Anda di halaman 1dari 30

KEPERAWATAN ANAK

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN ANAK DENGAN


“ASMA BRONCHIAL”

Disusun Oleh :

Annisa Marini (1811002)


Arvyan Eka Yudha Pratama (1811003)
Delvia Aisyah Supriyadi (1811004)
Riska Nasiron Maulidia (1811015)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


STIKES PATRIA HUSADA BLITAR
2020/2021
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan judul “ASUHAN
KEPERAWATAN PASIEN ANAK DENGAN “ASMA BRONCHIAL” yang diajukan untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak.
Makalah ini berisi tentang definisi, etiologi, patofisiologi, pathway, klasifikasi,
manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, dan dapat
mengatahui kasus semu dari pasien anak dengan Asma Bronchial.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai usaha kita.

Blitar, 20 Oktober 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 2
BAB 2 TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi ............................................................................................................ 3
2.2 Etiologi ............................................................................................................ 3
2.3 Patofisiologi ..................................................................................................... 3
2.4 Pathway .......................................................................................................... 5
2.5 Klasifikasi ......................................................................................................... 6
2.6 Manifestasi Klinis ............................................................................................ 6
2.7 Komplikasi ...................................................................................................... 6
2.8 Pemeriksaan Penunjang .................................................................................. 7
2.9 Penatalaksanaan ............................................................................................. 7
2.10 Konsep Asuhan Keperawatan ........................................................................ 8
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KASUS SEMU
3.1 Kasus ............................................................................................................19
3.2 Pengkajian ....................................................................................................19
3.3 Analisa data ..................................................................................................23
3.4 Diagnosa .......................................................................................................23
3.5 Intervensi .....................................................................................................24
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan ...................................................................................................26
4.2 Saran ............................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asma merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan yang banyak dijumpai
pada anak-anak maupun dewasa. Menurut global initiative for asthma (GINA) tahun
2015, asma didefinisikan sebagai “suatu penyakit yang heterogen, yang
dikarakteristik oleh adanya inflamasi kronis pada saluran pernafasan. Hal ini
ditentukan oleh adanya riwayat gejala gangguan pernafasan seperti mengi, nafas
terengahengah, dada terasa berat/tertekan, dan batuk, yang bervariasi waktu dan
intensitasnya, diikuti dengan keterbatasan aliran udara ekspirasi yang bervariasi”,
(Kementrian Kesehatan RI, 2017).
Asma adalah penyakit gangguan pernapasan yang dapat menyerang anak-anak
hingga orang dewasa, tetapipenyakit ini lebih banyak terjadi pada anak-
anak.Menurut para ahli, prevalensi asma akan terusmeningkat. Sekitar 100 - 150
juta penduduk duniaterserang asma dengan penambahan 180.000 setiaptahunnya
(Dharmayanti & Hapsari, 2015).
Angka kejadian asma bervariasi diberbagai negara, tetapi terlihat kecendrungan
bahwa penderita penyakit ini meningkat jumlahnya, meskipun belakang ini obat-
obatan asma banyak dikembangkan. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
dalam world health report 2000 menyebutkan, lima penyakit paru utama
merupakan 17,4 % dari seluruh kematian di dunia, masing-masing terdiri dari infeksi
paru 7,2 %, PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) 4,8%, Tuberkulosis 3,0%, kanker
paru/trakea/bronkus 2,1 %. Dan asma 0,3%. (Infodatin, 2017).
Saat ini penyakit asma masih menunjukkan prevalensi yang tinggi. Berdasarkan
data dari WHO (2002) dan GINA (2011), di seluruh dunia diperkirakan terdapat 300
juta orang menderita asma dan tahun 2025 diperkirakan jumlah pasien asma
mencapai 400 juta. Jumlah ini dapat saja lebih besar mengingat asma merupakan
penyakit yang underdiagnosed. Buruknya kualitas udara dan berubahnya pola hidup
masyarakat diperkirakan menjadi penyebab meningkatnya penderita asma. Data
dari berbagai negara menunjukkan bahwa prevalensi penyakit asma berkisar antara
1-18% (Infodatin, 2017).

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi Asma Bronchial?
2. Apa etiologi Asma Bronchial?
3. Bagaimana patofisiologi Asma Bronchial?
4. Bagaimana pathway Asma Bronchial?
5. Apa klasifikasi Asma Bronchial?
6. Bagaimana manifestasi klinis Asma Bronchial?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang Asma Bronchial?
8. Bagaimana penatalaksanaan Asma Bronchial?
9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan Asma Bronchial?
10. Bagaimana contoh kasus semua Asma Bronchial?

1.3 Tujuan
1. Agar dapat mengerti pengertian dan klasifikasi dari Asma Bronchial.
2. Agar dapat mengetahui etiologi dan patofisiologi beserta pohon masalah dari
Asma Bronchial.
3. Agar dapat mengetahui tanda gejala, komplikasi, dan bagaimana cara
pemeriksaannya, serta bagaimana sistem pengobatan yang dapat dilakukan
kepada penderita Asma Bronchial.
4. Agar dapat mengetahui konsep pemberian asuhan keperawatan, serta contoh
kasus semu kepada penderita Asma Bronchial mulai dari pengkajian, diagnosa,
dan intervensi.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi
Asma adalah penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran napas yang ditandai
dengan adanya mengi, batuk, dan rasa sesak di dada yang berulang dan timbul
terutama pada malam atau menjelang pagi akibat penyumbatan saluran
pernapasan. (Infodatin, 2017).
Asma merupakan proses inflamasi kronik saluran pernapasan menjadi
hiperesponsif, sehingga memudahkan terjadinya bronkokonstriksi, edema, dan
hipersekresi kelenjar.(Nelson, 2013).
asma bronkial adalah penyempitan sebagian dari otot halus pada bronkus dan
bronkiolus yang bersifat refersible dan disebabkan oleh berbagai penyebab seperti
infeksi, alergi dan lain lain.

2.2 Etiologi
Menurut (Herdinsibuae, 2005) ada beberapa penyebab, yaitu :
1. Debu didalam rumah, seperti debu dari kasur kapuk, permadani, sofa, pakaian
yang disimpan lama dalam lemari, langit-langit rumah, buku-buku (arsip lama),
dan asap rokok.
2. Makanan, terutama jenis ikan laut, susu sapi, telur, dan cokelat. Juga makanan
pedas, dimgim, bergetah, asin , atau manis.
3. Bulu binatang yang menempel pada sofa, permadani, sprei, atau tirai
(kelambu).
4. Perubahan cuaca dan kelembapan udara.

2.3 Patofisiologi
Asma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif
dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain. Dengan adanya bahan
iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh
muncul ( immunoglobulin E atau IgE ) dengan adanya alergi. IgE di muculkan pada
reseptor sel mast dan akibat ikatan IgE dan antigen menyebabkan pengeluaran
histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala

3
asthma. Respon asma terjadi dalam tiga tahap : pertama tahap immediate yang
ditandai dengan bronkokontriksi ( 1-2 jam ); tahap delayed dimana brokokontriksi
dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih lama ; tahap late
yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu
atau bulan. Asma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan,
kecemasan, dan udara dingin. Selama serangan asthmatik, bronkiulus menjadi
meradang dan peningkatan sekresi mukus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas
menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat
menimbulkan distres pernafasan. Anak yang mengalami asma mudah untuk
inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada jalan nafas.Dan ini
menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas.Jalan nafas
menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi 02, sehingga
terjadi penurunan p02 ( hipoxia).Selama serangan astmati, CO2 tertahan dengan
meningkatnya resistensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis
respiratory dan hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan
kompensasi dengan meningkatkan pernafasan (tachypnea), kompensasi tersebut
menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah
(hypocapnea) (Hadibroto, 2006).

4
2.4 Pathway

Infeksi Merokok Polusi Alergen Genetik

Masuk ke saluran napas

Iritasi mukosa saluran pernapasan

Reaksi inflamasi

Hipertropi dan hyperplasia mukosa bronkus

Metaplasia sel gobet Produksi sputum

Pola Napas Tidak Efektif Penyempitan saluran pernapasan Batuk

Penurunan ventilasi Obstruksi Bersihan Jalan


Napas Tidak Efektif

Supply O2 Penyebaran udara ke alveoli

Kelemahan Vasokontriksi pembuluh darah


paru-paru
Gangguan
Intoleran Aktivitas Supply O2 berkurang Pertukaran Gas

Sesak napas

Kebutuhan tidur tidak efektif

Gangguan Pola Tidur

5
2.5 Klasifikasi
Menurut Brunner dan Suddarth, (2001) berdasarkan penyebabnya, asma
bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu :
1. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang
spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan
aspirin) dan spora jamur.
2. Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang
tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa pernafasan dan
emosi.
3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk
alergik dan non-alergi.

2.6 Manifestasi Klinis


1. Gambaran obyektif adalah kondisi pasien dalam keadaan :
a. Sesak nafas parah dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing
b. Dapat diserati batuk dengan sputum kental dan sulit dikeluarkan
c. Bernafas dengan otot-otot nafas tambahan
d. Sianosis, takikardi, gelisah
2. Gambaran suyektif adalah pasien mengeluhkan sesak, sukar bernafas dan
anoreksia.
3. Gambaran psikososial adalah cemas, takut, mudah tersinggung dan kurangnya
pengetahuan pasien terhadap situasi penyakitnya

2.7 Komplikasi
Jika sering terjadi dan telah berlangsung cukup lama, serangan asma akan
mengakibatkan paru-paru basah dan perubahan bentuk rongga dada (toraks).
Toraks membungkuk ke depan dan jantung menyempit. Jika banyak sekali
jumlahnya, lendir akan menyumbat paru-paru dan akan mengganggu kontraksi
paru-paru. Serangan asma yang berlanjut berhari-hari disebut asthmaticus. Jika
tidak ditolong, penderita akan mengalami gangguan pada jantung.

6
2.8 Pemeriksaan Penunjang
1. Uji kulit, berupa uji tusuk untuk melihat kerentanan anak terhadap allergen
tertentu.
2. Uji faal dengan menggunakan spirometer untuk mengukur derajat penyempitan
saluran napas.
3. Uji provokasi dengan menyemprotkan suatu bahan (alergen) melalui hidung.
Hasilnya akan positif jika terjadi faal paru.
4. Pemeriksaan darah (laboratorium), dilakukan untuk menemukan IgE.
5. Foto paru untuk mengetahui ada tidaknya penyakit paru yang menyertai,
misalnya TBC paru.

2.9 Penatalaksanaan
Menurut Brunner dan Bare, (2001) dalam penatalaksanaan medis terdapat lima
pengobatan yang digunakan dalam menGobati asma yaitu :
1. Agonis beta
Agonis beta ( agen B-adrenergik ) adalah medikasi awal yang digunakan dalm
mengobati asma karena agen ini medilatasi otot-otot polos bronkial. Agen
adrenergik juga meningkatkan gerakan siliaris, menurunkan mediator kimiawi
anafilaktik dan dapat menguatkan efek bronkodilatasi dan kortikosteroid. Agens
adrenergik yang paling umum digunakan adalah epinefrin, albuterol,
metaproterol, isoproterol dan terbutalin. Obat-obat tersebut biasanya diberikan
secara parenteral atau melalui inhalasi.
2. Metilsantin
Metilsantin seperti aminofilin dan teofilin, digunakan karena mempunyai efek
bronkodilatasi. Agen ini merileksasikan otot-otot polos bronkus, meningkatkan
gerakan mukus pada jalan nafas, dan meningkatkan konstraksi diafragma.
Aminofilin diberikan secara intravena, teofilin diberikan secara peroral.
Metilsantin tidak digunakan dalam serangan akut karena awitannya lebih lambat
dibanding agonis beta. Jika obat ini diberikan terlalu cepat akan terjadi takikardi.
3. Antikolinergik
Antikolinergik seperti atropin tidak pernah dalam riwayatnya untuk pengobatan
rutin asma karena efek samping sistemiknya, seperti kekeringan pada mulut,
penglihatan kabur, palpitasi, sering kencing. Agens ini diberikan secara inhalasi.

7
4. Kortikosteroid
Obat ini penting dalam pengobatan asma. Medikasi ini mungkin diberikan secara
intravena ( hidrokortison ), secara oral ( prednison, predhnisolon ), atau melalui
inhalasi ( beklometason dexamethason ). Kortikosteroid yang di hirup mungkin
efektif dalam mengobati pasien asma tergantung steroid. Keuntungan utama
dalam pemberian ini adalah mengurangi efek kortikosteroid pada sitem tubuh
lainnya. Iritasi tenggorokan, batuk, mulut kering, suara parau dan infeksi jamur
pada mulut.
5. Inhibilator sel mast
Natrium kromolin, suatu inhibilator sel mast adalah bagian integral dari
pengobatan asma. Medikasi ini di berikan secara inhalasi. Medikasi ini
mencegah pelepasan mediator kimiawi anafilaktik, dengan demikian
mengakibatkan bronkodilatasi dan penurunan inflamasi jalan nafas ( Brunner
and Bare, 2001 ).

2.10 Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Identitas klien/biodata
a. Identitas anak yang meliputi nama anak, umur, jenis kelamin,
suku/bangsa, agama, alamat, no RM, Dx medis, tanggal masuk RS dan
tanggal pengkajian.
b. Identitas orang tua/penanggung jawab meliputi nama, usia, pendidikan,
pekerjaan, alamat, hubungan dengan pasien.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan Utama
Pada umumnya orang tua mengeluh anaknya batuk dengan atau tanpa
produksi mucus; sering bertambah berat saat malam hari atau dini hari
sehingga membuat anak sulit tidur. Jika asmanya berat maka gejala yang
akan muncul yaitu perubahan kesadaran seperti mengantuk, bingung,
saat serangan asma, kesulitan bernafas yang hebat, takikardia,
kegelisahan hebat akibat kesulitan bernafas, berkeringat (Margaret
Varnell Clark, 2013).

8
b. Riwayat kesehatan sekarang
Merupakan pengembangan dari keluhan utama yang biasa ditemukan
menggunakan pendekatan PQRST, dimana P atau paliatif/provokative
merupakan hal atau faktor yang mencetuskan terjadinya penyakit, hal
yang memperberat atau meperingan, Q atau qualitas dari suatu keluhan
atau penyakit yang dirasakan, R atau region adalah daerah atau tempat
dimana keluhan dirasakan, S atau severity adalah derajat keganasan atau
intensitas dari keluhan tersebut, T atau time adalah waktu dimana
keluhan dirasakan, time juga menunjukan lamanya atau kekerapan.
c. Riwayat kesehatan yang lalu
Penyakit yang pernah diderita anak perlu diketahui sebelumnya, karena
mungkin ada kaitannya dengan penyakit sekarang. Riwayat kesehatan
menjelaskan tentang riwayat perawatan di RS, alergi, penyakit kronis dan
riwayat operasi. Selain itu juga menjelaskan tentang riwayat penyakit
yang pernah diderita klien yang ada hubungannya dengan penyakit
sekarang seperti riwayat panas, batuk, filek, atau penyakit serupa
pengobatan yang dilakukan.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Dikaji mengenai adanya penyakit pada keluarga yang berhubungan
dengan asma pada anak, riwayat penyakit keturunan atau bawaan seperti
asma, diabetes melitus, dan lain-lain.
e. Genogram
Merupakan gambaran struktur keluarga klien, dan gambaran pola asuh
klien.
f. Riwayat kehamilan dan persalinan
Merupakan informasi kesehatan anak dan ibu mulai dari pre natal, natal,
dan post natal.
1) Prenatal
Apakah ibu pasien terdapat kelainan atau keluhan yang dapat
memperberat keadaan ibu dan anak saat proses persalinan, serta
jumlah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan ibu pasien.

9
2) Intra natal
Proses persalinan ditolong oleh siapa, apakah persalinan secara normal
atau memerlukan bantuan alat operasi dan bagaimana keadaan bayi
saat di lahirkan (langsung menangis atau tidak).
3) Post natal
Bagaimana keadaan saat setelah lahir, apakah mendapat ASI sesuai
kebutuhan atau PASI serta bagaimana refleks menghisap atau
menelan.
g. Riwayat imunisasi dan pemberian makan
1) Riwayat imunisasi
Pada usia 9 bulan imunisasi harus sudah lengkap meliputi BCG,
Hepatitis, Polio, DPT, Campak, Thypoid. Bila anak belum mendapat
imunisasi tanyakan dan catat imunisasi apa saja yang sudah dan belum
didapat serta.
2) Riwayat pemberian makan
Catat pada pertama kali anak dan pada umur berapa diberikan
makanan tambahan. Selain ASI, baik berupa jenis, porsi dan frekuensi
yang diberikan dan tanyakan makanan apa yang lebih disukai oleh
anak.
3. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Pengkajian riwayat pertumbuhan meliputi diantarnya meliputi :
Berat badan sebelum sakit sampai saat sakit rata-rata berat badan pada
bayi bertambah 8.900-7.100 gram, dan tinggi badan rata-rata bayi
bertambah 2 cm.
b. Pengkajian perkembangan meliputi :
1) Personal sosial : Dada dengan tangan, tepuk tangan.
2) Motorik halus : Menaruh kubus dalam cangkir, membentuk 2 kubus,
memegang icik-icik.
3) Motorik kasar : Duduk, merangkak, berdiri berpegangan.
4) Bahasa : Mengoceh, menirukan kata-kata, menoleh kearah suara.

10
4. Pola Kebiasaan
a. Pola nutrisi
Nafsu makan anak pada umumnya berkurang atau hilang. Pemberian ASI
dari bayi lahir sampai usia 9 bulan.
b. Pola istirahat/aktivitas
Gejala : Keletihan, kelelahan, malaise, Ketidakmampuan untuk melakukan
aktifitas sehari-hari karena sulit bernafas, Ketidakmampuan untuk tidur,
perlu tidur dalam posisi duduk tinggi, Dispnea pada saat istirahat atau
respon terhadap aktifitas atau latihan.
Tanda : Keletihan, Gelisah, insomnia, Kelemahan umum/kehilangan massa
otot.
c. Pola personal hygiene
Orang tua kadang merasa takut untuk memandikan anak yang sedang
sakit, sehingga perlu dikaji kebutuhan personal hygiene bayi.
5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Biasanya keadaan umum pasien dengan asma adalah kelemahan fisik
akibat kurangnya nafsu makan, gelisah, kesulitan bernafas, kesulitan tidur,
berkeringat, takikardia.
b. Tanda-tanda vital
Akan ditemukan tanda-tanda vital yang berubah dari ukuran normal.
c. Antropometri
Dikaji untuk mengetahui status gizi, dapat ditemukan penurunan berat
badan dari normal.
d. Pemeriksaan fisik
3) Kepala
Amati bentuk dan kesimetrisan kepala, kebersihan kepala pasien,
lingkar kepala. Pada asma tidak ditemukan masalah pada saat
dilakukan pemeriksaan kepala.
4) Mata
Perhatikan apakah jarak mata lebar atau lebih kecil, amati kelopak
mata terhadap penetapan yang tepat, periksa alis mata terhadap
kesimetrisan dan pertumbuhan rambutnya, amati distribusi dan

11
kondisi bulu matanya, bentuk serta amati ukuran iris apakah ada
peradangan atau tidak, kaji adanya oedema pada mata. Pada asma
tidak ditemukan masalah pada saat dilakukan pemeriksaan mata.
5) Hidung
Amati pasien, apakah pasien menggunakan nafas cuping hidung.
6) Mulut
Periksa bibir terhadap warna, kesimetrisan, kelembaban,
pembengkakan, lesi, periksa gusi lidah, dan palatum terhadap
kelembaban, keutuhan dan perdarahan, amati adanya bau, periksa
lidah terhadap gerakan dan bentuk, periksa gigi terhadap jumlah, jenis
keadaan, inspeksi faring menggunakan spatel lidah. Biasanya
ditemukan pada mulut terdapat nafas barbau tidak sedap, bibir kering
dan pecah-pecah, lidah tertutup selaput putih kotor, ujung dan tepinya
kemerahan.
7) Telinga
Periksa penempatan dan posisi telinga, amati penonjolan atau
pendataran telinga, periksa struktur telinga luar dan ciri-ciri yang tidak
normal, periksa saluran telinga luar terhadap hygiene, rabas dan
pengelupasan. Lakukan penarikan aurikel apakah ada nyeri atau tidak
lakukan palpasi pada tulang yang menonjol di belakang telinga untuk
mengetahui adanya nyeri tekan atau tidak.
8) Leher
Gerakan kepala dan leher klien dengan ROM yang penuh, periksa leher
terhadap pembengkakan kelenjar getah bening, lakukan palpasi pada
trakea dan kelenjar tiroid.
9) Dada
Amati kesimetrisan dada terhadap retraksi atau tarikan dinding dada
kedalam, amati jenis pernafasan, amati gerakan pernafasan dan lama
inspirasi serta ekspirasi, lakukan perkusi diatas sela iga, bergerak
secara simentris atau tidak dan lakukan auskultasi lapang paru.
10) Abdomen
Periksa kontur abdomen ketika sedang berbaring terlentang, periksa
warna dan keadaan kulit abdomen, amati turgor kulit. Lakukan

12
auskultasi terhadap bising usus serta perkusi pada semua area
abdomen
11) Ekstremitas
Kaji bentuk kesimetrisan bawah dan atas, kelengkapan jari, apakah
terdapat sianosis pada ujung jari, adanya oedema, kaji adanya nyeri
pada ekstremitas.
12) Genetalia dan anus
Kaji kebersihan sekitar anus dan genetalia, inspeksi ukuran genetalia,
posisi, uretra, inspeksi adanya tanda-tanda pembangkakan, periksa
anus adanya robekan, hemoroid, polip.
6. Data Psikososial Anak
Data psikososial menilai dampak-dampak hospitalisasi, termasuk
prosedur pada bayi dan keluarga. Pada pasien bayi lebih mudah cemas
karena tindakan yang dilakukan, kemungkinan pada bayi kehilangan
kontrol terhadap dirinya. Serta ketakutan bayi terhadap perlukaan muncul
karena bayi menganggap tindakan dan prosedurnya mengancap
intregritas tubuhnya. Oleh karena itu, hal ini menimbulkan reaksi agresif
dengan marah dan berontak, menangis dengan kencang sambil
berontak/berguling-guling dan selalu ingin tetap di pangkuan ibunya.
7. Data Perkembangan Keluarga
Dikaji sejauh mana perkembangan keluarga ketika klien sakit.
8. Data Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya :
a) Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari
kristal eosinophil.
b) Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan)
dari cabang bronkus.
c) Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
d) Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya
bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang
terdapat mucus plug.

13
2) Pemeriksaan Darah
a) Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula
terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
b) Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
c) Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas
15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
Pencetusnya allergen, olahraga, cuaca, emosi (imun respon
menjadi aktif, Pelepasan mediator humoral), histamine, SRS-A,
serotonin, kinin, bronkospasme, Edema mukosa, sekresi
meningkat, inflamasi (penghambat kortikosteroid).
d) Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig
E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari
serangan.
3) Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu
serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni
radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis,
serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat
komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut :
a) Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan
bertambah.
b) Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran
radiolusen akan semakin bertambah.
c) Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrat
pada paru.
d) Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
e) Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan
pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran
radiolusen pada paru-paru.
4) Pemeriksaan Tes Kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen
yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.

14
5) Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat
dibagi menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang
terjadi pada empisema paru, yaitu :
a) Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right
axis deviasi dan clock wise rotation.
b) Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni
terdapatnya RBB (Right bundle branch block).
c) Tanda-tanda hipoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia,
SVES, dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.
6) Scanning Paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa
redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada
paru-paru.
7) Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara
yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat
respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer
dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol
(inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1
atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma.
Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%.
Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan
diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek
pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan
spirometrinya menunjukkan obstruksi. (Dudut Tanjung., Skp, 2007).

15
B. Diagnosa Keperawatan
Menurut (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
1. Pola Napas Tidak Efektif b.d. Hambatan upaya napas d.d. Dyspnea
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif b.d. Sekresi yang tertahan d.d. Sputum
berlebih
3. Gangguan Pertukaran Gas b.d. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi d.d
Dyspnea
4. Intoleran Aktivitas b.d. Ketidakseimbangan antara supali dan kebutuhan
oksigen d.d. Dyspnea saat/setelah beraktivitas
5. Gangguan Pola Tidur b.d. Hambatan lingkungan d.d. Mengeluh sulit tidur.

C. Intervensi
Menurut (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019) dan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI,
2018).
Dx Luaran Intervensi
1. Setelah dilakukan intervensi Manajemen jalan napas
keperawatan selama 2x24 jam, Observasi
maka Pola Napas Membaik, - Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha
dengan kriteria hasil: napas)
- Dipsnea (cukup menurun) - Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi,
- Penggunaan otot bantu napas wheezing,ronkhi kering)
(cukup menurun) - Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
- Frekuensi napas (cukup Terapeutik
membaik) - Posisi semifowler atau fowler
- Berikan minum hangat
- Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
Edukasi
- Anjarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu

2. Setelah dilakukan tindakan Latihan Batuk Efektif

16
keperawatan selama 2x24 jam, Observasi
maka Bersihan Jalan Napas - Identifikasi kemampuan batuk
Meningkat, dengan kriteria hasil: - Monitor adanya retensi sputum
- Produksi sputum (cukup Terapeutik
menurun) - Atur posisi semifowler atau fowler
- Wheezing (cukup menurun) - Buang secret pada tempat sputum
- Pola napas (cukup membaik) Edukasi
- Anjurkan tarik napas dalam melalui hidung selama
4detik, ditahan selama 2detik, kemudian keluarkan dari
mulut dengan bibir mecucu (dibulatkan) selama 8detik
- Anjurkan mengulangi Tarik napas dalam hingga 3kali
- Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik
napas dalam yang ke3
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika
perlu
3. Setelah dilakukan tindakan Pemantauan Respirasi
keperawatan 2x24 jam, maka Observasi
Pertukaran Gas Meningkat, - Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas
dengan kriteria hasil: - Monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea,
- Dipsnea (cukup menurun) hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes, biot, ataksik)
- Bunyi napas tambahan (cukup - Monitor kemampuan batuk efektif
menurun) - Auskultasi bunyi napas
- Takikardia (cukup membaik) Terapeutik
- Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi
pasien
- Dokumentasi hasil pemantauan
Edukasi
- Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
4. Setelah dilakukan intervensi Manajemen Energi
keperawatan selama 2x24 jam, Observasi
maka Toleransi Aktivitas - Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan
Meningkat, dengan kriteria hasil: kelelahan
- Frekuensi nadi (cukup - Monitor kelelahan fisik dan emosional

17
meningkat) - Monitor pola dan jam tidur
- Keluhan lelah (cukup menurun) Terapeutik
- Frekuensi napas (cukup - Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis.
membaik) Cahaya, suara, kunjungan)
- Lakukan latihan rentang gerak pasif dan atau aktif
- Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
Edukasi
- Anjurkan tirah baring
- Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan
asupan makanan
5. Setelah dilakukan intervensi Dukungan Tidur
keperawatan selama 2x24 jam, Observasi
maka Pola Tidur Membaik, - Identifikasi pola aktivitas dan tidur
dengan kriteria hasil: - Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan atau
- Keluhan sulit tidur (cukup psikologi)
meningkat) - Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu
- Keluhan sering terjaga (cukup tidur (mis. Kopi, the, alcohol,makan mendekati tidur)
meningkat) Terapeutik
- Modifiksi lingkungan (mis. Pencahayaan, kebisingan,
suhu, matras, dan tempat tidur)
- Tetapkan jadwal tidur rutin
- Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan
Edukasi
- Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
- Anjurkan makanan atau minuman yang mengganggu
tidur
- Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak
mengandung supresor terhadap tidur REM

18
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KASUS SEMU

3.1 Kasus
Pasien di rawat diruang Madinah RSI Syuhada’ Haji Blitar pada tanggal 25 – 28
Mei 2019. Anak A usia 5 tahun jenis kelamin perempuan masuk dari tanggal 24 Mei
2019 dengan keluhan batuk dan sesak napas. Ibu pasien mengatakan anak batuk
berdahak dan lendir susah untuk dikeluarkan. Ibu pasien mengatakan anaknya sulit
tidur dan sering terbangun saat tidur, nafsu makan baik dan anak kooperatif selama
dirawat. Anak baru pertama kali dirawat dengan sakit ini sehingga orangtua juga
bingung, khawatir dengan kondisi anak serta mengharapkan segera sembuh.
Selama ini hanya berobat ke puskesmas saja dengan keluhan batuk dan sesak
napas. Dampak hospitalisasi pada anak yang ditemukan adalah ketakutan pada
suasana baru di rumah sakit.

3.2 Pengkajian
A. Identitas Pasien
1. Nama : An. A
2. Alamat : Blitar
3. Umur : 5 tahun
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Agama : Islam
6. Alamat : Desa Sumberejo
7. Suku/banga : Jawa
8. No. Register : 513xxx
9. Tanggal Masuk/ Jam : 24 Mei 2019 jam 07:00
10.Tanggal Pengkajian : 25 Mei 2019
11.Keluhan Utama : Batuk dan Sesak Napas
12.Diagnosa Medis : Asma Bronchial
B. Identitas Penanggung Jawab
1. Nama Ibu : Tn. B
2. Usia : 27 tahun
3. Pendidikan : SMA

19
4. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
5. Alamat : Desa Sumberejo
6. Hubungan denga pasien : Ibu
C. Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan sekarang
An. A nampak sakit sedang, dengan GCS = 15, kesadaran Composmentis,
Tanda vital : Suhu 370C, Pernapasan 32x/menit, Nadi 112x/menit, TD
90/70mmHg.
2. Riwayat kesehatan keluarga
Tidak ada riwayat penyakit keluarga.
3. Riwayat penyakit terdahulu
a. Penyakit waktu kecil : Batuk, pilek
b. Pernah dirawat di RS : Tidak
c. Obat-obatan yang digunakan :-
d. Tindakan (operasi) :-
e. Alergi :-
f. Kecelakaan :-
g. Imunisasi dasar : Hepatitis : √ I √ II √III
BCG : √DPT: √ I √ II √ III
Campak : √Polio: √ I √ II √ III √ IV
4. Riwayat Sosial
a. Orang yang mengasuh : Orangtua kandung
b. Hubungan dengan anggota keluarga : Baik
c. Hubungan anak dengan teman sebaya : Baik
d. Pembawaan secara umum : Periang
e. Lingkungan rumah : Bersih, lantai rumah dari semen
D. Pemeriksaan LAB
Hasil pemeriksaan laboratorium anak pada tanggal 25 Mei 2019 ditemukan : Hb
11,2 g/dl (11-15 g/dl), hematokrit 34,2 L % (30-60 %).
E. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : Anak sakit sedang
2. Tinggi Badan : 95 cm
3. Berat Badan saat ini : 18 Kg

20
4. Status Gizi : normal
5. Kepala
Hidrosefalus : Tidak
Ubun-ubun Anterior dan Posterior : Tertutup
6. Leher
Kaku kuduk : Tidak
Pembesaran Limfe : Tidak
7. Mata
Konjuctiva : Merah Muda
Sklera : Putih
8. Telinga : Bersih
Simetris : Ya
Gangguan pendengaran : Tidak
9. Sekresi/serumen : Tidak
Nyeri : Tidak
10. Hidung
Sekret : Tidak
11. Mulut
Mukosa : Lembab
Lidah : Lembab
Gigi : Bersih
12. Dada : Simetris
Jantung : Normal
Paru – paru : Terdengar bunyi ronchi dan wheezing
13. Abdomen : Lembek
Bising usus : Ya
Frekuensi : 32x/mnt
Mual : Tidak
Muntah : Tidak
14. Genitalia : Perempuan
Vagina : Bersih
Menstruasi : Tidak
Pemasangan Kateter : Tidak

21
15. Anus : Normal
16. Ekstremitas
Pergerakan sendi : Bebas
Berjalan : Normal
Kekuatan Otot : Normal
Fraktur : Tidak
Ketrampilan motorik : √ baik tidak
F. Kebutuhan Nutrisi
1. Nutrisi
- Makanan yang disukai/tidak disukai : Semua makanan disukai.
- Selera : Selera makan baik, bisa menghabiskan 1 porsi makan, selama sakit
tidak ada perubahan.
- Alat makan yang digunakan : Piring/sendok
- Pola makan/jam : 4x sehari setiap 3 jam.
2. Istirahat dan tidur
- Pola tidur : terganggu karena batuk dan sesak
- Kebiasaan sebelum tidur (perlu mainan, dibacakan cerita, benda yang dibawa
saat tidur, dll) nonton film Upin Ipin.
- Jam tidur siang dan lama tidur : Jam 12.00–12.30 (30 menit) sering terbangun
- Jam tidur malam dan lama tidur : Jam 22.00 – 04.00 sering terbangun
3. Personal hygiene
- Mandi : 2x sehari.
- Keramas : 2 hari sekali.
- Sikat gigi: setiap mandi.
- Gunting kuku : jika sudah kotor/panjang.
4. Aktivitas bermain : Bermain boneka.
5. Eliminasi (urine dan bowel) : Masih dibantu.

22
3.3 Analisa Data
Data Etiologi Masalah
DS : Proses infeksi/Respon alergi Bersihan Jalan Napas
Ibu mengatakan an. A batuk Tidak Efektif
Peningkatan produksi mukus
dan lender tidak bisa keluar
& Adanya eksudat dalam
alveoli
DO :
Batuk, Sesak napas, &
- Pernapasan 32x/pmenit
Terdengar bunyi ronchi serta
- An. A batuk, terdengar wheezing
bunyi ronchi dan wheezing
Bersihan Jalan Napas Tidak
Efektif
DS : Proses infeksi/Respon alergi Gangguan Pertukaran
Ibu mengatakan anaknya Gas
Obstruksi jalan napas
sesak napas
Vasokontriksi pembuluh
DO : darah paru paru

- Pernapasan 32x/menit
Gangguan Pertukaran Gas
- Nadi 112x/menit
- Terdengar bunyi ronchi
dan wheezing
DS : Proses infeksi/Respon alergi Gangguan Pola Tidur
Ibu mengatakan anaknya
Obstruksi jalan napas
sulit tidur dan sering
terbangun saat tidur Sesak napas

DO : Kebutuhan tidur tidak efektif

-
Gangguan Pola Tidur

3.4 Diagnosa
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif b.d. sekresi yang tertahan d.d. Batuk tidak
efektif, dan terdapat bunyi ronchi serta wheezing
2. Gangguan Pertukaran Gas b.d. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi d.d. Dispnea
3. Gangguan Pola Tidur b.d. Kurang kontrol tidur d.d. Mengeluh sulit tidur

23
3.5 Intervensi

Dx LUARAN INTERVENSI
1. Setelah dilakukan intervensi Manajemen Jalan Napas
keperawatan selama 2x24 jam, Observasi
maka Bersihan Jalan Napas - Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman,
Meningkat, dengan kriteria hasil: usaha napas)
- Batuk efektif (cukup meningkat) - Monitor bunyi napas (mis. Gurgling, mengi,
- Mengi (cukup menurun) wheezing, ronkhi kering)
- Wheezing (cukup menurun) Terapeutik
- Produksi sputum (cukup - Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
menurun) - Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
- Anjurkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian bronkodilator,
ekspektoran, mukollitik, jika perlu
2. Setelah dilakukan tindakan Pemantauan respirasi
keperawatan 2x24 jam, maka Observasi
Pertukaran Gas Meningkat, - Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan
dengan kriteria hasil: upaya napas
- Dipsnea (cukup menurun) - Monitor pola napas
- Bunyi napas tambahan (cukup - Auskultasi bunyi napas
menurun) Terapeutik
- Takikardia (cukup membaik) - Atur interval pemantauan respirasi sesuai
kondisi pasien
- Dokumentasi hasil pemantauan
Edukasi
- Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
3. Setelah dilakukan intervensi Dukungan tidur
keperawatan selama 2x24 jam, Observasi
maka Pola Tidur Membaik, - Identifikasi pola aktivitas dan tidur
dengan kriteria hasil: - Identifikasi faktor pengganggu tidur
- Keluhan sulit tidur (cukup - Identifikasi makanan dan minuman yang
meningkat) mengganggu tidur

24
- Keluhan sering terjaga (cukup Terapeutik
meningkat) - Modifiksi lingkungan
- Tetapkan jadwal tidur rutin
- Lakukan prosedur untuk meningkatkan
kenyamanan
Edukasi
- Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
- Anjurkan makanan atau minuman yang
mengganggu tidur
- Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak
mengandung supresor terhadap tidur REM

25
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Asma bronkial adalah penyempitan sebagian dari otot halus pada bronkus dan
bronkiolus yang bersifat refersible dan disebabkan oleh berbagai penyebab seperti
infeksi, alergi dan lain lain. Tanda gejala asma bronkial meliputi Sesak nafas parah
dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing, dapat diserati batuk dengan
sputum kental dan sulit dikeluarkan, bernafas dengan otot-otot nafas tambahan,
sianosis, takikardi, gelisah.

4.3 Saran
Setelah membaca makalah ini, mungkin komentar yang timbul adalah rasanya
masih banyak hal yang belum di jawab secara tuntas dan menyeluruh mengenai
Asma Bronchial, makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu kami menerima keritik,
usul, dan saran.

26
DAFTAR PUSTAKA

Hadibroto, I. & S. A. (2006). Asma. PT Gramedia Pustaka Utama.


Herdinsibuae, W. (2005). Ilmu Penyakit Dalam. PT Rineka Cipta.
Soetjiningsih. (1998). Tumbuh Kembang Anak. EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Dewan
Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Dewan
Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Dewan
Pengurus Pusat PPNI.

27

Anda mungkin juga menyukai