Anda di halaman 1dari 22

BERBAGAI KELEMAHAN PENANGANAN PT BANK CENTURY

TAHUN 2004-2008

Anwar Nasution1

1. Pendahuluan

Hampir tidak ada kaitan antara kebangkrutan PT Bank Century (BC) dengan
krisis keuangan global yang terjadi sejak Agustus 2007. BC adalah merupakan bank
papan bawah dan bukan pemain penting baik di pasar uang antar bank maupun di
bursa valuta asing nasional maupun global. Kesulitan keuangan suatu bank ditularkan
kepada bank ataupun lembaga keuangan lainnya (contagious) melalui pasar uang
antar bank dan pasar devisa devisa tersebut.

Kolapsnya BC adalah merupakan akibat buruknya reputasi bank tersebut


karena rangkaian tindakan pelanggaran aturan perbankan yang sudah bertahun-tahun
dilakukan oleh pemilik serta pengurusnya sendiri yang luput dari pemantauan Bank
Indonesia (BI), Bapepam dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Reputasi BC yang
buruk itu telah semakin mempercepat kejatuhannya karena para deposan besar
menarik tabungannya dari bank tersebut. Selain menghadapi reputation risk yang
tinggi BC sekaligus menghadapi gearing atau leverage risk yang sangat tinggi pula
karena tingginya ketergantungan dananya pada sekelompok nasabah besar tertentu.

Pengambil alihan BC oleh LPS, melalui suntikan Penyertaan Modal


Sementara (PMS), telah membuka lebar pundi-pundi kas negara kepada tiga orang
pemegang saham pengendali BC yang memiliki reputasi kurang baik. Dua
diantaranya adalah warga negara asing dan seorang WNI. Dengan demikian,
sebahagian dari hutang luar negeri kita yang semakin membubung itu adalah
digunakan untuk membiayai “perampokan” kas negara oleh ketiga orang tersebut
melalui BC. Padahal, tujuan masuknya investor asing pada industri perbankan
nasional adalah untuk membawa masuknya modal, alih teknologi, membawa nasabah
dari luar negeri untuk ikut membangun perekonomian Indonesia dan membuka
peluang pasar global dan sumber keuangan internasional bagi perusahaan nasional di
dalam negeri.

Pernyataan yang mengatakan bahwa penyelamatan BC adalah merupakan


upaya untuk meredam dampak psikologis krisis global pada industri perbankan dan
perekonomian nasional adalah merupakan halusinasi pembuat pernyataan itu. Asalkan
dapat dilokalisir dan diberikan dukungan kuat bagi bank yang layak serta “viable”,
dampak psikologis kesulitan BC dapat ditiadakan dan pembubarannya tidak akan
punya dampak sistemik pada industri perbankan dan perekonomian nasional.

Akar masalah BC adalah pada kelemahan sistem perijinan, pengawasan


maupun dalam penanganan lembaga-lembaga keuangan (utamanya bank) bermasalah
dan perusahaan masuk bursa (Tbk). Kelemahan tersebut dimulai dari tidak tegasnya
1
Professor Dr. Anwar Nasution adalah Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, mantan Deputi Gubernur
Senior Bank Indonesia (26 Juli 1999 - 25 Juli 2004) dan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia, Desember 2004-Oktober 2009.

1
BI dalam menegakkan aturan perbankan, sejak pendirian BC hingga sepanjang
usianya yang singkat selama periode Desember 2004-Nopember 2008. LPS hanya
berfungsi sebagai kasir juru bayar tanpa memantau dan dan menganalisis kondisi
keuangan bank-bank yang dijaminnya. Sebagai satu-satunya pemeriksa bank, BI tidak
memiliki data lengkap, akurat dan terkini atas informasi mengenai BC walaupun
sudah menempatkan on-site supervisor pada bank itu. BC adalah merjer tiga bank
yang sudah masuk bursa (Tbk), yakni Bank Pikko, Tbk, Bank CIC, Tbk dan Bank
Danpac, Tbk yang seharusnya diawasi oleh Bapepam. Kalau kualitas perusahaan Tbk
di bursa efek-efek Jakarta seperti ini, saham yang diperdagangkan di Bursa Efek
Indonesia tidak jelas kualitasnya yang menjurus ke penipuan.

BI tidak memantau pelaksanaan persyaratan akuisisi Chinkara Capital atas


ketiga bank tersebut, membiarkan perusahaan asing itu terus menerus melanggar
berbagai aturan prudensial perbankan serta komitmen yang telah dibuatnya dengan BI
dan merongrong kas negara. Stress test sebagai early warning indicators yang
digunakan oleh BI dalam melakukan analisa dampak sistemik BC memberikan
gambaran yang salah. Kesimpulan yang salah tersebut terjadi karena model stress test
yang dipergunakan itu tidak sesuai dengan struktur usaha BC, yang banyak terkait
dengan usaha terafliasi, maupun dengan infrastruktur pasar keuangan di Indonesia
yang masih lemah dan tidak menggunakan data yang lengkap, akurat dan terkini.

2. BC Yang Catat Sejak Lahir

BC berdiri setelah BI, pada tanggal 6 Desember 2004, memberikan ijin merjer
atas ketiga bank yang sudah masuk bursa diatas. BC dimiliki oleh 3 orang pemegang
saham pengendali yakni: RAR, (Rafat Ali Rivzi, warganegara Inggeris turunan
Pakistan), RT (Robert Tantular, WNI) dan AHT (Alwarraq Hesham Tallat, warga
Saudi Arabia). RAR mengendalikan sahamnya kegiatan usahanya di Indonesia
melalui Chinkara Capital yang didirikan pada tanggal 8 Oktober 1999. Dewasa ini,
AHT ikut menjadi pemilik Chinkara Capital yang kemudian berubah nama menjadi
FGAH (First Gulf Asia Holding). Bank CIC adalah bank milik keluarga RT dan
sudah terkenal sering melakukan penyimpangan aturan perbankan. AHT merupakan
Wakil Komisaris Utama BC. Perusahaan milik keluarga RT yang menjadi pemegang
sekitar 43 persen saham BC, antara lain, adalah ADS (Antaboga Delta Sekuritas ) PT
Century Mega Investindo dan PT Century Super Investindo.

RDG (Rapat Dewan Gubernur BI) tanggal 27 Nopember 2001, yang pertama
kali membahas permohonan Chinkara Capital untuk mengambil alih atau akuisisi
ketiga bank itu, menetapkan tiga persyaratan yang harus dipenuhi olehnya sebelum
permohonannya itu dapat disetujui. Ketiga persyaratan itu adalah: (i) mencukupi
keperluan modal bank sehingga mencapai minimum 8 persen; (ii) memperbaiki
manajemen bank dan (iii) mencegah terulangnya tindakan yang melawan hukum
(Grafik-1). RDG sekaligus menugaskan kepada DPwB1 untuk mengkoordinir
penelitian mengenai kepemilikan saham dan kemungkinan tindakan yang melawan
hukum. Salah satu bentuk tindakan yang melawan hukum yang dibahas dalam RDG
tersebut adalah masalah dugaan pencucian uang.

Laporan pemeriksaan pada ketiga bank itu, yang tersedia pada tanggal 21
Nopember 2001, memang menunjukkan bahwa CIC dan Pikko sudah pantas untuk
dibubarkan sedangkan Danpac masih cukup sehat. CIC dan Pikko pantas ditutup

2
karena tidak memenuhi CAR, memiliki manajemen yang buruk dan sering melanggar
aturan prudensial perbankan, termasuk dugaan kriminal. Namun, pejabat BI yang
memeriksa ketiga bank itu percaya bahwa RAR pemilik Chinkara Capital yang akan
mengakuisisi Pikko dan CIC memiliki kemampuan untuk menambah modal dan
kemauan untuk memperbaiki manajemen kedua bank itu dan berjanji untuk tidak lagi
melakukan pelanggaran hukum. Atas dasar itulah Dewan Gubernur BI memberikan
kesempatan bersyarat kepada Chinkara Capital untuk memperbaiki ketiga bank
tersebut.

Pada hakikatnya, keputusan rapat tanggal 16 April 2004 tersebut adalah sama
dengan keputusan Rapat Dewan Gubernur BI tanggal 27 Nopember 2001. Bedanya
adalah bahwa keputusan rapat tanggal 16 April 2004 lebih tegas baik dalam
persyaratan modal yang harus dipenuhi oleh Chinkara untuk (i) dapat melakukan
akuisisi maupun (2) ketegasan mengenai jadwal waktu penambahan modal yang harus
dipenuhi. Dalam rapat tanggal 16 April 20042, pemilik dan pengurus BC telah berjanji
untuk melakukan tiga hal. Komitmen pertama adalah bahwa BC mencukupi
kekurangan modal Pikko dan CIC sekitar Rp300-400 miliar sehingga CAR mencapai
minimal 8 persen. Dalam kaitan ini, pemilik bank berjanji untuk mengganti MTN
(Medium Term Notes) senilai US$32 juta yang dikeluarkan oleh Bank Dresner
sebagai setoran modal yang ternyata macet dan tidak punya peringkat (rating). Untuk
menyelesaikan MTN bermasalah itu, RAR diwajibkan menempatkan uang tunai (cash
collateral) dalam escrow account di bank di Jakarta sebagai jaminan selambat-
lambatnya dalam 7 hari kerja sejak tanggal rapat tersebut. Komitmen kedua adalah
agar ketiga bank itu memperbaiki manajemennya. Komitmen ketiga adalah agar
pemilik ketiga bank itu untuk tidak lagi melakukan perbuatan yang melawan hukum.

Pada tanggal 22 Juli 2004, Direktur DPwB1 mengajukan dua catatan. Catatan
pertama (No. 6/29/DGS/DPwB1/Rahasia) yang melaporkan perkembangan terakhir
rencana merjer ketiga bank itu. Catatan kedua (No. 30/DGS/DPwB1/Rahasia) yang
melaporkan adanya temuan baru berupa rekayasa yang dilakukan oleh RAR atas
laporan keuangan Bank Pikko dan pelanggaran ketentuan BMPK (Batas Maksimum
Pemberian Kredit) oleh CIC. Temuan baru itu dapat membatalkan kelulusan ‘fit and
proper test’ RAR.

Menurut Catatan DPwB1 No. 6 diatas, karena Gubernur BI sudah memberikan


disposisi persetujuan bahwa merjer ketiga bank itu “multak diperlukan”3, ia
mengusulkan agar BI memberikan setidaknya dua jenis toleransi. Toleransi pertama
ádalah bahwa MTN Dresner Bank yang macet itu tidak digolongkan sebagai macet
hinggá tanggal jatuh temponya sehingga BC dapat memenuhi persyaratan CAR
sebesar 8 persen. Dalam masa tenggang waktu itu, diharapkan akan adanya pemodal

2
Rapat tanggal 16 April 2004 langsung dipimpin oleh Anwar Nasution dan dihadiri oleh Mr. Rafat Ali
Rivzi serta pengurus Bank Pikko, CIC dan Danpac maupun oleh pejabat BI terkait. Tujuan
penyelenggaraan rapat itu adalah untuk meminta ketegasan terakhir dari Chinkara pada ketiga
persyaratan akusisi yang diputuskan dalam RDG tanggal 27 Nopember 2001. Untuk pertama dan
terakhir kalinya, Anwar Nasution bertemu dengan Mr. Rafat maupun pengurus ketiga bank tersebut.
Baik secara pribadi maupun urusan dinas, Anwar Nasution tidak pernah bertemu maupun berkenalan
dengan Mr. Alwarraq Hesham maupun Robert Tantular.
3
Menurut keterangan Sdr. Sabar Anton Tarihoran, mantan Direktur DPwB1, yang menulis kedua
catatan tanggal 22 Juli 2004 tersebut, ia salah kutip dan kutipan itu sebenarnya adalah bersumber dari
disposisi Deputi Gubernur Maulana Ibrahim atas Catatan DPwB1 kepada Gubernur BI No.
6/16/GBI/DPwB1/Rahasia tanggal 16 April 2004.

3
baru. Toleransi ini diberikan berdasarkan keputusan Rapat KEP di Bali tanggal 3-4
Juli 2003. KEP ádalah Komite Evaluasi Perbankan yang beranggotakan para Direktur
yang membidangi perbankan di BI. KEP merupakan forum komunikasi untuk saling
tukar menukar informasi sesama anggotanya dan menyiapkan rekomendasi bagi
penyempurnaan kebijakan serta peraturan perbankan kepada RDG. Toleransi yang
kedua yang diajukan oleh DPwB1 dalam catatannya No. 6 itu ádalah berupa
penundaan sanksi fit and proper test atas RAR. Menurut keterangan pembuat Cacatan
itu, tujuan penundaan tersebut adalah untuk menggiring RAR sebagai pemegang
saham pengendali agar dapat memenuhi kecukupan modal Pikko dan CIC.

Penulis tidak menyatakan pendapat atas isi kedua Catatan DPwB1 tanggal 22
Juli 2004 termasuk pada disposisi yang ternyata salah kutip itu. Alasannya adalah
karena Anwar Nasution berpendapat bahwa perubahan persyaratan akuisisi yang
ditetapkan dalam RDG 27 Nopember 2001 dan keputusan rapat tanggal 16 April 2004
hanya dapat dilakukan oleh RDG sebagai forum tertinggi pengambilan keputusan di
BI. Pendapat Anwar Nasution tidak berubah dari keputusan RDG tahun 2001 dan
rapat bulan April 2004. Menjelang dua hari sebelum berakhirnya masa tugasnya di
Bank Indonesia, ia tidak lagi akan mengikuti RDG yang membahas topik tersebut.

DPwB1 ditugaskan untuk memantau implementasi komitmen Mr. Rafat dalam


rapat tanggal 16 April 2004 agar tidak hanya merupakan janji kosong belaka. Alat
pemaksa yang dipergunakan untuk memenuhi komitmen setoran modal adalah dengan
mengharuskan pemilik menempatkan jaminan uang tunai (cash collateral) pada Bank
CIC di Jakarta sebagai pemegang wali amanat (bank custodian). Dana pada escrow
account tersebut hanya dapat dicairkan dengan persetujuan BI dan hanya dapat
digunakan untuk menambah modal Bank Pikko. Menurut laporan DPwB1, selama
periode 30 April-30 Juni 2004, Chinkara Capital sudah menempatkan dana setara $30
juta (US$26,5 juta dan SG$5juta) pada escrow account tersebut untuk menambah
modal Pikko. Dengan penyetoran dana tersebut modal Pikko telah menjadi semakin
mendekati keperluan minimum 8 persen.

Seharusnya BI terus memaksa pemegang saham pengendali untuk melakukan


tambahan modal agar mencukupi CAR minimal 8 persen dan memupuk cadangan
bagi penyelesaian kredit bermasalah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya setelah
bulan Juli 2004. BI tidak berbuat apa-apa setelah mengetahui bahwa Chinkara
Capital, pada bulan September 2004, telah menggunakan sebesar $9,36 juta dari dana
escrow tersebut untuk menyelesaikan permasalahan BMPK pada Bank Pikko.
Bahkan, BI justru menyetujui perubahan ketentuan penempatan dana tunai jaminan
SSB bermasalah di bawah custodian bank di dalam negeri tersebut dengan
penyelesaian AMA (Asset Management Agreement) dan ASPA (Asset Sales Purchase
Agreement) yang dibuat kemudian setelah merjer. Dalam kedua model itu, BI
mengijinkan perubahan jaminan dana tunai menjadi escrow account yang dikuasai
oleh pihak terafliliasi pemegang saham pengendali di bank di luar negeri. AMA
dibuat tanggal 21 Pebuari 2006 dan ASPA pada tanggal 5 Nopember 2007. Berbeda
dengan Rapat 16 April 2004, dalam AMA dan ASPA tidak ada lagi dana jaminan
(cash collateral) yang hanya dapat dicairkan dengan persetujuan BI. Sekarang baru
diketahui bahwa AMA dan ASPA hanya merupakan janji kosong atau akal-akalan
pemegang saham untuk terus menerus mengulur waktu penyelesaian SSB.

4
Ternyata bahwa BI memberikan toleransi yang lebih luas daripada usul
DPwB1 tanggal 22 Juli 2004 untuk memungkinkan ketiga bank tersebut melakukan
merjer. Tolerasi yang pertama adalah mengenai permodalan. SSB bermasalah tetap
digolongkan sebagai lancar hingga tanggal jatuh temponya sehingga dapat
diperhitungkan sebagai setoran modal bank berdasarkan harga bukunya. Toleransi ini
sekaligus membebaskan BC dari kewajiban untuk memupuk cadangan PPAP
(Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktip) atas SSB bermasalah tersebut. Ternyata
bahwa selain SSB bermasalah Pikko sebesar $32 juta juta diatas, CIC juga memiliki
SSB bermasalah yang tidak punya peringkat ataupun jaminan sebesar $127 juta.
Toleransi yang kedua adalah untuk menangguhkan pemeriksaan atas ketiga bank
tersebut hingga proses merjer selesai. Toleransi ketiga adalah menunda penelitian
riwayat hidup (track record) pemegang saham pengendali dan pengurus ketiga bank
itu serta menunda pengenaan sanksi fit and proper terhadap RAR. Padahal sudah
diketahui bahwa selain tidak punya modal, pemegang saham pengendali ketiga bank
itu (dua diantaranya adalah warga negara asing) juga memiliki reputasi yang buruk.
Seperti ternyata sekarang ini, merjer ketiga bank itu justru menimbulkan malapetaka
bagi perekonomian nasional Indonesia dan bukan menciptakan manfaat.

3. BC Terus Menerus Melanggar Aturan Prudensial Perbankan

Sejak mulai lahir pada tanggal 6 Desember 2004 hingga diambil alih oleh LPS
pada tanggal 23 Nopember 2008, BC terus menerus melakukan rangkaian
pelanggaran aturan tanpa tindakan apa-apa dari BI, Bapepam maupun LPS. Padahal,
selain melakukan pengawasan secara tidak langsung melalui pemeriksaan laporan
(off-site supervision) Bank Indonesia menempatkan pengawas tetap (on-site
supervision) di BC sejak tahun 2005. Dalam usianya yang hanya empat tahun itu,
masalah BC adalah tetap pada SSB valas yang tidak dapat diselesaikan, pelanggaran
BMPK (Batas Maksimum Pemberian Kredit), PDN (Posisi Devisa Neto) dan
rangkaian pelanggaran aturan lainnya termasuk tindakan kriminal perbankan. Baru
berusia dua bulan sejak didirikan, pada bulan Pebruari 2005, modal BC telah menjadi
negatip sebesar -132,5 persen4. Berbagai tindak kejahatan perbankan termasuk
pembukaan L/C dan pemberian kredit fiktip, biaya operasional fiktip, penggelapan
tabungan nasabah oleh pemilik dan pengurus BC sendiri maupun pemecahan deposito
nasabah besar agar dapat memenuhi batas jaminan deposito oleh LPS serta
pelanggaran aturan bank dalam pengawasan khusus.

Tidak adanya tindakan korektip (prompt corrective measures) dari BI atas


pelanggaran aturan perbankan yang dibuat oleh BC. Ini tercermin dari pengampunan
maupun keringanan denda yang diberikan oleh BI pada rangkaian pelanggaran hukum
4
CAR Bank Century turun menjadi minus -132,5 persen pada bulan Pebruari 2005 karena adanya
perubahan aturan BI yang memacetkan SSB Bank Century senilai $163 juta yang tidak diperdagangkan
di bursa efek, tidak terdapat informasi nilai pasarnya secara transparan dan tidak memiliki peringkat
investasi. Peraturan yang merubah status SSB Bank Pikko dan CIC tersebut adalah PBI No.
7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. Perubahan
status SSB ini mengurangi kecukupan modal BC dan sekaligus mewajibkannya membuat PPAP atau
penyisihan cadangan sebesar 100 persen. Atas permintaan BC, BI memberikan tenggang waktu pada
BC untuk menjual SSB valas bermasalah itu paling lambat pada bulan Desember 2005. Karena tidak
dapat direalisir juga pada akhir tahun 2005, BI menyetujui usul BC menyelesaikan SSB tersebut
dengan model AMA dan ASPA. Kedua model ini meniadakan cash collateral yang diwajibkan dalam
keputusan rapat tanggal 16 April 2004. Dengan persetujuan BI tersebut, SSB bermasalah itu dinilai
kembali sebagai lancar sehingga dapat digunakan sebagai setoran modal berdasarkan nilai bukunya.
Akibatnya, CAR kembali dapat dipenuhi dan pemupukan cadangan PPAP tidak lagi perlu dilakukan.

5
maupun kesalahan BC. Menurut aturan yang dibuat oleh BI sendiri, BC seharusnya
masuk dalam pengawasan khusus karena ketidak cukupan modal karena perubahan
status SSB yang telah disebut diatas. Namun, BI hanya memasukkannya dalam
kelompok pengawasan intensip yang lebih ringan. BI pun tidak menerapkan aturan
yang mewajibkan BC membuat PPAP sebesar 100 persen. Sementara itu, karena
melanggar aturan PDN, seharusnya BC dikenakan denda hukuman sebesar Rp22
milyar namun diringankan oleh BI menjadi setengahnya sebesar Rp11 milyar.

BI tidak mampu mendeteksi atau dengan sengaja membiarkan pemilik BC


terus menerus melakukan rangkaian pelanggaran aturan dan kejahatan perbankan.
Secara formal, RT bukan merupakan pengurus BC apakah sebagai Komisaris, Direksi
ataupun karyawan. Namun demikian, ia sangat berperan dalam menjalankan operasi
BC seperti pemberian kredit serta keterkaitan erat usaha BC dengan setidaknya 10
perusahaan miliknya maupun 23 orang anggota keluarganya. Salah satu perusahaan
milik Anton Tantular (adiknya RT) yang kegiatannya sangat terikat dengan BC adalah
PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia (ADS). Didirikan pada tahun 1999, ADS
adalah merupakan stock broker dan investment manager (reksa dana). BC bertindak
sebagai sub-agen penjualan investasi dana tetap ADS dan memberikan kesan pada
investor bahwa investasi ADS itu adalah dijamin oleh BC.

Peranan langsung RT pada operasional BC tercermin dari empat ilustrasi


berikut. Pertama, dalam transaksi ADS dengan seorang pengusaha terkenal dari
Surabaya, sebut saja namanya BS, melalui Kantor Cabang BC Kertajaya, Surabaya,
RT menggeser kewajiban ADS atas discretionary fund yang jatuh tempo kepada BC.
Ilustrasi kedua adalah bahwa pada tanggal 14 Nopember 2008, RT memerintahkan
langsung Kepala Bagian Operasional BC Cabang Kertajaya, Surabaya, dan Direktur
Marketing BC Kantor Pusat untuk memindahkan deposito atas nama BS tersebut
sebesar $96,6 juta dari Cabang Kertajaya ke KPO Senayan, Jakarta. Sebesar $18 juta
dari deposito itu digunakan untuk menutup kerugian dana valas yang diambil dan
ditransfer oleh Theresia Dewi Tantular (TDT) ke luar negeri, selama periode Januari-
Nopember 2008, untuk keperluan pribadinya. Sebagian dari dana itu di transfer ke
berbagai pihak maupun perusahaan di dalam negeri. TDT adalah kakak RT yang
menjabat sebagai Kepala Divisi Bank Notes di BC.

Ilustrasi ketiga adalah adanya perintah langsung dari RT kepada LW,


Pimpinan Cabang KPO Bank Century di Senayan, Jakarta, pada tanggal 15 Nopember
2009, untuk mengkonversi deposito milik BS senilai $42.8 juta kedalam 247 bilyet
NCD (Negotiable Certificate of Deposit ) dengan nominal masing-masing Rp2
milyar, jumlah maksimal deposito yang dapat dijamin oleh LPS. Bilyet NCD itu
dibuat dengan menggunakan Kartu Tanda Penduduk milik nominees, yaitu para
pelamar kerja pada BC, tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Dari tanggal
perubahan bilyet ini, RT sudah mulai melakukan antisipasi untuk menggeser risiko
perbuatannya kepada LPS. Ternyata kemudian BS tidak setuju dengan konversi
depositonya kedalam NCD atas nama orang lain dan mengembalikan seluruh 247
bilyet NCD “jadi-jadian” tersebut kepada BC pada tanggal 17 Desember 2008.
Ilustrasi keempat adalah bahwa RT menunjuk langsung dua konsultan pemasaran dan
jasa penghubung BC dengan balas jasa yang ditetapkannya pula.

Pengawasan dan pemeriksa BI tidak mampu mengawasi atau dengan sengaja


membiarkan berbagai pelanggaran terhadap aturan yang berlaku selama BC berada

6
dalam status pengawasan khusus, mulai tanggal 6 Nopember 2008 hingga 10 Agustus
2009. Menurut aturan yang ditetapkan oleh BI sendiri, dalam status seperti itu, pihak
terkait dengan bank maupun pihak lain yang ditetapkan oleh BI dilarang untuk
melakukan penarikan dana dari rekening simpanan (giro, tabungan dan deposito) nya
yang ada di BC. Dalam kenyataan, ketentuan ini telah dilanggar dengan adanya
penarikan dana oleh pihak terkait sebesar Rp938.654 juta yang terdiri dari Rp628.162,
USD29.394.984, AUD166.857, SGD66.768 dan EUR4.465. Sebesar Rp71,7 milyar
dari dana Rupiah itu ditarik secara tuniai dan sisanya sebesar 556,4 milyar dipidah
bukukan ke bank lain.

Ringkasan berbagai pelanggaran yang dilakukan secara terus mernerus oleh


BC sejak mulai berdiri bulan Desember 2004 hingga diambil alih oleh LPS tanggal 24
Nopember 2008 dimuat dalam Grafik-2.

4. Badan Usaha Yang Terafiliasi Dengan Bank Century

Persoalan yang dihadapi oleh BC adalah masalah klasik yang dihadapi oleh
bank nasional. Selama ini, bank swasta didirikan dan dipergunakan oleh pemiliknya
untuk memobilisir dana masyarakat, termasuk meminjam dari bank sentral serta luar
negeri, guna membelanjai kegiatan usaha perusahaan terkait miliknya sendiri. Praktek
seperti ini telah menjadi salah satu pemicu krisis pada tahun 1997. Sebagaimana telah
diuraikan diatas, pemegang saham pengendali serta pengurus bank memiliki berbagai
perusahasan non-bank yang kegiatan operasional semuanya terkait erat dengan BC.
Sebagaimana telah disebut dimuka, secara formal, tidak ada manajemen ganda BC
dengan anak-anak perusahaan itu. Namun dalam realita, RT, misalnya, ikut campur
dalam kegiatan operasional sehari-hari bank tersebut. Demikian juga RAR dan AHT.
Struktur berbagai perusahaan terkait dilingkungan BC seperti inilah yang luput dari
pemantauan BI maupun LPS.

Menurut catatan resmi bukunya, per 31 Desember 2008, kredit yang diberikan
oleh BC kepada pihak yang terkait dengan RT mencapai setidaknya Rp592 milyar
atau 12 persen dari jumlah seluruh kredit sebesar Rp4,8 triliun. Kredit kepada pihak
terkait dengan pihak RT itu diberikan dengan prosedur yang melanggar pedoman
yang dibuatnya sendiri5. Untuk menutup kerugian kredit macet kepada pihak terkait
dengan RT, BC telah memupuk penyisihan kerugian sebesar Rp494 milyar atau
sebesar 77 persen dari kreditnya kepada pihak terkait tersebut. Sebahagian dari kredit
pada perusahaan terafiliasi tersebut digunakan untuk pembayaran kepada investor
ADS dan kerugian kredit ditutup dengan membentuk penyisihan tersebut diatas.
Tidak diketahui berapa jumlah kredit BC kepada perusahaan yang terkait dengan
pemegang saham pengendali lainnya, RAR dan AHT. Menurut laporan, beberapa dari
perusahaan terafiliasi milik RT dan RAR tersebut sedang disidik oleh penegak hukum
atas dugaan kegiatan tindak pidana pencucian uang, penipuan dan penggelapan.

5. Pantaskan BC diselamatkan?

Berbagai indikator menggambarkan bahwa BC tidak pantas diselamatkan


dengan menggunakan uang negara, apakah dalam bentuk FPJP (Fasilitas Pendanaan
Jangka Pendek bagi Bank Umum) dari BI maupun PMS (Penyertaan Modal
5
Kebijakan Perkreditan Bank dan Pedoman Pelaksanaan Kredit BC dituangkan dalam Surat Keputusan
No. 20/SK-DIR/Century/IV/2005 tanggal 21 April 2005.

7
Sementara) dari LPS. BC adalah merupakan bank kecil yang kurang modal dengan
reputasi yang sangat buruk dan dananya sangat tergantung pada sekelompok nasabah
besar serta pada pinjaman antar bank.

Kecuali penjelasan normatip dan hasil stress test BI yang mengambang, tidak
pernah Pemerintah memberikan penjelasan kenapa BC perlu diselamatkan.
Pemerintah tidak pernah menjelaskan secara rinci bagaimana persisnya kesulitan
ekonomi global mempengaruhi posisi keuangan BC dan bagaimana mekanismenya.
Juga tidak ada penjelasan bagaimana caranya kondisi keuangan BC itu ditularkan
pada puluhan bank lainnya sehingga menimbulkan dampak sistemik yang disebut oleh
Pemerintah itu. Padahal, sebagaimana telah disebut dimuka, BC adalah hanya
merupakan bank kecil papan bawah dan bukan merupakan pemain besar dalam
transaksi devisa maupun dalam transaksi pasar uang antar bank. Oleh karenanya, jika
ditangani dengan baik, dampak sistemik kegagalan BC yang sangat kecil pada
industri perbankan nasional dapat diisolir.

Peranan BC dalam transaksi devisa adalah juga sangat kecil karena tidak
memiliki nasabah eksportir maupun importir besar. Sementara itu, kecuali SSB nya
sendiri yang terus menerus bermasalah, BC bukan merupakan bank yang aktip dalam
penempatan portepel di luar negeri. Satu sen pun tidak ada uangnya sendiri ataupun
uang nasabahnya yang diinvestasikan dalam bentuk subprime mortgages yang
menjadi masalah di Amerika Serikat. Aset BC hanya merupakan 0,72 persen dari aset
seluruh perbankan, dana pihak ketiga yang dikumpulkannya hanya merupakan 0,68
persen dari dana seluruh bank dan kreditnya merupakan 0,42 dari seluruh kredit bank.
Majoritas kredit BC adalah untuk modal kerja dunia usaha kelas menengah kebawah
disektor jasa-jasa, perdagangan, restoran maupun industri pengolahan. Karena bukan
merupakan pemain penting, keterkaitannya dengan bank-bank lain melalui pasar uang
antar bank adalah juga kecil.

Nampaknya, alasan pokok untuk merubah persyaratan memperoleh FPD


(Fasilitas Pembiayaan Darurat) dan FPJP (Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek) yang
dilakukan oleh BI pada tanggal 14 Nopember 2008 hanyalah untuk sekedar dapat
dijangkau oleh BC yang sebenarnya sudah lama insolven dan memiliki networth yang
negatip. Keringanan persyaratan untuk memperoleh FPJP itu dilakukan dengan
menurunkan persyaratan CAR yang tadinya positip 8 persen (Peraturan BI tgl 30
Oktober 2008) menjadi positip tanpa menyebut angka. Perubahan peraturan BI
tentang FPJP dengan persyaratan CAR yang lebih ringan itu dikeluarkan pada hari
libur, yakni hari Sabtu, 14 Nopember 20086. Setelah FPJP ditandatangani, hari itu
6
Dalam jangka waktu empat hari, BI dua kali merubah peraturannya mengenai pemberian Fasilitas
Pembiayaan Darurat (FPD), yakni PBI No. 30/10/PBI/2008 tanggal 14 Nopember 2008 dan PBI No
10/31/PBI/2008 tanggal 18 Nopember 2008 yang merevisi PBI sebelumnya tanggal 3 Januari 2006
dan 30 Oktober 2008. Jangka waktu FPD itu adalah 90 hari kerja dan hanya dapat diperpanjang sekali
untuk 90 hari berikutnya. Tadinya, menurut tahun 2006, FPD diberikan kepada bank-bank umum yang
mengalami kesulitan sistemik yang memiliki CAR positip minimal 8 persen. Dalam PBI Oktober 2008
persyaratan CAR minimal itu diturunkan menjadi 5 persen dan pada tanggal 18 Nopember 2008
diturunkan lagi menjadi hanya positip, tanpa menyebut angka. Tadinya sumber pendanaan dana FPD
adalah dari rekening Pemerintah yang dibuka di BI. Sekarang dana FPD itu berasal dari BI yang
dijamin oleh Pemerintah. Prosedur mendapatkan fasilitas maupun penanganan bank bermasalah pun
diperjelas dalam FPD 18 Nopember 2008. Suatu bank memiliki dampak sistemik diputuskan oleh
Rapat KSSK yang diselenggarakan atas permintaan Gubernur BI. Sekarang ini, aset yang dapat
diterima sebagai agunan FPD hanya merupakan aset yang likuid dan berkualitas yang dinilai oleh
penilai independen. Berbeda dengan sebelumnya, kini personal guarantee dan corporate guarantee

8
juga FPJP langsung diberikan pada BC sebesar Rp689.394 juta. Jumlah FPJP ini
diberikan kepada BC berdasarkan informasi posisi CAR nya sebesar 2,35 persen pada
bulan September 2008. Ternyata kemudian bahwa CAR BC pada tanggal 31 Oktober
2008 sudah menjadi minus 3,53 persen. Ini menggambarkan bahwa BI tidak memiliki
informasi BC yang terkini walaupun sudah BI menempatkan on-site supervisor di
bank itu dan keduanya memiliki sistem teknologi informasi yang canggih. Keputusan
pemberian FPJP dan PMS kepada BC didasarkan atas stress test yang digunakan
sebagai early warning indicators yang akan diulas dalam bagian berikut.

Penurunan kepercayaan antar sesama lembaga keuangan dalam krisis


keuangan global sekarang ini telah menyebabkan segmentasi dan kekeringan
likuiditas serta peningkatan tingkat suku bunga di pasar uang antar bank maupun di
bursa valuta asing di seluruh dunia. Untuk mengatasi keadaan itu, negara-negara maju
menggunakan kebijakan ‘quantitave easing’ (QE) 7 dengan membanjiri likuiditas dan
menurunkan tingkat suku bunga kebijakan bank sentral hingga mendekati nol persen.
Kebijakan QE seperti ini sudah dilakukan di Jepang sejak dasawarsa 1990 an.
Sementara itu, untuk mengatasi kelangkaan mata uang US dollar, bank sentral
Amerika Serikat memberikan fasilitas currency swap kepada 14 bank sentral negara-
negara terkemuka8. Dibalik berbagai kemudahan tersebut, prinsip ke hati-hatian tetap
dijaga dan dipertahankan sebagaimana tercermin pada persyaratan untuk memperoleh
pinjaman dari bank sentral maupun dalam jenis kolateral yang dapat digunakan
sebagai agunan. Suntikan dana dari anggaran negara untuk menambah modal lembaga
keuangan lain (termasuk bank) pun dipertimbangkan dengan cermat akan untung
ruginya bagi kepentingan perekonomian nasional.

Di Indonesia, Pemerintah sudah mengintrodusir rangkaian kebijakan untuk


mengurangi dampak krisis global pada perekonomian dan industri perbankan
nasional. Seperti halnya dengan di berbagai negara lain, Pemerintah melarang ’short-
selling’ atau obral saham, terutama saham perbankan. Mulai tanggal 14 Oktober 2008,
BI menetapkan giro wajib minimum Rupiah sebesar 7,5 persen dan sebesar 1 persen
untuk valuta asing. Sebesar 5 persen dari giro wajib minimum itu ditempatkan dalam
rekening bank di BI dan sebesar 2,5 persen lainnya dalam bentuk SBI serta SUN.
Separuh dari saldo rekening bank di BI juga diberikan balas jasa bunga. Untuk
menambah cadangan luar negeri, BI melonggarkan ketentuan devisa dan
mengupayakan tambahan fasilitas currency swap dari negara-negara ASEAN+3.
Sementara itu, Pemerintah telah menambah pinjamannya dari ADB, Bank Dunia serta
negara-negara donor maupun menjual Samurai bond yang dijamin oleh Pemerintah
Jepang. Peraturan BI (PBI) pun sudah ada untuk menyediakan Fasilitas Pembiayaan
Darurat (FPD) bagi bank-bank yang bermasalah.

tidak lagi dapat dijadikan menjadi agunan FPD.


7
Kebijakan QE di berbagai negara maju itu dapat dibaca, a.l. dalam: Eiji Maeda, Bunya Fujiwara,
Aiko Mineshima dan Ken Taniguchi. 2005. “Japan’s Open Market Operations under the Quantitative
Easing Policy”. Bank of Japan Working Paper Series. No. 05-E-3. April. Stephen G. Cecchetti. 2008.
“Crisis and Responses: The Federal Reserve and the Financial Crises of 2007-2008”. NBER Working
Paper Series. No. 14134. June. dan Claudio Borio dan Phil Disyatat. 2009. “Unconventional monetary
policies: an appraisal”. BIS Working Papers. No. 292. November.
8
Keempat belas bank sentral yang mendapatkan fasilitas currency swap dari bank sentral Amerika
Serikat pada semester ketiga tahun 2008 adalah: Australia, Brazil, Canada, Denmark, ECB (the
European Central Bank), Korea, Jepang, Mexico, New Zealand, Norwegia, Singapura, Swedia, Swiss
dan Inggeris.

9
6. Penggunaan Penyertaan Modal Sementara

Sebelum diambil alih oleh LPS, baik BI maupun LPS tidak mengetahui
bagaimana persisnya kondisi keuangan BC. Ketidak tahuan ini lah yang menjadi
penyebab kenapa biaya penyelamatan BC yang semula diperkirakan hanya sebesar
Rp630 milyar terus membubung lebih dari 10 kali lipat menjadi Rp6,76 triliun.
Jumlah biaya penyelaman BC ini adalah setara dengan 583 persen dari modal
dasarnya yang disetor pada tahun 2007. Suntikan PMS (Penyertaan Modal
Sementara) oleh LPS dilakukan selama empat tahap, yakni: 23 Nopember 2008
(Rp2.776 milyar), 5 Desember 20048 Rp2.201 milyar), 3 Pebruari 2009 (Rp1.155
milyar) dan 21 Juli 2009 (Rp630 milyar). Sebesar Rp1.550.250 juta dari PMS tersebut
diberikan dalam bentuk SUN dan sisanya sebesar Rp5.212.111 juta dalam bentuk
uang tunai. Sisanya, sebesar Rp6.762,36 milyar, digunakan untuk memperbaiki CAR
BC sehingga mencapai minimum 8 persen. Menurut keterangan DPR, Perpu No. 4
Tahun 2008 tentang JPSK (Jaring Pengaman Sistem Keuangan) yang digunakan oleh
Pemerintah sebagai dasar bagi pemberian PMS kepada BC sebenarnya tidak berlaku
lagi karena sudah ditolak oleh DPR.

Suntikan FPJP dari BI serta PMS dari LPS adalah terutama dinikmati oleh
ketiga saham pengendali BC. Sebesar Rp3.185,89 milyar dari Rp5.869,49 milyar dana
PMS yang digunakan untuk memperbaiki CAR. Sebesar Rp3.185,89 milyar
daripadanya adalah dinikmati oleh RAR dan AHT karena LPS telah membeli SSB
mereka yang bermasalah dengan harga buku tanpa dinilai oleh perusahaan appraisal.
Sisanya sebesar Rp2.753,59 milyar dinikmati oleh keluarga RT, termasuk
penggelapan valas sebesar $18 juta oleh TDT maupun penyimpangan-penyimpangan
lain yang merugikan BC. Pokok pinjaman FPJP sebesar Rp689,39 milyar dan
bunganya sebesar Rp1,24 milyar dilunasi dengan penjualan SUN pada tanggal 11
Pebruari 2009. Sisa PMS digunakan untuk transaksi valas (Rp32,99 milyar),
penempatan pada SBI (Rp528,25 milyar), penempatan pada FASBI (Rp545,49
milyar), rekening giro di BI (Rp281,03 milyar) dan FTE (Fine Tune Extension) di BI
(Rp154,21 milyar).

Pernyataan yang mengatakan bahwa BC akan menimbulkan dampak sistemik


pada bank-bank lain melalui PUAB (pasar uang antar bank) hanyalah merupakan
imajinasi atau hayalan pembuat pernyataan itu. Ternyata bahwa peranan BC di
PUAB adalah sangat kecil yang tercermin dari besarnya penggunaan PMS untuk
melunasi kewajibannya di pasar tersebut. Hanya sebesar Rp303,092 juta dari PMS itu
yang digunakan untuk melunasi pinjaman PUAB nya. Pelunasan kewajiban PUAB itu
dilakukan tiga kali oleh BC, yakni: Nopember 2008 (Rp30.200 juta), Juni 2009
(Rp20.966 juta) dan Juli 2009 (Rp251.926 juta). Jumlah total kewajiban PUAB BC
sebesar Rp303 milyar itu hanya merupakan suatu fraksi kecil dari jumlah transaksi
Rupiah sesi pagi (Rp3.582 milyar) pada bulan Oktober 2008. Tingkat suku bunga
PUAB sesi pagi justru menurun menjadi 3,67 persen pada bulan Nopember 2008
dibandingkan dengan sebesar 7,80 persen pada bulan September sebelumnya dan 4,58
persen pada bulan Oktober9.
9
Makalah Robert Rigg dan Lotte Schou-Zibell. 2009. “The Financial Crisis and Money Markets in
Emerging Asia”. ADB Working Paper Series on Regional Economic Integration. No. 38. Manila: Asian
Development Bank. November menggambarkan bahwa pasar keuangan Indonesia tidak banyak
terpengaruh oleh krisis keuangan global karena, berbeda dengan Singapura dan Hong Kong, kurang
terintegrasi dengan pasar global. Kepercayaan masyarakat pada industri perbankan tetap tinggi,
terutama setelah adanya asuransi deposito, sehingga tidak ada bank run. Sementara itu, tambahan

10
Adalah sangat naif untuk menyamakan pengambil alihan BC oleh LPS dengan
penyelamatan the Northern Rock (NR) bank yang dilanda krisis di Inggris pada tahun
2008. NR adalah mortgage bank yang bergerak dalam penyediaan kredit perumahan
bagi golongan menengah ke bawah. NR kolaps karena turunnya nilai asetnya dalam
sub-prime mortgages Amerika Serikat. Deposannya pun adalah dari kalangan itu.
Kredit pemilikan rumah merupakan prioritas di semua negara maju termasuk di
Inggris. Dilain pihak, deposan utama BC adalah sekelompok nasabah besar. Arah
penggunaan kredit BC pun bukan untuk kelompok masyarakat kecil dan menengah
serta bukan untuk sektor yang di prioritaskan oleh Pemerintah. Struktur NR pun
berbeda dengan BC. NR merupakan entitas yang berdiri sendiri sedangan BC
dikelilingi oleh puluhan anak perusahaan milik pemegang saham pengendali yang
terus menerus merongrongnya. Governance NR bukanlah bandingan governance BC.
Gabungan antara perilaku pemegang saham pengendali BC yang menggelapkan dana
deposannya sendiri dan penyimpangan hukum lainnya telah semakin menurunkan
reputasi BC yang kemudian memicu penarikan dana nasabah besar dari bank tersebut.
Rumor yang ditiupkan oleh analis PT Danareksa pada awal Nopember 2008 hanya
merupakan sekedar penyebab tambahan.

Sebagaimana dengan bank-bank BUMN lainnya, dengan pengambil alihan


oleh LPS, kini BC tersebut adalah sepenuhnya menjadi tanggungan Pemerintah
melalui LPS. Pengucuran dana penyelamatan BC sebesar Rp6,76 triliun itu adalah
bagaikan selebaran yang ditaburkan dari helikopter karena tidak jelas status hukum
agunan dana talangan itu maupun cara penilaiannya. Di negara-negara lain, kolateral
untuk mendapatkan kredit dari bank sentral hanya dibatasi pada surat berharga yang
dikeluarkan oleh Pemerintah ataupun yang memiliki peringkat prima. Tujuan
pemilihan kualitas kolateral seperti ini adalah untuk melindungi erosi kualitas aset
bank sentral yang menimbulkan kerugian baginya10. Pada saat diambil alih, networth
BC sudah menjadi negatip. Dari pengalaman BLBI tahun 1997 maupun pengalaman
negara-negara lain diseluruh dunia, sulit dapat membayangkan bagaimana caranya
dana talangan BC itu dapat kembali utuh sebagaimana dijanjikan oleh Pemerintah dan
LPS.

7. Nasabah besar

BC menghadapi gearing/leverage risk yang sangat tinggi karena sumber dana


depositonya sangat tergantung kepada sejumlah kecil deposan besar. Pada bulan
September 2008, lebih dari 43 persen deposito BC adalah bersumber dari 50 nasabah
besar. Tiap deposan besar itu memiliki jumlah deposito diatas Rp 20 milyar. Deposan
terbesar adalah BS, pengusaha besar asal Surabaya yang pada bulan September 2008
menyumbang hampir 18 persen (Rp1,92 triliun) dari jumlah seluruh deposito BC.
Kelompok 7 perusahaan dan yayasan yang dikendalikan oleh Pemerintah dan BUMN
memiliki lebih dari 4,76 persen dari jumlah seluruh deposito BC. Deposan besar
sangat sensitip terhadap rumor mengenai mutu manajemen atas keselamatan
(soundness) banknya. Sementara itu, dan BUMN masih terikat untuk menempatkan
keperluan valas dipenuhi dari fasilitas currency swap dengan berbagai negara ASEAN+3.
10
Merosotnya kualitas aset BI karena menerima asset berkualitas rendah sebagai kolateral BLBI sudah
dialaminya sendiri pada masa krisis tahun 1997-98. Bagaimana ketatnya pemilihan kolateral kredit
bank sentral di negara-negara berupa sekuritas berkualitas tinggi, lihat, misalnya: Alexandre Chailloux,
Simon Gray dan Rebecca McCaughrin. 2008. “Central Bank Collateral Framework: Principles and
Policies”. IMF Working Paper. No. WP/08/22.September.

11
dananya pada bank-bank negara serta BPD yang secara implisit dijamin oleh
Pemerintah.

Para nasabah besar seyogyanya dapat memilih bank penempatan dananya


secara rasional, memilih portepel dan bank yang aman serta yang dapat memberikan
pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan usahanya. Apalagi para nasabah besar itu
memiliki konsultan keuangan yang dibayar sangat mahal untuk melakukan analisis
penempatan portepel. Dalam kaitan ini, tidak jelas apa alasannya kenapa 40 nasabah
besar besar itu menyimpan tabungannya di BC yang kecil. Jenis produk ataupun
pelayanan serta jaringan kantor cabang BC pun sangat terbatas. Modal dan kekayaan
BC tidak akan mungkin dapat membayar kembali tabungan mereka itu jika terjadi
apa-apa. Menurut neracanya, modal bersih BC pada tahun 2007 hanya sebesar
Rp768.553 juta atau kurang dari setengah dari nilai tabungan BS di bank itu pada
bulan September 2008. Produk serta pelayanan BC pun tidak ada yang istimewa dan
bahkan tidak memadai bagi kebutuhan perusahaan besar. BC pun tidak memiliki
jaringan kantor di daerah operasi berbagai perusahaan besar itu. Yang dapat diketahui
adalah bahwa BC memberikan tingkat suku bunga yang lebih tinggi (hingga 3-4
persen) daripada tingkat suku bunga penjaminan yang ditetapkan oleh Pemerintah.
Disamping itu, BS memberikan balas jasa lain diluar tingkat suku bunga, apakah
melalui kedua konsultan dan penghubung yang telah disewanya ataukah langsung
diberikan kepada pemilik rekening. Pejabat BC yang memegang administrasi
pembukuan ”biaya tidak tersangka” adalah TDT. Juga tidak diketahui apakah
penerimaan diluar bunga (resmi) tersebut masuk dalam buku perusahaan deposan
ataukah ke kantong pribadi pejabatnya.

Penarikan besar-besar an (bank run) dana deposan besar dari BC, terutama
oleh BUMN, telah menyebabkan BC mengalami kesulitan likuditas yang sangat
parah. Selama periode 24 Nopember 2008 hingga 10 Agustus 2009, sebesar
Rp4.018,79 milyar dana pihak ketiga ditarik dari BC. Jumlah ini setara dengan 84
persen dari jumlah simpanan 40 nasabah besar atau 37 persen dari seluruh dana pihak
ketiga masyarakat yang disimpan di bank tersebut pada bulan September 2008.
Dengan perkataan lain, deposan besar dan BUMN yang hanya tertarik pada tingkat
suku bunga tinggi dan komisi itu telah menjadi sumber instabilitas industri perbankan
dan industri keuangan di Indonesia. Sumber keresahan dan krisis seperti ini yang
seharusnya dapat dipantau oleh BI dan dicegah oleh Pemerintah, utamanya Meneg
BUMN. Pelaku keresahan yang merugikan keuangan negara itu seharusnya dapat
dikenakan hukuman yang setimpal dan bukan justru dibantu serta diselamatkan.

8. Aturan Prudensial Perbankan

Jika Indonesia ingin masuk dalam gelanggang global dan bank-bank nasional
kita diterima untuk melakukan transaksi dengan pihak asing, aturan maupun supervisi
perbankan dimasa datang harus mengacu kepada aturan internasional yang sudah
disepakati dalam kesepakatan atau perjanjian Basel 1, Basel 2 dan rangkaian
kesepakatan G-20.11 Dewasa ini, Indonesia merupakan anggota BIS dan G-20 yang,

11
Lihat Shelagh Herrefin. 2005. Modern Banking. Chicester, U.K.: John Wiley&sons Ltd. Chapter 3-
4 . Daniel K. Tarullo. 2008. Banking on Basel: The Future of International Financial Regulation.
Washington, D.C,: Peterson Institute for International Economics. London Summit of G-20: Leaders’
Statement, 2 April 2009 dan Leaders’ Statement, The Pittsburg Summit of G-20, September 24-25,
2009.

12
antara lain, menekankan pengaturan yang ketat atas seluruh industri keuangan dan
peningkatan integritas pengatur dan pemeriksanya.

Perombakan sistem pengaturan, pengawasan dan pemeriksaan bank, termasuk


pembentukan on-site supervisor BI, dimulai pada era program IMF tahun 1997-
200312. Perombakan tersebut dimaksudkan untuk merubah sistem yang berlaku pada
era financial repression masa lalu ke era penetapan modal bank berdasarkan risiko
yang dihadapinya (risk-based supervision) menurut standar Basel yang berlaku
dewasa ini. Perombakan yang dilakukan selama program IMF tahun 1997-2003
adalah mengacu kepada 20 prinsip dasar Perjanjian Basel 1 (Basel Core Principles)
dan tiga pilar Perjanjian Basel 2. Tujuan pendirian on-site supervisor yang terus
menerus melakukan pengawasan pada suatu bank tertentu adalah dimaksudkan untuk
dapat mengumpulkan informasi mengenai bank itu lebih cepat dan lebih lengkap agar
persoalan dapat diketahui dan diatasi secara dini.

Perjanjian Basel 1 (1988) dapat dibagi dalam empat kelompok. Kelompok


pertama adalah tentang kondisi awal yang harus dimiliki oleh pemeriksa bank agar
dapat melakukan tugasnya secara efektip. Kondisi awal itu mencakup tujuan
pemeriksaan, kemandirian, kewenangan serta dukungan dana maupun SDM
professional yang tersedia melakukan tugasnya. Dalam rangka kemandirian pengatur
dan pemeriksa bank itu, BI diberikan kedudukan independen dalam UU No. 23 Tahun
1999. Kelompok kedua adalah mengenai masalah perijinan dan struktur usaha bank.
Dalam kelompok ini dibahas tentang (i) kegiatan usaha, (ii) syarat-syarat perijinan,
(iii) kepemilikan dan (iv) investasi serta akuisisi. Kelompok ketiga adalah mengenai
masalah aturan prudensial termasuk standar professional maupun etika bankir untuk
mencegah masuknya elemen kriminal dalam industri perbankan. Bagian kelima
adalah masalah pemeriksaan dan pengawasan bank, termasuk on-site ataupun off-site
supervision. Pemeriksaan juga termasuk perusahaan yang terafiliasi dengan usaha
bank.

Perjanjian Basel 2 (2004) memiliki tiga pilar pendekatan, yakni: (i)


perbandingan risiko terhadap kekayaan bank (risk-asset ratio); (ii) pengawasan (iii)
disiplin pasar. Dalam Pilar 1, ada dua cara untuk mengukur risko kredit, yakni
berdasarkan: (a) pendekatan daftar standar yang ditetapkan oleh Komite Perbankan
BIS dan (b) perhitungan yang ditentukan secara internal oleh bank yang bersangk utan
berdasarkan informasi pasar yang tersedia. Dalam standar yang ditetapkan oleh BIS
itu, risiko obligasi Pemerintah (SUN) menjadi bervariasi menurut peringkatnya.
Tadinya, SUN seluruh negara, kaya dan miskin, teratur dan tidak teratur, dianggap
sama dan tidak menganggung risiko dan tidak tergantung kepada peringkatnya. Jadi
kalau peringkat SUN, dalam Basel2 yang berlaku sekarang ini, misalnya, adalah
dibawah investment grade, berkisar antara BBB+ dengan BBB-, maka risikonya
adalah sebesar 50 persen, yang tadinya 0 persen. Perubahan klasifikasi risiko SUN
tersebut akan memaksa bank-bank nasional untuk menambah modal. Karena cukup
besar porsi modal bank-bank nasional dalam bentuk obligasi rekapitalisasi tahun
1999-2000. Keperluan bank akan tambahan modal akan semakin besar jika aturan
permodalan berbasis risiko tersebut nantinya diperluas termasuk kepada perusahaan
terafiliasi.
12
Sebagai koordinator 3 orang Deputi Gubernur BI yang menangani industri perbankan, salah satu
tugas pokok Deputi Gubernur Senior Anwar Nasution adalah untuk mensupervisi perombakan sistem
pengaturan dan pengawasan industri perbankan menuju sistem Basel I dan Basel II.

13
9. Pemeriksaan Bank dan Lembaga-Lembaga Keuangan

Dewasa ini, Indonesia menganut sistem terpisah atas perijinan, pengawasan


dan pemeriksaan untuk setiap jenis industri keuangan. BI dalam bidang perbankan,
Depkeu dalam industri asuransi serta dana pensiun dan Bapepam mengenai pasar
modal serta obligasi. Setiap lembaga pengatur dan pengawas menggunakan prosedur,
metoda dan standar pengaturan dan pemeriksaannya sendiri-sendiri yang saling
berbeda, tidak terkoordinir dan tidak harmonis. Setiap lembaga memiliki egonya
sendiri-sendiri sehingga koordinasi antar lembaga jarang terjadi. Krisis BC sekaligus
memberikan pertanda akan kurangnya koordinasi antar lembaga-lembaga pengawas
keuangan tersebut. Kalaupun ada, pertukaran informasi antara BI dengan Bapepam
mengenai keterkaitan kegiatan ADS dengan BC berlangsung sangat lambat.

Cihak dan Podpiera (2006) mengidentifikasikan berbagai pro-kontra


penyatuan pengaturan dan pengawasan seluruh lembaga keuangan dalam satu tangan
sebagai berikut:

Tabel 1. Pro dan Kontra Integrasi Supervisi Lembaga Keuangan

Pro Kontra
1. Efisiensi karena besarnya skala organisasi Jika tujuan pendiriannya tidak jelas, lembaga
ini kurang efektip dibandingkan dengan
lembaga supervisi terpisah yang berdiri sendiri.
2. Menekan biaya dengan memanfaatkan skala Biaya justru meningkat jika organisasi menjadi
ekonomi terlalu besar
3. Meningkatkan akuntabilitas Moral hazard akan terjadi jika sasaran tidak
dikomunikasikan dengan jelas
4. Meniadakan persaingan antar lembaga dan Proses integrasi dapat memicu politisasi atau
meniadakan duplikasi pekerjaan masuknya kepentingan tertentu dalam kerangka
pengaturan dan pengawasan industri keuangan
5. Memudahkan kesamaan perlakuan (level Ada kemungkinan kehilangan staff inti jika
playing field) dalam pengaturan dan proses integrasi tidak dapat dikendalikan
pengawasan atas semua industri keuangan dengan baik.

Sumber: Martin Cihak dan Richard Podpiera. 2006. “Is One Watchdog Better Than Three?
International Experience with Integrated Financial Sector Supervision”. IMF Working Paper No.
WP/06/57. March. Tabel 3. hal. 13

Karena alasan keterbatasan dana dan tenaga profesional, efisiensi,


menyamakan perlakuan bagi setiap jenis lembaga keuangan maupun memudahkan
koordinasi antar lembaga, Indonesia perlu menyatukan pengaturan dan pemeriksaan
seluruh lembaga keuangan disatu tangan. Penyatuan seluruh lembaga pengatur dan
pengawasan sektor jasa keuangan, telah diatur dalam Pasal 34 Ayat (1) UU No. 23
tentang BI sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004. Penelitian Cihak
dan Podpiera (2006) atas 104 negara menggambarkan adanya peningkatan kualitas
serta konsistensi pengawasan pada negara yang telah mengintegrasikan sebagian atau
seluruh pengawasan industri keuangannya. Menurut Ayat (2), Pasal 34 UU BI Tahun
2004 tersebut lembaga pengatur dan pengawas keuangan yang menyatu itu sudah
harus berdiri selambat-lambatnya pada tanggal 31 Desember 2010. Pengalaman di
negara-negara lain, integrasi seluruh lembaga pengatur dan pengawas lembaga
keuangan memerlukan masa 3 hingga 5 tahun. Di Indonesia, belum kelihatan adanya

14
tanda-tanda kearah penyatuan semua lembaga pengatur dan pengawas lembaga
keuangan tersebut.

Pengintegrasian pengaturan dan pengawasan semua industri keuangan di satu


tangan dapat membentuk lembaga independen baru, seperti Inggris (1997), Korea
(1997) atau Jepang (2001) atau berada ditangan bank sentral seperti Monetary
Authority of Singapore (1984). Dewasa ini hingga masa dekat mendatang, industri
perbankan masih akan tetap menjadi tulang punggung industri keuangan di Indonesia
sehingga pengaturan dan pengawasan industri perbankan masih akan tetap menonjol.
Keperluan pembelanjaan dunia usaha dan sektor rumah tangga masih akan sangat
tergantung pada industri perbankan itu. Mobilisasi modal melalui pasar modal masih
terbatas dan masih memerlukan waktu karena sangat tergantung kepada kemajuan
perbaikan insfrastruktur industri keuangan itu. Pasar obligasi juga demikian halnya
karena tidak mudah membangun infrastruktur pasar maupun industri asuransi, dana
pensiun serta reksa dana sebagai pembeli utama saham serta obligasi tersebut.

Berbeda dengan di berbagai negara-negara lain13 LPS hanya tergantung pada


BI untuk memperoleh informasi mengenai bank-bank yang diasuransikannya. Bank-
bank peserta asuransi memang wajib untuk menyampaikan laporan bulanan dan
tahunan kepada LPS14, tapi tidak jelas apakah ada yang melakukan verifikasi
kebenaran laporan itu dan menganalisisnya. Sementara itu, LPS tidak punya akses
langsung pada sistem komputer bank-bank yang diasuransikannya itu dan tidak
memiliki informasi mengenai struktur deposito mereka. Dengan demikian, jika adalah
masalah pada satu bank, LPS tidak dapat bertindak cepat untuk melokalisir masalah
itu dan mentransfer dana yang diasuransikannya tersebut ke bank ataupun lembaga
keuangan lain. Karena tidak memiliki informasi, LPS tidak mengetahui kondisi
kesehatan bank yang diasuransikannya itu, seperti kondisi BC sebelum diambil
alihnya pada bulan Nopember 2008. LPS seperti ini bukan saja akan menimbulkan
moral hazard yakni mendorong bank-bank menjadi semakin berani mengambil risiko
karena pada akhirnya kerugian bank akan ditanggung oleh negara melalui LPS. LPS
yang seperti ini sekaligus akan merongrong keuangan negara karena premi
asuransinya tidak akan cukup untuk menutup keperluan penjaminan15.

10. Early Warning Indicators (EWI)

Semua model EWI yang digunakan sebagai alat prediksi oleh BI dewasa ini
adalah dikembangkan di negara maju yang memiliki latar belakang pengalaman
historis, kultur serta struktur perusahaan yang sangat berbeda dengan di Indonesia.
EWI yang digunakan oleh BI itu belum di sesuaikan dengan kondisi Indonesia.
Penggunaan semena-mena EWI seperti itu ditambah dengan data yang tidak lengkap,
tidak akurat, dan tidak up-to-date akan menghasilkan kesimpulan serta rekomendasi
yang keliru seperti halnya dengan yang dilakukan dalam kasus BC. EWI yang
digunakan oleh BI saat ini adalah (i) stress test yang sudah digunakan secara luas di
13
Demirguc-Kunt, Asli, Edward J. Kane dan Luc Laeven, eds. 2008. Deposit Insurance Around the
World. Issues of Design and Implementation. Cambridge, Ma.: the MIT Press.
14
Peraturan LPS No. 2/PLPS/2006 tentang Laporan Bank Umum dan Keputusan Kepala Eksekutip No.
KEP-023/LPS/III/2006 tentang Format Laporan Bank Umum.
15
Pasal 81 UU No. 24 Tahun 2004 tentang LPS menetapkan modal awal LPS berkisar antara Rp4-8
triliun yang merupakan asset negara yang dipisahkan. Pasal 85 UU tersebut menyebutkan bahwa,
dengan persetujuan DPR,Pemerintah akan menutup kekurangan modal LPS jika kurang dari modal
awal tersebut.

15
seluruh dunia dan (ii) Memorandum of Understanding on Cooperation between the
Financial Supervisory Authorities, Central Banks and Finance Ministers of the
European Union-on Cross Border Financial Stability. Disamping itu, BI juga
memperhatikan Bank Survivability Criteria dari perusahaan peringkat
Standard&Poor’s serta publikasi Bank Dunia mengenai masalah yang sama.

EWI diciptakan di negara-negara maju yang sudah memiliki infrastruktur


pasar yang sudah mapan. Sebaliknya, infrastruktur pasar keuangan kita masih lemah
akibat dari kelemahan sistem hukum maupun sistem akuntansi Indonesia. Akibatnya,
baik perlindungan hak milik individu maupun transmisi informasi pasar keuangan
masih belum baik di Indonesia. Dalam Bahasa Indonesia, pasar seperti itu disebut
sebagai: “beli kucing dalam karung”. Dari suaranya, pembeli tahu bahwa isi karung
itu adalah benar kucing. Tapi, ia tidak tahu bagaimana kualitasnya, kucing Anggora
atau kucing kurap. Risko kredit maupun counterparty risk sangat tinggi di Indonesia
karena jaminan surat-surat kredit belum tentu jelas status hukumnya dan sulit untuk
disita guna mengurangi risiko kerugian bank. Prosedur kepailitan kita memerlukan
waktu panjang dan biaya yang sangat mahal. Di negara-negara maju, bank dipailitkan
pada hari Jum’at malam dan hari Senin berikutnya nasabahnya sudah pindah bank
baru tanpa mengalami kerugian ataupun hambatan apapun juga.

EWI diciptakan di negara-negara maju yang sudah memiliki corporate


governance yang sudah baik. Transparansi dan akuntabilitas sudah menjadi budaya
semua pihak: pemilik dan pengurus bank, kantor akuntan publik, analis, lembaga
pembuat standar, investor maupun regulator dan pemeriksa bank. Di Indonesia,
termasuk di BI, corporate governance masih berupa semboyan dan belum ada yang
pihak bertanggung jawab atas kelengkapan serta akurasi informasi yang dikumpulkan,
diolah dan disebar luaskannya itu. Harapan kita, kasus BC merupakan pengecualian.

EWI diciptakan di negara-negara maju yang sudah memiliki pasar keuangan


nasional yang likuid serta dalam. Sebaliknya, pasar keuangan kita masih dangkal dan
sempit. Karena keterbatasan likuiditasnya sulit untuk menjual surat-surat berharga
untuk mendapatkan likuiditas secara cepat. Surat-surat berharga yang tersedia untuk
diperjual belikan pun masih terbatas karena belum berkembangnya bursa efek.
Sementara itu, pasar obligasi Indonesia dewasa ini adalah didominir oleh SBI dan
SUN (Surat Utang Negara). SBI mulai diterbitkan pada tahun 1970an sebagai
instrumen operasi pasar karena pada waktu itu belum ada surat-surat berharga
Pemerintah. Awalnya SUN dikeluarkan pada tahun 1998 untuk merekapitalisasi
industri perbankan yang bangkrut akibat dari krisis keuangan tahun 1997. Jumlah
obligasi rekap itu mencapai sekitar separuh dari nilai Produk Domestik Bruto kita
pada tahun 1998. Setelah berakhirnya program IMF tahun 2003, Pemerintah mulai
menjual SUN (di pasar uang dalam dan luar negeri) untuk menutup defisit APBN. Di
negara-negara maju, industri asuransi dan dana pensiun adalah pembeli terbesar dari
obligasi Pemerintah. Obligasi Pemerintah Amerika Serikat diminati diseluruh dunia
termasuk sebagai penempatan cadangan luar negeri BI. Di Indonesia, industri asuransi
dan dana pensiun belum berkembang sedangkan minat investor asing pada SUN
masih sangat terbatas. Pada saat ini, SUN lebih banyak dibeli oleh perusahhan Reksa
Dana dalam negeri yang terutama dimiliki dan memperoleh dana jangka pendek dari
industri perbankan.

16
EWI diciptakan di negara yang sudah penuh menggunakan mekanisme pasar.
Stándar governance perusahaan milik negara di Singapura dan Swedia, adalah setara
dengan perusahaan swasta dan tidak kegiatan operasionalnya tidak dicampuri oleh
Pemerintah. Sebaliknya, sistem ekonomi Indonesia masih belum sepenuhnya
menggunakan mekanisme pasar, antara lain, karena masih besarnya peranan
Pemerintah dalam pengendalian operasi BUMN dan BUMD, termasuk bank-bank
negara serta BPD. Itulah salah satu faktor penyebab kenapa bank-bank negara dan
BPD kita tidak mampu bersaing dengan DBS Singapura, apakah di dalam negeri
apalagi di luar negeri. Secara implicit, deposan maupun bank-bank negara adalah
dijamin penuh oleh negara.

EWI diciptakan di dunia lain yang memiliki struktur dunia usaha yang berbeda
dengan di Indonesia. Di negara lain itu, boleh saja bank dengan lembaga keuangan
lainnya membentuk konglomerasi untuk memanfaatkan skala ekonomi (economies of
scale) terutama dalam informasi tentang nasabah maupun jaringan kantor cabang.
Namun, di negara-negara industri maju itu, neraca gabungan perusahaan
konglomerasi tersebut dikonsolidasikan (one-bank holding campanies) supaya
transparan dan akuntabel. Di negara lain itu, industri keuangan tidak boleh punya
perusahaan afiliasi di luar industri keuangan. Walaupun lebih kaya dari konglomerat
Indonesia, seperti Robert Tantular, tidak pernah kita dengar Bill Gates, pemilik
Microsoft, punya bank. Tujuan utama dari penciptaan aturan BMPK (Batas
Maksimum Pemberian Kredit) adalah untuk membatasi pemberian kredit kepada
pihak terkait: pemilik, pengurus serta karyawan bank. Salah satu pelajaran yang kita
timba dari BLBI dan BC adalah bahwa syarat-syarat pertimbangan pemberikan kredit
kepada orang dalam adalah lebih ringan daripada yang berlaku bagi nasabah yang
bukan reafiliasi. Dalam bahasa teknisnya praktek seperti ini menciptakan insider
trading atau principal-agency problem16.

Sebagaimana tercermin dari struktur BC maupun perusahaan konglomerasi di


Indonesia, kelompok usaha nasional kita bukan saja memiliki konglomerasi dalam
industri keuangan. Seperti pekarangan rumah kampung yang memiliki berbagai jenis
tanaman diatas lahan yang sempit, konglomerasi Indonesia memiliki berbagai usaha
mulai dari industri keuangan hingga non keuangan. Berbagai cabang usaha itu bukan
saja memiliki pemegang saham ganda tapi juga sekaligus memiliki pengurus ganda,
artinya, seseorang sekaligus menjadi pemilik dan pengurus dalam berbagai kegiatan
usaha. Praktek insider trading dan principal-agency problem yang sama terjadi pada
BC sehingga menjadi kolaps sendiri.

Seperti halnya dengan BLBI masa lalu, informasi mengenai BMPK dan
praktek insider trading di BC itulah yang tidak dimiliki oleh BI. Selain itu, dari empat
kali perubahan taksiran keperluan dana talangan BC kelihatan bahwa BI tidak
memiliki data dan informasi terkini (up-to-date information) sehingga sangat
terlambat mengetahui perkembangan kondisi keuangan BC. Akibatnya, informasi
yang tidak lengkap, tidak akurat serta terlambat yang digunakan dalam model stress
test yang tidak sesuai dengan kondisi Indonesia telah memberikan prediksi dan
rekomendasi yang salah bagi penanganan BC.

Untuk mengetahui kondisi individu suatu bank, seperti BC, seharusnya BI


mengembangkan model CAMEL (capital adequacy, asset quality, management
16
Dua orang penerima Hadiah Nobel dalam ilmu ekonomi tahun 2009 adalah dalam kedua topik ini.

17
quality, earnings performance dan liquidity) yang awalnya dikembangkan oleh
Amerika Serikat dan kini sudah menyebar seluruh dunia17. Namun, model apa pun
yang digunakan, tetap memerlukan data yang lengkap, akurat dan terkini. Jika tidak,
hasilnya tidak akan memberikan, seperti yang disebut oleh pemeo dalam ilmu
ekonometri: “Garbage in, garbage out”.

11. Sumber Daya Manusia

Industri perbankan dan lembaga-lembaga yang melakukan pengaturan,


pemeriksaan dan pengawasan bank menurut standar Basel sekarang ini, memerlukan
sumber daya manusia dengan pengetahuan teknis yang sangat berbeda dengan pada
sistem financial repression dimasa lalu pada era Orde Baru. Untuk dapat memahami
dan memantau berbagai risiko perbankan dalam standar Basel itu diperlukan orang-
orang yang mengetahui teori ilmu keuangan, statistik dan matematika yang sangat
langka di BI, Bapepam, LPS dan Depkeu.

Kebijakan ‘financial repression’ telah dijalankan secara terus menerus di


Indonesia sejak kemerdekaan dan menjadi lebih intensip selama masa 32 tahun
pemerintahan Orde Baru. Dalam kebijakan represi finansil, alokasi kredit perbankan
dilakukan berdasarkan sistem kredit selektip yang ditetapkan oleh BI dan bukan
berdasarkan pertimbangan kemampuan berusaha dan karakter pemohon kredit serta
kesediaan modal maupun kolateral agunan kredit, seperti yang disebut dalam textbook
negara-negara Barat yang sudah maju. Sementara itu, tingkat suku bunga kredi bank
juga disubsidi dan ditentukan oleh bank sentral, sedangkan risiko bagi penerima kredit
hampir tidak ada karena juga diambil alih oleh BI atau oleh Pemerintah.

Bankir dan pemeriksa bank yang sepanjang perjalanan karirnya adalah hidup
dalam era represi finansil tidak memahami berbagai bentuk risiko yang dihadapi oleh
industri perbankan dalam era mekanisme pasar setelah deregulasi sekarang ini.
Dimasa lalu, masalah governance perbankan, transparansi dan akuntabilitasnya adalah
tidak penting. Keadaan menjadi semakin parah karena financial repression yang
distortip itu sekaligus menumbuh suburkan praktek-praktek korupsi-kolusi dan
nepotisme yang juga menjalar kepada alokasi kredit serta perijinan dan pengawasan
bank.

Risiko yang dihadapi oleh industri perbankan dalam sistem pasar dapat dibagi
dalam delapan jenis yakni: (a) risiko kredit yang terjadi debitur tidak melunasi
kreditnya, (b) counterparty risk jika debitur tidak dapat melunasi kewajibannya; (c)
liquidity atau funding risk jika bank tidak dapat melunasi kewajibannya karena
keterbatasan likuiditas; (d) settlements atau payments risk terjadi karena adanya
tenggang waktu antara pelunasan hutang dengan pemasukan penerimaan tagihan
bank; (e) risiko pasar atau risko harga termasuk akibat dari (i) perubahan kurs devisa
maupun (ii) perubahan tingkat suku bunga; (f) capital atau gearing risk yang terjadi
jika tiba-tiba deposan menarik depositonya.

17
Lihat David, E.P. dan Dilruba. 2008. “Comparing Early Warning Systems for Banking Crises.”
Journal of Financial Stability. Vo 4(2): 89-120, Mayes, David G. 2007. “Early Intervention and
Prompt Corrective Action in Europe”. Bank of Finland Research. Discussion Paper No. 17 dan
Evanoff, Douglas D, G.G. Kaufman dan J.R. Labrosse, eds.,200. International Financial Instability.
Global Banking and National Regulation. Singapore: World Scientific Studies in International
Economics.

18
Di negara yang sudah maju, SDM yang tidak cocok lagi dengan sistem baru
dapat diganti dengan mempensiunkannya secara dini atau mendidik serta melatihnya
kembali. Dengan biaya mahal, konsultan asing sudah banyak didatangkan ke
Indonesia untuk melakukan perbaikan sistem pengelolaan, pemeriksaan dan
pengawasan bank. Pendidikan dan pelatihan atas pengurus dan pemeriksa bank yang
sudah ada pun telah dilakukan, baik di dalam maupun di luar negeri. Para komisaris
bank juga sudah dikirim mengikuti kursus kilat ke mancanegara mengenai
pengelolaan dan pemeriksaan bank berbasis risiko. Ternyata, bahwa pelatihan dan
pendidikan kembali bankir serta pemeriksa bank yang sudah ada tidak banyak
hasilnya karena dasar pendidikan maupun pengalaman karirnya memang sangat
berbeda dengan tuntutan kebutuhan standar Basel. Integritas pelaksana dan pengawas
bank adalah sangat penting karena mereka yang pembuat sekaligus yang
melaksanakan aturan prudensial perbankan yang dibuatnya itu. Kasus BC
menggambarkan bahwa integritas pengurus dan pemeriksa bank nasional masih
belum memenuhi standar sehingga manipulasi pembukuan dan berbagai tindakan
kejahatan perbankan masih tetap marak.

Perencanaan SDM dalam industri perbankan nasional dan BI belum diarahkan


pada implementasi Basel. Penerimaan karyawan baru, isi silabus maupun instuktur
pelatihan pegawai belum disesuaikan dengan tuntutan jaman. Pelanggaran atas BMPK
dan NOP masih saja terjadi karena pengawas dan pemeriksa bank belum memahami
struktur dunia usaha nasional yang terkait dengan bank yang diawasinya. Sementara
itu, pengurus serta karyawan bank maupun pemeriksa serta pengawas bank di BI yang
sudah dilatih dan dididik mengenai risiko perbankan serta aturan Basel juga
dipindahkan ke bidang pekerjaan lain yang tidak sesuai dengan bidang keahliannya.
Perencanaan SDM yang tidak terarah seperti ini telah menyebabkan erosi kemampuan
staf inti pengurus, pengatur dan pemeriksa bank yang kompeten.

Jakarta, 15 Januari 2010

19
Grafik-1. PERANAN ANWAR NASUTION DALAM PROSES AKUISISI CHINKARA
CAPITAL ATAS BANK PIKKO, CIC DAN DANPAC, PERIODE 27 NOVEMBER 2001 -
25 JULI 2004

30 April – 30 Juni 6 Desember


27 Nopember 2001 16 April 2004 22 Juli 2004 25 Juli 2004
2004 2004
Dipimpin oleh Deputi Gubernur Senior, Anwar Menurut laporan Direktur DPwB1 menulis dua Anwar Nasution Enam bulan
Gubernur Syahril Nasution (AN), memanggil rapat DPwB1, Chinkara Cacatan yang, antara lain, ditujukan mengakhiri setelah Anwar
Sabirin, Rapat Dewan pemegang saham pengendali Capital sudah kepada AN. Catatan pertama, No: tugasnya di Nasution
Gubernur BI (RDG) (PSP) dan pengurus ketiga bank menyetorkan dana 6/29/DGS/DPwB1/Rahasia, Bank Indonesia meninggalkan BI,
menyetujui tersebut untuk memperbaiki penyelesaian MTN melaporkan perkembangan terakhir sehingga tidak Bank Indonesia
permohonan Chinkara kondisi keuangannya (CAR dan bermasalah setara $30 akusisi Chinkara atas ketiga bank lagi mengetahui memberikan ijin
Capital utk GWM) yang terus memburuk. juta dengan perincian: itu. Catatan kedua No: implementasi merjer Danpac
mengakuisisi Bank Memburuknya CAR itu adalah (i) 30.4.04 ($15 juta); 30/DGS/DPwB1/Rahasia persyaratan dan Bank Pikko
Pikko, CIC dan Danpac karena Medium Term Notes (ii) 6.5.04 ($3 juta); melaporkan adanya temuan baru akuisisi yang kedalam CIC
dengan tiga (MTN) Dresner Bank senilai $32 (iii) 25.5.04 ($2.5 juta); berupa rekayasa laporan keuangan ditetapkan International.
persyaratan sbb: juta yang disetorkan sebagai (iv) 22.6.04 ($3 juta); Bank Pikko dan pelanggaran dalam RDG
modal Pikko ternyata macet dan (v) 22.6.06 ($1 juta); ketentuan BMPK . Temuan ini 17.11.2001 dan
tdk punya peringkat. Dalam rapat (vi) 30.6.04 ($2juta) dapat membatalkan kelulusan fit rapat tanggal
itu, PSP dan Chinkara Capital dan and proper test RAR. Menurut 16.4.2004;
diwakili oleh Mr. Rafat Ali Rizvi (vii) 30.6.04 (SIN$5 catatan itu, Gubernur memberikan
i) menambah modal (RAR) yang menemui AN untuk juta). disposisi bahwa merjer ketiga bank
minimum CAR 8%; pertama dan terakhir kalinya. Dana itu ditempatkan itu “multak diperlukan”. Untuk
(ii) memperbaiki Kepada Chinkara diberikan waktu pada escrow accounts merealisir disposisi itu, Catatan No.
manajemen bank dan seminggu untuk mulai di Citibank dan Bank 6 tersebut mengusulkan agar BI
(iii) tidak lagi menambah modal (sebesar Niaga di Jakarta dan memberikan dua bentuk toleransi
mengulangi Rp300-400 miliar) dan langsung dapat kepada Chincara Capital. Toleransi
pelanggaran aturan menempatkan dana sebesar $30 dicairkan untuk pertama adalah untuk tidak
prudensial ; juta dalam escrow account bagi menambah modal memacetkan MTN bermasalah
peyelesaian surat-surat berharga Bank Pikko serta CIC hingga tanggal jatuh waktunya
valas berupa MTN bermasalah. jika ternyata Chinkara sehingga tetap dapat disetorkan
Tanpa perbaikan kondisi Capital ingkar janji; sebagai modal Pikko dan CIC.
keuangan Bank Pikko dan CIC, Toleransi kedua adalah agar sanksi
akusisi tidak dapat dilanjutkan fit and proper test RAR dapat
dan kedua bank itu dapat ditunda. AN tidak memberikan
dibubarkan. Oleh karena itu, komentar atas kedua catatan
Chinkara Capital diminta segera tersebut karena pendapatnya tidak
membuat jadwal pelaksanaan berubah dari keputusan RDG
akuisisi; tanggal 27.11.2001 maupun dari
rapat tanggal 16.4.2004. AN juga
berpendapat bahwa perubahan
persyaratan akuisisi harus
diputuskan oleh RDG yang tidak
lagi ia ikuti;

20
2. Ringkasan Pengawasan BI atas BC, 2004-2008

21
27 Jan 06 : PSP mengajukan cara penyelesaian
SSB valas bermasalah melalui Skema AMA 30 Okt 08 : SSB Valas USD11 juta dlm AMA tidak dapat
6 Des 04 : BI menyetujui akuisisi Pikko dengan mem pledge kan depositonya di bank di dicairkan saat jatuh tempo
dan Danpac oleh Bank CIC yg luar negeri
kemudian berubah menjadi Bank
Century walaupun belum ada 30 Okt 08 : BC mengajukan repo aset Rp1 T namun syarat PBI
persyaratan merger yang diputuskan CAR minimal 8% tidak dapat dipenuhinya
dalam RDG tanggal 27 Okt 2001 dan 21 Feb 06 : Deputi GBI menyetujui Skema AMA
rapat tanggal 16 April 2004 yang dengan cash collateralnya ditempatkan di luar
dipenuhinya. negeri atas nama pemegang saham 3 Nov 08 : SSB Valas USD45 juta dlm AMA tidak dapat
dicairkan saat jatuh tempo

3 Ags 06: AMA tdk dipenuhi PSP (SSB valas 6 Nov 08:BC ditempatkan BI ‘dalam pengawasan khusus’ tapi
tidak lancar) tetapi BI tidak melakukan tindakan & pihak terkait masih menarik tabungannya dari BC
SSB masih digolongkan lancar.
13 & 14 Nov 08 : RDG BI merubah PBI tentang FPJP dengan
menurunkan CAR menjadi 0%

14,17,18 Nov 08 :BC memperoleh FPJP Rp689 M dan tanggal


15, RT memerintahkan konversi deposito milik BS sebesar
USD842 juta kedalam NCD masing-masing sebesar Rp2 Miliar
atas nama 247 nominee, agar dapat dijamin oleh LPS.

21 Nov 08 : BC diambil alih oleh LPS

TAHUN 2004 TAHUN 2005 TAHUN 2006 TAHUN 2007 TAHUN 2008

28 Feb 05 : SSB BC USD203 juta ternyata macet dan tidak punya 24 Sep 07: Komitmen AMA 3 Ags 06 tidak terlaksana. PSP membuat komitmen
rating (no rating & low interest) sehingga hrs dibentuk PPA 100% ASPA utk menyelesaikan SSB Valas Bermasalah.
dan karenanya CAR menjadi negatif 132,58%
10 Okt 07: BI menyetujui penyelesaian SSB melalui ASPA
Sesuai ketentuan, BC seharusnya masuk “Dalam Pengawasan
Khusus” tetapi dimasukkan dalam pengawasan intesif. Persyaratan ASPA tidak dipenuhi PSP sd Nov 08, BI tidak melakukan tindakan.

BI masih menempatkan “Dalam Pengawasan Intensif” karena ada Seharusnya BI melakukan tindakan terhadap BC karena kondisi SSB valas yang
komitmen PSP untuk menjual SSB. tidak lancar.

22