Anda di halaman 1dari 31

Gelombang Penolakan Omnibus Law,

Akademisi Soroti Cara Komunikasi


Pemerintah
Reporter:

Fajar Pebrianto
Editor:
Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

Minggu, 11 Oktober 2020 04:58 WIB


0 komentar
AddThis Sharing Buttons
Share to Facebook
Share to TwitterShare to WhatsAppShare to LINEShare to More
 
 

Petugas melakukan pembersihan sisa puing di Halte Transjakarta Sarinah, Jakarta, Jumat, 9
Oktober 2020. Sejumlah fasilitas umum rusak pasca kerusuhan demo tolak Omnibus Law UU
Cipta Kerja pada Kamis, 8 Oktober 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis
TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah akademisi menyoroti persoalan komunikasi dari pemerintah
terkait UU Omnibus Law Cipta Kerja, yang menuai penolakan masif di masyarakat. Pandangan
ini disampaikan dalam acara sosialisasi yang digelar oleh Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian dalam Jumat kemarin, 9 Oktober 2020.

"Manajemen komunikasinya belum optimal," kata Pakar Komunikasi Politik dari Universitas
Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing yang menjadi salah satu peserta dalam acara sosialisasi
ini saat dihubungi di Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2020.

Sosialisasi ini dipimpin oleh Raden Pardede dari tim asistensi Kemenko Perekonomian. Dalam
salinan surat yang diterima Tempo, ada 33 daftar undangan, mulai dari akademisi, pengusaha,
Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sosialisasi ini digelar lima hari setelah Omnibus Law disahkan pada Senin, 5 Oktober 2020.
Setelah pengesahan, gelombang protes pun menjalan di sejumlah kota. Aksi unjuk rasa menolak
UU Cipta Kerja lalu berujung kericuan pada 6 sampai 8 Oktober 2020.

Lebih lanjut dalam acara ini, Emrus menyampaikan bahwa substansi dari Omnibus Law ini
sebenarnya bagus. Salah satunya karena memberikan kemudahan berusaha bagi usaha kecil dan
memangkas birokrasi yang ada.

Masalahnya, manajemen komunikasi tidak dilakukan secara optimal. Padahal seharusnya, kata
dia, komunikasi ini harus dimulai sejak ide Omnibus Law ini dibuat sampai dengan tahap
pelaksanaannya nanti. "Komunikasi jadi kunci utama," kata dia.

Dalam acara ini, Emrus menyebut tim dari Kemenko juga mengakui ada persoalan komunikasi
dalam Omnibus Law. Tapi, kata dia, Raden Pardede sudah berjanji akan memperbaiki
komunikasi ini ke depannya.

Peserta lain yang diundang yaitu Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter
Abdullah. Ia menyayangkan proses penyusunan Omnibus Law tidak dilakukan dengan baik.

Sejak awal proses penyusunan, kata Piter, stigma negatif sebenarnya sudah lahir dari Omnibus
Law ini. Tapi ternyata sepanjang penyusunan tidak diredam oleh pemerintah. "Ketika disahkan,
stigma itu meledak," kata dia.

Piter mengatakan masih ada waktu untuk memperbaiki proses yang ada. Ia menyarankan agar
pembentukan aturan turunan dari Omnibus Law ini tidak dilakukan secara buru-buru. "Jalan
bareng merangkul semua pihak," kata dia.

Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal
Damuri pun ikut dalam acara ini, Semua Emrus dan Piter, Yose pun menyinggung persoalan
komunikasi pemerintah dalam Omnibus Law.

"Kelihatannya pemerintah sekarang tidak belajar dari pengalaman subsidi BBM," kata dia.
Sebelumnya, pemerintah telah beberapa kali menerapkan kebijakan pencabutan subsidi ini.
Menurut Yose, ini adalah salah satu contoh sukses menerapkan kebijakan yang kontroversial.
Lantaran sebelumnya, pemerintah sudah gencar memberikan pembelajaran ke publik bahwa
subsidi BBM itu tidak tepat sasaran.

Sehingga bisa berjalan lancar saat akan diterapkan. Terlebih, pencabutan subsidi juga sempat
dilakukan saat harga minyak dunia sedang turun. "Harusnya dari awal, bisa belajar dari itu," kata
dia.

Ketika dihubungi, Raden Pardede membenarkan acara sosialisasi ini dan mengatakan memang
ada penguatan komunikasi untuk menjelaskan Omnibus Law yang sudah disahkan. "Kami akan
melanjutkan komunikasi publik ke depan," kata dia.

Bahkan, Raden menyebut pemerintah juga akan melibatkan akademisi untuk ikut aktif dalam
mengawal pembuatan Peraturan Pemerintah (PP) dari Omnibus Law. Sesuai dengan Pasal 185
Omnibus Law, PP maupun Peraturan Presiden (Perpres) sebagai pelaksana Omnibus Law wajib
ditetapkan paling lama tiga bulan.
8 Disinformasi RUU Omnibus Law di
Medsos Versi Kemenkominfo
Dini Nur Asih, CNN Indonesia | Minggu, 01/03/2020 12:02 WIB

Bagikan :  

Ilustrasi Kominfo. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Jakarta, CNN Indonesia -- Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law menjadi sorotan karena
dinilai merugikan sejumlah pihak. Mereka khawatir penerbitan aturan tersebut nantinya akan
berdampak pada penghasilan.

Seiring berjalannya waktu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menilai masih


banyak disinformasi atau penyampaian informasi yang salah soal RUU itu dan terus memantau
penyebaran informasinya di media sosial. Hal itu dilakukan untuk mencegah opini keliru.

"Kalau soal monitoring, pasti monitoring. Atau mau di-take down (diturunkan) semuanya? Nanti disebut
menteri take down lagi," kata Menkominfo Johnny G. Plate usai konferensi pers di kantor
Kemenkominfo, Jakarta, Rabu (26/2).

"Kita pemerintah ingin agar niat utama dan niat baiknya itu untuk membantu perekonomian kita, jangan
sampai berkembang persepsi masyarakat Omnibus Law ini buruk untuk perekonomian kita. Kan
tujuannya baik," sambung dia.

Lihat juga:
Menkominfo Respons soal Cuti Hamil Dihapus di Omnibus Law

"Media sosial kalau ada yang salah, tolong media mainstream itu memperbaikinya juga. Jangan
membiarkan yang salah."

Omnibus Law mendapat kritik dari sejumlah elemen. Kelompok buruh, misalnya, khawatir Omnibus Law
Cipta Lapangan Kerja (RUU Cilaka) bakal jadi alat pemerintah mendapatkan investasi asing melalui cara-
cara kolonial.

Serikat buruh juga menolak rencana Jokowi mengubah rumus perhitungan Upah Minimum Provinsi
(UMP) dalam RUU tersebut. Karena takutnya rencana itu bakal memunculkan ketimpangan upah bekerja
dan memiskinkan buruh.

RUU ini dinilainya sangat berbahaya dengan sifatnya yang multisektor mengatur soal perizinan,
kehutanan, lingkungan hingga perburuhan. Terlebih kentara lagi dengan jangka waktu penyusunan yang
dikebut.

Dikutip dari rilis resmi Kemenkominfo, berikut delapan penyebaran disinformasi di media sosial terkait
RUU Omnibus Law.

1. Disinformasi: cluster tiga soal ketenagakerjaan, upah minimum tidak turun atau ditangguhkan.
Faktanya: tidak, semangat upah minimum tidak turun. Karena UU Cipta Kerja terkait tentang upah.

2. Disinformasi: pesangon PHK dihapuskan. Faktanya: tidak mungkin, kalau disesuaikan iya dengan cara
perhitungan yang pas sesuai masa kerja diatur secara teknis di dalamnya.

3. Disinformasi: mempermudah masuknya tenaga kerja asing. Faktanya: ada kebutuhan tenaga kerja
asing yang belum tersedia dan dibutuhkan kehadirannya untuk memastikan investasi berjalan dengan
baik.

4. Disinformasi: cuti hamil, cuti tahunan, cuti besar dihapus. Faktanya: tidak, tetap ada dan diatur
dengan baik untuk memastikan kelancaran investasi agar lapangan pekerjaan itu tidak terhambat.

Lihat juga:
Koalisi Sipil: Omnibus Law Ciptaker Sudutkan Masyarakat Adat

5. Disinformasi: isu lingkungan seperti bangunan gedung, penghapusan izin, lingkungan hidup dan amdal
dsb. Faktanya: tidak mungkin karena kita paru paru dunia, tetap harus jadi perhatian, proses amdalnya
yang dipercepat dan dipermudah. IMB dipermudah, tidak perlu duplikasi rumah yang bersebelahan
semua harus ber-IMB.

6. Disinformasi: jaminan produk halal. Faktanya: jaminan tidak hilang tapi dipercepat dan tetap harus
ada campur tangan MUI juga lembaga lain yang bisa membantu mempercepatnya.

7. Disinformasi: sentralisasi kewenangan hanya di tangan presiden. Faktanya: Indonesia memang sistem
presidensial, kekuasaan eksekutif ada di presiden dan terdistribusi ke Pemprov/Pemkab/Pemkot sesuai
undang-undang.

8. Disinformasi: pemerintah pusat bisa mengubah peraturan perundang undangan dengan PP. Faktanya:
Tidak seperti itu, sistem ketatanegaraan Indonesia tidak mungkin PP mengatur PP. PP menerjemahkan
untuk lebih teknisnya.

(din/mik)

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200227122201-192-478685/8-disinformasi-ruu-omnibus-
law-di-medsos-versi-kemenkominfo
Omnibus Law, Masalah Komunikasi dan
Mencari Keseimbangan
Kamis 08 Oct 2020 08:18 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Massa membakar motor saat bentrok dengan pihak Kepolisian pada aksi demonstrasi di
lingkungan kantor Pemerintah Provinsi Lampung, Lampung, Rabu (7/10/2020). Aksi tersebut
sebagai penolakan RUU Cipta Kerja yang telah disahkan oleh DPR RI.

Foto: ARDIANSYAH /ANTARA FOTO


Ada lima masalah komunikasi dalam pembahasan UU Cipta kerja

REPUBLIKA.CO.ID, -- Verdy Firmantoro, Dosen Komunikasi Politik FISIP


UHAMKA  dan Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi FISIP Universitas
Indonesia.

Lihat juga:

Pemprov DKI Jakarta Beri Bantuan ke Pertokoan yang Terbakar

Petugas Pemadam Kebakaran dibantu warga memadamkan api yang menghanguskan bangunan
di kawasan Senen, Jakarta.

Krisis kesehatan dan krisis ekonomi atas terpaan gelombang pandemi belum usai, kini muncul
ancaman krisis kepercayaan publik akibat gelombang Omnibus Law. Upaya pemerintah keluar
dari jurang resesi dan jebakan middle income trap dengan payung Undang-Undang “Sapu Jagad”
justru disikapi kontra oleh publik secara luas terutama kalangan buruh. Pihak pemerintah dan
DPR RI meyakini bahwa strategi itu sebagai jalan membuka kran investasi, tetapi bagi sebagian
kalangan justru regulasi itu dinilai mengancam kelestarian lingkungan hidup dan merongrong
masa depan rakyat (buruh, nelayan, petani bahkan generasi) di bawah bendera oligarki.

Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan dan dirugikan? Mengapa jika UU Cipta Kerja
diproyeksikan untuk pembangunan hajat hidup rakyat justru menuai protes yang masif?
Bukannya jika itu untuk kepentingan “negara bangsa” bukan “negara korporasi” justru mendapat
dukungan publik? Apa yang salah? Siapa yang sedang bermain-main di balik semua ini? Ingat
saat ini era cyber-democracy, situasi yang diisi dengan membanjirnya informasi. Salah ucap saja
bisa dibui, apalagi salah ambil kebijakan, bisa jadi pertaruhan. Tetapi, saya memandang
persoalan terbesar saat ini adalah masalah komunikasi. Krisis kepercayaan publik terhadap
pemimpin dan wakil rakyatnya adalah sebuah bencana demokrasi. 

Kontestasi Kepentingan dan Krisis Kepercayaan Publik

Gelombang protes ber-tagar #MosiTidakPercaya; #BatalkanOmnibusLaw; #RUUCilaka


#JegalSampaiBatal; #GagalkanOmnibusLaw; #ReformasiDikorupsi; #TolakOmnibusLaw
membanjiri jagad media sosial. Tidak berhenti di ruang maya, penetrasi aksi massa juga sudah
menyebar di berbagai titik. Praktis pasca disahkan pada 5 Oktober 2020, langsung menuai pro
dan kontra. Di satu sisi hadirnya Omnibus Law disambut meriah oleh sejumlah kalangan, namun
sebaliknya meradang di pihak yang lain. 

Kalangan yang menyambut positif Omnibus Law tentu pemerintah, DPR RI dan pebisnis.
Sementara di lain pihak, gabungan masyarakat sipil, di antaranya buruh, nelayan, petani,
mahasiswa termasuk sejumlah ormas seperti PBNU, PP Muhammadiyah berada di barisan
menolak Omnibus Law. Pihak-pihak yang pro berdalih bahwa Omnibus Law dapat memuluskan
investasi dan mendongkrak ekonomi nasional. Sementara pihak yang kontra memandang bahwa
Omnibus Law hanya menjadi “karpet merah” bagi para elite dan oligark serta justru semakin
menyengsarakan rakyat. Mereka yang setuju beranggapan bahwa melalui UU Cipta Kerja
menjadi solusi menghadapi resesi termasuk berkaitan dengan upaya menciptakan lapangan kerja
dan memperlancar birokrasi perizinan, sementara yang menolak cenderung menilai belum
dilibatkan secara penuh bahkan beberapa pihak beranggapan dalam perumusan Omnibus Law
ada kesan mengesampingkan partisipasi publik yang lebih luas.

Pihak DPR RI dan pemerintah mencoba memberikan klarifikasi atas beragam penolakan yang
muncul, mulai dari uang pesangon dihilangkan; Upah Minimum Regional (UMR) dihapus; upah
buruh dihitung per jam; semua hak cuti hilang dan tidak diberi kompensasi; outsourching diganti
dengan kontrak seumur hidup; tidak ada status karyawan tetap; perusahaan dapat melakukan
PHK secara sepihak; jaminan sosial dihilangkan; semua karyawan distatuskan tenaga kerja
harian; tenaga kerja asing lebih longgar masuk; buruh dilarang protes jika ter-PHK; serta libur
hari raya hanya di tanggal merah bahkan tidak ada tambahan cuti. Semua poin-poin itu ditentang
oleh pihak pemerintah dan DPR RI dengan menyatakan informasi yang berkembang itu tidak
benar atau hoaks. 

Kontestasi kepentingan dengan memperhadapkan antara pemerintah dan DPR RI vs rakyat tidak
menyelesaikan masalah. Bahkan jika meminjam istilah Jay G. Blumer (2018), kondisi seperti itu
justru memungkinkan semakin meningkatkan krisis kepercayaan publik akibat eskalasi
ketidakpastian politik, fragmentasi opini publik, komunikasi akar rumput yang tidak tuntas
termasuk menutup suara-suara alternatif. 

https://republika.co.id/berita/qhuzne385/omnibus-law-masalah-komunikasi-dan-mencari-titik-
keseimbang
12 October 2020, 23:55 WIB Omnibus Law dan Komunikasi Publik Raja H Napitupulu,
Konsultan Komunikasi Independen, Doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Universitas
Gadjah Mada | Opini Dok.pribadi Dok.pribadi AKSI demonstrasi mahasiswa dan buruh sejak 5-7
Oktober lalu akhirnya membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) 'turun gunung' untuk
mengklarifikasi berbagai asimetris informasi (baca: hoaks) yang beredar di masyarakat terkait
konten dari omnibus law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. Sekembali dari Pulang Pisau, di
Kalimantan Tengah, pada Jumat 9 Oktober 2020, Presiden Jokowi memberikan pemahaman
kepada rakyat Indonesia tentang maksud dan tujuan dibentuknya regulasi itu. Argumen penting
Presiden menyebutkan, ada 3 aspek penting yang menjadi argumentasi pemerintah menerbitkan
UU itu; pertama, dampak pandemi covid-19 dipastikan mengganggu perekonomian bangsa,
sehingga mengganggu kehidupan 10,4 juta pekerja. Terdiri dari 6,9 juta pekerja menganggur dan
3,5 pekerja terdampak. Hal itu diperparah dengan masuknya 2,9 juta angkatan kerja baru yang
membutuhkan pekerjaan. Artinya, dampak pandemi membuat pemerintah berpikir keras
menyatakan kehadirannya terhadap sebanyak 13,3 juta penduduk yang membutuhkan pekerjaan
memadai. Kedua, memberi ruang kemudahan bagi masyarakat memulai usaha mikro dan kecil.
Salah satunya, kemudahan perizinan berusaha, baik dari segi legalitas, modal awal yang harus
disediakan hingga pemangkasan rantai birokrasi perizinan. Selama ini, kalangan dunia usaha
mengeluhkan panjangnya rantai birokrasi yang harus ditempuh untuk memperoleh perizinan
sehingga menciptakan high cost economy. Akibatnya, harga jual menjadi mahal dan tidak
kompetitif, yang pada akhirnya membebani masyarakat. Ketiga, melalui pemangkasan rantai
birokrasi dipastikan menurunkan tarif pengurusan perizinan sehingga menjadi sangat efektif.
Siluman-siluman yang selama ini bersembunyi di balik gelapnya rantai birokrasi, kini sangat
dirugikan karena cahaya UU Cipta Kerja yang menyorot terang. Intinya, potensi korupsi dan area
abu-abu kini tertutup rapat. Pembaharuan dan terobosan besar yang direncanakan pemerintah,
merupakan agenda besar menuju Indonesia maju. Karenanya, peran aktif dan dukungan
masyarakat sangat diperlukan guna mewujudnyatakan harapan itu. Pemerintah tidak bisa bekerja
sendiri. Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat secara aktif, dan tentu saja Presiden
Jokowi tidak bisa bekerja sendiri. Itu sebab rakyat Indonesia membayar seluruh kebutuhan hidup
para pembantu presiden untuk mendukung kepala negara dalam mensosialisasikan (difusi) dan
mengimplementasikan kebijakan pemerintah. Namun, yang terlihat justru kurangnya pemahaman
publik terhadap agenda pembangunan lewat UU Cipta Kerja. Apakah menjadi tugas presiden
untuk mengomunikasikan kebijakan pemerintah kepada masyarakat? Apakah para pembantu
presiden tidak mampu mengomunikasikan maksud dan tujuan UU Cipta Kerja itu kepada
masyarakat secara edukatif? Mengapa gelombang penolakan begitu kuat dilontarkan publik
terhadap kehadiran UU itu? Apa sebenarnya yang terjadi dalam komunikasi pemerintah? Perlu
diingat bahwa, ruang publik dipahami sebagai domain komunikasi publik, dan komunikasi
publik didefinisikan sebagai proses komunikasi yang berorientasi pada pembentukan keputusan
kolektif tentang hal-hal yang baik (Hänska, 2012). Komunikasi publik Mantan Dirjen Informasi
dan Komunikasi Publik Kominfo, Rosarita Niken Widiastuti mengakui bahwa di antara
pemerintah dan publik terjadi problem komunikasi, yang menghasilkan persepsi positif maupun
negatif publik. Pilar demokrasi melibatkan peran eksekutif, legislatif, yudikatif, dan media
massa, dimana komunikasi menjadi pemersatu seluruh pilar. Artinya, tanpa komunikasi publik
yang proporsional, sulit mengharapkan tercapainya target pembangunan. Presiden Jokowi
bahkan telah memberikan 8 arahan kepada kementerian/lembaga (K/L) terkait komunikasi publik
demi kepentingan rakyat. Pertama, informasikan apa yang akan, sedang, dan telah dikerjakan
pemerintah. Kedua, informasikan secepat-cepatnya. Ketiga, jangan menunggu ditanya. Keempat,
rakyat perlu informasi. Kelima, lakukan konsolidasi dan koordinasi agar tersambung. Keenam,
negara jangan kalah sama pengamat. Ketujuh, kerjakan tugas jangan dengan cara lama/pola
lama. Kedelapan, pemerintah inginkan kepercayaan masyarakat. Arahan ini diperkuat oleh
Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9/2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik, yang
menyebutkan tujuan komunikasi publik untuk menyerap aspirasi publik, dan mempercepat
penyampaian informasi tentang kebijakan dan program pemerintah. Karenanya, penyampaian
informasi kepada masyarakat harus dilakukan secara tepat, cepat, objektif, berkualitas baik,
berwawasan nasional, serta mudah dimengerti terkait kebijakan dan program pemerintah, melalui
berbagai saluran komunikasi. Namun aksi demonstrasi masyarakat yang terjadi akhir-akhir ini,
menunjukkan tidak berdampaknya arahan presiden. Masyarakat semakin mudah menaruh
kecurigaan atas kebijakan-kebijakan pemerintah. Dengan kata lain, arahan presiden tidak efektif
di lapangan. Fokus capaian Maximillian T Hänska-Ahy (Hänska-Ahy, 2012) mengorelasikan
komunikasi publik dengan upaya pemerintah mendapatkan dukungan publik bagi setiap
keputusan melalui diskusi, untuk memperoleh keputusan yang sah dari suatu kebijakan. Hal
senada juga dikatakan Habermas (Edgar, 2006) yang mengingatkan agar setiap pihak
mengedepankan komunikasi dan diskusi rasional dalam pengambilan keputusan. Penjelasan
Presiden Jokowi di atas cukup berhasil menenangkan publik, terutama kalangan yang
membutuhkan klarifikasi pemerintah tentang substansi omnibus law UU Cipta Kerja. Paling
tidak terlihat dari meredanya gelombang aksi demonstrasi mahasiswa dan buruh pascapenjelasan
tersebut. Namun sangat disayangkan, karena harus presiden yang langsung turun tangan
memberikan klarifikasi. Padahal tugas itu dapat dilakukan oleh para menteri kabinet sebagai
pembantu presiden. Dalam hal ini, paling tidak ada 3 hal menarik yang menjadi kemungkinan
penyebab terjadi aksi demonstrasi mahasiswa dan buruh menolak UU Cipta Kerja, terkait
komunikasi publik; pertama, menteri terkait tidak memiliki kapasitas untuk mensosialisasikan,
menjelaskan dan mengedukasi publik terkait omnibus law UU Cipta Kerja. Akibatnya, terjadi
pembiaran publik dalam memaknai maksud dan tujuan pemerintah menerbitkan UU itu. Padahal,
pada beberapa kesempatan menteri-menteri terkait kerap berbicara di media dan asosiasi buruh
serta pengusaha dalam konteks tripartit, namun tidak mencapai titik temu yang berujung pada
aksi demo. Kedua, pemerintah ingin memberi ruang bagi presiden untuk menjelaskan secara
langsung kepada rakyat Indonesia betapa penting dan strategisnya UU itu. Dengan demikian,
presiden dinilai semakin dekat dengan masyarakat dan memahami kegelisahan masyarakat.
Hanya melalui penjelasan dan penegasan presiden, masyarakat dapat berhenti melanjutkan aksi
demo menentang UU itu. Jika ini benar, sesungguhnya seberapa penting peranan pembantu
presiden dalam menjalankan komunikasi publik kepada rakyat Indonesia? Khususnya jika
ditinjau berdasarkan Inpres 9/2015. Ketiga, ada kelompok tertentu yang berkepentingan dengan
penolakan UU Cipta Kerja itu untuk mempertahankan kenyamanan yang selama ini diperoleh,
atau mencoba memanfaatkan momentum guna mencapai targetnya. Kelompok ini mencoba
bermain di air keruh, yang dampaknya kerugian pada masyarakat dan negara. Solusi konkrit Bila
argumentasi ini diteruskan, masih bisa dipikirkan beberapa kemungkinan lainnya penyebab aksi
demo menentang UU itu. Namun narasi pemikiran ini harus mengerucut pada solusi konkrit yang
mungkin dapat menjadi pertimbangan semua pihak terkait; pertama, setiap pihak berupaya aktif
dalam setiap pembelajaran kebijakan yang diterbitkan pemerintah. Pemerintah -termasuk
parlemen sebagai wakil rakyat- menjalankan fungsi dan perannya mengedukasi publik melalui
narasi-narasi edukatif, sementara publik belajar menghormati sosialisasi informasi yang
disampaikan pemerintah sehingga tercipta sinergi optimal sebagai energi aktif pembangunan.
Kedua, setiap pihak belajar menahan diri dalam berkomentar terhadap pihak lain. Pemerintah
dan masyarakat hendaknya tidak lagi melontarkan narasi-narasi provokatif yang dapat memicu
timbulnya perdebatan sia-sia serta berpotensi menciptakan penolakan satu sama lain. Sebagai
sesama ciptaan Tuhan yang derajatnya di atas ciptaan lain, manusia berperan untuk mewujudkan
rasa saling hormat, saling mengasihi dan saling membangun satu sama lain, sehingga upaya
saling menghargai bukan hal sulit. Ketiga, tidak semua manusia memiliki kemampuan yang
sama, meski kembar sekalipun. Karenanya, dalam proses edukasi yang disampaikan pemerintah
perlu mengedepankan sikap sabar dan mengasihi. Dengan mengasihi, maka seseorang akan
mampu bersikap sabar terhadap pihak yang dikasihinya. Seorang ibu yang mengasihi anaknya,
akan sabar mendidik hingga anaknya memahami maksud didikan sang ibu. Melalui komunikasi
publik yang tepat, pemerintah dapat membuktikan bahwa karya pelayanannya bagi negeri
didasarkan pada kasih untuk membangun seluruh masyarakat. Keempat, setiap pihak berupaya
meningkatkan literasi terkait program pembangunan pemerintah, sehingga berimplikasi pada
peningkatan partisipasi publik. Pembangunan bangsa ditujukan untuk seluruh masyarakat,
karenanya peran aktif semua pihak wajib dibutuhkan. Saat menjadi wali kota Solo, Jokowi
pernah mengungkapkan slogannya dalam mengatasi beragam permasalahan, yaitu ‘segala
sesuatu bisa diselesaikan di meja makan.’ Akan menarik bagi publik, jika seandainya
pemahaman yang sama juga diterapkan dalam upaya pemerintah melakukan difusi bagi
kebijakan-kebijakannya. Mengingat kultur mayoritas masyarakat Indonesia dengan semangat
kerelaan menghormati pemimpinnya, apalagi pemimpin yang memahami kebutuhan dasar
masyarakatnya. Semoga.

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/read/detail/352210-omnibus-law-dan-komunikasi-publik
Pengakuan Ganjar Pranowo yang juga tidak
Tahu Isi Omnibus Law
SHARE

Foto: Ganjar Pranowo (CNBC Indonesia/Shalini)

Jakarta, CNBC Indonesia -

terjadi di beberapa daerah, termasuk Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai aksi unjuk rasa yang dilakukan kebanyakan oleh
mereka yang tidak mengetahui isi pasti dari UU Cipta Kerja tersebut. Bukan hanya pedemo,
banyak kepala daerah yang juga belum mengetahui secara pasti isi dari omnibus law.

"Saya coba komunikasi dengan pedemo yang sebenarnya tidak tahu isinya. Kami yang ditanya
juga tidak tahu isinya, makanya kami cari tahu ke pemerintah pusat, dan didapatkan beberapa
slide yang dan diberikan kepada mereka," kata Ganjar kepada CNBC Indonesia, Selasa
(13/10/2020).

Dia pun mengundang peserta aksi unjuk rasa, perguruan tinggi, pengusaha, hingga buruh, untuk
melakukan sosialisasi. Menurut Ganjar, perguruan tinggi dapat membantu memberikan
penjelasan mengenai omnibus law. Namun, basis datanya harus dibuka dan penting untuk
membuat siaran bersama agar tidak ada kesalahpahaman.

Terlepas dari kontroversinya, Ganjar menilai peran UU baru ini penting untuk meningkatkan
perekonomian apalagi di masa pandemi Covid-19.

"Saya ingatkan pada demonstran, saya ini mendampingi perusahaan dan buruh yang lagi tidak
baik, pertama PHK, kedua dirumahkan," ujarnya.

Dari sekian banyak perusahaan yang melakukan PHK, menurut dia, hanya 5% yang dapat
menjalankan sesuai ketentuan. Hal inilah yang menurut Ganjar sedang dinegosiasikan, apalagi
saat ini kondisi perusahaan pun tidak baik.

"Makanya saya titip kepada industri agar tidak ada PHK atau dirumahkan, maka UU ini jadi pas.
Sementara kami menyiapkan tempat baru untuk industri, agar ekonomi bisa cepat pulih seperti
Kawasan Industri Kendal, Brebes, Batang. Kalau bisa menampung investor baru mereka bisa
masuk lagi," ujar Ganjar.

"UU Cipta kerja memangkas sekian banyak perizinan masa tidak setuju," tambahnya.
Baca:
Kocak! Draf Omnibus Law: 1.028, 905, 1.035 & 812 Halaman

Ganjar menilai UU ini sangat baik. Hanya saja harus dilakukan pendampingan tenaga kerja dan
dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian masalah utama pada UU ini adalah komunikasi. Jika komunikasi tidak bagus,
data science, dan buktinya tidak terlihat maka akan muncul kecurigaan di tengah masyarakat.

Jika ada yang memanfaatkan agenda demonstrasi untuk tujuan tertentu pun tidak dapat diketahui
untuk itu harus ada transparansi pemerintah pusat kepada masyarakat. Hal ini untuk menghindari
timbulnya suasana yang tidak kondusif, dari sosial politik, hingga ekonomi.

"Kami minta pemerintah pusat dan DPR untuk transparan, karena yang ikut ini anak-anak SMP
dan SMK yang ikut-ikutan tetapi tidak tahu, sehingga komunikasi harus masif," kata dia.

Permasalahan setiap daerah sama, yakni belum ada yang memegang draft dari UU Ciptaker. Hal
itu membuatnya tidak berkirim surat kepada pemerintah untuk menolak ataupun menunda. Dia
mengakui problem yang dihadapi di provinsi adalah tekanan politik ini yang tidak enak, sehingga
harus ada komunikasi yang lebih baik.

"Kalau memang saya dibilang mendukung pak Jokowi, saya memang satu kubu untuk
memudahkan perizinan, memangkas pungli," ujar Ganjar.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20201013125709-4-193940/pengakuan-ganjar-pranowo-yang-
juga-tidak-tahu-isi-omnibus-law
SBY Ungkap Alasan Demokrat Tolak UU
Omnibus Law: Masih Ada Waktu, Ajak
Masyarakat Komunikasi Dulu
Ferdinandi Pratama Putra
- 13 Oktober 2020, 07:31 WIB

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. /Dok. Pikiran-rakyat/


Anda wajib minum ini! Agar tensi 120/80 dan pembuluh darah bersih
Pelajari Lebih→
PR CIREBON - Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Bambang Yudhoyono ( SBY)
mengungkapkan alasan partainya menolak pengesahan RUU Cipta Kerja menjadi undang-
undang dalam Rapat Paripurna DPR, Senin 5 Oktober 2020.
 
Menurut SBY, masih terdapat substansi dalam RUU Cipta Kerja yang bermasalah, baik itu
pasal-pasal dan konsen pemerintah, seperti untuk menciptakan lapangan kerja, investasi dan
perekonomian.
 
"Yang dipikirkan oleh Fraksi Demokrat itu di sana sini masih ada masalah, jadi perlu waktu lah
untuk menuntaskan supaya clear," ujarnya. dikutip PikiranRakyat-Cirebon.com dari RRI 
 
Baca Juga: Hanya Judicial Review UU Omnibus Law Harapan Rakyat, BEM: Legislatif
dan Perppu Mutlak Hasilnya
 
SBY juga mengatakan, bahwa Partai Demokrat menolak RUU tersebut disahkan karena menuai
penolakan dari elemen masyarakat dan sangat merugikan beberapa faktor seperti kelompok
pecinta lingkungan, petani, dan masyarakat di daerah.
 
Oleh karenanya, jika RUU tersebut tetap disahkan, maka akan menimbulkan perlawanan yang
besar.
 
"Mengapa tidak? Ini usulan demokrat, sebetulnya masih ada waktu entah sebulan, dua bulan tiga
bulan sampai betul-betul bulat," ucapnya.
 
SBY pun menyarankan, pemerintah dan DPR berkonsultasi dengan elemen-elemen masyarakat
yang menolak RUU Cipta Kerja tersebut sampai menemukan titik temu.
 
Baca Juga: MPR Sebut UU Omnibus Law Bagus, Fadel: Disahkan saat Rakyat Turun
Kepercayaan ke Pemerintah
 
Partai Demokrat, kata SBY, menyatakan penolakan atas pengesahan RUU sapu jagat itu bukan
dalam rangka melawan negara melainkan menyelamatkan negara.
 
Namun, untuk mengingatkan karena terlalu banyak masalah dalam RUU tersebut dan harus
dibangunnya komunikasi dengan elemen masyarakat.
 
"Lantas dianggap Demokrat melawan negara? Ya tidak lah, Demokrat itu kecil sekarang katanya
dan kita juga di luar pemerintahan kita tahu diri. Tempat kami untuk bersuara di situ (di DPR),"
pungkasnya.
 
Baca Juga: Ada 'Pemain' Dibalik Demo Anarkis Tolak UU Omnibus Law, Boni Hargens
Beberkan Hasil Investigasinya
 
DPR sebelumnya telah mengesahkan omnibus law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang
melalui rapat paripurna, Senin 5 Oktober 2020.
 
Dari sembilan fraksi di DPR, hanya Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
yang menolak seluruh hasil pembahasan RUU Cipta Kerja.
 
Hasilnya, RUU Cipta Kerja tetap disahkan menjadi undang-undang. Mayoritas fraksi DPR dan
pemerintah setuju.***

Editor: Khairunnisa Fauzatul A

Sumber: RRI

https://cirebon.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-04826893/sby-ungkap-alasan-demokrat-tolak-uu-
omnibus-law-masih-ada-waktu-ajak-masyarakat-komunikasi-dulu
Peneliti LIPI Beberkan Konflik Kepentingan,
Koalisi Soroti Aktor di Balik Omnibus Law
oleh Lusia Arumingtyas [Jakarta] di 11 October 2020

 Aksi massa turun ke jalan dan sosial media dalam beberapa hari ini penuh protes atas
pengesahan Rancangan Undang-undang Cipta Kerja, pada 5 Oktober lalu. Desakan di berbagai
daerah membuat kepala daerah sampai DPRD juga menyampaikan aspirasi warga kepada
Presiden Joko Widodo atas protes terhadap UU yang biasa disebut omnibus law ini.
 Penelitian dari Marepus Corner, perkumpulan para peneliti muda dari Pusat Penelitian Politik
(P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, dominasi pebisnis mencapai
55% dari 575 anggota DPR berpotensi memicu kepentingan dalam setiap pembuatan UU selain
mengukuhkan oligarki politik untuk kepentingan para pengusaha.
 Koalisi Masyarakat Sipil #BersihkanIndonesia pun menemukan keterkaitan olgarki di balik
pembahasan dan pengesahan UU Cipta Kerja. Mereka sebut, ada kepentingan besar para
pebisnis tambang melalui sejumlah elit politik dan pebisnis di Satgas dan Panja Omnibus.
 Pada, Jumat (9/10/20), Presiden Joko Widodo juga menggelar konferensi pers terkait UU Cipta
Kerja sembari menyatakan protes muncul berdasarkan pemberitaan hoax dan mis komunikasi.
Presiden coba menyakinkan kalau regulasi ‘sapu jagad’ ini mampu menyelesaikan
permasalahan penciptaan lapangan kerja, tidak membebani masyarakat dan tak hanya
menguntungkan kalangan tertentu.

“Assalamualaikum, selamat sore. Saya Gubernur Kalimantan Barat, dengan ini memohon kepada
presiden untuk secepatnye, mengeluarkan perpu yang menghapus UU Omni Bus Law Cipta
Kerja demi menghindari pertentangan di masyakarat dan tidak mustahil semakin meluas.
Undang-undang yang baik seharusnya sesuai rasa keadilan yang tumbuh dan berkembang di
masyarakat.” Begitu bunyi status Facebook, Sutamidji, Gubernur Kalbar, Rabu sore, menyikapi
UU Cipta Kerja.

Di Kalimantan Barat, protes massa juga terjadi menyikapi pengesahan UU ini. Aksi massa
terjadi di berbagai daerah.

Tak hanya Sutarmidji, beberapa gubernur juga menyuarakan omnibus law ke presiden, seperti
Ridwan Kamil (Jawa Barat), dan Sultan Hamengku Buwono X (Yogyakarta).
Baca juga : Banjir Kritik Pengesahan UU Cipta Kerja, Pemerintah Kejar Target Bikin
Aturan Turunan

Beberapa bupati/walikota pun memfasilitasi demonstran penolak omnibus law dengan menyurati
Jokowi, seperti Ahmad Fahmi, Wali Kota Sukabumi; Oded Muhammad, Wali Kota Bandung dan
Aa Umbara, Bupati Bandung Barat.

Ada juga 15 DPRD menyatakan sikap setelah didesak massa. Seperti, empat DPRD provinsi di
Kalimantan Selatan, Bengkulu, Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Barat. Kemudian, 11 DPRD
kabupaten/kota terdiri dari Bojonegoro, Sidoarjo, Tuban (Jawa Timur); Purwakarta, Bandung,
Tasikmalaya (Jawa Barat); Kudus (Jawa Tengah); Jambi; Bontang (Kalimantan Timur);
Sumbawa (NTB) dan Pasaman Barat (Sumatera Barat).

Baca juga : UU Cipta Kerja Melegalkan Deforestasi dan Degradasi Hutan

Selain protes langsung turun ke jalan, di sosial media isu omnibus law jadi trending topic.
Laman sosmed penuh dengan berbagai ucapan dari mosi tak percaya, sampai poin-poin yang
menjadi protes.

Kerja oligarki

Proses RUU Cipta Kerja, sejak dari draf penyusunan di pemerintah sudah mendapat kritikan dari
berbagai kalangan karena terburu-buru dan diam-diam. Berbagai kalangan pun terus memberikan
masukan dan kritikan terhadap pasal-pasal yang ada dalam draf UU yang dinilai mengancam
lingkungan dan masyarakat itu. Dari pengusulan pemerintah ke DPR awal Februari lalu, bahas
sekitar tujuh bulan lalu ketuk palu pada 5 Oktober lalu.

Baca juga: Horor RUU Cipta Kerja: dari Izin Lingkungan Hilang sampai Lemahkan
Sanksi Hukum

Penelitian dari Marepus Corner, perkumpulan para peneliti muda dari Pusat Penelitian Politik
(P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, dominasi pebisnis mencapai
55% dari 575 anggota DPR berpotensi memicu konflik kepentingan dalam setiap pembuatan UU
selain mengukuhkan oligarki politik untuk kepentingan para pengusaha.

Sebaran pebisnis di DPR, katanya, lebih dari setengah, atau 55%. “Total pebisnis itu meningkat
jadi 318 orang. Rasio itu bisa 5-6 orang dari 10 orang anggota DPR ialah pebisnis,” kata Defbry
Margiansyah, peneliti P2P LIPI dalam diskusi “Peta Bisnis di Parlemen, Potret Oligarki di
Indonesia.”

Baca juga: Was-was ‘Sapu Jagat’ Omnibus Law

Dengan komposisi itu, katanya, potensi konflik kepentingan dalam pembuatan UU akan makin
tinggi. “Ada keterkaitan antara bidang usaha yang dimiliki dan penempatan komisi pebisnis di
DPR itu mengindikasikan agenda kerja komisi-komisi rentan terhadap kepentingan agenda dan
pebisnis itu.”

Dia contohkan, di Komisi VII DPR membidangi sektor energi di dalamnya ada para pengusaha
energi ikut membahas regulasi.

Sumber: Koalisi Masyarakat Sipil #BersihkanIndonesia

Anggota DPR dengan status pebisnis pun tersebar di berbagai partai politik, komisi dan fraksi.
Sebaran pebisnis di DPR, persentase terbanyak berada di PDIP sebagai partai pemenang atau
23% atau 73 orang, diikuti Gerindra (52 orang) dan Golkar (51 orang).

Baca juga: RUU Cipta Kerja Ketok Palu, Lonceng Bahaya bagi Lingkungan Hidup?

“Secara dominan mereka berada di energi dan migas sebanyak 140 orang dan sektor teknologi,
industri, manufaktur dan ritel 142 orang. Diikuti developer, kontraktor, perkebunan, perikanan
dan peternakan.”

“Dari komposisi itu menunjukkan, bayang-bayang konflik kepentingan agak susah kita hindari.”

Terkait oligarki, kata Defbry, ada 116 afiliasi anggota DPR pebisnis terkait jejaring oligarki.

“Kami mendukung sebuah pembangunan tapi tidak mengabaikan aspek keadian sosial,
lingkungan, termasuk partisipasi publik yang inklusi. Itu jadi framework pembangunan yang
berkelanjutan. Ini menjadi problem terbesar mengapa UU ini banyak ditolak dan digugat
masyarakat sipil dan publik,” katanya.

Dampak konsentrasi kekuasaan itu, katanya, mengindikasikan agenda politik demokratis


berbasis nilai kesetaraan dan keadilan di parlemen makin berat. Apalagi, ketiga berhadapan
dengan kepentingan politik bisnis dari jejaring oligarki.

 
<span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height:
0;" class="mce_SELRES_start"></span>

Aktor Intelektual

Senada dengan penelitian Marepus Corner, Koalisi Masyarakat Sipil #BersihkanIndonesia pun
menemukan keterkaitan olgarki di balik pembahasan dan pengesahan UU Cipta Kerja. Mereka
sebut, ada kepentingan besar para pebisnis tambang melalui sejumlah elit politik dan pebisnis di
Satgas dan Panja Omnibus.

“Terdapat 12 aktor intelektual yang tersebar dan memiliki peran serta fungsi berbeda di Satgas
dan Panja DPR UU Cilaka,” kata Merah Johansyah, Juru Bicara #BersihkanIndonesia dari
Jaringan Advokasi Tambang.

Dia sebutkan, sosok-sosok itu, yakni, Airlangga Hartarto, Rosan Roeslani, Pandu Patria Sjahrir,
Puan Maharani, Arteria Dahlan, Benny Sutrisno, Azis Syamsudin, Erwin Aksa, Raden Pardede,
M Arsjad Rasjid, Bobby Gafur Umar, dan Lamhot Sinaga.

“UU Cipta Kerja, salah satu skenario oligarki untuk terus menimbun kekayaan. Pengesahan UU
Cipta Kerja menunjukkan para oligarki telah memperkokoh posisi, dan skenario mereka telah
berjalan dengan sempurna. Apalagi, saat ini KPK juga sudah dilemahkan,” kata Egi Primayogha,
anggota Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch.

“Penelusuran kami mencatat, setidaknya 57% anggota panja (panita kerja) merupakan pelaku
usaha. Kami juga menemukan, sebagian dari barisan para aktor ini pernah tercatat sebagai
mantan tim sukses dan tim kampanye pada pemilihan presiden 2019,” kata Iqbal Damanik,
Direktur Tambang dan Energi Auriga Nusantara.

Adanya konflik kepentingan, akan menyebabkan pengambilan kebijakan tak berdasarkan


kepentingan publik.

“Omnibus Law juga penanda krisis demokrasi dan tegaknya pemerintahan despotik yang terus
memperkuat kepentingan dengan memperlemah suara rakyat,” kata Tata Mustasya, Koordinator
Kampanye Ikim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.

Dari analisis koalisi menyebutkan, Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang


Perekonomian yang berperan sebagai orang yang membentuk tim Satgas Omnibus. Dia
terhubung dengan PT Multi Harapan Utama, sebuah tambang batubara di Kutai Kartanegara,
Kalimantan Timur. Luas konsesi PT MHU mencapai 39.972 hektar atau setara luas Kota
Surabaya.

Catatan Dinas Pertambangan dan Energi Kalimantan Timur pada 2017, MHU meninggalkan 56
lubang bekas tambang yang tersebar di Kutai Kartanegara, dan salah satu lubang di Kelurahan
Loa Ipuh Darat, Kilometer 14, menewaskan Mulyadi, pada Desember 2015.
Rosan Roeslani, Ketua Kadin juga Ketua Satgas Omnibus Law terhubung dengan 36 entitas
bisnis, mulai dari perusahaan di bidang media, farmasi, jasa keuangan dan finansial, properti,
minyak dan gas, hingga pertambangan batubara. Rosan juga tercatat sebagai anggota Indonesia
Coal Mining Association.

Saat pemilu presiden 2019, Rosan menjabat sebagai Wakil Ketua Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf
Amin. Saat itu, ketua dari Tim Kampanye dijabat Erick Thohir, sahabat dekat Rosan sejak masa
sekolah.

Azis Syamsuddin, Wakil Ketua DPR, terkait dengan perusahaan pertambangan batu bara melalui
kedekatan dengan bekas Bupati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rita Widyasari sekarang
terpidana korupsi.

Menurut laporan Coalruption, Rita mengangkat Azis sebagai komisaris perusahaan tambang batu
bara milik ibunya, Sinar Kumala Naga.

Sembilan aktor intelektual di Satgas dan Panja DPR UU Cilaka dari sektor batubara lain adalah
Puan Maharani, Arteria Dahlan, Benny Sutrisno, Erwin Aksa, Raden Pardede, M. Arsjad Rasjid,
Bobby Gafur Umar dan Lamhot Sinaga. Mereka memiliki fungsi dan peran berbeda, beberapa
tergabung dalam satgas, panja, hingga pimpinan DPR.

Hasil penelusuran #BersihkanIndonesia, mereka memiliki hubungan dengan bisnis tambang dan
energi batubara baik langsung maupun tidak langsung, secara pribadi, baik sebagai pemilik,
komisaris hingga direksi.

 <span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden;


line-height: 0;" class="mce_SELRES_start"></span>
Baru penjelasan setelah pengesahan

Dari awal penyusunan draf pemerintah tak transparan ke publik. Baru, setelah RUU ketuk palu,
para menteri ramai-ramai memberikan penjelasan, termasuk Presiden Joko Widodo.

Sehari setelah pengesahan di sidang paripurna, para menteri adakan jumpa pers daring atau bikin
rilis. Pada, Jumat (9/10/20), Presiden Joko Widodo juga menggelar konferensi pers terkait UU
Cipta Kerja sembari menyatakan protes muncul berdasarkan pemberitaan hoax dan mis
komunikasi. Meski begitu, sejak ketuk palu 5 Oktober, hingga kini UU Cipta Kerja belum ada
resmi dibagi buat publik.

Jokowi coba menyakinkan kalau regulasi ‘sapu jagad’ ini mampu menyelesaikan permasalahan
penciptaan lapangan kerja, tidak membebani masyarakat dan tak hanya menguntungkan
kalangan tertentu.

Pemerintah, katanya masih membuka aspirasi dari masyarakat dan dari daerah terkait UU
Undang yang menimbulkan aksi protes di berbagai wilayah Indonesia ini.
“Kalau masih ada ketidakpuasan terhadap UU Cipta Kerja ini silakan mengajukan uji materi atau
judicial review melalui Mahkamah Konstiusi. Sistem ketatanegaraan kita masih mengatakan
seperti itu,” katanya, dalam konferensi secara daring dari Istana Bogor.

Jokowi mengatakan, kebutuhan UU Cipta Kerja ini, karena setiap tahun ada sekitar 2,9 juta
penduduk usia kerja baru masuk pasar kerja. “Hingga kebutuhan lapangan kerja sangat-sangat
mendesak apalagi di tengah pandemi. Ada sekitar 6,9 juta pengangguran dan 3,5 juta pekerja
terdampak pandemi COVID-19,”katanya.

 Keterangan foto utama: Pebisnis tambang batubara, salah satu yang bakal mendapatkan
keuntungan dari pengesahan UU Cipta Kerja. Bisnis ini di lapangan menciptakan banyak
masalah lingkungan, konflik sosial bahkan korban jiwa yang jatuh ke lubang bekas tambang
yang dibiarkan menganga. Foto: Jatam Kaltim

https://www.mongabay.co.id/2020/10/11/peneliti-lipi-beberkan-konflik-kepentingan-koalisi-soroti-
aktor-di-balik-omnibus-law/
Omnibus Law RUU Cipta Kerja: Hal-hal
yang perlu Anda ketahui mengenai
perampingan aturan
19 Februari 2020

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

Keterangan gambar,

Demo buruh menolak Omnibus Law.

Upaya pemerintah untuk menyederhanakan izin investasi dan meningkatkan


kesejahteraan rakyat melalui 'Omnibus Law' justru dinilai kontraproduktif.

Hal itu diutarakan oleh ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF),
Bhima Yudhistira.

Ia mengatakan kluster peraturan ketenagakerjaan dalam Omnibus Law bermasalah sejak awal
akibat proses pembahasan yang tidak transparan, mengundang polemik secara substantif dan
bahkan berpotensi menimbulkan kegaduhan, seperti ancaman mogok kerja, dan aksi-aksi lain
yang bisa berdampak dalam jangka menengah panjang.

"Menurut saya sudah cacat sejak di awal karena pada waktu draf itu sebenarnya harusnya
melakukan konsultasi juga, konsultasi kepada pihak-pihak yang terkait, karena ini menyangkut
130 juta angkatan kerja di Indonesia, akan terdampak semua," kata Bhima kepada BBC News
Indonesia melalui sambungan telepon.

 Wawancara eksklusif Presiden Jokowi: 'Prioritas saya ekonomi, tapi bukan saya tidak senang
HAM dan lingkungan'
 Barisan menteri perekonomian didominasi politisi, 'penurunan kualitas' dan berpotensi 'konflik
kepentingan'
 Jokowi-Ma'ruf Amin 100 hari kerja: 'Fokus pada investasi, pelemahan KPK', kata pengamat

Omnibus Law, atau perampingan aturan, sesungguhnya terdiri dari beberapa Rancangan
Undang-Undang (RUU), atau yang juga dikenal sebagai 'kluster' terkait beberapa sektor, di mana
secara keseluruhan berpotensi mengubah lebih dari 1.000 pasal dalam 79 Undang-Undang yang
berlaku, termasuk UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

Dalam wawancara ekslusif dengan BBC pada akhir Januari, Presiden Joko Widodo menargetkan
agar Omnibus Law disahkan pada pertengahan tahun ini.

Sumber gambar, HARYO WIRAWAN/BBC

Keterangan gambar,

Presiden Joko Widodo dalam wawancara eksklusif dengan BBC.

DPR RI telah menetapkan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2020 yang terdiri dari 50
RUU yang akan dibahas. Empat diantaranya adalah RUU yang termasuk dalam kategori
'Omnibus Law', termasuk RUU Cipta Kerja.

Draf RUU Cipta Kerja diserahkan kepada DPR pada pekan lalu dan bertujuan untuk menyerap
tenaga kerja Indonesia serta mendorong pertumbuhan perekonomian.

Namun, pasal-pasal yang tercantum di dalamnya telah mengundang perdebatan publik, termasuk
kritikan bahwa pembahasan awal perancangan hanya melibatkan pihak pengusaha dan tidak
melibatkan serikat perkerja sehingga secara substantif menjadi berat sebelah.

Walaupun demikian, Bhima menjelaskan bahwa perubahan dalam kluster ketenagakerjaan itu
dapat berdampak kepada ke-dua sisi akibat beberapa alasan.

"Saya sih melihatnya dua sisi, baik pengusahanya menjadi tidak pasti karena ada perubahan
sistematika pengupahan, ada perubahan-perubahan yang mendasar terkait pertimbangan cuti,
kemudian pertimbangan pesangon, sementara di pekerjanya juga menciptakan apa yang disebut
job insecurity, jadi tidak ada kepastian kerja," kata Bhima.

Mengapa Omnibus Law dianggap 'dapat menciptakan job insecurity'?

Pada satu sisi, ujar Bhima, formulasi kenaikan upah minimum dalam rancangan hanya
mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini bertentangan dengan Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, yang mempertimbangkan
pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

"Kalau pertumbuhan ekonomi daerah-nya positif, nggak ada masalah. Tapi kalau pertumbuhan
ekonomi daerah-nya negatif, berarti upah tahun berikutnya akan berkurang. Itu akan lebih rendah
daripada upah tahun sebelumnya. Ini juga akhirnya kan akan mempengaruhi daya beli pekerja,"
kata Bhima.

Peniliti INDEF itu juga menjelaskan bahwa peraturan lain yang juga menjadi perhatian adalah
terkait tenaga kerja asing, terutama pada sektor start-up, yang sebelumnya tidak ada di UU
Ketenagakerjaan.

Selanjutnya, tambah Bhima, substansi yang lainnya juga berkaitan sama adanya "pemanis" atau
sweetener yang dinilai kontradiktif.

"Jadi kan Omnibus Law ini ingin mencari titik tengah, tetapi titik tengahnya ternyata cukup
aneh, karena yang namanya "pemanis" atau sweetener itu dalam pasal jaminan sosial, ini
pemanis atau semacam gaji tambahan ini, yang pertama dia berlaku untuk pekerja sebelum
adanya UU Cipta Kerja. Yang artinya pekerja ke depannya, pasca UU disahkan, tidak
mendapatkan fasilitas yang sama," ujar Bhima.

Ia menambahkan bahwa beberapa hal lain seperti cuti dan juga outsourcing, atau ahli daya, juga
dapat merugikan pekerja. Outsourcing yang tidak dibatasi dapat menimbulkan kondisi di mana
perusahaan mendahulukan pegawai kontrak tanpa bisa menjadi pegawai tetap.

"Jadi ini yang justru menimbulkan job insecurity. Jadi banyak pasal-pasal lainnya di kluster
ketenagakerjaan yang dilihat satu per satu justru menurut saya itu kontraproduktif dan tidak
mencerminkan hubungan industrial yang baik antar pengusaha dan pekerja," ujar Bhima.

Di antara pihak yang menolak adalah dari elemen masyarakat seperti serikat pekerja, yang
menyatakan bahwa pihaknya tidak diikutsertakan dalam proses pembahasan.

Kahar S. Cahyono, Ketua Departemen Komunikasi dan Media Konfederasi Serikat Pekerja
Indonesia (KSPI), menilai bahwa RUU Cipta Kerja tidak mencerminkan keadilan.

Dalam upaya pemerintah memudahkan investasi, kata Kahar, ada tiga prinsip yang tidak boleh
dihilangkan.
"Yang pertama adalah ada kepastian kerja, atau ada job security, yang kedua ada kepastian
pendapatan, atau salary security, yang ketiga ada social security, jadi jaminan sosial yang layak.
Nampaknya ketiga prinsip ini tidak terlihat di dalam RUU Cipta Kerja," ujar Kahar.

Sumber gambar, UMARUL FARUQ/ANTARA

Keterangan gambar,

Para pencari kerja memadati bursa kerja terbuka di mall pelayanan publik Sidoarjo, Jawa Timur.

Sementara itu, pengusaha Hariyadi Sukamdani, yang menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi
Pengusaha Indonesia (Apindo) dan juga anggota satuan tugas Omnibus Law, mengatakan bahwa
UU Ketenagakerjaan memang sudah waktunya untuk diperbaharui demi mengakomodir
perkembangan kondisi lapangan kerja.
Ia juga menambahkan bahwa perubahan itu perlu demi mencipatakan pertumbuhan
perekonomian yang berkualitas dan lebih merata.

"Perekonomian kita tumbuh 5 persen tapi yang menikmati itu sebetulnya hanya sebagian kecil,
sebagian besarnya nggak menikmati," kata Hariyadi kepada BBC News Indonesia.

Tidak hanya tenaga kerja, tapi juga lingkungan hingga pangan

Pada sektor pertanian, peneliti INDEF Bhima Yudhistira mengatakan Omnibus Law
mendudukkan posisi produksi dalam negeri dan impor setara. Hal ini bertentangan dengan
peraturan sebelumnya.

Ia menjelaskan bahwa UU 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan Petani melarang mengimpor


komoditas pertanian pada saat ketersediaan komoditas pertanian dalam negeri sudah mencukupi
kebutuhan konsumsi dan/atau cadangan pemerintah.

Pasal-pasal lain, tambahnya, juga mencakup soal ijin lingkungan, dimana diantaranya termasuk
Pengajuan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang harus mendapatkan persetujuan dari
pemerintah pusat. Hal ini ia sebut dapat menjadi perhatian pengusaha yang memberi fokus pada
sustainability, atau keberlanjutan bisnis kedepannya.

"Jadi menurut saya, pengusaha dari daerah-daerah maju - Eropa, Jepang, Amerika Serikat - itu
sangat peduli terhadap isu lingkungan. Tapi di dalam Omnibus Law ini terkesan bahwa justru
isu-isu sensitif terkait isu lingkungan justru banyak yang dilonggarkan atas nama kemudahan
berusaha, padahal itu salah besar," ujar Bhima.

Lebih lagi, hal ini juga beririsan dengan otonomi daerah dan otoritas pemerintah pusat.

Upaya sinkronisasi peraturan, meningkatkan kekhawatiran terkait otoritas tersentralisasi

Salah satu pasal dalam RUU Cipta Kerja juga menuai kritik terkait kewenangan pemerintah
pusat yang bisa mengubah ketentuan dalam UU tersebut maupun UU lain melalui Peraturan
Pemerintah.

Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan bahwa pasal tersebut, yaitu nomor 170, akan
diperbaiki di DPR.

"Pokoknya prinsipnya tidak boleh ada PP yang mengubah Undang-Undang," kata Mahfud
kepada wartawan pada Selasa (18/02).

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51542411
Kegagalan Mufakat dalam Omnibus Law :
Krisis Komunikasi Deliberatif.
Jumat , 09 Oktober 2020 | 13:12

Sumber Foto Bernas.id


Ilustrasi
POPULER
Perusuh Anarko, Kenapa Dibiarkan? Indonesia Menjadi Pemasok Toge Dunia

Oleh Prof. Dr.phil Hermin Indah Wahyuni, M.si

(Dosen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Direktur Pusat Unggulan IPTEKS).

Hari-hari ini gelombang demonstrasi mewarnai berbagai daerah di Indonesia sebagai penolakan
pada pengesahan UU Omnibus law. Sebuah Undang-undang yang diharapkan dapat menjadi
solusi bagi penyerapan tenaga kerja dan menyederhanakan keruwetan birokrasi akibat
bertubrukannya berbagai Undang-Undang yang dinaungi oleh Omnibus ini.
Undang-undang ini sejak awal kemunculannya telah mengundang kontroversi karena bermaksud
untuk menata kembali isu-isu krusial yang menyentuh setidaknya 73 isu yang saling terkait.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sebuah Undang-Undang yang diklaim menjadi solusi
justru secara paradoks menjadi biang permasalahan yang sayang sekali melahirkan demonstrasi-
demonstrasi yang anarkis. Ada kebuntuan dalam komunikasi publik dan seharusnya disadari
untuk segera diperbaiki bagi masa depan Indonesia.

Negara yang demokratis yang mengagungkan keterbukaan gagasan seharusnyalah menegakkan


proses komunikasi yang deliberative yang sangat menghargai proses kolaborasi, partisipasi, atau
konsultasi. Deliberatif sangat dekat dengan konsep Musyawarah sebagai proses untuk mencapai
permufakatan.

Konsep ini sangat penting karena sebuah negara demokrasi harus mendapatkan legitimasi
seoptimal mungkin masyarakatnya dalam mendiskusikan berbagai kepentingan masyarakat. Ide
besarnya adalah bahwa siapa saja yang terkena dampak sebuah keputusan kolektif memiliki hak,
kapasitas dan kesempatan untuk berpartisapi dalam pembuatan keputusan.

Bentuk komunikasi yang dikembangkan adalah bentuk yang special dari berbicara,
mendengarkan dan mengembangkan pemikiran yang menghargai justifikasi yang saling
menguntungkan dimana masyarakat yang terlibat menawarkan alasan-alasan posisi mereka,
mendengarkan banyak pihak dan mengembangkan pilihan-pilihan berdasarkan pada informasi
dan argumentasi yang dikembangkan dalam prosesnya.

Permusyawaratan sebagai prinsip deliberative tidak boleh bersifat memaksa dan manipulative.
Terdapat beberapa nilai yang sangat baik dalam demokrasi deliberative diantaranya:

(1) Menawarkan cara yang efektif untuk memahami dan menangani konflik nilai. Konflik nilai
adalah ciri dari politik kontemporer yang biasanya mewarnai proses pembuatan kebijakan

(2) Musyawarah menyediakan ruang untuk mendengarkan dan refleksi secara aktif. Musyawarah
yang berakar pada gagasan demokrasi menempatkan penekanan khusus pada pentingnya
mendengarkan dan refleksi.

Demokrasi deliberative membutuhkan dan bergantung pada jenis kemampuan mendengarkan


tertentu; yang membutuhkan kemauan reflektif untuk mengubah pikiran seseorang sebagai
tanggapan atas apa yang didengarnya.

3. Komunikasi deliberative diawali dengan premis dalam sudut pandang pihak-yang terlibat.

4. Komunikasi deliberative akan berkontribusi pada sistem demokrasi secara keseluruhan.


Deliberasi publik yang bersifat terbuka dan melibatkan berbagai peserta mungkin tidak bisa
mencapai semua aspek ideal musyawarah demokratis, tetapi, idealnya, mendorong diskusi yang
inklusif dan reflektif tentang masalah yang menjadi perhatian bersama dan berkontribusi pada
demokratisasi sistem secara keseluruhan.
Apa yang terjadi dengan omnibus law menunjukkan bahwa bangsa ini belum mampu
sepenuhnya memaknai sila ke empat Pancasila yang menempatkan nilai Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan bermusyawarah untuk mencapai kemufakatan.

Kita kurang menghargai proses-proses komunikasi yang tampaknya mudah namun sangat sulit
dilaksanakan yaitu komunikasi yang menjunjung nilai interaktivita (bersifat dua arah) dan
mengajak orang terlibat akatif untuk mencapai makna bersama.

Kita masih saja mengandalkan komunikasi yang kurang memberi ruang hadirnya perbedaan.
Merupakan pekerjaan rumah besar bagi bangsa ini untuk membuka ruang-ruang kebuntuan
sehingga tidak lagi proses demokrasi dicoreng oleh proses yang eksklusif dan kurang mau
mendengarkan seluruh pihak yang terlibat.

Komunikasi yang inklusif merangkul banyak pihak secara bermartabat perlu terus didorong
realisasinya agar masyarakat demokrasi yang dicita-citakan dapat diraih. Semoga kita segera
dapat keluar dari kebuntuan komunikasi ini!

*Tulisan diatas dikutip langsung dari portal rri.co.id

Sumber Berita: rri.co.id


https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/24740/kegagalan_mufakat_dalam_omnibus_law_
__krisis_komunikasi_deliberatif_

Anda mungkin juga menyukai