Anda di halaman 1dari 11

ANEMIA

Diagnosis:

Anamnesis:

Keluhan:

 lemah, lesu, letih, lelah (4L)

 penglihatan berkunang-kunang

 pusing

 telinga berdenging

 penurunan konsentrasi.

Tanyakan:

 Riwayat keluarga anemia

 Letak geografis dan etnis tertentu

 Paparan agen toksik atau obat-obatan tertentu

 Adanya tanda dan gejala perdarahan

Pemeriksaan Fisik (Objective)

• Kulit dan membrane mukosa pucat

• Petechiae

• Detak jantung kuat, denyut perifer kuat dan sistolik murmur

• Takipnea

• Limfadenopati

• Splenomegali

Pemeriksaan Fisik Patognomonis (Kemenkes, 2014)

1. Mukokutaneus: pucat–indikator yang cukup baik, sianotik, Kulit dan membrane mukosa
kemungkinan pucat jika hemoglobin <80–100 g/L (8–10 g / dL). Pemeriksaan fisik harus
fokus pada area dimana pembuluh darah dekat dengan permukaan seperti membrane
mukosa, nail beds, dan lipatan telapak tangan. (Kemenkes, 2014; Jameson JL et. al, 2018).
2. Kardiovaskular : takikardi, bising jantung.
3. Respirasi : frekuensi napas (takipnea).
4. Mata: konjungtiva pucat.

Pemeriksaan fisik sesuai tanda dan gejala lain sesuai dengan penyebab dari anemia tersebut,
yaitu (Kemenkes, 2014):

a. Mata: dapat mencerminkan adanya manifestasi dari suatu anemia tertentu (misal :
perdarahan pada anemia aplastik)

b. Gastrointestinal : ulkus oral dapat menandakan suatu imunodefisiensi (anemia aplastik,


leukemia), colok dubur

c. Urogenital (inspekulo) : massa pada organ genitalia wanita

d. Abdomen : hepatomegali, splenomegali, massa

e. Status gizi kurang

- Faktor Predisposisi: Infeksi kronik, Keganasan, Pola makan (Vegetarian).

Pemeriksaan Penunjang (Jameson JL et. al, 2018):

1. Hitung darah lengkap rutin (CBC):


- Hemoglobin
- Hematokrit
- Indeks sel darah merah:
o Mean Cell Volume (MCV)
o Mean Cell Hemoglobin (MCH), dan
o Mean Concentration of Hemoglobin per volume of red cell (MCHC).

- Leukosit
- Trombosit
- Jumlah eritrosit

2. Morfologi darah tepi (apusan darah tepi)  sel darah merah dan sel darah putih, perbedaan
perhitungan sel darah putih (white cell differential count), dan jumlah trombosit.
3. Hitung Retikulosit  kunci dari klasifikasi awal anemia. Retikulosit adalah sel darah merah
direlease dari sumsum tulang dan diidentifikasi dengan pewarnaan menggunakan
pewarnaan supravital yang mengendapkan ribosom RNA.
Penegakan Diagnosis (Assessment)
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan
darah dengan kriteria Hb darah kurang dari kadar Hb normal.
Nilai rujukan kadar hemoglobin normal menurut WHO:
Laki-laki: > 13 g/dl
Perempuan: > 12 g/dl
Perempuan hamil: > 11 g/dl

Klasifikasi:
Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi dan etiologi (PAPDI, 2009):
I. Anemia hipokromik mikrositer
a. Anemia defisiensi besi
b. Thalassemia major
c. Anemia akibat penyakit kronik
d. Anemia sideroblastik
II. Anemia normokromik normositer
a. Anemia pasca pendarahan akut
b. Anemia aplastik
c. Anemia hemolitik didapat
d. Anemia akibat penyakit kronik
e. Anemia pada gagal ginjal kronik
f. Anemia pada sindrom mielodisplastik
g. Anemia pada keganasan hermatologi
III. Anemia makrositer
a. Bentuk megaloblastik:
1. Anemia defisiensi asam folat
2. Anemia defisiensi B12, termasuk anemia pernisiosa
b. Bentuk non-megaloblastik:
1. Anemia pada penyakit hati kronik
2. Anemia pada hipotiroidisme
3. Anemia pada sindrom mielodisplastik

Klasifikasi anemia menurut etiopatogenesis (PAPDI, 2009):


A. Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang
1. Kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit
a. Anemia defisiensi besi
b. Anemia defisiensi asam folat
c. Anemia defisiensi vitamin B12
2. Gangguan penggunaan (utilisasi) besi
a. Anemia akibat penyakit kronik
b. Anemia sideroblastik
3. Kerusakan sumsum tulang
a. Anemia aplastik
b. Anemia mieloptisik
c. Anemia pada keganasan hematologi
d. Anemia diseritropoietik
e. Anemia pada sindrom mielodisplastik
Anemia akibat kekurangan eritropoietin: anemia pada gagal ginjal kronik.
B. Anemia akibat hemoragi
1. Anemia pasca perdarahan akut
2. Anemia akibat perdarahan kronik
C. Anemia hemolitik
1. Anemia hemolitik intrakorpuskular
a. Gangguan membran eritrosit (membranopati)
b. Gangguan ensim eritrosit (enzimopati): anemia akibat defisiensi G6PD
c. Gangguan hemoglobin (hemoglobinopati)
- Thalassemia
- Hemogloblnopati struktural: HbS, HbE, dll
2. Anemia hemolitik ekstrakorpuskuler
a. Anemia hemolitik autoimun
b. Anemia hemolitik mikroangiopatik
c. Lain-lain
D. Anemia dengan penyebab tidak diketahui atau dengan patogenesis yang kompleks

DD:
1. Anemia defisiensi besi
2. Anemia defisiensi vit B12, asam folat
3. Anemia Aplastik
4. Anemia Hemolitik
5. Anemia pada penyakit kronik

I. Anemia Hipokromik Mikrositer


 Diagnosis
1) Anemia Defisiensi Besi
 Diagnosis

• Eritrosit : hipokrom mikorisitik, dengan anisopoikilositosis.


• Indeks eritrosit : MCV, MCH, MCHC turun
MCV volume dari RBCs
• Serum ferritin : turun
• Serum Ion : turun
• Total iron banding capacity : naik
TIBC jumlah transferin tak terikat dalam darah
• Hemosiderin (cadangan besi sumtul) : turun/-
• Free Erythrocyte protophorphyrin (FEP) : naik

 Tata laksana
a. Anemia dikoreksi peroral: 3 – 4x sehari dengan besi elemental 50 – 65 mg
1. Sulfas ferrosus 3 x 1 tab (325 mg mengandung 65 mg besi elemental, 195; 39).
2. Ferrous fumarat 3 x 1 tab (325; 107 dan 195; 64).
3. Ferrous glukonat 3 x 1 tab (325; 39).
b. Pasien diinformasikan mengenai efek samping obat: mual, muntah, heartburn,
konstipasi, diare, BAB kehitaman.
c. Jika tidak dapat mentoleransi koreksi peroral atau kondisi akut maka dilakukan
koreksi parenteral segera.
d. TERAPI KAUSAL: Mengobati penyebab atau penyakit penyerta
e. TERAPI LAIN
o Diet  makanan bergizi
o Vitamin C  3x100 mg (meningkatkan absorbsi besi)
o Transfusi darah

2) Anemia Penyakit Kronik


 Diagnosis
- Anemia asimptomatik (anemia biasanya ringan-sedang  Hb = 8 – 11 g/dL)
- Gejala underlying disease > dominan
- Pemeriksaan fisik: pallor
- Pemeriksaan lab penting

Hasil Pemeriksaan Lab


Temuan laboratorium anemia penyakit kronis. Sumber: (Goldman and Schafer, 2020)

Parameter Kadar
Serum ferritin > 200 µg/L
Serum iron ↓
TIBC (Total Iron Binding Capacity) Normal atau ↓
Saturasi transferrin < 30%
sTfR Normal
Indeks ferritin <1

 Tatalaksana
Terapi utama = obati penyebab inflamasi (underlying disease)
II. Anemia Normokromik Normositer

3) Anemia Aplastik
 Diagnosis
1. Anamnesis  Manifestasi Klinis. Pasien berusia kurang dari 40 tahun perlu diskrining
untuk anemia Fanconi. Riwayat keluarga sitopenia meningkatkan kecurigaan adanya
kelainan herediter walaupun tidak ada kelainan fisik yang tampak.
2. Pemeriksaan Fisik  Pucat, Demam, Perdarahan, Hepatomegali, Splenomegali
3. Darah tepi: anemia normositik normokrom; granulosit dan trombosit, retikulosit dalam
jumlah rendah; limfositosis relatif (terjadi pada 75% kasus);
4. Laju endap darah (LED), selalu meningkat (89% kasus memiliki LED >I 0 mm/jam dalam
jam pertama);
5. Faal hemostasis: waktu perdarahan memanjang;
6. Sumsum tulang: gambaran hiposeluler, kepadatan sumsum tulang < 25%.
7. Virus  untuk evaluasi diagnosis,
8. Tes Ham atau Tes Hemolisis Sukrosa  adanya penyebab PNH,
9. Kromosom : Pemeriksaan sitogenetik dengan fluorescence in situ hybridization (FISH)
dan imunofenotipik dengan flow cytometry,
10. Defisiensi Imun :
11. Lain-lain : Hemoglobin F untuk anemia aplastic pada anak.

Diagnosis Anemia aplastic akan dibedakan menjadi 3 klasifikasi:

 Tatalaksana
 Tatalaksana definitif berupa transplantasi sumsum tulang (TST)
 Terapi suportif:
1. Apabila terdapat keluhan akibat anemia, berikan transfusi PRC hingga kadar Hb 7 -8 g/dL
2. Terapi imunosupresi: antithymocyte globulin (ATGam), thymoglobulin + siklosporin A (CsA)
3. Untuk meningkatkan neutrofil: G-CSF atau GM-CSF,
4. Atasi infeksi dengan pemberian antibiotic. pemberian antibiotic spektrum luas parenteral;
umumnya diberikan seftazidim atau kombinasi aminoglikosida, sefalosporin, dan penisilin.
5. Untuk merangsang produksi eritropoietin dan sel-sel induk sumsum tulang: steroid anabolic
(oxymethylone, danazol).

4) Anemia Hemolitik
 Diagnosis
Anamnesis & Pemeriksaan fisik:
1. Pucat pada membrane mukosa
2. Jaundice dan splenomegaly ringan
3. Batu empedu (bilirubin) dapat menjadi penyulit
4. Pasien dengan penyakit sickle cell disease dapat menyebabkan ulkus di sekitar
pergelangan kaki
5. Takikardia dan aliran murmur pada katup jantung
Pemeriksaan lab
1. Gambaran dari peningkatan pemecahan sel darah merah :
• Peningkatan serum bilirubin (bilirubin indirect)
• Peningkatan urobilinogen urin
• Tidak ada serum haptoglobin (liver function tes)
2. Gambaran peningkatan produksi eritrosit :
• Retikulositosis
• Hyperplasia sumsum tulang eritroid dengan sumsum tulang myeloid yang normal
3. Kerusakan eritrosit :
• Morfologi (mikrosferositosis, ellipsitosis)
• Kerapuhan osmotik
• Peningkatan enzim-enzim spesifik

 Tatalaksana
Terapi definitive diberikan berdasarkan dari penyebab yang mendasari :
1. Asam folat (Folic acid)
- Asam folat adalah kofaktor untuk enzim yang terlibat dalam produksi sel darah merah.
2. Kortikosteroid
- Kortikosteroid di indikasikan untuk anemia hemolitik autoimun.
3. Transfusi
- Transfusi darah dilakukan pada pasien dengan angina/ status kardiopulmonal yang
sangat mengganggu/ terjadi gejala syok.
4. Terapi Erythropoietin (Merangsang produksi sel darah merah)
- Anak dengan gagal ginjal kronis
- Anemia hemolitik autoimun yang berhubungan dengan retikulositopenia
- Bayi sferositosis herediter
5. Terapi zat besi
- Pasien yang mengalami defisiensi zat besi dengan pemeriksaan zat besi serum dan
aspirasi sumsum tulang

III. Anemia Makrositik


5) Anemia Defisiensi B12 & defisiensi asam folat
 Diagnosis
1. Anamnesis
• Gejala Anemia
• Abnormalitas Neurologi
• Faktor Resiko Defisiensi Vitamin B12 Atau Asam Folat
• Riwayat Diet
• Riwayat Operasi
• Riwayat Pemakaian Obat-obatan (Antibiotik, Antikonvulsan)
• Gejala Saluran Cerna (Diare)

2. Pemeriksaan fisik
• Anemia
• Ikterus ringan
• Lemon yellow skin
• Glossitis
• Stomatitis
• Purpura
• Neuropati

3. Pemeriksaan laboratorium
• DL: indeks eritrosit, hapusan darah tepi, dan sumsum tulang.

Diagnosis ditegakkan dengan :


Pemeriksaan darah tepi  megaloblast dan neutrophil hipersegmentasi

 Tatalaksana
o Anemia megaloblastik karena defisiensi vitamin B12
- Injeksi parenteral vitamin B12
- Hidroksokobalamin 1000 mcg setiap hari selama 7 hari.
- Dilanjutkan dengan injeksi 1 kali dalam seminggu selama sebulan, dan dilanjutkan
selama 1 kali dalam sebulan
o Anemia megaloblastik karena defisiensi asam folat
Pemberian asam folat dengan dosis 0,5-1 mg/hari, peroral atau parenteral.