Anda di halaman 1dari 25

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Pustaka
1. Pengertian Strategi
Istilah strategi berasal dari kata benda dan kata kerja yunani.
Sebagai kata benda, strategos merupakan gabungan kata stratos dan ago.
Sebagai kata kerja stragos berarti merencanakan. Berdasarkan pengertian
ini strategi adalah suatu seni merancang operasi di dalam peperangan
seperti cara-cara mengatur posisi atau siasat berperang, angkatan darat dan
laut.1
Istilah strategi pada awalnya digunakan dalam dunia militer yang
diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk
memenangkan suatu peperangan. Sekarang istilah strategi banyak
digunakan dalam berbagai bidang kegiatan yang bertujuan memperoleh
kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Pada dunia
pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang
rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu.2
Dalam kamus besar bahasa indonesia disebutkan bahwa strategi
berarti rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran
khusus. Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis
besar halauan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah
ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan
sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan
kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.3
Setiap akan mengajar, seorang guru perlu membuat persiapan
mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan
rencana tahunan. Dalam persiapan itu sudah terkandung tentang tujuan
1
Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, Rosdakarya, Bandung, 2013, hlm. 3
2
Hamruni, Strategi Pembelajaran, Insan Madani, Yogyakarta, 2012, hlm. 2
3
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswin Zain, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, , hlm.
52

1
mengajar pokok yang diajarkan, metode mengajar, bahan pelajaran, alat
peraga dan teknik evaluasi yang akan digunakan. 4 Strategi mengajar
adalah taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar
mengajar agar dapat mempengaruhi siswa mencapai tujuan pengajaran
secara lebih efektif dan efisien.
Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai aplan, method,
or series of activities designed to achieves a particular educational goal.
Maka strategi dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang
serangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu.5
Jadi, intinya strategi adalah langkah-langkah terencana yang
bermakna luas dan mendalam yang dihasilkan dari sebuah proses
pemikiran dan perenungan yang mendalam berdasarkan pada teori dan
pengalaman tertentu.

2. Manajemen kelas
a. Pengertian Manajemen Kelas
Pada setiap proses pembelajaran dikelas, guru dan siswa
terlibat dalam proses edukasi yang khas. Proses disini yang dimaksud
adalah meliputi interaksi didalam kelas sesuai peraturan yang telah
disepakati. Interaksi guru dan siswa merupakan inti proses
pembelajaran dengan isi kurikulum sebagai fokus transformasi selama
proses edukasi berlangsung.6
Keterampilan pengelolaan kelas penting untuk dikuasai guru.
Pengelolaan terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas.
Pengelolaan sendiri akar katanya adalah “kelola”. Ditambah awalan
“pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari kata pengelolaan adalah
“manajemen”, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan,
4
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, PT Bmi Aksara, 2003, hlm. 116
5
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, PT Rhineka Cipta, 2010,
hlm. 5
6
Sudarwan Danim, Yunan Danim, Administrasi Sekolah dan Manajemen Kelas, Pustaka Setia,
Bandung, 2010, hlm. 85

2
pengelolaan. Pengertian secara umum adalah pengadministrasian,
pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Sedangkan kelas adalah suatu
kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama, yang
mendapat pengajaran dari guru.7
Menurut Hadari Nawawi pengelolaan kelas adalah kemampuan
guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa
pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk
melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu
dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk
melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum
dan perkembangan murid. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto
bahwa pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau membantu dengan
maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana
kegiatan belajar seperti yang diharapkan.8
Dari definisi manajemen dan kelas, manajemen kelas dapat
didefinisikan sebagai proses perecanaan, pelaksanaan dan pengawasan
yang dilakukan baik oleh guru baik individu maupun melalui orang
lain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien,
dengan cara memanfaatkan segala sumber daya yang ada. Pengelolaan
kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan dan
mempertahankan serta mengembangtumbuhkan motivasi belajar siswa
untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
Jadi, kesimpulan yang dapat penulis tangkap bahwa
manajemen kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan
memelihara kondisi belajar siswa yang optimal dan
mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu
suasana pembelajaran dengan memanfaatkan apa yang ada didalam

7
Op. Cit., Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, hlm. 196
8
Ibid, hlm. 199

3
kelas meliputi pengelolaan siswa dan fisik untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang efektif dan efisien.
b. Tujuan Manajemen Kelas
Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan
fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam
lingkungan secara emosional dan intelektual dalam kelas. Menurut
Suharsimi Arikunto tujuan pengelolaan adalah agar setiap anak didik
dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan
pengajaran secara efektif dan efisien.9
Menurut Direktorat Jenderal Dikdasmen yang menjadi tujuan
manajemen kelas adalah: (1) Mewujudkan situasi dan kondisi kelas,
baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar
yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan
semaksimal mungkin dengan bantuan guru (2) Menghilangkan
berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi
pembelajaran (3) Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot
belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai
dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa dalam kelas
(4) Membina dan membimbing siswa susuai dengan latar belakang
serta sifat-sifat individualnya.10
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen kelas
Berhasilnya manajemen kelas dalam memberikan dukungan
terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai, banyak
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut melekat pada
kondisi fisik kelas dan pendukungnya, juga dipengaruhi oleh faktor
non fisik (sosio emosional) yang melekat pada guru. Untuk
mewujudkan pengelolaan kelas yang baik, ada beberapa faktor yang
mempengaruhinya antara lain sebagai berikut: (1) Kondisi Fisik,
lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting
9
Novan Ardy Wiyani, Manajemen Kelas: Teori dan Aplikasi untuk Menciptakan Kelas yang
Kondusif, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2013, hlm. 64
10
Muhammad Ali Rohmad, Pengelolaam kelas, KAUKABA, Yogyakarta, 2015, hlm. 13

4
terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan
dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya intensitas
proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap
pencapaian tujuan pengajaran. Adapun kondisi fisik disini meliputi :
ruangan tempat berlangsung proses belajar mengajar, pengaturan
tempat duduk, ventilasi dan pengaturan cahaya, pengaturan
penyimpanan barang-barang. (2) Kondisi Sosio-Emosional, kondisi
ini mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar
mengajar, kegairahan peserta didik merupakan efektifitas tercapainya
tujuan pengajaran. Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi
kepemimpinan guru, sikap guru, suara guru dan pembinaan hubungan
baik. (3) Kondisi Organisasional, kegiatan rutin yang secara
organisasional yang dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat
sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Dengan
kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan telah
dikomunikasikan kepada semua siswa secara terbuka sehingga jelas
pula bagi mereka, akan menyebabkan tertanamnya pada diri setiap
siswa kebiasaan yang baik. Kegiatan ini berupa pembinaan hubungan
baik. Ketiga kondisi diatas sangat berpengaruh besar dalam
menunjang kesuksesan kegiatan pembelajaran didalam kelas.
d. Ruang lingkup manajemen kelas
Ruang lingkup manajemen kelas dapat diklasifikasikan menjadi
dua yaitu pengelolaan kelas yang memfokuskan pada hal-hal yang
bersifat fisik dan pegelolaan kelas yang memfokuskan pada hal-hal
yang bersifat non fisik (siswa). Kedua hal tersebut perlu dikelola
secara baik dalam rangka menghasilkan suasana yang kondusif bagi
terciptanya pembelajaran yang baik pula.11 Secara garis besar sasaran
dalam pengelolaan kelas dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

Ali Ilmron, (ed.), Manajemen Pendidikan : Analisis Substantif dan Aplikasinya dalam Institusi
11

Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Malang, 2003, hlm. 45

5
(1) Pengelolaan fisik berkaitan dengan ketatalaksanaan atau
pengaturan kelas yang merupakan ruangan yang dibatasi oleh dinding
tempat siswa berkumpul bersama mempelajari segala yang
disampaikan pengajar dengan harapan proses belajra mengajar dapat
berlangsung secara efektif dan efisien. Pengelolaan kelas yang bersifat
fisik ini meliputi pengadaan dan pengaturan ventilasi, tempat duduk
siswa, alat-alat eraga pembelajaran dan lain-lain. (2) Pengelolaan
siswa berkaitan dengan pemberian stimulus dalam rangka
membangkitkan dan mempertahankan kondisi motivasi siswa untuk
secara sadar berperan aktif dan terlibat dalam proses pendidikan dan
pembelajaran disekolah. Manifestasinya dapat berbentuk tingkah laku,
suasana yang diatur atau diciptakan guru dengan menstimulasi siswa
agar ikut serta berperan aktif dalam proses pendidikan dan
pembelajaran secara penuh.12
Dari pemaparan ruang lingkup manajemen kelas diatas penulis
menyimpulkan bahwa pengelolaan siswa dan kelas keduanya
mempuyai tujuan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang baik
dan kondusif serta mengoptimalkan pembelajaran didalam kelas
secara efektif dan efisien dengan syarat kedua aspek itu dikelola
dengan baik.
e. Prinsip-prinsip manajemen kelas
Pada suatu pembelajaran dikenal adanya dua masalah, yaitu
masalah pengajaran dan pengelolaan kelas. Kegiatan pengelolaan kelas
menunjuk pada kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk menciptakan
dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses
belajar. Masalah pengelolaan kelas yang menunjuk pada aspek fisik
biasanya cenderung tidak menjadi sesuatu yang berkepanjangan, tetapi
pada aspek nonfisik seringkali menjadi masalah yang sangat serius.
Hal ini yang seharusnya dipahami guru.13

12
Ali Rohmad, Kapita Selekta Pendidikan, Teras, Yogyakarta, 2004, hlm. 72
13
Ali Imron (ed), Op. Cit., hlm. 46

6
Sebagai pekerja profesional, seorang guru harus mendalami
kerangka acuan pendekatan-pendekatan kelas, sebab dia dalam
penggunaannya guru harus terlebih dahulu menyakinkan bahwa
pendekatan yang dipilihnya untuk menangani kasus pengelolaan kelas
merupakan alternative yang terbaik sesuai dengan hakekat masalahnya.
Artinya seorang guru terlabih dahulu harus menetapkan bahwa
penggunaan suatu pendekatan memang cocok dengan hakikat masalah
yang ingin ditanggulangi, ini tentu tidak dimaksudkan untuk
mengatakan bahwa seorang guru akan berhasil baik setiap kali
menangani kasus pengelolaan kelas.14
Dalam rangka memerkecil masalah gangguan dalam kelas,
prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dapat diterapkan adalah sebagai
berikut : (1) Hangat dan Antusias, guru selalu menunjukkan antusias
pada setiap tugas dan aktivitasnya sehingga berhasil dalam
mengimplementasikan pengelolaan kelas. (2) Tantangan, penggunaan
kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan
meningkatkan gairah anak didik untuk belajar. (3) Bervariasi,
penggunaan alat, media atau alat bantu, gaya mengajar guru, pola
interaksi antara guru dan siswa yang bervariasi akan menghindarkan
pola kejenuhan. (4) Keluwesan, keluwesan tingkah laku guru untuk
mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan
munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajar yang
positif . (5) Penekanan pada hal-hal yang positif yakni penekanan yang
dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif dari pada
mengomeli tingakah laku yang negatif. (6) Penanaman disiplin diri,
bertujuan agar anak didik dapat mengembangkan disiplin dirinya
sendiri. Guru hendaknya menjadi teladan pengendalian diri dan
pelaksanaan tanggung jawab.

14
Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2004, hlm. 148

7
f. Fungsi Manajemen Kelas
Fungsi manajemen kelas sebenarnya merupakan penerapan
fungsi-fungsi manajemen yang diaplikasikan didalam kelas oleh guru
untuk mendukung tujuan pembelajaran yang hendak dicapainya.
Dalam pelaksanaannya fungsi manajemen tersebut harus disesuaikan
dengan filosofi dari pendidikan (belajar mengajar) didalam kelas.
Fungsi manajerial yang harus dilakukan oleh guru meliputi :
(1) Merencanakan, membuat suatu target-target yang akan dicapai
melalui berbagai cara. (2) Mengorganisasikan, proses mengatur,
mengalokasikan dan mendistribusikan tugas, wewenang dan sumber
daya diantara anggota untuk mencapai tujuan. (3) Memimpin, proses
mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan
pekerjaan dari anggota kelompok atau seluruh organisasi.
(4) Mengandalikan, proses untuk memastikan aktivitas sebenarnya
agar supaya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan. Proses
mengendalikan dapat melibatkan beberapa elemen meliputi:
menetapkan standar kinerja, mengukur kinerja, membandingkan untuk
kerja dengan standar yang telah ditetapkan, mengambil tindakan
korelatif saat terdeteksi penyimpangan.15

3. Intervensi Minor
a. Pengertian Intervensi Minor
Intervensi adalah strategi atau prosedur yang ketika
diimplementasikan mengurangi kecenderungan terjadinya perilaku
yang tidak tepat atau menantang dimasa depan. Sedangkan Minor
memiliki arti kecil. Di dalam dunia pendidikan Intervensi Minor
merupakan salah satu bentuk penanggulangan masalah-masalah
mengenai perilaku peserta didik yang dialami oleh guru didalam kelas.

15
Tim Dosen UPI, Manajemen Pendidikan, Alfabeta, Bandung, 2008, hlm. 115

8
b. Bentuk-bentuk Strategi Manajemen Kelas Intervensi Minor
Dibawah ini merupakan bentuk-bentuk strategi dalam
Intervensi Minor diantaranya adalah: (1) Penggunaan isyarat Non-
verbal, strategi ini guru melakukan kontak mata dengan siswa dan
memberikan tanda seperti arti bibir, gelengan kepala atau isyarat
tangan untuk mengisyaratkan pemberhentian. Terkadang menyentuh
dengan lembut dilengan atau bahu dari siwa tersebut membantu
mengisyaratkan keberadaan guru dan memiliki efek menenangkan. (2)
Teruskan kegiatan yang sedang berlangsung, disini seringkali perilaku
siswa sangat mengganggu selama masa transisi diantara kegiatan
selama waktu kosong atau tidak ada fokus yang dikhususkan pada
pengawasan waktu kosong tersebut. Terkadng transisi antar aktivitas
berlangsung terlalu lama atau terjadi kemandeka aktivitas saat murid
tidak melakukan apa-apa. Dalam situasi ini murid mungkin
meninggalkan empat duduknya, mengobrol, bercanda dan mulai ribut.
Strategi yang baik bukan adalah bukan mengoreksi tindakan murid
dalam situasi seperti ini, tetapi lebih baik mulailah akivitas baru
dengan segera. Dengan membuat rencana harian yang efektif anda
akan bisa menghilangkan transisi dan gap pajang dalam aktivitas ini. 16
Pada intinya isi interval dalam pembelajaran dengan mempercepat
transisi dengan mengarahkan perilaku yang pantas. (3) Gunakan
kedekatan, disini menggabungkan kedekatan dengan isyarat non
verbal untuk menghentikan perilaku yang tidak pantas tanpa
menganggu pembelajaran. Saat murid mulai bertindak menyimpang ,
guru cukup mendekatinya, maka mereka biasanya akan diam. (4)
Gunakan kelompok fokus, dalam hal ini peringatan, pertanggung
jawaban grup, atau format partisipasi yang lebih untuk
mengembalikan perhatian siswa ketika pembelajaran sudah mulai
tidak fokus. (5) Arahkan kembali perilaku, srategi ini dilakukan ketika

16
John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, KENCANA, Jakarta, 2007, hlm. 583

9
siswa sudah tidak mengerjakan tugas, dalam hal ini guru
mengingatkan tentang perilaku yang tidak pantas, bukan
memberitahukan bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan. (6)
Memberikan instruksi yang dibutuhkan, pada strategi ini guru
memberikan pemahaman dalam hal tugas, biarkan siswa mengerjakan
tugas secara individual, dalam hal ini guru harus jeli mengenai
kemampuan siswa mengenai tugas yang diberikan. Jika siswa kurang
memahami instruksi maka guru harus berhenti dan memberikan
instruksi yang jelas. (7) Berlakukan penghentian sejenak, selanjutnya
dalam strategi ini guru memberikan peringatan untuk menghentikan
perilaku yang tidak diharapkan oleh siswa, melakukan kontak mata
secara langsung dan bersifat asertif. (8) Berikan sebuah pilihan kepada
siswa, strategi ini lebih menekankan pada intimidasi untuk
menghentikan perilaku bermasalah, namun masih konteks didalam
kelas, guru hanya memberikan tawaran kepada siswa untuk
berperilaku semestinya atau meneruskan perilaku bermasalah dan
menerima sebuah hukuman.17
Jadi strategi manajemen kelas dengan intervensi minor merupakan
bentuk pengelolaan kelas yang mana bertujuan mengoptimalkan proses
pembelajaran melalui penanggulangan perilaku bermasalah sebelum
menjadi lebih parah dan bersifat konfrontasi. Strategi ini dapat dimaknai
sebagai strategi mengelola kelas yang mana tidak merenggut hak siswa
sebagai seorang pelajar yang berkewajiban mendapat ilmu walaupun
melakukan penyimpangan didalam kelas.

4. Pembelajaran Fiqih
a. Pengertian Pembelajaran Fiqih
Secara sederhana, istilah pembelajaran (Instruction) bermakna
sebagai upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang

Carolyn M. Evertson dan Edmund T. Emmer, Manajemen Kelas Untuk Guru Sekolah Dasar,
17

KENCANA, Jakarta, 2011, hlm. 233-235

10
melalui berbagai strategi, metode dan pendekatan ke arah pencapaian
yang telah direncanakan.18 Jadi, pembelajaran ialah proses atau cara
untuk menjadikan manusia atau makhluk hidup belajar, dengan
terjadinya interaksi antara pendidik dengan peserta didik dan sumber
belajar dalam suatu lingkungan belajar bertujuan untuk mencapai suatu
pencapaian yang telah direncanakan.
Pada dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana
yang mengkondisikan/merangsang seseorang agar bisa belajar dengan
baik agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu kegiatan
pembelajaran akan bermuara dua kegiatan pokok. Pertama, bagaimana
orang melakukan tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan
belajar. Kedua, bagaimana orang melakukan tindakan penyampaian
ilmu pengetahuan melalui kegiatan mengajar. Dengan demikian makna
pembelajaran merupakan kondisi eksternal kegiatan belajar yang
dilakukan oleh guru dalam mengkondisikan seseorang untuk belajar.19
Dalam perkembangannya, manusia selalu penuh dengan
kegiatan yang dilakukan, kegiatan atau kejadian dalam hidup tersebut
menimbulkan pengalaman hidup dari pengalaman itu manusia
menempuh prose yang kita kenal dengan belajr. Dalam dunia
pendidikan, pembelajaran atau ungkapan yang lebih dikenal
sebelumnya “pengajaran” adalah upaya untuk membelajarkan siswa.
Pembelajaran atau pengajaran menurut Degeng adalah upaya
untuk membelajarkan siswa. Pemilihan, penetapan dan pengembangan
metode ini didasarkan pada penetapan kondisi pengajaran yang ada.
Kegiatan ini merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Senada
dengan Uno Hamzah yang menganggap pembelajaran sebagai hakekat
perencanaan atau perancangan (desain) sebagai upaya untuk
membelajarkan siswa. Dalam pembelajaran dipusatkan perhatian pada

18
Abdul Majid, Strategi pembelajaran, Remaj Rosdakarya, Bandung, 2013, hlm. 4
19
Ibid, hlm. 5

11
“bagaimana membelajarkan siswa” dan bukan pada “apa yang dipelajari
siswa”.20
Belajar dan pemebelajaran merupakan konsep yang ssaling
berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat
interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan
upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika
berinteraksi dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat
dilihat atau diamanati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sika secara
mental dan fisik. 21
Undang-undang sistem pendidikan nasional no. 20 tahun 2003
disebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. 22
Kesimpulannya dalam UU Sisdiknas ini adalah pembelajaran ini terjadi
adanya interaksi peserta didik dengan pendidik maupun dengan sumber
belajar di dalam suatu lingkungan belajar untuk memperoleh perubahan
perilaku, pengetahuan maupun kemamapuan dalam mencapai tujuan
yang diharapkan.
Belajar itu sendiri adalah suatu bentuk pertumbuhan atau
perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara
bertingkah laku yang baru dari pengalaman dan latihan. 23 Menurut
Witherington, belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang
dimanifestasikan sebagai pola renspon yang baru yang terbentuk
keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan. Sedang
menurut Hilgard, belajar adalah suatu proses dimana suatu perilaku
muncul atau berubah karena adanya renspon terhadap sesuatu situasi.24

20
Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembalajaran, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2006, hlm. 2
21
Daryanto, Inovasi Pembalajaran Aktif, Yamara Widiya, Bandung, 2013, hlm.385
22
Fathurrahman dkk, Pengantar Pendidikan, PRESASI PUSTAKA PUBLISHER, Jakarta, 2012,
hlm. 2
23
Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar (Dalam Perspektif
Islam), Prenada Media, Jakarta, 2004, hlm. 209
24
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2004, hlm. 155-156

12
Sardiman AM, menyebutkan istilah pembelajaran dengan
interaksi edukatif. Menurut beliau, yang dianggap interaksi edukatif
adalah interaksi yang di lakukan secara sadar dan mempunyai tujuan
untuk mendidik, dalam rangka mengantar peserta didik kearah
kedewasaannya. Pembelajaran merupakan proses yang berfungsi
membimbing para peserta didik di dalam kehidupannya,yakni
membimbing dan mengembangkan diri sesuai dengan tugas
perkembangan yang harus dijalani.25
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran adalah kegiatan belajar dan mengajar yang dilakukan oleh
siswa dan guru. Di dalam proses pembelajaran tersebut terjadi interaksi
dimana seorang guru membimbing dan mengarahkan peserta siswa
untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi yang dimiliki oleh
siswa.
Pembelajaran adalah kondisi dan situasi yang memungkinkan
terjadinya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien bagi peserta
didik atau siswa. Pada hakikatnya pembelajaran fiqih adalah proses
yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana
lingkungan yang memungkinkan seseorang melaksanakan kegiatan
belajar yang berkaitan dengan hukum syara’, khususnya pada
penerapan strategi manajemen kelas yang diterapkan pada pembelajaran
fiqih sehingga dalam proses pembelajaran nantinya bisa terealisasi
dengan aktif dan menyenangkan.
Sedangkan mengenai fiqih terdapat pengertian, diantaranya
menurut bahasa “Fiqih” berasal dari kata faqiha-yafqahu-fiqhan yang
berarti “mengerti atau faham”. Dari sinilah ditarik perkataan fiqih, yang
memberi pengertian kepahaman dalam hukum syari’at yang sangat
dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya.26 Jadi fiqih adalah ilmu yang
dapat memberikan kefahaman terhadap peserta didik untuk dijadikan

25
Abdul Majid, Op.Cit., hlm. 283
26
Syafi’i Karim, Fiqih Ushul Fiqih, CV Pustaka Setia, Bandung, 2001, hlm. 11

13
pedoman bagi umat Islam karena bersmnber dari Allah SWT dan Rasuli
SAW.
Pembelajaran Fiqih dilakukan untuk memberi pemahaman dan
pengetahuan rentang hukum-hukum dalam beribadah dan
bennu’amalah, yang nantinya dapat digunakan sebagai pedoman dalam
pengaplikasian dalam kehidupan sehai-hari.27 Dalam hal beribadah
yaitu hubungannya dengan nonna atau aturan tentang ajaran agama
Allah yang sifatnya vertikal (hubungan manusia dengan Tuhannya),
karena pada hakikatnya manusia diciptakan untuk beribadah kepada-
Nya. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ad-Dzariyat 28: 56

َ ِ ‫ت ۡٱل ِج َّن َوٱإۡل‬


٥٦ ‫نس إِاَّل لِيَ ۡعبُ ُدو ِن‬ ُ ‫َو َما َخلَ ۡق‬
Artinya : “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Sedangkan mu’amalah yaitu hubungannya dengan norma atau


aturan tentang ajaran agama Allah yang sifatnya horizontal (hubungan
manusia dengan sesama dan lingkungannya).
Dari penjelasan diatas maka dapat dipahami bahwa
pembelajaran Fiqih adalah pembelajaran yang dilakukan untuk
memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada siswa tentang aturan-
aturan untuk beribadah dan bennu’amalah sesuai dengan syari’at agama
Islam yang nantinya dapat diaplikasikan serta menjadi pedoman di
dalam kehidupannya sehari-hari.
Hal ini sesuai dengan komponen pembelajaran secara
kontekstual bahwa dengan mengaitkan materi pembelajaran yang
terdapat dalam kehidupan sehari-hari atau dalam konteks kehidupan
nyata maka proses pembelajaran benar-benar bermakna dan membekas
di benak mereka. Mata pelajaran fikih yang merupakan bagian dari
mata pelajaran pendidikan agama di madrasah merupakan hal yang

27
Yasin dan Solikhul Hadi, Fiqih Ibadah, STAIN Kudus, Kudus, hlm. 10
28
Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, Asy-Syifa Press, Semarang, hlm. 417

14
penting bagi peserta didik yang secara garis besar untuk memahami
pokok-pokok hukum Islam secara terperinci dan menyeluruh, baik
berupa dalil naqli maupun aqli serta mengamalkan hukum Islam dengan
benar. Mata pelajaran fiqih sebagai bagian dari Pendidikan Agama
Islam (PAI) diterangkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah upaya
sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,
memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam.29
Jadi, berdasarkan pengertian diatas maka pembelajaran fiqih
adalah jalan yang dilakukan secara sadar, terarah dan terancang
mengenai hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan perbuatan
mukallaf baik bersifat ibadah maupun muamalah yang bertujuan agar
anak didik mengetahui ,memahami, serta melaksanakan ibadah sehari-
hari.
b. Tujuan Pembelajaran Fiqih
Tujuan artinya sesuatu yang dituju, yaitu yang ingin dicapai
dengan suatu kegiatan atau usaha. Dalam pendidikan tujuan pendidikan
dan pembelajaran merupakan faktor yang pertama dan utama. Tujuan
akan mengarahkan arah pendidikan dan pengajaran kearah yang hendak
dituju.
Tanpa adanya tujuan maka pendidikan akan terombang- ambing.
Sehingga proses pendidikan tidak akan mencapai hasil yang optimal.
Tujuan yang jelas akan memudahkan penggunaan komponen-
komponen yang lain, yaitu materi,metode, strategi dan media serta
evaluasi yanga akn digunakan dalam proses pembelajaran, yang kesua
komponen tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah
dirumuskan.
Pendidikan di Indonesia terdapat rumusan tentang tujuan
pedidikan nasional dan rumusan tersebut tertuang dalam Undang-
Undang RI. NO. 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang SISDIKNAS, yang

Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, PT Remaja
29

Rosdakarya, Bandung, 2004, hlm. 130

15
berbunyi: “Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab”.30 Tujuan dari pendidikan islam adalah kepribadian
muslim yaitu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran
islam. Tujuan pendidikan islam dicapai dengan pengajaran islam, jadi
tujuan merupakan bentuk operasional pendidikan islam.
Tujuan pengajaran fiqih di Madrasah sebagaimana yang
tercantum dalam kurikulum adalah memberikan bekal pengetahuan dan
kemampuan mengamalkan ajaran islam dalam rangka membentuk
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak
mulia dala kehidupan pribadi dan masyarakat, berbangsa dan bernegara,
serta untuk melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Maka dari itu semua mahluk hidup haus dkendalikandari norma-
norma agama agar dalam hidup tidak terjadi hal yang sesat
menyesatkan melainkan halnya perbuatan yang dikendalikan dan
terkendali sesuai dengan sumber-sumber agama seperti Al-Quran dan
Hadits bagi umat islam. Pendapat ini sesuai dengan firman Allah SWT
dalam Surat At-Taubah ayat 122 :
ۚ ْ
‫ُوا َكٓافَّ ٗة فَلَ ۡواَل نَفَ َر ِمن ُك ِّل فِ ۡرقَ ٖة‬ َ ُ‫ان ۡٱل ُم ۡؤ ِمن‬
‫ون لِيَنفِر‬ َ ‫َو َما َك‬
ْ ‫ِّين َولِيُن ِذر‬
‫ُوا قَ ۡو َمهُمۡ إِ َذا‬ ِ ‫ُوا فِي ٱلد‬ ْ ‫ة لِّيَتَفَقَّه‬ٞ َ‫ِّم ۡنهُمۡ طَٓائِف‬
َ ‫َر َجع ُٓو ْا إِلَ ۡي ِهمۡ لَ َعلَّهُمۡ يَ ۡح َذر‬
١٢٢ ‫ُون‬
Artinya :Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke
medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di
antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan
mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada
kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya
mereka itu dapat menjaga dirinya”. (Q.S At-Taubah : 122)31
30
Fathurrahman et.al, Op.Cit, hlm.69
31
Departemen Agamam RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Syamil Quran, Bandung, 2009, hlm.
207

16
c. Komponen Pembelajaran Fiqih
Proses pembelajaran pada hakikatnya selalu memuat komponen-
komponen sebagai berikut, diantaranya : (1) peserta didik, adalah murid
atau pelajar yang biasanya ada pada jenjang pendidikan dasar sampai
pendidikan menengah. Sedangkan menurut UU No. 20 tahun 2003,
peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia
pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.32 (2) Guru, adalah
seseorang yang memiliki kemmapuan dan pengalaman yang dapat
memudahkan dalam melaksanakan peranannya membimbing
muridnya.33 (3) Tujuan yang ingin dicapai, Tujuan pada dasarnya
merupakan harapan, yaitu apa yang diharapkan dari siswa sebagai hasil
belajar. Robert F. Manager memberi batasan yang lebih jelas tentang
tujuan pembelajaran yaitu maksud yang dikomunikasikan melalui
pernyataan yang menggambarkan tentang perubahan yang diharapkan
dari siswa.34 (4) Materi Pembelajaran, merupakan bahan pelajaran yang
harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Materi
pelajaran merupakan komponen utama dalam proses pembelajaran
karena materi pelajaran akan memberi warna dan bentuk kegiatan
pembelajaran.35 (5) Strategi, serangkaian dan keseluruhan tindakan
strategis guru dalam merealisasikan perwujudan kegiatan pembelajaran
aktual yang efektif dan efisien, untuk pencapaian tujuan pembelajaran.
Strategi pengajaran terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang
menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi pengajaran lebih luas
daripada metode atau teknik pengajaran. Karena metode atau teknik
pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran (6) Metode,

32
Musthofa Rembangy, Pendidikan Transformatif : Pergulatan Kritis Merumuskan Pendidikan Di
Tengah Pusaran Arus Globalisasi, TERAS KOMPLEK POLRI, Yogyakarta, 2010, hlm. 131
33
Zakiyah Drajat, Op.Cit, hlm.266
34
Sumiyati dan Asra, Metode Pembelajaran, Wacana Prima, Bandung, 2008, hlm. 10
35
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia, Bandung, 2011, hlm. 48

17
merupakan langkah operasional dari strategi pembelajaran yang dipilih
untuk mencapai tujuan pembelajaran.36 Metode adalah komponen yang
memiliki fungsi yang sangat menentukan terhadap sesuatu.
Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung
pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu
strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui
penggunaan metode pembelajaran, oleh sebab itu setiap guru perlu
memahami secara baik peran dan fungsi metode dalam proses
pembelajaran (7) Media, Media, merupakan sebuah alat yang berfungsi
untuk menyampaikan pesan pembelajaran.37 Dengan Penggunaan media
secara kreatif akan memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik dan
dapat meningkatkan perfonnan siswa sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai (8) Penilaian, Evaluasi merupakan salah satu komponen penting
dan tahap yang harus ditempuh guru untuk mengetahui keefektifan
pembelajaran.38 Evaluasi dalam pembelajaran bukan hanya sekedar
untuk mengukur keberhasilan siswa dalam pencapaian hasil belajar atau
prestasi belajar, tetapi juga untuk mengumpulkan informasi tentang
proses pembelajaran yang dilakukan setiap siswa. Oleh sebab itu, dalam
perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP), setiap guru tidak hanya
menentukan tes sebagai alat evaluasi akan tetapi juga menggunakan
nontes dalam bentuk tugas misalnya wawancara.

d. Pendekatan Pembelajaran Fiqih


Pembelajaran dan bimbingan guru dalam mata pelajaran
pendidikan agama islam, dalam hal ini adalah mata pelajaran fiqih
dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Diantaranya sebagai
berikut : 1) Pendekatan Pengalaman, merupakan pemberian pengalaman
keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai
36
Ridwan Abdullah Sani, Inovasi Pembelajaran, Bumi Aksara, Jakarta, 2013, hlm. 158
37
Agus Retnanto, Teknologi Pembelajaran, STAIN KUDUS, 2011, hlm. 125
38
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran Prinsip, Teknik, Prosedur, Remaja Rosdakarya, Bandung,
2011, hlm.2

18
keagamaan. 2) Pendekatan pembiasaan, dimaksudkan agar seseorang
memiliki kebiasaan berbuat hal-hal yang baik sesuai dengan ajaran
agama islam. 3) Pendekatan Emosional, usaha untuk menggugah
perasaan dan emosi dalam meyakini ajaran islam serta dapat merasakan
mana yang baik dan mana yang buruk. 4) Pendekatan rasional, usaha
meningkatkan pembelajaran dengan menggunakan rasio (akal) sehingga
dapat membedakan mana yang baik dan buruk dalam memahami dan
menerima ajaran suatu ajaran agama. 5) Pendekatan Fungsional, upaya
memberi materi dengan menekankan kepada segi kemanfaatan bagi
siswa dalam kehdupan sehari-hari. 6) Pendekatan keteladanan,
memperlihatkan keteladanan yang baik karena guru akan menjadi tokoh
identifikasi dalam pandangan anak yang akan dijadikan sebagai teladan.
7) Pendekatan Kontekstual, bertujuan memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajari dengan mengaitkan
materi dengan konteks kehidupan sehari-hari (konteks pribadi, sosial,
dan kultural).

B. Kajian Penelitian Terdahulu


1. Skripsi Yang ditulis oleh Vera Silvia Ariyanti, Judul : Analisis Manajemen
kelas pada pendidikan Inklusif dalam pembelajaran PAI di SD Semai
senenan tahunan jepara tahun pelajaran 2015/2016. Tujuan penelitian ini
adalah (1) untuk mengetahui manajemen kelas kondisi fisik dan non fisik
pada pendidikan inklusif dalam pembelajaran PAI di SD semai senenan
tahunan jepara tahun pelajaran 2015/2016 (2) untuk mengetahui
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi manajemen kelas pada pendidikan
inklusif dalam pembelajaran PAI di SD semai senenan tahunan jepara
tahun pelajaran 2015/2016 (3) untuk mengetahui faktor pendukung dan
penghambat manajemen kelas pada pendidikan inklusif dalam
pembelajaran PAI di SD semai senenan tahunan jepara tahun pelajaran
2015/2016. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif.

19
Jenis sumber data yang digunakan meliputi dua macam yaitu : pertama,
sumber data primer yang diperoleh dari kepala sekolah, guru PAI, guru
pendamping, wali kelas III, dan peserta didik. Kedua, sumber data skunder
berupa dokumen, lesson plan, RPP, jadwal pelajaran, buku-buku dan
media alternative lainnya yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh penelitian ini meliputi (2) tahap
tehnik pengumpulan data. Tehnik pengumpulan data meliputi observasi,
wawancara dan dokumentasi. Sedangkan aktivitas dalam analisis data
yaitu : pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan. Hasil penelitian ini meliputi: (1) Manajemen kelas kondisi
fisik dan non fisik pada pendidikan inklusif dalam pembelajaran PAI di SD
semai senenan tahunan jepara tahun pelajaran 2015/2016 yaitu kondisi
fisik meliputi ruangan tempat berlangsungnya proses pembelajaran,
pengaturan rempat susuk, pengaturan keindahan dan kebersihan kelas serta
pengaturan ventilasi dan cahaya. Sedangkan manajemen kelas pada
kondisi non fisik meliputi tipe kepemimpinan guru yang demokratis, sikap
guru yang sabar dan ramah, suara guru yang bervariasi dan pembinaan
hubungan baik antara guru dengan peserta didik. (2) pelaksanaan
manajemen kelas pada pendidikan inklusif dalam pembelajaran PAI di SD
semai senenan tahunan jepara tahun pelajaran 2015/2016 meliputi
perencanaan pembelajaran yaitu membuat lesson plan ran RPP dengan
penyesuaian materi, metode dan media, yang kedua pelaksanaan meliputi
kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. evalusi
meliputi penilaian formatif menggunakan rubrik penilaian dengan
penyesuaian pada ABK. (3) Faktor pendukung dan penghambat manajeme
keals pada pendidikan inklusif dalam pembelajaran PAI di SD semai
senenan tahunan jepara tahun pelajaran 2015/2016 untuk faktor
pendukung yaitu adanya guru berkompeten dan guru pendamping, peserta
didik dan kondisi ruang kelas yang nyaman dan rapi. Sedangkan faktor
penghambat meliputi kurangnya guru pendamping, tidak adanya guru
pembimbing khusus dan kurangnya sarana prasarana.

20
2. Skripsi yang ditulis oleh Nilta Fitria Insiyya, dengan judul penerapan
Manajemen kelas Determinatian Of Regulation In The Room pada
pembelajaran Al-Quran Hadits di MI Matholiul Huda Kedungwaru Kidul
Karanganyar Demak Tahun Pelajaran 2015/2016. Skripsi ini membahas
tentang penerapan Manajemen kelas Determinatian Of Regulation In The
Room pada pembelajaran Al-Quran Hadits di MI Matholiul Huda. Studi ini
dimaksudkan untuk menjawab permasalahan : (1) apa saja alasan
diterapkannya Manajemen kelas Determinatian Of Regulation In The
Room pada pembelajaran Al-Quran Hadits di MI Matholiul Huda? (2)
bagaimana penerapan Manajemen kelas Determinatian Of Regulation In
The Room pada pembelajaran Al-Quran Hadits di MI Matholiul Huda? (3)
bagaimana hasil penerapan Manajemen kelas Determinatian Of
Regulation In The Room pada pembelajaran Al-Quran Hadits di MI
Matholiul Huda? Permasalahan tersebut dibahas melalui studi lapangan
(Field Research) yang dilaksanakan di MI Matholiul Huda kedungwaru
karanganyar demak. Sekolah tersebut dijadikan sumber data untuk
mendapatkan potret penerapan Manajemen kelas Determinatian Of
Regulation In The Room pada pembelajaran Al-Quran Hadits di MI
Matholiul Huda kedungwaru kidul karanganyar demak. Data tersebut
diperoleh dengan metode observasi, metode wawancara dan metode
dokumentasi. Semua data dianalisis dengan dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus menerus, meliputi reduksi data, penyajian data
dan verifikasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan
kepada semua, pihak (guru dan siswa) untuk dapat mengembangkan
proses pembelajaran supaya lebih efektif dan menciptakan suasana yang
kondusif dan nyaman saat pembelajaran. Kajian ini menunjukkan bahwa:
(1) alasan diterapkannya Manajemen kelas Determinatian Of Regulation
In The Room pada pembelajaran Al-Quran Hadits di MI Matholiul Huda
adalah untuk menciptakan suasana kondusif dan nyaman dikelas,
meningkatkan rasa tanggung jawab siswa dan meningkatkan ketaatan dan
kedisiplinan siswa (2) penerapannya dilakukan dengan membuat peraturan

21
kelas yang disepakati bersama antara guru dengan siswa dengan
menggunakan kelimat-kalimat yang positif serta hukuman-hukuman yang
mendidik yang diwujudkan dalam bentuk tulisan yang ditanda tangani
oleh guru dan siswa (3) hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan
bahwa penerapan manajemen kelas model ini dapat berjalan dengan lancar
dan baiksehingga lambat laun tercipta suasana kelas yang kondusif dan
nyaman, meningkatkan rasa tanggung jawab ketaatan dan kedisiplinan
siswa.
3. Skripsi yang ditulis oleh Alvina Khoiruroh, Judul : Studi Analisis peran
guru Ekspresif dalam menciptakan kelas kondusif dan menyenangkan
pada pembelajaran PAI di MTs NU Darul Hikam Kalirejo Undaan Kudus
Tahun Ajaran 2014/2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1)
bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan guru ekspresif di MTs NU
Darul Hikam Kalirejo Undaan Kudus (2) bagaimana relevansi peran guru
Ekspresif dalam menciptakan kelas kondusif danmenyenangkan pada
pembelajaran PAI di MTs NU Darul Hikam Kalirejo Undaan Kudus.
Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Adapun
datanya diperoleh dari wawancara, observasi dan juga dokumentasi. Dari
data yang telah terkumpul diuji dengan menggunakan analisis deskripsi,
yaitu dengan reduksi data peran guru ekspresif pada pembelajaran PAI di
MTs NU darul Hikam tahun ajaran 2014/2015, data tentangn guru
ekspresif, dan progres dalam menciptakan kelas kondusif dan
menyenangkan. Kemudian Display data yaitu menghubungkan guru
ekspresif dan progress dalam menciptakan kelas kondusif dan
menyenangkan pada pembelajaran PAI. Langkah terakhir data dirangkum
dan diseleksi sesuai dengan permasalahan penelitian dengan membuat
simpulan / verifikasi, sehingga kesimpulan dapat menjawab permasalahan
yang ada dalam penelitian, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
dapat diketahui : (1) proses pembelajaran yang dilakukan guru ekspresif
dengan menggunakan fungsi dan modus secara kondisional (2) guru
ekspresif dalam menciptakan kelas kondusif danmenyenangkan dengan

22
menggunakan komunikasi yang berbeda beda, baik komunikasi verbal
ataupun non verbal yang akan menghasilkan ekspresif berbeda-beda.

Skripsi-skripsi yang sudah dikaji sebelumnya lebih menekankan pada


kreatifitas guru dalam mengelola siswanya yang berkenaan dengan tingkah
laku siswa ketika berada didalam kelas. Sedangkan dalam penelitian ini
peneliti membahas mengenai bagaimana implementasi strategi manajemen
kelas dengan Intervensi Minor Pada pembelajaran Fiqih.

C. Kerangka Berfikir

TUJUAN

MATERI FIQIH

GURU MAPEL PESERTA DIDIK


FIQIH MANAJEMEN PSIKOLOGI
KELAS BELAJAR

INTERVENSI
MINOR

EVALUASI

Manajemen kelas merupakan salah satu keterampilan yang harus


dimiliki guru dalam memahami, mendiagnosis, memutuskan dan kemampuan
bertindak menuju perbaikan suasana kelas yang dinamis. Maka dari itu
seorang guru memiliki andil yang sangat berperan terhadap keberhasilan
pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu
perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara
optimal. Didalam kelas guru melaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan
mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah

23
proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa.
Sedangkan kegiatan mengelola kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas,
fasilitas fisik dan rutinitas. Kegiatan mengelola kelas dimaksudkan untuk
menciptakan dan mempertahankan suasana dan kondisi kelas. Tidak hanya itu
Sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Oleh sebab itu pengelolaan kelas diperlukan karena dari hari kehari
tingkah laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Hari ini siwa dapat belajar
dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kelas selalu dinamis dalam
bentuk perilaku,perbuatan, sikap, mental dan emosional siswa.
Kehidupan dan peradaban manusia saat ini telah banyak mengalami
perubahan. Terlebih lagi sekarang dalam dunia pendidikan terdapat undang-
undang perlindungan siswa yang dibuat untuk melindungi siswa dari berbagai
perlakuan dari guru yang tidak semestinya. Akan tetapi malah membuat siswa
merasa bebas melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan. Hal ini
berdasarkan banyak sekali kejadian-kejadian yang sangat mengkhawatirkan
yang terjadi dalam dunia pendidikan. Serta krisis multi dimensi, kisis politik,
ekonomi, sosial, hukum, golongan dan ras. Akibatnya peran serta pendidikan
agama islam disekolah sebagai nilai spiritual terhadap kesejahteraan
masyarakat mulai dipertanyakan.
Pendidikan agama islam dianggap kurang memberikan kontribusi yang
menuju arah itu tanpa melihat problem sebenarnya pada pendidikan agama
islam. Akan tetapi setelah ditelusuri ternyata kurangnya seorang guru dalam
memerankan strategi dalam manajemen kelas. Penyimpangan perilaku siswa
dalam pembelajaran islam khususnya fiqih disini berakibat pada
ketidakefektifan pembelajaran untuk menyerap isi dari esensi pembelajaran
fiqih itu sendiri. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan yang baik
akan strategi dalam manajemen kelasnya. Selain itu dengan penerapan
manajemen kelas yang baik maka akan mempertahankan keefektifan
pembelajaran yang sedang berlangsung dikelas.
MTs Silahul Ulum merupakan salah satu lembaga pendidikan yang
berada di kabupaten Pati. Dalam kegiatan belajar mengajar terkadang

24
terdapat penyimpangan perilaku siswa dan berakibat pada ketidakefektifan
pembelajaran karena harus terganggu dengan siswa yang melakukan
penyimpangan perilaku. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan
yang baik akan manajemen kelasnya. Salah satu guru tepatnya guru mata
pelajaran fiqih berinisiatif untuk menggunakan strategi manajemen kelas
dengan Intervensi Minor Untuk mengembalikan psikologi belajar sebagai
siswa secara semestinya.

25