Anda di halaman 1dari 7

C:\Users\Herwansyah\Documents\UNJA\FKM\MetodologiPenelitian2017\BahanAjarPertemuan2

Printed 15/08/2017 07.45AM

BAHAN AJAR
Mata Kuliah / Kode Metodologi Penelitian / IKM 501 (A dan B)
Pertemuan ke - 2
Materi Metodologi Penelitian di Bidang Kesehatan
Dosen Pengampu Andy Amir, S.KM.,M.Kes

1. Konsep Kebenaran dalam Penelitian Kesehatan


Beberapa ahli mengatakan bahwa sangat sulit menjelaskan arti atau konsep kebenaran
tergantung sudut aspek pandangan (kriteria kebenaran). Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, definisi kebenaran adalah sesuatu yang secara mayoritas menyatakan persetujuan.
Dalam kamus B.Inggris, kebenaran itu sama dengan true yang artinya benar. Berdasarkan hal
tersebut, menurut Prasetyo, kebenaran terdiri dari 3 jenis:

a. Kebenaran Absolut
Kebenaran absolut adalah kebenaran yang ditetapkan oleh Tuhan. Jenis kebenaran ini
mempunyai makna kebenaran 100% karena berasal dari Maha Pencipta. Ciri kebenaran
absolut meliputi:
(1) Given (sudah begitu saja adanya kebenaran)
Makna kebenaran absolut berhubungan dengan kepercayaan dan keimanan seseorang
tentang kebenaran yang diyakininya. Kebenaran ini sudah begitu saja adanya.
Misalnya, kebenaran tentang bahwa akan ada kehidupan di akhirat setelah kematian
di dunia. Kebenaran tersebut sudah digariskan oleh Tuhan bahwa kebenaran itu pasti
ada. Bila tidak percaya akan kebenaran tersebut maka termasuk orang yang ingkar
akan kepercayaan dan keyakinannya. Maka dalam logika penelitian tidak dirahkan
pada lingkup pencarian kebenaran absolut.

(2) Unverified (tidak perlu diverifikasi kebenarannya)


Kebenaran absolut tidak perlu diverifikasi kebenarannya mengandung makna bahwa
kebenaran ini mempunyai nilai kepercayaan yang tinggi (sempurna). Bila
dikuantifikasikan kebenaran absolut ini mengandung derajat kepercayaan 100%.

(3) Undebatable (tidak perlu diperdebatkan benar atau salah)


Kebenaran absolut tidak perlu diperdebatkan benar salahnya karena sudah
mempunyai tingkat kebenaran yang absolut. Bila kebenaran ini diperdebatkan justru
akan mengarah pada keingkaran seseorang akan keyakinannya. Misalnya, kebenaran
tentang bahwa setiap manusia akan mati dan akan mempertanggungjawabkan
perbuatannya, maka kebenaran ini tidak perlu diperdebatkan benar atau salahnya.

Page | 22
C:\Users\Herwansyah\Documents\UNJA\FKM\MetodologiPenelitian2017\BahanAjarPertemuan2
Printed 15/08/2017 07.45AM

b. Kebenaran Temporer
Kebenaran temporer adalah kebenaran yang keabsahannya tergantung kondisi dan waktu
atau otoritas dan kelompok tertentu. Kebenaran temporer mempunyai tingkat
ketidakpastian yang tinggi. Ciri kebenaran temporer meliputi:
(1) Given (sudah begitu saja adanya kebenaran)
Kebenaran ini bila ditelusuri sangat sulit di mana asalnya kebenaran tersebut dan
tidak diketahui asal mulanya. Misalnya, apakah betul ada hubungan bila seorang
gadis duduk di tengah pintu akan berakibat telat mendapatkan jodoh. Kebenaran ini
sangat sulit dibuktikan dan tentunya sangat sulit untuk ditelusuri (diselidiki) berasal
dari mana kebenaran tersebut

(2) Unverified (tidak perlu diverifikasi kebenarannya)


Kebenaran temporer tidak perlu diverifikasi karena mempunya tingkat subjektivitas
yang tinggi. Misalnya, kebenaran yang dianut oleh penduduk pantai yang setiap tahun
melaksanakan perayaan sesajen dengan mengirim kepala kerbau untuk penguasa laut
agar diberkahi rejeki yang banyak. Kebenaran ini oleh kelompok penduduk pantai
diakui kebenarannya tetapi oleh kelompok penduduk yang lain mungkin saja tidak
diakui kebenarannya.

(3) Undebatable (tidak perlu diperdebatkan benar atau salah)


Kebenaran temporer tidak perlu diperdebatkan karena kebenaran ini mempunyai
tingkat kenisbian yang tinggi. Artinya kebenaran temporer ini bisa mempunyai makna
kebenaran yang sempurna atau sebaliknya mempunyai makna kebenaran yang tidak
sempurna. Misalnya, kebenaran tentang rajin menabung pangkal kaya. Kebenaran ini
mempunya makna kebenaran sempurna.

c. Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah adalah kebanaran yang ditemukan melalui suatu proses atau metode
penalaran atau logika penelitian. Ciri kebenaran ilmiah meliputi:
(1) Ungiven (tidak begitu saja adanya kebenaran)
Kebenaran ilmiah tidak begitu saja adanya tetapi diperoleh melalui suatu proses
penelitian (penyelidikan) dalam menjawab suatu pertanyaan masalah yang terjadi
dalam dunia realita. Penemuan kebenaran dilakukan secara sistematis menggunakan
logika (prosedur) penelitian. Misalnya, Newton menemukan gaya grativitasi bumi
dilakukan melalui suatu proses penyelidikan yang sistematis dengan mengumpulkan

Page | 23
C:\Users\Herwansyah\Documents\UNJA\FKM\MetodologiPenelitian2017\BahanAjarPertemuan2
Printed 15/08/2017 07.45AM

data empirik yang terjadi. Dalam lingkup kesehatan masyarakat, H.L Blum
menemukan teori bahwa yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat terdiri dari
4 (empat) faktor: yaitu: lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan genetic.

(2) Verified (dapat diverifikasi kebenarannya)


Kebenaran ilmiah dapat diverifikasi kebenarannya karena berhubungan dengan cara
atau metode kebenaran itu diperoleh. Selain itu derajat kebenaran ilmiah tidak
mencapai 100%, selalu ada peluang kesalahan baik dalam penentuan standar atau
peluang kesalahan hasil penyelidikan. Misalnya, penelitian tentang intervensi
penyuluhan kesehatan tentang program 3M terhadap perubahan perilaku pencegahan
kesehatan pada penyakit DBD dengan menerapkan tingkat kepercayaan 95% dan
tidak memperhitungkan variabel pengaruh lainnya.
Maka, hasil penelitian tersebut terbuka lebar untuk diverifikasi kebenarannya baik
dari segi perlakuan (intervensi), tingkat kepercayaan ataupun dari segi variabel
penelitian lainnya. Bahkan dimungkinkan bisa diverifikasi secara komprehensif
tentang prosedur penelitiannya.

(3) Debatable (dapat diperdebatkan benar atau salah)


Kebenaran ilmiah dapat dieprdebatkan benar atau salahnya. Sehingga kebenaran
kebenaran ilmiah harus mempunyai tingkat keajegan yang konsisten, artinya siapa
pun yang melaksanakan penelitian maka hasilnya akan sama. Untuk itu kebenaran
ilmiah harus siap diperdebatkan bahkan dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penelitian yang dilakukan pada dasarnya adalah mencari
kebenaran ilmiah bukan mencari kebenaran absolut ataupun kebenaran temporer. Penelitian
ilmiah yang akan menghasilkan kebenaran ilmiah akan berbentuk ilmu pengetahuan.
Perkembangan ilmu dan teknologi pengetahuan merupakan bentuk konkret penemuan ilmiah
yang telah dirasakan oleh seluruh umat manusia.

Proses penelitian seperti yang diuraikan sebelumnya dapat dilakukan secara bertahap.
Misalnya, bagi para mahasiswa yang akan menyelesaikan tugas akhir pendidikan diakhiri
dengan pelaksanaan penelitian sesuai dengan tingkatan pendidikannya. Secara harfiah proses
tersebut merupakan pembelajaran awal dalam menemukan suatu ilmu pengetahuan dalam
bentuk mencari kebenaran ilmiah.

Pencarian kebenaran ilmiah yang pada hakikatnya adalah melakukan penelitian maka, para
calon penelitian dalam hal ini mahasiswa akan masuk pada 3 (tiga) karakteristik kebenaran.

Page | 24
C:\Users\Herwansyah\Documents\UNJA\FKM\MetodologiPenelitian2017\BahanAjarPertemuan2
Printed 15/08/2017 07.45AM

2. Proses Penelitian Kesehatan


a. Definisi Penelitian Kesehatan
Secara epistemiologis, penelitian adalah terjemahan dari kata Inggris, research. Ada juga
ahli yang menerjemahkan kata research sebagai riset. Research itu sendiri berasal dari
kata re, yang berarti kembali dan to search yang berarti mencari. Dengan demikian, arti
sebenarnya dari research atau riset adalah mencari kembali. Orang yang melakukan riset
disebut researcher atau peneliti.

Secara harpiah, banyak para ahli yang mengungkapkan definisi penelitian menurut cara
pandangnya, yaitu:
(1) Kamus Webster’s New International, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati
dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat
cerdik untuk menetapkan sesuatu.
(2) Woody (1927), penelitian adalah sebuah metode untuk menemukan kebenaran yang
juga merupakan sebuah pemikiran kritis.
(3) Parsons (1946), penelitian adalah pencarian atas sesuatu (inquiry) secara sistematis
dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang
dipecahkan.
(4) Hillway (1956), penelitian adalah tidak lain dari suatu metode studi yang dilakukan
seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah,
sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut.
(5) Whitney (1960), penelitian adalah suatu metode untuk menemukan kebenaran,
sehingga juga merupakan metode berpikir secara kritis.
(6) Nazir (2003), penelitian adalah suatu penyelidikan yang terorganisasi.
(7) Azwar (2003), penelitian adalah upaya pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan
analisis data yang dilakukan secara sistematis, teliti, dan mendalam untuk mencarikan
jalan keluar dan ataupun jawaban terhadap suatu masalah penelitian.

Beberapa definisi penelitian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian adalah suatu
proses yang sistematis dan terencana dalam menemukan jawaban untuk solusi masalah
empiric yang ditemukan. Definisi penelitian apabila dikaji mengandung tiga (3) esensi dasar,
diantaranya:

(1) Sistematis
Penelitian merupakan suatu proses artinya ada tahapan yang harus dilalui secara urut dan
benar. Bila tidak dilakukan maka esensi dasar penelitian tidak ada (hilang).

Page | 25
C:\Users\Herwansyah\Documents\UNJA\FKM\MetodologiPenelitian2017\BahanAjarPertemuan2
Printed 15/08/2017 07.45AM

(2) Menemukan kebenaran


Penelitian merupakan suatu usaha untuk menemukan kebenaran yang akan digunakan
untuk kesejahteraan manusia. Bila tidak menemukan kebenaran maka esensi dasar
penelitian tidak terwujud.

(3) Empirik problem


Penelitian merupakan pengungkapan masalah realita yang terjadi didasarkan pada
empiric. Empirik yang terjadi harus didasarkan pada fakta yang sebenarnya sehingga
menghasilkan data sebagai fokus masalah penelitian.

Penelitian saat ini mengalami perkembangan dalam berbagai dimensi bidang ilmu
pengetahuan termasuk penelitian di bidang kesehatan. Menurut WHO kesehatan adalah
keadaan sempurna fisik, mental dan sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit, cacat dan
kelemahan. Dalam Undang-Undang Kesehatan diuraikan kesehatan adalah keadaan sejahtera
dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial
dan ekonomi.

Berdasarkan gambaran tersebut, penelitian kesehatan adalah suatu proses penyelidikan yang
sistematis untuk menemukan keseimbangan badan, jiwa, dan sosial dari kelainan berbagai
fungsi. Pengertian tersebut didasarkan pada asumsi bahwa penelitian ini merupakan proses
yang sistematis untuk menemukan kebenaran sedangkan kesehatan merupakan keadaan
sempurna baik badan, jiwa, dan sosial yang setiap saat ada fungsi yang terganggu. Sehingga
melalui penelitian kesehatan akan ditemukan suatu solusi pada saat ada gangguan kesehatan.
Menurut ahli lain bahwa penelitian kesehatan adalah suatu upaya untuk memahami
permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam bidang kesehatan, baik kuratif/klinis
maupun preventif kesehatan masyarakat, serta masalah-masalah kesehatan yang berkaitan
dengannya, dengan mencari bukti yang muncul, dan dilakukan melalui langkah-langkah
tertentu yang bersifat ilmiah, sistematis dan logis.

Perkembangan penelitian kesehatan mempunya peran penting dalam meningkatkan status


derajat kesehatan masyarakat. Penelitian kesehatan memfokuskan kegiatan-kegiatannya pada
masalah-masalah yang timbul di bidang kesehatan. Misalnya, penelitian pencegahan penyakit,
penelitian pengobatan penyakit, ataupun penelitian sistem pelayanan kesehatan. Penelitian
kesehatan selain berorientasi pada individu sebagai manusia seutuhnya, yang terdiri dari
organ dan fungsi tubuhnya juga berorientasi pada masyarakat yang terdiri dari fungsi dan
struktur yang dapat berpotensi sebagai penyebab timbulnya masalah kesehatan.

Page | 26
C:\Users\Herwansyah\Documents\UNJA\FKM\MetodologiPenelitian2017\BahanAjarPertemuan2
Printed 15/08/2017 07.45AM

b. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Kesehatan


Penelitian kesehatan selalu mempunyai tujuan tertentu, baik tujuan dimensi proses maupun
tujuan dimensi akhir. Tujuan penelitian kesehatan dalam dimensi proses adalah menganalisis
data kesehatan yang dieproleh guna membuktikan suatu kejadian masalah kesehatan baik
yang sudah, sedang, ataupun yang berpotensi. Sedangkan tujuan penelitian kesehatan dimensi
akhir adalah memperoleh jawaban yang lengkap tentang masalah kesehatan yang terjadi di
suatu wilayah yang menyerang sekelompok penduduk baik dalam dimensi individu, keluarga,
kelompok khusus maupun masyarakat.

Menurut Notoatmojo, tujuan penelitian kesehatan secara garis besar adalah:


(1) Untuk menemukan teori, konsep, dalil atau generalisasi baru tentang kesehatan atau
kedokteran.
(2) Untuk memperbaiki atau modifikasi teori, sistem, atau program pelayanan kesehatan
atau kedokteran.
(3) Untuk memperkokoh teori, konsep, sistem atau generalisasi yang sudah ada.

Hasil penelitian kesehatan yang dilakukan dapat dignakan untuk:

(1) Mengevaluasi pelaksanaan program kesehatan yang telah dilakukan.


(2) Merencanakan program pelayanan kesehatan.
(3) Menggambarkan status derajat kesehatan masyarakat.
(4) Mengidentifikasi, mencegah, mendiagnosis, mengobati, membatasi dan
merehabilitasi penyakit pada individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat.
(5) Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.

c. Ruang Lingkup dan Cakupan Penelitian Kesehatan


Penelitian kesehatan secara keilmuan telah berkembang sesuai bidang kajian ilmu masing-
masing yang berumpun pada bidang ilmu kesehatan. Tentunya ini berdampak kepada ruan
lingkup penelitian kesehatan. Secara garis besar ruang lingkup penelitian kesehatan meliputi,
bidang kedokteran, bidang kedokteran gigi, bidang kesehatan masyarakat, bidang
keperawatan, bidang kebidanan, bidang analis kesehatan, bidang gizi, bidang farmasi, bidang
teknik elektromedik, bidang fisioterapi.

3. Prosedur Penelitian Kesehatan


Prosedur penelitian kesehatan adalah suatu prosedur penelitian yang dilakukan secara
bertahap mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan dan penulisan laporan penelitian

Page | 27
C:\Users\Herwansyah\Documents\UNJA\FKM\MetodologiPenelitian2017\BahanAjarPertemuan2
Printed 15/08/2017 07.45AM

yang merupakan replica dari logika penelitian. Terdapat beberapa proses penelitian yang
meliputi 5 (lima) tahapan, yaitu sebagai berikut:
a. Merumuskan permasalahan penelitian
b. Merumuskan kerangka teori
c. Menentukan metodologi
d. Melakukan Analisa data
e. Melakukan penarikan kesimpulan

Langkah-langkah proses penelitian kesehatan secara umum ditentukan oleh pihak


penyelenggara/stakeholder penelitian. Kadang kala setiap penyelenggara/stakeholder
beraneka ragam menerjemahan proses penelitian. Peneliti yang baik tentunya adalah
mengikuti prosedur atau proses penelitian kesehatan yang ditetapkan oleh
penyelenggara/stakeholder penelitian.

Daftar Pustaka

1. Eko B. Metodologi Penelitian Kedokteran: Sebuah Pengantar. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC; 2003.
2. Mike S, Judith A. Researching Health: Qualitative, Quantitative and Mixed Methods. 2 nd
Ed. London: SAGE Publications; 2013.
3. Budiman. Penelitian Kesehatan. Buku Pertama. Bandung: Refika Aditama; 2011.
4. World Health Organization Regional Office for the Eastern Mediterranean. A Practical
Guide for Health Researchers. Cairo: WHO;2004 [Cited 3 July 2017]. Available from:
http://www.who.int/ethics/review-committee/emro_ethics_dsa237.pdf
5. Ketut S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. Yogyakarta: Penerbit Andi; 2015.
6. Sudigdo S, Sofyan I. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: Binarupa Aksara;
1995.
7. Buchari L. Metode Penelitian Kesehatan: Metode Ilmiah Penulisan Skripsi, Thesis dan
Disertasi. Jakarta; Penerbit Yayasan Obor Indonesia; 2012.

Page | 28