Anda di halaman 1dari 22

BAB 5

DINAMIKA HIDROSFER DAN DAMPAKNYA BAGI KEHIDUPAN

A. Materi Inti
1. PERTEMUAN PERTAMA
A. Pengertian dan Ruang Lingkup Hidrosfer
Hidrosfer berasal dari bahasa Yunani, yaitu hidros artinya air, dan sphere
artinya lapisan. Hidrosfer adalah lapisan air yang terdapat di bumi yaitu meliputi air
yang ada di permukaan maupun di bawah permukaan bumi (air tanah). Hidrosfer
dapat diartikan semua air yang berada di bumi, baik dalam bentuk cair (air), padat (es
dan salju), dan gas (uap air). Hidrosfer meliputi samudra, laut, sungai, danau, air
tanah, mata air, hujan, dan air yang berada di atmosfer. Cabang ilmu geografi yang
mempelajari tentang air adalah hidrologi.
Jumlah air di bumi relatif tetap, yaitu sekitar 1.386 miliar km 3, sebanyak 97%
dari jumlah tersebut adalah air asin yang berasal dari lautan. Air tawar yang
merupakan kebutuhan utama manusia di dunia tidak lebih dari 1% dari keseluruhan
air yang tersedia di dunia (Manning, 1987). Volume air relatif tetap karena air di bumi
senantiasa bergerak dalam suatu lingkungan perputaran yang disebut siklus air.

B. Siklus Hidrologi
Siklus air/siklus hidrologi adalah serangkaian tahapan yang dilalui air dari
atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer. Perubahan yang dialami air di Bumi
hanya terjadi pada sifat, bentuk, dan persebarannya. Siklus air terjadi dengan bantuan
penyinaran matahari. 
1. Jenis-Jenis Siklus Hidrologi
a. Siklus air pendek
Radiasi matahari dan angin menyebabkan air laut mengalami penguapan.
Kemudian terjadi kondensasi dan membentuk titik-titik air yang disebut awan.
Awan yang jenuh turun sebagai air hujan di permukaan air laut.
b. Siklus air sedang
Air laut mengalami penguapan, kemudian terjadi kondensasi dan membentuk
awan. Awan tertiup angin dan terbawa ke daratan kemudian terjadi hujan di
daratan. Sebagian air hujan akan meresap ke dalam tanah, mengalir ke
permukaan, dan akhirnya menuju ke laut.
c. Siklus Panjang
Air laut mengalami penguapan, lalu terjadi kondensasi dan membentuk awan.
Awan ini terbawa ke daratan dan terjadi hujan berupa hujan salju dan es. Salju
dan es kemudian mengendap di permukaan tanah dan pada musim semi mulai
mencair. Air tersebut kemudian sebagian akan meresap ke dalam tanah dan
sebagian lagi akan mengalir ke permukaan tanah, dan akhirnya menuju ke
laut.

2. Proses terjadinya siklus hidrologi


a. Evaporasi
Evaporasi merupakan proses berubahnya air menjadi uap air yang disebabkan
oleh energi matahari yang terjadi pada tubuh air seperti sungai, laut.
b. Transpirasi
Tranpirasi merupakan proses berubahnya air yang berasal dari tumbuhan
menjadi uap air. Transpirasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: suhu,
pergerakan angin, kelembaban udara, kelembaban tanah, dan jenis tumbuhan.
c. Evaprotranspirasi
Evaoptranspirasi merupakan gabungan penguapan melalui evaporasi dan
transpirasi.
d. Sublimasi
Sublimasi merupakan proses penguapan es tanpa mengalami pencairan terlebih
dahulu. Biasanya terjadi di puncak gunung yang tinggi dan kutub.
e. Kondensasi
Kondensasi merupakan proses perubahan uap air menjadi sebuah partikel kecil
berisikan air. Contohnya seperti awan dan kabut.
f. Adveksi
Adveksi adalah perpindahan awan dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Perpindahan ini dipengaruhi oleh tekanan udara dan arah angin.
g. Presipitasi
Presipitasi merupakan proses mencairnya uap air yang jatuh ke bumi. Biasanya
berupa hujan, hujan salju, hujan es, kabut, dan graupel.
h. Runoff
Runoff merupakan pergerakan aliran air di atas permukaan tanah
akibat hujan yang datang lebih cepat dari pada penyerapan yang dilakukan oleh
tanah.
i. Infiltrasi
Infiltrasi merupakan proses pemyerapan air hujan kedalam pori-pori tanah yang
di perngaruhi oleh gaya gravitasi.
j. Perkolasi
Perkolasi adalah lanjutan dari infiltrasi dimana air mengalir ke bawah secara
gravitasi dari suatu lapisan tanah ke lapisan di bawahnya, sehingga mencapai
permukaan air tanah pada lapisan jenuh.

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)


1. Perhatikan gambar di bawah ini! Isilah kotak yang kosong berdasarkan
komponen hidrologi!

2. Cocokkanlah istilah dengan pengertiannya pada table berikut ini dengan


menuliskan pasangannya pada kolom pilihan!
No Komponen Pilihan No Pengertian
Siklus Hidrologi
1. Transpirasi 1-F A Penguapan benda-benda abiotik dan
merupakan proses perubahan wujud
air menjadi gas. Penguapan di bumi
80% berasal dari penguapan air
laut.
2. Kondensasi ......... B Proses gabungan antara evaporasi
dan transpirasi
3. Intersepsi ......... C Perubahan wujud secara langsung
dari air padat (salju atau es) untuk
uap air.
4. Infiltrasi ......... D Proses bergeraknya air melalui
profil tanah karena tenaga grafitasi.
5. Run Off ......... E Perembesan atau pergerakan air ke
dalam permukaan tanah melalui
pori tanah.
6. Perkolasi ......... F Proses pelepasan uap air dari
tumbuh-tumbuhan melalui stomata
atau mulut daun.
7. Evaporasi ......... G Merupakan pergerakan aliran air
dipermukaan tanah melalui sungai
dan anak sungai.
8. Evapotranspirasi ......... H Hujan turun di hutan yang lebat,
tetapi air tidak sampai ke tanah,
akibat intersepsi, air hujan tertahan
oleh daun-daunan dan batang
pohon.
9. Sublimasi ......... I Merupakan proses perubahan wujud
uap air menjadi air akibat
pendinginan
10 Presipitasi ......... J Perubahan wujud secara langsung
. dari air padat (salju atau es) untuk
uap air.

2. PERTEMUAN KEDUA
A. Air Permukaan
Air permukaan adalah bagian dari air hujan yang tidak mengalami infiltrasi
(peresapan), atau air hujan yang mengalami peresapan dan muncul kembali ke
permukaan bumi sebagai mata air. Mata air yang muncul di permukaan bumi akan
mengalir sebagai air permukaan.
a. Sungai
Sungai adalah air tawar yang mengalir dari sumbernya di daratan menuju dan
bermuara di laut, danau, atau sungai lain yang lebih besar. Daerah sungai dibagi
menjadi 3 yaitu:
1) Hulu
Pada umunya terletak pada dataran tinggi. Badan sungai sempit dengan
kecepatan aliran cukup besar sehingga erosi bagian dasar lebih besar daripada
bagian tepi.
2) Tengah
Lembah menyerupai huruf U. Kecepatan aliran mulai kecil sehingga partikel
besar mulai diendapkan pada bagian tepi sungai.
3) Hilir
Air mengalir sangat lambat sehingga hanya partikel berukuran kecil yang
masih mampu mengalir.
Klasifikasi Sungai
1) Berdasarkan debit dan volumenya
a) Sungai episodik atau sungai permanen
Sungai yang memiliki volume dan debit air yang relatif konstan sepanjang
tahun.
b) Sungai periodik atau sungai non permanen
Sungai yang volume dan debit airnya tinggi di musim penghujan dan kering
dimusim kemarau.
c) Sungai ephemeral
Sungai yang terisi air jika terjadi hujan dan selanjutnya kering kembali.
2) Berdasarkan sumber airnya
a) Sungai hujan
Sungai yang sumber airnya berasal dari resapan air hujan, kemudian keluar
sebagai mata air.
b) Sungai gletser
Sungai yang sumber airnya berasal dari gletser. Sungai gletser hanya ada
di daerah bersalju dan es. Di Indonesia ada di bagian hulu sungai
membramo dan digul.
c) Sungai campuran
Sungai gletser yang mendapat tambahan air hujan, seperti sungai di bagian
tengah dan hilir di papua.
3) Berdasarkan genetiknya

Gambar E.2 Pembagian sungai berdasar genetiknya


Sumber : www.agrobisnisinfo.com
a) R (sungai Resekuen)
Sungai yang mengalir searah dengan kemiringan batuan. Sejajar dengan
sungai konsekuen. Merupakan anak sungai subsekuen yang terbentuk
setelah sungai konsekuen dan sungai subsekuen pada bidang erosi yang
baru dan pada level lebih rendah.
b) K (sungai Konsekuen)
Sungai yang alirannya searah dengan kemiringan batuan yang dilaluinya.
Terdapat dua jenis sungai konsekuen.
 Konsekuen lateral : menuruni lereng-lereng asli yang ada di
permukaan bumi seperti dome, pegunungan blok, atau dataran yang
baru terangkat.
 Konsekuen longitudinal : memiliki aliran sejajar dengan bagian puncak
gelombang pegunungan.
c) O (sungai Obsekuen)
Sungai yang mengalir berlawanan arah dengan kemiringan struktur batuan
dan juga sungai konsekuen.
d) S (sungai Subsekuen)
Sungai yang mengalir sejajar dengan arah perlapisan. Mengalir pada
bidang yang relatif tahan erosi. Umumnya tegak lurus dengan sungai
konsekuen.

Pola Aliran Sungai


1) Pararel, adalah pola aliran yang terdapat pada suatu daerah yang luas dan miring
sekali, sehingga gradient dari sungai itu besar dan sungainya dapat mengambil jalan ke
tempat yang terendah dengan arah yang kurang lebih lurus. Pola ini misalnya dapat
terbentuk pada suatu coastal plain (dataran pantai) yang masih muda yang lereng aslinya
miring sekali kea rah laut.
2) Rectangular, adalah pola aliran yang terdapat pada daerah yang mempunyai struktur
patahan, baik yang berupa patahan sesungguhnya atau hanya joint (retakan). Pola ini
merupakan pola aliran siku2.
3) Angulate, adalah pola aliran yang tidak membentuk sudut siku2 tetapi lebih kecil atau
lebih besar dari 90o. di sini masih kelihatan bahwa sungai2 masih mengikuti garis2
patahan.
4) Radial Centrifugal, adalah pola aliran pada kerucut gunung berapi atau dome yang
baru mencapai stadium muda dan pola alirannya menuruni lereng2 pegunungan.
5) Radial Centripetal, adalah pola aliran pada suatu kawah atau crater dan suatu kaldera
dari gunung berapi atau depresi lainnya, yang pola alirannya menuju ke pusat depresi
tersebut.
6) Trellis, adalah pola aliran yang berbentuk seperti trails. Di sini sungai mangalir
sepanjang lembah dari suatu bentukan antiklin dan sinklin yang pararel.
7) Annular, adalah variasi dari radial pattern. Terdapat pada suatu dome atau kaldera
yang sudah mencapai stadium dewasa dan sudah timbul sungai consequent, subsequent,
resequent dan obsequent
8) Dentritic, adalah pola aliran yang mirip cabang atau akar tanaman. Terdapat pada
daerah yang batu2annya homogen, dan lereng2nya tidak begitu terjal, sehingga
sungai2nya tidak cukup mempunyai kekuatan untuk menempuh jalan yang lurus dan
pendek.

Manfaat sungai bagi kehidupa manusia:


1) Menampung dan mengalirkan air hujan.
2) Pembangkit listrik.
3) Pusat dari ekosistem.
4) Sumber mata pencaharian.
5) Sebagai tempat wisata.
6) Sumber air kehidupan.
7) Pencegah banjir.

b. Danua
Danau adalah suatu genangan air dalam jumlah besar yang menempati cekungan
dan terletak di wilayah daratan. Air yang menggenangi danau dapat berasal dari mata
air, air tanah, air sungai yang bermuara di danau tersebut atau berasal dari air hujan.

Gambar E.12 Danau Maninjau di Sumatera Barat


Sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/8a/Panoramaninjau.jpg
Suatu genangan dapat disebut danau apabila memiliki tiga syarat ini:
1) Mempunyai permukaan air yang cukup luas sehingga mampu menimbulkan
gelombang.
2) Air cukup dalam sehingga terdapat strata suhu pada kedalaman air tersebut.
3) Vegetasi yang mengapung tidak cukup untuk menutupi seluruh permukaan
danau.
a. Klasifikasi Danau
1) Berdasarkan Jenis Airnya
a) Danau Air Asin
Dikatakan danau air asin karena airnya asin. Pada umumnya danau air
asin terdapat di daerah semiarid dan arid dimana terjadi proses
penguapan yang sangat kuat dan danau bersifat tertutup sehingga air yang
ada tidak terganti. Ketika danau mengering, terdapat lapisan garam di
dasar danau. Contoh : Great Salt Lake di Amerika Serikat.

Gambar E.13 Great Salt Lake


Sumber: https://cache-graphicslib.viator.com/graphicslib/page-
images/360x240/166945_shutterstock_135015434.jpg
b) Danau Air Tawar
Dikatakan danau air tawar karena airnya tawar. Danau air tawar terutama
terdapat di daerah-daerah yang beriklim humid (basah) dengan curah
hujan tinggi. Pada umumnya jenis danau ini mendapatkan sumber air dari
hujan dan mengalirkan airnya kembali ke laut sehingga termasuk dalam
danau terbuka. Contohnya adalah danau-danau yang ada di Indonesia.

Gambar E.14 Danau Toba, termasuk Danau Air Tawar


Sumber: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?
q=tbn:ANd9GcQrfCjcd43pQ15CVA8TPgIFe8-wrT3ud2MBcl9nvtY4Z_vR8s7PFA
2) Berdasarkan Proses Tebentuknya
a) Danau Tektonik
Pada dasarnya yang dimaksud dengan danau tektonik adalah danau yang
terbentuk akibat peristiwa tektonik seperti gempa bumi. Peristiwa gempa
tersebut akan berujung pada fault atau suatu kejadian dimana permukaan
tanah mengalami patahan. Selanjutnya, patahan tersebut akan mengalami
pemerosotan atau dikenal juga dengan istilah subsidence/amblas. Lokasi
amblas ini akan membentuk cekungan alami. Pada saat musim penghujan,
cekungan bekas gempa tersebut kemudian akan terisi oleh air dan jadilah
danau alami.
Gambar E.15 Proses patahan
Sumber: http://www.everythingselectric.com/wp-content/uploads/fault-horsts-grabens-1.jpg

Danau yang terbentuk akibat gempa ini bisa dijumpai dengan mudah di
Indonesia. Contohnya antara lain Danau Singkarak, Danau Tondano, Danau
Towuti, Danau Poso, Danau Tempe, Danau Maninaju, Danau Takengon, dan
masih banyak lagi lainnya.

Gambar E.16 Danau Singkarak


Sumber: http://4.bp.blogspot.com/-
DHMPrl460d8/UbWFwLk0woI/AAAAAAAAAo4/TmqHlQO7GHk/s1600/danau-
singkarak.jpg
b) Danau Vulkanik
Danau ini terbentuk dari aktivitas vulkanik. Pada bekas letusan gunung api
akan menimbulkan cekungan yang disebut depresi vulkanik. Jika dasar
tersebut kemudian tertutup oleh material vulkanik yang kedap air, maka air
hujan yang jatuh akan tertampung dan membentuk danau vulkanik.
Ciri lain suatu danau merupakan danau tektonik adalah terdapat jejak
endapan material letusan gunung api tua di lembah-lembah di sekitar danau.
Bukit-bukit yang mengelilingi danau juga mencirikan dinding sisa runtuhan
tubuh gunung api akibat letusan kaldera. Dinding kaldera sangat khas karena
tegak.
Contohnya adalah Danau Batur, Danau Kelimutu, Danau Kerinci, Danau
Toba, Danau Kawah di Gunung Kelud, Danau Telaga Warna di Dieng.
Gambar E.17 Danau Kelimutu
Sumber: http://4.bp.blogspot.com/-
DHMPrl460d8/UbWFwLk0woI/AAAAAAAAAo4/TmqHlQO7GHk/s1600/danau-
singkarak.jpg
c) Danau Karst
Danau karst ini ini merupakan danau yang terjadi di daerah bertanah kapur
sebagai akibat dari proses pelarutan terhadap batuan kapur yang dilakukan
oleh air hujan. Proses pelarutan kapur ini lama kelamaan akan membentuk
sebuah cekungan dan cekungan tersebut akan terisi air, sehingga terbentuklah
danau.Contoh : dolina di Gunung Kidul.

Gambar E.18 Danau doline Saptosari, Gunung Kidul


Sumber: https://younggeomorphologys.files.wordpress.com/2010/04/pemanfaatan-doline.jpg?w=300&h=225

d) Danau Glasial
Jenis danau selanjutnya adalah danau glasial. Danau glasial ini merupakan
danau yang terjadi karena adanya proses erosi glasial, yakni erosi yang
terjadi pada gletser. Karena proses erosi inilah membentuk sebuah cekungan,
dan cekungan tersebut terisi oleh air sehingga terbentuklah sebuah danau.
Biasanya, danau jenis ini banyak dijumpai di daerah sekitar kawasan iklim
kutub. Contoh: danau Michigan di Amerika Serikat, Danau St. Laurence di
Kanada, Danau Superior, dan Danau Mc. Kanzie.

Gambar E.19 Danau Finger, New York


Sumber: https://arisudev.files.wordpress.com/2011/12/finger_lake.jpg?w=500&h=332
e) Danau Buatan (Waduk)
Danau yang terjadi akibat manusia karena memang sengaja dibangun oleh
manusia yang biasa disebut waduk. Manusia membangun waduk atau
bendungan dengan tujuan tertentu,seperti pengendali banjir,menejemen
sumber daya air, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), irigasi, pariwisata,
budidaya ikan, dan sebagainya.
Contoh : Waduk Jati Luhur(Jawa Barat), Waduk Serbaguna Wonogiri (Jawa
Tengah), Waduk Karang Kates (Jawa Timur), dan Waduk Asahan(Sumatra
Utara).

Gambar E.20 Waduk Sermo


Sumber: http://www.piknikdong.com/wp-content/uploads/2015/03/Mengenal-Keindahan-
Waduk-Sermo-Kulon-Progo.jpg
b. Penyebab Hilangnya Danau
Suatu danau dapat hilang karena beberapa hal berikut:
1) Pembentukan delta-delta dan sedimentasi di danau yang mengakibatkan
penyempitan dan pendangkalan danau yang akhirnya membuat danau
menghilang.

Gambar E.21 Pengerukan material sedimentasi di Danau Buyan, Bali


Sumber http://singarajafm.com/wp-content/uploads/2016/06/160617.-mud-pengerukan-sedimentasi-Danau-Buyan-1-
1024x682.jpg

2) Gerakan tektonik berupa pengangkatan dasar danau.


3) Penguapan yang tinggi terutama di daerah kering

Gambar E.22 Danau Waiau, Hawaii yang mengering


Sumber https://2.bp.blogspot.com/-h-47Aea0O08/VUS1BnUBaYI/AAAAAAABEO8/_ozwkEUNI4o/s1600/36.jpg

4) Sungai-sungai yang mengalir keluar dari danau menimbulkan erosi dasar pada
bibir danau sehingga bibir danau semakin rendah dan air yang keluar dari danau
semakin banyak. Akibatnya danau akan kehabisan air dan mengering.

Luas perairan danau alam di Indonesia sekitar 518.240,2 ha atau 0,27% dari
luas daratan Indonesia. Sebagian besar diantaranya belum dimanfaatkan secara
maksimal. Air danau di Indonesia sebagian besar masih aman kecuali Danau / Waduk
Pluit di Jakarta. Danau ini sudah tidak layak dari segala jenis peruntukan karena
memiliki kandungan nitrat, fosfat, klorida, dan sulfat yang sangat tinggi.
Gambar E.23 Waduk Pluit, Jakarta
Sumber https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2016/07/14/729149/670x335/4-pompa-waduk-
pluit-rusak-istana-dan-balai-kota-terancam-banjir.jpg
Permasalahan lain yang dialami danau-danau di Indonesia adalah proses
sedimentasi, seperti yang terjadi di Danau Tempe (Sulawesi Selatan), Danau Sentani
(Papua), Danau Singkarak (Sumatera Barat), Danau Tondano, dan Danau Limboto
(Sulawesi Utara). Upaya yang harus dilakukan dalam rangka pembinaan dan
pengelolaan danau antara lain dengan menjaga kelestarian hutan di sekitar danau.
Hal ini agar ketersediaan air tetap terjaga dan menanggulangi tingkat sedimentasi
yang berlebihan. Upaya lainnya adalah memberikan penyuluhan dan melatih
masyarakat mengenai pentingnya mempertahankan kualitas hutan, tanah, dan air.
c. Pemanfaatan Danau
1) Merupakan tempat berlangsungnya siklus hidup jenis flora maupun fauna yang
bersifat penting. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa danau merupakan tempat
hidup berbagai jenis flora dan fauna.
2) Merupakan sumber air bersih yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang berada di
lingkungan sekitarnya. Air yang ada di danau merupakan air yang bersih. Apabila
danau tersebut merupakan jenis danau air tawar, maka air danau tersebut dapat
dimanfaatkan untuk berbagai macam kepentingan, diantaranya rumah tangga,
industri, maupun pertanian (untuk mengairi lahan persawahan atau ladang).
3) Sebagai sumber listrik. Air danau juga dapat dijadikan sebagai sumber pembangkit
listrik, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Air.
Gambar E.24 PLTA Waduk Wonogiri
Sumber http://assets.kompas.com/data/photo/2016/12/15/1834220IMG-20161215-WA0-780x390.jpg

4) Sarana rekreasi keluarga.Di danau terdapat banyak aktivitas yang dapat


dilakukan, seperti memancing, berkeliling danau menggunakan perahu, maupun
sekedar menikmati pemandangan alam yang ada di sekitarnya.

Gambar E.25 Danau Ciburuy, Bandung


Sumberhttp://www.buahatiku.com/wp-content/uploads/2015/02/situ-ciburuy-300x199.jpg

5) Sebagai sarana edukasi.Ekosistem danau juga mempunyai fungsi sebagai sarana


edukasi atau pendidikan tentang ketergantungan makhluk hidup terhadap
lingkungannya. Danau dapat dijadikan sebagi objek penelitian tentang ekosistem,
kualitas air danau, dll.

1. RAWA
Lahan rawa adalah lahan yang sepanjang tahun, atau selama waktu yang
panjang dalam setahun, selalu jenuh air(saturated) atau tergenang (waterlogged) air
dangkal. Rawa selalu tergenang air baik dari air hujan, air tanah, atau air permukaan
lainnya dan tidak ada jalan untuk pelepasan airnya secara lancar. Rawa adalah daerah
rendah yang tergenang air dan pada umumnya permukaan air rawa selalu dibawah
atau sama dengan permukaan air laut, sehingga airnya selalu menggenang dan
permukaan airnya selalu tertutup oleh tumbuhan air, tidak bergerak (static)atau
mengalir, baik air tawar, payau, maupun air asin, termasuk juga wilayah laut
yang kedalaman airnya, pada keadaan surut terendah tidak melebihi enam meter.

Gambar E.26 Rawa


Sumberhttps://2.bp.blogspot.com/-P_98mVF_Od0/Vrl88lkRTcI/AAAAAAAAAgg/I1tiPdgCfSw/s640/Pengertian
%2BRawa%252C%2BJenis%2Bdan%2BManfaat.jpg

Karakteristik rawa antara lain :


a. Air rawa adalah airnya asam dan berwarna coklat tampak kehitam-hitaman.
b. Air rawa disekitar pantai sangat dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut.
c. Pada saat air laut pasang permukaan rawa banyak tergenang dan saat air surut,
daerah ini kering.
d. Rawa di tepi pantai banyak ditumbuhi oleh Pohon Bakau sedangkan yang ada di
daerah pedalaman banyak ditumbuhi Palem Nipah (sejenis palem).
e. Kadar keasaman airnya tinggi.
f. Airnya tidak dapat di minum.
g. Dasar rawa terdapat tanah gambut.
a. Klasifikasi Rawa
1) Berdasarkan Tingkat Genangan Airnya
a) Rawa yang Selalu Tergenang
Adalah rawa yang tidak pernah kering sepanjang tahun, terbentuk oleh
genangan air hujan atau air tanah yang tidak mempunyai pelepasan. Air di
rawa tersebut sangat asam dan berwarna kemerah-merahan. Di rawa
tersebut hampir tidak ada organisme yang dapat hidup.
Gambar E.27 Rawa Selalu Tergenang
Sumber https://2.bp.blogspot.com/-
GLcxwVRCU8M/VFs2hx6Q3UI/AAAAAAAAEZ4/9z9k-Z1CboE/s320/rawa.jpg
b) Rawa yang Tidak Selalu Tergenang
Jenis rawa ini memperoleh pergantian air tawar yang berasal dari limpahan
air sungai saat terjadi pasang naik air laut. Proses pergantian air yang
senantiasa berlangsung mengakibatkan kondisi air di wilayah rawa tidak
terlalu asam sehingga beberapa jenis hewan dan tanaman mampu hidup dan
beradaptasi dengan wilayah ini. Jenis flora khas yang tumbuh di wilayah
rawa antara lain mangrove, nipah, dan rumbia. Penduduk yang tinggal di
sekitar kawasan pantai biasa memanfaatkan wilayah rawa ini dengan
budidaya sawah pasang surut.

Gambar E.28 Pengolahan Rawa Pasang Surut


Sumber http://www.pusdatarawa.or.id/wp-content/gallery/kalsel-batola/3.jpg

2) Berdasarkan Kondisi Air dan Jenis Tumbuhan Yang Hidup


1) Swamp
Menyatakan wilayah lahan, atau area yang secara permanen selalu jenuh air,
permukaan air tanahnya dangkal, atau tergenang air dangkal hampir sepanjang
waktu dalam setahun. Air umumnya tidak bergerak, atau tidak mengalir
(stagnant), dan bagian dasar tanah berupa lumpur. Pada umumnya daerah ini
ditumbuhi flora seperti lumut, rumput- rumputan, semak-semak, dan
tumbuhan jenis pohon.

Gambar E.29 Swamp


Sumber https://cdn.pixabay.com/photo/2013/12/16/10/52/swamp-229250_960_720.jpg
2) Marsh
Rawa yang genangan airnya bersifat tidak permanen, namun mengalami
genangan banjir dari sungai atau air pasang dari laut secara periodik, dimana
debu dan liat sebagai muatan sedimen sungai seringkali diendapkan.
Tanahnya selalu jenuh air, dengan genangan relatif dangkal. Marsh biasanya
ditumbuhi berbagai tumbuhan akuatik, atau hidrofitik, berupa lumut dan
rumput, seperti sejenis rumput rawa berbatang padat, yang batangnya dapat
dianyam menjadi tikar, topi, atau keranjang.

Gambar E.30Marsh
Sumber https://cdn.pixabay.com/photo/2015/03/29/15/58/marsh-697390_960_720.jpg
3) Bog
Rawa yang tergenang air dangkal, dimana permukaan tanahnya tertutup
lapisan vegetasi yang melapuk, khususnya lumut sebagai vegetasi dominan,
yang menghasilkan lapisan gambut (bereaksi) masam. Ada dua macam bog,
yaitu “blanket bog” dan “raised bog”.Blanket bog adalah rawa yang terbentuk
karena kondisi curah hujan tinggi, membentuk deposit gambut tersusun dari
lumut, menutupi tanah seperti selimut pada permukaan lahan yang relatif rata.
Raised bog adalah akumulasi gambut masam yang tebal, disebut “hochmoor”,
yang dapat mencapai ketebalan 5 meter.

Gambar E.31Bog
Sumber http://wetlife2.gpf.lt/wp-content/uploads/2014/09/1_tituline3.jpg

4) Rawa Pasang Surut


Rawa pasang surut merupakan rawa yang jumlah kandungan airnya selalu
berubah-ubah (pasang surut), hal ini dikarenakan oleh adanya pengaruh
pasang surutnya air laut. Bakau adalah tanaman yang sering ada di daerah ini.
b. Persebaran Rawa Di Indonesia
Sumberdaya lahan rawa di Indonesia, sebagai salah satu pilihan lahan
pertanian di masa depan, secara dominan terdapat di empat pulau besar di luar
Jawa, yaitu Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua, serta sebagian kecil di
Pulau Sulawesi.
Di Sumatera, penyebaran lahan rawa secara dominan terdapat di dataran
rendah sepanjang pantai timur, terutama di Provinsi Riau, Sumatera Selatan, dan
Jambi, serta dijumpai lebih sempit di Provinsi Sumatera Utara dan Lampung.
Di pantai barat, lahan rawa menempati dataran pantai sempit, terutama di
Provinsi Nanggro Aceh Darussalam (sekitar Meulaboh dan Tapaktuan), Sumatera
Barat (Rawa Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan), dan Bengkulu (selatan
kota Bengkulu).
Di Kalimantan, penyebaran lahan rawa yang dominan terdapat di
dataran rendah sepanjang pantai barat, termasuk wilayah Provinsi
Kalimantan Barat; pantai selatan, dalam wilayah Provinsi Kalimantan
Tengah, dan sedikit di Kalimantan Selatan; serta pantai timur dan timur
laut, dalam wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Penyebaran rawa lebak yang
cukup luas, terdapat di daerah hulu Sungai Kapuas Besar, sebelah barat
Putussibau, Kalimantan Barat, serta di sekitar Danau Semayang dan Melintang,
sekitar Kotabangun, di Daerah Aliran Sungai (DAS) bagian tengah Sungai
Mahakam, Kalimantan Timur.
Di Sulawesi, penyebaran lahan rawa relatif tidak luas, dan terdapat
tempat di dataran pantai yang sempit. Lahan rawa yang relatif agak luas
ditemukan di pantai barat-daya kota Palu, dalam wilayah Kabupaten
Mamuju, kemudian di sekitar Teluk Bone, sepanjang pantai timur-Iaut Palopo,
dan sedikit di pantai selatan Kabupaten Toli-toli di sekitar Teluk Tomini.
Di Papua, penyebaran lahan rawa yang terluas terdapat di dataran rendah
sepanjang pantai selatan, termasuk wilayah Kabupaten Fakfak, dan pantai
tenggara dalam wilayah Kabupaten Merauke. Kemudian di daerah Kepala
Burung, di sekeliling Teluk Berau-Bintuni, dalam wilayah Kabupaten
Manokwari dan Sorong. Selanjutnya di sepanjang dataran pantai utara,
memanjang dari sekitar Nabire (Kabupaten Paniai) sampai Sarmi (Kabupaten
Jayawijaya). Penyebaran lahan rawa lebak yang cukup luas terdapat di lembah
Sungai Membramo, yang terletak hampir di bagian tengah pulau.
Gambar E.32 Peta Persebaran Rawa di Indonesia
c. Manfaat Rawa
1) Persawahan pasang surut
Baik di Kalimantan maupun di pantai timur Pulau Sumatera, rawa-rawa banyak
dijadikan sebagai wilayah persawahan pasang surut.
2) Menghasilkan kayu
Di daerah pedalaman Kalimantan dan pantai timur Sumatera, rawa banyak
menghasilkan kayu, seperti bakau, ulin, meranti, dan sebagainya.
3) Menghasilkan nipah dan rumbia
Nipah dan rumbia banyak terdapat di rawa-rawa pantai. Daunnya digunakan
sebagai atap rumah oleh penduduk setempat. Rawa yang menghasilkan nipah dan
rumbia banyak terdapat di wilayah pantai Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua.

Gambar E.33 Nipah


Sumber https://3.bp.blogspot.com/-3seHDQxTJn0/VjrgRlj8S6I/AAAAAAAABoA/UX1rRJh0C10/s320/Pohon%2BNipah
%2BPalem%2BHutan%2BBakau.jpg

4) Wilayah permukiman
Di daerah Kalimantan dan pantai timur pulau Sumatera, daerah rawa banyak
dijadikan sebagai wilayah permukiman. Wilayah ini dihuni oleh penduduk
setempat dan transmigran dari Jawa, Bali, dan Lombok. 
5) Perikanan
Di daerah-daerah rawa air tawar banyak terdapat ikan air tawar yang
dimanfaatkan penduduk sebagai lauk pauk. Daerah rawa air payau dimanfaatkan
penduduk untuk memelihara ikan bandeng, udang, dan kepiting bakau. Adapun di
daerah rawa air asin, pohon bakau menjadi tempat bersarangnya kepiting dan
udang.