Anda di halaman 1dari 15

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN DALAM JUAL-BELI

ONLINE MELALUI SOSIAL MEDIA WHATSAPP

Di Susun oleh:
Nama : Jefri Kilimandu
Nim : 1316032
Tugas : Hukum Dagang

PROGRAM STUDI HUKUM


FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS KRISTEN WIRAWACANA SUMBA
WAINGAPU 2020

1
DAFTAR ISI

HALAMAN COVER……………………………………………………………………………....... 1
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………. 2

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………………. 3

1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………………. 3


1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………………… 4
1.3 Tujuan………………………………………………………………………………………… 4

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………………….. 5

2.1 Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Tidak Terlindunginya Konsumen Dalam Jual Beli
Secara Online Melalui Whatsapp…………………………………………………………... 5
2.2 Upaya Perlindungan Hukum Yang Dapat Melindungi Konsumen Dalam Transaksi
Jual-Beli Secara Online Melalui
Whatsapp………………………………………….................... 7

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………….. 14

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………... 14
3.2 Saran…………………………………………………………………………………………. 14

DAFATAR PUSTAKA……………………………………………………………………………... 15

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan teknologi informasi di dunia mengalami kemajuan yang begitu
pesat. Mulai dari perkembangan teknologi informasi itu sendiri telah menciptakan
perubahan sosial, ekonomi dan budaya. Di Indonesia itu sendiri juga mengalami dampak
positif maupun negatif, salah satunya menimbulkan permasalahan hukum terkait dengan
penyampaian informasi dan/atau transaksi elektronik. Teknologi informasi dapat
digunakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan, salah satunya adalah internet. Sejak
tahun 1995 internet mulai terbuka untuk masyarakat luas. Tim Beners–Lee
mengembangkan aplikasi Word Wide Web (www).1 Sekitar tahun 2000-an ruang lingkup
internet telah merambah hampir seluruh dunia.2
Jual-beli online terdapat suatu perjanjian jual-beli, sehingga menerbitkan suatu
perikatan, yaitu perikatan yang bersumber dari perjanjian atau sering disebut perjanjian
bernama. Jual beli online semestinya mengikuti peraturan yang ada, maka semestinya
memenuhi unsur-unsur jual-beli dalam KHUPerdata. Salah satu upaya pemerintah untuk
mewujudkan sistem transaksi yang aman dan terpercaya adalah dengan menerbitkan UU
Informasi dan Transaksi Elektronik yaitu undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik dan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012
tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.
Transaksi online setidaknya ada dua pihak yang menjadi subyek hukum yang
saling memiliki hubungan hukum antara satu dengan yang lain, pihak tersebut
diantaranya adalah pihak penjual atau pelaku usaha dan pembeli atau konsumen. Adanya
pihak pembeli sebagai konsumen memberikan alasan di dalam jual beli online juga harus
mengindahkan hak-hak konsumen yang diatur dalam undang undang perlindungan
konsumen.
1
Didik M.Arief Masyur dan Elisatris Gultom, 2005, Cyberlaw : Aspek Hukum Teknologi Informasi, cetakan I,
PT.Refika Aditama, Bandung, hlm.4
2
Asril Sitompul, 2004, Hukum Internet (pengenal mengenai masalah hukum di cyberspace), cetakan II, PT.Citra
Aditya Bakti, Bandung, hlm.vi

3
Transaksi online melalui media internet dapat menggunakan fasilitas website,
menggunakan surat elektronik (elektronik mail / e-mail), bisa juga menggunakan
electronic data interchange (EDI) atau fasilitas lain untuk bertransaksi. Salah satu jenis
transaksi online yang saat ini banyak digunakan adalah melalui Whatsapp.
Setiap transaksi perdagangan ada risiko dan permasalahan, salah satu masalah
yang dihadapi yaitu ketika terjadi suatu wanprestasi sehingga terjadi pelanggaran
terhadap hak-hak konsumen. Contoh masalah kongkrit yaitu konsumen yang merasa
dirugikan karena barang yang di beli tidak diterimanya, sehingga ia mengadukan bahwa
ia tertipu oleh toko online yang menggunakan akun whatsapp.3 Kasus lain yang terjadi
dalam jual beli online yaitu konsumen membeli barang namun setelah barang diterima
tidak sesuai dengan yang diperjanjikan.4
Berdasarkan paparan diatas akan dilakukan penelitian dengan judul
“Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Dalam Jual-Beli Online Melalui Sosial
Media Whatsapp”.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan tidak terlindunginya konsumen dalam jual beli
secara online melalui Whatsapp?
2. Bagaimana upaya perlindungan hukum yang dapat melindungi konsumen dalam transaksi
jual-beli secara online melalui Whatsapp?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan tidak
terlindunginya konsumen dalam jual beli online melalui Whatsapp.
2. Untuk mengkaji dan menganalisis upaya perlindungan hukum yang dapat melindungi
konsumen dalam transaksi jual-beli online melalui Whatsapp.

3
Adistya, 23 Juli 2013, Penipuan online Lewat Facebook oleh CybershopII, www.rumahpengaduan.com (diakses
tanggal 28 April 2020, 23.34 WITA)
4
Diana Clementya, 28 Desember 2012, Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Belanja Online,
www.hukumonline.com (diakses tanggal 28 April 2020, 23.56 WITA)

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Tidak Terlindunginya Konsumen Dalam Jual


Beli Secara Online Melalui Whatsapp
2.1.1 Alur jual-beli melalui Whatsapp.
Terjadinya proses Jual-Beli secara online melalui Whatsapp, sebagai berikut :
a. Penawaran.
b. Penerimaan
c. Pembayaran.
d. Pengiriman.

Penawaran. Penerimaan. Pengiriman Pembayaran

Gambar : Bagan mekanisme jual-beli online melalui Whatsapp.

Menurut analisis mekanisme jual beli online melalui Whatsapp tersebut


diatas dapat dikatakan transaksi online yang memenuhi syarat sahnya perjanjian
mengikat sebagai undang-undang sebagai suatu kontrak antara penjual dan
pembeli atau antara pelaku usaha dengan konsumen. Analisis tersebut berdasarkan
KUHPerdata dan teori-teori tentang kesepakatan khususnya teori kotak pos (mail
box theory).
Fakta diatas dapat ditentukan hukumnya, yaitu tentang jual-beli yang
terdapat dalam KUHPerdata, Transaksi Elektronik dalam UU ITE dan UU PK.
Menurut Pasal 1457 KUHPerdata. Dapat ditarik benang merah perjanjian online
termasuk dalam perjanjian jual beli pada umumnya, karena memenuhi syarat
menurut undang-undang.
Pernyataan diatas sejalan dengan Pasal 18 ayat (1) UU Nomor 11 tahun
2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, tentang kontrak elektronik yang
mengikat bagi para pihak. Transaksi online melalui Whatsapp dapat dikategorikan
dalam transaksi elektronik dan terdapat suatu kontrak elektronik yang mengikat
para pihak sehingga dalam hukum perlindungan konsumen berlaku prinsip

5
Hubungan Kontraktual, oleh alasan itu pelaku usaha mempunyai beban tanggung
jawab berdasarkan perjanjian dalam kontrak elektronik tersebut (Contractual
Liability). Hubungan hukum antara pelaku usaha dengan konsumen, yaitu
hubungan kontraktual sehingga berdasar doktrin The Privitiy of Contract maka
pelaku usaha wajib melindungi konsumen sesuai dengan isi kontrak dengan tujuan
agar konsumen tidak dirugikan oleh konsumen dan konsumen berhak menuntut
jika merasa dirugikan oleh pelaku usaha.

2.1.2 Kurangya penerapan dan penindakan sesuai peraturan perundang-undangan yang ada.
Salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan sistem transaksi yang
aman dan terpercaya adalah dengan menerbitkan UU Informasi dan Transaksi
Elektronik yaitu undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik dan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik untuk melaksanakan UU tersebut.
Antisipasi yang dilakukan adalah setiap sistem elektronik termasuk situs internet yang
digunakan untuk pelayanan publik harus didaftar di Kementrian terkait.
Selain hal tersebut diatas dalam UU ITE Pasal 9 tentang kewajiban
memberikan informasi yang benar bagi pelaku usaha (penjual) saat menawarkan
barang dan atau jasa, sering dilanggar oleh pelaku usaha maka banyak konsumen
yang menjadi korban atas pelanggaran hak-hak konsumen tersebut. Adapun bunyi
dari Pasal 9 UUITE yaitu : “Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem
Elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan
syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan”. Jika hal tersebut dipenuhi
oleh para pelaku usaha termasuk memberikan identitas yang benar dalam informasi
tersebut, maka pelanggaran hak-hak konsumen tentu bisa diminimalisir, terlebih lagi
jika penegakan atas pelanggaran hak-hak tersebut kurang maksimal ketika ada
pengaduan dari para konsumen, para penegak hukum kesulitan untuk menerapkan
pasal tersebut dengan kendala subyek hukum yang tidak jelas.

6
2.1.3 Kurangnnya pengetahuan konsumen tentang transaksi elektronik yang aman dan
terpercaya.
Pengguna Whatsapp pada umumnya bisa menggunakan Whatsapp tanpa
mengetahui aturan hukum atas perbuatan yang dilakukannya tersebut, atau bagi ahli
teknologi informasi ia lebih mengedepankan keamanan dari segi teknologi, namun
tidak semua pengguna Whatsapp adalah ahli teknologi (IT), bahkan pada umumnya
pengguna adalah masyarakat awam sehingga tidak mengetahui transaksi elektronik
yang seperti apa yang aman.

2.1.4 Kurangnya ketelitian konsumen dalam melakukan transaksi online melalui Whatsapp.
Hanya karena harga yang murah para pembeli akan tertarik untuk membeli barang
yang ditawarkan melalui akun Whatsapp, sehingga seakan mereka terhipnotis
mengakibatkan kurang berhati-hati dalam memilih / mengidentifikasi pelaku usaha
(penjual) yang dapat dipercaya. Ada sebuah papatah “teliti sebelum membeli”
termasuk meneliti penjual apakah bisa dipercaya atau tidak.

2.2 Upaya Perlindungan Hukum Yang Dapat Melindungi Konsumen Dalam Transaksi
Jual-Beli Secara Online Melalui Whatsapp
Pada dasarnya ada beberapa instrumen yang mengatur mengenai jual beli, pada
jual beli secara konvensional diatur dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUHPerdata), sedangkan jual beli melalui media online diatur dalam beberapa
instrument yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaran
Sistem dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik, serta Kitab Undang-Undang Hukum Pidana(KUHP). Secara khusus
perlindungan konsumen diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen.
1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Secara umum mengenai bentuk perlindungan konsumen adalah kewajiban penjual
atas barang yang diperjual belikan dalam kondisi utuh dan sesuai dengan permintaan
atau yang diperjanjikan. Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata diatur

7
mengenai kewajiban penjual yaitu menyerahkan barang, hal itu diatur dalam Pasal
1474 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Secara khusus mengenai bentuk perlindungan konsumen, berdasarkan Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata, diatur dalam Pasal 1476 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata mengenai biaya penyerahan yang dipikul oleh penjual dan Pasal 1480 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata mengenai pembatalan pembelian karena kelalaian
penjual. Hak-hak pembeli juga diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
ketentuan tersebut terdapat dalam Pasal 1481 dan 1483 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata, mengenai kondisi barang yang diterima pembeli harus dalam
kondisi utuh. Kondisi utuh yang dimaksud disini yaitu barang tersebut sesuai dengan
kondisi awal ketika akan membeli.

2. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana


Bentuk perlindungan konsumen, juga diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana.Perlindungan konsumen dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, diatur
dalam Pasal 386. Pasal 386 berisikan mengenai barang yang dijual secara dipalsu,
dan dipidana penjara paling lama empat tahun. Hal tersebut menandakan hukum di
Indonesia, tidak main-main dalam penegakan hukum kepada pelaku penipuan dalam
jual beli. Sanksi pidana penjara pun dapat dikenakan, ketika pelaku usaha atau
penjual, tidak memenuhi kewajibannya.

3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan Undang-


Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Bentuk perlindungan konsumen dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik, diatur dalam Pasal 9. Dimana dalam Pasal 9
disebutkan dengan jelas mengenai informasi yang lengkap dan benar atas kontrak
produsen, dan produk yang ditawarkan. Informasi yang jelas dan benar dimaksud
mengenai informasi atas identitas, status subjek hukum, kompetisinya, syarat sahnya
perjanjianserta menjelaskan barang dan/atau jasa yang ditawarkan, seperti nama,
alamat, dan deskripsi barang/jasa. Perbuatan yang dilarang menurut Undang-Undang

8
Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, atas suatu perjanjian jual
beli online tertuang dalam Pasal 28 ayat 1. Berdasarkan Pasal 28 ayat 1 disebutkan
dengan jelas bahwa setiap orang yang menyebarkan berita bohong dan menyesatkan
dipidana berdasarkan Pasal 45A ayat 1. Dimana dalam Pasal 45A ayat 1 disebutkan
setiap individu atau badan yang memenuhi unsur pada Pasal 28 ayat 1, dipidana
penjara maksimal 6 tahun, dan denda maksimal Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar
rupiah). Secara keseleruhan pengaturan mengenai jual beli secara online, dalam
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Diatur
secara tegas, dimana terdapat pasal yang berisi himbauan yaitu Pasal 9, dan terdapat
yang bersifat penindakan yaitu Pasal 28 ayat 1, dengan ketentuan pidana diatur
dalam Pasal 45 ayat 2.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan


Transaksi Elektronik
Pasal 49 Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 merupakan ketentuan
pelaksana dari Pasal 17 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik. Dimana disebutkan dengan jelas mengenai informasi yang
jelas atas syarat kontrak, iklan, batas waktu pengembalian, waktu pengiriman barang,
dan pelaku usaha tidak dapat membebani biaya pengiriman kepada konsumen.

5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen


Bentuk perlindungan konsumen berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Bentuk
perlindungan secara umum diatur dalam Pasal 4 mengenai hak-hak konsumen dan
Pasal 7 mengenai kewajiban pelaku usaha. Berdasarkan Pasal 4 disebutkan dengan
jelas hak-hak konsumen mengenai hak untuk mendapatkan kenyaman, kesehatan,
informasi, dan ganti rugi.Sedangkan Pasal 7 disebutkan dengan jelas kewajiban
pelaku usaha untuk beritikad baik, menjamin mutu dan memberikan pelayanan yang

9
baik dan benar. Bentuk perlindungan konsumen atas informasi yang benar dan jujur,
juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen, diatur dalam Pasal 9 dan Pasal 17 disebutkan dengan jelas mengenai
larangan atas informasi yang mengandung unsur kebohongan atas mutu barang,
potongan harga, standar mutu, keadaan yang baik ,dan barang tersedia. Ketika pelaku
usaha melanggar, maka dilarang untuk melanjutkan penawaran atau mempromosikan
barang. Kewajiban pelaku usaha, salah satunya yaitu menepati janji atas suatu
kesepakatan dalam perjanjian jual beli online. Ketika konsumen telah melaksanakan
kewajibannya, pelaku usaha berdasarkan ketentuan dalam Pasal 16 wajib untuk
menepati janjinya. Klausula Baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-
syarat yang telah ditetapkan dan dipersiapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh
pelaku usaha dalam bentuk dokumen, yang mengikat dan wajib dipenuhi konsumen.
Pada dasarnya setiap pelaku usaha berhak mencantumkan klausula baku, tetapi
ketentuan isi dari klausula baku, dilarang berisi hal-hal yang memberatkan
konsumen, dan hal-hal dilarang tersebut tertuang dalam Pasal 18, dimana klausula
baku tidak boleh mencantumkan klausula baku yang seolah-olah konsumen harus
tunduk atas aturan yang dibuat pelaku usaha.

6. Penyelesaiaan Sengketa Konsumen dalam Perjanjian Jual Beli Online sebagai Upaya
Perlindungan Konsumen
1) Upaya Perlindungan Hukum Preventif dalam Transasksi Online melalui
Whatsapp.
Upaya ini bertujuan untuk mencegah atau meminimalisir pelanggaran hak-hak
konsumen, yang pada pokoknya berisi prosedur pengamanan secara teknis baik
pendekatan hukum maupun teknologi juga etika sosial, upaya tersebut antara
lain:
a. Pendaftaran Sistem Elektronik Sebelum digunakan untuk transaksi. (sebuah
implementasi dari UUITE).
b. Menerapkan Prinsip Kehati-Hatian oleh Konsumen dan Pekalu Usaha
(Teori Caveat Emptor dan Caveat Venditor).

10
c. Sosialisasi kepada masyarakat mengenai kriteria transaksi online yang aman
dan handal (sebuah sosialisasi UUITE).
2) Upaya Perlindungan Hukum Represif dalam Transasksi Online melalui
Whatsapp.
a. Upaya hukum melalui jalur Litigasi / Gugatan melalui Pengadilan.
Menurut pasal 48 UUPK menyatakan bahwa “Penyelesaian sengketa
konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan
umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 45”.
Pasal 45 berbunyi :
(1) Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha
melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara
konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di
lingkungan peradilan umum.
(2) Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan
atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang
bersengketa.
(3) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) tidak menghilangkan tanggung jawab pidana
sebagaimana diatur dalam Undang-undang.
(4) Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar
pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh
apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu
pihak atau oleh para pihak yang bersengketa.

b. Penyelesaian melalui jalur non-litigasi / Alternatif Dispute Resolution


(ADR) / diluar pengadilan, antara lain:
Transaksi dalam jual beli online di Indonesia, seperti halnya sengketa pada
hubungan hukum yang dilakukan secara konvensional. Semakin banyak
dan luas kegiatan perdagangan, maka frekuensi terjadinya sengketa
semakin tinggi, berarti akan banyak sengketa yang harus diselesaikan.
Sengketa ini dapat terjadi karena adanya wanprestasi maupun perbuatan

11
melawan hukum. Sengketa-sengketa tersebut dapat diselesaikan melalui
proses non litigasi (alternatif Penyelesaian sengketa) maupun litigasi
(Peradilan). Penyelesaian sengketa melalui non litigasi (alternatif
penyelesaian sengketa) terdapat dua cara yaitu melaui cara damai
(negosiasi), dan melaui cara adversarial atau penyelesaian sengketa oleh
pihak ketiga yang tidak bersengketa (Badan Arbitrase Nasional Indonesia,
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, Badan Perlindungan Konsumen
Nasional, Mediasi).

a) Negosiasi
Negosiasi, yaitu cara untuk penyelesaian masalah melalui diskusi
(musyawarah) secara langsung antara pihak-pihak yang bersengketa
yang hasilnya diterima oleh para pihak tersebut. Jadi, negosiasi tampak
sebagai suatu seni untuk mencapai kesepakatan dan bukan ilmu
pengetahuan yang dapat dipelajari. Negosiasi secara khusus diatur
dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Alternatif
Penyelesaian Sengketa dan Arbitrase.
b) Badan Arbitrase Nasional Indonesia
Badan Arbitrase Nasional Indonesia adalah badan yang dipilih oleh
para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai
sengketa tertentu, lembaga tersebut juga dapat memberikan pendapat
yang mengikat mengenai suatu hubungan hukum tertentu dalam hal
belum timbul sengketa. Dasar hukum pembentukan Lembaga Arbitrase
yaitu Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa.
c) Badan Penyelesaiaan Sengketa Konsumen
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 membentuk suatu lembaga
dalam hukum perlindungan konsumen, yaitu Badan Penyelesaian
Konsumen. Pasal 1 butir 11 UndangUndang Perlindungan Konsumen
(UUPK) menyatakan bahwa Badan Penyelesaiaan Sengketa Konsumen
(BPSK) adalah badan yang bertugas menangani dan menyelesaikan
kasus-kasus dan sengketa konsumen. BPSK sebenarnya dibentuk untuk

12
menyelesaikan kasus-kasus sengketa konsumen yang berskla kecil dan
bersifat sederhana.
d) Badan Perlindungan Konsumen Nasional
Badan Perlindungan Konsumen Nasional diatur dalam Pasal 31 sampai
dengan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen. BPKN yang dibentuk pemerintah merupakan
lembaga independen yang berfungsi memberikan saran dan
pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan
perlindungan konsumen di Indonesia. BPKN terdiri dari unsur
pemerintah, pelaku usaha, LPKSM, akademisi dan tenaga ahli, yang
saat ini keseluruhannya berjumlah 17 anggota serta dibantu beberapa
staf sekretariat, berkedudukan di Jakarta.
e) Mediasi
Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses
perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator
yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah
penyelesaian. Ciri utama proses mediasi adalah perundingan yang
esensinya sama dengan proses musyawarah atau konsensus. Sesuai
dengan hakikat perundingan atau musyawarah atau konsensus, maka
tidak boleh ada paksaan untuk menerima atau menolak sesuatu gagasan
atau penyelesaian selama proses mediasi berlangsung.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi sang pesat ini kita harus lebih
teliti dalam hal pemanfaatan. Sebab dilain sisi dapat menimbulkan dampat negatif bila
dalam pemanfaatannya tidak diawasi dan disikapi dari sisi hukum. Di Indonesia belum ada
peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur tentang kegiatan transaksi
jual beli online di Indonesia. Adapun salah satu produk hukum yang dapat digunakan
sebagai pedoman dalam hal ini adalah UUPK. Meskipun demikian masih sangat
diperlukan undang-undang terhadap kasus penipuan dalam transaksi online, sebab selain
dapat memberikan perlidungan terhadap hak konsumen juga melindungi pelaku bisnis
online yang beritikad baik dalam usaha jual beli online.

Hasil dari penelitian didapati faktor-faktor penyebab tidak terlindunginya


konsumen dalam jual-beli online melalui Whatsapp adalah adanya akun Whatsapp yang
identitasnya fiktif atau palsu, tidak diterapkannya peraturan perundang-undangan yang
mengatur hal tersebut, kurangnya Pengetahuan konsumen mengenai transaksi online dan
kurangkehati-hatian konsumen dalam melakukan transaksi online. Mengenai upaya
perlindungan hukum bagi konsumen dalam jual-beli online melalui Whatsapp adalah
dengan upaya preventif dari pemerintah atau dari konsumen sendiri dan upaya represif
berupa penegakan hukum untuk melindungi konsumen.

3.2 Saran

Saran yang dapat diberikan adalah perlu dilakukan monitoring dan evaluasi yang
berkesinambungan oleh Pemerintah khususnya Departemen Kominfo dan Departemen
Perdagangan, atau membentuk “Komisi Khusus” pengawasan perdangangan online yang
bertujuan untuk monitoring dalam bidang perdagangan online.

14
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Asril Sitompul, 2004, Hukum Internet (pengenal mengenai masalah hukum di cyberspace),
cetakan II, PT.Citra Aditya Bakti

Edmon Makarim, 2005, Pengantar Hukum Telematika, Badan Penerbit FH UI-PT.Raja


Grafindo, Jakarta

Peter Mahmud Marzuki, 2008, Penelitian Hukum, cet.2, Kencana, Jakarta

Herman Warsito, Pengantar Metodologi Penelitian, Buku Panduan Mahasiswa, (Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama, 2007)

Herlien Budiono, Ajaran Umum Hukum Perjanjian dan Penerapannya dibidang Kenoratiatan,
Bandung: Citra Aditya, 2010

Didik M.Arief Masyur dan Elisatris Gultom, 2005, Cyberlaw : Aspek Hukum Teknologi
Informasi, cetakan I, PT.Refika Aditama, Bandung

Karya Ilmiah :
Osie Luthfia Katrini, 2013, Pelaksanaan Perjanjian Jual Beli Online Sepatu Lukis Melalui
Media Facebook Ditinjau dari Sahnya Perjanjian Pasal 1320 KUHPerdata, Tesis
Magister Kenotariatan UNDIP, Semarang

Internet :
Adistya, 23 Juli 2013, Penipuan online Lewat Facebook oleh CybershopII,
www.rumahpengaduan.com
Diana Clementya, 28 Desember 2012, Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Belanja Online,
www.hukumonline.com

15

Anda mungkin juga menyukai