Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN MINI PROJECT (F.

7)
KEJADIAN DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BALANGNIPA
PERIODE NOVEMBER 2016 – JANUARI 2017 .

Oleh

dr. ANDI IKA HIKMAH APRIYANTY SYAM

Dibawakan dalam rangka menyelesaikan tugas Dokter Internship


di Puskesmas Balangnipa Sinjai
Sulawesi Selatan
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Diare seringkali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global dan nasional
fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut catatan WHO, diare membunuh dua juta anak di dunia
setiap tahunnya, sedangkan di Indonesia, menurut Surkesnas (2001) diare merupakan salah
satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita.

Sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi. Akibat dari infeksi saluran cerna antara
lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan
elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam
basa, invasi dan destruksi sel epitel, penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili yang
dapat menimbulkan malabsorpsi.

Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan
dan elektrolit melalui tinjanya. Penyebab kematian lain yang penting adalah disentri,
kekurangan gizi dan infeksi yang serius seperti pneumonia.

Secara umum, penanganan diare adalah untuk mencegah terjadinya dehidrasi serta
gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya intoleransi,
mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi serta
mengobati penyakit penyerta. Pemakaian cairan rehidrasi oral secara umum efektif dalam
mengkoreksi dehidrasi. Pemberian cairan intravena diperlukan jika terdapat kegagalan oleh
karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tidak terkontrol dan terganggunya masukan
oral..

1.2 Rumusan Masalah


Meningkatnya prevalensi diare merupakan masalah kesehatan masyarakat, meskipun
diare dikategorikan penyakit yang biasa terjadi dan menular namun memiliki morbiditas dan
mortalitas yang cukup bermakna. Sehubungan dengan hal tersebut maka dikemukakan masalah
sebagai berikut: “Bagaimanakah kejadian diare pada pasien Puskesmas Balangnipa Periode
November 2016 – Januari 2017?”
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui angka kejadian diare pada pasien Puskesmas Balangnipa Periode
Periode November 2016 – Januari 2017.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui angka kejadian diare berdasarkan Pengobatan Dasar yang
dilakukan di Poliklinik Umum dan UGD Puskesmas Balangnipa
b. Untuk meningkatkan pengetahuan pasien faktor-faktor risiko penyakit diare
c. Untuk meningkatkan kesadaran pasien tentang penanganan diare secara dini dan
perilaku hidup bersih baik pribadi maupun lingkungan
d. Untuk menngurangi angka kesakitan akibat diare dan menaikkan angka kesehatan
dan hidup bersih.
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi instansi (Puskesmas)
Sebagai bahan informasi bagi Puskesmas dalam penyusunan strategi serta pelaksanaan
program pencegahan diare untuk meningkatkan kualitas pelayanan puskesmas.
1.4.2 Manfaat bagi pasien dan masyarakat
 Sebagai bahan informasi bagi pasien tentang penyakit diare sehingga pasien akan
lebih sadar untuk segera melakukan tindakan pertama rehidrasi dan segera ke
puskesmas mendapat pengobatan.
 Sebagai bahan informasi bagi pasien untuk melakukan perubahan perilaku hidup
bersih dan sehat dan penanganan segera pada diare akut.
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Diare secara epidemiologik biasanya didefinisikan sebagai keluarnya tinja yang lunak
atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari. Secara klinik, dibedakan atas tiga macam sindrom
diare, yaitu:

1. Diare cair akut


Diare yang terjadi secara akut dan berlangsung kurang dari 14 hari (kebanyakan kurang
dari 7 hari), dengan pengeluaran tinja yang lunak atau cair yang sering dan tanpa darah.
Mungkin disertai muntah dan panas. Diare cair akut menyebabkan dehidrasi dan bila masukan
makanan berkurang juga mengakibatkan kurang gizi. Kematian terjadi karena dehidrasi.
Penyebab terpenting diare cair akut pada anak-anak adalah: rotavirus, Escherichia coli
enterotoksigenik, Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium, Vibrio cholerae,
Salmonella.
2. Disentri
Adalah diare yang disertai darah dalam tinja. Penyebab utama disentri akut adalah
Shigella. Entamoeba histolytica dapat menyebabkan disentri yang serius pada dewasa muda
tapi jarang pada anak. Akibat penting disentri antara lain ialah anoreksia, penurunan berat
badan dengan cepat dan kerusakan mukosa usus karena bakteri invasif.
3. Diare persisten

Adalah diare yang mula-mula bersifat akut namun berlangsung lebih dari 14 hari. Dapat
dimulai sebagai diare cair atau disentri. Kehilangan berat badan yang nyata sering terjadi.
Volume tinja dapat dalam jumlah yang banyak sehingga ada resiko mengalami dehidrasi.
Tidak ada penyebab mikroba tunggal untuk diare persisten.3

2.2 Epidemiologi
Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang,
dengan perliraan 1,3 milyar episod dan 3,2 juta kematian setiap tahun pada balita. Secara
keseluruhan anak-anak ini mengalami rata-rata 3,3 episod diare per tahun, tetapi di beberapa
tempat dapat lebih dari 9 episod per tahun. Sekitar 80 % kematian yang berhubungan dengan
diare terjad pada 2 tahun pertama kehidupan.3 Hasil survei oleh Depkes diperoleh angka
kesakitan diare tahun 2000 sebesar 301 per 1000 penduduk, angka ini meningkat bila di
bandingkan survei pada tahun 1996 sebesar 280 per 1000 penduduk.1,3,4
2.3 Penyebab
Ada beberapa faktor, yaitu:
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak.
- Infeksi bakteri : Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella dan sebagainya
- Infeksi virus : Enterovirus ( virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis), Adenovirus,
Rotavirus dan sebagainya
- Infeksi parasit : cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides), protozoa
(Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis ), Jamur ( Candida albicans)
b. Infeksi parenteral, yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan, seperti
Otitis Media Akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia, Ensefalitis dan sebagainya.
2. Faktor malabsorpsi
a. Malabsorpsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa),
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang
tersering ialah intoleransi laktosa.
b. Malabsorpsi lemak terutama lemak jenuh
c. Malabsorpsi protein
3. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan
4. Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas1,2,3,4
Cara penularan
Pada umumnya adalah orofecal melalui :
1. Makanan dan minuman yang telah terkontaminasi oleh enteropatogen
2. Kontak langsung atau tidak langsung (4F = Food, Feses, Finger, Fly) 1,3,4

2.4 Patomekanisme
 Patogenesis diare akibat virus
Rotavirus berkembang biak dalam epitel vili usus halus, menyebabkan kerusakan sel
epitel dan pemendekan vili. Hilangnya sel-sel vili yang secara normal mempunyai fungsi
absorpsi dan penggantian sementara oleh sel epitel berbentuk kripta yang belum matang,
menyebabkan usus mensekresi air dan elektrolit. Kerusakan vili dapat juga dihubungkan
dengan hilangnya enzim disakaridase, menyebabkan berkurangnya absorpsi disakarida
terutama laktose. Penyembuhan terjadi bila vili mengalami regenerasi dan epitel vilinya
menjadi matang.1,3
 Patogenesis diare akibat bakteri
- Penempelan di mukosa
Bakteri yang berkembang biak dalam usus halus pertama-tama harus menempel mukosa
untuk menghindarkan diri dari penyapuan. Penempelan terjadi melalui antigen yamg
menyerupai rambut getar (pili atau fimbria). Penempelan di mukosa dihubungkan dengan
perubahan epitel usus yang menyebabkan pengurangan kapasitas penyerapan atau
menyebabkan sekresi cairan.
- Toksin yang menyebabkan sekresi
E.coli enterotoksigenik, V. Cholerae dan beberapa bakteri lain mengeluarkan toksin yang
menghambat fungsi sel epitel. Toksin ini mengurangi absorpsi natrium melalui vili dan
mungkin meningkatkan sekresi chloride (Cl-) dari kripta yang menyebabkan sekresi air dan
elektrolit.
- Invasi mukosa
Shigella, C.jejuni, E.coli enteroinvasive dan Salmonella dapat menyebabkan diare
berdarah melalui invasi dan perusakan sel epitel mukosa. Ini terjadi sebagian besar di kolon
dan bagian distal ileum. Invasi mungkin diikuti dengan pembentukan mikroabses dan ulkus
superfisial yang menyebabkan adanya sel darah merah dan sel darah putih atau terlihat adanya
darah dalam tinja. Toksin yang dihasilkan oleh kuman ini menyebabkan kerusakan jaringan
dan kemungkinan juga sekresi air dan elektrolit dari mukosa.1,3
 Patogenesis diare akibat protozoa
- Penempelan mukosa
G.lamblia menempel pada epitel usus halus dan menyebabkan pemendekan vili yang
kemungkinan menyebabkan diare
- Invasi mukosa
E.histolytica menyebabkan diare dengan cara menginvasi epitel mukosa di kolon ( ileum)
yang menyebabkan mikroabses dan ulkus. Keadaan ini baru terjadi jika strainnya sangat ganas.
Pada manusia 90% infeksi terjadi oleh strain yang tidak ganas dalam hal ini tidak ada invasi ke
mukosa dan tidak timbul gejala/ tanda-tanda, meskipun kista amoeba dan trofozoit mungkin
ada di dalam tinjanya.1,3

2.5 Patofisiologi
a) Fisiologi usus
Diare cair disebabkan oleh karena gangguan pada mekanisme transport air dan
elektrolit di usus halus.3,4
b) Keseimbangan cairan normal

Dalam keadaan normal absorbsi dan sekresi air dan elektrolit terjadi di sepanjang usus 2
liter cairan setiap hari. Kurang dari 7 liter di dalam usus, air dan elektrolit secara serentak
diabsorbsi oleh vili dan disekresi oleh kripta epitel mukosa menyebabkan aliran air dan
elektrolit antara usus dan darah bersifat dua arah. Karena absorbsi cairan lebih besar dari pada
sekresinya hasil akhirnya adalah absorbsi cairan lebih besar.1,4

Biasanya lebih dari 90 % cairan yang masuk ke usus halus di serap dan sekitar 1 liter
sampai ke usus besar. Di usus besar terjadi penyerapan lebih lanjut dan hanya 100-200 ml air
dikeluarkan setiap hari dalam bentuk tinja. Bila volume cairan ini melebihi kapasitas absorbsi
usus besar terjadilah diare.1,2,3,4

c) Penyerapan air dan elektrolit

Absorbsi air di usus halus disebabkan karena derajat osmolaritas yang terjadi apabila
bahan terlarut (khususnya natrium) diabsorpsi secara aktif dari lumen usus oleh sel epitel vili.

d) Mekanisme diare:
Prinsip mekanisme terjadinya diare cair, yaitu:
1. Diare sekretorik
Disebabkan karena sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus. Hal ini terjadi bila
absorpsi natrium oleh vili gagal sedangkan sekresi klorida di sel epitel berlangsung terus atau
meningkat. Hasil akhir adalah sekresi cairan yang mengakibatkan kehilangan air dan elektrolit
dari tubuh sebagai tinja cair. Hal ini menyebabkan terjadinya dehidrasi. Perubahan ini terjadi
karena adanya rangsangan pada mukosa usus oleh toksin bakteri atau virus.
2. Diare osmotik
Mukosa usus adalah epitel berpori yang dapat dilewati air dan elektrolit dengan cepat
untuk mempertahankan tekanan osmotik antara isi usus dengan cairan ekstraseluler. Diare
dapat terjadi apabila suatu bahan yg secara osmotik aktif dan sulit diserap. Jika bahan semacam
itu berupa larutan isotonik, air dan bahan yang larut didalamnya akan lewat tanpa diabsorpsi
sehingga terjadi diare.
3. Motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap makanan,
sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri
tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.1,3
e) Kehilangan air (dehidrasi)

Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pada pemasukan air
(input), yang merupakan penyebab kematian pada diare. Penderita dengan diare cair
mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium, klorida, kalsium dan bikarbonat.
2.6 Klasifikasi
Semua akibat diare cair disebabkan karena kehilangan air dan elektrolit tubuh
melalui tinja. Kehilangan sejumlah air dan elektrolit bertambah bila ada muntah dan
kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Kehilangan tersebut dapat menyebabkan
dehidrasi, asidosis metabolik dan kekurangan kalium. Dehidrasi adalah keadaan yang
paling berbahaya karena dapat menyebabkan penurunan volume darah (hipovolemia),
kolaps kardiovaskuler dan kematian.

Berdasarkan banyak cairan yang hilang dapat dibagi menjadi :

- Dehidrasi ringan

- Dehidrasi sedang

- Dehidrasi berat
Berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi :

- Dehidrasi isotonik (isonatremia), bila kadar Na dalam plasma 130 – 150 mEq/l

- Dehidrasi hipotonik (hiponatremik), yaitu kadar Na dalam plasma < 130 mEq/l

- Dehidrasi hipertonik (hipernatremik), bila kadar Na dalam plasma > 150 mEq/l.

 Penilaian dehidrasi pada anak:

Penilaian A B C

Lihat : Keadaan umum Baik, sadar Gelisah, rewel Lesu


lunglai/tidak
sadar

Mata Normal Cekung Sampai cekung


&kering

Air mata Ada Tidak ada Tidak ada

Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering

Rasa haus Minum Haus, ingin Malas minum


biasa,tidak haus minum banyak atau tidak bisa
minum

Periksa : Turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat Kembali sangat


lambat

Hasil pemeriksaan Tanpa dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi Berat.


ringan/sedang. Bila ada 1 tanda
Bila ada 1 tanda di atas ditambah
di atas ditambah 1/ lebih tanda
1/lebih tanda lain
lain

Terapi Rencana terapi Rencana terapi Rencana terapi C


A B

Tabel 2. Penilaian penderita dehidrasi1

Terdapat dua/lebih dari tanda-tanda


berikut ini : DEHIDRASI BERAT
* Letargis atau tidak sadar
* Mata cekung
* Cubitan kulit perut kembalinya
sangat lamabat
Terdapat dua atau lebih dari tanda-
tanda berikut ini :
* Gelisah, rewel DEHIDRASI RINGAN/SEDANG
* Mata cekung
* Haus, minum dengan lahap
* Cubitan kulit perut kembalinya
lambat
Tidak ada cukup tanda-tanda untuk
diklasifikasikan sebagi dehidrasi TANPA DEHIDRASI
berat atau ringan/sedang
Tabel 3. Penilaian dehidrasi menurut MTBS1
a) Kehilangan berat badan

- Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan BB 2 ½ %

- Dehidrasi ringan, bila terjadi penurunan BB 2 ½ - 5 %

- Dehidrasi sedang, bila terjadi penurunan BB 5 -10 %

- Dehidrasi berat, bila terjadi penurunan BB > 10%

b) Skor Maurice King

Bagian tubuh Nilai untuk gejala yang ditemukan


yang diperiksa 0 1 2
Keadaan umum Sehat Gelisah, cengeng, Mengigau,
apatis, mengantuk koma/syok
Kekenyalan kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang
Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung
UUB Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Mulut Normal Kering Kering & sianosis
Denyut Kuat < 120 Sedang (120-140) Lemah > 140
nadi/menit
Berdasarkan nilai skor dapat ditentukan derajat dehidrasi :
 Nilai 0 -2 : dehidrasi ringan

 Nilai 3 -6 : dehidrasi sedang


 Nilai 7 -12 : dehidrasi berat1

2.7 Tanda dan Gejala


Mula – mula bayi dan anak menjadi cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu
makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan mungkin disertai lendir
dan atau darah. Pada diare oleh karena intoleransi, anus dan daerah sekitarnya lecet karena
seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat banyaknya asam laktat
yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare.

Gejala muntah dapat terjadi sebelum / sesudah diare dan dapat disebabkan oleh
lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.
Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai
tampak, berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan

ubun – ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.1

Gejala klinis Derajat dehidrasi


Ringan Sedang Berat
Keadaan umum
dan kondisi
- Bayi & anak Haus, sadar, gelisah Haus, gelisah, Mengantuk,lemas,
kecil atau letargi tetapi ekstremitas dingin,
iritabel. sianotik berkeringat,
mungkin koma.

Biasanya sadar,
Haus, sadar, gelisah gelisah, ekstremitas
- Anak lebih Haus, sadar, dingin, sianotik dan
besar merasa pusing berkeringat, kulit
dan dewasa pada perubahan jari-jari tangan da
posisi kaki keriput, kejang
otot.
Nadi radialis Normal (frekuesi & Cepat dan lemah Cepat, halus, kadang
isi) tak teraba.
Pernafasan Normal Dalam, mungkin Dalam dan cepat.
cepat.
Ubun-ubun Normal Cekung Sangat cekung
besar
Elastisitas kulit Pada pencubitan, Lambat Sangat lambat (<2”)
elastisitas kembali
segera.
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Air mata Ada Kering Sangat kering
Selaput lendir Lembab Kering Sangat kering
Pengeluaran Normal Berkurang dan Tidak ada urin untuk
urin warna tua beberapa jam,
kandung kencing
kosong,
Tekanan darah Normal Normal-rendah > 80 mmHg,
sistolik mungkin tidak
teratur.
% kehilangan 4-5 % 6-9 % > 10 %
berat
Perkiraan 40-50 ml/kg 60-90 ml/kg 100-110 ml/kg
kehilangan
cairan

Tabel Gejala Klinis

Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang sehingga dapat terjadi renjatan
hipovolemik dengan gejala – gejala yaitu denyut jantung menjadi cepat, denyut nadi
cepat dan kecil, tekanan darah menurun, penderita menjadi lemah, kesadaran menurun
(apatis, somnolen sampai soporokomatous). Akibat dehidrasi, diuresis berkurang
(oliguria sampai anuria). Bila sudah ada asidosis metabolik, tampak pucat dengan
pernafasan yang cepat dan dalam (pernafasan Kussmaul).

 Asidosis Metabolik

Pada saat diare sejumlah besar bikarbonat dapat hilang melalui tinja. Bila ginjal
berfungsi normal ; kehilangan bikarbonat banyak diganti dan kehilangan basa yang berat tidak
akan terjadi. Bila mekanisme kompensasi ini gagal akibat fungsi ginjal menurun aliran darah
ke ginjal kurang karena hipovolemi. Kemudian kekurangan basa dan asidosis terjadi dengan
cepat. Akibat produksi asam laktat yang berlebihan ketika penderita megalami syok
hipovolemik. Gambaran utama dehidrasi asidosis meliputi : 1

 Konsentrasi bikarbonat serum berkurang , < 10 mmol/l


 pH arteri menurun, mungkin < 7
 Nafas cepat dan dalam yang membantu meningkatnya pH arteri dan
mengakibatkan kompensasi alkalosis respiratorik
 Adanya muntah

 Hipokalemia

Penderita diare sering mengalami penurunan kadar kalium karena kehilangan


banyak melalui tinja. Kehilangan ini paling banyak pada bayi dan dapat menjadi berbahaya
pada anak yang kurang gizi, yang sebelumnya sudah mengalami kekurangan kalium.

Bila kalium dan bikarbonat hilang bersamaan, hipokalemi biasanya tidak terjadi,
karena asidosis metabolik yang terjadi akibat kekurangan bikarbonat menyebabkan kalium
berpindah dari cairan intraseluler ke ekstraseluler untuk mengganti ion hidrogen, jadi
mempertahankan kalium serum dalam tingkat normal atau bahkan sedikit meningkat. Namun
begitu bila asidosis metabolik dikoreksi dengan memberi bikarbonat, pergantian ini cepat
berubah dan menjadi hipokalemi. Hal ini dapat dicegah dengan mengganti kalium dan
mengoreksi kekurangan basa pada saat yang sama.1

Gejala-gejala hipokalemi adalah :

- Kelemahan otot secara umum


- Aritmia jantung
- Ileus paralitik terutama bila diberikan juga obat-obatn yang megurangi peristaltik
(seperti opium)

 Hipoglikemia

Hipoglikemi terjadi pada 2- 3% dari anak-anak yang menderita diare. Pada anak-anak
dengan gizi cukup/baik, hipoglikemi jarang terjadi, lebih sering terjadi pada anak yang
sebelumnya menderita KKP (Kurang Kalori Protein). Gejala ini timbul bila kadar glukosa
turun sampai 40 mg % pada bayi dan 50mg% pada anak-anak.2

 Gangguan gizi

Pada pasien diare biasanya terjadi penurunan berat badan karena makanan yang
dihentikan, pengenceran susu atau gangguan pencernaan makanan.2

 Gangguan sirkulasi
Berupa renjatan syok hipovolemik akibat gangguan perfusi jaringan.2

2.8 Diagnosis
Pemeriksaan Laboratorium :

1. Pemeriksaan tinja

a. Makroskopis dan mikroskopis

b. pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet elinitest, bila di
duga intoleransi gula

c. bila perlu lakukan pemeriksaan biakan/ uji resistensi

2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan menentukan


pH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah
menurut ASTRUP (bila memungkinkan)

3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal

4. Pemeriksaan kadar elektrolit terutama natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam
serum (terutama bila kejang)

5. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara
kualitatif dan kuantitatif, terutama pada penderita diare kronik 1

2.9 Penatalaksanaan
Dasar pengobatan diare adalah :
1. Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumat).

2. Dietetik (pemberian makanan).

3. Obat – obatan.1,2,3

Pemberian cairan pada diare dehidrasi murni


1. Jenis cairan
a. Cairan rehidrasi oral: oralit, larutan gula garam, dan sebagainya.

b. Cairan parenteral: RL, DG aa (1 bagian lar. Darrow 1 bagian larutan


Glukosa 5 %), DG 1 : 2, dan lain – lain.

2. Jalan pemberian cairan

a. Per oral untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi dan bila anak mau
minum serta kesadaran baik.
b. Intragastrik untuk dehidrasi ringan, sedang atau tanpa dehidrasi, tetapi anak
tidak mau minum atau kesadaran menurun.

c. Intravena untuk dehidrasi berat dan kegagalan terapi rehidrasi oral

Sejumlah pasien dengan dehidrasi ringan / sedang tidak dapat diobati secara memadai
dengan oralit melalui mulut. Penderita ini harus diberikan terapi IV.

Penderita dengan terapi oral biasa gagal karena :

1. Tingginya tingkat kelahiran cairan (seringnya buang air besar dalam tinja cair
dengan jumlah yang banyak).

Beberapa penderita dengan tingkat kehilangan cairan yang tinggi mungkin tidak bisa
minum cukup oralit untuk menggantikan kehilangan cairan yang berkelanjutan sehingga
keadaan dehidrasi makin buruk. Beberapa penderita harus diobati selama beberapa jam
dengan cairan IV sampai tingkat kehilangan cairan berkurang.

2. Muntah terus menerus

Kadang – kadang muntah yang berulang – ulang menghambat berhasilnya rehidrasi oral.
Jika tanda – tanda dehidrasi tidak membaik atau makin memburuk, terapi IV diperlukan
sampai muntahnya hilang. Muntah biasanya hilang ketika air dan elektrolit terganti.

3. Ketidakmampuan untuk minum

Beberapa penderita tidak dapat minum oralit dalam jumlah yang tepat karena sakit atau
radang pada mulut (contoh : campak, sariawan dan herpes), karena kelelahan atau
mengantuk karena obat (seperti antiemetik atau obat antimotilitas). Terapi IV atau terapi
nasogastrik diperlukan untuk penderita ini.
4. Perut kembung atau ileus

Jika perut mulai kembung, oralit harus diberikan lebih lambat. Jika kembung bertambah
atau jika ada bising usus, terapi IV diperlukan. Ileus paralitik (hambatan mobilitas isi
perut) mungkin alasan kembung perut. Gejala ileus paralitik disebabkan oleh obat yang
mengandung candu (kodein, loperamide), hipokalemia atau keduanya.

5. Malabsorpsi glukosa

Kegagalan penyerapan glukosa yang bermakna secara khas adalah tidak biasa selama
diare akut. Tetapi bila hal ini terjadi penggunaan oralit dapat menyebabkan bertambahnya
diare dengan sejumlah besar glukosa yang tidak diserap dengan tanda – tanda dehidrasi yang
memburuk atau tes menunjukkan terdapat sejumlah besar glukosa pada tinja. Anak juga
menjadi sangat haus. Cairan IV harus diberikan sampai diare hilang.

1. Jumlah cairan

Jumlah cairan = PWL + NWL + CWL

PWL = Previous Water Loss (ml/kgBB)

(Jumlah cairan yang hilang, biasanya berkisar 5 – 15 % dari BB (ml / kgBB).

NWL = Normal Water Loss (ml / kgBB)

(Terdiri dari urin + jumlah cairan yang hilang melalui penguapan pada kulit dan
pernafasan).

CWL = Concomitant Water Loss (ml / kgBB)

(Jumlah cairan yang hilang melalui muntah dan diare, kira – kira 25 ml / kgBB / 24
jam).

Derajat
Dehidrasi PWL NWL CWL Jumlah
Ringan 50 100 25 175

Sedang 75 100 25 200

Berat 125 100 25 250


TtabTaTabel. 5 Derajat dehidrasi

JADWAL (KECEPATAN) PEMBERIAN CAIRAN

a. Belum ada dehidrasi


- Oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas setiap kali buang air besar.
- Parenteral dibagi rata dalam 24 jam.
b. Dehidrasi ringan
- 1 jam pertama : 25 – 50 ml / kgBB per oral / intragastrik
- Selanjutnya : 125 ml / kgBB / hari atau ad libitum
c. Dehidrasi sedang
- 1 jam pertama : 50 – 100 ml / kgBB per oral / intragastrik.
- Selanjutnya : 125/ml/kgBB/hari atau ad libitum

d. Dehidrasi berat
Untuk anak 1 bulan – 2 tahun dengan BB 3 – 10 kg
- 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/jam atau 13 tts/kgBB/menit
(dengan infus berukuran 1 ml = 20 tts)
- 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/jam atau 4 tts/kgBB/menit
(dengan infus berukuran 1 ml = 20 tts)
- 16 jam berikutnya : 3 tts/kgBB/menit
(dengan infus berukuran 1 ml = 20 tts)

Cara lain adalah :


- 4 jam I diberikan 1/3 dari kebutuhan cairan yang telah diperhitungkan (6 x BB tts/mnt).
- 20 jam II diberikan sisanya (3 x BB tts/mnt).
Pegangan untuk menggolongkan penderita termasuk dehidrasi berat, sedang atau ringan
adalah : bila terdapat 2 atau lebih gejala dalam penggolongan tersebut. Dengan catatan selalu
memikirkan resiko yang lebih tinggi, misal terdapat 2 gejala dehidrasi berat dan 5 gejala
dehidrasi sedang, maka penderita tersebut dimasukkan dalam golongan dehidrasi berat. 1

Pemberian makanan pada penderita diare


Pemberian makanan per oral diberikan setelah anak rehidrasi. Dengan cara ini
penyembuhan penderita dapat lebih cepat, dan kenaikan berat badan lebih baik walaupun
frekwensi diare bertambah. Pada pelaksanaan dietetik, penderita diare akut dengan dehidrasi
perlu diperhatikan faktor – faktor sebagai berikut :
a. Insiden diare pada bayi yang mendapat ASI
b. Pemberian ASI sebaiknya diteruskan walaupun frekwensi intoleransi laktosa tinggi.

Untuk anak < 1 tahun atau berat badan < 7 kg, diberikan ASI dan susu rendah laktosa
dan asam lemak tidak jenuh seperti LLM, Elmiron, bubur susu. Sedangkan untuk anak > 1
tahun dengan berat badan > 7 kg, diberikan makanan padat atau makanan cair atau susu sesuai
dengan kebiasaan makan di rumah. 2

Buah yang dapat diberikan pada penderita diare adalah pisang, kalori dari pisang adalah
99 kcal dan kandungan kaliumnya 9,5 mmol/100 gram. Bila ada infeksi terutama diare maka
kebutuhan kalori dan protein bertambah karena meningkatnya katabolisme protein tubuh.
Pertumbuhan kalori dan protein untuk mengejar laju pertumbuhan (catch up growth)
membutuhkan kenaikan kalori sekitar 30 % dan protein sekitar 100 % dari keadaan basal untuk
menggantikan kehilangan selama diare, sedangkan kalium dibutuhkan untuk mengatasi
hipokalemi. 1,3

Pengobatan Medikamentosa

1. Antibiotika
Pada umumnya antibiotika tidak diperlukan pada semua kasus diare akut karena sebagian
besar penyebab diare akut adalah Rotavirus yang sifatnya self limited dan tidak dapat dibunuh
oleh antibiotika. Hanya sebagian kecil saja (10 – 20 %) yang disebabkan oleh bakteri patogen
seperti Vibrio Cholerae, Shigella, ETEC (Entero Toksigenic E. coli), Salmonella,
Campylobacter dan sebagainya yang pada umumnya baru diketahui setelah dilakukan biakan,
sedangkan hasil biakan baru datang setelah diare berhenti. 1
Antibiotika diberikan jika penyebabnya jelas seperti :
- Kolera diberikan Tetrasiklin 25 – 50 mg/kgBB/hari
- Campylobakter diberikan Eritromisin 40 – 50 mg/kgBB/hari
- Bila terdapat penyakit penyerta seperti :
o Infeksi ringan (OMA, faringitis) diberikan Penisillin Prokain 50.000
u/kgBB/hari.
o Infeksi sedang (bronkitis) diberikan Penisillin Prokain atau Ampisillin 50
mg/kgBB/hari.
o Infeksi berat (bronkopneumonia) diberikan Penisillin Prokain dengan
Kloramphenikol 74 mg/kgBB/hari atau Ampisillin 75-100 mg/kgBB/hari
ditambah Gentamisin 6 mg/kgBB/hari atau derifat Sefalosporin 30 – 50
mg/kgBB/hari.1,3

2. Anti Diare
Obat – obat yang berkhasiat menghentikan diare secara cepat seperti
antispasmodik/spasmolitik atau opium (papaverin, ekstrak beladona, codein, morfin, dsb)
justru akan memperburuk keadaan karena akan menyebabkan terkumpulnya cairan di lumen
usus, dilatasi usus, melipatgandakan pembiakan bakteri (over growth), gangguan digesti dan
absorpsi lainnya. Obat ini hanya berkhasiat menghentikan peristaltik usus saja tetapi justru
akibatnya sangat berbahaya karena baik pemberi obat maupun penderita akan terkelabui.
Diarenya terlihat tidak ada lagi tetapi perut akan bertambah kembung dan dehidrasi bertambah
berat yang akhirnya dapat fatal untuk penderita. 1,3

3. Absorben
Obat – obat absorben (pengental tinja) seperti kaolin, pektin, charcoal (norit, tabonal),
Bismuth Subsalisit, dan sebagainya telah dibuktikan tidak ada manfaatnya. Obat – obat
stimulan seperti adrenalin, nikotinamit dan sebagainya tidak akan dapat memperbaiki syok atau
dehidrasi beratnya karena penyebabnya adalah kehilangan cairan (syok hipovolemik).
Pengobatan yang paling tepat ialah pemberian cairan secepatnya. 1,3

4. Anti Emetik
Obat anti emetik seperti klorpromazin (largaktil) terbukti selain untuk mencegah muntah
dapat mengurangi sekresi dan kehilangan cairan melalui tinja. Pemberian dalam dosis kecil
( 0,5 – 1 mg/kgBB/hari) terutama penderita yang disertai muntah – muntah hebat dapat
diberikan. Obat anti piretik seperti preparat salisilat (Asetol, Aspirin) dalam dosis rendah (25
mg/kgBB/hari) ternyata selain berguna untuk menurunkan panas yang terjadi sebagai akibat
dehidrasi atau panas karena infeksi penyerta, juga dapat mengurangi sekresi cairan yang keluar
melalui tinja.1,

5. Zink
Zink mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu makan
anak. Zink termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang
optimal. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan pada
efeknya terhadap imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses
perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan
absorbs air dan elektrolit oleh usus halus meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus,
meningkatkan jumlah brush border apical, dan meningkatkan respon imun yang mempercepat
pembersihan patogen di usus. Pengobatan dengan zinc cocok ditetapkan di negara-negara
berkembang seprti Indonesia yang memiliki banyak masalah terjadinya kekurangan zinc di
dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan yang rendah dan daya imunitasnya yang kurang
memadai. Pemberian zinc dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak. Dosis zinc
untuk anak-anak:
- anak dibawah umur 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) per hari

- anak diatas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari

Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anka telah sembuh dari diare.
Untuk bayi tablet zinc diberikan dalam air matang, ASI atau oralit. Untuk anak lebih besar,
zinx dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.1,13

1. PEMILIHAN INTERVENSI
Sesuai pernyataan masalah yang dikemukakan pada Bab Pendahuluan, maka topik
masalah dalam mini-project ini adalah “Bagaimanakah kejadian diare pada pasien Puskesmas
Balangnipa Periode November 2016 – Januari 2017 .
 Pengumpulan Data
Tempat dan Waktu Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan di Puskesmas Balangnipa pada bulan November
2016 - Januari 2017 .
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah pengumpulan data secara
sekunder saat melakukan pelayanan primer di Poliklinik Umum Puskesmas Balangnipa
Populasi dan Sampel Data
Populasi yang digunakan adalah pasien yang berobat di Poliklinik Umum.
Sedangkan teknik pengambilan sampling adalah total sampling
 Analisis Data
Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dari hasil pelayanan primer di
poliklinik umum dan wawancara, dimana hubungan sebab-akibat dianalisa berdasarkan
tinjauan pustaka dan dideskripsikan secara naratif.
 Diagnosis Komunitas dan Faktor Terkait
Pasien yang melakukan kunjungan di poliklinik umum dan unit gawat darurat
akan dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara sistematis. Diagnosis diare
ditegakkan dari anamnesis dimana didapakan keluhan berak encer lebih dari dua kali
dalam sehari dan pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan peningkatan peristaltik usus.
 Pelaksanaan Solusi
Bentuk intervensi yang dilakukan dalam mini-project ini berupa melakukan
penyuluhan/edukasi langsung kepada pasien yang berobat di poliklinik umum dan
penyuluhan setiap kali ada kegiatan Posyandu (Posyandu Lappae dan Posyandu
Lamatti 2), pada bulan November 2016 sampai dengan Januari 2017. Isi penyuluhan
mencakup berbagai faktor yatu Perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan Rumah
Tangga, hidup bersih dan sehat di lingkungan sekitar, dan hidup bersih dan sehat diri
sendiri.

2. PELAKSANAAN
Hari, tanggal : Senin, 16 Januari 2017
Waktu : 09.00 WITA
Tempat : Posyandu Lappae dan Posyandu Lamatti 2, Kabupaten Sinjai
3. EVALUASI
 Evaluasi Struktur
Dokter dan petugas puskesmas datang tepat waktu di Posyandu yang telah
ditentukan.

 Evaluasi Proses
Pada penyuluhan ini, jumlah peserta yang merupakan ibu dan anak yang akan
melaksanakan penimbangan berat badan dan imunisasi yaitu 19 orang, Para warga yang telah
mengikuti penyuluhan ini diharapkan mampu memahami detail dari materi tentang kejadian
diare serta pencegahannya.
 Evaluasi Hasil
HASIL DAN DISKUSI

Kejadian Diare di Puskesmas Balangnipa

Bedasarkan hasil data sekunder yang diambil diperoleh data kejadian Diare sebagai
berikut.

Tabel 1. Kejadian Diare di Puskesmas Balangnipa tahun 2016-2017

BULAN PASIEN
November 32
Desember 41
Januari 66
Sumber: data laporan 10 penyakit terbanyak oleh SP2TP

Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah pasien yang menderita diare dari bulan November 2016
sampai Januari 2017 .

Berdasarkan dari tabel di atas jumlah kasus diare diatas terdapat peningkatan kasus diare
tiap bulan. Adanya kasus tiap bulan menandakan kasus diare tidak mengalami penurunan atau
peningkatan atau secara sepintas statis. Namun hal itu tidak menjadi patokan semata. Hal yang
lain turut membantu seperti musim penghujan yang menurun intensitasnya, pembersihan kanal
setempat oleh warga mencegah banjir, kerja bakti warga agar terhindar dari banjir, dan
lingkungan yang sudah mulai bersih tertata rapi guna mencegah banjir yang turut serta
menurunkan angka kejadian diare. Angka kematian akibat diare tidak ada di Puskesmas
Balangnipa.

Faktor-faktor Risiko diare

Setelah dilakukan pemantauan selama dilapangan dan penyuluhan serta diskusi dengan
masyarakat ada beberapa faktor resiko diare yang ada dilingkungan sekitar yaitu:

1. rumah warga berpetak kecil sehingga saling berdekatan satu sama lain dan
memudahkan penularan penyakit
2. saluran pembuangan limbah berupa parit sangat minim serta banyak tumpukan
sampah
3. Kurangnya pengetahuan warga mengenai air bersih yang layak di konsumsi
sehari-hari, dan mengenal perusahaan air minum mana yang telah lolos uji
sampling layak dijual dan minum.
4. Warga yang tinggal di samping kanal banyak membuang sampah langsung di
kanal sehingga menimbulkan bau tidak sedap dan menyengat serta mengundang
lalat.
5. Sarana kebersihan seperti tempat pembuangan sampah masih minim. Kontainer
sampah hanya satu kali sehari mengangkut sampah yaitu pada pagi hari sehingga
sampah menumpuk depan rumah warga pada malam hari yang dapat mengundang
tikus dan kucing.
6. Perilaku masyarakat yang masih membuang sampah seperti sampah plastik bekas
minuman di sembarang tempat.
7. Kurangnya perhatian orang tua terhadap anak-anaknya dalam hal kebersihan diri
terutama mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
8. Kurangnya pengetahuan masyarakat bagaimana cara hidup bersih dan sehat
seperti cuci tangan sebelum dan sesudah makan, menggosok gigi, dan lain
sebagainya,

Penyuluhan dan Pengobatan Diare

Penyuluhan dilakukan setiap kali posyandu yaitu Posyandu Lappae dan Posyandu
Lamatti 2 yang dialkukan kepada kader dan masyarakat setempat terutama yang memiliki
anak balita berusia 0-11 bulan. Warga cukup antusias dan setiap kunjungan berulang
sudah mulai mengerti dan aktif memberikan pertanyaan seputar air bersih dan diare.

Selain pengobatan farmakologi pada diare berupa zink, tablet diare, dan antibiotik,
pengobatan non-farmakologi seperti terapi oralit dan cairan tersedia lengkap di
puskesmas. Pasien dengan diare tanpa dehidrasi atau dehidrasi ringan mendapatkan oralit
dan pengobatan farmakologi lainnya sebagai rawat jalan. Pasien yang mengalami diare
dengan dehidrasi sedang sampai berat mendapatkan perawatan khusus di UGD bila perlu
dilakukan rawat inap terutama pasien anak-anak agar intake cairan dapat terjamin.
Makassar, Januari 2017.

Mengetahui

PESERTA PENDAMPING

dr. Andi Ika Hikmah Apriyanty Syam dr. A. Muh. Akram Kastiran

NIP. 19880212 201503 1 004


LAMPIRAN FOTO PENYULUHAN DI POSYANDU