Anda di halaman 1dari 16

TEORI AKUNTANSI NORMATIF DAN POSITIF

A. Akuntansi Teori Apa Praktik

Akuntansi merupakan bahasa atau alat komunikasi bisnis yang dapat memberikan
informasi tentang kondisi keuangan (ekonomi) berupa posisi keuangan yang tertuang dalam
jumlah kekayaan, utang dan modal suatu bisnis dan hasil usahanya dalam suatu waktu atau
periode tertentu.

Definisi lain dapat juga dipakai untuk memahami lebih dalam pengertian akuntansi. Dalam buku
A Statementof Basic Accounting Theory (ASOBAT) akuntansi diartikan sebagai berikut :

“ Proses mengidentifikasi, mengukur, dan menyampaikan informasi ekonomi


sebagai bahan informasi dalam hal mempertimbangkan berbagai alternative dalam
mengambil keputusan oleh para pemakainya “

Menurut komite terminologi American Institute of Certified Public Accounting


(AICPA) :

“ Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan,dan peringkasan transaksi dan


kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam
bentuk satuan uang, dan penginterprestasian hasil proses tersebut.

Akuntansi dapat dipandang sebagai praktek dan teori, yang pada akhirnya dapat bermanfat
pada berbagai bidang karena laporan keuangan digunakan sebagai pengambil keputusan.
Akuntansi dipraktikkan dalam suatu wilayah negara merupakan suatu hasil rancangan dan
pengembangan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Praktik akuntansi dipengaruh oleh berbagai
faktor lingkungan, seperti faktor sosial, ekonomi, politik, dsb, dan hal ini yang menyebabkan
praktik akuntansi dalam suatu wilayah negara tertentu tidak sama dengan negara lain.

Untuk melaksanakan suatu praktik akuntansi yang baik, tidak cukup hanya mempelajari
akuntansi secara praktik saja. Karena dibalik praktik akuntansi terdapat berbagai gagasan, asumsi
dasar, konsep, penjelasan yang semuanya terangkum dalam teori akuntansi. Teori akuntansi
sendiri merupakan suatu pengetahuan yang menjelaskan mengapa praktik akuntansi masih
berjalan sampai saat ini.

Di dalam praktik akuntansi terdapat beragam permasalahan yang harus dipecahkan.


Menyelesaikan permasalahan-permasalah tersebut tidak cukup hanya dengan mengandalkan
pengalaman semata, namun untuk mencapai praktik akuntansi yang baik maka dalam
menyelesaikan masalah juga diperlukan landasan teori yang baik.

Teori akuntansi merupakan bagian penting dari praktik akuntansi , pengetahuan terhadap
akuntansi akan mengimbangi berbagai pengalaman dan kemampuan praktis dalam
menyelesaiakan masalah. Dengan teori akuntansi orang akan dapat melihat suatu permasalahan
dengan perspektif yang lebih luas dan terinci tanpa teori yang melandasinya, praktik akuntansi
yang baik bisa dipastikan tidak akan tercapai.

1
B. Praktek-Praktek Akuntansi Menuju Ke Teori

Pada hakikatnya para ahli akan sepakat apabila dikatakan bahwa fungsi akuntansi atau
praktik pencatatan akuntansi dalam arti pencatatan kejadian yang berhubungan dengan bisnis
yang sudah dimulai lama, sejak adanya kejadian transaksi bisnis, bahkan sejak adanya kehidupan
sosial ekonomi manusia.

Akuntansi sejak saat itu terus berkembang sejalan dengan perkembangan ekonomi dan
semakin timbulnya pemisahan antara pemiliki perusahan dengan manajemen. Timbulnya
revolusi industri pada tahun 1776 juga menimbulkan efek positif terhadap perkembangan
akuntansi. Pada tahun 1845 undang-undang pertama di Inggris dikeluarkan untuk mengatur
tentang organisasi dan status perusahaan. Dalam undang-undang itu diatur tentang kemungkinan
perusahaan meminjam uang, mengeluarkan saham, membayar uang dan dapat bertindak
sebagaiman halnya perorangan. Perusahaan dapat dibentuk oleh kumpulan beberapa orang yang
bekerja bersama-sama dalam suatu badan. Keadaan inilah yang menimbulkan perlunya laporan ,
baik sebagai informasi dan pertanggungjawaban.

Beberapa masalah yang menimbulkan diperlukannya akuntansi adalah perkembangan ilmu


yang berjalan sedemikian cepat, kegiatan ekonomipun berkembang demikian cepat dan
menimbulkan berbagai teknik dan penerapan sistem akuntansi diantara perusahan-perusahan
dalam melakukan praktik akuntansi sehingga masalah kebenaran dan perbandingan laporan
keuangan menjadi masalah. Keadaan ini menimbulkan prasangka negatif bahwa manajemen
dapat menyusun laporan keuangan sesuai dengan kehendak dan kepentingannya sehingga dia
dapat memanipulasi laporan keuangan dan akibatnya laporan keuangan dianggap kurang bernilai
dan sampai puncaknya pada tahun 1930 pada masa depresi berat di USA. Akhirnya USA
membentuk SEC (Security Exchange Commission) sebagai salah satu lembaga yang banyak
mendorong tercapainya suatu prinsip akuntansi yang baku. Dari lembaga ini munculah konsep,
teori, dan perumusan – perumusan yang sistematis tentang teori akuntansi.

Pada awal dipraktikannya akuntansi bahkan sampai beberapa tahun kemudian tidak ada
teori akuntansi. Oleh karena itu, orang bertanya untuk apa teori akuntansi, selama tidak adanya
struktur teori akuntansi formal maka yang terjadi adalah banyaknya alternatif metode pencatatan
yang berlaku dalam praktiknya, semua bersifat diizinkan sehingga menyimbulkan kebinguan
masyarakat. Vernon Kam mengumukakan fungsi dari adanya teori akuntansi sebagai berikut :

a. Menjadi pegangan bagi lembaga penyusunan standart akuntansi dalam menyusun


standarnya.
b. Memberikan kerangka rujukan untuk menyelesaikan masalah akuntansi dalam hal tidak
adanya standar resmi.
c. Menentukan dalam hal melakukan judgment dalam penyusunan laporan keuangan.
d. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca laporan keuangan terhadap
informasi yang disajikan laporan keuangan.
e. Meningkatkan kualitas yang dapat dibandingkan.

Teori merupakan kristalisasi dari fenomena empiris yang terjadi yang digambarkan dalam
bentuk dalil-dalil yang disimpulkan dari fenomena-fenomena dan disajikan dalam bentuk

2
kalimat-kalimat pendek yang berlaku secara umum. Teori biasanya diambil dari berbagai riset
demi riset sehingga sampai pada suatu kesimpulan yang dapat berlaku untuk semua, univesal,
logis, konsisten, dapat diramalkan, objektif. Objektif penelitian adalah fenomena sosial dan
ekonomi. Fenomena ini dikaji, diteliti, dan lahirlah suatu kesimpulan atau tesis, dari riset dan
kesimpulan lain ditemukan antitesis dan lahirlah sintesis sehingga mengkristal menjadi teori
yang selanjutnya akan dikaji berulang kali. Sepanjang suatu teori dapat mempertahankan diri dan
kritikan dan verifikasi, dia tetap dinilai teori yang confirm dan masih berlaku.

Teori akuntansi dapat bermanfaat apabila rumusan teori itu dapat dijadikan sebagai alat
untuk meramalkan apa yang diharapkan mungkin terjadi dimasa yang akan datang. Kalau
demikian halnya mestinya setiap negara harus memiliki dan merumuskan teori akuntansinya
sendiri yang disimpulkan dari kondisi dan fenomena ekonomi sosial yang dimilikinya bukan
mengambil alih sepenuhnya dari susunan teori akuntansi negara lain.

Hardibroto (media akuntansi 1998) menekankan pentingnya teori akuntansi. Menurut


beliau ada sinyalemen yang berkembang yang menganggap bahwa seolah teori akuntansi tidak
dibutuhkan. Alasan yang mendasari pemikiran ini adalah bahwa akuntansi bukanlah merupakan
suatu disiplin ilmu yang dapat menjelaskan semua gejala-gejala akuntasi di dalam praktiknya.
Akuntansi bersifat teknis dan prosedural dia sama seperti mesin yang tidak memerlukan kreasi-
kreasi atau inisiatif baru.

Pandangan ini keliru, teori akuntansi dapat memberikan penjelasan mengenai praktik
akuntansi, menjawab dan menjelaskan semua fenomena yang melatar belakangi penerapan suatu
metode dalam praktik akuntansi. Misalnya, mengapa perusahaan yang satu menggunakan metode
depresiasi sedangkan perusahaan lain menggunakan metode garis lurus.

Teori dapat didefinisikan sebagai hasil pemikiran yang berdasarkan metode ilmiah atau
logika. Teori terdiri dari dua bagian :

1. Asumsi-asumsi termasuk definisi variabel-variabelnya dan logika yang


menghubungkan antara variabel tersebut. Asumsi-asumsi, definisi, logika
dipergunakan untuk mengatur, menganalisis, memahami gejala emperis yang menjadi
perhatian.

2. Himpunan hipotesis-hipotesis yang penting. Sedangkan hipotesis merupakan anggapan


awal dari fenomena atau masalah yang akan dianalisis. Tujuan dari teori akuntansi
adalah menjelaskan dan meramalkan praktik akuntansi.

Teori akuntansi akan dapat menjelaskan mengapa perusahaan lebih cenderung


menggunakan metode LIFO dari pada FIFO. Teori akuntansi akan dapat mrmprediksi atau
menemukan gejala akuntansi yang belum diketahui. Misalnya teori akuntansi dapat memberikan
hipotesis mengenai sifat-sifat perusahaan yang memakai LIFO dibandingkan dengan
menggunakan FIFO.

C. Dasar-Dasar Akuntansi Sebagai Teori

3
1. Teori Akuntansi dan Perumusannya
a. Pengertian dan Fungsi Teori Akuntansi

Dari definisi-definisi mengenai teori dan akuntansi di atas, dapat dilihat


bahwa teori akuntansi tidak lepas dari praktik akuntansi karena tujuan utamaya
adalah menjelaskan praktik akuntansi dan memberikan dasar bagi pengembangan
praktik tersebut.

Teori akuntansi adalah susunan konsep, definisi, dalil yang menyajikan


secara sistematis gambaran fenomena akuntansi yang menjelaskan hubungan
antarvariabel dengan variable lainnya dalam struktur akuntansi dengan maksud
dapat mejelaskan dan meramalkan fenomena yang mungkin akan muncul.

Hendriksen menilai teori akuntansi sebagai satu susunan prinsip umum akan
dapat:

1. Memberikan kerangka acuan yang umum dari mana praktek akuntansi dinilai.
2. Teori akuntansi yang dirumuskan tidak akan mampu mengikuti perkembangan
ekonomi, social, teknologi, dan ilmu pengetahuan yang demikaian cepat.

Teori Akuntansi mungkin dapat dikatakan sebagai suatu konsep modern jika
dibandingkan dengan teori-teori yang lain seperti matematika atau fisik. Chambers
(1994) berpendapat bahwa akuntansi dikembangkan dari model yang spesifik
bukannya dikembangkan secara sistematik dari teori yang terstruktur. Lebih lanjut
Chambers menyatakan:

Akuntansi telah digambarkan sebagai a body of practice yang


dikembangkan sebagai anggapan terhadap kebutuhan praktik bukannya
dikembangkan dari pemikiran yang sistematik dan terencana.

Goldberg (1949) juga sependapat dengan Chambers bahwa akuntansi tidak


didasarkan pada cara-cara yang sitematis. Goldberg menyatakan:

Tidak ada teori akuntansi yang dihasilkan dari periode Pacioli sampai awal
abad 19. Berbagai usulan tentang teori muncul disana- sini, tetapi tidak satupun
yang menempatkan akuntansi pada cara-cara yang sistematis.

Meskipun Akuntansi tidak dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan murni,


akuntansi mungkin dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan sosial (social
science). Seperti halnya ilmu sosial lainnya, konsep akuntansi tidak didasarkan pada
kebenaran yang sifatnya universal (Glautier and Underdown, 1994). Konsep
akuntansi mengakar pada sistem nilai masyarakat dimana akuntansi dipraktekkan.

Oleh karena preskripsi akuntansi dikembangakan untuk memecahkan


masalah-masalah khusus, teori yang mendasarinya juga dikembangkan berdasarkan
model-model yang khusus. Secara umum, fungsi utama dari teori akuntansi adalah

4
umtuk memberikan kerangka pengembangan ide-ide baru dan membantu proses
pemilihan akuntansi (Mathews and Perera, 1993).

Vernon Kam (1986) mengemukakan fungsi dari adanya teori akuntansi


sebagai berikut:

1.Menjadi pegangan bagi lembaga penyusun standar akuntansi menyusun


standarnya.
2.Memberikan kerangka rujukan untuk menyelesaikan masalah akuntansi dalam hal
tidak adanya standar resmi.
3.Menentukan batas dalam hal melakukan “judgment” dalam penyusunan laporan
keuangan.
4.Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca laporan terhadap informasi
yang disajikan laporan keuangan.
5.Meningkatkan kualitas dapat diperbandingkan.

Sedangkan Hendriksen (1982) mengemukakan kegunaan teori akuntansi


sebagai berikut:

1.Memberikan kerangka rujukan sebagai dasar untuk menilai prosedur dan praktek
akuntansi.
2.Memberikan pedomen terhadap praktek dan prosedur akuntansi yang baru.
2. Sifat Teori Akuntansi

Menurut Ahmed Belkaoui yang menyatakan bahwa tidak ada teori akuntansi
yang lengkap pada setiap kurun waktu. Oleh karena itu teori akuntansi harus juga
mencakup semua literature akuntansi yang meberikan pendekatan yang berbeda-beda
satu sama lain.

Senada dengan kesimpulan di atas American Accounting Association’s


Committee on Concepts and Standard for External Reports yang menyebutkan bahwa:

1. Tidak ada teori akunatansi keuangan yang lengkap yang mencakup dan memenuhi
keingainan semua keadaan dan waktu dengan efektif, oleh karenanya.
2. Di dalam literature akuntansi keuangan yang ada bukan teori akuntansi tetapi
kumpulan teori yang dapat dirumuskan mengatasi perbedaan-perbedaan persyaratan
yang diinginkan para pemakai laporan keuangan.

Dalam perumusan teori akuntansi tidak apat hanya mengandalkan teori ansich,
harus menggunakan literatur akuntansi dan disiplin ilmu yang relevan. Namun teori
akuntansi merupakan instrumen yang sangat penting dalam menyusun dan
memverifikasi prinsip akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan
untuk disajikan pada para pemakainya.

3. Periodisasi Teori Akuntansi


Godfrey dkk(1992) membuat periodisasi teori akuntansi sebagai berikut :

5
a. Pry-teory period(1942-1800)
Paragallo mengatakan bahwa tidak ada teori akuntansi yang dirumuskan sejak
pacioli sampai pada awal abad ke 19. kalaupn ada saran saran atau pernyataan –
pernyataan belum dapat digolongkan sebagi teori atau pernyataan yag sisitematis.
b. General sceintific period(1800-1955)
Dalam periode ini sudah ada teori akuntansi yang penekanannya ada kerangka
kerja untuk menje;laskan dan mengembangkan praktek akuntansi. Akuyntansi
dikembangkan berdasarkan metode empiris yang mengutamakan pengamatan
sehari hari atau realitas bukan berdasarkan pada logika. Laporan AAA (“A
Tentative statment of acaunting principles affecting corporate report”) pada tahun
1938 serta laporan AICPA tentang Astatment of acaunting principles
(sanders,hatfield and moore) merupakan dua contoh perumusan teori akuntansi
berdasarkan metode empiris atau disebut era general sceintific.
c. Normatife period (1956-1970)

Dalam periode ini perumusan akuntansi mencoba merumuskan norma norma ataua
praktek akuntansi yang baik. Kalau dalam peride ini bagaimana seharusnya
dilakukan what should be pada periode ini muncul kritik terhadap konsep historical
cost dan pendukung adanya conceptual framework. Beberapa trbitang laporan pada
era ini adalah an inquiry into the nature of accounting oleh godberg yang
diterbitkan pada tahun 1965. AAA menerbitkan a statment of basic accounting
teory.

d. Specific scientific tperiod (1970-sekarang)

Periode ini disebut juga positive era disini teori akuntansi tidak cukup hanya sifat
normatif saja tetapi harus diuji kebenarannya. Norma dinilai subjektif jadi harus
diuji secara positif. Pendekatan normatif dikritik karena:

1) Teori normatif tidak melibatkan pengujian hipotesa


2) Teori normatif didasarkan pada pertimbngan subjektif
4. Perumusan Teori Akuntansi

Dalam literature dikenal beberapa pendekatan dalam merumuskan teori


akuntansi. Masing masing penulis memberikan metode yang diikutinya. Dalam
makalh ini kita akan memakai penjelasan dari belkaoui tentang pendekatan dalam
peruan teori akuntansi sebagi berikut:

a. Pendekatan informal yang dibagi dalam:


1) Pendekatan Non-teoritis,
Berupa pendekatan pragmatis dan pendekatan otoriter. Pendekatan
pragmatis terdiri dari penyusunan teori yang ditandai dengan penyesuaian
terhadap praktik sesungguhnya, yang bermanfaat untuk memberi saran solusi
praktis. Pendekatan otoriter dalam penyusunan teori akuntansi yang umumnya
digunakan oleh organisasi profesi terdiri dari penyajian sejumlah peraturan
praktik-praktik akuntansi.

6
2) Pendekatan otoriter
Dalam metode ini yang dirumuskjan teori akuntansi adalah organisai
profesi yang mengeluarkan pernyataan pernyataan yang mengatur praktek
akuntansi. Biasanya organisasi tetap memperhatikan aspek praktis dan
pragmatis, sehingga pendekatan otoriter juga digolongkan sebagai pragmatis.
3) Pendekatan Teoritis
Deduktif
Pendekatan ini dimulai dengan asumsi atau dalil dasar akuntansi dan konklusi
logis yang diperoleh dari sejumlah prinsip akuntansi untuk menyajikan
petunjuk dan dasar bagi pengembangan teknik-teknik akuntansi selanjutnya.
Pendekatan ini bergerak dari kondisi yang bersifat umum (asumsi dasar tentang
lingkungan akuntansi) ke kondisi spesifik (pertama, prinsip-prinsip akuntansi
dan kedua teknik-teknikakuntansi).
Induktif
Pendekatan ini dimulai dengan serangkaian pengamatan terhadap informasi
keuangan dari bisnis perusahaan dan selanjutnya akan diperoleh rumusan,
gagasan, serta prinsip-prinsip akuntansi dan pengamatan tersebut dengan
menggunakan dasar hubungan yang terjadi secara berulang. Argumentansi
induktif dikatakan membawa keterangan-keterangan yang bersifat khusus
(informasi yang menggambarkan hubungan berulang-ulang) ke suatu bentuk
yang bersifat umum (dalil-dalil dan prinsip-prinsip akuntansi).
Etis
Bagian utama pendekatan etis terdiri dari konsep kewajaran (fairness), keadilan
(justice), keseimbangan (equity), dan kebenaran (truth). Justice sebagai
perlakuan yang seimbang terhadap seluruh pihak yang berkepentingan, truth
sebagai pelaporan keuangan yang akurat dan benar tanpa adanya kesalahan
interpretasi, dan fairness sebagai penyajian yang wajar, tidak bisa, dan tidak
memihak.
Sosiologis
Pendekatan ini menekankan pada akibat-akibat social yang ditimbulkan teknik-
teknik akuntansi yang merupakan perluasan konsep kewajaran yang dinamakan
social welfare (kesejahteraan social). Pendekatan ini mengasumsikan adanya
nilai-nilai social yang mapan yang dapat digunakan sebagai criteria dalam
penyusunanteoriakuntansi.
Ekonomis
Pendekatan ini menekankan pada pengendalian perilaku indicator-indikator
ekonomi makro, yang diakibatkan oleh berbagai praktek akuntansi. Criteria
umum yang digunakan dalam pendekatan ekonomi makro adalah (1) kebijakan
dan teknik akuntansi yang digunakan harus menyajikan realitas ekonomi dan
(2) pemilihan teknik-teknik akuntansi harus bergantung pada konsekuensi
ekonomik.
Ekletik
Pendekatan ini merupakan suatu hasil utama berbagai upaya individu dan
profesi maupun organisasi pemerintahan dalam partisipasinya untuk
menetapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam akuntansi.

7
http://uziek.blogspot.com/2009/03/pendekatan-tradisional-dalam-
perumusan.html

Fena Desi Lastantri

NIM: 3301405047

D. Teori Akuntansi Normative

Teori akuntansi normative disebut juga teori preskriptif, yang mencoba menjawab
pertanyaan “apa yang semestinya”. Disini akuntansi dianggap sebagai norma peraturan
yang harus diikuti tidak peduli apakah berlaku atau dipraktekkan sekarang atau tidak.

Teori normative berusaha untuk membenarkan tentang apa yang seharusnya


dipraktekkan, misalnya pernyataan yang menyebutkan bahwa laporan keuangan
seharusnya didasarkan pada metode pengukuran aktiva tertentu. Menurut Nelson (1973)
dalam literature akuntansi teori normative sering dinamakan teori apriori (artinya dari
sebab ke akibat atau bersifat deduktif). Alasannya teori normative bukan dihasilkandari
penelitian empiris, tetapi dihasilkan dari kegiatan “semi-research”. Teori normative
hanya menyebutkan hipotesis tentang bagaimana akuntansi seharusnya dipraktekkan
tanpa menguji hipotesis tersebut. Pada awal perkembangannya, teori akuntansi normative
belum menggunakan pendekatan investigasi, dan cenderung disusun untuk menghasilkan
postulat akuntansi.

Perumusan akuntansi normative mencapai masa keemasan pada tahun 1950


dan1960an. Selama periode ini perumus akuntansi lebih tertarik pada rekomendasi
kebijakan danapa yang seharusnya dilakukan, bukan apa yang sekarang dipraktekkan.
Pada periode tersebut, teori normative lebih berkonsentrasi pada:

1. Penciptaan laba sesungguhnya (true income)

Teori ini berkonsentrasi pada penciptaan pengukur tunggal yang unik dan benar untuk
aktiva dan laba. Meskipun demikian, tidak ada kesepakatan terhadap apa yang
dimaksud denganpengukur nilai dan laba yang benar.

2. Pengambilan keputusan (decision usefulness)


Pendekatan ini menganggap bahwa tujuan dasar dari akuntansi adalah untuk
membantu proses pengambilan keputusan dengan cara menyediakan data akuntansi
yang relevan atau bermanfaat.
Pada kebanyakan kasus, teori ini didasarkan pada konsep ekonomi klasik tentang laba
dankemakmuran (wealth) atau konsep ekonomi pengambilan keputusan rasional.
Biasanya konsep tersebut didasarkan juga pada penyesuaian rekening karena
pengaruh inflasi atau nilai pasar dari aktiva. Teori ini pada dasarnya merupakan teori
pengukuran akuntansi. Teori tersebut bersifat normative karena didasarkan pada
anggapan:
a. Akuntansi seharusnya merupakan system pengukuran

8
b. Laba dan nilai dapat diukur secara tepat
c. Akuntansi keuangan bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi
d. Pasar tidak efisien (dalam pengertian ekonomi)
e. Ada beberapa pengukur laba yang unik.
Karena teori normatif dianggap merupakan pendapat pribadi yang subyrktif maka
tidak bisa diterima begitu saja, harus dapat diuji secara empiris agar memiliki dasar
teori yang kuat. Pendukung teori ini biasanya menggambarkan system akuntansi yang
dihasilkan sebagai sesuatu yang ideal, merekomendasikan penggantian system
akuntansi cost histories dan pemakaian teori normatif oleh semua pihak.

E. Teori Akuntansi Positif

Teori akuntansi positif berkembang seiring kbutuhan untuk menjelaskan dan


memprediksi realitas praktek-praktek akuntansi yang ada di dalam masyarakat. Teori
akuntansi positif berusaha untuk menjelaskan fenomena akuntansi yiang diamati
berdasarkan pada alas an-alasan yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa. Dengan
kata lain, Positive Accounting Theory (PAT) dimaksudkan untuk menjelaskan dan
memprediksi konsekuensi yang terjadi jika manajer menentukan pilihan tertentu.
Penjelasan dan prediksi dalam PAT didasarkan pada proses kontrak (contracting process)
atau hubungan keagenan (agency relationship) antara manajer dengan kelompok lain
seperti investor, kreditor, auditor, pihak pengelola pasar modal dan institusi pemerintah
(Watts dan Zimmerman, 1986).

PAT lebih bersifat deskriptif bukan preskiptif. Tidak seperti teori normative yang
didasarkan pada prems bahwa manajer akan memaksimumkan laba atau kemakmuran
untuk kepentingan perusahaan , teroi positif didasarkan pada premis bahwa individu
selalu bertindak atasdasar motivasi pribadi (self seeking motives) dan berusaha
memaksimumkan keuntungan pribadi. Watts dan Zimmerman berpendapat bahwa premis
maksimisasi laba dalam konteks teori normatif tidak terbukti dan jauh dari bukti empiris.

Kritik utama mereka terhadap teori normative adalah teori tersebut didasarkan
pada pertimbangan nilai (value judgment). Watts dan Zimmerman berpendapat bahwa
perumusan teori harus betul-betul bebas pertimbangan nilai dan menekankan pada
kebutuhan akan penekatan baru.hal ini dapat dilihat dalam pernyataan mereka sebagai
berikut :

Tujuan dari teori akuntansi positif adalah untuk menjelaskan (to explain) dan
memprediksikan (to predict) praktek akuntansi……. Penjelasan berarti memberikan alas
an-alasan terhadap praktek yang diamamti. Misalnya, teori akntansi positif berusaha
menjelaskan mengapa perusahaan tetap menggunakan akuntansicost histories dan
mengapa perusahaan tertentu mengubah taktik akuntansi mereka. Predisi terhadap
praktik akuntansi berarti teori berusaha memprediksi fenomena yang belum diamati.

Mereka juga menjelaskan bahwa “teori, sebagaimana yang kami ganbarkan


menghasilkan preskripsi (resep) untuk praktek akuntansi tetapi berkaitan dengan
penjelasan terhadap praktek akuntansi”.

9
Pendekatan positif atau empiric berkaitan dengan usaha menguji atau
menghubungkan kembali hipotesis atau teori dengan pengalaman atau fakta-fakta dunia
nyata. Penelitina kauntansi positif difokuskan pada pengujian empiric terhadap asumsi-
asumsi yag dibuat oleh teori akuntansi normative. Misalnya dengan menggunakan
kuesioner dan teknik survey lainnya, peneliti akan menguji sikap manajer terhadap
manfaat metode atau teknik akuntansi tertentu. Pendekatan khusu dapat dilakukan dengan
cara mensurvey pendapatanpendapatan analisis keuangan, manajer bank atau akuntan
terhadap tugas atau kasus tertentu yang dibuat peneliti (misalnya prediksi kebangkrutan,
keputusan membeli atau menjual saham, dll).

Pendekatan lain yang dapat digunakan adalah dengan menguji arti penting output
akuntansi di pasar. Dengan demikian teori akuntansi positif memiliki focus ekonomi dan
berusaha menjawab pernyataan seperti :

- Apakah biaya yang dikeluarkan untuk memeilih metode akuntansi sesuai dengan
manfaat yang diperoleh?
- Apakah biaya regulasi da proses penentuan standar akuntansi sesuai dengan
manfaatnya?
- Apakah laporan keuangan berpengaruh terhadap saham?

Untuk menjawab pernyataan tersebut teori akuntansi positif menggunakan asumsi


sebagai berikut :

- Manajer, investor, kreditor, dan individu lain bersifat rasional dan berusaha
memaksimumkan kepuasan.
- Manajer memiliki kebebasan untuk memilih metode akuntansi yang memaksimumkan
kepuasan mereka atau mengubah kebijakan produksi, investasi dan pendanaan
perusahaan untuk memaksimukan kepuasan mereka.
- Manajer mengambil tindakan yang memaksimumkan nilai perusahaan.

Atas dasar pernyataan dan asumsi tersebut teori akuntansi positif berusaha menguji tiga
hipotesis sebagai berikut :

- Hipotesis Rencana Bonus (Bonus Plan Hypothesis)

Manajer perusahaan dengan bonus tertentu cenderung lebih menyukai metode yang
meningkatkan laba periode berjalan. Pilihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan
nilai sekarang bonus yang akan diterima seandainya komite kompensasi dari dewan
direktur tidak menyesuaikan dengan metode yang dipilih (Watts dan Zimmerman,
1990)

- Hipotesis hutang atau ekuitas (Debt/Equity Hypothesis)

Makin tinggi rasio hutang atau ekuitas perusahaan mkin besar kemungkinan bagi
manajer untuk memilih metode akuntansi yang dapat menaikkan laba. Makin tinggi
rasio hutang atau ekuitas makin dekat perusahaan dengan batas perjanjian atau

10
peraturan kredit (Kalay, 1982). Makin tinggi batasan krdit makin besar kemungkinan
penyimpangan perjanjian kredit dan pengeluaran biaya. Manajer akan memiliki
metode akuntansi yang dapat menaikkan laba sehingga dapat mengendurkan batasan
kredit dan mengurangi biaya kesalahan teknis (Watts dan Zimmerman, 1990).

- Hipotesis Cost Politik (Political Cost Hypothesis)

Perusahaan besar cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat mengurangi


laba periodik disbanding perusahaan kecil. Ukuran perusahaan merupakan ukuran
variable proksi (proxsy) dan aspek politik. Yang mendasari hipotesi ini adalah asumsi
bahwa sangat mahalnya nilai informasi bagi individu untuk menentukan apakah laba
akuntansi betul-betul menunjukkan monopoli laba. Di samping itu, sangatlah mahal
bagi individu untuk melaksanakan kontrak dengan pihak lain dalam proses politik
dalam rangka menegakkan aturan hokum dan regulasi, yang dapat meningkatkan
kesejahteraan mereka. Dengan demikian individu yang rasional cenderuang memiliki
untuk tidak mengetahui informasi yang lengkap. Proses politik tidak beda jauh dengan
proses pasar. Atas dasar cost informasi dan cost monitoring tersebut, manajer memiliki
insentif untuk memiliki laba akuntansi tertentu dalam proses politik tersebut (Watts
dan Zimmerman, 1990).

Tiga hipotesis di atas menunjukkan bahwa PAT mengakui adanya tiga hubungan
keagenan :

1) Manjemen dengan pemilik


2) Manajemen dengan kreditor
3) Manajemen dengan pemerintah

Kehadiran pendekatan positif telah memeberikan sumbangan yang berari bagi


pengembangan akuntansi. Menurut Watts dan Zimmerman (1990) PAT telah
memberikan konstribusi pengembangan akuntansi misalnya :

- Menghasilkan pola sistematik dalam pilihan akuntansi dan membrikan penjelasan


spesifik terhadap pola tersebut.
- Memberikan kerangka yang jelas dalam memahami akuntansi.
- Menunjukkan peran utama contracting cost dalam teori akuntansi.
- Menjelaskan mengapa akuntansi dijelaskan dan memberikan kerangka dalam
memprediksi pilihan-pilihan akuntansi.
- Mendorong riset yang relevan dengan akuntansi dengan menekankan pada prediksi dan
penjelasan terhadap fenomena akuntansi.

Pada saat sekarang teori positif menekankan pada penjelasan alasan-alasan terhadap praktek
berjalan dan prediksi terhadap peranan akuntansi dan informasi terkait dalam kepuaan-kepuasan
ekonomi individu, perusahaan, dan pihak yang lain yang berperan dalam kegiatan pasar modal
dan ekonomi. Meskipun demikian, asumsi yang melandasi proyek penelitian positif tersebut
banyak dikritik karena pendukung teori positif menggunakan penolakan alternative alias
pemikiran yang lain. Artinya, yeori positif tidak bebas dari pertimbangan nilai atau implikasi

11
preskriptif. Hal ini disebabkan pertimbangan nilai yang bersifat implicit seringkali melandasi
atau mempengaruhi bentuk dan isi penelitian yang dilakukan. Peneliti tidak dapat menghindari
unsur bias dalam semua penelitian yang dilakukan. Dengan demikian unsur bias, jelas
menunjukkan perwujudan orientasi dari peneliti tersebut.

F. Hubungan Teori Akuntansi Normative dan Positif

Teori akuntansi berdasarkan tujuan perumusannya ada dua yaitu teori akuntansi
normatif dan positif. Dalam penjelasan mengenai teori akuntansi positif tidak dapat
dilepaskan dari adanya teori ekonomi positif.

Teori akuntansi positif merupakan varian dari teori ekonomi positif. Teori ini
berkembang seiring dengan kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi realitas
praktik-praktik akuntansi yang ada di masyarakat—what it is (Watts dan Zimmerman,
1986). Teori ini memiliki pijakan yang berbeda dibandingkan dengan dengan akutansi
normatif, yang lebih menjelaskan praktik-praktik akuntansi yang seharusnya berlaku—it
should be. Teori ini bertujuan menjelaskan meramalkan, dan memberi jawaban atas
praktik akuntansi. Di samping itu, teori ini juga meramalkan berbagai fenomena
akuntansi dan menggambarkan bagaimana interaksi antar-variabel akuntansi dalam dunia
nyata. Validitas teori akuntansi positif dinilai atas dasar kesesuaian teori dengan fakta
atau apa yang nyatanya terjadi (what it is).

Jensen (1976) me-listing berbagai perbedaan dari pertanyaan riset normatif dan
positif. Kalau normatif kebanyakan bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan,
sedangkan kalau positif lebih hanya bertanya tentang apa, mengapa dan bagaimana. Yang
kedua, kalau normatif lebih banya mendeskripsikan entitas akuntansi (Kohler, 1975).
Sebaliknya untuk positif lebih banyak mendeskripsikan dan menjelaskan perilaku
akuntan.

Pendekatan positif atau empirik berkaitan dengan usaha menguji/ menghubungkan


kembali hipotesis /teori dengan pengalaman/ fakta-fakta dunia nyata. Penelitian akuntansi
positif difokuskan pada pengujian empirik terhadap asumsi-asumsi yang dibuat oleh teori
akuntansi normative. Misalnya menggunakan kuesioner dan teknik survey lainnya,
peneliti akan menguji sikap menajer terhadap manfaat metode atau teknik akuntansi
tertentu. Pendekatan khusus dapat dilakukan dengan cara mensurvei pendapat-pendapat
analisis keuangan, manajer bank, atau akuntan terhadap tugas/kasus tertentu yang dibuat
peneliti (misalnya prediksi kebangkrutan, keputusan membeli/ menjual saham dll).

Jansen (1976) menyatakan bahwa riset dalam akuntansi saat itu tidak saintifik,
karena fokusnya hanya pada riset yang bersifat normatif dan definisional. Dalam
terminologi teori, dikatakannya bahwa akuntansi lebih bermakna sebagai sesuatu yang
bersifat normatif. Dan dia juga berkata bahwa teori akuntansi hanya bersifat menjawab
pertanyaan tentang “apa yang seharusnya terjadi”. Dengan pengembangan positive

12
accounting theory, akan lebih menjelaskan mengenai: “apa, mengapa akuntan
mengerjakan sesuatu, apa pengaruhnya terhadap orang lain dan utilisasi sumberdaya.
Tanpa positive theory, tidak ada satupun baik akademisi maupun praktisi yang bisa
membuat langkah maju lebih signifikan untuk menghasilkan jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan normatif yang selama ini dipertanyakan (http://massatya.blog.com/2008/5/)

Untuk lebih mudah dipahami contoh teori akuntansi positif adalah praktik
akuntansi yang saat ini sering kita dengar antara lain creative accounting, earning
management, big bath, dan income smoothing. Pada dasarnya praktik akuntansi ini sudah
dilakukan cukup lama, tetapi praktik ini semakin mencuat diantaranya pada kasus
ENRON, dan Worldcom yang terjadi pada tahun 2000. Kasus ini mengakibatkan krisis
kepercayaan publik terhadap auditor. Kasus ini telah meruntuhkan KAP Arthur
Andersen, tidak saja keluar dari The big five, bahkan sampai pencabutan ijin usaha. Kasus
inilah yang menjadi titik tolak bagi para auditor dan lembaganya untuk meningkatkan
kembali jaminan terhadap hasil audit mereka.

Sedangkan akuntansi normatif adalah praktik akuntansi yang dilaksanakan sesuai


dengan aturan yang telah ditetapkan. Aturan tersebut dikenal dengan nama Praktik
Akuntansi Berterima Umum (PABU) atau GAAP. Salah satu bagian kecil dari PABU
adalah SAK atau standar akuntansi Keuangan.

SAK yang ada sekarang dikeluarkan oleh IAI melalui suatu organ yang kita kenal
dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK). Dewan ini bertugas untuk
menyusun draft standar akuntansi keuangan yang akan diberlakukan. Draft tersebut
terlebih dahulu didiskusikan dengan Dewan Konsultatif Standar Akuntansi Keuangan
(DKSAK) untuk kemudian dikeluarkan draft-nya. Bila telah diperoleh masukan,
dilakukan sosialisasi (public hearing) untuk memperoleh masukan lebih banyak lagi dari
masyarakat luas (pemakai laporan keuangan). Selanjutnya, bila tidak ada masalah lagi,
maka IAI akan mengesahkan standar tersebut dan diberlakukan secara efektif.

Dapat disimpulkan bahwa hubungan teori akuntansi normative dan teori akuntansi
positif yaitu teori akuntansi positif pada dasarnya merupakan alat untuk menguji secara
empirik asumsi-asumsi yang dibuat oleh teori akuntansi normatif. Karena teori normatif
pada dasarnya merupakan pendapat pribadi yang subyektif yang tidak dapat diterima
begitu saja dalam menentukan keputusan. Oleh sebab itu dibutuhkan pengembangan teori
akuntansi yang sekarang disebut teori akuntansi positif yang bertujuan untuk menguji
teori akuntansi normatif secara empiris agar memiliki dasar teori yang kuat. Hubungan
teori akuntansi normative dan positif dapat ditunjukkan dengan skema berikut:

PENUTUP

Kesimpulan

Akuntansi adalah seni pencatatan, pengolahan, dan peringkasan transaksi dan kejadian yang
bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dalam bentuk satuan uang, dan
penginterprestasian hasil proses tersebut. Sedangkan teori akuntansi merupakan susunan konsep,

13
definisi, dalil yang menyajikan secara sistematis gambaran fenomena akuntansi yang
menjelaskan hubungan anatara variable dengan vriabel lainnya dalam struktur akuntansi dengan
maksud dapat menjelaskan dan meramalkan fenomena yang mungkin akan muncul.

Periodisasi teori akuntansi dibagi menjadi pre theory period, general scientific period, normative
period, dan specific scientific period.

Perumusan teori akuntansi dibedakan menjadi dua pendekatan, yaitu pendekatan informasi dan
pendekatan teoritis. Pendekatan informal dibagi dalam pendekatan non teoritis dan pendekatan
otoriter, sedangkan pendekatan teoriti dibagi ke dalam pendekatan deduktif , induktif, etik,
sosiologis, ekonomi, dan eklektif. Atas dasar tujuannya teori akuntansi diklasifikasikan dalam
dua jenis yaitu teori akuntansi normative yang memberikan resep terhadap teori praktek
akuntansi, dan teori akuntansi positif yang berusaha menjelaskan dan memprediksikan fenomena
yang berkaitan dengan akuntansi.

Dalam teori akuntansi normative, isi akuntansi dianggap sebagai norma peraturan yang harus
diikuti, tidak peduli apakah berlaku atau dipraktekkan sekarang atau tidak. Metode ini disebut
juga normative accounting research atau normative theory of accounting, yang berguna dalam
membahas isu “true income” dan “decision usefulness”.

Berbea dengan teori akuntansi normatif, teori akuntansi positif berkembang seiring dengan
kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi realitas praktek-praktek akuntansi yang ada di
dalam masyarakat. Teori akuntansi positif dimulai dari suatu modal ilmiah, dan kemudian
dirumuskan problem penelitian untuk mengamati fenomena yang nyata yang tidak ada dalam
teori. Untuk selanjutnya dikembangkan teori untuk mrnjelaskan fenomena tersebut dan
melakukan penelitian secara terstruktur dan peraturan yang standar dengan melakukan
perumusan masalah, penyusunan hipotesa, pengumpulan data dan pengujian statistic ilmiah,
sehingga diketahui apakah hipotesa yang dirumuskan diterima atau tidak.

14
Teori Akuntansi Positif dan Normatif +
Prinsip dan Hioptesis
By Sandy MakrufPosted on
Teori Akuntansi Positif dan Normatif + Prinsip dan Hioptesis | Di dalam teori akuntansi
terdapat dua jenis teori yang dikenal dengan Teori Akuntansi Positif dan Teori Akuntansi
Normatif. Berikut penjelasan oleh AkuntansiLengkap.com mengenai Pengertian, Prinsip dan
Hipotesisnya.

Teori Akuntansi Positif


Teori akuntansi positif adalah teori akuntansi yang berupaya menjelaskan suatu proses dengan
menggunakan kemampuan pemahaman serta pengetahuan akuntansi saat menentukan kebijakan
akuntansi yang sesuai dalam menghadapi kondisi di masa yang akan datang. (Baca juga: bidang-
bidang akuntansi serta profesinya )
Prinsip teori akuntansi positif
Prinsip dari teori akuntansi positif beranggapan bahwa tujuan dari teori akuntansi bermaksud
untuk memprediksi dan menjelaskan praktik akuntansi. Teori akuntansi positif merupakan studi
lanjutan dari teori akuntansi normatif karena kegagalan dari teori normatif dalam menjabarkan
fenomena praktik yang terjadi secara real (nyata).
Teori normatif merupakan pendapat subyektif (pribadi) sehingga tidak dapat diterima secara
mentah, harus dapat diuji secara empiris supaya memiliki dasar teori yang kuat.
Terdapat tiga hipotesis oleh Watts dan Zimmerman, 1990 yang menjadi asumsi pada teori
akuntansi positif diantaranya adalah:
1. Hipotesis Rencana Bonus (Bonus Plan Hypothesis)
Manajer perusahaan cenderung lebih menyukai metode yang dapat meningkatkan laba periode
berjalan dengan bonus tertentu. Pilihan diharapkan dapat meningkatkan nilai bonus yang akan
diterima tidak dapat menyesuaikan dengan metode yang dipilih. (Baca juga: tahapan proses
manajemen )
2. Hipotesis hutang atau ekuitas (Debt/Equity Hypothesis)
Semakin tinggi rasio ekuitas atau hutang perusahaan maka makin besar para manajer untuk
memilih metode akuntansi yang data efektif untuk menaikkan laba. Semakin tinggi rasio hutang
dan ekuitas akan mendekatkan perusahaan dengan batas perjanjian atau peraturan kredit dan
makin besar kemungkinan penyimpangan perjanjian kredit dan pengeluaran biaya. (Baca juga:
tugas manajer personalia )
3. Hipotesis Cost Politik (Political Cost Hypothesis)
Hipotesis ini didasari asumsi bahwa sangat mahalnya nilai informasi bagi individu untuk
menentukan kondisi laba akuntansi apakah betul-betul menunjukkan monopoli laba.
Selain itu, mahalnya bagi individu untuk melaksanakan kontrak dengan berbagai pihak  dalam
proses politik untuk menegakkan regulasi dan aturan hukum, yang dapat meningkatkan
kesejahteraan mereka. (Baca juga: landasan hukum bank syariah )
Pada umumnya individu yang rasional tidak mengetahui informasi yang lengkap tentang proses
politik dan proses pasar. Dengan dasar cost informasi dan cost monitoring, manajer mempunyai
insentif untuk memiliki laba pada periode akuntansi dalam proses politik tersebut.

15
Teori Normatif
Teori normatif didasarkan atas upaya pembenaran tentang apa yang seharusnya dipraktekkan.
Teori normatif disebut juga Teori Apriori (bersifat deduktif) karena bukan hasil dari penelitian
empiris.
Hal ini disebabkan oleh pengalaman praktek langsung yang telah dilakukan misalnya pernyataan
tentang laporan keuangan yang seharusnya didasarkan pada metode pengukuran tertentu atau
dihasilkan melalui kegiatan “semi – research”. (Baca juga:
Teori normatif diketahui lebih berkonsentrasi pada  :
1. Penciptaan laba sesungguhnya (true income)
Teori ini lebih berkonsentrasi pada pengukuran tunggal yang benar untuk aktiva dan laba.
2. Pengambilan keputusan (decision usefulness)
Teori ini menganggap bahwa tujuan dasar akuntansi adalah untuk membantu proses pengambilan
keputusan dengan menyediakan data akuntansi yang relevan dan bermanfaat.
Di beberapa kasus, teori ini didasarkan pada konsep ekonomi tentang laba dan kemakmuran atau
konsep ekonomi pengambilan keputusan rasional. Konsep tersebut didasarkan pada penyesuaian
rekening karena pengaruh inflasi atau dari nilai pasar dari aktiva.
Teori normatif ini didasarkan pada anggapan bahwa:
 Akuntansi seharusnya merupakan sistem pengukuran.
 Laba dan nilai dapat diukur secara tepat.
 Akuntansi keuangan bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi.
 Pasar tidak efisien (dalam pengertian ekonomi).
 Ada beberapa pengukur laba yang unik.
Pada praktiknya teori normatif adalah pendapat subyektif (pribadi) maka sulit untuk diterima
begitu saja karena harus dapat diuji secara empiris supaya dapat dikatakan sistem akuntansi yang
dihasilkan sebagai sesuatu yang ideal.
Para ahli bidang akuntansi telah menyatakan bahwa teori akuntansi positif lebih diterapkan
dibandingkan teori akuntansi normatif.
Demikianlah artikel tentang Teori Akuntansi Positif dan Normatif. Semoga dapat membantu
dan bermanfaat bagi pembaca. Sekian dan terimakasih.

16

Anda mungkin juga menyukai