Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

EROSI DAN PELAPUKAN

OLEH KELOMPOK 2 :

NI KADEK JUNIAWATI (1913071003)


NI PUTU AYU SUWARNI (1913071011)
SITI AROFATUL AMRINA (1913071019)
STEVANY REGINA BR SEBAYANG (1913071021)

SEMESTER 3 KELAS A
JURUSAN FISIKA DAN PENGAJARAN IPA
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA


SINGARAJA
2020
I. JUDUL : Erosi dan Pelapukan
II. TUJUAN:
1. Mempelajari proses pelapukan
2. Membedakan pelapukan dan erosi
3. Membedakan pelapukan mekanis dan kimiawi
4. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi laju pelapukan
5. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi erosi

III. DASAR TEORI


Sifat fisik kerak bumi selalu berubah. Perubahan itu disebabkan oleh
tenaga eksogen berupa pelapukan, pengikisan (erosi) dan pengendapan.
Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi dan bersifat
merusak berupa air, gletser maupun sinar matahari. Erosi yaitu proses
dimana material kerak diuraikan dan dibawa atau dipindahkan oleh angin,
air, es, dan gaya tarik bumi yang bergerak menggempur material kerak
tersebut. Pelapukan adalah bagian dari proses erosi yang hanya menguraikan
material.

Pelapukan
Pelapukan adalah proses pengrusakan atau penghancuran kulit bumi
oleh tenaga eksogen. Pelapukan di setiap daerah berbeda beda tergantung
unsur unsur dari daerah tersebut. Misalnya di daerah tropis yang pengaruh
suhu dan air sangat dominan, tebal pelapukan dapat mencapai seratus meter,
sedangkan daerah sub tropis pelapukannya hanya beberapa meter saja.
Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3
jenis yaitu:
1. Pelapukan fisik atau mekanik
2. Pelapukan organis
3. Pelapukan kimiawi

1. Pelapukan fisik dan mekanik.


Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik
bentuk maupun ukuranya. Batuan yang besar menjadi kecil dan yang
kecil menjadi halus. Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik
sebab prosesnya berlangsung secara mekanik. Penyebab terjadinya
pelapukan mekanik yaitu:
a. Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental
atau beriklim Gurun di daerah gurun temperatur pada siang hari
dapat mencapai 50 Celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau
panas. Batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat udara
menjadi dingin, batuan mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus
menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.
Perhatikan gambar 1.

Gambar 1 pelapukan fisik dan mekanik

b. Adanya pembekuan air di dalam batuan


Jika air membeku maka volumenya akan mengembang.
Pengembangan ini menimbulkan tekanan, karena tekanan ini batu-
batuan menjadi rusak atau pecah pecah. Pelapukan ini terjadi di
daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.

c. Berubahnya air garam menjadi kristal.


Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya
menguap dan garam akan mengkristal. Kristal garam ini tajam sekali
dan dapat merusak batuan pegunungan di sekitarnya, terutama
batuan karang di daerah pantai.

Salah satu bentuk bumi yang mengalami proses pelapukan mekanik

2. Pelapukan organik
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan
dan manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain
cacing tanah, serangga. Di batu-batu karang daerah pantai sering
terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang. Pengaruh yang
disebabkan oleh tumbuh-tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau
kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-
tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya.
Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar-
akar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak
batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga
berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon,
pembangunan maupun penambangan.

3. Pelapukan kimiawi
Pada pelapukan ini batu-batuan mengalami perubahan kimiawi
yang umumnya berupa pelarutan. Pelapukan kimiawi tampak jelas
terjadi pada pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung
dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung
CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur
(CaCO2). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan
gejala karst. Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah
pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonesia banyak turun hujan. Air
hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi. Gejala
atau bentuk-bentuk alam yang terjadi di daerah karst diantaranya:

a. Dolina
Dolina adalah lubang lubang yang berbentuk corong. Dolina dapat
terjadi karena erosi (pelarutan) atau karena runtuhan. Dolina terdapat
hampir di semua bagian pegunungan kapur di Jawa bagian selatan,
yaitu di pegunungan seribu.

b. Gua dan sungai di dalam Tanah


Di dalam tanah kapur mula-mula terdapat celah atau retakan.
Retakan akan semakin besar dan membentuk gua-gua atau lubang-
lubang, karena pengaruh larutan. Jika lubang-lubang itu
berhubungan, akan terbentuklah sungai-sungai di dalam tanah.
c. Stalaktit adalah kerucut-kerucut kapur yang bergantungan pada atap
gua. Terbentuk tetesan air kapur dari atas gua. Stalakmit adalah
kerucut-kerucut kapur yang berdiri pada dasar gua. Contohnnya
stalaktit dan stalakmit di Gua Tabuhan dan Gua Gong di Pacitan,
Jawa Timur serta Gua Jatijajar di Kebumen, Jawa Tengah.

Stalaktit yang di atas stalakmit yang di bawah

EROSI
Erosi yaitu proses dimana material kerak diuraikan dan dibawa atau
dipindahkan oleh air, angin, es, dan gaya tarik bumi yang bergerak
menggempur material kerak tersebut. Air yang mengalir menimbulkan
gesekan terhadap tanah dan batuan yang dilaluinya. Gesekan akan semakin
besar jika kecepatan dan jumlah air semakin besar. Kecepatan air juga akan
semakin besar jika gradien (kemiringan) lahan juga besar. Gesekan antara
air dengan tanah atau batuan di dasar sungai dan gesekan antara benda benda
padat yang terangkat air oleh tanah atau batuan di bawahnya dapat
menyebabkan terjadinya erosi/pengikisan.
Akibat yang ditimbulkan oleh pengikisan air sungai yang terjadi
secara terus menerus dapat mengakibatkan terbentuknya bentang alam
seperti lembah berbentuk huruf v, jurang atau ngarai, aliran deras dan air
terjun.

a. Lembah
Apabila kecepatan aliran air di dasar sungai cepat maka akan
terjadi pengikisan di dasar sungai atau sering di sebut erosi vertical.
Apabila aliran air yang cepat terjadi di tepi sungai maka akan
manyebabkan terjadinya pengikisan ke arah samping atau erosi ke
samping. Hasil erosi vertical, sungai semakin lama semakin dalam,
sedang erosi ke samping menyebabkan sungai samakin lebar. Erosi
vertical membentuk huruf v. Contoh lembah aria, Ngarai sihanok serta
Grand Canyon di Amerika Serikat.

b. Jurang
Perhatikan anda melihat adanya sungai yang sangat dalam dan sempit.
Bentang alam seperti itu termasuk jurang. Jurang terbentuk jika
pengikisan terjadi pada batuan yang resisten. Batuan resisten yang ada di
kanan kiri sungai tidak mudah terkikis oleh air, sedangkan erosi veritikal
terus berlangsung. Oleh karena itu erosi vertical berlangsung lebih cepat
dibandingkan erosi ke samping. Akibatnya, dinding sungai sangat miring
atau cenderung vertical dan dasar sungai dalam. Bahan yang resisten
adalah batuan yang keras dan tidak mudah terkikis air.
c. Aliran deras
Kadang kala kita temui sungai yang pada beberapa bagianya
sangat deras, sedangkan bagian yang lain tidak deras. Aliran air sungai
yang deras terbentuk dari adanya jenis batuan yang selang-seling antara
batuan yang resisten dan batuan yang tidak resisten pada dasar sungai.
Saat air melewati batuan yang resisten, air akan sulit melakukan
pengikisan, akibatnya dasar sungai menjadi tidak rata. Pada saat air
melewati batuan yang tidak resisten, terjadi turbulensi dan terbentuk
seperti air terjun pendek yang aliranya deras. Bentang alam seperti ini
disebut rapit atau aliran deras.

Alian deras
Proses terbentuknya aliran deras

d. Air terjun
Air terjun terbentuk pada sungai yang jenis batuan di dasar sungai ada
yang resisten yang tidak resisten.Proses yang terjadi hampir sama dengan
aliran deras. Hanya saja, pengikisan air mengakibatkan perbedaan air
yang cukup besar antara batuan resisten dan batuan tidak resisten.
Akibatnya, air jatuh dari ketinggian membentuk air terjun.

PENGIKISAN (EROSI) OLEH AIR LAUT


Erosi oleh air laut merupakan pengikisan di pantai oleh pukulan
gelombang laut yang terjadi secara terus-menerus terhadap dinding pantai.
Bentang alam yang diakibatkan oleh erosi air laut, antara lain cliff (tebing
terjal), notch (takik), gua di pantai, wave cut platform (punggung yang
terpotong gelombang), tanjung, dan teluk. Cliff terbentuk karena gelombang
melemahkan batuan di pantai. Pada awalnya gelombang meretakan batuan di
pantai. Akhirnya, retakan semakin membesar dan membentuk notch yang
semakin dalam akan membentuk gua. Akibat diterjang gelobang secara terus
menerus mengakibatkan atap gua runtuh dan membentuk cliff dan wave cut
platform.
1) Terbentuknya tanjung dan teluk
Tanjung adalah daratan yang menjorok ke laut, sedang teluk adalah
laut yang menjorok ke arah daratan.
Pantai memiliki jenis batuan yang berselang seling antara batuan
resisten dan tidak resisten. Pada batuan yang tidak resisten akan
dengan mudah tererosi, sedangkan batuan yang resisten sulit untuk
tererosi. Akibatnya, pada batuan yang tidak resisten akan terbentuk
teluk yang menjorok ke daratan pada batuan yang resisten terbentuk
tanjung yang menjorok ke laut.
EROSI OLEH ES/GLETSER
Erosi oleh gletser merupakan pengikisan yang dilakukan oleh gletser
(lapisan es) di daerah pegunungan. Pengikisan ini terjadi di daerah yang
memiliki empat musim. Pada saat musim semi, terjadi erosi oleh gletser
yang meluncur menuruni lembah. Akkibatnya lereng menjadi lebih terjal.
Contoh bentang alam yang terjadi akibat erosi gletser adalah pantai fyord
yaitu pantai dengan dinding yang berkelok kelok.

EROSI OLEH ANGIN


Pengikisan oleh angin banyak terjadi di daerah gurun atau di daerah
yang beriklim kering. Jika angin dan pasir mengikis batu batuan yang
dilaluinya maka akan membentuk batu cendawan di gunung pasir.
Contohnya: Tanah Loss. di cina Utara (Gurun Gobi) yang memiliki tebal
600 m.
C. Alat dan Bahan
1. tanah atau pasir kasar 1,25 ml
2. Gelas plastik 4 buah
3. Air
4. Sendok
5. Kertas roti
6. Pensil
7. Penggaris
8. Isolasi

D. Prosedur Kerja
D.1: Erosi, Pelapukan dan Mass wasting
1. Tuangkan tanah ke salah satu gelas, lembapkan dengan air secukupnya
dan aduk agar menjadi lumpur kental.
2. Bentuklah lumpur menjadi delapan bola berukuran sama.
3. Letakkan bola lumpur di atas kertas kue dan keringkan bola-bola
tersebut dengan mengangin-anginkannya (mungkin memakan waktu 3
hari atau sampai bola kering).
4. Namai ketiga gelas sisanya A, B, dan C. Siapkan gelasnya sabagai
berkut:
a. Gunakan pensil untuk membuat 8 sampai 10 lubang
mengelilingi tepi gelas A.
b. Gunakan pensil untuk membuat 12 lubang di dasar gelas B dan
c. gelas C dibiarkan tanpa lubang, kemudian dipenuhi dengan air.
5. Masukkan satu bola tanah ke dalam gelas A dan amati bentuk bola
tanah tersebut di dalam gelas
6. Letakkan gelas A di tengah kertas kue pada penampung air. Berdirikan
penggaris pada sisi luar gelas A dan rekatkan penggaris pada gelas
dengan isolasi.
7. Pegang gelas B pada jarak sekitar 10 cm di atas gelas A. Kemudian
tuang air dari gelas C ke dalam gelas B.
8. Setelah semua air mengalir keluar dari gelas B dan masuk ke gelas A,
amati bagaimanakah bentuk boal tanah pada gelas A dan isi kertas kue
pada penampung. Catat data pengamatan anda ke dalam tabel.
Tabel 1. Ersosi, Pelapukan, dan Mass Wasting
Variabel Bentuk bola tanah Isi tempat
Sebelum proses Sesudah
penampung

9. Dari data pengamatan yang diperoleh proses apakah yang terjadi pada
bola tanah?
 Pelapukan, mengapa?...............................................
 Erosi, mengapa? .......................................................
 Pengangkutan massa (mass wasting), mengapa? .................
 Bagaimana tahapan proses yang terjadi/dialami pada bola tanah?

10. Tergolong pelapukan jenis apakah yang disebabkan oleh air tersebut?
Pelapukan mekanis atau kimiawi? Mangapa?................................

D.2: Pengaruh Luas Permukaan terhadap Laju Pelapukan


1. Masukkan 2 bola tanah ke dalam gelas A. Amati bentuk bola tanah
dalam gelas.
2. Lakukan kembali langkah 6 – 8 pada kegiatan 1 di atas.
3. Catat hasil pengamatan pada tabel berikut.
Tabel 2. Pengaruh Luas Permukaan terhadap Laju Pelapukan
Jenis Bentuk sebelum proses Bentuk setelah Isi kotak
kegiatan proses penampung air
1-bola tanah
2-bola tanah

4. Adakah perbedaan pengamatan di antara kedua jenis kegiatan di atas?


Kegiatan 1:. .........................
Kegiatan 2: ....................
5. Apakah yang mempengaruhi laju pelapukan?...............
6. Misalkan bola tanah di atas di ganti dengan bola lain yang terbuat dari
komposisi bahan berbeda misal ada semennya, bagaimanakah laju
pelapukannya? Sama ataukah tidak dengan laju pelapukan di kegiatan
1 dan 2 ? .................................................

IV. TABEL PENGAMATAN


A. Erosi, Pelapukan, Dan Mass Wasting

Variabel Bentuk Bola Tanah Isi Tempat Gambar


Sebelum Sesudah Proses
Penampung
Proses

B. Pengaruh Luas Permukaan terhadap Laju Pelapukan

Jenis Bentuk Bentuk Setelah Isi Kotak Gambar


Kegiatan Sebelum Proses Penampung
Proses Air
1-bola tanah Utuh dan Bola tanahnya Airnya
padat sedikit demi sedikit berwarna
terkikis dan kecoklatan
terbawa air, tetapi dan masih
teksturnya masih terdapat
Gambar 2.1
padat sedikit Bentuk Sebelum
endapan yang Proses
dibawa oleh
air
Gambar 2.2
Bentuk Sesudah
Proses

Gambar 2.3 Isi


Wadah
Penampung Air

2-bola tanah Utuh dan Bola tanahnya Warna airnya


padat sudah banyak yang sudah lebih
terkikis dan keruh
teksturnya sudah kecoklatan
agak lembek dan endapan
Gambar 2.4
tanah yang Bentuk Sebelum
dibawa air Proses

juga lebih
banyak dari
sebelumnya

Gambar 2.5
Bentuk Sebelum
Proses
Gambar 2.6 Isi
Wadah
Penampung Air

V. Hasil dan Pembahasan


Pelapukan adalah proses pengrusakan atau penghancuran massa
batuan, baik yang terjadi secara fisik, organik dan kimiawi. Faktor-faktor
yang mempengaruhi pelapukan yaitu keadaan struktur batuan, cuaca,
topografi, dan iklim. Erosi adalah proses pengikisan atau pengangkutan
material hasil pelapukan oleh tenaga eksogen yang berupa air, angin dan
gletser. Faktor-faktor yang menyebabkan erosi adalah iklim, vegetasi,
topografi, jenis dan sifat tanah, serta aktivitas manusia.
Pada praktikum D.1 (Erosi, Pelapukan dan Mass Wasting) kami
mendapatkan hasil adanya pelapukan dan erosi yang terjadi pada praktikum
bola tanah tersebut. Terjadinya pelapukan pada praktikum ini ditandai
dengan bola tanah awalnya berbentuk bola yang keras, ketika diberi air
maka air tersebut akan meresap kedalam tanah dan tekstur tanah akan
menjadi lembek dan lama kelamaan berubah bentuk menjadi seperti lumpur
tanah. Pelapukan yang terjadi tersebut tergolong pada pelapukan mekanis,
yang mana proses pengikisan dan penghancuran bongkahan batu lebih kecil
sehingga tidak merubah unsur kimianya. Pada proses ini juga dapat
dikatakan ada terjadinya erosi, yang mana saat bola tanah dimasukkan air ke
dalamnya, maka sedikit demi sedikit air akan melewati lubang-lubang yang
ada pada permukaan gelas lalu mengendap pada penampung air. Pada
praktikum ini tidak mengalami pengangkutan massa (mass wasting), hal
tersebut dikarenakan tidak terjadinya perpindahan material bola tanah dalam
jumlah yang cukup besar.
Pada praktikum D.2 (Pengaruh Luas Permukaan terhadap Laju
Pelapukan) yang kami lakukan hampir sama dengan praktikum pertama,
hanya saja kami menggunakan 2 bola tanah dan didapatkan hasil bahwa
terdapat sedikit banyaknya endapan dalam penampungan karena tanah yang
terkikis pada bola tanah tersebut, dan hal yang mempengaruhi laju
pelapukan tersebut adalah jumlah air dan banyaknya bola tanah. Semakin
banyak jumlah air yang digunakan dari pada bola tanah maka laju pelapukan
akan semakin cepat, dan sebaliknya jika jumlah bola tanah lebih banyak
dibandingkan air maka laju pelapukannya juga semakin lama.

VI. Jawaban Pertanyaan


D.1: Erosi, Pelapukan dan Mass wasting
1. Dari data pengamatan yang diperoleh proses apakah yang terjadi pada
bola tanah?
 Pelapukan, mengapa?
Terjadi pelapukan karena bola tanah yang semula berbentuk bola
keras, ketika diberi air maka air tersebut akan meresap kedalam
tanah dan tekstur tanah akan menjadi lembek dan lama kelamaan
berubah bentuk menjadi seperti lumpur tanah.
 Erosi, mengapa?
Terjadi erosi karena saat bola tanah dimasukkan air ke dalamnya,
maka sedikit demi sedikit akan terbawa air dan akan melewati
lubang-lubang yang ada pada permukaan gelas lalu mengendap
pada penampung air.
 Pengangkutan massa (mass wasting), mengapa?
Tidak mengalami pengangkutan massa (mass wasting),
dikarenakan tidak terjadinya perpindahan material bola tanah
dalam jumlah yang cukup besar. Sehingga yang terjadi pada
praktikum ini hanyalah pelapukan dan pengikisan pada permukaan
bola tanah.
 Bagaimana tahapan proses yang terjadi/dialami pada bola tanah?
Tahapan proses pertama yang dialami pada bola tanah yaitu
pelapukan yang dapat dilihat dari perubahan bentuk yang mulanya
bulat dan keras ketika diberi air berubah menjadi lembek,
kemudian mengalami erosi yang dapat dilihat pada hasil endapan
yang ada di penampungan.
2. Tergolong pelapukan jenis apakah yang disebabkan oleh air tersebut?
Pelapukan mekanis atau kimiawi? Mangapa?
Pelapukan yang terjadi yaitu pelapukan secara mekanis, yang mana
pelapukan ini merupakan proses pengikisan dan penghancuran
bongkahan batu menjadi lebih kecil tetapi tidak mengubah unsur kimia
pada batuan tersebut. Proses tersebut dapat terjadi karena adanya
perubahan suhu mendadak, pembekuan air dicelah batu dan sinar
matahari.

D.2: Pengaruh Luas Permukaan terhadap Laju Pelapukan


1. Adakah perbedaan pengamatan di antara kedua jenis kegiatan di atas?
 Kegiatan 1: pada kegiatan pertama, dengan menggunakan 1 bola
tanah dan 3 gelas air yang dituangkan kedalamnya, sehingga pada
bentuk bola yang semula padat, berubah menjadi lumpur. Hal
tersebut dikarenakan tanah yang terkikis oleh air itu banyak,
sehingga endapan yang ada di penampungan juga banyak.
 Kegiatan 2: pada kegiatan kedua, dengan menggunakan 2 bola
tanah dan 1 gelas air yang dituangkan kedalamnya, sehingga
bentuk kedua bola masih utuh, namun lembek karena air meresap
kedalamnya. Tanah yang terkikis juga sedikit, sehingga sedikit
endapan yang ada di penampungan.
2. Apakah yang mempengaruhi laju pelapukan?
Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan, dapat dilihat bahwa
yang mempengaruhi laju pelapukan adalah jumlah air dan banyaknya
bola tanah. Apabila jumlah air yang digunakan lebih banyak daripada
banyaknya bola tanah, maka laju pelapukannya semakin cepat, dan
sebaliknya jika jumlah bola tanah lebih banyak dibandingkan air maka
laju pelapukannya juga semakin lama.
3. Misalkan bola tanah di atas di ganti dengan bola lain yang terbuat dari
komposisi bahan berbeda misal ada semennya, bagaimanakah laju
pelapukannya? Sama ataukah tidak dengan laju pelapukan di kegiatan
1 dan 2 ?
Bila bola tanah diganti dengan bola dari komposisi bahan lainnya,
maka tidak akan sama laju pelapukan antara kegiatan 1 dengan
kegiatan 2. Laju pelapukan yang terjadi pada tanah tentu akan lebih
cepat daripada bola yang terbuat dari komposisi bahan yang berbeda
seperti semen. Hal tersebut dikarenakan salah satu faktor yang
mempengaruhi pelapukan adalah jenis batuan dan struktur batuan itu
sendiri. Yang mana pada bola tanah, strukturnya lebih renggang
sehingga air lebih cepat untuk meresap, sedangkan pada bola tanah
yang berisi semen maka strukturnya lebih rapat dan keras sehingga air
lebih sulit untuk masuk kedalamnya.

VII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum kami, maka dapat disimpulkan bahwa
pelapukan dan erosi dapat terjadi karena tenaga eksogen yang berupa air,
angin, dan gletser. ........................

VIII. Tugas
Laporkan hasil kegiatan laboratorium yang telah anda lakukan. Selanjutnya
lakukan pengamatan daerah di sekitar anda! Selanjutnya sebutkan jenis-jenis
erosi beserta bentang alamnya yang terjadi akibat proses erosi tersebut!
Laporkan hasil tugas kepada guru anda!

Anda mungkin juga menyukai