Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANALISIS DASAR

OBJEK IV

PENGGUNAAN TIMBANGAN ANALITIK DAN


PENGENCERAN

NAMA : ANANDA FILDZA ALIFA

NO BP : 1911011021

HARI/TANGGAL : KAMIS/ 2 APRIL 2020

SHIFT :4

LABORATORIUM KIMIA ANALISIS DASAR

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2020
Penggunaan Timbangan Analitik dan Pengenceran

I. Tujuan Percobaan

A. Mengetahui prinsip dasar dalam melakukan penimbangan

B. Memahami prosedur dalam kalibrasi timbangan

C. Memahami prosedur sebelum penimbangan

D. Memahami cara pengenceran

II. Prinsip Percobaan

Memahami cara melakukan penimbangan dengan menggunakan


timbangan analitikdan memahami cara mengaklibrasi timbangan sebelum
melakukan penimbangan.

III. Teori

Mengukur adalah membandingkan sesuatu yang diukur dengan besaran


sejenis atau alat ukur yang ditetapkan sebagai satuan. Besaran adalah sesuatu yang
dapat diukur, mempunyai nilai yang dapat dinyatakan dengan angka-angka dan
memiliki satuan tertentu. Sedangkan satuan adalah pernyataan yang menjelaskan
arti dari suatu besaran. [1]

Dalam ilmu terapan seperti kimia dan fisika, pengukuran merupakan


aktivitas yang membandingkan kuantitas fisik dari objek dan kejadian dunia-
nyata. Alat pengukur adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda atau
kejadian tersebut. Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan
kegunaan alat, prinsip kerja atau proses berlangsungnya ketika alat digunakan.
Beberapa kegunaan dapat dikenali berdasarkan namanya.[1]

Sifat-sifat zat biasanya dinyatakan dengan menggunakan tiga dimensi


dasar yaitu panjang, bobot, dan waktu. Masing-masing sifat ini menentukan
satuan tertentu dan standar pembanding. Dalam sistem metrik, satuannya adalah
centimeter (cm), gram (g), dan detik (s), karena itu sering disebut sistem cgs.
Suatu standar pembanding adalah satuan dasar yang menghubungkan setiap
besaran terukur dengan beberapa konstanta alami atau buatan secara keseluruhan.
[2]

Satuan standar massa adalah kilogram (kg). Kilogram adalah massa balok
platinum-iridium yang disimpan di Bureau of Weights and Measures. Satuan
praktis massa dalam sistem cgs adalah gram (g), yaitu 1/1000 dari 1 kilogram. [2]

Neraca analitik merupakan suatu alat yang sering digunakan dalam


laboratorium yang berfungsi menimbang bahan yang akan digunakan. Bahan yang
ditimbang biasanya berbentuk padatan, namun tidak menutup kemungkinan untuk
menimbang suatu bahan yang berbentuk cairan. Neraca analitik yang digunakan
dalam laboratorium pengantar merupakan instrumen yang akurat yang
mempunyai kemampuan mendeteksi bobot pada kisaran 100 gram sampai dengan
kurang lebih 0,0001 gram. [3]

Neraca analitik merupan tuas kelas pertama, artinya titik topang atau
fulerumnya terletak di antara titik-titik penerapan gaya. Dalam neraca lengan
sama I1 = I2. Piring-piring digantung pada A dan C dan objek yang ditimbang
(Massa M1) diletakkan di piring kiri; dan batu timbangan yang diketahui (massa
M2) diletakkan di piring yang kanan. M1 dan M2 ditarik oleh bumi (gaya berat.
Menurut hukum kedua newton, gaya-gaya itu adalah

F1 = M1.g

F2 = M2.g

[3]

Neraca analitik terdiri dari beberapa komponen, antara lain waterpass,


piringan neraca, dan tombol pengaturan. Waterpass berfungsi sebagai penanda
posisi neraca pada saat akan digunakan. Neraca harus dalam posisi yang seimbang
pada saat penggunaannya agar data yang dihasilkan akurat. Sedangkan piringan
neraca merupakan suatu wadah yang berfungsi sebagai tempat bahan yang akan
ditentukan massanya. Biasanya digunakan kaca arloji sebagai wadah bahan
sebelum diletakkan pada piringan neraca terebut. [4]
Laboratorium yang melakukan kalibrasi, termasuk peralatan sendiri harus
menerapkan prosedur untuk mengevaluasi ketidakpastian pengukuran untuk
semua kalibrasi. Kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk
hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen pengukur atau sistem
pengukuran, atau penilaian yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang
sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi tertentu.
Persepsi yang kurang tepat adalah semua peralatan pengukuran yang telah
dikalibrasi selalu dalam keadaan layak pakai. Kenyataannya, tidak semua
peralatan yang telah dikalibrasi dalam keadaan layak pakai. Hal ini disebabkan
oleh hasil kalibrasi menunjukkan batas keberterimaan toleransi peralatan yang
telah terlampaui. [5]

Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang


terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan
tersertifikasi. Prinsip kalibrasi alat ukur volume dilakukan dengan mengukur
bobot suatu volume air destilata yang dikeluarkan oleh alat ukur volume. Bobot
ini kemudian dibandingkan dengan bobot jenis air pada suhu pengukuran volume
tersebut dilakukan, sehingga dapat ditentukan nilai ketepatannya. Kalibrasi alat
ukur volume dilakukan untuk menyesuaikan keluaran atau indikasi dari suatu
perangkat pengukuran volume agar sesuai dengan besaran dari standar yang
digunakan dalam akurasi tertentu. [6]

Dalam kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau
lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut
atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain
dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut
dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses
pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau
solvasi. [7]

Beberapa cara dapat digunakan untuk menyatakan komposisi larutan.


Persentase massa (dengan istilah biasa adalah persen bobot) sering digunakan
sehari-hari dan didefinisikan sebagai persentase berdasarkan masaa suatu zat
dalam larutan. Dalam kimia, yang paling bermanfaat untuk menyatakan
komposisi ialah fraksi mol, molaritas, dan molalitas. [7]

Fraksi mol suatu zat dalam campuranialah jumlah mol zat itu dibagi
jumlah keseluruhan mol yang ada. Istilah ini diperkenalkan dalam pembahasan
campuran gas dan hukum Dalton. Dalam campuran biner yang mengandung n1
mol spesies 1 dan n2 mol spesies 2, fraksi mol X1 dan X2 adalah

n1
X 1=
n 1+n 2

n1
X 1= =1− X 1
n 1+n 2

Fraksi mol semua spesies yang ada harus berjumlah 1. Jka dimungkinkan
membuat perbedaan antara pelarut dan zat terlarut, label 1 menyatakan pelarut dan
label yang lebih tinggi untuk zat terlarut. Jika jumlah kedua cairan sebanding,
misalnya dalam pencampuran air dan alkohol, penentuan label 1 dan 2 boleh
yang mana saja. [7]

Konsentrasi zat ialah jumlah mol per satuan volume. Satuan SI mol per
meter kubik tidak memudahkan pekerjaan kimia, sehingga molaritas yang
didefinisikan sebagai jumlah mol zat terlarut per liter larutan, yang digunakan :

mol zat terlarut


molaritas= =mol L−1
liter larutan

“M” adalah singkatan untuk “mol per liter”. 0,1 M (dibaca “0,1 molar”) larutan
HCl memiliki 0,1 mol HCl (berdisosiasi menjadi ion-ionnya, tentu saja) per liter
larutan. Molaritas merupakan cara yang paling lazim untuk menyatakan
komposisi larutan encer. Untuk pengukuran yang cermat, cara ini kurang
menguntungkan karena sedikit ketergantungannya pada suhu. Jika larutan
dipanaskan atau didinginkan, volumenya berubah, sehingga jumlah mol zat
terlarut per liter larutan juga berubah. [7]

Molalitas, sebaliknya, ialah nisbah massa dan ini tidak bergantung pada
suhu. Molalitas didefinisikan sebagai jumlah mol zat terlarut per kilogram pelarut
mol zat terlarut
molalitas= =mol kg−1
kilogram pelarut

Karena air memiliki rapatan 1,00 g cm−3 pada 20℃, maka 1,00 liter air bobotnya
1,00 x 103 atau 1,00 kg.Dengan demikian, dalam larutan berair encer, jumlah mol
zat terlarut per liter kira-kira sama dengan jumlah mol per kilogram air. Jadi,
molaritas dan molalitas hampir sama nilainya. Untuk larutan tak berair dan laurtan
pekat dalam air, molaritas dan molalitas tidak sama. [7]
IV. Prosedur Percobaan

A. Berdasarkan teori diatas kerjakanlah pembuatan dibawah ini :

1. Pembuatan 50 ml larutan NaCl 0,1 M

2. Pembuatan 50 ml larutan NaCl 100 ppm

3. Pembuatan 20 ml larutan etanol 70% dari etanol 96 % (v/v)

4. Pembuatan 50 ml larutan gula 5% (b/v)

5. Pembuatan 50 ml larutan HCl 0,1 M dari larutan HCl 32%

B. Cara melakukan penimbangan.

1. Cek keseimbangan dari timbangan analitik, dibawah timbangan terdapat kaki


timbangan yang dapat diatur ketinggiannya. Dibelakang timbangan terdapat
gelembung udara, atur kaki timbangan sehingga gelembung udara berada tepat
ditengah dari cincin atau lingkaran.

2. Sebelum menimbang perhatikan baik-baik zat yang akan ditimbang. Jika


berwujud cair wadah harus berupa gelas seperti beker gelas, kaca arloji dan lain-
lain.

3. Jika zat tersebut higroskopis maka zat tersebut ditimbang di kaca arloji atau
wadah gelas, dilarang menimbang di atas kertas timbang langsung untuk zat zat
yang higroskopis.

4. Jika zat mudah terionisasi dan teroksidasi, timbangan harus ditutup agar cahaya
matahari langsung tidak masuk, bahan penutup bisa terbuat dari alumunium foil.

5. Setelah menimbang, timbangan harus dibersihkan dari sisa hasil timbangan


baik berupa debu, cairan karena akan merusak timbangan.

C. Cara mengkalibrasi timbangan analitik

1. Cek keseimbangan dari timbangan analitik, dibawah timbangan terdapat kaki


timbangan yang dapat diatur ketinggiannya. Dibelakang timbangan terdapat 49
gelembung udara, atur kaki timbangan sehingga gelembung udara berada tepat di
tengah dari cincin atau lingkaran.

2. Kalibrasi timbangan analitik baiknya dilakukan tiap bulan. Prosedurnya yaitu


diambil seperangkat box,dalam box terdapat logam yang terdiri dari mass 0,1 g-
100 g, box tersebut berasal dari pabrikan alat timbangan. Lakukan kalibrasi
dengan menekan mode sehingga dilayar timbangan terlihat tulisan cal 0. Bila
tertulis 100 g dilayar timbanganlah 100 g lalu tekan print, sampai dilayar tertulis
end setelah itu timbangan telah dikalibrasi.

Catatan : Tiap timbangan mempunyai kekhususan tersendiri, ada timbangan


tertulis 50 g, 5 g, dll, bacalah prosedur alatnya atau website masing-masing
timbangan. Penyimpangan yang menuhi syarat adalah kurang lebih 0,3 miligram.
Kembalikan lagi pada mode semula dengan mengnolkan layar timbangan
(ReZero).

D. Lakukan Penimbangan berikut

1. Kalibrasi Alat

2. Timbang NaCl 5,25 g

3. Timbang Menthol 2,34 g


Daftar Pustaka

[1] Taiyeb. 2006. Pengenalan Alat Laboratorium. Makassar : Biologi FMIPA


Universitas Negeri Makassar

[2] Sinko, P. J. 2006. Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika Edisi 5.
Jakarta : EGC

[3] Day R.A. dan Underwood A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi 6.
Jakarta : Erlangga

[4] Bahtiar, H. 2011. High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dan


Neraca Analitik. Bogor : Institut Pertanian Bogor

[5] Hadi, Anwar. 2018. Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian


dan Laboratorium Kalibrasi. Jakarta : Gramedia Pustaka

[6] Keenan, C.W. dkk. 1991. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga

[7] Oxtoby. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Jilid I. Jakarta : Erlangga