Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Karakteristik Responden


Karakteristik responden di RW 16 Kriyan Timur di wilayah kerja Puskesmas
Pegambiran pada bulan Juni-Juli 2019 dikategorikan berdasarkan usia, tingkat
pendidikan dan pekerjaan.

Tabel 4.1 Distribusi karakteristik responden berdasarkan usia


Variabel Minimum Maximum
Usia 19 39

Pada Tabel 4.1 menunjukkan gambaran kelompok usia pada responden di RW


16 Kriyan Timur di wilayah kerja Puskesmas Pegambiran didapatkan usia paling
muda adalah 19 tahun dan usia paling tua adalah 39 tahun.

0
12-16 tahun 17-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun

Gambar 4.1 Distribusi karakteristik responden berdasarkan interval usia


Berdasarkan pengelompokkan usia, didapatkan kelompok usia terbanyak adalah
kelompok 26-35 tahun sebanyak 8 orang dan kelompok usia 17-25 tahun sebanyak 4
orang sedangkan untuk kelompok paling sedikit adalah kelompok usia diatas 36-45
tahun, yaitu sebanyak 1 orang.

Tabel 4.2 Distribusi karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan.


Pendidikan Jumlah
SD 5
SMP 6
SMA 2
lainnya 0

Berdasarkan Tabel 4.2 diperoleh gambaran presentase tingkat pendidikan


responden yang memiliki pendidikan SD sebanyak 5 orang, responden yang memiliki
pendidikan SMP yaitu sebanyak 7 orang dan responden yang memiliki pendidikan
SMA 2 orang. Data tersebut menunjukan responden yang berpendidikan rendah
banyak.
Menurut teori Notoatmodjo bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang,
semakin tinggi pengetahuan seseorang dan semakin mudah seseorang untuk
berperilaku positif. Menurut Iqbal, Chayatin, Rozikin dan Supradi (2007) makin
tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi dan
makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Pendidikan pada dasarnya
merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi pengetahuan seseorang.
Pengetahuan tersebut selanjutnya akan mempengaruhi tindakan yang akan dilakukan
oleh individu. Namun masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi seseorang
untuk bertindak. Sejalan dengan Mubarak (2007) yang menyatakan bahwa selain
faktor pendidikan, masih ada faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan seseorang
dalam kecenderungannya untuk betindak. Faktor – faktor tersebut antara lain faktor
pekerjaan, umur, minat, pengalaman, kebudayaan lingkungan sekitar, dan informasi
yang diterima.
Jika dilihat pada kerangka konsep yang bersumber dari teori Lawrence Green
(1980), dapat diketahui juga bahwa bukan hanya pengetahuan dan variabel demografi
(pendidikan) saja yang mempengaruhi tindakan seseorang. Masih banyak faktor lain
yang akan mempengaruhi tindakan responden, diantaranya dukungan suami,
dukungan petugas kesehatan dan ketersediaan sarana.
Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka tingkat pengetahuan seseorang
tentang ASI eksklusif semakin baik pula dan sebaliknya. Pendidikan formal
seseorang akan memberikan landasan berpikir, daya tangkap, pola komunikasi, dan
pemahaman tentang setiap pengetahuan yang diperoleh, salah satunya tentang
pengetahuan ASI eksklusif sehingga akan mempengaruhi seseorang dalam
menginterpretasikan informasi yang diperoleh. Menurut Depkes RI, tingkat
pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuan seseorang diantaranya
mengenai pengetahuan ASI eksklusif, sehingga dengan pengetahuan yang cukup
maka seseorang akan mencoba untuk memberikan ASI eksklusif kepada anaknya.
Dari hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua masyarakat
dengan tingkat pendidikan rendah memiliki pengetahuan yang kurang mengenai ASI
eksklusif. Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian bahwa ada responden yang
berpendidikan terakhir SD tetapi pada memiliki pengetahuan yang bagus mengenai
ASI eksklusif.
Distribusi responden berdasarkan pekerjaan didapatkan bahwa sebagian besar
responden merupakan ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga yang tidak bekerja
memiliki keterbatasan mendapatkan informasi dibandingkan dengan ibu yang bekerja
karena lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman
dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Menurut
Notoatmodjo bahwa manusia mempelajari kelakuan dari orang lain di lingkungan
sosialnya. Ibu yang bekerja mempunyai lingkungan sosial yang lebih luas
dibandingkan dengan ibu yang hanya sebagai ibu rumah tangga. Pergaulan sosial
yang luas tidak hanya berdampak pada tingkat perolehan informasi tetapi juga dalam
hal meniru kecenderungan(trend) yang berkembang dalam lingkungan sosialnya.
Misalnya meniru teman kerja atau lingkungan tempat bekerja yang memberikan susu
botol pada anaknya sehingga ibu tidak memberikan ASI eksklusif.
Pemberian ASI eksklusif tidak hanya mengandalkan pengetahuan dan sikap
positif. Ketersediaan fasilitas dan waktu untuk memberikan ASI pada bayi menjadi
hal lain yang perlu dipertimbangkan. Semua responden di RW 16 kriyan Timur di
wilayah kerja Puskesmas Pegambiran adalah ibu rumah tangga, sehingga mereka
memiliki banyak waktu luang untuk memberikan ASI kepada bayinya.

4.2 Pengetahuan Responden


4.2.1 Gambaran Pengetahuan Responden
Penilaian terhadap pengetahuan responden tentang ASI eksklusif dilakukan
berdasarkan perhitungan skor pengetahuan responden. Setiap pertanyaan sudah
memiliki skor masing-masing. Skor yang diperoleh selanjutnya dihitung dan
kemudian dijumlahkan. Skor tersebut selanjutnya dikategorikan menjadi 3 kategori
yaitu pengetahuan baik, pengetahuan cukup dan pengetahuan kurang. Tingkat
pengetahuan responden tentang ASI eksklusif dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut
ini:

4; 31%

6; 46% Tinggi
Sedang
Rendah

3; 23%

Gambar 4.2 Gambaran tingkat pengetahuan responden


Berdasarkan Gambar 4.2 dapat disimpulkan pengetahuan responden mengenai
ASI eksklusif di Puskesmas Pegambiran sudah baik. Dapat dilihat bahwa
pengetahuan responden terbanyak adalah kategori tinggi atau baik yaitu 6 responden
(6,46%), kategori sedang sebanyak 3 responden (3,23%) dan kategori rendah atau
kurang sebanyak 4 responden (4,31%).
Menurut Notoatmodjo (2007), menyebutkan bahwa pengetahuan adalah hasil
penginderaan manusia, hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang
dimilikinya. Waktu penginderaan sampai pengetahuan dipengaruhi oleh intensitas
perhatian dan persepsi terhadap objek. Pengetahuan dibagi menjadi beberapa tahapan
yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Jika pengetahuan
seseorang berada pada kategori kurang, maka sulit untuk menyadarkan seseorang
tersebut untuk bertindak. Perlu dilakukan tahapan-tahapan pemberian informasi
kepada responden agar pengetahuan tersebut dapat lebih ditingkatkan agar dapat
memasuki tahapan selanjutnya dari sebuah pengetahuan sehingga responden
kemudian akan memiliki tindakan yang baik.
Pengetahuan yang baik tentang ASI eksklusif memiliki hubungan dengan
upaya seorang ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya. Hal tersebut menjadi
motivasi dilakukannya edukasi tentang ASI eksklusif, karena adanya anggapan
pengetahuan tentang ASI eksklusif akan berkontribusi terhadap modifikasi perilaku
seorang ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya. Selain itu, kurangnya informasi
tentang ASI eksklusif menyebabkan kurangnya minat ibu untuk memberikan ASI.

4.2.2 Gambaran Pengetahuan Responden Terhadap Usia


Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan melalui panca indra manusia terhadap suatu objek.
Pengindraan berupa melihat, mendengar, mencium, merasa, dan meraba. Sebagian
besar pengetahuan manusia didapatkan dari pancaindra mata dan telinga, yaitu melihat
dan mendengar. Pengetahuan sangat berpengaruh penting dalam membentuk suatu
tindakan dari seseorang, karena perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih
baik jika dibandingkan dengan perilaku yang tidak didasari pengetahuan.
Tabel 4.3 Distribusi gambaran pengetahuan terhadap kelompok usia
Pengetahuan
Usia Total
Rendah Sedang Berat
12-16 tahun 0 0 0 0
17-25 tahun 1 1 1 3
26-35 tahun 2 3 3 8
36-45 tahun 0 0 2 2
Total 3 4 6 13

Berdasarkan Tabel 4.3 responden terbanyak adalah 26-35 tahun dengan


pengetahuan kurang sebanyak 2 orang, sedang 3 orang dan baik hanya 3 orang. Pada
kelompok usia yang lebih muda yaitu 17-25 tahun pengetahuannya renah sebanyak 1
orng, pengetahuan sedang 1 orang, dan tingkat pengetahuan baik sebanyak 1 orang.
Kelompok usia tertua 36-45 tahun memiliki 2 responden yang keduanya memiliki
tingkat pengetahuan baik. Semakin bertambahnya usia, akan semakin berkembang
pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperoleh akan
semakin membaik. Usia dewasa memiliki daya tangkap dan pola pikir yang sedang
berkembang serta individu lebih berperan aktif dalam mencari pengetahuan sehingga
pada usia ini memiliki waktu untuk belajar, berlatih dan membaca.
Menurut Hurlock tahun 1998 semakin cukup usia seseorang maka tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.
Diharapkan semakin matang usia seseorang maka semakin matang pula kemampuan
seseorang tentang pengetahuan ASI eksklusif semakin baik. Pada umur yang relatif
muda dimungkinkan kurang pengalaman seseorang untuk mendapatkan informasi.
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan diantaranya adalah paparan media massa
dan pengalaman. Umur merupakan salah satu faktor yang dapat menggambarkan
kematangan seseorang secara psikis dan sosial, sehingga membuat seseorang mampu
lebih baik dalam merespon informasi yang diperoleh. Hal ini akan berpengaruh
terhadap daya tangkap seseorang dalam mencerna informasi yang diperolehnya,
sehingga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. Akan tetapi, di masa sekarang
dimana semua media mudah di akses oleh semua kalangan usia, informasi tentang
ASI eksklusif seharusnya mudah di dapat.

4.2.3 Gambaran Pengetahuan Responden Terhadap Tingkat Pendidikan


Pendidikan merupakan suatu proses jangka panjang yang menggunakan
prosedur sistematis dan terorganisir, yang mempelajari pengetahuan konseptual dan
teoritis untuk tujuan-tujuan umum. Tingkat pendidikan formal yang pernah dilalui ibu
hamil sampai memperoleh ijazah.

Tabel 4.4 Distribusi gambaran pendidikan terhadap pengetahuan


Pengetahuan
Pendidikan Total
Kurang Sedang Tinggi
SD 2 1 2 5
SMP 1 1 4 6
SMA 0 2 0 2
Lainnya 0 0 0 0
Total 3 4 6 13

Tabel 4.4 menunjukkan pendidikan terbanyak responden adalah SMP.


Responden yang berpendidikan SMP yang memiliki tingkat pengetahuan kurang
sebanyak 1 orang, yang memiliki sedang 1 orang dan yang memiliki tingkat
pengetahuan baik sebanyak 4 orang. Responden yang berpendidikan SD yang
memiliki pengetahuan kurang sebanyak 2 orang, yang memiliki pengetahuan sedang
1 orang, yang memiliki pengetahuan tinggi sebanyak 2 orang. Responden yang
berpendidikan SMA memiliki tingkat pengetahuan sedang.
Menurut Nursalam (2001), semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka
semakin banyak informasi yang diterimanya, maka akan semakin tinggi tingkat
pengetahuannya. Sehingga seseorang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi akan
berpengetahuan lebih baik dibandingkan dengan seseorang dengan pendidikan yang
lebih rendah. Menurut Lukman (2006) terdapat banyak factor yang memperngaruhi
tingkat pengetahuan, diantaranya adalah media informasi, bukan hanya tingkat
pendidikan saja. Menurut Wied Hary (1996) informasi akan memberikan pengaruh
pada pengetahuan. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah, namun
jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya TV, radio,
atau surat kabar maka hal itu dapat meningkatkan pengetahuan seseorang.

4.2.4 Gambaran Frekuensi Sebaran Jawaban Responden


Berdasarkan hasil wawancara dengan kuesioner kepada responden maka
sebaran jawaban responden tentang ASI eksklusif di RW 16 Kriyan Timur wilayah
kerja Puskesmas Pegambirantahun 2019 dapat dilihat pada tabel 4.5.

Tabel 4.5 Distribusi jawaban kuisioner tentang ASI eksklusif


Frekuensi Frekuensi
No Pengetahuan Tentang ASI Eksklusif Jawaban Jawaban Total
Benar Salah
1 Definisi ASI Eksklusif 8 5 13
2 Waktu pemberian pertama ASI (IMD) 11 2 13
3 Manfaat ASI bagi bayi 8 5 13
4 Kandungan ASI 9 4 13
5 Kelebihan pemberian ASI 4 9 13
6 Manfaat ASI bagi Ibu 4 9 13
7 Mengganti ASI dengan PASI 8 5 13
8 Perbandingan ASI dengan PASI 10 3 13
9 Durasi pemberian ASI Eksklusif 13 0 13
10 Frekuensi Pemberian ASI 11 2 13

Bedasarkan Tabel 4.5 semua responden menjawab benar pada pertanyaan


mengenai durasi pemberian ASI eksklusif. Pertanyaann yang paling banyak di jawab
salah oleh responden adalah pertanyaan mengenai kelebihan pemberian ASI pada
bayi dan manfaat ASI bagi ibu. Banyak ibu yang tidak menyadari bahwa pemberian
ASI mempunyai manfaat untuk ibu itu sendiri.

4.2.5 Gambaran Pengetahuan Responden Setelah diberi Penyuluhan


Setelah diberikan soal pretsest, responden diberikan penyuluhan tentang ASI
eksklusif dan diberi waktu untuk sesi tanya jawab. Kemudian responden diberikan
soal posttest yang sama dengan soal pretest dan dilakukan penilaian. Perbedaan nilai
prestest dan posttest setelah pemberian penyuluhan dat diliha pada Gambar 4.3.

120

100

80

60 Sebelum
Sesudah
40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Gambar 4.3 Perbedaan nilai pretest dan posttest setelah diberi penyuluhan

Berdasarkan Gambar 4.3 dapat dilihat bahwa 7 responden yang mengalami


peningkatan pengetahuan setelah diberi penyuluhan, 5 responden memiliki nilai
posttest yang sama dengan pretest dan 1 responden memiliki penurunan nilai
walaupun setelah diberi penyuluhan. Tingkat pengetahuan responden tentang ASI
ekskllusif dapat dinilai berdasarkan soal prestest dan posttest. Hal ini dapat
menggambarkan bahwa, sebelum dilakukan penyuluhan kepada responden. Tingkat
pengetahuan responden tentang ASI eksklusif masih rendah dikarenakan belum
mendapatkan informasi yang jelas tentang ASI eksklusif. Data posttest yang diambil
setelah penyuluhan menunjukkan perbedaan. Hasil posttest yang didapatkan
menggambarkan bahwa mahasiswa memiliki pengetahuan yang berbeda atau
meningkat.
4.2.6 Gambaran Fekuensi Sebaran Jawaban Responden
Penilitan dilakukan dengan memberikan prestest kepada responden, kemudian
diberikan penyuluhan tentang ASI eksklusif dan sesi tanya jawab, setelah itu
responden diberikan soal posttest dengan soal yang sama dengan prestest. Berikut
frekuensi sebaran jawaban benar sebelum dan sesudah penyuluhan dapat dilihat pada
Tabel 4.6.

Tabel 4.6 Frekuensi sebaran jawaban benar sebelum dan sesudah penyuluhan

Frekuensi jawaban Frekuensi jawaban


No Pengetahuan Tentang ASI Eksklusif benar sebelum benar sesudah
penyuluhan penyulunan

1 Definisi ASI Eksklusif 8 11


2 Waktu pemberian pertama ASI (IMD) 11 11
3 Manfaat ASI bagi bayi 8 9
4 Kandungan ASI 9 11
5 Kelebihan pemberian ASI 4 7
6 Manfaat ASI bagi Ibu 4 9
7 Mengganti ASI dengan PASI 8 8
8 Perbandingan ASI dengan PASI 10 11
9 Durasi pemberian ASI Eksklusif 13 13
10 Frekuensi Pemberian ASI 11 11

Setelah diberikan penyuluhan, frekuensi jawaban benar pada masing-masing


soal mengalami peningkatan. Pengingkatan yang signifikan terjadi pada pertanyaan
mengenai manfaat ASI terhadap ibu. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang ASI
eksklusif.