Anda di halaman 1dari 26

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMK KARYA BHAKTI BREBES


Kelas / Semester :X/1
Mata Pelajaran : PPKn
Tema : Upaya Pemajuan, Penghormatan, dan Penegakan HAM
Pertemuan ke- : 1 s.d 5
Alokasi Waktu : 10 x 45 menit

A. Kompetensi Dasar
3.1 Menganalisis kasus-kasus pelanggaran HAM dalam rangka pelindungan dan pemajuan HAM sesuai
dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

4.1 Menyaji kasus–kasus pelanggaran HAM dalam rangka perlindungan dan pemajuan HAM sesuai dengan
nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


3.1 Menganalisis kasus-kasus pelanggaran HAM dalam rangka pelindungan dan pemajuan HAM sesuai
dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

4.1 Menyaji kasus–kasus pelanggaran HAM dalam rangka perlindungan dan pemajuan HAM sesuai dengan
nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

C. Tujuan Pembelajaran
1. Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa menghayati nilai-nilai ajaran agama dan kepercayaan dalam
kehidupan bermasyarakat.
2. Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa dapat menghayati nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
3. Setelah menelaah teks tentang kasus-kasus pelanggaran HAM siswa dapat menganalisis kasus-kasus
pelanggaran HAM dalam rangka pelindungan dan pemajuan HAM sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
4. Setelah menganalisis teks tentang kasus-kasus pelanggaran HAM, siswa dapat menyajikan kasus–kasus
pelanggaran HAM dalam rangka perlindungan dan pemajuan HAM sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

D. Materi Pembelajaran
1. Pengertian HAM
2. Macam HAM
3. Kasus-kasus pelanggaran HAM
4. Perlindungan dan pemajuan HAM

E. Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Diskusi
4. Inquiri
5. Penugasan

F. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan 1

Kegiatan Deskripsi Alokasi Waktu


A. Pendahuluan 1. Siswa menjawab sapaan guru, berdoa, dan mengondisikan diri 10 menit
siap belajar.
2. Siswa bertanya jawab berkaitan dengan teks anekdot yang
telah dibuat.
3. Siswa menyimak menyampaikan tujuan pembelajaran dan
memberikan penjelasan tentang manfaat menguasai materi
pembelajaran.
4. Siswa memperhatikan penyampaikan pokok-pokok/cakupan
materi pem-belajaran.

B. Inti Mengamati 15 menit


 Membaca berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia dari
berbagai literatur dan media cetak
Kegiatan Deskripsi Alokasi Waktu
 Mengamati berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi
dilingkungan masyarakat sekitar
 Mendengar, melihat dan menyimak berbagai kasus
pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia dari berbagai
sumber
Menanya
 Menanyakan contoh- contoh kasus pelanggaran HAM yang
terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan 10 menit
bernegara
Mengeksperimenkan/mengeksplorasi-kan
 Menentukan sumber data akurat yang ada di lingkungannya
berkaitan dengan kasus-kasus pelanggaran HAM
 Mengumpulkan data dari berbagai sumber termasuk media
cetak dan elektronik tentang kasus pelanggaran HAM di
Indonesia
15 menit
Mengasosiasikan
 Mencari hubungan pelanggaran HAM dengan aspek sosial
budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia
 Menganalisis hasil temuannya berkaitan dengan kasus
pelanggaran HAM di Indonesia
Mengkomunikasikan
 Mempresentasikan berbagai kasus pelanggaran HAM di
15 menit
wilayahnya berdasarkan hasil temuannya di lapangan
 Menyampaikan hasil temuan tentang kasus pelanggaran HAM
dalam bentuk lisan, tulisan, gambar atau media lainnya

15 menit
C. Penutup 1. Siswa menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari. 10 menit
2. Siswa merenungkan aktivitas pembelajaran yang telah
dilaksanakan dengan mengisi lembar internalisasi sikap
berkaitan dengan kemampuan menganalisis kasus-kasus
pelanggaran HAM dalam rangka pelindungan dan pemajuan
HAM sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3. Siswa merefleksi penguasaan materi yang telah dipelajari
dengan membuat catatan penguasaan materi.
4. Siswa mengerjakan evaluasi.
5. Siswa saling memberikan umpan balik hasil evaluasi
pembelajaran yang telah dicapai.
6. Siswa menyepakati tugas yang harus dilakukan berkaitan
dengan mencari teks tentang kasus-kasus pelanggaran HAM

G. Media dan Sumber Belajar


1. Media: LCD, Laptop, Teks Kasus-kasus pelanggaran HAM
2. Sumber belajar
Malian, Sobirin,. Marzuki, Suparman. (2003). Pendidikan Kewarganegaraan dan HAM. Yogyakarta: UII
Press.
Tim ICCE UIN. (2003). Pendidikan Kewargaan, Demokrasi, HAM, Masyarakat Madani. Jakarta: Prenada
Media.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Bandung: Citra
Umbara.
http://elsam.minihub.org/kkr/Trisakti.html,

H. Penilaian Proses dan Hasil Belajar


1. Teknik : Tertulis
2. Bentuk : Isian
Instrumen

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d atau e pada jawaban yang paling tepat !
1. Hak adalah kewenangan untuk ….
a. menyatakan pendapat
b. mengatur orang lain
c. mencapai tujuan
d. merealisasikan diri
e. melakukan tindakan tertentu
2. Hak asasi adalah ….
a. kebebasan berpendapat
b. kebebasan bertindak
c. kebebasan merealisasikan diri
d. hak dasar bersifat kodrati
e. hak dasar yang sering dilanggar
3. Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada martabat manusia sebagai insane ciptaan Allah Yang Maha
Esa, seperti hak hidup keselamatan, kebebasan, dan kesamaan yang sifatnya tidak boleh dilanggar oleh siapa
pun dan yang seolah-olah merupakan suatu holy area. Pendapat tersebut dikemukakan oleh ....

a. John Locke
b. Jan Materson
c. Miriam Budiardjo
d. Darji Darmodiharjo
e. Prof. Oemar Seno Adji, S.H.

4. Hak hidup, hak kebebasan menyatakan pendapat, menikah, kebebasan memeluk agama, kebebasan bergerak
termasuk hak ....
a. Personal Rights
b. Property Rights
c. Rights of Legal Equality
d. Political Rights
e. Social and Cultural Rights,
5. Sidang Umum PBB tanggal 10 Desember 1948 di Paris di bawah pimpinan Ny. Roosevelt
memutuskan :”Universal Declaration of Human Rights (Pernyaataan Sejagat HAM atau DUHAM (Dokumen
Umum HAM)),” yang terdiri dari ....
a. 35 pasal
b. 40 pasal
c. 30 pasal
d. 50 pasal
e. 14 pasal

6. Di era Soekarno hanya satu konvensi HAM yang disahkan, yaitu ....
a. Hak Politik Wanita
b. Hak Berorganisasi dan berunding
c. Pengupahan bagi laki-laki dan Perempuan
d. Diskriminasi Terhadap Perempuan
e. Menentang Apartheid dalam olahraga

7. Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial Dan Budaya disahkan dengan ....
a. UU No. 11/ 2005
b. UU No. 12/ 2005
c. UU No. 26/ 2000
d. UU No. 23/ 2004
e. UU No 39/ 1999
8. Salah seorang pencetus pemikiran modern mengenai HAM di Indonesia adalah….
a. Soekiman
b. R. A.Kartini
c. Moh Yamin
d. Moh Hatta
e. Ir. Soekarno
9. Yang dimaksud dengan instrument HAM adalah ….
a. Ketentuan-ketentuan tentang HAM
b. Hakim HAM
c. Aparat Penegah Hukum
d. Perangkat hokum HAM
e. Lembaga Peradilan HAM
10. Instrumen HAM Internasional mengenai hak Sipil dan Politik adalah ….
a. Magna Charta Libertarum
b. Hobeas Corpus Act
c. ICCPR
d. ICESCR
e. UDHR

I. Kunci Jawaban dan Penskoran


1. E
2. D
3. E
4. A
5. E
6. A
7. A
8. D
9. D
10. C

Skor Penilaian
Soal betul nilai 1 skor makimal 10 dikalikan 10 = 100
Panduan Internalisasi Sikap
Kondisi yang Dicapai
No. Nilai Sikap/Karakter yang Diamati
Ya Belum
A Sikap Ketuhanan
menghayati nilai-nilai ajaran agama dan kepercayaan dalam
kehidupan bermasyarakat.
B. Sikap Sosial
1. Jujur
2. Teliti
3. Tanggung jawab
4. Santun
5. Menghargai pendapat teman
6. Ekspresif

J. Tugas
1. Mengumpulkan data dari berbagai sumber tentang berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia
2. Diskusi kelompok membahas hasil pengamatan
3. Membuat laporan hasil pengamatan
4. Mempresentasikan hasil laporan di depan kelas
5. (format presentasi terlampir)

Pertemuan 2
Kegiatan Deskripsi Alokasi Waktu
A. Pendahuluan 1. Siswa menjawab sapaan guru, berdoa, dan mengondisikan diri
siap belajar. 10 menit
2. Siswa bertanya jawab berkaitan dengan teks anekdot yang telah
dibuat.
3. Siswa menyimak menyampaikan tujuan pembelajaran dan
memberikan penjelasan tentang manfaat menguasai materi
pembelajaran.
4. Siswa memperhatikan penyampaikan pokok-pokok/cakupan
materi pem-belajaran.
B. Inti Mengamati 15 menit
 Membaca berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia dari
berbagai literatur dan media cetak
 Mengamati berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi
dilingkungan masyarakat sekitar
 Mendengar, melihat dan menyimak berbagai kasus
pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia dari berbagai
sumber 10 menit
Menanya
 Menanyakan contoh- contoh kasus pelanggaran HAM yang
terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara 15 menit
Mengeksperimenkan/mengeksplorasi-kan
 Menentukan sumber data akurat yang ada di lingkungannya
berkaitan dengan kasus-kasus pelanggaran HAM
 Mengumpulkan data dari berbagai sumber termasuk media
cetak dan elektronik tentang kasus pelanggaran HAM di
Indonesia 15 menit
Mengasosiasikan
 Mencari hubungan pelanggaran HAM dengan aspek sosial
budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia
 Menganalisis hasil temuannya berkaitan dengan kasus
pelanggaran HAM di Indonesia
Mengkomunikasikan
 Mempresentasikan berbagai kasus pelanggaran HAM di
wilayahnya berdasarkan hasil temuannya di lapangan
 Menyampaikan hasil temuan tentang kasus pelanggaran HAM
dalam bentuk lisan, tulisan, gambar atau media lainnya
C. Penutup 1. Siswa menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari. 10 menit
2. Siswa merenungkan aktivitas pembelajaran yang telah
dilaksanakan dengan mengisi lembar internalisasi sikap
berkaitan dengan kemampuan menganalisis kasus-kasus
pelanggaran HAM dalam rangka pelindungan dan pemajuan
HAM sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3. Siswa merefleksi penguasaan materi yang telah dipelajari
dengan membuat catatan penguasaan materi.
4. Siswa mengerjakan evaluasi.
5. Siswa saling memberikan umpan balik hasil evaluasi
pembelajaran yang telah dicapai.
6. Siswa menyepakati tugas yang harus dilakukan berkaitan
dengan mencari teks tentang kasus-kasus pelanggaran HAM

Evaluasi
1. Instrumen HAM Internasional mengenai hak ekonomi, social dan budaya adalah ….
a. Magna Charta Libertarum
b. Hobeas Corpus Act
c. ICCPR
d. ICESCR
e. UDHR
2. Berikut ini merupakan contoh HAM di bidang kehidupan sipil dan politik kecuali ....
a. Hak untuk memperoleh pekerjaan
b. Hak untuk hidup
c. Hak untuk kebebasan dari penyiksaan
d. Hak untuk kesamaan di muka pengadilan
e. Hak untuk kebebasan berpikir dan berpendapat
3. Mahkamah Internasional mengadili pelanggaran HAM di bawah ini kecuali kejahatan ....
a. Agresi
b. Perang
c. Kemanusiaan
d. Genosida
e. Terorisme
4. Contoh pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara terhadap warga negaranya adalah kasus ....
a. Poso
b. DOM di Aceh
c. Marsinah
d. Lombok
e. Ambon
5. Penyiksaan, perkosaan, pembunuhan dan penghamilan paksa termasuk pelanggaran HAM berat dalam
kategori kejahatan ....
a. Kemanusiaan
b. Genosida
c. Agresi
d. Humaniter
e. perang
6. Pelanggaran HAM berat berupa kejahatan terhadap kemanusiaan antara lain politik aparteid. Arti politik
aparteid adalah ....
a. diskriminasi antara pria dan wanita
b. diskriminasi ras kulit putih dengan kulit hitam
c. penyiksaan terhadap buruh pada suatu perusahaan
d. memecah belah bangsa tertentu
e. pembatasan hak wanita dalam pemerintahan
7. Keterwakilan perempuan dalam lembaga legeslatif sebesar 30% dari seluruh anggota legeslatif, menunjukkan
bahwa telah terjadi perlindungan HAM di bidang ....
a. procedural rights
b. personal rights
c. political rights
d. property rights
e. rights of legal equality
8. Kebangkitan nasional yang ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 melahirkan
tuntutan HAM di bidang ....
a. bebas berhubungan dengan negara lain
b. kebebasan untuk menentukan nasib sendiri
c. persamaan hak antara pria dan wanita
d. persatuan seluruh bangsa dan tanah air
e. bebas dari penjajah asing
9. Berikut ini adalah kebebasan yang dikemukakan oleh F.D Roosevelt kecuali ....
a. kebebasan dari penyiksaan
b. kebebasan beragama
c. kebebasan dari rasa takut
d. kebebasan dari kemiskinan
e. kebebasan berpendapat
10. Bagi seorang tersangka dan terdakwa dalam perkara pidana berhak mendapat perlindungan hukum dan
didampingi penasihat hukum. Pernyataan tersebut menunjukkan contoh hak asasi manusia dalam
bentuk ....
a. procedural rights
b. personal rights
c. political rights
d. property rights
e. rights of legal equality

A. Essay
Jawablah soal berikut secara jelas!
1. Jelaskan pengertian HAM menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999!
2. Klasifikasikan macam HAM dan Kewajiban Asasi Manusia (KAM) secara umum berikut implementasikan
dengan pasal yang menjamin perlindungan HAM pada UUD 1945!
3. Uraikan perkembangan HAM pada era Presiden Soekarno!
4. Uraikan pengertian pelanggaran HAM menurut UU Nomor 26 Tahun 2000!
5. Berikan contoh pelanggaran HAM berat!

J. Kunci Jawaban dan Penskoran


Kunci Jawaban Terlampir

Skor Penilaian
 Untuk pilihan Ganda skor betul dinilai 1 salah nilai nol
 Untuk uraian skor per item 4 jadi skor total untuk esay 20
 Skor total adalah skor pilihan ganda ditambah essay dibagi 3

Panduan Internalisasi Sikap


Kondisi yang Dicapai
No. Nilai Sikap/Karakter yang Diamati
Ya Belum
A Sikap Ketuhanan
menghayati nilai-nilai ajaran agama dan kepercayaan dalam
kehidupan bermasyarakat.

B. Sikap Sosial
1. Jujur
2. Teliti
3. Tanggung jawab
4. Santun
5. Menghargai pendapat teman
6. Ekspresif

J. Tugas
1. Carilah teks kasus-kasus pelanggaran HAM kemudian analisislah struktur yang terdapat di dalamnya.

Pertemuan 3
Kegiatan Deskripsi Alokasi Waktu
Pendahuluan 1. Siswa menjawab sapaan guru, berdoa, dan mengondisikan diri
siap belajar. 10 menit
2. Siswa bertanya jawab berkaitan dengan teks anekdot yang
telah dibuat.
3. Siswa menyimak menyampaikan tujuan pembelajaran dan
Kegiatan Deskripsi Alokasi Waktu
memberikan penjelasan tentang manfaat menguasai materi
pembelajaran.
4. Siswa memperhatikan penyampaikan pokok-pokok/cakupan
materi pem-belajaran.
B. Inti Mengamati 15 menit
 Membaca berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia dari
berbagai literatur dan media cetak
 Mengamati berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi
dilingkungan masyarakat sekitar
 Mendengar, melihat dan menyimak berbagai kasus pelanggaran
HAM yang terjadi di Indonesia dari berbagai sumber
Menanya
 Menanyakan contoh- contoh kasus pelanggaran HAM yang terjadi
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
Mengeksperimenkan/mengeksplorasi-kan 10 menit
 Menentukan sumber data akurat yang ada di lingkungannya
berkaitan dengan kasus-kasus pelanggaran HAM
 Mengumpulkan data dari berbagai sumber termasuk media cetak
dan elektronik tentang kasus pelanggaran HAM di Indonesia
Mengasosiasikan
 Mencari hubungan pelanggaran HAM dengan aspek sosial budaya
dalam kehidupan masyarakat Indonesia
15 menit
 Menganalisis hasil temuannya berkaitan dengan kasus
pelanggaran HAM di Indonesia
Mengkomunikasikan
 Mempresentasikan berbagai kasus pelanggaran HAM di
wilayahnya berdasarkan hasil temuannya di lapangan
 Menyampaikan hasil temuan tentang kasus pelanggaran HAM
dalam bentuk lisan, tulisan, gambar atau media lainnya
15 menit

15
C, Penutup 1. Siswa menyimpulkan materi pembelajaran yang telah 10 menit
dipelajari.
2. Siswa merenungkan aktivitas pembelajaran yang telah
dilaksanakan dengan mengisi lembar internalisasi sikap
berkaitan dengan kemampuan menganalisis kasus-kasus
pelanggaran HAM dalam rangka pelindungan dan pemajuan
HAM sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3. Siswa merefleksi penguasaan materi yang telah dipelajari
dengan membuat catatan penguasaan materi.
4. Siswa mengerjakan evaluasi.
5. Siswa saling memberikan umpan balik hasil evaluasi
pembelajaran yang telah dicapai.
6. Siswa menyepakati tugas yang harus dilakukan berkaitan
dengan mencari teks tentang kasus-kasus pelanggaran HAM

K. Penilaian
1. Dalam sejarah terbukti bahwa faham chauvinisme mendorong terjadinya pelanggaran HAM berupa ....
B. Penghinaan terhadap martabat manusia
C. Penyerangan terhadap bangsa dan negara lain
D. Pelarangan untuk memeluk agama tertentu
E. Penghapusan terhadap seluruh etnis tertentu di suatu negara
F. Pembunuhan terhadap bayi dan anak wanita
2. Hambatan dalam penegakan HAM di Indonesia antara lain ....
A. Masyarakat tidak berkeinginan untuk menegakkan keadilan
B. Tingkat kehidupan sosial ekonomi yang belum seimbang
C. Peraturan hukum yang masih peninggalan penjajah
D. Sistem penegakan hukum belum sempurna
E. Moralitas sebagian oknum aparat yang masih rendah
3. Upaya mengajukan permohonan banding ke pengadilan tinggi merupakan hak bagi ....
A. terdakwa agar terlepas dari segala sanksi hukum
B. para pihak agar hak asasinya terlindungi
C. jaksa agar tuntutan hukum sesuai yang diajukan
D. pihak yang merasa belum puas atas putusan hakim
E. hakim agar hasil putusannya lebih melindungi hak asasi
4. Tantangan dalam menegakkan HAM adalah mewujudkan prinsip-prinsip sebagai berikut kecuali ....
A. Keseimbangan
B. Universalitas
C. Indivisibility
D. Nonselektifitas
E. Legalitas
5. Proses penegakan HAM di setiap negara dipengaruhi oleh ....
A. kemajuan sosial ekonomi masyarakat
B. besar kecilnya paksaan negara lain
C. corak pandangan hidup masyarakat
D. usia kemerdekaan suatu negara
E. komitmen negara pada piagam PBB
6. Arti Prinsip Presumption of innoncent adalah ….
a. Seseorang tidak dinyataakan bersalah sebelum diketemukan bukti yang kuat
b. Seseorang tidak boleh menghilangkan barang bukti untuk mengindari pengadilan
c. Seseorang tidak dinyatakan bersaalah sebelum ada keputusan pengadilan
d. Setiap orang tidak akan dijatuhi hukuman bila peraturan hukum kadaluarsa
e. Setiap orang tidak boleh menjalani pemeriksaan di pengadilan tanpa didampingi pengacara
7. Berikut ini merupakan hukum kebiasaan internasional mengenai HAM, kecuali ….
a. Hukuman seumur hidup
b. Pembantaian missal
c. Perbudakan dan perdagangan manusia
d. Penyiksaan
e. Diskriminasi
8. Sebelum lahirnya deklarasi universal HAM terlebih dulu sudah ada naskah HAM, di antaranya adalah ….
a. Piagam HAM
b. Magna Charta dan Bill of Rights
c. Statuta Roma
d. Konvensi Jenewa
e. Statuta Roma dan Konvensi Jenewa
9. Berdasarkan putusan pengadilan kejahatan internasional, Slobodon Milosevic mendapat tuduhan sebagai
penjahat perang dalam kasus ….
a. Ekstra Ordinary Crimes
b. Terorisme Crimes
c. White Color Crimes
d. Cyber Crimes
e. Crimes Against Humanity
10. Kedudukan International Criminal Court berada di ....
a. Roma
b. Den Haag
c. Jenewa
d. New York
e. Madrid
Essay
1. Uraikan sanksi internasional terhadap negara yang melakukan pelanggaran HAM!
2. Uraikan tujuan dibentuk KOMNAS HAM!
3. Sebutkan pelanggaran HAM internasional!
4. Uraikan bentuk partisipasi masyarakat dalam perlindungan dan penegakan HAM di Indonesia
berdasarkan UU No. 39 Tahun 1999!
5. Sebutkan contoh HAM dalam kovenan internacional tentang hak-hak sipil dan politik!

L. Kunci Jawaban dan Penskoran

Skor Penilaian
Panduan Internalisasi Sikap
Kondisi yang Dicapai
No. Nilai Sikap/Karakter yang Diamati Ya Belum
A Sikap Ketuhanan
menghayati nilai-nilai ajaran agama dan kepercayaan dalam
kehidupan bermasyarakat.

B. Sikap Sosial
1. Jujur
2. Teliti
3. Tanggung jawab
4. Santun
5. Menghargai pendapat teman
6. Ekspresif

J. Tugas
1. Carilah teks kasus-kasus pelanggaran HAM kemudian analisislah struktur yang terdapat di dalamnya.

Pertemuan 4
Kegiatan Deskripsi Alokasi Waktu
Pendahuluan 5. Siswa menjawab sapaan guru, berdoa, dan mengondisikan diri
siap belajar. 10 menit
6. Siswa bertanya jawab berkaitan dengan teks anekdot yang telah
dibuat.
7. Siswa menyimak menyampaikan tujuan pembelajaran dan
memberikan penjelasan tentang manfaat menguasai materi
pembelajaran.
8. Siswa memperhatikan penyampaikan pokok-pokok/cakupan
materi pem-belajaran.

B. Inti Mengamati 15 menit


 Membaca berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia dari
berbagai literatur dan media cetak
 Mengamati berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi
dilingkungan masyarakat sekitar
 Mendengar, melihat dan menyimak berbagai kasus
pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia dari berbagai
sumber
Menanya
 Menanyakan contoh- contoh kasus pelanggaran HAM yang
terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan 10 menit
bernegara

Mengeksperimenkan/mengeksplorasi-kan
 Menentukan sumber data akurat yang ada di lingkungannya
berkaitan dengan kasus-kasus pelanggaran HAM
 Mengumpulkan data dari berbagai sumber termasuk media
cetak dan elektronik tentang kasus pelanggaran HAM di 15 menit
Indonesia

Mengasosiasikan
 Mencari hubungan pelanggaran HAM dengan aspek sosial
budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia
 Menganalisis hasil temuannya berkaitan dengan kasus
pelanggaran HAM di Indonesia
15 menit
Mengkomunikasikan
 Mempresentasikan berbagai kasus pelanggaran HAM di
wilayahnya berdasarkan hasil temuannya di lapangan
 Menyampaikan hasil temuan tentang kasus pelanggaran HAM
dalam bentuk lisan, tulisan, gambar atau media lainnya
15
C. Penutup 1. Siswa menyimpulkan materi pembelajaran yang telah 10 menit
dipelajari.
2. Siswa merenungkan aktivitas pembelajaran yang telah
dilaksanakan dengan mengisi lembar internalisasi sikap
berkaitan dengan kemampuan menganalisis kasus-kasus
pelanggaran HAM dalam rangka pelindungan dan pemajuan
HAM sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3. Siswa merefleksi penguasaan materi yang telah dipelajari
dengan membuat catatan penguasaan materi.
4. Siswa mengerjakan evaluasi.
5. Siswa saling memberikan umpan balik hasil evaluasi
pembelajaran yang telah dicapai.
6. Siswa menyepakati tugas yang harus dilakukan berkaitan
dengan mencari teks tentang kasus-kasus pelanggaran HAM

M. Kunci Jawaban dan Penskoran

Skor Penilaian
Panduan Internalisasi Sikap
Kondisi yang Dicapai
No. Nilai Sikap/Karakter yang Diamati Ya Belum
A Sikap Ketuhanan
menghayati nilai-nilai ajaran agama dan kepercayaan dalam
kehidupan bermasyarakat.

B. Sikap Sosial
1. Jujur
2. Teliti
3. Tanggung jawab
4. Santun
5. Menghargai pendapat teman
6. Ekspresif

J. Tugas
- Mengumpulkan data dari berbagai sumber tentang pemajuan, penghormatan. penegakan dan Pengadilan HAM
di Indonesia
- Diskusi kelompok membahas hasil pengumpulan data
- Membuat laporan hasil pengumpulan data
- Mempresentasikan hasil laporan di depan kelas
(format presentasi terlampir)

1. Observasi
Menilai kegiatan pengamatan dan tanya jawab dengan nara sumber berkaitan upaya penegakkan HAM dan
berbagai tantangannya di Indonesia

2. Portofolio,
penilaian ini digunakan untuk menilai hasil pekerjaan baik individu maupun kelompok tentang upaya penegakkan
HAM dan berbagai tantangannya di Indonesia
(format portofolio terlampir)

3. Tes
digunakan untuk menilai hasil belajar secara individu tentang upaya penegakkan HAM dan berbagai tantangannya di
Indonesia
Pertemuan 5
Kegiatan Deskripsi Alokasi Waktu
B. Pendahuluan 9. Siswa menjawab sapaan guru, berdoa, dan
mengondisikan diri siap belajar. 10 menit
10. Siswa bertanya jawab berkaitan dengan teks anekdot
yang telah dibuat.
11. Siswa menyimak menyampaikan tujuan pembelajaran
dan memberikan penjelasan tentang manfaat menguasai
materi pembelajaran.
12. Siswa memperhatikan penyampaikan pokok-
pokok/cakupan materi pem-belajaran.

B. Inti Mengamati 15 menit


 Membaca berbagai kasus pelanggaran HAM di
Indonesia dari berbagai literatur dan media cetak
 Mengamati berbagai kasus pelanggaran HAM yang
terjadi dilingkungan masyarakat sekitar
 Mendengar, melihat dan menyimak berbagai kasus
pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia dari
berbagai sumber
Menanya
 Menanyakan contoh- contoh kasus pelanggaran HAM
yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, 10 menit
berbangsa dan bernegara

Mengeksperimenkan/mengeksplorasi-kan
 Menentukan sumber data akurat yang ada di
lingkungannya berkaitan dengan kasus-kasus
pelanggaran HAM
 Mengumpulkan data dari berbagai sumber termasuk 15 menit
media cetak dan elektronik tentang kasus pelanggaran
HAM di Indonesia

Mengasosiasikan
 Mencari hubungan pelanggaran HAM dengan aspek
sosial budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia
 Menganalisis hasil temuannya berkaitan dengan kasus
pelanggaran HAM di Indonesia 15 menit
Mengkomunikasikan
 Mempresentasikan berbagai kasus pelanggaran HAM
di wilayahnya berdasarkan hasil temuannya di
lapangan
 Menyampaikan hasil temuan tentang kasus
15 menit
pelanggaran HAM dalam bentuk lisan, tulisan, gambar
atau media lainnya

C. Penutup 10 menit

N. Kunci Jawaban dan Penskoran

Skor Penilaian
Panduan Internalisasi Sikap
Kondisi yang Dicapai
No. Nilai Sikap/Karakter yang Diamati Ya Belum
A Sikap Ketuhanan
menghayati nilai-nilai ajaran agama dan kepercayaan dalam
kehidupan bermasyarakat.

B. Sikap Sosial
1. Jujur
2. Teliti
3. Tanggung jawab
4. Santun
5. Menghargai pendapat teman
6. Ekspresif

J. Tugas
1. Carilah teks kasus-kasus pelanggaran HAM kemudian analisislah struktur yang terdapat di dalamnya.

Brebes, Juli 2013


Mengetahui
Kepala SMK Karya Bhakti Brebes Guru Mata Pelajaran,

NUR HALIMAH, S.H IRMA FATMAWATI, S.H


NIY : NIY :

Lampiran
A. Upaya Pemajuan, Penghormatan, dan Penegakan HAM
1. Pengertian dan macam- macam HAM
a. Pengertian HAM
Istilah yang dikenal di Barat mengenai Hak-hak Asasi Manusia ialah “right of man”, yang
menggantikan istilah “natural right”. Istilah “right of man” ternyata tidak secara otomatis mengakomodasi
pengertian yang mencakup “right of women”. Karena itu istilah “right of man” diganti menjadi istilah “human
right” oleh. Eleanor Roosevelt karena dipandang lebih netral dan universal.
Pengertian HAM dinyatakan dalam beberapa rumusan. Kita dapat memahami pengertian HAM
berdasarkan rumusan para tokoh maupun undang-undang. Pengertian HAM menurut para tokoh adalah
sebagai berikut:
a)John Locke
Pengertian HAM menurut John Locke sebagaimana dikutip oleh Masyhur Effendi, (1994) adalah
hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. Oleh
karenanya, tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat mencabutnya. Hak ini sifatnya sangat
mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia dan merupakan hal kodrati yang tidak bisa
terlepas dari dan dalam kehidupan manusia (Tim ICCE UIN, 2003: 200).

b)Jan Materson-Komisi HAM PBB, Teaching Human Right United Nations)


Hak asasi manusia adalah hak-hak yang pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil
dapat hidup sebagai manusia (Tim ICCE UIN, 2003: 200).

c) Miriam Budiardjo
Menurut Miriam Budiardjo (2007 : 120) hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki manusia yang
telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahiran atau kehadirannya di dalam kehidupan
masyarakat.

d)Darji Darmodiharjo
Menurut Darji Darmodiharjo (1991: 77) Hak-hak asasi manusia adalah hak-hak dasar atau hak-hak
pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak asasi ini menjadi
dasar hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang lain.

e)Prof. Oemar Seno Adji, S.H.


Menurut Prof. Oemar Seno Adji, S.H. sebagaimana dikutip oleh Prof. Mr. Kuntjoro Purbopranoto
(1991: 226), Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada martabat manusia sebagai insane ciptaan
Allah Yang Maha Esa, seperti hak hidup keselamatan, kebebasan, dan kesamaan yang sifatnya tidak boleh
dilanggar oleh siapa pun dan yang seolah-olah merupakan suatu holy area

f) Padmo Wahyono
Hak-hak asasi adalah hak yang memungkinkan orang hidup berdasarkan suatu harkat dan
martabat tertentu (beradab) (Subandi Al Marsudi, 2003: 96).

Pengertian Hak Asasi Manusia juga dirumumuskan dalam peraturan perundang-undangan yaitu
Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pada pasal 1 ayat 1 yang berbunyi:
“Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung
tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia”.
Berdasarkan rumusan tentang pengertian HAM di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa
ciri pokok hakikat HAM yaitu:
1) HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis.
2) HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi.
3) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan
politik atau asal-usul sosial dan bangsa.
4) HAM tidak bisa dilanggar. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum
yang tidak melindungi atau melanggar HAM
(Mansour Fakih, 2003, dalam Tim ICCE UIN, 2003: 202)

b. Macam-macam HAM
Menurut Darji Darmodiharjo (1991: 78) hak asasi manusia meliputi:
1) Hak-hak asasi pribadi atau Personal Rights yang meliputi hak hidup, hak kebebasan menyatakan
pendapat, menikah, kebebasan memeluk agama, kebebasan bergerak.
2) Hak-hak asasi ekonomi atau Property Rights, yang meliputi hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak
untuk memiliki sesuatu, membeli atau menjual serta memanfaatkannya, mendirikan koperasi,
mendirikan perusahaan, melakukan kontrak.
3) Rights of Legal Equality yaitu hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan
pemerintahan, hak mendapatkan perlindungan hukum, hak yang sama untuk menjadi pejabat
pemerintah/PNS, mendapatkan perlakuan hukum yang sama (equality before the law).
4) Hak-hak asasi politik atau Political Rights, yaitu hak untuk ikut serta dalam pemilu, hak mendirikan
partai politik, hak dipilih dan memilih, hak untuk mengadakan kampanye dan hak mengadakan
demonstrasi
5) Hak-hak asasi sosial dan kebudayaan atau Social and Cultural Rights, misalnya
hak untuk mendapatkan pendidikan, hak mengembangkan kebudayaan, hak menikmati hasil
kebudayaan, mendapatkan penghidupan yang layak, jaminan sosial, mendapatkan ansuransi
kesehatan.
6) Hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan atau Procedural
Rights, misalnya Peraturan dalam hal penangkapan, penggeledahan, dan proses peradilan.

Sementara itu dalam UUD 1945 ( setelah amandemen I-IV UUD 1945) memuat hak asasi
manusia yang terdiri dari hak:
1) Hak kebebasan untuk mengeluarkan pendapat
2) Hak kedudukan yang sama di dalam hukum
3) Hak kebebasan berkumpul
4) Hak kebebasan beragama
5) Hak penghidupan yang layak
6) Hak kebebasan berserikat
7) Hak memperoleh pengajaran atau pendidikan
Macam Hak Asasi Manusia menurut UU Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM adalah
sebagai berikut:
1) Hak untuk hidup
2) Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
3) Hak mengembangkan diri
4) Hak memperoleh keadilan
5) Hak atas kebebasan keadilan
6) Hak turut serta dalam pemerintahan
7) Hak atas rasa aman
8) Hak atas kesejahteraan
9) Hak waktu
10) Hak anak

2. Upaya pemerintah dalam menegakan HAM


a) Era Presiden Soekarno
Bagi Indonesia, sebelum Deklarasi HAM 1948 tersebut diterima oleh Majelis Umum PBB, masalah HAM
bukan hal baru. Dalam BPUPKI telah muncul perdebatan antuk memasukkan prinsip-prinsip HAM ke dalam UUD
1945, sebagaimana terpolarisasi dalam perbedaan antara kubu Hatta dan Yamin serta Soekarno dan Soepomo.
Perdebatan itu melahirkan jalan tengah dengan dimasukkannya hak-hak warga negara yang tercantum dalam pasal-
pasal 27, 28, 29, 31,dan 34 UUD 1945.
Sewaktu Indonesia memberlakukan Konstitusi RIS antara tahun 1948 – 1950, ketentuan-ketentuan HAM
juga telah dimasukkan ke dalamnya. Begitu pula waktu Indonesia memberlakukan UUDS antara tahun 1950 – 1959,
ketentuan-ketentuan HAM pun diatur dalam UUDS tersebut. Malahan salah satu keistimewaan UUDS tersebut
mencantumkan hak untuk melakukan demonstrasi dan mogok kerja oleh para buruh sebagai alat memperjuangkan
hak-haknya terhadap majikannya (pasal 21). Namun UUDS tidak jadi diberlakukan karena pada tanggal 5 Juli 1959
Soekarno kembali memberlakukan UUD 1945.
Di masa rezim Soekarno, pelanggaran terhadap HAM secara signifikan banyak sekali terjadi.Hal itu
dimungkinkan berdasarkan Penpres 11/1963 tentang subversi. Penpres tersebut telah membatasi segala gerak dan
kreasi seseorang dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Bergantinya rejim Soekarno ke Soeharto telah
memberikan secercah harapan untuk penegakan dan penghormatan HAM. Hal tersebut dapat dilihat dalam
Keputusan Pimpinan MPRS No 241 B/1967 tanggal 6 Maret 1967 tentang Hasil Kerja Panitia Ad Hoc yaitu
Rancangan Piagam HAM dan Hak serta Kewajiban Warga Negara. Panitia Ad Hoc tersebut dibentuk berdasarkan
TAP XIV / MPRS / 1966. Namun secercah harapan tersebut tidak menjadi kenyataan karena rancangan HAM
tersebut nasibnya sama dengan rancangan UUD baru yang dipersiapkan oleh Dewan Konstituante, yaitu tidak jadi
dibahas pada sidang umum MPRS tahun 1968, dengan alasan bahwa Sidang Umum lebih mengutamakan
pembahasan masalah yang berkaitan dengan rehabilitasi dan konsolidasi nasional setelah terjadinya pemberontakan
G30S/PKI (Suparman Marzuki, 2003: 80).
Di era Soekarno hanya satu konvensi HAM yang disahkan, yaitu Hak Politik Wanita. (Convention on the
Political Rights of Women) dengan UU No. 68/1958. Sedangkan konvensi yang tergolong dalam kategori HAM dan
telah disahkan adalah:
(1) Konvensi Organisasi Ketenagakerjaan Internasional (ILO) seperti Konvensi ILO No. 98 tentang Hak
Berorganisasi dan berunding (ILO Convention No. 98 on Rights to Organize and Collective Bargaining ) dengan
UU No 18/1956.
(2) Konvensi ILO No. 100 tentang Pengupahan bagi laki-laki dan Perempuan Untuk Pekerjaan yang sama Nilainya
(ILO Convention No. 100 on equal remuneration for men and women workers for work of equal value ) dengan
UU No. 80/1957
b) Era Presiden Soeharto
Di masa rejim Soeharto kondisi penghormatan dan pemajuan HAM boleh dikatakan berjalan di tempat,
karena tidak ada hal-hal signifikan yang terjadi, kecuali telah disahkannya 3 Konvensi HAM, yaitu:Diselenggarakan
seminar HAM 1967 yang merekomendasikan gagasan sebagai berikut:
(1) Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Ellimination of all
froms o Discrimination Against Womens) dengan UU No. 7/1984.
(2) Konvensi Internasional Menentang Apartheid dalam olahraga (International Convention against Apartheid in
Sport) dengan Keppres No. 48/1993.
(3) Konvensi Hak Anak (Convention on the Right of the Child) dengan Keppres No. 36/1990.

Dalam kurun waktu 1970 – 1980 pemerintah bersifat defensif terhadap HAM karena:
(1) Anggapan bahwa HAM produk pemikiran barat yang tidak sesuai dengan nilai luhur budaya bangsa yang
tercermin dalam Pancasila.
(2) Anggapan bahwa isu HAM seringkali digunakan oleh negara barat untuk memojokkan Indonesia
(3) HAM sudah dirumuskan dalam UUD 1945 yang lahir lebih dulu dibandingkan dengan Deklarasi HAM universal.
Pada masa pemerintahan Soeharto dibentuk Komisi Nasional HAM (Komnas HAM) berdasarkan Keppres
No 50 Tahun 1993, tanggal 7 Juni 1993. Komnas HAM bertujuan untuk mengembangkan kondisi yang kondusif bagi
pelaksanaan HAM sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, dan Piagam PBB, serta Deklarasi Universal HAM, dan
meningkatkan perlindungan dan penegakan HAM guna berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan
kemampuan berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. Untuk mencapai tujuannya Komnas HAM
melaksanakan fungsi pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi tentang hak asasi manusia.
Dalam praktiknya, pada saat peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto telah terjadi
pelanggaran HAM besar-besaran, yaitu banyak orang dituduh rerlibat G 30S/PKI yang terbunuh tanpa proses
peradilan. Tampaknya, di masa rejim Soeharto penegakan dan penghormatan HAM dikesampingkan dengan dalih
trilogi pembangunan, yaitu untuk tujuan ”stabilitas nasional, pemerataan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang
tinggi (Suparman Marzuki, 2003: 80).

c) Periode 1998 Era Presiden Habibi


Pada masa pemerintahan Habibie yang hanya 15 bulan, penghormatan dan pemajuan HAM telah
menemukan momentumnya dengan Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang HAMdan disyahkannya
sejumlah konvensi HAM, yaitu:
(1) Konvensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan Kejam lainnya (Convention against Torture and Other
Cruek, Inhuman or Degrading or Punishment) dengan UU Nomor 5/1999
(2) Konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial (International on the Elimination of All Form of
Racial Discrimination) dengan UU Nomor 29/1999
(3) Konvensi ILO No.87 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak Untuk Beroganisasi (ILO
Convention No. 87 on Freedom of Association and Protection of the Rights to Organize) dengan Keppres
Nomor 83/1998
(4) Konvensi ILO No. 105 tentang Penghapusan Kerja Paksa (ILO Convention No. 105 on the Abolition of
Forced Labour) dengan UU Nomor 19/1999
(5) Konvensi ILO Nomor 138 tentang Usia Minimun Untuk Diperbolehkan Bekerja(ILO Convention No. 138 on
Minimum Age of Admission to Employment) dengan UU Nomor 20/1999
(6) Konvensi ILO Nomor 111 tentang Diskriminasi Dalam Pekerjaan dan Jabatan ( ILO Convention No 111 on
Discrimination in respect of Employment and Occupation) dengan UU Nomor 21/1999

Selain itu sebagai cermin dari kesungguhan untuk memajukan dan menghormati HAM pada masa Habibie,
DPR telah menyetujui sejumlah undang-undang yaitu:
(1) UU Nomor 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat di Muka Umum
(2) UU Nomor 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia.
(3) UU Nomor 2/1999 tentang Partai Politik
(4) UU Nomor 3/1999 tentang Pemilu
(5) UU Nomor 26/1999 tentang Pencabutan UU/Penpres No. 11/1963
(6) UU Nomor 35/1999 tentang Perubahan UU Nomor 24/1970 tentang Kehakiman yang intinya mengalihkan
penanganan masalah kehakiman dari Departemen Kehakiman kepada Mahkamah Agung
Pada masa pemerintahan Habibie dilakukan perubahan terhadap Keppres Nomor 50/1993 tentang Komnas
HAM dengan memasukkan pasal tentang KOMNAS HAM pada pasal 75 sampai dengan pasal 99 UU Nomor
39/1999 tentang HAM. Selain itu, pada tanggal 15 Agustus 1998, Presiden Habibie telah meluncurkan
Rancana Aksi Nasional HAM (RAN-HAM) 1998 – 2003, melalui Keppres No. 129/1998. Maksud dan tujuan
RAN-HAM adalah untuk memberikan jaminan bagi peningkatan pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia
di Indonesia dengan mempertimbangkan nilai-nilai adat istiadat, budaya dan agama bangsa Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pelaksanaan RAN-HAM dilaksanakan secara bertahap dan
berkesinambungan dalam suatu program 5 tahun yang dapat ditinjau dan disempurnakan berdasarkan skala
prioritas. RAN-HAM tersebut mengikutsertakan seluruh departemen/lembaga terkait langsung dengan
pelaksanaan HAM dan dikoordinasikan oleh Departemen Luar Negeri. Untuk mencapai maksud dan tujuan
RAN-HAM tersebut, didasarkan pada 4 pilar, yaitu:
(1) Persiapan pengesahan perangkat internasional di bidang hak asasi manusia
(2) Desiminasi informasi dan pendidikan di bidang HAM
(3) Penentuan skala prioritas pelaksanaan HAM
(4) Pelaksanaan isi perangkat internasional di bidang HAM yang telah disahkan dan melakukan harmonisasi
dengan perundang-undangan nasional.

d) Era Presiden Abdurrahman Wahid


Pada masa pemerintahan Gus Dur, upaya pemajuan dan perlindungan HAM lebih ditingkatkan dan
mendapat perhatian cukup serius. Hal ini dapat dilihat dari upaya menyempurnakan RAN-HAM yang dilakukan oleh
Departemen Luar Negeri sebagai koordinator RAN-HAM bekerjasama dengan departemen/lembaga/institusi terkait
lainnya, dan pembentukan lembaga baru Menteri Negara Urusan HAM yang berdasarkan hasil reshufle kabinet
bulan Agustus 2000 berada di bawah Departemen Kehakiman dan HAM. Terbentuknya Menneg-HAM dalam kabinet
Gus Dur telah memunculkan nuansa baru dalam pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Berkenaan dengan
hal ini, maka perlu diadakan perubahan seperlunya atas Keppres No 129/1998 tentang RAN_HAM yaitu adanya
pembagian tugas dan koordinasi antara Departemen Kehakiman dan HAM dengan Departemen Luar Negeri dalam
pelaksanaan HAM di Indonesia.
Selain itu, ada dua konvensi HAM yang sedang dalam proses pengesahan pada masa Gur Dur, yaitu:
(1) International Covenant on Civil dan Political Rights and Optional Protocol to the Covenant on Civil and
Political Rights (ICCPR)
(2) International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights and O[ptional Protocol to International
Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR).UU No. 26/ 2000 Tentang Pengadilan Hak
Asasi Manusia (HAM)
Pada tanggal 23 Nopember 2000 Presiden Abdurrahman Wahid mengesahkan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor UU No. 1/ 2000 Tentang Pengesahan ILO Convention No. 182 Concerning The Prohibition And Immediate
Action For The Elimination Of The Worst Forms Of Child Labour (Konvensi ILO No. 182 Mengenai Pelarangan Dan
Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM. Presiden Abdurrahman Wahid juga menngeluarkan Keppres No. 53/ 2001Tentang Pembentukan
Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) Ad Hoc
Pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

e) Era Presiden Megawati


Pada masa Presiden Megawati ditetapkan Instrumen HAM sebagai berikut:
(1) UU No. 23/2002 Tentang Perlindungan Anak
(2) Keppres No. 59/ 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk
Untuk Anak
(3) Keppres No. 40/ 2004 Tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia Tahun 2004-2009
(4) UU No. 23/ 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
d) Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditetapkan Instrumen HAM sebagai berikut:
(1) UU No. 11/ 2005 Tentang Pengesahan International Covenant On Economic, Social And Cultural Rights
(Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial Dan Budaya)
(2) UU No. 12/ 2005 Tentang Pengesahan International Covenant On Civil And Political Rights (Kovenan
Internasional Tentang Hak-hak Sipil Dan Politik)

3. Instrumen atau dasar hukum yang mengatur HAM


Pemerintah Indonesia telah menetapkan instrumen atau dasar hukum yang mengatur HAM. Instrumen
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Adanya TAP MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang HAM
b. UU Nomor 29/1999 tentang ratifikasi Konvensi segala bentuk diskriminasi rasial
c. Keppres No. 83/1998 tentang pengesahan Konvensi ILO No. 87 mengenai Kebebasan Berserikat dan
Perlindungan Hak Untuk Berorganisasi.
d. Keppres No 181/ 1998 Tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
e. UU No: 9/ 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum
f. UU Nomor 5/1999 tentang ratifikasi Konvensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan Kejam
g. UU No. 19/1999 tentang pengesahan Konvensi ILO No. 105 tentang Penghapusan Kerja Paksa
h. UU No. 20/1999 tentang pengesahan Konvensi ILO No. 138 tentang Usia Minimum Untuk
Diperbolehkan Bekerja
i. UU No. 21/1999 tentang pengesahan Konvensi ILO NO.111 tentang Diskriminasi Dalam Pekerjaan dan
jabatan
j. UU No. 29/1999 tentang pengesahan Konvensi Penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial 1965
k. UU Nomor 39/1999 tentang HAM
l. UU Nomor 40/1999 tentang Pers
m. UU No. 1/ 2000 Tentang Pengesahan ILO Convention No. 182 Concerning The Prohibition And
Immediate Action For The Elimination Of The Worst Forms Of Child Labour (Konvensi ILO No. 182
Mengenai Pelarangan Dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk
Anak
n. UU No. 26/ 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM)
o. Keppres No. 53/ 2001Tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) Ad Hoc Pada
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

4. Peran masyarakat dalam menegakan HAM


Peran serta masyarakat dalam menegakkan HAM dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 39
Tahun 1999 tentang HAM pasal:
a. Pasal 100
Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, atau
lembaga kemasyarakatan lainnya, berhak berpartisipasi dalam perlindungan, penegakan dan pemajuan hak
asasi mamusia.
b. Pasal 101
Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, atau
lembaga kemasyarakatan lainnya, berhak meyampaikam laporan atas terjadinya pelanggaran Hak Asasi
Manusia kepada Komnas HAM atau lembaga lain yang berwenang . Setiap orang, kelompok, organisasi
politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, atau lembaga kemasyarakatan lainnya
c. Pasal 102
Setiap kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya atau lembaga
kemasyarakatan lainnya berhak untuk mengajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakan negara
d. Pasal 103
Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, organisasi masyarakat, atau lembaga
kemasyarakatan lainnya, baik secara senriri-sendiri maupun kerja sama dengan Komnas HAM dapat
melakukan penelitian, pendidikan dan penyebarluasan informasi mengenai HAM.

B. Peran Serta dalam Upaya Pemajuan, Penghormatan, dan Penegakan HAM di Indonesia
1. Proses pemajuan, penghormatan, dan penegakan HAM
a. Perkembangan Pemikiran HAM secara Umum
1) Tahun 2500 SM – 1000 SM
a) Perjuangan Nabi Ibrahim melawan Raja Namrud
b) Perjuangan Nabi Musa melawan raja Firaun
c) Ditetapkan Hukum Hammurabi bagi masyarakat
d) Babylonia yang berisi ketentuan hukum yang menjamin keadilan bagi warga negara
2) Tahun 600 SM
Filusuf Athena (Yunani), Solon menyusun UU yang menjamin keadilan dan persamaan bagi setiap
warga negara. Solon membentuk Heliaie yaitu Mahkamah keadilan untuk melindungi orang-orang
miskin dan Majelis Rakyat (Ecdesia) untuk menindaklanjuti isi uu yang sudah disusun.
3) Tahun 527 s.d. 322 SM
Kaisar Romawi, Flavius Anacius Justinianus menciptakan peraturan hukum modern yang
terkodifikasi yaitu Corpus Iuris sebagai jaminan atas keadilan dan HAM
Filusuf Romawi yang memiliki visi HAM adalah:
a. Socrates
b. Plato (429 – 347 SM)
c. Aristoteles (384 – 322 SM)

4) Tahun 30 SM s.d. 632 M


a. Turun kitab suci Injil
Pada masa Injil terjadi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh penguasa dan oleh masyarakat.
Pelanggaran HAM yang dilakukan oleh penguasa pada masa Injil adalah sebagai berikut:
(1) Injil Matius 2 : 16-18 (fasal 2 ayat 16 sampai 18)
(a) Pelaku : Raja Herodes, raja wilayah
(b) Tempat : Jota Betlehem
(c) Kasus : Pembunuhan anak-anak dibawah umur 2 tahun, berlatarbelakangkan kelahiran Yesus
yang diberitakan oleh orang Majus, Raja dari Timur, yang datang ke Yudea. Orang-orang
Majus tersebut menanyakan tentang Raja yang baru lahir yang ditandai dengan munculnya
sebuah bintang terang di sebelah timur. Lalu Herodes memanggil para ahli Hukum Taurat dan
mereka member keterangan tentang Raja yang baru lahir itu, menurut kitab Para Nabi ada di
kota Betlehem akan lahir seorang Raja. Karena takut tersaingi maka Herodes membunuh
semua bayi berumur 2 tahun kebawah, tetapi tidak mendapatiNya.
(2) Injil Matius 14 : 1 – 12, Markus 6 : 14 – 29, Lukas 9 : 7 – 9
(a) Pelaku : Raja Herodes
(b) Tempat : Yudea
(c) Kasus : Pembunuhan terhadap Yohanes Pembabtis. Yohanes Pembabtis mengungkap
kebobrokan moral Raja Herodes yaitu peselingkuhannya dengan seorang wanita bernama
Herodias, istri Filpus. Yohanes ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili. Ketika Salome, anak
Herodias berulang tahun, Herodes menjanjikan apa saja yang dimintanya, dan Salome
meminta kepala Yohanes Pembabtis. Karena sudah berjanji di hadapan para tamu, maka
Herodes pun memenggal Yohanes Pembabtis.
Pelanggaran HAM oleh masyarakat pada masa Injil adalah sebagai berikut:
(1) Injil Lukas 4 : 16 – 30
(a) Pelaku : Masyarakat
(b) Tempat : Kota Nazaret
(c) Kasus : Perbedaan pemahaman / perbedaan penafsiran. Ketika Yesus ada di Sinagoge,
tempat peribadatan umat Yahudi masa itu, Yesus diberi kitab Nabi Yesaya dan dibaca oleh
Yesus. Ketika Yesus menjelaskan bahwa nats kitab yang dibacaNya sudah dipenuhi/digenapi
dengan kehadiranNya, maka orang-orang yang di dalam rumah ibadah marah dan menghalau
Yesus keluar kota dan hendak menjatuhkanNya dari tebing.
(2) Injil Matius 28 : 57 – 68, Markus 14 : 53 – 65, Lukas 12 : 54 – 55, 63 – 71, Yohanes 18 : 14 – 19 :
24.
(a) Pelaku : Mahkamah Agama
(b) Tempat : Yerusalem
(c) Kasus : Tuduhan pelecehan agama dan fitnah, karena Yesus membongkar praktek bisnis di
dalam Bait Allah Yerusalem dan kecaman Yesus terhadap perilaku para pemimpin agama
yang munafik saat itu. Maka Yesus ditangkap dengan tuduhan melecehkan agama dan
memberontak terhadap pemerintah, maka Yesus pun dianiaya.
(3) Injil Matius 27 : 11 – 26, Markus 15 : 1 – 15, Lukas 23 : 1 – 5, 13 – 25, Yohanes 18 : 33 – 19 : 6
(a) Pelaku : Gubernus Potius Pilatus dan masyarakat
(b) Tempat : Yerusalem
(c) Kasus : Pengadilan Pemerintah ole Pontius Pilatus dan masyarakat. Mahkamah Agama
membawa Yesus kepada Pontius Pilatus (wali negeri) dengan tuduhan bahwa Yesus
memberontak kepada Kaisar dan masih ditambah tuduhan lain dari saksi –saksi palsu.
Pontius Pilatus tidak menemukan kesalahan pada Yesus. Tetapi karena didesak oleh
Mahkamah Agama yang beranggotakan tokoh agama yang dapat mengancam
kedudukannya, maka Pontius Pilatus memberikan solusi dengan pembebasan Yesus dan
seorang pemberontak dan pembunuh bernama Barabas yang telah dijatuhi hukuman mati,
dan tokoh agama dan masyarakat memilih untuk membebaskan Barabas. Masyarakat
Yerusalem terprovokasi untuk melawan Yesus dan membebaskan Barabas, maka Yesus
dijatuhi hukuman mati, yang pada kala itu disalibkan.
(4) Kisah Para Rasul 5 : 17 – 42, Kisah Para Rasul 7 : 1 – 8 : 3
(a) Pelaku :Sekelompok masyarakat yang didukung oleh mahkamah agama
(b) Tempat : Seluruh wilayah Israel dan kota-kota disekitarnya
(c) Kasus : Ketika kekristenan berkembang yang dipimpin oleh Rasul Petrus dan para rasul
lainnya maka muncullah sekelompok orang yang dipimpim oleh Saulus dengan ijin Mahkamah
Agama Yahudi untuk melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang
menjadi pengikut Yesus.

b. Turun kitab Suci AlQur’an


Kitab suci Al-Qur’an mengandung ajaran hak-hak asasi manusia sebagai berikut:
1) Hak persamaan dan kebebasan (Q.S. Al Isra :70, An Nisa :58, 105, 107,135 dan Al
Mumtahanah :8)
2) Hak Hidup (Q.S Al Maidah :45, Al Isra:33)
3) Hak perlindungan diri (Q.S. A-Balad :12 – 17, At-Taubah :6)
4) Hak kehormatan pribadi (Q.s At Taubah:6)
5) Hak berkeluarga (Q.S. Al- Baqarah:221 Ar-Rum :21, An-Nisa:1, At-Tahrim:6)
6) Hak kesetaraan wanita dengan pria (Q.S. Al-Baqarah:228, Al-Hujurat:13)
7) Hak anak dari orang tuanya (Q.S. Baqarah:233, Al-Isra:23-24)
8) Hak mendapatkan pendidikan (Q.S.At-Taubah : 122, Al-Alaq :1 – 5)
9) Hak kebebasan beragama (Q.S. Al- Kafirun : 1 – 6, Al-Baqarah 156, Al Kahfi : 29)
10) Hak kebebasan mencari suaka (Q.S. An-Nisaa : 97, Al-Mumtahanah:9)
11) Hak memperoleh pekerjaan (Q.S. At-Taubah : 105’ Al-Baqarah : 286, Al-Mulk : 15)
12) Hak memperoleh perlakuan yang sama (Q.s. Al-Baqarah : 275 – 278, An-Nisa : 161, Ali-
Imron : 130)
13) Hak Kepemilikan (Q.S. Al Baqarah : 29, An-Nisa : 29,
14) Hak tahanan (Q.S.Al-Mumtahanah : 8)

5) Tahun 1215
Perkembangan HAM pada tahun 1215 ditandai dengan lahirnya Magna Charta pada masa
pemerintahan Lockland di Inggris.
Pandangan yang terkandung dalam Magna Charta: “raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolut, menjadi
dibatasi kekuasaannya dan dapat dimintai pertanggungjawaban”. Contoh:
Pemungutan pajak harus disetujui Great Council, tidak menangkap,memenjara, menyita hak milik tanpa
alasan menurut hukum negara.
Pasal 21 Magna Charta
“para pangeran dan baron akan dihukum (didenda) berdasarkan atas kesamaan dan sesuai dengan
pelanggaran yang dilakukannya.”
Pasal 40 Magna Charta
“ Tidak seorangpun menghendaki kita mengingkari atau menunda tegaknya hak atau keadilan”.
6) Tahun 1629
Perkembangan HAM pada tahun 1629 ditandai dengan lahirnya dokumen Petition of Rights pada
masa pemerintahan Charles I di Inggris.
Isi petition of Rights:
a) Pajak dan hak-hak istimewa harus dengan izin parlemen
b) Tentara tidak boleh diberi penginapan di rumah-rumah penduduk
c) Dalam keadaan damai, tentara tidak boleh menjalankan hukum perang
d) Orang tidak boleh ditangkap tanpa tuduhan yang sah.

7) Tahun 1679
Perkembangan HAM pada tahun 1679 ditandai dengan lahirnya dokumen Hobeas Corpus Act
pada masa pemerintahan Charles II di Inggris.
Isi hobeas corpus act:
a) Jika diminta, hakim harus dapat menunjukkan orang yang ditangkapnya lengkap dengan alasan
penangkapan itu.
b) Orang yang ditangkap harus diperiksa selambat-lambatnya dua hari setelah ditangkap

8) Tahun 1689
Dicetuskan Bill of Rights (Masa pemerintahan Willem III di Inggris)
Isi Bill of Rights:
a) Membuat UU harus dengan izin parlemen.
b) Pengenaan pajak harus atas izin parlemen
c) Mempunyai tentara tetap harus dengan izin parlemen
d) Kebebasan berpendapat bagi parlemen
e) Parlemen berhak mengubah keputusan raja.

9) Tahun 1776
Dicetuskan Declaration of Independence (AS).
Isi Declaration of Independence (AS):
Setiap orang dikaruniai oleh Tuhan hak-hak yang tidak dapat dicabut dari dirinya yaitu: hak hidup,
kebebasan dan mengejar kebahagiaan (life, liberty and pursuit of happiness)
Amerika Serikat adalah negara pertama yang mencantumkan HAM dalam konstitusinya yaitu Constitution of
USA 1787. Tokoh yang berjasa dalam mencantumkan Ham pada konstitusi AS adalah Presiden AS
Thomas Jefferson.
10) Tahun 1789
Terjadi revolusi Perancis di bawah pimpinan Lavayette dan dirumuskan “Declaration des Droits de
L’homme et du Citoyen,” Selanjutnya Declaration des Droits de L’homme et du Citoyen dicantumkan
dalam Konstitusi Perancis 1791, 1793 dan 1848.
Macam HAM dalam Declaration des Droits de L’homme et du Citoyen adalah:
1) Manusia dilahirkan merdeka dan tetap merdeka
2) Manusia mempunyai hak yang sama
3) Manusia merdeka berbuat sesuatu tanpa merugikan pihak lain
4) Warga negara mempunyai hak yang sama dan mempunyai kedudukan serta pekerjaan umum
5) Manusia tidak boleh dituduh dan ditangkap selain menurut Undang-undang
6) Manusia mempunyai kemerdekaan agama dan kepercayaan
7) Manusia merdeka mengeluarkan pikiran
8) Adanya kemerdekiaan surat kabar
9) Adanya kemerdekaan bersatu dan berapat
10) Adanya kemerdekaan berserikat dan berkumpul, bekerja, berdagang dan melaksanakan kerajinan,
rumah tangga, hak milik, lalu lintas
11) Adanya hak hidup dan mencari nafkah

11) Tahun 1918


Dicetuskan Rights of Determination atas usul Presiden AS Woodrow Wilson yang berisi 14 pasal dasar
untuk mencapai perdamaian yang adil.
12) Tahun 1941
Dicetuskan Doktrin The Four Freedom oleh Presiden AS Franklin D. Roosevelt tanggal 6 Januari 1941. Isi
The Four Freedom of Rosevelt
1) Freedom of Speech and expression every where in the world (kebebasan berbicara dan
mengemukakan pendapat, berkumpul)
2) Freedom of every person to worship God in own way (kebebasan beragama dan beribadat)
3) Freedom from want which, translated into world terms, mean economic understandings which will
secure to every nation a healthy peacetime life for its inhabitants (kebebasan dari
kekurangan/kemiskinan)
4) Freedom from fear which, translated into world terms, mean a worldwide reduction of armaments to
such a point and in such a trought fashion that no nation will any neighbor (Kebebasan seseorang dari
rasa ketakutan (Azyumardi Azra, 2003 hal. 204)
13) Tahun 1948
Diselenggarakan sidang Umum PBB tanggal 10 Desember 1948 di Paris di bawah pimpinan Ny. Roosevelt
yang memutuskan :”Universal Declaration of Human Rights (Pernyaataan Sejagat HAM atau DUHAM (Dokumen
Umum HAM)),” yang terdiri dari 30 pasal.
14) Tahun 1966
Negara-negara anggota PBB meratifikasi Covenants of Human Rights yang berisi:
a) The International on Civil and Political Rights yaitu hak sipil dan politik (persamaan pria wanita)
b) Optional Protocol yaitu adanya kemungkinan seorang warga negara mengadukan pelanggaran HAM
pada Rights Committee PBB setelah melalui upaya pengadilan di negaranya
c) The International Covenant of Economic, Social and Cultural Rights yang berisi syarat dan nilai bagi
sistem demokrasi ekonomi, sosial dan budaya.

b. Perkembangan Pemikiran HAM di Indonesia

1) Periode sebelum kemerdekaan


a) Boedi Oetomo
Boedi Oetomo menyampaikan tuntutan tentang kesadaran berserikat dan mengeluarkan
pendapat melalui petisi yang diajukan pada pemerintah kolonial maupun tulisan yang dimuat
dalam surat kabar goeroe desa.
b) Perhimpunan Indonesia
Tokohnya:
1) Mohammad Hatta
2) Nazir Pamontjak
3) Ahmad Soebardjo
4) A.A. maramis
Menyatakan hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination)
c) Sarekat Islam
Tokohnya: H. Agus Salim dan Abdul Muis
Menyatakan hak untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan
deskriminasi rasial
d) Indische Partij
Menyatakan hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama.
e) Partai Nasional Indonesia
Menyatakan hak untuk merdeka
f) Pendidikan Nasional Indonesia (Mohammad Hatta)
Menyatakan hak sebagai berikut:
1) menentukan nasib sendiri
2) mengeluarkan pendapat
3) berserikat dan berkumpul
4) persamaan di muka hukum
5) turut dalam penyelenggaraan negara
g) Sidang BPUPKI
Mengusulkan HAM sebagai berikut:
1) Persamaan kedudukan di muka hukum
2) Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
3) Hak untuk memeluk agama dan kepercayaan
4) Hak berkumpul
5) Hak mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tuisan
2) Periode Setelah Kemerdekaan (1945 – Sekarang)
b)Periode 1945 – 1950
Menekankan hak sebagai berikut:
(1) hak untuk merdeka (self determination)
(2) kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang didirikan
(3) kebebasan untuk menyampaikan pendapat melalui parlemen
Komitmen Pemerintah terhadap HAM periode 1945 – 1950
1. Mengeluarkan maklumat tanggal 1 Nopember1945 tentang Pemilihan Umum
2. Mengeluarkan maklumat tanggal 3 November 1945 yang berisi:
a) Pemerintah menyukai timbulnya parpol
b) Pemerintah berharap agar parpol sudah tersusun sebelum pemilu pada Januari 1946
3. Mengeluarkan maklumat tanggal 14 November 1945 tentang perubahan sistem pemerintahan
presidentil menjadi sistem pemerintahan parlementer

b) Periode 1950 -1959


Menurut Prof Bagir Manan, aktualisasi HAM pada periode 1950 – 1959 mengalami pasang dan
bulan madu kebebasan karena:
1) Banyak parpol dengan ideologi yang berbeda
2) Pers menikmati kebebasan
3) Pemilu berlangsung dengan suasanan kebebasan, adil dan demokratis
4) Parlemen melakukan kontrol yang efektif terhadap pemerintah
5) Pemikiran HAM mendapat iklim yang kondusif sejalan dengan tumbuhnya kekuasaan yang
memberikan ruang kebebasan
c) Periode 1959 – 1966 (Era demokrasi terpimpin)
Era Presiden SoekarnoTerjadi pemasungan hak sipil dan politik seperti hak untuk berserikat,
berkumpul dan mengeluarkan pikiran dengan tulisan

2. Pelanggaran HAM dan penangganan kasus pelanggaran HAM


a. Pelanggaran HAM yang diselesaikan secara hukum.
Kasus pelanggaran HAM masa lalu yang belum tersentuh proses hukum sebagaimana ditulis
dalam www.kontras.org/data/persoalan_penting_HAM_di_IND.pdf - Mirip adalah sebagai berikut:
1) Pembantaian massal 1965
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1965-1970. Jumlah korban sebanyak 1.500.000 jiwa. Korban sebagian
besar merupakan anggota PKI, atau ormas yang dianggap berafiliasi dengannya seperti SOBSI, BTI,
Gerwani, PR, Lekra, dll. Sebagian besar dilakukan di luar proses hukum yang sah
2) Penembakkan misterius “Petrus
Peristiwa ini terjadi pada 1982-1985. Jumlah korban sebanyak 1.678 jiwa. Korban sebagian besar
merupakan tokoh kriminal, residivis, atau mantan kriminal. Operasi militer ini bersifat illegal dan
dilakukan tanpa identitas institusi yang jelas
3) Kasus di Timor Timur pra Referendum
Peristiwa ini terjadi pada 1974-1999. Jumlah korban ratusan ribu jiwa. Dimulai dari agresi militer TNI
(Operasi Seroja) terhadap pemerintahan Fretilin yang sah di Timor Timur. Sejak itu TimTim selalu
menjadi daerah operasi militer rutin yang rawan terhadap tindak kekerasan aparat RI.
4) Kasus-kasus di Aceh pra DOM
Peristiwa ini terjadi pada 1976-1989. Jumlah korban ribuan jiwa. Semenjak dideklarasikannya GAM
oleh Hasan Di Tiro, Aceh selalu menjadi daerah operasi militer dengan intensitas kekerasan yang
tinggi.
5) Kasus-kasus di Papua
Peristiwa ini terjadi pada 1966-…... Jumlah korban ribuan jiwa. Operasi militer intensif dilakukan oleh
TNI untuk menghadapi OPM. Sebagian lagi berkaitan dengan masalah penguasaan sumber daya
alam, antara perusahaan tambang internasional.
6) Kasus Dukun Santet Banyuwangi
Peristiwa ini terjadi pada 1998. Jumlah korban puluhan jiwa. Adanya pembantaian terhadap tokoh
masyarakat yang dituduh dukun santet

b. Pelanggaran HAM yang sudah diselesaikan secara hukum.


1) Pembunuhan Wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) dan buruh Marsinah
Dalam kasus ini muncul pesakitan yang hanya menjadi kambing hitam dari suatu tindak pidana yang
terindikasi kuat dilakukan oleh aparat pemerintah maupun dilakukan oleh orang yang memiliki biaya
untuk memunculkan kambing hitam. Dalam kasus pembunuhan Udin, Iwik Dwisumaji dijadikan
kambing hitam. Dalam kasus terbunuhnya Marsinah dua orang dijadikan kambing hitam yaitu Mutiari
dan Judi Astono cs. (Moh Mahfud MD dalam Sobirin Malian dan Suparman Marzuki, 2003: 50).
2) Kasus Trisakti Semanggi I dan II.
Sebagaimana ditulis dalam http://elsam.minihub.org/kkr/Trisakti.html, kita dapat mengetahui kasus
Trisakti sebagai berikut:
Tragedi Trisakti tanggal 12 Mei 1998 menjadi pemicu kerusuhan sosial yang mencapai klimaksnya
pada 14 Mei 1998. Tragedi dipicu oleh menyalaknya senapan aparat yang menewaskan empat mahasiswa
Trisakti.  Kerusuhan, menurut laporan Relawan Kemanusiaan, tidak berlangsung begitu saja. Fakta yang
aneh, menurut mereka, setelah terjadi aksi kerusuhan yang sporadis, aparat tampak menghilang,
sementara sebagian kecil saja hanya memandangi aksi penjarahan yang berlangsung didepan
mereka.Masih menurut laporan Relawan, kerusuhan itu tampak direkayasa. Aksi itu dipimpin oleh
sekelompok provokator terlatih yang memahami benar aksi gerilya kota. Secara sporadis mereka
mengumpulkan dan menghasut massa dengan orasi-orasi. Ketika massa mulai terbakar mereka
meninggalkan kerumunan massa dengan truk dan bergerak ke tempat lain untuk melakukan hal yang
sama.Dari lokasi yang baru, kemudian mereka kembali ke lokasi semula dengan ikut membakar, merampok
mal-mal. Sebagian warga yang masih dalam gedung pun ikut terbakar. Data dari Tim Relawan
menyebutkan sekurangnya 1190 orang tewas terbakar dan 27 lainnya tewas oleh senjata. 
Tragedi Trisakti kemudian disusul oleh tragedi semanggi I pada 13 November 1998. Dalam tragedi
itu, unjuk rasa mahasiswa yang dituding mau menggagalkan SI MPR harus berhadapan dengan
kelompokPam Swakarsa yang mendapat sokongan dari petinggi militer. Pam Swakarsa terdiri dari tiga
kelompok, dari latar belakang yang berbeda. Pembentukan Pam Swakarsa belekangan mendapat respon
negatif dari masyarakat. Mereka kemudian mendukung aksi mahasiswa, yang sempat bentrok dengan Pam
Swakarsa.Dalam tragedi Semanggi I yang menewaskan lima mahasiswa, salah satunya Wawan seorang
anggota Tim Relawan untuk Kemanusiaan ini, tampak tentara begitu agresif memburu dan menembaki
mahasiswa. Militer dan polisi begitu agresif menyerang mahasiswa, seperti ditayangkan oleh sebuah
video dalam Rapat Dengar Pendapat Umum di DPR Selasa 6 Maret 2001. Rekaman itu memperlihatkan
bagaimana polisi dan tentara yang berada di garis depan berhadapan dengan aksi massa mahasiswa yang
tenang. Pasukan AD yang didukung alat berat militer ini melakukan penembakan bebas ke arah
mahasiswa.
Para tentara terus mengambil posisi perang, merangsek, tiarap di sela-sela pohon sambil terus
menembaki mahasiswa yang berada di dalam kampus. Sementara masyarakat melaporkan saat itu
dariatap gedung BRI satu dan dua terlihat bola api kecil-kecil meluncur yang diyakini sejumlah saksi
sebagai sniper. Serbuan tembakan hampir berlangsung selama dua jam.
Satu tahun setelah itu, tragedi Semanggi II terjadi. Dalam kasus ini 10 orang tewas termasuk Yun
Hap, 22, mahasiswa Fakultas Teknik UI, ikut tewas. Insiden ini terjadi di tengah demonstrasi penolakan
mahasiswa terhadap disahkannya RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB). Kasus ini, menurut
Hermawan Sulistyo dari Tim Pencari Fakta Independen menyebut seperti sudah diperkirakan sebelumnya
oleh aparat. Dia menurutkan begini; ''Yun Hap ditembak pukul 20:40 oleh konvoi aparat keamanan yang
menggunakan sekurangnya enam truk militer yang mendekat dari arah Dukuh Atas. Konvoi menggunakan
jalan jalur cepat sebelah kanan alias melawan arus. Paling depan tampak mobil pembuka jalan menyalakan
lampu sirine tanpa suara. Sejak masuk area jembatanpenyeberangan di depan bank Danamon, truk
pertama konvoi mulai menembak. Sejumlah saksi mata melihat berondongan peluru dari atas truk pertama,
menyusul tembakan dari truk-truk berikutnya.''
Berdasarkan fakta di lapangan TPFI menegaskan tidak mungkin ada kendaraan lain selain
kendaraan aparat. Sebab, jalur cepat yang dilalui truk-truk itu masih ditutup untuk umum. Lagi pula truk-truk
itu bergerak melawan arus, jadi tidak mungkin ada mobil lain yang mengikuti.
Dalam kasus Trisakti, pelaku penembakan yang kedudukannya sebagai bawahan jajaran
TNI telah memperoleh vonis dari peradilan militer sedangkan petinggi TNI bebas dari jeratan
hukum. Hal ini terjadi karena dalam hirerakhis TNI dan garis komandonya ditegaskan apabila
terjadi penyelewengan pada tingkat lapangan dalam pelaksanaan teknisnya, hal ini harus
dipandang sebagai kekeliruhan atau penyelewengan perorangan. Berikut ini adalah vonis bagi
pelaku penembakan empat mahasiswa Trisakti:
Terdakwa Tuntutan Vonis
Iptu Erick Kadir Sully 3 tahun 6 tahun
Briptu Raul de Costa 2,5 tahun 4 tahun
Bharatu Suparwanto 2 tahun 3 tahun
Briptu Joko Irwanto 2 tahun 4,5 tahun
Briptu Teddy Iskandar 2 tahun 4,5 tahun
Briptu Anang Yulianto 2 tahun 4,5 tahun
Briptu Cahyo Nugroho 2 tahun 4,5 tahun
Bharatu Langgeng Sugiarto 2 tahun 3 tahun
Bharatu Santosa 1,5 tahun 3 tahun
Sumer: Eko Prasetyo, dalam Sobirin Malian dan Suparman Marzuki, 2003: 150).

3. Contoh perilaku yang sesuai dengan upaya pemajuan, penghormatan, dan penegakan HAM di Indonesia
Contoh perilaku yang sesuai dengan upaya pemajuan, penghormatan, dan penegakan HAM di
Indonesia dapat kita wujudkan atas dasar ketentuan pasal 67 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
tentang HAM yang menegaskan bahwa setiap orang yang ada di wilayah negara Republik Indonesia wajib
patuh pada peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional mengenai hak
asasi manusia yang telah diterima negara Republik Indonesia. Di samping itu kita juga harus pada
ketentuan pasal 69 yaitu sebagai berikut:
a. Setiap warga negara wajib mwenghormati hak asasi orang manusia orang lain, moral etika dan tata
tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
b. Setiap hak asasi manusia seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk
menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik serta menjadi tugas pemerintah untuk
menghormati, melindungi, menegakkan dan memajukannya.

C. Instrumen Hukum dan Peradilan Internasional HAM


1. Instrumen HAM Internasional
Instrumen HAM internasional adalah sebagai berikut:
a. Universal Declaration of Human Rights
Piagam PBB telah menempatkan HAM sebagai salah satu tujuannya dan bahwa kerja sama
internasional perlu dimajukan untuk meningkatkan perlindungan hak asasi manusia. Menindaklanjuti
semangat Piagam PBB tersebut, maka pada tanggal 10 Desember 1948, Majelis Umum PBB
menerima dan memproklamasikan pernyataan umum tentang hak asasi manusia (Universal
Declaration of Human Rights) yang berisikan 30 pasal. Dokumen ini merupakan instrumen HAM
internasional.
Sejak deklarasi universal HAM diproklamasikan, umat manusia bagaikan dibukakan pintu utama
menuju dunia terang yang penuh penghormatan atas manusia. Sejak itu, manusia yang berbudaya, terus-
menerus terdorong dan mencoba mencari upaya untuk terus melakukan perlindungan dan pencegahan
terhadap pelanggaran hak asasi manusia bagi semua manusia, sehingga tidak ada satu golongan pun dari
umat manusia, seperti masyarakat adat, anak-anak, kaum perempuan, kaum difabel (sebutan sopan bagi
penyandang cacat) para penderita AIDS, orang miskin, pendek kata, tak satu golongan pun terlewatkan
untuk dilindungi hak asasi mereka sebagai manusia (Mansour Fakih, dalam Sobirin Malian dan Suparman
Marzuki, 2003: 110)
Dalam Deklarasi Universal tentang (Universal Declaration of Human Rights) atau yang dikenal
dengan istilah DUHAM, Hak Asasi Manusia terbagi ke dalam beberapa jenis, yaitu hak personal (hak
jaminan kebutuhan pribadi), hak legal (hak jaminan perlindungan hukum), hak sipil dan politik, hak
subsistensi (hak jaminan adanya sumber daya untuk menunjang kehidupan) serta hak ekonomi, sosial dan
budaya (Tim ICCE UIN, 2003: 215).
Hak personal, hak legal, hak sipil dan politik yang terdapat dalam pasal 3 – 21 dalam DUHAM
tersebut memuat:
D. hak untuk hidup, kebebasan dan keamanan pribadi
E. hak bebas dari perbudakan dan penghambaan
F. hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang kejam, tak berperikemanusiaan
atau merendahkan derajad kemanusiaan.
G. Hak untuk memperoleh pengakuan hukum di mana saja secara pribadi
H. Hak untuk pengampunan hukum secara efektif.
I. Hak bebas dari penangkapan, penahanan atau pembuangan seweang-weanang.
J. Hak untuk peradilan yang independen dan tidak memihak.
K. Hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah
L. Hak bebas dari campur tangan yang sewenang-wenang terhadap kekuasaan pribadi, keluarga, tempat
tinggal maupun surat-surat.
M. Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik
N. Hak atas perlindungan hukum terhadap serangan semacam itu
O. Hak bergerak
P. Hak memperoleh suaka
Q. Hak atas satu kebangsaan
R. Hak untuk menikah dan membentuk keluarga
S. Hak untuk mempunyai hak milik
T. Hak bebas berpikir, berkesadaran dan beragama
U. Hak bebas berpikir dan menyatakan pendapat
V. Hak untuk berhimpun dan berserikat
W. Hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan atas akses yang sama terhadap pelayanan
masyarakat.

Hak ekonomi, sosial dan budaya berdasarkan pada pernyataan DUHAM menyangkut hal-hal
sebagai berikut, yaitu:
X. hak atas jaminan sosial
Y. hak untuk bekerja
Z. hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama
AA.hak untuk bergabung ke dalam serikat-serikat buruh
BB.hak atas istirahat dan waktu senggang
CC. hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan
DD. hak atas pendidikan
EE.hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat.

b. International Covenant on Economic, Social and Culture Rights


International Covenant on Economic, Social and Culture Rights (Kovenan Internasional tentang
Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya) disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa
pada tanggal 16 Desember 1966. Pemerintah Indonesia mengesahkan konvensi tersebut pada tanggal
28 Oktober 2005 dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005. Kovenan ini mengukuhkan dan
menjabarkan pokok-pokok HAM di bidang ekonomi, sosial dan budaya dari DUHAM dalam ketentuan-
ketentuan yang mengikat secara hukum. Kovenan ini terdiri dari pembukaan dan pasal-pasal yang
mencakup 31 pasal.
Pembukaan kovenan ini mengingatkan negara-negara akan kewajibannya menurut Piagam PBB
untuk memajukan dan melindungi HAM, mengingatkan individu akan tanggung jawabnya untuk bekerja
keras bagi pemajuan dan penataan HAM yang diatur dalam Kovenan ini dalam kaitannya dengan
individu lain dan masyarakatnya, dan mengakui bahwa, sesuai dengan DUHAM, cita-cita umat manusia
untuk menikmati kebebasan sipil dan politik serta kebebasan dari rasa takut dan kekurangan hanya
dapat tercapai apabila telah tercipta kondisi bagi setiap orang untuk dapat menikmati hak-hak ekonomi,
sosial dan budaya serta hak-hak sipil dan politiknya.
Pasal 1 menyatakan bahwa semua rakyat mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan
menyerukan kepada semua negara, termasuk negara-negara yang bertanggung jawab atas
pemerintahan Wilayah yang Tidak Berpemerintahan Sendiri dan Wilayah Perwalian, untuk memajukan
perwujudan hak tersebut. Pasal ini mempunyai arti yang sangat penting pada waktu disahkannya
kovenan ini pada tahun 1966 karena ketika itu masih banyak wilayah jajahan.
Pasal 2 menetapkan kewajiban negara pihak untuk mengambil langkah-langkah bagi tercapainya
secara bertahap perwujudan hak-hak yang diakui dalam kovenan ini dan memastikan pelaksanaan
hak-hak tersebut tanpa pembedaan apa pun. Negara-negara berkembang, dengan memperhatikan
HAM dan perekonomian nasionalnya, dapat menentukan sampai seberapa jauh negara-negara
tersebut akan menjamin hak-hak ekonomi yang diakui dalam kovenan ini bagi warga negara asing.
Untuk keperluan ini diperlukan pengaturan ekonomi nasional.
Pasal 3 menegaskan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan
Pasal 4 menetapkan bahwa negara pihak hanya boleh mengenakan pembatasan atas hak-hak
melalui penetapan dalam hukum, sejauh hal itu sesuai dengan sifat-sifat hak-hak tersebut dan semata-
mata untuk maksud memajukan kesejahteraan umum dalam masyarakat demokratis.
Pasal 5 menyatakan bahwa tidak ada satu ketentuan pun dalam kovenan ini yang dapat ditafsirkan
sebagai memberi hak kepada negara, kelompok, atau seseorang untuk melibatkan diri dalam kegiatan
atau melakukan tindakan yang bertujuan menghancurkan hak atau kebebasan mana pun yang diakui
dalam kovenan ini atau membatasinya lebih daripada yang ditetapkan dalam kovenan ini. Pasal ini juga
melarang dilakukannya pembatasan atau penyimpangan HAM mendasar yang diakui atau yang
berlaku di negara pihak berdasarkan hukum, konvensi, peraturan atau kebiasaan, dengan dalih bahwa
kovenan ini tidak mengakui hak tersebut atau mengakuinya tetapi secara lebih sempit.
Pasal 6 sampai 15 mengakui hak asasi orang di bidang ekonomi, sosial, dan budaya, yakni hak
atas pekerjaan (Pasal 6), hak untuk menikmati kondisi kerja yang adil dan menyenangkan (pasal 7),
hak untuk membentuk dan ikut serikat buruh (pasal 8), hak atas jaminan sosial, termasuk asuransi
sosial (pasal 9), hak atas perlindungan dan bantuan yang seluas mungkin bagi keluarga, ibu, anak, dan
orang muda (pasal 10), hak atas standar kehidupan yang memadai (pasal 11), hak untuk menikmati
standar kesehatan fisik dan mental yang tertinggi yang dapat dicapai (pasal 12), hak atas pendidikan
(pasal 13 dan 14) dan hak untuk ikut serta dalam kehidupan budaya (pasal 15).
Selanjutnya pasal 16 sampai pasal 25 mengatur hal-hal mengenai pelaksanaan kovenan ini, yakni
kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan kepada sekretaris Jenderal PBB mengenai
tindakan yang telah diambil dan kemajuan yang telah dicapai dalam penataan hak-hak yang diakui
dalam kovenan ini (pasal 16 dan pasal 17), penanganan laporan tersebut oleh oleh ECOSOC (pasal 18
sampai dengan 22), kesepakatan tentang lingkup aksi internasional guna mencapai hak-hak yang
diakui dalam kovenan (pasal 23), penegasan bahwa tidak ada satu ketentuan pun dalam kovenan yang
dapat ditafsirkan sebagai mengurangi ketentuan Piagam PBB dan konstitusi badan-badan khusus yang
berkenaan dengan masalah-masalah yang diatur dalam kovenan ini (pasal 24), dan penegasan bahwa
tidak ada satu ketentuan pun dalam kovenan ini yang boleh ditafsirkan sebagai mengurangi hak yang
melekat pada semua rakyat untuk menikmati secara penuh dan secara bebas kekayaan dan sumber
daya alam mereka (pasal 25).
Kovenan ini diakhiri dengan ketentuan penutup yang mengatur pokok-pokok yang bersifat
prosedural (pasal 26 sampai dengan pasal 31), dan yang mencakup pengaturan penandatanganan,
pengesahan, aksesi, dan penyimpanan kovenan ini, serta tugs Sekretaris Jenderal PBB sebagai
penyimpan (depositary) (pasal 26 dan pasal 30), mulai berlakunya kovenan ini (pasal 27), lingkup
wilayah berlakunya kovenan ini di negara pihak yang berbentuk federal (pasal 28), prosedur perubahan
(pasal 29), dan bahasa yang digunakan dalam naskah otentik kovenan ini (pasal 31).

c. International Covenant on Civil and Political Rights


International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil
dan Politik disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam sidangnya tanggal 16
Desember 1966. Instrumen internasional HAM ini telah disahkan oleh pemerintah Indonesia pada
tanggal 28 Oktober 2005.
Kovenan ini mengukuhkan pokok-pokok HAM di bidang sipil dan politik yang tercantum dalam
DUHAM sehingga menjadi ketentuan-ketentuan yang mengikat secara hukum dan penjabarannya
mencakup pokok-pokok lain yang terkait. Kovenan tersebut terdiri dari pembukaan dan pasal-pasal
yang mencakup 6 bab dan 53 pasal.
Pembukaan kovenan ini mengingatkan negara-negara akan kewajibannya menurut Piagam PBB
untuk memajukan dan melindungi HAM, mengingatkan individu akan tanggung jawabnya untuk bekerja
keras bagi pemajuan dan penataan HAM yang diatur dalam Kovenan ini dalam kaitannya dengan
individu lain dan masyarakatnya, dan mengakui bahwa, sesuai dengan DUHAM, cita-cita umat manusia
untuk menikmati kebebasan sipil dan politik serta kebebasan dari rasa takut dan kemiskinan hanya
dapat tercapai apabila telah tercipta kondisi bagi setiap orang untuk dapat menikmati sipil dan
politiknya maupun hak-hak ekonomi, sosial dan budayanya.
Kovenan ini menegaskan hak asasi manusia di bidang sipil dan politik dalam pasal 6 sampai
dengan pasal 27 sebagai berikut:
a. Setiap manusia mempunyai hak hidup, bahwa hak ini dilindungi oleh hukum , dan bahwa tidak
seorang pun dapat dirampas hak hidupnya secara sewenang-wenang (pasal 6).
b. Bahwa tidak seorang pun boleh dikenai siksaan, perlakuan atau penghukuman yang kejam,
tidak manusiawi, atau merendahkan martabat (pasal 7)
c. Bahwa tidak seorang pun boleh diperbudak, bahwa perbudakan dan perdagangan budak
dilarang, dan bahwa tidak seorang pun boleh diperhamba, atau diharuskan melakukan kerja
paksa atau kerja wajib(pasal 8)
d. Bahwa tidak seorang pun boleh ditangkap atau ditahan secara sewenang-wenang (pasal 10)
e. Bahwa tidak seorang pun boleh dipenjarakan atas dasar ketidakmampuannya memenuhi
kewajiban kontraktualnya (pasal 11)
f. Kebebasan setiap orang yang berada secara sah di wilayah suatu negara untuk berpindah
tempat dan memilih tempat tinggalnya di wilayah itu, untuk meninggalkan negara mana pun
termasuk negaranya sendiri, dan bahwa tidak seorang pun dapat dapat secara sewenang-
wenang dirampas haknya untuk memasuki negaranya sendiri (pasal 12)
g. Pengaturan yang diberlakukan bagi pengusiran orang asing yang secara sah tinggal di negara
pihak (pasal 13)
h. Persamaan semua orang di depan pengadilan dan badan peradilan, hak atas pemeriksaan
yang adil dan terbuka oleh badan peradilan yang kompeten, bebas dan tidak berpihak, hak
atas praduga tak bersalah bagi setiap orang yang dituduh melakukan tindak pidana, dan hak
setiap orang orang yang dijatuhi hukuman atas peninjauan kembali keputusan atau
hukumannya oleh badan peradilan yang lebih tinggi (pasal 14)
i. Pelarangan pemberlakuan secara retroaktif peraturan perundang-undangan pidana (pasal 15)
j. Hak setiap orang untuk diakui secara pribadi di depan hukum (pasal 16)
k. Tidak boleh dicampurinya secara sewenang-wenang atau secara tidak sah privasi, keluarga,
rumah atau surat-menyurat seseorang (pasal 17)
l. Hak setiap orang atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama serta perlindungan
atas hak-hak tersebut (pasal 18)
m. Hak orang untuk mempunyai pendapat tanpa campur tangan pihak lain dan hak atas
kebebasan menyatakan pendapat (pasal 19)
n. Pelarangan atas propaganda perang serta tindakan yang menganjurkan kebencian atas dasar
kebangsaan, ras atau agama yang merupakan hasutan untuk melakukan tindak diskriminasi,
permusuhan atau kekerasan (pasal 20)
o. Pengakuan hak untuk berkumpul secara damai (pasal 21)
p. Hak setiap orang atas kebebasan berserikat (pasal 22)
q. Pengakuan atas hak laki-laki dan perempuan usia kawin untuk melangsungkan perkawinan
dan membentuk keluarga, prinsip bahwa perkawinan tidak boleh dilakukan tanpa persetujuan
bebas dan sepenuhnya dari para pihak yang hendak melangsungkan perkawinan (pasal 23)
r. Hak anak atas perlindungan yang dibutuhkan oleh statusnyaa sebagai anak di bawah umur,
keharusan segera didaftarkannya setiap anaak setelah lahir dan keharusan mempunyai nama,
dan anak atas kewarganegaraan (pasal 24)
s. Hak setiap warga negara untuk ikut serta dalam penyelenggaraan urusan politik, untuk
memilih dan dipilih, serta mempunyai akses berdasarkan persyaratan umum yang sama pada
jabatan publik di negaranya (pasal 25)
t. Persamaan kedudukan semua orang di depan hukum dan hak semua orang atas perlindungan
hukum yang sama tanpa diskriminasi (pasal 26)
u. Tindakan untuk melindungi golongan etnis, agama, atau bahasa minoritas yang mungkin ada
di negara pihak (pasal 27)

2. Kasus –kasus pelanggaran HAM internasional


Menurut ketentuan pasal 1 ayat 6 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara
baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi ,
membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-
undang ini, dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan
benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Menurut pasal 7 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000
tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, pelanggaran hak asasi manusia yang berat meliputi kejahatan genosida dan
kejahatan terhadap kemanusiaan.
a. Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau
memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara:
1) membunuh anggota kelompok
2) mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok
3) menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh
atau sebagiannya.
4) Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok
5) Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain
b. Kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan
yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap
penduduk sipil, berupa:
1) pembunuhan
2) pemusnahan
3) perbudakan
4) pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa
5) perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang
melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional
6) penyiksaan
7) perkosa, perbudaan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi
secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara.
8) Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham
politik, ras, kebangsan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara
universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional
9) Penghilangan orang secara paksa
10) Kejahatan apartheid
Di dalam hukum internasional yang tradisional aktor penting yang memiliki hak dan kewajiban adalah
negara. Berbeda dengan hukum internasional tradisional, aktor yang berperan dalam hukum HAM
internasional tidak hanya negara, namun justru individu yang lebih memegang peranan. Meski begitu,
negara tetap merupakan pemegang kewajiban utama dalam hukum HAM internasional, yang
mencerminkan berlangsungnya negara sebagai fokus utama hukum internasional (Sarah Joseph, dalam
Sobirin Malian dan Suparman Marzuki, 2003: 159).
Status quo ini menggambarkan kenyataan bahwa negara dapat menimbulkan ancaman besar terhadap hak
asasi seseorang sebagaimana secara umum penyalahgunaan kekuasaan oleh polisi atau militer. Meski
tentu saja kelompok nonpemerintah dapat juga mengancam hak asasi seseorang misalnya kelompok
separatis, teroris, kekerasan suami terhadap istri termasuk oleh perusahaan. Telah kita ketahui bahwa
pelanggaran HAM internasional meliputi berbagai kasus. Oleh karena itu, dalam buku ini diuraikan contoh
pelanggaran HAM internasional dalam bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran HAM yang
dilakukan oleh perusahaan multi nasional.
(1) Pelanggaran HAM dalam bentuk penyalahgunaan kekuasaan
(a) Pelanggaran HAM oleh Benito Mussolini di Italia tahun 1924
Benito Mussolini adalah pendiri fasisme dan diktator Italia. Dia memerintah pada tahun 1924 –
1943, dan selama masa pemerintahannya banyak lawan-lawan politiknya yang ditangkap dan
dibunuh. Mussolini juga melancarkan politik luar negera yang agresif dengan menduduki Etiopia
(1935 – 1936), Albania (1939), dan berkoalisi dengan Hitler yang pada tahun 1940 menyatakan
perang terhadap sekutu.
(b) Pelanggaran HAM oleh Hitler di Jerman tahun 1933.
Setelah kemenangan pemilu melalui Partai Buruh Jerman Sosialis, Adolf Hitler menumpas segala
bentuk demokrasi dan mendirikan negara totaliter. Lawan-lawan politiknya ditangkapi secara
masal, berbagai kejahatan kemanusiaan dilakukannya, mulai dari gerakan pembasmian orang-
orang Yahudi, agersi dengan mencaplok Austria dan Cekoslowakia (1938), hingga meletupkan
Perang Dunia II dengan menyerbu Polandia (1939).
(c) Pelanggaran HAM oleh Rezim Apatheid di Afrika Selatan Tahun 1960
Rezim apartheid yang dikuasai oleh minoritas kulit putih melakukan penindasan terhadap warga
negara berkulit hitam. Salah satu bentuk penindasan tersebut tergambar melalui peristiwa
Sharpeville ketika lebih dari 77 orang tewas terutama di pihak sipil. Peristiwa ini kemudian menjadi
salah satu simbol perlawanan pejuang antiapartheid. Peristiwa lain adalah kerusuhan berdarah
Soweto (1976) yang banyak meminta korban, terutama murid-murid sekolah.
(d) Pelanggaran HAM oleh Jean Bedel Bokassa di Republik Afrika Tengah 1976
Jean Bedel Bokassa, yang menobatkan diri sebagai Kaisar setelah menggulingkan David Daco,
menjalankan pemerintahannya dengan otoriter dan berbagai kejahatan kemanusiaan. Dalam kurun
waktu 1976 – 1980 tidak kurang 1.500 orang lawan politiknya hilang tanpa jejak.
(e) Pelanggaran HAM oleh Idi Amin di Uganda tahun 1971
Idi Amin yang menjadi presiden Uganda pada 1971 – 1979 telah menjalankan pemerintahannya
dengan otoriter, lalim dan penuh teror. Mulai dengan pengusiran 80.000 keturunan Asia,
penangkapan semena-mena, hingga tidak kurang 300.000 orang korban pembunuhan tanpa
proses pengadilan.
(f) Pelanggaran HAM oleh Amerika Serikat TAHUN 1989
Bentuk pelanggarannya adalah pembataian terhadap anak-anak, pelakunya Patrick Edward P. Ia
memberondong murid SD di Cleveland (California) dengan korban 5 tewas dan 30 luka-luka.
Semua korban adalah anak Asia sehingga diduga ada unsur rasialisme. Peristiwa serupa pernah
terjadi antara tahun 1985 – 1988 di Alabama, Illionis, Chicaago, Philadelphia dan Florida.
(g) Pelanggaran HAM oleh Uni Sovyet tahun 1979
Sebanyak 85.000 tentara Uni Sovyet mengadakan invasi (penyerbuan) ke Kabul (Afganistan) yang
mendukung pemerintahan Babrak Karmal melalui kudeta sehingga menimbulkan korban perang
berkepanjangan sampai dengan tahun 1990-an
(h) Pelanggaran HAM oleh Sobodon Milosevic
Slobodon Milosevic adalah pemimpin mayoritas etnik Serbia di Yugoslavia. Ia melakukan
pembantaian massal terhadap etnik Bosnia dan Kroasia. Pada tahun 1999 Slobodon Milosevic
melakukan pembantaian 3000 etnis Kosovo Albania.
(2) Pelanggaran HAM oleh Perusahaan Multinasional
Perusahaan multinasional dapat melakukan pelanggaran HAM, misalnya melanggar hak buruh
dengan melakukan penganiayaan dan eksploitasi tenaga buruh , seperti perusahaan Nike yang menerima
kecaman karena kondisi pabrik suplier mereka di Asia berada di bawah standar. Perusahaan ini juga
berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan yang meluas (misalnya penambangan oleh Royal Dutch
Shell dan British Petroleum yang telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah di perkampungan
Ogoni Nigeria serta Kolombia), yang berdampak buruk terhadap hak kesehatan, hak hidup, hak minoritas,
dan hak untuk menentukan nasib sendiri penduduksetempat (Sarah Joseph, dalam Sobirin Malian,
Suparman Marzuki, 2003: 160).
Perusahaan Nike juga cenderung memiliki peraturan keselamatan kerja yang kurang lengkap yang
dapat mengancam hak pekerja atas kesehatan, dan yang paling buruk, hak mereka untuk hidup. Peraturan
yang kurang ketat ini juga dapat mengancam hidup dan integrias jasmaniah masyarakat di sekitar pabrik
Union Carbide di Bhopal India 1984, yang menelan korban jiwa 2000 orang dan mencederai lebih dari
200.000 orang merupakan bukti bahwa pelanggaran HAM dapat juga dilakukan oleh perusahaan.

3. Proses dan sanksi pelanggaran HAM pada Peradilan Internasional

Dalam konferensi Internasional di Roma, Italia, pada bulan Juni 1998, PBB mengesahkan Rule of Procedur
atau hukum acara bagi berfungsinya Mahkamah Internasional (International Criminal Court/ICC). Yurisdiksi ICC
berlaku atas kasus-kasus pelanggaran HAM dan kejahatan humaniter lainnya seperti genocide, kejahatan perang,
serta agresi. Negara-negara anggota PBB tidak secara otomatis terikat oleh yurisdiksi ICC, tetapi melalui suatu
pernyataan mengikatkan diri dan menjadi “pihak” pada Statuta ICC. Kedudukan ICC berada di Den Gaag, Belanda,
namun sidang-sidangnya dapat diadakan di negara-negara lain sesuai dengan kebutuhan.
Peradilan internasional HAM yang dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB di bawah Bab VII Piagam PBB,
untuk mengadili kejahatan humaniter adalah sebagai berikut:
a. Mahkamah Internasional untuk Bekas Yugoslavia (International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia)
yang dibentuk pada tahun 1993 dan berkedudukan di Den Haag Belanda.
b. Mahkamah Internasional untuk Rwanda (International Tribunal fo Rwanda) yang dibentuk pada tahun 1994 dan
berkedudukan di Arusha, Tanzania, dan di Kagali, Rwanda