Anda di halaman 1dari 8

Tugas PPKN XII MIPA 5

Kelompok 4

Anggota :

Amrita Deviayu Tunjungbiru (7)

Delvino Ananta (11)

Hagea Sofia Adninda Imanisla (17)

Muhammad Rayhanafraa Gibran Maulana (23)

Muhammad Syarief Nur Hakim (24)

Nasywa Aqilah Putri (28)

Ransi Raihan Majesta (33)


Tugas Kelompok:

Dari dua kasus terlampir, lakukan analisis yang berkaitan dengan hal-hal sebagai
berikut :

A. Faktor penyebab terjadinya dua kasus tersebut


B. Jenis pelanggaran hukum yang dilakukan
C. Ketentuan perundang-undangan yang dilanggar
D. Sanksi yang kemungkinan akan diterima pelaku
E. Solusi untuk mencegah terulangnya kasus tersebut

A.​ K
​ asus Konsultan Bangkrut Cetak Uang Palsu

a. Faktor Penyebab Terjadinya Kasus Tersebut

Motif yang menyebabkan terjadinya kasus pertama dengan ​headline ‘Konsultan


Bangkrut Cetak Uang Palsu’ disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya
sebagai berikut:

1. Faktor ekonomi​, karena kondisi ekonomi pelaku yang cukup memprihatinkan


bahkan dapat mengancam keberlangsungan hidup keluarganya dan juga ia
seorang diri. Dapat dilihat dari pengakuannya pada teks, yaitu

HT, bapak dua anak menjelaskan, dirinya sedang dalam kondisi bangkrut
pasca tidak lagi menjadi dosen serta sepinya order proyek sebagai
konsultan.

2. Faktor pengetahuan​, karena kurangnya pengetahuan juga wawasan yang


sempit pula, pelaku tidak memahami aturan hukum yang berlaku seutuhnya,
sehingga ia melakukan hal tersebut. Dapat diliat dari pengakuannya dalam
teks, yaitu

Menurutnya, aksi ini baru dilakukan satu bulan terakhir. “Saya tidak punya
niat untuk kaya dari cetak uang palsu. Saya hanya butuh uang untuk bisa
makan dan beli rokok,” ucapnya.
b. Jenis Pelanggaran Hukum yang Dilakukan

Jenis pelanggaran hukum yang dilakukan pada kasus ini adalah


penyalahgunaan uang palsu. Tersangka melakukan penyalahgunaan ini
dengan cara membuat uang palsu. Hal ini tertera pada teks:

“Seorang konsultan diamankan petugas Polsek Parung karena diduga


membuat uang palsu. HT (48) dan istrinya TW (39) diamankan, Rabu (19/10)
petang saat akan membeli rokok menggunakan uang pecahan Rp 5.000 palsu
di sebuah warung rokok di daerah Parung, Kabupaten Bogor.”

c. Ketentuan Perundang-Undangan yang Dilanggar

Berdasarkan aturan hukum yang berlaku, pelaku telah melanggar UU nomor 7


tahun 2011 tentang Mata Uang memuat regulasi dan Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP) pasal 36 ayat (1),(2), dan (3) yang keduanya berbunyi
sebagai berikut:

1. UU nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang memuat regulasi, yang berisi:
1) Pengaturan mengenai Rupiah secara fisik, yakni mengenai macam dan
harga, ciri, desain, serta bahan baku Rupiah;
2) Pengaturan mengenai Pengelolaan Rupiah sejak Perencanaan,
Pencetakan, Pengeluaran, Pengedaran, Pencabutan dan Penarikan,
serta Pemusnahan Rupiah;
3) Pengaturan mengenai kewajiban penggunaan Rupiah, penukaran
Rupiah, larangan, dan pemberantasan Rupiah Palsu; dan
4) Pengaturan mengenai ketentuan pidana terkait masalah penggunaan,
peniruan, perusakan, dan pemalsuan Rupiah.
5)
2. Pasal 36 ayat (1), (2), dan (3) Pasal KUHP tentang Perbuatan Tindak
Pidana yang Berkelanjutan, yang berisi:
1) Setiap orang yang memalsu Rupiah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 26 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan pidana denda paling banyak Rp10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah).
2) Setiap orang yang menyimpan secara fisik dengan cara apa pun yang
diketahuinya merupakan Rupiah Palsu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 26 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan pidana denda paling banyak Rp10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah).
3) Setiap orang yang mengedarkan dan/atau membelanjakan Rupiah yang
diketahuinya merupakan Rupiah Palsu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 26 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp50.000.000.000,00
(lima puluh miliar rupiah)

d. Sanksi yang Kemungkinan Akan Diterima Pelaku

Pelaku telah melanggar Undang Undang Republik Indonesia nomor 7 tahun


2011 tentang mata uang dalam pasal 26 yang berbunyi sebagai berikut:

Pasal 26 (1) Setiap orang dilarang memalsu Rupiah. (2) Setiap orang dilarang
menyimpan secara fisik dengan cara apa pun yang diketahuinya merupakan
Rupiah Palsu. (3) Setiap orang dilarang mengedarkan dan/atau
membelanjakan Rupiah yang diketahuinya merupakan Rupiah Palsu. (4)
Setiap orang dilarang membawa atau memasukkan Rupiah Palsu ke dalam
dan/atau ke luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. (5) Setiap
orang dilarang mengimpor atau mengekspor Rupiah Palsu.

Sanksi yang dapat dijatuhkan kepada pelaku dapat berupa:

● Penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimal 10 milyar bagi pelaku


pemalsu uang
● Penjara maksimal 15 tahun dan denda maksimal 50 milyar bagi
pengedar/pengguna uang palsu
e. Solusi untuk Mencegah Terulangnya Kasus Tersebut

Untuk mencegah terulangnya kasus ini, masyarakat harus memiliki


pengetahuan tentang bahaya pemalsuan uang dan mengapa pencetakan
uang harus dilakukan secara legal dan dikelola sebagaimana mestinya juga
uang tidak dapat diproduksi besar besaran. Masyarakat juga perlu memiliki
pengetahuan akan persiapan ekonomi untuk hari esok dan hal hal yang tidak
diinginkan sehingga masih memiliki cukup materi untuk bertahan hidup.
Pemerintah pun sebaiknya memperketat dan mendata uang yang dicetak
sehingga ketidaksamaan data dapat langsung diselidiki.

B.​ K
​ asus Berniat Jual Ganja, ABK Diringkus Polisi di Penjaringan

a. Faktor Penyebab Terjadinya Kasus Tersebut

Motif yang menyebabkan terjadinya kasus kedua dengan ​headline ‘Berniat


Jual Ganja, ABK Diringkus polisi di Penjaringan’ disebabkan oleh beberapa
faktor, diantaranya sebagai berikut

1. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Sehingga pelaku


dapat dengan bebas melakukannya dan dijerat pasal tentang Pengedaran
Narkoba atas perbuatannya. Dalam teks melampirkan:

“R membeli ganja dengan nilai Rp2,5 juta dari bandar. Rencananya ganja
akan dijual di atas kapal ikan. Adapun R mengonsumsi ganja itu karena
harus berada di laut mencari ikan selama dua bulan ini.”

2. Kelalaian aparat penegak hukum yang bisa menangani kasus ini lebih
cepat. Kasus ini baru dapat dipecahkan dalam waktu yang cukup lama
dan sudah berkelanjutan selama dua tahun, padahal jika aparat penegak
hukum bisa menangani kasus ini lebih cepat, tidak akan ada banyak
masyarakat yang membeli dan mengedarkan daun ganja. Dari teks
tersebut melampirkan:
“Tersangka kemudian diamankan ke Polsek Penjaringan. Sudah sekitar
dua tahun lebih tersangka mengedarkan daun ganja dank arena
tersangka pulang dua bulan sekali berlayar mencari ikan di Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE) jadi susah ditangkap.”

b. Jenis Pelanggaran Hukum yang Dilakukan

Jenis pelanggaran hukum yang dilakukan pada kasus ini adalah


penyalahgunaan narkoba. Hal ini dilakukan oleh tersangka dengan menjual
daun ganja kering di atas kapal. Tersangka ditangkap setelah polisi
menemukan bukti berupa daun ganja kering yang dibungkus dengan kertas
koran. Penyalahgunaan narkoba ini tertera dalam artikel:

“Seorang anak buah kapal (ABK) yang berniat menjual daun ganja kering di
atas kapal ikan, sebelum akan berangkat naik kapal untuk menangkap ikan
tuna diringkus anggota Kepolisian Polsek Penjaringan.”

c. Ketentuan Perundang-Undangan yang Dilanggar

Berdasarkan aturan hukum yang berlaku, pelaku telah melanggar UU RI


nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP) pasal 36 ayat (1),(2), dan (3) yang keduanya berbunyi sebagai
berikut:

​ U RI No. 35 Th 2009 ​tentang Narkotika memiliki tujuan untuk:


1.​ U

1) Menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan


kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
2) Mencegah, melindungi, dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari
penyalahgunaan Narkotika;
3) Memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;
dan
4) Menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi
Penyalahguna dan pecandu Narkotika.
2.​ P
​ asal 114 tentang Pengedaran Narkoba, yang berisi

“Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk
dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli,
menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I, dipidana dengan
pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima)
tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling
sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).”

d. Sanksi yang Kemungkinan Akan Diterima Pelaku

Pelaku telah melanggar Undang Undang nomor 35 tahun 2009 tentang


Narkotika yang berbunyi sebagai berikut:

Kategori pertama, yakni perbuatan-perbuatan berupa memiliki, menyimpan,


menguasai atau menyediakan narkotika dan prekursor narkotika (Pasal 111
dan 112 untuk narkotika golongan I, Pasal 117 untuk narkotika golongan II dan
Pasal 122 untuk narkotika golongan III serta Pasal 129 huruf (a)); 2. Kategori
kedua, yakni perbuatan-perbuatan berupa memproduksi, mengimpor,
mengekspor, atau menyalurkan narkotika dan precursor narkotika (Pasal 113
untuk narkotika golongan I, Pasal 118 untuk narkotika golongan II, dan Pasal
123 untuk narkotika golongan III serta Pasal 129 huruf(b)); 3. Kategori ketiga,
yakni perbuatan-perbuatan berupa menawarkan untuk dijual, menjual,
membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau
menyerahkan narkotika dan prekursor narkotika (Pasal 114 dan Pasal 116
untuk narkotika golongan I, Pasal 119 dan Pasal 121 untuk narkotika golongan
II, Pasal 124 dan Pasal 126 untuk narkotika golongan III serta Pasal 129
huruf(c)); 4. Kategori keempat, yakni perbuatan-perbuatan berupa membawa,
mengirim, mengangkut atau mentransit narkotika dan prekursor narkotika
(Pasal 115 untuk narkotika golongan I, Pasal 120 untuk narkotika golongan II
dan Pasal 125 untuk narkotika golongan III serta Pasal 129 huruf (d))
Sanksi yang dapat dijatuhkan kepada pelaku dapat berupa:

● Penjara minimal 5 tahun maksimal 20 tahun, atau bisa dijerat dengan


hukuman mati bagi pelaku pengedar narkoba.
● Penjara empat sampai lima tahun dan denda mencapai Rp 800 juta bagi
pengguna narkoba

e. Solusi untuk Mencegah Terulangnya Kasus Tersebut

Solusi untuk mencegah terulangnya kasus tersebut adalah ​perlu diadakannya


penyuluhan secara berkala dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Meningkatkan kualitas pendidikan dimaksudkan agar terbentuknya kesadaran
diri pada masyarakat untuk tidak melanggar hukum. Pemerintah juga perlu
memperketat pengawasan serta meminimalisir kesenjangan yang ada di
masyarakat, sehingga setiap masyarakat Indonesia dapat lebih mudah
mengenali agar tidak berbuat seperti kasus tersebut.