Anda di halaman 1dari 6

NAMA : ARIEF KURNIA

NIM : 042886053
MATA KULIAH : PERPAJAKAN
PRODI : S1 AKUNTANSI
UPBJJ UT : JAKARTA

TUGAS TUTORIAL KE-2


PROGRAM STUDI AKUNTANSI

Nama Mata Kuliah : Pajak


Kode Mata Kuliah : EKSI4206
Jumlah sks : 3 SKS
Nama Pengembang : -
Nama Penelaah : -
Status : Baru/Revisi*
Pengembangan
Tahun : 2019/ 2020
Pengembangan
Edisi Ke- : Edisi ke-1

Skor Sumber
N
Tugas Tutorial Maksima Tugas
o
l Tutorial
1. Jelaskan definisi Belanja Perpajakan! 25 poin Tax
Expenditure
Report 2018
2. Jelaskan Metode yang digunakan dalam menghitung 25 poin Tax
belanja perpajakan! Expenditure
Report 2018
3. Apakah jenis pajak dengan belanja perpajakan yang 25 poin Tax
paling besar? Jelaskan! Expenditure
Report 2018
4. Mengapa mengestimasi belanja perpajakan dari 25 poin Tax
fasilitas PPN dan PPnBM dianggap lebih mudah! Expenditure
Report 2018
Jawaban
1. Jelaskan definisi Belanja Perpajakan!
Dalam dunia ekonomi dan keuangan, pajak tak ubahnya bak primadona yang menarik dibahas di
mana-mana. Mulai dari sudut-sudut ruang redaksi media hingga ruang rapat Istana Negara. Kata
kunci ‘target’, ‘realisasi’, hingga ‘shortfall’ pun menjadi hal biasa yang menghiasi judul-judul
berita. Tak mengherankan memang, mengingat pajak adalah tulang punggung negara. Salah satu
senjata yang digunakan pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya.
Jika berbicara tentang pajak, tentu yang selalu terlintas di pikiran kebanyakan orang adalah pajak
sebagai sumber penerimaan negara, karena memang itulah fungsi utama pajak menurut para ahli.
Namun, pernahkah Anda mendengar tentang Belanja Perpajakan atau tax expenditure? Jika
belum, apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar istilah tersebut?
Sebelum memahami definisi dari belanja perpajakan, ada suatu konsep sederhana yang perlu
Anda ketahui terlebih dahulu. Bahwa demi menciptakan perekonomian yang stabil, pemerintah
menerapkan kebijakan fiskal dengan mengatur instrumen pendapatan dan belanja. Kebijakan
belanja sendiri dapat dilakukan dalam bentuk belanja langsung (cash transfer) maupun belanja
tidak langsung (non-cash transfer).
Salah satu bentuk belanja tidak langsung (non-cash transfer) yang dapat dilakukan pemerintah
adalah melalui pengurangan kewajiban perpajakan yang timbul karena adanya perlakuan yang
berbeda dengan ketentuan umum perpajakan. Artinya, pemerintah dapat menetapkan kebijakan
perpajakan yang berbeda-beda untuk subjek, objek, dan wilayah tertentu, yang selanjutnya dapat
memengaruhi penerimaan perpajakan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Belanja
dalam bentuk bantuan melalui perlakuan perpajakan yang berbeda ini lah yang disebut dengan
belanja perpajakan (tax expenditure).
IMF mendefinisikan tax expenditure sebagai berikut: “Tax expenditures are concessions,
reliefs, rebates, or exemptions from a ‘normal’ tax structure that reduce government revenue
collections”. Sementara itu, menurut The Australian Government the Treasury, “A tax
expenditure arises where the tax treatment of an activity or class of taxpayer differs from the
standard tax treatment that applies to similar taxpayers or types of activity.” Lebih lanjut, tax
expenditure tersebut biasanya melibatkan pembebasan pajak (tax exemptions), pengurangan atau
penyeimbangan (deductions or offsets), tarif pajak konsesi (concessional tax rates), dan
penangguhan kewajiban pajak (deferrals of tax liability).
Sedangkan, menurut Badan Kebijakan Fiskal, belanja perpajakan dapat dipahami sebagai
penerimaan perpajakan yang hilang atau berkurang sebagai akibat dari adanya ketentuan
khusus yang berbeda atau deviasi dari sistem pemajakan secara umum (benchmark tax
system) kepada subjek dan objek pajak dengan persyaratan tertentu.
Besaran Belanja Perpajakan Pemerintah
Jika kita mencari informasi angka belanja perpajakan sebelum tahun 2018, mungkin akan sulit
menemukan data yang valid dikarenakan pada saat itu belum tersedia sumber informasi yang
mendukung. Beruntung, mulai tahun 2018 lalu pemerintah melalui BKF atas sinergi bersama
Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai menerbitkan Laporan Belanja Perpajakan 2016-2017.
Laporan Belanja Perpajakan tersebut disusun sebagai bagian dari akuntabilitas dan transparansi
terhadap kebijakan fiskal di bidang perpajakan, sehingga stakeholders dan masyarakat luas dapat
memperoleh informasi yang komprehensif.
Upaya perwujudan akuntabilitas dan transparansi tersebut tentu tak lepas dari misi pemerintah
mewujudkan good governance. Di samping itu, laporan tersebut juga disusun dalam rangka
menjawab rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas transparansi fiskal Pemerintah
Pusat yang menyebutkan bahwa Pemerintah belum melaporkan estimasi kehilangan pendapatan
dari seluruh fasilitas pajak yang diberikan. Tersedianya Laporan Belanja Perpajakan secara
komprehensif menjadi salah satu kriteria transparansi fiskal sebagaimana praktik-praktik yang
berlaku di dunia, yang antara lain tertuang dalam The IMF’s Fiscal Transparency Code (FTC)
2014.
Di dalam Laporan Belanja Perpajakan, informasi yang disajikan mencakup jenis pajak yang
dikelola oleh Pemerintah Pusat, yaitu Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang
Mewah (PPN dan PPnBM), Pajak Penghasilan (PPh), serta Bea Masuk dan Cukai.

2. Jelaskan Metode yang digunakan dalam menghitung belanja perpajakan!


Selanjutnya, metode yang digunakan untuk mengestimasi besaran belanja perpajakan dalam
laporan tersebut adalah Revenue Forgone Method, yaitu dengan menghitung selisih antara
potensi penerimaan pajak yang diperoleh tanpa adanya belanja perpajakan dengan penerimaan
pajak akibat adanya ketentuan belanja perpajakan. Lalu bagaimana hasil estimasi
perhitungannya?
Pada tahun 2017, besaran belanja perpajakan mencapai angka Rp154,7 triliun, atau sekitar 1,14%
dari PDB. Jumlah ini meningkat sekitar 7,7% dari tahun 2016 yaitu sebesar Rp143,6 triliun
(1,16% dari PDB). Walaupun secara nominal naik, akan tetapi besaran estimasi belanja
perpajakan terhadap PDB untuk tahun 2017 menurun.

3. Apakah jenis pajak dengan belanja perpajakan yang paling besar? Jelaskan!
Selanjutnya, berdasarkan jenis pajak, belanja perpajakan terbesar adalah dari fasilitas PPN dan
PPnBM yang mencapai lebih dari 80% dari total estimasi belanja perpajakan, baik di tahun 2016
maupun 2017. Pada tahun 2017, belanja perpajakan dari fasilitas PPN dan PPnBM mencapai Rp
125,33 triliun. Sedangkan PPh hanya berkisar Rp 20,18 triliun serta Bea Masuk dan Cukai hanya
sebesar Rp9,15 triliun. Besarnya angka belanja perpajakan pada PPN menunjukkan bahwa
fasilitas perpajakan lebih diarahkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan sektor
produktif.
Kemudian jika dilihat dari seluruh sektor yang diidentifikasi, sektor jasa keuangan adalah sektor
yang paling banyak menerima fasilitas perpajakan dengan kontribusi 11,40%, disusul sektor
pertanian dan perikanan (9,21%), serta sektor jasa transportasi (8,31%). Besarnya fasilitas
perpajakan yang diterima sektor jasa keuangan tak terlepas dari sifatnya karena termasuk dalam
jenis jasa yang dikecualikan sebagai jasa kena pajak, atau non-JKP. Demikian juga untuk sektor
pertanian dan perikanan, dimana sebagian besar barang yang dihasilkan dari sektor tersebut
merupakan barang yang dikecualikan dari barang kena pajak, atau non-BKP.
Berikutnya, dinilai dari subyek penerima. Belanja perpajakan paling banyak diterima oleh
subyek pajak rumah tangga yaitu 38,46%, disusul UMKM (26,90%), badan usaha (25,99%),
serta badan usaha dan rumah tangga (8,01%). Besarnya fasilitas yang diterima subyek rumah
tangga ini sejalan dengan fakta bahwa estimasi belanja perpajakan terbesar yang dapat dihitung
adalah untuk jenis pajak PPN, di mana tax benchmark-nya adalah pengenaan pajak atas
konsumsi akhir, tidak termasuk yang dilakukan oleh pemerintah dan kegiatan ekonomi yang
masih bersifat intermediary process yang umumnya dilakukan oleh badan usaha.
Urgensi Belanja Perpajakan
Jika ditinjau dari perspektif yang sempit, keberadaan tax expenditure dalam jangka pendek tentu
mengakibatkan potential loss atas penerimaan pajak. Bahkan, angkanya tak main-main. Pada
tahun 2017 saja Pemerintah harus ‘mengikhlaskan’ pajak sebesar Rp154,7 triliun tak dapat
ditarik. Jumlah tersebut hampir setara dengan anggaran subsidi energi APBN 2019 (Rp160,0
triliun). Bahkan, lebih besar dari anggaran pendidikan dalam APBN 2019 (Rp141,9 triliun).
Namun, tak adil rasanya jika menilai suatu policy hanya dari satu sisi. Sebab jika ditinjau dari
perspektif yang luas, pengimplementasian belanja perpajakan memiliki beberapa alasan dan
dasar yang logis bagi sektor perpajakan secara khusus dan perekonomian makro secara umum.
Alasan pertama adalah bahwa pajak tidak bisa menjadi satu-satunya instrumen yang dapat
digunakan pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Pemerintah menyadari
bahwa dana yang dikumpulkan dari pajak tidak cukup mampu menyediakan seluruh layanan
sosial yang dibutuhkan dan mengatasi seluruh persoalan masyarakat. Maka, pemerintah
membuka diri terhadap keterlibatan pihak lain yang bisa membantu mengatasi masalah dalam
masyarakat, dengan memberikan fasilitas di bidang perpajakan yang berbeda dari ketentuan yang
berlaku umum. Sebagai contoh, kebijakan PPN tidak terutang untuk Jasa Pelayanan Kesehatan
Medis, bertujuan untuk memberikan akses pelayanan kesehatan yang terjangkau kepada
masyarakat.
Kedua, belanja perpajakan merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mendorong
peningkatan investasi. Dengan meningkatnya aktivitas investasi, akan tercipta dampak
pengganda (multiplier effect) berupa potensi penerimaan pajak lanjutan. Misalnya saja
kebijakan tax holiday yang diberikan kepada suatu industri pionir. Meski PPh badan atas industri
tersebut harus ‘diikhlaskan’ hingga 100%, namun atas kegiatan usaha yang berlangsung, ada PPh
dari karyawan yang harus dibayarkan, ada pula PPN dari penjualan barang atau jasa yang akan
masuk ke kas negara, dan lain sebagainya.
Kedua alasan tersebut tentu sangat relevan dengan tujuan penerapan belanja perpajakan, yang
oleh BKF dibagi ke dalam empat kategori utama, yaitu meningkatan kesejahteraan umum,
melindungi UMKM, mendukung dunia bisnis, dan mendorong investasi.
Pada akhirnya, tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan belanja perpajakan dalam jangka pendek
menyebabkan kerugian negara dengan angka yang cukup fantastis. Atas dasar fakta bahwa
ratusan triliun rupiah potensi penerimaan pajak tidak terpungut, yang direncanakan melalui
kebijakan sedemikian rupa, dengan pro kontra yang menyertai perjalanannya. Namun, sejatinya
kebijakan fiskal bukan sekedar bagaimana pemerintah mampu memungut pajak sebesar-
besarnya, tetapi juga memastikan perekonomian nasional bekerja dengan optimal sehingga
mampu mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat yang sebesar-besarnya. (*)

4. Mengapa mengestimasi belanja perpajakan dari fasilitas PPN dan PPnBM dianggap
lebih mudah!

Tabel berikut ini menyajikan rincian estimasi belanja perpajakan per jenis pajak di tahun 2018.
Kolom kedua memuat jumlah pos peraturan per jenis pajak yang dapat dikategorikan sebagai
belanja perpajakan.

Lalu, kolom ketiga menggambarkan jumlah pos peraturan yang berhasil diestimasi nilainya.
Sementara itu, kolom kelima menggambarkan tingkat akurasi perhitungan pos-pos peraturan TE
dalam tiga tingkatan berbeda, yaitu rendah, menengah, dan tinggi.

Tabel Statistik Estimasi Belanja Perpajakan Per Jenis Pajak Tahun 2018
Dari tabel di atas, terlihat PPN dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) memiliki jumlah
pos peraturan terkait belanja perpajakan paling banyak serta relatif mudah dalam mengestimasi
belanja perpajakannya, yaitu sebesar 75%.
Dalam laporan tersebut, belanja perpajakan PPN dan PPnBM cenderung hanya menggunakan
data makro.
Dengan kata lain, estimasi belanja perpajakan PPN dan PPnBM ini tidak melibatkan penggunaan
data-data primer yang lebih memerlukan upaya ekstra dalam menjamin ketersediaan, validitas
maupun reliabilitasnya.

Meski begitu, ketersediaan data juga tidak serta merta menjamin tingkat akurasi dari besaran
estimasi TE yang dihasilkan. Tabel di atas menunjukkan tingkat akurasi perhitungan estimasi TE
PPN dan PPnBM masih tergolong di level moderat.