Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FTS - CAIR SEMI PADAT

Materi : Pembuatan Cream Minyak Atsiri Dan Uji Sifat Fisiknya

Dosen Pengampu :

Metha Anung A., M.Sc., Apt

Disusun Oleh :

Nama : Aisyah BT Hasan

NPM : 168001521

Prodi : S1 Farmasi

Kelompok :B

LABORATURIUM TEKNOLOGI FARMASI

PRODI S1 FARMASI

UNIVERSITAS PEKALONGAN

PEKALONGAN 2020
Percobaan V

Pembuatan Cream Minyak Atsiri Dan

Uji Sifat Fisiknya

I. Tujuan
Setelah mengikuti pratikum, diharapkan Mahasiswa dapat :
1. Memahami dan mampu membuat cream minyak atsiri serai.
2. Memahami dan melakukan uji evaluasi fisikokimia pada sediaan cream.
3. Mengetahui syarat sediaan krim yang baik.
4. Mengetahui organoleptis sediaan cream dengan menggunakan penginderaan meliputi
bentuk, warna, aroma, dan rasa.
5. Mengetahui homogenitas sediaan cream dengan melihat ukuran partikel yang terdapat
disediaan cream.
6. Mengetahui nilai Ph cream dengan cara membandingkannya dengan hasil literature
yang tersedia.
7. Mengetahui kemampuan dari cream untuk melindungi kulit dari pengaruh luar
dengan cara pengujian proteksi cream.
8. Mengetahui kemampuan sediaan menyebar pada kulit dengan dilakukannya
pengujian daya sebar cream.
9. Mengetahui kemampuan melekatnya sediaan cream pada kulit setelah diberi beban
dengan dilakukannya pengujian daya lekat cream.

II. Dasar Teori


I.1 Defini Cream
Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak kurang
kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. ( FI ed III ).
Krim adalah suatu sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat
terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. (FI ed IV hal 6)
Formularium Nasional, krim adalah sediaan setengah padat, serupa emulsi kental
mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Secara
tradisional istilah krim digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai
konsistensi relatif cair di formulasi sebagai emulsi air dalam minyak (A/M) atau minyak
dalam air (M/A). Krim merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan
ke bagian kulit badan. Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui mulut,
kerongkongan, dan ke arah lambung. Menurut definisi tersebut yang termasuk obat luar
adalah obat luka, obat kulit, obat hidung, obat mata, obat tetes telinga, obat wasir, injeksi,
dan lainnya. ( Rowe,2009).
Sifat umum sediaan semi padat terutama krim ini adalah mampu melekat pada
permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini dicuci
atau dihilangkan. Krim yang digunakan sebagai obat umumnya digunakan untuk
mengatasi penyakit kulit seperti jamur, infeksi ataupun sebagai anti radang yang
disebabkan oleh berbagai jenis penyakit (Anwar, 2012).
Krim berfungsi sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit,
sebagai bahan pelumas untuk kulit, dan sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah
kontak permukaan kulit dengan larutan berair dan rangsangan kulit (Anief, 2005). Selain
itu, menurut British Pharmacopoeia, krim diformulasikan untuk sediaan yang dapat
bercampur dengan sekresi kulit.Sediaan krim dapat diaplikasikan pada kulit atau
membran mukosa untuk pelindung, efek terapeutik, atau profilaksis yang tidak
membutuhkan efek oklusif (Marriot, John F., et al., 2010).
Kualitas dasar krim, yaitu :
 Stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka krim harus bebas dari
inkopatibilitas, stabil pada suhu kamar, dan kelembaban yang ada dalam kamar.
 Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak
dan homogen.
 Mudah dipakai, umumnya krim tipe emulsi adalah yang paling mudah dipakai
dan dihilangkan dari kulit.
 Terdistribusi merata, obat harus terdispersi merata melalui dasar krim padat atau
cair pada penggunaan
(Anief, 1994).
Sediaan krim dapat menjadi rusak bila terganggu sistem campurannya terutama
disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi karena penambahan salah satu
fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe krim jika zat pengemulsinya tidak
tercampurkan satu sama lain. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui
pengencer yang cocok. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu satu
bulan (Anief, 1994)
I.2 Penggolongan Cream
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam
lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air dan lebih
ditujukan untuk pemakaian kosmetika dan estetika. Ada dua tipe krim, yaitu:
( Anief,1994)
1. Tipe a/m, yaitu air terdispersi dalam minyak
Contoh : Cold cream
 Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih,
berwarna putih dan bebas dari butiran. Cold cream mengandung mineral
oil dalam jumlah besar.
2. Tipe m/a, yaitu minyak terdispersi dalam air
Contoh: vanishing cream
 Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. Vanishing cream
sebagai pelembab (moisturizing) meninggalkan lapisan berminyak/film
pada kulit.
Dasar salep emulsi, ada dua macam yaitu:
1. Dasar salep emulsi tipe A/M seperti lanolin dan cold cream.
Contoh :
a. Lanolin cream suatu bentuk emulsi tipe A/M yang mengandung air 25%
dan digunakan sebagai pelumas dan penutup kulit dan mudah dipakai.
b. Cold cream suatu emulsi tipe A/M dibuat dengan pelelehan cera alba,
Cetaceum dan Oleum Amydalarum ditambahkan larutan boraks dalam air
panas, diaduk sampai dingin. Dasar salep ini harus dibuat baru dan
digunakan sebagai pendingin, pelunak dan bahan pembawa obat.
2. Dasar salep emulsi tipe M/A seperti vanishing cream dan hydrophilic
ointment.
a. Vanishing cream, sebagai dasar untuk kosmetik dengan tujuan pengobatan
kulit.

(Anief, 1994)

I.3 Bahan Penyusun Krim


Formula utama dalam pembuatan krim :
1. Fase minyak, berupa bahan obat terlarut dalam minyak dan umumnya bersifat
asam. Misalnya : adeps lanae, parafin cair maupun padat, asam stearat, minyak
lemak, vaselin, cera, cetaceum, setil maupun stearil alkohol, dan sebagainya.
2. Fase air, berupa bahan obat terlarut dalam air dan umumnya bersifat basa.
Misalnya : Na tetraborat, NaOH, TEA, Na2CO3, KOH, Gliserin, PEG,
Propilenglikol, Na lauril sulfat, Tween, Span dan sebagainya.
Bahan-bahan penyusun krim, antara lain:
1. Bahan Obat
2. Fase Minyak
3. Fase Air
4. Bahan Pengemulsi
 Disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang akan dibuat. Contohnya :
emulgide,adeps lanae, cetaceum, setil dan stearil alkohol, trietanolamin stearat,
polisorbat, PEG.
5. Bahan Pengawet
 Digunakan untuk meningkatkan stabilitas sediaan, misalnya nipagin 0,12-0,18%
dan nipasol 0,02-0,05%.
6. Pendapar.
 Ditambahkan untuk mempertahankan pH sediaan.
7. Antioksidan
 Untuk mencegah ketengikan akibat oksidasi pada minyak tak jenuh.
(Lachman, 1994)
I.4 Metode Pembuatan Krim
Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi.
Biasanya komponen yang tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin dicairkan
bersama-sama di penangas air pada suhu 70-75°C, sementara itu semua larutan berair
yang tahan panas, komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu yang sama
dengan komponen lemak. Kemudian larutan berair secara perlahan-lahan ditambahkan
ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk secara konstan, temperatur
dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah kristalisasi dari lilin/lemak.
Selanjutnya campuran perlahan-lahan didinginkan dengan pengadukan yang terus-
menerus sampai campuran mengental. Bila larutan berair tidak sama temperaturnya
dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan menjadi padat, sehingga terjadi
pemisahan antara fase lemak dengan fase cair (Munson, 1991).
I.5 Keuntungan dan Kelebihan Krim
A. Keuntungan Penggunaan Krim. Beberapa keuntungan dari penggunaan sediaan
krim, anatara lain:
1. Mudah menyebar merata;
2. Praktis;
3. Mudah dibersihkan atau dicuci;
4. Cara kerja berlangsung pada jaringan setempat;
5. Tidak lengket, terutama tipe A/M;
6. Digunakan sebagai kosmetik; dan
7. Bahan untuk pemakaian topikal, jumlah yang diabsorbsi tidak cukup beracun.
(Widodo, 2013)
B. Kerugiaan Penggunaan Krim. Adapun kerugian dari penggunaan sediaan krim,
antara lain:
1. Susah dalam pembuatannya, karena pembuatan krim harus dalam keadaan
panas;
2. Gampang pecah, karena dalam pembuatan, formula tidak pas; serta
3. Mudah kering dan rusak, khusunya tipe A/M, karena tergantung sistem
campuran, terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi,
yang diakibatkan oleh penambahan salah satu fase secara berlebihan
(Widodo, 2013)
I.5 Evaluasi Sediaan Krim
A. Uji organoleptik
 Dilakukan dengan menggunakan panca indra atau secara visual. Komponen
yang dievaluasi meliputi bau, warna, tekstur sediaan, dan konsistensi. Adapun
pelaksanaannya dengan menggunakan subjek responden atau dengan
menggunakan kriteria tertentu dengan menetapkan kriteria pengujiannya
(Widodo, 2003).
B. Homogenitas
 Pengujian homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah pada saat proses
pembuatan krim bahan aktif obat dengan bahan dasarnya dan bahan tambahan
lain yang diperlukan tercampur secara homogen. Persyaratannya harus homogen
sehingga krim yang dihasilkan mudah digunakan dan terdistribusi merata saat
penggunaan pada kulit. Krim harus tahan terhadap gaya gesek yang timbul
akibat pemindahan produk, maupun akibat aksi mekanis dari alat pengisi.
(Anief, 1994).
C. Uji pH
 Harga pH adalah harga yang ditunjukkan oleh pH meter yang telah dibakukan
dan mampu mengukur harga pH sampai 0,02 unit pH menggunakan elektroda
indikator yang peka terhadap aktivitas ion hidrogen, elektroda kaca, dan
elektroda pembanding yang sesuai seperti elektroda kalomel dan elektroda
perak-perak klorida. Pengukuran dilakukan pada suhu ±25ºC, kecuali
dinyatakan lain dalam masing-masing monografi ( Ditjen POM, 1995 ).
 Semakin asam suatu bahan yang mengenai kulit dapat mengakibatkan kulit
menjadi kering, pecah-pecah, dan mudah terkena infeksi. Maka dari itu
sebaiknya pH kosmetik diusahakan sama atau sedekat mungkin dengan pH
fisiologis kulit yaitu antara 4,5-6,5. Kosmetik demikian disebut kosmetik
dengan “pH-balanced” (Tranggono dan Latifah, 2007).
D. Uji Daya Sebar
 Evaluasi ini dilakukan dengan cara sejumlah zat tertentu diletakkan di atas kaca
yang berskala. Kemudian, bagian atasnya diberi kaca yang sama dan
ditingkatkan bebannya, dengan diberi rentang waktu 1-2 menit. Selanjutnya,
diameter penyebaran diukur pada setiap penambahan beban, saat sediaan
berhenti menyebar (dengan waktu tertentu secara teratur) (Widodo, 2013).
E. Uji Daya Lekat
 Uji daya lekat bertujuan untuk mengetahui beberapa lama suatu krim dapat
melekat pada kulit. Semakin lama krim tersebut melekat pada kulit semakin
baik (Widyastuti,2015).
F. Uji Tipe Krim
 Dilakukan dengan menggunakan zat warna larut air seperti metilen blue yang
diteteskan pada permukaaan emulsi. Jika zat larut dan berdifusi homogen pada
fase eksternal yang berupa air maka tipe emulsi adalah M/A. Jika zat warna
tampak sebagai tetesan di fase internal, maka tipe emulsi adalah A/M. Hal yang
terjadi sebaliknya jika digunakan zat warna larut minyak (Sudan III) (Martin et
al, 1990).

I.8 Monografi Bahan

Minyak atsiri saat ini sudah dikembangkan dan menjadi komoditas ekspor
Indonesia yang meliputi minyak atsiri dari nilam, akar wangi, pala, cengkeh, serai
wangi, kenanga, kayu putih, cendana, lada, dan kayu manis. ( Cassel dan R. Vargas,
2006).

Sereh wangi (Cymbopogon winterianus jowitt) bisa disebut juga dengan sere,
sereh, sarae arun ini sangat berkhasiat dan mengandung kimia yaitu alkaloid,flavonoid,
polifenol, dan minyak asiri. Anggota famili Gramineae itu bersifat antipiretik,
antidemam, dan antimuntah (anti-emetik) (Ghifary, 2007). Sereh ada dua macam, satu
Sereh biasa untuk menyayur dan yang kedua sereh wangi yang sangat berguna untuk
kesehatan. Sereh wangi bisa dijadikan minyak urut. Untuk tanaman sereh wangi dalam
dunia perdagangan dikenal dua tipe minyak sereh wangi, yaitu tipe Ceylon dan tipe
Jawa (Indonesia). Tipe Ceylon kebanyakan diproduksi di Srilanka, sedangkan tipe Jawa
diproduksi selain di jawa juga dibeberapa negara lain seperti Cina, Honduras dan
Guatemala (Guenther, 1987).

Kedudukan taksonomi tanaman serai menurut Santoso (2007) :

Kingdom = Plantae

Subkingdom = Trachebionta

Divisi = Spermatophyta

Sub Divisi = Angiospermae

Kelas = Monocotyledonae

Sub Kelas = Commelinidae

Ordo = Poales

Famili = Graminae/Poaceae

Genus = Cymbopogon

Species/ Cymbopogon nardus L. Rendle

III. Pemerian Bahan


1) Asam Stearate (Depkes RI, 1979).
Nama lain : Acidum Stearicum
Pemerian : Zat padat keras mengkilat menunjukan susunan hablur,
putih atau kuning pucat, mirip lemak lilin.
Kelarutan : Praktis tidak larut air, larut dalam 20 bagian etanol (95%)
P, dalam 2 bagian cloroform P dan dalam bagian3
bagian eter P.
Suhu Lebur : Tidak kurang dari 54ºC,
Khasiat : Zat tambahan, emulgator dalam sediaan krim
2) Trietanolamin ( TEA ) (Dini, 2015).
Pemerian : Cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat dan
memiliki bau seperti amoniak.
Titik Didih : 3350C,
Titik Lebur : 20-210C dan sangat hidroskopis.
Kelarut : Dalam aseton, karrbon tetraklorida,methanol dan air.
TEA dapat berubah warna menjadi coklat akibat
terpapar cahaya dan udara.dalam
Khasiat : Sebagai zat pengemulsi
3) Cera Alba ( FI ed III )
Pemerian : Larutan putih kekuningan, sedikit tembus cahaya dalam
keadaan lapisan tipis, bau khas lemah dan bebas bau
tengik
Kelarutan : Tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol
dingin, Larut sempurna dalam kloroform, eter, dalam
minyak lemak dan minyak atsiri
Stabilitas : Ketika lilin dipanaskan di atas 150 0C, terjadi esterifikasi
akibat menurunnya nilai asam dan titik lebur. Lilin putih
stabil bila disimpan dalam wadah tertutup baik,
terlindung dari bahaya
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik dan terlindung dari bahaya.
Fungsi : Zat tambahan, Basis krim, stabilizing agnet ( W / O )
4) Vasellin Putih ( Depkes RI, 1979)
Nama resmi : Vaselinum album
Sinonim : Vaselin putih
Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah
zat dilleburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P,
larut dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam eter
minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi
lemah
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat : emolien dan Basis krim, stabilizing agnet ( W / O )
5) Propilenglikol (Depkes RI, 1979)
Pemerian : Cairan kenta, jernih, tidak berbau, rasa agak manis,
higroskopik
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan etanol 90% dan
kloroform, larut dalam 6 bagian eter, tidak dapat
bercampur dengan eter minyak tanah dan dengan
minyak lemak.
Stabilitas : Pada temperature rendah, propilenglikol stabil bila
disimpan dalam wadah tertutup baik, ditempat yang
sejuk dan kering. Tetapi pada temperature yang tinggi,
ditempat terbuka, cenderung mengoksidasi, sehingga
menimbulkan produk seperti propionaldehid, asam
laktat, asam piruvat, asam asetat. Propilenglikol secara
kimiawi stabil ketika dicampur dengan etanol 95%,
gliserin atau air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat : Sebagai humectant, pelarut, dan pelicin
6) Akuades (Depkes RI, 1979)
Nama Resmi : Aqua destillata
Nama Lain : Air Suling
RM / BM : H2O / 18,02
Kelarutan : Larut dalam etahol gliser
Pemerian :Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak
mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pelarut
IV. Alat dan Bahan
 Alat

- Alat untuk tes daya sebar krim - Gelas ukur


- Alat untuk daya lekat krim - Beacker glass
- Beban 50 kg, 100 kg, dan 150 kg - Kompor listrik
- Kertas Ph - Stopwatch
- Pipet - Objek glass
- Spatula - Mortir dan stamper
- Kaca arloji

 Bahan

- Asam stearate - Akuades


- Vasellin putih - Minyak serai
- Cera alba - Kertas saring
- Propilenglikol - Larutan Fenolftalein ( PP )
- TEA - Larutan KOH 0,1 N

V. Formulasi
R/
Asam Stearate 15 gram
Minyak Serai 0,5 mL
Cera Alba 2 gram
Vasellin putih 8 gram
TEA 1,5 gram
Propilenglikol 8 gram
Akuades 65,5 gram
VI. Cara Kerja
A. Pembuatan Cream

Ditimbang semua bahan yang digunakan

Dileburkan asam stearate dan cera alba diatas waterbath pada suhu
75ºC
Dimasukkan propilen glikol, trietanolamin, dan aquadest dalam
cawan porselin, dan dihangatkan diatas waterbath pada suhu 75 ºC

Dihangatkan mortir dengan air panas, kemudian dicampurkan semua


bahan dalam kondisi hangat hingga terbentuk vanishing cream

Didinginkan vanishing cream, kemudian ditambahkan minyak atsiri


kedalam basis dan dicampurkan hingga homogen

Dilalukan uji sifat fisik cream meliputi organoleptis, homogenitas, uji


pH, daya sebar, daya lekat, dan daya sebar

B. Uji Sifat Fisik Cream

1. Organoleptis Cream

Pengujian dengan penginderaan meliputi warna, bentuk dan rasa

Ditulis hasil pengamatan kedalam data pengamatan

2. Homogenitas Cream
Dioleskan sedikit cream kedalam objek glass

Diamati homogenitas dari cream yang dioleskan pada onjek glass.

Ditulis hasil pengamatan kedalam data pengamatan


3. Uji pH

Diambil sedikit cream dengan cara dituang kedalam beacker glass

Diuji dengan menggunakan kertas pH dan dicek ke dalam cream

Dilihat hasil yang didapat, dan dicek nilai pH yang terdapat pada
parameter pH

4. Uji Daya Sebar Cream

Ditimbang 0,5 gram cream, diletakkan di tengah alat ( kaca bulat )

Ditimbang dahulu kaca penutup, diletakkan kaca tersebut diatas


massa cream dan dibiarkan selama 1 menit

Diukur berapa diameter cream yang menyebar ( dengan mengambil


panjang rata-rata dari beberapa sisi )

Ditambahkan 150 gram beban tambahan, diamkan selama 1 menit


dan dicatat diameter cream yang menyebar

Diamati perubahan diameter setiap 1 menit selama 10 menit atau


ketika diameter sudah konstan ( dicatat waktu yang dibutuhkan
hingga diameter konstan )

Digambar dalam grafik antara beban dan luas cream yang menyebar
Diulangi masing-masing 3x untuk tiap cream yang diperiksa.
Dihitung daya sebar dengan rumus sebagai berikut :

l
S =m x
t

Diket : S = daya sebar

M = berat beban ( 150 gram )

L = diameter saat 10 menit ( atau saat konstan )

T = waktu ( 10 menit atau ketika sudah konstan )

5. Uji Daya Lekat

Diletakkan cream dengan bobot tertentu diatas objek glass yang telah
ditentukan luasnya

Diletakkan objek glass yang lain diatas cream tersebut, ditekan


dengan beban 1 kg selama 5 menit

Dipasang objek glass pada alat uji, dan dilepaskan beban seberat 80
gram dan dicatat waktu hingga kedua objek glass tersebut terlepas

Diulangi sebanyak 3 kali

6. Uji Kemampuan Proteksi Cream


Diambil sepotong kertas saring ( 10x10 cm ), dibasahi dengan larutan
PP untuk indicator. Setelah itu kertas dikeringkan

Diolesi kertas tersebut dengan cream yang akan dicoba ( pada salah
satu muka ) seperti lazimnya menggunakan salep
Sementara itu pada kertas saring yang lain, dibuat satu area ( 3x3
cm ) dengan paraffin padat yang dilelehkan. Setelah dikeringkan
akan didapatkan area yang dibatasi dengan paraffin padat

Ditempelkan kertas tersebut( cara ketiga ) diatas dengan kertas


sebelumnya ( cara kedua )

Diteteskan area ini dengan larutan KOH 0,1 N

Dilihat sebelah kertas yang dibasahi dengan larutan PP pada waktu


15,30,45,60 detik,3, dan 5 menit. Diamati noda merah yang terbentuk
pada kertas tersebut

Dilakukan percobaan untuk crream yang lain

7. Uji Tipe Cream

Diletakkan sedikit sediaan cream pada objek glass

Ditetesi dengan larutan metilen biru

Dilihat apakah pewarna metilen biru tercampur dengan cream atau


tidak pada mikroskop dan dicatat pada data pengamatan

VII. Data Pengamatan


A. Data Perhitungan
1. Perhitungan Bahan Cream
15 gram
- Asam Stearate =  7,5 gram
2
8 gram
- Vasellin Album =  4 gram
2
0,5 mL
- Minyak Serai =  0,25 mL
2
2 gram
- Cera Alba =  1 gram
2
1,5 gram
- TEA =  0,75 mL
2
8 gram
- Propilenglikol =  4 gram
2
65,5 gram
- Akuadest =  32,75 gram
2
2. Perhitungan Daya Sebar Cream

Rumus  l
S= m x
t

 Pada Kelompok I
 Beban = tanpa beban
Diameter = 2 cm
Waktu = 1 menit

l
S = mx
t
2
S=0x
1
S= 0

 Beban = 50 gram
Diameter = 4 cm
Waktu = 1 menit
l
S = mx
t
4
S = 50 x
1
S = 200
 Beban = 100 gram
Diameter =5
Waktu = 1 menit
l
S = mx
t
5
S = 100 x
1
S = 500

 Beban = 150 gram


Diameter = 6,5
Waktu = 1 menit
l
S = mx
t
6,5
S = 150 x
1
S = 975
 Pada Kelompok II
 Beban = tanpa beban
Diameter = 3 cm
Waktu = 1 menit

l
S = mx
t
3
S=0x
1
S= 0

 Beban = 50 gram
Diameter = 4,5 cm
Waktu = 1 menit
l
S = mx
t
4,5
S = 50 x
1
S = 220

 Beban = 100 gram


Diameter = 5,7 cm
Waktu = 1 menit
l
S = mx
t
5,7
S = 100 x
1
S = 570

 Beban = 150 gram


Diameter = 7,3
Waktu = 1 menit
l
S = mx
t
7,3
S = 150 x
1
S = 1095

3. Perhitungan Waktu Daya Lekat


 Pada Kelompok I
Waktu Rep1+Waktu Rep 2+Waktu Rep 3
Waktu =
3
3,2 sekon+3,5 sekon+3,8 s ekon
=
3
= 3,5 sekon
 Pada Kelompok II
Waktu Rep1+Waktu Rep 2+Waktu Rep 3
Waktu =
3
3 sekon+3,6 sekon+3,9 sekon
=
3
= 3,5 sekon

B. Data Pengamatan Tabel


1. Tabel Evaluasi

Evaluasi Kelompok I Kelompok II Keterangan


Organoleptis Bentuk : Semi Padat Bentuk : Semi Padat Sudah sesuai
Warna : Putih Warna : Putih dengan syarat
Bau : Minyak serai Bau : Minyak serai
Homogenitas Homogen Tidak Homogen Pada kel. 2
terdapat partikel
asam stearate yang
belom terdispersi
sempurna
pH 5 6 pH sesuai dengan
range pH kulit
yaitu antara 4,5-6,5
Uji Tipe Krim Tipe w/o Tipe w/o Zat warna tampak
sebagai tetesan
difase internal
Uji Daya Proteksi 5 menit Proteksi 5 menit Sediaan terproteksi
Proteksi dengan baik
Literatur :
 Untuk organoleptis, sediaan berbentuk semi padat ( FI ed III).
 Untuk homogenitas, cream harus terdistribusi merata dimana obat harus terdispersi
merata melalui dasar krim padat atau cair pada penggunaan ( Anief,1994)
 Pada Uji pH, diusahakan sama atau sedekat mungkin dengan pH fisiologis kulit
yaitu antara 4,5-6,5. (Tranggono dan Latifah, 2007).
 Uji tipe Krim, Jika zat larut dan berdifusi homogen pada fase eksternal yang berupa
air maka tipe emulsi adalah M/A. Jika zat warna tampak sebagai tetesan di fase
internal, maka tipe emulsi adalah A/M. (Martin et al, 1990).
 Uji Daya Proteksi, Semakin lama waktu yang dibutuhkan indikator PP bereaksi
dengan KOH, maka semakin baik daya proteksi yang dihasilkan (Muryani,2007).

2. Pengamatan Daya Sebar

Waktu
Bobot Diameter Krim ( cm ) Keterangan
(menit)
Kelompok Petri
Atas Tanpa Beban Beban Beban
Beban 50 gr 100 gr 150 gr
Pada hasil
tanpa beban
dan dengan
beban 50 gr
tidak
117,10 memenuhi
I 2 4 5 6,3 1
gr persyaratan.
Pada beban
100 gr dan
150 gr sudah
memenuhi
persyaratan
Pada hasil
tanpa beban
dan dbeban 50
gr tidak
memenuhi
107,07
II 3 4,5 5,7 7,3 1 persyaratan.
gr
Pada beban
100 gr dan
150 gr sudah
memenuhi
persyaratan
Literatur : Syarat daya sebar untuk sediaan topical yaitu sekitar 5-7 cm (Ulaen dkk.,
2012)
3. Pengamatan Daya Lekat

Objek Waktu ( detik ) Beban


Kelompok Keterangan
Glass Rep. 1 Rep. 2 Rep. 3 (gr)
Tidak sesuai dengan
I I 3,2 3,5 3,8 80
persyaratan
Tidak sesuai dengan
II II 3 3,6 3,9 80
persyaratan
Literatur : Syarat untuk daya lekat pada sediaan topikal adalah tidak kurang dari 4 detik
(Ulaen dkk., 2012)

C. Grafik Data
1. Pengujian Daya Sebar Cream

Grafik Daya Sebar Cream


8
7.3
7
6.3
6
5.7
Diameter (cm)

5 5
4.5 Kelompok I
4 4
Kelopok II
3 3
2 2
1
0
Tanpa Beban 50 gram 100 gram 150 gram
Beban berat

Keterangan : Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa pada kelompok I dan II pada
tanpa beban dan dengan beban 50 gram tidak memenuhi persyaratan, sedangkan
untuk beban 100 gram dan 150 gram sudah memenuhi persyaratan yaitu 5-7 cm.

VIII. Pembahasan
Pada percobaan pratikum “Pembuatan Cream Minyak Atsiri dan Uji Sifat
Fisiknya” bertujuan agar dapat memahami dan mampu membuat cream minyak atsiri
serai, memahami dan melakukan uji evaluasi fisikokimia pada sediaan cream dan dapat
mengetahui persyaratan cream dengan baik. Dalam pengujian sifat fisik ini sama dengan
melakukan control kualitas atau In Process Control (IPC) dimana merupakan hal yang
penting dalam pemastian mutu produk untuk memastikan dan menjaga kualitas dari
sediaan farmasi yang dibuat. Proses pembuatan sediaan krim sendiri terdiri dari proses
peleburan dan proses emulsikasi.
Definisi dari krim yaitu digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai
konsistensi relatif cair di formulasi sebagai emulsi air dalam minyak (A/M) atau minyak
dalam air (M/A). Krim merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan
ke bagian kulit badan merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan
ke bagian kulit badan. Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui mulut,
kerongkongan, dan ke arah lambung. ( Rowe,2009). Karena obat ini digunakan sebagai
obat luar atau topical maka dalam pengujiannya menggunakan parameter pH kulit
sehingga selama proses pengolesan ke area yang dimaksudkan tidak mengalami iritasi
seperti kemerahan ataupun gatal-gatal.
Cream terdiri dari 2 tipe atau golongan yaitu tipe A/M ( air terdispersi dalam
minyak) dan tipe M/A ( minyak terdispersi dalam air ). Dimana dalam pemilihan tipe ini
tergantung pada zat pengemulsi yang harus disesuaikan dengan jenis dan sifat cream
yang dikehendaki atau diinginkan. Untuk ceam tipe A/M digunakan sabun polivalen,
span, adeps lanae, dan cera. Sedangkan untuk cream tipe M/A digunakan sabun
monovalen seperti trietanolamin, natrium stearat, kalium stearat,dan ammonium stearat.
Pada pembuatan kali ini digunakan tipe M/A yang mempunyai kelebihan yaitu lebih
mudah dibersihkan atau dicuci dengan air dan tidak lengket
Pada pratikum Pembuatan Cream Minyak Atsiri dan Uji Sifat Fisiknya alat- alat
yang digunakan yaitu beacker glass, mortir dan stamper, beban 50kg;100kg;dan 150kg,
stopwatch, jangka sorong, sudip, timbangan analitik, kertas perkamen, kaca arloji,
spatula, kertas pH, gelas ukur, pipet, pembuat krim, alat untuk tes daya sebar krim, alat
untuk tes daya lekat krim, dan objek glass. Sedangkan untuk bahan-bahan yang
digunakan yaitu asam stearate, vasellin putih, cera alba, propilenglikp, TEA , minyak
serai, kertas saring, larutan fenolftalein (PP) , dan larutan KOH 0,1 N.
Sereh wangi (Cymbopogon winterianus jowitt) bisa disebut juga dengan sere,
sereh, sarae arun ini sangat berkhasiat dan mengandung kimia yaitu alkaloid,flavonoid,
polifenol, dan minyak asiri. Anggota famili Gramineae itu bersifat antipiretik,
antidemam, dan antimuntah (anti-emetik) (Ghifary, 2007). Sereh ada dua macam, satu
Sereh biasa untuk menyayur dan yang kedua sereh wangi yang sangat berguna untuk
kesehatan. Sereh wangi bisa dijadikan minyak urut. Untuk tanaman sereh wangi dalam
dunia perdagangan dikenal dua tipe minyak sereh wangi, yaitu tipe Ceylon dan tipe Jawa
(Indonesia). (Guenther, 1987). Minyak serai ini merupakan bahan aktif dalam krim ini
yang memberikan efek antipiretik, antidemam, dan antidemam. Dimana pada minyak
atsirinya sendiri dapat digunakan sebagai anti nyamuk ( repelan ).
Asam stearate / Acidum stearicum/ Asam oktadekanoat merupakan zat padat
keras mengkilat menunjukkan susunan hablur; putih atau kuning pucat; mirip lemak lilin.
Kelarutan asam stearat mudah larut dalam benzene, carbon tetrachloride, kloroform dan
eter. Larut dalam etanol 95%, hexane dan propilenglikol.Praktis tidak larut dalam air.
Asam stearat merupakan bahan yang stabil terutama dengan penambahan antioksidan.
Sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik ditempat kering dan sejuk. Digunakan
sebagai bahan pengawet dan basis krim dan dapat memberi kesan lembut pada krim
apabila diaplikasikan kulit. ( FI ed III ).
Trietanolamin (TEA) memiliki sinonim Daltogen/ Tealan/ Trietilolamin,
trihidroksitrietilamin / Tris(hidroksi)etilamin. Merupakan cairan kental, jernih, dengan
bau ammonia, tidak berwarna hingga kuning pucat. Kelarutannya campur dengan air,
metanol, etanol (95%), dan aseton. Larut dalam kloroform, larut dalam 24 bagian benzen
dan 63 bagian eter pH = 10,5 untuk larutan aqueous 0,1 N. Kegunaan dalam formulasi
terutama digunakan sebagai pH adjusting agent, dan sebagai pembentuk sabun anionic
yang dapat berguna sebagai pengemulsi ( membentuk emulsi minyak dalam air ).
( Dini,2015 ).
Vasellin Album ( Vasellin putih) merupakan massa lunak, lengket, bening,
putih; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk.
Kelarutannya sendiri praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut dalam
kloroform P, dalam eter P, dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang
beropalesensi lemah. Penggunaan vasellin putih ini berfungsi sebagai zat tambahan basis
krim A/M dimana air terdispersi pada minyak dan sebagai stabilizing agent. ( FI ed III).
Propilenglikol merupakan cairan kenta, jernih, tidak berbau, rasa agak manis,
higroskopik, dengan kelarutan dapat bercampur dengan air dan etanol 90% dan
kloroform, larut dalam 6 bagian eter, tidak dapat bercampur dengan eter minyak tanah
dan dengan minyak lemak. Stabil pada temperature rendah, propilenglikol stabil bila
disimpan dalam wadah tertutup baik, ditempat yang sejuk dan kering. Tetapi pada
temperature yang tinggi, ditempat terbuka, cenderung mengoksidasi, sehingga
menimbulkan produk seperti propionaldehid, asam laktat, asam piruvat, asam asetat.
Propilenglikol secara kimiawi stabil ketika dicampur dengan etanol 95%, gliserin atau
air. Disimpan dalam wadah tertutup baik. Penggunaan propilenglikol sebagai humectant,
pelarut, pelican dan sebagai pembentuk emilsi minyak dalam air. (Depkes RI, 1979).
Berdasarkan sifatnya PEG (polietilen glikol) termasuk jenis basis yang mudah
larut dalam air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik
(Polano, 1987). Keuntungan dari basis ini adalah sifat PEG yang tidak merangsang,
memiliki daya lekat dan didistribusi yang baik pada kulit, dan tidak menghambat
pertukaran gas dan prosuksi keringat. ( Voight,1984 ).
Cera Alba merupakan larutan putih kekuningan, sedikit tembus cahaya dalam
keadaan lapisan tipis, bau khas lemah dan bebas bau tengik yang tidak larut dalam air,
agak sukar larut dalam etanol dingin, Larut sempurna dalam kloroform, eter, dalam
minyak lemak dan minyak atsiri. Stabil ketika lilin dipanaskan di atas 150 0C, terjadi
esterifikasi akibat menurunnya nilai asam dan titik lebur. Lilin putih stabil bila disimpan
dalam wadah tertutup baik, terlindung dari bahaya. Disimpan dalam wadah tertutup baik
dan terlindung dari bahaya. Penggunaan cera alba sebagai zat tambahan, Basis krim,
stabilizing agnet ( W / O ). ( FI ed III ).
Akuades / Aqua destillata / Air Suling yang arut dalam etahol gliser yang
merupakan cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa. Disimpan
dalam wadah tertutup rapat yang digunakan sebagai pelarut. ( FI ed III ).
Pembuatan cream ini dilakukan dengan peleburan dan emulsifikasi dimana ,
dimana pada pembuatan krim ini minyak serai dimasukkan terakhir pada basis krim. Pada
formulasi sediaan krim ini menggunakan basis vanishing cream yaitu yang merupakan
emulsi lemak dalam air, mengandung air dalam penetrasi yang besar. Setelah pemakaian
krim, air akan menguap meninggalkan sisa berupa selaput asam stearate yang tipis.
Banyak dokter dan pasien lebih menyukai krim daripada salep karenaa krim jenis
vanishing mudah dibersihkan. (Ansel, 1989). Formulasi untuk vanishing krim dengan tipe
minyak dalam air ini adalah asam stearate, cera alba, vasellin album untuk fase
minyaknya. Dan untuk fase air, terdiri dari propilrnglikol, trietanolamin (TEA), dan
aquadest bebas CO2.
Proses pembuatan krim yaitu ditimbang masing-masing bahan sesuai dengan
perhitungan bahan yang telah dilakukan.Setelahnya dilakukan peleburan I untuk fase
minyak ( asam stearate dan cera alba ) diatas waterbath pada suhu 75ºC, dalam peleburan
ini dilakukan secara terpisah karena asam stearate dengan tekstur mirip dengan butiran
gabus sehingga lebih baik dipisah. Pemanasan dilakukan pada 75ºC dikarenakan apabila
lebih dari 75ºC akan mempengaruhi benruk basis dari segi warna karena dapat krim yang
dibuat ditakutkan mengalami kegosongan. Untuk pencampuran II yang merupakan fase
air ( propilrnglikol, trietanolamin (TEA), dan aquadest bebas CO 2 ) dicampurkan dan
dileburkan dalam waterbath pada suhu 75ºC. Kemudian dicampurkan semua bahan ( fase
I dan fase II ) pada mortir yang telah dihangatkan sampai terbentuk sediaan cream dengan
tipe vanishing cream ( basis cream M/A).Dalam pembuatan formula ini dibagi menjadi 2
kelompok dimana setiap sediaan yang dibuat pada masing-masing kelompok diuji dan
dibandingkan untuk diketahui perbedaannya. Setelahnya kedua krim yang telah jadi dapat
diteruskan untuk dilakukan evaluasi sifat fisika kimia krim.
Dalam pengujian krim evaluasi yang digunakan yaitu pengujian homogenitas,
organoleptis, pengujian pH, pengujian daya lekat, pengujian daya sebar krim, pengujian
daya proteksi krim, dan uji tipe cream.
Pengujian pertama yaitu uji organoleptis, yaitu pada pengujian ini menggunakan
panca indera yang meliputi bentuk, bau , warna yang bertujuan untuk mengetahui
kesesuaian produk akhir dalam bau,warna,bentuk dengan bahan-bahan yang diguankan
dalam proses formulasi. Dimana pada pemerian krim ini dihasilkan bentuk semi padat
dengan bau khas dari zat khasiatnya. ( FI ed III). Hasil pengamatan dari data didapat pada
kelompok I dan II didapat hasil bentuknya semi padat, warna putih dan baunya khas
minyak serai. Maka hasil yang didapat sudah sesuai.
Pengujian selanjutnya yaitu Uji Homogenitas, pada pengujian ini menggunakan
kaca objek. Pengujian dilakukan dengan cara mengoleskan sejumlah cream pada
permukaan objek glass kemudian ditutup dengan objek glass lain. Syarat Cream harus
terdistribusi merata dimana obat harus terdispersi merata melalui dasar krim padat atau
cair pada penggunaan ( Anief,1994). Dari hasil pengamatan yang didapat pada kelompok
I didapat hasil yang homogen sedangkan kelompok II hasil yang didapat tidak homogen
dimana terdapat partikel asam stearate yang belum terdispersi sempurna, Sehingga pada
kelompok II tidak memenuhi syarat cream yang baik, dan untuk kelompok I sudah sesuai
dengan syarat cream.
Selanjutnya yaitu Pengujian pH dimana Pengujian pH dilakukan untuk
mengetahui pH sediaan krim agar sesuai dengan literature sehingga dalam pemakaiannya
kulit tidak mengalami iritasi. Syarat Nilai pH cream yang baik adalah 4,5-6,5 atau sesuai
dengan nilai pH kulit manusia (Tranggono dan Latifa, 2007). Jika pH terlalu basa dapat
mengakibatkan kulit kering, sedangkan jika pH kulit terlalu asam dapat memicu
terjadinya iritasi kulit.Dimana jika Nilai pH yang kurang dari 4,5 dapat mengiritasi kulit
sementara pH yang melebihi 6,5 dapat membuat kulit menjadi bersisik (Sharon et al.,
2013). Pengujian ini dilakukan dengan cara cream dituang sedikit ke dalam beacker glass,
dan kertas pH dicelupkan kedalam sediaan, setelahnya dicek parameternya pada kotak
pH. Dari data yang diapat hasil pada kelompok I dan II masing-masing yaitu 5 dan 6.
Dari hasil ini hasil yang didapat sudah dianggap sesuai dengan rentan syarat diharapkan
yaitu 4,5-6,5 ; sehingga untuk pemakai topical nantinya diharapkan tidak mengalami
iritasi pada kulit.
Pengujian keempat yaitu uji tipe krim, dimana pada pengujian ini dilakukan
untuk mengetahui tipe krim yang sebenarnya. Krim yang dibuat adalah tipe krim M/A
sehingga pada uji ini digunakan metilen blue untuk mengetahui adanya fase air (globul
warna biru). Dimana cream dimasukkan dalam objek glass, setelahnya ditetesi dengan
metilen blue ditutup dengan objek glass dan diamati pada mikroskop. Apabila terlihat
warna biru merata, maka krim benar merupakan tipe M/A (Ansel, 1989). Jika zat larut
dan berdifusi homogen pada fase eksternal yang berupa air maka tipe emulsi adalah M/A.
Jika zat warna tampak sebagai tetesan di fase internal, maka tipe emulsi adalah A/M.
(Martin et al, 1990). Dari hasil data pengamtan yang dilakukan didapat pada kelompok I
dan kelompok II merupakan tipe A/M ( dimana air terdispersi dalam minyak ) yang
diketahui dari warna biru yag didapat pada metilen blue tidak tersebar merata, atau tidak
terjadi homogeny pada krim. Namun seharusnya pada krim ini didapatkan tipe krim M/A
yang zat warnanya terdifusi homogeny pada fase eksternalnya yang berupa air karena
bahan yang digunakan merupakan basis cream vanishing cream yang mengandung air
dalam presentase besar dan asam stearat.( Ansel,1989).
Pengujian selanjutnya yang dilakukan yaitu pengujian uji daya sebar krim.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan sediaan menyebar pada kulit,
dimana suatu basis krim sebaiknya memiliki daya sebar yang baik untuk menjamin
pemberian bahan obat yang baik. Dimana syarat daya sebar untuk sediaan topical yaitu
sekitar 5-7 cm (Ulaen dkk., 2012). Evaluasi ini dilakukan dengan cara sejumlah zat
tertentu diletakkan di atas kaca yang berskala. Kemudian, bagian atasnya diberi kaca
yang sama dan ditingkatkan bebannya, dengan diberi rentang waktu 1-2 menit.
Selanjutnya, diameter penyebaran diukur pada setiap penambahan beban, saat sediaan
berhenti menyebar (dengan waktu tertentu secara teratur) (Widodo, 2013). Dimana pada
hasil yang didapat pada kelompok I dengan tanpa beban dan beban 50 gram didapat
diameter masing-masing yaitu 2 cm dan 4 cm , dimana hasil ini tidak sesuai dengan
persyaratan syarat daya sebar untuk sediaan topical. Sedangkan untuk beban 100 gram
dan 150 gram didapat diameter masing-masing yaitu 5 cm dan 6,5 cm dimana hal ini
sudah sesuai dengan syarat daya sebar untuk sediaan cream atau sediaan topical. Untuk
kelompok II dimana hasil yang didapat sama yaitu pada tanpa beban dengan beban 50
gram diameternya masing-masing yaitu 3 cm dan 4,5 cm sehingga hasilnya tidak
memenuhi persyaratan daya sebar untuk sediaan topical,dan untuk beban 100 gram dan
beban 150 gram dengan hasil diameternya yaitu 5,7 cm dan 7,3 cm dapat dinyatakan
sesuai dengan persyaratan sediaan cream yaitu sekitar antara 5-7 cm. (Ulaen dkk., 2012).
Selanjutnya dilakukan pengujiam uji daya lekat pada cream. Pengujian ini
bertujuan untuk mengetahui kemampuan cream untuk menempel pada permukaan kulit.
Semakin besar daya lekat cream maka semakin bertahan lama cream kontak dengan kulit.
Syarat untuk daya lekat pada sediaan topikal adalah tidak kurang dari 4 detik (Ulaen dkk.,
2012). Dimana pada data setelah dilakukan replikasi 3 kali untuk setiap kelompok
dimana kelompok I didapat waktu masing-masing yaitu 3,2; 3,5; dan 3,8 detik yaitu
hasilnya adalah 3,5 detik. Dan untuk kelompok II yang didapat waktunya yaitu 3; 3,6 ;
dan 3,9 detik adalah hasilnya 3,5 detik. Maka pada kedua kelompok ( kelompok I dan
kelompok II ) hasilnya tidak sesuai persyaratan daya lekat krim yang baik yaitu lebih dari
4 detik sehingga menyebabkan tidak maksimalnya daya lekat sediaan krim pada kulit.
Untuk pengujian terakhir yaitu pengujian daya proteksi pada cream. Uji daya
proteksi digunakan untuk mengetahui kulit dari pengaruh luar pada waktu pengobatan.
Uji ini dilakukan dengan cara menempelkan dua potong kertas saring, yang satu dibasahi
dengan fenolftalein yang ditempeli dengan kertas lain yang telah diolesi dengan paraffin
cair pada tepi-tepinya kemudian ditetesi dengan KOH 0,1 N (Anonim,2020). Jika tidak
terdapat noda kemerahan, berarti salep tersebut mampu memberikan proteksi. Dimana
pada masing-masing kelompok I dan kelompok II didapat hasil waktu proteksinya yaitu 5
menit sehingga diketahui bahwa cream pada kelompok I dan kelompok II dapat
memberikan perlindungan terhadap kulit yang dapat ditunjukkan dengan tidak timbulnya
noda merah pada kertas saring. Ini menunjukkan bahwa pada jangga waktu sampai
kurang lebih 5 menit, cream masih mempunyai daya proteksi yang baik ( Muryani, 2007).

IX. Kesimpulan
Setelah mengikuti praktikum, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Mahasiswa telah memahami apa itu cream, dan dapat mengetahui tipe-tipe pada
cream yaitu tipe M/A yaitu minyak terdispersi dalam air contohnya vanishing cream,
dan tipe A/M yaitu air terdispersi dalam minyak contohnya cold cream.
2. Hasil evaluasi yang didapat :
 Pada pengujian organoleptis dalam kelompok I dan kelompok II didapat bentuk
semi padat, warna putih dan bau yang khas minyak serai sehingga pada pengujian
ini dianggap sesuai.
 Pada pengujian pH pada kelompok I dan kelompok II memiliki pH masing-
masing yaitu 5 dan 6. Maka pH yang didapat sudah sesuai dengan persyaratan
dimana pH-nya masih dalam rentan Ph 4,5-6,5 atau sesuai dengan nilai pH kulit
manusia
 Pada uji homogenitas pada kelompok II tidak sesuai dengan literature karena
masih terdapat partikel asam stearate yang belum terdispersi sempurna,
Sedangkan kelompok I dapat dinyatakan bahwa sediaan sudah sesuai dengan
literature karena partikel tersebar merata atau homogeny.
 Pada pengujian daya sebar salep yang dihasilkan pada kelompok I dan kelompok
II pada tanpa beban dan beban 50 kg dapat dikatakan kurang baik karena tidak
sesuai dalam rentan 5-7 cm. Sedangkan beban 100 gram dan 150 gram pada
masing-masing kelompok dapat dikatakan sudah seuai karena nilainya masuk
dalam rentan syarat daya sebar yaitu 5-7 cm.
 Pada pengujian daya lekat untuk kelompok I dan kelompok II dengan waktu yang
didapat dari 3x replikasi yaitu 3,5 detik, maka dapat dikatakan tidak memenuhi
daya lekat yang baik pada cream karena kurang dari 4 detik, menyebabkan tidak
maksimalnya daya lekat sediaan krim pada kulit.
 Pada pengujian daya proteksi pada kelompok I dan kelompok II tidak terdapat
noda merah pada kertas saring yang ditetesi dengan KOH 0,1 N dalam waktu 5
menit sehingga mampu II dapat memberikan perlindungan terhadap kulit yang
dapat ditunjukkan dengan tidak timbulnya noda merah pada kertas saring.
X. Daftar Pustaka
1. Anonim., 2020. Petunjuk Pratikum Formulasi dan Teknologi Sediaan Cair-Semi
Padat. UNIKAL Press. Pekalongan.
2. Anief, M.1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal.130
3. Anief, M. 2000. Ilmu Meracik Obat. Cetakan ke-9.Gadjah Mada University
Press.Yogyakarta.
4. Anief, M., 2005. Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
5. Ansel, Howard. 1989. Pengantar bentuk Sediaan Farmasi. Edisi ke empat.
Universitas Indonesia: Jakarta.
6. Anwar, 2012, Eksipien Dalam Sediaan Farmasi Karakterisasi dan Aplikasi, Penerbit
Dian Rakyat, Jakarta.
7. Cassel, E. dan R. M. F. Vargas. 2006. Experiments and Modeling of the Cymbopogon
winterianus Essential Oil Extraction by Steam Distillation Artixle. Chem. Soc.
50(3):126-129.
8. Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
9. Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
10. Dini, A. A. 2015. Formulasi Sediaan Skin Cream Aloe Vera ( Aloe barbadensis ):
Evaluasi Fisik dan Stabilitas Fisik Sediaan. Naskah Publikasi . Fakultas Farmasi,
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
11. Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri Jilid I, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
12. Lachman, dkk . 1994. Teori Dan Praktek Farmasi Industri , Universitas Indonesia :
Jakarta.
13. Martin, A., james S., Arthur, C. 1990. Farmasi Fisik. Jilid I. Edisi III. Jakarta:
UI Press.
14. Marriot, John F, dkk. 2010. Pharmaceutical Compounding and Dispensing. London:
Pharmaceutical Press.
15. Munson, J.W., 1991, Analisis Farmasi, diterjemahkan oleh Harjana, 231-235,
Univeresitas Air Langga, Surabaya.
16. Rowe, R.C., PJ. Sheshky, dan ME. Quinn, 2009. Pharmaceutical Excipients Sixth
Edition. London : Royal Pharmaceutical Society of Great Britain.
17. Sharon N, Anam S, Yuliet. Formulasi krim ekstrak etanol bawang hutan (Eleutherine
palmifolia L.). Natural Science: Journal of Science and Technology.
2013;2(3):111-122.
18. Tranggono, RI, Latifah, F. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetika. PT.
Gramedia :Jakarta.
19. Ulaen, Selfie P.J., Banne, Yos Suatan & Ririn A,. 2012. Pembuatan Salep Anti
Jerawat dari Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.).
Jurnal Ilmiah Farmasi. 3(2): 45-49
20. Voigt., R., 1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Soendani
Noerono Soewandhi, 311-313, 803-806, Gadjah Mada University Press,
Jogjakarta.
21. Widodo, 2013. Ilmu Meracik Obat Untuk Apoteker . D-Medika. Yogyakarta.
22. Widyastuti, Rizqi Ikhwanda Fratama dan Ade Seprialdi. 2015. Pengujian Aktivitas
Antioksidan Dan Tabir Surya Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Super Merah
(Hylocereus costaricensis (F.A.C. Weber) Britton & Rose). SCIENTIA VOL. 5
NO. 2, AGUSTUS 2015 ISSN : 2087-5045 69.