Anda di halaman 1dari 14

HUBUNGAN LINGKUNGAN DAN KESEHATAN SERTA PERAN DAN

PENTINGNYA ANALISIS KUALITAS LINGKUNGAN


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Analisis Kualitas Lingkungan
Dosen Mata Kuliah : Fitria Eka Putri, S.KM., M.PH.

Disusun oleh : Nabila Khairani


NIM : N1A117100
Kelas : 3C

Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Jambi
2018
A. Lingkungan dan Kesehatan
Tiada habisnya jika kita membahas perihal masalah lingkungan dan
kesehatan, karena kedua masalah ini sangat erat kaitannya dengan
kehidupan manusia dan ekosistem di sekitarnya. Lingkungan memiliki
peranan yang penting bagi kesehatan dan begitu pula sebaliknya.
Kesehatan juga berpengaruh terhadap lingkungan apabila dipandang
dari aspek biologis tentunya akan secara langsung berdampak pada
perubahan aspek sosial masing-masing individu. Sehingga lingkungan
dan kesehatan saling berpengaruh satu sama lain.
Menurut WHO, kesehatan pada hakikatnya berarti sehat secara
jasmani, mental dan spiritual disamping senantiasa merasa senang,
dapat mengontrol diri dan kesejahteraan sosial. Sehat dapat kita
peroleh apabila kita rutin berolahraga, tidur yang cukup, makan
makanan 4 sehat 5 sempurna, menghindari stress, berpikiran positif
dan beribadah kepada Tuhan sehingga hati merasa tenang dan
nyaman.
Sedangkan lingkungan dapat diartikan sebagai tempat dimana kita
tinggal. Tempat ekosistem saling berinteraksi. Dalam ekosistem
terdapat komponen biotik dan abiotik komponen abiotik antara lain:
tanah, udara atau gas-gas yang membentuk atmosfer, air, cahaya dan
suhu atau temperatur. Sedangkan komponen biotik diantaranya:
produsen, konsumen dan pengurai.
Di dalam lingkungan terdapat faktor-faktor yang sangat
berpengaruh terhadap lingkungan itu sendiri, sebagai berikut:
1. Rantai makanan, yaitu siklus/ perputaran makanan antara
produsen, konsumen dan pengurai
2. Habitat, yaitu tempat hidup/ tinggal makhluk hidup
3. Populasi, yaitu jumlah seluruh individu dari jenis spesies yang
sama di suatu daerah tertentu dan pada waktu tertentu.
4. Komunitas, yang merupakan kumpulan dari populasi yang
saling berinteraksi di suatu daerah tertentu dan pada waktu
tertentu
5. Biosfer, komunitas yang membentuk ekosistem di permukaan
Bumi ini.
Seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya bahwa lingkungan
sangat erat hubungannya dengan keadaan kesehatan, begitu pula
dengan kesehatan yang dapat dijadikan indikasi keadaan suatu
lingkungan. Seperti penggunaan air bersih dapat menjadi media
penularan penyakit yang paling cepat, karena sifatnya yang fleksibel
untuk tempat perkembangbiakan vektor, maka dari itu perlu memenuhi
persyaratan kualitas air. Selain itu kondisi kesehatan perumahan dapat
berperan sebagai media penularan penyakit diantara anggota
keluarga/ tetangga sekitar. Dan keluarga yang memiliki sarana Sanitasi
dasar persediaan air yang bersih, kepemilikan jamban keluarga,
tempat sampah dan pengelolaanair limbah secara tepat dan benar.
Menurut WHO, agar terciptanya kesehatan lingkungan dibutuhkan
suatu keseimbangan ekologi antara manusia dengan lingkungannya
agar bisa menjamin keadaan sehat dari manusia itu sendiri.
Menurut WHO ruang lingkup kesehatan lingkungan dibagi menjadi
tujuh belas, yaitu:

1. Penyediaan air minum


2. Pengelolaan air buangan dan pengendalian pencemaran
3. Pembuangan sampah padat
4. Pengendalian vektor. (pengendalian vektor ialah segala macam
usaha yang dilakukan untuk menurunkan atau mengurangi populasi
vektor dengan maksud mencegah atau memberantas penyakit
yang ditularkan vektor atau gangguan yang diakibatkan vektor.)
5. Pencegahan atau pengendalian pencemaran tanah oleh eksreta
manusia. (yang dimaksud ekskreta adalah seluruh zat yang tidak
dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam
tubuh)
6. Higiene makanan termasuk juga susu
7. Pengendalian pencemaran udara
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesling dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan.
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan
epidemik atau wabah, bencan alam dan migrasi penduduk.
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.

B. Berbagai Komponen Lingkungan yang Mempengaruhi Kesehatan


Secara umum, ada tiga komponen lingkungan hidup yakni
komponen biotik (biologis), komponen abiotik (fisik) dan lingkungan
sosial.
1. Komponen Biotik (Biologis)
Komponen biotik adalah komponen lingkungan yang
menyusun suatu ekosistem yang terdiri dari makhluk hidup.
Menurut ukuran tubuhnya, makhluk hidup dikelompokkan menjadi:
a. Makroorganisme
1) Tumbuhan
Tumbuhan memiliki peranan sangat penting bagi
kelangsungan kehidupan di muka bumi ini. Ada umbuhan
hijau mengandung klorofil dan bersifat autotrof sehingga
disebut produsen karena mampu menyintesis makanannya
sendiri melalui proses fotosintesis.
Selain pemenuhan kebutuhan akan energi, tumbuhan
hijau juga memiliki peranan sebagai penyuplai oksigen bagi
kehidupan. Oksigen berperan dalam membantu sistem
peredaran darah, mempercantik kulit dan mencegah
penuaan dini, mengoptimalkan daya ingat dan mencegah
kanker, asma dan penyakit lainnya.
2) Hewan
Hewan merupakan organisme heterotrof yang
menggantungkan hidupnya pada produsen. Meskipun
begitu, organisme ini juga memegang pengaruh penting
dalam kehidupan terutama kesehatan. Sebagai contoh :
a) Undur-undur bermanfaat untuk mengobati diabetes
Menurut Dr. Budi Sugiarto Widjaja dari Traditional
Chinese Medicine (TCM), undur-undur darat baik untuk
mengobati kencing manis (diabetes). Binatang ini
mengandung zat sulfonilurea yang mampu meningkatkan
pengeluaran hormon insulin oleh pankreas. Di saat tubuh
kekurangan insulin, maka kadar glukosa dalam darah
akan meningkat. Peningkatan kadar glukosa inilah yang
menyebabkan tubuh rentan penyakit. Jadi sulfonilurea
dalam undur-undur merupakan agen oral hipoglikemik
atau zat yang berfungsi menurunkan glukosa darah pada
pengidap diabetes. Di samping itu, undur-undur juga
mengandung asam lemak Omega 3. Zat ini juga dapat
menaikkan kadar insulin, hingga bisa menurunkan kadar
gula pada pasien kencing manis.
b) Ulat Sagu menjadi makanan yang bergizi
Berdasarkan penelitian, ulat sagu merupakan
makan bergizi yang bebas kolesterol. Kandungan protein
ulat sagu sekitar 9,34%. Ulat ini juga mengandung
beberapa asam amino esensial, seperti asam aspartat
(1,84%), asam glutamat (2,72%), tirosin (1,87%), lisin
(1,97%), dan methionin (1,07%).
c) Ikan teri untuk mencegah osteoporosis dan sebagai
sumber kalsium
Menurut Dr. Hendradi Khumarga dalam
Orthopaedic Highlight 2004 di Rumah Sakit Siloam
Gleneagles Tangerang, untuk mencegah osteoporosis
setiap orang memerlukan kalsium sebanyak 1 gram per
hari. Kebutuhan kalsium tersebut dapat diperoleh dengan
cara mengonsumsi ikan teri. Seperti yang kita diketahui,
kalsium dalam ikan teri tahan dan tidak mudah larut
dalam air.
Menurut dr. Endang Darmo Utomo MD MS,
seorang ahli gizi dari RS Siloam mengatakan sumber
kalsium terbaik dari ikan teri terdapat pada tulangnya
yang pastinya ikut dimakan ketika mengonsumsi ikan teri.
Dari 100 gr / 1 ons ikan teri memiliki komposisi antara
lain: *.Protein 33,40%*.Lemak 3,00% *.Fosfor 1,50%
*.Besi 0,0036% *.Vitamin B1 0,15 mg% *.Energi 77 kkal
*.Kalsium 500 mg – 1200 mg *.Vit A RE 47.

3) Manusia
Manusia yang sehat menggambarkan kesejahteraan
dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara sosial, dan ekonomis. Untuk
menjaga badan agar selalu tetap fit, kita harus rutin
berolahraga, mengonsumsi cairan yang cukup, makan
makan bergizi, bersosialisasi dengan lingkungan, beribadah
kepada Tuhan dan tidur yang cukup.

b. Mikroorganisme
Mikroorganisme mengambil peran penting dalam
dunia kesehatan. Jamur, bakteri, ganggang, cacing, dan lain
sebagainya merupakan contoh mikroorganisme.
Mikrorganisme memiliki kemampuan untuk
menghasilkan senyawa-senyawa yang sangat berkhasiat
dalam penyembuhan dan pengobatan suatu penyakit.
Banyak antibiotik dan senyawa-senyawa obat yang disintesis
dari mikroorganisme. Misalnya adalah antibiotik pinisilin yang
disintesis dari jamur Penicillium sp..

2. Komponen Abiotik (Fisik)


Komponen abiotik adalah komponen penyusun ekosistem
yang berupa mahluk mati. Komponen abiotik memiliki pengaruh
yang sangat besar terhadap kehidupan komponen biotik. Berikut ini
adalah beberapa contoh komponen abiotik :
a) Udara
Udara memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan
komponen biotik, contohnya kandungan oksigen di udara yang
menunjang respirasi manusia atau kandungan karbondioksida
yang menunjang fotosintesis bagi organism autotrof.

b) Air
Air merupakan contoh komponen abiotik ekosistem yang
perannya sangat vital bagi kehidupan di bumi. Air digunakan
untuk berbagai keperluan mahluk hidup, mulai dari untuk
fotosintesis, menunjang metabolisme jaringan, dan lain
sebagainya.

c) Cahaya matahari
Cahaya matahari juga membantu organisme autotrof dalam
melakukan fotosintesisnya. Dari hasil fotosintesis tersebut
dihasilkan oksigen yang berguna untuk
mencegah penuaan dini dan mencegah asma, kanker, dll.

d) Tanah
Tanah terbentuk dari proses pelapukan batuan yang
berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama. Tanah
tersusun atas 4 komponen utama, yaitu bahan mineral, bahan
organik, air, dan udara. Tanah menjadi media tumbuh bagi
organisme autotrof. Tanah juga digunakan organisme heterotrof
sebagai tempat mencari makanan yang sangat berguna untuk
kesehatan.

e) Suhu

Perbedaan suhu antar suatu tempat dipengaruhi banyak


faktor. Faktor utamanya adalah radiasi sinar matahari, garis
lintang, dan ketinggian tempat. Pada suhu udara yang sangat
rendah, organisme tertentu melakukan adaptasi morfologi
dengan menebalkan bulu tubuh serta adaptasi tingkah laku
dengan melakukan hibernasi.

3. Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial ini merupakan suatu lingkungan yang


mana menjadi tempat bagi manusia untuk bersosialisasi. Kegiatan
sosialisasi yang dilakukan manusia dapat berupa aktivitas antar
sesama manusia maupun aktivitas yang berhubungan dengan
alam. Interaksi inilah yang membuat perasaan manusia menjadi
lebih senang sehingga dapat terhindar dari stress.

C. Pencemaran Lingkungan
Lingkungan hidup menurut para ahli adalah suatu kesatuan ruang
dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk
didalamnya manusia dan perilakunya yang berpengaruh pada
kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahkluk
hidup lainnya. Antara manusia dan lingkungan hidupnya terdapat
hubungan timbal balik. Manusia mempengaruhi lingkungan hidupnya,
dan sebaliknya manusia dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya.
Pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam
lingkungan sehingga kualitas lingkungan turun.
Pencemaran lingkungan terbagi menjadi 3:
1) Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah keadaan di mana kualitas udara
menjadi rusak dan terkontaminasi oleh  bahan-bahan atau zat-
zat  asing yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi)
udara dari keadaan normalnya. Pencemaran udara biasanya terjadi
di kota-kota besar dan daerah padat industri.
Komponen yang paling berpengaruh dalam zat pencemar
udara yaitu karbon monoksida, nitrogen oksida, belerang oksida,
hidro karbon dan partikel.
Secara umum penyebab pencemaran udara ada 2 macam :
Yang pertama adalah faktor internal (secara alamiah) yaitu (1) debu
yang bertebangan akibat tiupan angin. (2) abu yang di keluarkan
dari letusan gunung berapi berikut gas-gas vulkanik. (3) proses
pembusukkan sampah organik dan lain-lain. Yang kedua adalah
faktor eksternal (karena ulah manusia) yaitu:  (1) hasil pembakaran
bahan bakar fosil. (2) debu/serbuk dari kegiatan industri. (3)
pemakaian zat-zat kimia yang di semprotkan ke udara (Wisnu Arya,
1995:28).

2) Pencemaran Air
Air menjadi salah satu sumber kehidupan bagi manusia.
Dewasa ini air bersih sangat sulit sekali untuk didapatkan akibat
dari banyaknya pencemaran air yang terjadi.
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu
tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air
tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah
adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan
merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi (Wikipedia).
Komponen pencemaran air di kelompokan sebagai
berikut:  (1) bahan buangan padat, (2) bahan buangan organik, (3)
bahan buangan anorganik, (4) bahan buangan olahan bahan
makanan, (5) bahan buangan cairan berminyak, (6) bahan buangan
zat kimia, (7) bahan buangan berupa panas.
Menurut Wikipedia, penyebab pencemaran air :
a) Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah
pada eutrofikasi.
b) Sampah organik seperti air comberan menyebabkan
peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya
yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat
berdampak parah terhadap seluruh ekosistem.
c) Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air
limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien
dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama
yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga
mengurangi oksigen dalam air.
d) Pencemaran air oleh sampah
e) Penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan

Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar


adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat di amati melalui:
(1) Adanya perubahan suhu air, (2) Adanya perubahan pH atau
konsentarsi ion Hidrogen, (3) Adanya perubahan warna,bau dan
rasa air, (4) Timbulnya endapan, koloidal, bahan terlarut, (5)
Adanya mikroorganisme, (6) Meningkatnya radioaktivitas air
lingkungan. Adanya tanda atau perubahan tersebut menunjukkan
bahwa air sudah tercemar.

3) Pencemaran Daratan (Tanah)


Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia
buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. 

Secara garis besar pencemaran daratan dapat disebabkan


oleh: (1) Faktor internal, yaitu pencemaran yang disebabkan oleh
peristiwa alam, seperti letusan gunung berapi yang memuntahkan
debu, pasir, batu dan bahan vulkanik lainya yang menutupi dan
merusakan daratan sehingga daratan menjadi tercemar.
Pencemaran karena faktor internal ini tidak terlalu menjadi beban
pemikiran dalam masalah lingkungan karena dianggap sebagai
musibah bencana alam. (2) Faktor eskternal, yaitu pencemaran
daratan karena ulah manusia. Pencemaran daratan karena faktor
eksternal merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian yang
sungguh-sungguh agar daratan tetap dapat memberikan daya
dukung alamnya bagi manusia.

Dampak langsung akibat pencemaran daratan ini adalah


adanya timbunan limbah padat dalam jumlah besar yang akan
menimbulkan pemandangan tidak sedap, kotor dan bau. Kondisi ini
biasanya muncul di TPA. Timbunan sampah yang menggunung
karena belum diolah menyebabkan pemandangan disekitar tempat
tersebut menjadi kumuh dan kotor. Kesan kotor ini dapat
berpengaruk pada psikis penduduk disekitar tempat pembuangan
tersebut.
Dampak tak langsung akibat pencemaran daratan
contohnya  yaitu berkembangbiaknya nyamuk. Hal ini antara lain
disebabkan karena limbah padat yang dibuang manjedi sarang
nyamuk. Limbah padat yang berupa kaleng, ban dan lain-lainya,
bial hujan dapat terisi air kemudian menjadi tempat nyamuk bertelur
dan berkembangbiak.

Untuk menanggulangi pencemaran tersebut ada 2 macam


cara utama, yaitu Penaggulangan secara non teknis  dan
penaggulangan secara teknis. Contoh penanggulangan secara non
teknis yaitu: (1) Penyajian Informasi Lingkungan, (2) Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), (3) Perencanaan
Kawasan Kegiatan Industri dan Teknologi, (4) Pengaturan dan
Pengawasan Kegiatan, (4) Menanamkan perilaku disiplin.
Sedangkan penanggulangan secara teknis dapat dilakukan dengan
cara: (1) mengubah proses, (2) Mengganti sumber energi, (3)
Mengolah limbah, (4) Menambah alat bantu.

D. Kenapa diperlukan Analisis Lingkungan


Analisis Kualitas Lingkungan adalah kegiatan untuk
menetukan apakah kondisi dari suatu lingkungan atau ekologi
dalam keadaan baik atau tidak atau dampak apa yang dapat
ditimbulkan dari lingkungan atau ekologi tersebut.
Kenapa diperlukan Analisis Lingkungan adalah untuk
memantau bagaimana karakteristik dari suatu lingkungan atau
ekologi tersebut terhadap timbulnya risiko kesehatan dan dampak
kesehatan yang terjadi. Selain itu juga untuk mencari pemecahan
masalah/ solusi dari masalah lingkungan.
Dengan demikian, analisis kualitas lingkungan sangat
diperlukan karena sangat berguna dalam merencanakan kegiatan
dalam tahapan pelaksanaan atau pengelolaan kegiatan serta untuk
melakukan penilaian untuk mengelola dampak kesehatan
masyarakat akibat suatu usaha atau kegiatan pembangunan.

E. Peran Analisis Kualitas Lingkungan

Peran-peran analisis kualitas lingkungan yaitu untuk


membantu dalam perumusan kebijakan, sebagai sarana untuk
mengevaluasi efektivitas program lingkungan, membantu dalam
mendisain program lingkungan, mempermudah komunikasi dengan
publik yang berhubungan dengan kondisi lingkungan, untuk
memberikan pemahaman mengenai konsep-konsep dasar tentang
manusia dan lingkungannya, untuk mengetahui  dasar-dasar
kemampuan untuk melakukan analisis mengenai permasalahan
lingkungan aktual baik yang terjadi di tingkat lokal, regional ataupun
global, untuk  memahami  contoh-contoh solusi alternatif tentang
bagaimana mengatasi permasalahan lingkungan melalui
pendekatan ekologis dan penerapan teknologi.

F. Manfaat Analisis Kualitas Lingkungan


Manfaat analisis kualitas lingkungan adalah dapat
mengetahui bagaimana hubungan makhluk hidup dengan
lingkungannya serta berupaya untuk menjaga kelestarian
lingkungan hidup, seberapa besar kekayaan alam,
memahami  tentang cara mengelola dan memanfaatkan sumber
daya alam yang tersedia secara berkelanjutan, dapat mengetahui
cara melestarikan lingkungan dengan baik, dapat mengetahui sejak
awal dampak positif dan negatif akibat kegiatan proyek dan
dapat menghemat penggunaan sumber daya alam.
DAFTAR RUJUKAN

[1] Notoatmodjo, Soekidjo. 2014. Kesehatan Masyarakat; Ilmu dan Seni.


Jakarta: Rineka Cipta.
[2] Wardhana, Arya Wisnu. 2009. Dampak Pencemaran Lingkungan.
Yogyakarta: Andi Offset.
[3] Sastrawijaya,T.A. 2009. Pencemaran Lingkungan. Jakarta: Rineka
Cipta.
[4] Alpipunya. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan
di Lingkungan. [Online]. Tersedia:
https://alpipunya.wordpress.com/2010/06/30/faktor-faktor-yang-
mempengaruhi-kesehatan-di-lingkungan/ . Diakses pada tanggal 2
September 2018
[5] Publisher:  Program Studi Magister Kesehatan Lingkungan (2016)
Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 15. No. 2. Published Oktober 2016
page. 42-45