Anda di halaman 1dari 58

CRITICAL BOOK REPORT

METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN

Dosen Pengampu Mata Kuliah :


- Drs. Effi Aswita Lubis, M. Pd, M. Si
- Rini Herliani, SE, M. Si

Disusun Oleh :

Rindu Simanjuntak 7173342044

Sefti Anggi Piona 7171142024

Sukma Yuningsih 7173142033

PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

TA . 2019
KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa, sebab telah memberikan rahmat dan karunia-Nya serta kesehatan
kepada penulis, sehingga mampu menyelesaikan tugas “Critical Book Report”.
Tugas ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah yaitu Metodologi
Penelitian Pendidikan.
Tugas Critical Book Report ini disusun dengan harapan dapat menambah
pengetahuan dan wawasan bagi pembacanya. Penulis menyadari bahwa tugas
critical book report ini masih jauh dari kesempurnaan. Apabila dalam tugas ini
terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, penulis mohon maaf karena
sesungguhnya pengetahuan dan pemahaman penulis masih terbatas, karena
keterbatasan ilmu dan pemahaman yang belum seberapa.
Karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang
sifatnya membangun guna menyempurnakan tugas ini. Penulis berharap semoga
tugas critical book report ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi penulis
khususnya, Atas perhatiannya penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, 22 Oktober 2019

Penulis

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR....................................................................................................i

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................ii

i
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1

1.2 Tujuan Penulisan CBR.........................................................................................2

1.3 Manfaat CBR.......................................................................................................2

BAB II ISI BUKU.........................................................................................................3

2.1 Identitas Buku......................................................................................................3

2.2 Ringkasan Isi Buku..............................................................................................4

BAB III PEMBAHASAN ANALISIS........................................................................50

3.1 Pembahasan Isi Buku....................................................................................50

3.2 Kelebihan dan Kekurangan...............................................................................51

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................53

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Critical Book Report (CBR) secara singkat dapat diartikan sebagai evaluasi
terhadap suatu buku atau artikel yang akan direview. Critical Book Report (CBR)
adalah sebuah tulisan yang lebih rumit daripada ringkasan karena mensyaratkan,
antara lain, kemampuan untuk menganalisis teks seperti yang dimaksudkan
penulisnya, gagasan pengendali atau tesis, menganalisis teknik pengorganisasian,
dan kemampuan meringkas (summary). CBR bukan hanya merupakan laporan atau
tulisan tentang isi suatu buku atau artikel, tetapi lebih kepada evaluasi, seperti
mengulas atau mereview, menginterpretasi serta menganalisis dan bukan
merupakan pembuktian benar atau salah suatu artikel atau buku.
CBR bukan sekedar laporan atau tulisan tentang isi sebuah buku atau artikel,
tetapi lebih menitik beratkan pada evaluasi (penjelasan, interpretasi dan analisis)
mengenai keunggulan dan kelemahan buku atau artikel tersebut, apa yang menarik
dari artikel tersebut, bagaimana isi artikel tersebut bisa mempengaruhi cara
berpikir pembaca dan menambah pemahaman pembaca terhadap suatu bidang
kajian tertentu. Dengan kata lain, melalui CBR pembaca (reviewer) menguji
pikiran pengarang/penulis berdasarkan sudut pandang pembaca berdasarkan
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.
Pelaksanaan CBR diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa,
dosen pengampu mata kuliah, dan institusi baik ditinjau dari sisi keilmuan dan
keterampilan serta adanya manfaat yang dapat diterapkan di industri, masyarakat
dan pemerintah dalam bentuk inovasi, efisiensi dan produktivitas. Hal lain yang
diperoleh adalah pengayaan khasanah keilmuan terapan. Oleh karena itu sasaran
dalam panduan CBR ini adalah mahasiswa dengan dibimbing oleh dosen
pengampu mata kuliah.

1
1.2 Tujuan Penulisan CBR
Adapun yang menjadi Tujuan pembuatan Critical Book Report Ini adalah :
 Membantu agar mampu mengembangkan budaya membaca.
 Membantu agar mampu berpikir sistematis dan kritis.
 Menambah kemampuan untuk mengekspresikan pendapat dalam
memandang suatu buku yang akan direview.
 Membantu agar mampu berfikir logis.
 Menanggapi atau mengkritisi isi buku metodologi penelitian pendidikan.
 Untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Metodologi Penelitian
Pendidikan.

1.3 Manfaat CBR


Adapun yang menjadi manfaat dari critical Book Review yaitu :
 Supaya para pembaca dapat lebih mengetahui lebih dalam mengenai
metodologi penelitian pendidikan.
 Supaya para pembaca dapat lebih paham tentang Metodologi Penelitian
Pendidikan.
 Untuk melatih kemampuan penulis atau mahasiswa dalam mengkritisi
sebuah buku.
 Mengungkapkan kelebihan dan kelemahan dari isi buku.
 Untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam membandingkan buku yang
satu dengan buku yang lain.

2
BAB II ISI BUKU
2.1 Identitas Buku
a. Identitas Buku Utama

Judul buku : Metodologi Penelitian Pendidikan

Penulis : Dra. Effi Aswita Lubis, M. Pd, M. Si

Tahun terbit : 2019

ISBN : 978-602-451-137-1

Penerbit : K-Media

Kota : Yogyakarta

b. Identitas Buku Pembanding

Judul buku : Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif dan R & D

Penulis : Prof. Dr. Sugiyono

Penerbit : Alfabeta

Tahun Terbit : 2013

Kota : Bandung

Halaman : 458 Halaman

ISBN : 979-8433-71-8

3
2.2 Ringkasan Isi Buku
a. Ringkasan Buku Utama

BAB I PENDAHULUAN

Penelitian adalah art and science guna mencari jawaban terhdap suatu
pemasalahan (Yoseph dan Yoseph 1979). Karena seni dan ilmiah maka penelitian
juga akan memberikan ruang- ruang yang mengakomodasi adana perbedaan tentang
apa yang dimaksud dengan penelitian.
Penelitian dapat pula diartikan sebagai pengamatan atau inkuiri dan mempunyai
tujuan untuk mencari jawaban permasalahan atau proses penemuan, baik itu
discovery maupun invention. Discovery diartikan temuan sesuatu yang sebenarnya
benda atau hal yang ditemukan itu sudah ada, tetapi belum diketahui orang.
Sedangkan invention adalah suatu penemuan benar- benar baru, artiya hasil kreasi
manusia.
Penelitian menurut Kerlinger (1986) adalah proses penemuan yang mempunyai
karakteristik sistematis, terkontrol, empiris, dan mendasarkan pada teori dan hipotesis
atau jawaban sementara. Sedangkan menurut Russefendi (1994) penelitian adalah
cara mencapai kebenaran melalui metode ilmiah. Dari kedua pendapat tersebut jelas
kiranya bahwa setiap orang pada prinsipnya akan memberikan pengertian tentang
peneliian berbeda- beda. Penelitian dapat dikatakan sebagai cara mencari kebenaran
melalui metode ilmiah, karena dalam mengungkapkan penelitian menggunakan
metode ilmiah meliputi :
- Perumusan masalah
- Melakukan studi literatur yakni studi mengenal teori dan atau hasil penelitian
dimasa lampau yang berkenaan dengan permaslahan yang akan dikaji
- Jika diperlukan merumuskan praduga- praduga atau hipotesis- hipotesis

4
- Mengumpulkan data, mengoolah data, menganalisis data, dan
- Mengambil kesimpulan
Metode ilmiah adalah cara mencari kebenaran yang tidak hanya didasarkan
kepada alasan induktif atau deduktif saja, tetapi bersifat menyeluruh atau gabungan
antara berpikir induktif- deduktif. Jadi metode ilmiah adalah suatu prosedur diri
proses menari kebenaran. Penelitian perlu senantiasa dilakukan karena beberapa
alasan, diantaranya :
1) Penelitian akan memecahkan suatu permasalahan yang sedang dihadapi
2) Penelitian yang dilakukan harus berupa penelitian lanjutan
3) Melalui penelitian memungkinkan peningkatan aplikasi hasil penelitian yang
ditemukan, sehingga kita akan bertambah maju.
Menurut Russefendi (1994) terdapat berbagai pandangan bagaimana penelitian itu
bisa dikelompokan, diantaranya sebagai berikut berdasarkan maksudnya, penelitian
dapat dibedakan menjadi :
a. Penelitian dasar, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperkembangkan
teori tanpa mementingkan kegunaannya
b. Penelitian terapan, yaitu penelitian yang bertujuan untuk nerepkan dengan
memanfaatkan bidang tertentu
c. Penelitian evaluasi,yaitu penelitian yang bertjuan untuk membantu dalam
proses pengambilan keputusan
d. Penelitian pengembangan, yaitu penelitian yang bertjuan untuk
mengembangkan hal- hal baru
e. Peneltian mendesak, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan
keterampilan dalam memecahkan persoalan yang ada melalui gagasan
Berdasarkan metodenya, penelitian dikelompokan menjadi
a. Penelitian sejarah, yaitu study untuk menjelaskan peristiwa pada masa lampau
b. Penelitian deskritif, yaitu penelitian yang menggunakan observasi,
wawancara, atau angket mengenai keadaan sekarang

5
c. Penelitian korelasional, yaitu penelitian untuk melihat apakah antara dua
variabel saling berhubungan atau tidak
d. Penelitian komparatif, yaitu penelitian bertujuan untuk melihat faktor
penyebab nya
e. Penelitian percobaan yaitu penelitian untuk melihat hukbungan sebab akibat
Salah satu langkah paling penting dalam penelitian adalah menentukan masalah.
Sebagai peneliti pemula seringkali kesulitan memilih masalah yang baik. Dan berikut
dikemukakan beberapa karakteristik masalah yang baik :
1. Topic atau judul yang dipilih benar- benar sangat menarik
2. Pemecahan masalah harus bermanfaat bagi orang- orang yang berkepentingan
dalam bidang tertentu
3. Masalah yang dikemukakan merupakan suatu hal yang baru
4. Dapat diselesaikan sesuai waktu yang diinginkan
5. Tidak bertentang dengan moral
Dalam merancang suatu penelitian, seorang peneliti perlu memahami langkah-
langkah yang harus ditempuh dalam proses peneliti sebagai berikut :
1. Pengamatan/ studi pendahuluan
2. Merumuskan masalah
3. Mengidentifikasi masalah
4. Merumuskan hipotesis
5. Pengumpulan data
6. Kesimpulan
7. Ringkasan

BAB II HIPOTESIS PENELITIAN


Menurut Trelease (1960) memberikan defenisi hipotesis sebagai suatu
keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat diamati. Sedangkan menurut Good
dan Scate (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atu referensi
yang dirumuskan dan diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta- fakta

6
yang dapat diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah penelitian
selanjutnya. Dalam pengujian hipotesis yang akan diuji adalah apakah hipotesis benar
adnya yaitu sesuai dengan fakta yang ada dipopulasi. Dalam hubungan ini, hipotesis
dipandang sebagai pernyataan tentang karakteristik populasi yang akan diuji
kebenranya berdasarkan data sampel.
Oleh karena itu, hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang
merupakan jawaban sementara terhadap masalah inferensial yang telah dirumuskan,
dan pernyataanya tersebut merupakan pernyataan tentang karakteristik populasi yang
akan diuji kebenaranya melalui pengujian hipotesis secara stastistik dengan
menggunakan data empiric yang diperoleh dari sampel. Berikut ciri- cirri dari
hipotesis yaitu :
1. Hasil proses teoritik dapat dipertanggung jawabkan kebenrannya
2. Merupakan pernyataan tentang karakteristik populasi
3. Jawaban sementara yang masih perlu diuji kebenaranya dengan enggunakan
data empiric yang diperoleh dari sampel
4. Hipotesis harus menyatakan hubungan atau perbedaan
5. Hipotesis harus dapat diuji
6. Hipotesis harus spesifik dan sederhana
Menurut Balian (1982) hipotesis statika secara umum, dapat dibedakan menjadi 4
macam yaitu :
a. Hipotesis nihil yaitu hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan atau
tidak ada hubungan antara variabel yang menjadi intteres si peneliti.
b. Hipotesis riset yaitu penggambaran terhadap ide yang ada dalam pemikiran si
peneliti yang dikembangkan dari hasil kajian teoritis.
c. Hipotesis alternative yaitu sebagai bentuk batasan ilmu pengetahuan setelah
diperoleh dari hasil kajian teoritis.
d. Hipotesis penyearah yaitu hipotesis yang menunjukan arah yang pasti dan
arah yang belum pasti atau masih dua arah

7
BAB III VARIABEL PENELITIAN
Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai, atau mempunyai lebih
dari satu nilai, keadaan, kategori atau kondisi. Sedangkan menurut Kerlinger (1973)
mengatakan bahwa variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari. Di
bagiann lain Kalinger mengatakan bahw variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat
yang diambil dari suatu nilai yang berbeda. Dengan demikian variabel itu merupaka
suatu yang variasi. Selanjutnya Kidder (1981) menyatakan variabel adalah suatu
kualitas dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan dirinya.
Jenis- jenis variable yaitu :
1. Variabel kategorikal (categorical variables) yaitu variabel yang mempunyai
dua golongan dikotomi atau bergolongan banyak politomi.
2. Variabel bersambungan (continous variables) adalah variabel yang memiliki
jarak jangkau tertentu, karena variabel bersambungan harus memiliki nilai
peringkat yang lebih baik.
Berdasarkan skala pengukuran yang digunakan terdapat empat macam variabel
yaitu :
- Nominal untuk data nominal atau angka yang diberikan merupakan symbol
dari kelompok- kelompok yang terpisah sebagai araf dari variabel yang
diselidiki.
- Ordinal untuk data angka yang diberikan terhadap taraf variabel yang
diselidiki adalah symbol dari kelompok- kelompok yang terpisah berurutan
- Interval dan rasio untuk angka yang digunakan adalah nilai yang dapat
diidentikan dengan bilangan ril.
Dari segi hubungan antar variabel dikenal dua jenis variabel utama yaitu :
1) Varibel bebas atau variabel pengaruh ( independent variabel) adalah variabel
penyebab yang diduga, terjadi lebih dahulu
2) Variabel tidak bebas atau terikat atau variabel pengaruh (dependent variable)
adalah variabel akibat yang diperkirakan terjadi kemudian.

8
Selanjutnya akan dibahas jenis- jenis hubungan antara variabel penelitian sabagai
berikut :
 Hubungan simetris
Variabel dikatakan mempunyai hubungan simetris apabilah variabel yang satu
tidak disebabkan atau tidak dipengaruhi oleh yang lainya. Terdapat empat kelompok
hubungan simetris :
a. Kedua variabel merupakan indicator sebuah konsep yang sama
b. Kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama
c. Kedua variabel berkaaitan secara fungsional
d. Hubungan yang kebutulan semata- mata
 Hubungan timbal balik
Hubungan timbal balik adalah hubungan dimana satu variable dapat menjadi
sebab dan juga akibat dari variable lainnya. Perlu diketahui bahwa hubungan timbal
balik bukanlah hubungan, dimana tidak dapat ditentukan variable yang menjadi sebab
dan variable yang menjadi akibat.
 Hubungan asimetris
Inti pokok analisis social terdapat dalam hubungan asimetris, dimana satu variable
memengaruhi variable yang lainnya. Berikut enam tipe asimetris :
 Hubungan Antara stimulus dan respons
 Hubungan Antara disposisi dan respons
 Hubungan Antara ciri individu dan disposisi atau tingkah laku
 Hubungan Antara prakondisi yang perlu dengan akibat tertentu
 Hubunga yang permanen Antara dua variable
 Hubungan Antara tujuan dan cara

BAB IV METODE PENGUMPULAN DATA DAN INSTRUMEN


PENELITIAN

9
Dalam suatu penelitian selalu terjadi proses pengumpulan data. Proses
pengumpulan data tersebut dapat dilakukan dengan metode tertentu. Jenis metode
yang dipilih dan digunakan dalam proses pengumpulan data tergantung pada sifat
dan karakteristik penelitian yang dilakukan. Agar data yang dikumpulkan
memenuhi persyaratan atau dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka
petugas pengumpul data dan alat bantu (instrument) pengumpulan data haruslah
memenuhi kriteria yang diperlukan.
Diantara metode pengumpulan data yang cukup penting adalah wawancara,
kuesioner, observasi, tes, dan dokumentasi. Setiap metode pengumpulan data
tersebut menggunakan instrument pengumpulan data yang berbeda-beda. Pada
dasarnya instrument dapat dibagi menjadi dua macam yakni tes dan non-tes.
Ada dua jenis wawancara yang dapat dilakukan kaitannya dengan
pengumpulan data penelitian yaitu : 1) Wawancara terpimpin (guided interview)
yang juga dikenal sebutan wawancara berstruktur atau wawancara sistematis. 2)
Kuesioner atau angket dapat digunakan sebagai alat atau instrument pengumpul
data penelitian. Kuesioner terdiri dari daftar pertanyaan yang disampaikan kepada
responden untuk dijawab secara tertulis.
Observasi sebagai metode pengumpulan data banyak digunakan untuk
mengamati tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat
diamati. Observasi dapat dilakukan secara partisipatif (nonparticipant
observation). Observasi dapat juga berbentuk observasi eksperimental
(experimental observation). Observasi yang dilakukan dengan perencanaan yang
matang disebut observasi sistematis.
Tes dapat diartikan sebagai alat pengukur yang mempunyai standar objektif
sehingga dapat dipergunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan
psikis atau tingkah laku individu. Beberapa juga tes yang biasa digunakan dalam
penelitian misalnya tes bakat, tes inteligensi, tes minat, tes prestasi, tes
kepribadian, dan sebagainya. Tes yang baik adalah yang objektif, valid dan
reliable. Dalam menggunakan metode dokumentasi ini, peneliti dapat menyusun

10
instrument dokumentasi berupa variabel-variabel terpilih yang akan
didokumentasikan dengan menggunakan daftar check list sesuai dengan
kebutuhan peneliti. Dokumen dibagi atas dokumen pribadi dan dokumen resmi.
Dokumen pribadi berisi catatan-catatan yang bersifat formal.

BAB V MELAKSANAKAN UJI COBA INSTRUMEN

Secara umum terdapat 2 jenis instrumen yaitu instrmen yang disusun sendiri
oleh peneliti, dan jenis instrument yang sudah terstandar. Butir-butir instrumen
terstandar tersebut kebanyakan bersifat “rahasia” dan hanya boleh digunakan
orang-orang yang memang berwenang yaitu mereka yang telah terdidik untuk
mengenal secara mendalam mengenai instrumen tersebut.

Peneliti yang menggunakan instrument yang disusun sendiri tidak dapat


melepaskan diri dari tanggung jawab mencobkan instrumennya agar apabila
digunakan untuk mengumpulkan data, instrument tersebut sudah betul- betul
handal. Sebelum melanjutkan mengenai apa saja yang harus diperhatikan dan
cara- cara yang diambil serta prosedur yang harus dilalui dalam uji coa instrume,
terlebih dahulu akan dibedakan tujuan uji coba instrument sebagai berikut:

1. Apakah kalimat-kalimat didalam instrument cukup dapat dipahami oleh


responden?

a)      Mengenai intruksi atau pedoman pengisian


b)      Mengenai butir- butir pertanyaan

2. Apakah waktu soal diperkirakan atau disediakan untuk mengerjakan soal atau
menjawab pertanyaan sudah memadai?

a)      Waktu yang digunakan untuk persiapan


b)      Waktu yang digunakan untuk mengerjakan
c)      Waktu yang digunakan untuk mengemasi hasil uji coba

11
3. Bagaimanakah tanggapan responden dan orang- oranng lain yang
berhubungan dengan pelaksanaan penelitian ?

a)      Apakah masih pperlu disiapkan peralatan yang diperlukan


b)      Apakah masih ada hal- hal yang dilupakan

Dengan demikian tujuan uji coba secara umum yang berhubungan dengan
pengelolaan. Tujuan lain yang telah disinggung adalah diperolehnya informasi
mengenai kualitas instrument yang digunakan.

BAB VI POPULASI DAN TEKNIK SAMPEL

Populasi merupakan seluruh karakteristik yang menjadi objek penelitian,


dimana karakteristik tersebut berkaitan dengan seluruh kelompok orang, peristiwa,
atau benda yang menjadi pusat perhatian bagi peneliti. (Haryadi Sarjono,2013),
dengan kata lain populasi adalah himpunan keseluruhan objek yang diteliti.
Sedangkan Sampel adalah bagian dari populasi secara keseluruhan.

Berikut ini merupakan alasan mengapa peneliti perlu menggunakan sampel:

1. Populasi sedemikian banyak sehingga sulit untuk meneliti seluruh elemen.


(Elemen adalah anggota tunggal dari populasi)
2. Keterbatasan waktu, biaya penelitian, dan sumber daya manusia.
3. Penelitian terhadap sampel dan bukan seluruh populasi kadang kala juga
sangat mungkin untuk memberikan hasil yang lebih terpercaya. Hal tersebut
karera sebagian besar kelelahan berkurang dan karena itu lebih sedikit
kesalahan dalam mengumpulkan data, terutama ketika sejumlah besar elemen
terlibat (Sekaran,2006).
4. Jika elemen populasi homogen, penelitian terhadap seluruh elemen dalam
populasi menjadi tidak masuk akal. Sebagai contoh, seorang peneliti ingin
mengetahui kualitas rasa buah jeruk dari satu pohon jeruk. Peneliti cukup

12
memakan satu atau dua buah jeruk untuk kemudian mengambil kesimpulan
mengenai kualitas rasa buah jeruk dari satu pohon jeruk tersebut. Akan tidak
masuk akal jika peneliti memakan semua buah jeruk dari satu pohon jeruk
tersebut karena buah jeruk akan habis setelah pengujian dilakukan.

Teknik sampling merupakan salah satu bagian terpenting dalam bab metodologi
penelitian. Metodologi penelitian biasanya memuat kajian tentang : Uraian variabel
pokok, Penentuan lokasi/waktu penelitian, Penentuan populasi, Penentuan besar
sampel atau teknik sampling, Teknik pengumpulan data, dan Analisis data

Antara metode dengan metodologi penelitian terdapat perbedaan, dimana metode


ilmiah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-
langkah teratur. Sedangkan metodologi adalah suatu pengkajian dalam mempelajari
peraturan-peraturan yang terdapat dalam penelitian.

Sampel merupakan contoh, sedangkan teknik merupakan cara. Jadi teknik sampel
merupakan cara mengambil contoh (sampel), baik sampel dari benda hidup maupun
benda mati. Teknik sampel memiliki beberapa manfaat dalam penelitian yaitu dapat:

1)      Mereduksi anggota populasi menjadi anggota sampel yang mewakili


populasi (representative), sehingga kesimpulan terhadap populasi dapat
dipertanggungjawabkan.

2)      Lebih teliti menghitung yang sedikit dibandingkan dengan yang banyak,

3)      Menghemat waktu, tenaga dan finansial

Ada beberapa kriteria yang menjadi dasar pertimbangan setiap peneliti dalam
mengambil sampel. Kriteria tersebut adalah:

13
1)      Lakukan dulu generalisasi sampel, jika tidak, akan dapat menyebabkan
kesimpulannya terlalu luas. Penyebab ini dilakukan biasanya si peneliti ingin
agar hasil penelitiannya berlaku secara meluas dan merasa sampel yang
ditentukannya telah mewakili populasi

2)      Berikan batasan-batasan yang tegas tentang sifat-sifat populasi, Populasi


bisa terdiri dari manusia, hewan atau benda-benda lain. Jadi, semua benda
yang akan dijadikan populasi harus ditegaskan batas-batas karakteristiknya
sehingga dapat menghindari dan kebingungan.

3)      Tentukan sumber-sumber informasi tentang populasi guna mendapatkan


konsep dan karakteristik suatu populasi. Umpamanya sumber informasi
diperoleh dari dokumen-dokumen, hasil survei langsung dan lain.

4)      Pilihlah teknik sampel dan hitunglah besarnya anggota sampel yang sesuai
dengan tujuan penelitian

Untuk menentukan besarnya sampel dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu (1)
probability sampling dan (2) nonprobability sampling.

Besarnya anggota sampel dalam suatu penelitian harus dihitung berdasarkan teknik
teknik sampel yang diperkenankan. Tujuan untuk mendapatkan hasil kesimpulan
yang tepat dan benar. Kebenaran suatu penelitian lebih besar ditentukan oleh jumlah
sampel yang diambil yang dijadikan bahan/data untuk dianalisis.

1)      pertimbangan praktis mengacu pada (a) unsur-unsur biaya, tenaga dan
kemampuan, (b) bila untuk exploratory atau penemuan dan penjajakan, maka
anggota sampel harus lebih banyak, (c) jika kita memilih sampel yang banyak,
maka tingkat prediksi relatif tepat, kesalahan mentabulasi dan menghitung
besar, dan reliabilitas besar.

14
2)      Ketepatan yaitu semakin kecil kita memilih taraf signifikans atau alpha
semakin banyak anggota sampelnya, akhirnya semakin tepat dan teliti ramalan
kita.

3)      Pertimbangan non responden yaitu perkiraan jumlah sampel dikurangi


dengan jumlah anggota sampel yang dijadikan kelompok uji coba instrumen
penelitian. Termasuk perkiraan responden yang bersedia mengembalikan
angket yang mereka isi.

4)      Analisis data yang kita gunakan menentukan besarnya anggota sampel,
umumnya untuk teknik statistic parametrik membutuhkan data relatif besar
(kira-kira30 responden). Sedangkan bila dianalisis dengan statistik non
parametrik cukup menggunakan data yang relatif kecil.

BAB VII TEKNIK ANALISIS DATA KUANTITATIF

Dalam kaitan dengan analisis kuantitatif dengan menggunakan teknik statistik


terdapat dua jenis analisis di dalamnya, yaitu analisis deskriptif dan analisis infensial.
Analisis deskriptif adalah jenis analisis data yang dimaksudkan untuk
mengungkapkan keadaan atau karakteristik data sampel untuk masing-masing
variabel penelitian secara tunggal. Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan
teknik statistik deskriptif yang meliputi tabel distribusi frekuensi, grafik, ukuran
pemusatan (gejala pusat) dan ukuran penyebaran.

Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari
seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data
adalah:

1)      Mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden,

2)      Mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden,

15
3)      Menyajikan data tiap variabel yang teliti.

4)      Melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah,

5)      Melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan (untuk
penelitian yang tidak merumuskan hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan)

Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat dua
macam statistic yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian, yaitu statistik
deskriptif dan statistic inferensial.

Teknik teknik atau ukuran-ukuran mana yang tepat digunakan untuk masing-masing
variabel dengan berbagai skala pengukuran dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Level Pengukuran Ukuran Pemusatan Ukuran Penyebaran


Normal Modus Rentangan
Ordinal Median Quartil
Interval/ ratio Mean Standar Deviasi

Di dalam penelitian kuantitatif, terutama survei sampel, penelitian hanya dilakukan


terhadap sejumlah sampel, tetapi kesimpulan yang diperoleh selalu diberlakukan atau
digeneralisasikan pada populasi yang menggunakan statistic dalam sampel untuk
menaksir parameter populasi. Misalnya, rata-rata hitung sampel digunakan untuk
menaksir rata-rata hitung populasi. Penaksir seperti ini disebut titik taksiran, karena
kita harus menggunakan satu angka untuk menaksir sebuah parameter.

Jenis analisis inferensial yang kedua adalah uji hipotesis. Pengujian hipotesa dapat
dibedakan atas dua kategori, yaitu menguji hubungan dan menguji perbedaan.
Menguji hubungan dilakukan apabila ada dua variabel yang akan diketahui kuat atau
lemahnya hubungan antara keduanya.

16
Menguji hubungan antara dua variabel disebut analisis bivariat. Penggunaan teknik
statistik pada analisis bivariat, yaitu: (1) menguji hipotesis mengenai hubungan antara
dua variabel yang sedang diselidiki dan (2) menentukan kadar atau derajat hubungan
atau asosiasi antara kedua variabel tersebut.

BAB VIII PENELITIAN SURVEI

Menurut Fraenkel dan Wallen,1990 bahwa penelitian survey merupakan


penelitian dengan mengumpulkan informasi dari suatu sampel dengan menanyakan
melalui angket atau interview supaya nantinya menggambarkan berbagai aspek dari
populasi. Penelitian survei merupakan kegiatan penelitian yang mengumpulkan data
pada saat tertentu dengan tiga tujuan penting yaitu:

1. Mendeskripsikan keadaan alami yang hidup saat ini


2. Mengidentifikasikan secara terukur keadaan sekarang untuk dibandingkan,
3. Menentukan hubungan sesuatu yang hidup di antara kejadian spesifik

Penelitian survei antara lain bertujuan untuk: (1) mencari informasi factual secar
mendetail yang sedang menggejala, (2) mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk
mendapatkan justifikasi keadaan dan kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan, (3)
untuk mengetahui hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang yang menjadi sasaran
penelitian dalam memecahkan masalah, sebagai bahan penyusunan rencana dan
pengambilan keputusan di masa mendatang. Ryanto (2001) menyebutkan ciri-ciri
penelitian survey antara lain:

1.      Data survei dapat dikumpulkan dari seluruh populasi atau dapat pula
dari hanya sebagian saja data populasi

2.      Untuk sesuatu hal data yang sifatnya nyata

17
3.      Hasil survei dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang sifatnya
terbatas, karena data yang dikumpulkan dibatasi oleh waktu dan saat data
itu dikumpulkan.

4.      Biasanya untuk memecahkan masalah yang incidental

5.      Pada dasarnya survei dapat merupakan metode cross-sectional dan


longitudinal.

6.      Cenderung mengandalkan data kuantitatif

7.      Mengandalkan teknik pengumpul data yang berupa kuesioner dan


wawancara berstruktur.

Berdasarkan lingkup dan pokok permasalahannya, survei dapat digolongkan menjadi


empat kategori yaitu: Sensus objek nyata, Sensus hal-hal yang tidak nyata
(intangable), Survei sampel hal-hal yang nyata, dan Survei sampel hal-hal uang tidak
nyata.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat, penelitian survei juga
mulai banyak digunakan di bidang pengetahuan seperti pendidikan, ekonomi, dan
sosia atau penelitian lain yang mempunyai tujuan sebagai berikut: Menjawab
pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan oleh peneliti, Memecahkan
permasalahan yang signifikan dan hidup di masyarakat, Menilai kebutuhan dan
menentukan tujuan institusi atau lembaga tertentu, Menganalisis kecenderungan yang
terjadi dalam suatu masyarakat atau suatu lembaga pada periode tertentu,
Menentukan apakah tujuan spesifik suatu lembaga sudah dapat dicapai,
Mendeskripsikan permasalahan yang ada, dan seberapa jauh implikasinya terhadap
lembaga yang ada.

Kegiatan penelitian survei dapat diidentifikasikan dari seorang peneliti dilakukan


persiapan perencana menentukan strategi sampling yang hendak digunakan
mendiskusikan instrumen dengan memilih dari antara alat pengumpul data seperti

18
angket dan wawancara, bagaimana menyampaikan instrumen tersebut kepada
responden sebagai kelengkapan teknik survei, sampai akhirnya mengidentifikan
beberapa prosedur yang tepat agar dapat memproses dan menganalisis untuk
memperoleh hasil penelitian.

Ada minimal tiga persyaratan untuk melakukan penelitian survei. Ketiga persyaratan
pendahuluan tersebut adalah:

1)      Perlunya tujuan penelitian yang tepat

2)      Adanya populasi yang menjadi pusat kegiatan penelitian, dan

3)      Sumber pembiayaan yang mencukupi.

BAB IX DESAIN EKSPERIMEN DAN ANALISISNYA

Desain eksperimental adalah kerangka konseptual pelaksanaan eksperimen.


Suatu desain mempunyai dua fungsi yaitu:
1.      Menciptakan kondisi bagi perbandingan yang diperlukan oleh hipotesis eksperimen,
dan
2.      Melalui analisis data secara statistik, memungkinkan peneliti melakukan tafsiran
yang berarti mengenai hasil penyelidikan.
Suatu desain diharapkan akan memenuhi fungsi ini pada waktu memilih
desain tersebut peneliti harus selalu ingat kepada beberapa kriteria umum. Kriteria
yang paling penting adalah bahwa desain itu harus merupakan desain yang tepat
untuk menguji hipotesis penelitian yang bersangkutan.
Apabila hipotesis penelitian adalah hipotesis insteraksi, maka hipotesis
tersebut hanya dapat diuji dengan desain faktorial, misalkan seorang peneliti yang
ingin mengetahui pengaruh pengajaran berprogram (programmed instruction)
terhadap penguasaan konsep sosial dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial
sekolah dasar, dengan anggapan bahwa mungkin metode ini mempunyai pengaruh

19
berdasarkan besarnya kelas dan tingkat kecerdasan siswa. Persoalan ini memerlukan
suatu desain factorial.
Desain eksperimen adalah suatu rancangan percobaan yang dibuat sedemikian
sehingga informasi yang berhubungan dengan atau diperlukan untuk persoalan yang
sedang diselidiki dapat dikumpulkan. Desain eksperimen merupakan langkah-langkah
lengkap yang perlu diambil jauh sebelum eksperimen dilakukan agar supaya data
yang semestinya diperlukan dapat diperoleh sehingga akan membawa kepada analisis
objektif dan kesimpulan yang berlaku untuk persoalan yang sedang dibahas.
Desain eksperimen merupakan suatu teknik yang ampuh untuk menguji ada
tidaknya hubungan sebab akibat antar -variabel penelitian. Hal ini mudah dimengerti
karena sesuai pendapat Cook dan Campbell dalam bukunya Quasi variabel-variabel
penelitian hubungan sebab akibat yaitu dapat diuji apabila memenuhi tiga syarat,
yaitu :

1. Ada hubungan antara variabel (independent variabel) dengan variabel akibat


(dependent variabel)
2. Variabel sebab mendahului variabel akibat (urutan waktu)
3. Variabel-variabel lain berpengaruh terhadap dependent dikontrol

Kontrol variabel yang mempengaruhi dependent variabel tersebut akan lebih


dapat dipertanggungjawabkan jika dikontrolkan melalui eksperimen yang suatu
desain untuk memperlihatkan bahwa dan dilakukan sebaik mungkkin, dapat dilihat
pada bagaimana bproduksi beras. Dari pengaruh pupuk terhadap peningkatan
produksi misalnya akan timbul pertanyaan-pertanyaan berikut

1. Bagaimana pengaruh ini harus diukur?


2. Karakteristik apa yang harus diukur?
3. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi karakteristik yang harus
dianalisis tersebut?

20
4. Faktor-faktor manakah yang penting untuk dianalisis?
5. Teknik analisis apa yang harus dipergunakan?
6. Bagaimana eksperimen harus dilakukan?
7. Berapa kali eksperimen harus dilakukan?
8. Bagaiman mengontrol pengaruh variabel-variabel lain yang tidak ingin
diselidiki?
9. Dan mungkin masih ada pertanyaan lain.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dapat dijawab dengan desain eksperimen


benar dan monitoring pelaksanaan yang diteliti. Kesahihan suatu eksperimen akan
ditentukan oleh desain eksperimen yang dibuat dan monitoring pelaksanaannya.
Faktor-faktor yang mengancam kesahihan suatu eksperimen, terutama kesahihan
internal (internal validity).
Kesahlian eksternal (validitas eksternal) merupakan kerespresentativan hasil
penyelidikan atau dapatnya hasil penyelidikan itu digeneralisasi. keahlian internal
(validitas internal) dimana variabel ini harus dikendalikan atau kalau tidak variabel
tersebut akan dapat menimbulkan akibat yang dapat disalah tafsirkan sebagai akibat
perlakuan eksperimental.
Dalam pembahasan mengenai desain eksperimen berikut ini, desain itu
digolongkan ke dalam desain pra-eksperimen, eksperimen yang sejati (rue-
experimental) atau eksperimen semu (quasi experimenta) tergantung pada tingkat
pengendalian dalam desain tersebut. Ulasan tentang validitas internal dan validitas
eksternalnya akan diberikan pada waktu desain tersebut disajikan. Sebelum mulai
pembahasan tentang desain-desain eksperimen, perlu kiranya mengenal istilah-istilah
dan lambang-lambang yang akan digunakan dalam pembahasan itu.
1. Pra-eksperimen yang biasa digunakan ada tiga macam, yaitu:
a. One Shot Case Study (Rancangan satu kasus)

21
b. One Group Pre-Test Post—test Design
c. The Statis Group Comparison (Dengan menggunakan kelompok
perbandingan statis)
2. Quasi Eksperimen
Quasi eksperimen adalah suatu jenis eksperimen yang menyadari
bahwa kontrol secara tradisional tidak dapat dilakukan secara tuntas. Untuk
meningkatkan kesahihan internal dalam eksperimen seperti ini dilakukan
kontrol secara statistic.
3. True Eksperinnen Design
True Eksperinnen yang biasa digunakan ada tiga macam yaitu :
a. Random Control Group Design
b. Randomized pre-les post-test Control Group Design
c. Salomon Four Groups Design

BAB X PENELITIAN EXPOST FACTO


Nama expost facto, bahasa latin yang artinya “ dari sesudah fakta”,
menunjukkan bahwa penelitian itu dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dari
variabel-variabel itu terjadi karena perkembangan kejadian itu secara alami.
Dalam penyelidikan expost facto, kita harus mempertimbangkan
kemungkinan bahwa variabel bebas dan variabel terikat penyelidikan itu adalah dua
akibat terpisah yang disebabkan oleh variabel ketiga. Peneliti expost facto harus
senantiasa mempertimbangkan kemungkinan adanya penyebab umum yang dapat
menimbulkan hubungan yang diamati.
Pada waktu menafsirkan hubungan yang diamati dalam penelitian expost
facto, kita harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa kebalikan dari dugaan kita
juga dapat menyebabkan hasil penelitian itu, maksudnya, alih-alih X menyebabkan Y,
mungkin Y yang menyebabkan X.

22
Kalau kita dapati bahwa mahasiswa yang suka meminum minuman keras
memperoleh IP yang lebih rendah daripada mahasiswa yang tidak suka minum, kita
tidak dapat secara otomatis menyimpulkan bahwa meminum alkohol akan membuat
prestasi akademisnya menjadi rendah. Mungkin angka-angka yang buruk itulah yang
menyebabkan mereka minum alkohol.
Hipotesis tentang hubungan kausal yang terbalik ini lebih mudah diatasi
daripada hipotesis tentang penyebab umum. Dalam setiap kasus, mungkin banyak
penyebab umum yang dapat meyebabkan adanya hubungan tak sebenarnya. Dalam
masalah hubungan kausal yang terbalik, hanya ada satu kemungkinan saja setiap
kasus, Y menyebabkan X dan bukan X menyebabkan Y.
Jika X selalu terjadi lebih dahulu daripada Y, maka sifat data kita itu telah
menghilangkan kemungkinan adanya hubungan kausal yang terbalik. Misalnya,
berbagai studi telah menunjukkan bahwa penghasilan rata-rata sarjana adalah lebih
tinggi daripada penghasilan tahunan rata-rata bukan sarjana. Kemungkinan terjadinya
hubungan kausal yang terbalik dalam hal ini dapat dihilangkan karena lulus atau tidak
lulusnya seseorang dari perguruan tinggi terjadi lebih dahulu daripada penghasilan
tahunan sesudahnya.
Studi expost facto akan membandingkan prestasi pemecahan masalah dari
mahasiswa yang kreatif dengan yang tidak kreatif. Hipotesisnya akan berbunyi:
Mahasiswa yang kreatif akan menunjukkan kecepatan dan ketepatan pemecahan
masalah yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak kreatif.
Hipotesis ini jelas memerlukan desain expost facto, karena peneliti tidak dapat
memanipulasi kreativitas maupun mengelompokkan mahasiswa itu secara acak. Ia
harus mulai dengan dua kelompok yang sudah berbeda pada variabel bebas, yaitu
kreativitas, kemudian membandingkan kedua kelompok itu pada variabel terikat,
yakni prestasi pemecahan masalah.
BAB XI PENELITIAN KUALITATIF

23
Penelitian kualitatif adalah penelitian eksploratif yang mempunyai proses lain
dari penelitian kuantitatif. Jika metode kuantitatif dapat memberikan gambaran
tentang populasi secara umum, maka metode kualitatif dapat memberikan gambaran
khusus terhadap suatu kasus secara mendalam.
Teknik yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara
mendalam, observasi partisipasi, kelompok diskusi terarah dan analisis dokumen.
Ada tiga unsur utama dalam proses analisis data pada penelitian kualitatif, yaitu:
reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan.
Ciri-ciri penelitian kualitatif yaitu :
1.      Bersifat eksploratif
2.      Teori lahir dan dikembangkan di lapangan
3.      Proses berulang-ulang
4.      Pembahasan lebih bersifat kasus dan spesifik
5.      Mengandalkan kecermatan dalam pengumpulan data untuk mengungkap secara
tepat keadaan yang sesungguhnya di lapangan.
Ciri-ciri penelitian kuantitatif yaitu :
1. Bersifat eksplanatif
2. Teori adalah iferensi dari hasil pengujian hipotesis
3. Proses standar dan logika
4. Hasil analisis digeneralisasikan ke populasi
5. Mengandalkan penggunaan teknik statistik untuk memperoleh kesimpulan yang
berlaku umum
Analisis kualitatif dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mengacu pada
penelaahan atau pengujian yang sistematik mengenai suatu hal dalam rangka
menentukan bagian-bagian, hubungan diantara bagian, dan hubungan keseluruhan
bagian dalam keseluruhan.
Secara garis besar prosedur analistis dan proses analisis data dan pada
penelitian kualitatif, yaitu :

24
 Organisasi data
 Kategorisasi, tema dan pola
 Validasi data
 Laporan penelitian
 Analisis data pada penelitian kualitatif
Ada 3 unsur utama dalam proses analisis data pada penelitian
kualitatif, yaitu :
 Reduksi data
 Sajian data
 Penarikan kesimpulan/ verifikasi
 Penerapan metode penelitian kualitatif dalam pendidikan

BAB XII PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu penelitian yang


menekankan kepda kegiatan dengan menguji coba suatu ide ke dalam praktek atau
situasi nyata dalam skala mikro sehingga diharapkan kegiatan tersebut mampu
memperbaiki dan meningkatkan kualitas suatu program atau kondisi factual tertentu
di masyarakat. Penelitian tindakan kelas terdiri dari 3 macam yaitu :

1. Penelitian tindakan yang bersifat teknis


2. Penelitian yang bersifat praktis
3. Penelitian yang bersifat emansipatoris

Terdapat beberapa asas dalam melakukan penelitian tindakan, di antaranya :

1. Asak kritik reflektif


2. Asas kritik dialektis
3. Asas sumber daya kolaboratif
4. Asas resiko

25
5. Asas struktur majemu
6. Asas teori, praktik dan transformasi

Penelitian tindakan terutama yang terkait dengan dunia pendidikan, mempunyai lima
fungsi yaitu:

1. Sebagai alat untuk memecahkan masalah yang dilakukan melalui diagnosis


dalam situasi tertentu.
2. Sebagai alat pelatihan dalam jabatan
3. Sebagai alat untuk mengenalkna pendekatan tambahan atau inovatif pada
pengajaran
4. Sebagai alatuntuk meningkatkan komunikasi
5. Sebagai alat untuk menyediakan alternative

Bidang garapan penelitian tindakan meliputi :

1. Metode mengajar
2.  Strategi mengajar
3. Prosrdur evaluasi
4. Perubahan sikap dan nilai
5. Pengembangan jabatan
6. Pengelolaan dan pengendalian serta
7. Administrasi.

BAB XIII MODEL-MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks dari
suatu system, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambing-lambang
lainnya.  Madler menjelaskan manfaat dari model adalah sebagai berikut :

1. Model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia

26
2. Model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan
penelitian
3.  Model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks
4.  Model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan

Model-model PTK yang akan dijelaskan berikut ini adalah model-model


penelitian tindakan yang dapat diterapkan dalam PTK. Model-model tersebut adalah
sebagai berikut :

1. Desain Siklus PTK Model Kurn Lewin


2. Desain Siklus PTK Model Kemmis dan McTaggart
3. Desain Siklus PTK Model Ebbut
4. Desain Siklus PTK Model Depdiknas
5. Desain Siklus PTK Model Elliot
6. Desain Siklus PTK Model Hopkins
7. Desain Siklus PTK Model Siklus

PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS MELIPUTI :

1. Pra penelitian
2.  Penelitian tindakan kelas
a) Perencanaan tindakan
b) Pelaksanaan tindakan
c) Observasi
d) Refleksi

Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah berupa observasi, tes
dan studi dokumentasi. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan
untuk memperoleh data tentang kualitas pembelajaran, motivasi belajar siswa, dan
hasil belajar. Data tersebut dikumpulkan dengan instrument berikut :

27
1. Instrument Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran di kelas
2. Motivasi Belajar Siswa
3. Instrument Penilaian/Tes Refleksi Awal/Tes Siklus

Analisis data hasil penelitian skripsi berbasis PTK dengan statistic deskriptif.
Penelitian Tindakan Kelas diasumsikan berhasil bila dilakukan tindakan perbaikan
kualitas pembelajaran, maka akan berdampak terhadap perbaikan prilaku siswa dan
hasil belajar.

BAB XIV MENYUSUN PROPOSAL PENELITIAN

Rancangan atau proposal penelitian merupakan pedoman yang berisi langkah-langkah


yang akan diikuti oleh penelitian untuk melakukan penelitiannya. Sistematikan
Proposal Penelitian Kuantitatif

I. PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Masalah

1.2.   Identifikasi Masalah

1.3.   Batasan Masalah

1.4.   Rumusan Masalah

1.5.   Tujuan Penelitian

1.6.   Manfaat Penelitian

II.            KAJIAN PUSTAKA

2.1     Uraian Teori

2.2     Penelitian Yang Relevan

2.3     Kerangka Berpikir

28
2.4     Pengajuan Hipotesis

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1     Lokasi Penelitian

3.2     Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

3.3     Variabel dan Defenisi Operasional

3.4     Rancangan Penelitian

3.5     Teknik Pengumpulan Data

3.6     Teknik Analisis Data

IV. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

4.1     Deskripsi Hasil Penelitian

4.2     Analisis Data

4.3     Pembahasan

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1     Kesimpulan

5.2     Saran

SISTEMATIKA PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

I. PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Masalah

1.2.   Identifikasi Masalah

1.3.   Pemecahan Masalah

29
1.4.   Rumusan Masalah

1.5.   Tujuan Penelitian

1.6.   Manfaat Penelitian

II. KAJIAN PUSTAKA

2.1     Uraian Teori

2.2     Penelitian Yang Relevan

2.3     Kerangka Berpikir

2.4     Pengajuan Hipotesis

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1     Lokasi Penelitian

3.2     Subjek dan Objek

3.3     Defenisi Operasional

3.4     Prosedur Penelitian

3.5     Teknik Pengumpulan Data

3.6     Teknik Analisis Data

3.7     Indikator Keberhasilan

IV. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

4.1     Deskripsi Hasil Penelitian

4.2     Analisis Data

4.3     Pembahasan

30
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1     Kesimpulan

5.2     Saran

Ringkasan Buku Pembanding

PENDAHULUAN
Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Sugiyono yang berjudul Metode Penelitian
Pendidikan merupakan buku yang dikembangkan dari buku sebelumnya yaitu Metode
Penelitian Administrasi (kuantitatif) dan Memahami Penelitian Kualitatif. Buku yang
berjudul Metode Penelitian Pendidikan merupakan hasil cetakan yang ke-21 pada
bulan Oktober 2015. Apa yang dibahas oleh Prof. Dr. Sugiyono dalam buku ini
kiranya dapat menjadi pedoman untuk kalangan intelektulal ataupun masyarakat
umumnya. Menurut Prof. Sugiyono, Indonesia yang sudah lebih dari 60 tahun
merdeka tetapi belum memiliki kualitas Sumber Daya Manusia yang memadai. Hal
ini di antaranya disebabkan karena kualitas penyelenggaraan dan hasil pendidikan
dari berbagai jalur, jenjang dan jenis pendidikan belum memadai. Rendahnya kualitas
penyelenggaran dan hasil pendidikan ini antara lain disebabkan pembuatan kebijakan,
pengembangan kurikulum dan sistem evaluasi tidak didasarkan dari hasil penelitian
yang memadai. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendididkan pada tingkat yang
lebih tinggi, maka setiap upaya meningkatkan kualitas tersebut perlu dilakukan
penelitian. Supaya penelitian dapat menghasilkan informasi yang akurat, maka perlu
menggunakan metode penelitian yang tepat. Metode penelitian secara umum dapat
diklasifikasikan menjadi tiga yaitu : Metode Kuantitaif, Kualitatif dan Metode
Penelitian dan Pengembangan (R&D). Dalam buku ini, ketiga metode tersebut
diuraikan secara lugas, jelas, dan tuntas dengan bahasa yang mudah dimengerti serta
diberikan contoh–contoh yang kongkrit. Menurut Prof. Dr. Sugiyono, sebagian besar
orang sering melontarkan pertanyaan terhadap kedua metode (kuantitatif dan

31
kualitatif), apakah kedua metode ini dapat digabungkan atau tidak. Agar tidak
membingungkan terhadap pemakaian kedua metode ini maka dalam ringkasan
singkat ini akan dibahas secara mendetail tentang metode-metode yang digunakan.
Semoga apa yang dipaparkan dalam ringkasan ini dapat bermanfaat, setidaknya bagi
penulis.

BAB 1 PERSPEKTIF METODE PENELITIAN DAN PENDIDIKAN

Di dalam bab 1 ini Sugiyono memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan
metode penelitian pendidkan di antaranya pengertian metode penelitian pendidikan,
jenis-jenis metode penelitian, perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif, kapan
metode kuantitatif dan kualitaif digunakan, jangka waktu penelitian kualitatif serta
kompetensi peneliti kuantitatif dan kualitatif.
Pengertian metode penelitian sendiri adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Terdapat beberapa jenis metode penelitian,
sebagai berikut.

1) Menurut bidang terdiri atas akademis, profesional dan institusional.


2) Menurut tujuan terdiri atas murni dan terapan
3) Menurut metode surcey, expostfacto, eksperimen, naturalistic, policy
reaserarch, action research, evaluasi, sejarah dan R & D.
4) Menurut tingkat eksplanasi terdiri atas deskriptif, komparatif dan asosiatif.
5) Menurut waktu terdiri atas cross sectional dan longitudinal.

Adapun pengertian metode penelitian kuantitatif merupakan metode tradisional


karena sudah lama digunakan dan metode ini juga disebut metode ilmiah dan data
penelitianya berupa angka-angka dan dapat dianalisis secara statistik. Sedangkan
penelitian kualitatif merupakan metode baru yang berlandaskan postpositivisme dan
proses penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola) serta pengumpulan data
menggunakan trianggulasi (gabungan). Prof. Sugiyono menekankan tentang
pentingnya mengetahui penggunaan atau kapan digunakan metode penelitian

32
kualitatif dan kuantitatif. Karena menurutnya masih banyak orang bingung dalam
pengggunaan kedua metode ini.

BAB 2. PROSES PENELITIAN, MASALAH, VARIABEL DAN PARADIGMA


PENELITIAN

Pada bab 2 ini, Prof. Sugiyono memaparkan beberapa poin penting yaitu komponen
penelitian kuantitatif, pengertian masalah, sumber masalah,rumusan masalah,variable
penelitian dan paradigm penelitian. Adapun komponen dalam proses penelitian
kuantitatif yaitu rumusan masalah,landasan teori, perumusan hipotesis, pengumpulan
data (populasi dan sampel, penggabungan instrument dan pengujian instrument),
analisis data serta kesimpulan/saran. Prof. Dr. Sugiyono menggunakan definisi
masalah yang digunakan oleh Tucmanm 1982. Menurut Tucman, baik penelitian
murni maupun terapan semuanya berangkat dari masalah, hanya saja untuk penelitian
terapan hasilnya langsung digunakan untuk membuat keputusan. Masalah masalah
dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpang antara pengalaman dengan
kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan
kompetisi (Stoner 1982).
Adapun pengertian rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicari
jawabannya melalui pengumpulan data. Ada beberapa bentuk- bentuk rumusan
masalah yaitu rumusan masalah deskriptif, rumusan masalah komparatif dan rumusan
masalah asosiatif. Prof. Sugiyono juga memaparkan pengertian variable penelitian
dan jenis-jenis variable penelitian. Dalam buku ini juga dipaparkan tentang
paradigma penelitian yaitu pola pikir yang menunjukan hubungan antara variable
yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan rumusan masalah yang
perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis
dan teknik analisis statistik yang akan digunakan. Paradigma terdiri atas beberapa
bentuk yaitu: paradigma sederhana, paradigma sederhana berurutan, paradigm ganda

33
dengan dua variable independen, paradigma ganda dengan tiga variable, dan
paradigm jalur.

BAB 3 LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN


HIPOTESIS.
Pada bab tiga ini Prof.Dr. Sugiyono memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan
landasan teori, kerangka berfikir dan pengajuan hipotesis diantaranya pengertian
teori, tingkatan dan focus teori, deskripsi teori, kerangka berfikir dan hipotesis. Prof.
Sugiyono mendefinisikan teori menggunakan definisi beberapa ahli yaitu menurut
Neumen (2003), teori merupakan seperangkat konsep,defenisi dan proporsi yang
berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik melalui spesifikasi hubungan
antar variable sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Menurut Wiliam (1986) teori merupakan generalisasi atau kumpulan generalisai yang
dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli Prof. Sugiyono menyimpulkan bahwa teori
merupakan suatu konseptualisasi yang umum diperoleh melalui jalan yang sistematis
yang dapat diuji kebenarannya. Adapun tingkatan teori yaitu micro, meso dan macro.
Sedangkan focus teori dibedakan menjadi 3 yaitu teori subtantif, teori normal dan
midlle range teori.
Menurut Prof. Sugiyono deskripsi teori dalam penelitian merupakan uraian sistematis
tentang teori dan hasil – hasil penelitian yang relevan dengan variable yang diteliti.
Selain itu Prof. Sugiyono juga mendefinisikan kerangka berfikir menurut buku
Business Research yang ditulis oleh Uma Sekaran dimana kerangka berfikir
merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai
factor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah yang penting. Berdasarkan
kerangka berfikir selanjutnya dapat disusun hipotesis. Hipotesis terdiri atas tiga yaitu
hipotesis komparatif, hipotesis asosiatif dan hipotesis deskriptif. Menurut Sugiyono
karakter hipotesis yang baik adalah sebagai berikut:

34
a. Merupakan dugaan terhadap keadaan variable mandiri,perbandingan keadaan
variable pada berbagai sampel dan merupakan dugaan tentang hubungan
antara dua variable atau lebih.
b. Dinyatakan dalam kalimat yang jelas sehingga tidak menimbulkan berbagai
penafsiran.
c. Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode – metode ilmiah.

BAB 4 METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

Pada bab ini penulis memaparkan tentang pengertian metode penelitian eksperimen
dan bentuk desain eksperimen. Metode penelitian eksperimen merupakan metode
penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang
lain dalam kondisi yang dikendalikan. Adapun beberapa bentuk desain eksperimen
diantaranaya pre eksperimental atau sering disebut eksperimen yang belum sungguh –
sungguh, Eksperimen true eksperimental design (eksperimen yang betul – betul),
factorial design (dengan memperhatiakan kemungkinan adanya variable moderator
yang mempengaruhi perlakuan (variable independen) terhadap hasil. Sedangkan
Quasi eksperimental merupakan pengembangan dari true eksperimental design yang
sulit dilaksanakan. Ada dua bentuk desain quasi ekspeimental yaitu times series
design dan nonequivalen control grup design.

BAB 5 POPULASI DAN SAMPEL

Pada bab ini Prof. Sugiyono memaparkan tentang pengertian populasi, sampel dan
jenis – jenis sampel. Penulis mengatakan bahwa populasi merupakan wilayah
generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya. Adapun pengertian sampel menurut penulis yaitu bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Secara garis besar

35
teknik pengambilan sampel terbagi menjadi dua yaitu probability sampling dan
nonprobabillity sampling. Probaility sampling terdiri atas simple random sampling
(pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu; proportionate stratified random
sampling (populasi mempunyai anggota/unsure yang tidak homogen dan berstrata
secara proposional); disproportionate statisfied random sampling (menentukan jumlah
sampel bila populasi berstrata tapi kurang proposional); area sampling (menentukan
sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas). Adapun
pengertian nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak
memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilih menjadi sampel. Penulis membagi nonprobability sampling menjadi beberapa
bagian yaitu sampling sistematis (teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari
anggota populasi yang telah diberi nomor urut); sampling kuota (teknik untuk
menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah
yang diinginkan) ; sampling isidental (teknik penentuan sampel berdasarkan
kebetulan yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat
digunakan sebagai sampel bila dipandang orang yang kebetulan ditemui cocok
sebagai sumber data); sampling jenuh ( teknik pengambilan sampel bila semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel); snowball sampling ( teknik penentuan
sampel yang mula – mula jumlahnya kecil kemudian membesar).

Dalam bab ini penulis juga memaparkan cara untuk menentukan ukuran sampel.
Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel
yang diharapkan 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah anggota
populasi itu sendiri. Penulis memberi saran tentang ukuran sampel untuk penelitian
yang dikutip dari buku Reseach Methods For Business yang ditulis oelh Roscoe
( 1982) adalah sebagai berikut :

a. Ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan
500.

36
b. Bila sampel dibagi dalam kategori (misalnya pria- wanita,pegawai negri-
swasta) maka jumlah anggota sampel setiap kategori minimal 30.
c. Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate maka
jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah variable yang diteliti.
d. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana yang menggunakan kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol maka jumlah anggota sampel masing –
masing antara 10 sampai 20.

BAB 6 SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENGUKURAN

Pada bab ini Prof. Sugiyono memaparkan tentang macam – macam skala pengukuran
dan instrument penelitian. Penulis mengatakan bahwa skala pengukuran merupakan
kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya
interval yang ada dalam alat ukur sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam
pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Skala pengukuran terdiri atas :

a. Skala Likert; digunakan untuk mengukur sikap,pendapat dan perpsi sesorang


atau sekelompok orang tentang fenomena social. Instrumen penelitian yang
menggunakan skala likert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan
ganda.
b. Skala Guttam; skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang
tegas yaitu ya atau tidak; benar atau salah. Data yang diperoleh dapat berupa
data interval atau rasio dikhotomi. Penelitian menggunakan skala guttam
dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu
permasalahan yang dinyatakan.
c. Semantic differensial; digunkan untuk mengukur sikap,hanya bentuknya tidak
pilihan ganda maupun checklist,tetapi tersusun dalam suatu garis kontinum
yang jawabanya sangat positif terletak dibagian kiri garis dan jawaban yang
sangat negative terletak dibagian kiri garis atau sebaliknya.

37
d. Rating Scale; data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan
dalam pengertian kualitatif

Adapun pengertian dari instrument penelitian yaitu suatu alat yang digunakan
mengukur fenomena alam maupun social yang diamati (variable penelitian). Prof.
Dr. Sugiyono mengatakan bahwa apabila kita melakukan penelitian dalam bidang
pendidikan ada tiga instrumen yang perlu dibuat yaitu

a. Instrumen untuk mengukur kepemimpinan


b. Instrumen untuk mengukur iklim kerja sekolah
c. Instrumen untuk mengukur prestasi belajar murid

Dalam bab ini juga penulis memaparkan cara untuk menyusun instrument. Titik
tolak dari penyusunan adalah variable – varibel penelitian yang ditetapkan untuk
diteliti. Dari variable – vriabel tersebut diberikan defenisi operasiuonalnya dan
selanjutnya ditentukan indicator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian
dijabarkan menjadi butir- butir pertanyaan atau pernyataan.

BAB 7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Pada bab ini penulis hanya memperkenalkan atau memaparkan pengumpulan data
berdasarkan tekniknya yaitu melalui wawancara, angket,dan observase.

a. Interview (wawancara)
b. Kuesioner (angket)
c. Observasi

Dalam ketiga teknik ini dijelaskan secara mendetail tentang hal hal yang menyangkut
ketiga teknik tersebut.

BAB 8 ANALISIS DATA

38
Pada bab ini penulis memaparkan macam statistik untuk analisis data dan macam
data. Macam statistik untuk analisis data terdiri atas statistik deskriptif dan statistic
inferensial. Pada bab ini juga Prof. Sugiyono mengaskan bahwa untuk menguji
hipotesis dalam penelitian kuantitatif yang menggunakan statistik ada dua hal utama
yang harus diperhatikan yaitu macam data dan bentuk hipotesis. Macam data terdiri
atas data nominal, ordinal, interval dan rasio. Sedangkan bentuk hipotesis terdiri atas
hipotesis komparatif, deskriptif dan asosiatif. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam pengujian hipotesis yaitu taraf kesalahan. Dalam menaksir
parameter populasi berdasarkan data sampel kemungkinan akan terdapat dua
kesalahan yaitu :

a. Kesalahan tipe 1 adalah suatu kesalahan bila menolak hipotesis nol (H0) yang
benar (seharusnya diterima).
b. Kesalahan tipe 2 adalah kesalahan bila menerima hipotesis yang salah
(seharusnya ditolak).

BAB 9 ANALISIS DATA DAN PENGUJIAN HIPOTESIS

Untuk memahami penggunaan statistic dalam penelitian maka dalam bab ini Prof.
Sugiyono memaparkan contoh penelitian . Misalnya penelitian berjudul “Pengaruh
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Situasi Kepemimpinan terhadap Iklim
Organisasi Sekolah Widyaloka. Variabel penelitian adalah gaya kepemimpinan
kepala sekolah (X1), dan situasi kepemimpinan (X2) sebagai variable independen dan
iklim organiasi sekolah (Y) variable dependen. Populasi sebagai sebagai sumber data
dalam penelitian ini adalah semua guru yang berpendidikan S2,S2 dan D3 dengan
jumlah 50 orang. Berdasarkan tingkat kesalahan 5 % maka ukuran sampel ditemukan
44 guru terdiri atas 30 orang pria dan 14 orang wanita. Rumusan masalah adalah
sebagai berikut :

39
a. Rumusan Masalah Deskriptif
1. Seberapa banyak gaya kepemimpinan kepala SMA Widyaloka?
2. Seberapa baik situasi kepemimpinan di SMA Widyaloka?
3. Seberapa baik iklim organisasi SMA Widyaloka?
b. Rumusan Masalah Asosiatif
1. Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan
kepala sekolah dengan iklim organisasi SMA Widyaloka?
2. Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara situasi kepemimpinan
dengan iklim organisasi SMA Widyaloka?
3. Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan
kepala sekolah dan situasi kepemimpinan secara bersama – sama dengan
iklim organisasi SMA Widyaloka?
c. Rumusan Masalah Komparatif
1. Adakah perbedaangaya kepemimpinan kepala sekolah yang signifikan
menurut persepsi guru yang berpendidikan S2, S1 Dan D3?
2. Adakah perbedaan situasi kepemimpinan yang signifikan menurut
persepsi guru yang berpendidikan S2, S2 Dan D3?
3. Adakah perbedaan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang signifikan
berdasarkan persepsi guru pria dan wanita?

Adapun rumusan beberapa hipotesis antara sebagai berikut :

a. Hipotesis Deskriptif dirumuskan sebagai berikut :


1. Gaya kepemimpinan kepala sekolah SMA Widyaloka sama dengan 75%
dari yang diharapkan.
2. Situasi kepemimpinan di SMA Widyaloka paling rendah 40% dari yang
diharapkan.

40
3. Iklim organisasi SMA Widyaloka paling tinggi 60 % dari yang
diharapkan.

b. Hipotesis Asosiatif dapat dirumuskan sebagai berikut :


1. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan
kepala sekolah dan iklim organisasi SMA Widyaloka.
2. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan situasi kepemimpinan
dengan iklim organisasi SMA Widyaloka.
3. Terdapat hubungan yang positif da signifikan antara gaya kepemimpinan
kepala sekolah dan situasi kepemimpinan secara bersama – sama dengan
iklim organisasi SMA Widyaloka.

c. Hipotesis Komparatif Dapat Dirumuskan Sebagai Berikut :


1. Terdapat perbedaan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang signifikan
berdasarkan perpsepsi kelompok guru pria dan wanita.
2. Terdapat perbedaan situasi kepemimpinan yang signifikan berdasarkan
persepsi kelompok guru pria dan wanita.
3. Terdapat perbedaan iklim organisasi SMA yang signifikan berdasarkan
persepsi kelompok guru pria dan wanita.
4. Terdapat perbedaan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang signifikan
berdasarkan perpsepsi guru S2,S1,D3.

BAB 10 MASALAH, FOKUS, JUDUL PENELITIAN DAN TEORI DALAM


PENELITIAN KUALITATIF

Pada bab ini penulis memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan masalah,
fokus, judul penelitian dan teori dalam penelitian kualitalitatif. Menurut penulis,

41
dalam penelitian kualitatif akan terjadi tiga kemungkinan terhadap masalah yang
dibawa oleh peneliti dalam penelitian. Pertama, masalah yang dibawa oleh peneliti
tetap, sehingga sejak awal sampai akhir penelitian sama. Dengan demikian judul
proposal dengan judul laporan sama. Kedua, masalah yang dibawa peneliti setelah
memasuki penelitian berkembang yaitu memperluas atau memperdalam masalah
yang telah disiapkan. Dengan demikian tidak terlalu banyak perubahan sehingga
judul penelitian cukup disempurnakan. Ketiga, masalah yang dibawa peneliti setelah
memasuki lapangan berubah total sehingga harus ganti masalah. Penulis juga
memaparkan bahwa dalam membuat sebuah proposal penelitian harus ada focus
penelitian atau batasan masalah. Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut
dengan focus yang berisi pokok masalah yang masih bersifat umum. Penulis
berpendapat bahwa dalam penelitian kualitatif lebih didasarkan pada tingkat
kepentingan, urgensi dan feasebilitas masalah yang akan dipecahkan .

Adapun bentuk rumusan masalah yang dikemukakan oleh Sugiyono yaitu rumusan
masalah deskriptif, komparatif dan asosiatif. Rumusan masalah deskriptif adalah
suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengeksplorasikan dan atau
memotret situasi social yang mendalam. Rumusan masalah komparatif adalah
rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks
sosial atau domain satu dibandingkan dengan yang lain. Sedangkan rumusan masalah
asosiatif adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkonstruksi
hubungan antara situasi sosial atau domain satu dengan yang lainnya. Selain rumusan
masalah, salah satu hal yang tidak kalah penting dalam membuat proposal penelitian
adalah judul penelitian. Dalam penelitian kualitatif, karena masalah yang dibawa oleh
peneliti bersifat sementara dan bersifat holistic (menyeluruh) maka judul dalam
penelitian kualitatif yang dirumuskan dalam proposal juga masih bersifat sementara
dan berkembang setelah memasuki lapangan.

Penulis juga memaparkan tentang teori yang digunakan dalam penelitian kualitatif.
Karena permasalahan yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara maka teori

42
yang digunakan dalam penyusunan proposal penelitian kualitatif juga masih bersifat
sementara dan berkembang setelah peneliti memasuki konteks sosial. Peneliti
kualitatif dituntut mampu mengorganisasikan semua teori yang dibaca. Landasan
teori yang dituliskan dalam proposal penelitian lebih berfungsi untuk menunjukan
seberapa jauh penelitian memiliki teori peneliti memiliki teori dan memahami
permasalahan yang diteliti walaupun masih permasalahan tersebut bersifat sementara.

BAB 11 POPULASI DAN SAMPEL

Pada bab ini penulis memaparkan pengertian populasi dan sampel serta teknik
pengambilan sampel. Terdapat perbedaan yang mendasar dalam pengertian antara
populasi dan sampel dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dalam penelitian
kuantitatif, populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek /
subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan sampel
adalah sebagian dari populasi itu. Dalam penelitian kualitatif penulis menggunakan
istilah yang disampaikan oleh Spadley yang dinamakan social situation atau situasi
social yang terdiri atas tiga element yaitu tempat,pelaku, dan aktivitas.
Adapun beberapa teknik sampling yang sering digunakan adalah purposive sampling
dan snowball sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel
sumber data dengan pertimbamgan tertentu. Sedangkan snowball sampling adalah
teknik pengambilan sampel sumber data yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama -
lama menjadi besar. Lincoln dan Guba (1985) mengemukakan bahwa dalam
penelitian naturalistik, spesifikasi sampel tidak dapat ditentukan sebelumya. Jadi
penentuan sampel dalam penlitian kualitatif dilakukan saat peneliti mulai memasuki
lapangan dan selama penelitian berlangsung. Caranya yaitu peneliti memilih orang
tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap. Praktik sepeti
inilah yang dinamakan snowball sampling.

43
BAB 12 INSTRUMEN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Pada bab ini penulis mengemukakan beberapa hal yang berkaitan dengan instrument
penelitian dan teknik pengumpulan data. Dalam penelitian kualitatif yang menjadi
instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu peneliti
sebagai instrument harus validasi seberapa jauh itu peneliti kualitatif siap melakukan
penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Validasi terhadap peneliti sebagai
instrument meliputi validasi terhadap pemahaman metode kualitatif, penguasaan
wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki obyek
penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya. Penulis mengambil pendapat
dari Nasution (1988) bahwa dalam penelitian kualitatif tidak ada pilihan daripada
menjadikan manusia sebagai instrument penelitia utama. Alasannya adalah bahwa
segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Penulis mengelompokkan
jenis dari pengumpulan data dengan observase yaitu observase partisipatif, observasi
terus terang dan observasi tak berstruktur. Dalam observasi partisipatif peneliti
terlibat dengan kegiatan sehari – hari orang yang sedang diamati atau digunakan
sebagai sumber data penelitian. Observase terus terang, peneliti dalam melakukan
pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data, bahwa ia sedang
melakukan penelitian. Sedangkan observasi tak bestruktur adalah observasi yang
tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi.
Penulis mengutip beberapa tahap observasi menurut Spradley (1980) yaitu : observasi
deskriptif, terfokus dan terseleksi. Observasi deskriptif dilakukan peneliti pada saat
memasuki situasi sosial tertentu sebagai obyek penelitian. Observasi terfokus suatu
yang telah dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu. Sedangkan observasi
terseleksi, peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan sehingga datanya lebih
rinci.

44
Pada bab ini juga Sugiyono memaparkan teknik pengumpulan data dengan
wawancara. Penulis mendefinisikan pengumpulan data dengan interview menurut
Esterbeg (2002) yaitu pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui
Tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topic tertentu. Ada
macam – macam interview atau wawancara (Esterbeg, 2002) yaitu wawancara
terstruktur, wawancara semiterstruktur dan wawancara tak bestruktur.
Adapun langkah – langkah wawancara menurut Lincoln dan Guba adalah sebagai
berikut :

a. Menetapkan kepada siapa wawancara itu dilakukan.


b. Menyiapkan pokok- pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan.
c. Mengawali atau membuka alur wawancara.
d. Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya.
e. Meniliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan.

BAB 13 TEKNIK ANALISIS DATA

Pada bab ini penulis memaparkan pengertian teknik analisis data dan proses analisis
data. Prof. Sugiyono mengatakan bahwa jika data yang ada dalam proposal kita
bersifat kuantitatif maka teknik analis data menggunakan metode statistik yang sudah
tersedia. Misalnya akan menguji hipotesis hubungan antara dua variable, bila datanya
ordinal maka statistik yang digunakan Korelasi Spearman Rank, sedangkan bila
datanya interval atau ratio digunakan korelasi Pearson Product Moment. Sedangkan
jika penelitian bersifat kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber dengan
menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam – macam (triangulasi) dan
dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh.

Penulis memaparkan dua macam analisis data yaitu analisis sebelum di lapangan dan
analisis selama di lapangan model Miles and Huberman. Penelitian kualitatif telah
melakukan analisis data sebelum memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap

45
data hasil studi pendahuluan atau data sekunder yang akan digunakan untuk
menentukan fokus penelitian. Adapun analisis data dalam penelitian kualitatif
dilakukan pada saat pengumpulan data secara berlangsung dan setelah selesai
pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara peneliti sudah
melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Beberapa aktivitas alam
analisis data yaitu data reduction,data display,dan conlusion drawing
Menurut Prof. Sugiyono ada beberapa tahapan analisis data yang dilakukan yaitu
analisis dominan dan analisis taksonomi. Analisis dominan merupakan analisis yang
gambaran umumnya diperoleh dari obyek / penelitian atau situasi social. Adapun
analisis taksonomi yaitu analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul
berdasarkan domain yang telah ditetapkan.

BAB 14 VALIDITAS DAN REALIBILITAS PENELITIAN KUALITATIF


Pada bab ini penulis memaparkan pengertian dan jenis – jenis pengujian validitas dan
reliabilitas penelitian kualitatif. Validitas merupakan derajad ketepatan yang terjadi
pada obyek penelitian dengan daya yang dilaporkan oleh peneliti. Terdapat dua
macam validitas penelitian yaitu interrnal dan eksternal. Validitas internal berkenaan
dengan derajad akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai. Sedangkan
validitas eksternal berkenaan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat
digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi dimana sampel tersebut diambil.
Dalam pengujian keabsahan data, metode penelitian kualitatif menggunakan istilah
yng berbeda dengan penelitian kuantitatif. data. Uji keabsahan data dalam penelitian
kualitatif meliputi uji credibility, transferability, dependability dan confirmability.

a. Uji Kredibilitas
Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif
antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan
dalam penelitian, tringulasi, diskusi dengan teman sejawat, analis kasus negative
dan member check.

46
b. Pengujian Transferability
Transferability merupakan validitas eksternal dalam penelitian kuantitatif. Nilai
transfer ini berkenaan dengan pertanyaan hingga mana hasil penelitian dapat
diterapakan atau digunakan dalam situasi lain.
c. Pengujian dependability
Suatu penelitian yang reliable adalah apabila orang lain dapat mengulangi atau
mereplikasi proses penelitian tersebut. Dalam penelitian kualitatif uji
dependability dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses
penelitian. Jika peneliti tak dapat menunjukan jejak aktivitas lapangannya maka
dependabilitas penelitiannya patut diragukan.
d. Pengujian konfirmability
Pengujian konfirmability dalam penelitian kuantitatif disebut dengan uji
obyektivitas penelitian. Penelitian dikatakan obyek bila hasil penelitian telah
disepakati banyak orang. Dalam penelitian kualitatif uji konfirmability sehingga
pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan.

BAB 15 MENYUSUN PROPOSAL PENELITIAN

Pada bab ini penulis memaparkan tentang sistematika proposal penelitian kualitatif
dan kuantitatif. Adapun sistematika penulisan proposal penelitian kuantitatif adalah
sebagai berikut :

A. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang Masalah


b. Identifikasikan Masalah
c. Batasan Masalah
d. Rumusan Masalah
e. Tujuan Penelitian
f. Kegunaan Hasil Penelitian

47
B. LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN
HIPOTESIS

a. Deskripsi Teori.
b. Kerangka Berpikir
c. Hipotesis Penelitian

C. PROSEDUR PENELITIAN

a. Metode Penelitian
b. Populasi dan sampel
c. Instrumen Penelitian
d. Teknik Pengumpulan data
e. Teknik Analisis Data

D. ORGANISASI DAN JADWAL PENELITIAN

a. Organisasi Penelitian
Bila penelitian dilaksanakan oleh tim atau kelompok maka diperlukan adanya
organisasi pelaksanaan penelitian
b. Jadwal Penelitian
Setiap rancangan penelitian perlu dilengkapi dengan jadawl kegiatan yang
akan dilaksanakan.

E. BIAYA PENELITIAN

Biaya merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian. Jumlah biaya yang
diperlukan tergantung pada tingkat resiko kegiatan dilakukan.

Adapun sistematika penulisan proposal penelitian kualitatif adalah sebagai berikut:

A. PENDAHULUAN

48
a. Latar Belakang

Dalam latar belakang masalah ini perlu dikemukan gambaran keadaan yang sedang
terjadi selanjutnya. Masalah yang dikemukan dalam bentuk data, bisa diperoleh dari
studi pendahuluan dokumentasi laporan penelitian atau pernyataan orang – orang
yang dianggap kredibel dalam media baik media cetak maupun elektronika.

b. Fokus Penelitian

Pada penelitian kualilatif, penentuan fokus berdasarkan hasil studi pendahuluan,


pengalaman, referensi dan disarankan oleh pembimbing atau orang yang dianggap
ahli.

c. Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan pertannyaan penelitian yang jawabanya
dicarikan melalui penelitian. Rumusan masalah dalam penelitian kualitatif
tidak berkenaan dengan variable penelitian, yang bersifat spesifik tetapi lebih
makro dan berkaitan dengan kemungkinan apa yang terjadi pada obyek atau
situasi sosial penelitian tersebut.
d. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian adalah untuk menemukan, mengembangkan dan
membuktikan pengetahuan. Sedangkan secara khusus tujuan penelitian
kualitatif adalah menemukan sesuatu yang sebelumya belum pernah ada.
e. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dapat bersifat teoritis dan praktis. Untuk penelitian
kualitatif manfaat penelitian lebih bersifat teoritis yaitu untuk pengembangan
ilmu namun juga tidak menolak manfaat praktisnya untuk memecahkan
masalah.

B. STUDI KEPUSTAKAAN

49
Penulis mengatakan bahwa studi kepustakaan berkaitan dengan kajian teoritis dan
referensi lain yang terkait dengan nilai, budaya, dan norma yang berkembang pada
situasi sosial yang diteliti.

C. METODE PENELITIAN

Penulis memaparkan beberapa komponen yang berkaitan dengan metode penelitian


kualitatif yaitu sebagai berikut :

a. Metode dan alasan menggunakan metode kualitatif


Pada umumnya alasan menggunakan metode kualitatif karena permasalahan
belum jelas, holistik, kompleks, dinamis dan penuh makna sehingga tidak
mungkin data pada situasi sosial tersebut dijaring dengan metode penelitian
kuantitatif dengan instrument seperti test, kuesioner dan pedoman wawancara.
b. Tempat Penelitian
Dalam hal ini perlu dikemukakan tempat dimana situasi sosial tersebut akan
diteliti.
c. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrument utama adalah peneliti
sendiri.
d. Sampel Sumber Data
Dalam penelitian kualitatif sampel sumber data dipilih secara purposive dan
bersifat snowball sampling.
e. Teknik Pengumpulan Data
Penulis mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif teknik pengumpulan
data yang utama adalah observase participant, wawancara mendalam studi
dokumentasi dan gabungan ketiganya.
f. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif teknik analisis data lebih banyak dilakukan
bersamaan dengan pengumpulan data. Penulis memaparkan analisis data

50
menurut Miles dan Huberman yaitu dilakukan secara interaktif melaui proses
data reduction, data display, dan verification.
g. Rencana Pengujian Keabsahan Data
Uji keabsahan data meliputi uji kredibilitas data, uji dependabilitas data, uji
trasferabilitas dan uji konfirmabilitas.

D. ORGANISASI PENELITIAN DAN JADWAL PENELITIAN

a. Organisasi
b. Dalam organisasi penelitian terdiri atas ketua tim peneliti, beberapa anggota
peneliti, pengumpul data, benda hara, dan tenaga administrasi.
c. Jadwal Penelitian
d. Pada umumnya penelitian kualitatif memerlukan waktu yang relative lama
antara 6 bulan sampai 24 bulan. Untuk itu perlu direncanakan jadwal
pelaksanaan penelitian.

E. PEMBIAYAAN

Biaya merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian. Jumlah biaya yang
diperlukan tergantung pada tingkat profesionalisme tenaga peneliti dan
pendukungnya, tingkat resiko kegiatan dilakukan, jarak tempat penelitian dengan
tempat tinggal peneliti serta lamanya penelitian dilakukan.

51
BAB III PEMBAHASAN ANALISIS
3.1 Pembahasan Isi Buku
1. Pada buku utama penelitian dibedakan menjadi :
a. Berdasarkan maksudnya penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian
dasar, terapan, evaluasi, pengembangan, dan penelitian mendesak.
b. Berdasarkan metodenya, penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian
sejarah, deskriptif, korelasional, kausal, komparatif, percobaan dan kuasi
percobaan

Sedangkan dalam buku pembanding, penelitian dibedakan menjadi :

1. Menurut bidang terdiri atas akademis, profesional dan institusional.


2. Menurut tujuan terdiri atas murni dan terapan
3. Menurut metode surcey, expostfacto, eksperimen, naturalistic, policy
reaserarch, action research, evaluasi, sejarah dan R & D.
4. Menurut tingkat eksplanasi terdiri atas deskriptif, komparatif dan
asosiatif.
5. Menurut waktu terdiri atas cross sectional dan longitudinal.
2. Pada buku utama paradigma penelitian terdiri dari pardigma sederhana,
paradigma sederhana berurutan, paradigma ganda dengan dua variabel
independen, paradigma ganda dengan tiga variabel independen, paradigma
ganda dengan satu variabel independen dan dua dependen, paradigma ganda
dengan dua variabel independen dan dua variabel dependen dan paradigma
jalur. Sedangkan pada buku pembanding paradigma penelitian hanya terdiri
dari pardigma sederhana, paradigma sederhana berurutan, paradigma ganda
dengan dua variabel independen, paradigma ganda dengan tiga variabel, dan
paradigma jalur.
3. Pada buku pembanding teknik pengumpulan data yang dijelaskan hanya
a. Interview

52
b. Kuesioner
c. Observasi

Sedangkan pada buku utama teknik pengumpulan data yang dijelaskan terdiri
atas :

a. Wawancara/interview
b. Kuesioner (Angket)
c. Observasi
d. Tes
e. Dokumentasi
4. Pada penyusunan proposal penelitian buku pembanding hanya memaparkan
teknik penyusunan proposal penelitian kuantitatif dan kualitatif. Sedangkan
pada buku utama penyusunan proposal penelitian yang dipaparkan yaitu
sistematika proposal penelitian kuantitatif dan sistematika proposal penelitian
tindakan kelas.

3.2 Kelebihan dan Kekurangan


A. Kelebihan dan Kekurangan Buku Utama
1. Kelebihan dari buku utama yaitu materi yang dipaparkan cukup lengkap
dan mudah dipahami. Selain itu, buku utama juga ini juga dilengkapi
dengan gambar dan contoh sehingga pembaca mudah dalam
memahaminya.
2. Kekurangan dari buku utama yaitu pada buku ini sistematika penyusunan
proposal penulis hanya memaparkan secara poin tentang sistematika
penyusunan proposal penelitian kuantitatif dan penelitian tindakan kelas
sedangkan untuk penelitian expost facto dan penelitian eksperimen tidak
terdapat sistematika penyusunan proposalnya. Selain itu pada buku ini

53
juga penjelasan terkait sistematika penyusunan proposal hanya singkat
dan tidak seluruhnya di jelaskan.
B. Kelebihan dan Kekurangan Buku Pembanding
1. Kelebihan buku pembanding ini yaitu pada buku pembanding ini
penjelasan yang diberikan sangat jelas karena selain dijelaskan dengan
kata yang mudah dipahami setiap penjelasan dalam buku ini juga
diberikan contoh – contoh agar pembaca dapat lebih paham.
2. Kekurangan dari buku pembanding ini yaitu buku ini hanya terfokus pada
penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif sedangkan penelitian dalam
pendidikan terdapat beberapa jenis penelitian seperti pendidikan tindakan
kelas, expost facto, dan penelitian eksperimen

54
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Effi Aswita.2019.Metodologi Penelitian Pendidikan.Yogyakarta:K-Media


Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. Bandung: Alfabeta.

55