Anda di halaman 1dari 203

SKRIPSI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG TAHAN GEMPA


UNTUK PERKANTORAN DENGAN SISTEM GANDA

Disusun Sebagai Syarat Untuk Kelulusan


Pada Program Studi Strata 1 Teknik Sipil

Oleh :

Hariyo Kusumo Jaya Mukti

NIM : 15-22-210-095

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2019
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN HASIL

Dengan ini menyatakan bahwa :

1. Karya tulis saya, Laporan Skripsi ini adalah Asli dan belum pernah diajukan
di Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhamadiyah Tangerang.
2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan, dan penilain saya sendiri, tanpa
bantuan pihak lain, kecuali dari arahan Pembimbing.
3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau
dipublikasikan oleh orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas
dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebut nama pengarang dan
dicantumkan dalam daftar pustaka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari
terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini maka saya
bersedia menerima sanksi akademik sesuai dengan ketentuan Program Studi di
Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Tangerang, Agustus 2019

Yang membuat pernyataan

(Hariyo Kusumo Jaya Mukti)

iii
ABSTRAK

Perancanaan gedung perkantoran mutlak dilakukan oleh perencana


struktur untuk memperoleh struktur yang kuat serta ekonomis. Terlebih negara
Indonesia dilalui oleh jalur cincin api pasifik serta terletak diatas 3 lempeng bumi
yaitu lempeng asia, australia dan eurasia membuat negara Indonesia menjadi
negara yang rawan terjadi gempa bumi dan memiliki catatan aktivitas seismik
yang cukup tinggi. Hal ini diperlukan untuk meminimalisir adanya korban jiwa
jika sewaktu-waktu gedung mengalami gempa. Untuk mencapai tujuan tersebut
perencana struktur harus mengacu kepada peraturan-peraturan yang berlaku di
Indonesia yaitu SNI dalam merencanakan gedung. Pada tugas ini direncanakan
sebuah gedung perkantoran yang terdiri dari 20 lantai dengan ketinggian yang
sama di tiap lantai yaitu 3,5 meter dengan menggunakan struktur beton bertulang
di semarang. Dijelaskan juga tahap-tahap perencanaan struktur mulai desain
dimensi strukttur awal yaitu Preliminary design, permodelan dan perhitungan
struktur di software ETABS, bagaimana proses trial and error untuk
mendapatkan model struktur yang baik, pengecekan perilaku struktur berdasarkan
peraturan yang berlaku, sampai pada tahap desain akhir yaitu merencanakan
penulangan pada elemen struktur, serta penggambaran detail struktur yang
digunakan pada bangunan tersebut.

Kata kunci : struktur gedung, beton bertulang, gempa, ETABS

iv
ABSTRACT

Office building planning is absolutely necessary by structural planners to


obtain a strong and economical structure. Moreover, the country of Indonesia is
traversed by the Pacific Ring of Fire and is located on 3 earth plates, namely the
Asian, Australian and Eurasian plates, making the country of Indonesia an
earthquake prone country and has a fairly high seismic activity record. This is
necessary to minimize casualties if at any time the building experiences an
earthquake. To achieve this goal, structural planners must refer to the regulations
that apply in Indonesia, namely SNI in planning buildings. In this task an office
building is planned to consist of 20 floors with the same height on each floor that
is 3.5 meters using reinforced concrete structures in Semarang. Also explained
the structural planning stages from the initial structural dimension design, namely
Preliminary design, modeling and calculation of structures in ETABS software,
how the trial and error process to get a good structure model, checking the
behavior of the structure based on applicable regulations, to the final design
stage, namely plan reinforcement of structural elements, as well as detailed
depictions of structures used in the building.

Keywords: building structure, reinforced concrete, earthquake, ETABS

v
KATA PENGANTAR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu


Wata'alla atas rahmat, hidayah, serta karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
penyusunan tugas akhir ini tepat pada waktunya. shalawat serta salam tidak lupa
penulis. Shalawat serta salam tidak lupa penulis sanjungkan kepada junjungan kita
Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam beserta keluarga, sahabat
serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Tugas akhir ini berjudul
"PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG TAHAN GEMPA UNTUK
PERKANTORAN DENGAN SISTEM GANDA" dalam penelitian ini dibahas
mengenai perencanaan struktur mulai dari desain awal atau preliminary design
hingga desain akhir dengan menggunakan sistem struktur ganda yaitu SRPMK
dan SDSK dan juga menggunakan bantuan aplikasi ETABS sehingga didapatkan
struktur yang kuat dan ekonomis.

Penyusunan tugas akhir ini tentunya tidak terlepas dari bantuan beberapa
pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :

1. Bapak Mugi Manggih Nugroho dan Ibu Een Suryati, S.Pd selaku orang tua
penulis yang selalu memberikan motivasi dalam menyelesaikan penyusunan
tugas akhir ini.
2. Bapak Dr. Ahmad Amarullah, M.Pd selaku Rektor Universitas
Muhammadiyah Tangerang.
3. Bapak Ir. Saiful Haq, S.T., M.Si. Selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Tangerang.
4. Bapak Ir. H. Almufid, S.T., M.T. Selaku Kepala Program Studi Teknik Sipil
sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Tugas Akhir.
5. Bapak Jeply Murdiaman Guci, S.T., M.T. Selaku Dosen Pembimbing
Akademik.

vi
6. Bapak Ibu Dosen Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Tangerang atas ilmu dan bimbingan yang telah diberikan.
7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang terlibat dala
penyusunan Tugas Akhir ini sehingga dapat selesai dengan baik.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis
harapkan. Semoga penyusunan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi semua pihak.

Tangerang, Agustus 2019

Hariyo Kusumo Jaya Mukti

Penulis

vii
MOTTO

“Barang siapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya
jalan kesurga.”
HR.Muslim

“Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya
kebodohan”
Imam Syafi’i

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”


QS. Asy Syarh Ayat 5

“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”
HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath, Al Qudha’i, Musnad Syihab

viii
PERSEMBAHAN

Satu langkah telah ditempuh, satu tujuan telah dicapai, satu amanah telah
diselesaikan. Terimakasih kepada:

1. Allah SWT, Dzat yang telah menciptakanku. Sujud syukur hanya padamu,
segala puji syukur atas semua karunia yang telah engkau berikan kepadaku.
Serta wahai engkau ya Rasulullah Muhammad SAW yang telah
mengajarkanku ke jalan yang diridhoi Allah SWT.
2. Bapak Mugi Manggih Nugroho dan Ibu Een Suryati, S.Pd. Yang menjadi
motivasi utama dalam penyusunan tugas akhir ini. Terimakasih telah menjadi
orang tua yang luar biasa bagi anak-anaknya yang selalu memberikan
pengorbanan dan motivasi kepada anak-anaknya. Semoga selalu diberikan
kesehatan dan keselamatan oleh Allah Subhanahu Wata'ala, aamiin.
3. Adik tersayang Kumoratih Dyah Widowati yang menjadi salah satu motivasi
dalam penyusunan Tugas Akhir ini
4. Seluruh Dosen fakultas teknik Universitas Muhammadiyah Tangerang yang
telah memberikan ilmu dan bimbingan yang sangat berharga.
5. Jajaran Direksi, Manajemen serta seluruh Karyawan PT. Milan Ecowood
Indonesia yang telah memberikan motivasi dalam pendidikan.
6. Rekan-rekan mahasiswa seperjuangan Teknik Sipil 2015, terimakasih atas
kebersamaan dan cerita yang dirajut selama 4 tahun ini. Semoga tak akan
terputus tali silaturahmi kita.
7. Rekan-rekan senior bang madani, bang ari, bang dona (Ncek) dll. Terimakasih
telah membagi ilmu dan pengalamannya kepada juniormu ini.
8. Sahabat sepermainan rizal, herdi, angga, anwar, rey, agam, iqbal, dll.
Terimakasih telah memotivasi dan menjadi penghibur dari segala kepenatan
selama penyusunan tugas akhir ini.
9. Untuk "Dia", seorang wanita yang tidak bisa saya sebutkan namanya disini,
terimakasih sudah hadir di hidup ini dan turut memotivasi serta menjadi
penyemangat.

ix
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN .................................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN HASIL ..................................................... iii

ABSTRAK ............................................................................................................. iv

ABSTRACT .............................................................................................................. v

KATA PENGANTAR ........................................................................................... vi

MOTTO ............................................................................................................... viii

PERSEMBAHAN .................................................................................................. ix

DAFTAR ISI ........................................................................................................... x

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiv

DAFTAR TABEL ................................................................................................. xx

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang.......................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah .................................................................................... 2

1.3. Batasan Masalah ....................................................................................... 2

1.4. Tujuan Dan Manfaat ................................................................................. 3

1.5. Sistematika Penulisan Laporan................................................................. 4

BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 5

2.1. Tinjauan Umum ........................................................................................ 5

x
2.2. Konsep Perencanaan Struktur................................................................... 5

2.3. Struktur Beton Bertulang.......................................................................... 6

2.4. Bagian-bagian Struktur Bangunan Gedung .............................................. 9

2.4.1. Struktur Atas ..................................................................................... 9

2.4.2. Struktur Bawah ............................................................................... 11

2.5. Sistem Struktur Tahan Gempa ............................................................... 11

2.5.1. Sistem Rangka Pemikul Momen (SPRM) ...................................... 11

2.5.2. Sistem Dinding Struktur (SDS)....................................................... 12

2.5.3. Sistem Struktur Ganda .................................................................... 13

2.6. Daktilitas ................................................................................................ 13

2.6.1. Faktor Daktilitas .............................................................................. 14

2.6.2. Daktail Penuh .................................................................................. 14

2.6.3. Daktail Parsial ................................................................................. 14

2.7. Pembebanan Struktur ............................................................................. 14

2.7.1. Jenis-jenis Pembebanan .................................................................. 14

2.7.2. Kombinasi Pembebanan .................................................................. 21

2.8. Konsep Perencanaan Elemen Struktur Tahan Gempa ............................ 22

2.8.1. Wilayah Gempa Indonesia .............................................................. 22

2.8.2. Kategori Resiko Bangunan Gedung ................................................ 23

2.8.3. Koefisien situs dan parameter respons spektral percepatan gempa


maksimum...................................................................................................... 25

2.8.4. Parameter percepatan spektral desain ............................................. 27

2.8.5. Pemilihan Sistem Struktur .............................................................. 27

2.8.6. Penentuan Periode ........................................................................... 30

2.9. Perencanaan Dimensi Elemen Struktur .................................................. 31

xi
2.9.1. Pra-Perencanaan (Preliminary Design) ........................................... 31

2.9.2. Pemodelan Struktur ......................................................................... 34

2.10. Perencanaan Penulangan Elemen Struktur ......................................... 36

2.10.1. Perencanaan Penulangan Kolom ..................................................... 36

2.10.2. Perencanaan Penulangan Balok ...................................................... 38

2.10.3. Perencanaan Penulangan Dinding Geser ........................................ 41

BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 43

3.1. Metode Pengumpulan data ..................................................................... 43

3.1.1. Data Primer ..................................................................................... 43

3.1.2. Data Sekunder ................................................................................. 50

3.2. Metode Penelitian ................................................................................... 50

3.3. Metode Pengujian Data .......................................................................... 50

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN ....................................................... 52

4.1. Perencanaan Awal Dimensi Struktur...................................................... 52

4.1.1. Preliminary Design Elemen Pelat Lantai ........................................ 52

4.1.2. Preliminary Design Elemen Balok .................................................. 53

4.1.3. Preliminary Design Elemen Dinding Geser ................................... 54

4.1.4. Preliminary Design Elemen Kolom ................................................ 56

4.2. Pemodelan Struktur ................................................................................ 61

4.2.1. Input Data Material ......................................................................... 62

4.2.2. Input Data Elemen Struktur ............................................................ 63

4.2.3. Input Data Jenis Pembebanan ......................................................... 68

4.2.4. Input data gempa ............................................................................. 69

4.2.5. Input Data Kombinasi Pembebanan ................................................ 70

xii
4.2.6. Pembuatan Model 3D Struktur ....................................................... 70

4.3. Pengecekan Perilaku Struktur Bangunan ............................................... 76

4.3.1. Pengecekan Rasio Partisipasi Modal Massa (MPMR) ................... 80

4.3.2. Perhitungan Koefisien Respon Seismik (Cs) .................................. 81

4.3.3. Perhitungan Faktor Skala Gaya....................................................... 87

4.3.4. Pengecekan Gaya Geser .................................................................. 89

4.3.5. Pengecekan Simpangan Antar Lantai ( Story Drift ) ...................... 91

4.3.6. Pengecekan Eksentrisitas ................................................................ 95

4.3.7. Pengecekan Ketidakberaturan torsi ............................................... 104

4.3.8. Pengecekan Ketidakberaturan Horizontal dan Vertikal ................ 107

4.3.9. Pengecekan P-delta ....................................................................... 121

4.3.10. Gaya-gaya Dalam Pada Struktur ................................................... 127

4.4. Perencanaan Penulangan Elemen Struktur ........................................... 130

4.4.1. Desain Penulangan Kolom ............................................................ 130

4.4.2. Desain Penulangan Balok ............................................................. 136

4.4.3. Desain Penulangan Pelat Lantai .................................................... 139

4.4.4. Desain Penulangan Dinding Geser / Shearwall ............................ 145

BAB V PENUTUP ............................................................................................. 153

5.1. Kesimpulan ........................................................................................... 153

5.2. Saran-saran ........................................................................................... 160

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 161

LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................... 163 

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Peta zonasi gempa Indonesia............................................................ 23 

Gambar 2. 2 Distribusi tegangan regangan balok ................................................. 39 

Gambar 3. 1 Layout denah gedung lantai 1 .......................................................... 44 

Gambar 3. 2 Layout denah gedung lantai 2 .......................................................... 44 

Gambar 3. 3 Layout denah gedung lantai 3-20 ..................................................... 45 

Gambar 3. 4 Peta lokasi rencana gedung menurut Puskim berdasarkan parameter


S1 .......................................................................................................................... 46 

Gambar 3. 6 Diagram alur pengerjaan tugas akhir ............................................... 51 

Gambar 4. 1 Tributary area pada gedung .............................................................. 56 

Gambar 4. 2 Input material beton K-400 pada program ETABS ......................... 62 

Gambar 4. 3 Input material beton K-450 pada program ETABS ......................... 62 

Gambar 4. 4 Input dimensi penampang kolom ..................................................... 63 

Gambar 4. 5 Input tebal selimut beton dan tulangan kolom ................................. 64 

Gambar 4. 6 Input properti penampang kolom ..................................................... 64 

Gambar 4. 7 Input dimensi penampang balok ...................................................... 65 

Gambar 4. 8 Input tebal selimut betonbalok ......................................................... 65 

Gambar 4. 9 Input properti penampang balok ...................................................... 66 

Gambar 4. 10 Input dimensi tebal pelat lantai ...................................................... 66 

Gambar 4. 11 Input properti penampang pelat lantai............................................ 67 

xiv
Gambar 4. 12 Input dimensi tebal dinding geser .................................................. 67 

Gambar 4. 13 Input properti penampang pelat dinding geser ............................... 68 

Gambar 4. 14 Input data jenis pembebanan .......................................................... 68 

Gambar 4. 15 Input data gempa dengan metode analisis respon spektrum .......... 69 

Gambar 4. 16 Input data kombinasi pembebanan ................................................. 70 

Gambar 4. 17 Denah gedung lantai 1-5 ................................................................ 71 

Gambar 4. 18 Denah gedung lantai 6-10 .............................................................. 72 

Gambar 4. 19 Denah gedung lantai 11-15 ............................................................ 73 

Gambar 4. 20 Denah gedung lantai 16-20 ............................................................ 74 

Gambar 4. 21 Denah gedung lantai atap (rooftop)................................................ 75 

Gambar 4. 22 Model 3D gedung ........................................................................... 76 

Gambar 4. 23 Model struktur 1 ............................................................................. 77 

Gambar 4. 24 Model struktur 2 ............................................................................. 78 

Gambar 4. 25 Model struktur 3 ............................................................................. 79 

Gambar 4. 26 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah X


model 1 .................................................................................................................. 89 

Gambar 4. 27 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah Y


model 1 .................................................................................................................. 89 

Gambar 4. 28 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah X


model 2 .................................................................................................................. 90 

Gambar 4. 29 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah Y


model 2 .................................................................................................................. 90 

xv
Gambar 4. 30 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah X
model 3 .................................................................................................................. 91 

Gambar 4. 31 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah Y


model 3 .................................................................................................................. 91 

Gambar 4. 32 Grafik simpangan antar lantai (story drift) arah X dan Y model 1 92 

Gambar 4. 33 Grafik simpangan antar lantai (story drift) arah X dan Y model 2 93 

Gambar 4. 34 Grafik simpangan antar lantai (story drift) arah X dan Y model 3 94 

Gambar 4. 35 Grafik ketidakberaturan torsi arah X model 1 .............................. 105 

Gambar 4. 36 Grafik ketidakberaturan torsi arah Y model 1 .............................. 105 

Gambar 4. 37 Grafik ketidakberaturan torsi arah X model 2 .............................. 106 

Gambar 4. 38 Grafik ketidakberaturan torsi arah Y model 2 .............................. 106 

Gambar 4. 39 Grafik ketidakberaturan torsi arah X model 3 .............................. 107 

Gambar 4. 40 Grafik ketidakberaturan torsi arah Y model 3 .............................. 107 

Gambar 4. 41 Ilustrasi Pengecekan ketidakberaturan Sudut ............................... 109 

Gambar 4. 43 Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan pergeseran melintang


terhadap bidang ................................................................................................... 110 

Gambar 4. 44 Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan sistem nonparalel ............ 111 

Gambar 4. 45 Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan geometri vertikal ............. 117 

Gambar 4. 46 Ilustrasi pengecekan diskontinuitas arah bidang dalam


ketidakberaturan elemen penahan gaya lateral vertikal ...................................... 118 

Gambar 4. 47 Ilustrasi pengecekan diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat


lateral tingkat....................................................................................................... 118 

xvi
Gambar 4. 48 Grafik P-Delta arah X model 1 .................................................... 123 

Gambar 4. 49 Grafik P-Delta arah Y model 1 .................................................... 123 

Gambar 4. 50 Grafik P-Delta arah X model 2 .................................................... 125 

Gambar 4. 51 Grafik P-Delta arah Y model 2 .................................................... 125 

Gambar 4. 52 Grafik P-Delta arah X model 3 .................................................... 127 

Gambar 4. 53 Grafik P-Delta arah Y model 3 .................................................... 127 

Gambar 4. 54 Gaya momen maksimum pada kolom .......................................... 128 

Gambar 4. 55 Gaya momen maksimum pada balok ........................................... 128 

Gambar 4. 56 Gaya geser maksimum pada kolom ............................................. 128 

Gambar 4. 57 Gaya geser maksimum pada balok ............................................... 129 

Gambar 4. 58 Gaya normal maksimum pada kolom .......................................... 129 

Gambar 4. 59 Gaya normal maksimum pada balok ............................................ 129 

Gambar 4. 60 Hasil pengecekan kebutuhan tulangan longitudinal kolom K1 .... 130 

Gambar 4. 62 Hasil desain penulangan kolom K1.............................................. 134 

Gambar 4. 63 Hasil desain penulangan kolom K2.............................................. 134 

Gambar 4. 64 Hasil desain penulangan kolom K3.............................................. 135 

Gambar 4. 65 Hasil desain penulangan kolom K4.............................................. 135 

Gambar 4. 66 Hasil pengecekan kebutuhan tulangan longitudinal area tumpuan


dan lapangan tumpuan balok B1 ......................................................................... 136 

Gambar 4. 67 Hasil pengecekan kebutuhan tulangan transversal balok B1 ....... 137 

Gambar 4. 68 Hasil desain penulangan balok B1 ............................................... 138 

xvii
Gambar 4. 69 Hasil desain penulangan balok B2 ............................................... 138 

Gambar 4. 70 Hasil desain penulangan balok BP ............................................... 139 

Gambar 4. 70 Momen maksimum pelat berdasarkan analisa program ETABS . 140 

Gambar 4. 71 Denah penulangan pelat lantai ..................................................... 144 

Gambar 4. 72 Detail penulangan pelat lantai ...................................................... 145 

Gambar 4. 73 Denah perletakan shearwall ......................................................... 145 

Gambar 4. 74 Rasio minimum luas tulangan vertikal terhadap luas bruto


berdasarkan SNI .................................................................................................. 146 

Gambar 4. 75 Input penulangan shearwall tipe SW1 pada program ETABS .... 148 

Gambar 4. 75 Hasil pengecekan penulangan longitudinal pada program ETABS


............................................................................................................................. 148 

Gambar 4. 75 Hasil pengecekan kebutuhan tulangan transveral berdasarkan


program ETABS ................................................................................................. 149 

Gambar 4. 75 Detail penulangan shearwall tipe SW1 ........................................ 151 

Gambar 4. 76 Detail penulangan shearwall tipe SW2 ........................................ 151 

Gambar 4. 77 Detail penulangan shearwall tipe SW3 ........................................ 152 

Gambar 5. 1 Hasil desain penulangan kolom K1................................................ 154 

Gambar 5. 2 Hasil desain penulangan kolom K2................................................ 154 

Gambar 5. 3 Hasil desain penulangan kolom K3................................................ 155 

Gambar 5. 4 Hasil desain penulangan kolom K4................................................ 155 

Gambar 5. 5 Hasil desain penulangan balok B1 ................................................. 156 

Gambar 5. 6 Hasil desain penulangan balok B2 ................................................. 156 

xviii
Gambar 5. 7 Hasil desain penulangan balok BP ................................................. 157 

Gambar 5. 8 Denah penulangan pelat lantai ....................................................... 157 

Gambar 5. 9 Detail penulangan pelat lantai ........................................................ 158 

Gambar 5. 10 Detail penulangan shearwall tipe SW1 ........................................ 158 

Gambar 5. 11 Detail penulangan shearwall tipe SW2 ....................................... 159 

Gambar 5. 12 Detail penulangan shearwall tipe SW3 ........................................ 159 

xix
DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Tebal selimut beton ................................................................................ 8 

Tabel 2. 2 Berat bahan bangunan .......................................................................... 15 

Tabel 2. 3 Berat komponen gedung ...................................................................... 15 

Tabel 2. 4 Berat komponen gedung (lanjutan) ...................................................... 16 

Tabel 2. 5 Beban hidup minimum pada struktur gedung ...................................... 17 

Tabel 2. 6 Beban hidup minimum pada struktur gedung (lanjutan) ..................... 18 

Tabel 2. 7 Beban hidup minimum pada struktur gedung (lanjutan) ..................... 19 

Tabel 2. 8 Prosedur analisa beban gempa yang boleh digunakan berdasarkan SNI
............................................................................................................................... 20 

Tabel 2. 9 Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk beban gempa
berdasarkan SNI .................................................................................................... 24 

Tabel 2. 10 Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk beban gempa
berdasarkan SNI (lanjutan) ................................................................................... 25 

Tabel 2. 11 Faktor keutamaan gempa berdasarkan SNI ....................................... 25 

Tabel 2. 12 Koefisien situs, Fa berdasarkan SNI................................................... 26 

Tabel 2. 13 Koefisien situs, Fv berdasarkan SNI .................................................. 26 

Tabel 2. 14 Faktor R , Cd , dan Ω0 untuk sistem penahan gaya gempa berdasarkan


SNI ........................................................................................................................ 27 

Tabel 2. 15 Faktor R , Cd , dan Ω0 untuk sistem penahan gaya gempa berdasarkan


SNI (lanjutan) ........................................................................................................ 28 

xx
Tabel 2. 16 Faktor R , Cd , dan Ω0 untuk sistem penahan gaya gempa berdasarkan
SNI (lanjutan) ........................................................................................................ 29 

Tabel 2. 17 Faktor R , Cd , dan Ω0 untuk sistem penahan gaya gempa berdasarkan


SNI (lanjutan) ........................................................................................................ 30 

Tabel 2. 18 Koefisien untuk batas atas pada perioda yang dihitung ..................... 31 

Tabel 2. 19 Nilai parameter perioda pendekatan Ct dan x ................................... 31 

Tabel 2. 20 Tebal minimum balok dan pelat 1 arah .............................................. 32 

Tabel 2. 21 Tebal minimum balok dan pelat 2 arah .............................................. 32 

Gambar 3. 5 Peta lokasi rencana gedung menurut Puskim berdasarkan parameter


SS .......................................................................................................................... 46 

Tabel 3. 1 Parameter respon spektrum .................................................................. 47 

Tabel 3. 2 Parameter sistem struktur ganda .......................................................... 47 

Tabel 3. 3 Kombinasi pembebanan ....................................................................... 49 

Tabel 4. 1 Tebal minimum balok dan pelat 1 arah ................................................ 52 

Tabel 4. 2 Tebal minimum balok dan pelat 2 arah ................................................ 53 

Tabel 4. 3 Hasil preliminary design elemen pelat lantai ....................................... 53 

Tabel 4. 4 Perhitungan preliminary design elemen balok ..................................... 54 

Tabel 4. 5 Hasil preliminary design elemen balok ................................................ 54 

Tabel 4. 6 Perhitungan beban pada lantai 16-20 ................................................... 57 

Tabel 4. 7 Perhitungan beban pada lantai 11-15 ................................................... 58 

Tabel 4. 8 Perhitungan beban pada lantai 5-10 ..................................................... 59 

Tabel 4. 9 Perhitungan beban pada lantai 1-5 ....................................................... 60 

xxi
Tabel 4. 10 Pengecekan kelangsingan kolom ....................................................... 61 

Tabel 4. 11 Rekap hasil preliminary design kolom .............................................. 61 

Tabel 4. 12 Dimensi struktur yang digunakan pada desain awal lantai 1-5.......... 71 

Tabel 4. 13 Dimensi struktur yang digunakan pada desain awal lantai 6-10........ 72 

Tabel 4. 14 Dimensi struktur yang digunakan pada desain awal lantai 11-15...... 73 

Tabel 4. 15 Dimensi struktur yang digunakan pada desain awal lantai 15-20...... 74 

Tabel 4. 16 Dimensi struktur yang digunakan pada model pertama ..................... 77 

Tabel 4. 17 Dimensi struktur yang digunakan pada model 2................................ 78 

Tabel 4. 18 Dimensi struktur yang digunakan pada model ketiga ........................ 79 

Tabel 4. 19 Ringkasan rasio partisipasi modal massa model 1 ............................. 80 

Tabel 4. 20 Ringkasan rasio partisipasi modal massa model 2 ............................. 81 

Tabel 4. 21 Ringkasan rasio partisipasi modal massa model 3 ............................. 81 

Tabel 4. 22 Nilai parameter perioda pendekatan t C dan x ................................... 82 

Tabel 4. 23 Koefisien untuk batas atas pada perioda yang dihitung ..................... 83 

Tabel 4. 24 Koefisien respon seismik model 1 ..................................................... 86 

Tabel 4. 25 Koefisien respon seismik model 2 ..................................................... 86 

Tabel 4. 26 Koefisien respon seismik model 3 ..................................................... 87 

Tabel 4. 27 Pengecekan faktor skala model 1 ....................................................... 87 

Tabel 4. 28 Pengecekan faktor skala model 2 ....................................................... 88 

Tabel 4. 29 Pengecekan faktor skala model 3 ....................................................... 88 

Tabel 4. 30 Pengecekan simpangan antar lantai (story drift) model 1 .................. 92 

xxii
Tabel 4. 31 Pengecekan simpangan antar lantai (story drift) model 2 .................. 93 

Tabel 4. 32 Pengecekan simpangan antar lantai (story drift) model 3 .................. 94 

Tabel 4. 33 Data eksentrisitas torsi bawaan berdasarkan hasil analisa ETABS


model 1 .................................................................................................................. 95 

Tabel 4. 34 Data eksentrisitas torsi bawaan berdasarkan hasil analisa ETABS


model 2 .................................................................................................................. 96 

Tabel 4. 35 Data eksentrisitas torsi bawaan berdasarkan hasil analisa ETABS


model 3 .................................................................................................................. 96 

Tabel 4. 36 Data perhitungan eksentrisitas torsi tak terduga model 1,2 dan 3 ..... 97 

Tabel 4. 37 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah X Dominan
model 1 .................................................................................................................. 98 

Tabel 4. 38 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah Y Dominan
model 1 .................................................................................................................. 98 

Tabel 4. 39 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah X Dominan
model 2 .................................................................................................................. 99 

Tabel 4. 40 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah Y Dominan
model 2 .................................................................................................................. 99 

Tabel 4. 41 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah X Dominan
model 3 ................................................................................................................ 100 

Tabel 4. 42 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah Y Dominan
model 3 ................................................................................................................ 100 

Tabel 4. 43 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu X model 1 ..... 101 

Tabel 4. 44 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu Y model 1 ..... 102 

Tabel 4. 45 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu X model 2 ..... 102 

xxiii
Tabel 4. 46 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu Y model 2 ..... 103 

Tabel 4. 47 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu X model 3 ..... 103 

Tabel 4. 48 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu Y model 3 ..... 104 

Tabel 4. 49 Pengecekan ketidakberaturan horizontal model 1,2 dan 3 ............... 108 

Tabel 4. 49 Pengecekan ketidakberaturan torsi terhadap prosedur analisis yang


digunakan berdasarkan SNI ................................................................................ 109 

Gambar 4. 42 Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan diskontinuitas diafragma. 110 

Tabel 4. 50 Pengecekan ketidakberaturan vertikal model 1 ............................... 111 

Tabel 4. 51 Pengecekan ketidakberaturan vertikal model 2 ............................... 112 

Tabel 4. 52 Pengecekan ketidakberaturan vertikal model 3 ............................... 112 

Tabel 4. 53 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah X model
1 ........................................................................................................................... 113 

Tabel 4. 54 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah Y model
1 ........................................................................................................................... 113 

Tabel 4. 55 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah X model
2 ........................................................................................................................... 114 

Tabel 4. 56 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah Y model
2 ........................................................................................................................... 114 

Tabel 4. 57 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah X model
3 ........................................................................................................................... 115 

Tabel 4. 58 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah Y model
3 ........................................................................................................................... 115 

Tabel 4. 59 Pengecekan ketidakberaturan berat model 1 .................................... 116 

xxiv
Tabel 4. 60 Pengecekan ketidakberaturan berat model 2 .................................... 116 

Tabel 4. 61 Pengecekan ketidakberaturan berat model 3 .................................... 117 

Tabel 4. 62 Pengecekan ketidakberaturan vertikal 5a dan b model 3 ................. 120 

Tabel 4. 63 Perhitungan & pengecekan P-Delta arah X dan Y model 1 ............. 122 

Tabel 4. 64 Perhitungan & pengecekan P-Delta arah X dan Y model 2 ............. 124 

Tabel 4. 65 Perhitungan & pengecekan P-Delta arah X dan Y model 3 ............. 126 

Tabel 4. 27 Rekapitulasi hasil perhitungan tulangan kolom tipe K1 .................. 134 

Tabel 4. 66 Hasil desain penulangan pelat lantai ................................................ 144 

xxv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang terletak dantara 3 lempeng utama bumi,


yaitu lempeng asia, lempeng australia dan lempeng eurasia. Indonesia juga
merupakan negara yang dilalui oleh jalur cincin api pasifik. Kondisi ini membuat
Indonesia menjadi negara yang memiliki gunung berapi aktif terbanyak di dunia
dengan riwayat kegempaan yang cukup tinggi baik secara tektonik maupun secara
vulkanik. Beberapa riwayat gempa besar yang pernah terjadi di Indonesia sejak
tahun 2000 diantaranya gempa Aceh (26 Desember 2004 Skala 9,3), gempa Nias
(28 Maret 2005 Skala 8,7), gempa Pangandaran (17 Juli 2006 Skala 7,7) dan
yang baru-baru ini terjadi yaitu gempa Lombok (5 Agustus 2018 Skala 7,0) serta
gempa Palu (28 September 2018 Skala 7,4). Kejadian tersebut mengajarkan kita
bahwa Indonesia merupakan negara yang rawan akan aktivitas seismik dalam hal
ini gempa bumi.

Sebagai negara berkembang dan memiliki laju perkembangan


perekonomian yang cukup pesat, Indonesia menjadi negara yang banyak
melakukan pembangunan di sektor konstruksi terutama pada bidang bangunan
bertingkat tinggi yang digunakan untuk perkantoran. Dengan mempertimbangkan
aktifitas seismik yang terjadi di wilayah Indonesia, tentunya menjadi sebuah
tantangan bagi perencana struktur untuk merencanakan struktur gedung
perkantoran yang kuat sewaktu-waktu mengalami aktifitas seismik yang cukup
besar sehingga dapat meminimalisir terjadinya korban pada penghuni gedung
tersebut ketika terjadi gempa bumi.

Penelitian ini dibuat untuk merencanakan bangunan bertingkat tinggi yang


diperuntukan untuk perkantoran 20 lantai yang menggunakan struktur beton

1
2

bertulang dengan sistem struktur ganda yaitu gabungan dari Sistem Rangka
Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Sistem Dinding Struktur Khusus (SDSK).

1.2. Rumusan Masalah

Perencanaan struktur gedung mencakup banyak hal yang harus dilakukan


seperti tahapan perencanaan, sistem analisis struktur, metode perhitungan,
pemilihan material dan lain-lain. Berdasarkan hal-hal tersebut maka rumusan
masalah yang diambil adalah:

a. Bagaimana hasil analisa perilaku struktur gedung perkantoran


tersebut?
b. Berapa dimensi elemen struktur dan bagaimana tulangan yang
digunakan pada struktur gedung perkantoran tersebut?

1.3. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Fungsi bangunan adalah sebagai gedung perkantoran.


b. Sistem sruktur gedung beton bertulang berupa sistem struktur ganda,
yaitu gabungan dari Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK) dan Sistem Dinding Struktur Khusus (SDSK).
c. Perhitungan dan analisa struktur dilakukan dengan tiga dimensi.
Beban-beban yang diperhitungkan meliputi :
1. Beban mati/berat sendiri bangunan (dead load)
2. Beban hidup (live load)
3. Beban gempa (earthquake load) berupa respon spektrum untuk
kota Semarang.
d. Perencanaan struktur gedung hanya mencakup struktur atas.
e. Data pembebanan gempa diambil dari situs Puskim PU.
f. Analisa pembebanan dan gaya dalam dilakukan dengan menggunakan
software ETABS 9.7.0
3

g. Penyusunan tugas akhir ini berpedoman pada peraturan-peraturan


sebagai berikut:
1. SNI 03-2847-2013 tentang Tata cara Perhitungan Struktur
Beton Untuk Bangunan Gedung.
2. SNI 1762-2012 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung.
3. SNI 1727-2013 tentangan Pedoman Perencanaan Pembebanan
untuk Rumah dan Gedung.
4. Peraturan Beton Indonesia 1971 (PBI 1971)
5. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983 (PPIUG
1983).

1.4. Tujuan Dan Manfaat

Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui hasil analisa perilaku struktur gedung perkantoran


tersebut.
b. Untuk mengetahui dimensi elemen struktur dan bagaimana tulangan
yang digunakan pada struktur gedung perkantoran tersebut.

Manfaat penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

a. Bagi penulis, penulisan tugas ini sebagai pendalaman materi sehingga


diharapkan penulis menjadi lebih ahli dalam hal perencanaan
bangunan bertingkat tinggi khususnya perkantoran.
b. Bagi mahasiswa, diharapkan penelitian ini sebagai bahan
pertimbangan ataupun referensi dalam melakukan penelitian yang
sama.
c. Bagi perencana struktur bangunan gedung, diharapkan bisa menjadi
referensi permodelan struktur gedung perkantoran 20 lantai
d. Bagi masyarakat umum, diharapkan bisa memberikan informasi
mengenai tata cara perencanaan suatu bangunan khususnya gedung
perkantoran bertingkat tinggi.
4

1.5. Sistematika Penulisan Laporan

Pembahasan Tugas Akhir ini disajikan dalam 5 Bab. Untuk lebih jelasnya
akan dijelaskan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Membahas tentang latar belakang penulisan tugas akhir, rumusan masalah,


tujuan dan manfaat penulisan Tugas Akhir, serta sistematika penulisan
tugas akhir.

BAB II LANDASAN TEORI

Membahas tentang teori yang berkaitan dengan rumusan masalah dan


batasan-batasan masalah yang diuraikan pada Bab I dan menguraikan
teori-teori yang didapat dari sumber informasi yang digunakan dalam
penulisan tugas akhir.

BAB III METODE PENELITIAN

Membahas mengenai metode atau cara-cara yang digunakan untuk


menganalisis data. Sehingga pada bab IV analisis dan pembahasan
mengacu dari metode yang sudah ditulis di bab III.

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini menjelaskan analisa berdasarkan metode yang telah


dijabarkan pada Bab III dari rumusan masalah yang dirumuskan pada Bab
I dengan mengacu pada teori yang didapat di Bab II.

BAB V PENUTUP

Pada Bab ini membahas tentang kesimpulan dari rumusan masalah pada
Bab I berdasarkan analisa dan pembahasan pada Bab IV dan saran-saran
kepada mahasiswa yang akan menyusun Tugas Akhir.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Umum

Pada perencanaan struktur bangunan bertingkat tinggi perlu


mempertimbangkan banyak hal, beberapa diantaranya adalah dari segi kekuatan
struktur itu sendiri maupun dari segi ekonomis struktur tersebut. Pada
perencanaan juga harus memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditetapkan
untuk mendapatkan struktur yang cukup kuat. Untuk itu perencana harus memliki
acuan teoritis yang digunakan dalam merencanakan bangunan bertingkat tinggi
khususnya gedung perkantoran agar struktur yang direncanakan kuat serta
ekonomis.

2.2. Konsep Perencanaan Struktur

Suatu struktur bangunan gedung harus memenuhi beberapa persyaratan


agar dapat berfungsi dengan baik. Dalam perencanaan juga harus
mempertimbangkan beberapa aspek diantaranya adalah

a. Aspek arsitektural. Aspek arsitektural dipertimbangkan atas dasar


keindahan bentuk bangunan.
b. Aspek fungsional . Dalam perencanaan perlu dipertimbangkan fungsi
dari bangunan gedung tersebut. Aspek ini sangat mempengaruhi tata
ruang serta dimensi ruang yang terdapat pada sebuah gedung.
c. Aspek keamanan. Aspek keamanan dari suatu struktur gedung
dipertimbangkan dari segi kekuatan struktur dalam menahan beban
yang bekerja, baik beban tetap, beban sementara, maupun beban
gempa. Aspek keamanan juga dipertimbangkan dari segi kelistrikan
dan lain-lain.

5
6

d. Aspek ekonomi . Aspek ekonomi dipertimbangkan dari sistem struktur


yang dipilih, dimensi struktur yang digunakan serta kemudahan dalam
pelaksanaan pengerjaan struktur tersebut.

2.3. Struktur Beton Bertulang

Struktur beton bertulang adalah struktur yang menggabungkan 2 unsur


yaitu beton yang memiliki kekuatan tinggi dalam menahan beban tekan dan baja
tulangan yang memiliki kekuatan dalam menahan beban tarik. Struktur beton
bertulang adalah struktur yang paling sering digunakan pada bangunan baik
bangunan tingkat rendah sampai bangunan tingkat tinggi baik untuk bangunan
gedung ataupun non gedung.

Struktur beton bertulang memiliki berapa kelebihan diantaranya :

1. Kuat tekan beton bertulang relatif lebih tinggi dari bahan lain konstruksi
lain.
2. Memiliki ketahanan yang tinggi terhadap api dan air. Tidak berkarat
karena air dan pada kasus kebakaran dengan intensitas rata-rata, struktur
dengan ketebalan penutup beton tertentu hanya mengalami kerusakan pada
permukaannya saja.
3. Struktur beton bertulang sangat kokoh.
4. Biaya pemeliharaan beton bertulang hampir sangat rendah
5. Durabilitas yang tinggi. Beton bertulang lebih awet dan tahan lama
dibandingkan dengan bahan lain. Normalnya sebuah struktur beton
bertulang dapat digunakan sampai jangka waktu yang sangat lama dengan
tidak kehilangan kemampuan menahan bebannya. Hal tersebut karena
hukum kimia proses pemadatan semen yang semakin lama akan semakin
kuat.
6. Untuk bahan pondasi tapak, dinding basement, tiang tumpuan jembatan,
dan semacamnya, beton bertulanglah pilihan paling hemat biaya.
7

7. Beton bertulang bisa dibuat dalam banyak bentuk untuk beragam fungsi
dan kegunaan, seperti bentuk pelat, balok. dari bentuk sederhana seperti
kolom hingga berbentuk atap kubah yang rumit.
8. Material beton bertulang bisa dibuat dari bahan-bahan lokal yang murah
seperti pasir, kerikil, dan air dan relatif hanya membutuhkan sedikit semen
dan tulangan baja.
9. Dibanding struktur baja, pembuatan dan instalasi konstruksi beton
bertulang lebih mudah dan cukup dengan tenaga berkeahlian rendah.

Selain itu struktur beton bertulang juga memiliki beberapa kekurangan


diantaranya :

1. Kuat tarik yang sangat rendah karenanya diperlukan penggunaan tulangan


tarik.
2. Waktu pengerjaan beton bertulang lebih lama.
3. Kualitas beton bertulang variatif bergantung pada kualifikasi para
pembuatnya
4. Dibutuhkan bekisting penahan pada saat pengecoran beton agar tetap di
tempatnya sampai beton tersebut mengeras. Berat beton sendiri sangat
besar (2,4 t/m3), sehingga konstruksi harus memiliki penampang yang
besar.
5. Diperlukannya penopang sementara untuk menjaga agar bekisting tetap
berada pada tempatnya sampai beton mengeras dan cukup kuat untuk
menahan beratnya sendiri.
6. Biaya bekisting reltif mahal hingga sepertiga atau dua pertiga dari total
biaya sebuah struktur beton.
7. Rendahnya kekuatan per satuan berat dari beton mengakibatkan beton
bertulang menjadi berat. Ini akan sangat berpengaruh pada struktur-
struktur bentang-panjang dimana berat beban mati beton yang besar akan
sangat mempengaruhi momen lentur.
8. Bervariasinya sifat-sifat beton dan proporsi-campuran serta
pengadukannya.
8

9. Proses penuangan dan perawatan beton tidak bisa kontrol dengan


ketepatan maksimal, berbeda dengan proses produksi material struktur
lain.

Berdasarkan SNI 03-2847-2013, untuk melindungi tulangan terhadap


bahaya korosi maka di sebelah tulangan luar harus diberi selimut beton. Untuk
beton bertulang, tebal selimut beton minimum yang harus disediakan untuk
tulangan harus memenuhi ketentuan berikut:

Kriteria Tebal selimut beton


(mm)

a. Beton yang dicor di atas dan selalu berhubungan dengan 75


tanah

b. Beton yang tidak berhubungan dengan tanah dan cuaca:

Batang tulangan D-19 hingga D-57 50

Batang tulangan D-16, kawat M-16 ulir atau polos, dan yang 40
lebih kecil

c. Beton yang berhubungan dengan cuaca atau berhubungan


dengan tanah:

Slab, dinding, balok usuk:


-Batang tulangan D-44 dan D-57 40

20
-Batang tulangan D-36 dan yang lebih kecil

Balok, kolom:
-Tulangan utama, pengikat, sengkang, spiral 40

Komponen struktur cangkang, plat lipat: 20


-Batang tulangan D-19 dan yang lebih besar

-Batang tulangan D-16, Kawat M-16 ulir atau polos, dan 13


yang kebih kcil

Tabel 2. 1 Tebal selimut beton


9

2.4. Bagian-bagian Struktur Bangunan Gedung

Struktur Bangunan berfungsi untuk menyalurkan beban yang diterima baik


beban struktur itu sendiri maupun beban diluar struktur dan meneruskan beban
tersebut hingga ke tanah. Bagian-bagian struktur tersebut dibagi menjadi 2 yaitu
struktur atas dan struktur bawah.

2.4.1. Struktur Atas

Struktur atas pada bangunan gedung adalah struktur yang terletak


diatas pemukaan tanah. Elemen-elemen struktur tersebut terdiri dari
kolom, balok, dinding geser, pelat lantai, atap dan tangga. Masing-masing
elemen struktur tersebut memiliki peranan yang sangat penting.

a. Kolom
Kolom merupakan elemen struktur vertikal yang sangat
penting dari suatu bangunan. Kolom adalah struktur utama yang
berfungsi sebagai penerima seluruh beban gedung dari balok untuk
disalurkan ke pondasi. Selain harus mampu menerima beban
vertikal yang sangat besar, kolom juga harus mampu menahan
beban horizontal serta torsi yang diakibatkan oleh eksentrisitas
pembebanan. Keruntuhan pada kolom dapat menyebabkan
runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan atau bahkan seluruh
struktur (total collapse).
b. Balok
Balok merupakan elemen struktur horizontal yang
berfungsi untuk mengikat lantai serta mendukung beban vertikal
yang diakibatkan oleh beban mati dan beban hidup yang bekerja
pada struktur, beban horizontal yang diakibatkan oleh gempa dan
beban angin, serta torsi. Untuk itu perencanaan struktur balok
sangat dibutuhkan untuk mendapatkan struktur balok yang kuat
dan ekonomis terutama pada struktur gedung tinggi.
10

c. Pelat lantai
Pelat lantai adalah lantai yang tidak terletak diatas tanah
langsung. Jadi pelat lantai dapat disebut sebagai lantai tingkat.
pelat lantai didukung oleh balok yang bertumpu pada kolom.
fungsi pelat lantai yaitu menerima beban mati dan beban hidup
yang bekerja pada struktur akibat aktivitas penghuni bangunan.
Ada 2 jenis pelat lantai berdasarkan perbandingan bentang yaitu :
a. Pelat satu arah
pelat 1 arah adalah pelat yang didukung oleh dua
tepi yang berhadapan sehingga lendutan yang timbul hanya
satu arah saja yaitu pada arah yang tegak lurus pada
dukungan tepi. Pelat satu arah dapat diartikan sebagai pelat
yang panjangnya dua kali atau lebih besar dari lebarnya.
b. Pelat dua arah
Pelat dua arah adalah pelat yang didukung
sepanjang keempat sisinya sehingga lendutan yang akan
timbul yaitu dua arah yang saling tegak lurus. atau
perbandingan antara sisi panjang dan sisi pendek yang
saling tegak lurus yang tidak lebih dari dua. Pelat dua arah
dapat diartikan sebagai pelat yang perbandingan bentang
panjang dan bentang pendekya tidak lebih dari dua.
d. Dinding geser (shearwall)
Dinding geser (shearwall) adalah suatu struktur balok
kantilever tipis yang langsing vertikal. Dinding geser berfungsi
untuk menahan beban lateral seperti beban gempa dan beban angin.
Dinding geser biasanya ditempatkan ditempat yang tidak
mengganggu fungsi ruang pada suati bangunan seperti di lift atau
tangga.
e. Atap
Atap adalah bagian paling atas dari struktur bangunan yang
berfungsi melindungi penghuni bangunan dari pengaruh cuaca dan
11

iklim. Bentuk atap juga disesuaikan berdasarkan beberapa faktor


diantaranya iklim, arsitektur, fungsi bangunan, adat serta budaya
setempat dan lain-lain.

2.4.2. Struktur Bawah

Yang dimaksud dengan struktur bawah (sub structure) pada


bangunan gedung adalah pondasi dan struktur yang terletak dibawah
permukaan tanah. Pondasi adalah struktur yang berfungsi untuk
meneruskan beban dari struktur atas ke tanah. Pada perencanaan pondasi
harus diperhatikan sifat-sifat tanah dimana gedung tersebut direncanakan
sehingga struktur pondasi bisa disesuaikan dengan kapasitas daya dukung
tanah.

2.5. Sistem Struktur Tahan Gempa

Sistem struktur tahan gempa berdasarkan SNI dibagi menjadi sistem


rangka pemikul momen dan sistem dinding struktur

2.5.1. Sistem Rangka Pemikul Momen (SPRM)

Pada sistem rangka pemikul momen, beban gravitasi mampu


dipikul oleh rangka struktur. Pada sistem ini beban lateral dipikul dengan
cara aksi lentur pada setiap elemennya. Terdapat beberapa ciri pada sistem
struktur ini:

1. Beban ditransfer oleh geser di kolom sehingga menghasilkan


momen pada balok dan kolom.
2. Hubungan balok-kolom harus didesain dengan baik sebab
hubungan balok kolom merupakan bagian yang penting agar sistem
bekerja dengan baik.
3. Momen dan geser dari beban lateral harus ditambahkan pada
struktur dari beban gravitasi.
12

Menurut (Iswandi dan Fajar, 2014), Sistem Rangka Pemikul


Momen (SRPM) adalah sistem rangka ruang dimana komponen-
komponen struktur balok, kolom dan join-joinnya menahan gaya-gaya
yang bekerja melalui aksi lentur, geser dan aksial. Sistem Rangka Pemikul
momen dapat dibagi menjadi:

1. Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB)


Suatu sistem rangka yang memenuhi ketentuan-ketentuan
harus memenuhi pasal 21.2 SNI 03-2847-2013. Sistem rangka ini
pada dasarnya memiliki tingkat daktilitas terbatas dan hanya cocok
digunakan di daerah dengan risiko gempa yang rendah.
2. Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM)
Suatu sistem rangka yang memenuhi ketentuan-ketentuan
untuk rangka pemikul momen biasa juga memenuhi ketentuan-
ketentuan detailing pasal 21.3 SNI 03-2847-2013. Sistem rangka
ini pada dasarnya memiliki tingkat daktilitas sedang.
3. Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK)
Suatu sistem rangka yang selain memenuhi ketentuan-
ketentuan untuk rangka pemikul momen biasa juga memenuhi
ketentuan-ketentuan pasal 21.5 sampai dengan pasal 21.8 SNI 03-
2847-2013. Sistem ini memiliki daktilitas penuh dan wajib
digunakan di daerah dengan risiko gempa yang tinggi.

2.5.2. Sistem Dinding Struktur (SDS)

dinding struktur adalah dinding yang diproporsikan untuk menahan


kombinasi gaya geser, momen, dan gaya aksial yang ditimbulkan gempa.
(Iswandi dan Fajar, 2014). Dinding struktural dapat dikelompokkan
sebagai berikut:

1. Dinding Struktural Biasa (SDSB)


Suatu dinding struktural yang memenuhi ketentuan-
ketentuan SNI beton pasal 1 hingga pasal 20 serta pasal 22. Sistem
13

dinding ini memiliki tingkat daktilitas terbatas dan hanya boleh


digunakan untuk struktur bangunan yang dikenakan kategori
desain seismik maksimal C.
2. Dinding Struktural Khusus (SDSK).
Suatu dinding struktural yang selain memenuhi ketentuan
untuk dinding biasa juga memenuhi ketentuan-ketentuan pasal
21.9. Sistem dinding ini pada prinsipnya memiliki tingkat daktilitas
penuh dan harus digunakan untuk struktur bangunan yang
dikenakan kategori desain seismik D, E dan F.

2.5.3. Sistem Struktur Ganda

Sistem struktur ganda merupakan gabungan dari sistem pemikul


beban lateral berupa dinding geser yaitu dinding geser/shearwall atau
bresing dengan sistem rangka pemikul momen yaitu elemen kolom dan
balok. Rangka pemikul momen harus direncanakan mampu memikul
sekurang-kurangnya 25% dari seluruh beban lateral yang bekerja.

Kedua sistem harus direncanakan untuk memikul secara bersama-


sama seluruh beban lateral gempa, dengan memperhatikan interaksi
keduanya. Nilai R yang direkomendasikan untuk sistem ganda yang terdiri
atas dinding geser dengan SRPMK adalah 7.

2.6. Daktilitas

Daktilitas adalah kemampuan suatu struktur gedung untuk mengalami


simpangan pasca-elastik yang besar secara berulang kali dan bolak balik akibat
beban gempa diatas beban gempa yang menyebabkan terjadinya pelelehan
pertama, sambil mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup, sehingga
struktur gedung tersebut tetap berdiri, walaupun sudah berada dalam kondisi di
ambang keruntuhan.
14

2.6.1. Faktor Daktilitas

Rasio antara simpangan maksimum struktur pada saat mencapai


kondisi di ambang keruntuhan dan simpangan struktur pada saat terjadinya
pelelehan pertama didalam struktur gedung

2.6.2. Daktail Penuh

Suatu tingkat daktilitas struktur gedung, dimana strukturnya


mampu mengalami simpangan pasca-elastik pada saat mencapai kondisi
diambang keruntuhan yang paling besar, yaitu dengan mencapai nilai
faktor daktilitas sebesar 5,3.

2.6.3. Daktail Parsial

Seluruh tingkat daktilitas struktur gedung dengan nilai faktor


daktilitas diantara untuk struktur gedung yang elastik penuh sebesar 1,0
dan untuk struktur gedung yang daktail penuhg sebesar 5,3

2.7. Pembebanan Struktur

Pada suatu struktur gedung terdapat beban-beban yang bekerja baik beban
beban struktur itu sendiri maupun beban-beban lainnya. Pembebanan pada
struktur ini dibagi menjadi 2 yaitu berdasarkan jenis-jenis pembebanan dan
kombinasi pembebanan.

2.7.1. Jenis-jenis Pembebanan

Jenis-jenis beban yang bekerja pada struktur pada umumnya dapat


digolongkan menjadi 5 jenis pembebanan yaitu :

a. Beban Mati
Beban mati adalah semua beban yang bersifat tetap seperti
struktur itu sendiri maupun semua unsur tambahan seperti
komponen penyelesaian arsitektural, mesin-mesin, serta peralatan
yang tidak terpisahkan dari struktur gedung tersebut. Berikut
15

adalah tabel berat bahan bangunan yang dapat didefinisikan


sebagai beban mati berdasarkan Pedoman Perencanaan
Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung (PPPURG) 1987

Tabel 2. 2 Berat bahan bangunan

Tabel 2. 3 Berat komponen gedung


16

Tabel 2. 4 Berat komponen gedung (lanjutan)

b. Beban hidup
Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat
aktivitas hunian / penggunaan suatu bangunan termasuk beban-
beban pada yang berasal dari barang yang dapat berpindah seperti
furnitur, mesin-mesin serta peralatan yang merupakan bagian
gedung yang tidak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti
selama masa hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkan
perubahan dalam pembebanan struktur gedung tersebut. Khusus
pada atap, beban hidup dapat berupa beban yang berasal dari air
hujan, baik akibat genangan maupun akibat tekan jatuh (energi
kinetik) dari butiran air. beban angin, beban gempa dan beban
khusus tidak termasuk kedalam beban hidup.
Beban hidup dapat dilihat pada standar minimum
pembebanan pada gedung yaitu SNI 1727-2013 yang mengatur
beban minimum pada struktur gedung. Nilai pembebanan dapat
dipilih sesuai dengan fungsi ruang yang direncanakan. Berikut
adalah tabel beban hidup minimum pada struktur gedung.
17

Tabel 2. 5 Beban hidup minimum pada struktur gedung


18

Tabel 2. 6 Beban hidup minimum pada struktur gedung (lanjutan)


19

Tabel 2. 7 Beban hidup minimum pada struktur gedung (lanjutan)

c. Beban angin
Beban angin adalah beban yang bekerja akibat dari tekanan
udara yang mengenai luas tampak bangunan.
d. Beban gempa
Pada wilayah yang dialui oleh jalur gempa atau memiliki
potensi gempa yang cukup besar, beban gempa sangat
diperhitungkan karena dampak yang ditimbulkan terhadap
kerusakan bangunan cukup besar. Banyaknya korban jiwa yang
diakibatkan oleh kegagalan struktur bangunan pada saat terjadi
20

gempa bumi juga mendorong para ahli untuk sangat


mempertimbangkan beban gempa dalam perencanaan untuk
membuat bangunan yang dihasilkan tahan gempa.

Di indonesia ada beberapa pedoman yang dapat digunakan


sebagai acuan dalam mendesain bangunan tahan gempa salah
satunya yang wajib digunakan adalah SNI 1726-2012 tentang Tata
Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan
Gedung dan Non Gedung. SNI ini mengacu pada code ASCE 7-10,
FEMA P750/2009, dan IBC 2009.

Pada SNI 1726-2012 ditentukan bahwa analisa beban


gempa dapat dilakukan dengan 3 metode, yaitu metode analisa
gaya lateral ekuivalen, metode analisa respon spektrum dan metode
riwayat respon seismik. Penentuan metode analisa yang digunakan
dapat ditentukan berdasarkan pada kategori desain seismik
struktur, sistem struktur, properti dinamis dan keteraturan.
Ketentuan prosedur analisa yang diizinkan dapat dilihat pada SNI
1726-2012 tabel 13 sebagai berikut :

Tabel 2. 8 Prosedur analisa beban gempa yang boleh digunakan


berdasarkan SNI
21

e. Beban Khusus

Beban khusus adalah semua beban yang bekerja pada


gedung atau bagian gedung yang terjadi akibat selisih suhu,
pengangkatan dan pemasangan, penurunan pondasi, susut, gaya-
gaya tambahan yang berasal dari beban hidup seperti gaya rem
yang berasal dari crane, gaya sentripetal dan gaya dinamis yang
berasal dari mesin- mesin serta pengaruh-pengaruh khusus lainnya.

2.7.2. Kombinasi Pembebanan

Struktur bangunan harus didesain menggunakan kombinasi


pembebanan kuat rencana struktur sama atau melebihi pengaruh beban-
beban terfaktor. Berdasarkan SNI 1726-2012 pasal 4.2.2 kombinasi beban
untuk metoda ultimit adalah sebagai berikut:

1. 1,4DL
2. 1,2DL+1,6LL+0,5(Lr atau R)
3. 1,2DL +1,6(Lr atau R)+(LL atau 0,5W)
4. 1,2DL+1W+LL+0,5(Lr atau R)
5. 1,2DL+1E+1LL
6. 0,9DL
7. 0,9DL+1E
Untuk nomor 5 dan 7 dengan beban gempa diatur oleh SNI 1726-2012
pasal 7.4.3.2 tentang kombinasi beban dengan faktor kuat lebih sebagai
berikut:
1. (1,2+0,2Sds)DL+LL ± 0,3EX ± 1EY
2. (1,2+0,2Sds)DL+LL ± 1EX ± 0,3EY
3. (0,9+0,2Sds)DL ± 0,3EX ± 1EY
4. (0,9+0,2Sds)DL ± 1EX ± 0,3EY
Keterangan :
DL : Dead Load (Beban mati termasuk SIDL)
LL : Live Load (Beban hidup)
22

EX : Earthquake (Beban gempa)-arah x


EY : Earthquake (Beban gempa)-arah y
R : Rain (Beban hujan)
W : Wind (Beban angin)
 : Faktor redundansi
Sds : Parameter percepatan spektrum respons desain
pada periode pendek

2.8. Konsep Perencanaan Elemen Struktur Tahan Gempa

Kriteria desain untuk struktur bangunan tahan gempa mensyaratkan bahwa


bangunan harus didesain agar mampu menahan beban gempa 2500 tahunan,
sesuai dengan SNI gempa yang berlaku yaitu SNI 1726-2012. Perlu diperhatikan
bahwa struktur bangunan diharapkan tidak runtuh pada saat terjadi gempa. Bila
terjadi gempa ringan, bangunan tidak boleh mengalami kerusakan baik pada
komponen non struktural maupun pada komponen strukturalnya. Bila terjadi
gempa sedang, bangunan boleh mengalami kerusakan pada komponen non
strukturalnya, akan tetapi komponen strukturalnya tidak boleh mengalami
kerusakan. Bila terjadi gempa besar, bangunan boleh mengalami kerusakan pada
komponen non struktural maupun komponen strukturalnya, akan tetapi penghuni
bangunan dapat menyelamatkan diri.

2.8.1. Wilayah Gempa Indonesia

Potensi gempa di Indonesia cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari
posisi geografis Indonesia yang terletak diantara 3 lempeng utama dunia
yaitu lempeng asia, lempeng Australia dan lempeng Eurasia. Indonesia
juga memiliki banyak jalur sesar aktif diantaranya sesar sumatera, sesar
palu, sesar papua atau sesar yang lebih kecil seperti sesar cimandiri dan
sesar lembang di pulau jawa membuat Indonesia menjadi Negara yang
rawan terhadap aktivitas seismik.
23

Sesuai dengan SNI 1726-2012, Indonesia dibagi menjadi beberapa


wilayah gempa. Berikut adalah peta zonasi gempa yang diterbitkan oleh
Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Gambar 2. 1 Peta zonasi gempa Indonesia

2.8.2. Kategori Resiko Bangunan Gedung

Kategori resiko bangunan gedung terdapat pada SNI 1726:2012


Tabel 1. Kategori resiko ini dibagi menjadi 5 kategori gedung tergantung
pada pemanfaatan gedung tersebut serta tingkat kepentingan gedung pasca
gempa.
24

Tabel 2. 9 Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk beban gempa
berdasarkan SNI
25

Tabel 2. 10 Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk beban
gempa berdasarkan SNI (lanjutan)

Setelah mengetahui kategori resiko bangunan gedung selanjutnya


adalah mengetahui nilai faktor keutamaan gempa yang ada pada SNI
1726-2012 berdasarkan kategori resiko yang dipilih. Berikut adalah tabel
faktor keutamaan gempa berdasarkan SNI:

Tabel 2. 11 Faktor keutamaan gempa berdasarkan SNI

2.8.3. Koefisien situs dan parameter respons spektral percepatan


gempa maksimum

Untuk penentuan respons spektral percepatan gempa MCER di


permukaan tanah, diperlukan suatu faktor amplifikasi seismik pada periode
0,2 detik dan periode 1 detik. Faktor amplifikasi meliputi faktor
amplifikasi getaran terkait percepatan pada getaran periode pendek (Fa)
dan faktor amplifikasi terkait percepatan yang mewakili getaran periode 1
detik (Fv). Parameter spektrum respons percepatan pada periode pendek
26

(SMS) dan periode 1 detik (SM1) yang disesuaikan dengan pengaruh


klasifikasi situs, harus ditentukan dengan perumusan berdasarkan SNI
berikut ini:

Keterangan :

SS : Parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan


untuk perioda pendek

S1 : Parameter respons spectral percepatan gempa MCER terpetakan


untuk periode 1,0 detik

Tabel 2. 12 Koefisien situs, Fa berdasarkan SNI

Tabel 2. 13 Koefisien situs, Fv berdasarkan SNI


27

2.8.4. Parameter percepatan spektral desain

Parameter percepatan spektral desain untuk periode pendek, SDS


dan periode 1 detik SD1, harus ditentukan melalui perumusan berikut:

2
3

2
3

2.8.5. Pemilihan Sistem Struktur

Sistem penahan gaya gempa lateral dan vertikal dasar harus


memenuhi salah satu tipe. Pembagian setiap tipe berdasarkan pada elemen
vertikal yang digunakan untuk menahan gaya gempa lateral. Sistem
struktur yang digunakan harus sesuai dengan batasan sistem struktur dan
batasan ketinggian struktur yang ditunjukkan. Koefisien modifikasi
respons yang sesuai R faktor kuat lebih sistem Ω0, dan koefisien
amplifikasi defleksi Cd , sebagaimana ditunjukkan harus digunakan dalam
penentuan geser dasar, gaya desain elemen, dan simpangan antar lantai
tingkat desain. Sistem penahan gaya gempa yang berbeda diijinkan untuk
digunakan, untuk menahan gaya gempa dimasing-masing nilai R, Cd , dan
Ω0 harus dikenakan pada setiap sistem, termasuk batasan sistem struktur
yang termuat dalam tabel dibawah ini.

Tabel 2. 14 Faktor R , Cd , dan Ω0 untuk sistem penahan gaya gempa


berdasarkan SNI
28

Tabel 2. 15 Faktor R , Cd , dan Ω0 untuk sistem penahan gaya gempa


berdasarkan SNI (lanjutan)
29

Tabel 2. 16 Faktor R , Cd , dan Ω0 untuk sistem penahan gaya gempa


berdasarkan SNI (lanjutan)
30

Tabel 2. 17 Faktor R , Cd , dan Ω0 untuk sistem penahan gaya gempa


berdasarkan SNI (lanjutan)

2.8.6. Penentuan Periode

Periode Fundamental Struktur T, dalam arah yang ditinjau harus


diperoleh menggunakan properti struktur dan karakteristik deformasi
elemen penahan dalam analisa yang teruji. Periode fundamental struktur T,
tidak boleh melebihi hasil koefisien untuk batasan atas pada periode yang
dihitung (CU) dari tabel dibawah dan periode pendekatan fundamental Ta.
Sebagai alternatif pada pelaksanaan analisa untuk menentukan periode
fundamental struktur T, diijinkan secara langsung menggunakan periode
bangunan pendekatan Ta, yang dihitung sesuai dengan rumus berikut ini:

.
31

hn adalah ketinggian struktur, dalam (m), diatas dasar sampai


tingkat tertinggi struktur, dan koefisien Ct dan x ditentukan dalam tabel
dibawah ini:

Tabel 2. 18 Koefisien untuk batas atas pada perioda yang dihitung

Tabel 2. 19 Nilai parameter perioda pendekatan Ct dan x

2.9. Perencanaan Dimensi Elemen Struktur

Perencanaan desain struktur dilakukan dengan tahapan-tahapan tertentu


agar konstruksi yang dihasilkan sesuai dengan tujuan rencana yang dirancang.
Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

2.9.1. Pra-Perencanaan (Preliminary Design)

Preliminary design pada dasarnya adalah perhitungan awal dimensi


elemen struktur. Pada tahap pra-perencanaan ini perencana struktur harus
mampu membantu arsitek untuk membuat gambar desain awal gedung
dengan menghitung dimensi awal elemen struktur seperti kolom, balok,
pelat lantai dan dinding geser (shrearwall). Perhitungan dimensi awal
struktur ini juga berguna untuk melakukan permodelan awal pada program
sebelum dilakukan analisa lebih lanjut terhadap dimensi awal struktur.
32

Preliminary design dibagi menjadi 4 yaitu preliminary design pelat lantai,


balok, dinding geser (shrearwall) dan kolom.

a. Preliminary design pelat lantai


Pada Preliminary Design pelat lantai, dimensi yang
dihitung adalah tebal minimum pelat lantai serta penentuan tipe
pelat 1 arah atau 2 arah. Perhitungan tebal minimum pelat lantai
dilakukan berdasarkan pada SNI 2847 : 2013 tabel 9.5(a) tentang
tebal minimum balok dan pelat

Tabel 2. 20 Tebal minimum balok dan pelat 1 arah

Tabel 2. 21 Tebal minimum balok dan pelat 2 arah

b. Preliminary design balok


Pada Preliminary Design balok, dimensi yang dihitung
adalah lebar balok (b) serta tinggi balok (h). Pada perhitungan
dimensi awal elemen balok, digunakan rumus tinggi balok (h)
minimum untuk balok induk adalah L/12, untuk balok anak adalah
33

L/14 dan balok perangkai (link beam) adalah L/6 dengan L adalah
panjang bentang. Selanjutnya, untuk nilai lebar balok (b),
digunakan rumus h/2. Tipe balok yang digunakan untuk seluruh
balok adalah balok persegi.
c. Preliminary design dinding geser (shearwall)
Dinding Geser (Shearwall) Merupakan elemen struktur
yang umum digunakan dalam struktur bangunan tinggi tahan
gempa karena tingkat kekakuan dinding geser yang besar sehingga
energi yang dapat diserap oleh dinding geserpun besar.

Dimensi dinding geser yang digunakan memiliki ketebalan


yang sama di sepanjang tinggi bangunan. Perhitungan dimensi tebal
awal dinding geser dapat dilakukan dengan 2 metode. Metode pertama,
dapat direncanakan berdasarkan tinggi per lantai terbesar (hw)
dibagi 25 atau panjang total dinding geser (lw) dibagi 25, di antara
nilai tersebut dipilih yang terkecil dan tidak boleh lebih kecil dari
100 mm. Metode Kedua untuk tebal minimum elemen dinding
geser dapat dihitung berdasarkan pada SNI 2847:2013 pasal 21.7.5,
tentang panjang penyaluran (ldh) dengan rumus sebagai berikut :

5,4 ′

Keterangan :

fy = tegangan leleh besi beton rencana (MPa)

db = adalah diameter tulangan rencana (mm)

fc’ = mutu beton rencana (Mpa)

Ldh adalah jarak bersih tulangan dinding geser, sehingga


harus ditambahkan tebal selimut beton untuk mendapatkan dimensi
total dinding geser.
34

d. Preliminary design kolom


Pada perhitungan dimensi awal kolom, dimensi yang
dihitung adalah dimensi sisi kolom dengan asumsi awal dimensi
sisi kolom adalah sama. Perhitungan dimensi awal menggunakan
Metode Tributary Area. Pada metode ini dibutuhkan gambar
Arsitektur seperti denah, tampak, potongan serta detail-detail awal
gedung awal sebagai pedoman untuk menghitung berat total
gedung.
Pada Metode ini perencana harus menentukan luasan
tributary area terbesar dengan meninjau luasan lantai yang dipikul
oleh kolom berdasarkan panjang bentang serta menghitung berat
total gedung. Nilai berat total gedung dikalikan dengan rasio luasan
tributary area terbesar terhadap luasan gedung keseluruhan.
Selanjutnya hasil perkalian tersebut akan digunakan untuk
perhitungan dimensi awal kolom dengan rumus sebagai berikut :

0,35 ′

Keterangan :

Pu = Nilai berat total gedung dikali rasio luas tributary area


terbesar terhadap luas keseluruhan gedung (N)

fc’ = mutu beton rencana (Mpa)

2.9.2. Pemodelan Struktur

Gedung dirancang dengan menggunakan sistem ganda yaitu sistem


rangka pemikul momen khusus (SRPMK) dan sistem dinding struktur
khusus (SDSK). Pemodelan struktur gedung dilakukan dengan
menggunakan bantuan program ETABS
35

a. Pemodelan kolom

Kolom dimodelkan pada program ETABS sebagai frame


dan ujung-ujung bawah kolom didesain dengan menggunakan
tumpuan jepit. Pada elemen kolom, momen inersia efektif
direduksi hingga 70% dari momen inersia awal untuk
memperhitungkan keretakan beton akibat gempa. Torsi juga
direduksi sebesar 25% untuk menyeimbangkan nilai reduksi
terhadap inersia momen struktur.

b. Pemodelan balok
Balok akan dimodelkan pada program ETABS sebagai
elemen frame dengan rigid joint sehingga momen-momen
maksimum tempat terbentuknya sendi plastis berada diujung-ujung
balok. Untuk memperhitungkan pengaruh keretakkan beton ketika
terjadinya gempa, momen inersia dari penampang balok direduksi
sehingga momen inersia efektif. Torsi juga direduksi sebesar 25%
untuk menyeimbangkan nilai reduksi terhadap inersia elemen
struktur.
c. Pemodelan pelat lantai
Pemodelan pelat pada program ETABS dimodelkan sebagai
slab dengan tipe shell-thin. Untuk memperhitungkan pengaruh
keretakkan beton ketika terjadinya gempa, momen inersia
penampang pelat direduksi sebesar 25% dari momen inersia awal.
Torsi juga direduksi sebesar 25% untuk menyeimbangkan nilai
reduksi terhadap inersia elemen struktur.
d. Pemodelan dinding geser (shearwall)
Dinding geser dimodelkan pada program ETABS sebagai
elemen wall dengan tipe shell-thin. Pada pemodelan awal,
pembesaran boundary element belum ditambahkan pada ujung-
36

ujung dinding geser. Untuk memperhitungkan pengaruh keretakan


beton (cracking), momen inersia penampang dinding geser efektif
diambil sebesar 70% dari momen inersia jika kondisi tidak retak
atau 35% dari momen inersia jika kondisi retak. Untuk desain
awal, digunakan momen inersia efektif adalah 70% kemudian
nantinya dilakukan pengecekan masing-masing dinding geser.
Torsi juga direduksi sebesar 25% untuk menyeimbangkan nilai
reduksi terhadap inersia elemen struktur

2.10. Perencanaan Penulangan Elemen Struktur

2.10.1. Perencanaan Penulangan Kolom

a. Tulangan longitudinal
Berdasarkan SNI 03-2847-2002 kuat tekan rencana kolom
dengan penulangan sengkang tidak boleh lebih besar dari ketentuan
berikut :
∅. 0,8. ∅. 0,85. . .
Dengan :
Ag = luas tulangan kolom
f’c = kuat tekan beton yang disyaratkan, dalam Mpa
fy = tulangan leleh baja tulangan yang disyaratkan,
dalam Mpa
Ast = luas tulangan baja vertical
 = faktor reduksi kekuatan, diambil sebesar 0,65.
Pn = kekuatan beban aksial nominal pada eksentrisitas
yang diberikan.
Selanjutnya beban aksial nominal tersebut masih haru
direduksi lagi dengan menggunakan faktor reduksi kekuatan ()
yang tertera dalam RSNI. Untuk perencanaan lentur kolom harus
memenuhi:
6
∑ ∑
5
37

Dengaan
∑Me = jumlah mo
omen padaa muka joiin, dengan kuat
lentur nom
minal kolom
m
∑Me = jumlah mo
omen padaa muka joiin, dengan kuat
lentur nom
minal balok

Menurut Standar Peerencanaan Ketahanann Gempa untuk


u
Struktuur Bangunaan Gedung,, perhitungaan gaya akksial dan momen
rencanna kolom harus meenggunakann kombinaasi pembeb
banan
terfakttor antara beban
b grav
vitasi dan beban
b gemppa dalam 2 arah
tegak lurusnya
l yaaitu 100% dalam
d satu arah
a dan 30%
% arah lain yang
tegak lurus terhaddap arah tersebut. Adaapun batasaan rasio tulaangan
kolom
m sesuai SNII 03-2847-2
2013 adalahh tidak kuraang dari 0,01 dan
tidak lebih
l dari 0,,06.

b. Tulanggan transverrsal
2847-2013 pasal 21.6.4.4 poin
Menurut SNI 03-2 n (b)
tulanggan geser berbentuk
b persegi
p sebaagai tulangaan pengikaat dan
geser tidak
t boleh kurang darii:

dimanna,

Ag = luas bruto penampang


p

Ach = luas
l penamp
pang dari siisi luar ke ssisi luar tulaangan
geser

S = spasi
s tulang
gan geser

Hc = dimensi
d pen
nampang innti kolom diiukur dari su
umbu
ke sumbu tu
ulangan penngekang
38

f’c = kuat tekan beton

fy = kuat leleh tulangan geser

sesuai SNI 03-2847-2013 tulangan geser dipasang λ0 dari setiap


muka hubungan balok kolom dengan spasi tidak lebih dari pada:

1. ¼ dari dimensi terkecil komponen struktur


2. 6 kali diameter tulangan longitudinal

3. 100 s

Nilai sx tidak perlu besar daripada 150 mm dan tidak perlu lebih
kecil daripada 100mm. hx adalah spasi maksimum horizontal
untuk kaki-kaki sengkang tertutup atau sengkang ikat pada semua
muka kolom.

Panjang λ0 tidak kurang daripada:

1. Tinggi penampang komponen struktur pada muka


hubungan balok kolom atau pada segmen yang
berpotensi membentuk leleh lentur
2. 1/6 bentang bersih,
3. 500 mm.

2.10.2. Perencanaan Penulangan Balok

Sesuai SNI 03-2847-2013 batasan penampang komponen sruktur


tersebut harus memenuhi syarat- syarat di bawah ini:

 Gaya aksial tekan terfaktor pada komponen struktur tidak boleh


melebihi 0,1.Ag.f’c
 Bentang bersih komponen struktur tidak boleh kurang dari
empat kali tinggi efektifnya
 Perbandingan lebar terhadap tinggi tidak boleh kurang dari 0,3
39

 Leebarnya tidaak boleh kurrang dari 2550 mm dan ttidak boleh lebih
mponen strruktur penduukung (diukkur pada bidang
darri lebar kom
teggak lurus terhadap
t su
umbu longitudinal kom
mponen strruktur
lenntur) ditam
mbah jarak pada tiapp sisi kom
mponen strruktur
penndukung yaang tidak melebihi
m tigaa perempat ttinggi komp
ponen
strruktur lenturr.
1. Tuulangan longgitudinal
Peerencanaan tulangan
t len
ntur balok didasarkan pada penurrunan
rum
mus untuk tulangan raangkap. Gaaya-gaya yaang bekerja pada
balok desak beton,
b baja desak
d dan baaja tarik adaalah :

Gambar 2. 2 Disttribusi teganngan regangaan balok

Peerencanaan tulangan balok


b mengggunakan llangkah lan
ngkah
sebbagai berikuut ini:

Jikka tegangan pada


p baja deesak padat ddihitung den
ngan:

Keeseimbangan gaya-gayaa horisontall Cc + Cs addalah Ts, maka:


m
40

denngan,

Daari keseimbaangan mom


men diperoleeh:

denngan mempperhatikan persamaan


p (2.1), (2.2)), (2.3) dan (2.4)
dihhasilkan :

2. Tuulangan trannsversal
Menurut SNI 47-2013 gaaya geser reencana Ve harus
S 03-284
dittentukan daari peninjau
uan gaya staatik pada baagian komp
ponen
strruktur antarra dua muk
ka tumpuann. Momen--momen deengan
tannda perlawaanan sehub
bungan denggan kuat leentur maksiimum
Mppr, harus dianggap
d beekerja pada muka-mukka tumpuan
n, dan
koomponen strruktur terseebut dibebaani dengan beban graavitasi
terrfaktor di sepanjang bentangnyya. Besarnnya gaya geser
renncana adalaah:
41

Momen-momen ujung Mpr didasarkan pada tegangan tarik


1,25.fy. Mengenai spasi maksimum tulangan transversal, maka
jarak maksimum sengkang pada daerah sendi yaitu di daerah
sepanjang dua kali tinggi balok, adalah nilai terkecil dari:
a. 1/4d
b. 24 kali diameter batang tulangan sengkang
c. 300 mm

2.10.3. Perencanaan Penulangan Dinding Geser

Dinding geser diperlakukan sebagai kolom pendek ekivalen untuk


menjamin stabilitas dan kemudahan analisa penampangnya, sehingga
penampang dinding geser harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :

1. Jika jarak garis netral lebih dari empat kali lebar sayap
penampang dinding geser (y>4B) atau lebih dari 0,3 kali lebar
total penampang dinding geser (y>0,3L) maka ditentukan lebar
sayap penampang dinding geser lebih dari sepersepuluh jarak
bersih tingkat lantai (B>ln/10)
2. Ketentuan lebar sayap penampang dinding geser tidak perlu
ditinjau untuk keadaan sebaliknya
3. Jarak garis netral (y) dibatasi sehingga pada saat regangan serat
tekan terluar sebesar 0,003 maka regangan pada sisi dalam
penampang sayap maksimal sebesar 0,0015.
Penyusunan tulangan dilakukan dengan memberikan sebagian
besar tulangan pada tepi penampang dinding geser dan penulangan
minimum (ρmin = 0,25) pada bagian badan dinding geser, dengan tujuan
agar dinding geser memiliki momen yang lebih besar dan daktilitas yang
lebih baik.
Analisa penampang dinding geser merupakan prosedur coba coba
dengan keserasian regangan, yaitu dengan menentukan tinggi garis netral
(y) sebagai harga taksiran pertama sehingga didapat harga eksentrisitas
42

perrtama (el) untuk


u dibanndingkan deengan eksenntrisitas yanng diberikan (e).
Kuuat lentur diinding geser dianalisa seperti padaa analisa peenampang kolom
k
berrdasarkan prinsip
p keseeimbangan gaya
g dan momen.
m Disttribusi gayaa pada
tullangan baja (Ts,i) dihituung untuk tiap
t tiap lapisan dengann persamaan
n:
.
Nilai Asi adaalah luas tulangan
t paada satu laapisan dan nilai fsi adalah
a
teggangan padaa tulangan baja yang bersangkuta
b an. nilai fsi tergantung pada
reggangan yangg terjadi ɛsi yang nilainya adalah :
43

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Metode Pengumpulan data

Dalam merencanakan bangunan bertingkat tinggi, diperlukan data-data


untuk digunakan dalam perencanaan. Pada penelitian ini, data-data tersebut dapat
dibagi menjadi dua tipe data yaitu :

a. Data primer
b. Data sekunder

3.1.1. Data Primer

Data primer merupakan data-data tentang bangunan yang


direncanakan. Data bangunan yang akan didesain bukan data yang rill,
karena penelitian ini dibuat untuk keperluan akademik saja. Data-data
tersebut adalah :

a. Data bangunan
Nama bangunan : Djati 27 Office Tower
Lokasi : Semarang
Jumlah lantai : 20 lantai
Tinggi antar lantai : 3,5 meter
Fungsi bangunan : Bangunan perkantoran
Struktur bangunan : Beton bertulang
Jenis Tanah : Tanah lunak
b. Data layout gedung
Data layout diperlukan untuk menentukan desain awal dari
elemen struktur, mengidentifikasi beban berdasarkan ruang,
sebagai acuan permodelan struktur, dan lain-lain.
44

Gambar 3. 1 Layout denah gedung lantai 1

Gambar 3. 2 Layout denah gedung lantai 2


45

Gambar 3. 3 Layout denah gedung lantai 3-20

c. Data material dan mutu struktur


Bangunan yang direncanakan menggunakan struktur beton
bertulang sehingga material struktur yang digunakan adalah
beton dan baja tulangan. untuk spesifikasinya adalah sebagai
berikut :
Mutu beton : K-450 (fc' 37,35 Mpa) digunakan untuk
elemen struktur kolom dan dinding geser
(shrearwall).
: K-400 (fc' 33.2 Mpa) digunakan untuk
elemen struktur balok dan pelat.
Mutu baja : fy = 400 Mpa digunakan untuk semua
tulangan.
46

d. Data gempa
Data gempa perlu didapatkan untuk mengetahui seberapa
besar beban gempa yang akan dipikul oleh struktur yang
direncanakan. Data gempa ini berbeda pada tiap daerah desain.
Bangunan yang direncanakan berlokasi di semarang dengan
jenis tanah lunak. Data pembebanan gempa dan data respon
spektrum didapat dari website puskim untuk digunakan pada
perhitungan struktur. Data gempa yang didapatkan adalah
sebagai berikut :

Gambar 3. 4 Peta lokasi rencana gedung menurut Puskim


berdasarkan parameter S1

Gambar 3. 5 Peta lokasi rencana gedung menurut Puskim


berdasarkan parameter SS

Berdasarkan data peta gempa di atas dapat diambil


beberapa paramerter yang akan digunakan dalam melakukan
47

perencanaan. Beberapa parameter tersebut dituangkan dalam


tabel sebagai berikut :

PARAMETER RESPON SPEKTRUM


Kategori Resiko II
Faktor Keutamaan Ie 1
Klasifikasi Situs Tanah lunak
Percepatan gempa MCEr terpetakan
Ss 1.032
untuk periode pendek
Percepatan gempa MCEr terpetakan
S1 0.344
untuk periode 1 detik
Faktor amplifikasi periode pendek Fa 0.9
faktor amplifikasi periode 1 detik Fv 0.9
percepatan pada periode pendek Sms 0.929
percepatan periode 1 detik Sm1 0.902
Percepatan desain pada periode pendek Sds 0.619
percepatan desain pada periode 1 detik Sd1 0.601
Parameter Periode To 0.194
Ts 0.971

Tabel 3. 1 Parameter respon spektrum

Setelah didapatkan data gempa, perlu juga ditetapkan


sistem struktur yang akan digunakan. pada perencanaan ini
menggunakan sistem struktur ganda yaitu Sistem Rangka
Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Sistem Dinding
Struktur Khusus (SDSK). Beberapa parameter yang didapat
dari penentuan sistem struktur adalah sebagai berikut:

PARAMETER SISTEM STRUKTUR


SUMBER
GANDA
Faktor Koefisien Modifikasi 7,00 SNI 1726-2012
Faktor Kuat Lebih Sistem 2,50 SNI 1726-2012
Faktor Pembesaran Defleksi 5,50 SNI 1726-2012

Tabel 3. 2 Parameter sistem struktur ganda

e. Data kombinasi beban


Kombinasi beban dibuat untuk merancang struktur sedemikian
hingga kuat rencananya sama atau melebihi pengaruh beban
48

beban terfaktor. Berdasarkan SNI 1726-2012 pasal 4.2.2


kombinasi beban untuk metoda ultimit adalah sebagai berikut:
1. 1,4DL
2. 1,2DL+1,6LL+0,5(Lr atau R)
3. 1,2DL +1,6(Lr atau R)+(LL atau 0,5W)
4. 1,2DL+1W+LL+0,5(Lr atau R)
5. 1,2DL+1E+1LL
6. 0,9DL
7. 0,9DL+1E
Untuk nomor 5 dan 7 dengan beban gempa diatur oleh SNI
1726-2012 pasal 7.4.3.2 tentang kombinasi beban dengan
faktor kuat lebih sebagai berikut:
1. (1,2+0,2Sds)DL+LL ± 0,3EX ± 1EY
2. (1,2+0,2Sds)DL+LL ± 1EX ± 0,3EY
3. (0,9+0,2Sds)DL ± 0,3EX ± 1EY
4. (0,9+0,2Sds)DL ± 1EX ± 0,3EY
Keterangan :
DL : Dead Load (Beban mati termasuk SIDL)
LL : Live Load (Beban hidup)
EX : Earthquake (Beban gempa)-arah x
EY : Earthquake (Beban gempa)-arah y
R : Rain (Beban hujan)
W : Wind (Beban angin)
 : Faktor redundansi
Sds : Parameter percepatan spektrum respons desain
pada periode pendek
Berikut adalah kombinasi beban yang digunakan
49

Tabel 3. 3 Kombinasi pembebanan

f. Data faktor skala awal


Perhitungan faktor skala dilakukan berdasarkan nilai
2
percepatan gravitasi (g) 9,8m/s , faktor keutamaan gempa (I)
berdasarkan SNI 1726-2012 tabel 2 dan faktor koefisien
modifikasi (R) berdasarkan SNI 1726-2012 tabel 9.

Perhitungan dilakukan dengan rumus

Berdasarkan SNI didapatkan nilai I=1 dan R=7 dan hasil


perhitungan faktor skala didapat nilai 1,4 dalam satuan meter.
50

3.1.2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang berasal dari referensi tentang


peraturan-peraturan dan ketentuan yang berlaku pada perencanaan struktur
gedung tinggi seperti literatur-literatur, SNI, pedoman perencanaan
gedung, dan lain sebagainya.

3.2. Metode Penelitian

Pada penelitian ini, metode penelitian yang dilakukan adalah dengan


mengunakan metode kuanitatif yaitu dengan cara perhitungan secara ilmiah
terhadap struktur yang didesain mulai dari tahap desain awal hingga tahap desain
akhir sruktur.

3.3. Metode Pengujian Data

Pada penelitian ini metode pengujian data yang digunakan adalah dengan
menggunakan software ETABS v9.7.0 yaitu aplikasi analisis struktur yang
diluncurkan oleh CSI. Metode ini digunakan karena dikhususkan untuk analisis
struktur dan kemudahan dalam pengoperasiannya. Pada penelitian ini,
perencanaan struktur hanya difokuskan pada struktur atas yaitu struktur yang
terletak diatas tanah yang meliputi kolom, balok, pelat lantai dan dinding geser
(shearwall).

Alur pelaksanaan tugas akhir ini dimulai dari persiapan literatur yaitu
mengumpulkan data-data berupa literatur-literatur, peraturan-peraturan yang
berlaku dalam perencanaan gedung tinggi, model atau layout bangunan yang akan
direncanakan, informasi mengenai fungsi bangunan dan material yang digunakan
serta data gempa pada lokasi bangunan yang akan direncanakan sampai desain
penulangan tiap elemen struktur dan diakhiri dengan kesimpulan dan saran. untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram alur pengerjaan tugas akhir berikut :
51

Mulai

pengumpulan literatur, penelitian yang telah


ada, peraturan-peraturan yang berlaku & data
gempa

Identifikasi dan pembuatan desain arsitektur


gedung

Perhitungan dimensi awal penampang elemen


struktur (preliminary design)

Permodelan struktur, input material dan mutu


yang digunakan serta input pembebanan pada
Program ETABS

Tidak Ok
Proses analisa struktur oleh program ETABS

Pengecekan perilaku struktur bangunan

Ok

Desain penulangan elemen Struktur


berdasarkan ketentuan sistem struktur ganda

Kesimpulan & Saran

Selesai

Gambar 3. 6 Diagram alur pengerjaan tugas akhir


BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Perencanaan Awal Dimensi Struktur

Perencanaan awal dimensi struktur atau yang dikenal dengan istilah


preliminary design merupakan tahap awal dari perencanaan struktur bangunan.
Preliminary design diperlukan untuk menentukan besaran dimensi awal elemen
struktur beton bertulang untuk dianalisa pada software ETABS. Penentuan
dimensi dihitung berdasarkan ketentuan dari SNI 2847 : 2013 tentang persyaratan
beton struktural untuk bangunan gedung.

4.1.1. Preliminary Design Elemen Pelat Lantai

Preliminary Design pelat lantai dihitung berdasarkan pada SNI


2847 : 2013 tabel 9.5(a) tentang tebal minimum balok dan pelat

Tabel 4. 1 Tebal minimum balok dan pelat 1 arah

52
53

Tabel 4. 2 Tebal minimum balok dan pelat 2 arah

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa perencanaan awal


dimensi pelat dapat menggunakan panjang bentang pelat. Pada Penentuan
tebal minimum pelat, ditetapkan pelat 1 arah jika ly/lx>2, sedangkan untuk
pelat 2 arah jika 1≤ly/lx≤2, dengan ly adalah bentang terpanjang dan lx
adalah bentang terpendek. Digunakan rumus ln/28 untuk pelat 1 arah dan
ln/33 untuk pelat 2 arah dengan ln adalah bentang terpendek. Hasil
Preliminary Design elemen pelat lantai pada struktur gedung perkantoran
20 lantai ini adalah sebagai berikut :

H
Kode H
Ly Lx Ly/Lx Tipe Pelat min
Pelat (mm)
(mm)
S1 6000 3000 2 2 Arah 90.91 120
S2 3000 2500 1.167 2 Arah 75,76 120

Tabel 4. 3 Hasil preliminary design elemen pelat lantai

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa didapat tebal pelat yang
digunakan hanya 1 yaitu 120mm.

4.1.2. Preliminary Design Elemen Balok

Pada perhitungan dimensi awal elemen balok, digunakan rumus


tinggi balok (H) minimum untuk balok induk adalah L/12, untuk balok
54

anak adalah L/14 dan untuk balok perangkai (link beam) adalah L/6
dengan L adalah panjang bentang. Selanjutnya, untuk nilai lebar balok (B),
digunakan rumus H/2. Tipe balok yang digunakan untuk seluruh balok
adalah balok persegi. Berikut adalah perhitungan dimensi awal balok:

L Hmin H Bmin B
Tipe Status Tipe
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm)

B1 Balok Induk Persegi 6000 500 500 250 250

B2 Balok Induk Persegi 5000 416,67 450 225 250

B3 Balok Anak Persegi 6000 428,57 450 225 250

B4 Balok Anak Persegi 5000 357,14 400 200 200

BP Link Beam Persegi 6000 1000 1000 500 500

Tabel 4. 4 Perhitungan preliminary design elemen balok

Dari Tabel 4.4, terdapat empat tipe balok yang digunakan dalam
perencanaan, yakni 2 balok induk dan 2 balok anak. Namun karena
dimensi balok B1 dan balok B2 hampir sama, maka diambil salah satu tipe
balok yang akan digunakan. Begitu juga dengan balok B3 dan balok B4.
Berikut rangkuman dari dimensi balok yang akan digunakan :

Tipe Status B (mm) H (mm)

B1 Balok Induk 250 500


B2 Balok Anak 200 400
BP Link Beam 500 1000

Tabel 4. 5 Hasil preliminary design elemen balok

4.1.3. Preliminary Design Elemen Dinding Geser

Dinding geser yang digunakan memiliki ketebalan yang sama di


sepanjang tinggi bangunan. Metode pertama, tebal dinding geser dapat
direncanakan berdasarkan tinggi per lantai terbesar (hw) dibagi 25 atau
55

panjang dinding geser (lw) dibagi 25, di antara nilai tersebut dipilih yang
terkecil dan tidak boleh lebih kecil dari 100 mm. Berikut perhitungan
ketebalan dinding geser:

3500
140
25 25

6000
240
25 25

Diambil nilai terkecil yaitu 140mm

Metode Kedua untuk tebal minimum elemen dinding geser dapat


dihitung berdasarkan pada SNI 2847:2013 pasal 21.7.5, tentang panjang
penyaluran (ldh) dengan rumus sebagai berikut :

5,4 ′

Dengan

fy = tegangan leleh besi beton rencana (MPa)

db = adalah diameter tulangan rencana (mm)

fc’ = mutu beton rencana (Mpa)

Ldh adalah jarak bersih tulangan dinding geser, sehingga harus


ditambahkan tebal selimut beton untuk mendapatkan dimensi total dinding
geser. dari rumus diatas dapat diperoleh jarak bersih tulangan dinding
geser dengan perhitungan sebagai berikut :

5,4 ′

400 22
282,83
5,4 √33.2
56

Direncanakan tebal selimut beton yang digunakan = 40cm,


sehingga tebal minimum dinding geser adalah =282,83 + 40 + 40 =
362,83mm. Berdasarkan perhitungan diatas, tebal dinding geser yang
digunakan adalah 400mm.

4.1.4. Preliminary Design Elemen Kolom

Perhitungan dimensi awal kolom pada bangunan perkantoran 20


lantai ini menggunakan Metode Tributary Area. Berdasarkan gambar
layout gedung, terdapat 8 tributary area. berikut adalah gambar
pembagian tributary area pada gedung yang direncanakan:

Gambar 4. 1 Tributary area pada gedung

Berdasarkan gambar diatas, didapatkan 8 tributary area. Pada


perencanaan dimensi awal kolom ini digunakan luasan tributary area
terbesar yaitu tributary area 1 dengan luasan 36m2. Pembebanan yang
57

ditinjau dalam perencanaan ini dibagi 4 yaitu lantai 1-5, lantai 6-10, lantai
10-15 dan lantai 16-20 Tujuannya selain membuat kolom semakin ringan
di lantai atas juga sebagai efisiensi dari elemen struktur kolom. Berikut
perhitungan pembebanan pada masing-masing pembagiannya serta
dimensi kolom yang digunakan :

beban Total
Luas Volume Jumlah
Jenis Beban per m2 / Beban
(m2) (m3) lantai
m3 (Kg) (kN)

Pelat
Lantai 24 221.738 6 31016.736
DEAD Tangga 24 16.56 5 1987.2
LOAD Kolom 24 83.16 5 9979.2
Shearwall 24 50.4 5 6048
Balok 24 99.56 5 11947.2
LIVE LOAD 4.79 1932 5 46271.4
RAIN LOAD 0.5 1932 1 966
SUPER DEAD
LOAD 43515.832

TOTAL 151731.57

Tabel 4. 6 Perhitungan beban pada lantai 16-20

Luasan Per Lantai = 1932 m2


Berat Keseleruhan = 151731.568 KN = 15173157 kg = 15173.157 Ton

PRELIMINARY DESIGN KOLOM LANTAI 16-20


fc' = 37.35 Mpa
2
Luasan TA 6 x 6 = 36 m = 0.0186335 dari luasan total maka
Pu1 = 2827.2963 kN = 2827296.298 N
Ag ≥ Pu
0.35 √ Fc'

Ag ≥ 2827296.298
0.35 √ 37
2
Ag ≥ 216278.1639 mm maka s kolom = 465.0572 mm
= 46.50572 cm
maka digunakan dimensi = 50 x 50 cm
58

beban
Luas Volume Jumlah Total
Jenis Beban per m2 /
(m2) (m3) lantai Beban (kN)
m3 (Kg)

Pelat Lantai 24 221.738 6 31016.736


Tangga 24 16.56 5 1987.2
DEAD
Kolom 24 83.16 5 9979.2
LOAD
Shearwall 24 50.4 5 6048
Balok 24 99.56 5 11947.2
LIVE LOAD 4.79 1932 5 46271.4
SUPER DEAD
LOAD 43515.832

TOTAL 150765.57

Tabel 4. 7 Perhitungan beban pada lantai 11-15

Luasan Per Lantai = 1932 m2


Berat Keseleruhan = 150765.568 KN = 15076557 kg = 15076.557 Ton
Berat Lantai 16-20 = 151731.57 KN
Berat Keseluruhan = 302497.14 KN = 30249714 Kg = 30249.7136 Ton

PRELIMINARY DESIGN KOLOM LANTAI 11-15


fc' = 37.35 Mpa
2
Luasan TA 6 x 6 = 36 m = 0.0186335 dari luasan total maka
Pu1 = 5636.5926 kN = 5636592.596 N
Ag ≥ Pu
0.35 √ Fc'

Ag ≥ 5636592.596
0.35 √ 37
2
Ag ≥ 431179.3916 mm maka s kolom = 656.6425 mm
= 65.66425 cm
maka digunakan dimensi = 70 x 70 cm
59

beban Total
Luas Volume Jumlah
Jenis Beban per m2 / Beban
(m2) (m3) lantai
m3 (Kg) (kN)

Pelat Lantai 24 221.738 6 31016.736


Tangga 24 16.56 5 1987.2
DEAD
Kolom 24 83.16 5 9979.2
LOAD
Shearwall 24 50.4 5 6048
Balok 24 99.56 5 11947.2
LIVE LOAD 4.79 1932 5 46271.4
SUPER DEAD
LOAD 43515.832

TOTAL 150765.57

Tabel 4. 8 Perhitungan beban pada lantai 5-10

Luasan Per Lantai = 1932 m2


Berat Keseleruhan = 150765.568 KN = 15076557 kg = 15076.557 Ton
Berat Lantai 11-20 = 302497.14 KN
Berat Keseluruhan = 453262.70 KN = 45326270 Kg = 45326.2704 Ton

fc' = 37.35 Mpa


2
Luasan TA 6 x 6 = 36 m = 0.0186335 dari luasan total maka
Pu1 = 8445.8889 kN = 8445888.894 N
Ag ≥ Pu
0.35 √ Fc'

Ag ≥ 8445888.894
0.35 √ 37
2
Ag ≥ 646080.6192 mm maka s kolom = 803.7914 mm
= 80.37914 cm
maka digunakan dimensi = 90 x 90 cm
60

beban Total
Luas Volume Jumlah
Jenis Beban per m2 / Beban
(m2) (m3) lantai
m3 (Kg) (kN)

Pelat Lantai 24 221.738 6 31016.736


Tangga 24 16.56 5 1987.2
DEAD
Kolom 24 83.16 5 9979.2
LOAD
Shearwall 24 50.4 5 6048
Balok 24 99.56 5 11947.2
LIVE LOAD 4.79 1932 5 46271.4
SUPER DEAD
LOAD 43515.832

TOTAL 150765.57

Tabel 4. 9 Perhitungan beban pada lantai 1-5

Luasan Per Lantai = 1932 m2


Berat Keseleruhan = 150765.568 KN = 15076557 kg = 15076.557 Ton
Berat Lantai 6-20 = 453262.70 KN
Berat Keseluruhan = 604028.27 KN = 60402827 Kg = 60402.8272 Ton

fc' = 37.35 Mpa


2
Luasan TA 6 x 6 = 36 m = 0.0186335 dari luasan total maka
Pu1 = 11255.185 kN = 11255185.19 N
Ag ≥ Pu
0.35 √ Fc'

Ag ≥ 11255185.19
0.35 √ 37
2
Ag ≥ 860981.8468 mm maka s kolom = 927.8911 mm
= 92.78911 cm
maka digunakan dimensi = 100 x 100 cm

Tahap akhir dari preliminary design elemen struktur kolom adalah


pengecekan terhadap kelangsingan struktur kolom tersebut berdasarkan
dimensi kolom yang telah dihitung serta ketinggian dari kolom tersebut.
Syarat kolom dikatakan langsing bila memenuhi perhitungan dari rumus
berikut :
61

λ 22
0,3

Dengan :

K : Faktor panjang tekuk (jepit-jepit =0,65)

lu : Tinggi kolom

s : Sisi kolom (dimensi kolom)

Berikut adalah perhitungan kelangsingan kolom yang dituangkan


dalam tabel :

Lantai Lu (mm) S (mm) Klu/r Keterangan


16-20 3500 500 15,167 Kolom langsing
11-15 3500 700 10,833 Kolom langsing
6-10 3500 900 8,430 Kolom langsing
1-5 3500 1000 7,583 Kolom langsing

Tabel 4. 10 Pengecekan kelangsingan kolom

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa semua tipe kolom yang
dihitung merupakan kolom langsing. Berikut adalah rekapitulasi hasil
Preliminary Design kolom yang akan digunakan pada permodelan
struktur :

Dimensi
Tipe Kolom Lantai
(mm)
K1 1-5 1000x1000
K2 6-10 900x900
K3 11-15 700x700
K4 16-20 500x500

Tabel 4. 11 Rekap hasil preliminary design kolom

4.2. Pemodelan Struktur

Pemodelan struktur gedung perkantoran 20 lantai ini dilakukan


menggunakan program ETABS. Pada pemodelan struktur mengacu pada denah
aritektural yang sudah dibuat dan peraturan-peraturan desain mengacu pada SNI.
62

4.2.1. Input Data Material

Tahap awal dari permodelan struktur pada program ETABS adalah input
data material. Proses ini diperlukan untuk mendefinisikan jenis material serta
mutu yang digunakan pada struktur bangunan. Pada tahap ini jenis material yang
digunakan adalah beton dengan mutu K-450 untuk elemen struktur kolom dan
dinding geser dan mutu K-400 untuk elemen struktur balok dan pelat lantai.
berikut adalah proses input data material pada program ETABS :

Gambar 4. 2 Input material beton K-400 pada program ETABS

Gambar 4. 3 Input material beton K-450 pada program ETABS


63

4.2.2. Input Data Elemen Struktur

Tahap selanjutnya adalah tahap input data elemen struktur. Tahap


ini diperlukan untuk mendefinisikan dimensi elemen struktur yang
digunakan serta mutu yang digunakan berdasarkan input data material
yang telah dibuat. Dimensi elemen struktur yang diinput dibuat sesuai
dengan hasil preliminary design.

Untuk memperhitungkan pengaruh keretakan beton ketika


terjadinya gempa, momen inersia pelat direduksi sampai sebesar 25%
untuk menyeimbangkan nilai reduksi terhadap inersia elemen struktur.
Momen inersia balok juga direduksi 70% sehingga momen inersia efktif
dan torsi juga direduksi sebesar 25% untuk menyeimbangkan nilai reduksi
terhadap inersia elemen struktur. Pada elemen kolom, momen inersia
efektif kolom juga direduksi hingga 70% untuk meperhitungkan keretakan
beron akibat gempa. Pada elemen dinding geser momen inersia efektif
diambil sebesar 70% dari momen inersia jika kondisi tidak retak atau 35%
dari momen inersia jika kondisi retak. Berikut adalah proses input data
elemen struktur pada program ETABS :

Gambar 4. 4 Input dimensi penampang kolom


64

Gambar 4. 5 Input tebal selimut beton dan tulangan kolom

Gambar 4. 6 Input properti penampang kolom


65

Gambar 4. 7 Input dimensi penampang balok

Gambar 4. 8 Input tebal selimut betonbalok


66

Gambar 4. 9 Input properti penampang balok

Gambar 4. 10 Input dimensi tebal pelat lantai


67

Gambar 4. 11 Input properti penampang pelat lantai

Gambar 4. 12 Input dimensi tebal dinding geser


68

Gambar 4. 13 Input properti penampang pelat dinding geser

4.2.3. Input Data Jenis Pembebanan

Jenis pembebanan yang digunakan pada permodelan struktur ini


ada 4 jenis yaitu beban mati (D), beban mati tambahan, beban hidup (L),
beban hujan (R) serta beban gempa (Q). Pada beban gempa dibuat menjadi
2 yaitu beban gempa arah x (QX) dan beban gempa arah y (QY). berikut
adalah proses input data jenis pembebanan :

Gambar 4. 14 Input data jenis pembebanan


69

4.2.4. Input data gempa

Ada beberapa pedoman yang dapat digunakan sebagai acuan dalam


mendesain bangunan tahan gempa salah satunya yang wajib digunakan
adalah SNI 1726-2012 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa
Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung. SNI ini mengacu
pada code ASCE 7-10, FEMA P750/2009, dan IBC 2009.

Metode yang digunakan pada analisa beban gempa dapat dilakukan


dengan 3 metode, yaitu metode analisa gaya lateral ekuivalen, metode
analisa respon spektrum dan metode riwayat respon seismik. Pada
perencanaan gedung perkantoran ini berlokasi di Semarang dengan jenis
tanah lunak. Analisis respon spektrum menggunakan metode respon
spektum dengan data yang diperoleh dari website puskim. Berikut adalah
proses input data gempa pada program ETABS :

Gambar 4. 15 Input data gempa dengan metode analisis respon spektrum


70

4.2.5. Input Data Kombinasi Pembebanan

Berikut adalah proses input data kombinasi pembebanan sesuai


dengan data yang telah diperoleh :

Gambar 4. 16 Input data kombinasi pembebanan

4.2.6. Pembuatan Model 3D Struktur

Elemen struktur yang telah didefinisikan pada program ETABS


selanjutnya dibuat menjadi model 3D. Model 3D ini dibuat sebagai desain
awal sebelum nantinya akan dilakukan analisa lebih lanjut untuk
mengetahui perilaku struktur. Jika perilaku struktur belum memenuhi
syarqat dan ketentuan dari SNI 1726-2012 maka akan dilakukan
perubahan baik dalam segi mutu material yang digunakan pada elemen
struktur ataupun dimensi serta tata letak elemen struktur. Namun jika
perilaku struktur sudah sesuai dengan ketentuan SNI 1726-2012 maka
akan dilanjutkan dengan perhitungan penulangan masing-masing elemen
struktur. Berikut adalah model awal 3D struktur yang dibuat:
71

Gambar 4. 17 Denah gedung lantai 1-5

Berikut dimensi elemen struktur yang digunakan pada desain awal


lantai 1-5 :

Tebal
Elemen Struktur B (mm) H (mm) Sisi (mm)
(mm)
Kolom 1000x1000
Balok Utama 250 500
Balok Anak 200 450
Pelat lantai 120
Shearwall 400

Tabel 4. 12 Dimensi struktur yang digunakan pada desain awal lantai 1-5
72

Gambar 4. 18 Denah gedung lantai 6-10

Berikut dimensi elemen struktur yang digunakan pada desain awal


lantai 6-10 :

Tebal
Elemen Struktur B (mm) H (mm) Sisi (mm)
(mm)
Kolom 900x900
Balok Utama 250 500
Balok Anak 200 450
Pelat lantai 120
Shearwall 400

Tabel 4. 13 Dimensi struktur yang digunakan pada desain awal lantai 6-10
73

Gambar 4. 19 Denah gedung lantai 11-15

Berikut dimensi elemen struktur yang digunakan pada desain awal


lantai 11-15 :

Tebal
Elemen Struktur B (mm) H (mm) Sisi (mm)
(mm)
Kolom 700x700
Balok Utama 250 500
Balok Anak 200 450
Pelat lantai 120
Shearwall 400

Tabel 4. 14 Dimensi struktur yang digunakan pada desain awal lantai 11-15
74

Gambar 4. 20 Denah gedung lantai 16-20

Berikut dimensi elemen struktur yang digunakan pada desain awal


lantai 15-20 :

Tebal
Elemen Struktur B (mm) H (mm) Sisi (mm)
(mm)
Kolom 500x500
Balok Utama 250 500
Balok Anak 200 450
Pelat lantai 120
Shearwall 400

Tabel 4. 15 Dimensi struktur yang digunakan pada desain awal lantai 15-20
75

Gambar 4. 21 Denah gedung lantai atap (rooftop)


76

Gambar 4. 22 Model 3D gedung

4.3. Pengecekan Perilaku Struktur Bangunan

Pada tahap pengecekan perilaku struktur bangunan perlu dilakukan


beberapa percobaan untuk dapat menghasilkan perilaku struktur yang sesuai
dengan pedoman SNI 1726-2012. Percobaan dilakukan dengan metode trial and
error. Berikut adalah 3 model struktur dalam proses trial and error untuk
mendapatkan perilaku struktur yang sesuai:
77

Gambar 4. 23 Model struktur 1

Berikut dimensi dan mutu elemen struktur pada model struktur 1 :

B H Tebal
Elemen Struktur Sisi (mm)
(mm) (mm) (mm)
Kolom lantai 1-5 800x800
Kolom lantai 6-10 700x700
Kolom lantai 11-15 600x600
Kolom lantai 16-20 500x500
Balok Utama 450 800
Balok Anak 350 700
Balok Perangkai 500 900
Pelat lantai 140
Shearwall 1 (area lift) 500
Mutu Fc' Kg/cm2
Kolom 41,5 500
Balok 29,05 350
Pelat lantai 29,05 350
Shearwall 41,5 500

Tabel 4. 16 Dimensi struktur yang digunakan pada model pertama


78

Gambar 4. 24 Model struktur 2

Berikut dimensi dan mutu elemen struktur pada model struktur kedua :

B H Tebal
Elemen Struktur Sisi (mm)
(mm) (mm) (mm)
Kolom lantai 1-5 800x800
Kolom lantai 6-10 700x700
Kolom lantai 11-15 600x600
Kolom lantai 16-20 500x500
Balok Utama 450 800
Balok Anak 350 700
Balok Perangkai 500 900
Pelat lantai 140
Shearwall 1 (area lift) 500
Mutu Fc' Kg/cm2
Kolom 41,5 500
Balok 29,05 350
Pelat lantai 29,05 350
Shearwall 41,5 500

Tabel 4. 17 Dimensi struktur yang digunakan pada model 2


79

Gambar 4. 25 Model struktur 3

Berikut dimensi dan mutu elemen struktur pada model struktur 3 :

B H Tebal
Elemen Struktur Sisi (mm)
(mm) (mm) (mm)
Kolom lantai 1-5 1000x1000
Kolom lantai 6-10 900x900
Kolom lantai 11-15 800x800
Kolom lantai 16-20 700x700
Balok Utama 450 800
Balok Anak 350 700
Balok Perangkai 500 900
Pelat lantai 140
Shearwall 1 (area lift) 500
Mutu Fc' Kg/cm2
Kolom 41,5 500
Balok 29,05 350
Pelat lantai 29,05 350
Shearwall 41,5 500

Tabel 4. 18 Dimensi struktur yang digunakan pada model ketiga


80

4.3.1. Pengecekan Rasio Partisipasi Modal Massa (MPMR)

Setelah struktur selesai dimodelkan pada program ETABS dan


dilakukan analisa pada struktur (run analysis), perlu dicek hasil analisa
dari program ETABS tersebut salah satunya rasio partisipasi modal massa
untuk mengetahui respon struktur yang berpengaruh dalam arah
pembebanan gempa. Adapun beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam
hasil analisa rasio partisipasi modal massa antara lain sebagai berikut :

a. Mode pertama harus translasi arah x atau y


b. Mode kedua harus translasi ke arah yang berbeda dengan mode
pertama
c. Mode ketiga harus rotasi/torsi
d. ΣUX dan ΣUY > 90

Berdasarkan 3 permodelan struktur yang telah dilakukan,


didapatkan hasil analisa rasio partisipasi modal massa yang sudah
memenuhi beberapa syarat yang ditetapkan. berikut adalah hasil analisa
rasio partisipasi modal massa yang diperoleh dari program ETABS :

Mode Period UX UY RZ Keterangan


1 1.841 71.082 0.006 0.292 Arah X
2 1.737 0.007 71.102 0.007 Arah Y
3 1.489 0.338 0.008 71.462 Torsi
4 0.593 13.561 0.000 0.063 Arah X
5 0.545 0.000 14.557 0.001 Arah Y
6 0.472 0.033 0.001 14.391 Torsi
7 0.300 5.604 0.000 0.009 Arah X
8 0.275 0.000 5.630 0.000 Arah Y
9 0.241 0.004 0.000 5.737 Torsi
10 0.185 3.170 0.000 0.002 Arah X
11 0.173 0.000 2.942 0.000 Arah Y
12 0.154 0.001 0.000 2.878 Torsi
Total 93.799 94.245

Tabel 4. 19 Ringkasan rasio partisipasi modal massa model 1


81

Mode Period UX UY RZ Keterangan


1 1.569 59.418 0.000 12.086 Arah X
2 1.258 0.000 70.138 0.000 Arah Y
3 1.193 11.204 0.000 59.239 Torsi
4 0.501 11.085 0.000 3.364 Arah X
5 0.374 0.000 16.744 0.000 Arah Y
6 0.354 3.821 0.000 12.753 Torsi
7 0.259 4.204 0.000 1.251 Arah X
8 0.187 0.000 5.569 0.000 Arah Y
9 0.176 0.924 0.000 4.740 Torsi
10 0.166 2.816 0.000 0.198 Arah X
11 0.121 0.000 2.713 0.000 Arah Y
12 0.120 0.516 0.000 1.086 Torsi
Total 93.989 95.164

Tabel 4. 20 Ringkasan rasio partisipasi modal massa model 2

Mode Period UX UY RZ Keterangan


1 1.633 55.337 5.253 14.499 Arah X
2 1.378 1.658 64.545 6.122 Arah Y
3 1.191 17.322 2.475 53.073 Torsi
4 0.537 8.587 0.592 2.452 Arah X
5 0.420 0.095 12.645 1.215 Arah Y
6 0.367 3.804 0.620 9.642 Torsi
7 0.295 3.347 0.200 1.078 Arah X
8 0.214 0.029 4.929 0.545 Arah Y
9 0.195 1.462 0.227 0.917 Torsi
10 0.190 1.881 0.244 3.248 Arah X
11 0.142 0.976 0.014 0.563 Arah Y
12 0.136 0.042 2.630 0.124 Torsi
Total 94.539 94.374

Tabel 4. 21 Ringkasan rasio partisipasi modal massa model 3

4.3.2. Perhitungan Koefisien Respon Seismik (Cs)

Koefisien respon seismik (Cs) dihitung berdasarkan SNI 1726-


2012 pasal 7.8.1.1 dengan rumus sebagai berikut :
82

Keterangan :

Sds = Parameter percepatan spektrum respons desain dalam rentang


perioda pendek

T = perioda fundamental struktur (detik)

R = faktor modifikasi respons

Ie = faktor keutamaan gempa

Nilai perioda ( T ) yang digunakan pada perhitungan Cs adalah nilai


perioda yang diperoleh pada ETABS yang dibandingkan dengan nilai
perioda minimum dan maksimum pada SNI 1726-2012 pasal 7.8.2 dengan
rumus sebagai berikut :

Ta = Ct hnx

Keterangan :

hn = ketinggian struktur dalam (m) di atas dasar sampai tingkat


tertinggi struktur

Ct dan x = ditentukan oleh SNI 1726-2012 tabel 15

Tabel 4. 22 Nilai parameter perioda pendekatan t C dan x


83

Tabel 4. 23 Koefisien untuk batas atas pada perioda yang dihitung

Pada perencanaan struktur gedung ini menggunakan sistem


struktur ganda dengan ketinggian struktur 70 meter, maka diperoleh nilai
Ct = 0,0488 dan nilai x = 0,75. Berikut perhitungan nilai perioda yang
digunakan :

 Perioda minimum
Tmin = Ct hnx
Tmin = 0,0488 x 700,75
Tmin = 1,181 detik
 Perioda maksimum
Tmax = Tmin x Cu
Tmin = 1,181 x 1,4
Tmin = 1,653 detik
 Perioda arah X dan Y model 1 berdasarkan ETABS
T arah X = 1,841
T arah Y = 1,737
 Perioda arah X dan Y model 2 berdasarkan ETABS
T arah X = 1,569
T arah Y = 1,258
 Perioda arah X dan Y model 3 berdasarkan ETABS
T arah X = 1,633
T arah Y = 1,378
 Perioda yang digunakan
Maka arah X maupun arah Y digunakan nilai T maksimum
sebesar:
84

o Model 1
T arah X = 1,653
T arah Y = 1,653
o Model 2
T arah X = 1,569
T arah Y = 1,258
o Model 3
T arah X = 1,633
T arah Y = 1,378
Setelah mendapatkan nilai T, selanjutnya adalah menghitung nilai
Cs. Berikut adalah perhitungan Cs :
o Model 1
Cs (Koefisien respon seismik) arah X
(SDS x I)
Cs = = 0.0884
R

(SD1 x I)
Cs max = = 0.051928
TxR

(0.5 x S1 x I)
Cs min = = 0.024571
R
Maka nilai CSx = 0.051928
Cs (Koefisien respon seismik) arah Y
(SDS x I)
Cs = = 0.0884
R

(SD1 x I)
Cs max = = 0.051928
TxR

(0.5 x S1 x I)
Cs min = = 0.024571
R
Maka nilai Csy = 0.051928
85

o Model 2
Cs (Koefisien respon seismik) arah X
(SDS x I)
Cs = = 0.0884
R

(SD1 x I)
Cs max = = 0.054716
TxR

(0.5 x S1 x I)
Cs min = = 0.024571
R
Maka nilai CSx = 0.054716
Cs (Koefisien respon seismik) arah Y
(SDS x I)
Cs = = 0.0884
R

(SD1 x I)
Cs max = = 0.068254
TxR

(0.5 x S1 x I)
Cs min = = 0.024571
R
Maka nilai Csy = 0.068254
o Model 3
Cs (Koefisien respon seismik) arah X
(SDS x I)
Cs = = 0.0884
R

(SD1 x I)
Cs max = = 0.052577
TxR

(0.5 x S1 x I)
Cs min = = 0.024571
R
Maka nilai CSx = 0.052577
86

Cs (Koefisien respon seismik) arah Y


(SDS x I)
Cs = = 0.0884
R

(SD1 x I)
Cs max = = 0.062299
TxR

(0.5 x S1 x I)
Cs min = = 0.024571
R
Maka nilai Csy = 0.062299
Hasil perhitungan dituangkan didalam tabel sebagai berikut :
o Model 1
Arah X
Cs arah X 0.0884
Cs minimum 0.0246
Cs maksimum 0.0519
Cs yang dipakai arah X 0.0519
Arah Y
Cs arah Y 0.0884
Cs minimum 0.0246
Cs maksimum 0.0519
Cs yang dipakai arah Y 0.0519

Tabel 4. 24 Koefisien respon seismik model 1

o Model 2
Arah X
Cs arah X 0.0884
Cs minimum 0.0246
Cs maksimum 0.0547
Cs yang dipakai arah X 0.0547
Arah Y
Cs arah Y 0.0884
Cs minimum 0.0246
Cs maksimum 0.0683
Cs yang dipakai arah Y 0.0683

Tabel 4. 25 Koefisien respon seismik model 2


87

o Model 3
Arah X
Cs arah X 0.0884
Cs minimum 0.0246
Cs maksimum 0.0526
Cs yang dipakai arah X 0.0526
Arah Y
Cs arah Y 0.0884
Cs minimum 0.0246
Cs maksimum 0.0623
Cs yang dipakai arah Y 0.0623

Tabel 4. 26 Koefisien respon seismik model 3

4.3.3. Perhitungan Faktor Skala Gaya

Berdasarkan output analisis spektrum pada program ETABS,


didapatkan hasil analisa ragam respon spektrum yang telah dilakukan ( Vt )
serta nilai gaya geser dasar nominal respon ragam pertama ( V ) untuk arah
X dan Y. Perhitungan faktor skala dihitung berdasarkan SNI 1726-2012
,
pasal 7.9.4.1 dengan rumus

Setelah faktor skala didapatkan kemudian dikalikan dengan nilai faktor


skala yang lama yaitu 1,4. Berikut hasil pengecekan faktor skala yang
dituangkan dalam tabel :

Vt arah X 6116 Ton


Vt arah Y 6463 Ton
V arah X 10619 Ton
V arah Y 9054 Ton
V arah X 5198.6935 Ton
V arah Y 5493.295 Ton
Gaya harus 
Cek arah X dikali faktor 
skala
Gaya harus 
Cek arah Y dikali faktor 
skala
Faktor skala 
arah X 2.066
Faktor skala 
arah Y 1.667

Tabel 4. 27 Pengecekan faktor skala model 1


88

Vt arah X 6438 Ton


Vt arah Y 8994 Ton
V arah X 11555 Ton
V arah Y 11379 Ton
V arah X 5472.6485 Ton
V arah Y 7644.509 Ton
Gaya harus 
Cek arah X dikali faktor 
skala
Gaya harus 
Cek arah Y dikali faktor 
skala
Faktor skala 
arah X 2.136
Faktor skala 
arah Y 1.506

Tabel 4. 28 Pengecekan faktor skala model 2

Vt arah X 5902 Ton


Vt arah Y 7664 Ton
V arah X 11326 Ton
V arah Y 10758 Ton
V arah X 5017.0995 Ton
V arah Y 6514.026 Ton
Gaya harus 
Cek arah X dikali faktor 
skala
Gaya harus 
Cek arah Y dikali faktor 
skala
Faktor skala 
arah Y 2.284
Faktor skala 
arah X 1.671

Tabel 4. 29 Pengecekan faktor skala model 3


89

4.3.4. Pengecekan Gaya Geser

Pengecekan gaya geser dilakukan berdasarkan hasil analisa dari


program ETABS. Berikut grafik gaya geser struktur arah X dan Y
terhadap ketinggian yang diambil dari analisa program ETABS :

Grafik gaya geser nominal kumulatif sepanjang 
tinggi bangunan arah X
80
Ketinggian (m)

60
40
20
0
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000

Gaya geser dasar nominal (Vd)

Vx Vx.Faktor Skala

Gambar 4. 26 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah X


model 1

Grafik gaya geser nominal kumulatif sepanjang 
tinggi bangunan arah Y
80
Ketinggian (mm)

60

40

20

0
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000

Gaya geser dasar nominal (Vd)

Vy Vy.Faktor Skala

Gambar 4. 27 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah Y


model 1
90

Grafik gaya geser nominal kumulatif sepanjang 
tinggi bangunan arah X
Ketinggian (m) 80
60
40
20
0
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000

Gaya geser dasar nominal (Vd)

Vx Vx.Faktor Skala

Gambar 4. 28 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah X


model 2

Grafik gaya geser nominal kumulatif sepanjang 
tinggi bangunan arah Y
80
Ketinggian (mm)

60

40

20

0
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000

Gaya geser dasar nominal (Vd)

Vy Vy.Faktor Skala

Gambar 4. 29 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah Y


model 2
91

Grafik gaya geser nominal kumulatif sepanjang 
tinggi bangunan arah X
Ketinggian (m) 80
60
40
20
0
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000

Gaya geser dasar nominal (Vd)

Vx Vx.Faktor Skala

Gambar 4. 30 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah X


model 3

Grafik gaya geser nominal kumulatif sepanjang 
tinggi bangunan arah Y
80
Ketinggian (mm)

60

40

20

0
0 2000 4000 6000 8000 10000

Gaya geser dasar nominal (Vd)

Vy Vy.Faktor Skala

Gambar 4. 31 Grafik geser nominal kumulatif sepanjang tinggi bangunan arah Y


model 3

4.3.5. Pengecekan Simpangan Antar Lantai ( Story Drift )

Pengecekan strory drift dilakukan berdasarkan hasil analisa dari


program ETABS. Perhitungan story drift diawali dengan mengambil nilai
simpangan total arah X dan Y berdasarkan nilai rata-rata tiap tingkat lantai
pada tabel output point displacement, kemudian dilakukan perhitungan
simpangan antar lantai arah X dan Y yang dikalikan dengan nilai faktor
92

amplifikasi defleksi (Cd) berdasarkan SNI 1726-2012 tabel 9. Batas izin


simpangan antar lantai dihitung berdasarkan SNI 1726-2012 dengan rumus
0,02hsx dengan hsx adalah nilai tinggi tingkat dibawah tingkat x. Berikut
adalah tabel dan grafik hasil analisa simpangan antar lantai ( story drift )
berdasarkan program ETABS:

Simpanga Simpanga Story Drift  Story Drift  Story Drift  Story Drift 


ketinggian  Tinggi  Batas izin 
Story n arah X  n arah Y  arah X  arah Y  arah X x  arah Y x  Cek arah X Cek arah Y
Lantai (m) lantai (m) (mm)
(mm) (mm) (mm) (mm) Cd (mm) Cd (mm)
ROOFTOP 70 3.5 82.66958 63.66188 5.006935 4.082255 27.53814 22.4524 70 OK OK
LANTAI 20 66.5 3.5 77.66265 59.57962 1.751198 1.393579 9.631587 7.664684 70 OK OK
LANTAI 19 63 3.5 75.91145 58.18604 3.648524 2.96194 20.06688 16.29067 70 OK OK
LANTAI 18 59.5 3.5 72.26292 55.2241 3.953766 3.156294 21.74571 17.35962 70 OK OK
LANTAI 17 56 3.5 68.30916 52.06781 4.200366 3.323932 23.10201 18.28163 70 OK OK
LANTAI 16 52.5 3.5 64.10879 48.74388 4.278637 3.363137 23.5325 18.49725 70 OK OK
LANTAI 15 49 3.5 59.83015 45.38074 4.498953 3.508765 24.74424 19.29821 70 OK OK
LANTAI 14 45.5 3.5 55.3312 41.87198 4.694151 3.635301 25.81783 19.99416 70 OK OK
LANTAI 13 42 3.5 50.63705 38.23667 4.860365 3.739168 26.73201 20.56542 70 OK OK
LANTAI 12 38.5 3.5 45.77668 34.49751 4.988544 3.812963 27.43699 20.97129 70 OK OK
LANTAI 11 35 3.5 40.78814 30.68454 4.904356 3.731141 26.97396 20.52127 70 OK OK
LANTAI 10 31.5 3.5 35.88378 26.9534 4.9748 3.758875 27.3614 20.67381 70 OK OK
LANTAI 9 28 3.5 30.90898 23.19453 4.986646 3.742437 27.42656 20.5834 70 OK OK
LANTAI 8 24.5 3.5 25.92234 19.45209 4.94092 3.684019 27.17506 20.2621 70 OK OK
LANTAI 7 21 3.5 20.98142 15.76807 4.819879 3.574152 26.50933 19.65784 70 OK OK
LANTAI 6 17.5 3.5 16.16154 12.19392 4.447729 3.296054 24.46251 18.12829 70 OK OK
LANTAI 5 14 3.5 11.71381 8.897868 4.102014 3.048144 22.56108 16.76479 70 OK OK
LANTAI 4 10.5 3.5 7.611796 5.849724 3.540068 2.663042 19.47037 14.64673 70 OK OK
LANTAI 3 7 3.5 4.071729 3.186682 2.71278 2.093408 14.92029 11.51374 70 OK OK
LANTAI 2 3.5 3.5 1.358949 1.093275 1.358949 1.093275 7.474217 6.013011 70 OK OK
BASE 0 0 0 0 0 0 0 0 0 OK OK
Keterangan =
Cd = 5.5 Berdasarkan SNI 1726‐2012 Tabel 9

Tabel 4. 30 Pengecekan simpangan antar lantai (story drift) model 1

Grafik perpindahan antarlantai 
story dirft terhadap ketinggian 
bangunan
80
Ketinggian (m)

60

40

20

0
0 20 40 60 80

Total Drift (mm)

Story Drift arah X x Cd (mm)
Story Drift arah Y x Cd (mm)
Batas izin (mm)

Gambar 4. 32 Grafik simpangan antar lantai (story drift) arah X dan Y model 1
93

Simpanga Simpanga Story Drift  Story Drift  Story Drift  Story Drift 


ketinggian  Tinggi  Batas izin 
Story n arah X  n arah Y  arah X  arah Y  arah X x  arah Y x  Cek arah X Cek arah Y
Lantai (m) lantai (m) (mm)
(mm) (mm) (mm) (mm) Cd (mm) Cd (mm)
ROOFTOP 70 3.5 66.17925 42.35547 4.213345 3.051821 23.1734 16.78501 70 OK OK
LANTAI 20 66.5 3.5 61.96591 39.30365 1.60857 1.026344 8.847134 5.64489 70 OK OK
LANTAI 19 63 3.5 60.35734 38.2773 2.893324 2.152247 15.91328 11.83736 70 OK OK
LANTAI 18 59.5 3.5 57.46401 36.12505 3.272793 2.250011 18.00036 12.37506 70 OK OK
LANTAI 17 56 3.5 54.19122 33.87504 3.463866 2.33855 19.05126 12.86203 70 OK OK
LANTAI 16 52.5 3.5 50.72735 31.53649 3.509408 2.357022 19.30175 12.96362 70 OK OK
LANTAI 15 49 3.5 47.21795 29.17947 3.668696 2.423701 20.17783 13.33035 70 OK OK
LANTAI 14 45.5 3.5 43.54925 26.75577 3.80276 2.472014 20.91518 13.59608 70 OK OK
LANTAI 13 42 3.5 39.74649 24.28376 3.908215 2.501852 21.49518 13.76019 70 OK OK
LANTAI 12 38.5 3.5 35.83828 21.78191 3.987198 2.516349 21.92959 13.83992 70 OK OK
LANTAI 11 35 3.5 31.85108 19.26556 3.89049 2.446923 21.3977 13.45808 70 OK OK
LANTAI 10 31.5 3.5 27.96059 16.81863 3.912851 2.425712 21.52068 13.34142 70 OK OK
LANTAI 9 28 3.5 24.04774 14.39292 3.886363 2.374268 21.375 13.05848 70 OK OK
LANTAI 8 24.5 3.5 20.16137 12.01865 3.814857 2.296558 20.98171 12.63107 70 OK OK
LANTAI 7 21 3.5 16.34652 9.722095 3.695932 2.194262 20.32762 12.06844 70 OK OK
LANTAI 6 17.5 3.5 12.65059 7.527833 3.396395 2.0085 18.68017 11.04675 70 OK OK
LANTAI 5 14 3.5 9.25419 5.519333 3.136554 1.838618 17.25104 10.1124 70 OK OK
LANTAI 4 10.5 3.5 6.117637 3.680715 2.738988 1.604001 15.06443 8.822008 70 OK OK
LANTAI 3 7 3.5 3.378649 2.076714 2.181227 1.302289 11.99675 7.162592 70 OK OK
LANTAI 2 3.5 3.5 1.197422 0.774425 1.197422 0.774425 6.58582 4.259336 70 OK OK
BASE 0 0 0 0 0 0 0 0 0 OK OK

Tabel 4. 31 Pengecekan simpangan antar lantai (story drift) model 2

Grafik perpindahan antarlantai story 
dirft terhadap ketinggian bangunan
80
70
60
Ketinggian (m)

50
40
30
20
10
0
0 20 40 60 80

Total Drift (mm)

Story Drift arah X x Cd (mm) Story Drift arah Y x Cd (mm)
Batas izin (mm)

Gambar 4. 33 Grafik simpangan antar lantai (story drift) arah X dan Y model 2
94

Simpanga Simpanga Story Drift  Story Drift  Story Drift  Story Drift 


ketinggian  Tinggi  Batas izin 
Story n arah X  n arah Y  arah X  arah Y  arah X x  arah Y x  Cek arah X Cek arah Y
Lantai (m) lantai (m) (mm)
(mm) (mm) (mm) (mm) Cd (mm) Cd (mm)
ROOFTOP 70 3.5 64.44767 46.86778 2.566002 2.511176 14.11301 13.81147 70 OK OK
LANTAI 20 66.5 3.5 61.88166 44.3566 1.093254 0.956998 6.012896 5.263488 70 OK OK
LANTAI 19 63 3.5 60.78841 43.3996 1.933901 1.835496 10.63645 10.09523 70 OK OK
LANTAI 18 59.5 3.5 58.85451 41.56411 2.423221 2.070152 13.32772 11.38584 70 OK OK
LANTAI 17 56 3.5 56.43129 39.49396 2.737435 2.240022 15.05589 12.32012 70 OK OK
LANTAI 16 52.5 3.5 53.69385 37.25393 2.906963 2.349892 15.98829 12.92441 70 OK OK
LANTAI 15 49 3.5 50.78689 34.90404 3.186323 2.505031 17.52477 13.77767 70 OK OK
LANTAI 14 45.5 3.5 47.60057 32.39901 3.437733 2.638784 18.90753 14.51331 70 OK OK
LANTAI 13 42 3.5 44.16284 29.76023 3.667274 2.753984 20.17001 15.14691 70 OK OK
LANTAI 12 38.5 3.5 40.49556 27.00624 3.88545 2.85857 21.36998 15.72214 70 OK OK
LANTAI 11 35 3.5 36.61011 24.14767 3.930406 2.8783 21.61723 15.83065 70 OK OK
LANTAI 10 31.5 3.5 32.67971 21.26937 4.084244 2.927672 22.46334 16.1022 70 OK OK
LANTAI 9 28 3.5 28.59546 18.3417 4.188089 2.931746 23.03449 16.12461 70 OK OK
LANTAI 8 24.5 3.5 24.40737 15.40995 4.246471 2.894102 23.35559 15.91756 70 OK OK
LANTAI 7 21 3.5 20.1609 12.51585 4.253271 2.812977 23.39299 15.47137 70 OK OK
LANTAI 6 17.5 3.5 15.90763 9.702875 4.067368 2.627709 22.37052 14.4524 70 OK OK
LANTAI 5 14 3.5 11.84026 7.075166 3.894202 2.41942 21.41811 13.30681 70 OK OK
LANTAI 4 10.5 3.5 7.946061 4.655746 3.540735 2.105175 19.47404 11.57846 70 OK OK
LANTAI 3 7 3.5 4.405326 2.55057 2.907082 1.671007 15.98895 9.190539 70 OK OK
LANTAI 2 3.5 3.5 1.498244 0.879563 1.498244 0.879563 8.240344 4.837599 70 OK OK
BASE 0 0 0 0 0 0 0 0 0 OK OK

Tabel 4. 32 Pengecekan simpangan antar lantai (story drift) model 3

Grafik perpindahan antarlantai story 
dirft terhadap ketinggian bangunan
80
70
60
Ketinggian (m)

50
40
30
20
10
0
0 20 40 60 80

Total Drift (mm)

Story Drift arah X x Cd (mm) Story Drift arah Y x Cd (mm)
Batas izin (mm)

Gambar 4. 34 Grafik simpangan antar lantai (story drift) arah X dan Y model 3
95

4.3.6. Pengecekan Eksentrisitas

Berdasarkan SNI 1726-2012 pasal 7.8.4.1 Untuk diafragma yang


tidak fleksibel, distribusi gaya lateral di masing-masing tingkat harus
memperhitungkan pengaruh momen torsi bawaan, yang dihasilkan dari
eksentrisitas antara lokasi pusat massa dan pusat kekakuan. Nilai
eksentrisitas torsi bawaan dapat dilihat pada progam ETABS. Berikut
adalah tabel eksentrisitas bangunan berdasarkan hasil analisa program
ETABS :

Story XCM YCM XCR YCR eoX eoY


ROOFTOP 23.001 21.310 23.080 22.188 0.079 0.877
LANTAI 20 23.004 21.177 23.079 22.126 0.076 0.949
LANTAI 19 23.003 21.176 23.078 22.067 0.074 0.891
LANTAI 18 23.003 21.176 23.076 22.007 0.073 0.831
LANTAI 17 23.003 21.176 23.074 21.948 0.071 0.772
LANTAI 16 23.004 21.157 23.072 21.890 0.068 0.733
LANTAI 15 23.006 21.133 23.070 21.840 0.064 0.707
LANTAI 14 23.006 21.133 23.067 21.791 0.061 0.658
LANTAI 13 23.006 21.133 23.064 21.743 0.059 0.610
LANTAI 12 23.006 21.133 23.062 21.695 0.056 0.562
LANTAI 11 23.006 21.111 23.059 21.645 0.052 0.534
LANTAI 10 23.008 21.084 23.055 21.601 0.048 0.517
LANTAI 9 23.008 21.084 23.052 21.554 0.044 0.469
LANTAI 8 23.008 21.084 23.048 21.503 0.040 0.419
LANTAI 7 23.008 21.084 23.045 21.448 0.037 0.364
LANTAI 6 23.009 21.060 23.041 21.382 0.032 0.322
LANTAI 5 23.010 21.031 23.036 21.318 0.026 0.288
LANTAI 4 23.010 21.031 23.032 21.247 0.021 0.216
LANTAI 3 23.010 21.031 23.027 21.168 0.017 0.137
LANTAI 2 23.010 21.031 23.027 21.067 0.016 0.036

Tabel 4. 33 Data eksentrisitas torsi bawaan berdasarkan hasil analisa ETABS


model 1
96

Story XCM YCM XCR YCR eoX eoY


ROOFTOP 23.000 21.410 23.001 25.681 0.001 4.271
LANTAI 20 23.000 21.615 23.001 25.712 0.001 4.097
LANTAI 19 23.000 21.612 23.001 25.795 0.001 4.183
LANTAI 18 23.000 21.612 23.001 25.904 0.001 4.292
LANTAI 17 23.000 21.612 23.001 26.028 0.001 4.416
LANTAI 16 23.000 21.590 23.001 26.165 0.001 4.575
LANTAI 15 23.000 21.558 23.001 26.337 0.001 4.779
LANTAI 14 23.000 21.558 23.001 26.512 0.001 4.954
LANTAI 13 23.000 21.558 23.001 26.687 0.001 5.129
LANTAI 12 23.000 21.558 23.001 26.863 0.000 5.305
LANTAI 11 23.000 21.531 23.000 27.037 0.000 5.506
LANTAI 10 23.000 21.496 23.000 27.239 0.000 5.744
LANTAI 9 23.000 21.496 23.000 27.430 0.000 5.934
LANTAI 8 23.000 21.496 23.000 27.592 0.000 6.096
LANTAI 7 23.000 21.496 23.000 27.705 0.000 6.209
LANTAI 6 23.000 21.466 23.000 27.727 0.000 6.261
LANTAI 5 23.000 21.427 23.000 27.666 0.000 6.239
LANTAI 4 23.000 21.427 23.000 27.407 0.000 5.980
LANTAI 3 23.000 21.427 23.001 26.827 0.001 5.400
LANTAI 2 23.000 21.427 23.000 25.774 0.000 4.347

Tabel 4. 34 Data eksentrisitas torsi bawaan berdasarkan hasil analisa ETABS


model 2

Story XCM YCM XCR YCR eoX eoY


ROOFTOP 23.000 21.346 23.092 25.995 0.092 4.649
LANTAI 20 23.000 21.403 23.044 26.160 0.044 4.757
LANTAI 19 23.000 21.401 22.980 26.355 0.020 4.954
LANTAI 18 23.000 21.401 22.916 26.554 0.084 5.153
LANTAI 17 23.000 21.401 22.853 26.749 0.147 5.348
LANTAI 16 23.000 21.370 22.793 26.934 0.208 5.564
LANTAI 15 23.000 21.332 22.734 27.138 0.266 5.806
LANTAI 14 23.000 21.332 22.676 27.344 0.324 6.012
LANTAI 13 23.000 21.332 22.619 27.551 0.381 6.219
LANTAI 12 23.000 21.332 22.563 27.760 0.438 6.427
LANTAI 11 23.000 21.299 22.505 27.964 0.495 6.665
LANTAI 10 23.000 21.259 22.449 28.191 0.551 6.932
LANTAI 9 23.000 21.259 22.395 28.422 0.605 7.163
LANTAI 8 23.000 21.259 22.349 28.636 0.652 7.377
LANTAI 7 23.000 21.259 22.317 28.807 0.683 7.548
LANTAI 6 23.000 21.223 22.311 28.877 0.689 7.654
LANTAI 5 23.000 21.182 22.348 28.820 0.652 7.638
LANTAI 4 23.000 21.182 22.451 28.493 0.549 7.311
LANTAI 3 23.000 21.182 22.644 27.585 0.357 6.403
LANTAI 2 23.000 21.182 22.881 25.531 0.119 4.348

Tabel 4. 35 Data eksentrisitas torsi bawaan berdasarkan hasil analisa ETABS


model 3
97

Selain itu, berdasarkan SNI 1726-2012 pasal 7.8.4.2 perlu dihitung


nilai eksentrisitas torsi tak terduga, yaitu eksentrisitas tambahan sebesar
5% dari dimensi arah tegak lurus panjang bentang struktur bangunan
tempat gaya gempa bekerja. Berikut tabel perhitungan eksentrisitas tidak
terduga :

Panjang  Panjang 
Total  Total  0.05 Ly  0.05 Lx 
Story
Sumbu Y  Sumbu X  (m) (m)
(m) (m)
ROOFTOP 42 40 2.1 2
LANTAI 20 42 40 2.1 2
LANTAI 19 42 40 2.1 2
LANTAI 18 42 40 2.1 2
LANTAI 17 42 40 2.1 2
LANTAI 16 42 40 2.1 2
LANTAI 15 42 40 2.1 2
LANTAI 14 42 40 2.1 2
LANTAI 13 42 40 2.1 2
LANTAI 12 42 40 2.1 2
LANTAI 11 42 40 2.1 2
LANTAI 10 42 40 2.1 2
LANTAI 9 42 40 2.1 2
LANTAI 8 42 40 2.1 2
LANTAI 7 42 40 2.1 2
LANTAI 6 42 40 2.1 2
LANTAI 5 42 40 2.1 2
LANTAI 4 42 40 2.1 2
LANTAI 3 42 40 2.1 2
LANTAI 2 42 40 2.1 2

Tabel 4. 36 Data perhitungan eksentrisitas torsi tak terduga model 1,2 dan 3

Berdasarkan SNI 1726:2012 pasal 7.8.4.3, eksentrisitas torsi tidak


terduga harus dikalikan dengan faktor pembesaran momen torsi tidak
terduga (A). Faktor pembesaran torsi tidak terduga (A) ditentukan dari
persamaan berikut.

1, dengan δ
,
98

Nilai–nilai δmax, dan δmin didapat dari beban envelope dan


merupakan nilai simpangan total bukan simpangan antar lantai (kolom
simpangan arah X dan Y pada tabel story drift). Perhitungannya dapat
dilihat pada tabel di bawah ini :

Ax = 
δmax  δmin  δAVG  1.2δAVG 
Story (δmax/1.
arah X arah X arah X arah X
2δavg)²
ROOFTOP 82.670 0.615 41.642 49.971 2.737
LANTAI 20 77.663 0.580 39.121 46.945 2.737
LANTAI 19 75.911 0.555 38.233 45.880 2.738
LANTAI 18 72.263 0.528 36.396 43.675 2.738
LANTAI 17 68.309 0.500 34.404 41.285 2.738
LANTAI 16 64.109 0.469 32.289 38.747 2.738
LANTAI 15 59.830 0.438 30.134 36.161 2.738
LANTAI 14 55.331 0.405 27.868 33.441 2.738
LANTAI 13 50.637 0.370 25.504 30.604 2.738
LANTAI 12 45.777 0.334 23.055 27.666 2.738
LANTAI 11 40.788 0.297 20.543 24.651 2.738
LANTAI 10 35.884 0.261 18.072 21.687 2.738
LANTAI 9 30.909 0.225 15.567 18.680 2.738
LANTAI 8 25.922 0.188 13.055 15.666 2.738
LANTAI 7 20.981 0.153 10.567 12.681 2.738
LANTAI 6 16.162 0.118 8.140 9.768 2.738
LANTAI 5 11.714 0.087 5.901 7.081 2.737
LANTAI 4 7.612 0.059 3.835 4.602 2.735
LANTAI 3 4.072 0.034 2.053 2.463 2.732
LANTAI 2 1.359 0.013 0.686 0.823 2.724

Tabel 4. 37 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah X Dominan
model 1

AY 
δmax  δmin  δAVG  1.2δ AVG 
Story =(δmax/1
arah Y arah Y arah Y arah Y
.2δavg)²
ROOFTOP 63.662 4.528 34.095 40.914 2.421
LANTAI 20 59.580 4.484 32.032 38.438 2.403
LANTAI 19 58.186 4.251 31.218 37.462 2.412
LANTAI 18 55.224 4.006 29.615 35.538 2.415
LANTAI 17 52.068 3.751 27.909 33.491 2.417
LANTAI 16 48.744 3.486 26.115 31.338 2.419
LANTAI 15 45.381 3.226 24.303 29.164 2.421
LANTAI 14 41.872 2.956 22.414 26.897 2.423
LANTAI 13 38.237 2.681 20.459 24.550 2.426
LANTAI 12 34.498 2.400 18.449 22.138 2.428
LANTAI 11 30.685 2.116 16.400 19.680 2.431
LANTAI 10 26.953 1.845 14.399 17.279 2.433
LANTAI 9 23.195 1.575 12.385 14.862 2.436
LANTAI 8 19.452 1.309 10.380 12.456 2.439
LANTAI 7 15.768 1.050 8.409 10.091 2.442
LANTAI 6 12.194 0.803 6.499 7.798 2.445
LANTAI 5 8.898 0.582 4.740 5.688 2.447
LANTAI 4 5.850 0.381 3.115 3.738 2.448
LANTAI 3 3.187 0.208 1.697 2.037 2.448
LANTAI 2 1.093 0.072 0.583 0.699 2.445

Tabel 4. 38 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah Y Dominan
model 1
99

Ax = 
δmax  δmin  δAVG  1.2δAVG 
Story (δmax/1.
arah X arah X arah X arah X
2δavg)²
ROOFTOP 66.179 0.038 33.109 39.730 2.775
LANTAI 20 61.966 0.041 31.004 37.204 2.774
LANTAI 19 60.357 0.042 30.199 36.239 2.774
LANTAI 18 57.464 0.041 28.752 34.503 2.774
LANTAI 17 54.191 0.040 27.116 32.539 2.774
LANTAI 16 50.727 0.037 25.382 30.458 2.774
LANTAI 15 47.218 0.035 23.627 28.352 2.774
LANTAI 14 43.549 0.034 21.792 26.150 2.773
LANTAI 13 39.746 0.032 19.889 23.867 2.773
LANTAI 12 35.838 0.031 17.934 21.521 2.773
LANTAI 11 31.851 0.027 15.939 19.127 2.773
LANTAI 10 27.961 0.025 13.993 16.791 2.773
LANTAI 9 24.048 0.023 12.035 14.442 2.773
LANTAI 8 20.161 0.020 10.091 12.109 2.772
LANTAI 7 16.347 0.018 8.182 9.819 2.772
LANTAI 6 12.651 0.015 6.333 7.599 2.771
LANTAI 5 9.254 0.012 4.633 5.560 2.771
LANTAI 4 6.118 0.010 3.064 3.676 2.769
LANTAI 3 3.379 0.007 1.693 2.031 2.766
LANTAI 2 1.197 0.004 0.601 0.721 2.759

Tabel 4. 39 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah X Dominan
model 2

AY 
δmax  δmin  δAVG  1.2δ AVG 
Story =(δmax/1
arah Y arah Y arah Y arah Y
.2δavg)²
ROOFTOP 42.355 21.752 32.054 38.465 1.213
LANTAI 20 39.304 21.812 30.558 36.669 1.149
LANTAI 19 38.277 20.874 29.576 35.491 1.163
LANTAI 18 36.125 19.856 27.991 33.589 1.157
LANTAI 17 33.875 18.759 26.317 31.580 1.151
LANTAI 16 31.536 17.590 24.563 29.476 1.145
LANTAI 15 29.179 16.428 22.804 27.364 1.137
LANTAI 14 26.756 15.204 20.980 25.176 1.129
LANTAI 13 24.284 13.930 19.107 22.928 1.122
LANTAI 12 21.782 12.614 17.198 20.637 1.114
LANTAI 11 19.266 11.264 15.265 18.318 1.106
LANTAI 10 16.819 9.967 13.393 16.072 1.095
LANTAI 9 14.393 8.650 11.521 13.826 1.084
LANTAI 8 12.019 7.329 9.674 11.609 1.072
LANTAI 7 9.722 6.019 7.870 9.444 1.060
LANTAI 6 7.528 4.730 6.129 7.355 1.048
LANTAI 5 5.519 3.545 4.532 5.438 1.030
LANTAI 4 3.681 2.417 3.049 3.659 1.012
LANTAI 3 2.077 1.393 1.735 2.082 0.995
LANTAI 2 0.774 0.515 0.645 0.774 1.002

Tabel 4. 40 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah Y Dominan
model 2
100

Ax = 
δmax  δmin  δAVG  1.2δAVG 
Story (δmax/1.
arah X arah X arah X arah X
2δavg)²
ROOFTOP 64.448 15.939 40.193 48.232 1.785
LANTAI 20 61.882 15.441 38.661 46.394 1.779
LANTAI 19 60.788 14.971 37.880 45.456 1.788
LANTAI 18 58.855 14.432 36.643 43.972 1.791
LANTAI 17 56.431 13.821 35.126 42.151 1.792
LANTAI 16 53.694 13.134 33.414 40.097 1.793
LANTAI 15 50.787 12.409 31.598 37.917 1.794
LANTAI 14 47.601 11.616 29.608 35.530 1.795
LANTAI 13 44.163 10.764 27.463 32.956 1.796
LANTAI 12 40.496 9.857 25.176 30.212 1.797
LANTAI 11 36.610 8.899 22.754 27.305 1.798
LANTAI 10 32.680 7.933 20.306 24.367 1.799
LANTAI 9 28.595 6.932 17.764 21.316 1.800
LANTAI 8 24.407 5.910 15.159 18.190 1.800
LANTAI 7 20.161 4.878 12.519 15.023 1.801
LANTAI 6 15.908 3.849 9.878 11.854 1.801
LANTAI 5 11.840 2.870 7.355 8.826 1.800
LANTAI 4 7.946 1.936 4.941 5.929 1.796
LANTAI 3 4.405 1.085 2.745 3.294 1.788
LANTAI 2 1.498 0.377 0.938 1.125 1.773

Tabel 4. 41 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah X Dominan
model 3

AY 
δmax  δmin  δAVG  1.2δ AVG 
Story =(δmax/1
arah Y arah Y arah Y arah Y
.2δavg)²
ROOFTOP 46.868 30.156 38.512 46.214 1.028
LANTAI 20 44.357 30.050 37.203 44.644 0.987
LANTAI 19 43.400 29.133 36.266 43.519 0.995
LANTAI 18 41.564 28.083 34.823 41.788 0.989
LANTAI 17 39.494 26.893 33.193 39.832 0.983
LANTAI 16 37.254 25.558 31.406 37.687 0.977
LANTAI 15 34.904 24.144 29.524 35.429 0.971
LANTAI 14 32.399 22.599 27.499 32.999 0.964
LANTAI 13 29.760 20.935 25.348 30.417 0.957
LANTAI 12 27.006 19.164 23.085 27.702 0.950
LANTAI 11 24.148 17.293 20.720 24.864 0.943
LANTAI 10 21.269 15.402 18.336 22.003 0.934
LANTAI 9 18.342 13.443 15.892 19.071 0.925
LANTAI 8 15.410 11.440 13.425 16.110 0.915
LANTAI 7 12.516 9.419 10.967 13.161 0.904
LANTAI 6 9.703 7.405 8.554 10.265 0.893
LANTAI 5 7.075 5.492 6.283 7.540 0.880
LANTAI 4 4.656 3.672 4.164 4.997 0.868
LANTAI 3 2.551 2.028 2.289 2.747 0.862
LANTAI 2 0.880 0.682 0.781 0.937 0.881

Tabel 4. 42 Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah Y Dominan
model 3
101

Eksentrisitas desain yang digunakan untuk arah X atau arah Y


adalah nilai gabungan. eksentrisitas torsi bawaan dan eksentrisitas torsi
tidak terduga, yakni dengan persamaan berikut:

edx = eox - 0,05 Lx x Ay

edy = eoy + 0,05 Ly x Ax

Story Eox o.o5 Lx Ax Edx Eksentrisitas, X


ROOFTOP 0.079 2.300 2.737 6.215 2.702
LANTAI 20 0.076 2.300 2.737 6.219 2.704
LANTAI 19 0.074 2.300 2.738 6.222 2.705
LANTAI 18 0.073 2.300 2.738 6.224 2.706
LANTAI 17 0.071 2.300 2.738 6.226 2.707
LANTAI 16 0.068 2.300 2.738 6.228 2.708
LANTAI 15 0.064 2.300 2.738 6.232 2.710
LANTAI 14 0.061 2.300 2.738 6.235 2.711
LANTAI 13 0.059 2.300 2.738 6.238 2.712
LANTAI 12 0.056 2.300 2.738 6.241 2.713
LANTAI 11 0.052 2.300 2.738 6.244 2.715
LANTAI 10 0.048 2.300 2.738 6.249 2.717
LANTAI 9 0.044 2.300 2.738 6.253 2.719
LANTAI 8 0.040 2.300 2.738 6.257 2.720
LANTAI 7 0.037 2.300 2.738 6.260 2.722
LANTAI 6 0.032 2.300 2.738 6.264 2.724
LANTAI 5 0.026 2.300 2.737 6.269 2.726
LANTAI 4 0.021 2.300 2.735 6.270 2.726
LANTAI 3 0.017 2.300 2.732 6.268 2.725
LANTAI 2 0.016 2.300 2.724 6.249 2.717

Tabel 4. 43 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu X model 1


102

Story Eoy o.o5 Ly Ay Edy Eksentrisitas, Y


ROOFTOP 0.877 2.100 2.421 5.961 2.839
LANTAI 20 0.949 2.100 2.403 5.995 2.855
LANTAI 19 0.891 2.100 2.412 5.957 2.837
LANTAI 18 0.831 2.100 2.415 5.902 2.810
LANTAI 17 0.772 2.100 2.417 5.848 2.785
LANTAI 16 0.733 2.100 2.419 5.814 2.768
LANTAI 15 0.707 2.100 2.421 5.792 2.758
LANTAI 14 0.658 2.100 2.423 5.747 2.737
LANTAI 13 0.610 2.100 2.426 5.704 2.716
LANTAI 12 0.562 2.100 2.428 5.661 2.696
LANTAI 11 0.534 2.100 2.431 5.639 2.685
LANTAI 10 0.517 2.100 2.433 5.626 2.679
LANTAI 9 0.469 2.100 2.436 5.585 2.659
LANTAI 8 0.419 2.100 2.439 5.540 2.638
LANTAI 7 0.364 2.100 2.442 5.491 2.615
LANTAI 6 0.322 2.100 2.445 5.457 2.599
LANTAI 5 0.288 2.100 2.447 5.426 2.584
LANTAI 4 0.216 2.100 2.448 5.358 2.551
LANTAI 3 0.137 2.100 2.448 5.278 2.513
LANTAI 2 0.036 2.100 2.445 5.171 2.462

Tabel 4. 44 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu Y model 1

Story Eox o.o5 Lx Ax Edx Eksentrisitas, X


ROOFTOP 0.001 2.300 2.775 6.380 2.774
LANTAI 20 0.001 2.300 2.774 6.379 2.774
LANTAI 19 0.001 2.300 2.774 6.379 2.773
LANTAI 18 0.001 2.300 2.774 6.379 2.773
LANTAI 17 0.001 2.300 2.774 6.379 2.773
LANTAI 16 0.001 2.300 2.774 6.379 2.773
LANTAI 15 0.001 2.300 2.774 6.379 2.773
LANTAI 14 0.001 2.300 2.773 6.378 2.773
LANTAI 13 0.001 2.300 2.773 6.378 2.773
LANTAI 12 0.000 2.300 2.773 6.377 2.773
LANTAI 11 0.000 2.300 2.773 6.378 2.773
LANTAI 10 0.000 2.300 2.773 6.377 2.773
LANTAI 9 0.000 2.300 2.773 6.376 2.772
LANTAI 8 0.000 2.300 2.772 6.376 2.772
LANTAI 7 0.000 2.300 2.772 6.374 2.771
LANTAI 6 0.000 2.300 2.771 6.374 2.771
LANTAI 5 0.000 2.300 2.771 6.372 2.770
LANTAI 4 0.000 2.300 2.769 6.369 2.769
LANTAI 3 0.001 2.300 2.766 6.362 2.766
LANTAI 2 0.000 2.300 2.759 6.345 2.759

Tabel 4. 45 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu X model 2


103

Story Eoy o.o5 Ly Ay Edy Eksentrisitas, Y


ROOFTOP 4.271 2.100 1.213 6.817 3.246
LANTAI 20 4.097 2.100 1.149 6.510 3.100
LANTAI 19 4.183 2.100 1.163 6.625 3.155
LANTAI 18 4.292 2.100 1.157 6.721 3.200
LANTAI 17 4.416 2.100 1.151 6.832 3.254
LANTAI 16 4.575 2.100 1.145 6.979 3.323
LANTAI 15 4.779 2.100 1.137 7.166 3.413
LANTAI 14 4.954 2.100 1.129 7.325 3.488
LANTAI 13 5.129 2.100 1.122 7.485 3.564
LANTAI 12 5.305 2.100 1.114 7.645 3.640
LANTAI 11 5.506 2.100 1.106 7.829 3.728
LANTAI 10 5.744 2.100 1.095 8.043 3.830
LANTAI 9 5.934 2.100 1.084 8.210 3.909
LANTAI 8 6.096 2.100 1.072 8.347 3.975
LANTAI 7 6.209 2.100 1.060 8.434 4.016
LANTAI 6 6.261 2.100 1.048 8.461 4.029
LANTAI 5 6.239 2.100 1.030 8.402 4.001
LANTAI 4 5.980 2.100 1.012 8.105 3.860
LANTAI 3 5.400 2.100 0.995 7.489 3.566
LANTAI 2 4.347 2.100 1.002 6.452 3.072

Tabel 4. 46 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu Y model 2

Story Eox o.o5 Lx Ax Edx Eksentrisitas, X


ROOFTOP 0.092 2.300 1.785 4.015 1.745
LANTAI 20 0.044 2.300 1.779 4.048 1.760
LANTAI 19 0.020 2.300 1.788 4.093 1.780
LANTAI 18 0.084 2.300 1.791 4.036 1.755
LANTAI 17 0.147 2.300 1.792 3.976 1.729
LANTAI 16 0.208 2.300 1.793 3.917 1.703
LANTAI 15 0.266 2.300 1.794 3.860 1.678
LANTAI 14 0.324 2.300 1.795 3.804 1.654
LANTAI 13 0.381 2.300 1.796 3.749 1.630
LANTAI 12 0.438 2.300 1.797 3.695 1.606
LANTAI 11 0.495 2.300 1.798 3.640 1.582
LANTAI 10 0.551 2.300 1.799 3.586 1.559
LANTAI 9 0.605 2.300 1.800 3.534 1.537
LANTAI 8 0.652 2.300 1.800 3.489 1.517
LANTAI 7 0.683 2.300 1.801 3.459 1.504
LANTAI 6 0.689 2.300 1.801 3.453 1.501
LANTAI 5 0.652 2.300 1.800 3.487 1.516
LANTAI 4 0.549 2.300 1.796 3.582 1.557
LANTAI 3 0.357 2.300 1.788 3.756 1.633
LANTAI 2 0.119 2.300 1.773 3.958 1.721

Tabel 4. 47 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu X model 3


104

Story Eoy o.o5 Ly Ay Edy Eksentrisitas, Y


ROOFTOP 4.649 2.100 1.028 6.809 3.242
LANTAI 20 4.757 2.100 0.987 6.830 3.252
LANTAI 19 4.954 2.100 0.995 7.042 3.353
LANTAI 18 5.153 2.100 0.989 7.231 3.443
LANTAI 17 5.348 2.100 0.983 7.412 3.530
LANTAI 16 5.564 2.100 0.977 7.616 3.627
LANTAI 15 5.806 2.100 0.971 7.844 3.735
LANTAI 14 6.012 2.100 0.964 8.037 3.827
LANTAI 13 6.219 2.100 0.957 8.229 3.919
LANTAI 12 6.427 2.100 0.950 8.423 4.011
LANTAI 11 6.665 2.100 0.943 8.646 4.117
LANTAI 10 6.932 2.100 0.934 8.895 4.235
LANTAI 9 7.163 2.100 0.925 9.106 4.336
LANTAI 8 7.377 2.100 0.915 9.298 4.428
LANTAI 7 7.548 2.100 0.904 9.447 4.499
LANTAI 6 7.654 2.100 0.893 9.530 4.538
LANTAI 5 7.638 2.100 0.880 9.487 4.518
LANTAI 4 7.311 2.100 0.868 9.135 4.350
LANTAI 3 6.403 2.100 0.862 8.214 3.911
LANTAI 2 4.348 2.100 0.881 6.199 2.952

Tabel 4. 48 Perhitungan Eksentrisitas Desain Pada Arah Sumbu Y model 3

4.3.7. Pengecekan Ketidakberaturan torsi

Pengecekan ketidakberaturan torsi berdasarkan nilai simpangan


antar lantai X atau Y pada tabel story drift dibagi dengan nilai 1,2 δavg
pada tabel Nilai dari δmax, δmin, δavg dan Ax untuk Gempa Arah X atau
Y Dominan.

Berdasarkan SNI 1726-2012 tabel 10, struktur dikatakan memiliki


tipe ketidakberaturan torsi 1a jika hasil perhitungan diatas lebih dari 1,2
dan memiliki tipe ketidakberaturan torsi 1b jika hasil perhitungan lebih
dari 1,4. berikut adalah grafik hasil pengecekan ketidakberaturan torsi:
105

Pengecekan ketidakberaturan torsi arah X
80.00
70.00
60.00
Ketinggian (m)

50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0 2 4 6 8 10 12

Deltamax/DeltaAvg 1.2  AVG arah X 1.4   AVG arah X

Gambar 4. 35 Grafik ketidakberaturan torsi arah X model 1

Pengecekan ketidakberaturan torsi arah  Y
80
70
60
Ketinggian (m)

50
40
30
20
10
0
0 2 4 6 8 10

DeltaMax/DeltaAvg 1.2   AVG arah Y 1.4   AVG arah Y

Gambar 4. 36 Grafik ketidakberaturan torsi arah Y model 1


106

Pengecekan ketidakberaturan torsi arah X
80.00
70.00
60.00
Ketinggian (m)

50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0 2 4 6 8 10 12

Deltamax/DeltaAvg 1.2  AVG arah X 1.4   AVG arah X

Gambar 4. 37 Grafik ketidakberaturan torsi arah X model 2

Pengecekan ketidakberaturan torsi arah  Y
80
70
60
Ketinggian (m)

50
40
30
20
10
0
0 1 2 3 4 5 6

DeltaMax/DeltaAvg 1.2   AVG arah Y 1.4   AVG arah Y

Gambar 4. 38 Grafik ketidakberaturan torsi arah Y model 2


107

Pengecekan ketidakberaturan torsi arah X
80.00
70.00
60.00
Ketinggian (m)

50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0 2 4 6 8 10

Deltamax/DeltaAvg 1.2  AVG arah X 1.4   AVG arah X

Gambar 4. 39 Grafik ketidakberaturan torsi arah X model 3

Pengecekan ketidakberaturan torsi arah  Y
80
70
60
Ketinggian (m)

50
40
30
20
10
0
0 1 2 3 4 5 6

DeltaMax/DeltaAvg 1.2   AVG arah Y 1.4   AVG arah Y

Gambar 4. 40 Grafik ketidakberaturan torsi arah Y model 3

4.3.8. Pengecekan Ketidakberaturan Horizontal dan Vertikal

Berdasarkan aturan pada SNI 1726:2012 Tabel 10 ketidakberaturan


horizontal pada struktur memiliki kriteria atau syarat-syarat yang harus
dicek. Berikut tabel rangkuman hasil pengecekan ketidakberaturan
horizontal :
108

Tipe penjelasan ketidak beraturan Cek Hasil


1a Ketidak beraturan torsi Ada Cek tabel 13 
SNI 
1b Ketidak beraturan torsi berlebihan Ada 1726:2012
2 ketidakberaturan sudut dalam Tidak
ketidakberaturan diskontinuitas 
3 Tidak
diafragma
ketidakberaturan pergeseran melintang 
4 Tidak
terhadap bidang
5 ketidakberaturan sistem non paralel Tidak

Tabel 4. 49 Pengecekan ketidakberaturan horizontal model 1,2 dan 3

Berikut penjelasan mengenai jenis ketidakberaturan horizontal dan


pengecekan ketidakberaturan horizontal berdasarkan SNI 1726-2012:

1a. Ketidakberaturan torsi didefinisikan ada jika sampingan antarlantai


tingkat maksimum, torsi yang dihitung termasuk tidak terduga, di
sebuah ujung struktur melintang terhadap sumbu lebih dari 1,2 kali
simpangan antarlantai tingkat rata–rata dikedua ujung struktur.
Persyaratan ketidakberaturan torsi dalam pasal –pasal referensi
berlaku hanya untuk struktur yang diafragmanya kaku atau
setengah kaku.
1b. Ketidakberaturan torsi berlebihan didefinisikan ada jika simpangan
antar lantai tingkat maksimum, torsi yang dihitung termasuk tidak
terduga, disebuah ujung struktur melintang terhadap sumbulebih
dari 1,4 kali simpangan antarlantai tingkat rata–rata dikedua ujung
struktur. Persyaratan ketidakberaturan torsi berlebihan dalam pasal-
pasal referensi berlaku hanya untuk struktur yang diafragmanya
kaku atau setengah kaku.
Berdasarkam hasil pengecekan, masih terdapat ketidakberaturan torsi
pada 3 model yang dibuat. Untuk itu perlu dilakukan pengecekan
berdasarkan SNI 1726-2012 tabel 13 untuk mengetahui apakah
struktur tersebut masih diizinkan dengan adanya ketidakberaturan torsi
pada struktur tersebut.
109

Tabel 4. 50 Pengecekan ketidakberaturan torsi terhadap prosedur analisis


yang digunakan berdasarkan SNI

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa struktur gedung yang


didesain dengan sistem struktur ganda yang masuk dalam kategori
desain seismik D dan menggunakan analisis respon spektrum, masih
diizinkan memiliki ketidakberaturan torsi tipe 1a dan 1b.

2. Ketidakberaturan sudut dalam didefinisikan ada jika kedua


proyeksi denah struktur dari sudut dalam lebih besar dari 15%
dimensi denah struktur dalam arah yang ditentukan.

Gambar 4. 41 Ilustrasi Pengecekan ketidakberaturan Sudut


110

Dalam. Data denah diperoleh :

Lx : 46 m, Ly : 42 m, Px : 0 m dan Py : 0 m

Maka dapat diketahui bahwa ketidakberaturan ini tidak ada.

3. Ketidakberaturan diskontinuitas diafragma didefinisikan ada jika


terdapat diafragma dengan diskontinuitas atau variasi kekakuan
mendadak, termasuk yang memiliki daerah terpotong atau terbuka
lebih besar dari 50% daerah diafragma efektif lebih dari 50% dari
suatu tingkat ke tingkat selanjutnya.

Gambar 4. 42 Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan diskontinuitas


diafragma

Dalam. Data denah diperoleh luas bukaan sebesar 1452 m2


sedangkan luas bruto sebesar 21.252 m2 maka persentasenya
sebesar 6,832% sehingga ketidakberaturan ini tidak ada.

4. Ketidakberaturan pergeseran melintang terhadap bidang


didefinisikan ada jika terdapat diskontinuitas dalam lintasan
tahanan lateral, seperti pergeseran melintang terhadap bidang
elemen vertikal.

Gambar 4. 43 Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan pergeseran


melintang terhadap bidang
111

Semua dinding geser menerus hingga bawah sehingga


ketidakberaturan ini tidak ada.

5. Ketidakberaturan sistem nonparalel didefinisikan ada jika elemen


penahan lateral vertikal tidak paralel atau simetris terhadap sumbu-
sumbu ortogonal utama sistem penahan seismik.

Gambar 4. 44 Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan sistem nonparalel

Semua dinding geser terletak pada arah sumbu arah X dan Y


sehingga ketidakberaturan ini tidak ada.

Selain ketidakberaturan horizontal, berdasarkan aturan pada SNI


1726:2012 Tabel 11 ketidakberaturan vertikal pada struktur juga memiliki
kriteria atau syarat-syarat yang harus dicek keberadaannya. Berikut tabel
rangkuman hasil pengecekan ketidakberaturan vertikal :

Tipe penjelasan ketidak beraturan Cek Hasil


Cek SNI 1726‐
1a Ketidak beraturan kekakuan tingkat lunak ada
2012 tabel 11
Ketidak beraturan kekakuan tingkat lunak 
1b Tidak
berlebihan
2 ketidakberaturan berat (massa) Tidak
3 ketidakberaturan geometri vertikal Tidak
Diskontinuitas arah bidang dalam 
4 ketidakberaturan elemen penahan gaya lateral  Tidak
vertikal
Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat 
5a Tidak
lateral tingkat
Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat 
5b Tidak
lateral tingkat berlebihan

Tabel 4. 51 Pengecekan ketidakberaturan vertikal model 1


112

Tipe penjelasan ketidak beraturan Cek Hasil


1a Ketidak beraturan kekakuan tingkat lunak Tidak
Ketidak beraturan kekakuan tingkat lunak 
1b Tidak
berlebihan
2 ketidakberaturan berat (massa) Tidak
3 ketidakberaturan geometri vertikal Tidak
Diskontinuitas arah bidang dalam 
4 ketidakberaturan elemen penahan gaya lateral  Tidak
vertikal
Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat 
5a Tidak
lateral tingkat
Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat 
5b Tidak
lateral tingkat berlebihan

Tabel 4. 52 Pengecekan ketidakberaturan vertikal model 2


Tipe penjelasan ketidak beraturan Cek Hasil
1a Ketidak beraturan kekakuan tingkat lunak Tidak
Ketidak beraturan kekakuan tingkat lunak 
1b Tidak
berlebihan
2 ketidakberaturan berat (massa) Tidak
3 ketidakberaturan geometri vertikal Tidak
Diskontinuitas arah bidang dalam 
4 ketidakberaturan elemen penahan gaya lateral  Tidak
vertikal
Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat 
5a Tidak
lateral tingkat
Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat 
5b Tidak
lateral tingkat berlebihan

Tabel 4. 53 Pengecekan ketidakberaturan vertikal model 3

Berikut penjelasan mengenai jenis ketidakberaturan vertikal dan


pengecekan ketidakberaturan vertikal berdasarkan SNI 1726-2012:

1a. Ketidakberaturan kekakuan tingkat lunak didefinisikan ada jika


terdapat suatu tingkat yang kekakuan lateralnya kurang dari 70%
kekakuan lateral tingkat di atasnya atau kuang dari 80% kekakuan
rata-rata tiga tingkat di atasnya. Berdasarkan hasil analisa program
ETABS dan perhitungan tidak ada ketidakberaturan vertikal 1a.
1b. Ketidakberaturan kekakuan tingkat lunak berlebihan didefinisikan
ada jika terdapat suatu tingkat yang kekakuan lateralnya kurang
dari 60% kekakuan lateral tingkat di atasnya atau kuang dari 70%
kekakuan rata–rata tiga tingkat di atasnya. Berdasarkan hasil
113

analisa program ETABS dan perhitungan tidak ada


ketidakberaturan vertikal 1b.
Load  1a 1b
Story Shear y (ton) Shear y (kN) Story drift Kekakuan
case cek 70% cek 80% cek 60% cek 70%
ROOFTOP QX 187.75 1839.95 0.02753814 66814.60182
LANTAI 20 QX 379.98 3723.804 0.00963159 386624.1542 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 19 QX 559.89 5486.922 0.02006688 273431.6961 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 18 QX 726.7 7121.66 0.02174571 327497.1782 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 17 QX 880.66 8630.468 0.02310201 373580.7609 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 16 QX 1023.46 10029.908 0.0235325 426215.1238 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 15 QX 1155.8 11326.84 0.02474424 457756.6243 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 14 QX 1275.79 12502.742 0.02581783 484267.6813 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 13 QX 1383.72 13560.456 0.02673201 507274.0842 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 12 QX 1479.91 14503.118 0.02743699 528597.1923 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 11 QX 1565.79 15344.742 0.02697396 568872.5083 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 10 QX 1641.81 16089.738 0.0273614 588045.1293 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 9 QX 1706.86 16727.228 0.02742656 609891.6766 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 8 QX 1761.38 17261.524 0.02717506 635197.309 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 7 QX 1805.85 17697.33 0.02650933 667588.6362 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 6 QX 1841.31 18044.838 0.02446251 737652.7954 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 5 QX 1868.22 18308.556 0.02256108 811510.7104 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 4 QX 1886.62 18488.876 0.01947037 949590.2883 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 3 QX 1897.38 18594.324 0.01492029 1246244.012 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 2 QX 1901.68 18636.464 0.00747422 2493433.542 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA

Tabel 4. 54 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah


X model 1
Load  1a 1b
Story Shear y (ton) Shear y (kN) Story drift Kekakuan
case cek 70% cek 80% cek 60% cek 70%
ROOFTOP QY 187.75 1839.95 0.022452 81948.92
LANTAI 20 QY 379.98 3723.80 0.007665 485839.21 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 19 QY 559.89 5486.92 0.016291 336813.80 ADA! TIDAK ADA
LANTAI 18 QY 726.7 7121.66 0.017360 410242.97 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 17 QY 880.66 8630.47 0.018282 472084.21 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 16 QY 1023.46 10029.91 0.018497 542237.75 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 15 QY 1155.8 11326.84 0.019298 586937.33 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 14 QY 1275.79 12502.74 0.019994 625319.76 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 13 QY 1383.72 13560.46 0.020565 659381.37 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 12 QY 1479.91 14503.12 0.020971 691569.99 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 11 QY 1565.79 15344.74 0.020521 747748.00 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 10 QY 1641.81 16089.74 0.020674 778266.68 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 9 QY 1706.86 16727.23 0.020583 812656.16 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 8 QY 1761.38 17261.52 0.020262 851911.70 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 7 QY 1805.85 17697.33 0.019658 900268.44 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 6 QY 1841.31 18044.84 0.018128 995396.35 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 5 QY 1868.22 18308.56 0.016765 1092083.82 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 4 QY 1886.62 18488.88 0.014647 1262321.21 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 3 QY 1897.38 18594.32 0.011514 1614967.84 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 2 QY 1901.68 18636.46 0.006013 3099356.60 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA

Tabel 4. 55 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah


Y model 1
114

Load  1a 1b
Story Shear y (ton) Shear y (kN) Story drift Kekakuan
case cek 70% cek 80% cek 60% cek 70%
ROOFTOP QX 197.08 1931.384 0.0231734 83344.8739
LANTAI 20 QX 405.87 3977.526 0.00884713 449583.5649 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 19 QX 601.95 5899.11 0.01591328 370703.5145 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 18 QX 784.45 7687.61 0.01800036 427080.8728 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 17 QX 953.57 9344.986 0.01905126 490517.8973 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 16 QX 1111.16 10889.368 0.01930175 564164.9066 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 15 QX 1257.9 12327.42 0.02017783 610938.9354 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 14 QX 1391.61 13637.778 0.02091518 652051.6919 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 13 QX 1512.54 14822.892 0.02149518 689591.3911 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 12 QX 1620.95 15885.31 0.02192959 724377.9374 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 11 QX 1718.38 16840.124 0.0213977 787006.4224 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 10 QX 1805.26 17691.548 0.02152068 822072.0222 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 9 QX 1880.19 18425.862 0.021375 862028.6884 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 8 QX 1943.56 19046.888 0.02098171 907785.143 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 7 QX 1995.78 19558.644 0.02032762 962170.6755 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 6 QX 2037.95 19971.91 0.01868017 1069150.169 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 5 QX 2070.45 20290.41 0.01725104 1176184.442 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 4 QX 2093.1 20512.38 0.01506443 1361642.913 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 3 QX 2106.71 20645.758 0.01199675 1720946.327 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 2 QX 2112.41 20701.618 0.00658582 3143362.22 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA

Tabel 4. 56 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah


X model 2

Load  1a 1b
Story Shear y (ton) Shear y (kN) Story drift Kekakuan
case cek 70% cek 80% cek 60% cek 70%
ROOFTOP QY 219.37 2149.83 0.016785 128080.08
LANTAI 20 QY 454.77 4456.75 0.005645 789518.65 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 19 QY 678.83 6652.53 0.011837 561994.75 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 18 QY 890.36 8725.53 0.012375 705089.86 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 17 QY 1089.37 10675.83 0.012862 830026.84 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 16 QY 1277.81 12522.54 0.012964 965975.39 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 15 QY 1456.32 14271.94 0.013330 1070634.44 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 14 QY 1622.01 15895.70 0.013596 1169138.53 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 13 QY 1774.87 17393.73 0.013760 1264061.78 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 12 QY 1914.92 18766.22 0.013840 1355948.19 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 11 QY 2043.8 20029.24 0.013458 1488269.00 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 10 QY 2161.77 21185.35 0.013341 1587938.36 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 9 QY 2266.56 22212.29 0.013058 1700986.28 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 8 QY 2358.17 23110.07 0.012631 1829620.96 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 7 QY 2436.62 23878.88 0.012068 1978621.46 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 6 QY 2502.91 24528.52 0.011047 2220428.45 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 5 QY 2556.92 25057.82 0.010112 2477930.45 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 4 QY 2597.35 25454.03 0.008822 2885287.65 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 3 QY 2624.24 25717.55 0.007163 3590537.11 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 2 QY 2637.62 25848.68 0.004259 6068710.86 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA

Tabel 4. 57 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah


Y model 2
115

Load  1a 1b
Story Shear y (ton) Shear y (kN) Story drift Kekakuan
case cek 70% cek 80% cek 60% cek 70%
ROOFTOP QX 194.36 1904.728 0.01411301 134962.5412
LANTAI 20 QX 399.87 3918.726 0.0060129 651720.2478 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 19 QX 592.32 5804.736 0.01063645 545739.7592 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 18 QX 770.94 7555.212 0.01332772 566879.718 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 17 QX 935.95 9172.31 0.01505589 609217.3979 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 16 QX 1089.91 10681.118 0.01598829 668058.6134 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 15 QX 1233.37 12087.026 0.01752477 689710.8082 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 14 QX 1363.59 13363.182 0.01890753 706765.0061 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 13 QX 1480.88 14512.624 0.02017001 719515.0811 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 12 QX 1585.57 15538.586 0.02136998 727122.3293 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 11 QX 1679.6 16460.08 0.02161723 761433.1855 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 10 QX 1763.29 17280.242 0.02246334 769264.1384 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 9 QX 1835.05 17983.49 0.02303449 780720.0644 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 8 QX 1895.32 18574.136 0.02335559 795275.7797 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 7 QX 1944.59 19056.982 0.02339299 814644.9438 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 6 QX 1984.17 19444.866 0.02237052 869218.2573 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 5 QX 2014.41 19741.218 0.02141811 921706.7476 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 4 QX 2035.19 19944.862 0.01947404 1024176.915 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 3 QX 2047.42 20064.716 0.01598895 1254911.478 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 2 QX 2052.36 20113.128 0.00824034 2440811.69 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA

Tabel 4. 58 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah


X model 3

Load  1a 1b
Story Shear y (ton) Shear y (kN) Story drift Kekakuan
case cek 70% cek 80% cek 60% cek 70%
ROOFTOP QY 210.09 2058.88 0.013811 149070.45
LANTAI 20 QY 434.57 4258.79 0.005263 809118.55 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 19 QY 647.12 6341.78 0.010095 628195.49 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 18 QY 846.69 8297.56 0.011386 728761.73 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 17 QY 1033.36 10126.93 0.012320 821982.90 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 16 QY 1209.84 11856.43 0.012924 917367.55 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 15 QY 1376.61 13490.78 0.013778 979177.00 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 14 QY 1530.3 14996.94 0.014513 1033323.14 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 13 QY 1671 16375.80 0.015147 1081131.33 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 12 QY 1798.84 17628.63 0.015722 1121261.80 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 11 QY 1915.9 18775.82 0.015831 1186042.27 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 10 QY 2022.36 19819.13 0.016102 1230833.93 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 9 QY 2115.86 20735.43 0.016125 1285949.47 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 8 QY 2196.56 21526.29 0.015918 1352360.90 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 7 QY 2264.65 22193.57 0.015471 1434492.67 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 6 QY 2321.4 22749.72 0.014452 1574113.60 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 5 QY 2366.79 23194.54 0.013307 1743057.72 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 4 QY 2399.85 23518.53 0.011578 2031230.49 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 3 QY 2420.99 23725.70 0.009191 2581535.50 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 2 QY 2430.84 23822.23 0.004838 4924392.04 TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA TIDAK ADA

Tabel 4. 59 Pengecekan ketidakberaturan tingkat lunak (1a dan 1b) arah


Y model 3

2. Ketidakberaturan berat (massa) didefinisikan ada jika efektif semua


tingkat lebih dari 150% efektif di dekatnya. Atap yang lebih ringan
daripada lantai dibawahnya tidak perlu ditinjau.
116

Massa (Px)  Banding 1,5  Banding 1,5 


Story Berat Massa
Kumulaif massa lt atas massa lt bawah
ROOFTOP 1788.685 17529.11 17529.113 TIDAK ADA
LANTAI 20 1768.662 17332.89 34862.001 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 19 1768.662 17332.89 52194.888 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 18 1768.662 17332.89 69527.776 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 17 1768.662 17332.89 86860.663 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 16 1814.022 17777.42 104638.079 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 15 1814.022 17777.42 122415.495 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 14 1814.022 17777.42 140192.910 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 13 1814.022 17777.42 157970.326 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 12 1814.022 17777.42 175747.741 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 11 1869.305 18319.19 194066.930 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 10 1869.305 18319.19 212386.119 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 9 1869.305 18319.19 230705.308 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 8 1869.305 18319.19 249024.497 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 7 1869.305 18319.19 267343.686 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 6 1934.51 18958.2 286301.884 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 5 1934.51 18958.2 305260.082 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 4 1934.51 18958.2 324218.280 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 3 1934.51 18958.2 343176.478 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 2 1934.51 18958.2 362134.676 TIDAK ADA

Tabel 4. 60 Pengecekan ketidakberaturan berat model 1

Massa (Px)  Banding 1,5  Banding 1,5 


Story Berat Massa
Kumulaif massa lt atas massa lt bawah
ROOFTOP 1885.527 18478.16 18478.165 TIDAK ADA
LANTAI 20 1865.504 18281.94 36760.104 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 19 1865.504 18281.94 55042.043 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 18 1865.504 18281.94 73323.982 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 17 1865.504 18281.94 91605.921 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 16 1914.003 18757.23 110363.151 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 15 1914.003 18757.23 129120.380 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 14 1914.003 18757.23 147877.610 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 13 1914.003 18757.23 166634.839 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 12 1914.003 18757.23 185392.068 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 11 1973.096 19336.34 204728.409 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 10 1973.096 19336.34 224064.750 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 9 1973.096 19336.34 243401.091 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 8 1973.096 19336.34 262737.432 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 7 1973.096 19336.34 282073.772 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 6 2042.784 20019.28 302093.056 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 5 2042.784 20019.28 322112.339 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 4 2042.784 20019.28 342131.622 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 3 2042.784 20019.28 362150.905 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 2 2042.784 20019.28 382170.188 TIDAK ADA

Tabel 4. 61 Pengecekan ketidakberaturan berat model 2


117

Massa (Px)  Banding 1,5  Banding 1,5 


Story Berat Massa
Kumulaif massa lt atas massa lt bawah
ROOFTOP 1882.124 18444.82 18444.815 TIDAK ADA
LANTAI 20 1862.101 18248.59 36693.405 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 19 1862.101 18248.59 54941.995 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 18 1862.101 18248.59 73190.585 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 17 1862.101 18248.59 91439.174 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 16 1927.457 18889.08 110328.253 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 15 1927.457 18889.08 129217.332 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 14 1927.457 18889.08 148106.410 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 13 1927.457 18889.08 166995.489 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 12 1927.457 18889.08 185884.567 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 11 2002.735 19626.8 205511.370 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 10 2002.735 19626.8 225138.173 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 9 2002.735 19626.8 244764.976 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 8 2002.735 19626.8 264391.779 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 7 2002.735 19626.8 284018.582 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 6 2087.936 20461.77 304480.355 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 5 2087.936 20461.77 324942.128 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 4 2087.936 20461.77 345403.901 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 3 2087.936 20461.77 365865.674 TIDAK ADA TIDAK ADA
LANTAI 2 2087.936 20461.77 386327.446 TIDAK ADA

Tabel 4. 62 Pengecekan ketidakberaturan berat model 3

3. Ketidakberaturan geometri vertikal didefinisikan ada jika dimensi


horizontal sistem penahan seismik di semua tingkat lebih dari
130% dimensi horizontal sistem penahan eismik tingkat di
dekatnya.

Gambar 4. 45 Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan geometri vertikal

Dimensi panjang dinding geser yang digunakan memiliki ukuran


yang sama sepanjang tinggi bangunan sehingga ketidakberaturan
ini tidak ada.
118

4. Diskontinuitas arah bidang dalam ketidakberaturan elemen penahan


gaya lateral vertikal didefiniskan ada jika pergeseran arah bidang
elemen penahan lateral lebih besar dari panjang elemen itu atau
terdapat reduksi kekakuan elemen penahan di tingkat di bawahnya.

Gambar 4. 46 Ilustrasi pengecekan diskontinuitas arah bidang dalam


ketidakberaturan elemen penahan gaya lateral vertikal

5.a. Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat lateral tingkat


didefiniskan ada jika kuat lateral tingkat kurang dari 80% kuat
lateral tingkat diatasnya. Kuat lateral tingkat adalah kuat lateral
total semua elemen penahan seismik yang berbagai geser tingkat
untuk arah yang ditinjau.

Gambar 4. 47 Ilustrasi pengecekan diskontinuitas dalam


ketidakberaturan kuat lateral tingkat

Setelah dilakukan pengecekan ketidakberaturan vertikal 5a tidak


ada kuat lateral yang dibawah 80% dari kuat lateral tingkat
diatasnya, baik arah x maupun arah y.
119

5.b.Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat lateral tingkat yang


berlebihan didefiniskan ada jika kuat lateral tingkat kurang dari
65% kuat lateral tingkat diatasnya. Kuat tingkat adalah kuat total
semua elemen penahan seismik yang berbagai geser tingkat untuk
arah yang ditinjau. Setelah dilakukan pengecekan ketidakberaturan
vertikal 5b tidak ada kuat lateral yang dibawah 65% dari kuat
lateral tingkat diatasnya, baik arah x maupun arah y.
Setelah dilakukan pengecekan ketidakberaturan vertikal 5b
tidak ada kuat lateral yang dibawah 65% dari kuat lateral tingkat
diatasnya, baik arah x maupun arah y.
Rekap data pengecekan ketidakberaturan kuat lateral
tingkat dapat dilihat pada tabel pengecekan berikut.
120

Cek 80%  Cek 80% 
Story Load case Vx (N) Vy (N)
arah x arah y
ROOFTOP Envelope max 3285074.59 3399430
LANTAI 20 Envelope max 87815030 6699477 OK OK
LANTAI 19 Envelope max 139513762 9818379 OK OK
LANTAI 18 Envelope max 191212494 12649132 OK OK
LANTAI 17 Envelope max 242911226 15220139 OK OK
LANTAI 16 Envelope max 295631637 17635757 OK OK
LANTAI 15 Envelope max 348352048 19957089 OK OK
LANTAI 14 Envelope max 401072459 22064219 OK OK
LANTAI 13 Envelope max 453792871 23962139 OK OK
LANTAI 12 Envelope max 506513282 25656130 OK OK
LANTAI 11 Envelope max 560391597 27177492 OK OK
LANTAI 10 Envelope max 614269911 28564423 OK OK
LANTAI 9 Envelope max 668148226 29989973 OK OK
LANTAI 8 Envelope max 722026540 31275825 OK OK
LANTAI 7 Envelope max 775904855 32419634 OK OK
LANTAI 6 Envelope max 831077297 33441840 OK OK
LANTAI 5 Envelope max 886249739 34337207 OK OK
LANTAI 4 Envelope max 941422180 35040078 OK OK
LANTAI 3 Envelope max 996594622 35491286 OK OK
LANTAI 2 Envelope max 1051884644 35664981 OK OK

Cek 65%  Cek 65% 
Story Load case Vx (N) Vy (N)
arah x arah y
ROOFTOP Envelope max 3285074.59 3399430
LANTAI 20 Envelope max 87815030 6699477 OK OK
LANTAI 19 Envelope max 139513762 9818379 OK OK
LANTAI 18 Envelope max 191212494 12649132 OK OK
LANTAI 17 Envelope max 242911226 15220139 OK OK
LANTAI 16 Envelope max 295631637 17635757 OK OK
LANTAI 15 Envelope max 348352048 19957089 OK OK
LANTAI 14 Envelope max 401072459 22064219 OK OK
LANTAI 13 Envelope max 453792871 23962139 OK OK
LANTAI 12 Envelope max 506513282 25656130 OK OK
LANTAI 11 Envelope max 560391597 27177492 OK OK
LANTAI 10 Envelope max 614269911 28564423 OK OK
LANTAI 9 Envelope max 668148226 29989973 OK OK
LANTAI 8 Envelope max 722026540 31275825 OK OK
LANTAI 7 Envelope max 775904855 32419634 OK OK
LANTAI 6 Envelope max 831077297 33441840 OK OK
LANTAI 5 Envelope max 886249739 34337207 OK OK
LANTAI 4 Envelope max 941422180 35040078 OK OK
LANTAI 3 Envelope max 996594622 35491286 OK OK
LANTAI 2 Envelope max 1051884644 35664981 OK OK

Tabel 4. 63 Pengecekan ketidakberaturan vertikal 5a dan b model 3


121

4.3.9. Pengecekan P-delta

Pengaruh P-delta ditentukan berdasarkan nilai dari koefisien


stabilitas Pengaruh stabilitas (Φ). Jika nilai Φ lebih kecil dari nilai Φ
maksimum, maka pengaruh P-Delta dapat diabaikan. Nilai P-Delta dan Φ
maksimum dihitung berdasarkan SNI 1726-2012 dengan rumus berikut :

0,5 0,5
Φmaks 0,0909
cd β 5,5 1

Keterangan :

= koefisien stabilitas

Px = beban desain vertikal total pada dan di atas tingkat x

Δ = simpangan antar lantai tingkat desain yang terjadi


serentak dengan Vx

Ie = faktor keutamaan gempa

Vx = gaya geser seismik antara tingkat x dan x-1

Berikut hasil perhitungan dan pengecekan P-delta arah X dan Y:


122

Gaya 
Px  cek 
Tinggi  Story drift  geser 
Lantai Elevasi Kumulatif  ф,x terhadap 
Lantai (m) seismik 
(kN) ф max
arah x
ROOFTOP 70.00 3.5 0.028 17529.11 1839.95 0.013629 OK
LANTAI 20 66.50 3.5 0.010 34862 3723.804 0.004684 OK
LANTAI 19 63.00 3.5 0.020 52194.89 5486.922 0.009916 OK
LANTAI 18 59.50 3.5 0.022 69527.78 7121.66 0.011029 OK
LANTAI 17 56.00 3.5 0.023 86860.66 8630.468 0.012078 OK
LANTAI 16 52.50 3.5 0.024 104638.1 10029.91 0.012754 OK
LANTAI 15 49.00 3.5 0.025 122415.5 11326.84 0.013892 OK
LANTAI 14 45.50 3.5 0.026 140192.9 12502.74 0.015039 OK
LANTAI 13 42.00 3.5 0.027 157970.3 13560.46 0.016177 OK
LANTAI 12 38.50 3.5 0.027 175747.7 14503.12 1.73E‐02 OK
LANTAI 11 35.00 3.5 0.027 194066.9 15344.74 0.017722 OK
LANTAI 10 31.50 3.5 0.027 212386.1 16089.74 0.018762 OK
LANTAI 9 28.00 3.5 0.027 230705.3 16727.23 0.019651 OK
LANTAI 8 24.50 3.5 0.027 249024.5 17261.52 0.020366 OK
LANTAI 7 21.00 3.5 0.027 267343.7 17697.33 0.020803 OK
LANTAI 6 17.50 3.5 0.024 286301.9 18044.84 0.020162 OK
LANTAI 5 14.00 3.5 0.023 305260.1 18308.56 0.019541 OK
LANTAI 4 10.50 3.5 0.019 324218.3 18488.88 0.017737 OK
LANTAI 3 7.00 3.5 0.015 343176.5 18594.32 0.014305 OK
LANTAI 2 3.50 3.5 0.007 362134.7 18636.46 0.007545 OK

Gaya 
Px  cek 
Tinggi  Story drift  geser 
Lantai Elevasi Kumulatif  ф,y terhadap 
Lantai (m) seismik 
(kN) ф max
arah y
ROOFTOP 70.00 3.5 0.022 17529.11 1839.95 0.011112 OK
LANTAI 20 66.50 3.5 0.008 34862 3723.80 0.003728 OK
LANTAI 19 63.00 3.5 0.016 52194.89 5486.92 0.00805 OK
LANTAI 18 59.50 3.5 0.017 69527.78 7121.66 0.008804 OK
LANTAI 17 56.00 3.5 0.018 86860.66 8630.47 0.009558 OK
LANTAI 16 52.50 3.5 0.018 104638.1 10029.91 0.010025 OK
LANTAI 15 49.00 3.5 0.019 122415.5 11326.84 0.010835 OK
LANTAI 14 45.50 3.5 0.020 140192.9 12502.74 0.011646 OK
LANTAI 13 42.00 3.5 0.021 157970.3 13560.46 0.012445 OK
LANTAI 12 38.50 3.5 0.021 175747.7 14503.12 0.013201 OK
LANTAI 11 35.00 3.5 0.021 194066.9 15344.74 0.013482 OK
LANTAI 10 31.50 3.5 0.021 212386.1 16089.74 0.014176 OK
LANTAI 9 28.00 3.5 0.021 230705.3 16727.23 0.014748 OK
LANTAI 8 24.50 3.5 0.020 249024.5 17261.52 0.015185 OK
LANTAI 7 21.00 3.5 0.020 267343.7 17697.33 0.015426 OK
LANTAI 6 17.50 3.5 0.018 286301.9 18044.84 0.014942 OK
LANTAI 5 14.00 3.5 0.017 305260.1 18308.56 0.014521 OK
LANTAI 4 10.50 3.5 0.015 324218.3 18488.88 0.013342 OK
LANTAI 3 7.00 3.5 0.012 343176.5 18594.32 0.011039 OK
LANTAI 2 3.50 3.5 0.006 362134.7 18636.46 0.00607 OK

Tabel 4. 64 Perhitungan & pengecekan P-Delta arah X dan Y model 1


123

Pengecekan P‐Delta
80.00
Ketinggian gedung (m) 70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1

ф,x

ф,x ф max

Gambar 4. 48 Grafik P-Delta arah X model 1

Pengecekan P‐Delta
80.00
Ketinggian gedung (m)

70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1

ф,y

ф,y ф max

Gambar 4. 49 Grafik P-Delta arah Y model 1


124

Gaya 
Px  cek 
Tinggi  Story drift  geser 
Lantai Elevasi Kumulatif  ф,x terhadap 
Lantai (m) seismik 
(kN) ф max
arah x
ROOFTOP 70.00 3.5 0.023 18478.16 1931.384 0.011517 OK
LANTAI 20 66.50 3.5 0.009 36760.1 3977.526 0.004248 OK
LANTAI 19 63.00 3.5 0.016 55042.04 5899.11 0.007713 OK
LANTAI 18 59.50 3.5 0.018 73323.98 7687.61 0.008919 OK
LANTAI 17 56.00 3.5 0.019 91605.92 9344.986 0.009701 OK
LANTAI 16 52.50 3.5 0.019 110363.2 10889.37 0.010162 OK
LANTAI 15 49.00 3.5 0.020 129120.4 12327.42 0.010979 OK
LANTAI 14 45.50 3.5 0.021 147877.6 13637.78 0.011781 OK
LANTAI 13 42.00 3.5 0.021 166634.8 14822.89 0.012553 OK
LANTAI 12 38.50 3.5 0.022 185392.1 15885.31 1.33E‐02 OK
LANTAI 11 35.00 3.5 0.021 204728.4 16840.12 0.013514 OK
LANTAI 10 31.50 3.5 0.022 224064.8 17691.55 0.014159 OK
LANTAI 9 28.00 3.5 0.021 243401.1 18425.86 0.014668 OK
LANTAI 8 24.50 3.5 0.021 262737.4 19046.89 0.015035 OK
LANTAI 7 21.00 3.5 0.020 282073.8 19558.64 0.015229 OK
LANTAI 6 17.50 3.5 0.019 302093.1 19971.91 0.014678 OK
LANTAI 5 14.00 3.5 0.017 322112.3 20290.41 0.014227 OK
LANTAI 4 10.50 3.5 0.015 342131.6 20512.38 0.013053 OK
LANTAI 3 7.00 3.5 0.012 362150.9 20645.76 0.010932 OK
LANTAI 2 3.50 3.5 0.007 382170.2 20701.62 0.006316 OK

Gaya 
Px  cek 
Tinggi  Story drift  geser 
Lantai Elevasi Kumulatif  ф,y terhadap 
Lantai (m) seismik 
(kN) ф max
arah y
ROOFTOP 70.00 3.5 0.017 18478.16 2149.83 0.007495 OK
LANTAI 20 66.50 3.5 0.006 36760.1 4456.75 0.002419 OK
LANTAI 19 63.00 3.5 0.012 55042.04 6652.53 0.005088 OK
LANTAI 18 59.50 3.5 0.012 73323.98 8725.53 0.005402 OK
LANTAI 17 56.00 3.5 0.013 91605.92 10675.83 0.005733 OK
LANTAI 16 52.50 3.5 0.013 110363.2 12522.54 0.005935 OK
LANTAI 15 49.00 3.5 0.013 129120.4 14271.94 0.006265 OK
LANTAI 14 45.50 3.5 0.014 147877.6 15895.70 0.006571 OK
LANTAI 13 42.00 3.5 0.014 166634.8 17393.73 0.006848 OK
LANTAI 12 38.50 3.5 0.014 185392.1 18766.22 0.007103 OK
LANTAI 11 35.00 3.5 0.013 204728.4 20029.24 0.007146 OK
LANTAI 10 31.50 3.5 0.013 224064.8 21185.35 0.00733 OK
LANTAI 9 28.00 3.5 0.013 243401.1 22212.29 0.007433 OK
LANTAI 8 24.50 3.5 0.013 262737.4 23110.07 0.00746 OK
LANTAI 7 21.00 3.5 0.012 282073.8 23878.88 0.007406 OK
LANTAI 6 17.50 3.5 0.011 302093.1 24528.52 0.007068 OK
LANTAI 5 14.00 3.5 0.010 322112.3 25057.82 0.006753 OK
LANTAI 4 10.50 3.5 0.009 342131.6 25454.03 0.00616 OK
LANTAI 3 7.00 3.5 0.007 362150.9 25717.55 0.00524 OK
LANTAI 2 3.50 3.5 0.004 382170.2 25848.68 0.003271 OK

Tabel 4. 65 Perhitungan & pengecekan P-Delta arah X dan Y model 2


125

Pengecekan P‐Delta
80.00

Ketinggian gedung (m)
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1

ф,x

ф,x ф max

Gambar 4. 50 Grafik P-Delta arah X model 2

Pengecekan P‐Delta
80.00
Ketinggian gedung (m)

70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1

ф,y

ф,y ф max

Gambar 4. 51 Grafik P-Delta arah Y model 2


126

Gaya 
Px  cek 
Tinggi  Story drift  geser 
Lantai Elevasi Kumulatif  ф,x terhadap 
Lantai (m) seismik 
(kN) ф max
arah x
ROOFTOP 70.00 3.5 0.014 18444.82 1904.728 0.0071 OK
LANTAI 20 66.50 3.5 0.006 36693.41 3918.726 0.002925 OK
LANTAI 19 63.00 3.5 0.011 54941.99 5804.736 0.00523 OK
LANTAI 18 59.50 3.5 0.013 73190.58 7555.212 0.006707 OK
LANTAI 17 56.00 3.5 0.015 91439.17 9172.31 0.007797 OK
LANTAI 16 52.50 3.5 0.016 110328.3 10681.12 0.008579 OK
LANTAI 15 49.00 3.5 0.018 129217.3 12087.03 0.009732 OK
LANTAI 14 45.50 3.5 0.019 148106.4 13363.18 0.010886 OK
LANTAI 13 42.00 3.5 0.020 166995.5 14512.62 0.012057 OK
LANTAI 12 38.50 3.5 0.021 185884.6 15538.59 1.33E‐02 OK
LANTAI 11 35.00 3.5 0.022 205511.4 16460.08 0.014021 OK
LANTAI 10 31.50 3.5 0.022 225138.2 17280.24 0.015203 OK
LANTAI 9 28.00 3.5 0.023 244765 17983.49 0.016286 OK
LANTAI 8 24.50 3.5 0.023 264391.8 18574.14 0.01727 OK
LANTAI 7 21.00 3.5 0.023 284018.6 19056.98 0.018111 OK
LANTAI 6 17.50 3.5 0.022 304480.4 19444.87 0.018197 OK
LANTAI 5 14.00 3.5 0.021 324942.1 19741.22 0.018314 OK
LANTAI 4 10.50 3.5 0.019 345403.9 19944.86 0.017519 OK
LANTAI 3 7.00 3.5 0.016 365865.7 20064.72 0.015145 OK
LANTAI 2 3.50 3.5 0.008 386327.4 20113.13 0.008222 OK

Gaya 
Px  cek 
Tinggi  Story drift  geser 
Lantai Elevasi Kumulatif  ф,y terhadap 
Lantai (m) seismik 
(kN) ф max
arah y
ROOFTOP 70.00 3.5 0.014 18444.82 2058.88 0.006428 OK
LANTAI 20 66.50 3.5 0.005 36693.41 4258.79 0.002356 OK
LANTAI 19 63.00 3.5 0.010 54941.99 6341.78 0.004543 OK
LANTAI 18 59.50 3.5 0.011 73190.58 8297.56 0.005217 OK
LANTAI 17 56.00 3.5 0.012 91439.17 10126.93 0.005779 OK
LANTAI 16 52.50 3.5 0.013 110328.3 11856.43 0.006248 OK
LANTAI 15 49.00 3.5 0.014 129217.3 13490.78 0.006855 OK
LANTAI 14 45.50 3.5 0.015 148106.4 14996.94 0.007446 OK
LANTAI 13 42.00 3.5 0.015 166995.5 16375.80 0.008024 OK
LANTAI 12 38.50 3.5 0.016 185884.6 17628.63 0.008612 OK
LANTAI 11 35.00 3.5 0.016 205511.4 18775.82 0.009001 OK
LANTAI 10 31.50 3.5 0.016 225138.2 19819.13 0.009502 OK
LANTAI 9 28.00 3.5 0.016 244765 20735.43 0.009888 OK
LANTAI 8 24.50 3.5 0.016 264391.8 21526.29 0.010156 OK
LANTAI 7 21.00 3.5 0.015 284018.6 22193.57 0.010285 OK
LANTAI 6 17.50 3.5 0.014 304480.4 22749.72 0.010048 OK
LANTAI 5 14.00 3.5 0.013 324942.1 23194.54 0.009684 OK
LANTAI 4 10.50 3.5 0.012 345403.9 23518.53 0.008834 OK
LANTAI 3 7.00 3.5 0.009 365865.7 23725.70 0.007362 OK
LANTAI 2 3.50 3.5 0.005 386327.4 23822.23 0.004075 OK

Tabel 4. 66 Perhitungan & pengecekan P-Delta arah X dan Y model 3


127

Pengecekan P‐Delta
80.00

Ketinggian gedung (m)
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1

ф,x

ф,x ф max

Gambar 4. 52 Grafik P-Delta arah X model 3

Pengecekan P‐Delta
80.00
Ketinggian gedung (m)

70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1

ф,y

ф,y ф max

Gambar 4. 53 Grafik P-Delta arah Y model 3

4.3.10. Gaya-gaya Dalam Pada Struktur

Berikut adalah grafik gaya-gaya dalam terbesar pada struktur


berdasarkan hasil analisa program ETABS :
128

Gambar 4. 54 Gaya momen maksimum pada kolom

Gambar 4. 55 Gaya momen maksimum pada balok

Gambar 4. 56 Gaya geser maksimum pada kolom


129

Gambar 4. 57 Gaya geser maksimum pada balok

Gambar 4. 58 Gaya normal maksimum pada kolom

Gambar 4. 59 Gaya normal maksimum pada balok


130

4.4. Perencanaan Penulangan Elemen Struktur

Berdasarkan hasil pengecekan perilaku struktur. Model yang akan


digunakan untuk desain penulangan adalah model 3 karena memiliki tingkat
ketidakberaturan torsi yang paling kecil diantara model lainnya. Pada desain
penulangan, elemen struktur yang didesain adalah elemen kolom, balok, pelat
lantai dan shearwall.

4.4.1. Desain Penulangan Kolom

Elemen struktur kolom yang digunakan pada gedung ini dibagi


menjadi 4 tipe kolom. Desain penulangan kolom menggunakan concrete
frame design output pada program ETABS yaitu dengan mengambil
output hasil pengecekan struktur rangka beton bertulang pada program
ETABS. Perhitungan tulangan dilakukan pada tulangan longitudinal dan
tulangan transversal. Berikut perhitungannya:

a. Tulangan logitudinal

Gambar 4. 60 Hasil pengecekan kebutuhan tulangan longitudinal kolom


K1

Berdasarkan hasil pengecekan kebutuhan tulangan


longitudinal diatas, diketahui bahwa luas tulangan longitudinal
kolom K1 terbesar yang dibutuhkan berada pada lantai 1 yaitu
sebesar 10000mm2. Berikut perhitungannya:
131

banyaknya tulangan yang digunakan

o Arah X = 10
o Arah Y = 10
total tulangan yang digunakan = 36 bh
diameter tulangan yang digunakan = D22
1
36 22 36
4
13690,29
10000 36 22 13690,29
Jadi digunakan tulangan longitudinal 36D22
b. Tulangan transversal
Berdasarkan SNI 2847-2013 pasal 21.6.4.4 (b), luas
penampang total tulangan sengkang persegi, Ash, tidak boleh
kurang dari yang disyaratkan oleh pers. (21-4) dan (21-5).

0,3 1 21‐4

0,09 21‐5

Dengan :

s = Spasi pusat ke pusat tulangan longitudinal

bc = Dimensi penampang inti komponen struktur yang


diukur ke tepi luar tulangan transversal.

Ach = Luas penampang komponen struktur yang diukur


sampai tepi luar tulangan transversal

Ag = Luas bruto penampang beton

Berikut perhitungan tulangan transversal kolom K1


berdasarkan SNI 2847-2013 dengan menggunakan program
Microsoft excel untuk mempermudah proses perhitungan:
132

Tul. Geser / Sengkang


Tulangan yang digunakan = D 13 - 100
As D 13 = 132.78571
s = 100
Tul. Utama / Longitudinal
Tulangan yang digunakan = 36 D 22

Dimensi Kolom
arah x = 1000 mm Tul. arah x = 10 bh
arah y = 1000 mm Tul. arah y = 10 bh
T. selimut = 40 mm
fc' = 41.5 Mpa
fy = 400 Mpa
Ag = 1000000 mm2
Ach = 921600 mm2
s arah X = 89.4 mm
s arah Y = 89.4 mm
bc arah X = 920 mm
bc arah Y = 920 mm

Perhitungan kebutuhan luas tulangan


Arah X
Berdasarkan Persamaan (21-4)
sbc fc' Ag
Ash = 0.3
fy [ (A ) ch
- 1 ]
89.4 x 920 x 41.5 1000000
= 0.3
400 [ ( 921600 ) - 1 ]
= 217.77514 mm2
Berdasarkan Persamaan (21-5)
sbc fc'
Ash = 0.09
fy

89.4 x 920 x 41.5


= 0.09
400

= 767.9907 mm2

Diambil yang terbesar As Butuh = 767.9907 mm2


133

Tul. Geser / Sengkang


Tulangan yang digunakan = D 13 - 100
As D 13 = 132.78571

Jumlah tulangan yang digunakan = 10

2
As 10 D 13 = 1327.8571 mm

As Butuh = 767.9907 < As 10 D 13 = 1327.857143 (OKE)

Arah Y
Berdasarkan Persamaan (21-4)
sbc fc' Ag
Ash = 0.3
fy [ (A ) ch
- 1 ]
89.4 x 920 x 41.5 1000000
= 0.3
400 [( 921600 ) - 1 ]
= 217.77514 mm2
Berdasarkan Persamaan (21-5)
sbc fc'
Ash = 0.09
fy

89.4 x 920 x 41.5


= 0.09
400

= 767.9907 mm2

Diambil yang terbesar As Butuh = 767.9907 mm2

Tul. Geser / Sengkang


Tulangan yang digunakan = D 13 - 100
As D 13 = 132.78571

Jumlah tulangan yang digunakan = 10

As 10 D 13 = 1327.8571 mm2

As Butuh = 767.9907 < As 10 D 13 = 1327.857143 (OKE)

Berikut adalah rekapitulasi hasil perhitungan tulangan longitudinal


dan tulangan transversal pada kolom tipe K1:
134

REKAPITULASI
TULANGAN UTAMA 36 D 22

TULANGAN ARAH X 10 D 13 - 100


SENGKANG ARAH Y 10 D 13 - 100

Tabel 4. 67 Rekapitulasi hasil perhitungan tulangan kolom tipe K1

Dilakukan perhitungan untuk semua tipe kolom menggunakan


metode yang sama sehingga rekapitulasi penulangan kolom yang
dituangkan kedalam gambar adalah sebagai berikut :

Gambar 4. 61 Hasil desain penulangan kolom K1

Gambar 4. 62 Hasil desain penulangan kolom K2


135

Gambar 4. 63 Hasil desain penulangan kolom K3

Gambar 4. 64 Hasil desain penulangan kolom K4


136

4.4.2. Desain Penulangan Balok

Seperti elemen kolom, desain penulangan balok juga dilakukan


dengan mengambil output hasil pengecekan struktur rangka beton
bertulang pada program ETABS. Perhitungan tulangan dilakukan pada
tulangan longitudinal dan tulangan transversal. Berikut perhitungannya:

a. Tulangan logitudinal
Pada tulangan longitudinal balok terdapat 2 area kebutuhan
tulangan yang harus dicek yaitu pada area tumpuan dan area
lapangan. berikut hasil pengecekan kebutuhan tulangan area
tumpuan dan lapangan pada balok

Gambar 4. 65 Hasil pengecekan kebutuhan tulangan longitudinal area


tumpuan dan lapangan tumpuan balok B1

Berdasarkan hasil pengecekan kebutuhan tulangan longitudinal


diatas, diketahui bahwa luas tulangan longitudinal area tumpuan atas
yang dibutuhkan yaitu pada lantai 7 sebesar 3976mm2. Sedangkan
untuk tulangan longitudinal area lapangan atas sebesar 1195 mm2.
Berikut perhitungan untuk tulangan longitudinal area tumpuan atas :

total tulangan yang digunakan = 16bh


diameter tulangan yang digunakan = D22
1
16 22 16 6084,57
4
3976 16 22 6084,57
137

Jadi digunakan tulangan longitudinal tumpuan atas 16D22

Berikut perhitungan untuk tulangan longitudinal area tumpuan bawah :

banyaknya tulangan yang digunakan

total tulangan yang digunakan = 8bh


diameter tulangan yang digunakan = D22
1
8 22 8
4
6084,57
1195 8 22 3042,29

Jadi digunakan tulangan longitudinal lapangan atas 8D22

c. Tulangan transversal

Gambar 4. 66 Hasil pengecekan kebutuhan tulangan transversal balok


B1

Berdasarkan hasil pengecekan kebutuhan tulangan transversal diatas,


diperoleh nilai Av/s maksimum pada lantai 9 sebesar 3.515mm2
(diambil yang terbesar), jika tulangan geser arah x dan arah y
disamakan menggunakan 3D13-100, maka:

6 10 398,3571
3,9835
100
3,9835 3.515
138

Maka dapat digunakan tulangan transversal 3D13-100

Dilakukan perhitungan untuk semua tipe balok menggunakan


metode yang sama sehingga rekapitulasi penulangan balok adalah
sebagai berikut :

Gambar 4. 67 Hasil desain penulangan balok B1

Gambar 4. 68 Hasil desain penulangan balok B2


139

Gambar 4. 69 Hasil desain penulangan balok BP

4.4.3. Desain Penulangan Pelat Lantai

Elemen struktur pelat lantai yang digunakan pada gedung ini hanya
menggunakan 1 tipe pelat lantai dengan mutu K-350 (fc’29,05) dan
ketebalan 140mm. Desain penulangan pelat lantai menggunakan metode
koefisien momen berdasarkan PBI 1971 dan SNI 2847-2013 dengan
bantuan program microsoft excel untuk memudahkan perhitungan. Berikut
adalah perhitungan desain penulangan pelat lantai :

Kuat tekan beton, fc' = 29.05 MPa


Tegangan leleh baja untuk tulangan lentur, fy = 400 MPa

Panjang bentang terpendek Lx = 3.00 m


Panjang bentang terpanjang Ly = 6.00 m
Tebal plat lantai, h= 140 mm
Koefisien momen plat untuk : Ly / Lx = 2.00 KOEFISIEN MOMEN PLAT

Berdasarkan PBI 1971 tabel 2, didapatkan momen pelat untuk kondisi


terjepit penuh sebagai berikut :
140

Lapangan x Clx = 41
Lapangan y Cly = 12
Tumpuan x Ctx = 83
Tumpuan y Cty = 57

Diameter tulangan yang digunakan,  10 mm


Tebal bersih selimut beton, ts = 20 mm
Berat
No Jenis Beban Mati Tebal (m) Q (kN/m2)
satuan
3
1 Berat sendiri plat lantai (kN/m ) 24.0 0.14 3.360
3
2 Berat finishing lantai (kN/m ) 20.0 0.05 1.000
2
3 Berat plafon dan rangka (kN/m ) 1.0 - 1.000
2
4 Berat instalasi ME (kN/m ) 1.7 - 1.700
Total beban mati, QD = 7.060
2
Beban hidup pada lantai bangunan = 479 kg/m
2
QL = 4.79 kN/m

2
Beban rencana terfaktor, Qu = 1.2 * QD + 1.6 * QL = 16.136 kN/m

2
Momen lapangan arah x, Mulx = Clx * 0.001 * Qu * Lx = 5.954 kNm
2
Momen lapangan arah y, Muly = Cly * 0.001 * Qu * Lx = 1.743 kNm
2
Momen tumpuan arah x, Mutx = Ctx * 0.001 * Qu * Lx = 12.054 kNm
2
Momen tumpuan arah y, Muty = Cty * 0.001 * Qu * Lx = 8.278 kNm
Momen rencana (maksimum) plat, Mu1 = 12.054 kNm

Momen rencana (maksimum) plat, (Berdasarkan analisa Mu2 = 7.740 kNm


program Etabs)

Gambar 4. 70 Momen maksimum pelat berdasarkan analisa program ETABS


141

Momen rencana (maksimum) plat yang digunakan, Mu = 12.054 kNm

Untuk : fc' ≤ 30 MPa,   0.85


Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,   0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
b =  1* 0.85 * fc'/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0315
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * b * fy * [ 1 – ½* 0.75 * b * fy / ( 0.85 * fc') ] = 7.6385
Faktor reduksi kekuatan lentur,  = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  / 2 = 25.0 mm
Tebal efektif plat lantai, d = h - ds = 115.0 mm
Ditinjau plat lantai selebar 1 m, b= 1000 mm
Momen nominal rencana, Mn = Mu /  = 15.067 kNm
-6 2
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) = 1.13928
Rn < Rmax  (OK)

TULANGAN LAPANGAN ARAH X


Mulx = 5.954 kNm
K = Mu / *b*d =
2
0.5628 Mpa
0.5
a = 1-( [1-(2 * k/0.85 * fc') * d] )= 2.290 mm
- Tulangan Pokok
2
As = 0.85 * fc' * a * b / fy = 141.337 mm
2
fc' < 31,36 Mpa, Jadi As, u ≥ 1,4 / fy * b * d = 402.5 mm
2
Dipilih yang besar = 402.5 mm
Jarak Tulangan, S = 1/4 *  * b / As u =
2
195.209 mm
Digunakan tulangan,  10 - 150
2 *h = 280.0
S≤2*h  (OKE)

Luas tulangan uang digunakan = 1/4 *  * b / S =


2
523.8095
523.81 > 402.5 (OKE)

TULANGAN TUMPUAN ARAH X


Mutx = 12.054 kNm
2
K = Mu / *b*d = 1.1393 Mpa
0.5
a = 1-( [1-(2 * k/0.85 * fc') * ds] )= 3.258 mm
142

- Tulangan Pokok
2
As = 0.85 * fc' * a * b / fy = 201.095 mm
2
fc' < 31,36 Mpa, Jadi As, u ≥ 1,4 / fy * b * d = 402.5 mm
2
Dipilih yang besar = 402.5 mm
Jarak Tulangan, S = 1/4 *  * b / As u =
2
195.209 mm
Digunakan tulangan,  10 - 150
2 *h = 280
S≤2*h  (OKE)

Luas tulangan uang digunakan = 1/4 *  * b / S =


2
523.8095
523.81 > 403 (OKE)

- Tulangan Pembagi
2
Asb = 20% * As,u = 39.042 mm
2
Asb = 0,002 * b * h = 280 mm
2
Dipilih yang besar = 280 mm
Digunakan tulangan= 8 mm
Jarak Tulangan, S = 1/4 *  * b / As b =
2
179.592 mm
S ≤ 5.h 700 mm
Dipilih yang kecil = 179.592 mm
Jarak Tulangan yang digunakan = 150 mm

Luas tulangan uang digunakan = 1/4 *  * b / S =


2
335.2381
335.24 > 280 (OKE)

TULANGAN LAPANGAN ARAH Y


Muly = 1.743 kNm
2
K = Mu / *b*d = 0.1647 Mpa
0.5
a = 1-( [1-(2 * k/0.85 * fc') * ds] )= 1.239 mm
- Tulangan Pokok
2
As = 0.85 * fc' * a * b / fy = 76.463 mm
2
fc' < 31,36 Mpa, Jadi As, u ≥ 1,4 / fy * b * d = 402.5 mm
2
Dipilih yang besar = 402.5 mm
Jarak Tulangan, S = 1/4 *  * b / As u =
2
195.209 mm
Digunakan tulangan,  10 - 150
2 *h = 280.0
S≤2*h  (OKE)

Luas tulangan uang digunakan = 1/4 *  * b / S =


2
523.8095
523.810 > 402.5 (OKE)
143

TULANGAN TUMPUAN ARAH Y


Muty = 8.278 kNm
2
K = Mu / f*b*d = 0.7824 Mpa
0.5
a = 1-( [1-(2 * k/0.85 * fc') * ds] )= 2.700 mm
- Tulangan Pokok
2
As = 0.85 * fc' * a * b / fy = 166.648 mm
2
fc' < 31,36 Mpa, Jadi As, u ≥ 1,4 / fy * b * d = 402.5 mm
2
Dipilih yang besar = 402.5 mm
2
Jarak Tulangan, S = 1/4 * p * f * b / As u = 195.209 mm
Digunakan tulangan,  10 - 150
2 *h = 280
S≤2*h  (OKE)

Luas tulangan yang digunakan = 1/4 *  * b / S =


2
523.8095
523.810 > 403 (OKE)

- Tulangan Pembagi
2
Asb = 20% * As,u = 39.042 mm
2
Asb = 0,002 * b * h = 280 mm
2
Dipilih yang besar = 280 mm
Digunakan tulangan= 8 mm
Jarak Tulangan, S = 1/4 *  * b / As b =
2
179.592 mm
S ≤ 5.h 700 mm
Dipilih yang kecil = 179.592 mm
Jarak Tulangan yang digunakan = 150 mm

Luas tulangan uang digunakan = 1/4 *  * b / S =


2
335.2381
335.24 > 280 (OKE)
144

Berikut adalah tabel hasil desain penulangan pelat lantai:

REKAPITULASI HASIL DESAIN PENULANGAN PELAT LANTAI


ARAH X
TULANGAN POKOK
 10 - 150
TUMPUAN

TULANGAN POKOK
 10 - 150
LAPANGAN

TULANGAN BAGI  8 - 150

ARAH Y
TULANGAN POKOK
 10 - 150
TUMPUAN

TULANGAN POKOK
 10 - 150
LAPANGAN

TULANGAN BAGI  8 - 150

Tabel 4. 68 Hasil desain penulangan pelat lantai

Gambar 4. 71 Denah penulangan pelat lantai


145

Gambar 4. 72 Detail penulangan pelat lantai

4.4.4. Desain Penulangan Dinding Geser / Shearwall

Pada perhitungan penulangan dinding geser juga mengambil output


dari program ETABS. Hanya saja pada saat permodelan tulangan dapat
langsung digunakan pada program ETABS kemudian dilakukan
pengecekan oleh program ETABS. Berikut adalah denah perletakan
dinding geser pada program ETABS :

Gambar 4. 73 Denah perletakan shearwall


146

Data gaya
g yang diambil
d beru
upa data gaaya geser teerfaktor, momen
terrfaktor dan
n gaya aksial. Perhittungan jug
ga mengguunakan pro
ogram
miicrosoft exccel untuk mempermuda
m ah proses perhitungan
p n. Berikut adalah
a
perrhitungan penulangan
p longitudin
nal dindingg geser / sshearwall secara
s
maanual pada shearwall
s tiipe SW1:

1. Menentukan keebutuhan baja tu


ulangan vertikal dan horizontal minimum
Vu = 1
10803.66 kNN
Mu = 19
90578.991 kN Nm
Pu = 75911.8 kNN
fc' = 41.5 Mp pa
fy = 400 Mp pa
Lebbar Dinding gesser (t) = 500 mmm
Tinggi gedunng (h) = 70000 mmm
Panjang Totaal Dinding geserr (lw) = 22000 mmm
λ = 1 untuk beeton normal Acv = lw
l xt
0,5
0.17 Acv λ fc' = 0.17 x 11000000
0 x 1 x 6.442049
0.17 Acv λ fc'0,5 = 12046632.31
1 N
0.17 Acv λ fc'0,5 = 12046.63231 kN
sehingga
Vu = 10803.66 kN < 12046.63231 kN
N sehingga tidak perlu dua lapis tulangan

Menghitung keb
M butuhan baja tulangan
t longiitudinal dan trransversal
ρl min = 0.0015
ρt min = 0.0025
s min
m = 450 m
mm
keecuali jika
Vuu ≤ 0.083 λ Acv f
fc' 0.5

10803.66 ≤ 0.083 1 110000000 6.442049


10803.66 ≤ 5881.591069 kN
maaka perlu
u direduksi seesuai pasal 144.3 d digunakann nilai ρ
dan = 0.00255

Gambar 4.. 74 Rasio minimum luas tulangan veertikal terhaddap luas brutto
berdasarkan SNI
147

Luas penampang longitudinal dan transversal dinding geser per meter panjang
A = t/1000 = 0.50 m2
Amin = A x ρ x 1000000 = 1250 mm 2 atau
bila digunakan 2 D 25 maka
As D22 = 491.071 mm 2
As 2 D22 = 982.143 mm 2
n min = A min/As 2 D22 = 1.272727 maka dipakai 2 pasang
s min = 1000/n min 500 mm TIDAK OKE maka digunakan
s = 200 mm maka OKE
jadi digunakan 2D 25 - 200 mm

2. Menentukan baja tulangan yang diperlukan untuk menahan geser


Berdasarkan SNI beton pasal 21.9.4.1 kuat geser nominal dinding struktural dapat
dihitung dengan persamaan berikut (SNI beton pers. 21-7):
Vn ≤ Acv ( αc fc' 0.5 + ρn fy )
αc = 0.25 untuk hw ≤ 1.5
Iw
atau 0.166667 untuk hw ≥ 2
Iw
jika nilai hw berada diantara 1,5 - 2 maka variatif secara linear
Iw
hw = 70000 = 3.18
Iw 22000
maka αc = 0.1667
dengan 2D 25 - 200 mm
ρmin = 0.0015
ρpt = As 2 D22 / ( s x t ) = 0.00982 maka OKE

Kuat geser nominal


Vn = Acv ( αc λ fc' 0.5 + ρpt fy )
Vn = 11000000 ( 0.1667 1 6.442049 + 0.00982 400 )
Vn = 55027071.63 N
Vn = 55027.072 kN

Kuat geser perlu


ɸ Vn = 0.75 55027.072
ɸ Vn = 41270.30372 kN
Vu = 10803.66 kN maka OKE
Batas geser nominal
Vn maks = 0.83 Acv fc' 0.5
Vn maks = 0.83 11000000 6.442049
Vn maks = 58815910.69 N
Vn maks = 58815.911 kN maka OKE
maka digunakan
tulangan pokok 2 D 25 - 200 mm
148

Selain perhitungan manual, dilakukan juga analisa tulangan


longitudinal dinding geser berdasarkan input tulangan pada program
ETABS. Berikut adalah input penulangan dinding geser/shearwall tipe
SW1 pada program ETABS:

Gambar 4. 75 Input penulangan shearwall tipe SW1 pada program ETABS

Berikut adalah hasil pengecekan rasio tulangan longitudinal pada


program ETABS :

Gambar 4. 76 Hasil pengecekan penulangan longitudinal pada program ETABS


149

Berdasarkan pengecekan rasio tulangan longitudinal shearwall tipe


SW1 dengan menggunakan tulangan D25-200 dan selimut beton 30mm
menunjukan bahwa rasio tulangan longitudinal yang didapatkan sudah
sesuai. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa shearwall tipe SW 1
dapat menggunakan penulangan D25-200.

Penulangan transversal pada shearwall tipe SW1juga diambil dari


hasil pengecekan kebutuhan tulangan transversal pada program ETABS.
Berikut adalah hasil pengecekan kebutuhan tulangan transversal pada
shearwall tipe SW1 berdasarkan program ETABS.

Gambar 4. 77 Hasil pengecekan kebutuhan tulangan transveral berdasarkan


program ETABS

Berdasarkan pengecekan kebutuhan tulangan transversal pada


program ETABS didapat kebutuhan tulangan transversal sebesar 1,660
inch2/ft. Berikut adalah pehitungan tulangan transversal pada shearwall
tipe SW1 :
150

1,660

1,660 25,4 25,4



0,305

3511,363

1000
1 10
100
22 100
1 1
22 3,14 22 379,9
4 4
379,94 10 3799,4
3511,363 3799,4

Jadi digunakan tulangan tulangan transversal D22-100.

Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa penulangan


yang digunakan pada shearwall tipe SW1 menggunakan tulangan D25-200
unuk tulangan longitudinal atau tulangan pokok dan D22-100 untuk
tulangan transversal atau tulangan sengkang.

Dilakukan perhitungan untuk semua tipe dinding geser dengan


metode yang sama. Berikut hasil penulangan dinding geser / shearwall
setelah dituangkan dalam gambar :
151

Gambar 4. 78 Detail penulangan shearwall tipe SW1

Gambar 4. 79 Detail penulangan shearwall tipe SW2


152

Gambar 4. 80 Detail penulangan shearwall tipe SW3


BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Dari proses analisa yang dilakukan pada perencanaan struktur gedung


tahan gempa untuk perkantoran 20 lantai dengan sistem sruktur ganda, dapat
diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut

a. Didapatkan hasil pengecekan perilaku struktur gedung 20 lantai ini,


diambil model 3 dengan perilaku struktur sebagai berikut:
1. diperoleh hasil rasio partisipasi modal massa sebagai berikut:
Mode 1 = 55,34% Translation X
Mode 2 = 64,55% Translation Y
Mode 3 = 53,07% Rotation
2. Analisis gempa dari struktur atas
i. Beban gempa arah X
Arah X
Tx = 1,633 detik
V dinamik = 5092,47 Ton
Arah Y
Ty = 1,378 detik
V dinamik = 7663,56 ton
3. Simpangan antar lantai telah memenuhi syarat. adapun
simpangan antar lantai maksimum yang terjadi adalah:
Drift X= 23,393mm < 0,02h= 70mm
Drift Y= 16,125mm < 0,02h= 70mm
4. Pengecekan ketidakberaturan torsi menyimpulkan bahwa masih
terdapat ketidakberaturan torsi 1a dan 1b pada struktur. Namun
berdasarkan pengecekan pada SNI 1726-2012 tabel 13, struktur
masih diizinkan mengalami ketidakberaturan torsi.

153
154

5. Pengecekan P-delta dari struktur menyimpulkan bahwa struktur


tidak dipengaruhi oleh efek P-delta
Berdasarkan perilaku struktur pada model 3, dapat disimpulkan
bahwa struktur telah memenuhi persyaratan untuk dapat dikatakan
tahan gempa.
b. Didapat desain elemen struktur sebagai berikut :

Gambar 5. 1 Hasil desain penulangan kolom K1

Gambar 5. 2 Hasil desain penulangan kolom K2


155

Gambar 5. 3 Hasil desain penulangan kolom K3

Gambar 5. 4 Hasil desain penulangan kolom K4


156

Gambar 5. 5 Hasil desain penulangan balok B1

Gambar 5. 6 Hasil desain penulangan balok B2


157

Gambar 5. 7 Hasil desain penulangan balok BP

Gambar 5. 8 Denah penulangan pelat lantai


158

Gambar 5. 9 Detail penulangan pelat lantai

Gambar 5. 10 Detail penulangan shearwall tipe SW1


159

Gambar 5. 11 Detail penulangan shearwall tipe SW2

Gambar 5. 12 Detail penulangan shearwall tipe SW3


160

5.2. Saran-saran

a. Karena struktur masih mengalami ketidakberaturan torsi 1a dan 1b,


Perlu dilakukan analisa lebih lanjut mengenai dampak
ketidakberaturan torsi.
b. Dalam penelitian ini, beban lateral yang ditinjau hanyalah beban
gempa. Sebaiknya perlu ditinjau pada beban lainnya seperti beban
angin.
c. Semua perhitungan desain tulangan harus dilakukan analisa lebih
lanjut mengenai persyaratan penulangan pada struktur dengan sistem
ganda.
DAFTAR PUSTAKA

Budiono, Bambang, dkk. 2017. Contoh Desain Bangunan Tahan Gempa


Dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus Dan Sistem Dinding Struktur
Khusus di Jakarta. Bandung: ITB.

Budiono, Bambang, Lucky Supriatna. 2011. Studi Komparasi Desain Bangunan


Tahan Gempa Dengan Menggunakan SNI 03-1726-2002 dan RSNI 03-1726
201x. Bandung: ITB.

Imran, Iswandi, Ediansjah Zulkifli. 2014. Perencanaan Dasar Struktur Beton


Bertulang. Bandung: ITB.

Imran, Iswandi, Fajar Hendrik. 2014. Perencanaan Lanjut Struktur Beton


Bertulang. Bandung: ITB.

Adhitiyo Eka Mahaendra, Prasetya Dita Perdana, Himawan Indarto, Bambang


Pardoyo. 2015. Perencanaan Struktur Gedung Hotel Persona Jakarta. Jurnal
Karya Teknik Sipil. 4(4).

Fauzil alim, Bayzoni, Hasti Riakara Husni. 2015. Perencanaan Struktur


Apartemen 20 Lantai Bandar Lampung. 3(2).

Linda Permatasari, Rahadhiyan Putra W, Parang Sabdono, Hardi Wibowo. 2014.


Perencanaan Struktur Gedung Menara Bri Semarang. Jurnal Karya Teknik
Sipil. 3(1).
SNI 1727:2013. Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan
Struktur Lain. 2013.

SNI 03-2847-2013. Tata cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan


Gedung. 2013

SNI 1726:2012. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur


Bangunan Gedung dan Non Gedung. 2012.

SNI 03-2847:2002. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan


Gedung. 2002.

Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI), 1971.

Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung (PPIUG 1983), 1983.

Muhammad Madani. 2018. Perencanaan Struktur High-Rise Building Untuk


Hotel Atau Hunian Sejenis. Tangerang: UMT.

Rusdi Ansyori. 2017. Disain Elemen Struktur Bangunan Bertingkat Dengan


Sistem Ganda; Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) Dan Sistem
Dinding Struktur Khusus (SDSK). Padang: UNANDALAS.
LAMPIRAN-LAMPIRAN