Anda di halaman 1dari 15

NAMA : ARIEF KURNIA

NIM : 042886053
PRODI : S1 AKUNTANSI
MATA KULIAH : TEORI EKONOMI MIKRO
UPBJJ UT : JAKARTA

TUGAS TUTORIAL KE-2


PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN

Kerjakanlah soal tugas 2 berikut ini!

Skor
No Tugas Tutorial Maksima
l
1 Jelaskan dengan menggunakan grafik, bagaimana pengaruh kebijakan 30
pemerintah yang berupa kontrol harga terhadap surplus konsumen dan
surplus produsen ! Sertakan pula pendapat anda, apakah pemerintah
saat ini sudah melakukan hal tersebut ?

2 Meskipun memiliki keleluasaan dalam menentukan harga, seorang 20


monopolis tidak dapat menentukan harga setinggi mungkin karena
tujuan utamanya adalah memperoleh profit maksimum. Jelaskan
bagaimana menentukan harga dalam monopoli !

3 Dalam kasus duopoli, salah satu model untuk mengukur tingkat 20


persaingan perusahaan adalah Model Cournot. Jelaskan inti dari
model Cournot dan apa yang dilakukan oleh perusahaan duopoli pada
saat keseimbangan Cournot !

4 Jelaskan dua ciri utama pasar kompetitif yang monopolistik ! Menurut 20


anda, apakah di Indonesia terdapat pasar kompetitif yang
monopolisitik ? jika ada sertakan dengan contoh, jika tidak mengapa.

5 Jelaskan jenis-jenis pasar tenaga kerja ! sertakan dengan contohnya. 20


Jawaban
1. Jelaskan dengan menggunakan grafik, bagaimana pengaruh kebijakan pemerintah yang
berupa kontrol harga terhadap surplus konsumen dan surplus produsen ! Sertakan pula
pendapat anda, apakah pemerintah saat ini sudah melakukan hal tersebut ?

Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan untuk mengendalikan keseimbangan


makroekonomi. Kebijakan fiskal bertujuan untuk mempengaruhi sisi permintaan agregat
suatu perekonomian dalam jangka pendek. Selain itu, kebijakan ini dapat pula mempengaruhi
sisi penawaran yang sifatnya lebih berjangka panjang, melalui peningkatan kapasitas
perekonomian. Dalam pengelolaan stabilitas makroekonomi, kebijakan fiskal akan
berinteraksi dengan kebijakan moneter. Pengaruh kebijakan fiskal yang signifikan terhadap
perekonomian dikemukakan olehKeynes. Sebelum Keynes, operasi keuangan pemerintah
dipandang tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja dan
permintaan agregat.Peran pemerintah pada saat itu hanya sebatas merelokasi sumber daya
finansial dari sektor swasta ke pemerintah.Pandangan ini diantaranya dikemukakan oleh
Say»s Law bahwa dalam kondisi full employment, setiap tambahan pengeluaran pemerintah
akan menyebabkan penurunan pengeluaran swasta (crowd-out) dalam jumlah yang sama dan
pengeluaran tersebut tidak akan mengubah pendapatan agregat. Pandangan tersebut kemudian
diubah oleh Keynes dan sejak saat itu ekonom mulai menekankan dampak makro atas
pengeluaran dan pajak pemerintah.Keynes menekankan bahwa kenaikan pengeluaran
pemerintah tidak hanya memindahkan sumber daya dari sektor swasta ke pemerintah. Selain
itu, Keynes juga mengemukakan adanya dampak berganda (multiplier effect) dari
pengeluaran tersebut. Penelitian tentang multiplier effect, baik di negara maju maupun
berkembang, telah banyak dilakukan yang umumnya menggunakan metode simulasi pada
model makroekonomi dan metode persamaan reduced form. Penggunaan kedua metode
tersebut untuk kasus Jepang menyimpulkan bahwa multiplier yang dihasilkan dari metode
reduced form equation cenderung lebih kecil dibandingkan hasil dari simulasi model
makroekonomi. Sebagaimana dikemukakan oleh Hemming, R., et. al (2002)2 , hasil simulasi
beberapa model makroekonomi dan dengan pendekatan persamaan reduced form di negara
maju, menunjukkan positifnya multipliers jangka pendek dari kebijakan fiskal. Nilai
multiplier tersebut berada dalam kisaran yang cukup lebar, yaitu dari 0,1 hingga 3,1. Dari
berbagai model makro tersebut juga disimpulkan bahwa nilai multiplier tersebut semakin
mengecil yang kemungkinan mencerminkan adanya perubahan dalam struktur model. Pada
awal dekade 70-an dan 80-an kebanyakan model makro berstruktur Keynesian yang bersifat
backward-looking expectation. Dalam perkembangan selanjutnya, struktur model tersebut
mulai memasukkan intertemporal budget constraints dan menggunakan
forwardlookingexpectation variabel, seperti nilai tukar.
Sementara itu, Hemming, R., et. aljuga merangkum penelitian tentang hal yang sama di
negara berkembang dan menyimpulkan bahwa arah dan besaran fiskal multipliers di
kelompok negara ini bersifat inkonklusif. Penelitian oleh Haque dan Montiel (1991),
misalnya, menyimpulkan bahwa dampak kenaikan pengeluaran pemerintah dalam jangka
pendek dan menengah, justru bersifat kontraktif. Hasil ini dikaitkan dengan adanya crowding
out, yaitu kenaikan pengeluaran pemerintah yang justru meningkatkan suku bunga riil
sehingga berdampak kontraktif terhadap output. Sedangkan penelitian oleh Haque, Montiel,
dan Symansky (1991) menunjukkan bahwa kenaikan pengeluaran pemerintah, walaupun pada
awalnya mengakibatkan penurunan output, namun akan menaikkan output dan inflasi di
periode selanjutnya. Sementara itu, Khan dan Knight (1981) menyimpulkan bahwa elastisitas
pendapatan nominal dari pengeluaran pemerintah dan pajak adalah positif dan mendekati 1.
Kesimpulan tersebut ditarik dari sampel 29 negara berkembang dengan menerapkan modified
monetary model yang memperlakukan variabel inflasi dan output sebagai variabel endogen.
Mengingat penelitian di beberapa negara maju dan berkembang tersebut tidak hanya
menggunakan satu metode saja, untuk kasus Indonesia dipandang perlu untuk meneliti
dampak pengeluaran pemerintah dengan menggunakan metode lain, misalnya persamaan
reduced form. Metode alternatif ini dipandang dapat melengkapi simulasi dari model
makroekonomi yang telah ada, dan dapat memberikan asesmen alternatiftentang dampak
pengeluaran pemerintah. Selain dampak pengeluaran pemerintah terhadap output, aspek lain
yang penting adalah masalah sinkronisasi kebijakan fiskal dengan siklus bisnis
perekonomian.Idealnya, kebijakan fiskal memiliki sifat sebagai automatic stabilizer
perekonomian. Artinya, dalam kondisi perekonomian sedang mengalami ekspansi, maka
pengeluaran pemerintah seharusnya berkurang atau penerimaan pajak yang bertambah.
Sebaliknya, jika perekonomian sedang mengalami kontraksi, kebijakan fiskal seharusnya
ekspansif melalui peningkatan belanja atau penurunan penerimaan pajak. Dengan demikian,
automatic stabilizer kebijakan fiskal mensyaratkan adanya fungsi countercyclical dari
kebijakan fiskal. Untuk kasus Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Akitoby, et.al.
(2004) dan Baldacci (2009) belum menemukan adanya countercyclicality dalam kebijakan
fiskal. Karakter kebijakan fiskal Indonesia lebih cenderung asiklikal atau bahkan prosiklikal.
Kesimpulan tersebut juga diperkuat oleh riset di Bank Indonesia (2009)3 bahwa kebijakan
fiskal Indonesia cenderung bersifat asiklikal secara agregat atau justru prosiklikal jika
berdasarkan pengelompokan pengeluaran. Sifat siklikalitas yang demikian berpotensi
memberikan tekanan instabilitas dalam perekonomian4 , seperti kenaikan inflasi. Plotting
antara rasio pengeluaran pemerintah, dengan tidak memasukkan pembayaran bunga, dengan
pertumbuhan ekonomi menunjukkan adanya hubungan yang searah pada periode setelah
krisis 1998. Sebelum krisis ekonomi 1998, hubungan diantara kedua variabel tersebut
cenderung berlawanan arah.
Secara umum, alasan mengapa negara berkembang menempuh kebijakan fiskal yang tidak
countercyclical terutama terkait dengan keterbatasan sumber daya finansial dan kelemahan
institusional. Kelemahan institusional diantaranya terkait dengan adanya kelompok yang
cukup berpengaruh dalam masyarakat yang berusaha agar kepentingannya diakomodasi oleh
pemerintah.Kelemahan ini menyebabkan terjadinya diskresi kebijakan fiskal yang dapat
menyebabkan volatilitas inflasi yang lebih tinggi. Transmisi kebijakan fiskal ke inflasi dapat
melalui permintaan agregat, spillover public wages ke sektor swasta, serta pengaruh pajak
terhadap biaya marginal dan konsumsi swasta. Selain itu, kebijakan fiskal berdampak
terhadap inflasi melalui ekspektasi masyarakat terhadap kemampuan pemerintah untuk
membayar utang publiknya.
Dengan memperhatikan siklikalitas kebijakan fiskal Indonesia yang belum mengarah ke
countercyclical, perlu dikaji apakah diskresi kebijakan fiskal terjadi di Indonesia dan apabila
demikian, bagaimana dampaknya terhadap inflasi. Secara eksplist, tujuan paper ini pertama
adalah meneliti dampak kebijakan fiskal terhadap output dan harga. Kebijakan fiskal di sini
meliputi dampak pengeluaran pemerintah dan penerimaan pajak pemerintah terhadap output
dan harga, kedua meneliti apakah terdapat diskresi kebijakan fiskal di Indonesia dan jika ada,
bagaimana dampaknya terhadap volatilitas output dan inflasi. Bagian kedua dari paper ini
mengulas landasan teori, bagian ketiga membahas metodologi dan data yang digunakan
sementara bagian keempat mengulas hasil dan analisis. Kesimpulan dan implikasi studi akan
menjadi bagian penutup.
Dampak Kebijakan Fiskal terhadap Output dan Inflasi
Literatur yang ada mengelompokkan dampak kebijakan fiskal menjadi dua yaitu dampak
terhadap sisi permintaan (demand side effect) dan dampak terhadap sisi penawaran (supply
side effect). Dampak kebijakan fiskal terhadap sisi penawaran mempunyai implikasi jangka
panjang. Kebijakan fiskal yang berorientasi untuk meningkatkan supply side dapat mengatasi
masalah keterbatasan kapasitas produksi dan karena itu dampaknya lebih bersifat jangka
panjang. Dampak kebijakan fiskal terhadap perekonomian melalui pendekatan permintaan
agregat diterangkan melalui pendekatan Keynes. Pendekatan Keynesian mengasumsikan
adanya price rigidity dan excess capacity sehingga output ditentukan oleh permintaan agregat
(demand driven). Keynes menyatakan bahwa dalam kondisi resesi, perekonomian yang
berbasis mekanisme pasar tidak akan mampu untuk pulih tanpa intervensi dari Pemerintah.
Kebijakan moneter tidak berdaya untuk memulihkan perekonomian karena kebijakan hanya
bergantung kepada penurunan suku bunga sementara dalam kondisi resesi tingkat suku bunga
umumnya sudah rendah dan bahkan dapat mendekati nol. Dalam pendekatan Keynes,
kebijakan fiskal dapat menggerakkan perekonomian karena peningkatan pengeluaran
pemerintah atau pemotongan pajak mempunyai efek multiplier dengan cara menstimulasi
tambahan permintaan untuk barang konsumsi rumah tangga. Demikian pula halnya apabila
pemerintah melakukan pemotongan pajak sebagai stimulus perekonomian. Pemotongan pajak
akan meningkatkan disposable income dan pada akhirnya mempengaruhi
permintaan.Kecenderungan rumah tangga untuk meningkatkan konsumsi dengan
meningkatkan marginal prospensity to consume (mpc), menjadi rantai perekonomian untuk
peningkatan pengeluaran yang lebih banyak dan pada akhirnya terhadapoutput. Government
spending multiplier dinyatakan sebagai 1/(1-mpc), dan dari formulaini terlihat bahwa
semakin besar mpc maka semakin besar pula dampak dari pengeluaran pemerintah terhadap
GDP.Sementara itu efek multiplier dari pemotongan pajak (tax cut multiplier) dinyatakan
sebagai ( 1/(1-mpc) - 1). Tax cut multiplier adalah satu dikurangi dengan government
spending multiplier. Tax cut multiplier selalu lebih kecil dari spending multiplier, oleh
karenanya pemotongan pajak dianggap kurang potensial untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi dalam masa resesi dibandingkan dengan peningkatan pengeluaran pemerintah.
Besarnya efek multiplier dari peningkatan pengeluaran pemerintah dan pemotongan pajak
bergantung kepada besarnya mpc yang bergantung kepada apakah peningkatan tersebut
bersifat transitory atau permanen. Dalam hal ini, dampak mpc atas perubahan pendapatan
transitori lebih kecil dibandingkan perubahan pendapatan yang permanen. 394 Buletin
Ekonomi Moneter dan Perbankan, April 2012 Pengembangan model Keynesian
memungkinkan adanya tambahan dampak crowding out melalui perubahan yang disebabkan
oleh suku bunga dan nilai tukar. Crowding out terjadi apabila Pemerintah menyediakan
barang dan jasa yang menggantikan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor swasta.
Tingkat crowding out mempengaruhi besaran fiskal multiplier namun tidak mempengaruhi
arah. Dalam kerangka teori Keynesian, peningkatan pengeluaran pemerintah akan menggeser
kurva IS ke kanan, (lihat Grafik 2). Pergeseran ini menyebabkan perekonomian berada dalam
keseimbangan baru (dari titik A ke titik B) yaitu tingkat pendapatan dan tingkat suku bunga
yang lebih tinggi. Suku bunga menjadi lebih tinggi karena dengan kenaikan pendapatan
menyebabkan kenaikan permintaan akan real money balance, sementara di pasar uang bank
sentral tidak menambah pasokan real money balance. Kenaikan suku bunga tersebut pada
gilirannya akan berdampak ke pasar barang, yaitu peninjauan ulang rencana investasi
pengusaha. Dengan demikian, penurunan pengeluaran investasi akan mengurangi dampak
ekspansif dari pengeluaran pemerintah.Jika tidak terjadi crowding out, berdasarkan
Keynesian Cross, maka output akan menjadi Y3 . Namun, adanya crowding out
menyebabkan output hanya meningkat menjadi Y2 .
Dalam model IS-LM dengan perekonomian yang terbuka (Mundell-Flemming), crowding out
dapat terjadi melalui nilai tukar. Tingkat suku bunga yang tinggi akan menarik capital inflow
sehingga terjadi apresiasi pada nilai tukar dan mengakibatkan penurunan pada current
account. Pada gilirannya penurunan pada external current account akan menganulir
peningkatan permintaan domestik yang awalnya dipicu oleh ekspansi fiskal.
Surplus konsumen adalah manfaat yang dicapai konsumen ketika mereka dapat membeli barang
atau jasa dengan harga lebih rendah dari jumlah maksimum yang bersedia mereka bayarkan.
Surplus terjadi ketika konsumen akan membayar harga lebih tinggi dari harga pasar untuk suatu
produk

Misalnya, untuk membeli roti konsumen bersedia membayar Rp5.000, namun dia mendapati
roti yang diinginkan di harga Rp3.000, maka kelebihan harga sebesar Rp2.000 adalah surplus
yang dinikmati oleh konsumen.
Misalnya, untuk membeli roti konsumen bersedia membayar Rp5.000, namun dia mendapati
roti yang diinginkan di harga Rp3.000, maka kelebihan harga sebesar Rp2.000 adalah surplus
yang dinikmati oleh konsumen.
Secara grafis surplus konsumen adalah segitiga di atas harga pasar (harga ekuilibrium) dan di
bawah kurva permintaan.  Sedangkan, area di atas tingkat penawaran dan di bawah harga
ekuilibrium disebut surplus produksi.

Jika menurut saya pemerintah saat ini sudah melakukan kebijakan tersebut terutama
dalam masa pandemic covid-19, Pemerintah Indonesia mengambil kebijakan yang
komprehensif di bidang fiskal dan moneter untuk menghadapi Covid-19. Di bidang fiskal,
Pemerintah melakukan kebijakan refocusing kegiatan dan realokasi anggaran. Untuk itu,
Presiden RI, Joko Widodo, menerbitkan Inpres No.4/2020, yang menginstruksikan, seluruh
Menteri/Pimpinan/Gubernur/Bupati/Walikota mempercepat refocusing kegiatan, realokasi
anggaran dan pengadaan barang jasa penanganan Covid-19.

Selanjutnya, Kementerian Keuangan akan merealokasi dana APBN sebesar Rp62,3


triliun. Dana tersebut diambil dari anggaran perjalanan dinas, belanja non operasional, honor-
honor, untuk penanganan/pengendalian Covid-19, perlindungan sosial (social safety net) dan
insentif dunia usaha. APBD juga diharapkan di-refocusing dan realokasi untuk 3 hal tersebut.
Penguatan penanganan Covid-19, dilakukan dengan menyediakan fasilitas dan alat
kesehatan, obat-obatan, insentif tim medis yang menangani pasien Covid-19 dan kebutuhan
lainnya. Social safety net diberikan untuk meningkatkan daya beli masyarakat melalui
program keluarga harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Sembako dan beras
sejahtera. Kementerian/Lembaga/Pemda diharapkan memperbanyak program padat karya
termasuk Dana Desa. Sedangkan insentif dunia usaha dilakukan untuk membantu pelaku
usaha khususnya UMKM dan sektor informal.
Kemenkeu juga menerbitkan PMK 23/2020 yang memberikan stimulus pajak untuk
karyawan dan dunia usaha yaitu pajak penghasilan karyawan ditangung Pemerintah,
pembebasan pajak penghasilan impor, pengurangan angsuran PPh Pasal 25. Disamping itu,
pemberian insentif/fasilitas Pajak Pertambahan Nilai yang terdampak Covid-19.
Presiden RI juga memberikan arahan agar Kementerian/Lembaga memprioritaskan
pembelian produk UMKM, mendorong BUMN memberdayakan UMKM dan produk UMKM
masuk e-catalog.
Di bidang moneter, kebijakan moneter yang diambil harus selaras dengan kebijakan
fiskal dalam meminimalisir dampak Covid-19 terhadap perekonomian nasional. Oleh sebab
itu otoritas moneter harus dapat menjaga nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi dan
memberikan stimulus moneter untuk dunia usaha. Diharapkan ada relaksasi pemberian kredit
perbankan dan mengintensifkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

2. Meskipun memiliki keleluasaan dalam menentukan harga, seorang monopolis tidak dapat
menentukan harga setinggi mungkin karena tujuan utamanya adalah memperoleh profit
maksimum. Jelaskan bagaimana menentukan harga dalam monopoli !
Monopolis dalam memaksimumkan profit terlebih dahulu harus mengetahui karakteristik
permintaan pasar dan struktur input yang akan digunakan dalam produksi. Pengetahuan
tentang permintaan dan biaya sangat penting untuk membuat keputusan ekonomi sebuah
perusahaan . Setelahnya monopolis harus memutuskan berapa banyak yang akan diproduksi
dan dijualnya. Monopolis dapat menentukan harga dan kuantitas yang akan dijual dengan
harga yang mengikuti kurva permintaan pasar
3. Dalam kasus duopoli, salah satu model untuk mengukur tingkat persaingan perusahaan
adalah Model Cournot. Jelaskan inti dari model Cournot dan apa yang dilakukan oleh
perusahaan duopoli pada saat keseimbangan Cournot !
Inti dari model cournot ialah setaip perusahann memperhitungkan tingkat output dari
kompetitornya yang seakan-akan sudah ditetapkan , kemudian memutuskan beberapa banyak
tingkat output yang akan diproduksi
Model Cournot menghasilkan hasil yang logis. Dalam jangka panjang, harga dan output stabil,
dalam arti, tidak ada kemungkinan perubahan output atau harga yang akan membuat perusahaan
lebih baik. 

Dalam struktur pasar duopoli, solusi Cournot berada di antara keseimbangan kompetitif dan
monopoli. Persaingan sempurna menghasilkan harga terendah dan output tertinggi.
Sedangkan, monopoli membebankan harga tertinggi dan menghasilkan output terendah

Selanjutnya, ketika jumlah perusahaan dalam industri meningkat, keseimbangan industri


mendekati keseimbangan kompetitif.

Untuk menjawab kenapa solusi Cournot berada di antara pasar persaingan sempurna dan
monopoli, mari kita ambil sebuah contoh sederhana. 

Katakanlah, permintaan pasar adalah: Qd = 200 – P, di mana P adalah harga pasar. 

Pasar hanya terdiri dari dua perusahaan. Kurva penawaran untuk masing-masing perusahaan
diwakili oleh biaya marginal (MC), yang mana konstan pada Rp20.

Mari kita selesaikan kasus tersebut.

Karena hanya ada dua, kuantitas penawaran pasar (Qs) sama dengan penjumlahan kuantitas
output dari perusahaan pertama (Qs1) dan kuantitas output dari perusahaan kedua (Qs2).
Model Cournot adalah model ekonomi untuk menjelaskan pasar oligopoli. Model ini
mengasumsikan bahwa perusahaan memutuskan secara independen tingkat produksi yang
memaksimalkan laba. Maksud saya, mereka tidak tergantung berapa banyak yang pesaing
produksi.

Nama istilah ini diambil dari pencetusnya, Augustin Cournot, seorang ahli matematika
Prancis.

Asumsi dasar model Cournot

Dalam model ini, perusahaan menghasilkan produk yang homogen. Mereka berupaya untuk
memaksimalkan keuntungan dengan memilih berapa banyak yang akan diproduksi. 

Oleh karena itu, dalam struktur pasar ini, basis persaingan adalah jumlah output yang
dihasilkan. Semua perusahaan memilih output secara bersamaan dan mengambil sesuai
dengan jumlah pesaing-pesaingnya. Mereka mengasumsikan output pesaing tidak berubah.

Asumsi lainnya adalah perusahaan tidak dapat berkolusi atau membentuk kartel. Mereka juga
memiliki pandangan yang sama tentang permintaan pasar, dan terbiasa dengan biaya operasi
pesaing.

Solusi duopoli cournot

Model Cournot menghasilkan hasil yang logis. Dalam jangka panjang, harga dan output
stabil, dalam arti, tidak ada kemungkinan perubahan output atau harga yang akan membuat
perusahaan lebih baik. 

Dalam struktur pasar duopoli, solusi Cournot berada di antara keseimbangan kompetitif dan
monopoli. Persaingan sempurna menghasilkan harga terendah dan output tertinggi.
Sedangkan, monopoli membebankan harga tertinggi dan menghasilkan output terendah. 

Selanjutnya, ketika jumlah perusahaan dalam industri meningkat, keseimbangan industri


mendekati keseimbangan kompetitif.

Untuk menjawab kenapa solusi Cournot berada di antara pasar persaingan sempurna dan
monopoli, mari kita ambil sebuah contoh sederhana. 

Katakanlah, permintaan pasar adalah: Qd = 200 – P, di mana P adalah harga pasar. 

Pasar hanya terdiri dari dua perusahaan. Kurva penawaran untuk masing-masing perusahaan
diwakili oleh biaya marginal (MC), yang mana konstan pada Rp20.
Mari kita selesaikan kasus tersebut.

Karena hanya ada dua, kuantitas penawaran pasar (Qs) sama dengan penjumlahan kuantitas
output dari perusahaan pertama (Qs1) dan kuantitas output dari perusahaan kedua (Qs2).

Qs = Qs1 + Qs2

Ingat, ekuilibrium pasar terjadi ketika permintaan pasar sama dengan penawaran pasar (Qd =
Qs). Jadi kita dapat mengkonversi persamaan permintaan pasar di atas menjadi:

Qd = Qs <—> 200 – P = Qs1 + Qs2

Dari persamaan tersebut, kita memperoleh persamaan untuk harga pasar, yakni sebagai
berikut:

 P = 200 – Qs1 – Qs2

Selanjutnya, kita akan mencari pendapatan untuk masing-masing perusahaan menggunakan


persamaan harga pasar di atas. Pendapatan adalah harga pasar dikali dengan kuantitas output. 

 Total pendapatan perusahaan ke-1 (TR1) = P x Q s1 = (200 – Qs1 – Qs2) x Qs1= 200Qs1 –
(Qs1 x Qs1) – (Qs2 x Qs1) = 200Qs1 – Qs12 – (Qs2 x Qs1)
 Total pendapatan perusahaan ke-2 (TR2) = P x Q s2 = (200 – Qs1 – Qs2) x Qs2= 200Qs2 –
(Qs2 x Qs1) – (Qs2 x Qs2) = 200Qs2 – (Qs2 x Qs1 )– Qs22 

Dalam jangka panjang, perusahaan berproduksi pada tingkat output yang memaksimalkan
laba. Itu terjadi ketika pendapatan marginal (MR) sama dengan biaya marginal (MC). Karena
kita telah tahu nilai MC (Rp20), tugas berikutnya adalah mencari pendapatan marginal.

Dalam jangka panjang, perusahaan berproduksi pada tingkat output yang memaksimalkan laba.
Itu terjadi ketika pendapatan marginal (MR) sama dengan biaya marginal (MC). Karena kita
telah tahu nilai MC (Rp20), tugas berikutnya adalah mencari pendapatan marginal.

Pendapatan marginal sama dengan turunan pertama dari total pendapatan sehubungan dengan
kuantitas yang diproduksi masing-masing perusahaan. Untuk perusahaan ke-1, kita menurunkan
persamaan TR1 terhadap Qs1. Sedangkan, untuk perusahaan ke-2, kita menurunkan persamaan
TR2 terhadap Qs2. Hasilnya:

 Pendapatan marginal perusahaan ke-1 (MR1) = 200 – 2Qs1 – Qs2 


 Pendapatan marginal perusahaan ke-2 (MR2) = 200 – 2Qs2 – Qs1 

Karena kedua perusahaan memiliki biaya marginal yang sama, yakni Rp20, kita pada akhirnya
dapat menghitung Qs2 dan Qs1. 
Untuk memaksimalkan keuntungan, perusahaan akan beroperasi pada tingkat di mana MR =
MC. Jadi, untuk kedua perusahaan kita mendapatkan persamaan sebagai berikut: 

 Perusahaan ke-1: MR1 = MC <—> 200 – 2Qs1 – Qs2 = 20


 Perusahaan ke-2: MR2 = MC <—> 200 – 2Qs2 – Qs1 = 20

Pertama, mari kita selesaikan untuk perusahaan ke-1 dan mendapatkan persamaan untuk Qs2.

200 – 2Qs1 – Qs2 = 20 <—> Qs2 = (200-20) – 2Qs1 <—> Qs2 = 180 – 2Qs1 

Sekarang, kita mensubstitusikan persamaan Qs2 ke perusahaan ke-2. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan nilai Qs1.

200 – 2Qs2 – Qs1 = 20 <—> 200 – 2(180 – 2Qs1) – Qs1 = 20 <—> 200 – 360 + 4Qs1 – Qs1 = 20 <
—> -160 + 3Qs1 = 20

Jadi, nilai Qs1 = (20+160)/3 = 60.

Setelah mendapatkan nilai Qs1, tugas selanjutnya adalah mendapatkan nilai Qs2.

Qs2 = 180 – 2Qs1 = 180 – (2 x 60) = 60

Jadi, dalam penetapan harga strategis Cournot, harga dan kuantitas ekuilibrium akan sama
dengan:

 P = 200 – Qs1 – Qs2 = 200 – 60 – 60 = 80


 Qd = 200 – P = 200 – 80 = 120

Mari kita bandingkan hasilnya dengan pasar persaingan sempurna dan monopoli.

Di bawah pasar persaingan sempurna, pemaksimuman laba akan terjadi ketika harga sama
dengan biaya marginal dan sama dengan pendapatan marginal: P = MR = MC = Rp20. Dan
untuk kuantitas: Qd = 200 – P = 200 – 20 = 180.

Di bawah monopoli, keseimbangan terjadi ketika pendapatan marginal sama dengan biaya


marginal (MR = MC). Karena hanya ada satu perusahaan, maka total pendapatan akan sama
dengan: TR = P × Qd = (200 – Qd ) Qd = 200Qd – Qd2. 

Dalam hal ini, pendapatan marginal (turunan pertama terhadap Qd ) adalah: 200 – 2Qd. 

Karena MR = MC, kita mendapatkan harga dan kuantitas di pasar monopoli sebagai berikut:
 MR = MC <—> 200 – 2Qd = 20 <—> Qd= 90 
 P = 200 – Qd = 200 – 90 = 110

Secara ringkas, saya menyajikan kuantitas dan harga di tiga pasar tersebut dalam tabel di bawah
ini.

Item Persaingan sempurna Cournot Monopoli

Harga 20 80 90

Kuantitas 180 120 110

Kritik terhadap model Cournot

Beberapa asumsi model Cournot mungkin tidak realistis di dunia nyata. 

Dalam model duopoli klasik Cournot, kedua pemain menetapkan kuantitas mereka secara
independen. Ini tidak realistis. Jika hanya ada dua pemain, maka masing-masing akan
cenderung sangat responsif terhadap strategi yang diambil oleh pesaing.

Kuantitas bukan satu-satunya basis persaingan. Dalam industri oligopoli, persaingan tidak


hanya berbasis harga, tetapi melalui diferensiasi. 

Diferensiasi memungkinkan perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan tanpa harus terlibat


dalam persaingan harga. Jadi, ketika kuantitas naik, harga belum tentu jatuh jika produk sangat
unik dan sulit untuk menemukan pengganti sempurnanya.

4. Jelaskan dua ciri utama pasar kompetitif yang monopolistik ! Menurut anda, apakah di
Indonesia terdapat pasar kompetitif yang monopolisitik ? jika ada sertakan dengan contoh,
jika tidak mengapa
a. Memiliki jumlah produsen yang sangat banyak
Seperti pada pasar persaingan sempurna, pasar monopolistik memiliki jumlah produsen yang
sangat banyak. Karena banyaknya produsen, maka tiap-tiap produsen memiliki pangsa pasar
(market share) yang cenderung kecil. Hal ini membuat produsen memiliki kekuatan yang
terbatas untuk menentukan harga mereka karena harga yang ditentukan dalam pasar ini
adalah harga rata-rata dari produk dari produsen lain. Selain itu, karena banyaknya produsen
dalam pasar monopolisitik maka praktik kolusi (beberapa produsen melakukan kesepakatan
untuk menaikan harga pasar) akan sulit dilakukan karena sulitnya koordinasi antar produsen.
b. Adanya diferensiasi produk
Diferensiasi produk adalah ketika produsen memproduksi produk yang sedikit berbeda
namun serupa dengan produk pesaingnya. Sebagai contoh; Adidas, Nike, Skechers, Fila, dan
Puma sama-sama memproduksi running shoes, namun tiap produk mereka memiliki ciri khas
tersendiri. Dalam pasar monopolistik, ketika harga dari salah satu produsen naik sedangkan
harga produk dari produsen lain tetap konstan, maka permintaan akan produk tersebut akan
turun. Contoh ketika Adidas menaikan harga running shoesnya namun Nike, Skechers, Fila,
dan Puma tidak, maka konsumer akan beralih untuk membeli produk substitusinya.

Diferensiasi produk sendiri dapat dilakukan dari segi karakteristik produk maupun dari segi
kualitas produk.

c. Masing-masing produsen bersaing dari segi kualitas, harga, serta cara pemasaran
produk mereka
Karena produk yang ada pada pasar monopolistik cenderung serupa, maka produsen akan
bersaing dari segi kualitas, harga, serta cara pemasaran produk mereka masing-masing.
Produsen akan berlomba-lomba memperbaiki kualitas produknya seperti melalui desain
produk mereka ataupun servis yang diberikan kepada konsumen. Dari kualitas produk
tersebut, produsen dapat mengatur harga produknya. Ketika produk yang diproduksi memiliki
kualitas yang tinggi, maka produsen dapat memberikan harga yang tinggi pada produk
tersebut. Namun, produsen harus meyakinkan konsumen bahwa produk mereka adalah
produk dengan harga yang tinggi tersebut juga memiliki high quality. Oleh sebab itu, untuk
meyakinkan konsumen, produsen harus melakukan trik pemasaran yang tepat seperti
membuat kemasan yang lebih mewah, memberikan insentif seperti bonus produk lain,
ataupun melalui iklan-iklan yang menyatakan bahwa produk mereka lebih baik dibandingkan
produk lain yang serupa.

d.  Produsen bebas untuk keluar dan masuk kedalam pasar


Sama seperti Pasar Persaingan Sempurna, dalam Pasar Monopolistik produsen dapat bebas
masuk dan keluar pasar. Bebas masuk dan keluar pasar yang dimaksud adalah tidak ada
halangan bagi produsen baru yang ingin menjual produk mereka dalam pasar atau produsen
lama yang ingin keluar dari pasa
Menurut saya di Indonesia terdapat pasar kompetitif yang monopolistik, Pasar monopolistik
banyak kita temui pada kehidupan sehari-hari, seperti sampo, sabun, TV, sepatu, air mineral,
dan lain-lain. Pada pasar air mineral, ada banyak produsen yang memproduksi air mineral
seperti Aqua, VIT, Le Minerale, Prima, atau Nestle. Masing-masing produsen memiliki ciri
khas tersendiri seperti kemasan, kualitas, atau ukuran yang membedakan produknya dengan
produk saingan. Contoh lain untuk sepatu olahraga, Reebok, Adidas, Fila, dan Nike sama-
sama memproduksi sepatu olahraga, namun masing-masing merek memiliki desain,
keunikan, serta keunggulan yang berbeda-beda. Konsumen pada akhirnya akan memilih
produk sesuai dengan preferensinya.
5. Jelaskan jenis-jenis pasar tenaga kerja ! sertakan dengan contohnya.

Pasar Tenaga Kerja dapat diartikan sebagai suatu pasar yang mempertemukan penjual dan
pembeli tenaga kerja. Sebagai penjual tenaga kerja di dalam pasar ini ialah para pencari kerja
(Pemilik Tenaga Kerja), sedangkan sebagai pembelinya yaitu orang-orang / lembaga yang
memerlukan tenaga kerja. Pasar tenaga kerja diselenggarakan dengan maksud untuk
mengkoordinasi pertemuan antara para pencari kerja dan orang-orang atau lembaga-lembaga
yang membutuhkan tenaga kerja.

Dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dari perusahaan, maka pasar tenaga
kerja ini dirasakan bisa memberikan jalan keluar bagi perusahaan untuk memenuhinya.
Dengan demikian tidak terkesan hanya pencari kerja yang mendapat keuntungan dari adanya
pasar ini. Untuk menciptakan kondisi yang sinergi antara kedua belah pihak, yakni antara
penjual dan pemberi tenaga kerja maka diperlukan kerjasama yang baik antara semua pihak
yang terkait, yaitu penjual tenaga kerja, pembeli tenaga kerja, dan pemerintah.

Jenis-Jenis Pasar Tenaga Kerja


1. Pasar tenaga kerja terdidik, terlatih, tidak terdidik dan tidak terlatih.

Tenaga kerja terdidik yaitu tenaga kerja yang memerlukan pendidikan khusus seperti dokter,
akuntan, guru, dan lain-lain. Adapun tenaga kerja terlatih yaitu tenaga kerja yang
memerlukan latihan dan pengalaman seperti montir, sopir, koki, dan lain-lain.

Ciri-Cirinya :

 Pasar tenaga kerja terdidik yaitu pasar yang mempertemukan permintaan dan


penawaran tenaga kerja terdidik.
 Pasar tenaga kerja terlatih yaitu pasar yang mempertemukan permintaan dan
penawaran tenaga kerja terlatih.
 Pasar tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih yaitu pasar yang
mempertemukan permintaan dan penawaran tenaga kerja tidak terdidik dan tidak
terlatih, seperti tukang angkut, tukang batu, dan lain-lain.

2. Pasar tenaga kerja utama dan biasa

 Pasar tenaga kerja utama (primary labour market) yaitu pasar tenaga kerja yang
mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut:
o Terjadi pada lingkungan perusahaan besar,
o Manajemen perusahaan sangat baik,
o Tingkat pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan sangat tinggi,
o Gaji dan upah tinggi,
o Jaminan sosial yang baik,
o Disiplin pegawai sangat tinggi,
o Jumlah perpindahan pegawai sedikit.
 Pasar tenaga kerja biasa (secondary labour market) yaitu pasar tenaga kerja yang
mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut:
o Terjadi pada lingkungan perusahaan kecil,
o Manajemen perusahaan kurang baik,
o Tingkat pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan rendah,
o Gaji dan upah rendah,
o Jaminan sosial kurang baik,
o Disiplin pegawai rendah,
o Sering terjadi perpindahan pegawai.

3. Pasar tenaga kerja intern dan ekstern

Pasar tenaga kerja intern yaitu pasar yang mendahulukan para pegawai yang sudah ada untuk
mengisi lowongan kerja yang dibutuhkan. Ini berarti berkaitan dengan pemberian promosi
(kenaikan jabatan) bagi pegawai yang bersangkutan. Pasar tenaga kerja ekstern yaitu pasar
yang mempersilakan orang luar untuk mengisi lowongan kerja yang dibutuhkan.

4. Pasar tenaga kerja dalam negeri dan luar negeri

Pasar tenaga kerja dalam negeri yaitu pasar tenaga kerja yang terjadi di dalam negeri. Pasar
tenaga kerja luar negeri yaitu pasar tenaga kerja yang terjadi di luar negeri.

Indonesia sebagai negara yang mempunyai jumlah penduduk yang tinggi (kurang lebih 220
juta) dengan banyaknya jumlah pengangguran akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan
dan memunculkan maraknya kejadian PHK (Pemusatan Hubungan Kerja) sangat
membutuhkan jasa pasar tenaga kerja luar negeri. Dengan adanya pasar tenaga kerja luar
negeri, Indonesia dapat mengurangi jumlah pengangguran sekaligus menambah devisa
negara.

5. Pasar Tenaga Kerja Persaingan Sempurna

Dalam pasar tenaga kerja persaingan sempurna terdapat banyak sekali perusahaan. Oleh
karena itu, para tenaga kerja dapat menawarkan jasanya secara perseorangan pada perusahaan
yang diinginkan. Pada pasar ini, setiap tenaga kerja bertindak demi kepentingan masing-
masing dan tidak mendirikan perserikatan seperti serikat pekerja demi mewakili kepentingan
bersama. Pada pasar ini berlaku pula hukum permintaan dan hukum penawaran seperti pada
pasar barang dan jasa (pasar output). Itu berarti, semakin tinggi upah tenaga kerja, semakin
sedikit permintaan terhadap tenaga kerja. Sebaliknya, semakin rendah upah tenaga kerja,
semakin banyak permintaan terhadap tenaga kerja. Hal demikian berlaku pula pada
penawaran, yakni semakin tinggi upah tenaga kerja semakin banyak penawaran tenaga kerja.
Sebaliknya, semakin rendah upah tenaga kerja semakin sedikit penawaran tenaga kerja.

6. Pasar Tenaga Kerja Monopoli

Berbeda dengan pasar tenaga kerja persaingan sempurna, pada pasar ini seluruh tenaga kerja
bersatu, menyatukan kekuatan dan kepentingan dengan bergabung dalam serikat pekerja atau
serikat buruh. Serikat pekerja bertugas mewakili para pekerja dalam menuntut upah dan
fasilitas-fasilitas lain kepada perusahaan demi meningkatkan kesejahteraan pekerja. Karena
bergabung dalam satu kekuatan, yakni serikat pekerja maka para tenaga kerja memiliki hak
monopoli dalam menjual atau menawarkan tenaganya.
Dalam pasar tenaga kerja monopoli, penentuan tingkat upah bisa dilakukan dengan cara
sebagai berikut.

 Menuntut upah lebih tinggi dari upah ekuilibrium.


 Membatasi penawaran tenaga kerja.
 Menambah permintaan tenaga kerja.

7. Pasar Tenaga Kerja Monopsoni

Pasar tenaga kerja monopsoni terjadi jika di satu wilayah tertentu hanya ada satu perusahaan
yang bersedia meminta tenaga kerja, sedangkan para tenaga kerja tidak mempunyai
organisasi seperti serikat pekerja. Ini berarti, kekuatan perusahaan jauh lebih besar dibanding
tenaga kerja. Akibatnya upah yang terjadi umumnya di bawah upah ekuilibrium atau upah
keseimbangan.

8. Pasar Tenaga Kerja Monopoli Bilateral

Pasar tenaga kerja monopoli bilateral terjadi jika terdapat dua kekuatan yang saling
bertentangan. Kekuatan pertama berasal dari para tenaga kerja yang bersatu dalam serikat
pekerja, dan kekuatan kedua berasal dari satu perusahaan yang merupakan satu-satunya
perusahaan yang memakai tenaga kerja. Serikat pekerja yang memberikan penawaran tenaga
kerja mempunyai posisi yang sama kuat dengan perusahaan yang melakukan permintaan
tenaga kerja, sehingga terjadilah keadaan saling memonopoli, yang disebut monopoli bilateral