Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUANKEPERWATAN KARDIOVASKULER I

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SYOK KARDIOGENIK

DENGAN PSIKOSOSIAL ANSIETAS

OLEH :

FIFI RAHMADITA

183110174

3A

Dosen Pembimbing :
Ns.Sila Dewi Anggreni.M.Kep.Sp.KMB

Renidayati,S.Kp.M.Kep.Sp.Jiwa

DIII KEPERAWATAN PADANG

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

2020/2021
BAB

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kardiovaskuler (Jantung-Pembuluh darha) merupakan salah satu organ vital yang memiliki
dua fungsi utama yaitu pompa (pompa function) termasuk miokardium, katup dan sistem
konduksi dan Sirkulasi (circulation function) sebagai sirkulasi umum bersama pembuluh darah.

Syok merupakan gangguan sirkulasi yyang diartikan sebagai kondisi tidak adekuat transpor
oksihen kejaringan atau perfusi yang diakibatkan oleh gangguan hemodinak. Gangguan
hemodinamik tersebut dapat berupa penurunan tahanan vaskuler sistematik terutama di arteri,
berkurangnya darah balik, penurunan pengisisan ventrikel dan sangat kecilnya curah jantung
Syok juga didefinisikan yaitu sindrom klinis akibat kegagalan sistem sirkulasi dengan akibat
ketidakcukupan pasokan oksigen dan substrat metabolic lain kejaringan serta kegagalan
pembuangan sisa metabolisme. Syok kardiogenik merupakan suatu kondisi dimana terjadi
hipoksia jaringan sebagai akibat dari menurunnya curah jantung, meskipun volume intravaskuler
cukup. Sebagian besar kondisi syok ini disebabkan oleh infark miokard akut (Asikin et all,
2016).

Syok kardiogenik terjadi akibat kegagalan pompa jantung, yang dapat diakibatkan akibat
preload, afterload atau kontraktilitas miokardium. Curah jantung juga menurun pada disritmia.
Gangguan preload dapat terjadi akibat pneumotoraks, efusi perikardium, hemoperikardium atau
penumoperikardium. Gangguan afterload dapat terjadi akibat kelainan obstruktif congenital,
emboli, peningkatan resistensi vaskular sistemik (misalnya pada pheochromocytoma). Gangguan
kontraktilitas miokardium dapat diakibatkan infeksi virus, gangguan metabolik seperti asidosis,
hipoglikemia, hipokalsemia, penyakit kolagen dll. Disritmia, misalnya blok arterioventrikular
atau paroxysmal atrial takikardia dapat mengakibatkan syok kardiogenik. Respon neurohumoral
seperti terjadi pada syok hipovolemik juga terjadi pada syok kardiogenik. Peningkatan resistensi
vaskular sistemik akan meningkatkan afterload yang lebih lanjut akan berakibat penurunan curah
jantung.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi Syok kardiogenik
2. Apa saja etiologi Syok kardiogenik
3. Apa saja tanda dan gejala Syok kardiogenik
4. Bagaimana patofisiologi Syok kardiogenik
5. Bagaimana WOC Syok kardiogenik
6. Apa saja komplikasi Syok kardiogenik
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang Syok kardiogenik
8. Apa saja penatalaksanaan Syok kardiogenik
9. Bagaimana Asuhan keperawatan pada pasien dengan Syok kardiogenik

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien Syok kardiogenik
2. Tujian Khusus
a) Untuk dapat mengetahui apakah yang dimaksud dari Syok kardiogenik
b) Untuk mengetahui apa saja etiologi Syok kardiogenik
c) Untuk dapat mengetahui apa saja tanda dan gejala Syok kardiogenik
d) Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi dari Syok kardiogenik
e) Untuk mengetahui bagaimana WOC Syok kardiogenik
f) Untuk mengetahui apa saja komplikasi Syok kardiogenik
g) Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan penunjang Syok kardiogenik
h) Untuk mengetahui apa saja penatalaksanaan Syok kardiogenik
i) Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan Syok kardiogenik
BAB II

TINJAUAN TEORI

1. Konsep Penyakit Syok Kardiogenik


A. Definisi

Syok kardiogenik adalah syok yang disebabkan oleh ketidakadekuatan perfusi jaringan akibat
dari kerusakan fungsi ventrikel. Syok kardiogenik merupakan ketidakmampuan jantung
mengalirkan cukup darah ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme, akibat dari
gangguan fungsi pompa jantung (Aspiani, 2015).

Syok kardiogenik merupakan stadium akhir disfungsi ventrikel kiri atau gagal jantung


kongestif, terjadi bila ventrikel kiri mengalami kerusakan yang luas. Otot jantung kehilangan
kekuatan kontraktilitasnya,menimbulkan penurunan curah jantung dengan perfusi jaringan yang
tidak adekuat ke organ vital (jantung, otak, ginjal). syok kardiogenik biasanya ditandai dengan
penurunan tekanan darah (sistolik kurang dari 90 mmHg, atau berkurangnya tekanan arteri rata-
rata lebih dari 30 mmHg) dan atau penurunan pengeluaran urin (kurang dari 0,5 ml/kg/jam)
dengan laju nadi lebih dari 60 kali per menit dengan atau tanpa adanya kongesti organ. Tidak ada
batas yang jelas antara sindrom curah jantung rendah dengan syok kerdiogenik.

B. Etiologi Syok Kardiogenik

Penyebab syok kardiogenik terjadi akibat beberapa jenis kerusakan, gangguan atau cedera
pada jantung yang menghambat kemampuan jantungg untuk berkontraksi secara efektif dan
memompa darah. Pada syok kardiogenik, jantung mengalami kerusakan berat sehingga tidak bisa
secara efektif memperfusi dirinya sendiri atau organ vital lainnya. Ketika keadaan tersebut
terjadi, jantung tidak dapat memompa darah karena otot jantung yang mengalami iskemia tidak
dapat memompa secara efektif. Pada kondisi iskemia berkelanjutan, denyut jantung tidak
berarturan dan curah jantung menurun secara drastic (Yudha, 2011).

Beberapa faktor penyebab terjadinya syok kardiogenik adalah :

1. Infark Miokardium : jantung yang rusak tidak dapat memompa darah dan curah jantung
tiba-tiba menurun. Tekanan sistolik menurun akibat kegagalan mekanisme kompensasi.
Jantung akan melakukan yang terbaik pada setiap kondisi, sampai akhirnya pompa
jantung tidak dapat memperfusi dirinya sendiri
2. Aritmia Ventrikel yang Mematikan : pasien dengan takikardia terus menerus akan
dengan cepat menjadi tidak stabil. Tekanan darah sistolik dan curah jantung menurun
karena denyut jantung yang terlalu cepat menurunkan waktu pengisian ventrikel.
Takikardia ventrikel dan fibrasi ventrikel dapat terjadi karena iskemia miokardium
setelah infark miokardium akut
3. Gagal Jantung Stadium Akhir : jaringan parut di miokardium akibat serangan jantung
sebelumnyaa, dilatasi ventrikel, dan iskemia miokardium kronis merusak otot jantung,
dan gerak dinding menjadi tidak terkoordinasi (ruang ventrikel tidak padat memompa
secara bersamaan.

C. Tanda dan gejala


1. Tekanan darah <90 mmhg
2. HR >100x/menit
3. Nadi cepat dan lemah
4. Penurunan bunyi jantung
5. Pucat dan lembab karena vasokontriksi sekunder akibat stimulasi simpatis membawa
aliran darah yang lebih sedikit (warna dan kehangatan) ke kulit
6. Oliguria (urin output < 20 ml/jam)
7. Nyeri dada
8. Disritmia akibat penurunan oksigen ke jantung
9. Takipnea
10. Penurunan curah jantung
11. Pengingkatan SVR
12. Sianoso
13. Diaforesisi ( mandi keringkat) karena stimulasi simpatis mengakibatkan kelenjar
keringat
14. Ekstremitas dingin
D. Patofisiologi

Syok kardiogenik di tandai oleh gangguan fungsi ventrikel kiri, yang mengakibatkan
gangguan berat pada perfusi jaringan dan penghantaran oksigen ke jaringan. Nekrosis fokal
diduga merupakan akibat dari ketidakseimbangan yang terusmenerus antara kebutuhan suplai
oksigen miokardium. Pembuluh coroner yang terserang juga tidak mampu meningkatkan aliran
darah secara memadai sebagai respons terhadap peningkatan beban kerja dan kebutuhan oksigen
jantung oleh aktivitas respons kompensatorik seperti perangsang simpatik. Kontraktilitas
ventrikel kiri dan kinerjanya menjadi sangat terganggu akibat dari proses infark. Pertahanan
perfusi jaringan menjadi tidak memadai, karena ventrikel kiri gagal bekerja sebagai pompa dan
tidak mampu menyediakan curah jantung dengan baik. Maka dimulailah siklus yang terus
berulang. Siklus dimulai saat terjadinya infark yang berkelanjut dengan gangguan fungsi
miokardium (Muttaqin, 2009).

Kerusakan miokardium baik iskemia dan infark pada miokardium mengakibatkan


perubahan metabolism dan terjadi asidosis metabolic pada miokardium yang berlanjut pada
gangguan kontraktilitas miokardium yang berakibat pada penurunan volume sekuncup yang di
keluarkan oleh ventrikel. Penurunan curah jantung dan hipotensi arteria disebabkan karena
adanya gangguan fungsi miokardium yang berat. Akibat menurunnya perfusi coroner yang lebih
lanjut akan mengakibatkan hipoksia miokardium yang bersiklus ulang pada iskemia dan
kerusakan miokardium ulang. Dari siklus ini dapat di telusuri bahwa siklus syok kardiogenik ini
harus di putus sedini mungkin untuk menyelamatkan miokardium ventrikel kiri dan mencegah
perkembangan menuju tahap irreversible dimana perkembangan kondisi bertahap akan menuju
pada aritmia dan kematian (Muttaqin, 2009).
E. WOC Syok kardiogenik

Infark miokard akut, Trauma jantung,


Endokarditias infeksi

Necrosis Miokard

Kerusakkan otot jantung

Gangguan Kontraktilitas miokardium

Disfungsi Ventrikel kiri

Perfusi jaringan
tidak efektif
SYOK KARDIOGENIK

Penurunan curah Darah ke pulmonal


Nutrisi dan O2 ke
jantung menurun
jaringan menurun

Gangguan perfusi Metabolisme basal Aliran darah arteri Gangguan


menurun terganggu coroner menurun pertukaran gas

Berkurangnya suplai Kelelahan dan Asupan oksigen ke


darah ke otak kelemahan jantung menurun

Intoleransi aktivitas Hipoksia


Perubahan mental myokardium
(cemas, gelisah)

Mekanisme anaerob
Ansietas

Nyeri dada Nyeri akut


F. Komplikasi Syok kardiogenik
1. Cardiopulmonary arrest
2. Disritmi
3. Gagal multisistem organ
4. Stroke
5. Tromboemboli

G. Pemeriksaan penunjang Syok kardiogenik


1. EKG
2. Foto Rontgen
3. Ekokardiografi
4. Hemodinamik monitoring invasive atau non invasif
5. Pemeriksaan analisa gas darah atau laktat

H. Penatalaksanaan Syok kardiogenik


1. Istirahat
2. Diit, diit jantung, makanan lunak, rendah garam
3. Pemberian digitalis, membantu kontraksi jantung dan memperlambat frekuensi
jantung. Hasil yang diharapkan peningkatan curah jantung, penurunan tekanan
vena, dan volume darah dan peningkatan diuresis akan mengurangi edema
4. Pemberian diuretik, yaitu untuk memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal.
5. Morfin, diberikan untuk mengurangi sesak napas pada asma cardial, hati-hati
depresi pernapasan.
6. Pemberian oksigen
7. Terapi vasodilator dan natrium nitropurisida, obat-obatan vasoaktif merupakan
pengobatan utama untuk mengurangi impedansi (tekanan) terhadap penyemburan
darah oleh ventrikel.

2. Konsep Psikososial Ansietas


A. Ansietas
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan
dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki
objek yang spesipik. Ansietas dialami secara subjektif dan dikomunikasikan secara
interpersonal (Stuart, 2014).
B. Etiologi
Menurut Stuart (2014) ansietas dapat diekspresikan secara langsung melalui
timbulnya gejala atau mekanisme koping yang dikembangkan untuk menjelaskan asal
ansietas yaitu :
1. Faktor Predisposisi :
a) Faktor Psikoanalitik, ansietas adalah konflik emosional yang terjadi
antara dua elemen kepribadian id dan superego. Id mewakili dorongan
insting dan impuls primitif seseorang, sedangkan superego
mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-
norma budaya seseorang.
b) Faktor Interpersonal, bahwa ansietas timbul dari perasaan takut
terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal.
c) Faktor Perilaku, ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala
sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai
tujuan yang diinginkan.
d) Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas biasanya
terjadi dalam keluarga.
e) Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus
untuk benzodiasepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulatory
inhibisi asam gama-aminobutirat (GABA), yang berperan penting
dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan ansietas.
2. Faktor Presipitasi
Stressor pencetus dapat berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor
pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori :
a) Ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas fisiologi yang akan
terjadi atau penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup sehari-
hari.
b) Ancaman terhadap sistem diri dapat membahayakan indentitas, harga diri, dan
fungsi social yang terintegrasi pada individu.
C. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala kecemasan yang di tunjukkan atau di temukan oleh seseorang
bervariasi tergantung dari beratnya atatu tingkatan yang dirasakan oleh individu
tersebut (Hawari, 2004).
1. Cemas, kawatir, firasat buruk, takut akan pikirannyasendiri, mudah tersinggung,
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
3. Takut sendiriaan, takut pada keramaian, dan banyak orang.
4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
5. Gangguan kosentrasi daya ingat
6. Gejala somatikrasa sakit pada oto dan tulang, berdebar-debar, sesak nafas,
gangguan pencernaan, sakit kepala, gangguan perkemihan, tangan terasa dngin
dan lembab, dan lain sebagainya (Eko prabowo, 2014: 124-125).

D. Klasifikasi Ansietas
Menurut Stuart (2014) klasifikasi ansietas adalah :
7. Ansietas ringan : Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam
kehidupan sehari-hari, ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan
meningkat lapang persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi dan menghasilkan
pertumbuhan serta kreativitas.
8. Ansietas sedang : Ansietas sedang memungkinkan individu untuk berfokus
padahal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Ansietas ini
mempersempit perhatian lapang persepsi individu. Dengan demikian, individu
mengalami tidak perhatian yang selektif namun berfokus pada lebih banyak area
jika diarahkan untuk melakukannya
9. Ansietas berat : Ansietas berat sangat mengurangi lapang persepsi
individu. Individu cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta
tidak berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi
ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada
area lain.
10. Tingkat panik :Tingkat panik dari ansietas berhubungan dengan
terperangah, ketakutan, dan terror Karena mengalami kehilangan kendali,
individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun
dengan arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan
peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan
dengan orang lain, perepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang
rasional.
E. Penatalaksanaan
Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap pencegahan dan
terapi memrlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencakup
fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius.
Selengkapnya seperti pada uraian berikut.
1. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara:
a) Makan makan yang bergizi dan seimbang
b) Tidur yang cukup
c) Cukup olahraga
d) Tidak merokok
e) Tidak meminum minuman keras
2. Terapi psikolofarmaka
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memaki obat
obtan yang berhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal
penghanatr saraf). Disusunan saraf pusat otak (limbic system). Terapi psikofarmaka
yang serig di pakai adalah obat anticemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam,
klobazam, bromazepam, lorazepam, buspirone HCL, meprobramate dan alprazolam.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Meliputi nama pasien, tempat tanggal lahir, status perkawinan, pekerjaan, jumlah
anak, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk, no medical record(MR) dan diagnosa
medik
2. Identitas Penanggung jawab
Meliputi nama, pekerjaan, alamat, hubungan dengan pasien
3. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan sekarang
1) Keluhan utama
Biasanya klien dengan syok kardiogenik akan mengalami penurunan tekanan
darah,
2) Keluhan saat dikaji
Biasanya klien dengan syok kardiogenik akan mengalami penurunan tekanan
darah, denyut yang cepat namun lemah, sesak napas, ujung kaki dan tangan
yang dingin, hingga penurunan kesadaran
b) Riwayat Kesehatan dahulu
Apakah Pasien memiliki riwayat kesehatan dahuku seperti Riwayat penyakit
jantung, Riwayat infark miokard akut
c) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang memiliki riwayat kesehatan yang sama seperti
pasien
4. Pola Aktivitas sehari-hari
a) Aktivitas dan Istirahat
1) kelemahan, kelelahan
2) Tanda : takikardia, dispnea pada istirahat atau aktivitas, perubahan warna
kulit kelembaban, kelemahan umum
3) Adanya perubahan pada pola istirahat saat sehat dan sakit
b) Pola Nutrisi
Biasanya terjadi perubahan makan pasien saat sehat dan sakit
c) Pola eliminasi
Adanya Tanda Oliguria dengan Produksi urine < 30 ml/ jam
d) Pola bekerja
Biasanya pasien tidak mampu bekerja seperti biasanya saat sakit
e) Nyeri atau ketidaknyamanan
Adanya nyeri dada yang timbulnya mendadak dan sangat hebat, tidak hilang
dengan istirahat atau nitrogliserin, lokasi tipikal pada dada anterio substernal,
prekordial, dapat menyebar ketangan, rahang, wajah, Tidak tentu
lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher,
ditandai dengan wajah meringis, perubahan postur tubuh, meregang mengeliat,
menarik diri, kehilangan kontak mata, perubahan frekuensi atau irama
jantung, TD, pernafasan, warna kulit/ kelembaban ,bahkan penurunan kesadaran.

5. Pemeriksaan fisik
a) Keadaan Umum : Baik, cukup lemah
Tingkat kesadaran : Terkadang dapat menyebabkan penurunan kesadaran
b) System Pernafasan
Biasanya didapatkan pasien dyspnea dengan atau tanpa kerja, batuk dengan atau
tanpa produksi sputum, penggunaan bantuan pernafasan oksigen.
c) System Kardiovaskuler
Inspeksi : Apakah adanya kulit pucat atau sianosis
Palpasi : Biasanya ekstremitas terasa dingin, terjadinya penurunan tekanan
darah, Nadi cepat dan lemah, distensi vena jugular
Auskultasi : Suara jantung terdengar jauh, murmur sistolik terdengar ada
regurgitasi katup mitral akut atau adanya septum ventrikel
d) System Pencernaan
Inspeksi : abdomen dan kelainan struktur abdomen ,
Palpasi : Apakah teraba masa di abdomen
Perkusi : apakah lambung tympani atau pekak
Auskultasi : apakah bising usus
e) System Reproduksi
Apakah bentuk nya normal , utuh , ada kelainan atau tidak , apakah atresiani ,
hipospadia , apakah meconium sudah keluar
f) System integumen perkemihan
Terdapatnya Oliguri (urin < 20 mL/jam)

6. Pemeriksaan Fisik Psikososial Ansietas


a) Respon Fisik
1) Kardiovaskuler : Jantung berdebar debar
2) Pernafasan : Nafas cepat/pendek, rekanan pada dada, nafas
dangkal, terengah-engah
3) Neuromuskular : Refleks meningkat, insomnia, tremor,gelisah,
wajah tegang, kelemahan umum.
4) Kulit : Pucat, berkeringat
b) Respon Perilaku
1) Motorik : gelisah, ketegangan fisik, tremor, sering kagey, bicara
cepat, kurang koordinasi, cenderung menarik diri, menghindar dan
menahan diri
2) Kognitif : Tidak mampu berkonsentrasi, pelupa, salah tafsir, pikiran
kacau
3) Afektif : tdk sabar, tegang, nervous, takut berlebihan, teror, gugup,
sangat gelisah.

7. Data Psikologis
Pasien sudah bisa menerima keadaannya, pasien merasakan cemas dengan
kondisinya, pasien mengatakan merasa takut dengan kondisinya saat ini, pasiem lebih
sering menarik diri dan menghindar dalam keluarga / kelompok / masyarakat. Pasien
akan mengalami berkurangnya toleransi terhadap stress, dan kecenderungan ke arah
lokus eksternal dari keyakinan control, pasien akan merasa harga dirinya rendah
akibat ketakutan yang tidak rasional terhadap objek, aktivitas atau kejadian tertentu.
8. Data spiritual
Diharapkan pasien meyakini bahwa sehat dan sakit datang dari-Nya
9. Data Penunjang
a) Electrocardiography (elektrokardiografi)
b) Radiografi dada (chest roentgenogram) dapat terlihat normal pada mulanya atau
menunjukkan tandatanda gagal jantung kongestif akut (acute congestive heart
failure)
c) Laboratorium : Pemeriksaan darah lengkap, Kadar kreatinin dan blood urea
nitrogen (BUN), Gas darah arteri, Studi koagulasi.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran arteri dan/atau
vena
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis
4. Ansietas berhubungan dengan ancaman konsep diri
5. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan Perubahan pada citra tubuh

C. Intervensi Keperawatan

N Diagnosa SLKI SIKI


O Keperawatan
1 Perfusi jaringan Setelah dilakukan tindakan Perawatan sirkulasi
perifer tidak keperawatan perfusi perifer Observasi :
efektif tidak efektif diharapkan 1. Periksa sirkulasi
berhubungan masalah teratasi dengan perifer(mis.nadi
dengan penurunan kriteria hasil perifer,edema,pengisisan
aliran arteri 1. Denyut nadi perifer kapiler,warna,suhu,ankle
dan/atau vena menigkat brachial index)
2. Warna kulit pucat 2. Identifikasi faktor resiko
menurun gangguan sirkulasi
3. Edema perifer 3. Monitor
menurun panas,kemerahan,nyeri
4. Nyeri ekstremitas atau bengkak pada
menurun ekstremitas
5. Pengisian kapiler Terapeutik
membak 1. Hindari pemasangan infus
6. Akral membaik atau pengambilan darah
7. Turgor kulit membaik pada daerah keterbatasan
8. Tekanan darah sistolik perfusi
membaik 2. Hindari pengukuran
9. Tekanan darah tekanan darah pada
diastolik membaik eksremitas keterbatasan
pefusi
3. Hindari penekanan dan
pemasangan tourniquet
pada area yang cidera
4. Lakukan pencegahan
infeksi
Edukasi
1. Anjurkan berhenti
merokok
2. Anjurkan olahraga yang
rutin
3. Anjurkan menggunakan
obat tekanan
darah,antikoagulan dan
penurun kolesterol jika
perlu
4. Anjurkan program diet
utk memperbaiki sirkulasi
5. Informasikan tanda dan
gejala darurat yang harus
diinformasikan
2 Penurunan curah Setelah dilakukan tindakan Penurunan Jantung
jantung keperawatan curah jantung Observasi
berhubungan meningkat diharapkan masalah 1. Identifikasi tanda/gejala
dengan perubahan teratasi dengan kriteria hasil primer penurunan curah
afterload 1. Kekuatan nadi perifer jantung
meningkat 2. Identifikasi tanda/gejala
2. Takikardi menurun sekundr penurunan curah
3. Lelah menurun jantung
4. Dispnea menurun 3. Monitor tekanan darah
5. Oliguria menurun 4. Monitor intake dan output
6. Pucat/sianosi menurun 5. Monitor saturasi oksigen
7. Tekanan darah 6. Monitor keluhan nyeri
membaik 7. Periksa tekanan darah dan
frekuensi nadi sebelum
dan sesudah aktivitas
Terapeutik
1. Posisikan pasien semi
fowler atau fowler dengan
kaki kebawah atau posisi
nyaman
2. Fasilitasi pasien dan
keluarga untuk
memodifikadi gaya hidup
sehat
Edukasi
1. Anjurkan beraktivias fisik
sesuai toleransi
2. Anjurkan beraktivitas
fisik secara bertahap
3. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri
berhubungan keperawatan Tingkat Nyeri Observasi:
dengan agen menurundiharapkan masalah 1. Identifikasi lokasi,
pencedera teratasi dengan kriteria: karakteristik, durasi,
fisiologis 1. Kemampuan frekuensi, kualitas ,
menuntaskan aktivitas intensitas nyeri
2. Keluhan nyeri 2. Identifikasi skala nyeri
menurun 3. Identifikasi faktor
3. Meringis menurun pemberat dan
4. Sikap protektif memperingan nyeri
menurun Terapeutik
5. Gelisah menurun 1. Berikan teknik
6. Kesulitan tidur nonfarmakologis untuk
menurun mengurangi rasa nyeri
7. Frekuensi nadi 2. Kontrol lingkungan yang
membaik memperberat rasa nyeri
3. Failitasi istirahat dan tidur
Edukasi
1. Jelaskan penyebab,
periode dan pemcu nyeri
2. Jelaskan strategi
meredakan nyeri
4 Ansietas Setelah dilakukan tindakan Reduksi ansietas
berhubungan keperawatan ansietas Observasi :
dengan ancaman diharapkan masalah teratasi 1. Identifikasi saat tingkat
konsep diri dengan kriteria hasil ansietas(mis. kondisi,
1. Verbalisasi waktu, stressor)
kebingungan menurun 2. Identifikasi kemampuan
2. Verbalisasi khawatir mengambil keputusan
akibat kondisi yang 3. Monitor tanda-tanda
dihadapi menurun ansietas
3. Perilaku gelisah Terapeutik:
menurun 1. Ciptakan suasana
4. Perilaku tegang terapeutik untuk
menurun menumbuhan
5. Konsentrasi membaik kepercayaantemani pasien
6. Pola tidur membaik untuk mengurangi
kecemasan.jika
memungkinkan
2. Pahami situasi yang
membuat ansietas
3. Gunakan pendekatan yang
tenang dan meyakinkan
Edukasi :
1. Jelaskan prosedur,termasuk
sensasi yang mungkin
dialami
2. Informasikan secra factual
mengenai diagnosis,
pengobatan dan prognosis
3. Anjurkan keluarga untuk
tetap bersama pasien jika
perlu
4. Anjurkan mengungkapkan
perasaan dan persepsi
5. Latih kegiatan pengalihan
untuk mengurangi
ketegangan latih teknik
relaksasi
5 Harga diri rendah Setelah dilakukan tindakan Manajemen Perilaku
situasional keperawatan Harga diri Observasi
berhubungan meningkat diharapkan masalah 1. Identifikasi harapan untuk
dengan kegagalan teratasi dengan kriteria hasil mengendalikan perilaku
yang berulang Harga diri Terapeutik
1. Penilaian diri positif 1. Dikusikan tanggungjawab
meningkat terhadap perilaku
2. Perasaan memiliki 2. Ciptakan dan pertahankan
kemampuan positif lingkungan dan kegiatan
meningkat perawatan konsisten setiap
3. gairah aktifitas positif dinas
meningkat 3. Tingkatkan aktivitas fisik
4. perasaan tidak mampu sesuai kemampuan
melakukan apapun 4. Bicara dengan nada rendah
menurun dan tenang
5. kemampuan membuat 5. Cegah perilaku pasif dan
keputusan meningkat agresif
6. Hindari bersikap menyudutkan
dan menghentikan
pembicaraan
7. Hindari sikap mengancam dan
berdebat.
Edukasi
1. Informasikan keluarga
bahwa sebagai dasar
membentukkan kognitif

DAFTAR ISI
Perhimpunan Dokter spesialis kardiovaskuler (PERKI). 2016. Panduan Praktik Klinis (PPK)
dan Clinical Pathway (CP) Penyakit jantung dan pembuluh darah

Muttaqin, arif. 2009. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan system kardiovaskuler.
Jakarta : salemba medika

Hawari, Dadang. 2008. Menajemen Stres Cemas Dan Depresi. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia: Jakarta.

Stuart, G. w. (2014). Buku Saku Keperawatan Jiwa. (T. I. M. Rahayu, Ed.) (5th ed.). Jakarta.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI.2017.Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia.Jakarta Selatan:


DPP PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI.2018.Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.Jakarta Selatan :


DPP PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNI.2018.Standar Luaran Keperawatan Indonesia.Jakarta Selatan: DPP
PPNI