Anda di halaman 1dari 61

Dosen Pengampu : Lenti Susanna Saragih, S.Pd., M.

Si

CRITICAL JURNAL REVIEW


( Untuk memenuhi Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Manusia )

Disusun Oleh :

Novita Wulandari
7173341035

PRODI PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI

FAKULTAS PENDIDIKAN

EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI

MEDAN

T.A 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah senantiasa
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan susunan
laporan critical journal review mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Manusia.

Dan sebagai penulis, menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan kekurangan yang
membuat laporan critical journal review ini kurang sempurna. Penulis hanya berusaha
semaksimal mungkin dengan kemampuan penulis.

Laporan critical journal review ini dibuat untuk memenuhi tugas Perencanaan
Pembelajaran. Dengan menyelesaikan laporan, penulis berharap semoga dengan laporan
critical journal review yang kurang sempurna ini dapat memberikan banyak manfaat yang
dapat kita ambil.

Medan, Oktober 2020

Novita Wulandari
IDENTITAS JURNAL

1. Jurnal Utama

Judul : Pengaruh Upah Minimum terhadap Penyerapan Tenaga Kerja

dan Kesejahteraan Masyarakat di Provinsi di Indonesia

Penulis Jurnal : Rini Sulistiawati

Tahun Terbit : Oktober 2012

ISSN : 1693-9093

Tempat Terbit : Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak

Jumlah Halaman : 17 Halaman

Jenis Jurnal : Ekonomi Sosial

Volume : Volume 8, No.3

Jurnal Pembanding 1

Judul :Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja Serta Pengangguran

di Indonesia

Penulis Jurnal : Novia Dani Pramusinto dan Akhmad Daerobi

Tahun Terbit 2019

Tempat Terbit : Universitas Sebelas

Maret Jumlah Halaman : 11 Halaman

ISSN : 2685-147

Jurnal Pembanding II

Judul :Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja Serta Upah : Teori

Serta Beberapa Potretnya di Indonesia

Penulis Jurnal : Maimun Sholeh


Tahun Terbit : April 2017

Tempat Terbit : Universitas Negeri

Yoygakarta Jumlah Halaman : 14 Halaman

Volume : Vol 4, No.1


JURNAL UTAMA

1. Ringkasan Jurnal
No. Aspek Komentar / Kritik

Pencapaian kesejahteraan sosial sebagai tujuan akhir

pembangunan membutuhkan terciptanya kondisi dasar, yaitu: 1)

pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan; 2) pembuatan a sektor

ekonomi yang kuat; dan 3) pembangunan ekonomi yang inklusif

dan berkeadilan (Bappenas, 2010). Kesejahteraan masyarakat

diharapkan akan tercapai jika perekonomian terus tumbuh

gilirannya akan menciptakan lebih banyak kesempatan kerja dan

menyerap lebih banyak tenaga kerja dengan upah yang adil.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh

upah terhadap penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan sosial


Abstrak
1 pada provinsi di Indonesia. Masa penelitian selama lima tahun
Penelitian
yaitu dari tahun 2006 sampai 2010 dengan menggunakan data

sekunder disediakan oleh Badan Pusat Statistik dalam bentuk

kombinasi antar data deret waktu (dari 2006 hingga 2010) dan

data cross section (33 provinsi di Indonesia) disebut juga panel

data. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan Model Analisis Jalur di bawah SPSS 17.0.

Pengujian 2 (dua) hipotesis dengan tingkat signifikansi α = 0,05

diperoleh sebagai berikut Hasil: Pertama, upah minimum

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga

kerja. Itu pengaruh upah minimum terhadap lapangan kerja

memiliki koefisien jalur - 0,39 dengan probabilitas nilai


signifikansi
(Sig) sebesar 0,000. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
terjadi
peningkatan Upah minimum akan mengurangi lapangan kerja dari

tenaga kerja dengan produktivitas rendah yang umumnya

menyerap sektor primer, sektor yang paling banyak menyerap

tenaga kerja. Kedua, penyerapan tenaga kerja memiliki nilai

positif tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan

sosial. Pengaruh penyerapan tenaga kerja terhadap kesejahteraan

sosial memiliki a koefisien jalur 0,08 dengan nilai probabilitas

signifikansi (Sig) sebesar 0,332. Hasil dari Penelitian ini

menunjukkan bahwa peningkatan penyerapan tenaga kerja tidak

menyebabkan peningkatan sosial kesejahteraan provinsi di

Indonesia karena: 1). Upah minimum yang diterima buruh lebih

rendah dari kebutuhan

dasar minimum, 2) upah minimum yang diterima oleh tenaga kerja


lebih rendah dari pajak tingkat pendapatan.

Kata kunci: upah minimum, penyerapan tenaga kerja dan

kesejahteraan sosial
Perkembangan keadaan ketenagakerjaan di Indonesia selama tahun
2006 sampai dengan tahun 2010 yang ditampilkan pada Tabel 1.1
menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, walaupun
dibeberapa daerah terjadi musibah bencana alam dan perubahan
ekonomi global, yang berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan
lapangan kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yaitu

2 Pendahuluan rasio antara Angkatan kerja dibandingkan dengan seluruh


penduduk usia kerja (umur15 tahun ke atas) terus mengalami
peningkatan yaitu dari 66,16 persen pada tahun 2006 menjadi
67,72 persen pada tahun 2010. Sementara Tingkat Pengangguran
Terbuka juga mengalami penurunan yang terus menerus yaitu dari
10,28 persen tahun 2006 menjadi 7,14 persen pada tahun 2010.
Menurunnya jumlah pengangguran mengindikasikan bahwa
pertumbuhan
ekonomi telah dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Pasar
tenaga kerja, seperti pasar lainnya dalam perekonomian
dikendalikan oleh kekuatan penawaran dan permintaan, namun
pasar tenaga kerja berbeda dari sebagian besar pasar lainnya
karena permintaan tenaga kerja merupakan tenaga kerja turunan
(derived demand) dimana permintaan akan tenaga kerja sangat
tergantung dari permintaan akan output yang dihasilkannya
(Borjas,2010:88; Mankiw,2006:487). Dalam suatu proses produksi
untuk menghasilkan barang dan jasa, tenaga kerja merupakan
salah satu faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi
tersebut. Dengan menelaah hubungan antara produksi barang-
barang dan permintaan tenaga kerja, akan dapat diketahui faktor
yang
menentukan upah keseimbangan.
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian eksplanatori, yaitu
suatu penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara
variabel- variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi penelitian
ini adalah seluruh provinsi yang ada di Indonesia yang berjumlah
33 provinsi. Penelitian ini dilakukan secara sensus dengan data
Metodologi
3 berbentuk times series dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010,
Penelitian
dan data cross- section yang terdiri atas 33 provinsi, sehingga
merupakan data panel atau pooled the data yaitu gabungan antara
data times series (tahun 2006 s.d 2010 = 5 tahun) dengan data
cross-section (33
provinsi).
1. Pengaruh Upah Minimum Terhadap Penyerapan
Tenaga Kerja Berdasarkan hasil pengujian hipotesis
dengan menggunakan analisis jalur antara upah terhadap
penyerapan tenaga kerja provinsi di Indonesia yang

Hasil ditampikan pada Tabel 4 diperoleh nilai koefisien jalur


4 yang bertanda negatif sebesar - 0,39 dengan nilai
Penelitian
probabilitas signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari
taraf signifikansi (α) yang ditentukan sebesar 0,05.
Berdasarkan hasil pengujian ini berarti hipotesis pertama
yang menyatakan bahwa upah berpengaruh signifikan
terhadap
penyerapan tenaga kerja di provinsi-provinsi di Indonesia
dapat diterima, karena secara statistic terbukti. Koefisien
jalur yang bertanda negatif bermakna bahwa pengaruh
upah terhadap penyerapan tenaga kerja adalah tidak searah,
artinya apabila terjadi kenaikan upah, maka berpotensi
untuk menurunkan penyerapan tenaga kerja, terutama
tenaga kerja yang produktivitasnya rendah.
2. Pengaruh Penyerapan Tenaga Kerja Terhadap
Kesejahteraan Masyarakat Hasil pengujian hipotesis
dengan menggunakan analisis jalur antara penyerapan
tenaga kerja terhadap kesejahteraan masyarakat provinsi di
Indonesia yang ditampilkan pada Tabel 4, diperoleh nilai
koefisien jalur 0,08 dengan nilai probabilitas signifikansi
(Sig) sebesar 0,332 yang lebih besar dari taraf signifikansi
(α) yang ditentukan sebesar 0,05. Berdasarkan hasil
pengujian ini berarti bahwa hipotesis kedua yang diajukan
dalam studi yaitu penyerapan tenaga kerja berpengaruh
signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat provinsi di
Indonesia, ditolak. Koefisien jalur yang bertanda positif
bermakna bahwa pengaruh penyerapan tenaga kerja
terhadap kesejahteraan masyarakat berjalan searah, artinya
apabila penyerapan tenaga kerja meningkat, maka akan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta: UPP
STIM YKPN.
Askenazy, Philippe. 2003. Minimum Wage, Export, and Growth.
Daftar
5 European Economic Review 47 (2003), pp 114 – 167.
Pustaka
Badan Pusat Statistik, 2002. Teknik Perhitungan PDRB Menurut
Komponen Penggunaan. Direktorat Neraca Konsumsi. Jakarta :
Badan Pusat Statistik.

2. Analisis Jurnal
Setiap hasil penelitian menggunakan metode yang sistematis
yaitu dengan cara pendekatan studi kasus.

Kelebihan Jurnal Data diperoleh dari penelitian berdasarkan analisis data.


Data yang diperoleh bersifat kualitatif dimana data
penelitian dikumpulkan melalui pengamatan secara
langsung.
Adapun kelemahan pada jurnal ini ialah terdapat penjelasan yang
menggunakan rumus dan kata baku sehingga pembaca kurang
Kekurangan Jurnal memahami apa maksud penjelasan tersebut. Serta pembahasan
didalam jurnal ini terlalu berlebih sehingga membuat pembaca
sedikit
malas untuk membacanya.
1. Upah berpengaruh signifikan dan mempunyai hubungan
yang negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. Koefisien
jalur yang bertanda negatif bermakna bahwa pengaruh upah
terhadap penyerapan tenaga kerja adalah tidak searah,
artinya apabila terjadi kenaikan upah, maka berpotensi untuk
menurunkan penyerapan tenaga kerja, terutama tenaga kerja
yang produktivitasnya rendah.
2. Secara nasional, tenaga kerja yang mempunyai mempunyai
produktivitas paling rendah terjadi di sektor primer,
sementara sektor sekunder merupakan sektor yang paling

Kesimpulan sedikit menyerapa tenaga kerja tetapi mempunyai


produktivitas pekerja yang paling tinggi yaitu sebesar 1.82.
Kondisi yang sama juga terjadi pada lingkup provinsi di
mana produktivitas tenaga kerja di sektor primer adalah
lebih rendah bila dibandingkan dengan produktivitas tenaga
kerja di sektor sekunder.
3. Tenaga kerja di sektor primer pada umumnya mempunyai
pendidikan yang rendah dengan produktivitas yang rendah
pula, oleh karena itu kenaikan upah minimum akan
berdampak pada berkurangnya penggunaan tenaga kerja di
sektor ini. Rasio antara upah minimum dan upah yang
diterima pekerja berdasarkan pendidikan nilainya lebih besar
dari satu (>1), menunjukkan bahwa di sebagian besar
provinsi, pekerja yang Belum Pernah Sekolah, Belum Tamat
SD, dan SD, menerima upah yang lebih rendah dari upah
minimum.

JURNAL PEMBANDING I

4. Ringkasan Jurnal
No. Aspek Komentar / Kritik

Pekerjaan merupakan faktor penting dalam mendukung


pertumbuhan ekonomi suatu negara. Itu pasar tenaga kerja
dibentuk oleh dua kekuatan utama yaitu permintaan tenaga kerja
dan penawaran tenaga kerja. Tenaga kerja permintaan dipengaruhi
oleh nilai marjinal produk (VMP). VMP menunjukkan
manfaatnya diperoleh dari mempekerjakan pekerja tambahan dan
memegang modal konstan. Pasokan tenaga kerja dipengaruhi oleh
waktu luang dan upah. Jumlah total tenaga kerja disediakan untuk
suatu perekonomian tergantung pada penduduk, persentase
Abstrak penduduk memasuki angkatan kerja, dan jumlah jam kerja oleh
1
Penelitian angkatan kerja. Yang kecil Jumlah permintaan tenaga
kerja akan mengakibatkan kelebihan pasokan tenaga
kerja yang menawarkan diri bekerja, hasilnya adalah
pengangguran. Pengangguran terbuka merupakan indikator yang
bisa digunakan mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang
tidak terserap pasar tenaga kerja. Setiap tenaga kerja harus
mendapatkan pekerjaan untuk dapat memiliki keunggulan
kompetitif sehingga mereka bisa meningkatkan
daya saing. Naik turunnya suatu pekerjaan akan mempengaruhi
permintaan akan tenaga kerja pasokan tenaga kerja
oleh masyarakat.
Ketenagakerjaan merupakan suatu faktor penting dalam
2 Pendahuluan mendukung pertumbuhan ekonomi disuatu negara. Pasar tenaga
kerja dibentuk oleh dua kekuatan utama yaitu permintaan tenaga
kerja dan penawaran tenaga kerja. Permintaan tenaga kerja
dilakukan oleh pihak perusahaan (produsen), sedangkan
penawaran tenaga kerja dilakukan oleh pihak tenaga
kerja(Mankiw, 2003).Dalam pasar tenaga kerja,
ketidakseimbangan permintaan tenaga kerja dan penawaran tenaga
kerja menyebabkan masalah ketenagakerjaan yang
berkepanjangan. Ketidakseimbangan tersebut terjadi jika
penawaran tenaga kerja lebih besar dibanding dengan permintaan
tenaga kerja yang ada dalam pasar tenaga kerja. Sedikitnya jumlah
permintaan tenaga kerja akan mengakibatkan kelebihan pasokan
tenaga kerja yang menawarkan diri untuk bekerja, akibatnya
adalah terjadi pengangguran. Permintaan tenaga kerja memainkan
peran penting dalam penilaian kebijakan (Peichl & Siegloch,
2012). Permintaan tenaga kerja memiliki karakter individu di
pasar tenaga kerja. Tenaga kerja dibeli bukan untuk memenuhi
kebutuhan akan tenaga kerja, tetapi dibeli karena tugas tertentu
untuk dipenuhi dan memiliki layanan yang diberikan
(Abdurakhmanov & Zokirova, 2013). Tingkat permintaan tenaga
kerja oleh individu perusahaan yang dapat dimaksimalkan
keuntungan terjadi pada saat nilai produktivitas tenaga kerja sama
dengan biaya marginal tenaga kerja (Santoso, 2012). Kurva Nilai
produk marginal (VMP/Value Marginal Product) merupakan
kurva permintaan tenaga kerja jangka pendek dari perusahaan
yang bersangkutan yang beroperasi dalam pasar persaingan
sempurna. VMP adalah biaya marjinal dari mempekerjakan satu
unit tenaga
kerja dan pendapatan marjinal dari satu unit input.
Pengangguran di Indonesia
Penduduk yang termasuk angkatan kerja menggambarkan jumlah
penduduk yang menawarkan dirinya sebagai tenaga kerja. Jumlah
Hasil angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2018 mencapai 131,01
3
Penelitian juta orang mengalami peningkatan 2,95 juta atau sebesar 2,30%
dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja Agustus 2016 yaitu
sebesar 128,06 (BPS, 2018). Peningkatan jumlah angkatan kerja
dipengaruhi oleh tingginya jumlah pertumbuhan penduduk, dimana
total penduduk Indonesia pada Agustus 2018 berdasarkan
proyeksi penduduk 2010-2035 diperkirakan sebanyak 265,52 juta
orang. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 2,70 juta
orang atau 1,41 persen dibandingkan total penduduk Indonesia
pada Agustus 2016 yaitu sebesar 128,06 juta orang (BPS, 2018).
Tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2014 sebesar 7,24 juta
orang dengan presentase tingkat pengangguran terbuka 5,94%.
Pada tahun 2015, tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,56 juta
orang, bertambah sekitar 110 ribu orang pengangguran dengan
presentase tingkat pengangguran terbuka 6,18%. Pada tahun 2016,
tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,03 juta orang, berkurang
sekitar 530 ribu orang dibandingkan tahun 2015 dengan
presentase tingkat pengangguran terbuka 5,61%. Pada tahun 2017,
tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,03 juta orang, bertambah
sekitar 8,5 ribu orang dibandingkan tahun 2016 dengan presentase
tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 5,50% dikarenakan
jumlah agkatan kerja pada tahun 2017 meningkat. Pada tahun
2018, tingkat
pengangguran terbuka sebesar 7 juta orang, berkurang 40 ribu.
Abdurakhmanov, K., & Zokirova, N. (2013). Labor Economics
and Sociology. (E. S. Margianti, Ed.) (Tutorial). Jakarta:
Gunadarma University, Indonesia.
Becker, G. (1993). Human Capital: A Theoritical and Empirical
Analysis, with Special Reference to Education (3rd Ed.). Chicago:
The University Of Chicago Press.
Daftar Bellante, D., & Jackson, M. (1990). Ekonomi Ketenagakerjaan.
4
Pustaka (K. Wimandjaja & M. Yasin, Ed.). Jakarta: LPFE UI.
Biffl, G. (1998). The Impact of Demographic Changes on Labor
Supply. WIFO AUSTRIAN ECONOMIC QUARTERLY, 4, 219–
228. Diambil dari
https://www.wifo.ac.at/jart/prj3/wifo/resources/person_dokument/
person_dokument.jart?publi
kationsid=580&mime_type=application/pdf
5. Analisis Jurnal
 Penggunaan kata yang tepat dan baku disertai dengan penjelasan
dan permasalahan yang sesuai dengan jurnal.

Kelebihan Jurnal  Data yang diperoleh bersifat kualitatif dimana data penelitian
dikumpulkan melalui pengamatan secara langsung.
 Dari jurnal yang saya baca dicantumkannya topik permasalahan
tentang apa yang harus diteliti dan dibahas lebih mendalam lagi.
 Beberapa kata yang digunakan dalam jurnal masih ada yang
kurang jelas untuk dipahami.
Kekurangan Jurnal  Pendahuluannya terlalu banyak sehingga terlihat seperti narasi

yang menyebabkan pembaca akan bosan untuk membacanya.


 Tidak memiliki metode penelitian.
Tenaga kerja mempengaruhi sebuah aktifitas bisnis dan
perekonomian di Indonesia. Setiap tenaga kerja harus mendapatkan
lapangan pekerjaan untuk mampu memiliki keunggulan
kompetitifsehingga mereka dapat meningkatkan daya saing.

Kesimpulan Pengangguran dapat menjadi suatu ancaman jika tidak segera diatasi
karena dapat meningkatkan tindakan kriminal akibat masyarakat
tidak memiliki pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Oleh karena itu, naik turunnya sebuah lapangan pekerjaan akan
mempengaruhi permintaan tenaga kerja terhadap penawaran tenaga
kerja oleh masyarakat.

JURNAL PEMBANDING II

6. Ringkasan Jurnal
No. Aspek Komentar / Kritik
Masalah tenaga kerja adalah masalah yang sangat kompleks dan
besar. Kondisi kerja yang baik, kualitas output yang tinggi, upah
yang layak serta kualitas sumber daya manusia adalah persoalan
yang selalu muncul dalam pembahasan tentang tenaga kerja
disamping masalah hubungan industrial antara pekerja dengan
dunia usaha. Dapat dikatakan ketenagakerjaan di Indonesia hingga

Abstrak kini masih menghadapi beberapa ketidakseimbangan baik


1 struktural ataupun sektoral. maka salah satu sasaran yang perlu
Penelitian
diusahakan adalah meningkatkan daya guna tenaga kerja.
Permintaan Tenaga kerja yang dipengaruhi oleh nilai marjinal
produk (Value of Marginal Product, VMP), Penawaran Tenaga
Kerja yang dipengaruhi oleh jam kerja yang luang dari tenaga
kerja individu serta upah, secara teoretis harus diperhatikan agar
kebijakan-kebijakan yang dilakukan mendekati tujuan yang
diinginkan
Masalah tenaga kerja adalah masalah yang sangat kompleks dan
besar. Kompleks karena masalahnya mempengaruhi sekaligus
dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi dengan
pola yang tidak selalu mudah dipahami. Besar karena menyangkut
jutaan jiwa. Untuk menggambarkan masalah tenaga kerja dimasa
yang akan dating tidaklah gampang karena disamping mendasarkan
pada angka tenaga kerja di masa lampau, harus juga diketahui
prospek produksi di masa mendatang. Kondisi kerja yang baik,

2 Pendahuluan kualitas output yang tinggi, upah yang layak serta kualitas sumber
daya manusia adalah persoalan yang selalu muncul dalam
pembahasan tentang tenaga kerja disamping masalah hubungan
industrial antara pekerja dengan dunia usaha. Tulisan ini ingin
memaparkan teori yang berhubungan dengan tenaga kerja beserta
beberapa potretnya di Indonesia , dimana pembahasanya dimulai
dari teori permintaan tenaga kerja, teori penawaran tenaga kerja,
teori upah serta potret tenaga kerja di Indonesia. Diharap dengan
paparan ini maka kompleksitas ketenagakerjaan dapat lebih di
pahami.
1. Permintaan Tenaga Kerja
Dengan mengasumsikan bahwa tenaga kerja dapat
ditambah dan faktor produksi lain tetap, maka
perbandingan alat-alat produksi untuk setiap pekerja
menjadi lebih kecil dan tambahan hasil marginal
menjadi lebih kecil pula, atau dengan semakin
banyak tenaga kerja digunakan semakin turun MPPi,
nya karena nilai MPPi. mengikuti hukum
pertambahan hasil yang semakin berkurang. Bila
harga atau tingkat upah tenaga kerja naik, kuantitas
tenaga kerja yang diminta akan menurun, ini
diperlihatkan oleh kenaikan arus upah yang
berpotongan dengan kurva VMP dalam kuantitas
tenaga kerja yang lebih sedikit. Dengan
berkurangnya pekerja, produk fisik marginal dari
Hasil input modal, atau MPPR, akan menurun karena kini
3
Penelitian setiap unit modal digarap oleh lebih sedikit pekerja.
Jika sebuah mesin dioperasikan oleh satu orang ,
produk fisik marginal mesin itu akan menurun
dibandingkan saat sebelumnya ketika mesin itu
diuais oleh beberapa orang. Karena kini hanya ada
satu pekerja, mereka tidak bisa bergantian
menjalankan mesin, sehingga hasilnya lebih sedikit.
Dalam kalimat lain, modal bersifat komplementer
terhadap tenaga kerja, atau ada komplementaritas
(complementary) diantara keduanya.

2. Penawaran Tenaga Kerja


Menurut G.S Becker (1976), Kepuasan individu bisa
diperoleh melalui konsumsi atau menikmati waktu
luang (leissure). Sedang kendala yang dihadapi
individu adalah tingkat pendapatan dan waktu.
Bekerja sebagai kontrofersi dari leisure menimbulkan
penderitaan, sehingga orang hanya mau melakukan
kalau memperoleh kompensasi dalam bentuk
pendapatan, sehingga solusi dari permasalahan
individu ini adalah jumlah jam kerja yang ingin
ditawarkan pada tingkat upah dan harga yang
diinginkan. Kombinasi waktu non pasar dan barang-
barang pasar terbaik adalah kombinasi yang terletak
pada kurva indefferensi tertinggi yang dapat dicapai
dengan kendala tertentu. sebagaimana gambar 3,
kurva penawaran tenaga kerja mempunyai bagian
yang melengkung ke belakang. Pada tingkat upah
tertentu penyediaan waktu kerja individu akan
bertambah apabila upah bertembah (dariW ke W1 ).
Setelah mencapai upah tertentu (W1 ), pertambahan
upah justru mengurangi waktu yang disediakan oleh
individu untuk keperluan bekerja (dari W1 ke WN ).
Hal ini disebut Backward Bending Supply Curve.
3. Proses Penyamaan Upah
Dalam analisis ini kita asumsikan semua tenaga
kerja bisa melakukan semua pekerjaan tersebut.
Bentuk kurva penawaran itu mengarah ke atas juga
dikarenakan adanya perbedaan preferensi di
kalangan pekerja atas dua macam pekerjaan yang
tersedia. Jika mereka tidak memiliki preferensi sama
sekali, maka bentuk kurva penawarannya lurus
mendatar. Semakin curam atau semakin besar sudut
kurva penawaran itu terhadap garis mendatar, maka
semakin besar kecenderungan para pekerja untuk
memilih salah satu pekerjaan daripada yang lain.
Dalam situasi ini, ekuilibrium Lercipta pada titik
perpotongan antara DD dan SS, atau titik E. Ini
memunculkan sesuatu rasio upah relatif, katakanlah
1,4. dan rasio penyerapan tenaga kerja, misalkan saja
0,8. itu berarti dalam kondisi ekuilibrium , tingkat
upah pekerjaan 1 40 % lebih tinggi daripada upah
yang diberikan oleh pekerjaan 2. Teori ini memberi
tahu kita tingkat upah yang relatif lebih tinggi harus
ditawarkan oleh pekerjaan 1 demi memperoleh
tenaga kerja yang dibutuhkan nya. Tentu saja ini
tidak sama dengan kenyataan sehari-hari yang kita
hadapi. Kita sering melihat orang yang bersedia
melakukan pekerjaan yang kurang disukainya
dengan upah yang juga rendah.
4. Potret Tenaga Kerja di Indonesia
Bila Jumlah penduduk Indonesia adalah 208 juta
jiwa, sementara Jumlah penduduk angkatan kerja
106 juta jiwa maka, jumlah penduduk bukan
angkatan kerja adalah102 juta jiwa. Ini berarti
Jumlah pengangguran 11 juta jiwa. Sedangkan angka
beban ketergantungan dapat dihitung sebagai : DR =
(Produktif/non produktif-produktif) x100 atau sama
dengan 103, 92 juta jiwa , dibulatkan menjadi 104
juta jiwa. Ini berarti setiap 100 penduduk usia
produktif menanggung 104
penduduk usia non produktif.
Armelly. (1995). " Dampak kenaikan Upah Minimum Terhadap
Harga dan kesempatan Kerja Study Kasus Industri Tekstil di
Indonesia : Pendekatan Analisis Input - Output", Tesis S-2
Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta,
Daftar
4 tidak dipublikasikan.
Pustaka
Atkinson, A.B. (1982). "Unemployment. Wages, and Government
Policy", The Economics Journal, Volume 92, Hal 45-50.
Bellante, Don and Jackson, Mark. (1990). Ekonomi
Ketenagakerjaan, LPFE UI, Jakarta.
Bilas, Richard A. (1989). Teori Mikroekonomi. Jakarta: Erlangga
Brown, Charles; Curtis Gilray and Andrew Kohen. (1982). "The
effecs of minimum wage on employment and unemployment",
Journal of Economics Literature, VoLXX, Juni 1982.

7. Analisis Jurnal
 Penggunaan kata yang tepat dan baku disertai dengan penjelasan
dan permasalahan yang sesuai dengan jurnal.

Kelebihan Jurnal  Data yang diperoleh bersifat kualitatif dimana data penelitian
dikumpulkan melalui pengamatan secara langsung.
 Dari jurnal yang saya baca dicantumkannya topik permasalahan
tentang apa yang harus diteliti dan dibahas lebih mendalam lagi.
 Beberapa kata yang digunakan dalam jurnal masih ada yang
kurang jelas untuk dipahami.
Kekurangan Jurnal  Pendahuluannya terlalu banyak sehingga terlihat seperti narasi

yang menyebabkan pembaca akan bosan untuk membacanya.


 Tidak memiliki metode penelitian.
Dapat dikatakan ketenagakerjaan di Indonesia hingga kini masih
menghadapi beberapa ketidakseimbangan baik struktural ataupun
sektoral. Walaupun telah terjadi pergeseran namun sebagian besar
angkatan kerja Indonesia masih bekerja di sektor pertanian. Dalam
hubungan ini, maka salah satu sasaran yang perlu diusahakan adalah
meningkatkan daya guna tenaga kerja. Untuk mewujudkan

Kesimpulan pendayagunaan tenaga kerja maka perlu dilaksanakan berbagai


kebijaksanaan perluasan lapangan kerja produktif. Sasaran utama
kebijaksanaan adalah menciptakan kondisi dan suasana yang bukan
saja memberi ruang gerak inisiatif yang sebesarbesarnya kepada
para pelaku ekonomi tetapi juga sekaligus mendorong serta
membantu perkembangan usaha-usaha kecil, usaha-usaha di sektor
informal dan usaha-usaha tradisional. Permintaan Tenaga
kerja, Penawaran
Tenaga Kerja Serta Upah secara teoretis harus diperhatikan agar
kebijakan-kebijakan yang dilakukan mendekati tujuan yang
diinginkan.
ISSN 1693 – 9093 Volume 8, Nomor 3, Oktober 2012
hal 195 - 211

Pengaruh Upah Minimum terhadap Penyerapan


Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Masyarakat
di Provinsi di Indonesia
Rini Sulistiawati

Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak. Jalan Ahmad Yani Pontianak


Alamat Korespondensi, email: rini_s5300@yahoo.co.id

Abstract - The achievement of social welfare as the ultimate goal of development requires the
creation of basic conditions, namely: 1) sustainable economic growth; 2) the creation of a
strong economic sector; and 3) an inclusive and equitable economic development (Bappenas,
2010). The social welfare are expected to be achieved if the economy continues to grow that in
turn will create more job opportunities and absorb more labor at fair wages.This study aims to
examine and analyze the effect of wages on labor absorption and social welfare at province in
Indonesia. The study period was five years i.e. from 2006 to 2010 by using secondary data
provided by Central Bureau of Statistics in the form of combination between times series data
(from 2006 to 2010) and cross section data (33 province in Indonesia) also known as panel
data. Hypothesis testing in this study is conducted by using Path Analysis Model under SPSS
17.0. Test of 2 (two) hypothesis with level of significance α = 0.05 obtained the following
results: First, minimum wage has a negative and significance effect on labor absorption. The
effect of minimum wages on employment has a path coefficient of - 0.39 with a probability
value of significance (Sig) of 0.000. The results of this study indicate that the increase in
minimum wages will reduce employment of low productivity labor that commonly absorb in
primary sector, the sector that absorb most labor. Second, labor absorption has positive but
not significance effect on social welfare. The effect of labor absorption on social welfare has a
path coefficient of 0.08 with a probability value of significance (Sig) of 0.332. The results of
this study indicate that the increase in labor absorption does not cause an increase in social
welfare of province in Indonesia due to: 1). Minimum wages received by the labor is lower
than minimum basic necessities, 2) minimum wages received by the labor is lower than taxed
income level.

Keywords: minimum wages, labor absorption and social welfare

I. LATAR BELAKANG
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas menyebutkan bahwa negara Indonesia
dibentuk untuk melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa. Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat, Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010 – 2014 menyatakan bahwa pembangunan di bidang
ekonomi ditujukan untuk menjawab berbagai permasalahan dan tantangan dengan tujuan akhir adalah
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.. Pada tataran global, ”Deklarasi Millennium” yang
ditandatangani di New York tahun 2000 juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, yaitu berisi komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan
kemiskinan. Komitmen tersebut diterjemahkan menjadi beberapa tujuan dan target yang dikenal
sebagai Millennium Development Goals (MDGs) (Bappenas, 2007).
Sebelum tahun 1970-an, pembangunan semata-mata dipandang sebagai fenomena ekonomi
saja. Tinggi rendahnya kemajuan pembangunan di suatu negara hanya diukur berdasarkan capaian
pertumbuhan Gross National Product (GNP) baik secara keseluruhan maupun per kapita, yang
diyakini akan menetes sendiri (trickle down effect) terhadap lapangan pekerjaan dan kehidupan sosial
ekonomi masyarakat demi terciptanya distribusi pendapatan. Fakta yang terjadi adalah beberapa

Jurnal EKSOS
196 Rini Sulistiawati Eksos

negara berkembang berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun gagal memperbaiki
taraf hidup (kesejahteraan) masyarakatnya (Todaro, 2000: 18).
Pembangunan ekonomi maupun pembangunan pada bidang-bidang lainnya selalu melibatkan
sumber daya manusia sebagai salah satu pelaku pembangunan, oleh karena itu jumlah penduduk di
dalam suatu negara adalah unsur utama dalam pembangunan. Jumlah penduduk yang besar tidak
selalu menjamin keberhasilan pembangunan bahkan dapat menjadi beban bagi keberlangsungan
pembangunan tersebut. Jumlah penduduk yang terlalu besar dan tidak sebanding dengan ketersediaan
lapangan kerja akan menyebabkan sebagian dari penduduk yang berada pada usia kerja tidak
memperoleh pekerjaan.
Kaum klasik seperti Adam Smith, David Ricardo dan Thomas Robert Malthus berpendapatan
bahwa selalu ada perlombaan antara tingkat perkembangan output dengan tingkat perkembangan
penduduk yang akhirnya dimenangkan oleh perkembangan penduduk. Karena penduduk juga
berfungsi sebagai tenaga kerja, maka akan terdapat kesulitan dalam penyediaan lapangan pekerjaan.
Kalau penduduk itu dapat memperoleh pekerjaan, maka hal ini akan dapat meningkatkan
kesejahteraan bangsanya. Tetapi jika tidak memperoleh pekerjaan berarti mereka akan menganggur,
dan justru akan menekan standar hidup bangsanya menjadi lebih rendah (Irawan dan Suparmoko,
2002:88)
Dimensi masalah ketenagakerjaan bukan hanya sekedar keterbatasan lapangan atau peluang
kerja serta rendahnya produktivitas namun jauh lebih serius dengan penyebab yang berbeda-beda.
Pada dasawarsa yang lalu, masalah pokoknya tertumpu pada kegagalan penciptaan lapangan kerja
yang baru pada tingkat yang sebanding dengan laju pertumbuhan output industri. Seiring dengan
berubahnya lingkungan makro ekonomi mayoritas negara-negara berkembang, angka pengangguran
yang meningkat pesat terutama disebabkan oleh ”terbatasnya permintaan” tenaga kerja, yang
selanjutnya semakin diciutkan oleh faktor-faktor eksternal seperti memburuknya kondisi neraca
pembayaran, meningkatnya masalah utang luar negeri dan kebijakan lainnya, yang pada gilirannya
telah mengakibatkan kemerosotan pertumbuhan industri, tingkat upah, dan akhirnya, penyedian
lapangan kerja (Todaro,2000:307).
Perkembangan keadaan ketenagakerjaan di Indonesia selama tahun 2006 sampai dengan tahun
2010 yang ditampilkan pada Tabel 1.1 menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, walaupun di
beberapa daerah terjadi musibah bencana alam dan perubahan ekonomi global, yang berdampak
terhadap aktivitas ekonomi dan lapangan kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yaitu
rasio antara Angkatan kerja dibandingkan dengan seluruh penduduk usia kerja (umur15 tahun ke atas)
terus mengalami peningkatan yaitu dari 66,16 persen pada tahun 2006 menjadi 67,72 persen pada
tahun 2010. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka juga mengalami penurunan yang terus
menerus yaitu dari 10,28 persen tahun 2006 menjadi 7,14 persen pada tahun 2010. Menurunnya
jumlah pengangguran mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi telah dapat meningkatkan
penyerapan tenaga kerja.
Pasar tenaga kerja, seperti pasar lainnya dalam perekonomian dikendalikan oleh kekuatan
penawaran dan permintaan, namun pasar tenaga kerja berbeda dari sebagian besar pasar lainnya
karena permintaan tenaga kerja merupakan tenaga kerja turunan (derived demand) dimana permintaan
akan tenaga kerja sangat tergantung dari permintaan akan output yang dihasilkannya
(Borjas,2010:88; Mankiw,2006:487). Dalam suatu proses produksi untuk menghasilkan barang dan
jasa, tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi
tersebut. Dengan menelaah hubungan antara produksi barang-barang dan permintaan tenaga kerja,
akan dapat diketahui faktor yang menentukan upah keseimbangan.
Volume 8, 2012 197

Tabel 1
KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI INDONESIA
TAHUN 2006 SAMPAI DENGAN 2010

No Jenis Kegiatan Tahun (Jiwa)


2006 2007 2008 2009 2010
1 Penduduk Berumur
>15 Tahun
2 Angkatan Kerja
Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja (%)
Bekerja
Pengangguran
Terbuka
Tingkat
Pengangguran
Terbuka (%)
3 Bukan Angkatan
Kerja
Sekolah
Mengurus Rumah
Tangga
Lainnya

Sumber : Badan Pusat Statistik Tahun 2010a

Kebijakan upah minimum merupakan sistem pengupahan yang telah banyak diterapkan di
beberapa negara, yang pada dasarnya bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, upah minimum merupakan
alat proteksi bagi pekerja untuk mempertahankan agar nilai upah yang diterima tidak menurun dalam
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kedua, sebagai alat proteksi bagi perusahaan untuk
mempertahankan produktivitas pekerja (Simanjuntak, 1992 dalam Gianie, 2009:1). Di Indonesia,
pemerintah mengatur pengupahan melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tanggal
29 Mei 1989 tentang Upah Minimum. Upah minimum yang ditetapkan tersebut berdasarkan pada
Kebutuhan Fisik Hidup Layak berupa kebutuhan akan pangan sebesar . Dalam Pasal 1 Ayat 1 dari
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 1/1999, upah minimum didefinisikan sebagai ” Upah bulanan
terendah yang meliputi gaji pokok dan tunjangan tetap…”.
Perkembangan tingkat upah minimum rata-rata nasional pada Tabel 1.2 menunjukkan dari
tahun 2005 sampai tahun 2008 upah minimum mengalami kenaikan yang terus menerus dengan
kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2007 yang besarnya mencapai 18,55 persen. Krisis global pada
tahun 2008 hingga tahun 2009 mengakibatkan perekonomian lesu sehingga perusahaan tidak berani
menaikkan upah terlalu tinggi. Baru pada tahun 2010, upah minimum menunjukkan kenaikan paling
tinggi dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya yang berkisar antara 9 persen hingga 18 persen,
yaitu menjadi sebesar 26,99 persen.
198 Rini Sulistiawati Eksos

Tabel 2
PERKEMBANGAN UPAH MINIMUM RATA- RATA NASIONAL
TAHUN 2004 SAMPAI DENGAN 2010

Tahun Upah Minimum Rata-Rata Nasional (Rupiah) Pertumbuhan (%)


2005 506.952 9,99
2006 608.828 11,95
2007 683.451 18,55
2008 756.612 12,97
2009 841.316 10,99
2010 1.068.399 26,99

Sumber: Depnakertrans, 2010. Direktorat Pengupahan, Jamsos & Kesejahteraan

Studi Waisgrais (2003) menemukan bahwa kebijakan upah minimum menghasilkan efek
positif dalam hal mengurangi kesenjangan upah yang terjadi pasar tenaga kerja. Studi Askenazy
(2003) juga menunjukkan bahwa upah minimum memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan
ekonomi melalui akumulasi modal manusia. Implikasi upah minimum terhadap kesejahteraan akan
terwujud dalam perekonomian yang kompetitif.
Fakta menunjukkan bahwa nilai IPM Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan nilai
IPM negara-negara ASEAN lainnya kecuali Laos, Kamboja, dan Myanmar. Tabel 2 memperlihatkan
IPM Indonesia terus meningkat, namun peningkatan ini ternyata masih jauh dari tujuan
menyejahterakan masyarakat. Capaian prestasi pembangunan manusia Indonesia sudah tertinggal jauh
dibanding negara-negara tetangga, yaitu di bawah Singapura, Brunei, dan Malaysia yang sudah masuk
pada kategori High Human Developtment, sementara Indonesia masih pada kategori Medium Human
developtment. Kondisi ini secara langsung juga menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat
di Indonesia masih relatif rendah.

Tabel 3
PERINGKAT PEMBANGUNAN MANUSIA NEGARA ASEAN
TAHUN 2007

Indeks Indeks
No Negara Peringkat HDI Kategori
Harapan Hidup Pendidikan
1 Singapura 25 92.2 0.907 0.908 High Index
2 Brunai 30 89.4 0.862 0.877 High Index
3 Malaysia 63 81.1 0.811 0.839 High Index
4 Thailand 78 78.1 0.743 0.855 Medium Index
5 Filipina 90 77.1 0.767 0.888 Medium Index
6 Vietnam 105 73.3 0.812 0.815 Medium Index
7 Indonesia 107 72.8 0.745 0.830 Medium Index
8 Laos 130 60.1 0.637 0.663 Medium Index
9 Kamboja 131 59.8 0.550 0.691 Medium Index
10 Myanmar 132 58.3 0.596 0.764 Medium Index

Sumber: UNDP, 2008 dalam Kuncoro, 2010:149

Tercapainya kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan akhir pembangunan ekonomi,


memerlukan terciptanya kondisi-kondisi dasar yaitu : 1) pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan; 2)
penciptaan sektor ekonomi yang kokoh; dan 3) pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan
Volume 8, 2012 199

(Bappenas, 2010). Kesejahteraan masyarakat diharapkan akan terwujud apabila pertumbuhan ekonomi
yang terus meningkat akan menciptakan lapangan kerja sehinggga dapat menyerap tenaga kerja lebih
banyak pada tingkat upah yang layak. Fakta yang ditemui adalah IPM secara nasional maupun
provinsi masih rendah, yaitu masih pada kategori Medium Human developtment. Relatif rendahnya
capaian IPM tersebut berarti telah terjadi masalah dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi.
Kondisi ini selanjutnya menimbulkan minat dan ketertarikan untuk melakukan studi mengenai
“Pengaruh Upah Minimum Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Serta Kesejahteraan Masyarakat di
Provinsi di Indonesia”

II. RERANGKA TEORI


Pasar tenaga kerja, sama halnya dengan pasar-pasar lainnya dalam perekonomian diatur oleh
kekuatan-kekuatan permintaan dan penawaran Ketidak seimbangan antara permintaan dan penawaran
tenaga kerja akan menentukan tingkat upah (Mankiw,2003: 4). Menurut Ricardo ( Deliarnov, 2009:53)
nilai tukar suatu barang ditentukan oleh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut,
yaitu biaya bahan mentah dan upah buruh yang besarnya hanya untuk bertahan hidup (subsisten) bagi
buruh yang bersangkutan. Upah sebesar ini disebut sebagai upah alami (natural wage). Besarnya
tingkat upah alami ini ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan setempat. Tingkat upah alami naik
proporsional dengan standar hidup masyarakat. Sama halnya dengan harga-harga lainnya, harga
tenaga kerja (upah) ditentukan oleh permintaan dan penawaran, maka dalam kondisi ekuilibrium ,
secara teoritis para pekerja akan menerima upah yang sama besarnya dengan nilai kontribusi mereka
dalam produksi barang dan jasa (Mankiw, 2003:11).

DL
Tingkat SL
Upah F G

W2

we

w1
SL DL

Le
Tenaga Kerja
Gambar 1. Penentuan Tingkat Penyerapan Tenaga Kerja Dan Tingkat Upah:
Pendekatan Pasar Bebas
Sumber: Todaro (2000 : 326)

Gambar 1, titik we melambangkan tingkat upah ekuilibrium (equilibrium wage rate), pada
tingkat upah yang lebih tinggi seperti pada w2 , penawaran tenaga kerja melebihi permintaan sehingga
persaingan di antara individu dalam rangka memperebutkan pekerjaan akan mendorong turunnya
tingkat upah mendekati atau tepat ke titik ekuilibriumnya, yakni w e. Sebaliknya pada upah yang lebih
rendah seperti w1, jumlah total tenaga kerja yang akan diminta oleh produsen akan melebihi kuantitas
penawaran yang ada sehingga terjadi persaingan diantara para pengusaha dalam memperebutkan
tenaga kerja dan mendorong kenaikan tingkat upah mendekati atau tepat ke titik ekulibrium, We.
Kelemahan dari model Pasar Bebas Kompetitif Tradisional adalah kurang memberikan petunjuk yang
berarti mengenai kenyataan determinasi upah dan lapangan kerja khususnya di negara berkembang.
Mekanisme penyesuaian otomatis dalam pasar tidak akan mampu mendorong tingkat upah riil sampai
pada tingkat we yang merupakan tingkat upah ekuilibrium.
200 Rini Sulistiawati Eksos

Menurut Todaro (2000;327), tingkat upah dalam bentuk sejumlah uang dalam kenyataannya
tidak pernah fleksibel dan cenderung terus-menerus turun karena lebih sering dan lebih banyak
dipengaruhi oleh berbagai macam kekuatan institusional seperti tekanan serikat dagang atau serikat
buruh. Kemerosotan ekonomi selama dekade 1980-an yang melanda negara – negara Afrika-Amerika
Latin mengakibatkan merosotnya upah dan gaji riil di segenap instansi pemerintah, namun ternyata
masih banyak calon pekerja yang memburu posisi kerja di sektor formal meskipun mereka tahu
gajinya semakin lama semakin tidak memadai untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari.
Tingkat pengangguran (terutama pengangguran terselubung) sangat parah dan bertambah buruk
Pembayaran kepada tenaga kerja dapat dibedakan dalam 2 pengertian yaitu gaji dan upah.
Gaji dalam pengertian sehari-hari diartikan sebagai pembayaran kepada pekerja tetap dan tenaga kerja
profesional seperti pegawai pemerintah, dosen, guru, manajer dan akuntan. Pembayaran tersebut
biasanya sebulan sekali. Upah dimaksudkan sebagai pembayaran kepada pekerja kasar yang
pekerjaannya selalu berpindah-pindah, seperti misalnya pekerja pertanian, tukang kayu, buruh kasar
dan lain sebagainya. Teori ekonomi mengartikan upah sebagai pembayaran keatas jasa-jasa fisik
maupun mental yang disediakan oleh tenaga kerja kepada pengusaha, dengan demikian dalam teori
ekonomi tidak dibedakan antara pembayaran kepada pegawai tetap dan pembayaran kepada pegawai
tidak tetap. (Sukirno, 2008:350-351)
Pengertian upah menurut Undang-Undang Tenaga Kerja No.13 Tahun 2000, Bab I, pasal 1,
Ayat 30):
"Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai
imbalan dari pengusaha / pemberi kerja kepada pekerja / buruh yang ditetapkan dan di bayarkan
menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan termasuk
tunjangan bagi pekerja / buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah
atau akan dilakukan."
Pemberian upah kepada tenaga kerja dalam suatu kegiatan produksi pada dasarnya merupakan
imbalan/balas jasa dari para produsen kepada tenaga kerja atas prestasinya yang telah disumbangkan
dalam kegiatan produksi. Upah yang diberikan tergantung pada:
1. Biaya keperluan hidup minimum pekerja dan keluarganya;
2. Peraturan undang-undang yang mengikat tentang upah minimum pekerja;
3. Produktivitas marginal tenaga kerja;
4. Tekanan yang dapat diberikan oleh serikat buruh dan serikat pengusaha; dan
5. Perbedaan jenis pekerjaan.
Upah yang diberikan oleh para pengusaha secara teoritis dianggap sebagai harga dari tenaga
yang dikorbankan pekerja untuk kepentingan produksi, sehubungan dengan hal itu maka upah yang
diterima pekerja dapat dibedakan dua macam yaitu:
1. Upah Nominal, yaitu sejumlah upah yang dinyatakan dalam bentuk uang yang diterima secara rutin
oleh para pekerja;
2. Upah Riil adalah kemampuan upah nominal yang diterima oleh para pekerja jika ditukarkan
dengan barang dan jasa, yang diukur berdasarkan banyaknya barang dan jasa yang bisa didapatkan
dari pertukaran tersebut (Sukirno, 2008:351).
Kebijakan upah di Indonesia merujuk pada standar kelayakan hidup bagi para pekerja. Undang
Undang Repubik Indonesia No. 13/2003 tentang Tenaga Kerja menetapkan bahwa upah minimum
harus didasarkan pada standar kebutuhan hidup layak (KHL). Pasal 1 Ayat 1 dari Peraturan Menteri
Tenaga Kerja No. 1/1999, mendefinisikan upah minimum sebagai ”Upah bulanan terendah yang
meliputi gaji pokok dan tunjangan tetap…”. Sebagai imbalan dari pengusaha kepada pekerja, upah
yang diberikan dalam bentuk tunai harus ditetapkan atas dasar suatu persetujuan atau peraturan
perundang-undangan serta dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan
pekerja, termasuk tunjangan, baik untuk pekerja itu sendiri maupun keluarganya. Upah minimum
adalah upah pokok dan tunjangan yang ditetapkan secara regional, sektoral maupun subsektoral.
Peraturan Menteri tersebut lebih jauh juga menetapkan upah minimum sektoral pada tingkat provinsi
harus lebih tinggi sedikitnya lima persen dari standar upah minimum yang ditetapkan untuk tingkat
provinsi. Demikian juga, upah minimum sektoral di tingkat kabupaten/kota harus lebih tinggi lima
persen dari standar upah minimum kabupaten/kota tersebut.
Volume 8, 2012 201

Melalui suatu kebijakan pengupahan, pemerintah Indonesia berusaha untuk menetapkan upah
minimum yang sesuai dengan standar kelayakan hidup. Upah minimum yang ditetapkan pada masa
lalu didasarkan pada Kebutuhan Fisik Minimum, dan selanjutnya didasarkan pada Kebutuhan Hidup
Minimum (KHM). KHM ini adalah 20 persen lebih tinggi dalam hitungan rupiah jika dibandingkan
dengan Kebutuhan Fisik Minimum. Peraturan perundangan terbaru, UU No. 13/2003, menyatakan
bahwa upah minimum harus didasarkan pada Kebutuhan Hidup Layak, akan tetapi perundangan ini
belum sepenuhnya diterapkan, sehingga penetapan upah minimum tetap didasarkan pada KHM. Pada
masa sekarang, kelayakan suatu standar upah minimum didasarkan pada kebutuhan para pekerja sesuai
dengan kriteria di bawah ini:
1. Kebutuhan hidup minimum (KHM);
2. Index Harga Konsumen (IHK);
3. Kemampuan perusahaan, pertumbuhannya dan kelangsungannya;
4. Standar upah minimum di daerah sekitar;
5. Kondisi pasar kerja; dan
6. Pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita.
Menurut Iksan (2010), masalah dalam penetapan upah minimum regional adalah pada metode
perhitungannya. Ada perbedaan nyata dari produktivitas antar sektor. Sektor-sektor yang
menggunakan buruh terdidik umumnya telah membayar upah jauh di atas upah minimum karena hal
ini mencerminkan produktivitas, tetapi banyak sektor lain yang produktivitasnya ada di bawah upah
minimum sehingga kebijakan upah minimum akan memukul sektor ini yang umumnya sektor padat
karya
Sistem pengupahan merupakan kerangka bagaimana upah diatur dan ditetapkan agar dapat
meningkatkan kesejahteraan pekerja. Menurut Sumarsono (2009:151), pengupahan di Indonesia pada
umumnya didasarkan kepada tiga fungsi upah, yaitu : a) menjamin kehidupan yang layak bagi pekerja
dan keluarganya; b) mencerminkan imbalan atas hasil kerja seseorang; c) menyediakan insentip untuk
mendorong peningkatan produktivitas pekerja. Selanjutnya Sumarsono (2009:201) menyatakan
beberapa ekonom melihat bahwa penetapan upah minimum akan menghambat penciptaan lapangan
kerja. Kelompok ekonom lainnya dengan bukti empirik menunjukkan bahwa penerapan upah
minimum tidak selalu identik dengan pengurangan kesempatan kerja, bahkan akan mampu
mendorong proses pemulihan ekonomi.
Adam Smith (1776) dalam Pressman (2002:28-30), melalui The Wealth of Nations
menganalisis apa yang menyebabkan standar hidup meningkat dan menunjukkan bagaimana
kepentingan diri dan persaingan berperan dalam pertumbuhan ekonomi ( dan pada akhirnya
menciptakan kesejahteraan). Pertumbuhan ekonomi bisa berjalan karena adanya proses mekanisasi dan
pembagian kerja, selanjutnya pembagian kerja akan membuat produktivitas pekerja meningkat. Visi
dari The Wealth of Nations adalah : ”--- dari kepentingan pribadi dan kepentingan nasional dalam
harmoni yang sempurna akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran yang terus
menerus”.
Menurut Bentham ( 1948) dalam Pressman (2002:37-39), pemerintah memiliki tanggung dan
menjadi mekanisme untuk membantu meningkatkan kesejahteraan warganya antara melalui berbagai
kebijakan di bidang ekonomi dan sosial. Marshall (1923) dalam Pressman (2002: 92-97) juga melihat
ekonomi dari pertimbangan moral untuk membantu yang miskin, selain pertimbangan pasar, karena itu
ia secara khusus memperhatikan masalah distribusi pendapatan dan kemiskinan melalui pasar tenaga
kerja. Menururt Marshall, persediaan tenaga kerja yang tidak terlatih ditentukan oleh prinsip populasi
Malthusian. Sebagai reaksi terhadap upah yang tinggi, populasi akan meningkat dan persediaan tenaga
kerja juga akan meningkat
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, maka model konseptual dalam penelitian ini adalah:
202 Rini Sulistiawati Eksos

Upah Penyerapan
Minimum Tenaga Kerja (Y1)

Kesejateraan
masyarakat (Y2)
Gambar 2. Model Konseptual

III. METODE PENELITIAN


Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian eksplanatori, yaitu suatu penelitian yang
menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi penelitian
ini adalah seluruh provinsi yang ada di Indonesia yang berjumlah 33 provinsi. Penelitian ini dilakukan
secara sensus dengan data berbentuk times series dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010, dan data
cross-section yang terdiri atas 33 provinsi, sehingga merupakan data panel atau pooled the data yaitu
gabungan antara data times series (tahun 2006 s.d 2010 = 5 tahun) dengan data cross-section (33
provinsi).
Variabel di dalam penelitian ini terdiri dari variabel eksogen dan variabel endogen. Variabel
eksogen merupakan variabel independen, sedangkan variabel endogen terdiri dari variabel antara
(intervening variable) dan variabel dependen. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak
tiga variabel yaitu :
1. Variabel upah minimum (X) diklasifikasikan sebagai variabel eksogen, dan berperan sebagai
variabel independen yaitu variabel yang keragamannya mempengaruhi variabel lain di dalam
model;
2. Variabel penyerapan tenaga kerja (Y1), diklasifikasikan sebagai variabel endogen, dan berperan
sebagai variabel antara (intervening variable) yaitu variabel yang keragamannya dipengaruhi dan
mempengaruhi variabel lain di dalam model; dan
3. Variabel Kesejahteraan Masyarakat (Y2), diklasifikasikan sebagai variabel endogen dan berperan
sebagai variabel dependen yang dipengaruhi oleh variabel lain di dalam model.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Data yang digunakan
merupakan data panel yaitu gabungan antara data time series dan data cross section. Jenis data adalah
data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan instansi lain yang terkait dengan
penelitian ini. Definisi operasional atas variabel penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Upah
Minimum (X1) adalah Upah Minimum Provinsi (UMP) yang ditetapkan oleh masing-masing
pemerintah daerah, diukur dalam satuan rupiah; 2. Penyerapan Tenaga Kerja (Y 1) adalah jumlah
tenaga kerja yang bekerja pada setiap sektor dan di setiap provinsi di Indonesia selama periode
penelitian, diukur dalam jumlah orang; 3. Kesejahteraan Masyarakat (Y 2) diukur dengan menggunakan
indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang ditetapkan oleh Bank Dunia. IPM mengukur
pencapaian rata-rata sebuah negara dalam 3 dimensi dasar pembangunan manusia (BPS, 2011 f ),
yaitu:
 Hidup yang sehat dan panjang umur, diukur dengan harapan hidup saat kelahiran;
 Pengetahuan yang diukur dengan gabungan indikator angka melek huruf dan rata-rata lama
sekolah; dan
 Standar kehidupan yang layak, diukur dengan indikator kemampuan daya beli (Purchasing
Power Parity).
Analisis data diawali dengan analisis deskriptif, yaitu statistik yang dipergunakan untuk
menganalisis data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan
yang berlaku umum atau generalisasi (Sugiyono, 2008:29). Pengolahan data menggunakan SPSS versi
dan model path analysis digunakan untuk menganalisis pola hubungan antar variabel dengan
Volume 8, 2012 203

tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung seperangkat variabel bebas
(eksogen) terhadap variabel terikat (endogen) (Riduwan & Engkos, 2008:2). Manfaat model path
analysis adalah untuk:
1. Penjelasan (explanation) terhadap fenomena yang dipelajari atau permasalahan yang diteliti;
2. Prediksi nilai variabel terikat (Y) berdasarkan nilai variabel bebas X, dan prediksi dengan path
analysis ini bersifat kualitatif; dan
3. Faktor determinan, yaitu penentuan variabel bebas (X) mana yang berpengaruh dominan terhadap
variabel terikat (Y), juga dapat digunakan untuk menelusuri mekanisme (jalur-jalur) pengaruh
variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
Pengujian model dan perhitungan terhadap koefisien jalur terlebih dahulu dilakukan dengan
merumuskan hipotesis, yaitu
1. Hipotesis 1: Upah Minimum berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di
Indonesia; dan
2. Hipotesis 2: Penyerapan Tenaga Kerja berpengaruh signifikan terhadap Kesejahteraan masyarakat
di Indonesia.
Hubungan kausal empiris antara Upah Minimum terhadap (IPM), dan Penyerapan Tenaga Kerja
terhadap Kesejahteraan Masyarakat (IPM), dapat dibuat melalui persamaan struktural sebagai berikut:
Struktur 1: Penyerapan Tenaga Kerja = ρy1x1 UMR + ρy1ε1it
Struktur 2: IPM = ρy2y1 Penyerapan Tenaga Kerja + ρy2ε1it

IV. PENYAJIAN DATA

Tabel 4
Hasil Pengujian Koefisien Jalur
Koefi-
Variabel
t Sig Hasil Pengujian
sien
Upah (X2) terhadap Penyerapan Tenaga -0,39 - 0,000 Signifikan
kerja (Y2) 6,62
Penyerapan Tenaga kerja (Y2) terhadap 0,08 0,97 0,332 Tidak
Kesejahteraan Masyarakat (Y3) Signifikan
Sumber: Hasil pengolahan data menggunakan program SPSS versi 17.0

V. DISKUSI
Pada pengujian analisis jalur, terlebih dahulu diperlukan pengujian tentang data yang akan
dimasukkan ke dalam suatu model. Data yang digunakan pada studi ini adalah data sekunder berupa
data panel, oleh karena itu tidak diperlukan uji data. Berdasarkan hasil pengujian koeffisien jalur
sesuai persamaan struktur 1 dan struktur 2 diperoleh hasil bahwa variabel Upah Minimum (X 1)
berpengaruh signifikan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja, sedangkan variabel Penyerapan Tenaga
kerja (Y1) mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap variabel Kesejahteraan Masyarakat
(Y2). Koefisisen jalur yang merupakan hipotesis dalam penelitian ini disajikan dalam persamaan
sebagai berikut:
Model 1 : Y1 = - 0,39 X1
Model 2 : Y2 = 0,08 Y2
Koefisien jalur dari masing-masing hubungan antar variabel secara rinci yang digunakan dalam studi
ini ditampilkan pada Tabel 4. di atas.

Pengaruh Upah Minimum Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja


Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis jalur antara upah
terhadap penyerapan tenaga kerja provinsi di Indonesia yang ditampikan pada Tabel 4 diperoleh nilai
koefisien jalur yang bertanda negatif sebesar - 0,39 dengan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,000
204 Rini Sulistiawati Eksos

yang lebih kecil dari taraf signifikansi (α) yang ditentukan sebesar 0,05. Berdasarkan hasil pengujian
ini berarti hipotesis pertama yang menyatakan bahwa upah berpengaruh signifikan terhadap
penyerapan tenaga kerja di provinsi-provinsi di Indonesia dapat diterima, karena secara statistik
terbukti. Koefisien jalur yang bertanda negatif bermakna bahwa pengaruh upah terhadap penyerapan
tenaga kerja adalah tidak searah, artinya apabila terjadi kenaikan upah, maka berpotensi untuk
menurunkan penyerapan tenaga kerja, terutama tenaga kerja yang produktivitasnya rendah. Hal ini
disebabkan oleh:
1. Secara teoritis, perusahaan hanya akan membayar upah tenaga kerja sesuai dengan
produktivitasnya, artinya tenaga kerja yang produktivitasnya rendah akan menerima upah yang
rendah dan sebaliknya. Pada kenyataannya, upah minimum yang ditetapkan lebih banyak
ditentukan oleh aspek kenaikan tingkat harga dibandingkan dengan kenaikan produktivitas.
Produktivitas belum menjadi determinan utama dalam penentuan upah (Bappenas (2010:61).
Secara nasional sektor primer adalah sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja tetapi
mempunyai mempunyai produktivitas tenaga kerja yang paling rendah yaitu sebesar 0,54,
sementara sektor sekunder merupakan sektor yang paling sedikit menyerapa tenaga kerja tetapi
mempunyai produktivitas pekerja yang paling tinggi yaitu sebesar 1.82. Kondisi yang sama juga
terjadi pada lingkup provinsi di mana produktivitas tenaga kerja di sektor primer adalah lebih
rendah bila dibandingkan dengan produktivitas tenaga kerja di sektor sekunder.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas. Rasio antara UMP
dan upah yang diterima pekerja berdasarkan pendidikan menunjukkan bahwa di sebagian besar
provinsi, pekerja yang Belum Pernah Sekolah, Belum Tamat SD, dan SD, menerima upah yang
lebih rendah dari upah minimum. Hal ini dapat dilihat dari rasio antara UMP dengan rata-rata upah
menurut pendidikan yang nilainya lebih besar dari satu (>1). Sementara itu, pekerja yang
berpendidikan SLP ke atas menerima upah yang lebih tinggi dari UMP, yang dapat dilihat dari
rasio antara UMP dengan upah menurut pendidikan yang nilainya lebih kecil dari satu (<1).
Tenaga kerja di sektor primer pada umumnya mermpunyai pendidikan yang rendah dengan
produktivitas yang rendah pula, oleh karena itu kenaikan upah minimum akan berdampak pada
berkurangnya penggunaan tenaga kerja di sektor ini.
2. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tujuan penetapan
upah minimum adalah untuk meningkatkan taraf hidup pekerja sesuai dengan kebutuhannya
hidup minimalnya, oleh karena itu penetapan upah minimum didasarkan atas Kebutuhan Hidup
Layak (KHL). Pada kenyataannya upah yang diterima oleh tenaga kerja di sebagian besar provinsi
adalah lebih rendah bila dibandingkan dengan KHL. Kenaikan harga akan berakibat pada
kenaikan KHL dan selanjutnya akan meningkatkan upah minimum. Dilihat dari sisi perusahaan,
upah adalah biaya, yang selanjutnya akan dibebankan kepada konsumen melalui harga. UMP
biasanya digunakan sebagai acuan untuk menetapkan upah pekerja di sektor formal, oleh karena
itu kenaikan UMP yang lebih tinggi daripada produktivitas pekerja akan merugikan perusahaan
karena dapat menaikkan biaya produksi. Biaya produksi yang tinggi berarti harga output menjadi
tidak bersaing, dan pada gilirannya perusahaan akan mengurangi outputnya. Penurunan output
selanjutnya akan menurunkan penggunaan faktor produksi tenaga kerja, khususnya tenaga kerja
yang berpendidikan rendah.
Menurut Bappenas (2010:38), dalam 5 (lima) tahun terakhir jumlah pekerja informal
mencapai sekitar 70 persen, sementara pekerja formal hanya sekitar 30 persen saja. Upah di sektor
informal tidak diregulasi dan sektor ini mempunyai kualitas angkatan kerja yang masih sangat
rendah, sehingga mempunyai kesempatan yang terbatas untuk memperoleh pekerjaan yang baik.
Di sisi lain, kegiatan ekonomi formal ditandai dengan upah rata-rata yang lebih tinggi dari UMP
serta kondisi kerja yang relatif baik, namun masih belum dapat menyerap tenaga kerja dalam
jumlah yang besar.
Rendahnya kualitas tenaga kerja di Indonesia selain karena faktor pendidikan formal, juga
disebabkan oleh ketersediaan lembaga pelatihan untuk meningkatkan kualitas pekerja masih
belum memadai, diikuti dengan rendahnya kompetensi tenaga kerja. Di sisi lain, terdapat
mismatch antara bidang kejuruan, mutu, dan kuantitas yang dibutuhkan pasar kerja dengan yang
dihasilkan oleh lembaga pelatihan kerja. Ketimpangan ini terjadi karena sistem pelatihan kerja
Volume 8, 2012 205

belum berorientasi pada demand driven, diikuti lemahnya relevansi dan kordinasi di antara
lembaga /institusi terkait yang bertanggung jawab dalam penyeleng- garaan pelatihan kerja
(Bappenas, 2010:59).
Temuan studi ini didukung oleh teori Manning (1980) dalam Kuncoro (2010:126) mencatat
terdapat banyak praktik-praktik di pasar tenaga kerja di berbagai segmen industri manufaktur
Indonesia. Segmentasi ini dapat terjadi dalam perekonomian yang mengalami perubahan yang cepat
akibat masuknya investasi asing. Adanya segmentasi pasar tenaga kerja menimbulkan implikasi
penting bagi kebijakan ekonomi yang menangani masalah upah dan dan alokasi tenaga kerja antara
berbagai segmen ekonomi, antara daerah perdesaan dan perkotaan. Manning mengidentifikasi
setidaknya terdapat empat karakter utama segmentasi pasar tenaga kerja, yaitu : a) terdapat perbedaan
upah yang besar dan terus-menerus antara berbagai segmen pasar; b) terkonsentrasinya pekerja dengan
karateristik yang berbeda (terutama menurut pengalaman, pendidikan, dan jenis kelamin) di segmen
yang berbeda; c) kurangnya mobilitas pekerja antar segmen, d) produktivitas tenaga kerja lebih tinggi
di segmen pasar dengan upah tinggi.
Teori Arthur Lewis dalam Jhingan (2003:156-158) mendukung temuan studi ini. Asumsi teori
Lewis yaitu perekonomian suatu negara terbagi menjadi dua sektor: (1) sektor tradisional yaitu sektor
pertanian subsisten yang surplus tenaga kerja, dan tingkat upah yang rendah,dan (2) sektor industri
perkotaan modern yang tingkat produktivitasnya tinggi dengan upah yang lebih tinggi pula, dan
menjadi penampung transfer tenaga kerja dari sektor tradisional. Perbedaan tingkat upah tenaga kerja
pada kedua sektor ini akan menarik banyak tenaga kerja untuk berpindah (migrasi) dari sektor
pertanian ke sektor industri. Produktivitas marjinal tenaga kerja di sektor industri lebih tinggi dari
upah yang mereka terima, sehingga mengakibatkan terbentuknya surplus sektor industri. Surplus
sektor industri dari selisih upah ini diinvestasikan kembali seluruhnya dan tingkat upah di sektor
industri diasumsikan konstan serta jumlahnya ditetapkan melebihi tingkat rata-rata upah di sektor
pertanian. Proses transfer tenaga kerja tersebut selanjutnya ditentukan oleh tingkat investasi dan
akumulasi modal secara keseluruhan di sektor industri.
Sinaga (2008:29) juga mendukung temuan studi ini bahwa kebijakan pengupahan tidak
hanya bertujuan untuk melindungi tenaga kerja, tetapi juga untuk menjamin kelangsungan usaha dan
mendorong pertumbuhan lapangan kerja produktif. Pemerintah menetapkan upah minimum sebagai
jaring pengaman agar upah pekerja/buruh tidak merosot sampai tingkat yang membahayakan
kesehatan dan gizi pekerja/buruh. Disisi lain pengusaha harus menyusun struktur dan skala upah
sebagai dasar penetapan upah di perusahaan. Pada praktiknya, upah minimum belum dapat berfungsi
sebagai jaring pengaman karena baru menjangkau sebagian kecil pekerja/buruh. Di sampaing itu upah
minimum juga sering digunakan sebagai upah standar sebagai dasar penetapan upah di perusahaan.
Teori yang menolak studi ini adalah teori klasik teori (Sumarsono, 2009:150;
Deliarnov,1995:116) menyatakan bahwa produsen akan menggunakan faktor produksi tenaga kerja
sedemikian rupa sehingga tiap faktor produksi yang digunakan akan menerima imbalan sebesar
pertambahan marjinal dari faktor produksi tersebut. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh
Mankiw (2006:496); Borjas (2010:93)
Hasil studi ini juga sejalan dengan studi Waisgrais (2003) bahwa penentuan upah berdasarkan
tingkat pendidikan menunjukkan adanya ketimpangan antara pekerja terampil dan tidak terampil.
Kebijakan upah minimum menghasilkan efek positif dalam mengurangi kesenjangan upah yang terjadi
pasar tenaga kerja. Sejalan dengan studi Lembaga Penelitian SMERU (2001) yang menemukan masih
adanya diskiriminasi upah baik dalam hal diskriminasi gender, pendidikan, usia, dan pengalaman
kerja. Pendidikan merupakan faktor penentu yang penting dalam penetapan upah. Mereka yang hanya
berpendidikan tidak lebih tinggi dari sekolah lanjutan pertama rata-rata dibayar sekitar upah minimum.
Temuan studi ini didukung oleh Setiaji & Sudarsono (2004) dalam analisisnya tentang Pengaruh
Diferensiasi Upah Antar Propinsi terhadap Kesempatan Kerja menemukan bahwa diferensiasi upah
sangat bermanfaat untuk mengakomodasi berbagai kemampuan membayar industri. Penentuan Upah
Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) yang terdiferensiasi akan berakibat positif terhadap kesempatan
kerja. Hal ini berarti mewadahi pembeli marjinal yang memiliki daya beli relatif rendah. Kesenjangan
antara upah minimun dan kebutuhan hidup layak (KHL) selain disebabkan oleh adanya diskriminasi
seperti yang ditemukan pada studi SMERU (2001) dan Bambang & Sudarsono
206 Rini Sulistiawati Eksos

(2004), juga disebabkan oleh frekwensi turn over yang terlalu sering. Studi Askenazy, Philippe,
(2003) menemukan bahwa bila buruh terampil dan tidak terampil tidak terlalu sering diganti dalam
sektor manufaktur, maka upah minimum dapat meningkatkan pertumbuhan jika perekonomiannya
terbuka. Implikasi dari upah minimum terhadap kesejahteraan akan terwujud dalam perekonomian
kompetitif.
Studi yang menolak temuan ini berasal dari studi Gindling, TH dan Katherine Terrell (2004)
yang menemukan bahwa: (1) upah minimum legal memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap
upah pekerja di covered sector (sektor formal), namun tidak berpengaruh terhadap upah pekerja di
uncovered sector (sektor informal). Kenaikan 10% pada upah minimum legal akan menaikkan upah
rata-rata di covered sector sekitar 1%; (2) upah minimum yang legal mempunyai efek yang negatif
signifikan dimana kenaikan upah minimum menyebabkan berkurangnya kesempatan kerja di covered
sector. Diperkirakan bahwa kenaikan 10 persen dalam upah minimum akan mengurangi kesempatan
kerja sebesar 1,09 persen ; (3) upah minimum memiliki efek negatif terhadap dimensi lain dari the
covered sector yaitu jam kerja, dimana kenaikan 10 persen dalam upah minimum riil menyebabkan
penurunan 0,62 persen pada rata-rata jumlah jam kerja, (4) dampak upah minimum terhadap
pekerjaan, upah dan jam kerja pekerja pada berbagai bidang keahlian menunjukkan bahwa upah
minimum memiliki dampak terbesar pada pekerja dengan distribusi pendapatan terbawah (desil ke 2
hingga ke 5) dari distribusi pekerja menurut keahlian.
Temuan pada studi ini sejalan dengan model dua economy (Iksan, 2010). yang
mengasumsikan perekonomian (pasar tenaga kerja) tersegmentasi menjadi sektor formal dan sektor
informal, penetapan upah minimum akan mengurangi permintaan tenaga kerja di sektor formal, dan
kelebihan penawaran tenaga kerja akan diserap sektor informal yang tingkat upahnya tidak diatur oleh
regulasi. Sejalan dengan penelitian Gianie (2009:53) yaitu di sektor industri, upah minimum
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja yang berpendidikan rendah di
perkotaan, sedangkan di sektor perdagangan, upah minimum berpengaruh positif dan juga signifikan
terhadap penyerapan tenaga kerja yang berpendidikan rendah.
Sebaliknya temuan studi ini tidak mendukung studi Knight, John, Deng Quheng, & Li Shi
(2011) yang menemukan bahwa surplus tenaga kerja di pedesaan China ternyata tidak selalu mengalir
ke perkotaan, seperti pada model Lewis, walaupun sudah ada kenaikan upah bagi pekerja migran. Ada
kecenderungan bahwa tenaga kerja di pedesaan enggan untuk bermigrasi ke kota disebabkan karena:
(1) merasa terlalu tua; (2) perlu merawat tanggungan; (3) gagal memperoleh pekerjaan di kota. Selain
itu kendala kelembagaan membuat kesulitan bagi migran yang tinggal di daerah perkotaan dalam hal
pekerjaan yang baik dan aman, perumahan, dan akses ke layanan publik. Kondisi ini menghalangi atau
mencegah para pekerja migran membawa keluarga mereka, yang pada gilirannya membuat
banyak pekerja di desa enggan meninggalkan desa, setidaknya untuk waktu yang lama.

Pengaruh Penyerapan Tenaga Kerja Terhadap Kesejahteraan Masyarakat


Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis jalur antara penyerapan tenaga kerja
terhadap kesejahteraan masyarakat provinsi di Indonesia yang ditampilkan pada Tabel 4, diperoleh
nilai koefisien jalur 0,08 dengan nilai probabilitas signifikansi (Sig) sebesar 0,332 yang lebih besar
dari taraf signifikansi (α) yang ditentukan sebesar 0,05. Berdasarkan hasil pengujian ini berarti bahwa
hipotesis kedua yang diajukan dalam studi yaitu penyerapan tenaga kerja berpengaruh signifikan
terhadap kesejahteraan masyarakat provinsi di Indonesia, ditolak. Koefisien jalur yang bertanda positif
bermakna bahwa pengaruh penyerapan tenaga kerja terhadap kesejahteraan masyarakat berjalan
searah, artinya apabila penyerapan tenaga kerja meningkat, maka akan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Penyerapan tenaga kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat
disebabkan oleh:
1. Upah yang diterima tenaga kerja adalah lebih rendah dari kebutuhan hidup yang layak (KHL).
Secara nasional, upah minimum pada tahun 2006 hanya dapat memenuhi 85 persen KHL walaupun
pada tahun 2010 rata-rata upah minimum di Indonesia telah sama dengan KHL. Upah minimum
tahun 2006 yang ditetapkan oleh semua provinsi di Indonesia ternyata belum memenuhi KHL.
Tahun 2007 terdapat empat provinsi yang memberikan upah minimum yang nilainya sama dengan
Volume 8, 2012 207

KHL dan empat provinsi yang memberikan upah minimum lebih besar dari KHL. Empat provinsi
yang memberikan upah minimum yang sama nilainya dengan KHL terdiri dari provinsi Bengkulu,
Lampung, Bangka Belitung, dan Sulawesi Barat, sedangkan empat provinsi yang memberikan upah
diatas KHL yaitu Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Papua Barat, dan Papua. Perbandingan upah
minimum dan KHL pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 tidak menjadi lebih baik
dibandingkan kondisi tahun 2007 karena hanya terdapat 5 (lima) provinsi yang memberikan upah
minimum dengan nilai yang sama atau lebih besar dari KHL, sementara tahun 2009 hanya tiga
provinsi yang memberikan upah minimum lebih besar dari KHL.
2. Upah yang diterima tenaga kerja berada dibawah batas Pendapatan Tak Kena Pajak atau PTKP.
Sepanjang tahun 2006 sampai dengan tahun 2008, rata-rata PTKP per bulan adalah Rp 1.100.000,
sementara rata-rata upah minimum adalah sekitar Rp 600.000 hingga Rp 840.000. Tahun 2009 dan
2010, PTKP mengalami peningkatan menjadi sebesar Rp 1.320.000, sedangkan upah minimum
berkisar antara Rp 840.000 hingga Rp 1.000.000. Hal ini mengindikasikan bahwa upah yang
diterima pekerja belum dapat meningkatkan kesejahteraan.
Kesejahteraan masyarakat akan tercapai jika tenaga kerja memperoleh upah yang dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik kebutuhan yang bersifat ekonomi maupun kebutuhan yang
bersifat non ekonomi dan bukan hanya sekedar dapat memenuhi kebutuhan layak.
Temuan studi ini mendukung teori Bentham (Pressman, 2002:37-39), yang menyatakan bahwa
pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin the greatest happiness ( welfare) of the greatest
number of their citizens. Pemerintah menjadi mekanisme untuk membantu meningkatkan
kesejahteraan warganya antara lain melalui berbagai kebijakan di bidang ekonomi dan sosial.
Mendukung teori Otto van Bismarck (1850) dalam Husodo (2009:65) bahwa negara bertanggung
jawab untuk menjamin standar hidup minimum setiap warganegaranya, dan juga mendukung teori
Spicker (1995) dalam Suharto (2008:5) yang menyatakan bahwa model ideal pembangunan yang
difokuskan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah dengan memberi peran yang lebih
penting kepada negara dalam memberikan pelayanan sosial secara universal
dan komprehensif kepada warga negaranya.
Temuan studi ini tidak mendukung teori Marshall (Pressman, 2002:95), bahwa penetapan
upah minimum memungkinkan tenaga kerja meningkatkan nutrisinya sehingga dalam jangka panjang
dapat meningkatkan produktivitasnya. Peningkatan upah juga memungkinkan tenaga kerja untuk
menyekolahkan anaknya dan memberi nutrisi yang lebih baik. Kedua hal ini dalam jangka panjang
akan memberi dampak yang besar terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan. Menolak
Teori Klasik (Deliarnov 1995:116; Mankiw, 2006:496; dan Borjas, 2010:90) yang percaya bahwa
perekonomian yang didasarkan pada mekanisme pasar bebas mampu memanfaatkan semua
sumberdaya sepenuhnya, termasuk tenaga kerja (full employment). Sumberdaya yang menganggur
memunculkan tangan ajaib (invisible hands) yang akan melakukan penyesuaian dan membawa
perekonomian pada keseimbangan pemanfaatan sumber daya penuh. Menolak teori Francis Ysidro
Edgeworth (1877) dan Pareto (1906) dalam Pressman (2002:99-116) bahwa kesejahteraan ekonomi
akan meningkat jika seseorang menjadi lebih baik dengan syarat keadaan orang lain tidak menjadi
lebih buruk.
Hasil studi ini juga didukung oleh studi Waisgrais, Sebastián (2003) yang menemukan bahwa:
1) perbaikan dalam tingkat kegiatan ekonomi dan investasi akan mengurangi tingkat kesenjangan
upah; 2) penentuan upah berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan bahwa tingginya ketimpangan
upah disebabkan oleh semakin besar kesenjangan upah antara pekerja terampil dan tidak terampil; (3)
pentingnya peran kelembagaan untuk mengatasi dampak dari perubahan ekonomi di pasar tenaga
kerja, terutama pada upah, manfaat sosial dan institusional agar dapat memgurangi kesenjangan: (4)
tingkat stabilitas ekonomi yang memerlukan biaya sosial tinggi merupakan salah satu yang paling
signifikan yang menimbulkan ketimpangan upah. Rekomendasi kebijakan dari penelitian ini adalah
bahwa kebijakan ekonomi makro tidak hanya menghasilkan peningkatan tingkat output, penurunan
pengangguran dan produktivitas yang lebih tinggi, tetapi juga berkontribusi bagi stabilitas dari
distribusi upah, dan meningkatkan kejahteraan karyawan. pekerja belum dapat meningkatkan
kesejahteraannya. Sebaliknya temuan studi ini tidak mendukung studi Sasana (2009) bahwa
penyerapan tenaga kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.
208 Rini Sulistiawati Eksos

Beberapa upaya yang telah dan yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk
meningkatkan kesejaheraan masyarakat adalah melalui kebijakan penanggulangan kemiskinan yang
diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan
Kemiskinan. Strategi percepatan penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan:
1. Mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin;
2. Meningkatkan kemampuan dan pendapatan masyarakat miskin;
3. Mengembangkan dan menjamin keberlajutan Usaha Mikro dan Kecil; dan
4. Mensinergikan kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan.
Hal tersebut di atas disesuaikan dengan visi dan misi Kabinet Indonesia bersatu II yaitu
memprioritaskan:
1. Penurunan tingkat kemiskinan absolut dari 14,1% pada tahun 2009 menjadi 8-10% pada akhir
2014;
2. Perbaikan distribusi dan perawatan dan perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat; dan
3. Perluasan kesempatan ekonomi masyarakat.

V. SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Berdasarkan analisis hasil studi dan pembahasan tentang pengaruh upah terhadap, penyerapan
tenaga kerja serta kesejahteraan masyarakat provinsi di Indonesia, dapat ditarik simpulan sebagai
berikut:
1. Upah berpengaruh signifikan dan mempunyai hubungan yang negatif terhadap penyerapan tenaga
kerja. Koefisien jalur yang bertanda negatif bermakna bahwa pengaruh upah terhadap penyerapan
tenaga kerja adalah tidak searah, artinya apabila terjadi kenaikan upah, maka berpotensi untuk
menurunkan penyerapan tenaga kerja, terutama tenaga kerja yang produktivitasnya rendah.
2. Secara nasional, tenaga kerja yang mempunyai mempunyai produktivitas paling rendah terjadi
di sektor primer, sementara sektor sekunder merupakan sektor yang paling sedikit menyerapa
tenaga kerja tetapi mempunyai produktivitas pekerja yang paling tinggi yaitu sebesar 1.82.
Kondisi yang sama juga terjadi pada lingkup provinsi di mana produktivitas tenaga kerja di sektor
primer adalah lebih rendah bila dibandingkan dengan produktivitas tenaga kerja di sektor
sekunder.
3. Tenaga kerja di sektor primer pada umumnya mempunyai pendidikan yang rendah dengan
produktivitas yang rendah pula, oleh karena itu kenaikan upah minimum akan berdampak pada
berkurangnya penggunaan tenaga kerja di sektor ini. Rasio antara upah minimum dan upah yang
diterima pekerja berdasarkan pendidikan nilainya lebih besar dari satu (>1), menunjukkan bahwa
di sebagian besar provinsi, pekerja yang Belum Pernah Sekolah, Belum Tamat SD, dan SD,
menerima upah yang lebih rendah dari upah minimum. Sementara itu, pekerja yang berpendidikan
SLP ke atas menerima upah yang lebih tinggi dari UMP, yang dapat dilihat dari rasio antara UMP
dengan upah menurut pendidikan yang nilainya lebih kecil dari satu (<1).
4. Penyerapan tenaga kerja berpengaruh tidak signifikan dan mempunyai hubungan yang positif
terhadap kesejahteraan masyarakat. Hal ini bermakna bahwa pengaruh penyerapan tenaga kerja
terhadap kesejahteraan masyarakat berjalan searah, artinya apabila penyerapan tenaga kerja
meningkat, maka akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
5. Upah minimum yang diterima tenaga kerja adalah lebih rendah dari kebutuhan hidup yang layak
(KHL). Secara nasional dan provinsi, upah minimum pada tahun 2006 hanya dapat memenuhi 85
persen KHL walaupun pada tahun 2010 rata-rata upah minimum di Indonesia telah sama dengan
KHL. Tahun 2007 terdapat empat provinsi yang memberikan upah minimum yang nilainya sama
dengan KHL terdiri dari provinsi Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, dan Sulawesi Barat,
sedangkan empat provinsi yang memberikan upah diatas KHL yaitu Sumatera Utara, Sulawesi
Utara, Papua Barat, dan Papua. Pada tahun 2008 hanya terdapat 5 (lima) provinsi yang
memberikan upah minimum dengan nilai yang sama atau lebih besar dari KHL, sementara tahun
2009 hanya tiga provinsi yang memberikan upah minimum lebih besar dari KHL.
Volume 8, 2012 209

6. Upah minimum yang diterima tenaga kerja berada dibawah batas Pendapatan Tak Kena Pajak atau
PTKP. Hal ini mengindikasikan bahwa upah yang diterima pekerja belum dapat meningkatkan
kesejahteraan.

Saran
Beberapa saran yang diharapkan berguna untuk kepentingan praktis dan penelitian
selanjutnya, yaitu:
1. Standar penetapan KHL perlu dilakukan secara bijaksana mengingat besaran KHL menjadi acuan
untuk menentukan UMP. Komponen penentuan UMP sebaiknya tidak hanya melihat pada sisi
kenaikan inflasi saja, tetapi perlu diimbangi dengan aspek produktivitas dan pencapaian target
pekerjaan;
2. Perlu disusun suatu standar baku bagi lembaga pelatihan agar dapat memenuhi kriteria sebagai
lembaga pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi kompetensi sebagai upaya untuk
meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui jalur pendidikan non formal;
3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat
dengan memperluas jangkauan dan pelayanannya, mengingat pada saat ini sebagian besar tenaga
kerja di Indonesia (provinsi maupun nasional) hanya berpendidikan rendah (Tamat SD) dengan
Angka Harapan Hidup yang rendah pula.
a. Kebijakan di bidang pendidikan antara lain dapat dilakukan dengan membangun sekolah
terpadu (SD,SMP,SMA) yang dilengkapi dengan asrama di wilayah pemukiman di
pedalaman, sehingga pemakaian gedung menjadi efektif karena dapat digunakan sepanjang
hari (pagi untuk SD, siang hari untuk SMP, dan sore hari untuk SMA). Adanya asrama
membuat pelajar dapat konsentrasi belajar tanpa harus membuang waktu menempuh
perjalanan yang cukup lama karena kendala infrastruktur yang buruk; dan
b. Kebijakan di bidang kesehatan dapat dilakukan dengan memperluas jangkauan Jaminan
Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), dan Jaminan Persalinan (Jampersal) khususnya bagi
penduduk yang bermukim di wilayah pedalaman dan perbatasan.

REFERENSI

Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta: UPP STIM YKPN.


Askenazy, Philippe. 2003. Minimum Wage, Export, and Growth. European Economic Review 47
(2003), pp 114 – 167.
Badan Pusat Statistik, 2002. Teknik Perhitungan PDRB Menurut Komponen Penggunaan. Direktorat
Neraca Konsumsi. Jakarta : Badan Pusat Statistik.
------------------. 2008 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia Tahun 2006 - 2007. Jakarta:
Badan Pusat Statistik.
------------------. 2009 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia Tahun 2008 - 2009. Jakarta:
Badan Pusat Statistik.
-----------------. 2010a. Survey Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Tahun 2006 s.d 2010. Jakarta:
Badan Pusat Statistik.
-----------------. 2010b. Statistik Indonesia Tahun 2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
------------------. 2011b. Sensus Penduduk Tahun 1971,1980,1990,2000 dan 2010. Jakarta: BPS-RI.
------------------. 2011c. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi-Provinsi di Indonesia Menurut
Lapangan Usaha Tahun 2006-2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
------------------. 2011d. Produk Domestik Regional Bruto Provinsi-Provinsi di Indonesia Menurut
Penggunaan Tahun 2006-2010. Jakarta : Badan Pusat Statistik.
210 Rini Sulistiawati Eksos

------------------. 2011e. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Edisi


Tahun 2009 , 2010 dan 2011. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
-----------------. 2011f Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia Tahun 2010. Jakarta : Badan
Pusat Statistik.
Bappenas. & PBB, 2007. Laporan Perkembangan Pencapaian Millennium Development Goals
Indonesia 2007. Jakarta: Bappenas
Bappenas. 2010. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010 – 2014.
Buku II. Jakarta: Bappenas.
Borjas, George J. 2010. Labor Economic. New York: Mc Graw Hill.
Boadway, Robin & Katherine Cu. 2000. A Minimum Wage Can Be Welfare – Improving and
Employment Enhancing. European Economic Review 45 (2001), pp 553 – 576.
Cooper, R. Donald. & C.William Emory. 1996. Metode Penelitian Bisnis. Jakarta: Erlangga.
Deliarnov. 1995. Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta: UI-Press.
------------. 2009. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Departemen Tenaga kerja, 1989. Peraturan Menteri Tenaga Kerja. Nomor 05/ Men/ 1989, tanggal 29
Mei 1989 Tentang Upah Minimum.
------------------. 1999. Peraturan Menteri Tenaga Kerja. Nomor : Per-01/ Men/1999 Tentang Upah
Minimum.
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 2010. Upah Minimum Provinsi. Ditjen Pembinaan
Hubungan Industrial (PHI) dan Jamsostek.
Gianie. 2009. Pengaruh Upah Minimu Terhadap Penyerapan Tenaga kerja Berpendidikan Rendah Di
Sektor Industri dan Perdagangan. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.
Gindling, TH and Katherine Terrell. 2004. The Effects of Multiple Minimum Wages throughout the
Labor Market. IZA Discussion Paper No. 1159.
Husodo, Siswono Yudo. 2009. Menuju Welfare State. Jakarta: Baris Baru.
Iksan, Mohamad. 2010. Upah Minimum Regional dan Kesempatan Kerja. Mencari Jalan Tengah.
http://els.bappenas.go.id. Diakses tanggal 27 Januari 2010.
Irawan, & M. Suparmoko. 2002. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta: BPFE
Jhingan, M, L. 2003. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Kementerian Dalam Negeri. 2009. Daftar Provinsi, Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia. Jakarta: Ditjen
Otonomi Daerah. www.depdagri.go.id.
Keputusan Presiden. 2000. Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia. Kepres Nomor 13
Tahun 2000. Jakarta: Presiden Republik Indonesia.
Knight, John. Deng Quheng. & Li Shi, 2011. The Puzzle of Migrant Labour Shortage and Rural
Labour Surplus in China.China Economic Review. CHIECO-00506; pp 1-16.
Kuncoro, Mudrajad. 2010. Ekonomika Pembangunan. Masalah, Kebijakan, dan Politik. Jakarta:
Erlangga
Kusumosuwidho, Sisdjiatmo. 1982. Dasar-Dasar Demografi. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Mankiw, N Gregory. 2003. Teori Makro Ekonomi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
----------------. 2006. Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta: Salemba Empat
Volume 8, 2012 211

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, 2010. Perekonomian Indonesia di Tengah Perekonomian


Dunia. Bali: 19 April 2010
Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. Jakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah. Jakarta.
Pressman, Steven. 2002. Lima Puluh Pemikir Ekonomi Dunia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Priyono, Eddy. 2002. Situasi Ketenagakerjaan dan Tinjauan Kritis terhadap Kebijakan Upah Minimu.
Jurnal Analisis Sosial. Volume 7, Nomor 1, Februari 2002. www.akademika.or.id.
Purna, Ibnu & Adhyawarman. 2009. Indeks Pembangunan Manusia dan Mobilitas Penduduk.
www.setneg.go.id. Di akses tanggal 15 November 2011.
Riduwan & Engkos Achmad Kuncoro. 2008. Cara menggunakan dan Memakai Analisis Jalur ( Path
Analysis). Bandung: Alfabeta.
Sasana, Hadi. 2009. Pengaruh Desentralisasi Fiskal terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kesenjangan
Antar Daerah serta Penyerapan Tenaga Kerja dan Kesejahteraan di Kabupaten/Kota di
Provinsi Jawa Tengah. Disertasi. Surabaya: Pascasarjana Universitas Airlangga.
Setiaji, Bambang. & Sudarsono. 2004. Pengaruh Diferensiasi Upah Antar Propinsi terhadap
Kesempatan Kerj. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9 No. 2, Desember 2004, pp 1-
32.journal.uii.ac.id.
Sinaga, Tianggur. 2008. Kebijakan Pengupahan Di Indonesia. Jurnal Ketenagakerjaan. Volume 3
Nomor 2 Edisi Juli – Desember. pp 29-46.
SMERU, Lembaga Penelitian. 2001. Dampak Kebijakan Upah Minimum terhadap Tingkat Upah dan
Penyerapan Tenaga Kerja di Daerah Perkotaan Indonesia: www.smeru.or.id. Diunduh
Tanggal 12 Februari 2010.
Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Suharto, 2008. Islam Negara Kesejahteraan. Artikel. www.policy.hu/suharto. Di akses 12 Januari
2010.
Sukirno, Sadono. 2008. Mikro Ekonomi.Teori Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sumarsono, Sonny. 2009. Ekonomi Sumber Daya Manusia, Teori dan Kebijakan Publik. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Suyanto. 2010. Ekonomi Kesejahteraan Syariah. www.msuyanto.com. Diakses tanggal 12 Januari
2010.
Swasono, Sri Edi. 2005. Indonesia dan Doktrin Kesejahteraan Sosial. Jakarta: Perkumpulan Prakarsa.
Todaro, P.Michael. 2000. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Jakarta.
UNDP. 2008. Human Developtmen Report. www.hdr.undp.org.id. Di akses tgl 23 Juni 2010.
Waisgrais, Sebastian, 2003. Wage Inequality and the Labor Market in Argentina: Labor Institutions,
Supplyand Demand in the Period 1980-99. International Institute For Labor Studies
Discussion Paper.DP/146/2003 pp 1-53, Decent Work Research Programme.
Wikipedia. 2010. Indeks Pembangunan Manusia. www.wikipedia Indonesia.
Wikipedia. 2012. Daftar Provinsi Indonesia. www.wikipedia Indonesia.
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

PERMINTAAN DAN PENAWARAN TENAGA KERJA SERTA


PENGANGGURAN DI INDONESIA

Novia Dani Pramusinto1 dan Akhmad Daerobi2


Universitas Sebelas Maret
Email: noviadani.p@gmail.com1
akhmadaerobi@fe.uns.ac.id2

Tri Mulyaningsih
Universitas Sebelas Maret
trimulyaningsih.uns@gmail.com

Abstract
An Employment is an important factor in supporting economic growth in a country. The
labor market is formed by two main forces namely labor demand and labor supply. Labor
demand is affected by the marginal value of the product (VMP). VMP shows the benefits
obtained from hiring additional workers and holding constant capital. The supply of
labor is influenced by the free time of labor and wages. The total amount of labor
provided for an economy depends on the population, the percentage of the population
entering the workforce, and the number of hours worked by the workforce. The small
amount of labor demand will result in excess supply of laborers who offer themselves to
work, the result is unemployment. Open unemployment is an indicator that can be used to
measure the level of supply of labor that is not absorbed by the labor market. Every
workforce must get jobs to be able to have a competitive advantage so that they can
increase competitiveness. The rise and fall of a job will affect the demand for labor for
the supply of labor by the community.

Keywords: Labor Market, Labor Demand, Labor Supply, Unemployment

1. Pendahuluan
Ketenagakerjaan merupakan suatu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi
disuatu negara. Pasar tenaga kerja dibentuk oleh dua kekuatan utama yaitu permintaan tenaga kerja
dan penawaran tenaga kerja. Permintaan tenaga kerja dilakukan oleh pihak perusahaan (produsen),
sedangkan penawaran tenaga kerja dilakukan oleh pihak tenaga kerja(Mankiw, 2003).Dalam pasar
tenaga kerja, ketidakseimbangan permintaan tenaga kerja dan penawaran tenaga kerja menyebabkan
masalah ketenagakerjaan yang berkepanjangan. Ketidakseimbangan tersebut terjadi jika penawaran
tenaga kerja lebih besar dibanding dengan permintaan tenaga kerja yang ada dalam pasar tenaga
kerja. Sedikitnya jumlah permintaan tenaga kerja akan mengakibatkan kelebihan pasokan tenaga
kerja yang menawarkan diri untuk bekerja, akibatnya adalah terjadi pengangguran.
Tingkat pengangguran terbuka merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur

233
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar tenaga kerja. Sedangkan persentase
tingkat pengangguran terbuka akan meningkat ketika jumlah angkatan kerja yang berkurang
banyak, meskipun jumlah pengangguran menurun. Artikel ini memaparkan teori yang berhubungan
dengan tenaga kerja serta memaparkan fenomena pengangguran di Indonesia.

2. Permintaan Tenaga Kerja


Permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh permintaan atas suatu barang produksi sehingga
perusahaan akan menambah tenaga kerja untuk produksinya jika permintaan akan barang produksi
meningkat. Oleh karena itu permintaan tenaga kerja disebut sebagai derived demand atau
permintaan turunan(Borjas, 2016; McConnell, Brue, & Macpherson, 2013; Santoso, 2012;
Simanjuntak, 1985). Untuk mempertahankan tenaga kerja yang digunakan perusahaan, maka
perusahaan harus menjaga permintaan masyarakat atas barang yang diproduksi agar stabil atau
mungkin meningkat. Dalam menjaga stabilitas permintaan atas barang produksi perusahaan dapat
dilakukan dengan pelaksanaan ekspor, sehingga perusahaan harus memiliki kemampuan bersaing
baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri. Dengan demikian diharapkan permintaan
perusahaan terhadap tenaga kerja dapat dipertahankan pula (Sumarsono, 2003).
Permintaan tenaga kerja memainkan peran penting dalam penilaian kebijakan (Peichl &
Siegloch, 2012). Permintaan tenaga kerja memiliki karakter individu di pasar tenaga kerja. Tenaga
kerja dibeli bukan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja, tetapi dibeli karena tugas tertentu
untuk dipenuhi dan memiliki layanan yang diberikan (Abdurakhmanov & Zokirova, 2013). Tingkat
permintaan tenaga kerja oleh individu perusahaan yang dapat dimaksimalkan keuntungan terjadi
pada saat nilai produktivitas tenaga kerja sama dengan biaya marginal tenaga kerja (Santoso, 2012).
Kurva Nilai produk marginal (VMP/Value Marginal Product) merupakan kurva permintaan tenaga
kerja jangka pendek dari perusahaan yang bersangkutan yang beroperasi dalam pasar persaingan
sempurna. VMP adalah biaya marjinal dari mempekerjakan satu unit tenaga kerja dan pendapatan
marjinal dari satu unit input. VMP menunjukkan manfaat yang diperoleh dari mempekerjakan
pekerja tambahan dan memegang modal konstan. Asumsi bahwa harga satu input tetap (modal
tetap), sehingga nilai produk marginal tenaga kerja adalah sebagai berikut:

Kondisi tersebut menyatakan bahwa satu unit peningkatan tenaga kerja akan menghasilkan
pendapatan sebesar nilai unit penjumlahan dari satu unit tenaga kerja. Jika diberlakukan harga
produk sebagai variabel eksogen tergantung pada keseimbangan pasar, maka nilai produk rata-rata

234
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

diperoleh sebagai berikut:

Dimana nilai produk rata-rata memberikan harga output per tenaga kerja. Jika tingkat upah
turun, perusahaan akan mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja, sehingga pernintaan akan tenaga
kerja bergeser ke kanan. Namun, jika perusahaan mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja yang
mengarah ke peningkatan output, dan kemudian harga akan menurun artinya nilai marginal produk
menurun, sehingga kurva permintaan jangka pendek untuk tenaga kerja menurun ke bawah.
Sedangkan kenaikan harga output menggeser nilai kurva produk marginal ke atas, dan akan
meningkatkan lapangan pekerjaan(Borjas, 2016).

Gambar 1: Kurva Permintaan Tenaga Kerja


Sumber: (Borjas, 2016)

Gambar 1 merupakan gambar kurva permintaan tenaga kerja. Kurva tersebut


menggambarkanapa yang terjadi pada pekerja perusahaan ketika upah berubah, dengan asumsi
modal konstan. Kurva permintaan tenaga kerja memiliki slope negatif dan menggambarkan nilai
perusahaan dari kurva produk marjinal atau value marginal product (VMP). Awalnya upah adalah
$22 dan perusahaan mempekerjakan pekerja tinggi. Pada saat upah turun menjadi $18, perusahaan
mempekerjakan 9 pekerja. Nilai produk marjinal perusahaan menurun karena semakin banyak
pekerja yang dipekerjakan. Ketinggian kurva permintaan tenaga kerja tergantung pada harga output
dan produk marjinal. Kurva permintaan tenaga kerja akan bergeser ke kanan jika output menjadi

235
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

lebih mahal.Sebagai contoh, anggaplah bahwa harga output meningkatkan, menggeser kurva
VMPkekanan dari VMPEke VMPE’. Pada tingkat upah $22, kenaikan harga output meningkatkan
lapangan kerja perusahaan dari 8 tenaga kerja yang dibutuhkan menjadi 12 tenaga kerja. Oleh
karena itu, ada hubungan positif antara pekerjaan jangka pendek dan harga output.
Permintaan tenaga kerja juga merupakan alternatif kombinasi tenaga kerja dengan input lain
yang tersedia, dan berhubungan dengan tingkat upah. Apabila harga barang-barang modal turun,
maka biaya produksi juga akan turun. Akibatnya harga jual per unit barang akan turun. Pada
keadaan ini, produsen akan cenderung untuk meningkatkan jumlah produksinya karena permintaan
akan barang bertambah besar. Oleh karena itu, permintaan tenaga kerja juga bertambah besar,
sehingga keadaan tersebut menyebabkan bergesernya kurva permintaan tenaga kerja ke kanan
karena pengaruh efek skala atau efek substitusi (Ismei, Wijarnako, & Oktavianti, 2015).

3. Penawaran Tenaga Kerja


Penawaran tenaga kerja menjelaskan hubungan antara upah dengan jumlah tenaga kerja yang
ditawarkan (Bellante & Jackson, 1990; Santoso, 2012). Penawaran tenaga kerja adalah jumlah
tenaga kerja yang disediakan oleh pemiliki tenaga kerja pada setiap kemungkinan upah dalam
jangka waktu tertentu. Jumlah tenaga kerja keseluruhan yang disediakan bagi suatu perekonomian
tergantung pada jumlah penduduk, presentase jumlah penduduk yang masuk dalam angkatan kerja,
dan jumlah jam kerja yang ditawarkan oleh angkatan kerja. Masing-masing dari ketiga komponen
dari jumlah jumlah tenaga kerja tersebut tergantung pada besar upah pasar (Bellante & Jackson,
1990). Penawaran tenaga kerja sangat ditentukan oleh banyaknya penduduk di usia kerja yang
memiliki menjadi angkatan kerja. Semakin banyak angkatan kerja makan penawaran tenaga kerja
juga akan meningkat (Santoso, 2012).
Analisis penawaran tenaga kerja meganggap bahwa tidak ada perubahan jumlah populasi
tenaga kerja maupun perubahan tingkat keterampilan. Untuk menganalisis dampak perubahan
tingkat upah terhadap tenaga kerja yang ditawarkan dapat digunakan efek substitusi dan efek
pendapatan. Melalui efek substitusi, perubahan upah menyebabkan perubahan pada opportunity cost
waktu luang sehingga menghabiskan waktu luang menjadi lebih mahal yang pada akhirnya
mengurangi waktu luang dan menambah jam kerja (Borjas, 2016; Santoso, 2012).
Seseorang melakukan penawaran kerja atas dasar keinginan individu untuk memperoleh
barang dan jasa, sehingga mereka harus mengorbankan beberapa jam waktu luang yang dimiliki.
Penawaran tenaga kerja merupakan hasil dari keputusan untuk bekerja tiap individu (Borjas, 2016).
Sedangkan kepuasan individu bias diperoleh melalui konsumsi atau menikmati waktu luang

236
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

(leisure). Namun, kendala yang dihadapi individu adalah tingkat pendapatan dan waktu. Sedangkan
individu bekerja sebagai kontrafersi dari leisure menimbulkan penderitaan, sehingga individu mau
bekerja jika mendapat kompensasi atas waktu atau jam kerja yang mereka tawarkan pada tingkat
upah dan harga yang mereka inginkan (Becker, 1993).
Tenaga kerja yang memaksimalkan kepuasan dengan mengalokasikan waktu mereka
sehingga pendapatan terakhir dihabiskan untuk liburan atau melakukan kegiatan yang menghasilkan
kepuasan yang sama dengan pendapatan terakhir mereka untuk suatu barang. Peningkatan
pendapatan non-kerja akan mengurangi jam kerja pekerja. Peningkatan dalam pendapatan non-kerja
mengurangi kemungkinan seseorang memasuki dunia kerja. Sedangkan peningkatan upah
meningkatkan kemungkinan sesorang dalam keputusan untuk bekerja. Oleh karena itu, upah riil
dapat dikatakan sebagai penentu seseorang dalam keputusan untuk bekerja (Borjas, 2016; Oğuz,
2018). Ketika terjadi perubahan tingkat upah, misal upah meningkat, maka pengaruhnya terhadap
jumlah jam kerja yang ditawarkan dapat dijelaskan dengan konsep efek substitusi dan efek
pendapatan (Borjas, 2016; Santoso, 2012).

Gambar 2: Kurva Asal Penawaran Tenaga Kerja


Sumber: (Borjas, 2016)

Kurva penawaran tenaga kerja menunjukkan jumlah jam kerja dari pekerja pada berbagai
tingkat upah. Pada tingkat upah di atas reservasi, kurva penawaran tenaga kerja memiliki slope
positif sampai pada titik tertentu. Keadaan selanjutnya akan berubah jika kesejahteraan sudah
membaik atau mempunyai suatu keahlian yang lebih dan jumlah jam kerja yang ditawarkan

237
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

semakin berkurang pada saat upah meningkat yang mengakibatkan slope kurva penawaran tenaga
kerja menjadi negatif, sehingga kurva penawaran tenaga kerja melengkung ke belakang atau
backward-bending labor supply curve(Borjas, 2016). Gambar 2menjelaskan asal penawaran tenaga
kerja oleh tenaga kerja dimana kurva penawaran tenaga kerja merupakan kurva hubungan antara
upah dan jam kerja. Pada tingkat upah sebesar $10 tidak ada pekerja yang menawarkan untuk
bekerja, mereka lebih memilih menikmati waktu luang dengan nilai 110 hours of leisure. Pada
tingkat upah lebih dari $13, tenaga kerja mulai masuk ke pasar tenaga kerja dengan memilih 20 jam
kerja dengan tingkat menikmati waktu luang turun menjadi 90 jam waktu luang. Pada tingkat upah
$20, tenaga kerja bekerja selama 40 jam kerja dengan menikmati waktu luang sebesar 70 jam waktu
luang. Tingkat upah $20 merupakan tingkat paling banyak tenaga kerja menghabiskan waktu
mereka untuk bekerja dan sedikit untuk menikmati waktu luang mereka. Pada tingkat upah $25
tenaga kerja bekerja selama 30 jam kerja dengan waktu luang yang dapat dinimati adalah sebesar 80
jam waktu luang. Pada tingkat upah $25 jam yang harus dikorbankan sesorang untuk bekerja lebih
sedikit dibandingkan dengan tingkat upah $20, hal tersebut menggambarkan jika kurva penawaran
tenaga kerja pada segmen miring ke atas menyiratkan bahwa efek substitusi pada awalnya lebih
kuat sedangkan segmen backward-bending menyiratkan bahwa efek pendapatan pada akhirnya
mendominasi (Borjas, 2016).
Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran tenaga kerja: (1) Jumlah Penduduk.
Makin besar jumlah penduduk, makin banyak tenaga kerja yang tersedia baik untuk angkatan kerja
atau bukan angkatan kerja dengan demikian jumlah penawaran tenaga kerja juga akan semakin
besar (Bloom & Freeman, 2014). Jika jumlah penawaran tenaga kerja semakin besar makan akan
terjadi pergeseran kurva penawaran tenaga kerja ke kanan; (2) Struktur Umur Penduduk.
Bertambahnya umur panjang penduduk merupakan salah satu pencapaian utama masyarakat. Hal
tersebut mencerminkan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan. Indonesia termasuk dalam
struktur umur muda, ini dapat dilihat dari bentuk piramida penduduk Indonesia. Meskipun
pertambahan penduduk dapat ditekan tetapi penawaran tenaga kerja semakin tinggi karena semakin
banyaknya penduduk yang memasuki usia kerja, dengan demikian penawaran tenaga kerja juga
akan bertambah (Biffl, 1998; Bloom & Freeman, 2014). Bertambahnya jumlah penawaran tenaga
kerja makan akan mengakibatkan kurva penawaran tenaga kerja bergeser ke kanan tergantung pada
tingkat upah di pasar tenaga kerja; (3) Produktivitas. Produktivitas merupakan suatu konsep yang
menunjukkan adanya kaitan antara output dan jam kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan
produk dari seseorang tenaga kerja yang tersedia (Borjas, 2016). Secara umum produktivitas tenaga
kerja merupakan fungsi daripada pendidikan, teknologi, dan keterampilan. Semakin tinggi

238
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

pendidikan atau keterampilan tenaga kerja maka semakin meningkat produktivitas tenaga kerja
(Cazzavillan & Olszewski, 2011; Greenlaw & Shapiro, 2011; Lugauer, 2012; Travaglini &
Bellocchi, 2018); (4) Tingkat Upah. Secara teoritis, tingkat upah akan mempengaruhi jumlah
penawaran tenaga kerja. Apabila tingkat upah naik, maka jumlah penawaran tenaga kerja akan
meningkat dan sebaliknya. Hal ini dapat dibuktikan pada kurva penawaran tenaga kerja yang
berslope positif (Borjas, 2016; Oğuz, 2018; Santoso, 2012); (5) Kebijaksanaan Pemerintah. Dalam
menelaah penawaran tenaga kerja maka memasukkan kebijaksanaan pemerintah kedalamnya adalah
sangat relevan. Misalnya kebijaksanaan pemerintah dalam hal belajar 9 tahun akan mengurangi
jumlah tenaga kerja, dan akan ada batas umur kerja menjadi lebih tinggi. Selain itu juga kebijakan
pembangunan jumlah sekolah baru, serta pengembangan infrastuktur sekolah yang dilaksanakan
pemerintah Indonesia antara tahun 1973-1974 dan 1978-1979. Dengan demikian terjadi
pengurangan jumlah tenaga kerja, dimana penduduk usia kerja dapat terlibat dalam pekerjaan sektor
formal maupun informal. (Comola & Mello, 2009).

4. Pengangguran di Indonesia
Penduduk yang termasuk angkatan kerja menggambarkan jumlah penduduk yang
menawarkan dirinya sebagai tenaga kerja. Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2018
mencapai 131,01 juta orang mengalami peningkatan 2,95 juta atau sebesar 2,30% dibandingkan
dengan jumlah angkatan kerja Agustus 2016 yaitu sebesar 128,06 (BPS, 2018). Peningkatan jumlah
angkatan kerja dipengaruhi oleh tingginya jumlah pertumbuhan penduduk, dimana total penduduk
Indonesia pada Agustus 2018 berdasarkan proyeksi penduduk 2010-2035 diperkirakan sebanyak
265,52 juta orang. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 2,70 juta orang atau 1,41 persen
dibandingkan total penduduk Indonesia pada Agustus 2016 yaitu sebesar 128,06 juta orang (BPS,
2018). Berikut ringkasan jumlah tenaga kerja yang diminta dengan jumlah tenaga kerja yang
ditawarkan oleh penduduk usia kerja pada tabel 1.1 berikut ini.
Tabel 1. Tabel Jumlah Angkatan Kerja, Jumlah Penduduk yang bekerja, dan Jumlah
Pengangguran di Indonesia Tahun 2014-2018.
Tahun Jumlah Angkatan Jumlah Penduduk Jumlah
Kerja yang Bekerja Pengangguran
(juta jiwa) (juta jiwa) (juta jiwa)
2014 121,87 114,63 7,24
2015 122,38 114,82 7,56
2016 125,44 118,41 7,03
2017 128,06 121,02 7,04
2018 131,01 124,01 7
Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia

239
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

Kondisi terus meningkatnya jumlah penduduk akan mengakibatkan bertambahnya jumlah


angkatan kerja, jika tidak diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja maka hal tersebut akan
menjadi masalah yaitu kelebihan penawaran tenaga yang berdampak pada masalah
pengangguran. Konsep penganganggur yang digunakan adalah mereka yang sedang mencari
pekerjaan, yang mempersiapkan usaha, yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak
mungkin mendapatkan pekerjaan dan yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja
dan pada waktu yang bersamaan mereka tak bekerja (jobless). Penganggur dengan
konsep/definisi tersebut biasanya disebut sebagai pengangguran terbuka (open
unemployment).Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia menunjukkan tren menurun. Hal
tersebut di ditunjukkan pada gambar 1.1 grafik tren pengangguran terbuka di Indonesia per
Agustus.

Tingkat Pengangguran Terbuka per Agustus


6,50% 6,18%
5,94%
6,00% 5,61% 5,50%
5,50% 5,34%
5,00%
4,50%

2014 2015 2016 2017 2018

Tingkat Pengangguran Terbuka per Agustus


Linear (Tingkat Pengangguran Terbuka per Agustus)

Gambar 3: Persentase Pengangguran Terbuka di Indonesia per Agustus


Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia

Tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2014 sebesar 7,24 juta orang dengan presentase
tingkat pengangguran terbuka 5,94%. Pada tahun 2015, tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,56
juta orang, bertambah sekitar 110 ribu orang pengangguran dengan presentase tingkat
pengangguran terbuka 6,18%. Pada tahun 2016, tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,03 juta
orang, berkurang sekitar 530 ribu orang dibandingkan tahun 2015 dengan presentase tingkat
pengangguran terbuka 5,61%. Pada tahun 2017, tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,03 juta
orang, bertambah sekitar 8,5 ribu orang dibandingkan tahun 2016 dengan presentase tingkat
pengangguran terbuka turun menjadi 5,50% dikarenakan jumlah agkatan kerja pada tahun 2017
meningkat. Pada tahun 2018, tingkat pengangguran terbuka sebesar 7 juta orang, berkurang 40 ribu

240
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

orang jika dibandingkan tahun 2017 dengan persentase tingkat pengangguran terbuka sebesar
5,34%. pada Tahun 2018, tingkat pengangguran terbuka tertinggi terjadi di Provinsi Banten yaitu
sebesar 8,52%, sedangkan tingkat pengangguran terbuka terendah di Provinsi Bali yaitu sebesar
1,37%. Pengangguran terjadi pada kondisi saat jumlah tenaga kerja yang ditawarkan (ditunjukkan
dengan jumlah angakatan kerja) lebih besar dibandingkan dengan jumlah permintaan tenaga kerja
(ditunjukkan dengan jumlah penduduk yang bekerja).
5. Kesimpulan
Tenaga kerja mempengaruhi sebuah aktifitas bisnis dan perekonomian di Indonesia. Setiap
tenaga kerja harus mendapatkan lapangan pekerjaan untuk mampu memiliki keunggulan
kompetitifsehingga mereka dapat meningkatkan daya saing. Pengangguran dapat menjadi suatu
ancaman jika tidak segera diatasi karena dapat meningkatkan tindakan kriminal akibat masyarakat
tidak memiliki pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, naik turunnya
sebuah lapangan pekerjaan akan mempengaruhi permintaan tenaga kerja terhadap penawaran tenaga
kerja oleh masyarakat.

Daftar Pustaka

Abdurakhmanov, K., & Zokirova, N. (2013). Labor Economics and Sociology. (E. S. Margianti,
Ed.) (Tutorial). Jakarta: Gunadarma University, Indonesia.

Becker, G. (1993). Human Capital: A Theoritical and Empirical Analysis, with Special
Reference to Education (3rd Ed.). Chicago: The University Of Chicago Press.

Bellante, D., & Jackson, M. (1990). Ekonomi Ketenagakerjaan. (K. Wimandjaja & M. Yasin,
Ed.). Jakarta: LPFE UI.

Biffl, G. (1998). The Impact of Demographic Changes on Labor Supply. WIFO AUSTRIAN
ECONOMIC QUARTERLY, 4, 219–228. Diambil dari
https://www.wifo.ac.at/jart/prj3/wifo/resources/person_dokument/person_dokument.jart?publi
kationsid=580&mime_type=application/pdf

Bloom, D. E., & Freeman, R. (2014). Population Growth , Labor Supply , and Employment in
Developing Countries. The National Bureau of Economic Research, (March 1986). Diambil
dari http://dergipark.gov.tr/download/article-file/463876

Borjas, G. J. (2016). Labor Economics(Seventh). New York: The MacGrow-Hill Companies.

BPS. (2018). Keadaan Angkatan Kerja Di Indonesia. Jakarta. Diambil dari


https://www.bps.go.id/publication/download.html?nrbvfeve=YjdlNmNkNDBhYWVhMDJiYj
ZkODlhODI4&xzmn=aHR0cHM6Ly93d3cuYnBzLmdvLmlkL3B1YmxpY2F0aW9uLzIwM
TgvMDYvMDQvYjdlNmNkNDBhYWVhMDJiYjZkODlhODI4L2tlYWRhYW4tYW5na2F0
YW4ta2VyamEtZGktaW5kb25lc2lhLWZlYnJ1YXJpLTIwMTguaHRtbA%3D%3D&twoadfn
oarfeauf=MjAxOS0wNC0xNiAxMDoxNDo0MA%3D%3D

241
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

Cazzavillan, G., & Olszewski, K. (2011). Skill-biased technological change, endogenous labor
supply and growth: A model and calibration to Poland and the US. Research in Economics,
65(2), 124–136. https://doi.org/10.1016/j.rie.2011.03.003

Comola, M., & Mello, L. de. (2009). The Determinants of Employment and Earnings in Indonesia.
OECD Economics Departmen Working Papers, OECD Publishing, Paris, 31(690).
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.1787/224864812153 OECD

Greenlaw, S. A., & Shapiro, D. (2011). Pronciples of Ecoconomics (2e ed.). Texas: OpenStax,
Rice University. Diambil dari https://d3bxy9euw4e147.cloudfront.net/oscms-
prodcms/media/documents/Economics2e-OP_3MfrPLF.pdf

Ismei, A., Wijarnako, A., & Oktavianti, H. (2015). Analisis Permintaan Tenaga Kerja pada Industri
Kecil dan Menengah di Kabupaten Lamongan Tahun 2009-2013. Media Trend, 10(1), 75–89.
Diambil dari http://mediatrend.trunojoyo.ac.id/mediatrend/article/download/691/pdf6

Lugauer, S. (2012). Research in Economics The supply of skills in the labor force and aggregate
output volatility. Research in Economics, 66(3), 246–262.
https://doi.org/10.1016/j.rie.2012.03.002

Mankiw, N. G. (2003). Teori Makro Ekonomi(Edisi ke-5). Jakarta: Erlangga.

McConnell, C. R., Brue, S. L., & Macpherson, D. A. (2013). Contemporary Labor


Economics(Tenth). New York: The McGraw-Hill Companies.

Oğuz, A. (2018). Analysis of The Factors Affecting Labour Supply. SOSYAL BİLİMLER
DERGİSİ,56, 157–170. Diambil dari http://dergipark.gov.tr/download/article-file/463876

Peichl, A., & Siegloch, S. (2012). Accounting for Labor Demand Effects in Structural Labor Supply
Models. Labour Economics,19(1), 129–138. https://doi.org/10.1016/j.labeco.2011.09.007

Santoso, R. P. (2012). Ekonomi Sumber Daya Manusia dan Ketenagakerjaan (Edisi 1).
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Simanjuntak, P. J. (1985). Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Fakultas


Ekonomi Universitas Indonesia.

Sumarsono, S. (2003). Ekonomi Manajemen Sumberdaya Manusia dan Ketenagakerjaan.


Yogyakarta: Graha Ilmu.

Travaglini, G., & Bellocchi, A. (2018). How Supply and Demand Shocks Affect Productivity and
Unemployment Growth : Evidence from OECD Countries. Economia
Politica. https://doi.org/10.1007/s40888-018-0127-1

242
Seminar Nasional & Call For Paper Seminar Bisnis Magister Manajemen (SAMBIS-2019) ISSN: 2685-1474
“Membangun Ekonomi Kreatif yang Berdaya Saing”

BIOGRAFI PENULIS

Novia Dani Pramusintoadalahmahasiswa Magister Ekonomi Studi Pembangunan, Fakultas


Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bidang konsentrasi kuliah saat ditempuh
pada jenjang S2 adalah ekonomi sumberdaya dan pembangunan yang meliputi ekonomi
sumberdaya manusia dan pembangunan serta ekonomi sumberdaya alam dan pembangunan. Untuk
informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui e-mail ke noviadani.p@gmail.com

Dr. Akhmad Daerobi, MS adalah dosen jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan
Bisnis, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Focus pengajaran adalah Agricultural Economy, Rural
Area Economy, Institutional Economy. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui e-
mail ke akhmadaerobi@fe.uns.ac.id

Tri Mulyaningsih, SE, M.Si., Ph.D adalah dosen jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Focus pengajaran adalah industrial
economics. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui e-mail
trimulyaningsih.uns@gmail.com

243
Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, April 2007

PERMINTAAN DAN PENAWARAN TENAGA KERJA SERTA UPAH :


TEORI SERTA BEBERAPA POTRETNYA DI INDONESIA
Oleh : Maimun Sholeh
(Staf Pengajar FISE Universitas Negeri Yogyakarta)
Abstrak

Masalah tenaga kerja adalah masalah yang sangat kompleks dan besar.
Kondisi kerja yang baik, kualitas output yang tinggi, upah yang layak serta
kualitas sumber daya manusia adalah persoalan yang selalu muncul dalam
pembahasan tentang tenaga kerja disamping masalah hubungan industrial
antara pekerja dengan dunia usaha. Dapat dikatakan ketenagakerjaan di
Indonesia hingga kini masih menghadapi beberapa ketidakseimbangan
baik struktural ataupun sektoral. maka salah satu sasaran yang perlu
diusahakan adalah meningkatkan daya guna tenaga kerja. Permintaan
Tenaga kerja yang dipengaruhi oleh nilai marjinal produk (Value of
Marginal Product, VMP), Penawaran Tenaga Kerja yang dipengaruhi oleh
jam kerja yang luang dari tenaga kerja individu serta upah, secara teoretis
harus diperhatikan agar kebijakan-kebijakan yang dilakukan mendekati
tujuan yang diinginkan

Kata Kunci : Permintaan tenaga kerja, Penawaran tenaga kerja, Value


of Marginal Product, upah

A. Pendahuluan
Masalah tenaga kerja adalah masalah yang sangat kompleks dan besar. Kompleks
karena masalahnya mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling
berinteraksi dengan pola yang tidak selalu mudah dipahami. Besar karena menyangkut
jutaan jiwa. Untuk menggambarkan masalah tenaga kerja dimasa yang akan datang
tidaklah gampang karena disamping mendasarkan pada angka tenaga kerja di masa
lampau, harus juga diketahui prospek produksi di masa mendatang.
Kondisi kerja yang baik, kualitas output yang tinggi, upah yang layak serta kualitas
sumber daya manusia adalah persoalan yang selalu muncul dalam pembahasan tentang
tenaga kerja disamping masalah hubungan industrial antara pekerja dengan dunia usaha.
Tulisan ini ingin memaparkan teori yang berhubungan dengan tenaga kerja beserta
beberapa potretnya di Indonesia , dimana pembahasanya dimulai dari teori permintaan
tenaga kerja, teori penawaran tenaga kerja, teori upah serta potret tenaga kerja di
Indonesia. Diharap dengan paparan ini maka kompleksitas ketenagakerjaan dapat lebih
di pahami.

62
Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja serta Upah :
Teori serta Beberapa Potretnya di Indonesia--- Maimun Sholeh

B. Permintaan Tenaga Kerja


Permintaan dalam konteks ekonomi didefinisikan sebagai jumlah maksimum suatu
barang atau jasa yang dikehendaki seorang pembeli untuk dibelinya pada setiap
kemungkinan harga dalam jangka waktu tertentu (Sudarsono, 1990). Dalam hubungannya
dengan tenaga kerja, permintaan tenaga kerja adalah hubungan antara tingkat upah dan
jumlah pekerja yang dikehendaki oleh pengusaha untuk dipekerjakan. Sehingga
permintaan tenaga kerja dapat didefinisikan sebagai jumlah tenaga kerja yang
diperkerjakan seorang pengusaha pada setiap kemungKinan tingkat upah dalam jangka
waktu tertentu.
Miller & Meiners (1993), berpendapat bahwa permintaan tenaga kerja dipengaruhi
oleh nilai marjinal produk (Value of Marginal Product, VMP). Nilai marjinal produk
(VMP) merupakan perkalian antara Produk Fisik Marginal (Marginal Physical Product,
MPP) dengan harga produk yang bersangkutan. Produk Fisik Marginal (Marginal
Physical Product, MPP) adalah kenaikan total produk fisik yang bersumber dari
penambahan satu unit input variabel (tenaga kerja). Dengan mengasumsikan bahwa
perusahaan beroperasi pada pasar kompetitif sempurna maka besarnya VMP yang
merupakan perkalian antara MPP x P akan sama dengan harga input produk yang
bersangkutan yaitu PN. Besarnya VMP = P didapatkan dari pernyataan bahwa kombinasi
input optimal atau biaya minimal dalam proses produksi akan terjadi bila kurva isoquan
menjadi tangens terhadap isocost. Bila sudut garis isocost sama dengan -w/r.
sedangkan besarnya sudut disetiap titik pada isoquant sama dengan MPP I/MPPK,
maka kombinasi input yang optimal adalah : w/r = MPPL/MPPK atau MPPK/r = MPPi7w.
Dimana r adalah tingkat bunga implisit yang bersumber dari modal sedangkan w
adalah tingkat upah per unit. Apabila persamaan diatas diperluas secara umum maka akan
menjadi :
MPPx/Px = MPPY/PY

Dalam kalimat lain, minimisasi biaya input atau maksimalisasi output atas
penggunaan input mensyaratkan penggunaan kombinasi yang sedemikian rupa
sehingga MPP untuk setiap input dengan harganya sama besar untuk setiap input.
Dengan demikian kenaikan satu unit input, misalnya x, akan memperbanyak biaya produksi
sebanyak Px, sekaligus akan memperbesar valume produk sebanyak MPPx Itu berarti
rasio Px / MPPx merupakan tingkat perubahan total biaya perusahaan untuk setiap
perubahan output fisiknya yang secara definitif berarti sama dengan biaya marginalnya
{Marginal Cost,MC). Dari sini maka persamaan diatas juga bisa dirubah
menjadi : MPPx/Px = MPPY/PY = MFPN/PN = 1/MC

63
Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, April 2007

Dengan mengasumsikan bahwa perusahaan beroperasi pada pasar kompetitif


sempurna maka persamaan diatas bisa dirubah menjadi :
MPPx/Px = MPPY/PY = MPPN/PN = 1/MC- 1/MR= 1/P
Dari persamaan diatas kita bisa mengetahui bahwa :
MPPx/Px = 1/MR = 1/P, sehingga MPPx x P = Px untuk semua input.
Ini berarti kurva VMP untuk tenaga kerja merupakan kurva permintaan tenaga
kerja -jangka pendek- dari perusahaan yang bersangkutan yang beroperasi dalam pasar
persaingan sempurna {dengan Catalan kuantitas semua input lainnya konstan). Bagi
setiap perusahaan yang beroperasi dalam pasar kompetisi sempurna itu, harga outputnya
senantiasa konstan terlepas dari berapa kuantitas output yang dijualnya. Harga input disini
juga kita asumsikan konstan. Penawarannya elastisitas serupurna untuk semua perusahaan.
Dengan demikian kuantitas tenaga kerja yang memaksimalkan laba perusahaan terletak
pada titik perpotongan antara garis upah (Tingkat upah yang berlaku untuk pekerja
terampil yang dibutuhkan perusahaan) dan kurva VMP perusahaan. lni diperlihatkan oleh
gambar 1.

Upah, VMPL

Kuantitas Tenaga Kerja Yang dibutuhkan


Gambar 1.
Kuantitas Tenaga Kerja Yang Memaksimumkan Laba

Jika tingkat upah per unit pekerja yang kualitasnya konstan adalah wo maka
kuantitas pekerja yang optimal adalah Lo. Garis horizontal yang bertolak dari Wo merupakan
kurva penawaran tenaga kerja untuk setiap perusahaan yang beroperasi dalam pasar
tenaga kerja yang kompetitif sempurna.
Perusahaan akan menggunakan tenaga kerja tambahan jika MPPi lebih besar

64
Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja serta Upah :
Teori serta Beberapa Potretnya di Indonesia--- Maimun Sholeh

dari biaya tenaga kerja tambahan. Biaya tenaga kerja tambahan ditentukan oleh upah riil
yang dihitung sebagai (upah nominal/tingkat harga), upah riil ini mengukur jumlah output
riil yang harus dibayar perusahaan untuk setiap pekerjanya, karena dengan mengupah
satu pekerja lagi menghasilkan kenaikan output untuk MPP L dan biaya pada perusahaan,
Untuk upah riil perusahaan akan mengupah tenaga kerja tambahan selama MPPL
melebihi upah riil.
Dengan mengasumsikan bahwa tenaga kerja dapat ditambah dan faktor
produksi lain tetap, maka perbandingan alat-alat produksi untuk setiap pekerja
menjadi lebih kecil dan tambahan hasil marginal menjadi lebih kecil pula, atau
dengan semakin banyak tenaga kerja digunakan semakin turun MPPi, nya karena nilai MPPi.
mengikuti hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang.
Bila harga atau tingkat upah tenaga kerja naik, kuantitas tenaga kerja yang
diminta akan menurun, ini diperlihatkan oleh kenaikan arus upah yang berpotongan
dengan kurva VMP dalam kuantitas tenaga kerja yang lebih sedikit. Dengan
berkurangnya pekerja, produk fisik marginal dari input modal, atau MPP R, akan
menurun karena kini setiap unit modal digarap oleh lebih sedikit pekerja. Jika sebuah
mesin dioperasikan oleh satu orang , produk fisik marginal mesin itu akan menurun
dibandingkan saat sebelumnya ketika mesin itu diuais oleh beberapa orang. Karena kini
hanya ada satu pekerja, mereka tidak bisa bergantian menjalankan mesin, sehingga
hasilnya lebih sedikit. Dalam kalimat lain, modal bersifat komplementer terhadap tenaga
kerja, atau ada komplementaritas (complementary) diantara keduanya.
Upah, VMPL L

Kuantitas L per unit periode


Gambar 2
Kurva Permintaan tenaga Kerja Dengan Dua Input Variabel
Kita mulai dari tingkat upah w2. Pada tingkat upah sebesar W2 penyerapan

65
Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, April 2007

tenaga kerja oleh perusahaan yang optimal adalah L3. Lalu upah naik menjadi Wi, tingkat
penyerapan tenaga yang optimal pun merambat ke L2 dimana Garis upah yang horizontal
yang baru berpotongan dengan kurva VMPi. karena adanya komplementaritas input-
input maka kenaikkan upah mengakibatkan produk fisik marginal modal menurun dan
bergeser ke kiri menjadi VMPi. perpotongan baru dari garis upah horizontal (kurva
penawaran tenaga kerja) adalah titik C, tingkat penyerapan tenaga kerja yang optimal
akan turun ke L. jika titik A dan C dihubungkan akan diperoleh kurva permintaan tenaga
kerja dL- dL
Dengan demikian, dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan, produk fisik
marjinal modal akan menurun. Setiap unit modal kini membuahkan lebih sedikit hasil
sehingga tidak dapat menyerap banyak unit tenaga kerja. MPP R akan menurun seiring
dengan menurunnya tenaga kerja yang diserap. Perusahaan akan merekrut setiap unit
input sampai suatu titik dimana nilai produk marginalnya sama dengan harganya.
C. Penawaran Tenaga Kerja
Penawaran tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang dapat disediakan oleh
pemilik tenaga kerja pada setiap kemungkinan upah dalam jangka waktu tertentu.
Dalam teori klasik sumberdaya manusia (pekerja) merupakan individu yang bebas
mengarnbil keputusan untuk bekerja atau tidak. Bahkan pekerja juga bebas untuk
menetapkan jumlah jam kerja yang diinginkannya. Teori ini didasarkan pada teori
tentang konsumen, dimana setiap individu bertujuan untuk memaksimumkan kepuasan
dengan kendala yang dihadapinya.
Menurut G.S Becker (1976), Kepuasan individu bisa diperoleh melalui
konsumsi atau menikmati waktu luang (leissure). Sedang kendala yang dihadapi
individu adalah tingkat pendapatan dan waktu. Bekerja sebagai kontrofersi dari leisure
menimbulkan penderitaan, sehingga orang hanya mau melakukan kalau memperoleh
kompensasi dalam bentuk pendapatan, sehingga solusi dari permasalahan
individu ini adalah jumlah jam kerja yang ingin ditawarkan pada tingkat upah dan
harga yang diinginkan.
Kombinasi waktu non pasar dan barang-barang pasar terbaik adalah kombinasi
yang terletak pada kurva indefferensi tertinggi yang dapat dicapai dengan kendala tertentu.
sebagaimana gambar 3, kurva penawaran tenaga kerja mempunyai bagian yang
melengkung ke belakang. Pada tingkat upah tertentu penyediaan waktu kerja individu
akan bertambah apabila upah bertembah (dariW ke W1). Setelah mencapai upah tertentu
(W1), pertambahan upah justru mengurangi waktu yang disediakan oleh individu untuk
keperluan bekerja (dari W1 ke WN). Hal ini disebut Backward Bending Supply Curve.

66
Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja serta Upah :
Teori serta Beberapa Potretnya di Indonesia--- Maimun Sholeh

Layard dan Walters (1978), menyebutkan bahwa keputusan individu untuk menambah
atau mengurangi waktu luang dipengaruhi oleh tingkat upah dan pendapatan non
kerja. Adapun tingkat produktivitas selalu berubah-rubah sesuai dengan fase produksi
dengan pola mula-mula naik mencapai puncak kemudian menurun.
Semakin besar elastisitas tersebut semakin besar peranan input tenaga kerja
untuk menghasilkan output, berarti semakin kecil jumlah tenaga kerja yang diminta.
Sedangkan untuk menggambarkan pola kombinasi faktor produksi yang tidak
sebanding (Variable proportions) umumnya digunakan kurva isokuan (isoquantities)
yaitu kurva yang menggambarkan berbagai kombinasi faktor produksi (tenaga kerja
dan kapital) yang menghasilkan volume produksi yang sama. Lereng isokuan
menggamblfncan laju substitusi teknis marginal atau marginal Rate of Technical
Substitution atau dikenal dengan istilah MRS. Hal ini dimaksudkan untuk melihat
hubungan antara faktor tenaga kerja dan kapital yang merupakan lereng dari kurva
isoquant
Upah

W3

W2

W1

Jam yang disediakan tenaga kerja


Q3 Q1 Q2
Gambar 3
Penawaran Tenaga
Kerja
D. Teori Upah
Teori tentang pembentukan harga (pricing) dan pendayagunaan input
(employment) disebut teori produktivitas marjinal (marginal productivity theory), lazim
juga disebut teori upah (wage theory). Produktivitas marjinal tidak terpaku semata-mata

67
Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, April 2007

pada sisi permintaan (demand side) dari pasar tenaga kerja saja. telah diketahui suatu
perusahaan kompetitif yang membeli tenaga kerja di suatu pasar yang kompetitif
sempurna akan mengerahkan atau menyerap tenaga kerja sampai ke suaiu titik dimana
tingkat upah sama dengan nilai produk marjinal (YMF). Jadi pada dasarnya, kurva VMP
merupakan kurva permintaan suatu perusahaan akan tenaga kerja. Tingkat upah dan
pemanfaatan input (employment) sama-sama ditentukan oleh interaksi antara
penawaran dan permintaan. Berbicara mengenai teori produktivitas marjinal upah
sama saja dengan berbicara mengenai teori permintaan harga-harga; dan kita tak kan
dapat berbicara mengenai teori permintaan harga-harga tersebut karena sesungguhnya
harga itu tidak hanya ditentukan oleh permintaannya, tapi juga oleh penawarannya.
E. Proses Penyamaan Upah
Disadari atau tidak tingkat kepuasan (atau tingkat ketidakpuasan) masing-masing
pekerja atas suatu pekerjaan tidaklah sama, maka bisa difahami terjadinya kemungkinan
perbedaan tingkat upah yang mencerminkan adanya perbedaan selera atau preferensi
terhadap setiap jenis pekerjaan. Kemungkinan perbedaan tingkat upah yang
mencerminkan adanya perbedaan selera atau preferensi terhadap setiap jenis pekerjaan
inilah yang sering disebut sebagai teori penyamaan tingkat upah (theory of equalizing
wage difference). Terkadang seseorang mau mengorbankan rasa tidak sukanya
terhadap suatu pekerjaan demi memperoleh imbalan tinggi; atau sebaliknya ada orang
yang mau menerima pekerjaan yang memberi upah rendah, padahal dia bisa
memperoleh pekerjaan yang memberi upah lebih tinggi, semata-mata karena ia menvukai
pekerjaan tersebut. Setiap pekerjaan memiliki penewaran dan permintaan tersendiri
yang menentukan tingkat upah serta jumlah pekerja yang bisa di serap.
Sekarang mari kita simak gambar 4 kita asumsikan disini hanya ada dua jenis
pekerjaan. Rasio atau perbandingan tingkat upah di kedua jenis pekerjaan , yakni
Wi/W2, kita ukur lewat sumbu vertikal. Sedangkan sumbu horizontal mengukur rasio
employment atau perbandingan penyerapan tenaga kerja oleh kedua jenis pekerjaan
tersebut. Kurva atau garis permintaan tenaga kerja mengarah ke bawah (artinya
semakin ke bawah tingkat upah, akan semakin banyak pekerja yang diserap oleh suatu
perusahaan ). Kurva penawaran sebaliknya, mengarah ke atas, itu berarti semakin banyak
perusahaan membutuhkan tenaga kerja, akan semakin besar tingkat upah yang harus
dibayarkan.
Dalam analisis ini kita asumsikan semua tenaga kerja bisa melakukan semua pekerjaan
tersebut. Bentuk kurva penawaran itu mengarah ke atas juga dikarenakan adanya
perbedaan preferensi di kalangan pekerja atas dua macam pekerjaan yang tersedia. Jika
mereka tidak memiliki preferensi sama sekali, maka bentuk kurva penawarannya lurus
mendatar. Semakin curam atau semakin besar sudut kurva penawaran itu terhadap

68
Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja serta Upah :
Teori serta Beberapa Potretnya di Indonesia--- Maimun Sholeh

garis mendatar, maka semakin besar kecenderungan para pekerja untuk memilih salah
satu pekerjaan daripada yang lain. Dalam situasi ini, ekuilibrium Lercipta pada titik
perpotongan antara DD dan SS, atau titik E. Ini memunculkan sesuatu rasio upah relatif,
katakanlah 1,4. dan rasio penyerapan tenaga kerja, misalkan saja 0,8. itu berarti
dalam kondisi ekuilibrium , tingkat upah pekerjaan 1 40 % lebih tinggi daripada
upah yang diberikan oleh pekerjaan 2. Teori ini memberi tahu kita tingkat upah yang
relatif lebih tinggi harus ditawarkan oleh pekerjaan 1 demi memperoleh tenaga kerja
yang dibutuhkan nya. Tentu saja ini tidak sama dengan kenyataan sehari-hari yang kita
hadapi. Kita sering melihat orang yang bersedia melakukan pekerjaan yang kurang
disukainya dengan upah yang juga rendah. Ini terjadi karena yang menjadi faktor
penyebab bukan semata-mata preferensi para pekerja, melainkan juga faktor keahlian
dan keterbatasan lapangan kerja.

Rasio Upah (W,/W2)

Rasio TK Q1/Q2
Gambar 4
Penyamaan Upah

F. Upah Minimum
Upah minimum adalah sebuah kontrofersi , bagi yang mendukung kebijakan
tersebut mengemukakan bahwa upah minimum diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan pekerja agar sampai pada tingkat pendapatan "living wage", yang berarti
bahwa orang yang bekerja akan mendapatkan pendapatan yang layak untuk hidupnya.
Upah minimum dapat mencegah pekerja dalam pasar monopsoni dari eksploitasi
tenaga kerja terutama yang low skilled. Upah minimum dapat meningkatkan
produktifitas tenaga kerja dan mengurangi konsekuensi pengangguran seperti yang
diperkirakan teori ekonomi konvensional (Kusnaini, D, 1998).
Bagi yang tidak setuju dengan upah minimum mengemukakan alasan bahwa
penetapan upah minimum mengakibatkan naiknya pengangguran dan juga

69
Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, April 2007

memungkinkan kecurangan dalam pelaksanaan yang selanjutnya berpengaruh pada


penurunan tingkat upah dalam suatu sektor yang tidak terjangkau kebijakan upah
minimum. Disamping itu penetapan upah minimum tidak memiliki target yang jelas
dalam pengurangan kemiskinan. Dari perbedaan-perbedaan pandangan tersebut kita bisa
melacak akibat-akibat dari penetapan upah minimum yang mungkin timbul -dengan
beberapa asumsi, pertama bahwa semua sektor dan semua tenaga kerja terjatigkau
kebijakan upah minimum, kedua konsekuensi potensial dari efek shock terhadap
pekerja diterapkan- Dalam sejarah perkembangannya terdapat berbagai teori untuk
menentukan tingkat upah berlaku, penganut klasik menyatakan bahwa upah ditentukan
oleh produktivitas marginal tetapi Marshall dan juga Hicks menyatakan bahwa
produktivitas marjinal hanyalah menentukan permintaan terhadap buruh saja, jadi bukan
terhadap penawaran tenaga kerja. Namun akhirnya permintaan dan penawaran tenaga
kerja menentukan tingkat upah yang berlaku.
Isu umum dalam pembahasan mengenai pasar kerja selalu diasumsikan
terdapatnya keseimbangan antara penawaran dan permintaan pekerja pada tingkat
tertentu dengan jumlah pekerja tertentu pula. Namun adakalanya keseimbangan ini
tidak selamanya menunjukkan tingkat upah yang terjadi di pasar kerja karena dalam
pelaksanaannya terdapat campur tangan pemerintah atau karena ada yang
menentukan tingkat upah minimum. Dalam jangka panjang, sebagian pengurangan
permintaan pekerja bersumber dari berkurangnya jumlah perusahaan, dan sebagian lagi
bersumber dari perubahan jumlah pekerja yang diserap masing-masing perusahaan.
Jumlah perusahaan bisa berkurang karena pemberlakuan tingkat upah minimum tidak
bisa ditanggung oleh semua perusahaan. Hanya perusahaan yang sanggup
menanggung upah minimum -atau yang berhasil menyiasati peraturan itu- yang akan
bertahan. Sebagai contoh anggap saja sejumlah perusahaan tertentu membayar upah
lebih tinggi dari pada Wm, khusus untuk pekerja unggul. Pemberlakuan tingkat upah
minimum akan meningkatkan upah rata-rata, tapi tidak akan memacu kualitas pekerja
secara keseluruhan. Akibatnya perusahaan yang menyerap pekerja kualitas lebih rendah,
tapi harus membayar upah lebih tinggi, akan semakin sulit bersaing dengan perusahaan-
perusahaan yang sejak semula memberi upah tinggi tapi memang kualitas pekerjanya
unggul.
Dampak pemberlakuan hukum upah minimum tergantung pada kadar
keseriusan pelaksanaannya. Jika hukum itu tidak dipaksakan dan diawasi
pelaksanaannya, maka takkan ada perubahan yang berarti. Analisis mengenai upah
minimum identik dengan analisis kontrol harga lainnya.-upah adalah harga tenaga
kerja-meskipun dampak pemberlakuan tingkat upah minimum gampang dilihat ,-
karena ketentuan itu secara jelas menyebutkan bidang kerja apa saja yang upah

70
Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja serta Upah :
Teori serta Beberapa Potretnya di Indonesia--- Maimun Sholeh

minimumnya diatur dan perkecualian apa saja yang masih mungkin


diperbolehkan- tidaklah berarti pemberlakuan upah minimum semacam itu selalu
efektif. Selalu saja ada cara untuk menyiasati atau mengurangi efektivitas hukum
upah minimum. Sebagai contoh, jika sebelumnya para pekerja berupah rendah
memperoleh tunjangan atau imbalan tambahan, seperti makan siang murah, tiket
murah untuk pertunjukan atau pertandingan bola, maka setelah hukum upah
minimum diberlakukan , perusahaan mengurangi tunjangan-tunjangan tambahan
semacam itu sehingga pada akhirnya pengeluarannya untuk pekerja tidak banyak
meningkat, dan total pendapatan para pekerja itu juga tidak banyak bertambah. Lebih
dan itu perusahaan masih memiliki segudang cara untuk mengimbangi kenaikan
pengeluaran upah untuk para pekerjanya. Misalnya perusahaan mengharuskan
pekerjanya membeli berbagai barang keperluan di toko milik perusahaan, atau
tinggal dengan uang sewa -tentunya dirumah-rumah milik perusahaan-. Tidak
mustahil keuntungan dari toko atau perumahan perusahaan tersebut melebihi biaya
marginalnya, sehingga praktis pengeluaran perusahaan untuk kenaikan upah terimbangi.
Dengan demikian, meskipun pemerintah memberlakukan tingkat upah minimum, para
pekerja belum tentu memperoleh upah aktual minimum. Metode lainnya adalah
merekrut pekerja dari sanak famili atau kalangan dekat pemilik perusahaan. Lewat
metode ini perusahaan dapat membayar lebih rendah dari tingkat upah minimum, dan itu
terbebas dari pemantauan departemen tenaga kerja. Cara-cara itu merupakan penjelasan
mengapa toko-toko kelontong dan restoran kecil mampu bersaing dengan yang lebih besar
dan biasanya lebih efesien. Binatu yang dikelola oleh suami istri pensiunan bisa menyaingi
perusahaan mata rantai binatu yang lebih efesien, karena "pekerja" di binatu pasangan itu
adalah diri mereka sendiri yang tidak perlu "dibayar" pada tingkat upah tertentu.
Pemberlakuan upah minimum juga bisa menjadi tidak efektif kalau masih tertumpu
pada asumsi umum bahwa seluruh pekerja itu homogen dan tingkat upah minimum berlaku
bagi segenap pekerja. Dalam pekerja-pekerja itu tidak homogen, melainkan bermacam-
macam, dan tingkat upah minimum biasanya hanya diperuntukkan untuk kelompok
pekerja tertentu, dalam kadar yang bervariasi. Jadi disini takkan terlihat pengaruh
pemberlakuan upah minimum terhadap total employment, melainkan hanya pada
keiompok-kelompok tertentu yang mendapat perlindungan hukum upah minimum. Atau
keiompok-kelompok yang benar-benar menerima pengaruh dari hukum tersebut.
Pemberlakuan upah minimum justru merugikan keiompok-kelompok tertentu. Peraturan
upah minimum membatasi peluang kerja bagi mereka yang tidak mempunyai
keahlian. Pihak perusahaan ternyata kemudian menaikkan keahlian atau ketrampilan
dan semakin padat modal; selama memungkinkan mereka lebih

71
Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, April 2007

mengintensifkan pemakaian modal daripada tenaga kerja. Disamping itu, adanya


peraturan upah minimum justru terkadang membatalkan niat perusahaan merekrut
pekerja non ahli dan membekalinya dengan pelatihan kerja atau ketrampilan
khusus.

G. Potret Tenaga Kerja Indonesia


Masalah ketenagakerjaan di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yang penting adalah modal asing, proteksi iklim investasi, pasar global, dan
perilaku birokrasi serta "tekanan" kenaikan upah (Majalah Nakertrans, 2004).
Otonomi daerah yang dalam banyak hal juga tidak berpengaruh positif terhadap
tenaga kerja. Masalah kemiskinan, ketidakmerataan pendapatan, pertumbuhan
ekonomi, urbanisasi dan stabilitas politik juga sangat berpengaruh terhadap
ketenagakerjaan. Rucker (1985:2) sebagaimana dilansir oleh majalah Nakertrans,
menduga bahwa masalah ketenagakerjaan di Indonesia bersifat multidimensi
sehingga juga memerlukan cara pemecahan yang multidimensi pula. Tidak ada
jalan pintas dan sederhana untuk mengatasinya. Strategi pemulihan dan
rekonstruksi ekonomi yang bertumpu pada penciptaan lapangan kerja merupakan
keharusan. Dalam kaitan ini, masih sangat relevan untuk diperhatikan secara serius
dua elemen strategi yang pernah diajukan oleh Misi ILO (1999:5) yaitu (i) strategi
dan kebijakan yang membuat proses pertumbuhan ekonomi menjadi lebih
memperhatikan aspek ketenagakerjaan, dan (ii) tindakan yang dibutuhkan untuk
menciptakan lapangan kerja tambahan melalui program-program penciptaan
lapangan kerja secara langsung.
Bila Jumlah penduduk Indonesia adalah 208 juta jiwa, sementara Jumlah
penduduk angkatan kerja 106 juta jiwa maka, jumlah penduduk
bukan angkatan kerja adalah102 juta jiwa. Ini berarti Jumlah pengangguran 11 juta
jiwa. Sedangkan angka beban ketergantungan dapat dihitung sebagai :
DR = (Produktif/non produktif-produktif) x100 atau sama dengan 103, 92 juta jiwa ,
dibulatkan menjadi 104 juta jiwa. Ini berarti setiap 100 penduduk usia produktif
menanggung 104 penduduk usia non produktif.

72
Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja serta Upah :
Teori serta Beberapa Potretnya di Indonesia--- Maimun Sholeh

Sebagai gambaran maka potret ketenagakerjaan dapat dilihat pada beberapa


data berikut ini :
Tabel.1
Penduduk Yang Bekerja Menurut
Lapangan Pekerjaan Utama & Jenis Kelamin, Tahun 2006

Lapangan Pekerjaan Jenis Kelamin Jumlah


Utama Laki-Laki Perempuan
Pertanian 27.468.466 14.854.724 42.323.190
Pertambangan 805.578 141.519 947.097
Industri 6.873.835 4.704.306 11.578.141
Listrik, Gas Dan Air 194.940 12.162 207.102
Bangunan 4.249.018 124.932 4.373.950
Perdagangan 10.162.347 8.392.710 18.555.057
Angkutan 5.268.277 199.031 5.467.308
Keuangan 836.305 316.987 1.153.292
Jasa Lainnya 6.005.561 4.566.404 10.571.965
Jumlah 61.864.327 33.312.775 95.177.102
Sumber : BPS,Sakernas 2006

Tabel 2.
Rata-Rata Upah Pekerja Selama Sebulan Tahun 2005
Menurut Pendidikan Dan Kota Desa
No Pendidikan Kota Desa
(Rp) (Rp)
1 Tidak/Belum Pernah Sekolah 283,164 234,090
2 Tidak/Belum Tamat Sd 405,535 330,499
3 Sekolah Dasar 498,112 420,352
4 Smtp Umum 632,907 544,682
5 Smtp Kejuruan 754,541 559,509
6 Smta Umum 929,697 733,720
7 Smta Kejuruan 923,553 910,765
8 Diploma I/Ii 1,080,123 1,102,694
9 Akademi/Diploma Iii 1,318,921 1,102,944
10 Universitas 1,633,804 1,115,552
Rata-Rata 845,603 542,842
Sumber: BPS, Sakernas Tahun 2005

73
Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, April 2007

Tabel 3.
Tenaga Kerja Asing (TKA)
Menurut Sektor Usaha Tahun 2005
No. Sektor Usaha Jumlah Prosentase
(Orang) (%)
1 Pertanian 1.103 2,17
2 Pertambangan 8.589 16,87
3 Industri 13.212 25,96
4 Listrik, Gas Dan Air 267 0,52
5 Bangunan 4.723 9,28
6 Perdagangan 9.817 19,29
7 Angkutan 2.059 4,04
8 Keuangan 1.800 3,54
9 Jasa Lainnya 9.333 18,33
Jumlah 50.903 100,00
Sumber:Ditjen. PPTKDN, Data S.D. Desember 2005 (Diolah)

H. Kesimpulan

Dapat dikatakan ketenagakerjaan di Indonesia hingga kini masih menghadapi


beberapa ketidakseimbangan baik struktural ataupun sektoral. Walaupun telah
terjadi pergeseran namun sebagian besar angkatan kerja Indonesia masih bekerja di
sektor pertanian. Dalam hubungan ini, maka salah satu sasaran yang perlu
diusahakan adalah meningkatkan daya guna tenaga kerja. Untuk mewujudkan
pendayagunaan tenaga kerja maka perlu dilaksanakan berbagai kebijaksanaan per-
luasan lapangan kerja produktif. Sasaran utama kebijaksanaan adalah menciptakan
kondisi dan suasana yang bukan saja memberi ruang gerak inisiatif yang sebesar-
besarnya kepada para pelaku ekonomi tetapi juga sekaligus mendorong serta
membantu perkembangan usaha-usaha kecil, usaha-usaha di sektor informal dan
usaha-usaha tradisional.
Permintaan Tenaga kerja, Penawaran Tenaga Kerja Serta Upah secara teoretis
harus diperhatikan agar kebijakan-kebijakan yang dilakukan mendekati tujuan yang
diinginkan.

74
Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja serta Upah :
Teori serta Beberapa Potretnya di Indonesia--- Maimun Sholeh

Daftar Pustaka

Armelly. (1995). " Dampak kenaikan Upah Minimum Terhadap Harga dan kesempatan
Kerja Study Kasus Industri Tekstil di Indonesia : Pendekatan Analisis Input -
Output", Tesis S-2 Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta,
tidak dipublikasikan.
Atkinson, A.B. (1982). "Unemployment. Wages, and Government Policy", The
Economics Journal, Volume 92, Hal 45-50.
Bellante, Don and Jackson, Mark. (1990). Ekonomi Ketenagakerjaan, LPFE UI,
Jakarta. Bilas, Richard A. (1989). Teori Mikroekonomi. Jakarta: Erlangga
Brown, Charles; Curtis Gilray and Andrew Kohen. (1982). "The effecs of minimum
wage on employment and unemployment", Journal of Economics
Literature, VoLXX, Juni 1982.
Dornbush, R and Stanly Fisher. (1994). Macroeconomics. 6th edition. McGraw Hill, New
York.
Fehr, E. Kirchstein, G. and Riedl, A. (1996). "Involuntary Unemployment and Non-
Compensating Wage Differentials in An Experimental Labour Market", The
Economic Journal. 106 (Januari), 106 -121
Majalah Nakertrans Edisi -03 TH. XXXIV-Juni 2004
Malinvaud, E. (1982). "Wages and unemployment", The Economics Journal. Vol 92.
http://www. Nakertrans.go.id/pusdatinnaker/BPS

75

Anda mungkin juga menyukai