Anda di halaman 1dari 13

PEMBUATAN ASAM LAKTAT DARI LIMBAH PATI

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata kuliah Kimia Organik 2 yang
di ampu oleh :
Ibu Siti Salamah

Di susun oleh :
Arya Sona ( 1900020089 )

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
TEKNIK KIMIA 2020

Kampus 4, Jl. Ringroad Selatan, Kragilan, Tamanan, Kec.Banguntapan,


Bantul, DIY 55191
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 2
1.1 LATAR BELAKANG.......................................................................................................................... 2
1.2 RUMUSAN MASALAH .................................................................................................................... 4
1.3 TUJUAN PENELITIAN ..................................................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................................................... 5
2.1 Kandungan senyawa kimia pada pati aren ................................................................................... 5
2.2Selulosa .......................................................................................................................................... 5
2.3Hemiselulosa .................................................................................................................................. 5
2.4Lignin .............................................................................................................................................. 5
2.5 Gula reduksi .................................................................................................................................. 6
2.6Manfaat asam laktat ...................................................................................................................... 6
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................................................... 7
3.1Persiapan bahan baku.................................................................................................................... 7
3.2Variabel pembuatan asam laktat ................................................................................................... 7
3.3Prosedur pembuatan asam laktat.................................................................................................. 7
3.4Prosedur analisa asam laktat ......................................................................................................... 8
3.5Hasil dan Pembahasan ................................................................................................................... 9
BAB IV PENUTUP ................................................................................................................................... 11
4.1Kesimpulan................................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 12

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Seiring dengan kemajuan zaman, pembangunan di segala bidang harus
semakin diperhatikan. Salah satu jalan untuk meningkatkan taraf hidup bangsa adalah
dengan pembangunan industri. Perkembangan industri kimia diharapkan dapat
merangsang pertumbuhan ekonomi dan industri. Tujuannya adalah untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri, menciptakan lapangan kerja baru, menambah pendapatan
daerah setempat dan mempercepat proses alih teknologi. Pembangunan industri juga
ditujukan untuk memperkokoh struktur ekonomi nasional dengan keterkaitan yang
kuat dan saling mendukung antar sektor, meningkatkan daya tahan perekonomian
nasional serta mendorong berkembangnya kegiatan berbagai sektor pembangunan
lainnya.
Asam laktat atau 2-hydroxypropanoic acid (CH3CHOHCOOH) merupakan
senyawa kimia yang banyak digunakan dalam industri. Senyawa asam ini mempunyai
sifat antara lain tak berwarna sampai kekuningan, larut dalam air, alkohol, eter dan
korosif. Asam laktat digunakan sebagai bahan tambahan dalam produk pangan, yaitu
sebagai pengatur pH, bahan pengasam pada produk kembang gula, jus, sirup,
meningkatkan aroma dan rasa pada saus serta bumbu, mengurangi resiko bakteri
patogen pada produk daging. Selain itu asam laktat juga digunakan sebagai bahan
baku pada industri yang memproduksi senyawasenyawa laktat, bahan baku pada
industri farmasi sebagai larutan pengental dan pembuatan tablet. Industri kosmetik
sebagai pencampur zat yang membuat kulit tampak bercahaya dan zat anti jerawat.
Industri kimia sebagai pengatur pH, penertal dan zat pembersih. Sebanyak 70% dari
total asam laktat yang diperdagangkan digunakan dalam makanan dan pengolahan
makanan sebagaipengatur pH, bahan pengawet dan buffer agent (Jin Bo et al.,2005).
Limbah aren merupakan hasil sampingan dari proses pengolahan aren menjadi
tepung aren. Pengolahan aren ini hanya mengambil 10% dari keseluruhan hasil proses
pemarutan batang aren (Firdayanti dan Handajani, 2005).
Sisa pengolahan itu hanya menjadi limbah saja, baik limbah padat maupun
limbah cair. Limbah padat yang dihasilkan yaitu berupa ampas atau serat dari parutan

2
batang aren yang dimanfaatkan untuk pengolahan tepung aren. Limbah cair sendiri
berasal dari pemarutan/pelepasan pati dari serat dan pengendapan tepung aren.
Kandungan dalam limbah aren ini terutama pada bagian ampas (limbah padat) yaitu
memiliki kandungan 69,59% C-organik, 0,74% NTK, 0,70% Organik Nitrogen,
1464,46 mg/kg Fosfat, 2206,96 mg/kg Kalium, 0,04 mg/kg Amoniak, 635,85 mg/kg
Magnesium, 652,23 mg/kg Besi (Fe), 106,06 mg/kg Seng (Zn), 5,82 mg/kg Tembaga
(Cu), 487,67 mg/kg Fosfor, 41,86 Mangan (Mn) dan memiliki kadar air sebanyak
71,72% dari berat basahnya. Berdasar kandungan yang dimilikinya, ampas aren
memiliki kandungan C-organik yang tinggi sedang kandungan N organiknya rendah
hanya 0,70% dengan C/N rasionya sebesar 99,41 (Firdayanti dan Handajani, 2005)..
Limbah ampas aren selama ini masih menjadi masalah karena belum ada
pengelolaan limbah yang mampu mengurangi cemarannya terhadap lingkungan.
Beberapa pengelolaan telah dilakukan berupa pembuatan briket, pupuk maupun media
tanam jamur. Penelitian Riyadi dkk. (2014) mengenai pemanfaatan limbah tepung
aren dan mikroorganime lokal untuk meningkatkan hasil tanaman
cabai besar mendapatkan hasil bahwa tanaman cabai yang diberi pupuk yang
berasal dari limbah tepung aren dengan tambahan nutrisi pengaya memberikan
pengaruh yang signifikan terhadap tinggi tanaman, berat cabai, panjang cabai, jumlah
cabai, berat brangkasan segar dan berat brangkasan kering. Pemberian nutrisi pengaya
berupa kotoran sapi pada penelitian tersebut mampu memberikan rata-rata
pertumbuhan tertinggi pada variabel tinggi tanaman sebesar 73,55 cm.
Ampas aren yang masih sulit untuk dikelola tersebut memerlukan penanganan
lebih lanjut agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, salah satunya melalui proses
pengomposan. Kompos merupakan hasil akhir dari proses pengomposan, dimana
proses pengomposan merupakan proses dekomposisi bahan organik melalui reaksi
biologis mikroorganisme secara aerobik dalam kondisi terkendali. Proses
pengomposan yang terjadi merupakan proses penguraian senyawa-senyawa yang
terkandung dalam sisa-sisa bahan organik (seperti jerami, dedaunan, sampah rumah
tangga, maupun beberapa limbah pertanian lainnya) dengan menggunakan perlakuan
khusus (Outerbridge, 1991).

3
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang penulis jelaskan
adalah sebagai berikut :
1. Apa saja yang terkandung pada limbah pati aren?
2. Apa manfaat asam laktat ?
3. Bagaimana cara pembuatan limbah pati aren menjadi asam laktat?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


1. Mengetahui senyawa kimia yang limbah pati aren
2. Mengetahui Manfaat dan kegunaan asam laktat
3. Mengetahui Pembuatan limbah pati aren menjadi asam laktat

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kandungan senyawa kimia pada pati aren
Menurut Purnavita dan Herman (2011) diketahui bahwa limbah ampas pati
aren memiliki komposisi : selulosa (60,61%), hemiselulosa (15,74%), lignin
(14,21%), air (7,87%), gula reduksi (0,5689%), dan lain-lain (1%). Selulosa dapat
dihidrolisa menjadi glukosa dengan bakteri yang mengandung enzim β-glukosidase,
contohnya bakteri yang terkandung di dalam rayap (Hart et al., 2003). Glukosa hasil
hidrolisa ampas pati aren dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan asam
laktat dengan cara fermentasi.

2.2Selulosa
Selulosa adalah polimer glukosa yang berbentuk rantai linier dan dihubungkan
oleh ikatan β-1,4 glikosidik. Struktur yang linier menyebabkan selulosa bersifat
kristalin dan tidak mudah larut. Selulosa tidak mudah didegradasi secara kimia
maupun mekanis. Di alam, biasanya selulosa berasosiasi dengan polisakarida lain
seperti hemiselulosa atau lignin membentuk kerangka utama dinding sel tumbuhan
(Holtzapple et.al 2003).

2.3Hemiselulosa
Hemiselulosa merupakan polisakarida terbanyak kedua setelah selulosa.
Komponen polisakaridanya baik yang linier maupun bercabang banyak ditemukan
sebagai heteroglikan pada tumbuhan tingkat tinggi (Hilge et al., 1996; Saha2003).
Berdasarkan komposisi gulanya, hemiselulosa diklasifikasikan sebagai xilan, manan,
arabinogalaktan, dan arabinan. Hemiselulosa bersama-sama dengan selulosa dan
lignin merupakan komponen terbesar penyusun struktur dinding sel tumbuhan.

2.4Lignin
Lignin merupakan polimer senyawa aromatik yang tidak dapat diuraikan
menjadi satuan monomer, karena bila dihidrolisis, monomer sangat cepat teroksidasi
dan segera terjadi reaksi kondensasi (Sjostrom, 1995). Lignin merupakan senyawa
tiga dimensi yang tersusun dari monomer fenil propana. Lignin pada kayu, umumnya
terdapat di daerah lamela tengah dan berfungsi sebagai pengikat antar sel serta
menguatkan dinding sel kayu. Lignin merupakan salah satu senyawa amorf total (non
kristalin).

5
2.5 Gula reduksi
Gula reduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi. Hal
ini dikarenakan adanya gugus aldehi atau keton bebas. Senyawa yang mengoksidasi
atau bersifat reduktor adlaah logam logam oksidator seperti Cu (II). Contoh gula yang
termasuk gula rduksi adalah glukosa, manosa, fruktosa, laktosa, maltosa, dan lain-
lain. Sedangkan yang termasuk dalam gula non reduksi adalah sukrosa

2.6Manfaat asam laktat


Manfaat asam laktat yang paling bermanfaat adalah untuk pembuatan plastik
konvensional. Plastik konvensional adalah produk plastik yang terbuat dari
pengolahan minyak bumi yang merupakan sumber daya alam tidak terbarukan
sehingga ketersediannya terbatas. Dampak dari limbah plastik konvensional kurang
ramah lingkungan karena sulit terurai oleh mikroorganisme (non-biodegradable).
Kehadiran plastik yang terbuat dari sumber daya alam terbarukan dan ramah
lingkungan sangat diharapkan. Poli asam laktat adalah polimer yang terbuat dari asam
laktat dan dapat diaplikasikan sebagai plastik yang ramah lingkungan. Berbagai jenis
tanaman atau limbah pertanian yang mengandung karbohidrat atau selulosa dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku asam laktat. Salah satu jenis limbah selulosa yang
ketersediannya sangat banyak dan belum dimanfaatkan adalah limbah ampas pati
aren. Kandungan selulosa total pada limbah ampas pati aren cukup tinggi, yaitu
sebesar 76,35% berat (Purnavita dan Herman, 2011). Oleh karena itu ampas pati aren
berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan asam laktat.

6
BAB III

METODE PENELITIAN
3.1Persiapan bahan baku
Perisiapan bahan baku sangat beragam, tetapi secara umum bahan baku
yang sering digunakan adalah limbah pati aren, rayap, Lactobacillus casei

3.2Variabel pembuatan asam laktat


1. Variabel bebas : Jumlah bakteri asam laktat (lactobacillus casei) : 10%, 20%,
30 % berat dan waktu fermentasi : 10, 12, 14, 16, 18 dan 20 jam
2. Variabel Terikat : kadar asam laktat

3.3Prosedur pembuatan asam laktat


1. Perlakuan Pendahuluan Limbah Pati Aren
Mengeringkan ampas pati aren kasar dengan menggunakan panas dari
sinar matahari hingga kering. Ampas pati aren kering kemudian dihancurkan
dengan menggunakan alat size reduction, kemudian diayak hingga diperoleh
serbuk halus dengan ukuran 80 mesh. Serbuk limbah ampas pati aren memiliki
kadar air 12,25%, dan kadar abu 6,66%.
2. Penghilangan Lignin
Menambahkan larutan NaOH 7% pada ampas aren kering dan
dipanaskan di dalam autoclave pada suhu 121oC selama 30 menit.
3. Pembuatan Ekstrak Rayap
Rayap dipisahkan bagian kepala dan badannya. Bagian badan rayap yang
akan dipergunakan kemudian direndam dalam larutan garam 0,9% selama
beberapa menit, kemudian disaring. Bagian badan yang telah disaring
kemudian diinokulasi pada medium cair yang terbuat dari campuran NaNO3
2,5 g, KH2PO4 2 g, MgSO4 0,2 g, NaCl 0,2 g, CaCl 0,1 g, dalam 1 L akuades.
Inkubasi dilakukan selama 1 minggu.
4. Proses Hidrolisis
Hidrolisis diawali dengan memisahkan padatan dan filtrat hasil
perlakuan pendahuluan. Kemudian padatannya dicuci dengan aquadest sampai
cairan cuciannya netral dan padatan tersebut dikeringkan pada suhu 65oC
sampai berat konstan. Setelah itu sebanyak 10 gram ampas pati aren
dimasukkan pada bejana fermentasi dan dilanjutkan dengan penambahan

7
ekstrak rayap sebanyak 40% dan dihidrolisa dengan cara diinkubasi pada suhu
50oC selama 54 jam Dari hasil hidrolisa tersebut dianalisa kadar gula reduksi
dan setelah itu dipisahkan antara larutan glukosa dan padatannya. Hasil dari
proses hidrolisis limbah kadar gula reduksi sebesar 319,99 mg/ml atau 31,99
%.ampas pati aren adalah glukosa yang siap di fermentasi dengan
5. Proses Fermentasi
Proses fermentasi dimulai dengan mensterilkan bejana yang digunakan
untuk fermentasi dengan cara mnyemprotkan etanol kemudian
mengeringkannya di bawah lampu UV. Setelah itu memasukkan 40 ml larutan
glukosa hasil hidrolisis ke dalam botol dan tambahkan bakteri asam laktat
sesuai variabel yang ditentukan dan difermentasi selama waktu tertentu sesuai
dengan variabel pada suhu 30oC. Asam laktat yang terbentuk hasil fermentasi
dianalisa secara kualitatif dan kuantitatif untuk mengetahui kadarnya

3.4Prosedur analisa asam laktat


1. Analisa asam laktat secara kualitatif menggunakan uji boas
Mengambil 10 – 20 ml sampel dipipetkan kedalam cawan porselin
kemudian dipekatkan dengan menggunakan water bath. Larutan pekat
kemudian ditambahkan beberapa tetes H3PO4 pekat dan dididihkan.
Ditambahkan 50 ml eter dan diaduk, kemudian lapisan bening dipisahkan.
Residu ditambahkan 45 ml akuades, daduk dan disaring. Filtrat yang
dihasilkan ditambahkan 5 ml H2SO4 pekat dan seujung spatula Mn. Uap yang
dihasilkan dialirkan ke dalam tabung reaksi yang berisi campuran I2 dan KOH
(1:1). Larutan akan menjadi keruh jika sampel mengandung asam laktat.

8
2. Analisa asam laktat secara kuantitatif dengan metode total asam tertitrasi
Prosedur analisa untuk mengetahui kadar asam laktat dilakukan dengan
metode total asam tertitrasi. Mengambil 10 ml larutan hasil fermentasi dalam
erlenmayer, tambahkan dengan 3 tetes indikator PP. Campuran tersebut
dititrasi dengan larutan NaOH 0,02 N hingga TAT atau warna berubah
menjadi merah muda.
Tabel 1.Rerata kadar asam laktat (g/L)

3.5Hasil dan Pembahasan


Hasil analisa kualitatif dengan uji Boas menunjukkan hasil proses
fermentasi adalah positif mengandung asam laktat. Sedangkan analisa kuantitatif
kadar asam laktat ditunjukkan pada Tabel 1.
Berdasarkan uji statistik analisis varian dari data yang tersaji pada Tabel
1 disimpulkan bahwa ada beda sangat nyata antar perlakuan kombinasi jumlah
L.casei dan waktu fermentasi. Hasil penelitian Chairunnisa et al. (2006)
mendukung hasil penelitian ini bahwa semakin tinggi dosis kultur starter bakteri
asam laktat menyebabkan semakin tajamnya peningkatan laju produksi asam
laktat. Salah satu kendala bahan dasar untuk sumber karbon dari limbah ampas
pati aren adalah tingginya kandungan pentosa dibanding dengan heksosanya, baik
glukosa maupun fruktosanya. Padahal menurut Widyastuti et al. (2009), bakteri
asam laktat sangat tergantung pada ketersediaan jenis karbohidrat sebagai sumber
enerji untuk pertumbuhannya. Bakteri asam laktat juga memerlukan kebutuhan
nutrisi yang cukup lengkap, meliputi berbagai vitamin, asam amino, garam-garam
baik mineral maupun amoniak.
Berdasarkan uji lanjutan yaitu uji beda nyata tanpak bahwa ada beda sangat nyata
antar perlakuan waktu fermentasi, ada beda sangat nyata antar perlakuan jumlah

9
L.casei, serta ada interaksi sangat nyata antar faktor jumlah L.casei dan waktu
fermentasi.

Gambar 1. Hubungan antara kadar asam laktat dengan waktu fermentasi pada jumlah
L casei (10%, 20%, 30%)

Dari Gambar 1 terlihat bahwa pada penambahan L.casei sebanyak 10%


untuk berbagai waktu fermentasi akan memberikan hasil kadar asam laktat yang
hampir sama. Pada penambahan L.casei 20% untuk waktu fermentasi 10 jam sampai
16 jam belum memberikan perbedaan terhadap kadar asam laktat yang dihasilkan,
tetapi setelah waktu fermentasi 18 jam hingga 20 jam memberikan kenaikan kadar
asam laktat.

Sedangkan pada penambahan L.casei sebanyak 30% terlihat bahwa


untuk waktu fermentasi 10 jam hingga 14 jam belum memberikan perbedaan kadar
asam laktat, namun untuk waktu fermentasi 16 jam hingga 20 jam memberikan
peningkatan kadar asam laktat yang sangat besar. Berkaitan dengan lama fermentasi,
hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian Chairunnisa, et al. (2006) yang
memberikan gambaran bahwa kultur starter bakteri asam laktat membutuhkan waktu
lebih lama untuk fase adaptasi sehingga produksi asam laktat menjadi lebih lambat
yang berarti juga semakin lama waktu fermentasi, semakin banyak produk laktat yang
dihasilkan.

Keterkaitan antar jumlah starter yang ditambahkan dan lama waktu


fermentasi menunjukkan bahwa kadar asam laktat tertinggi diperoleh pada
penambahan L.casei sebanyak 30% dan waktu fermentasi 20 jam, yaitu sebesar 0,91
g/L.

10
BAB IV

PENUTUP
4.1Kesimpulan
1. Ada beda sangat nyata antar perlakuan kombinasi jumlah lactobacillus casei dan
waktu fermentasi.
2. Ada beda sangat nyata antar perlakuan waktu fermentasi, ada beda sangat nyata
antar perlakuan jumlah lactobacillus casei, dan ada interaksi sangat nyata antar
faktor jumlah lactobacillus casei dan waktu fermentasi.
3. Kadar asam laktat tertinggi diperoleh pada penambahan lactobacillus casei
sebanyak 30% dan waktu fermentasi 20 jam, yaitu sebesar 0,91 g/L.

11
DAFTAR PUSTAKA

Chairunnisa, H., Roostita L. B. dan Gemilang L. U. S., (2006). Penggunaan Starter Bakteri
Asam Laktat pada Produk Susu Fermentasi “Lifihomi” (Utilization of Lactic Acid Bacteria in
Fermented Milk Product “Lifihome”). Jurnal Ilmu Ternak, Desember 2006,

Firdayanti, Mayrina dan Handajani Marisa. 2005. Studi karakteristik Dasar Limbah Industri
Tepung Aren. Jurnal. Infrastruktur dan Lingkungan Binaan I

Holtzapple, M.T. 2003. Hemicelluloses. In Encyclopedia of Food Sciences and Nutrition. pp.
3060-3071. Academic Press

Jin Bo, Pinghe Yin, Yibong Ma, Ling Zha O, Production of Lactic Acid and Fungal
Biomassa by Rhizopus Fungi from Food Processing Waste

Outerbridge, Thomas (ed). (1991). Limbah Padat di Indonesia : Masalah atau. Sumber Daya.
Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Purnavita, S dan Herman, Y.S., (2011), Produksi Bioetanol dari Limbah Amapas Pati Aren
Secara Enzimatik dengan menggunakan Mikrobia Selulotik Ekstrak Rayap, Jurnal Teknologi
Pangan dan Hasil Pertanian

Sjostrom, E. 1995. Kimia Kayu, Dasar-dasar dan Penggunaan Edisi Kedua. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.

12