Anda di halaman 1dari 28

CRITICAL BOOK REPORT

METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN

Dosen Pengampu Mata Kuliah :


- Drs. Effi Aswita Lubis, M. Pd, M. Si
- Rini Herliani, SE, M. Si

Disusun Oleh :
Kelompok 3
Yulia Fransiska Ginting 7173142036
Rosy J.S. Sibarani 7173142032
Nurtati Sitorus 7173142027

PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
TA . 2019
KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
sebab telah memberikan rahmat dan karunia-Nya serta kesehatan kepada penulis, sehingga
mampu menyelesaikan tugas “Critical Book Report”. Tugas ini dibuat untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah yaitu Metodologi Penelitian Pendidikan.
Tugas Critical Book Report ini disusun dengan harapan dapat menambah pengetahuan
dan wawasan bagi pembacanya. Penulis menyadari bahwa tugas critical book report ini
masih jauh dari kesempurnaan. Apabila dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan dan
kesalahan, penulis mohon maaf karena sesungguhnya pengetahuan dan pemahaman penulis
masih terbatas, karena keterbatasan ilmu dan pemahaman yang belum seberapa.
Karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya
membangun guna menyempurnakan tugas ini. Penulis berharap semoga tugas critical book
report ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi penulis khususnya, Atas perhatiannya
penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, 22 Oktober 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Critical Book Report (CBR) secara singkat dapat diartikan sebagai evaluasi terhadap
suatu buku atau artikel yang akan direview. Critical Book Report (CBR) adalah sebuah tulisan
yang lebih rumit daripada ringkasan karena mensyaratkan, antara lain, kemampuan untuk
menganalisis teks seperti yang dimaksudkan penulisnya, gagasan pengendali atau tesis,
menganalisis teknik pengorganisasian, dan kemampuan meringkas (summary). CBR bukan
hanya merupakan laporan atau tulisan tentang isi suatu buku atau artikel, tetapi lebih kepada
evaluasi, seperti mengulas atau mereview, menginterpretasi serta menganalisis dan bukan
merupakan pembuktian benar atau salah suatu artikel atau buku.
CBR bukan sekedar laporan atau tulisan tentang isi sebuah buku atau artikel, tetapi lebih
menitik beratkan pada evaluasi (penjelasan, interpretasi dan analisis) mengenai keunggulan dan
kelemahan buku atau artikel tersebut, apa yang menarik dari artikel tersebut, bagaimana isi
artikel tersebut bisa mempengaruhi cara berpikir pembaca dan menambah pemahaman pembaca
terhadap suatu bidang kajian tertentu. Dengan kata lain, melalui CBR pembaca (reviewer)
menguji pikiran pengarang/penulis berdasarkan sudut pandang pembaca berdasarkan
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.
Pelaksanaan CBR diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen
pengampu mata kuliah, dan institusi baik ditinjau dari sisi keilmuan dan keterampilan serta
adanya manfaat yang dapat diterapkan di industri, masyarakat dan pemerintah dalam bentuk
inovasi, efisiensi dan produktivitas. Hal lain yang diperoleh adalah pengayaan khasanah
keilmuan terapan. Oleh karena itu sasaran dalam panduan CBR ini adalah mahasiswa dengan
dibimbing oleh dosen pengampu mata kuliah.

1.2 Tujuan Penulisan CBR


Adapun yang menjadi Tujuan pembuatan Critical Book Report Ini adalah :
 Membantu agar mampu mengembangkan budaya membaca.
 Membantu agar mampu berpikir sistematis dan kritis.
 Menambah kemampuan untuk mengekspresikan pendapat dalam memandang suatu
buku yang akan direview.
 Membantu agar mampu berfikir logis.
 Menanggapi atau mengkritisi isi buku metodologi penelitian pendidikan.
 Untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan.
1.3 Manfaat CBR
Adapun yang menjadi manfaat dari critical Book Review yaitu :
 Supaya para pembaca dapat lebih mengetahui lebih dalam mengenai metodologi
penelitian pendidikan.
 Supaya para pembaca dapat lebih paham tentang Metodologi Penelitian Pendidikan.
 Untuk melatih kemampuan penulis atau mahasiswa dalam mengkritisi sebuah buku.
 Mengungkapkan kelebihan dan kelemahan dari isi buku.
 Untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam membandingkan buku yang satu
dengan buku yang lain.
BAB II

INDENTITAS BUKU
2.1 Buku Utama
Judul buku : Metodologi Penelitian Pendidikan
Penulis : Dra. Effi Aswita Lubis, M. Pd, M. Si
Tahun terbit : 2019
ISBN : 978-602-451-137-1
Penerbit : K-Media
Kota : Yogyakarta

2.2 Buku Pembanding


Judul buku :
Penulis :
Tahun terbit :
ISBN :
BAB III

RINGKASAN ISI BUKU


3.1. Buku Utama
BAB I PENDAHULUAN
Penelitian adalah art and science guna mencari jawaban terhdap suatu pemasalahan
(Yoseph dan Yoseph 1979). Karena seni dan ilmiah maka penelitian juga akan memberikan
ruang- ruang yang mengakomodasi adana perbedaan tentang apa yang dimaksud dengan
penelitian.
Penelitian dapat pula diartikan sebagai pengamatan atau inkuiri dan mempunyai tujuan
untuk mencari jawaban permasalahan atau proses penemuan, baik itu discovery maupun
invention. Discovery diartikan temuan sesuatu yang sebenarnya benda atau hal yang
ditemukan itu sudah ada, tetapi belum diketahui orang. Sedangkan invention adalah suatu
penemuan benar- benar baru, artiya hasil kreasi manusia.
Penelitian menurut Kerlinger (1986) adalah proses penemuan yang mempunyai
karakteristik sistematis, terkontrol, empiris, dan mendasarkan pada teori dan hipotesis atau
jawaban sementara. Sedangkan menurut Russefendi (1994) penelitian adalah cara mencapai
kebenaran melalui metode ilmiah. Dari kedua pendapat tersebut jelas kiranya bahwa setiap
orang pada prinsipnya akan memberikan pengertian tentang peneliian berbeda- beda.
Penelitian dapat dikatakan sebagai cara mencari kebenaran melalui metode ilmiah, karena
dalam mengungkapkan penelitian menggunakan metode ilmiah meliputi :
- Perumusan masalah
- Melakukan studi literatur yakni studi mengenal teori dan atau hasil penelitian dimasa
lampau yang berkenaan dengan permaslahan yang akan dikaji
- Jika diperlukan merumuskan praduga- praduga atau hipotesis- hipotesis
- Mengumpulkan data, mengoolah data, menganalisis data, dan
- Mengambil kesimpulan
Metode ilmiah adalah cara mencari kebenaran yang tidak hanya didasarkan kepada alasan
induktif atau deduktif saja, tetapi bersifat menyeluruh atau gabungan antara berpikir induktif-
deduktif. Jadi metode ilmiah adalah suatu prosedur diri proses menari kebenaran. Penelitian
perlu senantiasa dilakukan karena beberapa alasan, diantaranya :
1) Penelitian akan memecahkan suatu permasalahan yang sedang dihadapi
2) Penelitian yang dilakukan harus berupa penelitian lanjutan
3) Melalui penelitian memungkinkan peningkatan aplikasi hasil penelitian yang
ditemukan, sehingga kita akan bertambah maju.
Menurut Russefendi (1994) terdapat berbagai pandangan bagaimana penelitian itu bisa
dikelompokan, diantaranya sebagai berikut berdasarkan maksudnya, penelitian dapat
dibedakan menjadi :
a. Penelitian dasar, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperkembangkan teori
tanpa mementingkan kegunaannya
b. Penelitian terapan, yaitu penelitian yang bertujuan untuk nerepkan dengan
memanfaatkan bidang tertentu
c. Penelitian evaluasi,yaitu penelitian yang bertjuan untuk membantu dalam proses
pengambilan keputusan
d. Penelitian pengembangan, yaitu penelitian yang bertjuan untuk mengembangkan hal-
hal baru
e. Peneltian mendesak, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan
keterampilan dalam memecahkan persoalan yang ada melalui gagasan
Berdasarkan metodenya, penelitian dikelompokan menjadi
a. Penelitian sejarah, yaitu study untuk menjelaskan peristiwa pada masa lampau
b. Penelitian deskritif, yaitu penelitian yang menggunakan observasi, wawancara, atau
angket mengenai keadaan sekarang
c. Penelitian korelasional, yaitu penelitian untuk melihat apakah antara dua variabel
saling berhubungan atau tidak
d. Penelitian komparatif, yaitu penelitian bertujuan untuk melihat faktor penyebab nya
e. Penelitian percobaan yaitu penelitian untuk melihat hukbungan sebab akibat
Salah satu langkah paling penting dalam penelitian adalah menentukan masalah. Sebagai
peneliti pemula seringkali kesulitan memilih masalah yang baik. Dan berikut dikemukakan
beberapa karakteristik masalah yang baik :
1. Topic atau judul yang dipilih benar- benar sangat menarik
2. Pemecahan masalah harus bermanfaat bagi orang- orang yang berkepentingan dalam
bidang tertentu
3. Masalah yang dikemukakan merupakan suatu hal yang baru
4. Dapat diselesaikan sesuai waktu yang diinginkan
5. Tidak bertentang dengan moral
Dalam merancang suatu penelitian, seorang peneliti perlu memahami langkah- langkah
yang harus ditempuh dalam proses peneliti sebagai berikut :
1. Pengamatan/ studi pendahuluan
2. Merumuskan masalah
3. Mengidentifikasi masalah
4. Merumuskan hipotesis
5. Pengumpulan data
6. Kesimpulan
7. Ringkasan

BAB II HIPOTESIS PENELITIAN


Menurut Trelease (1960) memberikan defenisi hipotesis sebagai suatu keterangan
sementara dari suatu fakta yang dapat diamati. Sedangkan menurut Good dan Scate (1954)
menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atu referensi yang dirumuskan dan
diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta- fakta yang dapat diamati dan
digunakan sebagai petunjuk untuk langkah penelitian selanjutnya. Dalam pengujian hipotesis
yang akan diuji adalah apakah hipotesis benar adnya yaitu sesuai dengan fakta yang ada
dipopulasi. Dalam hubungan ini, hipotesis dipandang sebagai pernyataan tentang
karakteristik populasi yang akan diuji kebenranya berdasarkan data sampel.
Oleh karena itu, hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang merupakan
jawaban sementara terhadap masalah inferensial yang telah dirumuskan, dan pernyataanya
tersebut merupakan pernyataan tentang karakteristik populasi yang akan diuji kebenaranya
melalui pengujian hipotesis secara stastistik dengan menggunakan data empiric yang
diperoleh dari sampel. Berikut ciri- cirri dari hipotesis yaitu :
1. Hasil proses teoritik dapat dipertanggung jawabkan kebenrannya
2. Merupakan pernyataan tentang karakteristik populasi
3. Jawaban sementara yang masih perlu diuji kebenaranya dengan enggunakan data
empiric yang diperoleh dari sampel
4. Hipotesis harus menyatakan hubungan atau perbedaan
5. Hipotesis harus dapat diuji
6. Hipotesis harus spesifik dan sederhana
Menurut Balian (1982) hipotesis statika secara umum, dapat dibedakan menjadi 4 macam
yaitu :
a. Hipotesis nihil yaitu hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan atau tidak ada
hubungan antara variabel yang menjadi intteres si peneliti.
b. Hipotesis riset yaitu penggambaran terhadap ide yang ada dalam pemikiran si peneliti
yang dikembangkan dari hasil kajian teoritis.
c. Hipotesis alternative yaitu sebagai bentuk batasan ilmu pengetahuan setelah diperoleh
dari hasil kajian teoritis.
d. Hipotesis penyearah yaitu hipotesis yang menunjukan arah yang pasti dan arah yang
belum pasti atau masih dua arah

BAB III VARIABEL PENELITIAN


Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai, atau mempunyai lebih dari satu
nilai, keadaan, kategori atau kondisi. Sedangkan menurut Kerlinger (1973) mengatakan
bahwa variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari. Di bagiann lain Kalinger
mengatakan bahw variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai
yang berbeda. Dengan demikian variabel itu merupaka suatu yang variasi. Selanjutnya
Kidder (1981) menyatakan variabel adalah suatu kualitas dimana peneliti mempelajari dan
menarik kesimpulan dirinya.
Jenis- jenis variable yaitu :
1. Variabel kategorikal (categorical variables) yaitu variabel yang mempunyai dua
golongan dikotomi atau bergolongan banyak politomi.
2. Variabel bersambungan (continous variables) adalah variabel yang memiliki jarak
jangkau tertentu, karena variabel bersambungan harus memiliki nilai peringkat yang
lebih baik.
Berdasarkan skala pengukuran yang digunakan terdapat empat macam variabel yaitu :
- Nominal untuk data nominal atau angka yang diberikan merupakan symbol dari
kelompok- kelompok yang terpisah sebagai araf dari variabel yang diselidiki.
- Ordinal untuk data angka yang diberikan terhadap taraf variabel yang diselidiki
adalah symbol dari kelompok- kelompok yang terpisah berurutan
- Interval dan rasio untuk angka yang digunakan adalah nilai yang dapat diidentikan
dengan bilangan ril.
Dari segi hubungan antar variabel dikenal dua jenis variabel utama yaitu :
1) Varibel bebas atau variabel pengaruh ( independent variabel) adalah variabel
penyebab yang diduga, terjadi lebih dahulu
2) Variabel tidak bebas atau terikat atau variabel pengaruh (dependent variable) adalah
variabel akibat yang diperkirakan terjadi kemudian.
Selanjutnya akan dibahas jenis- jenis hubungan antara variabel penelitian sabagai
berikut :
 Hubungan simetris
Variabel dikatakan mempunyai hubungan simetris apabilah variabel yang satu tidak
disebabkan atau tidak dipengaruhi oleh yang lainya. Terdapat empat kelompok hubungan
simetris :
a. Kedua variabel merupakan indicator sebuah konsep yang sama
b. Kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama
c. Kedua variabel berkaaitan secara fungsional
d. Hubungan yang kebutulan semata- mata
 Hubungan timbal balik
Hubungan timbal balik adalah hubungan dimana satu variable dapat menjadi sebab dan
juga akibat dari variable lainnya. Perlu diketahui bahwa hubungan timbal balik bukanlah
hubungan, dimana tidak dapat ditentukan variable yang menjadi sebab dan variable yang
menjadi akibat.
 Hubungan asimetris
Inti pokok analisis social terdapat dalam hubungan asimetris, dimana satu variable
memengaruhi variable yang lainnya. Berikut enam tipe asimetris :
 Hubungan Antara stimulus dan respons
 Hubungan Antara disposisi dan respons
 Hubungan Antara ciri individu dan disposisi atau tingkah laku
 Hubungan Antara prakondisi yang perlu dengan akibat tertentu
 Hubunga yang permanen Antara dua variable
 Hubungan Antara tujuan dan cara

BAB IV METODE PENGUMPULAN DATA DAN INSTRUMEN PENELITIAN


Dalam suatu penelitian selalu terjadi proses pengumpulan data. Proses pengumpulan
data tersebut dapat dilakukan dengan metode tertentu. Jenis metode yang dipilih dan
digunakan dalam proses pengumpulan data tergantung pada sifat dan karakteristik
penelitian yang dilakukan. Agar data yang dikumpulkan memenuhi persyaratan atau
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka petugas pengumpul data dan alat bantu
(instrument) pengumpulan data haruslah memenuhi kriteria yang diperlukan.
Diantara metode pengumpulan data yang cukup penting adalah wawancara,
kuesioner, observasi, tes, dan dokumentasi. Setiap metode pengumpulan data tersebut
menggunakan instrument pengumpulan data yang berbeda-beda. Pada dasarnya
instrument dapat dibagi menjadi dua macam yakni tes dan non-tes.
Ada dua jenis wawancara yang dapat dilakukan kaitannya dengan pengumpulan data
penelitian yaitu : 1) Wawancara terpimpin (guided interview) yang juga dikenal sebutan
wawancara berstruktur atau wawancara sistematis. 2) Kuesioner atau angket dapat
digunakan sebagai alat atau instrument pengumpul data penelitian. Kuesioner terdiri dari
daftar pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis.
Observasi sebagai metode pengumpulan data banyak digunakan untuk mengamati
tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati. Observasi
dapat dilakukan secara partisipatif (nonparticipant observation). Observasi dapat juga
berbentuk observasi eksperimental (experimental observation). Observasi yang dilakukan
dengan perencanaan yang matang disebut observasi sistematis.
Tes dapat diartikan sebagai alat pengukur yang mempunyai standar objektif sehingga
dapat dipergunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah
laku individu. Beberapa juga tes yang biasa digunakan dalam penelitian misalnya tes
bakat, tes inteligensi, tes minat, tes prestasi, tes kepribadian, dan sebagainya. Tes yang
baik adalah yang objektif, valid dan reliable. Dalam menggunakan metode dokumentasi
ini, peneliti dapat menyusun instrument dokumentasi berupa variabel-variabel terpilih
yang akan didokumentasikan dengan menggunakan daftar check list sesuai dengan
kebutuhan peneliti. Dokumen dibagi atas dokumen pribadi dan dokumen resmi. Dokumen
pribadi berisi catatan-catatan yang bersifat formal.

BAB V MELAKSANAKAN UJI COBA INSTRUMEN


Secara umum terdapat 2 jenis instrumen yaitu instrmen yang disusun sendiri oleh
peneliti, dan jenis instrument yang sudah terstandar. Butir-butir instrumen terstandar
tersebut kebanyakan bersifat “rahasia” dan hanya boleh digunakan orang-orang yang
memang berwenang yaitu mereka yang telah terdidik untuk mengenal secara mendalam
mengenai instrumen tersebut.

Peneliti yang menggunakan instrument yang disusun sendiri tidak dapat melepaskan
diri dari tanggung jawab mencobkan instrumennya agar apabila digunakan untuk
mengumpulkan data, instrument tersebut sudah betul- betul handal. Sebelum melanjutkan
mengenai apa saja yang harus diperhatikan dan cara- cara yang diambil serta prosedur
yang harus dilalui dalam uji coa instrume, terlebih dahulu akan dibedakan tujuan uji coba
instrument sebagai berikut:

1. Apakah kalimat-kalimat didalam instrument cukup dapat dipahami oleh responden?

a)      Mengenai intruksi atau pedoman pengisian


b)      Mengenai butir- butir pertanyaan

2. Apakah waktu soal diperkirakan atau disediakan untuk mengerjakan soal atau
menjawab pertanyaan sudah memadai?

a)      Waktu yang digunakan untuk persiapan


b)      Waktu yang digunakan untuk mengerjakan
c)      Waktu yang digunakan untuk mengemasi hasil uji coba

3. Bagaimanakah tanggapan responden dan orang- oranng lain yang berhubungan


dengan pelaksanaan penelitian ?

a)      Apakah masih pperlu disiapkan peralatan yang diperlukan


b)      Apakah masih ada hal- hal yang dilupakan

Dengan demikian tujuan uji coba secara umum yang berhubungan dengan
pengelolaan. Tujuan lain yang telah disinggung adalah diperolehnya informasi mengenai
kualitas instrument yang digunakan.

BAB VI POPULASI DAN TEKNIK SAMPEL

Populasi merupakan seluruh karakteristik yang menjadi objek penelitian, dimana


karakteristik tersebut berkaitan dengan seluruh kelompok orang, peristiwa, atau benda yang
menjadi pusat perhatian bagi peneliti. (Haryadi Sarjono,2013), dengan kata lain populasi
adalah himpunan keseluruhan objek yang diteliti. Sedangkan Sampel adalah bagian dari
populasi secara keseluruhan.

Berikut ini merupakan alasan mengapa peneliti perlu menggunakan sampel:

1. Populasi sedemikian banyak sehingga sulit untuk meneliti seluruh elemen. (Elemen
adalah anggota tunggal dari populasi)
2. Keterbatasan waktu, biaya penelitian, dan sumber daya manusia.
3. Penelitian terhadap sampel dan bukan seluruh populasi kadang kala juga sangat
mungkin untuk memberikan hasil yang lebih terpercaya. Hal tersebut karera sebagian
besar kelelahan berkurang dan karena itu lebih sedikit kesalahan dalam
mengumpulkan data, terutama ketika sejumlah besar elemen terlibat (Sekaran,2006).
4. Jika elemen populasi homogen, penelitian terhadap seluruh elemen dalam populasi
menjadi tidak masuk akal. Sebagai contoh, seorang peneliti ingin mengetahui kualitas
rasa buah jeruk dari satu pohon jeruk. Peneliti cukup memakan satu atau dua buah
jeruk untuk kemudian mengambil kesimpulan mengenai kualitas rasa buah jeruk dari
satu pohon jeruk tersebut. Akan tidak masuk akal jika peneliti memakan semua buah
jeruk dari satu pohon jeruk tersebut karena buah jeruk akan habis setelah pengujian
dilakukan.

Teknik sampling merupakan salah satu bagian terpenting dalam bab metodologi penelitian.
Metodologi penelitian biasanya memuat kajian tentang : Uraian variabel pokok, Penentuan
lokasi/waktu penelitian, Penentuan populasi, Penentuan besar sampel atau teknik sampling,
Teknik pengumpulan data, dan Analisis data

Antara metode dengan metodologi penelitian terdapat perbedaan, dimana metode ilmiah
suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah
teratur. Sedangkan metodologi adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-
peraturan yang terdapat dalam penelitian.

Sampel merupakan contoh, sedangkan teknik merupakan cara. Jadi teknik sampel merupakan
cara mengambil contoh (sampel), baik sampel dari benda hidup maupun benda mati. Teknik
sampel memiliki beberapa manfaat dalam penelitian yaitu dapat:

1)      Mereduksi anggota populasi menjadi anggota sampel yang mewakili populasi
(representative), sehingga kesimpulan terhadap populasi dapat
dipertanggungjawabkan.

2)      Lebih teliti menghitung yang sedikit dibandingkan dengan yang banyak,

3)      Menghemat waktu, tenaga dan finansial

Ada beberapa kriteria yang menjadi dasar pertimbangan setiap peneliti dalam mengambil
sampel. Kriteria tersebut adalah:
1)      Lakukan dulu generalisasi sampel, jika tidak, akan dapat menyebabkan
kesimpulannya terlalu luas. Penyebab ini dilakukan biasanya si peneliti ingin agar
hasil penelitiannya berlaku secara meluas dan merasa sampel yang ditentukannya
telah mewakili populasi

2)      Berikan batasan-batasan yang tegas tentang sifat-sifat populasi, Populasi bisa terdiri
dari manusia, hewan atau benda-benda lain. Jadi, semua benda yang akan dijadikan
populasi harus ditegaskan batas-batas karakteristiknya sehingga dapat menghindari
dan kebingungan.

3)      Tentukan sumber-sumber informasi tentang populasi guna mendapatkan konsep dan
karakteristik suatu populasi. Umpamanya sumber informasi diperoleh dari dokumen-
dokumen, hasil survei langsung dan lain.

4)      Pilihlah teknik sampel dan hitunglah besarnya anggota sampel yang sesuai dengan
tujuan penelitian

Untuk menentukan besarnya sampel dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu (1) probability
sampling dan (2) nonprobability sampling.

Besarnya anggota sampel dalam suatu penelitian harus dihitung berdasarkan teknik teknik
sampel yang diperkenankan. Tujuan untuk mendapatkan hasil kesimpulan yang tepat dan
benar. Kebenaran suatu penelitian lebih besar ditentukan oleh jumlah sampel yang diambil
yang dijadikan bahan/data untuk dianalisis.

1)      pertimbangan praktis mengacu pada (a) unsur-unsur biaya, tenaga dan kemampuan,
(b) bila untuk exploratory atau penemuan dan penjajakan, maka anggota sampel harus
lebih banyak, (c) jika kita memilih sampel yang banyak, maka tingkat prediksi relatif
tepat, kesalahan mentabulasi dan menghitung besar, dan reliabilitas besar.

2)      Ketepatan yaitu semakin kecil kita memilih taraf signifikans atau alpha semakin
banyak anggota sampelnya, akhirnya semakin tepat dan teliti ramalan kita.

3)      Pertimbangan non responden yaitu perkiraan jumlah sampel dikurangi dengan
jumlah anggota sampel yang dijadikan kelompok uji coba instrumen penelitian.
Termasuk perkiraan responden yang bersedia mengembalikan angket yang mereka isi.

4)      Analisis data yang kita gunakan menentukan besarnya anggota sampel, umumnya
untuk teknik statistic parametrik membutuhkan data relatif besar (kira-kira30
responden). Sedangkan bila dianalisis dengan statistik non parametrik cukup
menggunakan data yang relatif kecil.

BAB VII TEKNIK ANALISIS DATA KUANTITATIF

Dalam kaitan dengan analisis kuantitatif dengan menggunakan teknik statistik terdapat dua
jenis analisis di dalamnya, yaitu analisis deskriptif dan analisis infensial. Analisis deskriptif
adalah jenis analisis data yang dimaksudkan untuk mengungkapkan keadaan atau
karakteristik data sampel untuk masing-masing variabel penelitian secara tunggal. Analisis
deskriptif dilakukan dengan menggunakan teknik statistik deskriptif yang meliputi tabel
distribusi frekuensi, grafik, ukuran pemusatan (gejala pusat) dan ukuran penyebaran.

Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh
responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah:

1)      Mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden,

2)      Mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden,

3)      Menyajikan data tiap variabel yang teliti.

4)      Melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah,

5)      Melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan (untuk
penelitian yang tidak merumuskan hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan)

Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat dua macam
statistic yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian, yaitu statistik deskriptif dan
statistic inferensial.

Teknik teknik atau ukuran-ukuran mana yang tepat digunakan untuk masing-masing variabel
dengan berbagai skala pengukuran dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Level Pengukuran Ukuran Pemusatan Ukuran Penyebaran
Normal Modus Rentangan
Ordinal Median Quartil
Interval/ ratio Mean Standar Deviasi

Di dalam penelitian kuantitatif, terutama survei sampel, penelitian hanya dilakukan terhadap
sejumlah sampel, tetapi kesimpulan yang diperoleh selalu diberlakukan atau
digeneralisasikan pada populasi yang menggunakan statistic dalam sampel untuk menaksir
parameter populasi. Misalnya, rata-rata hitung sampel digunakan untuk menaksir rata-rata
hitung populasi. Penaksir seperti ini disebut titik taksiran, karena kita harus menggunakan
satu angka untuk menaksir sebuah parameter.

Jenis analisis inferensial yang kedua adalah uji hipotesis. Pengujian hipotesa dapat dibedakan
atas dua kategori, yaitu menguji hubungan dan menguji perbedaan. Menguji hubungan
dilakukan apabila ada dua variabel yang akan diketahui kuat atau lemahnya hubungan antara
keduanya.

Menguji hubungan antara dua variabel disebut analisis bivariat. Penggunaan teknik statistik
pada analisis bivariat, yaitu: (1) menguji hipotesis mengenai hubungan antara dua variabel
yang sedang diselidiki dan (2) menentukan kadar atau derajat hubungan atau asosiasi antara
kedua variabel tersebut.

BAB VIII PENELITIAN SURVEI

Menurut Fraenkel dan Wallen,1990 bahwa penelitian survey merupakan penelitian


dengan mengumpulkan informasi dari suatu sampel dengan menanyakan melalui angket atau
interview supaya nantinya menggambarkan berbagai aspek dari populasi. Penelitian survei
merupakan kegiatan penelitian yang mengumpulkan data pada saat tertentu dengan tiga
tujuan penting yaitu:

1. Mendeskripsikan keadaan alami yang hidup saat ini


2. Mengidentifikasikan secara terukur keadaan sekarang untuk dibandingkan,
3. Menentukan hubungan sesuatu yang hidup di antara kejadian spesifik
Penelitian survei antara lain bertujuan untuk: (1) mencari informasi factual secar mendetail
yang sedang menggejala, (2) mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan
justifikasi keadaan dan kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan, (3) untuk mengetahui hal-hal
yang dilakukan oleh orang-orang yang menjadi sasaran penelitian dalam memecahkan
masalah, sebagai bahan penyusunan rencana dan pengambilan keputusan di masa mendatang.
Ryanto (2001) menyebutkan ciri-ciri penelitian survey antara lain:

1.      Data survei dapat dikumpulkan dari seluruh populasi atau dapat pula dari hanya
sebagian saja data populasi

2.      Untuk sesuatu hal data yang sifatnya nyata

3.      Hasil survei dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang sifatnya terbatas,
karena data yang dikumpulkan dibatasi oleh waktu dan saat data itu dikumpulkan.

4.      Biasanya untuk memecahkan masalah yang incidental

5.      Pada dasarnya survei dapat merupakan metode cross-sectional dan longitudinal.

6.      Cenderung mengandalkan data kuantitatif

7.      Mengandalkan teknik pengumpul data yang berupa kuesioner dan wawancara
berstruktur.

Berdasarkan lingkup dan pokok permasalahannya, survei dapat digolongkan menjadi empat
kategori yaitu: Sensus objek nyata, Sensus hal-hal yang tidak nyata (intangable), Survei
sampel hal-hal yang nyata, dan Survei sampel hal-hal uang tidak nyata.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat, penelitian survei juga mulai
banyak digunakan di bidang pengetahuan seperti pendidikan, ekonomi, dan sosia atau
penelitian lain yang mempunyai tujuan sebagai berikut: Menjawab pertanyaan penelitian
yang telah dirumuskan oleh peneliti, Memecahkan permasalahan yang signifikan dan hidup
di masyarakat, Menilai kebutuhan dan menentukan tujuan institusi atau lembaga tertentu,
Menganalisis kecenderungan yang terjadi dalam suatu masyarakat atau suatu lembaga pada
periode tertentu, Menentukan apakah tujuan spesifik suatu lembaga sudah dapat dicapai,
Mendeskripsikan permasalahan yang ada, dan seberapa jauh implikasinya terhadap lembaga
yang ada.

Kegiatan penelitian survei dapat diidentifikasikan dari seorang peneliti dilakukan persiapan
perencana menentukan strategi sampling yang hendak digunakan mendiskusikan instrumen
dengan memilih dari antara alat pengumpul data seperti angket dan wawancara, bagaimana
menyampaikan instrumen tersebut kepada responden sebagai kelengkapan teknik survei,
sampai akhirnya mengidentifikan beberapa prosedur yang tepat agar dapat memproses dan
menganalisis untuk memperoleh hasil penelitian.

Ada minimal tiga persyaratan untuk melakukan penelitian survei. Ketiga persyaratan
pendahuluan tersebut adalah:

1)      Perlunya tujuan penelitian yang tepat

2)      Adanya populasi yang menjadi pusat kegiatan penelitian, dan

3)      Sumber pembiayaan yang mencukupi.

BAB IX
DESAIN EKSPERIMEN DAN ANALISISNYA
Desain eksperimental adalah kerangka konseptual pelaksanaan eksperimen. Suatu
desain mempunyai dua fungsi yaitu:
1.      Menciptakan kondisi bagi perbandingan yang diperlukan oleh hipotesis eksperimen, dan
2.      Melalui analisis data secara statistik, memungkinkan peneliti melakukan tafsiran yang berarti
mengenai hasil penyelidikan.
Suatu desain diharapkan akan memenuhi fungsi ini pada waktu memilih desain
tersebut peneliti harus selalu ingat kepada beberapa kriteria umum. Kriteria yang paling
penting adalah bahwa desain itu harus merupakan desain yang tepat untuk menguji hipotesis
penelitian yang bersangkutan.
Apabila hipotesis penelitian adalah hipotesis insteraksi, maka hipotesis tersebut hanya
dapat diuji dengan desain faktorial, misalkan seorang peneliti yang ingin mengetahui
pengaruh pengajaran berprogram (programmed instruction) terhadap penguasaan konsep
sosial dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial sekolah dasar, dengan anggapan bahwa
mungkin metode ini mempunyai pengaruh berdasarkan besarnya kelas dan tingkat kecerdasan
siswa. Persoalan ini memerlukan suatu desain factorial.
Desain eksperimen adalah suatu rancangan percobaan yang dibuat sedemikian
sehingga informasi yang berhubungan dengan atau diperlukan untuk persoalan yang sedang
diselidiki dapat dikumpulkan. Desain eksperimen merupakan langkah-langkah lengkap yang
perlu diambil jauh sebelum eksperimen dilakukan agar supaya data yang semestinya
diperlukan dapat diperoleh sehingga akan membawa kepada analisis objektif dan kesimpulan
yang berlaku untuk persoalan yang sedang dibahas.
Desain eksperimen merupakan suatu teknik yang ampuh untuk menguji ada tidaknya
hubungan sebab akibat antar -variabel penelitian. Hal ini mudah dimengerti karena sesuai
pendapat Cook dan Campbell dalam bukunya Quasi variabel-variabel penelitian hubungan
sebab akibat yaitu dapat diuji apabila memenuhi tiga syarat, yaitu :

1. Ada hubungan antara variabel (independent variabel) dengan variabel akibat


(dependent variabel)
2. Variabel sebab mendahului variabel akibat (urutan waktu)
3. Variabel-variabel lain berpengaruh terhadap dependent dikontrol

Kontrol variabel yang mempengaruhi dependent variabel tersebut akan lebih dapat
dipertanggungjawabkan jika dikontrolkan melalui eksperimen yang suatu desain untuk
memperlihatkan bahwa dan dilakukan sebaik mungkkin, dapat dilihat pada bagaimana
bproduksi beras. Dari pengaruh pupuk terhadap peningkatan produksi misalnya akan timbul
pertanyaan-pertanyaan berikut

1. Bagaimana pengaruh ini harus diukur?


2. Karakteristik apa yang harus diukur?
3. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi karakteristik yang harus dianalisis
tersebut?
4. Faktor-faktor manakah yang penting untuk dianalisis?
5. Teknik analisis apa yang harus dipergunakan?
6. Bagaimana eksperimen harus dilakukan?
7. Berapa kali eksperimen harus dilakukan?
8. Bagaiman mengontrol pengaruh variabel-variabel lain yang tidak ingin diselidiki?
9. Dan mungkin masih ada pertanyaan lain.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dapat dijawab dengan desain eksperimen benar


dan monitoring pelaksanaan yang diteliti. Kesahihan suatu eksperimen akan ditentukan oleh
desain eksperimen yang dibuat dan monitoring pelaksanaannya. Faktor-faktor yang
mengancam kesahihan suatu eksperimen, terutama kesahihan internal (internal validity).
Kesahlian eksternal (validitas eksternal) merupakan kerespresentativan hasil
penyelidikan atau dapatnya hasil penyelidikan itu digeneralisasi. keahlian internal (validitas
internal) dimana variabel ini harus dikendalikan atau kalau tidak variabel tersebut akan dapat
menimbulkan akibat yang dapat disalah tafsirkan sebagai akibat perlakuan eksperimental.
Dalam pembahasan mengenai desain eksperimen berikut ini, desain itu digolongkan
ke dalam desain pra-eksperimen, eksperimen yang sejati (rue-experimental) atau eksperimen
semu (quasi experimenta) tergantung pada tingkat pengendalian dalam desain tersebut.
Ulasan tentang validitas internal dan validitas eksternalnya akan diberikan pada waktu desain
tersebut disajikan. Sebelum mulai pembahasan tentang desain-desain eksperimen, perlu
kiranya mengenal istilah-istilah dan lambang-lambang yang akan digunakan dalam
pembahasan itu.
1. Pra-eksperimen yang biasa digunakan ada tiga macam, yaitu:
a. One Shot Case Study (Rancangan satu kasus)
b. One Group Pre-Test Post—test Design
c. The Statis Group Comparison (Dengan menggunakan kelompok perbandingan
statis)
2. Quasi Eksperimen
Quasi eksperimen adalah suatu jenis eksperimen yang menyadari bahwa
kontrol secara tradisional tidak dapat dilakukan secara tuntas. Untuk meningkatkan
kesahihan internal dalam eksperimen seperti ini dilakukan kontrol secara statistic.
3. True Eksperinnen Design
True Eksperinnen yang biasa digunakan ada tiga macam yaitu :
a. Random Control Group Design
b. Randomized pre-les post-test Control Group Design
c. Salomon Four Groups Design

BAB X

PENELITIAN EXPOST FACTO


Nama expost facto, bahasa latin yang artinya “ dari sesudah fakta”, menunjukkan
bahwa penelitian itu dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dari variabel-variabel itu terjadi
karena perkembangan kejadian itu secara alami.
Dalam penyelidikan expost facto, kita harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa
variabel bebas dan variabel terikat penyelidikan itu adalah dua akibat terpisah yang
disebabkan oleh variabel ketiga. Peneliti expost facto harus senantiasa mempertimbangkan
kemungkinan adanya penyebab umum yang dapat menimbulkan hubungan yang diamati.
Pada waktu menafsirkan hubungan yang diamati dalam penelitian expost facto, kita
harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa kebalikan dari dugaan kita juga dapat
menyebabkan hasil penelitian itu, maksudnya, alih-alih X menyebabkan Y, mungkin Y yang
menyebabkan X.
Kalau kita dapati bahwa mahasiswa yang suka meminum minuman keras memperoleh
IP yang lebih rendah daripada mahasiswa yang tidak suka minum, kita tidak dapat secara
otomatis menyimpulkan bahwa meminum alkohol akan membuat prestasi akademisnya
menjadi rendah. Mungkin angka-angka yang buruk itulah yang menyebabkan mereka minum
alkohol.
Hipotesis tentang hubungan kausal yang terbalik ini lebih mudah diatasi daripada
hipotesis tentang penyebab umum. Dalam setiap kasus, mungkin banyak penyebab umum
yang dapat meyebabkan adanya hubungan tak sebenarnya. Dalam masalah hubungan kausal
yang terbalik, hanya ada satu kemungkinan saja setiap kasus, Y menyebabkan X dan bukan X
menyebabkan Y.
Jika X selalu terjadi lebih dahulu daripada Y, maka sifat data kita itu telah
menghilangkan kemungkinan adanya hubungan kausal yang terbalik. Misalnya, berbagai
studi telah menunjukkan bahwa penghasilan rata-rata sarjana adalah lebih tinggi daripada
penghasilan tahunan rata-rata bukan sarjana. Kemungkinan terjadinya hubungan kausal yang
terbalik dalam hal ini dapat dihilangkan karena lulus atau tidak lulusnya seseorang dari
perguruan tinggi terjadi lebih dahulu daripada penghasilan tahunan sesudahnya.
Studi expost facto akan membandingkan prestasi pemecahan masalah dari mahasiswa
yang kreatif dengan yang tidak kreatif. Hipotesisnya akan berbunyi: Mahasiswa yang kreatif
akan menunjukkan kecepatan dan ketepatan pemecahan masalah yang lebih tinggi jika
dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak kreatif. Hipotesis ini jelas memerlukan desain
expost facto, karena peneliti tidak dapat memanipulasi kreativitas maupun mengelompokkan
mahasiswa itu secara acak. Ia harus mulai dengan dua kelompok yang sudah berbeda pada
variabel bebas, yaitu kreativitas, kemudian membandingkan kedua kelompok itu pada
variabel terikat, yakni prestasi pemecahan masalah.
BAB XI

PENELITIAN KUALITATIF
Penelitian kualitatif adalah penelitian eksploratif yang mempunyai proses lain dari
penelitian kuantitatif. Jika metode kuantitatif dapat memberikan gambaran tentang populasi
secara umum, maka metode kualitatif dapat memberikan gambaran khusus terhadap suatu
kasus secara mendalam.
Teknik yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam,
observasi partisipasi, kelompok diskusi terarah dan analisis dokumen. Ada tiga unsur utama
dalam proses analisis data pada penelitian kualitatif, yaitu: reduksi data, sajian data dan
penarikan kesimpulan.
Ciri-ciri penelitian kualitatif yaitu :
1.      Bersifat eksploratif
2.      Teori lahir dan dikembangkan di lapangan
3.      Proses berulang-ulang
4.      Pembahasan lebih bersifat kasus dan spesifik
5.      Mengandalkan kecermatan dalam pengumpulan data untuk mengungkap secara tepat
keadaan yang sesungguhnya di lapangan.
Ciri-ciri penelitian kuantitatif yaitu :
1. Bersifat eksplanatif
2. Teori adalah iferensi dari hasil pengujian hipotesis
3. Proses standar dan logika
4. Hasil analisis digeneralisasikan ke populasi
5. Mengandalkan penggunaan teknik statistik untuk memperoleh kesimpulan yang berlaku
umum
Analisis kualitatif dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mengacu pada
penelaahan atau pengujian yang sistematik mengenai suatu hal dalam rangka menentukan
bagian-bagian, hubungan diantara bagian, dan hubungan keseluruhan bagian dalam
keseluruhan.
Secara garis besar prosedur analistis dan proses analisis data dan pada penelitian
kualitatif, yaitu :
 Organisasi data
 Kategorisasi, tema dan pola
 Validasi data
 Laporan penelitian
 Analisis data pada penelitian kualitatif
Ada 3 unsur utama dalam proses analisis data pada penelitian kualitatif, yaitu :
 Reduksi data
 Sajian data
 Penarikan kesimpulan/ verifikasi
 Penerapan metode penelitian kualitatif dalam pendidikan

BAB XII

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu penelitian yang menekankan kepda
kegiatan dengan menguji coba suatu ide ke dalam praktek atau situasi nyata dalam skala
mikro sehingga diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan
kualitas suatu program atau kondisi factual tertentu di masyarakat. Penelitian tindakan kelas
terdiri dari 3 macam yaitu :

1. Penelitian tindakan yang bersifat teknis


2. Penelitian yang bersifat praktis
3. Penelitian yang bersifat emansipatoris

Terdapat beberapa asas dalam melakukan penelitian tindakan, di antaranya :

1. Asak kritik reflektif


2. Asas kritik dialektis
3. Asas sumber daya kolaboratif
4. Asas resiko
5. Asas struktur majemu
6. Asas teori, praktik dan transformasi

Penelitian tindakan terutama yang terkait dengan dunia pendidikan, mempunyai lima fungsi
yaitu:

1. Sebagai alat untuk memecahkan masalah yang dilakukan melalui diagnosis dalam
situasi tertentu.
2. Sebagai alat pelatihan dalam jabatan
3. Sebagai alat untuk mengenalkna pendekatan tambahan atau inovatif pada pengajaran
4. Sebagai alatuntuk meningkatkan komunikasi
5. Sebagai alat untuk menyediakan alternative

Bidang garapan penelitian tindakan meliputi :

1. Metode mengajar
2.  Strategi mengajar
3. Prosrdur evaluasi
4. Perubahan sikap dan nilai
5. Pengembangan jabatan
6. Pengelolaan dan pengendalian serta
7. Administrasi.

BAB XIII

MODEL-MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks dari suatu
system, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambing-lambang lainnya.  Madler
menjelaskan manfaat dari model adalah sebagai berikut :

1. Model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia


2. Model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian
3.  Model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks
4.  Model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan

Model-model PTK yang akan dijelaskan berikut ini adalah model-model penelitian
tindakan yang dapat diterapkan dalam PTK. Model-model tersebut adalah sebagai berikut :

1. Desain Siklus PTK Model Kurn Lewin


2. Desain Siklus PTK Model Kemmis dan McTaggart
3. Desain Siklus PTK Model Ebbut
4. Desain Siklus PTK Model Depdiknas
5. Desain Siklus PTK Model Elliot
6. Desain Siklus PTK Model Hopkins
7. Desain Siklus PTK Model Siklus
PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS MELIPUTI :

1. Pra penelitian
2.  Penelitian tindakan kelas
a) Perencanaan tindakan
b) Pelaksanaan tindakan
c) Observasi
d) Refleksi

Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah berupa observasi, tes dan studi
dokumentasi. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh
data tentang kualitas pembelajaran, motivasi belajar siswa, dan hasil belajar. Data tersebut
dikumpulkan dengan instrument berikut :

1. Instrument Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran di kelas


2. Motivasi Belajar Siswa
3. Instrument Penilaian/Tes Refleksi Awal/Tes Siklus

Analisis data hasil penelitian skripsi berbasis PTK dengan statistic deskriptif. Penelitian
Tindakan Kelas diasumsikan berhasil bila dilakukan tindakan perbaikan kualitas
pembelajaran, maka akan berdampak terhadap perbaikan prilaku siswa dan hasil belajar.

BAB XIV

MENYUSUN PROPOSAL PENELITIAN

Rancangan atau proposal penelitian merupakan pedoman yang berisi langkah-langkah yang
akan diikuti oleh penelitian untuk melakukan penelitiannya. Sistematikan Proposal Penelitian
Kuantitatif

I. PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Masalah

1.2.   Identifikasi Masalah

1.3.   Batasan Masalah

1.4.   Rumusan Masalah
1.5.   Tujuan Penelitian

1.6.   Manfaat Penelitian

II.            KAJIAN PUSTAKA

2.1     Uraian Teori

2.2     Penelitian Yang Relevan

2.3     Kerangka Berpikir

2.4     Pengajuan Hipotesis

III.            METODOLOGI PENELITIAN

3.1     Lokasi Penelitian

3.2     Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

3.3     Variabel dan Defenisi Operasional

3.4     Rancangan Penelitian

3.5     Teknik Pengumpulan Data

3.6     Teknik Analisis Data

IV. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

4.1     Deskripsi Hasil Penelitian

4.2     Analisis Data

4.3     Pembahasan

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1     Kesimpulan

5.2     Saran

SISTEMATIKA PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

I. PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Masalah


1.2.   Identifikasi Masalah

1.3.   Pemecahan Masalah

1.4.   Rumusan Masalah

1.5.   Tujuan Penelitian

1.6.   Manfaat Penelitian

II. KAJIAN PUSTAKA

2.1     Uraian Teori

2.2     Penelitian Yang Relevan

2.3     Kerangka Berpikir

2.4     Pengajuan Hipotesis

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1     Lokasi Penelitian

3.2     Subjek dan Objek

3.3     Defenisi Operasional

3.4     Prosedur Penelitian

3.5     Teknik Pengumpulan Data

3.6     Teknik Analisis Data

3.7     Indikator Keberhasilan

IV. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

4.1     Deskripsi Hasil Penelitian

4.2     Analisis Data

4.3     Pembahasan
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1     Kesimpulan

5.2     Saran