Anda di halaman 1dari 5

Tugas PPKN XII MIPA 5

Kelompok 4

Anggota :

Amrita Deviayu Tunjungbiru (7)

Delvino Ananta (11)

Hagea Sofia Adninda Imanisla (17)

Muhammad Rayhanafraa Gibran Maulana (23)

Muhammad Syarief Nur Hakim (24)

Nasywa Aqilah Putri (28)

Ransi Raihan Majesta (33)


Artikel Mengenai Hakim di Negara Republik Indonesia

3 Hakim Sidang Jessica Wongso Dilaporkan ke KY

Liputan6.com, Jakarta - Sidang kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan


terdakwa ​Jessica Kumala Wongso menyita perhatian publik. Tak terkecuali tiga
hakimnya, yakni Kisworo, Binsar Gultom, dan Partahi Tulus Hutapea.

Ketiganya telah memimpin persidangan kasus pembunuhan dengan kopi sianida


hingga 22 kali di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Di tengah keseruan proses persidangan, sekelompok orang yang mengatasnamakan


Aliansi Advokat Muda Indonesia (AAMI) dan Perlindungan Bantuan Hukum Indonesia
(PBHI) melaporkan tiga hakim tersebut ke Komisi Yudisial (KY).

Ketua AAMI Rizky Sianipar mengatakan, ada beberapa pelanggaran kode etik dan
pelanggaran pedoman perilaku hakim yang dilakukan majelis hakim di sidang Jessica.
Pelanggaran tersebut dilakukan para hakim dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.

Rizky menuturkan, Pasal 5 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) menyebutkan hakim harus berlaku adil dan memberikan kesempatan yang
sama kepada setiap orang.

"Dalam persidangan aquo, ​hakim menghalangi terdakwa melakukan simulasi kopi, tapi
di lain pihak hakim hakim memberikan kebebasan sebebas-bebasnya kepada JPU
untuk melakukan pembuktian," ujar Rizky di Kantor Komisi Yudisial, Jakarta Pusat,
Senin (19/9/2016).

Selanjutnya, kata dia, ketiga hakim juga melanggar Pasal 5 ayat (2) huruf a tentang
menghormati azas praduga tak bersalah.

Pada persidangan tersebut, dia menilai hakim terlalu menyimpulkan Mirna tewas akibat
minum kopi. Padahal menurutnya, pembuktian belum selesai dan tidak ada fakta yang
menimbulkan hal tersebut.

"Azas praduga tak bersalah yang dilanggar itu bahwa hakim berkata tidak perlu melihat,
tidak perlu ada saksi untuk menetapkan tersangka, contoh perbandingannya kasus
pembunuhan anak di Bogor. Nah hakim itu menjawab pembunuhan itu, kami hukum
seumur hidup dan hukuman itu diterima, dan ini apakah akan seperti ini nanti," tutur
Rizky.

Sementara itu, Anggota PBHI Simon Fernando Tambunan mengatakan, majelis hakim
yang memimpin sidang kerap melakukan intimidasi. Hakim juga beberapa kali
mengarahkan jawaban ahli.

Simon mencontohkan, saat itu, majelis hakim melakukan tanya jawab dengan ahli yang
dihadirkan. Namun hakim Binsar tidak puas dengan jawaban yang diberikan ahli. Binsar
lantas berkata 'tidak boleh tapi' yang terkesan mengintimidasi jawaban ahli.

"Seharusnya ahli kan tidak boleh dibantah keterangannya. Saksi ahli ketika memberi
keterangan sesuai dengan kemampuannya harus dengan argumen, bukan iya dan
tidak, itulah yang harus dilakukan," kata Simon.

Dia menegaskan, pihaknya tidak sembarangan melaporkan hakim ke KY. Laporan


tersebut ditujukan untuk ​ketiga hakim yang berperkara. Dia ingin ​laporan tersebut
menjadi pembelajaran, agar ke depan persidangan semakin baik.

"Hakim semestinya dapat memimpin persidangan, termasuk anggota-anggota,


sehingga kemudian persidangan dapat berjalan dengan berwibawa, sakral," ujar Simon.
Analisis Artikel

Hakim sebagai pihak pemutus perkara sangat berperan sebagai penentu masa depan
hukum, karena setiap putusan hakim akan menjadi pusat perhatian masyarakat. Hakim
tidak hanya berperan sebagai corong undang-undang, tetapi hakim juga berperan
sebagai penemu hukum (recht vinding), sesuai dengan nilai-nilai budaya yang hidup di
masyarakat, terutama nilai-nilai Pancasila. Sedangkan peranan hakim dalam memutus
perkara pidana yang dapat memenuhi rasa Keadilan masyarakat, dalam hal memutus
suatu perkara hakim mempunyai kebebasan, hal ini sesuai dengan salah satu unsur
Negara hukum yang menyatakan, bahwa adanya peradilan yang bebas dan tidak
memihak. Hakim selain memperhatikan ketentuan yang tertulis dalam undang-undang
juga memperhatikan hukum yang hidup dalam masyarakat serta menggunakan hati
nurani yaitu berdasarkan hakim dan rasa keadilan masyarakat, hal ini sejalan dengan
gagasan tipe penegakan hukum yang progresif

Tugas seorang hakim adalah mempertahankan tata hukum, menetapkan apa yang
ditentukan oleh hukum dalam suatu perkara. Dengan demikian yang menjadi tugas
pokoknya adalah menerima, memeriksa, dan mengadili serta menyelesaikan setiap
perkara yang diajukan kepadanya. Dari banyaknya masalah yang ada, tidak semuanya
ada peraturan perundang-undangannya yang mengatur masalah tersebut. Untuk
mengatasi masalah hal ini hakim tidak perlu untuk selalu berpegang pada
peraturan-peraturan yang tertulis saja, dalam keadaan demikian tepatlah apabila hakim
diberi kebebasan untuk mengisi kekosongan hukum. Untuk mengatasi masalah
tersebut hakim dapat menyelesaikannya dengan memperhatikan hukum yang hidup
dalam masyarakat atau yang dikenal dengan hukum adat. Sehingga dengan demikian
tidak akan timbul istilah yang dikenal dengan sebutan kekosongan hukum.
Kewenangan hakim untuk melakukan hal demikian ini sesuai pula dengan apa yang
telah ditentukan dalam pasal 16 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009.

Fungsi hakim adalah menegakkan kebenaran sesunggyuhnya dari apa yang


dikemukakan dan dituntut oleh para pihak tanpa melebihi atau menguranginya terutama
yang berkaitan dengan perkara perdata, sedangkan dalam perkara pidana mencari
kebenaran sesungguhnya secara mutlak tidak terbatas pada apa yang telah dilakukan
oleh terdakwa, melainkan dari itu harus diselidiki dari latar belakang perbuatan
terdakwa. Artinya hakim pengejar kebenaran materil secara mutlak dan tuntas.
Kedudukan hakim disini yaitu sebagai pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman
yang diatur dalam undang-undang. Hakim juga harus memiliki integritas dan
kepribadian yang tidak tercela, jujur, adil, profesional, dan berpengalaman dalam
bidang hukum, dan bagi seorang hakim dituntut dalam menjalankan tugas dan
fungsinya, hakim wajib menjaga kemandirian peradilan.
Adapun kewajiban hakim menurut Undang-undang No. 48 Tahun 2009 sebagai
pengganti UU No. 14 tahun 1970 adalah:

1. Memutus demi keadilan berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sesuai dengan
Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
menentukan :
A. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa,
B. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama
masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu
(pasal 4 ayat 1).
2. Menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup
di dalam masyarakat. Ketentuan ini dimaksudkan agar putusan hakim sesuai dengan
hukum dan rasa keadilan masyarakat (pasal 28 ayat 1).
3. Dalam mempertimbangkan berat ringannya hukuman, hakim wajib memberhatikan
pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa. Berdasarkan ketentuan ini maka dalam
menentukan berat ringannya hukuman yang akan dijatuhkan hakim wajib
memperhatikan sifat baik atau sifat jahat dari terdakwa sehingga putusan yang
dijatuhkan setimpal dan adil sesuai dengan kesalahannya (pasal 28 ayat 2).

Dengan demikian tugas hakim adalah melaksanakan semua tugas yang menjadi
tanggung jawabnya untuk memberikan kepastian hukum semua perkara yang masuk,
baik perkara tersebut telah di atur dalam undang-undang maupun yang tidak terdapat
dalam ketentuannya. Di sini terlihat dalam menjalankan tanggung jawabnya, hakim
harus bersifat objektif, karena merupakan fungsionaris yang ditunjuk undang undang
untuk memeriksa dan menggali perkara dengan penilaian yang objektif pula, karena
harus berdiri di atas kedua belah pihak yang berperkara dan tidak boleh memihak salah
satu pihak.

Pada artikel diatas, 3 hakim kasus peradilan Jessica Kumala Wongso yakni Kisworo,
Binsar Gultom, dan Partahi Tulus Hutapea dilaporkan ke Komisi Yudisial karena tidak
menjalankan peran yang sesuai dengan ketentuan hukum, ketiganya menyatakan
bahwa bukti yang ada dalam kasus pembunuhan Mirna sudah benar dan digunakan
untuk memvonis Jessica selaku tersangka, padahal bukti tersebut belum dinyatakan
benar oleh pihak ahli. Hal tersebut melanggar kode etik dan pelanggaran pedoman
perilaku hakim karena idealnya hakim harus memegang asas praduga tidak bersalah
dalam suatu kasus pengadilan dan tidak mengintimidasi.