Anda di halaman 1dari 4

1.

Definisi Al- Qur’an Secara Bahasa dan Istilah

Secara bahasa diambil dari kata: ‫ ا قر‬- ‫ يقرا‬-‫ قراة‬-‫ وقرانا‬yang berarti sesuatu yang dibaca. Arti ini
mempunyai makna anjuran kepada umat Islam untuk membaca Alquran. Alquran juga bentuk
mashdar dari ‫راة‬++‫ الق‬yang berarti menghimpun dan mengumpulkan. Dikatakan demikian sebab
seolah-olah Alquran menghimpun beberapa huruf, kata, dan kalimat secara tertib sehingga
tersusun rapi dan benar.

2. Nama dan Sifat Al-Qur’an

Nama-nama Al-Qur’an :

a) Al-Qur’an: “Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.” (al-Israa’: 9)
b) Al-Kitab: “Telah Kami turunkan kepadamu al-Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab
kemuliaan bagimu.” (al-Anbiyaa’: 10)
c) Furqaan: “Mahasuci Allah Yang telah menurunkan al-Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia
menjadi pemberi peringatan kepada semesta alam.” (al-Furqaan: 1)
d) Dzikr: “Sesunggguhnya Kamilah yang telah menurunkan adz-Dzikr (Qur’an) dan
sesungguhnya Kamilah yang benar-benar akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)
e) Tanzil: “Dan Qur’an ini Tanzil [diturunkan] dari Tuhan semesta alam.” (asy-Syu’ara’: 192)

Sifat-sifat Al-Qur’an :

a) Nuur (Cahaya): “Wahai manusia, telah datang kepadamu bukti kebearan dari Tuhan-mu, dan
telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (an-Nisaa’: 174)
b) Huda (petunjuk), Syifa’ (obat), Rahmah (rahmat) dan Mau-idhah (nasehat): “Wahai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat dari Tuhanmu dan obat bagi yang ada
di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
c) Mubiin (Yang menerangkan): “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan
Kitab yang menerangkan.” (al-Maa-idah: 15)
d) Mubaarak (yang diberkati): “Dan al-Qur’an ini adalah Kitab yang telah Kami berkahi,
membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya….” (al-An’am: 92)
e) Busyraa (khabar gembira): “….yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan
menjadikan petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (al-Baqarah: 97)
f) ‘Aziz (yang mulia): “Mereka yang mengingkari adz-Dzikr (al-Qur’an) ketika al-Qur’an itu
datang kepada mereka, [mereka pasti celaka]. Al-Qur’an adalah kitab yang mulia.”
(Fushshilat: 41)
g) Majiid (yang dihormati): “Bahkan yang mereka dustakan adalah al-Qur’an yang dihormati.”
(al-Buruuj: 21)
h) Basyiir (pembawa khabar gembira) dan Nadziir (pembawa peringatan): “Kitab yang
dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui;
yang membawa khabar gembira dan membawa peringatan.” (Fushshilat: 3-4)

3. Perbedaan Al-Qur’an, Hadist Qudsi dan Hadist Nabawi


a) Hadis Nabawi

Hadis ( baru ) dalam arti bahasa lawan qadim ( lama ). Sedang menurut istilah pengertian hadis
ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi saw. Baik berupa perkataan, perbuatan persetujuan
atau sifat.

 Yang berupa perkataan, seperti perkataan Nabi saw. : `Sesungguhnya sahnya amal itu
disertai dengan niat. Dan setiap orang bergantung pada niatnya….`
 Yang berupa perbuatan ialah seperti ajaranya pada sahabat mengenai bagaimana caranya
mengerjakan shalat, kemudian ia mengatakan : `Shalatlah seperti kamu melihat aku
melakukan shalat`. juga mengenai bagaimana ia melakukan ibadah haji, dalam hal ini Nabi
saw. Berkata : `Ambilah dari padaku manasik hajimu`.
 Sedang yang berupa persetujuan ialah :  seperti ia menyetujui suatu perkara yang
dilakukan salah seorang sahabat, baik perkataan ataupun perbuatan, dilakukan dihadapannya
atau tidak, tetapi beritanya sampai kepadanya. Misalnya : mengenai makanan baiwak yang
dihidangkan kepadanya, dan persetujuannya
 Dan yang berupa sifat adalah riwayat seperti : `bahwa Nabi saw. Itu selalu bermuka
cerah, berperangai halus dan lembut, tidak keras dan tidak pula kasar, tidak suka berteriak
keras, tidak pula bernicara kotor dan tidak juga suka mencela.`.

b) Hadist Qudsi
Lafadzh qudsi dinisbahkan sebagai kata quds, nisbah ini mengesankan rasa hormat, karena
materi kata itu menunjukkan kebersihan dan kesucian dalam arti bahasa. Maka kata taqdis berarti
menyucikan Allah. Taqdis sama dengan tathiir, dan taqddasa sama dengan tatahhara (suci,
bersih ) Allah berfirman dengan kata-kata malaikat-Nya : `……pada hal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan diri kami karena Engkau.` (al-Baqarah :
30 ) yakni membersihkan diri untuk-Mu.

Secara Istilah, Hadis Qudsi ialah hadis yang oleh Nabi saw, disandarkan kepada Allah.
Maksudnya Nabi meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah. Maka rasul menjadi perawi
kalam Allah ini dari lafal Nabi sendiri.

c) Perbedaan Al-Qur’an dengan Hadis Qudsi

Ada beberapa perbedaan antara Quran dengan hadis Qudsi,yang terpenting diantaranya ialah :

a. Al-Quranul Karim adalah Quran adalah mukjizat yang abadi hingga hari kiamat, bersifat
tantangan (I’jaz) bagi yang ingkar untuk membuat yang serupa dengannya, sedang hadis
Qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat.
b. Al- Quranul karim hanya dinisbahkan kepada Allah, sehingga dikatakan: Allah ta`ala
telah berfirman, sedang hadis Qudsi- seperrti telah dijelaskan diatas-terkadang
diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah; sehingga nisbah hadis Qudsi kepada
Allah itu merupakan nisbah yang dibuatkan.
c. Seluruh isi Quran dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya sudah mutlak. Sedang
hadis-hadis Qudsi kebanyakannya adalah khabar ahad, sehingga kepastiannya masih
merupakan dugaan. Ada kalanya hadis Qudsi itu sahih, terkadang hasan ( baik ) dan
terkadang pula da`if (lemah).
d. Al-Quranul Karim dari Allah, baik lafal maupun maknanya. Maka dia adalah wahyu, baik
dalam lafal maupun maknanya. Sedang hadis Qudsi maknanya saja yang dari Allah,
sedang lafalnya dari Rasulullah SAW .  hadis Qudsi ialah wahyu dalam makna tetapi
bukan dalam lafal.
e. Membaca Al-Quranul Karim merupakan ibadah, karena itu ia dibaca didalam salat.
Sedang hadis kudsi tidak disuruhnya membaca didalam salat. Allah memberikan pahala
membaca hadis Qudsi secara umum saja. Maka membaca hadis Qudsi tidak akan
memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam hadis mengenai membaca Quran
bahwa pada setiap huruf akan mendapatkan kebaikan.

d) Perbedaan Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi

Perbedaan hadits qudsi dengan hadits nabawi adalah bahwa hadits qudsi itu bersifat tauqifi
sedangkan hadits nabawi itu bersifat taufiqi. Tauqifi maksudnya adalah secara makna/kandungan
isinya berasal dari wahyu Allah namun redaksionalnya disusun oleh Rasulullah dengan kata-
katanya sendiri. Taufiqi maksudnya adalah baik secara makna/kandungan isinya maupun
redaksionalnya, kedua-duanya berasal dari Rasulullah. Maknanya disimpulkan oleh Rasulullah
berdasarkan pemahamannya terhadap Alqur’an karena nabi  bertugas menjelaskan Alqur’an dan
menyimpulkannya dengan pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulan yang bersifat ijtihad ini
diperkuat oleh wahyu bila ia benar dan bila ternyata ijtihadnya salah maka turunlah wahyu yang
membetulkannya.

Anda mungkin juga menyukai