Anda di halaman 1dari 3

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS


Angkatan : 12
Mata Pelatihan : Whole Of Government
Widyaiswara : Dra. Kokom Komala, M.Pd.
Nama Peserta : Moch. Shandy Sasmito
Nomor Presensi : 26
Lembaga Penyelenggara Pelatihan : Pusdiklat Pegawai Kemendikbud

A. Pokok Pikiran

WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif
pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-
tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik.

Alasan yang menyebabkan mengapa WoG menjadi penting adalah 1) faktor eksternal seperti dorongan
publik dalam mewujudkan integrasi kebijakan, 2) faktor internal dengan adanya fenomena ketimpangan
kapasitas sektoral, 3) keberagaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat, serta bentuk latar belakang
lainnya mendrong adanya potensi disintegrasi bangsa.

Keuntungan WoG : 1) Outcomes-focused ; Berfokus pada outcome yang tidak dapat dicapai oleh K/L
sektoral secara masing-masing. 2) Boundary-spanning : Implementasi kebijakan tidak hanya melibatkan satu
instansi, tetapi lintas instansi, 3) Strengthening prevention ; WoG mendorong pencegahan terhadap masalah
yang mungkin berkembang lebih jauh, 4) Enabling ; WoG membuat pemerintah lebih mampu menangani
tantangan kebijakan yang kompleks.

Manfaat WoG : Meningkatnya Efisiensi, Sharing Informasi, Lingkungan kerja, Daya saing, Akuntabilitas,
Koherensi kebijakan. Menurunnya Biaya (cost), Pemborosan (waste), Duplikasi pekerjaan, Inkonsistensi
kebijakan, Waktu penyelesaian layanan tertentu.

Bentuk WoG : Integrating Service Delivery (ISD), Koordinasi dan Kolaborasi, Integrating and Rebalancing
Governance, Culture Change.

Cara melakukan WoG : 1) Koordinasi (Penyertaan, Dialog, Joint Planning), 2) Integrasi (Joint Working,
Joint Venture, Satelit), 3) Kedekatan dan Pelibatan (Aliansi Strategis, Union, Merger).

Tantangan Praktik WoG : 1) Kapasitas SDM dan institusi-institusi yang terlibat, 2) Nilai dan Budaya
organisasi, 3) Kepemimpinan.

Pola Pelayanan WoG : 1) pola pelayanan Whole of Government, 2) Pelayanan Satu Atap, 3) Pelayanan Satu
Pintu, 4) Pelayanan Satu Pintu, 5) Pelayanan Elektronik.

Prasyarat Best Practices : 1) Cara Kerja yang Baru, 2) Budaya dan Filosopi, 3) Akuntabilitas dan insentif, 4)
Cara baru Pengembangan Kebijakan, Mendesain Program dan perbaikan pendekatan Pelayanan.
Studi Kasus/Peristiwa/Biografi Tokoh/Konsep Pendukung tentang materi Whole of Government :

Pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas
Percepatan Penanganan Corona VirusDisease 2019 (Covid-19).
Melalui Kepres yang diteken pada 13 Maret 2020 ini, yang akan menjadi ketua dalam Gugus Tugas
Percepatan Penanganan Covid-19 adalah, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni
Monardo.
Lalu, yang bertindak sebagai Wakil Ketua yakni: Asisten Operasi Panglima TNI. Dan Asisten Operasi
Kepala Kepolisian Negara RI.
Adapun yang menjadi pengarah Gugus Tugas ini adalah. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan
Manusia dan Kebudayaan (PMK). Menko Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam). Serta
Menteri Kesehatan (Menkes) dan Keempat, Menteri Keuangan (Menkeu).
Mengacu Kepres yang diterima KONTAN, pembentukan Gugus Tugas ini betujuan untuk, meningkatkan
ketahanan nasional dibidang kesehatan, mempercepat penanganan Covid-19 melalui sinergi antara
Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah (Pemda).
Lalu, meningkatkan antisipasi perkembangan eskalasi penyebaran Covid-19. Dan, meningkatkan sinergi
pengambilan kebijakan operasional, serta meningkatkan kesiapan dan kemampuan dalam mencegah,
mendeteksi dan merespon Covid-19.
Adapun tugas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 adalah: Pertama, menetapkan dan
melaksanakan percepatan penanganan Covid-19. Kedua, Mengoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan
kegiatan penanganan.
Ketiga, Melakukan pengawasan pelaksanaan percepatan. Keempat, mengerahkan sumber daya manusia
untuk pelaksanaan kegiatan serta kelima, melaporkan semua pelaksanaan kegiatan kepada Prsiden.
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Agus
Wibowo membenarkan adanya rapat pembentukan Gugus Tugas itu. Hanya saja ia belum mau berkomentar
lebih banyak. "Mungkin akan ada press konference besok," tandasnya.

Sumber : https://nasional.kontan.co.id/news/pemerintah-bentuk-gugus-tugas-penanganan-corona

Penelaahan Studi Kasus

Pandemi Kesehatan Dunia saat ini yaitu Covid 19 menuntut dunia termasuk Indonesia untuk melakukan
segala upaya dalam penanganan dan pencegahan penularan virus korona. Selanjutnya Pemerintah
membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang merupakan
salah satu bentuk Whole of Government yang diterapkan di Indonesia saat ini. Ada 5 tugas dari Gugus Tugas
ini yang sudah dijelaskan dalam artikel berita diatas. Dalam prakteknya, sistem pelayanan Gugustugas ini di
adopsi oleh sebagian besar instansi pemerintahan Indonesia mulai dari level manajemen tinggi, sampai
dengan level manajeman unit teknis. Tugasnya sama yaitu berkolaborasi, berkoordinasi dalam penanganan
dan pencegahan pandemi Covid 19. Hal ini dibutuhkan kesamaan persepsi dan tujuan agar dalam bekerja,
gugus tugas tersebut bisa melakukannya dengan efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan bersama yaitu
turunnya tingkatan penularan virus corona di Indonesia.
B. Penerapan

Aspek WoG yang bisa diterapkan dalam pekerjaan sebagai Pranata Laboratorium Pendidikan adalah
1. Melakukan koordinasi terkait pelayanan peminjaman alat-alat laboratorium.
2. Membuat form digital untuk semua pelayanan laboratorium.
3. Membuat aplikasi sistem evaluasi pengelolaan laboratorium.
4. Berbagi peran dan tugas dalam melakukan pekerjaan.
5. Penggunaan Kartu Identitas sebagai proses identifikasi di semua aspek pelayanan laboratorium.
6. Membuat pusat data base administrasi fasilitas laboratorium di tingkatan institusi dengan menggunakan
server.
7. Melakukan kerjasama penelitian dengan fasilitator laboran lainnya guna untuk perbaikan manejemen
pengelolaan laboratorium.
8. Berbagi informasi yang relevan dan sesuai kebutuhan tugas antar unit kerja dan tetap menjaga
kerahasiaan intern unit kerja itu sendiri.
9. Bekerja bersama (kolaborasi) membuat strategi memajukan pelayanan labororatorium.
10. Menyatukan persepsi diantara fasilitator laboran membentk asosiasi laboran di tingkatan unt kerja guna
mempermudah kerjasama sebagai support system institusi.