Anda di halaman 1dari 42

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN


SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
PROGRAM STUDI STR KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO
Jl. Taman Pendidikan No. 36 Kota Gorontalo Telp/Fax : 0435-827193/0435-827182
E-mail : poltek_gorontalo@yahoo.co.id
Nomor : PP.08.02/3.4/0644/2020 Gorontalo, 03 April 2020
Sifat : Penting
Lampiran :-
Hal : Pemberitahuan Pedoman Penulisan Literature Review dan Contoh
Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Jurusan Keperawatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Gorontalo Tahun 2020

Yang Terhormat,
Dosen Pembimbing dan Penguji Skripsi Mahasiswa Prodi Sarjana Terapan Keperawatan
Di –
Tempat

Berikut Kami kirimkan pedoman penulisan dan contoh Literatur Review Program Studi
Sarjana Terapan Keperawatan Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Gorontalo.
(Pedoman Penulisan dan Contoh Literature Review Terlampir)
Demikian disampaikan, atas kerjasamanya diucapkan terima kasih.
2020

User
PEDOMAN PENULISAN LITERATURE REVIEW
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO

I. Pendahuluan
1. Penjelasan Singkat
Literature review merupakan sebuah analisi kritis terhadap sumber bacaan atau literature
yang terpublikasi pada suatu topic tertentu yang menjadi minat dan fokus seorang peneliti.
Literature review merupakan pengkajian yang sistematis dan dapat menyiapkan sebuah
kesimpulan, klasifikasi, perbandingan dan evaluasi setiap gap yang ada.

Literature review dilakukan dengan cara membaca, memahami, mengkritik, dan mereview
literatur dari berbagai macam sumber. Tinjauan literatur sangat penting peranannya dalam
membuat suatu tulisan ataupun karangan ilmiah. Tinjauan literatur memberikan ide dan
tujuan tentang topik penelitian yang akan kita lakukan. Literature review berisi ulasan,
rangkuman, dan pemikiran penulis dari beberapa sumber pustaka tentang topik yang
dibahas.

2. Tujuan Literature Review


a) Untuk mendapatkan landasan teori yang bisa mendukung pemecahan masalah yang
sedang diteliti.
b) Teori yang didapatkan merupakan langkah awal agar peneliti dapat lebih memahami
permasalahan yang sedang diteliti dengan benar sesuai dengan kerangka berpikir
ilmiah
c) Untuk mendapatkan gambaran yang berkenaan dengan apa yang sudah pernah
dikerjakan orang lain sebelumnya.

3. Kegiatan-kegiatan Literature Review


a) Menganalisis
b) Mensintesis
c) Meringkas
d) Membandingkan hasil-hasil penelitian yang satu dengan yang lainnya.
4. Langkah-Langkah dari Literature Review
a) Formulasi permasalahan
b) Cari literature
c) Evaluasi data
d) Analisis dan interpretasikan

5. Cara Melakukan Literature Review


a) Mencari kesamaan (Compare)
b) Mencari ketidaksamaan (Contrast)
c) Memberikan pandangan (Criticize)
d) Membandingkan (Synthesize)
e) Meringkas (Summarize)

6. Sitasi (Citation)/ Sumber/Referensi


Sitasi menunjukkan asal-usul atau sumber suatu kutipan, mengutip pernyataan, atau
menyalin/mengulang pernyataan seseorang dan mencantumkannya di dalam suatu karya
tulis yang dibuat, namun tetap mengindikasikan bahwa kutipan tersebut itu adalah
pernyataan orang lain.

II. Teknik penyusunan Literature Review


1. BAB I
Mencakup latar belakang penulisan literature review, tujuan penulisan, pemaparan
mengenai penelitian terkait, metode yang telah digunakan, dan gagasan yang diajukan.
Pustaka mengikuti topik utama yang ditulis dan gambaran umum topik yang akan dibahas.
2. BAB II
Tinjauan Pustaka Meliputi:
a) Jurnal (hasil penelitian) yang sudah terpublikasi, paling lama 5 tahun terakhir.
b) Buku literature, paling lama 10 tahun terakhir atau bisa lebih selama teori tersebut
masih selaras dengan keadaan saat ini atau belum ada temuan baru yang sudah
ditetapkan sebagai konsensus dalam keilmuan.
c) Ulasan berisi poin dan hal-hal rinci berdasarkan literatur/pustaka yang berkorelasi
dengan subjek yang dibahas, yang selanjutnya akan dibahas dalam bagian diskusi.

3. BAB III
Metodologi yang digunakan dalam bentuk narasi/ deskriptif.
4. BAB IV
Pembahasan kajian pustaka di BAB IV harus mengacu pada teori dan hasil penelitian yang
telah ditampilkan pada Bab 2 dan komponen pembahasan meliputi :
a) Meringkas dan mensintesis teori dan hasil penelitian yang
telah diangkat.
b) Membandingkan teori atau hasil penelitian satu dengan
lainnya, baik pada teori yang sama maupun pada teori yang
tidak sama.
c) Memberikan pandangan atau pendapat terhadap teori dan
hasil penelitian serta menghubungkan dengan topik yang diangkat.
d) Menjelaskan detail subjek yang dibahas atau penjabaran dari ulasan,tidak mengulangi
ulasan, bagaimana tinjauan pustaka yang dilaporkan dapat memecahkan masalah, serta
perbedaan dan kesamaan-kesamaan dengan studi sebelumnya. Bagian ini harus
mencakup kelebihan, kekurangan dan kesimpulan dari hasil penelitian. Pembahasan
kajian pustaka harus mengacu pada teori dan hasil
5. BAB V Kesimpulan (dapat dikembangkan sesuai arahan pembimbing)
6. Referensi
Panduan referensi meliputi sebagai berikut:
a. Referensi mengacu pada Panduan Skripsi Poltekkes Kemenkes Gorontalo
b. Referensi harus diatur sesuai dengan sistem Nature jika penulis untuk menggunakan
aplikasi khusus penulisan referensi (misalnya. Mendeley, Endnote, Zotero, dll).
c. Referensi harus diberi nomor berurutan sesuai urutan di mana sitasi pertama kali
disebutkan dalam teks, dituliskan dengan superscript dan diletakkan pada akhir teks
dalam numerik bukan dalam urutan abjad.
d. Referensi harus valid, Minimal 7 jurnal yang telah dipublikasi dalam 5 tahun terakhir dan
buku 10 tahun.
e. Sumber yang tidak dipublikasikan, seperti naskah yang masih dalam tahap persiapan
atau komunikasi pribadi tidak dapat diterima sebagai referensi.
f. Teori dan hasil Penelitian yang dikutip dalam bab I sd IV yang dimasukkan dalam
daftar referensi.
g. Nama penulis harus ditulis secara konsisten. Nomor dan volume jurnal harus disertakan.
Edisi, penerbit, kota, dan nomor halaman dari buku teks harus disertakan.
h. Referensi yang diunduh dari internet, menyertakan waktu akses dan alamat web,
Singkatan dari nama jurnal harus ditulis dengan lengkap.
i. Daftar pustaka pada artikel kajian pustaka minimal terdiri atas (12) referensi.
EFEKTIFITAS PENERAPAN FISIOTERAPI DADA TERHADAP BERSIHAN
JALAN NAFAS PADA ANAK DENGAN PNEUMONIA

LITERATURE REVIEW

Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana Terapan


Keperawatan

Oleh :

NURLELA LANTU

NIM. 751430112112

POLITEKNIK KESEHATAN GORONTALO

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Penyakit pneumonia merupakan salah satu penyakit yang sering

terjadi dan merupakan penyebab kematian dari seluruh penduduk.

Meskipun telah ada kemajuan dalam bidang antibiotik, pneumonia tetap

merupakan penyebab kematian terbanyak di Amerika Serikat. Munculnya

organisme nasokomial yang resisten terhadap antibiotik, adanya

organisme-organisme yang baru, lemahnya daya tahan tubuh seseorang

serta adanya penyakit seperti AIDS yang semakin memperluas spektrum

dan derajat kemungkinan penyebab pneumonia. Bayi dan anak kecil lebih

rentan terhadap penyakit ini karena respon imunitas mereka masih belum

berkembang dengan baik (Price and Wilson, 2005)

Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka

kematiannya tinggi tidak saja di negara berkembang tetapi juga di Negara

maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Negara-negara Eropa. Di

Amerika Serikat terdapat dua juta sampai tiga juta kasus pneumonia

pertahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000 orang. Di Indonesia,

pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah

kardiovaskuler dan tuberkulosis. Faktor sosial ekonomi yang rendah

mempertinggi angka kematian. (Misnadiarly,2008)

1
Pada anak , gejala infeksi pernapasan bawah biasanya lebih parah

dibandingkan dengan penyakit pernapasan atas dan dapat mencakup

gejala gangguan respiratori yaitu batuk, disertai produksi secret berlebih,

sesak napas, retraksi dada, takipnea, dan lain-lain. Bila terjadi infeksi

atau iritasi, akan mengkonpensasi dengan cara tubuh menghasilkan

banyak mukus tebal untuk membantu paru menghindari infeksi. Bila

mukus yang terlalu banyak dan kental menyumbat jalan napas, dan

pernapasan menjadi lebih sulit. Pada dasarnya, pada anak dan bayi

mekanisme batuk belum sempurna sehingga tidak dapat membersihkan

jalan nafas dengan sempurna. Terlebih pada kantung udara terhalang

cairan sehingga rongga pernafasan menjadi terganggu. Dengan

demikian perlu dilakukan tindakan aktif dan pasif untuk membersihkan

jalan nafas anak dan bayi

Fisioterapi dada merupakan salah satu intervensi dalam

meningkatkan patensi jalan nafas pada pasien dengan infeksi saluran

nafas, termasuk pada anak. Fisioterapi dada merupakan kelompok terapi

yang digunakan dengan kombinasi untuk memobilisasi sekresi pulmonar.

Terapi ini terdiri dari drainage postural, perkusi dada, dan vibrasi.

Fisioterapi dada harus diikuti dengan batuk produktif dan pengisapan

pada klien yang mengalami penurunan untuk batuk. (Potter dan Perry,

2006).

Penderita anak dengan pneumonia Rs.Islam faisal Makassar pada

tahun 2008 sebanyak 50 Orang(8,14%) Pada Tahun 2009 Sebanyak 67

2
Orang(8,25%) Pada Bulan Januari-Juni tahun 2010 sebanyak 79

Orang(3,31%). Pasien pneumonia mengalami akumulasi lender pada

saluran nafas bagian atas dan bawah sehinggaperlu dibantu dengan

intervensi fisioterapi dada. Fisioterapi dada dipercaya dapat membuang

sekresi bronkial, memperbaiki ventilasi, dan meningkatkan efisiensi otot-

otot pernapasan, namun disisi lain, analisis terhadap bukti-bukti ilmiah

terkait efektifitas fisioterapi dada masih kurang. Hal inilah yang melatar

belakangi perlunya dilakukan penelusuran literatur ilmiah terkait efektifitas

terapi dalam meningkatkan patensi jalan nafas pada pasien pneumonia.

B. Tujuan Penulisan

Untuk Mendapatkan Gambaran Efektifitas Penerapan Fisioterapi Dada

Terhadap Bersihan Jalan Nafas Pada Anak Dengan Pneumonia

C. Manfaat Penulisan

1. Institusi Pendidik/Akademik

Sebagai bahan masukan bagi institusi pendidikan untuk meningkatkan

mutu pengetahuan dan ketrampilan dalam penerapan proses asuhan

keperawatan pada anak dengan Pneumonia.

2. Pelayanan Kesehatan/Rumah Sakit

a. Sebagai sumber informasi bagi tenaga kesehatan dalam

melaksanakan asuhan keperawatan pada anak dengan Gangguan

Sistem Pernafasan Pneumonia.

3
b. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada klien dengan

penerapan manejemen asuhan keperawatan pada anak dengan

Pneumonia.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjuan Pneumonia pada Anak

Pneumonia adalah proses peradangan yang disebabkan oleh

pengisian eksudat di alveoli. (Somantri, 2008). Menurut Price and

Wilson 2005 Pneumonia disebabkan oleh :

a. Bakteri

1) Stapilokokus aureus

2) Legionella

3) Hemophillus influenza.

b. Virus

Pneumonia virus merupakan tipe pneumonia paling umum yang

disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui tranmisi

droplet.

c. Organisme mirip bakteri yaitu mikoplasma pneumonia yang biasa

terjadi pada dewasa muda dan anak-anak

d. Jamur tertentu

1) Aspergillus

2) Histoplasma

3) koksigeomikosis

Agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki dua

cara tranmisi yang utama yaitu aspirasi organisme patogenik yang

telah berkolonisasi pada orofaring dan inhalasi aerosol infeksius yang

5
lebih jarang bakteri dapat mencapai parenkim paru melalui aliran

darah. Pneumonia digolongkan berdasarkan patologi, mikrobiologi,

dan klinis. Pneumonia dapat timbul bila organisme berkolonisasi

secara luas pada ruang alveolar, dan menyebabkan konsolidasi

seluruh lobus dan sering kali disebabkan oleh pneumokokkus ,

kebanyakan infeksi virus pada paru menyebabkan respon peradangan

intersisial melalui sel-sel limfoid ( Price and Wilson, 2005)

Pada bayi dan anak umur kurang dari 5 tahun 45% dari

pneumonia disebabkan oleh virus dan yang terbanyak yaitu virus

influenzae dan respiratory sincitial virus, dan penyebab yang lain ialah

para influenzae virus, adeno virus, rhyno virus dan metapneumo virus.

(Widagdo, 2012) Pada balita pneumonia ditandai dengan adanya

gejala batuk dan atau kesukaran bernapas seperti napas cepat,

tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (TDDK), atau gambaran

radiologi foto thorax/dada menunjukkan infiltrat paru akut sedangkan

demam bukan merupakan gejala yang spesifik pada balita.

(Kementerian Kesehatan RI, 2012) . Berdasarkan data yang dirilis

oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan

Lingkungan (Ditjen P2PL) Kemenkes RI, tahun 2015 ini di dunia

diperkirakan 5,9 juta balita meninggal dan 16% (944.000) di antaranya

karena Pneumonia. Sementara di Indonesia, hasil Sample

Registration System (SRS) tahun 2014 dinyatakan bahwa

6
Pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 3 pada

balita, yaitu sebesar 9,4 % dari jumlah kematian balita. Diperkirakan 2-

3 orang balita setiap jam meninggal karena Pneumonia. Jumlah kasus

Pneumonia balita yang dilaporkan pada tahun 2014 adalah 600.682

kasus dan 32.025 di antaranya adalah Pneumonia Berat (5,3%), dari

100 balita Pneumonia diperkirakan 3 diantaranya meninggal,

sementara jika menderita Pneumonia berat maka risiko kematian lebih

besar bisa mencapai 60% terutama pada bayi.Pada kebanyakan

kasus gangguan pernafasan yang terjadi pada anak bersifat ringan,

akan tetapi sepertiga kasus mengharuskan anak mendapatkan

penanganan khusus, akibatnya anak lebih mungkin untuk memerlukan

kunjungan ke penyedia layanan kesehatan seperti pada penyakit

asma, bronchitis, pneumonia. Penyakit-penyakit saluran pernapasan

pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan

sampai pada masa dewasa,dimana ditemukan adanya hubungan

dengan terjadinya Chronic Obstructive Pulmonary Disease..

Diperkirakan 2-3 orang balita setiap jam meninggal karena

Pneumonia. Jumlah kasus Pneumonia balita yang dilaporkan pada

tahun 2014 adalah 600.682 kasus dan 32.025 di antaranya adalah

Pneumonia Berat (5,3%), dari 100 balita Pneumonia diperkirakan 3

diantaranya meninggal, sementara jika menderita Pneumonia berat

maka risiko kematian lebih besar bisa mencapai 60% terutama pada

bayi. Pada kebanyakan kasus gangguan pernafasan yang terjadi pada

7
anak bersifat ringan, akan tetapi sepertiga kasus mengharuskan anak

mendapatkan penanganan khusus, akibatnya anak lebih mungkin

untuk memerlukan kunjungan ke penyedia layanan kesehatan seperti

pada penyakit asma, bronchitis, pneumonia. Penyakit-penyakit saluran

pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi

kecacatan sampai pada masa dewasa,dimana ditemukan adanya

hubungan dengan terjadinya Chronic Obstructive Pulmonary

Disease.(Maidarti, 2014) Anak dengan pneumonia akan mengalami

gangguan pernapasan yang disebabkan karena adanya inflamasi

dialveoli paru-paru. Infeksi ini akan menimbulkan peningkatan

produksi sputum yang akan menyebabkan gangguan kebersihan jalan

napas, pernapasan cuping hidung, dypsneu dan suara krekels saat

diauskultasi. Apabila kebersihan jalan napas ini terganggu maka

menghambat pemenuhan suplai oksigen ke otak dan sel-sel diseluruh

tubuh, jika dibiarkan dalam waktu yang lama keadaan ini akan

menyebabkan hipoksemia lalu terus berkembang menjadi hipoksia

berat,

B. Tinjauan tentang Fisioterapi Dada

A. Definisi Fisioterapi Dada


Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat
berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun
kronis. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan
pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun, penyakit pernafasan
restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif

8
karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang
mendapat ventilasi mekanik.
Fisioterapi dada adalah suatu rangkaian tindakan keperawatan yang
terdiri atas perkusi dan vibrasi, postural drainase, latihan
pernapasan/napas dalam, dan batuk yang efektif. (Brunner & Suddarth,
2002: 647). Tujuan: untuk membuang sekresi bronkial, memperbaiki
ventilasi, dan meningkatkan efisiensi otot-otot pernapasan.

B. TUJUAN FISIOTERAPI DADA (FTD)


Tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah:
1. Mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan
2. Membantu membersihkan sekret dari bronkus
3. Untuk mencegah penumpukan sekret, memperbaiki pergerakan dan
aliran sekret
4. Meningkatkan efisiensi pernapasan dan ekspansi paru
5. Klien dapat bernapas dengan bebas dan tubuh mendapatkan oksigen
yang cukup
6. Mengeluarkan sekret dari saluran pernapasan.
Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan
pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun, penyakit pernafasan
restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif
karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang
mendapat ventilasi mekanik. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian :
postural drainage, perkusi, dan vibrasi.
Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti
kegagalan jantung, status asmatikus, renjatan dan perdarahan masif,
sedangkan kontra indikasi relatif seperti infeksi paru berat, patah tulang
iga atau luka baru bekas operasi, tumor paru dengan kemungkinan
adanya keganasan serta adanya kejang rangsang.
C. Konsep Fisiologis Fisioterapi Dada.

9
1. Clapping/ Perkusi Dada
a. Pengertian
Perkusi atau disebut clapping adalah tepukkan atau pukulan
ringan pada dinding dada klien menggunakan telapak tangan yang
dibentuk seperti mangkuk, tepukan tangan secara berirama dan
sistematis dari arah atas menuju kebawah.Selalu perhatikan
ekspresi wajah klien untuk mengkaji kemungkinan nyeri. Setiap
lokasi dilakukan perkusi selama 1-2 menit.

(ilustrasi tangan saat melakukan clapping)


Cupping adalah menepuk-nepuk tangan dalam posisi
telungkup.
Clupping menepuk-nepuk tangan dalam posisi terbuka.
Tujuan untuk menolong pasien mendorong / menggerakkan
sekresi didalam paru-paru yang diharapkan dapat keluar secara
gaya berat, dilaksanakan dengan menepuk tangan dalam posisi
telungkup.
b. Tujuan:
Perkusi dilakukan pada dinding dada dengan tujuan
melepaskan atau melonggarkan secret yang tertahan.
c. Indikasi Klien Yang Mendapat Perkusi Dada

10
Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat
postural drainase, jadi semua indikasi postural drainase secara
umum adalah indikasi perkusi.

2. Vibrasi
a. Pengertian
Vibrasi adalah kompresi dan getaran kuat secara serial oleh
tangan yang diletakan secara datar pada dinding dada klien selama
fase ekshalasi pernapasan.Vibrasi dilakukan setelah perkusi
untuk meningkatkan turbulensi udara ekspirasi sehingga dapat
melepaskan mucus kental yang melekat pada bronkus dan
bronkiolus. Vibrasi dan perkusi dilakukan secara bergantian.

(ilustrasi vibrasi pada fisioterapi dada)


Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan
nafas. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan
vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai
akhir ekspirasi. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan
bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar.
Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis.

11
b. Tujuan
Vibrasi digunakan setelah perkusi untuk meningkatkan turbulensi
udara ekspirasi dan melepaskan mukus yang kental. Sering
dilakukan bergantian dengan perkusi.
c. Indikasi Klien Yang Mendapat Vibrasi
Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis yang tidak
diobati.
3. Postural Drainase
Postural drainase adalah pengaliran sekresi dari berbagai
segmen paru dengan bantuan gravitasi. Postural drainase
menggunakan posisi khusus yang memungkinkan gaya gravitasi
membantu mengeluarkan sekresi bronkial. Sekresi mengalir dari
bronkiolus yang terkena ke bronki dan trakea lalu membuangnya
dengan membatukkan dan pengisapan.

(ilustrasi posisi postural drainase)


Tujuan postural drainase adalah menghilangkan atau mencegah
obstruksi bronkial yang disebabkan oleh akumulasi sekresi. Dilakukan
sebelum makan (untuk mencegah mual, muntah dan aspirasi ) dan
menjelang/sebelum tidur.
D. Prosedur Tindakan (Sop / Standar Operasional Prosedur)
Adapun prosedur fisioterapi dada menurut doengoes (2008) adalah
sebagai berikut:

12
1. Perkusi
a. Persiapan Alat :
1) Handuk (jika perlu)
2) Peniti (jika perlu)
3) Tempat sputum
b. Prosedur Pelaksanaan:
1) Ikuti protokol standar umum dalam intervensi keperawatan
seperti perkenalkan diri perawat, pastikan identitas klien, jelaskan
prosedur dan alasan tindakan, cuci tangan.
2) Tutup area yang akan dilakukan perkusi dengan handuk atau
pakaian tipis untuk mencegah iritasi kulit dan kemerahan akibat
kontak langsung.
3) Anjurkan klien untuk tarik napas dalam dan lambat untuk
meningkatkan relaksasi
4) Jari dan ibu jari berhimpitan dan fleksi membentuk mangkuk.
5) Secara bergantian lakukan fleksi dan ekstensi pergelangan
tangan secara cepat untuk menepuk dada.
6) Perkusi pada setiap segmen paru selama 1-2 menit.
7) Perkusi tidak boleh dilakukan pada daerah dengan struktur yang
mudah cedera seperti mamae, sternum,kolumna spinalis, dan
ginjal.
8) Cuci tangan

2. Vibrasi
a. Persiapan Alat: sama seperti pada perkusi.
b. Prosedur Pelaksanaan:
1) Ikuti protokol standar umum dalam intervensi keperawatan
seperti perkenalkan diri perawat, pastikan identitas klien, jelaskan
prosedur dan alasan tindakan, cuci tangan.

13
2) Letakkan tangan, telapak tangan menghadap ke bawah di area
dada yang akan didrainase, satu tangan di atas tangan yang lain
dengan jari-jari menempel bersama dan ekstensi. Cara lain
tangan bisa diletakkan secara bersebelahan.
3) Anjurkan klien tarik napas dalam dan lambat untuk meningkatkan
relaksasi
4) Selama masa ekspirasi, tegangkan seluruh otot tangan dan
lengan serta siku lalu getarkan, gerakkan ke arah
bawah.Perhatikan agar gerakan dihasilkan dari otot-otot
bahu.Hentikan gerakan jika klien inspirasi.
5) Vibrasi selama 3 - 5 kali ekspirasi pada segmen paru yang
terserang.
6) Setelah setiap kali vibrasi ,anjurkan klien batuk dan keluarkan
sekresi ke tempat sputum.
7) Cuci tangan

3. Postural Drainase
a. Persiapan Alat:
1) Bantal ( 2 atau 3 buah)
2) Tisue
3) Segelas Air hangat
4) Sputum Pot
b. Prosedur Pelaksanaan:
1) Ikuti protokol standar umum dalam intervensi keperawatan
seperti perkenalkan diri perawat, pastikan identitas klien,jelaskan
prosedur dan alasan tindakan, cuci tangan.
2) Pilih area tersumbat yang akan didrainase berdasarkan pada
pengkajian semua bidang paru, data klinis dan gambaran foto
dada. Agar efektif, tindakan harus dibuat individual untuk
mengatasi spesifik dari paru yang tersumbat.

14
3) Baringkan klien dalam posisi untuk mendrainase area yang
tersumbat. Bantu klien untuk memilih posisi sesuai kebutuhan.
Ajarkan klien untuk mengatur postur, posisi lengan dan kaki yang
tepat. Letakkan bantal sebagai penyangga dan kenyamanan.
Posisi khusus dipilih untuk mendrainase setiap area yang
tersumbat.
4) Minta klien mempertahankan posisi selama 10-15 menit.
Pada orang dewasa, pengaliran setiap area memerlukan waktu.
Anak-anak, prosedur ini cukup 3-5 menit.
5) Selama 10-15 menit drainase pada posisi ini, lakukan perkusi dan
vibrasi dada atau gerakan iga di atas area yang
didrainase.Memberikan dorongan mekanik yang bertujuan
memobilisasi sekresi pada jalan napas.
6) Setelah drainase pada posisi pertama, minta klien duduk dan
batuk. Tampung sekresi yang dikeluarkan dalam sputum pot. Jika
klien tidak bisa batuk, harus dilakukan pengisapan. Setiap sekresi
yang dimobilisasi ke dalam jalan napas harus dikeluarkan melalui
batuk atau pengisapan sebelu klien dibaringkan pada posisi
drainase selanjutnya.Batuk akan sangat efektif bila klien duduk
dan membungkuk ke depan.
7) Minta klien istirahat sebentar, bila perlu.
Periode istirahat sebentar di antara drainase postural dapat
mencegah kelelahan dan membantu klien menoleransi terapi
dengan lebih baik.
8) Minta klien minum sedikit air.
Menjaga mulut tetap basah sehingga membantu ekspetorasi
sekresi.
9) Ulangi langkah 3 hingga 8 sampai semua area tersumbat yang
dipilih telah terdrainase. Setiap tindakan tidak lebih dari 30-60
menit. Drainase postural digunakan hanya untuk mengalirkan

15
area yang tersumbat dan berdasarkan pada pengkajian
individual.
10) Ulangi pengkajian dada pada setiap bidang paru.
Memungkinkan anda mengkaji kebutuhan drainase selanjutnya
atau mengganti program drainase.
11) Cuci tangan.
Mengurangi transmisi mikroorganisme.

C. Tinjauan terkait Penatalaksanaan pada pasien dengan

ketidakefektifan bersihan jalan NAfas

Kebersihan jalan napas adalah suatu kondisi dimana

individu mampu untuk batuk secara efektif, dan tidak ada

penumpukan sekret. (Muttaqin, 2008) . Kriteria kebersihan jalan

napas menurut Muttaqin (2008), antara lain: a. Bunyi napas

terdengar bersih b. Ronkhi tidak terdengar c. Menunjukkan batuk

efektif d. Tidak ada penumpukan sekret di saluran napas e.

Pernapasan klien normal (16-20 x/menit) tanpa penggunaan otot

bantu napas

Penatalaksanaan kebersihan jalan napas menurut

Somantri (2009), antara lain: a. Humidifikasi, misalnya nebulizer b.

Fisioterapi dada c. Obat bronkodilator d. Inhalasi mekanik

16
D. Kerangka Konsep

Anak dengan Pneumonia

Ketidakefektifan Bersihan
Jalan : Penatalaksanaan /Intervensi
Evaluasi Efektivitas
- Akumulasi Sputum 1. Batuk efektif Intervensi
- Peningkatan 2. Nebulizer
Frekuensi Nafas
3. Fisioterapi dada
- Usaha Nafas
Tambahan
- Gelisah

Resiko Distress Pernafasan

17
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain yang digunakan adalah desain naratif desriptif dengan

pendekatan literature review. Studi literature review adalah cara yang

dipakai untuk mengumpulkan data atau sumber yang berhubungan

pada sebuah topik tertentu yang bisa didapat dari berbagai sumber

seperti jurnal, buku, internet, dan pustaka lain.

B. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian yang diambil dalam penelitian ini adalah pasien

dengan gangguan bersihan jalan nafas

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitian yang dibahas adalah efektifitas fisioterapi dada dalam

meningkatkan bersihan jalan nafas pada pasien pneumonia

D. Kriteria Inklusi dan Ekslusi

1. Tipe Studi

Desain penelitian yang diambil dalam penulusuran ilmiah ini

Adalah studi deskriptif, studi kasus dan studi eksperimental.

2. Tipe intervensi

Intervensi utama yang ditelaah pada penulusuran ilmiah ini

adalah pengaruh fisioterapi dada dalam meningkatkan jalan nafas

3. Hasil Ukur

18
Outcome yang di ukur dalam penulusuran ilmiah ini adalah

E. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalu Kajian literatur dengan

menggunakan dua database dalam mencari sumber literatur yaitu EBSCO

dan Google Scholar. Penulis menggunakan kata kunci pencarian yaitu

fisioterapi dada (Chest Physiotherapy), Bersihan Jalan Nafas (Airway

Clearance) dan Pneumonia.

Artikel atau jurnal yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi

diambil untuk selanjutnya dianalisis. Literature Review ini menggunakan

literatur terbitan 5 tahun terakhir ( 2015-2019) yang dapat diakses fulltext

dalam format pdf dan scholarly (peer reviewed journals). Kriteria jurnal yang

direview adalah artikel jurnal penelitian berbahasa Indonesia dan Inggris

dengan subyek manusia dewasa, jenis jurnal artikel penelitian bukan

literature review dengan tema fisioterapi dada terhadap bersihan jalan nafas.

F. Analisis data

Literature Review ini di sintesis menggunakan metode naratif dengan

mengelompokkan data-data hasil ekstraksi yang sejenis sesuai dengan hasil

yang diukur untuk menjawab tujuan Jurnal penelitian yang sesuai dengan

kriteria inklusi kemudian dikumpulkan dan dibuat ringkasan jurnal meliputi

nama peneliti, tahun terbit jurnal, negara penelitian,judul penelitian,metode

dan ringkasan hasil atau temuan. Ringkasan jurnal penelitian tersebut

19
dimasukan ke dalam tabel diurutkan sesuai alphabet dan tahun terbit jurnal

dan sesuai dengan format tersebut di atas.

Untuk lebih memperjelas analisis abstrak dan full text jurnal dibaca dan

dicermati. Ringkasan jurnal tersebut kemudian dilakukan analisis terhadap isi

yang terdapat dalam tujuan penelitian dan hasil/temuan penelitian. Analisis

yang digunakan menggunakananalisis isi jurnal, kemudian dilakukan koding

terhadap isi jurnal yang direview menggunakan kategori fisioterapi dada.

Data yang sudah terkumpul kemudian dicari persamaan dan perbedaannya

lalu dibahas untuk menarik kesimpulan.

20
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Hasil

Pencarian awal artikel dimulai dengan memasukkan kata kunci “fisioterapi

dada (Chest Physiotherapy)”, dan ”Bersihan Jalan Nafas (Airway Clearance)”

dan Pneumonia (Pneumonia)” digabungkan mendapatkan hasil 50 artikel.

Artikel yang tidak sesuai dengan kriteria inklusi dikeluarkan sebanyak 35

artikel dan menyisakan 15 artikel. 15 artikel kemudian diseleksi lagi menjadi

4 artikel yang paling sesuai dengan tema penelitian. Peneliti menganalisa

data dengan menggunakan critical appraisal dengan pendekatan Aveyard

(2014). Terdapat empat artikel yang dianalisa lebih lanjut yaitu Maidartati

(2017), Ariasti, Aminingsih & Endrawati (2017) Dan Hidayatin (2019). Hasil

Kajian terhadap tiga literature tersebut tergambar sebagai berikut

21
Tabel III. 1 Hasil Review

Judul penelitian, Tempat Desain Sampel Prosedur Hasil


penulis, tahun Penelitian Penelitian
Pengaruh Bandung Desain penelitian Pengambilan Intervensi Hasil uji statistik
Fisioterapi Dada adalah kuasi sampel dilakukan menunjukan
Terhadap eksperime dengan menggunakan selama 1 hari,m terdapat
Bersihan Jalan pendekatan one metode pada saat balita perbedaan
Nafas Pada Anak group pre dan post purposive datang bermakna rerata
Usia 1- 5 Tahun test. sampling berkunjung di frekwensi
Yang Mengalami dengan puskesmas. . bersihan jalan
Gangguan jumlah Pengukuran nafas sebelum
Bersihan Jalan sampel 17 dilakukan dan sesudah
Nafas Di orang. sebelum dan fisioterapi yaitu
Puskesmas Moch. Sampel yang setelah nilai P-value
Ramdhan diambil intervensi 0000, namun
Maidartati, 2017 adalah Anak untuk uji beda
usia 1-5 tahun bersihan nafas
yang sebelum dan
mengalami sesudah
gangguan fisioterapi
bersihan jalan didapatkan hasil
nafas ditandai P-value 0.225
dengan dimana tidak
respirasi rate terdapat
(RR) perbedaan yang
>40x/mnt, bermakna
pernafasan
cuping

1
hidung (PCH)
+, serta
retraksi
intercostal
(RIC) +
Pengaruh Wonogiri Jenis penelitian yang Metode Intervensi Dari hasil uji
Pemberian digunakan adalah pengambilan dilakukan Paired t-test
Fisioterapi Dada quasi eksperimen sampel selama 2 hari program SPSS
Terhadap dengan rancangan menggunakan setia pagi hari versi 18
Kebersihan Jalan pre post metode dengan menunjukkan
Napas Pada eksperimental untuk accidental pengukuran 2 hasil t hitung
Pasien mengetahui sampling kali sebelum dan sebesar -5.839
Pneumonia Di pengaruh pemberian dengan setelah dengan P value
Puskesmas rawat fisioterapi dada jumlah intervensi 0.000<0.05.
inap Wonogiri, terhadap kebersihan sampel 36 Artinya
Dinar Ariasti,Sri jalan napas pada orang kebersihan jalan
Aminingsih pasien pneumonia responden. napas sebelum
,Endrawati, 2015 Sampel pada fisioterapi dada
penelitian ini berbeda dengan
adalah semua sesudah
anak-anak fisioterapi dada.
yang Dalam penelitian
ditemukan yang dilakukan
menderita didapatkan hasil
pneumonia kebersihan jalan
dengan usia napas sebelum
di bawah 10 diberikan
tahun yang fisioterapi dada,
menunjukkan responden yang

2
tanda jalan napasnya
gangguan tidak bersih
bersihan jalan sebanyak 23
nafas responden
(88,47%),
sedangkan untuk
kategori bersih
sebanyak 3
responden
(11,53%).
Kemudian
sesudah
diberikan
fisioterapi dada,
responden untuk
kategori jalan
napas bersih
sebanyak 18
responden
(69,23%),
sedangkan
jumlah
responden untuk
kategori jalan
napas tidak
bersih adalah 8
responden
(30,70%).
Pengaruh Indramayu Jeni penelitian Tehnik Intervensi - Ada

3
Pemberian adalah Quasy pengambilan dilakukan selama perbedaan
Fisioterapi Dada Experimental. sampel 2 hari dengan antara
Dan Pursed Lips Rancangan menggunakan frekuensi 2 kali bersihan jalan
Breathing (Tiupan penelitian yang concecutive tiap hari, yakni napas
Lidah) Terhadap digunakan adalah sampling. pagi dan sore sebelum dan
Bersihan Jalan non equivalent Sampel yang hari. Pengukuran sesudah
Nafas Pada Anak without control group digunakan dilakukan setiap dilakukan
Balita Dengan (non randomized sebanyak 30 hari dua kali intervensi
Pneumonia,Titin without control group responden yakni pagi hari fisioterapi
Hidayatin, 2019 pretest-posttest) anak usia 5 sebelum dada pada
dengan melakukan tahun yang intervensi dan anak balita
pengukuran bersihan dibagi dalam sesudah dengan
jalan napas 3 kelompok intervensi pada pneumonia
(frekuensi nafas, intervensi , 1 sore hari dengan p
bunyi nafas, irama Kelompok Value 0,000
nafas, dan dengan - Tidak ada
penggunaan otot Fisioterapi perbedaan
bantu pernafasan) dada, 1 antara
sebelum dan Kelompok bersihan jalan
sesudah dilakukan dengan napas
tindakan. Pursed Lip sebelum dan
Breathing dan sesudah
1 Kelompok dilakukan
dengan intervensi
intervensi pursed leps
keduanya. breathing
Masing- (tiupan lidah)
masing pada anak
kelompok balita dengan

4
terdiri ata 10 pneumonia
orang dengan p
responden. Value = 0,112
Kriteria - Ada
bersihan jalan perbedaan
nafas tidak antara
bersih yang bersihan jalan
dipakai napas
adalah batuk, sebelum dan
dispnea, sesudah
gelisah, suara dilakukan
nafas intervensi
abnormal fisioterapi
(ronchi), dada dan
perubahan pursed lips
frekuensi breathing
nafas, (tiupan lidah)
penggunaan pada anak
otot bantu balita dengan
nafas, pneumonia
pernafasan dengan p
cuping hidung Value 0,000
dan sputum
dalam jumlah
berlebihan

5
b. Pembahasan
Temuan pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Maidartati

(2017) menemukan adanya peningkatan bersihan jalan nafas setelah

dilakukan fisioterapi dada pada anak usia 1- 5 tahun dengan pneumonia.

Dari penelitian ini ditemukan terdapat perbaikan frekuensi nafas pasian

setelah dilakukan fisioterapi dada. tabel diatas dapat diketahui bahwa

rata-rata frekwensi nafas sebelum dilakukan fisioterapi dada 45.00

kali/menit dan setelah dilakukan fisioterapi 40.59 kali/menit. Analisis lebih

lanjut menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna antara rerata

frekwensi nafas responden, dengan kata lain bahwa secara signifikan

Fisioterapi dada dapat menurunkan frekwensi nafas dengan pvalue 0.000,

<0.05). namun dari penelitian, ini tidak didapatkan perbedaan yang

bermakna pada bersihan jalan nafas sebelum dan setelah intervensi,

dimana p value 0.225 (α > 0,05). Hal ini kemungkinan disebabkan

intervensi hanya dilakukan satu kali sehingga tidak memberikan efek yang

signifikan pada pengeluaran sputum pasien. Menurut Wong, tindakan

fisioterapi dada sebaiknya dilakukan 2 kali perhari yaitu kira-kira 1 ½ jam

sebelum makan siang dan makan malam. Chest physiotherapy (CPT) di

lakukam di masing-masing tempat selama 2 atau 3 menit, satu sesi CPT

harus selesai 20-30 menit setiap sesi. Sedangkan pada penelitian ini,

fisioterapi dada dilakukan hanya satu kali pemberian untuk setiap tempat

dilakukan fisioterapi dada (postural drainase, perkusi dan vibrasi) selama

2 menit dengan durasi satu kali sesi pemberian selama 15 – 20 menit. Hal

1
ini lang menyebabkan hasil yang kurang signifikan dibandingkan dengan 2

penelitian lainnya yang memberikan intervensi 2 hari dengan durasi 20-30

menit.

Hasil ini berbebeda dengan penelitian yang dilakukan oleh

Aminingsih & Endrawati (2017), dimana didapatkan perbedaan rerata

bersihan jalan nafas yang signifikan sebelum dan setelah fisioterapi dada

yang dibuktikan dengan p value 0,000 < 0,05. Dalam penelitian yang

dilakukan didapatkan hasil kebersihan jalan napas sebelum diberikan

fisioterapi dada, responden yang jalan napasnya tidak bersih sebanyak 23

responden (88,47%), sedangkan untuk kategori bersih sebanyak 3

responden (11,53%). Kemudian sesudah diberikan fisioterapi dada,

responden untuk kategori jalan napas bersih sebanyak 18 responden

(69,23%), sedangkan jumlah responden untuk kategori jalan napas tidak

bersih. Pada saat melakukan penelitian didapatkan hasil sebelum

dilakukan fisioterapi dada kebersihan jalan napas klien sebagian besar

tidak bersih dan banyak memproduksi sekret. Banyak klien yang tidak

dapat mengeluarkan sekretnya secara sendiri sehingga mengganggu

pernapasan klien. Kemudian setelah dilakukan fisioterapi dada sebagian

besar klien mampu mengeluarkan sekretnya Namun dari penelitian ini

masih ditemukan 8 responden setelah dilakukan fisioterapi dada jalan

napas tetap tidak bersih. Hal ini kemungkinan disebabkan karena ada

anak yang kurang kooperatif dan fisiknya kurang sehat sehingga pada saat

diberikan fisioterapi dada anak merasa lemas, kemungkinan penyebab lain

2
dikarenakan pemberian fisioterapi dada hanya diberikan sebanyak satu

kali dalam satu hari, sehingga hasilnya kurang maksimal. Selain itu

partisipasi anak dalam teknik batuk efektif tidak terkontrol karena klien

tidak mengikuti instruksi dengan benar.

Temuan ketiga dari penelitian yang dilakukan oleh Hidayatin (2019).

Berbeda dengan 2 penelitian sebelumnya yang hanya menggunakan 2

kelompok intervensi, penelitian ini menggunaka 3 kelompok intervensi

yakni kelompok pasien dengan intervensi hanya fisioterapi dada, kelimpok

intervensi dengan pursed lip breathing dan kelompok intervensi fisioterapui

dada yang dikombinasikan dengan pursed lip breathing. Pada kelompok

yang hanya dilakukan pursed lip breathing, hasil uji statistik dengan

menggunakan uji Cochran didapatkan bahwa nilai P value > yang artinya

tidak ada ɑ perbedaan yang bermakna antara bersihan jalan nafas antara

sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pursed lips breathing pada

anak balita dengan pneumonia. Hal ini berbeda dengan kelompok yang

dilakukan fisioterapi dada dimana terdapat perbedaan yang bermakna

antara bersihan jalan nafas antara sebelum dan sesudah dilakukan

intervensi. Hasil yang paling maksimal ditunjukkan pada kelompok

fisiterapi dada yang dikombinasikan dengan pursed lip breathing. Hasil uji

statistik dengan menggunakan uji Cochran didapatkan bahwa nilai Pvalue

< yang artinya ada perbedaan ɑ yang bermakna antara bersihan jalan

nafas antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi fisioterapi dada

3
dan PLB pada anak balita dengan pneumonia di RSUD Kabupaten

Indramayu. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pada intervensi

pertama belum terjadi perubahan terhadap bersihan jalan napas, tetapi

pada intervensi berikutnya terjadi perubahan terhadap bersihan jalan

napas dan perubahan yang sangat signifikan terjadi pada intervensi kedua

(sore hari) hari kedua yaitu semua responden (10 balita) mengalami

perubahan terhadap bersihan jalan napas. Semakin lama intervensi yang

dilakukan maka akan semakin terlihat perubahan terhadap bersihan jalan

napas balita. Hal ini karena pada kelompok ini diberikan 2 intervensi yaitu

fisioterapi dada dan PLB. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian

sebelumnya yaitu penelitian ini menggabungkan kedua intervensi yang

diberikan yaitu fisioterapi dada dan PLB terhadap bersihan jalan napas

pada anak balita dengan pneumonia dan hasilnya sangat terbuki efektif

jika dilakukan secara bersama- sama untuk bersihan jalan napas pada

anak balita dengan pneumonia. Hasil dari penelitian ini juga menunjukkan

hasil yang paling signifikan dengan dua penelitian lainnya, disebabkan

selain dikombinasikan dengan pursed lip breathing, intervensi juga

dilakukan selama 2 kali dalam sehari yakni pagi dan sore hari, berbeda

dengan 2 penelitian lainnya yang hanya melalukan pada pagi hari.

Dari ketiga penelitian di atas dapat dilihat bahwa fisioterapi dada

memebrikan pengaruh pada peningkatan bersihan jalan nafas pasien,

walaupun satu penelitian belum memebrikan hasil yang maksimal, namun

pada penelitian tersebut, tetap ditemukan adanya perbaikan frekuensi

4
nafas pasien. Fisioterapi dada adalah salah satu dari fisioterapi yang

menggunakan tehnik postural drainase, vibrasi dan perkusi. Fisioterapi

dada sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat

akut maupun kronis, dari perpaduan atau kombinasi dari ketiga teknik

tersebut sangat bermanfaat untuk mengatasi gangguan bersihan jalan

nafas terutama pada anak yang belum dapat melakukan batuk efektif

secara sempurna. Pada anak yang mengalami gangguan bersihan jalan

nafas terjadi penumpukan sekret, dengan adanya ketiga tehnik tersebut

mempermudah pengeluaran sekret, sekret menjadi lepas dari saluran

pernafasan dan akhirnya dapat keluar melalui mulut dengan adanya

proses batuk pada saat dilakukan fisioterapi dada. Menurut Lubis (2005),

Fisioterapi dada sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan

memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu.

Tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan

memelihara fungsi otototot pernafasan dan membantu membersihkan

sekret dari bronkus dan mencegah penumpukan sekret.

5
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan temuan yang telah didapatkan dari berbagai teori dan

jurnal ,maka dapat ditarik kesimplan sebagai berikut :

a. Terdapat pengaruh pemberian fisioterapi dada terhadap

bersihan jalan nafas pada anak dengan pneumonia, yang

ditunjukkan dengan perbaikan frekuensi nafas, berkurangnya

kuantitas sputum dan tidak adanya usaha nafas tambahan

b. Pemberian Fisioterapi dada tidak efektif bila hanya dilakukan

satu kali, karena masih terdapat sputum yang tersisa pada

lobus paru pasien, sehinggan bersihan jalan nafas pasien

belum mengalami peningkatan yang signifikan

c. Pemberian fisioterapi dada efektif bila dilakukan dengan kontinu

dan dikombinasikan dengan tehnik lain, seperti tehnik nafas

dalam dan pursed lip breathing

B. Saran

a. Untuk Institusi Pendidikan

Mahasiswa lebih ditekankan untuk menerapkan fisioterapi dada

sesuai SOP dan melakukan evaluasi secara kontinu pada anak

dengan pneumonia, selain itu perlu dikembangkan penelitian-

6
penelitian terkait manajemen jalan nafas pada anak yang

mengkombinasikan beberapa teknik melalui metodologi ilmiah.

b. Untuk Institusi Pelayanan

Perawat di puskesmas, maupun rumah sakit agar melakukan

fisioterapi dada secara berkala dan kontinu pada anak dengan

pneumonia, sehingga angka distress prnafasan pada anak akibat

pneumonia dapat ditekan. Selain itu, perlu diberikan pelatihan pada

perawat secara khusus terkait fisioterapi dada pada anak, karena

tehnik fisioterapi dada yang benar akan memberikan hasil yang

maksimal,sebaliknya tehnik yang salah tidak akan memberikan

dampak yang signifikan pada perbaikan jalan nafas yang signifikan

7
DAFTAR PUSTAKA

Asih, N.G.Y., & Effendy, C., 2004. Keperawatan Medikal Bedah : Klien
dengan Gangguan Pernafasan, Cetakan Pertama. Jakarta : EGC.

Brunner & Suddarth. 2002. Buku ajar keperawatan medical bedah. (Edisi 8).
vol.1. diterjemahkan oleh Ester. Jakarta : EGC.

Brunner & Suddarth. 2010. Buku ajar keperawatan medical bedah. (Edisi 8).
vol.1. diterjemahkan oleh Ester. Jakarta : EGC.

Depkes RI. 2004. Pedoman program pemberantasan penyakit infeksi saluran


pernapasan akut (ISPA) untuk penanggulangan pneumonia pada balita.
Jakarta : Depkes RI.

Division Of Physioterapi. 2003. Patient information series chronic obtruvtive


pulmonary disease (COPD). Karolinska University Hospital, Sweden.
Diunduh tanggal 27 Juli 2018.

Enright S, Chatam K & Ionescu AA. 2004. Inspiratory Muscle Training


Improves Lung Function and Exercise Capacity in Adults With Cystic
Fibrosis. Diunduh 27 Juli 2017

Hartati, S. 2011. Analisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian


pneumonia pada anak balita di RSUD pasar rebo jakata. Jakarta : Tesis.

Herdman. T. Heather. 2015. Nanda international Inc. diagnosis keperawatan:


definisi & klasifikasi 2015 – 2017/editor, T. Heather Herdman, Shigemi
Kamitsuru : alih bahasa Keliat B. A., et al. Jakarta : EGC.

Hussein H, A & Gehan A. E. 2011. Effect of chest physiotherapy on improving


chest airways among infant with pneumonia. Department of pediatric
nursing, faculty of nursing, cairo university. Diunduh 25 Februari 2017

Kemenkes RI. 2016. Profil Kesehatan Indonesia . Jakarta : Depkes RI

Maidartati. (2017). Pengaruh Fisioterapi Dada Terhadap Bersihan Jalan


Nafas Pada Anak Usia 1- 5 Tahun Yang Mengalami Gangguan
Bersihan Jalan Nafas Di Puskesmas Moch. Ramdhan. Jurnal
Kesehatan Indonesia , 2 (2), 22-26.

Lubis, H. 2005. Fisioterapi Pada Penyakit Paru Anak, e-USU Respiratory,


Universitas Sumatera Utara.

8
Potter, P.A., & Perry, A. G. 2005. Buku ajar fundamental keperawatan :
konsep, proses & praktik. (Edisi 4). Alih bahasa Renata, K., et al.
Jakarta : EGC

Potter, P.A., & Perry, A. G. 2009. Fundamental of nursing. (Edisi 7). vol. 3 .
Jakarta : Elsevier.

Smeltzer, S.C., & Bare, B. G.,. 2002. Buku ajar keperawatan medical bedah
Brunner &