Anda di halaman 1dari 11

TELAAH KASUS

TOPIKAL FLUOR

Oleh :
Asih Puspita Putri
1511412008

Pembimbing :
drg. Puji Kurnia, MDSc., Sp. KGA

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
Nama Operator : Asih Puspita Putri (1511412008)
Preseptor : drg. Puji Kurnia, MDSc., Sp.KGA
TandaTangan :

A. LITERATURE REVIEW

a. Karies

Karies adalah penyakit yang dimediasi oleh biofilm, dimodulasi oleh diet,
multifaktoral, tidak menular, dan dinamis yang mengakibatkan hilangnya mineral dari jaringan
keras gigi. Karies ditentukan oleh faktor biologis, perilaku, psikososial, dan lingkungan dan
sebagai konsekuensi dari proses ini, terjadi perkembangan lesi karies. Karies dapat terjadi
sepanjang hidup, baik pada gigi susu maupun permanen, dan dapat merusak mahkota gigi dan,
di kemudian hari dapat mengakibatkan tereksposnya permukaan akar.
Etiologi Karies
Karies gigi merupakan penyakit multifaktoral, dimana terdapat banyak faktor yang
berperan dalam timbulnya karies gigi. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain
dalam menimbulkan karies gigi, yaitu host, substrat (makanan), microorganisme penyebab
karies, dan waktu. Karies gigi ditandai dengan demineralisasi jaringan keras gigi yang diikuti
dengan kerusakan bahan organiknya. Demineralisasi terjadi ketika karbohidrat yang
dikonsumsi, difermentasi oleh bakteri dalam plak/biofilm sehingga menghasilkan asam.
Pembentukan asam akan menurunkan pH rongga mulut di bawah nilai pH kritis yaitu 5,2 - 5,5
dalam waktu 1 – 3 menit. Proses penurunan pH ini akan mengakibatkan terjadinya
demineralisasi jaringan keras gigi. Permukaaan gigi yang mengalami demineralisasi terus
menerus selama waktu tertentu akan berlanjut pada pembentukan kavitas.
Karies pada Anak-anak
Anak-anak memiliki risiko tinggi untuk mengalami karies gigi. Terdapat beberapa
faktor risiko yang dapat memperparah karies, seperti pengalaman karies anak dan oral hygiene
anak, penggunaan fluor, perilaku diet, status sosial ekonomi, dan karies aktif yang dimiliki
oleh ibu. Seluruh tindakan pencegahan baik pencegahan primer, sekunder ataupun tersier harus
berdasarkan pada pemeriksaan klinik dan radiografi, penilaian risiko karies, hasil perawatan
terdahulu, kemajuan dari riwayat karies terdahulu, pilihan dan harapan orang tua dan dokter
gigi akan perawatan serta penilaian kembali pada saat kunjungan berkala. Penilaian tingkat
risiko karies anak secara individu harus diketahui oleh dokter gigi karena semua anak pada
umumnya mempunyai risiko terkena karies dan perawatannya juga berbeda pada setiap
tingkatan. Risiko karies bervariasi pada setiap individu tergantung pada keseimbangan faktor
pencetus dan penghambat terjadinya karies. Risiko karies dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu
risiko karies tinggi, sedang dan rendah. Agar dapat mengidentifikasi risiko karies anak
digunakan suatu penilaian risiko karies. Penilaian risiko karies menurut American Academy of
Pediactric Dentistry :
Indikator
Risiko rendah Risiko sedang Risiko tinggi
risiko karies
Kondisi  Tidak ada gigi  Ada karies selama  Ada karies
klinis yang karies 24 bulan terakhir selama 12 bulan
selama 24 bulan  Terdapat 1 area terakhir
terakhir demineralisasi  Terdapat satu
 Tidak ada enamel (karies area
demineralisasi enamel/white spot demineralisasi
enamel (karies
lesion) enamel (karies
enamel/whitesp
ot)  Gingivitis enamel/white
 Tidak dijumpai spot lesion)
plak, tidak ada  Secara
gingivitis radiografi
dijumpai karies
enamel
 Dijumpai plak
pada gigi
anterior
 Banyak jumlah
s.mutans
 Menggunakan
alat ortodonti
Karakteristik  Keadaan  Keadaan yang  Penggunaan
lingkungan optimal dari suboptimal topikal fluor
penggunaan pengguna fluor yang suboptimal
fluor secara secara sistemik dan  Sering
sistemik dan optimal pada memakan gula
topikal penggunaan topikal atau makanan
 Mengkonsumsi aplikasi yang sangat
sedikit gula atau  Sekali-sekali (satu berhubungan
makanan yang atau dua) diantara dengan karies
diantara waktu
berkaitan erat waktu makan
makan
dengan terkena gula atau
 Status sosial
permulaan makanan yang ekonomi yang
karies terutama sangat berkaitan rendah
pada saat dengan terjadinya  Karies aktif
makan. karies pada ibu
 Status sosial  Status sosial  Jarang kedokter
ekonomi yang ekonomi menengah gigi
tinggi  Kunjungan
 Kunjungan kedokter gigi tidak
berkala teratur
kedokter gigi
secara teratur.

Keadaaan  Anak-anak yang


kesehatan membutuhkan
umum pelayanan
kesehatan
khusus
 Kondisi yang
mempengaruhi
aliran saliva
Sumber : Guidelines on the use of pit and fissures sealants in pediactric dentistry : an EAPD

Pencegahan Karies
Karies gigi biasanya dimulai pada dan di bawah permukaan email (demineralisasi awal
adalah di bawah permukaan), dan merupakan hasil dari proses di mana struktur mineral gigi
didemineralisasi oleh asam organik yang diproduksi oleh biofilm bakteri yang didapat dari
hasil metabolisme karbohidrat yang dapat difermentasi dari makanan, terutama gula. Ketika
asam menumpuk dalam fase cairan biofilm, pH turun ke titik di mana kondisi pada
penghubung biofilm-enamel menjadi tidak jenuh, dan asam secara parsial mendemineralisasi
lapisan permukaan gigi. Hilangnya mineral menyebabkan peningkatan porositas, pelebaran
ruang antara kristal enamel dan pelunakan permukaan, yang memungkinkan asam untuk
berdifusi lebih dalam ke dalam gigi yang mengakibatkan demineralisasi mineral di bawah
permukaan (demineralisasi bawah permukaan). Ketika mineral yang cukup hilang, lesi muncul
secara klinis sebagai bercak putih dan pada tahap ini lesi dapat dihentikan atau dibatalkan
dengan memodifikasi faktor-faktor penyebab atau menerapkan tindakan pencegahan, namun
proses perbaikan biasanya dibatasi pada lapisan permukaan saja (hanya pada karies tahap
awal).
Melalui perubahan dalam ekologi lokal, praktik diet dan ketersediaan fluoride,
perkembangan karies dapat ditahan dan menetap sebagai lesi tidak aktif yang tidak
berkembang tetapi masih dapat dideteksi sebagai bekas luka karena perubahan sifat optik
enamel. Penumpukan produk reaksi, terutama kalsium dan fosfat, sebagai hasil dari larutnya
permukaan dan permukaan dibawahnya meningkatkan derajat kejenuhan. Penumpukan produk
reaksi sebagian dapat melindungi lapisan permukaan dari demineralisasi lebih lanjut. Selain
itu, keberadaan fluorida juga dapat menghambat demineralisasi lapisan permukaan.
Setelah gula dibersihkan dari mulut dengan menelan dan pengenceran saliva, asam
biofilm dapat dinetralkan dengan aksi buffering saliva. pH cairan biofilm kembali ke netralitas
dan menjadi cukup jenuh dengan keberadaan ion kalsium, fosfat dan fluorida sehingga
demineralisasi berhenti dan redeposisi mineral (remineralisasi) terjadi. Karena sifat dinamis
dari proses perkembangan karies, tahap awal karies dapat dikembalikan atau dihentikan
terutama dengan keberadaan fluoride.

2. Topikal Aplikasi Fluor


Tindakan pencegahan yang dimulai sedini mungkin dibutuhkan agar tidak terjadi
peningkatan prevalensi karies. Salah satu tindakan pencegahan karies yang dapat dimulai
sedini mungkin yaitu topikal aplikasi fluor. Topikal aplikasi fluor merupakan tehnik yang
sederhana untuk aplikasi larutan fluor yang dapat dilakukan oleh praktisi gigi dan dapat
diaplikasikan dengan mudah. Fluoridasi topikal ini sangat dianjurkan pada gigi anak yang baru
erupsi di dalam mulut untuk memperkuat lapisan email gigi.
Untuk kesehatan gigi yang optimal, penting untuk menjaga homeostasis mineral
permukaan gigi. Gigi seringkali terpapar oleh kondisi asam baik dari biofilm atau asam
makanan, sehingga kemampuan untuk remineralisasi sangat penting untuk menjaga integritas
gigi. Fluor secara topikal memiliki 3 mekanisme aksi kerja yaitu melalui peningkatan
remineralisasi, pencegahan demineralisasi, dan penghambatan glikolisis bakteri.
Fluor adalah zat kimia inorganik anion yang sangat elektronegatif dan merupakan
elemen reaktif. Fluor biasanya berikatan dan tidak ditemukan dalam keadaan tunggal, karena
kereaktifannya. Struktur kristal fluor lebih tahan terhadap asam sehingga dapat menghambat
proses inisiasi dan progresi karies. Fluor bekerja dengan cara menghambat metabolisme
bakteri plak yang dapat memfermentasi karbohidrat melalui perubahan hidroksilapatit pada
enamel menjadi fluorapatit yang lebih stabil dan lebih tahan terhadap pelarutan asam. Fluor
menghasilkan enamel yang lebih tahan terhadap asam dan dapat menghambat proses
demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi yang merangsang perbaikan dan penghentian
lesi karies.
Fluor akan menyerap ke permukaan kristal yang terdemineralisasi sebagian dan
menarik ion kalsium membentuk endapan calcium fluoride/CaF2 (lapisan pelindung terhadap
asam) pada permukaan enamel. Pada saat pH rendah maka CaF2 akan larut dalam asam,
kalsium akan membentuk ikatan dengan fosfat (kalsium fosfat) sementara sebagian fluoride
membentuk fluor hibrida/HF (menurunkan produksi asam oleh bakteri) dan sebagian fluor
lainnya bereaksi dengan kalsium fosfat membentuk fluoroapatit. Fluoroapatit lebih resisten
terhadap asam (pH kritis <4,5) dibandingkan hidroksiapatit (pH kritis <5,5) dan bila pH
berada di atas tingkat kritis maka terjadilah remineralisasi.
Penggunaan fluor secara topikal dibagi menjadi 2 yaitu : fluor yang diaplikasikan oleh
diri sendiri berupa pasta gigi dan obat kumur serta fluor yang diaplikasikan oleh tenaga
profesional berupa gel dan varnish. Fluor topikal yang diaplikasikan oleh tenaga profesional
umumnya memiliki konsentrasi 2% natrium fluoride (NaF), 1,23% acidulated phosphate
fluoride (APF), dan 8% stannous fluoride (SnF2).
Keuntungan dari NaF yaitu relatif stabil saat disimpan dalam kontainer plastik, rasanya
yang dapat diterima oleh pasien, tidak bersifat mengiritasi gingiva, tidak menyebabkan
perubahan warna gigi dan kering dalam waktu 3 menit ketika diaplikasikan pada gigi sehingga
tidak membutuhkan waktu kerja yang lama. Kerugian dari penggunaan NaF yakni
membutuhkan kunjungan ke dokter gigi sekitar 4 kali dalam waktu yang relatif singkat.
Sediaan APF berupa gel dan cairan yang mengandung 1,23% fluor. Keuntungan
penggunaan APF yaitu hanya membutuhkan dua kali aplikasi dalam satu tahun dan gel APF
dapat digunakan secara mandiri oleh pasien sehingga menghemat biaya. APF lebih sering
digunakan karena memiliki sifat yang stabil, tersedia dalam bermacam-macam rasa, tidak
menyebabkan pewarnaan pada gigi dan tidak mengiritasi gingiva. Bahan ini tersedia dalam
bentuk larutan atau gel, siap pakai, merupakan bahan topikal aplikasi yang banyak di pasaran
dan dijual bebas. APF dalam bentuk gel sering mempunyai tambahan rasa seperti rasa jeruk,
anggur dan jeruk nipis. Kerugiaan penggunaan APF yaitu tidak dapat disimpan dalam
kontainer kaca dan prosedur kerjanya yang lebih rumit.
Stannous fluoride (SnF2) memiliki daya hambat yang baik terhadap pembentukan plak
dan asidogenik plak. Efek ini lebih disebabkan oleh ion stannous dibandingkan ion fluor.
Keuntungan penggunaan SnF2 yaitu frekuensi pemakaian sekali dalam satu tahun dan
memiliki efek antibakterial yang baik. Kerugiaan dari penggunaan SnF 2 yaitu bersifat tidak
stabil karena mudah mengalami hidrolisis dan oksidasi, rasa yang tidak enak, dapat
menyebabkan iritasi jaringan gingiva, serta terjadinya pigmentasi warna gigi setelah
pemakaian.
Indikasi dan Kontra Indikasi Penggunaan Fluor

Indikasi Kontraindikasi
Pasien yang berisiko tinggi untuk karies pada Pasien anak dengan resiko karies rendah
permukaan gigi yang halus

Pasien yang berisiko tinggi untuk karies pada Pasien yang tinggal di kawasan dengan air
permukaan akar minum berfluor

Kelompok pasien khusus, seperti : pasien Ada kavitas besar yang terbuka
yang menggunakan alat ortodontik, pasien
dengan penurunan aliran saliva
Anak-anak dengan kelainan motorik,
sehingga sulit untuk membersihkan gigi
(contoh: Down Syndrome)
Anak-anak yang gigi molar pertama
tetapnya sudah erupsi tapi tidak diindikasikan
melakukan tindakan pit fissure
Pasien dengan fix prothesa atau lepasan dan
telah dilakukan restorasi

B. DATA PASIEN

Nama Pasien : Hasbi Halim Pradika


Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 10 tahun
Alamat : Jati
No. RM : 16631

C. ODONTOGRAM
UE UE UE UE
UE PE UE

D. PEMERIKSAAN INTRA ORAL

Tampak Depan

Tampak Samping Kiri Tampak Samping Kanan


Rahang Atas Rahang Bawah

E. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
 Diagnostik set
 Saliva ejector
 Microbrush
 Topical fluoride tray
2. Bahan
 Cotton roll
 Cotton pellet
 Bahan topikal fluor (gel)

F. PROSEDUR PEKERJAAN

1. Lakukan control plak sampai 0%, instruksikan pasien untuk menyikat gigi. Awasi anak
yang sedang menyikat gigi dan lanjutkan dengan flossing jika memungkinkan. Sisa
makanan harus dihilangkan sebelum aplikasi fluor.
2. Isolasi daerah kerja dengan menggunakan saliva ejector dan cotton roll. Isolasi bertujuan
untuk mencegah kontaminasi fluor dengan saliva karena dapat menyebabkan pengenceran
fluor.
3. Keringkan gigi yang telah diisolasi dengan air syringe.
4. Masukkan gel kedalam tray sebanyak 5ml gel atau 1/3 tray, kemudian insersikan tray
keseluruh permukaan gigi yang telah diisolasi. Jaga agar tray tidak mengenai gusi. Biarkan
gigi tertutup larutan gel selama 4 menit. Lakukan insersi terlebih dahulu pada rahang atas,
setelah itu pada rahang bawah.
5. Setelah 4 menit, buka tray dan bersihkan larutan gel fluor dari permukaan gigi
menggunakan cotton roll, tapi jangan berusaha membersihkan larutan dari permukaan
aproximal.
6. Instruksikan pasien untuk meludahkan semua gel yang tersisa, tapi jangan berkumur.
7. Intruksikan pada pasien untuk tidak makan dan minum selama 30 menit setelah perawatan
untuk memperpanjang kontak fluor dengan permukaan gigi.
KEPUSTAKAAN

Pitts, N. B., Zero, D. T., Marsh, P. D., Ekstrand, K., Weintraub, J. A., Ramos-Gomez, F., ...
& Ismail, A. (2017). Dental caries. Nature reviews Disease primers, 3(1), 1-16.
Ferreira de Oliveira, M., Celeste, R. K., Rodrigues, C., Marinho, V., & Walsh, T. (2018).
Topical fluoride for treating dental caries. The Cochrane Database of Systematic
Reviews, 2018(2).
Ijaz, S., Marinho, V., Croucher, R., Onwude, O., & Rutterford, C. (2018). Professionally
applied fluoride paint‐on solutions for the control of dental caries in children and
adolescents. The Cochrane Database of Systematic Reviews, 2018(5)
Annisa, A., & Ahmad, I. (2018). Mekanisme fluor sebagai kontrol karies pada gigi
anak. Indonesian Journal of Paediatric Dentistry, 1(1), 63-69.
Sirat, N. M. (2014). Pengaruh Aplikasi Topikal dengan Larutan NaF dan Snf2 dalam
Pencegahan Karies Gigi. Jurnal Kesehatan Gigi (Dental Health Journal), 2(2), 222-
232.
Petersen, P. E., & Ogawa, H. (2016). Prevention of dental caries through the use of fluoride–
the WHO approach. Community Dent Health, 33(2), 66-68.