Anda di halaman 1dari 10

PRAKTIKUM VI

PENETAPAN TINGKAT KEPAHITAN

I. TUJUAN
1.1 Memahami prinsip dan kegunaan penetapan tingkat kepahitan
1.2 Melakukan penetapan tingkat kepahitan dari simplisia Daun Pegagan

II. TINJAUAN PUSTAKA

Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat yang belum menglami
pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan
(Depkes RI, 1979). Beberapa simplisia dan ekstrak simplisia memiliki karakteristik rasa
pahit seperti alkaloid dan kinin, simplisia dengan derajat kepahitan yang tinggi banyak
digunakan sebagai bahan jamu. Rasa pahit berguna merangsang sekresi saluran
pencernaan, sehingga bermanfaat sebagai tonik karena berperan sebagai penambah nafsu
makan. Dalam pengukuran 1 unit pahit internasional didefinisikan sebagai rasa pahit
larutan kinin HCl yang diencerkan 1:2000. Dapat juga dinyatakan bahwa unit pahit setara
dengan 1 mg kinin HCl per 2 ml atau 1 g/ml kinin HCl setara dengan 2000 unit pahit
(Brokee et al., 2003).

Secara fitokimia struktur kimia zat pahit sangat bervariasi, antara lain senyawa
seskuiterpen absthintin (Artemisia absthintin vault), alkaloid kuinin dari kulit batang kina
(Cinchona ledgeriana Moens), adapun senyawa pahit pada sambiloto adalah
andrographida. Tanaman sambiloto mempunyai nama latin Andrographis paniculata Ness
memiliki sinonim Justicia paniculata burn; justicia latebrosa Russ. Dengan nama daerah
Papaitan, Ki peurat atau bidara (Depkes RI, 1979). Daun Andrographis paniculata
mengandung saponin, flavonoid, dan tanin juga mengandung zat pahit andrografolida
yang merupakan golongan diterpenoid (Brokee et al., 2003).
Dirjen POM, Departemen Kesehatan RI, menetapkan sambiloto sebagai salah satu
dari 9 tanaman obat unggulan yang sudah diuji secara klinis. Komponen utama sambiloto
adalah andrographolide yang berguna sebagai bahan obat. Disamping itu daun sambiloto
mengandung saponin, alkaloid, flavonoid, tanin. Kandungan kimia lain yang terdapat pada
daun adalah laktone, pannikulin, kalmegin, dan hablur kuning yang memiliki rasa pahit
( Yusrom dkk, 2005).

Pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman yang banyak dimanfaatkan


sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Pegagan mengandung
bahan aktif alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, steroid, dan triterpenoid. Bahan aktif
tersebut merupakan bahan baku obat tradisional yang bermanfaat (Jurnal litbang
pertanian, 2016).

III. ALAT DAN BAHAN


Tabel 1. Alat Dan Bahan

Alat Bahan

Corong penyaring Aquadest

Erlenmeyer 100 mL Brotowali

Gelas ukur 50 mL Herba sambiloto

Labu takar 100 mL Kinin HCl

Bunsen Serbuk simplisia Daun Pegagan

Pipet 5 mL Kertas Saring

Pipet berskala 10 mL

Tabung reaksi 20 buah

Stopwatch/ arloji

IV. PROSEDUR KERJA


4.1 Pembuatan Larutan Stok Kinin HCl dan Pengencerannya
Pertama larutkan 0,1 gram Kinin HCl ke dalam 100 mL air. kemudian ambil 5
mL dan encerkan hingga 500 mL. Larutan ini adalah larutan stok (sq) mengandung
0,01 mg/mL. Lalu dibuat seri pengenceran dalam 9 tabung reaksi.

4.2 Pengenceran Simplisia/Jamu dan Pengencerannya


Membuat ekstrak simplisia dengan memanaskan 0,2 gram simplisia dalam 45
ml air selama 1 jam. Setelah dingin disaring dan volume dijadikan 50 ml. Kemudian
pipet 1 ml ekstrak dan encerkan hingga 100 ml setara dengan 0,04 mg/ml.

4.3 Pemeriksaan Kepahitan

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mencari nilai ambang pahit dari


jamu/simplisia dan larutan kinin pada orang yang sama, caranya adalah, yang pertama
mulut dibilas dengan air. masukkan 10 ml larutan uji ke dalam mulut dan gerakan
disekitar dasar lidah selama 30 detik dimulai dengan konsentrasi yang paling rendah.
Bila tidak memberikan rasa pahit, ludahkan dan tunggu selama 1 menit untuk
mnetukan apakah rasa pahit akan muntul atau tidak. Konsentrasi yang lebih tinggi
dicoba setelah paling tidak 10 menit. Nilai ambang pahit adalah konsentrasi terendah
yang memberikan rasa pahit. Setelah pengujian seri pertama harus menungu 10 menit
sebelum dilakukan pengujian pada seri tahap selanjutnya. Untuk menghemat waktu
pengujian berikutnya dimulai dari tahap no.5. Semua laru˚tan uji harus disimpan pada
suhu 20-25˚C. Orang yang tidak merasakan pahitnya kinin HCl pada 0,058 mg/10 ml
tidak layak digunakan.

V. HASIL PENGAMATAN
5.1 Hasil Pengamatan Tingkat Kepahitan
Tabel 2. Hasil Pengamatan Tingkat Kepahitan

No Konsentrasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 Pegagan - - - - - - - + + + +

2 Kinin HCL - - - - - + + + + + +

3 Bratawali - - - - + + + + + + +

4 Sambiloto - - - - - - - - + + +

Keterangan : (+) Pahit


(-) Tidak Pahit

Tabel 3. Gambar Pengamatan Tingkat Kepahitan

GAMBAR KETERANGAN

Serbuk simplisia daun pegagan dibuat


sebagai larutan stok untuk diencerkan
sesuai konsentrasi yang diinginkan

Larutan uji berbagi konsentrasi siap


digunakan (daun antanan)
Larutan uji daun sambilato berbagai
konsentrasi siap digunakan

Larutan uji daun brotowali berbagai


konsentrasi siap digunakan

5.2 Perhitungan Aktivitas Kepahitan

1. Aktivitas pahit Daun Pegagan

Dik : Konsentrasi daun pegagan: 0,04 mg/ ml

Nilai ambang : 800 ml\10 ml

Daun pegagan : 0,05 mg/ml

Dit : Aktivitas pahit ?

Jawab :

2000 x 0,05
Aktivitas pahit = = 312.1 iu
0,04 x 8

2. Aktivitas Kinin HCL

Dik : Konsentrasi kinin hcl : 0,0g mg/ml


Nilai ambang : 6.00ml/10ml

Kinin HCL : 0,05 mg/ml

Dit : Aktifitas pahit ?

Jawab :

¿
Aktivitas pahit = 200 x 0,005= 0,05 x 6 ¿ = 333 iu

3. Aktivitas pahit Bratawali

Dik : Konsentrasi bratowali : 0,04 mg/ml

Nilai ambang : 500mg/10ml

Bratawali : 0,05 mg/ml

Dik : Aktivitas pahit ?

Jawab :

2000 x 0,05
Aktivitas pahit = = 500 iu
0,05 x 6

4. Aktivitas pahit Sambiloto

Dik : Konsentrasi Sambiloto : 0,04 mg/ml

Nilai ambang : 8.00ml/ 10 ml

Sambiloto : 0,05 mg/ml

Dit : Aktivitas pahit


Jawab :

2000 x 0,05
Aktivitas pahit = = 312 iu
0,04 x 8

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan penetapan tingkat kepahitan. Prinsipnya
berdasarkan penentuan derajat kepahitan dengan indera pengecap dari suatu simplisia
yang dibandingkan dengan zat lain. Simplisia yang digunakan adalah daun antanan
(Centella asiatica). Indeks kepahitan daun antanan ini dibandingkan dengan kepahitan
dari kinin hidroklorida (sebagai standar) dan simplisia lainnya, yaitu brotowali
(Tinospora crispa), dan sambilto (Andrographis paniculata).
Kinin hidroklorida berasal dari kina yang merupakan tanaman obat berupa pohon.
Kulit kina banyak mengandung alkaloid yang berguna untuk obat. Diantara alkaloid
tersebut ada dua alkaloid yang sangat penting yaitu kinine untukpenyakit malaria dan
kinidine untuk penyakit jantung. Manfaat lain dari kulit kina iniantara lain adalah untuk
depuratif, influenza, disentri, diare, dan tonik.
Tanaman Brotowali merupakan tanaman obat yang dapat dijadikan sebagai obat
tradisional pemanfaatannya banyak terdapat pada bagian batang tanaman. Kulit
batangnya mengandung alkaloid dan damar lunak berwarna kuning. Sedangkan akarnya
mengandung zat berberin dan kolumbin. Kandungan alkaloid berberin berguna untuk
membunuh bakteri pada luka. Zat pahit pikroretin dapat merangsang kerja urat saraf
sehingga alat pernapasan bekerja dengan baik dan menggiatkan pertukaran zat sehingga
dapat menurunkan panas. Selain sebagai obat, brotowali juga berfungsi sebagai
penambah nafsu makan dan menurunkan kadar gula dalam darah.
Komponen utama Sambiloto adalah andrographolide yangberguna sebagai bahan
obat. Disamping itu, daun sambiloto mengandungsaponin, flavonoid, alkaloid, dan tanin.
Kandungan kimia lain yang terdapatpada daun dan batang adalah laktone, panikulin,
kalmegin dan hablurkuning yang memiliki rasa pahit.
Penetapan mutu suatu simplisia dalam standarisasi simplisia, dipengaruhi oleh
beberapa parameter. Salah satunya adalah parameter kadar senyawa aktif atau identitas,
dimana salah satu komponen parameternya adalah penentuan derajat kepahitan simplisia.
Alasan derajat kepahitan perlu diperhitungkan, karena rasa pahit dari suatu bahan obat
dapat memiliki efek terapeutik. Rasa pahit dapat meningkatkan sekresi pada saluran
pencernaan, terutama sekresi asam lambung. Dengan meningkatnya sekresi asam
lambung akan membuat seseorang menjadi meningkat nafsu makannya, sehingga dengan
simplisia yang memiliki rasa pahit dapat digunakan sebagai suplemen penambah nafsu
makan.
Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan
yangakandigunakan dalam keadaan bersih dan pembilasan alat menggunakan air minum
karena praktikum berhubungan dengan indera pengecap secara langsung. Kemudian
selanjutnya pembuatan larutan seri pengenceran kinin hidroklorida, brotowali, dan
sambilto sebagai pembanding terhadap indeks kepahitan antanan. Karena kinin,
brotowali, dan sambilto ini terasa pahit dan banyak mengandung alkaloid. Standar
kepahitan dari larutan standar, yaitu 1g/2000 mL atau sebanding dengan 0,05 g/mL.Dan
pelarut yang digunakan adalah air minum karena praktikum langsung berhubungan
dengan indera pengecap. Setelah itu hal yang sama dilakukan pada simplisia daun
antanan, yaitu membuat larutan stok dan larutan seri pengenceran. Standar kepahitan dari
larutan daun antanan, yaitu 1g/2000 mL atau sebanding dengan 0,04 g/mL.
Setelah dibuat larutan seri pengenceran dari larutan stok, makadicicipi dari mulai
tabung pertama. Ternyata pada larutan kinin hidroklorida dirasakanpahit yang cukup kuat
pada tabung keenam. Kininhidroklorida memiliki aktivitas pahit sebesar 333 iu yang
merupakan ambang batas rasa pahit dari praktikan. Pada larutan brotowali dirasakan pahit
yang cukup kuat pada tabung kelima. Brotowali memiliki aktivitas pahit sebesar 500 iu
yang merupakan ambang batas rasa pahit dari praktikan.Lalu pada larutan sambiloto
dirasakan pahit yang cukup kuat pada tabung kedelapan. Sambiloto memiliki aktivitas
pahit sebesar 312 iu yang merupakan ambang batas rasa pahit dari praktikan. Sedangkan
pada larutan daun antanan dirasakan pahit yang cukup kuat pada tabung kedelapan.
Antanan memiliki aktivitas pahit sebesar 312 iu yang merupakan ambang batas rasa pahit
dari praktikan.
Larutanyang dicicipi ditempatkan sedemikian rupa sehingga tertahan dibagian
pangkal lidahkarena disitulah reseptor rasa pahit berada. Ambang batas pahit ini akan
berbeda-beda pada tiap orang. Karena rasa pahit yang timbul dapat dipengaruhi oleh
beberapafaktor. Salah satunya jika orang tersebut tidak suka atau jarang mengkonsumsi
bahanmakanan yang berasa pahit, maka reseptor rasa pahitnya akan sensitif terhadap
rasapahit. Namun jika orang tersebut sudah sering mengkonsumsi bahan makanan
yangberasa pahit, maka reseptor pahit tersebut bergeser kesensitifan pahitnya, sehingga
akan terjadi pergeseran pada ambang batas pahitnya.
Aktivitas kepahitan daun antanan dengan zat yang lainnya yaitu,kinin
hidroklorida, brotowali, dan sambilto menghasilkan hasil yang beragam. Indeks
kepahitan tertinggi ada pada brotowali yang pada tabung kelima sudah dirasakan pahit.
Sedangkan derajat palingrendah terdapat pada sambiloto dan antanan karena pada tabung
kedelapan baru menimbulkan rasa pahit.
Aktivitas kepahitan berperan dalam penentuan takaran atau kadar simplisia
yangharus digunakan agar memiliki efek terapeutik. Karena nilai kepahitan ini
berhubungan erat dengan sekresi asam lambung yang dihasilkan. Setiap simplisia
memiliki aktivitas kepahitan yang berbeda-beda, dan praktikan yang melakukan
pengujian pun akan berbeda-beda merasakannya. Untuk mengurangi banyaknya faktor
yang mempengaruhi perbedaan tersebut, maka simplisia yang akan diuji
derajatkepahitannya harus dirasakan atau dilakukan pengujian dalam waktu yang sama
dandengan orang yang sama. Sehingga dalam rentang waktu tersebut, masing-
masingorang yang melakukan pengujian dikondisikan dalam suatu perlakuan yang sama
dan pengujian harus dilakukan dengan 1 orang dengan orang yang sama karena
sensitifitas setiap orang berbeda-beda, sehingga apabila dilakukan oleh orang yang
berbeda derajat kepahitan yang didapat akan berbeda pula.
Selain untuk penentuan kadar simplisia yang akan digunakan sebagai
penstimulasi nafsu makan, aktivitas kepahitan ini juga berperan dalam pemilihan
bentuksediaan. Seperti dibentuk menjadi kapsul, sirup, pil, danlain-lain. Dengan
mengetahui aktivitas kepahitan, kita dapat memprediksi, dengan sediaan yang bagaimana
simplisia tersebut tidak terlalu dirasakan pahit oleh konsumen sehingga konsumen mau
untuk mengkonsumsi obat tersebut.
VII. KESIMPULAN
7.1 Aktivitas kepahitan berperan dalam penentuan takaran atau kadar simplisia agar
memiliki efek terapeutik dan juga berperan dalam pemilihan bentuk sediaan yang
cocok.
7.2 Penetapan tingkat kepahitan simplisia daun antanan yang dibandingkan dengan zat
lainnya, yaitu kinin hidroklorida (sebagai standar), brotowali, dan sambiloto
menghasilkan aktivitas kepahitan yang beragam. Indeks kepahitan tertinggi ada pada
brotowali yang pada tabung kelima sudah dirasakan pahit. Sedangkan derajat paling
rendah terdapat pada sambiloto dan antanan karena pada tabung kedelapan baru
menimbulkan rasa pahit.

DAFTAR PUSTAKA

Brooke et al. 2003. Perennation of Sclerotium rolfsii var.delphinii in lowa Plant Health
Progress. Plant Management Network

Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia

Jurnal Litbang Pertanian Vol. 35 No.3. 2016. Kandungan Bahan Aktif Tanaman Pegagan
dan Kasiatnya untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuh. Yogyakarta;
Balai pengkajian teknologi pertanian

Yusron dkk,. 2005. Budidaya Tanaman Sambiloto. Badan Peneliti Tanaman Obat dan
Aromatik. Sirkular. No.11

Anda mungkin juga menyukai