
untuk mencari biaya terendah ruang ekowisata, yang merupakan kombinasi
sederhana dari biaya terpilih dan nilai penalti yang tidak memenuhi target (Ball
dan Possingham 2000). Biaya terendah merupakan solusi terbaik. Untuk mencapai
solusi terbaik ruang ekowisata bahari yang efisien digunakan hubungan berikut.
33

Keterangan
C = biaya total kawasan ekowisata terpilih berdasarkan algoritma Marxan
ci = biaya yang terpilih di satuan perencanaan (planning unit) ke-i yang dapat
diukur, i = 1,2,…,n; n adalah banyaknya satuan perencanaan.
a = boundary length modifier (BLM) atau kontrol penting dari batas biaya relatif
terpilih di planning unit.
bi = boundary atau batas dari area terpilih/perimeter ke-i
si = species penalty factor (SPF), yaitu faktor yang mengontrol besarnya nilai
penalty ke-i, apabila target tiap spesies tidak terpenuhi.
pi = penalty atau nilai yang ditambahkan dalam fungsi obyektif untuk setiap target
tidak terpenuhi pada satuan perencanaan ke-i.

Analisis ruang ekowisata dengan penggunaan Marxan diperlukan dua


macam input data yaitu fitur konservasi (mewakili kondisi ekologis) dan fitur
biaya. Fitur konservasi yang dimasukkan diinginkan menjadi kawasan ekowisata
bahari untuk kepentingan perlindungan sumberdaya. Sementara fitur biaya,
diharapkan bukan ruang terpilih sebagai solusi dari analisis Marxan karena
memiliki biaya tinggi (telah dimanfaatkan masyarakat dengan kegiatan lain).
Beberapa tahapan dalam analisis Marxan yakni pembobotan fitur konservasi
dan fitur biaya; penentuan daerah kajian (Area of Interest); penentuan satuan
perencanaan; pemasukan data fitur konservasi dan fitur biaya; pengubah panjang
batas atau boundary length modifier (BLM); penentuan biaya satuan perencanaan;
konfigurasi file-file Marxan; melihat hasil Marxan; dan pembuatan skenario.

A. Pembobotan Fitur Konservasi dan Fitur Biaya

Penentuan bobot fitur konservasi dan fitur biaya terbilang unik. Kedua jenis
data yang dimasukkan diberi skor sesuai dengan tingkat kepentingan dan kualitas
data. Pemberian skor terhadap fitur konservasi menjadi dasar penentuan nilai SPF
atau faktor denda. Ball dan Possingham (2000) menyarankan menggunakan nilai
SPF diatas 1; Loos (2006) menyatakan nilai SPF kecil di bawah 1 akan
mengakibatkan target dari fitur konservasi tidak terpenuhi. Sedangkan terhadap
pemberian skor pada fitur biaya menjadi bobot biaya.
34

• Fitur Konservasi

Fitur konservasi dalam penelitian ini didefinisikan sebagai sumberdaya


pesisir yang akan dilindungi dengan tujuan dimanfaatkan untuk ekowisata bahari.
Fitur konservasi yang ditentukan pada lokasi perencanaan ekowisata bahari di
perairan Betoambari terdapat 6 fitur dengan bobot nilai berkisar 3.0 hingga 4.0
(Tabel 7). Terumbu karang dan habitat hiu merupakan fitur dengan tingkat
kepentingan dan kualitas data yang tinggi dibandingkan fitur lain, sehingga
diberikan nilai faktor denda paling tinggi sebesar 4.0. Hal ini dilakukan dengan
pertimbangan terumbu karang adalah fitur utama yang akan dilindungi, begitu
pula ikan hiu dan habitatnya (gua hiu). Daerah penyu dan pari merupakan fitur
yang memiliki kepentingan tinggi namun kualitas datanya rendah, karena hanya
berdasarkan wawancara beberapa orang penyelam. Sementara itu, fitur lobster dan
habitatnya (gua lobster) serta frogfish memiliki kepentingan sedang.

Tabel 7. Penentuan nilai faktor denda (SPF) fitur konservasi


Tingkat Faktor denda
No Fitur konservasi Kualitas data
kepentingan (SPF)
1 Terumbu Karang Tinggi Tinggi 4.0
2 Daerah Ikan Hiu Tinggi Tinggi 4.0
3 Daerah Penyu Tinggi Rendah 3.5
4 Daerah Ikan Pari Tinggi Rendah 3.5
5 Lobster Sedang Tinggi 3.0
6 Frogfish Sedang Tinggi 3.0

• Fitur Biaya

Fitur biaya untuk input Marxan berupa data sosial yang berkaitan dengan
penduduk, pola pemanfaatan sumberdaya, dan pemanfaatan kawasan. Data
tersebut diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan dan berupa hasil
wawancara dengan masyarakat pengguna langsung sumberdaya.
Fitur biaya pada lokasi perencanaan ekowisata bahari di perairan
Betoambari terdiri atas 3 jenis yakni pelabuhan, budidaya rumput laut, dan alur
kapal. Biaya unit perencanaan fitur-fitur tersebut dihitung dari adanya
pemanfaatan sumberdaya yang membuat total biaya akan lebih tinggi. Daftar
peringkat penggunaan sumberdaya dan kawasan di perairan Kecamatan
Betoambari ditampilkan pada Tabel 8.
35

Tabel 8 Penentuan nilai bobot fitur biaya


Tingkat
No Fitur biaya Kualitas data Bobot
kepentingan
1 Pelabuhan Tinggi Tinggi 4.0
2 Budidaya rumput laut Tinggi Rendah 3.5
3 Alur kapal Sedang Rendah 2.5

Fitur pelabuhan memiliki skor paling besar (4.0), karena tingkat


kepentingan dan kualitas datanya tinggi. Pelabuhan memiliki peranan penting
sebagai infrastruktur dasar yang menunjang perekonomian masyarakat. Sementara
fitur yang memiliki bobot terendah terkecil adalah alur kapal. Ini disebabkan
tingkat kepentingan sedang dan kualitas datanya rendah. Alur kapal merupakan
pemanfaatan jasa lingkungan yang tidak memberikan dampak negatif terhadap
perlindungan sumberdaya di perairan Kecamatan Betoambari.

B. Penentuan Daerah Kajian

Penentuan daerah kajian (area of interest) dan satuan perencanaan


merupakan hal penting dan utama dalam analisis Marxan. Pada lokasi studi,
daerah kajian didasarkan atas kewenangan daerah Kota Baubau untuk mengelola
laut. Dimana sesuai Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan
daerah, suatu kabupaten/kota memiliki kewenangan pengelolaan laut sejauh 4 mil
(untuk wilayah yang berbatasan dengan laut yang luas). Namun karena perairan
Baubau berada di Selat Buton (laut sempit) yang berbatasan langsung dengan
daerah administrasi Kabupaten Buton, maka penentuan daerah kajian dengan cara
penarikan titik tengah.
Berdasarkan hasil pengukuran dengan bantuan SIG, diperoleh jarak antara
garis pantai terluar Kecamatan Betoambari dan Pulau Kadatua (Kabupaten Buton)
sekitar 2.18 mil laut. Dengan demikian, agar penentuan ruang ekowisata masih
termasuk dalam kewenangan Kota Baubau maka daerah kajian penelitian ini
hanya digunakan buffer sejauh 1 mil laut dari garis pantai terluar Kecamatan
Betoambari. Ruang lingkup studi dalam penelitian ini hanya difokuskan pada
wilayah laut maka daratan dihilangkan sehingga tidak diikutkan pada proses
analisis Marxan. Cara ini dilakukan dengan tumpang tindih antara shapefile
daratan dengan perairan Kecamatan Betoambari, kemudian mengedit dan
36

menggunakan delete features untuk menghapus wilayah daratan. Untuk lebih


jelasnya, daerah kajian dilihat pada Gambar 6.

C. Penentuan Satuan Perencanaan

Satuan perencanaan (planning unit) merupakan pembagian unit terkecil dari


daerah kajian. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan satuan perencanaan
ini yakni bentuk dan ukurannya. Bentuk satuan perencanaan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah heksagon. Menurut Geselbracht et al 2005; Miller
2003; dan Warman 2001 bahwa bentuk heksagon merupakan satuan perencanaan
yang paling efisien, lebih natural, memiliki rasio kecil, serta mengeluarkan hasil
analisis yang lebih halus.
Sementara itu, penentuan ukuran satuan perencanaan disesuaikan dengan
luas area studi. Oleh karena wilayah perairan Kecamatan Betoambari terbilang
sempit yang memiliki panjang garis pantai sekitar 10.30 km (diperoleh melalui
hasil pengukuran dengan bantuan SIG), maka digunakan ukuran satuan
perencanaan yang kecil. Penentuan ukuran heksagon dilakukan pengujian
beberapa nilai dari yang besar 1 ha atau 10 000 m2 hingga relatif kecil 100 m2.
Terkait dengan pembuatan unit perencanaan, hal yang perlu diperhatikan
adalah pembatasan jumlah satuan perencanaan, sehingga dapat diproses dengan
baik dalam analisis Marxan. Menurut Oetting dan Knight (2003), Marxan tidak
akan melakukan proses dengan baik ketika jumlah satuan perencanaan lebih dari
65 000; Loos (2006) menambahkan, batasan untuk jumlah unit perencanaan yang
dapat diproses Marxan yakni 65 678.
Berdasarkan pengujian, ditemukan ukuran heksagon 300 m2 merupakan
paling minimum yang jumlah satuan perencanaannya mendekati 65 000. Namun
dalam analisis ini diasumsikan ruang ekowisata akan dimanfaatkan kegiatan
wisata bahari selam maka dipakai ukuran unit perencanaan 1 000 m2 (Lampiran
6). Ini didasarkan area yang digunakan untuk aktifitas wisata selam. Jumlah unit
perencanaan yang dihasilkan sebanyak 19 697.
Sementara itu, penggunaan satuan perencanaan dengan ukuran 1 ha di
perairan Betoambari terbilang besar sehingga dalam analisis membuat peta fitur
konservasi maupun biaya menjadi general, keluaran yang dihasilkan pun tidak
37

halus menyebabkan interpretasi solusi bersifat umum dan bias (Lampiran 7).
Sebaliknya ukuran satuan perencanaan 100 m2 seharusnya merupakan yang
terbaik karena paling halus, namun karena jumlahnya 194 698 (melebihi 65 000)
maka tidak dipakai. Hal ini telah dibuktikan dengan melakukan pengujian,
ditemukan proses Marxan tidak berjalan dengan baik. Meski telah menggunakan
perangkat komputer spesifik tinggi, ada beberapa tahapan yang diproses sangat
lama diantaranya pembuatan satuan perencanaan, pembaharuan data abudance,
dan pembuatan file Marxan bound.dat.

D. Pemasukan Data Fitur Konservasi dan Fitur Biaya

Fitur konservasi dan fitur biaya yang telah dibuat menjadi peta tematik,
kemudian dimasukan ke dalam satuan perencanaan dengan metode
present/absent. Ini berarti jika suatu heksagon bertumpang susun dengan suatu
fitur konservasi maupun fitur biaya maka heksagon tersebut beratribut present.
Jika present maka atributnya sama dengan 1, sebaliknya jika absent atributnya
menjadi 0.
Data konservasi yang sudah dimasukkan disebut data habitat (habitat shp)
dan data fitur biaya disebut data biaya (cost.shp). Pada fitur konservasi, setelah
atribut data habitat tersebut diselesaikan maka harus dibagi menjadi file
abundance_dbf dan file fitur_txt. Sedangkan pada fitur cost, setelah atribut data
cost dibuat maka menghitung total fitur cost. Caranya, nilai present/absent setiap
heksagon dikalikan dengan nilai skor tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya.

E. Pengubah Panjang Batas

Pengubah panjang batas merupakan pengaturan/konstanta untuk


pengelompokan solusi dalam satuan perencanaan. Pada pengubah panjang batas
yang rendah, satuan perencanaan yang terpilih akan menyebar. Sedangkan pada
pengubah panjang batas yang tinggi, satuan perencanaan yang terpilih akan
mengelompok. Ini disebabkan karena Marxan akan berusaha untuk menurunkan
panjang batas dari satuan perencanaan tersebut (Steward dan Possingham 2005).
Loos (2006) menjelaskan ketika pengaturan panjang batas dinaikkan maka nilai
total biaya meningkat. Untuk itu, perlu meminimalkan panjang batas melalui
pengelompokan satuan perencanaan (Meerman 2005).
38

Gambar 6 Daerah Kajian (perairan Kecamatan Betoambari)


39

Unit peta yang digunakan dalam analisis Marxan adalah degree, maka
penentuan pengubah panjang batas pada penelitian ini diujikan dengan lima nilai
yakni: 0.001, 0.01, 0.1, 1, dan 10. Dari berbagai variasi nilai tersebut dilihat
hasilnya. Dengan menggunakan pengubah panjang batas 1, satuan perencanaan
terpilih telah mengelompok. Dengan demikian, dalam penentuan ruang ekowisata
yang optimal digunakan nilai pengubah panjang batas 1. Penggunaan nilai
tersebut sudah sesuai dengan karakteristik area studi dan tujuan analisis. Hal ini
dipertegas dengan pernyataan CIT (2003) bahwa pengubah panjang batas
merupakan nilai sewenang-wenang yang diperoleh dari pengujian.

F. Biaya Satuan Perencanaan

Penentuan biaya satuan perencanaan dalam penelitian ini adalah


menganggap setiap heksagon mempunyai biaya 1. Biaya satuan perencanaan ini
merupakan nilai yang ditempatkan ke daerah tertentu untuk perhitungan nilai total
biaya. Untuk meminimalkan total biaya maka analisis Marxan memilih unit
perencanaan yang memiliki biaya terendah atau yang paling efisien.

G. Konfigurasi File-file Marxan

Konfigurasi file-file Marxan dilakukan dengan bantuan ekstensi CLUZ.


sebelum membuat konfigurasi tersebut, dilakukan tahapan-tahapan diantaranya
membuat tabel kosong (create blank target table), tabel abundance kosong
(create blank abundance table from unit theme), file setup CLUZ, memperbaharui
file abundance (import fields from table to abundance table) dan file target.
Secara umum proses penyiapan data untuk file-file Marxan terfokus pada 3
buah shapefile yaitu Planning Units (Pu.shp), Abundance (Habitat.shp), dan biaya
(Cost.shp). Adapun alur tabulasi file data, tampak pada Gambar 7. File tersebut
dihasilkan setelah proses pembuatan heksagon lengkap dengan proses cropping.
Ketiga file shapefile tersebut merupakan shapefile heksagon dengan wujud
serupa namun berbeda fungsi dan isi tabelnya. Pengolahan 3 buah shapefile
dilakukan dengan bantuan CLUZ akan menghasilkan 4 buah file tabular yaitu
Abudance.dat, Target.dat, Unit.dat dan Bound.dat yang menjadi input Marxan.
40

Dengan 4 input tersebut maka sudah dapat menjalankan proses Marxan dan
menghasilkan sebuah keluaran.

Gambar 7. Alur file tabuler untuk Marxan dengan ArcView dan CLUZ
(Sumber: Darmawan A. dan Andy Darmawan 2007)

H. Melihat Hasil Analisis Marxan

Hasil yang diperoleh dari analisis Marxan berupa lima buah file yaitu
output1_best. output1_mvbest, output1_sen, output1_ssoln, dan output1_sum.
Nama file sebelum underscore (_) merupakan bagian yang sesuai dengan nama
output yang dimasukkan, sedangkan setelahnya adalah bagian secara otomatis
dibuat oleh CLUZ. Best solution yang merupakan hasil konfigurasi terbaik dari
proses Marxan ditunjukan dengan file _best, _mvbest adalah tabel evaluasi
pencapaian target fitur konservasi, _sen yakni file berisi tentang skenario yang
digunakan dan _ssoln, file irreplaceability (frekuensi sebuah satuan perencanaan
terpilih sebagai best solution).

I. Pembuatan Berbagai Skenario

Keunggulan yang dimiliki Marxan adalah dapat menetapkan berbagai


skenario. Dalam penelitian ini, untuk menghasilkan berbagai pilihan solusi
penentuan ruang ekowisata bahari yang efisien maka digunakan tiga skenario.
Pembuatan skenario tersebut memakai variasi nilai target perlindungan terumbu
karang 70% - 50%.
Menurut Boersma dan Parrish (1999); Franklin et al. (2003); National
Research Council (2001); Roberts (2000), persentase target untuk setiap habitat
41

yang harus dilindungi dalam area konservasi perairan adalah sebesar 20%
Sementara Lauck et al. (1998); Polacheck (1990) menjelaskan target yang perlu
dilindungi adalah 50 %. Namun demikian, dalam analisis Marxan perlu menguji
nilai target. Sebagai contoh Airamé et al. (2003) menguji target antara 30%, 40%,
and 50% dan Lieberknecht et al. (2004), membuat kisaran targets 10– 40%. Tidak
hanya itu, ilmuan lain berpendapat target selalu bervariasi berdasarkan
kepentingan (Geselbracht et al. 2005), sedangkan Smith (2005) menyarankan
mengatur target berdasarkan kealamian setiap fitur sebelum kehilangan habitat.

3.5.4. Analisis Potensi Nilai Ekonomi Ekowisata

Analisis potensi nilai ekonomi ekowisata ini dilakukan berdasarkan daya


dukung kawasan yang berbasis spasial. Sehingga untuk menduga nilai ekonomi
wisata maka terlebih dahulu menghitung daya dukung kawasan (DDK) dan daya
dukung pengembangan ekowisata (DDW). Setelah mendapatkan nilai DDK dan
DDW, kemudian menghitung berapa besar potensi nilai ekonomi pada beberapa
skenario yang dihasilkan dari analisis Marxan, dengan menggunakan metode
WTP (Willingness to pay) dan Total Benefit (TB).

A. Analisis Daya Dukung Kawasan

Menurut Yulianda (2007), DDK adalah jumlah maksimum pengunjung yang


secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu
tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia, menggunakan rumus:

Keterangan:
DDK = Daya dukung kawasan
K = Potensi ekologis pengunjung per-satuan unit area
Lp = Luas area / panjang area yang dapat dimanfaatkan
Lt = Unit area untuk kategori tertentu
Wt = Waktu yang disediakan kawasan untuk kegiatan wisata dalam 1 hari.

Potensi ekologis pengunjung (K) adalah kemampuan alam untuk


menampung pengunjung berdasarkan jenis kegiatan wisata pada area tertentu.
Luas area (Lp) yang dapat digunakan oleh pengunjung mempertimbangkan
42

kemampuan alam mentolerir pengunjung sehingga keaslian alam tetap terjaga.


Potensi ekologis untuk kegiatan wisata selam adalah 2 orang untuk area terumbu
karang seluas 2000 m2. Daya jelajah seorang penyelam tergantung ketersediaan
oksigen dalam tangki tabung yang rata-rata habis dalam waktu 1 jam penyelaman.
Seorang penyelam dengan 1 tabung oksigen dapat melakukan pergerakan di
bawah laut kurang lebih sepanjang 200 meter dengan jelajah ke samping selebar
10 meter. Kegiatan selam hanya dapat dilakukan 2 orang sesuai dengan peraturan
selam internasional. Dengan demikian 2 orang penyelam dapat melakukan jelajah
seluas 2000 m2 dengan rentang waktu 1 jam di bawah laut (Yulianda 2007)
Waktu kegiatan pengunjung (Wp) dihitung berdasarkan lamanya waktu
yang dihabiskan pengunjung di lokasi wisata untuk melakukan kegiatan wisata.
Waktu pengunjung untuk kegiatan selam merupakan standar yang telah berlaku
secara umum yakni 2 jam. Waktu pengunjung diperhitungkan dengan waktu yang
disediakan untuk kawasan (Wt). Waktu kawasan adalah lama waktu areal dibuka
dalam satu hari dan rata-rata waktu kerja. Dalam penelitian ini, digunakan waktu
kawasan ditentukan selama 8 jam (Yulianda 2007).
Daya dukung ekowisata (DDW) mengikuti ketentuan PP Nomor 18 Tahun
1994 tentang pengusahaan pariwisata alam di zona pemanfaatan Taman Nasional
dan Taman Wisata Alam yaitu 10 % dari luas zona pemanfaatan, dengan formula
mengacu pada Hutabarat (2009):

atau

B. Analisis CVM dengan Pendekatan WTP

Tujuan analisis Contingent Valuation Methods (CVM) yakni untuk


mengukur variasi nilai kompensasi dan nilai persamaan suatu barang. Pendekatan
CVM dilakukan dengan wawancara langsung pada responden tentang seberapa
nilai membayar/willingness to pay (WTP) atau nilai kompensasi yang diinginkan.
Terdapat empat tipe pertanyaan yang biasa digunakan dalam metode CVM,
yaitu (1) Direct Question Method disebut pertanyaan terbuka, (2) Bidding Game,
(3) Payment Card, (4) Take it or Leave It. Dalam penelitian ini memfokuskan
pada pertanyaan tipe pertama Direct Question Method.
43

Metode CVM dengan pendekatan WTP merupakan parameter bagi


perhitungan total benefit. WTP digunakan untuk memperoleh penilaian ekonomi
terhadap ekosistem terumbu karang dan biota unit di perairan Kecamatan
Betoambari melalui kesediaan membayar dari para pengunjung untuk bisa
menikmati keindahan bawah laut (kegitan wisata selam).
Estimasi WTP dapat juga dilakukan dengan menduga hubungan antara WTP
dengan karakteristik responden yang mencerminkan tingkat penghargaan
pengguna terhadap sumberdaya yang selama ini dimanfaatkan. Dalam penelitian
ini, WTP per individu dilakukan secara langsung (straight forward) yang
diperoleh dari hasil perhitungan nilai tengah, mengikuti formula FAO (2000) in
Adrianto (2006) berikut ini:

Keterangan:
WTP i : Kesediaan membayar individu ke-i
n : Besaran atau jumlah sampel
yi : Besaran WTP yang diberikan responden ke-i

Setelah mengetahui tingkat WTP yang dihasilkan per individu dari


persamaan WTP i, maka total nilai ekonomi sumberdaya berdasarkan preferensi
sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan formula sebagai berikut,
(Modifikasi dari Adrianto 2006).

Dimana ;
TB : Total Benefit
WTP i : Kesediaan membayar individu ke-i
DDW : Total populasi wisatawan yang mampu ditampung oleh ruang wisata
bahari berdasarkan daya dukung ekowisata.
45

4. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1. Keadaan Geografis


Kota Baubau terletak di bagian selatan garis katulistiwa, dengan posisi
koordinat sekitar 05°2’ hingga 05°33’ Lintang Selatan dan 122°30’ sampai
122°47’ Bujur Timur (BPS Baubau 2009). Kota yang merupakan daerah eks-
kesultanan Buton ini, memiliki luas wilayah sekitar 251 km2, meliputi daratan
sekitar 221 km2 dan laut seluas 30 km2. Sedangkan luas wilayah pesisirnya sekitar
600 Ha, dengan panjang garis pantai 42 km.
Secara administrasi Kota Baubau terdiri 7 kecamatan yakni Betoambari,
Bungi, Kokalukuna, Lea-lea, Murhum, Sorawolio dan Wolio. Batas wilayah
sebagai berikut: sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kapuntori; sebelah
Timur berbatasan dengan Kecamatan Pasarwajo; sebelah Selatan berbatasan
dengan Kecamatan Batauga (Kabupaten Buton); sebelah Barat berbatasan dengan
Kecamatan Selat Buton.
Kecamatan Betoambari sebagai lokasi penelitian terletak pada 5050' - 5051'
LS dan 122056' - 122061' BT, dengan luas daerah administrasi 27.89 Km2.
Wilayah tersebut merupakan daerah pesisir yang berada di daratan utama Kota
Baubau, dengan jarak sekitar 8 km dari pusat kota. Batas wilayah Kecamatan
Betoambari yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Selat Buton, sebelah Timur
berbatasan dengan Kecamatan Murhum, sebelah Selatan berbatasan dengan
Kecamatan Batauga dan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kadatua
(BPS Baubau 2009).

4.2. Karakeristik Fisik


4.2.1. Kondisi Geologi

Kota Baubau berada di Pulau Buton. Jika ditinjau berdasarkan genesa dan
kedudukannya terhadap tatanan tektonik regional Indonesia, pulau Buton
termasuk dalam kategori rangkaian kepulauan yang terbentuk di kawasan paparan
benua (Soeprapto 2004). Geologi di Pulau Buton dicirikan adanya imbrikasi
batuan sedimen laut dangkal dan lempeng-lempeng ofiolit. Batuan sedimennya
berupa serpih, napal, batu gamping, batu pasir kuarsa, batu pasir mika dan
konglolmerat. Imbrikasi batuan yang terjadi di Pulau Buton merupakan hasil
46

proses tumbukan pada umur Miosen Awal hingga Tengah antara benua (Tukang
besi platform) dengan sistem penunjaman Sulawesi.

4.2.2. Topografi

Kondisi topografi Kota Baubau termasuk kecamatan Betoambari relatif


berbukit-bukit dengan ketinggian dari permukaan laut berkisar 10 hingga 221 m.
Dari 5 kelurahan di Kecamatan Betoambari, terdapat dua kelurahan yang
merupakan daerah pesisir yakni Sulaa (4.69 Km2) dan Katobengke (1.42 Km2)
(BPS Baubau 2009).

4.2.3. Musim dan Suhu

Keadaan musim di wilayah ini sama seperti daerah lainnya di Sulawesi


Tenggara, yakni musim hujan dan kemarau. Musim hujan terjadi karena arus
angin yang banyak mengandung uap air berhembus dari Asia dan Samudera
Pasifik (Januari-Juni), dan musim kemarau terjadi karena arus angin yang tidak
banyak mengandung uap air bertiup dari Australia (Juli-Oktober). Curah hujan di
wilayah ini sangat beragam setiap bulannya, di mana curah hujan terbanyak
terjadi pada bulan Desember sebesar 368.8 mm.
Sementara itu, suhu udara minimum terjadi pada bulan Juli, sebesar 22.1 0C
0
dan suhu udara maksimum terjadi pada bulan Oktober, sebesar 33.9 C.
Kecepatan angin umumnya merata setiap tahunnya, dengan kecepatan rata-rata
berkisar 4.0 knots (BPS Baubau 2009).

4.3. Kondisi Oseanografi Fisika Perairan


Fenomena alam yang memberikan kekhasan karakteristik pada kawasan
pesisir dan lautan disebut kondisi oseanografi fisika (Dahuri et al. 2004).
Fenomena alam tersebut dapat digambarkan dengan terjadinya pasang surut, arus,
suhu, salinitas, dan angin. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan kondisi fisik
perairan pada setiap daerah termasuk fenomena di wilayah pesisir Kota Baubau.
Kondisi oseanografi fisika perairan dalam penelitian ini merupakan data sekunder
dari hasil penelitian Baharuddin (2006), yang dilakukan di sepanjang pesisir Kota
Baubau. Jenis data yang diambil antara lain pasang surut, gelombang, dan arus.
Sedangkan suhu dan salinitas merupakan data sekunder dari hasil pengukuran
47

Lembaga Napoleon yang bekerja sama dengan Universitas Dayanu Ikhsanuddin


(Unidayan) Baubau. Pengukuran tersebut dilakukan pada bulan Juli 2005 di
perairan Kecamatan Betoambari yang dibagi dalam 6 stasiun pengamatan (lihat
Tabel 2).

4.3.1. Pasang Surut

Pasang surut di Kota Baubau berdasarkan tipenya termasuk kategori pasut


campuran condong ke harian ganda/mixed tide prevailing semi diurnal, di mana
dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, dengan bilangan
Formzahl (F) sebesar 0.77.
Sementara itu, mengenai kisaran pasang surut (tidal range), saat pasang
purnama (spring tide), tinggi muka air ketika pasang maksimum mencapai
246.9 cm dan tinggi muka air pada saat surut minimum rata-rata berkisar
100.1 cm. Sedangkan saat pasang perbani (neap tide), tinggi muka air pada saat
pasang maksimum mencapai 210.1 cm dan tinggi muka air pada saat surut
minimum rata-rata berkisar 136.9 cm (Baharuddin 2006).

4.3.2. Karakteristik Gelombang

Gelombang maksimum di Kota Baubau terjadi tiga kali dalam setahun yakni
pada musim Barat (Desember-Februari), bulan pertama musim peralihan I
(Maret), dan bulan terakhir musim peralihan II (November). Sedangkan
Karakteristik gelombang minimum terjadi pada musim timur (Juni-Agustus) dan
sebagian peralihan I dan II yakni bulan April-Mei dan September-Oktober
(Baharuddin 2006).

4.3.3. Arus

Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai


(nearshore current) yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi ataupun abrasi
pantai. Pola arus pantai ditentukan terutama oleh besarnya sudut yang dibentuk
antara gelombang datang dengan garis pantai. Jika sudut datang cukup besar maka
akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore current), sedangkan jika sudut
gelombang datang sejajar dengan pantai maka akan terjadi arus meretas pantai
48

(rip current). Antara dua jenis arus pantai ini, yang memiliki pengaruh besar
terhadap transpor sedimen pantai adalah arus menyusur pantai.
Menurut Baharuddin (2006), arah transpor sedimen di Kota Baubau searah
dengan arus menyusur pantai. Pada arah Barat dan Barat Daya, arus dan transport
sedimen menyusur pantai bergerak dari kiri ke kanan, sedangkan pada arah Timur
dan Timur Laut bergerak dari kanan ke kiri pantai (dari pengamat yang berdiri di
pantai menghadap ke arah laut). Arus dan transpor sedimen dari arah Barat dan
Timur laut terjadi di seluruh pesisir Kota Baubau. Khusus di Kecamatan
Betoambari, selain dari arah Barat dan Timur Laut, arus dan transpor sedimen
juga datang dari arah Barat Daya dan Timur.

4.3.4. Suhu dan Salinitas

Parameter oseanografi yang penting dalam sirkulasi untuk mempelajari asal


usul massa air adalah suhu dan salinitas (Dahuri et al. 2004). Suhu perairan
dipengaruhi oleh radiasi matahari, posisi matahari, letak geografi, musim, kondisi
awan, serta proses interaksi antara air dan udara seperti alih panas, penguapan,
dan hembusan angin. Sedangkan salinitas dipengaruhi oleh keadaan lingkungan,
misalnya muara sungai, musim, serta interaksi antara laut dan daratan.
Berdasarkan hasil pengukuran suhu dan salinitas rata-rata di perairan
Kecamatan Betoambari oleh Lembaga Napoleon (2005), suhu perairan Baubau
khususnya Kecamatan Betoambari berada dalam kisaran antara 27–29oC. Suhu
perairan di daerah ini relatif stabil karena tidak termasuk lokasi yang sering terjadi
penaikan air. Sedangkan salinitasnya berkisar antara 33-36‰, yang menunjukkan
kandungan garam berkisar antara 33-36 g/kg air laut.
Secara umum parameter suhu dan salinitas perairan Kecamatan Betoambari
dapat mendukung pertumbuhan terumbu karang. Menurut Kinsman (1964) in
Supriharyono (2007), terumbu karang memiliki kisaran toleransi suhu antara 36-40 o
C. Suhu yang baik untuk pertumbuhan karang berkisar antara 25-290C, sedangkan
batas minimum dan batas maksimum suhu berkisar antara 16-170C dan sekitar
360C. Sementara itu, dalam hubungannya dengan salinitas, pertumbuhan karang
yang baik berkisar antara 30‰ hingga 35‰ (Romimohtarto dan Juwana 2001).
49

4.4. Karakteristik Pariwisata


Kota Baubau memiliki potensi wisata budaya dan wisata alam yang unik,
serta menarik untuk dikunjungi. Sebagai daerah eks-kesultanan Buton, wisata
budaya yang dapat ditemui di daerah ini antara lain Benteng Keraton Buton,
Benteng Baadia, Benteng Sorawolio, pusat kebudayaan wolio (Museum Baadia),
dan Masjid Kuba. Sedangkan wisata alam antara lain Pulau Makassar, Tirta
Rimba, Samparona, Kantongara, Kokalukuna, Palabusa, Permandian Bungi,
Pantai Nirwana, Pantai Lakeba, dan Desa Sulaa (RIPPDA Kota Baubau 2005).
Pantai Nirwana, Pantai Lakeba, dan Desa Sulaa merupakan wisata pesisir
andalan di Kecamatan Betoambari. Ketiga objek tersebut saling berdekatan dan
berada di sebelah selatan Kota Baubau. Lokasi berada di dataran utama Kota
Baubau dengan jarak sekitar 8 km dari pusat kota, sehingga sangat mudah diakses.
Untuk menjangkaunya cukup menggunakan transportasi darat baik kendaraan
sepeda motor roda dua maupun roda empat.
Sesuai karakteristik alamiah dan daya tarik utama keindahan alam, beberapa
kegiatan yang cukup berkembang di kawasan Pantai Nirwana dan Pantai Lakeba
adalah wisata rekreasi pantai, berenang, dan menikmati pemandangan.
Pemandangan laut yang terbentang luas dengan warna cerah dan sunset indah
pada sore hari, menarik perhatian kelompok masyarakat kota Baubau maupun dari
luar daerah. Rombongan keluarga, mahasiswa, siswa, serta instansi pemerintah
memanfaatkan hari libur untuk berwisata di kawasan tersebut.

4.4.1. Kebijakan Pengembangan Pariwisata

Kebijakan pariwisata Kota Baubau yang termuat dalam Rencana Induk


Pengembangan Pariwisata Daerah Kota Baubau (RIPPDA Kota Baubau) adalah:
a) Adanya pedoman pengaturan dan pengendalian pemanfaatan objek-objek
wisata dan kawasannya. Dengan demikian tercipta pola pemanfaatan yang
serasi dan seimbang antara sektor dan keadaan, optimal sesuai dengan daya
dukung, serta berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.
b) Tersusunnya arahan strategis pengembangan kepariwisataan secara terpadu
antara Kota Baubau dan wilayah di sekitarnya. Dengan demikian mampu
50

mendorong pengembangan wilayah-wilayah berpotensi dalam kaitan jaringan


produk kepariwisataan.
c) Tersusunnya arahan implementasi program di dalam kerangka waktu dan
tahap prioritas disertai mekanisme koordinasi pengelolaan lintas sektoral.
d) Tersedianya acuan dan pendekatan yang tepat untuk perancangan masing-
masing kawasan wisata secara lebih detail bagi pemerintah dan para investor.

Objek unggulan kepariwisataan yang tercantum dalam RIPPDA (2005) dan


revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Baubau (RTRW) Tahun 2009, membagi
enam Kawasan Pengembangan Pariwisata (KPP) (lihat Gambar 8) yakni:
a) KPP 1 (Kota Mara, Malige, Pantai Kamali, dan Batu Poara)
b) KPP 2 (Benteng Wolio, Museum, dan Benteng Sorawolio)
c) KPP 3 (Pantai Nirwana, Pantai Lakeba, Desa Sulaa, dan Gua Lakasa)
d) KPP 4 (Permandian Bungi, Ekowisata Tirta Rimba, Hutan Lindung Wakonti,
dan Pantai Kokalukuna)
e) KPP 5 (Air Terjun Samparona dan Air Terjun Kantongara)
f) KPP 6 (Kampung Nelayan dan Pantai Pulau Makassar)

Lokasi penelitian di Kecamatan Betoambari masuk dalam KPP 3, yang


mengandalkan objek wisata alam pesisir. Kebijakan kepariwisataan yang
dirangkum RIPPDA dan revisi RTRW Kota Baubau, terlihat memberikan prospek
pengembangan pariwisata bahari di Kecamatan Betoambari. Namun terdapat
kelemahan dalam kebijakan tersebut, yakni masih bersifat umum dalam lingkup
Kota Baubau tanpa memfokuskan potensi yang dapat dikembangkan di setiap
objek wisata. Selain itu, belum ada rencana detail pemetaan dan pengelolaan
ruang yang optimal bagi setiap kegiatan wisata (berdasarkan daya dukung
kawasan), serta belum memperhatikan kepentingan sosial ekonomi masyarakat.
51

Gambar 8 Objek unggulan kepariwisataan Baubau di setiap KPP.


52

4.4.2. Perkembangan Kunjungan Wisatawan

Potensi Kepariwisataan Kota Baubau yang cukup besar dapat menjadi


sektor pemicu pertumbuhan ekonomi masyarakat. Banyak wisatawan
mancanegara (wisman) maupun domestik (nusantara) berwisata ke Kota Baubau.
Wisatawan tersebut umumnya ingin mengunjungi berbagai situs budaya
peninggalan zaman kesultanan Buton, sekaligus dapat menikmati keindahan alam
laut. Kedatangan wisman sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.
Kebanyakan dari mereka adalah wisatawan lepas (backpacker) yang datang ke
Indonesia tanpa melalui Biro Perjalanan Wisata (BPW). Kedatangan wisatawan
domestik pun umumnya untuk tujuan berwisata dan kunjungan kerja (instansi
pemerintah). Berdasarkan data Tahun 2005 sampai 2009, kunjungan wisman
maupun domestik selalu meningkat setiap tahunnya. Untuk lebih jelasnya, dapat
dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Data kunjungan wisatawan di Kota Baubau

Wisatawan mancanegara Wisatawan domestik


No Tahun
(Orang) (Orang)
1 2005 748 78 443
2 2006 886 124 453
3 2007 1696 188 267
4 2008 1894 224 453
5 2009 1700 261 436
Sumber: Disbudpar Baubau (2010)

Berdasarkan Tabel 9, kunjungan wisatawan mancanegara yang tertinggi


terjadi pada Tahun 2008 (sebanyak 1 894 orang), yang terdiri atas 923 orang laki-
laki dan 971 orang wanita. Menurut catatan Disbudpar Kota Baubau (2010),
wisatawan asing yang menginap di hotel di Baubau berasal dari beberapa negara
antara lain Asia Pasifik, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Hongkong, India,
Jepang, Cina, Australia, Amerika, Inggris dan negara Eropa lainnya.
53

4.5. Karakteristik Masyarakat


4.5.1. Perkembangan Jumlah Penduduk

Pertumbuhan penduduk yang pesat dapat memberikan peran positif terhadap


peningkatan pembangunan, termasuk sektor pariwisata pesisir. Namun sebaliknya,
pertambahan penduduk yang signifikan dapat memberikan dampak negatif, seperti
peningkatan pemanfaatan dan ekploitasi sumberdaya pesisir.
Penduduk Kota Baubau dari waktu ke waktu terus meningkat seiring
perkembangan dan kemajuan pembangunan. Menurut hasil Sensus Penduduk (SP)
Tahun 1990, jumlah penduduk 77 224 jiwa; Tahun 2000 bertambah lagi hingga
106 092 jiwa, kemudian Tahun 2008 mencapai 127 743 jiwa. Dengan demikian,
rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun selama kurun waktu 10 tahun
(1990-2000) sebesar 3.23%, dan sedangkan Tahun 2007-2008 sebesar 2.52%
(BPS Baubau 2009)
Data dari BPS Kota Baubau (2009) menunjukan laju pertumbuhan
penduduk di kecamatan Wolio, Bungi dan Murhum melampuai angka Kota,
masing-masing sebesar 2.64%, 2.64% dan 2.53%. Sedangkan empat kecamatan
lainnya memiliki angka pertumbuhan di bawah angka Kota, dan nilai terendah
berada di Kecamatan Sorawolio, yaitu sebesar 2.29%. Laju pertumbuhan
penduduk rata-rata Kota Baubau tahun 2007-2008 disajikan pada Gambar 9.

2,7
2,64 2,64
Laju Pertumbuhan Penduduk (%)

2,6
2,53

2,5 2,48

2,39
2,4
2,34
2,29
2,3

2,2

2,1
Betoambari Murhum Wolio Kokalukuna Sorawolio Bungi Lea-lea
Kecamatan

Gambar 9 Laju pertumbuhan penduduk rata-rata Kota Baubau menurut


kecamatan Tahun 2007-2008 (Sumber: BPS Baubau 2009)
54

4.5.2. Persepsi Masyarakat Lokal Terhadap Wisata Bahari

Persepsi masyarakat lokal terhadap keberadaan wisata bahari dipengaruhi


oleh adanya manfaat yang diperoleh dari kunjungan wisatawan. Persepsi
masyarakat terhadap ekowisata bahari dan tingkat dukungannya, disajikan pada
Tabel 10 berikut:

Tabel 10 Persepsi masyarakat terhadap kegiatan wisata bahari

No. Uraian Keterangan


Tahu = 64.44 %;
1. Pengetahuan tentang wisata bahari
Tidak tahu = 35.56%
Tahu = 17.78 %;
2. Pengetahuan tentang ekowisata Tidak tahu = 82.22%
Dukungan terhadap wisata bahari berbasis Mendukung = 86.67 %;
3. Tidak mendukung=13.33%
kelestarian lingkungan (ekowisata)
Dapat menjaga kelestarian
lingkungan, terumbu karang, dan
4. Alasan dukungan terhadap ekowisata
biota laut, serta membuka
lapangan kerja bagi masyarakat
Tingkat pengetahuan terhadap konservasi Tahu = 44.44 %;
5.
sumberdaya pesisir Tidak tahu = 55.56%
Jumlah responden masyarakat (n) 45 orang

Tabel 10 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan pemahaman


masyarakat tentang wisata bahari sudah tergolong baik, sebesar 64.44%.
Pengetahuan 45 responden tentang arti wisata bahari umumnya masih terbatas
pada wisata pantai pasir putih. Sedangkan responden yang memandang wisata
bahari sebagai wisata selam (untuk melihat keindahan bawah laut) masih sedikit.
Sementara itu, pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap wisata
bahari yang berbasis konservasi masih sangat rendah, sebesar 17.78%. Namun
demikian, ketika ditawarkan wisata bahari berbasis kelestarian lingkungan yang
dikemas dalam konsep ekowisata, 86.67% masyarakat menyatakan sangat
mendukung. Alasan dukungan mereka, cukup bervariasi, antara lain ekowisata
dapat menjaga kelestarian lingkungan, terumbu karang, dan biota laut. Selain itu,
masyarakat berharap adanya wisata bahari dengan konsep ekowisata, dapat
membuka lapangan kerja.
55

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Potensi Sumberdaya Kecamatan Betoambari

Kecamatan Betoambari dengan panjang garis pantai sekitar 10.30 km,


memiliki potensi sumberdaya pesisir yang cukup besar. Sumberdaya pesisir
tersebut menawarkan jasa lingkungan dan memiliki nilai estetika untuk
dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari dengan konsep ekowisata (berbasis
konservasi). Sumberdaya yang berpotensi adalah ekosistem terumbu karang dan
biota laut unik (ikan hiu, penyu, ikan pari, lobster, dan frogfish).

5.1.1. Kondisi Ekosistem Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang di wilayah pesisir Kota Baubau khususnya di


perairan Kecamatan Betoambari tersebar hampir di seluruh wilayah pesisir
Kelurahan Sulaa dan Katobengke. Melalui analisis citra (penginderaan jauh) dan
SIG, diperoleh luas terumbu karang di perairan Kecamatan Betoambari sekitar
83.64 ha. Sebagian besar masyarakat setempat memiliki ketergantungan terhadap
ekosistem terumbu karang ini sebagai sumber penghidupan sehari-hari.
Pengamatan terumbu karang di perairan Betoambari dilakukan di 6 stasiun
pada kedalaman 10 meter, terdiri atas: 4 stasiun di perairan Pantai Nirwana, 1
stasiun di Tanjung Sulaa, dan 1 stasiun di perairan Pantai Lakeba. Data terumbu
karang yang terdiri atas persentase tutupan komunitas karang, jenis lifeform
(bentuk pertumbuhan karang), dan jenis ikan karang, dianalisis dengan kesesuaian
ekowisata bahari berbasis ekologis. Hasil kesesuaian tersebut kemudian
digunakan sebagai input fitur konservasi untuk analisis Marxan.

A. Persentase Tutupan Komunitas Karang

Hasil pengamatan pada 6 stasiun di perairan Kecamatan Betoambari,


ditemukan kondisi tutupan komunitas karang berkisar dalam kategori sedang
hingga sangat baik, yakni antara 49.90–86.17%. Kondisi seperti ini memiliki
prospek cukup besar untuk pengembangan ekowisata bahari. Menurut Yulianda
(2007), persentase tutupan komunitas karang untuk ekowisata bahari pada kelas
sesuai bersyarat berkisar 25-50%, cukup sesuai yakni 50-75%, dan sangat sesuai
56

harus melebihi 75%. Nilai persentase tutupan komunitas karang setiap stasiun di
Kecamatan Betoambari disajikan pada Gambar 10.

100
90
Tutupan Komunitas Karang (%)

80
70
60
50
40
30
20
10
0
stasiun 1 stasiun 2 stasiun 3 stasiun 4 stasiun 5 stasiun 6
Lokasi Penelitian

Gambar 10 Nilai persentase tutupan komunitas karang pada kedalaman 10 meter


di perairan Kecamatan Betoambari

Berdasarkan Gambar 10, dapat dilihat tutupan komunitas karang paling


tinggi terdapat pada perairan Pantai Nirwana (stasiun 1), yakni di wilayah yang
berbatasan dengan Kecamatan Batauga Kabupaten Buton dengan persentase
86.17 %. Komunitas karang batu yang umum dijumpai yaitu karang bercabang,
(Acropora branching), karang bercabang (coral branching), karang jamur (coral
mushroom) dan karang masif (coral massive). Biota lain yang dijumpai yaitu
anemon dan akar bahar (Gorgonian).
Nilai persentase tutupan komunitas karang pada stasiun 1 jika dimasukkan
dalam persyaratan kesesuaian sumberdaya bagi wisata bahari, maka dikategorikan
pada kelas sangat sesuai (kategori S1 > 75%). Tutupan komunitas karang yang
tinggi pada stasiun ini menandakan tekanan ekploitasi terhadap terumbu karang
yang dilakukan masyarakat setempat relatif kecil. Salah satu faktornya, karena
lokasi jauh dari pemukiman warga, jauh dari pelabuhan, dan kurangnya kegiatan
budidaya rumput laut. Selain stasiun 1, lokasi lain yang tergolong pada kelas
sangat sesuai untuk kegiatan wisata bahari yakni pada stasiun 4 (perairan di
Tanjung Sulaa) dengan persentase tutupan komunitas karang sebesar 75.84%.
57

Kondisi ekosistem terumbu karang di stasiun 4 ini cukup baik karena terdapat
berbagai macam bentuk-tumbuh karang dan biota lain seperti Ascidian,
Gorgonian serta Anemone dan Tridacna. Kondisi beberapa biota di perairan
Pantai Nirwana dapat pada Gambar 11.
Nilai persentase tutupan komunitas karang yang masuk dalam kategori
cukup sesuai (kategori S2; >50-75%) untuk kegiatan wisata bahari adalah pada
stasiun 2 (perairan Pantai Nirwana) dengan persentase 66.57% dan stasiun 3
(perairan Pantai Nirwana) sebesar 61.67%, serta di stasiun 5 (perairan Kelurahan
Sulaa) sebesar 50.50%.

a) b)

Gambar 11 Kondisi biota lain pada perairan Pantai Nirwana. a) Simbiosis ikan
karang (Amphiprion sp) dengan Anemon Laut, b) Kima (Tridacna
sp). Sumber: Lembaga Napoleon (2005)

Gambar 12 Kondisi terumbu karang di perairan Pantai Nirwana.

Sementara itu, nilai persentase tutupan komunitas karang terkecil dan


dikategorikan sesuai bersyarat untuk wisata bahari ditemukan di perairan Pantai
58

Lakeba sebesar 49.90%. Bentuk-tumbuh karang yang umum dijumpai adalah


Acropora bercabang (Acropora branching), karang bercabang (Coral branching),
Acropora yang tumbuh mengerak (Acropora encrusting) dan karang masif (Coral
massive). Persentase yang kecil ini selain disebabkan kondisi substrat perairan
yang didominasi oleh pasir, juga tingkat pemanfaatan oleh masyarakat yang
merusak terumbu karang cukup besar. Sebagai contoh, penggunaan batu karang
untuk jangkar rakit budidaya rumput laut dan alat tangkap tidak ramah lingkungan
seperti bahan peledak. Kondisi terumbu karang di perairan Pantai Lakeba dapat
dilihat pada Gambar 13.
Menurut penuturan beberapa warga setempat, beberapa tahun silam di
wilayah tersebut terdapat masyarakat yang menangkap ikan dengan bahan
peledak. Hal ini menyebabkan terumbu karang hancur dan mati. Dapat dibuktikan
dari hasil pengamatan diperoleh persentase karang mati mencapai 38.17% yang
berupa pecahan karang (Rubble) dan karang telah dipenuhi oleh alga (Death coral
with alga). Hal ini menandakan bahwa kerusakan karang di sekitar wilayah
tersebut telah berlangsung lama. Menurut Riegl dan Luke (1999); Fox et al.
(2003); Fox et al. (2005), penggunaan bahan peledak pada daerah terumbu karang
mengakibatkan kerusakan fisik terumbu (terutama karang branching dan foliose).
Kondisi demikian mengakibatkan hilangnya tutupan karang hidup hingga 3.75 %
per 100 m2 setiap tahun (Soede et al. 1999).

a) b)

Gambar 13 Kerusakan terumbu karang di perairan Pantai Lakeba. a) akibat


penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti bom,
b) penggunaan jangkar rakit budidaya rumput laut.
59

B. Bentuk Tumbuh Karang

Karang memiliki variasi bentuk-tumbuh koloni (jenis lifeforms) yang


berkaitan dengan kondisi lingkungan perairan. Bentuk pertumbuhan karang
dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, hidrodinamis (gelombang dan arus),
ketersediaan bahan makanan, sedimen, subareal exposure, dan faktor genetik
(Supriharyono 2007).
Berdasarkan hasil pengamatan pada perairan Kecamatan Betoambari
ditemukan bentuk-tumbuh karang tergolong baik dan sangat beragam, yang
berkisar antara 5 hingga 11 jenis. Untuk lebih jelasnya jumlah bentuk
pertumbuhan karang pada setiap stasiun pengamatan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Jenis lifeform (bentuk-tumbuh karang) di perairan Betoambari

Jenis lifeform
Lokasi/Stasiun
(Bentuk-tumbuh karang)
Perairan Pantai Nirwana ST1* 7
ST2 7
ST3 11
ST4* 5
Tanjung Sulaa ST5* 5
Perairan Pantai Lakeba ST6 9

* Data pengamatan Lembaga Napoleon (2005)

Bentuk-tumbuh karang yang paling banyak ditemukan adalah pada stasiun 3


(perairan Pantai Nirwana) sebanyak 11 jenis. Berdasarkan jumlah tersebut, lokasi
ini dapat dikategorikan dalam kelas cukup sesuai untuk kegiatan wisata bahari.
Bentuk perrtumbuhan karang yang umum dijumpai pada stasiun 3 antara lain
karang masif (Coral massive) dan Acropora bercabang (Acropora branching).
Meskipun pada stasiun 3 hanya memiliki penutupan karang batu dalam kategori
sedang, tetapi terdapat berbagai biota lain yang menutupi habitat dasar perairan.
Biota lain yang jumpai antara lain kima (Clam), akar bahar (Gorgonian), anemon
(Anemone) dan Ascidian.
Kategori karang keras (hard coral) yang terdapat di perairan tersebut terdiri
atas Acropora dan Non-Acropora. Kategori Acropora terdiri atas Acropora
branching (ACB) dan Acropora digitate (ACD), terdapat di stasiun 3, 5, dan 6;
60

Acropora encrusting (ACE) ada di stasiun 3, 4, 5, dan 6; Acropora submassive


(ACS), pada stasiun 1 dan 3; dan Acropora tabulate (ACT), pada stasiun 2, 3, 4,
5, dan 6. Diantara 5 kategori tersebut, hanya Acropora branching (ACB) yang
ditemukan di setiap stasiun pengamatan.
Karang keras (hard coral) kategori Non-Acropora yang ditemukan pada
perairan Kecamatan Betoambari antara lain Coral branching (CB) di stasiun 1, 2,
3, 5, dan 6; Coral encrusting (CE) di stasiun 1, 2, 3, dan 6; Coral foliose (CF) di
stasiun 3 dan 4; Coral massive (CM) di stasiun 1, 2, 3, dan 6; dan Coral
mushroom (CMR) di stasiun 2, 3, dan 6. Beberapa contoh karang keras yang
ditemukan di wilayah ini dapat dilihat pada Gambar 14.

a) b)

c) d)

Gambar 14 Beberapa bentuk-tumbuh karang di perairan Kecamatan Betoambari.


a) Acropora bercabang, b) Acropora meja, c) Karang (Non-
Acropora) bunga, d) Karang (Non-Acropora) Masif.
Sumber: Lembaga Napoleon (2005).
61

C. Jenis Ikan Karang

Ikan karang merupakan salah satu biota yang memiliki keanekaragaman


spesies tinggi, di mana hidupnya berasosiasi dengan karang. Terumbu karang
adalah habitat penting bagi ikan karena merupakan tempat pemijahan (spawning
ground), pengasuhan (nursery ground), dan mencari makan (feeding ground)
(Bengen 2001). Keanekaragaman ikan karang merupakan faktor utama yang dapat
menunjang keindahan alam bawah laut (Apriliani 2009).
Hasil pengamatan yang dilakukan di perairan kecamatan Betoambari
ditemukan ikan karang yang terklasifikasi dalam 20 hingga 22 famili. Famili
Pomacentridae merupakan famili yang memiliki jumlah spesies paling banyak
(sekitar 27 spesies) dibandingkan dengan famili lain. Dominasi jumlah tersebut
diduga karena ikan ini merupakan pemakan plankton, alga, dan omnivore. Hal ini
sesuai dengan pendapat Montgomeri et al (1980) in Hukom (2000), yang
mengatakan bahwa salah satu famili ikan karang yang selalu ditemukan di daerah
terumbu karang adalah famili Pomacentridae.
Famili ikan karang terbanyak kedua yang dapat ditemukan di perairan
Kecamatan Betoambari adalah Chaetodontidae (ikan kepe-kepe) sebanyak 26
spesies. Ikan kepe-kepe merupakan ikan indikator yang menandakan kondisi
terumbu karang cukup baik dan masih sehat. Hal ini sesuai dengan pendapat Myer
dan Randall (1983), bahwa kehadiran ikan kepe-kepe tidak lepas dari keberadaan
terumbu karang, karena ikan ini merupakan salah satu indikator kesehatan karang.
Semakin beragam spesies ikan karang dari kelompok indikator maka tingkat
kesuburan karang semakin tinggi. Chabanet et al. (1997) dan Bouchon (1989)
membenarkan bahwa terdapat hubungan positif antara persentase substrat terumbu
karang dengan kehadiran ikan Chaetodontidae. Ikan tersebut memiliki
ketergantungan terhadap karang sebagai makanan dan tempat berlindung,
sehingga distribusinya dipengaruhi oleh kondisi tutupan karang hidup.
Jumlah spesies ikan karang yang diidentifikasi pada 6 titik pengamatan
berkisar 11 hingga 107 spesies (Tabel 12). Berdasarkan Tabel 12, dapat dilihat
jumlah spesies ikan karang yang paling banyak ditemukan adalah di sekitar pantai
Nirwana sebanyak 107 spesies dari 22 famili. Kondisi ikan karang yang
berasosiasi dengan hewan karang di perairan Pantai Nirwana dapat dilihat pada
62

Gambar 15. Jenis-jenis ikan target yang dijumpai berasal dari famili Acanthuridae
(ikan pakol), Haemullidae (ikan bibir tebal), Lutjanidae (ikan kakap),
Nemipteridae (ikan kurisi) dan Serranidae (ikan kerapu). Ikan indikator berasal
dari famili Chaetodontidae (ikan kepe-kepe). Kelompok ikan mayor utama yang
dijumpai berasal dari famili Acanthuridae, Apogonidae, Balistidae, Blennidae,
Caesionidae, Labridae, Pomacanthidae, Pomacentridae dan Scaridae.

Tabel 12 Jumlah spesies ikan karang yang ditemukan di perairan Betoambari

Ikan karang
Lokasi/Stasiun
(Jumlah spesies)
Perairan Pantai Nirwana ST1* 11
ST2 89
ST3 107
ST4* 20
Tanjung Sulaa ST5* 26
Perairan Pantai Lakeba ST6 91

* Data pengamatan Lembaga Napoleon (2005)

Sementara itu, dari hasil survei komunitas ikan karang di sekitar Pantai
Lakeba dan Tanjung Sulaa ditemukan 91 spesies ikan karang dari 21 famili. Ikan-
ikan target yang dijumpai berasal dari famili Holocentridae, Mullidae, Serranidae
dan Siganidae. Kelompok ikan mayor utama yang dijumpai berasal dari famili
Acanthuridae, Apogonidae, Blennidae, Caesionidae, Labridae, Pomacanthidae,
Pomacentridae, Scaridae dan Tetraodontidae. Ikan indikator berasal dari famili
Chaetodontidae (Ikan kepe-kepe).

Gambar 15 Ikan karang yang berasosiasi dengan hewan karang di perairan


Pantai Nirwana.
63

D. Biota Lain

Perairan di sekitar terumbu karang memiliki tingkat produktifitas primer dan


sekunder yang tinggi. Tingginya produktifitas primer tersebut menyebabkan
terumbu karang sering dijadikan tempat pemijahan, pengasuhan, dan mencari
makan bagi ikan karang. Sedangkan produktifitas sekunder yang tinggi
memungkinkan terumbu karang menjadi tempat berlindung dan mencari makan
bagi hewan invertebrata lain seperti lobster dan penyu (Supriharyono 2007).
Berdasarkan pengamatan langsung dan wawancara beberapa lembaga yang
konsen terhadap pelestarian terumbu karang seperti Napoleon dan Buton Resort,
ditemukan selain ikan karang, di wilayah tersebut terdapat biota unik di antaranya
penyu, ikan pari, ikan hiu, lobster, kuda laut, dan frogfish (Gambar 16). Daerah
penyebaran biota-biota tersebut hanya di perairan Pantai Nirwana. Biota-biota
termasuk dalam daftar hewan langka, serta merupakan objek pelengkap keindahan
bawah laut. Hal ini sesuai dengan pendapat Hutabarat et al (2009) bahwa
beberapa jenis biota yang mempunyai karakteristik khas dan langka mempunyai
daya tarik wisata bawah laut.

a) b)

c) d)

Gambar 16 Satwa unik di perairan Kecamatan Betoambari. a) Ikan Hiu, b) Kuda


Laut, c) Ikan Pari, d) Frogfish
64

5.1.2. Kualitas Perairan

Kondisi lingkungan perairan yang terkait dengan kesesuaian ekowisata


bahari kategori selam berbasis ekologis dalam penelitian ini adalah kecerahan
perairan dan kedalaman terumbu karang. Berdasarkan pengamatan pada,
kecerahan perairan pada lokasi penelitian sedikit bervariasi yakni pada stasiun 1
hingga 4 (perairan Pantai Nirwana) mencapai 95%, stasiun 5 (perairan Kelurahan
Sulaa) sebesar 50%, dan stasiun 6 (perairan Pantai Lakeba) adalah 75%. Tingkat
kecerahan yang kecil pada stasiun 5 ini diduga disebabkan karena lokasi tersebut
berada tepat di depan pusat pemukiman masyarakat Kelurahan Sulaa, serta tingkat
pemanfaatan kawasan yang cukup besar antara lain aktivitas pelabuhan dan
budidaya rumput laut. Beragamnya kegiatan tersebut dapat menyebabkan
kekeruhan perairan, sehingga penetrasi cahaya yang masuk ke kolom air semakin
berkurang dan pada akhirnya kecerahan makin berkurang.

5.1.3. Kesesuaian Kawasan Pengembangan Ekowisata Bahari

Kesesuaian kawasan untuk pengembangan ekowisata bahari kategori selam


dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor pembatas yang terdiri dari 5
parameter, yakni kecerahan perairan, tutupan karang hidup, jenis lifeform, jenis
ikan karang, dan kedalaman terumbu karang. Proses analisis kesesuaian tersebut
diawali dengan penyusunan matrik sekaligus pemberian bobot dan skoring pada
semua parameter pembatas sesuai tingkat kepentingan. Parameter kecerahan dan
tutupan karang hidup memiliki bobot paling tinggi dibanding parameter lain. Hal
ini disebabkan karena kecerahan merupakan penentu penetrasi cahaya untuk
kelangsungan hidup bagi ekosistem terumbu karang. Dengan kecerahan yang
tinggi, para wisatawan dapat dengan jelas melihat objek ekosistem terumbu
karang. Sementara itu, tutupan karang hidup merupakan daya tarik wisatawan
dalam menikmati keindahan bawah laut.
Hasil analisis matrik kesesuaian kawasan untuk ekowisata bahari kategori
selam, melalui analisis spasial yang dibantu dengan software ArcView 3.3,
diperoleh hampir seluruh kawasan terumbu terumbu di perairan Kecamatan
Betoambari dikatakan sesuai, berkisar dari kelas sangat sesuai, cukup sesuai,
65

hingga sesuai bersyarat. Lokasi dan luas kawasan yang sesuai untuk ekowisata
bahari kategori selam dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Luas dan lokasi yang sesuai untuk ekowisata bahari selam
No Kelas kesesuaian Luas (ha) Lokasi
1 Sangat sesuai (S1) 12.49 Perairan Pantai Nirwana
Arah Selatan Pantai Nirwana, Tanjung
2 Cukup sesuai (S2) 67.28
Sulaa, Perairan Pantai Lakeba
3 Sesuai bersyarat (S3) 3.87 Perairan Kelurahan Sulaa

Berdasarkan Tabel 13, secara ekologis hampir sepanjang wilayah perairan


Kecamatan Betoambari yang memiliki sebaran terumbu karang, memenuhi syarat
untuk wisata bahari kategori selam, sehingga dapat direkomendasikan menjadi
kawasan ekowisata. Namun demikian, kawasan yang paling sesuai adalah perairan
yang berada tepat di depan wisata pantai Nirwana, dengan luas 12.49 ha. Kawasan
tersebut terpilih paling sesuai karena kondisi ekosistem terumbu karang di lokasi
ini masih cukup baik, dengan tutupan karang di atas 60 %, jenis lifeform sangat
beragam melebihi 10 jenis dan jenis ikan karang yang ada pun sangat banyak.
Selain itu tingkat kecerahan perairan di lokasi tersebut sangat tinggi dengan rata-
rata 95%. Secara spasial, kesesuaian ekowisata bahari kategori selam ini dapat
dilihat pada Gambar 17.
Menurut Lynch et al. (2004), ekowisata bahari selam sangat terkait dengan
keberadaan ekosistem terumbu karang sebagai objek penyelaman yang
menyediakan keindahan organisme laut dan pengalaman baru yang menantang.
Begitu pula` Arifin et al. (2008) mengatakan bahwa persentase tutupan karang
hidup, jenis lifeform, dan jenis ikan karang mempunyai daya tarik bagi wisatawan
karena memiliki variasi morfologi dan warna yang menarik. Tidak hanya itu,
kecerahan merupakan syarat utama yang harus dipenuhi dalam wisata bahari.
Semakin cerah perairan maka keindahan bawah laut makin dinikmati.
66

Gambar 17 Kesesuaian kawasan ekowisata bahari kategori selam berbasis ekologis


67

5.2. Ruang Ekowisata Bahari Optimal

5.2.1. Pemanfaatan Kawasan di Perairan Kecamatan Betoambari

Perairan Kecamatan Betoambari dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan


baik oleh masyarakat, pemerintah, maupun swasta. Pemanfaatan sumberdaya
maupun kawasan yang ada di wilayah ini antara lain aktifitas budidaya rumput
laut, pelabuhan, daerah penangkapan, dan alur kapal. Pada penelitian ini, berbagai
kegiatan pemanfaatan tersebut digunakan sebagai input fitur biaya dalam analisis
Marxan. Meskipun fitur-fitur ini berpengaruh negatif terhadap fitur konservasi
(terumbu karang dan biota unik lain), namun karena memiliki fungsi penting bagi
penunjang kebutuhan hidup dan aktifitas masyarakat setempat, sehingga
keberadaannya harus dipertimbangkan dalam menentukan ruang ekowisata.
Berdasarkan tingkat kepentingan dan manfaat maka fitur biaya diurutkan sebagai
berikut: pelabuhan, budidaya rumput laut, dan alur kapal (contohnya kapal
nelayan dan kapal penumpang). Aktifitas pemanfaatan sumberdaya dan kawasan
di perairan Kecamatan Betoambari dapat dilihat pada Gambar 18.
Fitur biaya pertama (pelabuhan); berdasarkan pengamatan wilayah perairan
Betoambari, terdapat beberapa pelabuhan yang memiliki fungsi penting sebagai
infrastruktur penunjang di antaranya dermaga kapal penghubung Kelurahan Sulaa
dan Pulau Kadatua (Kabupaten Buton), pelabuhan PT Arahon Indah sebagai
tempat bersandar kapal nelayan cakalang/tuna ketika hendak mengambil es balok
ataupun memasok hasil tangkapan, serta pelabuhan transit depo pertamina yang
diperkirakan difungsikan pada akhir Tahun 2011 ini.
Fitur biaya kedua (budidaya rumput laut); merupakan profesi utama
sebagian besar masyarakat setempat, khususnya Kelurahan Sulaa dan
Katobengke. Berdasarkan pengamatan dan wawancara di lapangan, kegiatan
budidaya di wilayah tersebut dilakukan pada bulan April hingga Desember setiap
tahunnya. Lokasi yang menjadi budidaya rumput laut di antaranya tersebar pada
perairan tepat di daerah pusat pemukiman warga Kelurahan Sulaa, sebagian besar
di perairan Pantai Lakeba, dan pantai Katana (arah selatan pantai Nirwana).
Beberapa nelayan yang ditemui mengaku sangat bergantung pada aktifitas
budidaya rumput laut demi mencukupi kebutuhan keluarga. Pada awalnya mata
pencaharian utama mereka adalah sebagai nelayan penangkap ikan, namun saat ini
68

lebih fokus pada profesi sebagai petani rumput laut. Banyak alasan yang
melandasi hal tersebut, selain akibat hasil tangkapan ikan karang yang terus
menurun, juga disebabkan kegiatan budidaya rumput laut yang terbilang mudah
dan dapat memperoleh pendapatan cukup besar. Setiap tahun jumlah petani
rumput laut semakin meningkat. Hal ini dapat dibuktikan hampir seluruh wilayah
perairan depan Pantai Lakeba dan pusat pemukiman masyarakat Kelurahan Sulaa,
dipenuhi dengan rakit budidaya rumput laut. Aktifitas tersebut hampir tidak
menyisahkan ruang untuk alur keluar masuk perahu nelayan maupun kapal
transportasi penghubung antara Kelurahan Sulaa dan Pulau Kadatua.

a) b)

c) d)

Gambar 18 Pemanfaatan sumberdaya dan kawasan di perairan Betoambari.


a) pelabuhan transit depo pertamina yang sementara dikerjakan,
b) pelabuhan PT Arahon Indah, c) kegiatan budidaya rumput laut,
d) kapal nelayan yang sering bersandar di pelabuhan Arahon Indah.

Fitur biaya ketiga (alur kapal); kapal yang melewati perairan Kecamatan
Betoambari terbilang banyak antara lain kapal penumpang yang menghubungkan
Kelurahan Sulaa-Pulau Kadatua, kapal penumpang penghubung antara Kabupaten
69

Wakatobi-Kota Baubau, dan dipastikan akan ada jalur kapal transit depo
pertamina. Ketiga fitur tersebut ditunjukkan pada Gambar 19.

5.2.2. Ruang Ekowisata Berdasarkan Efisiensi Biaya

Penentuan ruang ekowisata yang memiliki biaya terkecil dilakukan


berdasarkan kesesuaian parameter ekologis dan sosial ekonomi. Untuk mencapai
tujuan tersebut, digunakan analisis Marxan yang dapat mencari dan memilih
kawasan ekowisata yang memenuhi kriteria ekologis dan sosial ekonomi. Marxan
merupakan analisis yang dikatakan kompleks karena terdapat banyak pengaturan
guna mendapatkan berbagai pilihan pengambilan keputusan. Setelah Marxan
diciptakan Ball dan Poshingham (2000), muncul beberapa panduan, eksperimen
trial dan error, serta penelitian yang telah melakukan pengujian terhadap Marxan,
antara lain Ardron (2002) dan Loos (2006). Dalam penelitian ini tidak dilakukan
pengujian Marxan lebih jauh, tetapi hanya melakukan simulasi terhadap ukuran
unit perencanaan dan target konservasi untuk kebutuhan ruang ekowisata
optimum, sedangkan komponen lain mengacu pada studi literatur dari berbagai
panduan dan penelitian sebelumnya.

A. Penetapan Persentase Target Ruang Ekowisata

Penetapan target untuk perencanaan ruang ekowisata merupakan hal penting


sebagai input dalam analisis Marxan. Menurut Cabeza dan Moilanen (2001), agar
penetapan spesies target bersifat ilmiah maka dapat didasarkan pada perkiraan
populasi. Menurut Smith (2005), pengaturan target berdasarkan kealamian setiap
fitur sebelum kehilangan habitat; Geselbracht et al. (2005), menyarankan target
selalu bervariasi berdasarkan kepentingan.
Penetapan target ekowisata untuk perlindungan sumberdaya pesisir
Kecamatan Betoambari diurutkan berdasarkan pentingnya suatu habitat dan
spesies sebelum mengalami kepunahan. Sesuai kondisi di lokasi penelitian,
sumberdaya yang penting namun terancam degradasi tinggi yakni ekosistem
terumbu karang. Setelah itu, tingkat kepentingan diurutkan dari yang tinggi
hingga sedang sebagai berikut: ikan hiu dan habitatnya, spesies penyu, ikan pari,
lobster dan habitatnya, serta frogfish.
70

Gambar 19. Pemanfaatan sumberdaya dan kawasan di Perairan Betoambari (fitur biaya)
71

B. Pengaturan Skenario Ruang Ekowisata

Marxan yang memiliki banyak pengaturan memberikan kesempatan kepada


perencana untuk mengatur berbagai skenario. Setiap skenario memberikan hasil
yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini, skenario ditentukan dengan mengatur
target sumberdaya yang akan dijadikan kawasan ekowisata, utamanya mengubah
nilai target terumbu karang dan biota unik lain. Pengubahan nilai dimaksudkan
untuk mencari solusi ruang ekowisata dengan biaya terendah. Berdasarkan
observasi lapangan dan analisis awal simulasi target ekowisata bahari maka
ditetapkan 3 skenario (Tabel 14).

Tabel 14 Faktor denda dan persentase target tiap skenario


Skenario 1
%
No Fitur konservasi SPF Jumlah pu Target Shapefile
Target
1 Terumbu Karang 70 4.0 1335 934.5 terumbu_
2 Daerah Ikan Hiu 70 4.0 120 84.0 d_hiu
3 Daerah Penyu 70 3.5 362 253.4 d_penyu
4 Daerah Ikan Pari 70 3.5 212 148.4 d_pari
5 Lobster 70 3.0 86 60.2 d_lobster
6 Frogfish 70 3.0 65 45.5 d_frogfish

Skenario 2
%
No Fitur konservasi SPF Jumlah pu Target Shapefile
Target
1 Terumbu Karang 60 4.0 1335 801.0 terumbu_
2 Daerah Ikan Hiu 60 4.0 120 72.0 d_hiu
3 Daerah Penyu 60 3.5 362 217.2 d_penyu
4 Daerah Ikan Pari 60 3.5 212 127.2 d_pari
5 Lobster 60 3.0 86 51.6 d_lobster
6 Frogfish 60 3.0 65 39.0 d_frogfish

Skenario 3
%
No Fitur konservasi SPF Jumlah pu Target Shapefile
Target
1 Terumbu Karang 50 4.0 1335 667.5 terumbu_
2 Daerah Ikan Hiu 50 4.0 120 60.0 d_hiu
3 Daerah Penyu 50 3.5 362 181.0 d_penyu
4 Daerah Ikan Pari 50 3.5 212 106.0 d_pari
5 Lobster 50 3.0 86 43.0 d_lobster
6 Frogfish 50 3.0 65 32.5 d_frogfish
72

Tabel 14 menunjukan skenario yang digunakan pengubahan nilai target


terumbu karang dari 70% hingga 50%. Terumbu karang merupakan sumberdaya
paling potensial sebagai kawasan ekowisata. Sumberdaya tersebut hampir di
sepanjang pesisir Kecamatan Betoambari, sehingga perlu dilakukan simulasi
untuk mencari persentase target yang efisien dan tidak mengganggu aktifitas lain.
Sedangkan sumberdaya lain merupakan pendukung keindahan bawah laut yang
juga perlu dilestarikan. Nilai target daerah hiu, penyu, ikan pari, lobster, dan
frogfish, mengikuti skenario perubahan persentase terumbu karang yakni 70%
hingga 50%. Keberadaan dan distribusi biota unik tersebut sangat sedikit dan
hanya terfokus pada perairan Pantai Nirwana.

C. Pemilihan Nilai Efisien di antara 3 Skenario

Tiga skenario yang telah disusun, kemudian dianalisis dengan Marxan.


Setiap skenario menghasilkan beberapa output file yakni output_best,
output_mvbest, output_sen, output_ssoln dan output_sum. Melalui analisis dan
pengujian maka dipilih BLM 1, karena solusi terpilih telah mengelompok. Nilai
biaya, panjang batas, dan penalti, serta luas area masing-masing skenario
kemudian digunakan untuk menentukan solusi terbaik ruang ekowisata
berdasarkan nilai biaya yang paling rendah. Hasil pengujian setiap skenario pada
BLM 1 dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Nilai biaya dan panjang batas satuan perencanaan terpilih


Skenario Unit biaya Unit panjang batas BLM Penalty Total unit biaya
1 620 419 1 0.00 1 039
2 505 413 1 0.00 918
3 413 381 1 0.00 793

Skenario 1 dengan target ekowisata 70 % (terumbu karang dan biota unik),


dihasilkan total unit biaya sebesar 1 039. Penggunaan BLM 1, solusi terpilih
sudah mengelompok, dengan total luas area 588 213.62 m2 atau 58.82 ha, yang
terdiri atas 2 kelas yakni paling sesuai (sesuai 1) dan cukup sesuai (sesuai 2).
Penyebaran kawasan paling sesuai berada tepat di perairan Pantai Nirwana seluas
207 974.72 m2 atau 20.80 ha. Area ini perlu dijadikan kawasan ekowisata sebagai
pusat perlindungan terumbu karang dan satwa unik beserta habitatnya. Sementara
73

itu, area yang terpilih terbanyak kedua (cukup sesuai) adalah di perairan sebelah
Selatan Pantai Nirwana dan sebelah Utara pemukiman masyarakat Kelurahan
Sulaa, seluas 380 380 m2 atau 38.04 ha. Daerah ini dapat direkomendasikan
sebagai ruang ekowisata sesuai 2. Jenis kegiatan ekowisata yang dapat
dikembangkan di kawasan terpilih tersebut dengan mengutamakan keindahan
bawah laut adalah wisata selam dan wisata satwa (biota unik). Penyebaran solusi
terpilih skenario 1 disajikan pada Gambar 20.
Skenario 2 pada target 60 % (terumbu karang dan biota unik), memiliki
penyebaran solusi terpilih sama dengan skenario 1, yang berbeda adalah
penurunan total luas area terpilih menjadi 491 821.41 m2 atau 49.18 ha.
Penyebaran kawasan paling sesuai berada tepat di perairan Pantai Nirwana seluas
175 429.67 m2 atau 17.55 ha; sedangkan area terpilih 2 (cukup sesuai), di perairan
sebelah Selatan Pantai Nirwana dan sebelah Utara pemukiman masyarakat
Kelurahan Sulaa, seluas 316 391.74 m2 atau 31.64 ha (lihat Gambar 21). Ruang
terpilih skenario 2 ini memiliki total unit biaya sebesar 918.
Skenario 3 pada target 50 % (terumbu karang dan biota unik), memiliki
penyebaran solusi terpilih sama dengan skenario 1 dan 2. Namun area terpilih di
sebelah Selatan Pantai Lakeba semakin kecil seiring dengan penurunan nilai target
ekowisata. Total area terpilih pada skenario ini adalah 399 662.45 m2 atau 39.97
ha, terdiri atas kawasan ekowisata paling sesuai (sesuai 1) berada tepat di perairan
Pantai Nirwana seluas 154 731.49 m2 atau 15.47 ha; kawasan ekowisata sesuai 2
di perairan sebelah Selatan Pantai Nirwana dan sebelah Utara pemukiman
masyarakat Kelurahan Sulaa, seluas 244 870.96 m2 atau 24.49 ha. Total unit biaya
yang untuk skenario 3 adalah 793. Kawasan ekowisata terpilih pada skenario 2 ini
dapat dilihat pada Gambar 22.
74

Gambar 20 Kawasan ekowisata bahari terpilih berdasarkan Skenario 1.


75

Gambar 21 Kawasan ekowisata bathari terpilih berdasarkan skenario 2.


76

Gambar 22 Kawasan ekowisata bahari terpilih berdasarkan skenario 3.


77

Penetapan ketiga skenario ekowisata tersebut (target perlindungan terumbu


karang, 70%, 60%, dan 50%), tidak akan mengganggu atau saling tumpang tindih
dengan aktifitas pemanfaatan kawasan di perairan Kecamatan Betoambari, seperti
kegiatan pelabuhan, transportasi, dan mata pencaharian masyarakat setempat
sebagai pembudidaya rumput laut. Jika ditinjau dari total unit biaya, maka dapat
dipilih ruang ekowisata paling efisien adalah skenario 3, dengan total unit biaya
793 (lihat Gambar 23).

1200

1000
Total unit biaya

800

600
400

200
0
skenario 1 skenario 2 skenario 3

Gambar 23 Perbandingan total biaya (nilai efisien) pada 3 skenario.

Gambar 23 menunjukan bahwa ruang ekowisata terpilih yang paling efisien


diantara 3 skenario berdasarkan total biaya terendah (biaya akuisisi lahan maupun
manajemen) adalah skenario 3. Skenario ini sesuai dengan prinsip analisis Marxan
untuk mencapai tujuan dengan biaya terendah. Khusus daerah studi di Perairan
Kecamatan Betoambari, dapat dilihat semakin kecil target ekowisata maka
semakin kecil pula biaya akuisisi lahan dan biaya manajemen. Hal ini disebabkan
fitur-fitur sumberdaya yang dijadikan ekowisata tidak begitu tersebar banyak atau
terpisah-pisah, namun terpusat di perairan Pantai Nirwana. Dengan demikian jika
melakukan manajemen seperti pengawasan kawasan ekowisata maka biaya yang
dikeluarkan tidak begitu besar.
78

5.2.3. Potensi Total Nilai Manfaat Ekonomi

Potensi nilai manfaat ekonomi didapatkan dengan adanya pengusahaan


kegiatan wisata bahari dari ruang ekowisata yang terpilih. Dalam penelitian ini,
nilai manfaat ekonomi diperoleh melalui dua tahap analisis. Pertama, penentuan
daya dukung kawasan (DDK) sebagai cara untuk menghitung daya dukung
pengembangan ekowisata bahari (DDW) pada 3 skenario; kedua, menentukan
nilai ekonomi menggunakan Willingness to Pay (WTP). Kemudian nilai DDW
(perorang/hari) digabungkan WTP (perorang) dan digunakan sebagai input untuk
menghitung total nilai ekonomi (total benefit).

A. Daya Dukung Pengembangan Ekowisata Tiap Skenario

Konsep daya dukung ekowisata mempertimbangkan dua hal, yakni


kemampuan alam untuk mentolerir gangguan atau tekanan dari manusia, serta
mempertahankan keaslian sumberdaya alam (Hutabarat et al. 2009). Olehnya itu,
perencanaan ekowisata Baubau harus mempertimbangkan tingkat kemampuan
alam untuk mentolerir dan menciptakan lingkungan yang alami. Dalam penelitian
ini, yang dimaksud daya dukung ekowisata adalah kemampuan sumberdaya untuk
menampung jumlah penyelam tanpa menyebabkan gangguan terhadap terumbu
karang dan satwa unik di perairan Betoambari.
Parameter yang digunakan dalam penentuan daya dukung mengacu pada
Yulianda (2007), antara lain: (1) potensi ekologis pengunjung per satuan unit area,
di mana aktifitas selam mempunyai standar 2 orang per 2 000 m2; (2) luas potensi
ekologis kawasan yang dapat digunakan untuk aktifitas selam; (3) waktu yang
disediakan dan kebutuhan waktu untuk aktifitas tersebut.
Luas potensi perairan Kecamatan Betoambari yang dapat dimanfaatkan
untuk kegiatan wisata selam didasarkan pada ruang ekowisata skenario 1, 2, dan
3, dengan luas masing-masing adalah 588 213.62 m2, 491 821.41 m2, dan
399 602.45 m2. Hasil perhitungan DDK dan DDW di perairan Betoambari dapat
dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16 menunjukkan bahwa skenario 1 merupakan kawasan ekowisata
yang memiliki DDK tertinggi (1 760 orang/hari) dibanding skenario lain. Nilai ini
menunjukkan bahwa batas maksimal jumlah pengunjung yang dapat ditampung di
79

kawasan ekowisata adalah 1 760 orang setiap harinya. Sedangkan DDW skenario
1 sebesar 176 orang/hari. Nilai DDW ini masih di bawah standar daya dukung
yang dikemukan Davis dan Tisdell (1995) bahwa daya dukung kawasan wisata
selam pada kawasan konservasi 200 000 orang/tahun/300 hari.

Tabel 16 Daya dukung pengembangan ekowisata di perairan Betoambari


Area ekowisata DDK DDW DDW
Skenario
(m2) (orang/hari) (orang/hari) (orang/thn)
1 588 213.62 1 760 176 52 939
2 491 821.41 1 480 148 44 264
3 399 602.45 1 200 120 35 964

B. Potensi Nilai Ekonomi Ekowisata

 Nilai Kompensasi Ekowisata

Penilaian terhadap kompensasi sumberdaya untuk ekowisata perairan


Betoambari dihitung menggunakan metode valuasi berdasarkan preferensi
(contigent valuation method) dengan pendekatan Willingness to pay (WTP) atau
kesediaan membayar. Responden yang dipilih merupakan para pengunjung yang
sering melakukan aktifitas selam di perairan Kecamatan Betoambari, baik untuk
berwisata maupun tujuan pendidikan.
WTP dalam penelitian ini didasarkan pada tingkat kepuasan penyelam
terhadap kondisi objek dengan pilihan biaya satu kali penyelaman standar (yang
diambil dari survei pendahuluan), antara lain: a) Rp 100 000; b) Rp 200 000; c)
Rp 300 000; d) Rp 400 000; dan e) > Rp 400 000. Perhitungan WTP per-individu
untuk ekowisata perairan Kecamatan Betoambari tidak dipengaruhi variabel latar
belakang responden seperti umur, asal, pendapatan, dan jumlah rombongan.
Berdasarkan hasil wawancara dan kuisioner, semua responden menyatakan
kesediaannya mengeluarkan biaya untuk bisa menyelam sekaligus menikmati
keindahan bawah laut. Besaran biaya yang rela dikeluarkan tidak begitu bervariasi
yakni 71.43% responden bersedia membayar Rp 300 000 dan 28.57% ingin
membayar Rp 200 000. Berdasarkan kisaran angka tersebut, dapat diartikan
bahwa penilaian atau kepuasan penyelam terhadap terumbu karang dan satwa unik
di perairan Betoambari masih standar, bahkan di bawah standar jika dibandingkan
dengan nilai rata-rata total biaya dalam 1 kali menyelam (Rp 330 000). Kecilnya
80

nilai biaya yang dipilih responden diperkirakan dipengaruhi adanya pembanding


lokasi penyelaman di daerah sekitar seperti Wakatobi.

 Total Benefit Ekowisata Dari Tiap Skenario

Potensi nilai ekonomi ekowisata atau total benefit (TB) dihitung


berdasarkan total nilai ekonomi sumberdaya yang diperoleh dari kombinasi nilai
WTP dan DDW. Berdasarkan perhitungan WTP dan DDW pada 3 skenario,
diperoleh potensi nilai ekonomi ekowisata berkisar antara Rp 32 607 560 hingga
Rp 47 998 231 per hari. Potensi nilai ekonomi ekowisata dari 3 skenario disajikan
pada Tabel 17.

Tabel 17 Potensi nilai ekonomi dari 3 skenario.

WTP Daya dukung Total benefit Total benefit


Skenario
(Rp) (org/hari) (Rp/hari) (Rp/thn)
1 272 000 176 47 998 231 14 399 470 000
2 272 000 148 40 132 627 12 039 790 000
3 272 000 120 32 607 560 9 782 270 000

Berdasarkan tabel 17, menunjukkan skenario 1 memiliki total benefit


tertinggi, sebesar Rp 47 998 231 per hari atau Rp 14 399 470 000 per tahun. Hal
ini disebabkan total benefit berbanding lurus dengan DDW. Semakin besar DDW
maka semakin besar total benefit.

5.2.4. Ruang Ekowisata Optimal Berdasarkan Biaya Minimal dan Manfaat


Ekonomi Maksimal

Ruang ekowisata yang optimal berdasarkan biaya minimal dan manfaat


ekonomi maksimal ditentukan dari estimasi nilai keuntungan (net benefit)
tertinggi di antara 3 skenario. Nilai keuntungan tersebut diperoleh dari selisih
antara total benefit per bulan dan total biaya. Total benefit merupakan nilai
ekonomi dari setiap skenario. Sementara total biaya merupakan biaya ruang
ekowisata bahari yang dihasilkan dari analisis Marxan.
Total biaya unit perencanaan terpilih (hasil analisis Marxan) dikonversi
dalam satuan Rupiah. Konversi diasumsikan dari harga lahan per unit perencanaan
di perairan Kecamatan Betoambari. Namun hingga saat ini belum ada ketetapan
81

harga lahan di laut (khususnya di perairan Kota Baubau), maka konversi tersebut
didasarkan pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lahan darat di Kecamatan
Betoambari khususnya Kelurahan Sulaa. NJOP Kelurahan Sulaa berkisar antara
Rp 14 000 hingga Rp 64 000/m2. Untuk konversi biaya tersebut, digunakan nilai
NJOP yang paling rendah yakni Rp 14 000 /m2.
Total biaya ekowisata dalam penelitian ini merupakan biaya akuisisi lahan
laut untuk dijadikan kawasan ekowisata, serta biaya manajemen sebagai fungsi
pemeliharaan dan pengawasan. Biaya akuisisi lahan diasumsikan merupakan
biaya yang dikeluarkan untuk masyarakat sekitar, khususnya nelayan yang
memiliki ketergantungan terhadap sumberdaya pesisir sebagai pengganti lahan di
laut karena dijadikan kawasan ekowisata. Sedangkan biaya manajemen
merupakan biaya yang harus dikeluarkan untuk kegiatan pemeliharaan maupun
pengawasan kawasan ekowisata.
Biaya akuisisi lahan dan manajemen ekowisata dihitung berdasarkan jumlah
unit perencanaan terpilih untuk ekowisata dikalikan dengan NJOP terendah di
Kelurahan Sulaa dalam satuan waktu per tahun. Total benefit, total biaya dan net
benefit per tahun ruang ekowisata pada 3 skenario disajikan pada Tabel 18.

Tabel 18 Penentuan ruang ekowisata optimal berdasarkan nilai ekonomi


Total benefit Total biaya Net benefit
Skenario
(Rp/thn) (Rp/thn) (Rp/thn)
1 14 399 470 000 1 745 520 000 12 653 950 000
2 12 039 790 000 1 542 240 000 10 497 550 000
3 9 782 270 000 1 333 920 000 8 448 350 000

Tabel 18 menunjukkan bahwa net benefit tertinggi adalah skenario 1,


sebesar Rp 12 653 950 000 per tahun. Hal ini menunjukan bahwa skenario 1
merupakan ruang ekowisata yang optimal. Ruang ekowisata skenario 1 memiliki
luas paling besar (58.8 ha) dibanding skenario lain. Sedangkan skenario 3
memiliki nilai keuntungan terkecil (Rp 8 448 350 000), disebabkan luas kawasan
ekowisata terpilih pada skenario ini merupakan yang paling kecil (39.96 ha).
82
83

6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil penelitian yang telah dibahas pada Bab 5, dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Perairan Kecamatan Betoambari yang sesuai untuk ekowisata bahari kategori
selam berbasis ekologis terdapat hampir di sepanjang pesisir Kelurahan Sulaa
dan Katobengke. Kelas paling sesuai (S1) seluas 12.49 ha, berada di perairan
Pantai Nirwana; kelas cukup sesuai (S2) sebesar 67.28 ha, berada di perairan
bagian Selatan Pantai Nirwana, Tanjung Sulaa, dan perairan Pantai Lakeba;
serta sesuai bersyarat (S3) seluas 3.87 ha, berada di perairan tepat di depan
pemukiman masyarakat Kelurahan Sulaa.
2. Perencanaan kawasan ekowisata yang optimal berdasarkan nilai biaya
minimal dan manfaat ekonomi maksimal melalui analisis Marxan, WTP, total
benefit dan net benefit (keuntungan) adalah skenario 1. Kawasan ekowisata
skenario 1 seluas 58.82 ha, dengan keuntungan sebesar Rp 12 653 950 000
per tahun. Kawasan yang paling sesuai (S1) untuk dijadikan pusat ekowisata
bahari yakni di perairan Pantai Nirwana; sedangkan cukup sesuai (S2)
tersebar di sebelah Selatan Pantai Nirwana dan arah Selatan Pantai Lakeba.
Pemanfaatan kawasan ekowisata dengan skenario 1 tidak akan mengganggu
atau tidak saling tumpang tindih dengan aktifitas lain, seperti kegiatan
pelabuhan dan budidaya rumput laut.

6.2. Saran

Beberapa saran pengelolaan dari penelitian ini antara lain:


1. Penetapan peruntukan ruang bagi perlindungan sumberdaya pesisir yang
dikemas dalam konsep ekowisata bahari, dengan pusat ekowisata di perairan
Pantai Nirwana.
2. Daya dukung kawasan (DDK) atau batas maksimal jumlah pengunjung yang
dapat ditampung di kawasan ekowisata di perairan Kecamatan Betoambari
sebanyak 1 760 orang/hari.
85

DAFTAR PUSTAKA

Adrianto L. 2006. Pengantar penilaian ekonomi sumberdaya pesisir dan lautan.


Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Airame S, Dugan JE, Lafferty KD, Leslie H, McArdle DA, Warner RR. 2003.
Applying ecological criteria to marine reserve design: a case study from the
California Channel Islands. Ecological applications. 13(1):170-184.

Ardron JA, Lash J, Haggarty D. 2002. Modelling a network of marine protected


areas for the central coast of British Columbia. Version 3.1. Living Oceans
Society, Sointula, BC, Canada. Available Online:
http://www.livingoceans.org/library/index.shtml

Apriliani. 2009. Strategi rehabilitasi terumbu karang untuk pengembangan wisata


bahari di Pulau Mapur Kabupaten Bintan Kepulauan Riau [tesis]. Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Arifin T. 2008. Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu


karang di Selat Lembeh Kota Bitung [Disertasi]. Sekolah pascasarjana Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

Baharuddin. 2006. Model pengaruh gelombang terhadap pantai Baubau Provinsi


Sulawesi Tenggara [Tesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Ball IR, Possingham HP. 2000. Marine reserve design using spatially explicit
annealing (V1.8.2). A manual prepared for Great Barrier Reef Marine Park
Authority.

Ball IR, Possingham HP. 2001. The design of marine protected areas: adapting
terrestrial techniques. Proceedings from the international congress on
modelling and simulation. 2: 769-774.

Bartlett DJ. 1999. Working on the frontiers of science: applying GIS to the coastal
zone. In Wright D, Bartlett D, eds. Marine and coastal geographical
information systems. Taylor and Francis, London.

Bengen. 2001. Ekosistem dan sumberdaya alam pesisir dan laut. Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PK-SPL). Institut Pertanian Bogor.

Bengen. 2002. Potensi sumberdaya pulau-pulau kecil. Makalah disampaikan


dalam seminar sehari “Peluang pengembangan investasi pulau-pulau kecil di
Indonesia”, Hotel Indonesia, Jakarta 10 Oktober 2002.

Bengen, Retraubun ASW. 2006. Menguak realitas dan urgensi pengelolaan


berbasis eko-sosio sistem pulau-pulau kecil. Bogor: Pusat Pembelajaran dan
Pengembangan Pesisir dan Laut (P4L).
86

Bjork P. 2000. Ecotourism from a conceptual perspective, an extended definition


of a unique tourism form. International Journal of Tourism Research, 2
(2000): 189-202.

Blamey RK. 1997. Ecotourism: The search for an operational definition. Journal
of sustainable tourism 5(2): 109–130.

Boersma PD, Parrish JK. 1999. Limiting abuse: marine protected areas, a limited
solution. Ecological Economics, 31: 287-304.

Bouchon Y, Hermerlin ML. 1985. Impact of coral degradation on a


chaetodontidae fish assemblage (Morea, French Polynesia). Proceding of
fishing. Coral reef congress Tahati 5: 427-432.

BPS Baubau. 2009. Kota Baubau dalam angka. Kota Baubau Provinsi Sulawesi
Tenggara.

Buton Resort, Dive Center. 2010. Pengelolaan kolaboratif wisata bahari pantai
nirwana dan pantai katanaa. Kota Baubau. Sulawesi Tenggara.

Cabeza M, Moilanen A. 2001. Design of reserve networks and the persistence of


biodiversity. Trends in ecology and evolution, 16: 242-248.

Canessa R, Keller CP. 2003. User assessment of coastal spatial decision support
system. In Green, David R, King, Stephen D. Eds Coastal and marine geo-
information systems: applying technology to environment. pp.437-449.

Carson, RT, Hanemann WM. 2005. Contingent valuation. In: Aler M, Vincent
KG, editors. Handbook of environmental economics. Vol 2. Elsevier.
Amsterdam.

Chabanet P, Ralambondrainy H, Amanieu M, Faure G, Galzin R. 1997.


Relationships between coral reef subtrata and fish. Coral reefs 16: 93-102.

Clarke, KC. 2001. Getting starting with geographic information system. Third
editon. Prentice Hall. Upper Saddle River. NJ.

CIT, 2003. An Ecosystem spatial analysis for Haida Gwaii, Central Coast, and
North Coast British Columbia. Available: http://www.livingoceans.org

Dahuri R, Jacub Rais, Sapta Putra Ginting, MJ Sitepu. 2004. Pengelolaan


sumberdaya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu. Cetakan ke-3. Jakarta:
Penerbit Pradnya Paramita.

Dahuri, Rokhmin. 2003. Keanekaragaman hayati laut: Aset Pembangunan


berkelanjutan Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
87

Darmawan A, Andy D. 2007. Materi perangkat lunak Marxan untuk perencanaan


dan pengelolaan kawasan perlindungan laut. Bali: The Nature Conservancy-
Coral Triangle Centre.

Davenport, John, Julia L. Davenport. 2006. The impact of tourism and personal
leisure transport on coastal environments. Estuarine, coastal and shelf
science. www.sciencedirect.com

Davis D, Tisdell C. 1995. Recreational scuba-diving and carrying capacity in


marine proctected areas. Ocean and coastal management 26: 19-40, in Tisdell
C. Tourism economics, the environment and development: analysis and
policy. Brisbane: Departement of Economics University of Queensland.

Davis D, Tisdell C. 1996. Economic management of recreational scuba diving and


the environment. Journal of environment management. 48: 229-248 in Tisdell
C. Tourism economics, the environment and development: analysis and
policy. Brisbane: Departement of Economics University of Queensland.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Baubau. 2005. Rencana induk


pengembangan pariwisata daerah Kota Baubau. Baubau.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Baubau. 2010. Jumlah kunjungan


wisatawan di Kota Baubau Tahun 2005 hingga 2009. Baubau.

Dinas Tata Kota dan Bangunan Kota Baubau. 2009. Laporan draft akhir
penyusunan revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Baubau.
Baubau.

Dodds, Rachel. 2009. Environmental impacts of ecotourism. Annals of tourism


research. www.cabi.org

Ekowisata Indonesia. 2009. Definisi ekowisata. www.ekowisata.info/index.html

English S, Wilkinson C, Baker V. 1994. Survey manual for tropical marine


resources. Townsville: Australian Institute of Marine Science.

Fauzi, Akhmad. 2010. Ekonomi sumber daya alam dan lingkungan: teori dan
aplikasi. PT Gramedia Pustaka Utama (Cetakan Ketiga). Jakarta

Fennell D. 2001. A content analysis of ecotourism definitions. Current Issues in


Tourism 4: 403–421.

Fox H, Pet JS, Dahuri R, Roy LW. 2003. Recovery in rubbel fields: long-term
impact of blast fishing. Mar poll bull. 46: 1024-1031.

Fox H, Peter JM, Mouse, Pet JS, Muljadi M, Roy LC. 2005. Experimental
assesesment of coral reef rehabilitation following blast fishing. Con bio.
19 (1): 98-107.
88

Franklin EC., Ault JS, Smith SG, Luo J, Meester GA., Diaz GA., Chiappone M,
Swanson DW, Miller SL, Bohnsack JA. 2003. Benthic habitat mapping in the
Tortugas Region, Florida. Marine Geodesy, 26(1): 19-34.

Garrod G, Willis KG. 1999. Economic valuation of the environment: method and
case studies. Chletenham UK: Edward Elgar.

Geselbracht L, Torres R. 2005. Florida marine assessment: prioritization of


marine/estuarine sites and problem adversely affecting marine/estuarine
habitat and associated species of greatest conservation need.
http://myfwc.com.

Gole T. 2003. Vegetation of the Yayu Forest in SW Ethiopia: Impacts of human


use and implications for in situ conservation of wild cofea arabica L.
populations. Ecology and Development Series. 10: 1-163.

Grahadyarini, BM Lukita. 2010. Eksotisme wisata selam. Direktorat kebudayaan,


pariwisata, pemuda dan olahraga, Bappenas. www.cetak.kompas.com

Hepcan S. 2000. A methodological approach for designating management zones


in Mount Spil National Park, Turkey. Environmental management.
26(3): 329-338.

Hukom FD. 2000. Struktur komunitas dan distribusi spasial ikan karang Famili
Pomancentridae di perairan Kepulauan Dermawan Kalimantan Timur.
Seminar Nasional Biologi XVI dan Kongres XII Perhimpunan Biologi
Indonesia 25-27 Juli 2000. ITB-UNPAD-UPI Bandung.

Hutabarat A, Yulianda F, Fahrudin A, Harteti S, Kusharjani. 2009. Pengelolaan


pesisir dan laut secara terpadu. Bogor: Edisi I Pusdiklat Kehutanan, Deptan,
SECEN-KOREA International Cooperation Agency.

Jun E, Kim WJ, Jeong YH, Chang SH. 2010. Measuring the sosial value of
nuclear energy using contingent valuation methodology. Energy policy 38:
1470-1476.

Krider RE, Arguello A, Campbell C, Mora JD. 2010. Trait and image interaction
in ecotourism preference. Annals of tourism research. Vol 20.

Lauck, Tim, Clark, Colin W, Mangel, Marc, Munro, Gordon R. 1998.


Implementing the precautionary principle in fisheries management through
marine reserves. Ecological applications. 8(1): S72-S78.

Lembaga Napoleon Baubau. 2005. Survey pemotretan dan pemetaan terumbu


karang di wilayah pesisir Kota Baubau. Sulawesi Tenggara
89

Lewis A, Slegers S, Lowe D, Muller L, Fernandes L, Day J. 2003. Use of spatial


analysis and GIS techniques to re-zone the Great Barrier Reef Marine Park. In
Woodroffe, C D, and Furness, R A (eds), 2003. Coastal GIS 2003: an
integrated approach to Australian coastal issues (Wollongong Papers on
Maritime Policy No 14). Centre for maritime policy (Wollongong, NSW). pp.
431-451.

Lieberknecht LM, Carwardine J, Connor DW, Vincent MA, Atkins SM, Lumb,
CM. 2004. The Irish Sea pilot-report on the identification of nationally
important marine areas in the Irish Sea. JNCC Report no. 347. Available
online: http://www.jncc.gov.uk.

Loos SA. 2006. Exploration of Marxan utility in marine protected area zoning
[tesis]. Australia: University of Victoria.

Lynch TP, Wilkinson E, Melling L, Hamilton R, MacReady A, Feary S. 2004.


Conflict and impact of divers and anglers in a marine park. J Environ Manage
33(2): 196-211

Lyon G. 2003. GIS for Water resources and watershed management. Taylor and
Francis Group. London

Manuputy AEW. 1986. Karang lunak, salah satu penyusun terumbu karang. J
Oseana No 4. P30 LIPI. Jakarta.

Marine National Park Division. 2001. The handbook of marine national park
tourism-ecotourism activity. Thailand: The Royal Forest Department, The
Ministry of Agriculture and Cooperatives.

Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2001. Kepmen LH No. 4 Tahun 2001 tentang
kriteria baku kerusakan terumbu karang.

Meerman J.C. 2005. Protected areas system assessment and analysis: Marxan
analysis. Protected areas policy and system plan, Beliz. Available online:
http://biological-diversity.info/Downloads/NPAPSP/MARXANanalysis.pdf

META. 2002. Planning for Marine Ecotourism in the EU Atlantic Area Good
Practice Guidance. Bristol: University of The West of England.

Miller B, Foreman D, Fink M, Shinneman D, Smith J, DeMarco M, Soulé M,


Howard R. 2003. Southern Rockies Wildlands Network VISION: A science-
based approach to rewilding the Southern Rockies. Southern Rockies
Ecosystem Project. http://www.restoretherockies.org/pdfs

National Research Council. 2001. Marine protected areas: tools for sustaining
ocean ecosystems. National Academy Press, Washington, DC.
90

Oetting J, Knight A. 2003. F-TRAC: Florida forever tool for efficient resource
acquisition and conservation. Model documentation and project evaluation.
Florida natural areas inventory. Florida.

Polacheck T. 1990. Year round closed areas as a management tool. Natural


resource modeling. 4: 327-354.

Polasky S, Camm JD, Solow AR, Csuti B, White D, Ding R. 2000. Choosing
reserve networks with incomplete species information. Bio Con, 94: 1-10.

Possingham H, I Ball, Andelman S. 2000. Mathematical methods for identifying


representative reserve networks. In Ferson, S. dan Burgman, M., eds.
Quantitative Methods for Conservation Biology. Springer-Verlag, New York.
pp. 291-305.

Prahasta E. 2004. Sistem informasi geografi: dukungan tools dan plug-ins dalam
pengembangan berbagai aplikasi. Informatika Bandung.

Pressey RL, Logan VS. 1998. Size of selection units for future reserves and its
influence on actual vs targeted representation of features: A case study in
Western New South Wales. Biological Conservation. 85: 305-319.

Rahayu, Sri. 2010. Analisis manfaat wisata Taman Nasional Kepulauan Seribu
[Tesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Riegl B, Luke KE. 1999. Ecological parameters of dynamited reefs in the northen
red sea and their relevance to reef rehabilitiation. Mar poll bull. 37: 488-498.

Roberts, Callum M. 2000. Selecting marine reserve locations: optimality versus


opportunism. Bulletin of marine science, 66(3): 581-592.

Scholz A, Bonzon K, Fujita R, Benjamin N, Woodling N, Black P, Steinback C.


2004. Participatory socioeconomic analysis: drawing on fishermen’s
knowledge for marine protected area planning in California. Marine Policy.
28: 335-349.

Setiawati I. 2000. Pengembangan ekowisata bahari. Prosiding pelatihan untuk


pelatih pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir
dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL-IPB). Bogor

Sigabariang IL. 2008. Rencana pengembangan kawasan ekowisata pesisir


interpretatif di kawasan konservasi laut daerah Selat Dampier Kabupaten Raja
Ampat Propinsi Papua Barat [thesis]. Program Pascasarjana Institut Pertanian.

Smith B. 2005. A Tutorial for using conservation land-use zoning software


(version 1.6). http://www.kent.ac.uk/anthropology/dice/cluz tut.pdf.
91

Soede PC, Erdam. 1999. Blast fishing in Southwest Sulawesi Indonesia. Naga,
the ICLARM Quarterly.

Soeprapto TA. 2004. Pengelompokan pulau-pulau berdasarkan atas genesanya


untuk perencanaan tata ruang wilayah laut. Menata ruang laut terpadu cet 1.
Penerbit PT Pradnya Paramita. Jakarta.

Solarbesain, Salvinus. 2009. Pengelolaan sumberdaya pulau-pulau kecil untuk


ekowisata bahari berbasis kesesuain dan daya dukung. Studi Kasus Pulau
Matakus, Kabupaten Maluku Tenggara Barat Propinsi Maluku (Thesis).
Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Sorokin YI. 1993. Coral reef ecology. New York: Springer-Verlag.

Steward RR, Possingham HP. 2005. Efficiency, costs, and trade-off in marine
reserve system design. Environmental modelling and assessment 10:203-213.

Suharsono. 2008. Jenis-jenis karang di Indonesia. Program Coremap. LIPI Press.


Jakarta.

Supriharyono. 2000. Pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam di wilayah


pesisir tropis. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Supriharyono. 2007. Pengelolaan ekosistem terumbu karang. Penerbit Djambatan.


Jakarta.

Trisurat, Yongyut, Eiumnoh, Apisit, Webster, Douglas R, Daugherty, Howard, E.


1990. The application of remote sensing and GIS for Phu Rua National Park
zoning, Loei Province, Thailand. From proceedings, Asian Conference on
Remote Sensing 1990, November 15-21, 1990, Guangzhou, China. Available
online http://www.gisdevelopment.net/aars/acrs/1990

Villa F, Tunesi L, Agardy T. 2002. Zoning marine protected areas through spatial
multiple-criteria analysis: the case of the Asinara Island national marine
reserve of Italy. Conservation Biology, 16(2): 515-526.

Warman LD. 2001. Identifying priority conservation areas using systematic


reserve selection and GIS at a fine spatial scale: a test case using threatened
vertebrate species in the Okanagan, British Columbia. Master of science
Thesis, University of British Columbia.

Wong PP. 1991. Coastal tourism in Southeast Asia. ICLARM, Education series
13, 40p. Manila.

Wood ME. 2002. Ecotourism: principles, practices and policies for sustainability.
UNEP dan TIES UN Publications.
92

Wright R, Ray S, Green, DR, Wood M. 1998. Development of a GIS of the


Moray Firth (Scotland, UK) and its application in environmental
management. The science of the total environment. 223(1): 65-76.

Yulianda, F. 2007. Ekowisata bahari sebagai alternatif pemanfaatan sumberdaya


pesisir berbasis konservasi [makalah]. Disampaikan pada seminar sains.
FPIK-IPB. Bogor.
93

Lampiran 1. Kuisioner Penelitian Untuk Masyarakat

PENGANTAR

Bersama ini saya memperkenalkan diri serta menyampaikan bahwa kegiatan


wawancara ini merupakan bagian dari kegiatan penelitian mahasiswa Institut
Pertanian Bogor (IPB). Keterangan yang didapat dari Bapak/lbu/Saudara/Saudari
akan digunakan dalam penyusunan Tesis yang berjudul: Optimasi Ruang
Ekowisata Bahari Kota Baubau Sulawesi Tenggara dengan Aplikasi Marxan
dan Willingness To Pay. Disampaikan daftar pertanyaan kepada
Bapak/lbu/Saudara/Saudari dan mohon bantuannya untuk memberikan
keterangan dengan menjawab pertanyaan yang diajukan. Atas segala bantuan,
informasi dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.

PETUNJUK PENGISIAN

Berilah tanda centangan ( √) pada kotak jawaban dan tanda silang (x) pada
pilihan jawaban a, b, c dan d. Jika disediakan titik-titik (…) isilah sesuai dengan
keadaan yang dialami Bapak/lbu/Saudara/Saudari.
94
95

KUESIONER UNTUK MASYARAKAT

Catatan: Mohon dilingkari dan diisi dengan jawaban yang sesuai


No Pertanyaan Jawaban
A. Keterangan Responden
1. Nama …..........................
2. Jenis kelamin a. Laki-laki
b. Perempuan
3. Umur [ ] Tahun
4. Pendidikan terakhir ………….………..
5. Pekerjaan utama …………………….
6. Rata-rata Jumlah Pendapatan Rp ………………/bulan
B. Persepsi tentang Pariwisata Bahari
1. Apakah bapak/ibu tahu tentang wisata wisata bahari? 1. Tahu, artinya: …………..
2. Tidak tahu
2. Apakah bapak/ibu tahu tentang ekowisata bahari? 1. Tahu : ………………….
2. Tidak tahu
3. Bapak/ibu tahu/melihat tentang keberadaan usaha wisata? a. Ya
b. Tidak
4. Bagaimana pendapat bapak/ibu jika dicanangkan wisata a. Mendukung
bahari berbasis ekologis/lingkungan, apakah: b. Tidak mendukung
5. Jika mendukung, alasannya? ...........
Jika tidak mendukung, alasannya? ............
6. Bagaimana peran/keterlibatan masyarakat dalam
pengelolaan wisata bahari selama ini?
7. Adakah usaha masyarakat yang terkait dengan usaha a. Ada, jenisnya:..................
wisata bahari b. Tidak ada
8. Pernahkah ada konflik antara pengusaha wisata atau a. Pernah
pemerintah dengan masyarakat lokal ? b. Tidak Pernah
Jika pernah, apa penyebabnya? ..............
9. Pernahkah masyarakat memanfaatkan perairan Pantai a. Pernah
Nirwana-Lakeba (Terumbu Karang) untuk kegiatan b. Tidak Pernah
perikanan
10. Adakah aturan yang mengatur pemanfaatan ekosistem
terumbu karang?
C. Pengetahuan Masyarakat Tentang Konservasi
1. Apakah bapak/ibu pernah mendengar tentang Konservasi a. Pernah
ekosistem terumbu karang? b. Tidak Pernah
2. Jika pernah, apakah tahu tujuan adanya konservasi? …………..
3. Bagaimana seharusnya keterlibatan masyarakat dalam .............
konservasi terumbu karang?
4. Adakah cara-cara masyarakat lokal dalam melestarikan ..............................................
ekosistem terumbu karang? .....................................
5. Masih adakah cara-cara penangkapan ikan yang sifatnya a. Ada, jenisnya: ...............
merusak terumbu karang? apakah: sering/jarang*)
b. Tidak ada
6. Adakah sanksi jika ada pelanggaran pemanfaatan a. Ada, bentuk sanksi:.........
sumberdaya ikan dan terumbu karang di Perairan Pantai b. Tidak ada, mengapa?
Nirwana-Lakeba? .......................................
D. Masyarakat dengan Wisatawan
1. Pernahkah bertemu dengan turis asing yang berkunjung a. Pernah
di kawasan wisata Nirwana-Lakeba? b. Tidak Pernah
2. Apa tanggapan bapak/ibu dengan keberadaan turis asing a. Senang
di wisata Nirwana-Lakeba? b. Acuh/cuek saja
c. Jengkel
96

3. Hal apa yang tidak disukai warga setempat terhadap


turis/wisatawan? ..............
4. Hal apa yang disukai warga setempat terhadap
turis/wisatawan? ..............
E. Saran
1. Bagaimana seharusnya keterlibatan masyarakat dalam
pengelolaan ekowisata?
2. Bagaimana seharusnya pengaturan antara ekowisata
dengan perikanan?
3. Bagaimana seharusnya pemerintah terhadap masyarakat
lokal dalam sektor pariwisata?
4. Bagaimana seharusnya antara pengusaha wisata terhadap
masyarakat lokal dalam hal lapangan kerja?
5. Bagaimana seharusnya upaya perbaikan lingkungan di
kawasan Pantai Nirwana dan Lakeba

Terima kasih atas kesediaan dalam menjawab pertanyaan kami.


Hari/tgl :
Paraf Enumerator :
97

Lampiran 2. Kuisioner Penelitian Untuk Wisatawan

PENGANTAR

Bersama ini saya memperkenalkan diri serta menyampaikan bahwa kegiatan


wawancara ini merupakan bagian dari kegiatan penelitian mahasiswa Institur
Pertanian Bogor (IPB). Keterangan yang didapat dari Bapak/lbu/Saudara/Saudari
akan digunakan dalam penyusunan Tesis yang berjudul: Optimasi Ruang
Ekowisata Bahari Kota Baubau Sulawesi Tenggara dengan Aplikasi Marxan
dan Willingness To Pay. Disampaikan daftar pertanyaan kepada
Bapak/lbu/Saudara/Saudari dan mohon bantuannya untuk memberikan
keterangan dengan menjawab pertanyaan yang diajukan. Atas segala bantuan,
informasi dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.

PETUNJUK PENGISIAN

Berilah tanda centangan ( √) pada kotak jawaban dan tanda silang (x) pada
pilihan jawaban a, b, c dan d. Jika disediakan titik-titik (…) isilah sesuai dengan
keadaan yang dialami Bapak/lbu/Saudara/Saudari.
98
99

KUESIONER UNTUK WISATAWAN NIRWANA-LAKEBA

Catatan: Mohon dilingkari dan diisi dengan jawaban yang sesuai


No Pertanyaan Jawaban
A. Keterangan Responden
1. Nama .............................
2. Jenis kelamin Laki-laki/Perempuan
3. Umur ……… Tahun
4. Pendidikan terakhir SD/SMP/SMA/D3/Sarjana/S2
5. Pekerjaan utama …………………..
6. Pendapatan rata-rata perbulan Rp ………………………
7. Daerah asal 1. Domestik, asal: ________
2. Luar negeri, Negara:
B. Penilaian Wisata Bahari Nirwana-Lakeba
1. Apakah saudara berwisata (diving) di Nirwana-Lakeba 1. Ya
ini secara rutin? 2. Tidak
2. Berapa kali saudara berwisata (diving) di Nirwana- 1. Setiap minggu/bulan/tahun
Lakeba dalam satu tahun terakhir? 2. Setiap dua tahun sekali
3. setiap > 2 tahun sekali
3. Berapa orang (jumlah rombongan teman) yang biasa
ikut berwisata di Nirwana-Lakeba ….………………. orang
4. Adakah yang spesifik sehingga memilih berwisata 1. Terumbu Karang dan ikan
(diving) di Pantai Nirwana-Lakeba 2. Kealamiahan lautnya
3. Kepentingan pendidikan
4. Lainnya sebutkan
5. Bagaimana penilaian saudara tentang lokasi wisata 1. Sangat baik/Excellent
selam di Nirwana-Lakeba dibanding di tempat lainnya. 2. Baik/Good
3. Buruk/Poor
6. Berapa waktu (jam) yang dibutuhkan: Diving: ……........ jam/day

7. Berapa besar kemampuan/kesediaan saudara Diving: a) Rp 100 ribu


membayar/mengeluarkan uang (biaya) untuk bisa sekali Diving: b) Rp 200 ribu
diving atau snorkeling menikmati keindahan bawah laut Diving: c) Rp 300 ribu
di Nirwana-Lakeba? Diving: d) Rp 400 ribu
Catatan: Diving: e) Rp ……….
Keindahan bawah laut didasarkan pada kondisi
Ekosistem Terumbu Karang dan Spesies Unik (Penyu,
Ikan Hiu, Ikan Pari, Ikan Katak, Kuda Laut)
8. Berapa Total Biaya yang dikeluarkan untuk bisa Diving : Rp…….………
diving/snorkeling di Nirwana-Lakeba?
9. Menurut saudara, apakah biaya makan di Nirwana- 1. Mahal (Rp …………/hr)
Lakeba dirasakan…. 2. Sedang (Rp ………..../hr)
3. Murah (Rp …………./hr)
10. Menurut saudara, apakah biaya transportasi ke 1. Mahal (Rp …………./hr)
Nirwana-Lakeba dirasakan … 2. Sedang (Rp …………/hr)
3. Murah (Rp …………./hr)
11. Menurut saudara, apakah biaya peminjaman alat diving 1. Mahal (Rp …………./hr)
2. sedang (Rp …………/hr)
3. Murah (Rp …………./hr)
13. Menurut saudara, apakah biaya penginapan di Baubau 1. Mahal (Rp ….……..../hr)
dirasakan… 2. Sedang (Rp…………./hr)
(bagi wisatawan dari luar Baubau). 3. Murah (Rp ………..../hr)
Terima kasih atas kesediaan saudara dalam menjawab pertanyaan kami.
100
101

Lampiran 3. Hasil perhitungan persentase penutupan karang di Perairan


Betoambari

Tutupan kategori karang (%)


Lokasi/Stasiun Karang Karang Biota Karang
Abiotik
keras lunak lain mati
Perairan Pantai Nirwana ST1* 84.50 0.00 1.67 11.33 2.50
ST2 65.40 1.17 0.00 19.77 13.67
ST3 61.27 0.40 0.00 15.70 22.63
ST4* 65.17 0.00 10.67 0.00 24.17
Tanjung Sulaa ST5* 50.50 0.00 0.00 38.17 11.33
Perairan Pantai Lakeba ST6 48.97 0.93 0.00 39.90 10.20

* Data pengamatan Lembaga Napoleon (2005)


Lampiran 4. Jumlah dan jenis lifeforms terumbu karang di lokasi penelitian (perairan Kecamatan Betoambari)
Jumlah dan Jenis Lifeforms Terumbu Karang
No Kategori Perairan Pantai Nirwana Perairan Tanjung Sulaa Perairan Pantai Lakeba
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Stasiun 6
I Hard corals (Acropora) 2 2 5 3 4 4
1 ACB + + + + + +
2 ACD - - + - + +
3 ACE - - + + + +
4 ACS + - + - - -
5 ACT - + + + + +
II Hard corals (Non-Acropora) 4 4 5 1 1 4
1 CB + + + - + +
2 CE + + + - - +
3 CF - - + + - -
4 CM + + + - - +
5 CS - - - - - -
6 CMR + + + - - +
7 CHL - - - - - -
8 CME - - - - - -
III Biota Lain 1 1 1 1 0 1
1 SC - + + - - +
2 SP - - - - - -
3 ZO - - - - - -
4 OT + - - + - -
TOTAL 7 7 11 5 5 9

Keterangan:
- = tidak ada ditemukan jenis lifeforms
+ = ada ditemukan jenis lifeforms
Lampiran 5. Jumlah famili dan jenis ikan karang di lokasi penelitian (perairan Kecamatan Betoambari)
Lokasi Penelitian
No Family dan Spesies Ket
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Stasiun 6
I AULOSTOMIDAE
1 Aulostomus chinensis T - - √ - - √
II ANTHIIDAE
1 Pseudanthias hutchtii M - √ √ - - √
2 Pseudanthias squamipinnis M - √ √ - - √
3 Pseudanthias tuka M - √ √ - - -
III ACANTHURIDAE
1 Acanthurus thompsoni T √ √ √ - - √
2 Ctenochaetus binotatus T - √ √ - - √
3 Naso thynnoides T - √ √ √ - √
4 Zebrasoma scopas M - √ √ - √ √
IV BALISTIDAE
1 Balistoides conspicllum M - - - - √ √
2 Balistapus undulatus M - √ √ √ √ √
3 Odonus niger M - √ √ - - -
V CHAETODONTIDAE
1 Chaetodon auriga I - - √ - √ √
2 Chaetodon baronessa I - √ √ - √ √
3 Chaetodon bennetti I √ - - - - -
4 Chaetodon citrinellus I - √ √ - - √
5 Chaetodon kleiini I - √ √ √ - √
6 Chaetodon lineolatus I - √ √ - - -
7 Chaetodon melannotus I - √ √ - - √
Lampiran 5. (Lanjutan)
Lokasi Penelitian
No Family dan Spesies Ket
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Stasiun 6
8 Chaetodon ocellicaudus I - - √ - - -
9 Chaetodon oxycephalus I - - - - - √
10 Chaetodon ornatissimus I - √ √ - - √
11 Chaetodon punctatofasciatus I - √ √ - - -
12 Chaetodon reticulatus I - √ √ - - √
13 Chaetodon rostratus I √ - - - - -
14 Chaetodon speculum I - - √ - - -
15 Chaetodon trifascialis I - - √ - - -
16 Chaetodon trifasciatus I - √ √ - - √
17 Chaetodon ulientensis I - - √ - - -
18 Chaetodon unimaculatus I - - √ - - -
19 Chaetodon vagabundus I - √ √ - - √
20 Forcipger flavissimus I - √ √ - - √
21 Forcipger longirastris - - - - - -
22 Hemitaurichthys polylepis I - √ √ - - √
23 Heniochus chrypsostomus - - - - √ -
24 Heniochus diphreutes √ - - - - -
25 Heniochus singularis I - - √ - - -
26 Heniochus varius I - √ √ - - √
VI CAESIONIDAE
1 Caesio caerulaurea T - √ √ - - √
2 Pterocaesio marri T - √ √ - - √
VII CIRRHITIDAE
1 Paracirritites arcatus M - √ - - - -
2 Paracirritites fosteri M - - √ - - -
Lampiran 5. (Lanjutan)
Lokasi Penelitian
No Family dan Spesies Ket
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Stasiun 6
VIII HOLOCENTRIDAE
1 Myripristis kunte T - √ √ - - √
2 Myripristis murjan T - √ √ - - √
3 Neoniphon sammara T - √ - - - -
4 Sargocentron caudimaculatum T - √ √ - √ √
IX HAEMULIDAE
1 Plectorhyncus goldmanni T - - √ - - -
2 Plectorhyncus orientalis T - - √ - - √
3 Plectorhyncus sp T - - - - - -
X LABRIDAE
1 Anampses geographicus M - √ - - - -
2 Anampses twistii M - - - - - √
3 Bodinaus axillaris M - - - - - √
4 Bodinaus diana M - √ √ - - -
5 Bodinaus mesothorax M - - √ - - √
6 Cheilinus bimaculatus M - - - - - √
7 Cheilinus celebicus M - √ √ - √ √
8 Cheilio inermis M - - √ - - √
9 Cirrhilabrus cyanopleura M - √ √ - - √
10 Halichoeres hortulanus M - √ √ - √ √
11 Halichoeres marginatus M - √ √ √ - -
12 Halichoeres melanurus M - √ √ √ √ √
13 Hemigymnus melapterus M - - √ - - √
14 Homlogymnosus doliatus M - √ - - - -
Lampiran 5. (Lanjutan)
Lokasi Penelitian
No Family dan Spesies Ket
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Stasiun 6
15 Labrichthys unilineatus M - - √ - - -
16 Labroides bicolor M - √ √ - - √
17 Labroides dimidiatus M - √ √ - √ √
18 Labroides pectoralis M - √ √ - - -
19 Novaculichthys taeniourus M - - - - - √
20 Pseudocheilinus hexataenia M - - - - - √
21 Stethojulis trilineata M - - - √ - √
22 Thalassoma amblycephalum M - √ √ √ √ √
23 Thalassoma hardwickii M - √ √ √ √ √
XI LUTJANIDAE
1 Aprion sp T - - √ - - -
2 Lutjanus decussatus T - - - - - √
3 Lutjanus bohar T - - √ - - -
4 Lutjanus fulvus T - - √ - - -
5 Lutjanus monostigma T - √ - - - -
6 Macolor macularis T - √ - - - -
7 Macolor niger T - - √ - - √
XII MURAENIDAE
1 Gymnothorax javanicus M - - √ - - -
XIII MULLIDAE
1 Parupeneus barbarinus T - - √ - - √
2 Parupeneus multifasciatus T √ √ √ - - √
XIV MICRODESMIDAE/GOBIDAE
1 Neteleotris magnifica M - - - - - √
2 Ptereleotris evides M - √ - - - √
Lampiran 5. (Lanjutan)
Lokasi Penelitian
No Family dan Spesies Ket
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Stasiun 6
3 Valenciennea strigata M - - - - - √
XV NEMIPTERIDAE
1 Scolopsis bilineata T - √ √ √ - √
2 Scolopsis lineata T - √ √ - - -
3 Scolopsis margaritifer T - √ √ - - -
XVI PSEUDOCHROMIDAE
1 Labracinus cyclophthalmus M - √ √ - - √
2 Pseudochromis paccagnellae M - √ √ - - -
XVII POMACANTHIDAE
1 Centropyge bicolor M - - √ - - √
2 Centropyge bispinosus M - - - - - √
3 Centropyge tibecen M - - - - - √
4 Centropyge vrolikii M - √ √ - - √
5 Pomacanthus imperator M - - √ - - -
6 Pomacanthus navarchus M - - - - - √
7 Pygoplites diacanthus M - √ √ - - √
XVIII POMACENTRIDAE
1 Abudefduf sexfasciatus M - - - - - -
2 Abudefduf vaigiensis M - √ √ - - √
3 Amblyglyphidodon aureus M - √ √ √ √ √
4 Amblyglyphidodon curacao M - √ √ - - √
5 Amblyglyphidodon leucogaster M - √ √ - - √
6 Amphiprion clarkii M - √ √ √ - √
7 Amphiprion perideraion M - √ √ - - -
Lampiran 5. (Lanjutan)
Lokasi Penelitian
No Family dan Spesies Ket
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Stasiun 6
8 Amphiprion sandaracinos M - - √ - - √
9 Chromis amboinensis M - √ √ - - √
10 Chromis analis M √ - - √ √ -
11 Chromis atripes M - √ √ √ √ √
12 Chromis caudalis M - - √ √ √ √
13 Chromis margaritifer M - √ √ √ √ √
14 Chromis weberi M - √ √ - √ √
15 Chrysiptera talboti M - √ √ - - √
16 Dascyllus reticulatus M - √ √ - - √
17 Dascyllus trimaculatus M - √ √ √ - √
18 Dischistodus melanotus M - - √ √ √ √
19 Dischistodus prosopotaenia M - √ - - - -
20 Paraglyphidodon nigrosis M - √ √ - - √
21 Plectroglyphidodon dickii M - √ √ - - √
22 Plectroglyphidodon lacrymatus M - √ √ - - -
23 Pomacentrus auriventris M - √ √ - - √
24 Pomacentrus coelestis M √ - - - - -
25 Pomacentrus grammorhynchus M - - √ - - √
26 Pomacentrus lepidogenys M - √ √ - - √
27 Pomacentrus moluccensis M √ √ √ √ - √
XIX SCORPHAENIDAE
1 Pterois antennata M - √ √ - - √
XX SERRANIDAE
1 Anyperodon leucogrammicus T - - - - - -
2 Cephalopholis argus T - - √ - - √
Lampiran 5. (Lanjutan)
Lokasi Penelitian
No Family dan Spesies Ket
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Stasiun 6
3 Cephalopholis cyanostigma T - √ - - - -
4 Cephalopholis leopardus T - √ - - - -
5 Cephalopholis miniata T - √ √ - - -
6 Cephalopholis urodeta T - √ √ - - -
7 Ephinephelus fasciatus T √ √ - - - √
8 Ephinephelus hexagonatus T - - √ √ - -
9 Ephinephelus merra T √ - - - - √
10 Gracilla albomarginata T - - √ √ - -
XXI SCARIDAE
1 Cetoscarus bicolor T - - - - - -
2 Chlorurus microrhinos T - - √ - - -
3 Scarus bleekeri T - √ - - - -
4 Scarus dimidiatus T √ √ √ - √ -
5 Scarus forsteni T - - √ - - -
6 Scarus niger T - - - - - √
7 Scarus rubroviolaceus T - √ - - - -
8 Scarus schlegeli T - √ - - - -
9 Scarus sordidus T - √ √ - - -
XXII SIGANIDAE
1 Acanthurus thompsoni T - √ √ - √ √
2 Ctenochaetus binotatus T - √ √ - √ √
3 Naso thynnoides T - √ √ - √ √
4 Zebrasoma scopas M - √ √ - √ √
Lampiran 5. (Lanjutan)
Lokasi Penelitian
No Family dan Spesies Ket
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun 5 Stasiun 6
XXIII ZANCLIDAE
1 Zanclus cornutus M - √ √ - - √
TOTAL

Keterangan:
T merupakan ikan target
M merupakan ikan mayor
I merupakan ikan indikator
- = tidak ada ditemukan jenis ikan karang
√ = ada ditemukan jenis ikan karang
109

Lampiran 6. Hasil pengujian ukuran satuan perencanaan heksagon (1 ha-100m2)

Satuan perencanaan (pu)


No
Bentuk Ukuran Jumlah
2
1 Heksagon 10 000 m 2 066
2
2 Heksagon 1 000 m 19 697
2
3 Heksagon 500 m 39 264
2
4 Heksagon 400 m 48 966
5 Heksagon 300 m2 65 200
2
6 Heksagon 200 m 97 641
2
7 Heksagon 100 m 194 698

251000
194698
201000
Jumlah pu

151000

101000 97641
65200 48966
39264
51000 19697
2066
1000
100 200 300 400 500 1000 10000
Ukuran pu
Lampiran 7. Perbandingan hasil pengujian unit perencanaan 1 ha dan 1000 m2
110

a) b)

pu = 1 000 m2 pu = 1 ha
111

Lampiran 8. Hasil pengujian BLM optimal pada skenario 1 (0.001–10)

BLM Panjang Batas (m) Luas Area (m2)

0,001 5840,00 113050,42


0,01 5292,50 125221,01
0,1 4197,50 129077,53
1 2044,00 207974,72
10 2232,97 218667,83

Panjang Batas Luas Area


7000 250000
6000
200000
5000
4000 150000

3000 100000
2000
50000
1000
0 0
0,001 0,01 0,1 1 10
BLM