Anda di halaman 1dari 6

NAMA : DAHLIA MEI PRISTA

NIM :160254241015
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS RAJA ALI HAJI
2017
Review Jurnal Oseanografi

I. A. Judul Penelitian
Jurnal Penelitian IPB
B. Nama Penulis
Khairul Amri , Djisman Manurung , Jonson L. Gaol , Mulyono S. Baskoro
C. Nama Jurnal
KARAKTERISTIK SUHU PERMUKAAN LAUT
DAN KEJADIAN UPWELLING FASE INDIAN OCEAN DIPOLE MODE POSITIF
DI BARAT SUMATERA DAN SELATAN JAWA BARAT

II.Latar Belakang masalah

Perairan pesisir sekitar Estuari Cisadane merupakan daerah yang potensial bagi
pembagunan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Perairan ini telah lama
dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kegiatan transportasi, perikanan, rekreasi
dan sebagainya. Perairan ini merupakan daerah peralihan antara wilayah daratan dan
laut lepas, sehingga ada interaksi diantaranya. Faktor-faktor yang mempenagruhi suhu
permukaan air laut dan suhu udara ialah keseimbangnan kalor dan keseimbangan
masa air di lapisan permukaan laut. Faktor meteorologi yang mengatur keseimbangan
ialah curah hujan, penguapan, kelembaban, suhu udara, kecepatan angin,
penyinaranFaktor-faktor yang mempengaruhi distribusi suhu dan salinitas di perairan
ini adalah penyerapan panas (heat flux), curah hujan (presipitation), aliran sungai
(flux) dan pola sirkulasi arus. Perubahan pada suhu dan salinitas akan menaikan atau
mengurangi densitas air laut di lapisan permukaan sehingga memicu terjadinya
konveksi ke lapisan bawah matahari dan suhu permukaan laut itu sendiri. Kondisi
iklim mempunyai peran utama terhadap permukaan air laut, sehingga di Indonesia
mempunyai empat musim. Pola arus pada perairan muara pada umumnya
dibangkitkan oleh tiga gaya dasar yang bekerja sekaligus yaitu pasang surut, angin
dan aliran sungai itu sendiri. Kecepatan arus di perairan pantai sangat bergantung
kepada musim dalam an arus pasut serta arus sungai. Perairan Cisadane yang
berdekatan dengan Teluk Jakarta dengan sungainya cukup besar, maka pengaruh
daratan akan cukup berpengaruh yang ditandai oleh adanya arus sungai, salinitas
rendah dan kenaikan suhu. Karena kedekatan antara Teluk Jakarta dengan peraiaran
Cisadane maka suhu atau salinitas yang terbawa oleh arus sudah diperkirakan akan
berubah. Kekuatan arus dalam Teluk Jakarta lebih lemah dari kekuatan arus diluar
teluk

Pada perairan muara Cisadane yang lebih dominan adalah gaya pembangkit pasang
surut, sedangkan gaya pembangkit oleh angin dan aliran Sungai Cisadane akan
memperkecil, yaitu jika arah angin bersebrangan dengan arus pasut, dan sebaliknya
jika arah angin searah dengan arus pasut, maka arus akan bertambah. Sedangkan arus
sungai akan diteruskan secara cepat jika arus pasut sedang surut, sebaliknya jika arus
pasut menuju kearah darat, maka arus sungai akan dihambat, dengan hasil salinitas
lebih tinggi akan mengalir dibawahnya arus sungai yang selalu mengarah kearah laut
dan bersalinitas rendah sekali (freshwater).

III. Masalah/ Pertanyaan Penelitian


- Perubahan Salinitas dan suhu pada perairan cisadane.

IV. Hipotesis

V. Metode

- Jenis/ Metode Penelitian


Penelitian ini dilakukan dari januari 2010 hingga Desember 2011. Lokasi penelitian di
perairan Samudera Hindia timur Wilayah perairan Indonesia barat.

- Metode Penelitian.
- Data oseanografi yang digunakan berasal dari citra satelit dan data in-situ
1994-2009
- Memakai Citra SPL
- Memakai CTD Instrument dari kapal Baruna Jaya.
- Memakai Data buoys.

1. Observasi
Observasi merupakan langkah awal dalam melakukan penelitian, observasi dilakukan
untuk mengetahui secara detail dengan data-data akurat yang sudah dimiliki maupun
yang belum dimiliki.

VI. Hasil Penelitian

Selama rentang 1994-2009 terdapat 7 tahun fase IODM positif yaitu: 3 tahun kategori
positif kuat (1994, 1997 dan 2006) dan 4 tahun positif lemah (2002, 2003, 2007 dan
2008). Jika dikaitkan dengan kejadian ENSO (El Niño Southern Oscillation), fase
IODM positif kuat (1994) diikuti El Niño moderate (sedang). Adapun Tahun 1997
IODM positif kuat in-phase El Niño kuat (strong El Niño) dan 2006 IODM positif
kuat berasosiasi dengan El Niño lemah. Sementara IODM positif lemah, Tahun 2002
berasosiasi dengan El Niño lemah; Tahun 2003 berasosiasi dengan ENSO normal;
Tahun 2007 berasosiasi dengan La Niña lemah; dan Tahun 2008 berasosiasi dengan
ENSO normal. Tahun-tahun kejadian IODM dan ENSO dapat dilihat dari nilai indeks
DMI dan NINO 3.4 (Gambar 2). Independensi IODM terhadap ENSO selama 127
tahun terakhir terjadi 14 kejadian IODM positif dan 19 kejadian IODM negatif kuat
serta 5 kejadian IODM positif dan 7 kejadian IODM negatif bersamaan dengan ENSO
(Saji et al. (1999) dan Rao et al. (2002)). IODM positif yang bersamaan (in-phase)
dengan El Niño memperkuat pengaruh El Niño di wilayah Indonesia, sebaliknya
IODM negatif bersamaan dengan El Niño akan mengurangi dampak El Niño.
Kejadian IODM positif 2006, 2007 dan 2008 tiga tahun berturut-turut, merupakan
peristiwa langka dan pernah terjadi hampir satu abad yang lalu, yaitu Tahun 1913 dan
1914. Intensitas upwelling yang terjadi di barat Sumatera dan selatan Jawa Barat
terkait indeks DMI (Dipole Mode Index). Intensitas upwelling dapat dilihat dari SPL
terendah dan juga luasan massa air upwelling. Intensitas upwelling pada
masing-masing fase IODM juga terkait dengan osoasiasinya dengan ENSO (El
Niño/La Niña) berikut intensitas ENSO tersebut (kuat-sedang-lemah). Upwelling
ditemukan di perairan selatan Jawa Barat pada fase IODM normal (kecuali pada 2001)
yaitu pada 1995, 1999, 2000, 2004 dan 2009 dan fase IODM positif lemah (2003,
2007 dan 2008) serta fase IODM positif kuat pada 1994, 1997 dan 2006. Tidak
ditemukannya indikasi upwelling di selatan Jawa Barat pada fase IODM normal pada
2001, diduga angin muson tenggara pada musim timur bertiup lemah. Lemahnya
tiupan angin muson tenggara diduga terkait dengan asosiasi dipole mode.

Jadi mekanisme utama terjadinya upwelling di perairan barat Sumatera dan selatan
Jawa adalah “Ekman pumping”, pengisian kekosongan massa air permukaan di
perairan pantai oleh massa air dalam. Kejadian upwelling pada musim timur terjadi
ketika tiupan angin muson tenggara menguat. Intensitasnya meningkat tajam ketika
terjadi penyimpangan iklim berupa IODM positif dan disertai El Niño. Hal ini sesuai
dengan yang disebutkan Chang (2005), menyatakan keterlibatan fenomena iklim
terhadap variabilitas laut-atmosfer di Samudera Hindia, yang dominan selain muson
(angin musim) adalah Dipole Mode (DM) dan El Nino Southern Oscillation (ENSO)
dengan siklus waktu dari musiman sampai antar tahunan. Sementara Gaol (2003)
menyebutkan saat kejadian dipole mode positif, terjadi anomali kecepatan angin
mengakibatkan terjadinya upwelling cukup intensif di sepanjang pantai selatan Jawa.
Adapun fenomena dengan siklus di bawah musiman seperti Madden-Julian
Oscillation (MJO) lebih berperan mempengaruhi variabilitas cuaca dalam skala lokal
dan siklus di atas antar tahunan seperti Pacific Decadal Oscillation (PDO) lebih
berperan sebagai indikator fase hangat dan dingin dari perubahan iklim global yang
berkaitan dengan pemanasan global (global warming) dalam skala dunia (Waliser et
al., 2006; Yon & Yeh, 2010).
VII. Review/ Komentar

Secara konten keseluruhan jurnal ini sudah terlihat sangat baik dalam hal
mendeskripsikan apa yang ingin disampaikan oleh peneliti. Karena penelitian ini
termasuk penelitian yang menggunakan metode secara pendataan dengan
mengunakan alat dan langsung ke lapangan yakni dengan observasi. Deskripsi yang
detail, sistematik dan mendalam sangat diperlukan untuk menunjukkan data-data serta
bukti yang kuat dalam sebuah jurnal. Kemudian dari segi pendataan, meskipun dalam
penelitian obesrvasi yang disampaikan berdasarkan dengan kebutuhan penelitian,
namun akan lebih baik lagi jika ditambahkan poin masalah atau pertanyaan penelitian.
Hal ini tentunya akan membantu peneliti untuk mempermudah dalam hal
mengkategorikan atau mengklasifikasikan tujuan penelitiannya. Seperti pertanyaan
“apakah dengan tingkat permukaan suhu dapat membantu para budidaya ikan
berkembang pesat?” atau “apakah dengan adanya upwelling dapat membuat perairan
tersebut dilimpah?” .

VIII. Abstrak Jurnal

Indian Ocean Dipole Mode (IOD/IODM) adalah fenomena inter-annual berupa dua
kutub massa air dengan karakteristik suhu permukaan laut (SPL) yang menyimpang
dari normalnya. Anomali iklim ini mempengaruhi sejumlah parameter oseanografi
termasuk terjadinya upwelling yang intensif. Tujuan penelitian ini adalah memahami
karakteristik SPL dan upwelling di Samudera Hindia bagian timur (perairan barat
Sumatera dan selatan Jawa Barat) selama proses pembentukan, pematangan dan
peluruhan IODM positif dalam rentang Tahun 1994-2009. Hasil penelitian
menunjukkan proses awal pembentukan IODM terjadi pada musim peralihan 1 (Mei),
pada saat tersebut terjadi penguatan Arus Khatulistiwa Selatan diiringi pendinginan
massa air (penurunan SPL). Fase pematangan terjadi pada musim timur (Juni-Agustus)
dan fase peluruhan terjadi pada musim peralihan 2 menuju awal musim barat
(November) ditandai dengan menghangatnya SPL. Pada saat berlangsungnya musim
timur di perairan selatan Jawa dan barat Sumatera terjadi upwelling. Upwelling yang
intensif terjadi pada fase IODM positif kuat yang berasosiasi dengan El Niño sedang
Tahun 1997.

IX. Referensi

Chang, C.P. (2005). The maritime continent monsoon:


The global monsoon system: research and
forecast. Chang CP, Wang B, Lau NCG, editor.
Report of the International Committee of the Third
International Workshop on Monsoons (IWM-III).
TD No. 1266. WMO. Geneva. hlm 156- 178.
Gaol, J. L., (2003). Kajian Karakter Oseanografi
Samudera Hindia Bagian Timur dengan
Menggunakan Multi Sensor Citra Satelit dan
Hubungannya dengan Hasil Tangkapan Ikan
Tuna Mata Besar (Thunnus obesus). Disertasi.
Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
McMillin, L. M. , & Crosby, D.S. (1984). Theory and
Validation of the Multiple Window Sea Surface
Temperature. J. Of Geophys. Res. 89: 3655-3661